Rumah Aman Kita: "Rumah" adalah di mana hati berada
Penulis: Admin RUANITA - Rumah Aman Kita
"Rumah" orang Indonesia di luar Indonesia di mana kita bisa berdiskusi & berbagi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik baik dalam konteks Transnational Cultural Psychological.
Judul karya: Menyembuhkan Diri, Mencari Jalan Keluar dari Kekerasan
Deskripsi: Saya punya pengalaman, dari seorang rekan yang sedang hamil dan mengalami kekerasan. Kekerasan fisik terhadap perempuan yang sedang hamil, tentunya menciptakan situasi traumatis yang berpotensi merugikan ibu dan janin. Pilihan antara tetap tinggal atau mencari tempat aman menjadi dilema sulit. Belum lagi dia perlu mempertimbangkan kesehatan mental dan fisik yang rentan. Penting untuk mencari dukungan dari keluarga, teman, atau lembaga yang kompeten dalam membantu korban kekerasan domestik. Menemukan tempat yang lebih aman dan berusaha menyembuhkan diri adalah langkah penting menuju pemulihan dan keselamatan jangka panjang.
Pembuat karya: Anonim Judul karya: Berlari Walau Terikat Deskripsi: Karya ini menceritakan tentang keprihatinan saya terhadap tingginya kasus kekerasan dalam hubungan, baik itu kekerasan dalam berpacaran maupun kekerasan dalam rumah tangga di mana seringkali perempuan menjadi korbannya. Saya memilih gambar mata yang memar dan kaki yang terikat sebagai simbol kekerasan yang dialami oleh perempuan korban […]
Program Cerita Sahabat Spesial di bulan Desember 2023 mengangkat tema Hari Internasional Penyandang Disabilitas yang jatuh tiap 3 Desember. Ruanita Indonesia mengundang Suan Ny yang tinggal di Jerman dan tinggal di kursi roda akibat kondisi tetraplegia.
Kondisi tetraplegia adalah Tetraplegia adalah kondisi seseorang akibat cedera yang terjadi pada otak, sumsum tulang belakang atau salah satunya sehingga orang tersebut mengalami kelumpuhan dari otot leher hingga seluruh anggota tubuhnya.
Suan Ny mengalami kecelakaan mobil ketika dia bersama anak dan temannya ingin berkunjung ke suatu karnaval di Jerman. Sejak kejadian tersebut, Suan Ny harus hidup di kursi roda. Sebelum kecelakaan terjadi, Suan Ny adalah ibu rumah tangga yang bekerja paruh waktu sebagai pengajar Bahasa Indonesia di VHS dan guru les untuk siswa-siswi Jerman. Suan Ny sendiri sempat mengalami mati suri akibat kecelakaan tersebut.
Dengan tekad dan semangatnya, Suan Ny berusaha untuk bisa menggerakkan kepala, leher, bahu, dan tangannya meskipun dia masih harus tetap hidup di kursi roda. Suan Ny bertekad untuk menyelesaikan studi S2 yang sudah dia mulai di tahun 2015. Dalam kondisi yang terbatas, Suan Ny berhasil mendapatkan kelulusan di salah satu universitas di Jerman.
Suan Ny pun sempat merasa terluka dan kecewa karena suami Suan Ny pun berusaha meninggalkan dia. Suaminya datang ke rumah sakit, saat Suan Ny masih dirawat intensif. Dia mengatakan bahwa pengacara akan mengurus perceraian mereka. Suan Ny semakin hancur ketika anaknya pun tidak mengenalinya sejak dia dirawat lama di rumah sakit.
Suan Ny berpesan: “Save yourself first, before save the others!”. Beruntungnya pemerintah Jerman membantu dan mendukung kebutuhan Suan Ny untuk bisa bertahan hidup sebagai Single Mom seorang diri.
Bagaimana kecelakaan yang menimpa Suan Ny terjadi? Apa yang membuat Suan Ny bangkit dan termotivasi sebagai Single Mom, termasuk menyelesaikan studi S2? Apa saja yang ditunjang dan dibantu oleh Pemerintah Jerman untuk Suan Ny sebagai penyandang disabilitas? Apa pesan Suan Ny untuk pemerintah Indonesia dalam rangka Hari Internasional Penyandang Disabilitas?
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Simak selengkapnya dalam program Cerita Sahabat Spesial di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Subscribe kanal kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.
Deskripsi: Kekerasan yang dialami oleh perempuan dapat menyebabkan trauma yang mendalam dan berdampak jangka panjang pada kesehatan mental dan emosional. Efek dari trauma tersebut bisa sangat mendalam, yang menyebabkan mimpi buruk dan gejala lain yang sulit diatasi. Kolase ini bercerita tentang mimpi buruk yang selalu hadir setiap malam dan menghantui hidup para korban kekerasan. Para korban tentunya sangat berharap bahwa suatu hari mereka dapat terbebas (seperti burung yang terbang bebas di langit biru pada gambar) dari mimpi buruk dan trauma yang mereka alami pasca kejadian kekerasan, serta dapat melanjutkan hidup dengan penuh harapan dan ketangguhan.
Judul karya: Merdeka Melawan Kekerasan Seksual di Pesantren
Deskripsi: Kasus kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja. Pelaku dan korbannya pun bisa siapa saja. Komnas Perempuan mencatat lembaga pendidikan pesantren menempati urutan kedua terbanyak dalam hal kasus kekerasan seksual dalam periode 2015-2020. Pada perayaan 16HAKTP 2023, melalui kolase ini saya menyampaikan hormat kepada semua para santri yang sudah berjuang melawan kekerasan seksual yang ada di pesantren.
Deskripsi: “Domestic Violence” (baik dalam hubungan berpacaran maupun dalam rumah tangga) terkadang menghampiri kaum perempuan tanpa mereka sadari. Berkedok sebagai “kodrat” dan tanggung jawab yang dipaksakan, perempuan bagaikan terpenjara di dalam sangkar emas, ataupun sangkar-sangkar lainnya, yang secara tidak langsung menempatkan diri mereka di bawah tekanan dan penindasan. Tetapi, sekalinya perempuan telah berdaya dan berani keluar dari lingkungan toksik itu, maka kebebasan telah menantinya.
Deskripsi Akhir-akhir ini saya melihat banyak terjadinya kekerasan dunia maya yang sering kali korbannya adalah perempuan. Salah satu bentuk kekerasan di dunia maya yang menyita perhatian saya adalah maraknya kasus “revenge porn”. Kasus ini banyak menyebar di berbagai media sosial dengan korban yang rata-rata perempuan muda. Saya merasa bahwa kasus-kasus ini dapat menghancurkan kehidupan seseorang karena bagaimanapun kekerasan digital itu dapat menyebar dengan cepat dan jejaknya akan selalu ada. Saya berharap karya ini dapat menjadi salah satu pengingat untuk generasi muda agar selalu berhati-hati sehingga mereka bisa terhindar dari kekerasan dunia maya.
Deskripsi: Dari kolase yang dibuat ini, saya ingin menyampaikan gambaran kehidupan perempuan jikalau mereka tidak lagi menjadi korban, baik kekerasan verbal, fisik, maupun seksual. Mereka bisa kuat bagaikan batu bata, pun mampu bersemi menjadi apa yang diimpikan bagai bunga-bunga bermekaran. Mari sama-sama kita wujudkan perempuan Indonesia yang lebih sejahtera tanpa kekerasan. Jangan pukul tapi rangkul!
Deskripsi: Kekerasan Verbal adalah salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan yang paling sering terjadi dan dapat ditemui baik di dalam maupun di luar kehidupan domestik. Kekerasan ini seringkali diabaikan dan dianggap remeh, tetapi bisa menimbulkan dampak yang besar terhadap kesehatan mental. Gambar seorang perempuan yang hendak menutup panci dengan ikan “bergigi” di dalamnya menjadi simbol bahwa perempuan sebenarnya memiliki kekuatan untuk menghentikan segala kekerasan yang mereka alami. Melalui karya ini pula saya berharap bahwa kita sebagai perempuan mampu berdiri untuk diri kita sendiri, berani untuk berhenti “mendengarkan” kata-kata yang menyakitkan dan merdeka dari kekerasan itu sendiri.
Deskripsi: Kemerdekaan untukku adalah keberanian untuk kita lari, kabur, berpisah, melepaskan, dari semua penjara-penjara tak berbentuk yang dibangun oleh pola pikir patriarki. Bukan hanya secara fisik tetapi yang lebih utamanya secara pikiran, karena kalau kita tidak memerdekakan pola pikir kita, sejauh apapun kita melarikan diri, penjara itu akan tetap mengikuti. Kita harus sadar bahwa kita ini NYATA dan MAMPU melakukan apapun. Sendiri saja mampu apalagi bersama-sama. Uluran tangan banyak pihak juga sangat membantu untuk para perempuan memerdekakan diri dan pikirannya dan kungkungan penjara patriarki. Seni adalah cara memerdekakan diri, sudah digunakan sejak ratusan abad atau bahkan lebih lama. Dengan berkesenian apapun bentuknya, semoga para perempuan bisa menemukan pintu-pintu kemerdekaannya.
Setiap bulan kami menghadirkan program cerita sahabat spesial yang disampaikan oleh sahabat Ruanita Indonesia di seluruh dunia. Dalam rangka memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, kami mengundang Indah Sibuea yang tinggal di India. Indah adalah warga negara Indonesia yang tinggal di India, tepatnya di New Delhi hampir tiga tahun.
Indah juga mengelola kanal YouTube pribadinya Indah Sibuea dengan pengikut hampir dua ribu. Indah banyak bercerita tentang serba-serbi kehidupan barunya, termasuk bagaimana pengamatan dan pengalamannya tinggal di India. Indah dapat dikontak via akun Instagram indahsibuea.
Berdasarkan pengamatannya, memang ada perbedaan perlakuan pengasuhan keluarga-keluarga di India dalam membesarkan dan mengasuh anak. Ketidaksetaraan terjadi misalnya bagaimana anak laki-laki lebih didahulukan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, dibandingkan anak perempuan. Fenomena ini masih nyata terjadi di desa, dibandingkan di kota besar seperti New Delhi yang menjadi kota tempat tinggalnya sekarang.
Selama tinggal di India, Indah sempat mengalami kehamilan dan memeriksakan diri di dokter kandungan di sana. Ada aturan yang menurut dia tidak biasa, seperti bagaimana keinginannya untuk mengetahui jenis kelamin bayinya sebelum dilahirkan. Namun, hal itu tidak bisa dibenarkan untuk Indah mengetahui apakah anak yang dilahirkan itu anak laki-laki atau anak perempuan.
Dari pengamatan dan obrolannya dengan orang-orang India, pernikahan di India merupakan pesta besar yang memerlukan biaya. Hal ini mengingat status sosial dalam sebuah keluarga. Setelah menikah, perempuan di India terbiasa untuk tinggal menyatu dengan keluarga pihak suami. Kebanyakan mereka juga tinggal bersama ipar dan keluarga besar pihak suami.
Mengapa Indah tidak boleh mengetahui jenis kelamin bayi yang dilahirkan saat dia tinggal di India? Apakah masih terjadi perbedaan perlakuan pengasuhan antara anak laki-laki dengan anak perempuan? Bagaimana Indah menjelaskan tentang kehidupan keluarga di India? Apa saran Indah dalam rangka Hari Internasional Penghapusah Kekerasan terhadap Perempuan?
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Simak selengkapnya dalam video berikut ini di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami.
Dalam diskusi IG Live episode November 2023, Ruanita Indonesia mengangkat tema Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Peremuan yang masih menjadi rangkaian program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) 2023. Program AISIYU 2023 diselenggarakan dalam bentuk kolase dengan judul “Merdeka dari Tindak Kekerasan” dimulai dari 25 November hingga 10 Desember, yang menjadi Hari Hak Asasi Manusia Sedunia.
Untuk membahas lebih dalam, Anna sebagai pemandu IG Live mengundang Veryanto Sitohang yang adalah Komisioner Komnas Perempuan dan Hernita Oktarini, yang adalah Koordinator Proyek AISIYU 2023 sekaligus Relawan Ruanita Indonesia.
Diskusi IG Live ini terbagi dalam 3 segmen yakni: Apa itu Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan dan mengapa diselenggarakan selama 16 hari?; segmen kedua adalah mengapa kampanye AISIYU dalam bentuk kolase; dan segmen terakhir apa pesan dan harapan kerja sama Ruanita Indonesia dengan Komnas Perempuan.
Veryanto kemudian menceritakan sejarah dan latar belakang tercetusnya Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang berawal dari peristiwa di Dominika pada 25 November. Kekerasan terhadap perempuan adalah bagian dari pelanggaran hak asasi manusia sehingga upaya melakukan kampanye anti kekerasan diperingati hingga 10 Desember, Hari Asasi Manusia Sedunia.
Peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan itu diinisiasi oleh Komnas Perempuan sejak tahun 2001. Rangkaian Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan termasuk adalah Hari AIDS Sedunia yang dirayakan dunia 1 Desember. Setiap tahun Komnas Perempuan menggelar hampir 200 kegiatan di seluruh Indonesia. Komnas Perempuan bersama jaringannya menggelar tema di tahun 2023: Kenali Hukumnya dan Lindungi Korban.
Veryanto pun menyebutkan berbagai perangkat hukum untuk membuat kebijakan perlindungan terhadap perempuan, tetapi implementasinya dari aparat hukum hingga warga masyarakat belum dapat menerapkannya misalnya untuk kasus KDRT.
Hernita sebagai koordinator proyek AISIYU 2023 menjelaskan bahwa Workshop Kolase adalah tindak lanjut kunjungan Ruanita Indonesia ke Kantor Komnas Perempuan. Kita memilih seni kolase sebagai media visual untuk menampung aspirasi Sahabat Ruanita menyuarakan anti kekerasan terhadap perempuan melalui potongan bahan sederhana tetapi bermakna.
Rencanaya produk kolase 2023 yang sudah dilatihkan akan ditampilkan lewat kanal media sosial Ruanita Indonesia dan Komnas Perempuan mulai 25 November – 10 Desember 2023. Veryanto juga menambahkan berbagai program 16 Hari Anti Kekerasan yang digelar di Indonesia.
Lebih lanjut tentang rekaman diskusi IG Live dapat disaksikan berikut ini:
Subcribe kanal YouTube untuk mendukung program kami.
Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan saya Anonim yang tinggal di luar Indonesia. Sejak Agustus 2010, saya menetap di salah satu negara di benua biru. Saya senang bisa mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi di sini, terutama berbagi pengalaman dan tips tentang Healthy Relationship.
Berbicara tentang Healthy Relationship tidak selalu berkaitan dengan relasi percintaan atau kehidupan perkawinan saja loh, tetapi bisa juga dijabarkan dalam relasi kita sebagai sesama orang Indonesia di perantauan. Bagaimanapun, kita yang hidup di luar Indonesia saat ini perlu untuk menjalin relasi dengan sesama orang Indonesia lainnya agar kita tidak merasa sendirian.
Seperti yang disampaikan tadi, relasi yang sehat saat kita menjadi seorang perantau jauh dari tanah air, tidak hanya dengan keluarga inti saja atau pasangan hidup dan keluarga besar pasangan kita. Namun, kita juga perlu menjalin relasi yang baik dengan tetangga sekitar dan lebih luas seperti komunitas yang berkaitan dengan kita. Relasi yang sehat bisa diperluas lagi saat kita bekerja secara profesional atau secara sosial dengan dengan sesama pendatang dari tanah air sendiri.
Menurut saya, membangun relasi yang sehat itu penting. Secara prinsip, sebetulnya sederhana, seperti: saling menghargai, jujur, empati, saling mendukung, terbuka, atau siap berkolaborasi. Namun kenyataannya, banyak perantau merasa gagal. Alih-alih, sesama perantau bisa berkolaborasi, ini malah bersaing secara tidak sehat.
Secara jujur, saya katakan kalau saya sendiri belum mencapai relasi yang sehat tersebut di antara sesama perantau di mancanegara. Saya memerhatikan kalau relasi antara sesama perantau itu justru banyak mengalami konflik.
Berdasarkan pengamatan saya, sesama orang Indonesia di negeri rantau saling berpikir negatif satu sama lain. Sesama orang Indonesia di mancanegara pun tidak mengenal secara pribadi, tetapi mereka lebih memercayai rumor yang berkembang. Ini sangat menyedihkan. Antar sesama orang Indonesia juga mempraktikkan persaingan yang tidak sehat, bahkan mengintimidasi. Saya bingung. Mengapa mereka saling menjatuhkan dan sibuk meraih eksistensi diri yang semu?
Perantau dari tanah air yang bermukim di mancanegara semakin banyak saja, dengan berbagai tujuan dan alasan seperti: studi, penelitian, pekerjaan, atau karena jodoh. Apapun motifnya, secara natural kita cenderung akan mencari teman sebangsa dan setanah air selama tinggal di tanah rantau ini. Bisa jadi, itu sebagai obat penawar rindu. Pendapat saya, kita sebaiknya jangan terlalu polos dan lugu. Tidak serta merta loh, Anda bisa langsung cocok atau langsung diterima oleh komunitas WNI tersebut.
Relasi antar sesama orang Indonesia mungkin akan menjadi toxic atau tidak lagi Healthy Relationship, apabila:
1. Anda harus selalu berusaha menyenangkan orang lain. Relasi ini tidak reciprocal. Artinya, mereka tidak peduli dengan perasaan dan hal-hal menyenangkan yang sudah Anda lakukan.
2. Tidak semua orang memiliki selera humor yang sama. Harap perhatikan ketika Anda bercanda bersama mereka, apakah mereka tersinggung? Kalau ya, itu artinya level humor Anda tidak sama. Carilah komunitas yang memililki level humor yang sama.
3. Tidak bisa menerima kata “tidak” dari Anda. Mereka marah bila Anda tidak bersedia. Itu berarti mereka tidak menghormati batasan-batasan yang Anda terapkan.
4. Mereka bergosip tentang Anda kemudian mereka marah ketika Anda mencoba untuk mengklarifikasinya langsung pada mereka. Artinya, mereka memang tidak sayang pada Anda.
5. Saling mengintimidasi. Jika lingkungan Anda menganut sistem senioritas dan ada semacam aroma “penggojlogan dan intimidasi” sebagai anak baru, sebaiknya tinggalkan saja lingkungan yang demikian.
Namun demikian, sebaiknya kita perlu melengkapi diri dengan karakter berikut ini sebelum kita masuk dalam sebuah komunitas sesama diaspora, seperti:
Jujur dan hindari tindakan kriminal.
Jangan sampai niat kita semula berteman tetapi malah mencuri atau mengambil barang teman. Ingat, mencuri meski kecil sudah termasuk dalam tindakan kriminal dan berat sekali hukumannya. Anda bahkan bisa dideportasi.
Saling Menghormati.
Tiap orang memiliki latar belakang, kisah, dan caranya sendiri yang memungkinkan dia bisa menetap di tanah asing. Jangan mudah mencela atau menghina cerita orang lain, karena itu bisa menghasilkan konflik yang tidak perlu. Toh, apapun kisah mereka – selama cerita itu tidak menyakiti Anda – itu adalah kisah perjuangan sesama manusia.
Jauhi rasa iri dan dengki.
Usahakanlah untuk turut merasa bahagia apabila ada teman yang sukses, berhasil, dan mampu mengatasi tantangannya. Suatu saat Anda juga berhasil, mereka pun turut berbahagia juga.
Mendengarkan.
Jika diundang dalam sebuah pertemuan komunitas, cobalah untuk mendengarkan dan memerhatikan apa yang sedang dibicarakan oleh lawan bicara. Cobalah untuk mengingat agar saat Anda bertemu lagi, Anda bisa “menanyakan updated info” yang membuat pembicaraan selanjutnya berjalan lebih lancar.
Memberi kebebasan pada setiap individu.
Setiap individu memiliki caranya sendiri dalam menghadapi krisis dan mencari jalan keluar. Bila perlu, kita mendorong mereka supaya mereka bisa menemukan solusi yang out of the box dan lebih efektif.
Melakukan kegiatan bersama.
Untuk menumbuhkan rasa kompak, kita bisa juga melakukan kegiatan bersama, seperti misalnya berburu barang vintage di pasar antik, atau thrift shop yang memiliki koleksi yang menarik dengan harga ekonomis.
Kebaikan selalu berbuah kebaikan.
Kalau ada teman yang memerlukan bantuan dan Anda bisa melakukannya, maka lakukanlah dengan tulus dan sepenuh hati.
Memiliki value dan passion pada hal yang sama.
