(CERITA SAHABAT) Berpindah Negara itu Bukan Soal Kesiapan Administrasi Saja

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya Leni, seorang ibu yang baru saja pindah ke Bulgaria Utara dan sebelumnya tinggal di Jerman. Saya ingin berbagi cerita perjalanan saya sebagai perempuan Indonesia yang hidup berpindah negara karena mengikuti suami. Semula saya tinggal di Surabaya, Bali, lalu ke Jerman, dan sekarang menetap di Bulgaria. Di Surabaya, saya mengenal suami dalam kelompok perjalanan bersama. Pengalaman tinggal ini benar-benar saya jalani, dengan segala proses adaptasi, kebingungan bahasa, dan dinamika membesarkan anak jauh dari keluarga.

Sahabat Ruanita, saya lahir dan besar di Surabaya. Setelah itu saya kuliah dan kemudian tinggal di Bali kurang lebih 12 tahun. Bali adalah fase panjang dalam hidup saya. Di sana saya bekerja, membangun karier, dan menjalani kehidupan yang sudah terasa stabil. Saya tidak pernah benar-benar membayangkan akan tinggal di Eropa.

Saya bertemu suami di Surabaya. Waktu itu dia sedang traveling, dan kami berada dalam satu komunitas traveler. Awalnya hanya kenal biasa, lalu berteman. Hubungan kami berjalan cukup lama, sekitar empat sampai lima tahun saling mengenal, sebelum akhirnya memutuskan menikah.

Suami saya asli Bulgaria, lahir dan besar di Sofia, ibukota Bulgaria. Namun sebelum menikah, dia sudah lama tinggal di Jerman untuk sekolah dan bekerja. Karena itu, ketika kami menikah, keputusan untuk pindah ke Jerman lebih banyak berdasarkan pertimbangannya. Menurut dia, sistem di Jerman bagus untuk memulai keluarga. Fasilitasnya mendukung, sistemnya rapi, dan sebagai tempat membangun keluarga baru, dia merasa Jerman adalah pilihan yang baik. Saya akhirnya setuju. Saya pun memutuskan pindah ke Jerman.

Saat pindah ke Jerman, saya masih bekerja. Pekerjaan saya waktu itu untuk seorang desainer yang memiliki online shop. Saya mengurus bagian logistik dan fulfillment. Tugas saya menghubungkan sistem antara gudang di beberapa negara. Jadi, setiap ada pesanan dari website, saya yang mengatur agar sistemnya berjalan, barang terkirim dengan benar dari gudang ke pelanggan.

Awalnya saya sempat ingin resign ketika pindah ke Jerman, tetapi atasan saya tidak mengizinkan. Dia mengatakan saya bisa tetap bekerja dari Jerman secara online. Akhirnya saya lanjut bekerja dengan penyesuaian waktu. Awal tinggal di Jerman, saya masih aktif bekerja secara remote.

Setelah melahirkan anak, saya mulai merasakan beratnya menjadi ibu baru di negara yang bukan tanah kelahiran saya. Kami tidak punya keluarga di sana. Tidak ada orang tua, tidak ada saudara, tidak ada “oma-opa” yang bisa membantu. Kami benar-benar hanya berdua sebagai suami istri, dan kemudian bertiga setelah anak lahir.

Dua bulan pertama setelah melahirkan terasa sangat berat. Saya merasa kewalahan. Sebagai new mom, semuanya masih belajar sendiri. Ditambah lagi kami memulai keluarga di Jerman tanpa support system. Karena merasa tidak bisa membagi fokus antara bayi dan pekerjaan, akhirnya saya memutuskan resign. Setelah dua bulan melahirkan, saya berhenti bekerja dan menjadi full-time stay at home mom.

Kehidupan di Jerman sebenarnya tidak terlalu berat dari sisi adaptasi luar negeri, karena sebelumnya saya pernah tinggal di Amerika Serikat untuk program pertukaran pelajar. Pengalaman tinggal di luar negeri bukan sesuatu yang benar-benar asing. Namun, membangun keluarga di negara orang berbeda dengan datang sebagai pelajar.

Bahasa menjadi bagian penting dalam kehidupan kami. Bahasa Jerman bukan bahasa ibu saya dan bukan bahasa ibu suami juga. Bahasa Bulgaria adalah bahasa ibunya, sedangkan bahasa Indonesia adalah bahasa ibu saya. Kami berdua berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, sebagai bahasa ketiga.

Dalam rumah tangga kami, bahasa Inggris menjadi bahasa komunikasi suami-istri. Anak kami tumbuh di lingkungan Jerman, sehingga bahasa yang dia pelajari di luar rumah adalah bahasa Jerman. Di rumah, saya konsisten menggunakan bahasa Indonesia kepada anak saya.

Awalnya, kami sempat menggunakan tiga bahasa untuk anak: Bahasa Indonesia dari saya, Bahasa Bulgaria dari suami, dan Bahasa Jerman dari lingkungan. Ditambah lagi, saya dan suami berbicara bahasa Inggris di rumah. Namun, dokter anak di Jerman sempat menyampaikan kekhawatiran karena terlalu banyak bahasa untuk anak saya yang masih kecil. Walaupun sebenarnya banyak literatur mengatakan itu tidak masalah, kami tetap merasa khawatir. Akhirnya, bahasa Bulgaria sementara dieliminasi. Saya tetap menggunakan bahasa Indonesia. Suami menggunakan bahasa Jerman kepada anak. Bahasa Inggris tetap kami gunakan di antara kami berdua, dan anak mendengarnya, tetapi kami tidak pernah secara langsung mengajarkan bahasa Inggris kepadanya.

Bagi saya, mempertahankan bahasa Indonesia sangat penting. Orang tua saya tidak bisa bahasa Jerman, apalagi bahasa Inggris. Saya ingin anak saya tetap bisa berkomunikasi dengan kakek-neneknya. Itu juga cara saya menjaga identitas Indonesia dalam keluarga kami.

Di Jerman, kehidupan kami berjalan cukup stabil. Anak saya bersekolah dengan proses adaptasi yang sangat mulus. Tidak ada drama. Tidak ada tangisan berlebihan. Transisinya lancar sekali.

Namun, hidup kami berubah lagi. Suami terkena PHK. Departemennya diberhentikan karena pengurangan biaya perusahaan. Setelah itu, dia mencari pekerjaan cukup lama, sekitar satu tahun lebih. Proses mencari kerja itu tidak singkat dan tentu tidak mudah. Tapi akhirnya dia mendapatkan pekerjaan baru di Bulgaria. Suami memiliki keunggulan karena dia bisa bahasa Bulgaria dan bahasa Jerman. Jadi ketika kesempatan itu datang, kami harus mempertimbangkan pindah ke Bulgaria.

Keputusan itu tidak mudah. Saya ragu. Bahasa baru lagi. Lingkungan baru lagi. Anak saya sudah nyaman di Jerman, punya teman, dan terbiasa dengan sistem sekolah di sana. Kami harus menjelaskan perlahan kepada anak bahwa papanya mendapat pekerjaan di Bulgaria. Kami juga mengatakan bahwa kami tetap bisa traveling dengan campervan seperti biasa. Traveling memang salah satu kegiatan keluarga kami, dan saya sering membagikannya di YouTube atau media sosial, walaupun bukan sebagai content creator profesional. Itu lebih untuk berbagi dengan keluarga dan menyimpan kenangan.

Anak saya awalnya tidak mau pindah karena dia sudah nyaman di Jerman. Setelah dijelaskan pelan-pelan, dan diberi gambaran bahwa kami tetap bisa jalan-jalan dan melihat tempat baru, akhirnya dia menerima.

Tantangan terbesar ketika pindah ke Bulgaria adalah bahasa. Alfabetnya berbeda. Sistem tulisannya berbeda. Cara membacanya juga berbeda. Untuk kehidupan sehari-hari, ini sangat terasa. Saya benar-benar tidak bisa bahasa Bulgaria ketika pertama datang.

Selain bahasa, tantangan terbesar adalah proses adaptasi anak bersekolah di Bulgaria. Satu sampai dua bulan pertama sangat berat. Banyak drama dan air mata. Sistem di Bulgaria terasa lebih keras dibanding di Jerman. Melihat hal itu sangat menyakitkan bagi saya sebagai ibu, apalagi saya tidak bisa bahasa Bulgaria. Banyak guru juga tidak bisa bahasa Inggris atau menggunakan bahasa Inggris yang sangat terbatas. Saya tidak bisa menjelaskan kondisi anak secara detail. Dengan keterbatasan bahasa, saya merasa sangat sendirian dalam proses itu.

Awal-awal itu saya merasa sangat tertekan. Melihat anak menangis, sulit beradaptasi, dan saya tidak bisa membantu secara maksimal karena keterbatasan bahasa, membuat saya sering merasa drop. Saya bahkan merasa seperti hampir depresi di bulan-bulan pertama itu.

Di rumah, situasi juga tidak selalu mudah. Kami sering bertengkar karena perbedaan cara menghadapi anak yang sedang beradaptasi. Ditambah lagi, bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi kami bukan bahasa ibu, kadang menimbulkan miskomunikasi. Di kota tempat saya tinggal, sekitar satu jam dari Sofia dan dekat perbatasan Yunani, menurut saya mereka adalah orang-orang yang cukup baik. Orang Asia sangat sedikit di sini, sehingga saya memang terlihat berbeda. 

Untuk membantu anak beradaptasi, suami mencari komunitas Bulgaria yang bisa berbahasa Jerman. Kami sesekali ikut kumpul di sana, supaya anak tetap bisa mendengar bahasa Jerman sehingga dia tidak merasa sepenuhnya tertekan harus langsung menggunakan bahasa Bulgaria.

Kalau ditanya apa yang saya rindukan dari Jerman, saya rindu kemudahan transportasinya. Bahkan di desa, halte bus, banyak dan sistemnya rapi. Saya juga rindu alamnya yang terasa lebih bersih dan minim polusi. Dan saya rindu doner kebab versi Jerman. Dari semua perjalanan ini, pelajaran terbesar bagi saya mungkin sederhana: jangan terlalu percaya komentar di media sosial. Pengalaman nyata bisa sangat berbeda dari stereotip online. Adaptasi memang berat, terutama di awal kepindahan. Bahasa, sekolah anak, dan rasa sepi adalah tantangan nyata. Namun pelan-pelan, kami mulai menemukan ritme baru.

Saya masih belajar bahasa Bulgaria, masih membangun lingkaran kecil pertemanan, dan masih belajar memahami budaya yang berbeda. Saya juga belajar bahwa berpindah negara bukan hanya soal lokasi, melainkan soal kesiapan mental dan kesediaan untuk terus beradaptasi.

Terima kasih sudah membaca cerita saya, sahabat Ruanita. Semoga pengalaman saya bisa menjadi teman bagi siapa pun yang sedang berjuang menyesuaikan diri di negeri orang.

Penulis: Leni, relawan Ruanita di Bulgaria yang dapat dikontak via akun instagram wickedtravelers_campervan.