
Isu lingkungan hidup kembali menjadi topik hangat dalam program Audio Podcast Diskusi RUMPITA (Rumpi Bersama Ruanita) yang tayang bulanan di kanal Spotify Rumpita. Dalam edisi spesial memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, diskusi kali ini menghadirkan perspektif lintas negara sekaligus suara anak muda Indonesia yang bergerak nyata di bidang keberlanjutan. Dipandu oleh Anna, relawan Ruanita yang berdomisili di Jerman, podcast ini dibuka dengan sapaan hangat khas RUMPITA. Anna tidak sendiri dan ditemani oleh Rieska, relawan Ruanita Indonesia yang kini tinggal di Milan, Italia. Percakapan ringan pun berkembang menjadi diskusi mendalam tentang tantangan dan harapan lingkungan hidup, khususnya dari sudut pandang global.
Untuk memperkaya diskusi, Anna dan Rieska mengundang sosok yang dinilai sangat relevan dengan tema. Dia adalah Aurelia Aranti Vinton, yang pernah menyandang Putri Bumi Indonesia Anti Pencemaran Udara, sekaligus aktivis lingkungan dan pendiri komunitas Sebentala. Aurelia, yang akrab disapa Aurel, saat ini tengah menempuh studi S2 Sustainable Technology di KTH Royal Institute of Technology, Swedia. Aurelia juga telah menamatkan studi S1 Kehutanan di Institut Pertanian Bogor (IPB). Kepeduliannya terhadap lingkungan hidup bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba.
“Sejak kecil saya sudah cukup aware dengan isu perubahan iklim. Lingkungan hidup itu terasa seperti passion,” ungkap Aurel dalam diskusi.
Perjalanan akademik Aurel membawanya pada kesadaran bahwa isu lingkungan tidak bisa dilihat dari satu sektor saja. Menurutnya, target global seperti net zero emission membutuhkan pendekatan lintas disiplin, mulai dari kehutanan, energi, hingga pengelolaan sampah. Ia menyoroti peran gas metana dari sampah yang bahkan berdampak lebih besar terhadap pemanasan global dibandingkan karbon dioksida. Ketertarikannya pada Swedia pun tak lepas dari komitmen negara tersebut terhadap keberlanjutan, termasuk pengelolaan sampah menjadi energi melalui insinerator.
Aurel juga berbagi bahwa ia dapat melanjutkan studi berkat dukungan beasiswa LPDP. Menurut Rieska, hal ini menunjukkan meningkatnya perhatian pemerintah Indonesia terhadap isu keberlanjutan. Diskusi kemudian mengarah pada komunitas Sebentala yang didirikan Aurel sejak 2023. Nama Sebentala berasal dari bahasa Sanskerta: Se berarti satu, dan Bentala berarti bumi atau tanah. Filosofinya sederhana namun kuat, manusia hanya memiliki satu bumi untuk dijaga bersama.
Inspirasi Sebentala lahir dari pengalaman Aurel saat melakukan penelitian skripsi di Kalimantan Barat. Ia menyaksikan langsung bagaimana pengetahuan lokal yang kaya belum selalu terhubung dengan pemahaman tentang dampak teknologi modern, seperti plastik yang sulit terurai.
“Hal-hal yang kita anggap sederhana di kota, ternyata belum tentu diketahui di desa,” ujarnya.
Sebentala kini memiliki sekitar 40 pionir (relawan) yang tersebar dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur, dengan mayoritas berada di Jabodetabek. Menariknya, sebagian besar pionir adalah perempuan.
Menurut Aurel, perempuan memegang peran penting dalam perubahan perilaku sehari-hari, mulai dari pengelolaan rumah tangga hingga kebiasaan memilah sampah. “Keputusan kecil di rumah bisa berdampak besar,” katanya.
Tantangan terbesar dalam mengelola komunitas berbasis relawan, lanjutnya, adalah menjaga konsistensi dan semangat. Namun, dengan manajemen waktu dan komunikasi yang baik, Sebentala terus berkembang. Bahkan, pada 2025 mendatang, Aurel dan tim Sebentala akan mengimplementasikan proyek Youth for Climate bersama UNDP di Kalimantan Barat, fokus pada pemberdayaan pemuda dan komunitas adat Dayak di Ketapang. Rieska kemudian berbagi pengalamannya di Milan, Italia. Ia menuturkan bagaimana pemilahan sampah yang dimulai dari rumah, yang sering kali dimotori para ibu, sehingga berujung pada sistem energi terintegrasi untuk transportasi publik.
“Dua juta penduduk Milan, sampah organiknya kembali ke kami sebagai energi. Transportasi publik jadi murah, bersih, dan bisa diandalkan,” jelas Rieska menambahkan pengalaman kesehariannya di Milan, Italia.
Aurel menambahkan pengamatannya dari berbagai negara, termasuk Jepang, Tiongkok, Jerman, dan Swedia. Setiap negara memiliki pendekatan berbeda, namun benang merahnya adalah keseriusan kebijakan dan pemanfaatan teknologi. Menutup diskusi, para narasumber sepakat bahwa peran individu tetap krusial. Mulai dari mengurangi konsumsi barang impor, menggunakan transportasi publik, membawa tumbler, hingga menanam pangan sendiri, yang merupakan adalah langkah kecil yang berdampak besar dalam menurunkan jejak karbon.
“Generasi kita adalah penentu,” tegas Aurel. “Kalau bukan kita yang bergerak sekarang, maka risiko bencana akan semakin besar di masa depan, terutama bagi Indonesia yang rawan bencana.”
Podcast audio Diskusi RUMPITA kali ini menjadi pengingat bahwa menjaga bumi bukan sekadar wacana, melainkan kerja kolektif lintas generasi, lintas negara, dan dimulai dari keseharian. Dari Eropa hingga Indonesia, harapan itu tetap ada, selama masih ada anak muda yang peduli dan mau menjadi pionir. Simak selengkapnya berikut ini di kanal SPOTIFY RUMPITA berikut dan pastikan FOLLOW agar dapat mendukung kami.
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.