(CERITA SAHABAT SPESIAL) Ketika Rumah Tak Lagi Berbicara Tempat

Melanjutkan program video cerita sahabat spesial (CSS) yang rilis tiap bulan, Ruanita Indonesia mengangkat makna rumah bagi mereka yang bekerja secara nomaden. Mengapa? Bagi sebagian orang, rumah adalah sebuah alamat atau tempat yang bisa ditunjuk di peta, lengkap dengan jalan, kota, dan negara. Namun bagi Itha Pandjaitan Siburian, makna rumah telah berubah. Rumah bukan lagi sekadar tempat tinggal, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Bagi Itha, rumah adalah tentang rasa, kehadiran, dan keterikatan hati.

Kini, Itha tinggal di Bogotá, Kolombia, bersama keluarganya. Kehidupan mereka di sana dimungkinkan oleh sebuah pilihan yang semakin relevan di era digital, yaitu menggunakan visa digital nomad. Dengan visa ini, mereka tetap bisa bekerja secara remote tanpa harus terikat pada pekerjaan di negara tempat mereka tinggal. Sebuah keputusan yang terdengar fleksibel, namun menyimpan tantangan yang tidak sedikit.

Perjalanan mereka sebagai keluarga Indonesia di mancanegara tidak dimulai di Kolombia. Sebelumnya, mereka sempat tinggal di Kamboja. Namun, kepindahan ke Kolombia membawa pengalaman yang jauh lebih menantang. Jika di Kamboja, komunitas orang Indonesia masih cukup banyak, di Kolombia jumlahnya sangat sedikit. Rasa asing menjadi lebih terasa, terutama di awal kedatangan. Apalagi menurut Itha, belum ada lingkaran pertemanan dan semuanya terasa benar-benar baru.

Hari-hari Itha diisi dengan proses beradaptasi. Ia membangun relasi dari hal-hal sederhana, seperti berkenalan dengan orang-orang di gym. Dari situ, perlahan ia mengenal kehidupan lokal. Namun, perbedaan budaya tetap menghadirkan kejutan-kejutan kecil yang tidak selalu mudah.

Ia bercerita tentang kebiasaan sehari-hari yang berbeda dari yang ia kenal di Indonesia. Di jalanan, misalnya, pengalaman menunggu bus bisa menjadi petualangan tersendiri. Bus tidak selalu berhenti tepat di halte, sehingga penumpang harus sigap mengejar. Hal-hal kecil seperti ini menjadi bagian dari dinamika hidup yang harus diterima dan dijalani.

Di sisi lain, ia juga menemukan hal-hal yang menghangatkan. Orang-orang Kolombia dikenal ramah, meskipun pada awalnya makanan lokal terasa asing di lidah. Kombinasi nasi dengan pisang atau singkong sempat terasa aneh, tetapi seiring waktu, justru menjadi sesuatu yang bisa dinikmati.

Pengalaman tinggal di luar negeri juga membuka perspektif baru tentang perempuan. Saat di Kamboja, Itha melihat bagaimana perempuan sering kali memegang peran besar dalam ekonomi keluarga, bahkan menjadi tulang punggung. Sementara di Kolombia, ia melihat sisi lain. Menurutnya, perempuan di Kolombia lebih vokal, berani berbicara, dan mengekspresikan pendapatnya dengan percaya diri.

Perbedaan-perbedaan ini tidak hanya memperkaya pengalamannya, tetapi juga memperkuat identitas dirinya sebagai perempuan Indonesia. Justru setelah tinggal jauh dari tanah air, ia merasa kecintaannya terhadap Indonesia semakin dalam. Hal-hal yang dulu terasa biasa, kini menjadi sesuatu yang dirindukan dan dibanggakan.

Dari situlah makna rumah mulai berubah dalam dirinya. Rumah tidak lagi sekadar bangunan atau lokasi geografis. Rumah adalah kehadiran orang-orang tercinta, kebiasaan yang dibawa dari tanah kelahiran, dan nilai-nilai yang tetap hidup di dalam keseharian. “Home is where the heart is,” menjadi kalimat yang kini ia pegang. Di mana hati berada, di situlah rumah berada.

Meskipun tinggal jauh di Kolombia, Itha merasa tidak benar-benar meninggalkan Indonesia. Ia tetap membawa Indonesia dalam kehidupan sehari-harinya dalam cara berpikir, nilai yang ia tanamkan kepada anak-anaknya, dan hal-hal sederhana yang ia lakukan sebagai bagian dari identitasnya.

Baginya, Indonesia bukan sekadar tempat asal, tetapi bagian dari dirinya yang tidak bisa dipisahkan. Sebuah rumah yang tidak akan pernah hilang, ke mana pun langkah membawanya. Di tanah yang jauh, di antara bahasa yang berbeda dan budaya yang baru, Itha menemukan satu hal yang pasti. Bahwa rumah bukan lagi soal di mana kita berada, tetapi tentang apa yang kita bawa di dalam hati.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial episode September 2026 di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung kami.


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar