(CERITA SAHABAT) Apakah Anak Saya Alami Late Bloomer?

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Wenny, di Prancis. Saya menikah dengan pria berkewarganegaraan Prancis. Karena jadwal kerja suami yang sangat padat, ia jarang berada di rumah. Sehari-hari, saya yang mengurus dan membesarkan anak kami seorang diri.

Dalam keluarga, bahasa sehari-hari yang kami gunakan adalah Bahasa Inggris, walaupun mertua dan suami saya lebih nyaman menggunakan Bahasa Prancis. Saya sendiri tidak begitu fasih lagu-lagu anak berbahasa Prancis, sehingga sejak anak bayi saya terbiasa menggunakan YouTube untuk memutarkan lagu-lagu tersebut. Tanpa sadar, dari situlah anak saya banyak terpapar screen time. Saya belakangan menyadari bahwa kebiasaan ini membuat anak jadi sulit mengendalikan emosi dan cenderung kecanduan layar.

Selain itu, anak saya lahir prematur. Dia lahir sebulan lebih cepat dari perkiraan. Proses kelahiran pun cukup sulit. Saya harus menunggu lama untuk melahirkan normal, meski akhirnya dokter tetap melakukan operasi caesar. Sejak lahir, saya sudah merasa ada sesuatu yang berbeda. Anak saya jarang sekali mengeluarkan suara, tidak “bubbling” seperti bayi pada umumnya.

Ketika usianya masuk satu tahun, tanda-tanda keterlambatan bicara mulai semakin jelas. Meski ia mengerti instruksi dan bisa merespons panggilan, ia jarang mengeluarkan kata. Saat berinteraksi dengan keluarga suami, mereka tidak terlalu khawatir. Bagi mereka, wajar saja anak menjadi bilingual atau bahkan trilingual karena terbiasa mendengar tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Prancis). Mereka percaya suatu hari nanti anak akan bisa berbicara. Namun sebagai seorang ibu, saya tetap merasa cemas.

Saya dan suami sempat membawa anak ke beberapa dokter, dari dokter umum hingga pediatric. Hasilnya? Tidak ada diagnosis khusus, hanya saran agar kami sabar dan mengurangi screen time. Seorang pediatris bahkan menekankan konsep zero screen bagi anak kecil. Tetapi praktiknya sulit, karena saya sendirian mengurus rumah dan anak tanpa banyak dukungan.

Di usia 2 tahun 5 bulan, anak saya sudah sangat mengerti apa yang kami katakan dalam Bahasa Prancis maupun Bahasa Inggris. Ia bisa mengikuti instruksi sederhana, bahkan membantu menyiapkan sepatu ketika kami hendak keluar rumah. Namun kosakatanya masih terbatas, seperti: hanya “mama”, “papa”, “yes”, “no”, dan beberapa kata dalam Bahasa Prancis. Anak saya menunjukkan kecerdasan dalam aspek motorik dan tindakan, tetapi perkembangan verbalnya lambat.

Menurut saya, sistem kesehatan di Prancis terasa lambat jika dibandingkan dengan di Indonesia, di mana layanan terapi wicara sudah mulai berkembang luas. Di sini, kami harus mencari sendiri referensi dan dokter belum tentu mau menerima pasien baru tanpa rujukan resmi.

Tantangan terberat bagi saya adalah rasa kesepian dalam mengasuh anak. Suami sibuk, keluarga jauh, dan keterampilan bahasa saya yang terbatas membuat saya harus berjuang ekstra. Anak saya tidak pergi rutin ke daycare lagi, karena keterbatasan waktu suami untuk mengantar, sehingga kesehariannya lebih banyak bersama saya.

Meski begitu, saya belajar untuk bersyukur. Hal-hal kecil seperti mendengar anak menyebut “mama” atau “daddy” sudah menjadi kebahagiaan besar bagi saya. Saya percaya anak saya termasuk late bloomer. Suatu hari, ia akan berbicara dengan lancar, mungkin pada usia 3 atau 4 tahun.

Saya menyadari bahwa membesarkan anak di luar negeri, dengan latar budaya dan bahasa yang berbeda, penuh tantangan. Ada kalanya saya merasa bingung antara mengajarkan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, atau bahasa Prancis. Mertua tentu berharap cucu mereka fasih berbahasa Prancis, sementara saya ingin anak tetap mengenal bahasa ibu.

Harapan saya sederhana: semoga anak saya bisa tumbuh percaya diri dan mampu berkomunikasi dengan baik layaknya anak-anak lain seusianya, meskipun jalannya sedikit lebih lambat.

Tips dari saya untuk orang tua lainnya, tanpa bermaksud menggurui tetapi belajar satu sama lain, antara lain:

  1. Kurangi paparan layar sejak dini. Lebih baik memperkenalkan lagu anak-anak secara langsung, bukan dari YouTube.
  2. Konsistensi bahasa. Pilih satu bahasa utama lebih dulu sebelum memperkenalkan bahasa lain agar anak tidak bingung.
  3. Dukungan bersama. Ayah dan ibu perlu sama-sama terlibat, jangan hanya salah satu yang memikul beban pengasuhan.
  4. Bersyukur pada progres kecil. Setiap kata baru yang keluar dari mulut anak adalah pencapaian besar.
  5. Siap menghadapi perbedaan budaya. Tinggal di luar negeri berarti siap menghadapi pola asuh, aturan, dan ekspektasi yang berbeda dengan di Indonesia.

Sahabat Ruanita, menjadi ibu dari anak dengan keterlambatan bicara membuat saya belajar banyak hal. Saya belajar tentang kesabaran, penerimaan, dan arti syukur. Saya yakin, bahwa setiap anak punya waktunya sendiri. Dan untuk anak saya, meski ia seorang late bloomer, saya percaya suatu hari nanti ia akan mengejar ketertinggalannya.

Penulis: Wenny, tinggal di Prancis dan dapat dikontak via akun instagram wennymarty.


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar