
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Kehidupan seorang perempuan pasti akan berubah setelah menikah. Ya, itu hal yang aku rasakan hari ini. Sebelumnya aku adalah komentator kehidupan berumah tangga, ternyata kini aku adalah pelaku utama. Menikah diboyong suami, serumah dengan mertua, dan ipar. Bisa dibayangkan bagaimana? Nyatanya setiap orang akan memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Ada keluarga suami yang memang bisa menerima dan saling mendukung. Ada juga mertua dan menantu, bagaikan Tom and Jerry. Jika dengan mertua baik-baik saja, justru dengan ipar yang kurang akur. Jaman sekarang, ada istilah ipar adalah maut. Terkadang ada rasa cemburu karena perhatian mertua. Status yang bisa di bilang anak yang miskin dan anak yang kaya atau anak yang berbakti versus anak yang paling dimanja. Pastinya rasa iri dengki sangatlah kuat. Namun, yang biasanya bikin geger gedhen itu kalau rebutan warisan.
Ditulis oleh neema di India.
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.