Nah, kalau Anda menemukan orang-orang yang memiliki karakter seperti di atas, sebaiknya jangan dilepaskan. Mereka itu bagaikan berlian.
Melalui cerita sahabat ini, saya berharap agar ada forum komunikasi yang tidak sekedar hanya „Meminta Pertolongan“ saja pada komunitas orang Indonesia di mancanegara. Saya berharap agar ada forum pelatihan atau semacamnya yang mengasuh atau berbagi/sharing. Peran ini mungkin bisa dilakukan oleh perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri.
Semoga apa yang saya bagikan ini membantu Anda dalam mencari komunitas pertemanan yang sehat di tanah rantau! Sekali lagi, semoga bermanfaat. Salam dari dari perantauan.
Penulis: Anonim yang tinggal di perantauan dan menjadi korban intimidasi
Para perempuan dari berbagai belahan dunia berkumpul dan berbincang. Mereka menggunting gambar dan menyusunnya menjadi sebuah ilustrasi visual utuh, yang menyiratkan gagasan dan pesan tentang perempuan yang merdeka dari kekerasan.
Aktivitas tersebut dilakukan dalam Workshop Seni Kolase yang diselenggarakan pada 4 dan 11 November 2023 oleh Ruanita dan Komnas Perempuan. Workshop yang mengusung tema “Merdeka dari Kekerasan” ini menghadirkan Komisioner Komnas Perempuan, Tiasri Wiandani sebagai narasumber dan Seniman Kertas Putri Ayusha sebagai pelatih Seni Kolase.
Workshop ini sengaja diselenggarakan secara daring agar dapat diikuti oleh masyarakat lintas wilayah, baik mereka yang berada di dalam maupun luar negeri. Melalui pendaftaran online, sebanyak 14 orang terpilih mengikuti kegiatan ini.
Kolase berasal dari bahasa Perancis “coller” yang artinya merekatkan. Seni kolase menjadi sarana bagi para pegiat seni yang ingin menyuarakan ide atau gagasan selain secara verbal maupun tulisan sehingga dapat mengekspresikannya melalui gambar.
Konsep kolase pertama kali dipopulerkan oleh sejumlah seniman dunia, di antaranya Pablo Picasso dari Spanyol, Georges Braque dan Henri Matisse dari Perancis, dan Hannah Höch dari Jerman. Untuk bisa membuat kolase, peserta perlu mempersiapkan bahan seperti gambar yang mendukung pesan atau gambar yang ingin dihasilkan, serta alat seperti gunting, lem kertas dan lain-lain.
Putri Ayusha menjelaskan kolase adalah karya yang subjektif. Karya tidak dinilai benar berdasarkan anggapan benar atau salah dalam menyampaikan suatu pesan. Isu yang diangkat juga tidak dibatasi. Ilustrasi kolase bisa merupakan hasil perenungan dan pengalaman pribadi, ataupun inspirasi dari fenomena di sekitar kita, baik di dalam maupun luar negeri. Selama karya yang dihasilkan memiliki representasi dari isu yang diangkat, maka itu cukup merefleksikan tujuan dari suatu karya kolase.
“Inspirasi dalam membuat kolase sangat penting. Peserta harus berani berekspresi dan keluar dari zona nyaman dalam berpikir,” ujar Putri Ayusha, sambil memperagakan memotong gambar.
Misalnya saja, kolase dengan tema merdeka dari kekerasan yang ia buat. Sebagai contoh, Putri Ayusha menempelkan potongan gambar tangan mengepal dan laki-laki yang sedang menimbun tanah. Di bawahnya, gambar akar pohon yang telah tumbang ditempelkan bersamaan dengan gambar sepasang kaki perempuan. Selain menggunakan kertas, peserta juga bisa menambahkan elemen lain seperti tali, koran, atau tumbuhan kering.
Yenik Wahyuningtyas, salah satu peserta workshop berbagi pengalamannya saat pembuatan kolase. Ia menggambarkan hak perempuan yang terampas dalam reproduksi, yaitu isu pemaksaan kehamilan. Menurutnya kolase yang ia sedang buat merepresentasikan fakta pemaksaan kehamilan yang masih terjadi, serta suara perempuan maupun anak yang sebagai korban.
Selain Yenik, peserta lainnya turut mempresentasikan karya mereka yang memuat berbagai pesan seperti perempuan terbebas dari adanya belenggu patriarki, kekerasan verbal, hubungan toksikdalam suatu pernikahan, hak reproduksi perempuan Palestina maupun kekuatan dari adanya dukungan para perempuan.
Kolase Untuk Mendukung Korban Kekerasan
Selain menjadi ruang kontemplasi para peserta tentang merdeka dari kekerasan terhadap perempuan, karya terpilih dari workshop ini akan ditayangkan di media sosial. Karya kolase merupakan medium kampanye yang kreatif untuk menyuarakan ajakan kepada masyarakat untuk menciptakan kemerdekaan dari kekerasan, terutama perempuan yang berpotensi menjadi korban. Pesan kolase juga diperuntukan untuk mendukung korban kekerasan.
“Workshop ini juga sebagai upaya Komnas Perempuan untuk mendorong partisipasi masyarakat agar terus menyuarakan bahwa kekerasan bukanlah persoalan personal, atau aib seseorang, namun merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Khususnya disuarakan pada momentum 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan #16HAKTP pada 25 November s.d. 10 Desember 2023.
Masyarakat dapat terus mengawal implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) yang telah disahkan untuk menghapus berbagai akar penyebab lahirnya kasus kekerasan terhadap perempuan seperti subordinasi maupun patriarki,” ujar Tiasri Wiandani.
Pada episode ke-19 diskusi Podcast Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – dipandu oleh Mutiah Nurfadni atau yang biasa akrab dipanggil Fadni mengambil tema tentang trauma.
Fadni sendiri adalah mahasiswi program studi master di salah satu universitas bergengsi di Berlin, Jerman. Untuk membahas lebih dalam tentang trauma, Fadni mengundang Estrelita Gracia., M.Sc. atau dikenal dengan Esta, yang juga Founder dari Momentizing yang berpusat di Taiwan.
Esta kini sedang mengambil master program psikologi klinis dewasa di salah satu universitas swasta di Jakarta, Indonesia. Esta berpendapat kita sebaiknya memilih kata yang tepat untuk menyebut trauma karena trauma adalah respon terhadap peristiwa yang membuat stres.
Trauma bisa terjadi secara kolektif seperti pandemi yang terjadi baru-baru ini. Covid-19 kemarin pun bisa memberikan trauma kolektif hingga menjadi budaya post-covid 19 yang baru seperti menggunakan konsep belajar digital, dan lainnya.
Menurut Esta, orang dengan trauma biasanya takut, tetapi orang yang takut belum tentu mengalami trauma. Trauma biasanya disertai dengan perasaan takut yang akut dan parah. Rasa takut tidak selalu menjadi trauma dan bergantung pada resiliensi/daya juangnya sehingga tidak menjadi trauma. Rasa takut berkepanjangan dan akut terhadap sesuatu tersebut dan tidak terselesaikan sehingga menjadi trauma.
Menjawab pertanyaan Fadni, Esta berpendapat bahwa orang harus bisa membedakan antara trauma dengan fobia yang biasanya ketakutan akan suatu objek. Trauma sendiri punya berbagai macam tergantung tingkatan, misalnya ada salah satu kejadian yang mengubah hidup kita seperti perang, pandemi, dll. Namun di sisi lain adalah kejadian yang sepele tetapi berlangsung sering/intens seperti misalnya pengabaian, kekerasan dalam rumah tangga, dsb bisa menyebabkan trauma.
Trauma perlu diatasi secara holistik (=holistic healing) dengan berbagai bantuan profesional seperti neurolog/ahli syaraf, psikiater, psikolog atau konselor. Kita perlu keseimbangan tubuh juga dengan nutrisi dan asupan makanan yang dikonsumsi dalam mengatasi trauma. Trauma perlu ditangani secara keseluruhan dan intensif, misalnya tidak cukup hanya konseling saja.
Apa perbedaan trauma yang terjadi pada anak-anak dengan orang dewasa? Bagaimana sebaiknya kita mengatasi trauma yang tepat? Apakah trauma bisa ditangani hanya dengan “Healing” yang menjadi gaya hidup kekinian? Bagaimana kita membantu anggota keluarga/kerabat yang lain yang sedang mengalami trauma?
Simak selengkapnya di diskusi Podcast Rumpita berikut ini: