Rumah Aman Kita: "Rumah" adalah di mana hati berada
Kategori: CERITA SAHABAT
Cerita pengalaman, pengamatan, pengetahuan dan praktik baik orang Indonesia tentang tema-tema spesial di luar Indonesia. Cerita Sahabat dikelola oleh Mariska Ajeng (di Jerman), Aini Hanafiah (di Norwegia), Tutut Handayani (di Swedia), Rieska Wulandari (di Italia), Griska Gunara (di Inggris) dan tampilan visual di Instagram dikelola oleh Rena Loliver, (di Swiss).
Untuk partisipasi, bisa mengirimkannya via form bit.ly/Sahabat-Ruanita atau kontak Tim Cerita Sahabat via email ke info@ruanita.com.
Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama saya Kiki, yang sekarang menetap di Swedia sejak 4 tahun lalu. Saya berasal dari Jakarta. Sebelum menetap di Swedia, saya pernah tinggal di Penang, Malaysia selama 2 tahun. Di Swedia, saya bekerja sebagai Full Time Employment di Start Up company yang bergerak di industri electronic recycling. Maaf, kalau cerita saya bercampur antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris.
Berbicara soal Lagom, saya tentu dengan senang hati menjelaskannya kepada kalian. Lagom is a Swedish word that means balance living “not too little, not too much, just right”. It provides simple solutions by living in harmony to juggle everyday priorities, reduce stress, eat well, and save money, with lessons on the importance of downtime, being outdoors and Sweden’s coffee break culture.
Jatuhnya, Lagom menurut saya lebih pada keseimbangan hidup dalam mencapai kesejahteraan batin. Banyak orang di luar sana berpendapat, bahwa orang-orang Swedia senang dengan lingkungan hidup dan keberlanjutan, seperti Greta Thunberg, anak muda yang aktif menyuarakan Friday for Future demi keberlanjutan bumi. Saya merasakan itu betul sekali.
Swedish people like balance in all aspects, for example recycling, they love their nature and they keep their environment clean from trash. So recycling trash has become a habit and part of their life. As I mentioned, they love their nature, they want to keep their nature preserved and clean from trash and grow their own food.
Di Indonesia, untuk melihat nyata filosofi Lagom dalam kehidupan sehari-hari, bisa kita lihat di produk-produk yang ditawarkan di IKEA. Orang-orang Swedia memang begitu adanya membangun alam lewat produk-produk mereka yang simpel. Swedish people like to “build”. It’s in their nature.
So Ikea is one of their concepts in life, Ikea is great innovation and also affordable. I also like Ikea, they made us think and to be creative to resemble our own purchase.
It’s common here to see Ikea products in all houses because it is affordable. They also like to build their own house and garden by hand, they do it by themselves for years.
Speaking of Lagom, it’s all about a balanced lifestyle. Exercise while being fit is important for everybody due to keeping your mind healthy from work stress, specially with long winter time, it’s easy to get depressed just by staying at home, so being more active is important.
By living lagom you can:
Improve your work-life balance
Free your home from clutter
Become a more conscious consumer
Savor good food the Swedish way
Enjoy healthy exercise in nature
Live a happier and more balance lifestyle
Lagom memang hal yang baru buat saya, yang dulu sibuk bekerja sebelum tinggal di Swedia. Namun di sini, kita harus bisa hidup dalam harmoni dan banyak melakukan aktivitas outdoors, bahkan hanya sekedar “Fika”, kebiasaan orang-orang Swedia untuk menikmati istirahat sembari minum kopi.
Lagom or balance is applied to their life, such as work balance, personal life balance too.They also have Fika habits at the workplace, like in my workplace, we have in a day 2 times fika time, 1 time quick break (elva fika), and lunch break.
I didn’t have this in Indonesia, but here it is important to have fika, so you don’t work all the time and get stressed but you also have balance to do break/fika. These are only a few examples.
Awalnya, saya merasa tidak mudah juga beradaptasi dengan budaya di Swedia. Boleh dibilang ini seperti crossed culture buat saya.
Tantangan saya tinggal di Swedia seperti Bahasa Swedia yang tidak mudah dan bagaimana beradaptasi untuk menyesuaikan budaya kerja orang-orang Swedia sendiri.
In a relationship, man and woman they are equal, they share home chores and even financially and take care of children equally. Orang Swedia amat menjunjung kesetaraan gender antara laki-laki dengan perempuan.
Ada sejarahnya di mana laki-laki dan perempuan, sama-sama punya andil dalam membangun negara Swedia. Women and men are equal here. And I see many women here are more independent than women in Asia. They try to build this culture and values from a long way to make women have equal rights from men.
Ada yang menarik ketika tinggal di Swedia. Banyak orang berpendapat, orang Swedia cenderung pemalu. Itu betul, mungkin tidak mudah juga buat mereka membangun komunikasi dengan orang asing. Most yes, but not everyone. Its common here to see Swedish people don’t show their expression or emotion, they are very well reserved, but after 2 or 3 drinks they will talk and become friendly hahahhahaha…..
Ini tipsku terhadap orang-orang Swedia: Respect and be nice are the basic fundamentals to make friendship or engage with people”. Never afraid to say Hello first and smiling as Indonesian identity. You need to speak up if things are slow or incorrect. Buat kalian yang tidak bisa Bahasa Swedia, no worries. Mereka bisa Bahasa Inggris dengan baik.
You need to learn the language so you can communicate with Swedish people who can not speak English, also it helps you to find an easy job.
Menurut saya, orang Swedia cenderung menghindari konfrontasi. They avoid confrontation, yes, but it’s not common for Swedish people to show expression or emotional feelings, most of them are very reserved people. Hal menarik lainnya adalah bagaimana mereka menempatkan anak-anak mereka di keranjang bayi, meskipun itu adalah musim dingin.
Mungkin kita berpikir, anak-anak akan masuk angin dibiarkan ditaruh dalam keranjang bayi di luar, tetapi tidak untuk mereka. Additionally, in Sweden you will see many men/fathers taking their babies out with strollers to park or out to nature and that’s a common view here.
The last, Sweden is a beautiful country no matter what the season is, alot to explore and to learn from it. Ini saran saya kalau ingin memahami negara Swedia umumnya. You need to learn patience because sometimes the Swedish system is very slow.
You need to understand that you live in a different country and life, so respect locals and respect their system and culture. It’s a big challenge but also an adventure, especially for young people to study here. It’s a big opportunity to learn a lot of new things, don’t keep closed minded but be open, always give respect and enjoy the ride even with the long winter time. Hope it informs!
Penulis: Kiki, tinggal di Swedia dan dapat dikontak via akun IG: little_monkey2016
Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan Rufi, seorang Mahasiswi S2 yang sedang studi di Jerman. Saya tertarik menuliskan cerita sahabat bertema Cultural Diversity berdasarkan hasil wawancara saya berikut. Orang yang saya wawancarai bernama Anky. Dia adalah seorang Researcher dan Mahasiswa Postgraduate di Delft di Belanda. Sejak 5 bulan lalu, dia pindah dan menetap di Belanda.
Berbicara tentang Cultural Diversity, pertama-tama, kita ingin tahu dulu definisi dari Cultural Diversity tersebut. Menurut pengamatan Anky, Cultural Diversity adalah keanekaragaman pemikiran atau pola pikir, kebiasaan, dan sikap yang membentuk adanya keunikan pada diri setiap orang. Saya sependapat sih, bahwa setiap orang itu pada dasarnya unik.
Namun, mengapa ya Cultural Diversity itu perlu dilestarikan dan dijaga? Ada empat hal yang saya tangkap dari Anky. Pertama, Cultural Diversity dapat membuat kita mengenal dan belajar tentang keberagaman budaya tersebut. Kedua, tentunya keragaman budaya dapat menciptakan sikap respect satu sama lainnya.
Ketiga, Cultural Diversity pun dapat semakin menguatkan identitas diri kita. Tentunya, kita dapat menentukan apakah perbedaan yang ditemui tersebut sesuai dengan nilai-nilai atau identitas yang sudah terbentuk pada diri kita atau tidak.
Hmm, apakah mungkin Cultural Diversity akan punah? Menurut Anky tidak bisa. Cultural Diversity merupakan hal yang sudah melekat pada setiap diri setiap individu. Anky percaya kalau kodratnya setiap manusia mempunyai keunikan masing-masing. Misalnya, cara berpikir seseorang yang unik dan beragam dan merupakan hal yang akan terus exist.
Hal tersebut juga diperoleh dari kebudayaan yang telah melekat pada setiap diri manusia sejak lama. Contoh lainnya konteks agama, Anky menjelaskan terdapat banyak dalil-dalil yang ada dan cara setiap individu dalam menginterpretasikan dalil-dalil tersebut, yang tentunya akan berbeda-beda. Mengapa? Hal ini dikarenakan dari kebudayaan yang sudah melekat dari setiap individu.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, misalnya Anky saat ini sedang berkuliah di Belanda, tentunya dari cara Anky menyampaikan pendapat pada saat di kelas pun dipengaruhi oleh kultur saat Anky belajar di Indonesia. Begitupun teman-teman kelas Anky yang berasal dari negara-negara yang berbeda.
Menurut Anky, cara mereka yang berbeda-beda juga terbawa oleh nilai-nilai dan keunikan identitas masing-masing yang dipengaruhi oleh perbedaan budaya. Jadi, cultural diversity itu akan terus ada (exist) dan tidak bisa punah.
Tidak usah jauh-jauh berbicara tentang keanekaragaman budaya di negara lain, Indonesia sendiri punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Anky berpendapat, ini akan terus exist dan sulit untuk terkisis.
Namun, tentunya bisa terus dilestarikan keberadaannya. Salah satu caranya, adalah kita bisa menyadari keberagaman adalah hal yang akan terus ada. Kita harus respect dengan setiap individu yang beragam tersebut.
Menurut Anky, dimana pun dia berada, maka dia sudah merepresentasikan keberagaman budayanya sendiri. Contohnya, kultur main hape di depan kasir di Jakarta adalah hal yang biasa saja. Namun, pada saat Anky kemarin lagi berbelanja di toko Turki, dia ditegur untuk jangan bermain hape pada saat di depan kasir.
Tentunya, ini merupakan contoh kecil dari dua kultur yang berbeda. Pastinya kita menjadi respect dan menghormati keberagaman budaya tersebut.
Meski begitu, keragaman budaya masih saja memiliki tantangan tersendiri, terutama buag sebagian orang yang masih malu dengan budayanya sendiri, apalagi saat kita tinggal di luar Indonesia. Hal ini cukup relate dengan salah satu materi kuliah yang Anky sedang pelajari. Jadi, di setiap tempat ada termsinstitution (Rule in use).
Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana masyarakat mempraktikkan peraturan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap tempat punya institusi (norma/peraturan) yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, yang terpenting adalah bagaimana caranya kita dapat flexible dan beradaptasi dengan institusi yang ada, di tempat kita berada saat ini. Namun, jika konteks dari aturan tersebut bertentangan dengan budaya Indonesia dan personal values yang telah kita pegang selama ini, menurut Anky, sebaiknya kita tidak meng-adjust begitu saja aturan-aturan tersebut.
Baik saya maupun Anky, sama-sama warga Indonesia yang sedang ada di luar Indonesia. Kita berharap agar warga Indonesia di mana saja sadar akan keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia.
Menurut Anky, kita perlu membangun perasaan seperti: “merasa memiliki atau bangga” akan kebudayaan Indonesia melalui berbagai cara. Salah satunya nih, kita bisa melakukan melalui campaign yang bertujuan untuk membangun awareness kepada setiap warga, bahwa budaya Indonesia itu sangat beragam dan kaya.
Sahabat Ruanita tahu tidak, kalau ada Hari Keanekaragaman Budaya Sedunia loh. Pesan kami berdua, adalah mari kita mengajak Global Southern countries untuk bersatu haluan bersama! “Teruntuk Global Northern countries, less your ego and show more respect to others!”
Kita adalah perempuan-perempuan keren! Karena kita mampu untuk relatively hidup independen di negara-negara yang diverse ini. Kita harus tetap semangat memperjuangkan hak-hak perempuan dan gender equality! Ayo, terus semangat menjadi Indonesian culture agent di mana pun kita berada.
Penulis: Zukhrufi Syasdawita, atau yang sering dipanggil dengan nama Rufi yang menulis berdasarkan wawancara dengan Anky. Rufi adalah seorang mahasiswa di University of Passau, Jerman. Dapat terhubung dengan Rufi melalui akun instagram zsyasdawita.
Halo semuanya sahabat Ruanita, nama saya Natasha Hartanto dan sekarang saya tinggal di Jakarta, Indonesia sejak tahun 2023. Sekitar delapan tahun saya menetap di Jerman, saya akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia. Saat ini saya sedang membangun usaha saya di bidang pendidikan dan teknologi kesehatan.
Saya berkuliah di jurusan Informatika (IT) atau dalam Bahasa Inggris studi saya dikenal sebagai Computer Science di Universität Passau, Jerman. Awalnya, saya tertarik masuk jurusan itu saat diperkenalkan pertama kali dengan kompleksnya programming saat saya berada di Studienkolleg di Halle, Jerman. Saya masuk kuliah pada saat Wintersemester 2017/2018. Menurut saya, berkuliah di jurusan Informatika itu sepertinya susah-susah gampang.
Kesulitan studi saya sebenarnya lebih pada bagaimana mencari solusi untuk setiap masalah, yang perlu diselesaikan dengan programming. Hal yang membuat studi saya cenderung lebih mudah dari jurusan lain adalah karena Bahasa Jerman yang digunakan tidak terlalu mendalam. Mayoritas kosakata dalam studi saya masih menggunakan Bahasa inggris, atau langsung bahasa pemograman dan matematika. Kemampuan Bahasa Jerman saya tidak perlu semahir seperti jurusan lain di kampus saya, seperti misalnya jurusan filsafat atau hukum. Sebagaimana informasi berseliweran yang sudah sering didengar di Jerman, kalau jurusan teknik dan matematika itu sulit sekali. Jadi, kalau kalian ingin berkuliah di jurusan IT, semangat ya!
Setelah saya berhasil menyelesaikan studi, saya sempat bekerja di Jerman beberapa tahun untuk mendapatkan pengalaman kerja. Saya pun kembali ke Indonesia dan saya sekarang berharap bisa mendirikan usaha saya sendiri. Saya sangat berharap usaha saya dapat sukses, setidaknya saya bisa membantu minimal 50 juta penduduk Indonesia, terutama anak muda dalam menavigasi masa depan mereka. Usaha saya dimulai dari membuat sistem agar cara berpikir kita semakin strategis, untuk membuat keputusan yang lebih baik (strategic decision making), dan tentunya juga di bidang kesehatan mental dan fisik. Misalnya, cara menghindari break outs, agar bisa lebih memahami siklus biologis tubuh.
Saya merasa beruntung dengan adanya perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang sangat pesat sekarang ini, sehingga progress proyek-proyek saya cukup terbantu. Selain itu, saya juga merasa koneksi dengan banyak orang itu sangat penting. Jadi, itu yang saya lakukan sekarang. Bila ada kesempatan, saya ingin berusaha untuk mengenal lebih banyak orang yang mungkin bisa berjalan, berdampingan dengan visi dan misi saya.
Kalau saya mengingat jurusan saya dulu, saya berkuliah IT di Universität Passau dengan proporsi jumlah mahasiswa perempuan sekitar 10% sampai 20% dari keseluruhan jurusan IT di angkatan saya. Saya setuju bahwa minat di bidang teknik informatika secara general kurang banyak diminati mahasiswa perempuan, terutama di bidang IT dan mesin. Menurut saya, hal itu sangat dapat dimengerti. Saya dan beberapa mahasiswa perempuan yang berkuliah di jurusan teknik informatika (IT) yang dikenal, juga menyadari perbedaan angka partisipasi perempuan yang ingin studi di jurusan teknik informatika.
Berdasarkan pengamatan saya, peluang perempuan untuk bekerja di dunia digital di Jerman sangat besar. Alasan ini yang selalu memotivasi saya dan para mahasiswa perempuan di jurusan teknik informatika (IT) untuk mencoba peruntungan. Kami tahu, bahwa ada kebijakan di banyak perusahaan untuk menerima karyawan perempuan. Ditambah pula, bekerja di bidang teknologi informatika juga memiliki pendapatan yang tidaklah kecil.
Definisi dunia digital menurut saya cukup luas. Apabila yang dimaksudkan dengan dunia digital dalam jurusan Teknik informatika, maka sejujurnya saya sebagai seorang perempuan, merasa bahwa programming itu seringkali membosankan. Contohnya, saya harus bisa bertahan dan terus berpikir secara logical thinking untuk memecahkan masalah dengan rumus matematika di balik layar komputer. Dalam sehari 12 jam misalnya, saya bisa bekerja dengan hampir tidak ada komunikasi dengan manusia lain kecuali bila ada masalah. Umumnya, bagi perempuan ini tidak mudah.
Saya merasa bahwa perempuan secara evolusioner lebih membutuhkan banyak koneksi dan komunikasi dengan manusia lain. Saya pun menyadari hal ini, setelah saya bekerja beberapa lama sebagai programmer. Saya sadar bahwa saya butuh lebih banyak interaksi. Oleh karena itu, wajar bila perempuan lebih memilih pekerjaan yang butuh banyak interaksi dengan orang lain seperti: guru, dokter atau psikolog misalnya.
Di kantor, tempat saya bekerja dulu di Jerman lebih banyak didominasi oleh laki-laki. Dalam hal pengalaman kerja bersama rekan kerja lainnya, saya merasa sangat dihargai sebagai perempuan. Mereka sangat menghormati saya. Bahkan, saya sering diprioritaskan dalam banyak hal, seperti mereka selalu menanyakan pendapat saya dalam membuat beberapa perubahaan, dsb. Mereka sangat respek pada kita, walaupun saya sangat sering berbuat salah. Sebagai orang asing, sering kali saya tidak mengerti beberapa hal –mengingat bahwa kemampuan Bahasa Jerman saya masih di bawah kemampuan mereka, yang notabene sebagai Native Speaker. Namun, mereka selalu sabar dan tidak pernah meremehkan kemampuan saya.
Untuk meningkatkan minat dalam dunia digital, menurut saya, perempuan perlu lebih banyak lagi mendapat informasi, pelajaran, atau pelatihan tentang bidang-bidang yang berkaitan di dunia digital. Ini diperlukan agar perempuan lebih bisa memahami peluang yang ada, menimbang peluang tersebut, sebelum mereka memutuskan untuk terjun langsung di bidang digital.
Tentunya, saya sepakat dengan perkembangan dunia digital yang diiringi oleh kecerdasan artifisial (AI) yang pesat, bahwa perempuan memiliki peluang kewirausahaan yang besar. Menurut saya, perempuan bisa menggabungkan aspek logika dan kreativitas yang dimilikinya, sehingga ini menjadi keunggulan untuk meraih kesuksesan.
Bagi kalian yang tertarik ingin terjun di dunia digital, jangan takut! Kalian tidak harus paham segala hal untuk bisa berkuliah, bekerja, atau berwirausaha di bidang digital. Saya pun menyadari bahwa saya masih perlu belajar banyak hal. Kalian bisa mencari teman atau kenalan, yang mungkin bisa membantu kalian untuk meraih cita-cita atau kesuksesan.
Bagi kalian yang ingin bertanya lebih lanjut tentang dunia digital, kalian dapat menghubungi saya melalui kontak formulir di website saya, di akhir artikel. Jangan lupa, kalian perlu menuliskan topik yang ingin dibahas dan mention nama saya ya;)
Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama panjang saya, Novia Karina Irna Wati. Saya biasa dipanggil Karin. Saya lahir di Jakarta, 33 tahun lalu dan kini saya menetap di Turki. Saya adalah lulusan Sarjana Hukum Universitas Pakuan Bogor tahun 2011 lalu. Sebelum saya menikah dan masih tinggal di Indonesia, saya adalah pekerja swasta di perusahaan asal Korea, yang memproduksi sepatu seperti Nike. Karier saya dimulai pada tahun 2011 – 2012, dengan jabatan terakhir sebagai Senior Staff di bagian Human Resources Department (HRD). Setelah lulus kuliah, saya pindah bekerja ke salah satu perusahaan asal Korea juga di area Subang, Jawa Barat. Saya bekerja di sana selama 2013 – 2021, dengan jabatan terakhir saya sebagai Assistant Manager di bagian Sustainability Manufacturing.
Singkatnya, pekerjaan saya berhubungan dengan peraturan kerja dan pekerja, yang mana harus comply dengan aturan Nike Code of Leadership Standart (NCOC). Nike adalah Buyer yang memberikan order kepada perusahaan, tempat saya bekerja. Salah satu aturan, yang perlu dipatuhi adalah TİDAK BOLEH ADANYA KEKERASAN DAN PELECEHAN Dİ LİNGKUNGAN KERJA. Saat itu, saya adalah ketua dari Tim Anti Kekerasan dan Pelecehan. Saya sekaligus adalah penyusun prosedur anti kekerasan dan pelecehan di lingkungan kerja, baik secara fisik, lisan maupun seksual. Saya pun adalah seorang Trainer bersertifikasi dari Badan Ketenagakerjaan Indonesia, karena saya adalah seorang Kader Norma Ketenagakerjaan (KNK) tingkat utama.
Hal lain, yang saya kerjakan adalah merumuskan PKB (Peraturan Kerja Bersama), di antara pihak Management dengan pihak Serikat pekerja. Pekerjaan saya di perusahaan terakhir ini, cakupan job description-nya cukup luas. Saya banyak menghadapi tekanan-tekanan pekerjaan, mulai dari tuntutan perusahaan, karyawan yang banyak melakukan pelanggaran, pertanggungjawaban laporan untuk dikirimkan kepada Buyer setiap bulannya, melakukan dinas luar untuk meeting dengan vendor-vendor dari perusahaan lain, yang ingin bekerja sama dengan perusahaan.
Agar menjadi perusahaan rekanan, di dalam meeting, tugas saya memastikan vendor perusahaan tersebut juga comply atau patuh dengan peraturan ketenagakerjaan Indonesia. Misalnya, perusahaan harus comply dengan peraturan pengupahan, atau perusahaan tidak boleh membayar upah pekerja di bawah upah minimum. Walaupun, pekerjaan saya tergolong berat dan banyak mendapat tekanan, saya sangat mencintai pekerjaan saya. Hal ini karena, didukung oleh lingkungan kerja saya yang sangat nyaman. Atasan saya langsung adalah warga negara asing dari Korea, yang selalu memberikan support kepada saya.
Saya juga memiliki 3 orang staf yang dapat bekerja sama dengan baik. Dua staf adalah lulusan dari Sarjana Hukum dan 1 orang staf adalah lulusan ilmu Psikologi. Setiap minggu, kita selalu mengadakan meeting untuk saling mengoreksi pekerjaan. Apabila ada hal-hal yang perlu dikoreksi, kami selalu mengoreksi bersama, serta mencari solusi bersama. Kalau di dalam tim, terjadi complaint terhadap saya sebagai atasan, mereka tidak sungkan berbicara langsung. Mereka tidak berbicara di belakang saya.
Hampir seminggu sekali, kami makan malam bersama. Setahun sekali, kami melakukan team building yang disponsori oleh perusahaan. Sampai saat ini, saya masih berhubungan baik dengan mereka. Terkadang, saya support mereka dari jauh, apabila mereka bertanya mengenai pekerjaan. Di tempat kerja, saya belajar dan mengajarkan bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, saling menghormati, dan tidak saling menjatuhkan antar sesama tim.
Saat itu, karir saya bisa dibilang cemerlang, yang mana saya berpenghasilan baik dan memiliki mobil pribadi. Saya juga salah satu generasi ‘sandwich’ yang harus memberikan belanja bulanan untuk ibu, mulai dari belanja kebutuhan pokok, membayar asisten rumah tangga bulanan, iuran pokok bulanan, serta kebutuhan-kebutuhan mendadak lainnya. Setiap minggu, saya dan ibu saya biasa berjalan-jalan untuk makan di luar. Sesekali, saya ajak ibu berlibur, saat saya mendapat cuti tahunan. Ketika saya ingin menikah dengan pria asal Turki, saya seperti di ambang dua pilihan. Saya bingung di antara saya mengambil promosi menjadi Manager atau menikahi pria asal Turki, yang kemudian menjadi ibu rumah tangga. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk menikah dan kini menetap di Turki.
Sejak saya menjadi ibu rumah tangga, aktivitas setiap hari seperti ibu rumah tangga pada umumnya. Sesekali, saya juga mengantar sekolah keponakan saya yang masih TK (taman kanak-kanak). Aktivitas lainnya, saya dan suami suka menonton film action, dokumenter, ataupun drama, yang ada di Netflix. Sesekali kalau cuaca bagus, kami pun pergi memancing di laut. Setiap tahun, suami saya mendapat cuti selama 30 hari. Cuti tahunan dipakai untuk berlibur ke tempat-tempat yang belum pernah kami kunjungi di Turki. Kami sangat suka berlibur ke pantai dan ke tempat bersejarah. Tahun 2022 lalu, saya dan suami berlibur ke Jakarta dan Bali.
Bulan Agustus 2022 – Februari 2023, saya ikut kursus Bahasa Turki, yang dilangsungkan setiap Senin sampai Kamis. Di situ, saya mengenal banyak orang asing dan terkadang saya ikut acara gathering yang diselenggarakan dari tempat kursus. Orang-orang asing yang saya kenal berasal dari Rusia, Ukraina, Maroko, Bulgaria, dan Aljazair. Biasanya gathering dilakukan ‘Summer Time’ (musim panas). Kita makan bersama di suatu tempat, setelah itu minum Turkish coffee bersama.
Saya juga memiliki dua orang teman dari Turki, yang dekat dengan saya karena persamaan hobi kami yang suka berlibur keluar kota. Tahun depan, saya berencana akan mendaftarkan diri lagi kursus Bahasa Turki. Sayapun memiliki dua teman baik asal Indonesia. Terkadang, kami berkumpul secara bergantian untuk masak-masak di rumah, liburan bersama dengan suami-suami ke suatu daerah. Karena kami berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia, kami lebih banyak bercerita, mulai pengalaman di negeri perantauan serta kendala-kendala yang terjadi selama tinggal di Turki.
Setiap dua minggu sekali, saya dan suami datang berkunjung ke ibu dan bapak mertua untuk makan bersama, berbincang-bincang, terkadang ibu mertua mengajak ke kebun untuk mengambil sayuran atau buah-buahan yang ditanam di taman kecilnya. Waktu luang saya digunakan untuk berkomunikasi dengan sahabat-sahabat saya di Indonesia melalui video call. Hal yang kami bicarakan mengenai perkembangan anak-anak mereka, keadaan Indonesia, sampai dengan diskusi mengenai pekerjaan. Sebagian besar teman-teman saya adalah pekerja kantoran di bidang yang sama dengan saya. Hal lain yang saya lakukan adalah membaca berita di Turki dan İndonesia, mendengarkan podcast-podcast, mencari peluang bisnis yang bisa saya lakukan, dan saya juga suka melihat konten-konten kuliner di sosial media.
Cerita awal bertemu dan berkenalan dengan suami, hingga tiba di Turki
Awal mula saya berkenalan dengan suami pada tanggal 26 Agustus 2019 melalui aplikasi “interpals”, yang saya ketahui dari teman kantor saya. Saya download aplikasi tersebut tanggal 24 Agustus 2019. Setelah itu, tanggal 26 Agustus 2019 saya mendapatkan email dari suami saya, yang isinya mengajak kenalan, kemudian kami bertukar nomor Whatsapp, dan melanjutkan komunikasi melalui video call. Selama 1 sampai 2 minggu saya berkomunikasi intens setiap hari, kami mengobrol tentang kehidupan, bertukar pendapat, serta berbicara tentang hobi kita yang sama yaitu traveling.
Suami saya menjelaskan bahwa dirinya bekerja di salah satu perusahaan pabrik kaca terbesar di Turki. Dia adalah lulusan dari salah satu universitas di Turki, Jurusan Design Graphis. Kebetulan saat itu, saya masih memiliki sisa cuti tahunan sekitar 5 hari. Tadinya, saya hendak memakainya untuk traveling ke Thailand sebagai sisa cuti tahunan. Suami, yang dulu masih berteman, dia menawarkan untuk jalan-jalan keliling ke lstanbul dan berkenalan dengan orang tua dia. Saya senang sekaligus takut. Saya berpikir selama seminggu. Dalam satu minggu itu, saya meminta suami saya mengirimkan lD card tempat dia bekerja, foto kartu identitasnya, alamat kantor dan rumahnya. Saya pun meminta foto kartu identitas ibu dan ayahnya, untuk memastikan mereka tinggal di alamat yang sama. Setelah saya yakin, saya pun booking tiket pesawat ke Turki.
Untuk berjaga-jaga semua informasi tentang suami, saya berikan kepada teman, sahabat, dan keluarga karena saya masih berpikir kemungkinan terburuk dapat menimpa saya. Tanggal 16 November 2019 kami bertemu di lstanbul, tepatnya di Taksim. Saya pergi liburan, berkenalan dengan orang tuanya, kakak perempuannya, dan keponakan-keponakannya. Saat itu, saya sangat senang dan yakin bahwa suami dan keluarganya adalah orang baik. Suami dan keluarganya bukan seratus persen orang Turki. Mereka adalah campuran dari Bulgaria. Kesan yang saya rasakan saat pertemuan pertama, keluarganya jauh dari budaya ketimuran dan lebih kepada kebarat-baratan.
Saat saya masih tinggal di Indonesia, saya berharap menikah dengan lelaki yang baik dan mapan. Awalnya, saya memiliki tunangan orang Indonesia, tetapi seiring berjalannya waktu kami putus dan gagal menikah. Sejak itu, saya berkenalan dengan pria berbagai negara dari Amerika, Korea, Malaysia, Kanada, dan Belanda. Mereka semua baik dan mapan. Namun, jodoh menggiring saya berlabuh ke pria asal Turki. Saya berharap apabila saya menikah dengan orang asing dan menetap di luar negeri, saya dapat circle pertemanan lebih luas. Mungkin saya bisa membuka bisnis bersama dengan orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, seperti membuka bisnis kuliner ataupun agen travel.
Realita yang terjadi begitu tiba di Turki
Saya menikah pada tahun 2020. Awalnya kami ingin tinggal di rumah mertua selama 6 bulan, dengan tujuan agar saya bisa belajar bahasa dan budaya. Selama seminggu, saya tinggal serumah dengan mertua. Saya merasa tidak nyaman tinggal bersama mertua. Ini bukan karena mertua saya jahat, melainkan mertua saya punya budaya dan kebiasaan berbeda, seperti perbedaan selera masakan dan cara membersihkan rumah, dll. Terkadang, saya malu sendiri karena tidak bisa membantu maksimal. Mertua saya tidak pernah marah, kesal, atau jahat kepada saya. Justru sebaliknya, mereka merasakan saya tidak nyaman tinggal bersama mereka karena perbedaan tersebut.
Seminggu kemudian, kami pindah rumah yang dekat dengan perusahaan tempat suami bekerja. Rumah kami berada dalam satu komplek dengan kakak ipar saya yang adalah perempuan. Selama 3 tahun, saya tidak pernah bertengkar atau berkonflik apapun, karena kakak ipar saya bekerja dari Senin sampai Jumat, sehingga kami jarang berkomunikasi, walaupun rumah kami berdekatan. Saya dan kakak ipar selalu saling membantu. Sesekali saya dan kakak ipar berlibur bersama, seperti kami berlibur ke Cappadocia dan Ankara.
Saya merasakan keluarga suami saya sangatlah baik dan hangat. Mereka tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga kami. Apapun yang kami lakukan selama hal itu baik, mereka selalu menjadi support system. Namun, banyak cerita dari teman-teman orang Indonesia dan cerita dari orang Turki sendiri yang ribut dengan keluarga suaminya. Saya disebut tergolong perempuan yang beruntung karena saya memiliki keluarga orang Turki yang baik, meskipun agama yang dianut keluarga suami berbeda dengan Islam di Indonesia. Hal yang diajarkan keluarga suami saya, dalam hal agama adalah untuk kontrol diri menjadi orang baik. Menurut mereka, apapun agamanya, yang penting menjadi orang baik adalah hal terpenting.
Hal lain adalah realita di Turki, tempat saya tinggal di provinsi Kırklaerli. Kotanya bernama Lüleburgaz, dan tergolong kota kecil. Semula saya berpikir, saya bisa merintis hobi memasak dan ingin memperkenalkan masakan Indonesia, seperti rendang, soto, atau apapun itu, tetapi ternyata orang di sini tidak begitu menyukai masakan Asia. Mereka tidak suka makanan pedas dan rempah. Saya belajar makanan apa yang mereka suka, ternyata adalah makanan yang manis. Apabila saya membuat nastar, bolu, brownis, atau makanan manis lainnya, mereka tentu saja suka. Sayapun sulit mencari pekerjaan di Turki karena saya harus berasal dari lulusan akademis. Misalnya, saya adalah sarjana hukum dan ingin berkerja sebagai guru Bahasa Inggrıs di sekolah swasta, itu tidak bisa. Hal ini karena saya bukan lulusan Pendidikan Bahasa Inggris. Apabila saya lulusan sarjana Pendidikan Bahasa İnggris, mereka dapat mempertimbangkannya. Saya sempat mendapat tawaran menjadi guru Bahasa Inggris di suatu sekolah swasta tetapi yang diterima orang dari Afrika, karena beliau adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris.
Adapun, pekerjaan yang ditawarkan oleh keluarga suami adalah bekerja di salah satu pabrik garmen. Suami saya tidak mengizinkan karena dia mengetahui bekerja di pabrik dan mengoperasikan mesin berbeda dengan apa yang saya kerjakan di balik meja, seperti menggunakan komputer. Pernah juga KJRI membuka lowongan untuk menjadi volunteer administasi , saya ingin mengirimkan CV saya tetapi lagi-lagi suami saya tidak mengijinkan. Alasannya, lokasi jaraknya jauh. Awalnya, saya sedikit marah dengan suami saya, mengapa dia terkesan seperti menghalang-halangi saya untuk berkembang. Setelah kami berdiskusi, suami saya ingin agar saya bekerja sesuai dengan minat saya.
Dia tidak ingin, saya bekerja untuk mengisi waktu saja sampai bekerja jauh ke luar kota. Apabila saya bekerja di luar kota, saya harus berpisah dengan suami. Menurut dia, mungkin seminggu sekali saya pulang. Sebenarnya, kebutuhan dan keinginan saya selalu terpenuhi oleh suami. Akhirnya, saya pun patuh pada suami saya. Realita lainnya yang saya rasakan selama tinggal di Turki, saya sangat sulit menemukan teman sebangsa yang satu pemahaman dan pemikiran. Saya banyak mendengar bahkan melihat beberapa pertengkaran di antara sesama orang-orang Indonesia. Pernah saya berdiskusi dengan KJRI Istanbul dan bertanya mengapa kita sesama orang Indonesia sulit untuk bersatu dan berpikir positif satu sama lain.
Pertemanan saya dengan sesama orang Indonesia dan non orang Indonesia di Turki
Sebelum saya menikah, saya bertemu dengan satu orang Indonesia. Sampai saat ini, saya beruntung karena dia adalah salah satu teman terbaik yang saya kenal di negeri perantauan ini. Saya bertemu pertama kali, di salah satu optik yang berada di shopping mall, kota tinggal saya. Walaupun, umurnya lebih muda dari saya tetapi dia sudah menikah dan tinggal lebih lama di Turki. Semula kami tinggal satu kota. Suami dia adalah seorang guru, yang mana suaminya dipindahtugaskan ke kota lain, sehingga kami terpisah kota. Namun, komunikasi kami tetap terjalin baik sampai pada saat ini. Melalui perantara dia, saya mengenal teman-teman orang Indonesia lain, termasuk teman-teman mahasiswa/i Indonesia yang kuliah di Turki.
Teman saya ini adalah seorang ibu muda beranak satu yang selalu support ataupun menyemangati saya dalam keadaan apapun. Banyak cerita inspiratif yang dia berikan dan memberikan pengetahuan mengenai kehidupan di Turki. Dahulu beliau pernah berkuliah jurusan accounting, sebelum menikah dia juga pernah bekerja di Turki. Di tempat kerjanyalah, dia bertemu dengan suaminya. Beliau pun memperkenalkan saya dengan beberapa orang Indonesia lainnya. Ternyata teman-temannya tidaklah sepositif kami. Saya dan dia kadang berpikir, setiap orang sama seperti kami yang tidak memiliki rasa iri dan dengki. Namun, ternyata kami salah. Orang-orang yang kami berikan support dan kebaikan dibalas dengan berbicara buruk di belakang kami dan disebarluaskan kepada orang lain.
Salah satu orang Indonesia pernah saya laporkan ke KJRI Istanbul karena orang tersebut berbicara buruk tentang kami di sosial media. Pada akhirnya, KJRI Istanbul memberikan teguran dan pengarahan (terima kasih untuk KJRI Istanbul). Tidak sampai di situ, saya pun kembali mendapatkan fitnah dari orang Indonesia lain. Terjadi adu domba dengan sesama teman Indonesia, termasuk kami yang diadu domba. Beruntungnya, kami sudah mengenal satu sama lain, kami tidak termakan omongan orang-orang yang bermulut jahat tersebut. Sebaliknya, kami saling membela dan support satu sama lain. Saat kejadian tersebut, saya sempat ‘down’ dan overthinking, mengapa saya diperlakukan seperti ini. Sampai suamipun turut ikut campur dalam masalah saya. Suami saya berani melaporkan hal tersebut ke kantor polisi. Suami saya pun menggertak ke suami-suami mereka. Pada akhirnya, mereka meminta maaf kepada saya dan suami dan mereka meminta untuk tidak diperkarakan ke polisi.
Saya dan suami tidak memperkarakan hal tersebut dan memilih untuk berdamai. Ketika saya difitnah, dada saya sangat sesak karena saya baru pertama kalinya diperlakukan seburuk ini. Saat itu, saya menangis dan menahan kesal, karena apa yang mereka tuduhkan sangatlah jahat. Suami saya menghubungi teman baik saya di sini dan menanyakan apa yang terjadi, apakah benar istrinya tersebut melakukan hal yang buruk kepada sesama orang Indonesia. Teman saya menjelaskan bahwa saya tidak pernah melakukan hal buruk apapun. Dia menjelaskan sedikit tentang kejadian sebenarnya. Setelah kejadian tersebut, suami membatasi pergaulan saya dengan orang-orang Indonesia agar tidak terjadi konflik.
Berbeda halnya dengan teman-teman mahasiswa/i di sini, selama kurang lebih tiga tahun saya kenal. Setiap saya berkenalan dengan teman-teman mahasiswa/i Indonesia, tidak ada satupun yang bermasalah dengan saya, walaupun sering kami berkumpul, masak-masak bersama, dan berdiskusi seputar ilmu pengetahuan, politik, dan budaya. Sampai-sampai, saya mendengarkan cerita mereka akan masa depan yang ingin dicapai jika lulus kuliah nanti. Bergaul dengan teman-teman mahasiswa/i membuat aura saya merasa muda dan teringat akan masa-masa kuliah saya dulu. Saya sampai berpikir, apakah saya bisa berkuliah lagi di negeri ini? Setelah saya berpikir kembali, saya urungkan dan saat ini yang harus saya kerjakan adalah bagaimana untuk mencari kegiatan dan bertemu dengan orang-orang positif yang dapat membuat hidup saya berkembang lebih baik.
Sejak awal saya datang ke Turki sampai detik ini, hal yang menurut saya menarik adalah pertemanan saya dengan dengan mahasiswa/i Indonesia, karena bergaul dengan mereka membawa ke arah positif dan rasa keingintahuan mereka yang tinggi tentang budaya dan politik Internasional. Ini membuat saya dapat berdiskusi secara luas. Umur mereka dan jiwa mereka yang muda telah membuat jiwa saya merasa muda seperti ‘forever 21’.
Dahulu saya berpikir, kita tidak boleh mendiskriminasikan level pendidikan seseorang ataupun latar belakangnya. Setelah beberapa kejadian yang menimpa saya seperti saya difitnah, digunjingkan, digosipkan, saya begitu sulit mencari teman yang selevel dan sefrekuensi dengan saya. Saya tidak menyatakan, bahwa saya adalah orang pintar atau saya adalah super power, TİDAK! Saya adalah orang yang suka berdiskusi tentang hal-hal yang dapat menambah ilmu dan wawasan. Saya suka berpergian dan saya suka mencoba hal-hal baru. Setelah saya meninjau kembali circle saya dengan teman-teman saya di Indonesia, saya tidak pernah sekalipun berkonflik dengan siapapun. Setiap saya pulang ke Indonesia, kami pasti berkumpul dan berdiskusi tentang kehidupan masing-masing. Oleh karena itu, saya berterimakasih kepada teman-teman saya di Indonesia yang selalu support saya, terutama sahabat-sahabat yang hampir setiap hari selalu menyemangati dan mengingatkan saya, agar saya jangan sampai down.
Menurut saya, untuk pertemanan dengan sesama orang Indonesia di sini, kita harus sangat berhati-hati karena kita tidak mengetahui latar belakang mereka. Lebih parahnya lagi, banyak dari mereka yang mungkin hidup dalam kebencian, keirian dan kedengkian. Bahkan, mereka butuh pengakuan sosial, mereka berbohong akan status sosialnya. Mereka seperti berbicara seolah-olah dirinya itu adalah seseorang yang super power. Kenyataannya adalah sebaliknya. Mereka hidup dalam kekurangan, ketidakbahagiaan serta kesengsaraan. Satu contoh yang saya kenal, orang Indonesia yang mengaku-ngaku memiliki sebuah pabrik. Katanya dia kenal dekat dengan tokoh politik ternama di Indonesia, bahkan dia sampai mengaku kalau orang tuanya sangat berpengaruh di Indonesia. Semua itu adalah kebohongan berdasarkan halusinasi dari pikirannya. Orang seperti ini, menurut saya seharusnya mendapatkan treatment khusus. Apa yang saya lihat dari keluarganya sendiripun acuh tak acuh. Hal-hal lain contohnya, banyak keirian dan kedengkian yang mengalir di diri mereka, sehingga saya sadar untuk ekstra berhati-hati dan selektif memilih teman.
Pertemanan saya dengan orang asing atau orang-orang non Indonesia di perantauan, jauh lebih baik. Saya mendapatkan banyak wawasan lebih, misalnya teman saya yang berasal dari Ukraina dan tinggal di Turki, disebabkan negaranya sedang perang. Teman saya tersebut, menceritakan bagaimana kondisi di Ukraina. Dia juga mengaku sulit mendidik anak-anaknya untuk beradaptasi di Turki karena berbeda budaya dan bahasa. Saya juga berdiskusi dengan guru Bahasa Turki saya tentang kebiasaan orang Turki dan sejarahnya. Kami berdiskusi tentang traveling di Turki, Eropa, dan tempat-tempat makan yang enak di sekitaran kota, serta berbagi cerita dan resep makanan khas mereka. Kamipun sesekali bercanda tentang culture shock yang kami alami di Turki. Misalnya, orang Turki yang sangat suka minum teh dan bersıh-bersih yang berlebihan. Orang Turki dalam membersihkan rumah sangatlah bersih. Selama saya berteman dengan orang Turki, tidak ada satu rumah mereka yang berdebu atau berantakan, walaupun mereka memiliki anak kecil. Selama tiga tahun saya di sini, pertemanan saya dengan orang non Indonesia tidak pernah ada masalah, karena saya memilih untuk berteman yang memiliki satu hobi dengan saya. Frekuensi berkumpul dengan merekapun tergolong sering.
Pesan dan harapan saya
Sahabat Ruanita, ini pesan saya. Pertama, kita perlu mengenali dahulu pasangan hidup, keluarga, kota dia dibesarkan. Kedua, kita menghindari IMAM NIKAH ATAU NIKAH SİRİ. Hindari kalau kita mengenal pasangan hidup, cukup lewat sosial media kemudian langsung memutuskan untuk menikah secara agama. Sayapun seorang muslim. Saya sarankan agar kalian tidak hanya menikah secara agama saja, karena tidak ada perlindungan hukumnya. Jangan pula, kita langsung menikah secara sipil dengan hanya mengetahui pasangan di media sosial. Ada beberapa kasus yang saya ketahui, banyak yang mengenal pasangannya hanya di media sosial kemudian menikah resmi. Ternyata pasangannya tidak sesuai dengan harapan, bahkan tidak sedikit yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun, sekali lagi MEMANG TİDAK SEMUA yang bertemu pertama kali, langsung menikah hidupnya kemudian pernikahannya sengsara atau menderita. Ada pula yang bahagia. Saya hanya memberikan pandangan agar kita lebih berhati-hati dalam memilih pasangan hidup. Sedikit saya share pengalaman sebelum memutuskan untuk menikah, saya bertemu dengan kedua orang tuanya terlebih dahulu. Saya mengetahui kota di mana suami saya tinggal, saya mengetahui pekerjaan suami, serta gajinya. Kurang lebih setahun kemudian, kami memutuskan untuk menikah.
Alhamdullilah, selama 3 tahun menikah, suami dan keluarganya baik kepada saya. Hal lain yang harus benar-benar diperhatikan, adalah bagaimana cara pasanganmu berkomunikasi. Saya dan suami menjalin komunikasi dengan baik, yaitu setiap ada masalah kami selalu berdiskusi dan menekan ego masing-masing. Di tahun awal pernikahan, kami membutuhkan adaptasi bersama. Seiring berjalannya waktu, kami memahami karakter masing-masing. Kunci dari keharmonisan adalah menerima kelebihan dan kekurangan pasangan masing-masing. Selanjutnya, pelajari makanan di Turki ini. Dari segi makanan, ini sangat berbeda dengan masakan Indonesia. Di tahun awal pernikahan, kami sempat “ribut” perihal makanan. Ini terdengar lucu tetapi memang itu kenyataannya. Suami saya adalah pemilih soal makanan. Saya sebagai istri sudah bersusah payah memasak untuk suami. Apabila suami tidak suka dari aroma, bentuk, ataupun rasanya maka secuil pun dia tidak akan memakan masakan yang saya buat. Lambat laun, saya mengetahui selera suami saya yang sangat jauh bebeda dengan saya. Saya belajar dari YouTube dan bertanya kepada ibu Mertua, kakak ipar, serta keluarga suami lainnya mengenai masakan Turki. Perlu diketahui, ternyata setiap kota di Turki memiliki budaya makanan yang berbeda di setiap daerah.
Dalam membangun pertemanan, saya berpesan kepada orang-orang newbie seperti agar mengenali dulu orang tersebut dan sangat BERHATI-HATI dalam berbicara. Terkadang kita bermaksud baik, tetapi salah dipahami. Kita bermaksud kita berbagi kesenangan, tapi bagi mereka itu merupakan ria atau pamer. Jangan terlalu positif dan baik! Berperilakulah sewajarnya saja karena setiap orang tidak pantas mendapatkan kebaikan dan perhatian. Kita kadang perlu bersikap “seni bodo amat”. Saya sudah dua kali mengalami difitnah dan dijadikan bahan bergunjing, itu sudah cukup untuk saya belajar lebih selektif memilih teman. Carilah teman yang memang TULUS dan mereka ingin berteman dengan karena mereka membawa energi positif ke dalam diri kita.
Harapan saya untuk KBRI /KJRI untuk membangun komunitas Indonesia yang produktif adalah sering membuat training secara daring ataupun tatap muka untuk orang-orang İndonesia. Misalnya, bagaimana cara berkomunikasi dan bersosialisasi dengan baik. Apabila memungkinkan training tersebut, minimal dilakukan 1 – 3 bulan sekali dan terbuka untuk seluruh orang Indonesia yang menetap di Turki. Di dalam sesi training, dijelaskan juga tracking record kasus-kasus dan keluh kesah yang sering terjadi dengan menjelaskan sebab-akibatnya sebagai bahan untuk pelajaran dan pengawasan diri sendiri.
Terima kasih untuk tim Ruanita yang memberikan saya kesempatan menulis, terutama kepada Mbak Anna dalam sesi konseling online. Terima kasih kepada teman-teman di Turki yang saya kenal selama tiga tahun, seperti Mbak Lina dan Mita yang menjadi support system saya di negeri perantauan ini. Beribu-ribu terima kasih kepada sahabat-sahabatku di Indonesia yaitu Faras, Elisabeth, Felicia, Monica, Sofie, Kitty, Fanny, Reina, dan sahabat-sahabat lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, yang selalu ada buat saya, penguat mental saya dan support system terbesar dalam kehidupan saya.
Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Yasinta Putri Cinta Aryanti. Saya biasa dipanggil Cinta. Saya merupakan mahasiswi yang pernah tinggal di Warsawa, Polandia selama tiga bulan. Saya berada di sana untuk mengikuti program pertukaran pelajar dari bulan September hingga Desember 2023.
Pada awalnya, saya merasa takut dan ingin kembali ke rumah ketika saya mengalami perbedaan budaya antara Indonesia dengan Polandia. Saya pikir itu adalah masa-masa culture shock, walaupun saya merasa sudah mempersiapkan diri dengan baik sebelum berangkat, ternyata ada beberapa perasaan baru yang muncul tanpa bisa saya prediksi.
Misalnya saja di minggu pertama, saya kerap merasa ketakutan di tengah kerumunan orang, karena tubuh saya yang jauh lebih pendek dari kebanyakan orang-orang di sana.
Hal itu diperparah juga dengan raut wajah warga lokal yang tampak dingin, berbanding terbalik dengan orang Indonesia yang selalu tampak ramah dan penuh senyum. Saya lumayan setuju dengan anggapan, bahwa warga Polandia cenderung berwajah serius. Namun, berwajah dingin dan tampak serius bukan berarti hal buruk atau tidak hangat.
Ketika saya berbicara dan mengenal lebih jauh dengan orang Polandia, mereka menjadi terbuka dan lebih hangat. Bahkan, saya memiliki flatmate yang sangat ramah dan selalu membantu, bila ada masalah dengan kamar asrama. Mereka juga mudah tersenyum ketika diajak berbicara dan terbuka dalam mengutarakan pikiran, tanpa berbasa-basi. Menurut saya, raut wajah tersebut sebenarnya memang kebiasaan yang ada.
Berbicara soal kuliner, cita rasa makanan Polandia sangat berbeda dengan Indonesia. Menurut saya, makanan di Polandia cenderung memiliki rasa asam, dibandingkan rasa makanan Indonesia yang menjadi favorit saya, kebanyakan berasa pedas dan manis.
Selain itu, bumbu-bumbu yang digunakan pada makanan orang-orang Polandia cenderung lebih ringan, daripada masakan Indonesia yang kuat akan rasa rempah.
Saya sendiri memerlukan waktu hampir sebulan untuk menyesuaikan lidah saya dengan masakan lokal dan bumbu yang ada. Hal ini juga membuat saya sangat merindukan rumah.
Namun, setelah saya mengerti dan menerima perbedaan budaya yang ada, saya merasa bahwa saya memiliki “rumah kedua”, yaitu Polandia. Saya banyak belajar mendapatkan hal-hal positif selama tinggal di sana.
Masyarakat Polandia juga cenderung sangat menghargai waktu, sehingga saya harus selalu tepat waktu ketika menghadiri kelas dan berbagai acara. Oh ya, yang saya tahu, mereka juga suka berjalan kaki dan menggunakan kendaraan umum.
Untuk pembelajaran di kelas, masyarakat Polandia lebih mengutamakan metode self-study, sehingga kami mendapatkan kebebasan dalam belajar. Namun, kita tetap harus bertanggung jawab untuk mengikuti pelajaran dengan baik, misalnya dengan cara membaca buku dan jurnal secara mandiri.
Menjalani misi pertukaran pelajar juga memberikan saya banyak pengalaman menarik selama belajar di Polandia. Salah satu pengalaman paling menarik, ketika saya mendapatkan mata kuliah tentang penulisan secara akademik.
Saya sempat mengalami kesulitan dan harus mengulang kerangka tulisan dari awal. Walau begitu, dosen yang mengajarkan mata kuliah tersebut mau membimbing dan memberikan masukan sekaligus selalu menyemangati saya.
Bagi saya, ini sangat berkesan, karena saya merasa kalau progress dari setiap mahasiswa amat sangat diperhatikan di Polandia.
Sebagai warga Indonesia, saya tentunya tidak lupa memperkenalkan budaya Indonesia juga kepada mereka. Menurut saya, ini merupakan salah satu hal penting yang dapat WNI lakukan di luar negeri, supaya budaya tanah air dapat terus dilestarikan dan semakin dikenal masyarakat global.
Selain itu, terkadang memperkenalkan budaya ke warga negara asing dapat membuka kesempatan untuk berinteraksi, bertukar pengalaman, dan juga memperdalam pemahaman mengenai budaya satu sama lain secara mutual.
Untuk memperkenalkan budaya Indonesia, saya bersama teman-teman awardees IISMA di University of Warsaw lainnya mengadakan dua acara yaitu Indonesian Day dan Batik Day. Selama Indonesian Day, kami mempersembahkan tarian Indonesia, makanan khas Indonesia, menampilkan aneka kain batik dan memberikan edukasi mengenai budaya di Indonesia.
Selanjutnya, sebagai orang Indonesia tentu kita bangga akan batik. Nah, saat Batik Days, kami mengajarkan cara menulis batik kepada teman-teman dari Ukraina, yang juga sedang berada di Polandia.
Saya dan teman-teman juga mengajarkan membuat pernak-pernik dari batik kepada sesama International Students di University of Warsaw.
Jika saya punya kesempatan untuk datang ke Eropa lagi, saya ingin kembali untuk belajar di Polandia. Saya menilai para pengajarnya berdedikasi untuk mendidik dan mau membimbing siswa-siswinya. Yang saya suka, mereka menuntun mahasiswanya untuk berpikir secara kritis.
Walaupun, metode belajar yang diterapkan lebih ke arah self-study, mereka tetap akan membantu. Oh ya, jika mahasiswa ada pertanyaan, kita bisa bertanya pada jam-jam yang ditentukan. Selain itu, perkembangan mahasiswa, baik di dalam maupun di luar kelas, juga amat sangat didukung. Saya pikir, ini semua karena ketersediaan sarana, prasarana, dan tenaga pengajar yang berkualitas.
Sebagai tamu yang sedang berada di negara orang lain, menurut saya, kita harus selalu menghargai kebiasaan dan budaya setempat. Kita sebaiknya bisa beradaptasi dalam berperilaku sesuai kebiasaan yang ada.
Contohnya, kita bisa menciptakan suasana tenang, ketika kita naik public transportation, sebagaimana kebiasaan semua orang di sana yang biasa tenang di kendaraan umum.
Contoh lainnya, kebiasaan untuk membersihkan sisa bekas piring makanan dari meja, ketika kita datang berkunjung ke restoran self-service.
Nah, Sahabat Ruanita mungkin saja tertarik untuk mengikuti program pertukaran pelajar seperti yang saya lakukan. Tentu saja, kita harus selalu mematuhi aturan dan menghargai budaya yang ada, karena kita tinggal di negara orang.
Menurut saya, kita perlu memiliki pikiran dan pandangan yang terbuka juga. Ini penting, supaya kita dapat menghindari culture shock yang berkepanjangan. Selain itu, kita perlu mempersiapkan diri sebelum tinggal di luar negeri dengan cara mempelajari bahasa lokal, yakni bahasa sehari-hari yang digunakan warga di sana.
Oh ya, kita perlu belajar cara memasak jugal loh. Bagi teman-teman yang ingin tinggal di luar negeri, saya menyarankan untuk belajar cara memasak. Ini supaya kalian tidak kesulitan dalam mencari makanan Indonesia.
Satu lagi nih yang penting, kita perlu juga belajar cara membersihkan rumah, supaya kita tidak merepotkan orang lain. Jangan lupa, kita selalu tetap bersemangat! Kita perlu memiliki pikiran yang terbuka dalam setiap langkahnya. Terakhir, jangan terlalu lama bersedih ketika hal-hal yang ditemui di negara orang berbeda dengan apa yang ada di rumah!
Terakhir, saya tentu senang sekali pernah menjadi bagian dari program pertukaran pelajar yang difasilitasi pemerintah Indonesia. Saya berharap semoga program ini selalu didukung dan terus diperbaiki dari tahun ke tahun agar nantinya exposure budaya Indonesia dapat semakin meluas di kancah internasional.
Penulis: Cinta, pernah menjadi peserta pertukaran pelajar di Polandia, dapat dikontak di akun Instagram yp_cinta.
Sahabat Ruanita, perkenalkan namaku Renata. Aku tinggal di Belanda bersama suamiku dan anak kami yang berumur dua tahun. Aku dan suamiku menikah sejak tahun 2016, saat umurku sudah 34 tahun. Sejak itu kami berusaha untuk hamil, tetapi berkali-kali gagal. Pada akhirnya di tahun 2022, aku berhasil hamil dan anak kami lahir.
Setelah menikah, aku datang ke dokter kandunganku untuk minta rujukan ke klinik reproduksi, karena umurku yang waktu itu sudah tidak muda lagi. Beliau tidak langsung memenuhi permintaanku, tetapi menyuruh kami berusaha dulu sendiri selama satu tahun. Saat itu, suamiku dan aku masih tinggal terpisah karena alasan pekerjaan. Walaupun suamiku orang Jerman, tapi dia tinggal di Belanda, sedangkan aku tinggal di utara Jerman. Dokter kandunganku juga memberikan tips agar cepat hamil, sayangnya tidak berhasil.
Setahun kemudian, aku kembali ke dokterku, ternyata dia sudah pensiun dan diganti dokter lain. Sebelum memberikan rujukan, dia menyarankanku untuk tes ini dan itu, untuk mencari tahu penyebab susah hamil yang aku alami. Aku menolak, karena aku sudah mencoba secara alami seperti saran dokter sebelumnya dan biasanya di klinik reproduksi juga akan dicek semuanya. Akhirnya, aku dapat surat rujukan itu.
Di klinik reproduksi, (Kinderwunschzentrum dalam bahasa Jerman) aku dijelaskan tentang tahap-tahap program punya anak sesuai dengan asuransiku. Aku hanya mempunyai asuransi umum, karena program kehamilan itu juga terbatas. Pada tahap pertama, kami dijelaskan penyebab-penyebab susah hamil. Selain tes hormon, rahimku juga diperiksa oleh mereka. Menurut mereka, tubafalopi kiriku tertutup dan ada polip di sana. Oleh karena itu, mereka melakukan operasi kecil untuk membuka pintu jalan tubafalopi itu ke rahimku dan mengangkat tiga polip yang sebesar buah ceri. Setelah itu, aku tidak boleh berhubungan seks selama tiga bulan.
Usai pasca operasi, aku kembali ke sana. Ternyata mereka menemukan polip lain, sehingga aku harus kembali ke ruang operasi. Setelah operasi pengangkatan, tetap saja aku belum hamil. Baru saat itulah, mereka menyarankan agar suamiku juga diperiksa. Hasilnya adalah sperma suamiku bermasalah. Kami susah hamil karena ada masalah dengan rahimku dan sperma suamiku. Setelah proses ini, kami kemudian bisa merencanakan proses inseminasi. Pengalamanku membuat janji di klinik reproduksi untuk proses ini tidak mudah, ditambah suamiku tinggal di negara lain. Di tahun 2017, aku pindah kerja ke Düsseldorf, sebuah kota di perbatasan Jerman dengan Belanda, agar bisa bertemu lebih sering dengan suamiku. Proses inseminasi ini dilanjutkan di sana.
Asuransi umum di Jerman memberikan kesempatan delapan kali inseminasi dalam waktu dua tahun. Setelah kesempatan ini habis, baru proses bayi tabung bisa direncanakan. Total aku melakukan empat kali inseminasi. Dua kali berhasil hamil, tetapi keduanya aku keguguran. Aku putus asa, walau dokter bilang aku mengalami kemajuan karena terbukti bisa hamil.
Aku meminta dokterku untuk langsung mencoba program bayi tabung karena umurku yang tidak lagi muda. Dokter kemudian membuat rencana program bayi tabung dan memberikan kami perkiraan biaya, yaitu sebesar 12.000-15.000 Euro yang harus kami bayar sendiri. Menurut hasil pemeriksaan mereka, hanya suamiku yang punya masalah sehingga aku susah hamil. Padahal menurut hasil pemeriksaan di kota sebelumnya, aku juga punya masalah. Sayangnya, suamiku tidak punya asuransi di Jerman, sehingga biaya tersebut harus kami tanggung sendiri.
Setelah diskusi tersebut, kami berpikir untuk mencoba juga di Belanda. Sebelum aku memulai program bayi tabung, aku sempat hamil alami. Aku senang sekali bisa hamil sendiri tanpa bantuan, tapi sayangnya aku keguguran lagi. Waktu itu, aku posisinya baru pindah ke Belanda. Aku tidak mengerti harus ke mana, karena tidak seperti di Jerman yang banyak klinik dokter kandungan. Di lokasi tinggalku Belanda, aku tidak tahu di mana. Semua harus diurus di rumah sakit. Akhirnya, aku buat janji lagi dengan dokterku di Düsseldorf. Sayangnya, aku keguguran sebelum sempat ke sana untuk periksa kehamilan.
Aku ingat, hari itu adalah hari sabtu. Praktik dokter tutup dan aku mengalami pendarahan saat berada di rumah kami di Belanda. Akhirnya, aku dan suamiku pergi ke Unit Gawat Darurat (UGD) di Düsseldorf. Menurut dokter jaga, wajar berdarah saat hamil, dan detak jantung janin juga masih ada. Malam itu, kami kembali ke rumah kosku di Düsseldorf.
Keesokan harinya pendarahanku semakin parah, kami kembali ke UGD. Di sana dokter mengatakan detak jantung janinku sudah tidak ada. Duniaku runtuh, seperti lantai ditarik dari kakiku. Aku masih menyangkal dengan berpikir, “Masak sih? Kemarin masih ada (detak jantungnya). Salah kali alatnya. Salah kali dokternya.” Kami pulang kembali ke rumah kosku.
Jam tiga pagi aku terbangun karena perutku sakit. Saat di atas toilet, aku merasa ada yang keluar. Aku pegang, bentuknya kecil seperti gummy bear. Saat itu aku tidak tahu itu apa. Antara sadar dan tidak sadar, aku flush dia ke dalam toilet. Belakangan aku baru sadar, kenapa waktu itu aku flush dia dan tidak aku makamkan? Namun, pada saat kejadian tersebut, aku masih dalam fase penyangkalan. Dan semua itu terasa seperti mimpi. Aku masih berpikir itu bukan bayiku, bayiku masih di dalam rahimku. Setelah itu, aku langsung membangunkan suamiku, karena aku mengalami pendarahan hebat. Pada malam tersebut, aku dikuret di rumah sakit dan dirawat inap satu malam. Dokter di UGD menyarankan aku untuk melakukan pemeriksaan genetik, setelah dia tahu bahwa ini adalah keguguranku yang ketiga. Keguguran ini juga membuatku mengalami depresi dan sempat menerima terapi psikologi.
Beberapa bulan setelah keguguran ini, aku mendatangi klinik di Jerman untuk pemeriksaan genetik, seperti yang disarankan oleh dokter UGD. Tes hormon dilakukan untuk mengetahui alasan keguguran yang aku alami tiga kali. Dari pemeriksaan, ditemukan aku mengalami antiphospolipid syndrome (APS) pada kehamilan, yang membuat tubuhku melihat janin sebagai benda asing. Untuk mengusir “benda asing” ini, terjadi pengentalan darah di rahimku. Mereka memberikan saran, kalau aku hamil lagi aku harus dapat suntikan pengencer darah.
Sambil pemeriksaan ini, aku juga mendatangi klinik reproduksi di Belanda. Aku ceritakan tentang diagnosa tersebut, dokternya berkata “Tugas saya hanya membuat orang hamil, bukan mempertahankan kehamilan.” Namun, dia juga mendiskusikan hal ini ke dokter kandungan.
Program hamil di Belanda sedikit berbeda dengan di Jerman. Di Belanda, semua biaya di-cover oleh asuransi. Tidak ada istilah, siapa yang “salah” dia yang harus bayar program hamil. Padahal saat di Jerman, kami disodori perkiraan biaya karena suami “penyebab” aku susah hamil. Oh ya, sebelum program bayi tabung dimulai, suami dites kembali oleh klinik reproduksi di Belanda. Hasilnya, dia sehat dan spermanya baik-baik saya. Hal ini bertentangan dengan dua hasil tes di Jerman. Batas umur di Belanda juga lebih tinggi, yaitu 43 tahun, sedangkan di Jerman 40 tahun. Di Belanda, aku mempunyai tiga kali jatah untuk program bayi tabung. Semuanya gratis.
Saat pertama kali datang ke klinik reproduksi, aku langsung dikasih resep obat suntik untuk menstimulasi hormon tubuh agar sel telurku keluar. Obat ini harus aku suntikan ke diriku sendiri selama 10 hari, dimulai dari hari pertama menstruasi. Mereka juga memberikan checklist, apa saja yang aku harus lakukan setiap hari, termasuk jam berapa aku harus disuntik. Setelah 10 hari pemberian suntikan, aku diminta datang lagi ke klinik untuk dicek, apakah ada sel telur yang siap untuk keluar.
Program pertama ini seperti percobaan untuk mengetahui berapa dosis yang sebenarnya dibutuhkan tubuhku. Dalam program pertama ini aku tidak hamil, karena dosisnya terlalu kecil untuk tubuhku, sehingga tidak ada reaksi apa pun. Pada program kedua, dokter memberikan dosis dua kali lebih besar dari dosis pertama. Dokter mengatakan itu adalah dosis tertinggi. Aku tidak akan diberikan lebih dari dosis tersebut.
Berbeda dengan program pertama, di mana sel telurku tidak muncul, pada program kedua ini sel telurku ditemukan di tubafalopi kanan dan kiri. Jumlah dan ukuran mereka juga, ada yang siap untuk keluar dari tubafalopi. Setelah dilakukan pengecekan, aku diminta untuk tidak menyuntik lagi malam itu. Sebagai penggantinya, aku diberikan suntikan agar merangsang sel telur untuk keluar keesokan harinya. Aku diminta untuk menyuntik sendiri di rumah pada jam yang sudah ditentukan klinik. Mereka sudah memperhitungkan agar sel telur keluar saat aku berada untuk proses pengambilan sel telur dari folikel. Setelah sel telur diambil lewat vagina, pembuahan dilakukan saat itu juga. Suamiku datang 30 menit sebelumnya, agar spermanya bisa dibersihkan dan dipilih yang paling baik.
Di Belanda, sel telur yang sudah dibuahi akan dikembalikan ke rahim setelah tiga hari, sedangkan di Jerman lima hari. Perbedaan lain, Belanda lebih hemat menggunakan obat bius pada saat proses pengambilan sel telur. Hanya bius lokal, bukan bius total seperti di Jerman. Pemeriksaan darah dan USG juga lebih hemat. Waktu aku hamil inseminasi di Jerman, aku periksa darah setiap dua hari. Di Belanda tidak seperti itu. Aku harus menunggu delapan minggu sampai aku boleh periksa darah dan USG untuk mengetahui, apakah ada detak jantung janinku atau tidak. Aku merasakannya, delapan minggu terlama di hidupku. Apakah janin berkembang atau tidak, kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi, menurut pendapat dokter kandunganku di Belanda. Bagaimana pun, itu sudah menjadi takdir. Alhamdulillah, aku benar-benar hamil.
Di awal kehamilan, aku kembali ke Düsseldorf untuk pemeriksaan genetik. Aku diberikan obat pengencer darah yang harus aku suntikkan setiap hari hingga enam minggu setelah melahirkan. Selama hamil, aku juga lima kali harus diopname karena pendarahan. Akibat obat pengencer darah itu, memang aku gampang berdarah. Karena aku sedang hamil dan masih di bawah berusia tiga bulan, kami langsung ke UGD untuk pemeriksaan. Waktu itu, aku tidak ada pilihan lain, sehingga aku menjalaninya saja. Aku juga berpikir, semua ini akan selesai begitu anakku lahir. Selama kehamilan, aku mengatakan ke suami, kalau aku hanya ingin hamil sekali ini saja. Namun, begitu anakku sudah lahir, aku lupa sakitnya berbagai suntikan-suntikan itu.
Adopsi juga merupakan salah satu opsi untuk aku dan suamiku. Bahkan sampai sekarang, suamiku masih bilang untuk mengadopsi anak kedua. Begitu kami dihadapi pada pilihan tersebut, kami sejujurnya merasa sulit juga memutuskan, karena kami tidak tahu latar belakang keluarga dan kesehatannya. Selain itu, anak adopsi pun tidak lahir dari rahimku sendiri, sehingga aku takut tidak bisa menyayanginya seperti menyayangi anak kandung sendiri. Namun, sekarang saat aku sudah punya anak kandung, apakah aku bisa adil dengan anak kandung dan anak adopsi? Jawabannya tidak mungkin untukku. Jika anakku mungkin sudah besar, aku akan mempertimbangkannya lagi.
Kami memang ingin memiliki anak lagi. Di Belanda, jika program hamil berhasil, maka orang tua kembali mempunyai tiga kali kesempatan untuk mencoba program hamil. Setahun anakku lahir, kami mencoba lagi. Sayangnya gagal. Bulan Januari tahun ini, kami juga mencoba lagi untuk kedua kalinya. Sayangnya, kembali gagal. Kami sebenarnya masih punya satu kali kesempatan lagi, tetapi sepertinya tidak akan kami ambil lagi, karena perubahan situasi hidup kami. Suamiku kembali bekerja dan tinggal di Jerman, sedangkan aku dan anakku masih tinggal di Belanda sampai kontrak kerjaku di Belanda selesai pada pertengahan tahun ini.
Untuk Sahabat Ruanita yang sedang berusaha untuk hamil, jangan menyerah! Aku tahu bagaimana rasanya, seperti jatuh ke jurang setiap menstruasi. Ini seumpama, kita berusaha naik ke lembah jurang tersebut, setiba di atas, kita sudah jatuh ke jurang lagi, karena ternyata kita menstruasi lagi. Teknologi kesehatan zaman sekarang sudah maju sekali. Aku sendiri takjub dengan majunya teknologi kehamilan saat ini. Kita bisa mencari tahu penyebab gagalnya kehamilan dan keguguran, meskipun kita mungkin tidak mendapatkan jawaban dan solusinya. Aku bersyukur bahwa aku mendapatkan rujukan untuk tes genetik dan mendapatkan solusi agar keguguran tidak lagi terjadi, yaitu suntik hormon selama sembilan bulan kehamilan.
Aku juga bersyukur bahwa aku tinggal di luar Indonesia, sehingga tidak ada yang sering bertanya, “Kapan hamil?”. Menurutku, pertanyaan tersebut tidak sensitif sama sekali sekali. Kita tidak tahu, apa yang mereka hadapi, sehingga membuatnya susah hamil. Selama ini, aku menghibur diriku sendiri dengan mengatakan, setidaknya tidak ada yang bertanya “Kapan hamil?”. Awalnya, orang tua dan saudaraku juga bertanya tentang kehamilanku. Setelah aku menjelaskan masalahnya, mereka berhenti bertanya. Sepertinya, itu sudah takdir.
Aku juga bersyukur, ada asuransi kesehatan, sistem, dan fasilitas klinik reproduksi di Jerman dan di Belanda. Di sini, aku bisa berusaha tanpa kendala biaya karena itu gratis. Kita hanya perlu rajin mencari tahu tentang prosesnya saja. Kalau ada Sahabat Ruanita yang berumur di atas 40-an dan ingin mencoba program bayi tabung, bisa langsung menegosiasikan ke dokter, karena pihak asuransi akan mendengarkan dokter terlebih dulu. Dahulu aku patuh dengan aturan (asuransi) di Jerman, sehingga sepertinya banyak waktu terbuang untuk birokrasi. Mungkin jika saat itu aku tidak pindah ke Belanda, kami akan mengusahakan program bayi tabung dengan biaya yang disebut oleh dokter kami di Düsseldorf.
Dari satu keguguran ke keguguran lain, telah membuatku sulit menerimanya. Pada akhirnya, aku berpikir memang itu belum takdirnya saja. Bisa jadi, itu merupakan bentuk proteksi pada diri kita sendiri dan calon bayi. Aku juga belajar, ini bukan hanya usaha ibu untuk hamil, melainkan usaha bayi untuk bertahan hidup. Setiap bayi yang lahir sudah berjuang sangat kuat sejak dini. Setelah pembuahan, baik kehamilan alami atau buatan, belum tentu dia akan menjadi embrio. Kalau pun menjadi embrio, belum tentu dia bisa bertahan dalam rahim. Kalau pun dia bertahan, bisa jadi juga kromosomnya lebih atau kurang. Jika ini terjadi, bayi yang lahir belum tentu bisa berjuang hidup. Berdasarkan hasil refleksiku tersebut, jika anakku mulai rewel, maka aku sering menarik nafas dan mengingat lagi, bagaimana usahaku memiliki anak. Namanya juga anak kecil, dia mungkin sering rewel.
Seandainya aku bisa berbicara ke my younger self, aku mau mengatakan, kamu perlu menikmati hidup sebelum hamil. Saat hamil, kamu mungkin sudah tidak bisa melakukan ini dan itu. Misalnya, kamu mendapatkan menstruasi saat sedang berusaha hamil, itu tidak apa-apa untuk merasa sedih. Namun, jangan berlarut-larut! Dahulu, aku berkutat pada rencana kehamilanku. Setiap merencanakan sesuatu, aku selalu berpikir “Bagaimana kalau aku hamil?”. Aku pernah berpikir, “Liburan ke Indonesia sekarang saja, kayaknya karena tahun depan aku hamil.” Begitu aku tidak hamil, sakit sekali rasanya. Aku seperti tidak menikmati momen saat sedang tidak hamil itu. Jangan sampai kita bergantung pada pertanyaan, “Bagaimana kalau hamil?”.
Diceritakan oleh Renata, ibu anak satu yang tinggal di Belanda. Ditulis oleh Mariska Ajeng, relawan Ruanita Indonesia dan mengelola program Cerita Sahabat di Ruanita. (www.mariskaajeng.com).
Halo sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Zakiyatul Mufidah. Saya berasal dari Blitar Jawa Timur. Saat ini, saya sedang studi PhD di University of Birmingham di Inggris dan telah memasuki tahun kedua saya berada di negeri Harry Potter ini. Pada September 2022 lalu, saya mendapatkan beasiswa LPDP. Selain mengerjakan studi PhD, kesibukan saya sehari-hari dimulai sejak pagi, yakni mempersiapkan anak-anak berangkat ke sekolah, mengantar mereka ke sekolah dan saya lanjut menuju ke kampus.
Sebagai seorang ibu, saya berusaha memberikan hak anak-anak saya mendapatkan waktu dari saya. Oleh karena itu, saya berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan waktu bersama mereka sebelum bersekolah. Ini adalah waktu saya bersama anak-anak, sebelum mengerjakan tugas kampus dan riset saya di kampus, sampai saat saya kembali menjemput anak-anak dari sekolah.
Selepas sekolah, kembali saya bersama dengan anak-anak. Saya membersamai mereka belajar, mengaji, sholat sampai selesai Isya’ dan free time. Setelah anak-anak tidur, kemudian saya bisa membuka laptop lagi (dengan catatan jika saya tidak ikut terlelap juga sampai pagi, hehehe…
Sebelum berbicara tentang bagaimana proses penyesuaian anak, perlu saya ceritakan sedikit tentang latar belakang anak-anak saya, karena saya melihat latar belakang anak sangat berpengaruh pada proses penyesuaiannya. Misalnya, anak saya adalah anak desa (anak kampung) karena mereka tinggal di lingkungan perkampungan. Anak-anak saya tidak terbiasa dengan dengan jadwal padat les ini itu, dsb. Mereka pergi sekolah, lanjut bermain, mengaji di madrasah, bermain lagi, pergi ke Musholla, dst. Mereka juga terbiasa hidup komunal dengan tetangga atau teman sebaya di lingkungan kami. Dan, satu lagi, anak-anak tidak terbiasa terpapar dengan Bahasa Inggris dalam kesehariannya. Nah, proses penyesuaian saat anak-anak masuk sekolah di sini cukup menantang.
Saya bisa merasakan tentunya berat untuk anak-anak saya, dari segi bahasa, sebagai satu-satunya alat berkomunikasi. Anak-anak saya sampai sekarang masih struggling dengan Bahasa Inggris. Namun untungnya, sistem sekolah di sini sangat inklusif, tidak judgmental dan lebih “encouraging” ke setiap anak, sehingga anak-anak tetap bersemangat, tidak merasa stres atau tertekan.
Selain itu, persoalan budaya dan kebiasaan juga cukup menantang pada tahap penyesuaian ini. Contoh kecil, kebiasaan makan nasi. Anak yang masih duduk di Year 1 sampai Year 4, itu masih dapat free lunch dari sekolah. Tentu, konsep lunch di sini berbeda dengan lunch di Indonesia, yang berarti makan nasi, lengkap dengan lauk pauknya. Di sini lunch dari sekolah biasanya sandwich, hotdog, potato, pizza, dll. Pastinya jarang sekali ada nasi. Nah, selama proses penyesuaian tersebut, kami harus menyiapkan bekal nasi dan lauk pauk untuk dibawa ke sekolah, karena anak-anak belum mau free school meal tersebut. Ini cukup merepotkan, karena saya harus masak besar di pagi hari. Setelah 4-5 bulan, sedikit demi sedikit anak-anak mau mencoba school meal dan tidak perlu membawa bekal nasi ke sekolah lagi.
Proses perpindahan sekolah anak dari Indonesia ke Inggris juga tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Sistem sekolah di sini cukup ketat, dan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh city council. Tidak ada sistem “titip”. Karena anak-anak menyusul saya pada akhir September lalu, maka mereka saat mendaftar sekolah masuk ke in-year admission. Mereka tidak bisa ikut mendaftar online, seperti jika masuk pada awal tahun akademik. Jadi, kami mendatangi sekolah yang dekat dengan tempat kami tinggal.
Untuk mendaftar sekolah, syaratnya cukup dengan paspor dan bukti alamat tempat tinggal. Kuota diberikan berdasarkan zona. Setelah mengisi formulir pendaftaran dan melampirkan dokumen yang diminta, lalu ada visit dari sekolah. Kunjungan sekolah ini untuk memastikan jika kami benar-benar tinggal di alamat tersebut dan anak-anak mempunyai tempat tinggal yang layak. Kebetulan anak saya gendernya sama semua, sehingga mereka tidak harus punya kamar sendiri-sendiri. Selanjutnya, mereka bisa langsung masuk sekolah pada keesokan harinya, tanpa wajib memakai seragam sekolah. Seragam mereka cukup baju basic yang bisa didapatkan dengan mudah di toko serba ada, di dekat rumah.
Selanjutnya, pengelompokan usia sekolah di sini cukup berbeda dengan di Indonesia. Anak saya di Indonesia masuk ke dalam kelas 5 SD, tetapi di sini masuk kelompok Year 6 atau kelas 6. Anak kedua, yang masih TK B di Indonesia, di sini masuk kelompok usia Year 2. Lalu, anak ketiga masih TK A di Indonesia, tetapi di sini masuk kelompok Year 1. Gap kelompok usia ini cukup berpengaruh pada mental dan kemampuan kognitif anak. Ini yang menyebabkan anak-anak butuh effort yang lumayan untuk penyesuaian. Alhamdulillah, semuanya sudah bisa masuk sekolah, setelah menunggu 3 minggu.
Keputusan menyekolahkan anak-anak di Inggris, sejalan dengan keputusan membawa keluarga ikut tinggal di Inggris selama masa studi saya. Saya pernah menjalani LDR dengan anak di tahun pertama studi. Dan itu beratnya luar biasa. Di satu sisi raga saya di sini, tetapi di sisi lain hati dan pikiran saya ada di tanah air. Itu sebab, saya pun tidak bisa totalitas beraktivitas di kampus. Beratnya berpisah dengan buah hati menjadi salah satu alasan saya, memboyong mereka ke sini.
Alasan kedua adalah saya merasakan betapa pendidikan di sini sangat bagus dan berkualitas. Kalaupun di tanah air ada yang seperti di sini, itu pasti berada di kota besar dengan biaya yang tidak murah. Saya ingin sekali, tidak hanya saya saja sendiri yang bisa merasakan dan mengenyam pendidikan di sini, tetapi anak-anak saya juga. Tentunya, itu diiringi dengan drama dan tantangan-tantangan yang menyertainya.
Everything takes time. Tantangan-tantangan selama proses perpindahan memang tidak mudah. Sebagai orang tua, kami berusaha selalu berpikiran positif. Saya selalu mengajak ngobrol anak-anak dan menanyakan apa dan bagaimana perasaannya, agar mereka tidak sampai stres. Tantangan terberat tentu saat merespon anak yang homesick dan ingin pulang ke Indonesia saja. Namun, kami selalu berusaha menguatkan anak-anak. Bahwa segala sesuatu butuh waktu, butuh proses, dan selalu tidak mudah di awal, apalagi dengan budaya yang sama sekali baru dan belum menguasai Bahasa Inggris. Sebagai orang tua, kami harus terus mengingatkan untuk sabar. Kami mengingatkan kembali tujuan kami semua datang ke sini, yaitu menuntut ilmu. Menuntut ilmu itu wajib bagi tiap mukmin, baik laki-laki maupun perempuan.
Saat memutuskan membawa serta anak-anak dan pindah sekolah ke luar negeri, sebagai orang tua, kita perlu memperhatikan sejumlah faktor. Pertama, kita perlu memberi pemahaman kepada anak-anak bagaimana lingkungan dan budaya yang akan menjadi tempat tinggal barunya. Ini bisa dilakukan dengan sounding jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga mereka punya gambaran dan bayangan tentang lingkungan yang akan mereka tempati. Kedua, kita perlu memberi pemahaman kepada mereka bahwa tidak hanya budaya, tetapi aturan-aturannya juga berbeda. Contohnya, aturan di sekolah, di lingkungan sosial, dan di tempat umum. Ketiga, sebagai orang tua, kita tidak lelah menemani dan harus lebih kuat mental, apalagi saat anak-anak sedang tantrum atau bad mood. Mereka juga butuh diperhatikan, terutama kesehatan mentalnya. Oleh karena itu, kita perlu saling mengingatkan tentang motivasi apa yang membuat kita sekeluarga bisa berada di Inggris. Mengingatkan kembali bahwa, ini adalah visi dan tujuan keluarga. Ini bukan hanya visi ibu atau ayah atau anak-anak saja. Berada di sini, survive di sini, dan berproses di sini adalah visi Bersama.
Dua hal yang paling sering dirindukan anak-anak saya dan kadang menjadi trigger homesick bagi mereka. Pertama, suasana dan lingkungannya. Mereka terbiasa bermain lepas di luar bersama teman-temanya. Istilahnya, mereka adalah anak petualang seperti: bersepeda keliling kampung, beli jajan/makanan kecil di warung, atau sesederhana main bola atau main layangan di lapangan. Sementara saat mereka sudah tinggal di Inggris, mereka merasa “terkungkung” di dalam rumah. Mereka keluar harus ditemani orang tua dan main bola di park harus dibungkus dengan jaket tebal. Mereka tidak menemukan abang-abang yang berjualan di pinggir jalan, dst.
Kedua, mereka beberapa kali bilang kangen dengan camilan atau makanan Indonesia. Cara saya mengatasinya, saya coba mengajak mereka explore tempat-tempat baru sebulan sekali atau jika ada waktu luang. Sementara untuk makanan, saya coba buatkan masakan Indonesia dengan bahan yang ada. Kadang kalau camilan, saya biasanya jastip ke teman yang pulang ke Indonesia. Upaya tersebut sudah lumayan dan cukup mengobati rasa kangen mereka.
Ada cerita menarik dari anak saya tentang proses adaptasinya di sekolah. Hal ini terjadi saat anak saya berulang tahun. Dia terheran-heran karena ada anjuran dari sekolah yang dikirim via email orang tua, agar anak yang berulang tahun tidak membawa makanan dan membagi-bagikan makanan kepada teman-temannya di sekolah. Saya mengerti aturan ini. Mungkin hal ini terkait food allergens yang menjadi isu penting di sekolah. Namun, anak saya lalu bilang: “Kok, di sini tidak boleh berbagi ya ma? Padahal kalau di Indonesia, ada yang berulang tahun, biasanya kita bawa nasi kuning atau kue untuk dibagikan ke teman-teman di sekolah. Itu lebih seru atau biasanya mereka yang berulang tahun, traktir makan di kantin.”
Menurut saya, ada beberapa kelebihan memindahkan anak bersekolah ke luar negeri. Pertama, kita bisa tetap dekat dan memantau perkembangan anak, baik fisik, akademik, mental, dan spiritualnya. Kedua, anak menjadi belajar tentang keberagaman dalam hal apapun, seperti cara hidup, bentuk tubuh, warna kulit, agama, kepercayaan, pilihan hidup, bahkan sistem atau peraturannya. Hal ini bisa membuat anak belajar beradaptasi dan menyesuaikan dengan adat/kebiasaan di mana dia tinggal. Anak lebih menghormati dan menghargai keberagaman. Ketiga, anak mempunyai pengalaman hidup yang akan dikenang seumur hidupnya, memiliki proses hidup dan belajar yang menantang, mengajarkan mereka untuk lebih siap dengan berbagai kemungkinan dan dinamisnya kehidupan. Keempat, mereka bisa merasakan bagaimana sistem belajar dan pendidikan di luar negeri yang cenderung inklusif dan tidak judgmental yang mengukur kinerja siswa dengan standar yang sama. Mereka lebih didorong untuk berkompetisi dengan dirinya sendiri, bukan dengan temannya. Setiap progress meskipun kecil sangat diapresiasi dan dihargai.
Terakhir, ini juga tidak kalah penting adalah kelebihan sekolah di sini. Sekolah di sini sangat mendorong anak menjadi suka membaca. Saya kurang tahu bagaimana persisnya, tetapi saya melihat anak-anak saya lebih cenderung suka membaca. Saat jalan keluar pun mereka lebih bersemangat menghabiskan waktu di toko buku, daripada di toko baju atau sepatu.
Saran saya, bagi sahabat Ruanita yang berniat membawa anak-anaknya ke luar negeri, adalah segerakan, jangan ditunda! Kuatkan niat yang baik untuk menuntut ilmu, berproses menjadi manusia yang tangguh dan unggul. Jangan lupa menjaga keseimbangan antara hati, pikiran, dan mental supaya tidak mudah lelah dan menyerah saat hidup sedang tidak berpihak pada kita. Sebagai orang tua, kita harus lebih siap saat anak-anak menghadapi masa-masa penyesuaian, lebih sabar dan berpikiran positif. Terakhir, ini tak kalah penting juga untuk selalu ditanamkan dalam diri kita dan anak-anak, bahwa tiap proses yang kita jalani, semuanya tidak terlepas dari kuasa dan kehendak Tuhan.
Penulis: Zakiyatul Mufidah Ahmad, Mahasiswi PhD di Inggris dan dapat dikontak di akun IG: zakiyatulmufidahahmad
Mengompol atau yang lebih dikenal dengan nocturnal enuresis adalah suatu kondisi keluarnya urin secara tidak sengaja. Mengompol Sekunder adalah mengompol yang kembali terjadi setelah sang anak tidak pernah mengompol lagi setidaknya dalam kurun waktu setelah 6 bulan dari masa mengompol primer atau mengompol usia bayi.
Pada tahun 2018, kami sekeluarga pindah ke Jepang. Saat itu, usia anak pertama kami 3 tahun. Kami lalu menapaki lembar kehidupan baru dengan segala ritme dan kultur baru bagi kami. Alhamdulillah, anak kami sudah lulus toilet training sejak usia 2 tahun. Selama di Jepang, singkat cerita adaptasi terjadi dengan cepat dan sangat baik bagi semua, terutama untuk anak kami.
Pada tahun 2021, kami sekeluarga pindah ke Berlin, Jerman. Saat itu, anak pertama hampir berusia 6 tahun dan anak kedua berusia hampir 3 tahun. Penyesuaian diri pun tak elak kami lakukan. Penggunaan bahasa di rumah pun mengalami perubahan, Bahasa Jepang lalu Bahasa Jerman yang tentunya sangat berbeda. Sistem bahasa di rumah kami, One Parent One Language, mengalami sedikit perubahan. Dengan ayahnya, anak-anak tetap berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris.
Sedangkan dengan ibunya, komunikasi yang digunakan semula Bahasa Jepang, kini saya putuskan beralih ke Bahasa Jerman. Hal ini dilakukan untuk kepentingan mendukung proses adaptasi, terutama di lingkungan sekolah. Begitu kami tiba, di tahun anak kami menginjak usia sekolah dasar. Inilah juga awal cerita mengenai mengompol sekunder yang dialami anak saya.
Tahun 2021 juga bertepatan dengan masa transisi Pandemik ke Endemik. Kami datang ke kota dan negara baru yang bertepatan dengan tahun ajaran Sekolah Dasar dimulai. Ternyata, ini menjadi babak yang mungkin ‘spektakuler´ untuk anak pertama kami. Pada beberapa hari pertama sekolah, pengalaman anak masih lumayan smooth dan terjadilah mengompol sekunder ini, terutama ketika malam hari.
Beruntung, ketika dia mulai merasa berkemih, dia cepat terbangun dan lari ke toilet. Memang tidak merembes banyak tetapi dengan sifat perfeksionisnya, ternyata ini lumayan membuat dia frustasi. Ini terjadi setidaknya hampir seminggu.
Pada siang hari, beberapa kali pun sempat terjadi tetapi sekedar terlambat menyadari dan kemudian bisa ditahan, lalu dia berlari menuju toilet. Awalnya, saya melihat ini sesuatu yang biasa. Namun ketika ini terlihat berulang, mulailah saya merasa cemas. Pembawaan sosok saya yang sering disebut tegas, pun turut campur. Ternyata ini pun menjadi salah satu pemicu yang membuat frustasi anak menjadi terasa lebih berat.
Untuk anak usia sekolah dasar, yang kemudian dilakukan ibu biasanya adalah membantu mengingatkan lagi tentang rutinitas seperti membiasakan berkemih sebelum tidur dan mengingatkan untuk tidak menahan keinginan berkemih jika sedang asyik bermain. Dalam kondisi anak yang merasa frustasi, pada diri anak yang dilihat adalah “Mama yang Cerewet”. Dengan ketidakmengertian, tidak memahami, dan jauh dari kesan membantu sehingga ini membuat saya patah hati.
Sebagai ibu di zaman sekarang ini, sikap open minded saya pikir penting sekali. Selama beberapa hari dengan tujuan Bonding ibu dan anak, saya mencairkan suasana dengan sengaja menjemput dia lebih awal dari sekolah. Anak tidak mengikuti kegiatan daycareafter school.
Saya mengajak dia makan siang berdua, bermain di taman sambil berpiknik, pergi ke tempat-tempat favoritnya, hingga kami pergi menonton film di bioskop hanya berdua saja. Kami melakukan banyak pelukan, mengusap kepala, bahkan bercanda lembut, mengucapkan banyak kata penuh makna kasih sayang, dan mengapresiasi atas segala hal baik yang dia lakukan.
Tentu selama ´bonding´ ini, observasi tetap berjalan sambil sedikit demi sedikit mengeksplorasi perasaannya seperti masalah-masalah yang sedang dia hadapi. Namun, saya berusaha untuk tidak langsung ´frontal´menelisik pada masalah mengompol sekunder ini. Saya berasumsi pada saat itu, anak saya pun tidak memahami apa yang menjadi penyebab dia bisa mengompol lagi.
Saya berpikir, sangat tidak tepat rasanya pada kondisi tersebut bertanya: “mengapa bisa begini, begitu…’” pada anak. Toh, anak pasti tidak bisa menjawabnya. Walaupun pertanyaan tersebut adalah bentuk kecemasan dengan sedikit kesal dari ibu, tetapi percayalah kita tidak akan mendapatkan jawaban dari anak.
Yang terjadi adalah ibu dan anak akan sama-sama terjebak pada area debat kusir yang bercampur emosi. Mungkin, ini bisa terjadi setelah terdapat “dinding pemisah tinggi dan tebal” yang terbangun antara ibu dengan anak. Oleh karena itu, kita sebagai ibu harus berusaha tenang sebisa mungkin meskipun berbagai rasa cemas, penasaran serta emosi lain yang dirasakan.
Berjalan beberapa hari, saya mulai melihat ada titik terang. Lalu, saya datang kepada dua teman saya yang berprofesi sebagai Dokter dan Psikolog Anak. Saya datang berkonsultasi tentang masalah dan membawa beberapa kesimpulan hasil Bonding dan observasi yang sudah saya lakukan.
Dari konsultasi bersama ahli tersebut, saya semakin memahami mengenai mengompol sekunder. Selain itu, saya jadi memahami bahwa mengompol pada anak harus mendapatkan penanganan yang benar.
Anak yang mengompol bukanlah anak yang malas atau nakal. Ada beberapa penyakit atau hal psikologis yang bisa terkait. Walaupun memang kebanyakan anak-anak yang mengompol tidak memiliki masalah kesehatan, mengompol biasanya akan membuat stres untuk orang tua. Namun patut diingat bahwa stres juga terjadi pada anak itu sendiri dan membuat anak tumbuh jadi anak yang tidak percaya diri apabila tidak ditangani dengan benar.
Pada kasus anak saya, mengompol sekunder ini terjadi pada masa-masa proses adaptasi lingkungan dan sekolah baru, di mana ada rasa sedih yang mendalam terkait perpindahan dari Jepang ke Jerman. Usianya pada saat itu sudah memahami merasakan jalinan pertemanan, memiliki bonding dengan lingkungannya tetapi kemudian harus pindah ke tempat baru dan meninggalkan itu semua.
Ketika datang ke lingkungan baru, ada banyak hal yang harus dicerna, budaya, kebiasaan – kebiasaan serta bahasa yang tentunya begitu berbeda. Begitu banyak hal yang harus dicerna dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, mungkin membuat jadi letih berlebih dan berimbas terhadap pengendalian diri dalam berkemih.
Berdasarkan teman – teman saya tadi, saya mendapat insight bahwa mengompol sekunder terjadi diduga karena ada masalah atau penyakit lain yang mendasarinya. Oleh karena itu, masalah atau penyakit yang mendasarinya ini yang harus dulu ditangani, sehingga diharapkan gangguan mengompol tidak terjadi lagi.
Karena masalahnya adalah psikologis, maka yang anak saya butuhkan adalah dukungan dan kehadiran sosok ibu yang menemani, meraih genggaman tangannya saat dia merasa tidak aman, mendekap erat saat dia merasa cemas, dan menyemangati dia. Benar saja, setelah masa-masa adaptasi awal ini terlewati dengan baik, dia tidak mengompol lagi.
Pentingnya mencari tahu dengan bertanya kepada ahli atau membaca juga berpengaruh sekali bagi ibu untuk bisa tetap tenang. Oleh karena itu, saya pun mencari tahu dan mendalami mengenai mengompol pada anak. Banyak artikel saya baca dan video-video saya tonton.
Sebagai penguatan batin sebagai ibu, saya pun membaca banyak artikel dan cerita mengenai luar biasanya seorang ibu. Meneladani kisah-kisah tersebut bahkan sepenggal quotes ringan tentang ibu pun saya baca hampir setiap hari.
Pesan saya untuk Sahabat Ruanita, menjadi ibu memanglah tidak mudah. Namun tetaplah optimis dan tanamkan selalu sifat mau terus belajar. Karena jiwa yang sedang kita besarkan bukan hanya sejiwa ini, tetapi ada jiwa lain yakni jiwa anak kita. Sebagai orang tua, kita perlu mendampingi anak melewati masa-masa sulit yang juga bagian dari tumbuh kembang.
Penulis: Nadiya Dewantari, Freelancer, dan ibu dari dua orang anak. Nadiya juga fasih berbicara dalam Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, dan Bahasa Jepang. Nadiya pernah tinggal di Jepang, kini menetap di Jerman.
Sebelum kalian membaca cerita saya panjang lebar, saya ingin kalian tahu bahwa I don’t speak on behalf of every ODBs. Apa yang saya bagikan di sini adalah pure dari pengalaman dan perasaan saya pribadi. Saya menuliskannya per akhir Oktober 2023 yang mungkin saja minat dan aktivitas saya berbeda ketika kalian membacanya sekarang. Terima kasih kepada Ruanita Indonesia yang memberikan saya ruang untuk berbagi.
***
Halo sahabat Ruanita, nama saya lumayan panjang tetapi saya kerap memperkenalkan diri sebagai Dinda Mahadewi. Beberapa waktu lalu, saya masih berstatus sebagai mahasiswa rantauan dan akhirnya balik ke kampung halaman, Bali. Saat ini, saya merupakan relawan sebuah lembaga bantuan hukum. Kesibukan saya akhir-akhir ini adalah saya sedang mendampingi sebuah kasus yang masih berlangsung di suatu daerah di Bali.
Saya ingin bercerita apa yang saya alami sebagai orang dengan bipolar. Awalnya saya sama sekali tidak ‘ngeh’ bahwa ada yang salah dari diri saya sendiri, sampai akhirnya saya duduk di bangku kuliah. Suatu hari, saat sedang berlangsung materi pengantar ilmu hukum, badan saya bergetar, keringat dingin, jantung berdebar keras, tidak bisa bernapas dengan baik, rasa ingin lari dari bangku menuju pintu ruang kelas terus menderu, saya memegang erat teman yang duduk di bangku sebelah saya.
Kejadian ini berlangsung kira-kira 5 hingga 10 menit. Setelah kejadian tersebut, saya merasakan lelah yang luar biasa. Itu kejadian pertama, dan beberapa kejadian yang sama terus mengikuti dengan gejala dan durasi yang sama. Mulai saat itu, saya berpikir bahwa ada yang salah dengan diri saya dan saya mencoba menarik benang merah dari kejadian tersebut.
Saya bukanlah orang yang memiliki penilaian buruk terhadap psikolog ataupun psikiater. Saya netral saja, bila terjadi, terjadilah. Saya merasa ada yang salah dengan kondisi psikologis saya karena rentetan kejadian tersebut. Saya baru tahu kalau itu dinamakan panic attack. Apabila ditarik lebih jauh lagi, mungkin ada hubungannya dengan masa kecil saya yang kemudian memicu saya. Namun, saya akan menceritakan hal-hal yang saya ingat dengan jelas saja.
Pada masa SMP, saya menggores-goreskan cutter ke tangan kiri saya. Alasannya, saya tidak ingat sama sekali. Namun, saya merasa lega setelah melakukan hal tersebut. Teman-teman saya sadar akan luka di tangan saya dan menyuruh untuk berhenti. Namun, saya tetap tidak berhenti.
Teman-teman sekelas saya juga menilai bahwa mood saya kerap kali tidak terkendali dan ‘sensian’ bahasa kerennya waktu itu. Beberapa waktu berselang, saya akhirnya berhenti ‘sejenak’ dari aktivitas tersebut dan membuang seluruh cutter yang ada di rumah.
Pada suatu hari, entah apa yang memicu saya, saya memecahkan piring dan belingnya kembali saya goreskan ke tangan kiri saya. Sampai kini, luka tersebut masih berbekas dan saya juga seolah bisa melihat goretan-goretan ‘hasil karya’ saya yang sudah memudar.
Masa SMA saya bisa dibilang tidak seindah yang dikatakan orang-orang. Saya mengalami krisis kepercayaan diri dan cenderung menjauh dan enggan untuk berinteraksi dengan orang baru. Selama masa SMA ini, saya sudah ‘taubat’ dari self harming dalam bentuk ‘lukisan di tangan’.
Selama tiga tahun saya duduk di bangku SMA, beberapa teman sekelas saya menyadari mood saya yang naik turun. Kembali saya menerima narasi dan asumsi, “Dinda, mood kamu naik turun terus ya, kamu Bipolar ya?”. Saat itu, saya sama sekali tidak mengetahui akan buta akan hal menyangkut kesehatan mental.
Setelah mengalami panic attack beberapa kali, saya anggap kehidupan kuliah saya agak mengenaskan, karena adanya krisis kepercayaan diri yang masih mengakar entah sejak kapan. Lalu 2020 pandemi hadir dan saya terpaksa harus menjalani kelas secara daring, yang mana menurut saya ini lebih menegangkan dari pada kelas secara luring.
Saya beberapa kali panik dan tidak bisa menghadapi dosen dan teman-teman sekelas. Zoom Meeting terasa menyeramkan. Saya sempat akan mengikuti sebuah kompetisi tetapi saya memutuskan bail-out, karena keadaan saya waktu itu tidak cukup kuat lagi.
Desember 2020 merupakan puncak emosi saya yang terpendam muncul kembali. Bisa dikatakan itu semacam relapse. Saya membanting barang, merusak lukisan sendiri, tidur dalam keadaan kamar seperti kapal pecah, dan kepala rasanya penuh akan suara-suara.
Februari 2021, saya memutuskan untuk pergi ke psikiater. Seminggu sekali saya kontrol untuk diobservasi dan diberi obat yang katanya “obat tidur”. Pada 5 Maret 2021, saya menerima diagnosa final, F31 Bipolar Affective Disorder. Awalnya saya merasa fine-fine saja karena dari awal psikiater pertama juga membicarakan tentang gangguan bipolar. Saya berasumsi bahwa hasil observasi saya akan ditulis bipolar. Setelah saya mendapatkan final diagnosa, beberapa minggu setelahnya saya merasakan perasaan tidak terima dengan kondisi tersebut. Saya mempertanyakan apakah benar hasil observasi tersebut. Saya denial.
Dua tahun lamanya, saya berobat ke psikiater pertama tetapi saya merasa masih ada yang mengganjal. Sejak Agustus hingga September 2023, saya merasa sudah tidak “sreg” lagi dengan psikiater saya tersebut. Saya menganggap dia hanya memberikan saran-saran kosong dan hanya sekadar lewat telinga. Saya memutuskan untuk ganti psikiater. Di psikiater baru, saya merasa didengarkan dan diperhatikan, walaupun baru beberapa kali pertemuan.
Pada pertemuan pertama, saya meminta psikiater baru tersebut untuk merujuk saya untuk menjalani test kejiwaan. Hasilnya menunjukkan bahwa memang saya memiliki spektrum bipolar dengan generalized anxiety yang skornya sangat tinggi. Saya juga merupakan tipe orang yang avoidant. Psikiater baru saya ini masih mengobservasi saya. Selain bipolar, dia mengatakan dengan gamblang bahwa saya juga memiliki indikasi Borderline PersonalityDisorder. Saya jujur kaget mengetahui fakta bahwa gangguan mental bisa campuran layaknya gado-gado.
Awalnya dalam keluarga, hanya ibu dan adik yang tahu akan gangguan mental saya tersebut. Semenjak ibu tahu, saya merasa ibu cenderung takut untuk melepas saya ke mana-mana sendiri karena ibu takut saya akan hilang kendali. Ibu saya terus menerus menyuruh saya minum obat secara rutin, karena terkadang saya bandel. Adik saya ya tetap begitu, tidak ada perubahan selain menjadi pengamat naik turunnya emosi saya.
Untuk teman-teman sendiri, saya tidak menceritakan ke banyak orang. Semula saya khawatir, dianggap mengada-ngada, tetapi respon teman-teman saya justru melegakan saya. Mereka tetap menganggap diri saya seperti kebanyakan orang lainnya. Mereka tidak membedakan saya dengan status gangguan mental yang saya miliki.
Bagaimana pun, ada mitos di luar sana tentang gangguan bipolar, seperti orang yang moody dan suka berganti suasana hati. Saya rasa moody/mood swing itu wajar terjadi pada kebanyakan orang lainnya. Bedanya, pada orang dengan bipolar seperti saya yakni, perubahan mood ekstrem yang terjadi dalam fase waktu tertentu.
Sepanjang pengetahuan saya, untuk dibilang ‘mudah berganti suasana hati’ sebenarnya, mungkin benar atau mungkin tidak. Kembali lagi, bipolar itu tentang rentang waktu tertentu yang dialami oleh ODB (Orang Dengan Bipolar). Ini hanya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya saja. Bisa jadi pengalaman dan pendapat ODB lainnya berbeda.
Menurut saya, ODB itu bisa tetap beraktivitas seperti umumnya dan bekerja seperti yang saya lakukan. Saya adalah bukti nyata bahwa seseorang dengan gangguan mental, masih dan tetap bisa bekerja dengan baik, asalkan ditangani dengan baik pula. Hambatan dan gangguan mungkin ada, tetapi hal itu bukan berarti ODB tidak bisa melaksanakan aktivitas seperti umumnya.
Aktivitas yang sering saya lakukan dan menenangkan hati saya adalah membaca dan menulis. Itu adalah hobi saya, yang membuat saya tetap berada di zona stabil saya. Selama dan setelah pengobatan/terapi berkelanjutan, saya mulai menemukan ketenangan dalam diri saya sendiri. Saya juga mengenal lebih jauh diri sendiri. Saya mulai berdamai dengan diri sendiri dan orang lain, meskipun itu kadang susah tapi harus tetap dijalani.
Selain itu, saya banyak belajar tentang ikhlas dan bersyukur terhadap hal-hal kecil yang saya alami. Akhir-akhir ini, saya mulai memberanikan diri untuk bertemu orang-orang baru dari berbagai komunitas, tidak ragu lagi untuk menyapa, dan memulai obrolan duluan. Saya juga sudah berani berbicara di telepon untuk waktu yang lumayan panjang. Sebelumnya, saya agak kurang nyaman melakukannya.
Saya tahu itu tidak mudah untuk mendapatkan dukungan sosial dari orang sekitar saya. Saya tidak menuntut orang terdekat saya, untuk selalu ada di setiap menit, jam, dan hari. Namun, hal yang saya hargai adalah bentuk dukungan secara lisan atau tulisan. Bahwa mereka di sini, kapanpun saya butuh berkeluh kesah. Itu yang membuat hati saya tergugah. Selain itu, saya ingin dianggap seperti orang-orang pada umumnya. Tidak ada stigma ini dan itu. Bagi saya, itu merupakan suatu bentuk dukungan. Saya ingin, orang-orang memperlakukan saya, seperti layaknya mereka memperlakukan orang lainnya juga.
Ada kalanya saya mengungkapkan ke seseorang bahwa saya bipolar, lalu mereka menanggapinya: “Oh begitu? Cepat sembuh ya!”. Hal ini kadang membuat saya jengkel. Sebenarnya I have accepted that I have mental disorders and I’m living with it, with my bipolar and possibly BPD. It can not be gone completely but it can be healed and stabilized as time goes by.
Ada rasa jengkel saat orang dengan sembarangan bilang: “Aduh, aku mood-nya naik-turun nih hari ini. Aku bipolar banget”. Padahal nyatanya mereka sama sekali belum pernah pergi ke tenaga profesional untuk mendiagnosis bipolar tersebut. Hal ini memunculkan stigma buruk terhadap ODB yang mengakui secara publik bahwa mereka sebetulnya adalah ODB, bukan dibuat-buat.
Untuk sahabat Ruanita yang membaca cerita saya ini, tolong tidak berpikir bahwa ODB tidak bisa beraktivitas seperti orang-orang pada umumnya. Saya tidak memilih untuk dilahirkan sebagai ODB. Sebagai catatan, bipolar bisa disebabkan karena neurotransmitter di otak tidak seimbang, genetik, kejadian traumatis, pola asuh dan lingkungan, dsb.
Dalam rangka World Bipolar Day, saya berharap besar bahwa kualitas layanan kesehatan seperti psikiater dalam menangani kliennya dapat lebih mendalam dan komprehensif. Untuk dunia kesehatan sendiri, saya berharap masyarakat mulai membangun kesadarannya akan adanya status kesehatan mental. Kesehatan mental itu pun sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Penulis: Saya ingin dikenal sebagai orang biasa, yang melakukan aktivitas sebagaimana mestinya. Saya tertarik dengan isu bantuan hukum struktural dan bantuan sosial. Selain itu, saya juga tertarik dengan buku dan dunia literasi. Bisa connect dengan handle Instagram @dibacadinda ataupun @dindamhdw.
Secara harafiah istilah brain fog menggambarkan kondisi di mana isi kepala terasa seperti diselimuti kabut tebal, yang membuat kita kesulitan fokus dan mencerna informasi. Bentuk brain fog bisa berupa sulit berkonsentrasi, mengingat ulang dan mengorganisir sesuatu, kelelahan yang memperlambat keseharian, bingung dan pelupa, tidak teratur atau ceroboh, atau sulit mengungkapkan pikiran ke dalam kata-kata. Namun, apakah brain fog adalah penyakit atau kondisi medis yang harus diwaspadai?
Dari informasi yang saya baca, brain fog lebih condong ke kumpulan gejala psikologis yang memengaruhi kemampuan berpikir dan mengolah informasi. Namanya gejala, pasti ada penyebabnya.
Saya masih ingat jelas kala menjalani musim panas pertama di Tromsø, Norwegia. Mind you, empat bulan musim panas di Tromsø, tidak ada malam hari yang gelap, atau kondisi yang dikenal sebagai midnight sun. Alih-alih feeling refreshed menikmati hangatnya sinar matahari, isi kepala saya malah terasa berat, dan badan lesu sepanjang waktu. Aneh ya? Padahal musim panas harusnya terasa menyenangkan.
Ketika berkonsultasi ke dokter, usut punya usut ternyata saya kurang tidur. Jadi, paparan sinar matahari panjang di musim panas membuat tubuh saya alert terus sepanjang hari, sehingga siklus tidur saya terganggu. Parahnya lagi, saya ‘menuruti’ kondisi tubuh yang ogah tidur ini dengan netflix marathon. Ya, makinlah kurang tidur. Inilah yang bermanifestasi sebagai brain fog dalam bentuk grogginess, jadi pelupa dan ceroboh, serta badan kerap terasa lesu.
Apakah brain fog hanya terjadi karena kurang tidur? Ternyata tidak. Kelamaan tidur juga bikin brain fog muncul, lho. Ketika kepala dan badan terasa sluggish -lesu dan berat- setelah kelamaan tidur, nah itu juga termasuk brain fog.
The constant darkness ketika musim dingin di kutub utara justru membuat tubuh bawaannya selalu mengantuk. Rasanya seperti zombie tatkala menjalani hari-hari musim dingin, sulit rasanya untuk fully awake dan 100% awas.
Jadi kualitas siklus tidur memang sangat berpengaruh terhadap kemampuan fokus. Ketika siklus tidur terganggu -mau itu kekurangan atau kelamaan tidur- efeknya akan muncul dalam bentuk brain fog. Jangka panjangnya, brain fog juga dapat menurunkan kualitas hidup. Membiasakan cukup tidur 7-8 jam itu penting sekali.
Biasakan pula punya sleep hygiene yang baik, seperti bangun dan tidur di jam yang sama setiap hari, menjauhkan televisi, komputer dan ponsel dari area kamar tidur, menghindari konsumsi kafein dan alkohol, serta menghindari kebiasaan bergadang semalam suntuk.
Nah yang terakhir itu kerap dialami mahasiswa dan pekerja kantoran ya, apalagi kala dipepet deadline. Iya sih, tugas-tugas beres semua tetapi keesokan harinya sulit fokus karena tubuh menagih istirahat.
Ada lagi kondisi lain yang membuat brain fog ini muncul kembali di kehidupan saya. Yaitu, ketika saya hamil dan usai melahirkan. Di trimester akhir kehamilan, ada masa-masa di mana saya sulit sekali rasanya recalling things atau mengingat sesuatu.
Ini membuat saya agak kesal karena saya jadi pelupa dan ceroboh, ditambah lagi tidak segesit biasanya karena pegal-pegal dan perut semakin membesar. Ketika berkonsultasi ke jordmor (bidan), beliau menjelaskan bahwa kondisi hormonal selama kehamilan dan usai melahirkan memang dapat menyebabkan brain fog. ‘’I’m feeling slow and useless,’’ ucap saya mengadu ke Bu Bidan.
Beliau hanya tersenyum dan bilang, ‘’Yes, it must be frustrating to find yourself slowing, especially when you are an active person. Think about it as your body’s way to protect you and your baby. Listen to your body when it tells you to slow down, then try to rest.’’
Usai melahirkan, wah, jangan ditanya lagi. Yang namanya kelelahan dan kurang tidur, sudah sepaket datang dengan lahirnya si bayi ke dunia. Namun ketika sampai enam bulan kemudian brain fog tersebut masih muncul terus, saya mulai curiga ada sesuatu yang salah. Saat itu kesulitan fokus, jadi ceroboh dan kelelahan yang saya alami tidak lagi terasa ‘mengesalkan’, namun justru seperti sedih dan kosong.
Keseharian saya mengurus si kecil, rasanya seperti berlalu begitu saja, tanpa ada momen-momen khusus yang saya bisa ingat-ingat ulang. Saya kehilangan motivasi untuk menikmati hal-hal di sekitar saya dan tubuh seperti tidak bertenaga. Dalam kelelahan tersebut, emosi yang saya rasakan antara kosong saja, atau sedih nyaris sepanjang waktu.
Kali berikutnya datang ke posyandu, saya menceritakan kondisi ini ke helsesøster. Ternyata keputusan saya untuk menceritakan hal tersebut adalah keputusan yang tepat. Menurut suster, saya terkena post-partum depression dan butuh segera ditangani.
Di tahun 2021 usai terkena covid-19, saya berada dalam kondisi di mana banyak sekali hal yang sulit saya ingat ulang, seperti mengingat istilah atau kata-kata dalam Bahasa Norwegia atau Bahasa Inggris. Saya juga mengalami berkurangnya daya konsentrasi, terutama ketika harus multitasking, apalagi ketika menulis dan menyunting tulisan.
Tubuh dan otak saya seperti melambat dan ini membuat saya frustrasi, tetapi mau dilawan seperti apapun rasanya ya tetap melambat. Dokter menjelaskan bahwa inilah salah satu bentuk brain fog yang banyak dialami mereka yang terkena covid-19.
Belum diketahui apa penjelasannya, namun ada yang berteori bahwa brain fog bagian dari mekanisme tubuh untuk slowing down selama masa pemulihan sampai benar-benar sehat kembali.
Berbagai penjelasan yang saya dapatkan dari para tenaga kesehatan, serta pengalaman pribadi membuat saya melihat brain fog ini sebagai sinyal dari tubuh.
Ketika mulai sulit fokus, lesu, mulai pelupa atau ceroboh, saya berusaha mengingat-ingat: apa yang terjadi atau saya pikirkan akhir-akhir ini, yang membuat tubuh saya mengirimkan sinyal tersebut? Apa yang tubuh saya berusaha sampaikan ke saya? Kalaupun tidak, ya sesimpel mungkin memang saya butuh istirahat saja, because rest is not a reward.
Halo, perkenalkan nama saya Sekar. Sejak Oktober 2013, saya menetap di Kanton Zürich, Swiss, lebih tepatnya di kota Dietikon. Aktivitas saya sehari-hari saat ini adalah mengurus anak sekaligus bekerja sebagai Business Analyst yang memimpin sebuah tim beranggotakan 13 karyawan yang tersebar di Swiss, Inggris, dan Polandia.
Pernikahan yang dikaruniai seorang buah hati biasanya menjadikan kehidupan pasangan semakin lengkap. Menurut saya, kehadiran seorang anak di kehidupan kita adalah sebuah game changer. Anak sebagai individu dengan personality yang tentunya akan berbeda dengan orang tua nya, memunculkan perasaan sangat menggemaskan, penuh kasih sayang dan selalu ingin menemani tumbuh kembangnya.
Namun, ada pula yang tidak siap untuk meninggalkan gaya hidup lamanya (tanpa anak). Begitupun dengan pernikahan ini. Setelah kehadiran anak yang lahir di tahun 2020, visi saya dan mantan suami ternyata menjadi tidak sejalan lagi. Berbagai upaya kami lakukan sampai menjalani konsultasi dan mediasi dengan seorang konsultan pasangan tetapi tidak berhasil. Alhasil, kami memutuskan untuk berpisah. Kami akhirnya resmi bercerai di tahun 2022.
Ketika awal berpisah, saya merasa sakit hati, marah, frustasi bahkan merasakan semua perasaan negatif pada saat itu. Namun, saya melihat kembali situasi dahulu setelah setahun lebih, kemudian ada perasaan lega yang sebelumnya tidak dirasakan. Saya lebih merasa bahagia dengan situasi sekarang.
Pada saat itu, kekhawatiran saya adalah soal anak. Bagaimana dia tetap bisa tumbuh dengan baik dan bahagia dengan kedua orang tua yang sudah berpisah. Saya juga tidak menginginkan anak putus kontak dengan ayahnya.
Menjadi seorang Single Mom, tidaklah mudah bagi saya. Saya membutuhkan waktu untuk bisa menerima dan berdamai dengan situasi saat ini. Saya bersyukur dikelilingi keluarga dan teman-teman yang selalu mendukung setiap saat. Wejangan orang tua sejak dulu untuk mandiri meskipun sudah menikah sangat membantu sekali.
Sejak pindah ke Swiss, saya beruntung karena saya langsung mendapat pekerjaan hingga sekarang, kecuali sewaktu cuti melahirkan. Saya bersyukur perceraian tidak begitu mempengaruhi keadaan finansial saya. Saya berusaha untuk fokus pada diri sendiri dan keluarga (terutama anak) dan menghiraukan komentar-komentar negatif dari orang lain, terutama yang tidak begitu kenal kita. Toh, kita yang lebih tahu kehidupan kita sendiri, bukan orang lain=)
Pengalaman yang sangat menyentuh bagi saya pada saat menceritakan kepada orang tua mengenai kondisi pernikahan dan rencana akan berpisah dengan mantan suami. Saat itu, orang tua saya tidak menghakimi atau bertanya banyak hal. Mereka berkata bahwa mereka akan selalu ada di sisi saya dan mendukung apapun keputusan saya, begitupun adik dan teman-teman dekat saya. Saya sangat bersyukur atas dukungan mereka.
Berbicara mengenai bantuan sosial yang diberikan Pemerintah Swiss ini sebenarnya lebih diperuntukkan kepada orang-orang yang karena satu dan lain hal tidak bisa bekerja, termasuk Single Mom. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, bantuan tersebut hanya berlaku sementara. Tujuannya adalah untuk membantu mereka dalam mencari pekerjaan di Swiss sehingga dapat hidup lebih mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan sosial pemerintah.
Pekerjaan yang saya jalankan saat ini, tidak menjadikan saya termasuk dalam kategori penerima bantuan sosial dari pemerintah setempat. Walaupun sesekali sibuk dengan pekerjaan ataupun keinginan untuk memiliki quality time, tetapi saya dan mantan suami tetap menjaga komunikasi dengan baik dan lancar terutama untuk mengatur jadwal anak. Saat ini, anak juga sudah terbiasa dengan situasi di mana orang tua tinggal terpisah. Hal tersebut dikarenakan kondisi seperti ini sudah berlangsung sejak anak usia 1,5 tahun.
Jika ada teman atau Sahabat RUANITA yang sedang mengalami hal yang sama dengan pengalaman saya, perlu diingat bahwa setiap orang berbeda. Namun, penting memberikan waktu untuk berdamai dengan keadaan atau diri sendiri. Beranikan diri untuk meminta bantuan kepada keluarga, teman, institusi atau komunitas yang relevan jika dibutuhkan. Jika perpisahannya tidak ada kasus kekerasan, usahakan untuk tetap menjalin hubungan baik dengan mantan pasangan demi perkembangan (mental) anak. Sangat penting anak mengetahui bahwasanya mereka dicintai oleh kedua orang tua, terlepas dari kondisi keluarga yang tidak konvensional, yang mana orang tua harus berpisah.
Sebagai WNI yang tinggal di luar negeri, bantuan dan dukungan dari Perwakilan Republik Indonesia di negara tersebut sangatlah bermakna. Jika ada WNI yang melaporkannya ke KBRI/KJRI dan membutuhkan bantuan, mohon KBRI/KJRI untuk segera menanggapi. Sekecil apapun dukungan moral yang diberikan, ini akan sangat berharga pada situasi tersebut.
Penulis: Inur Darham, tinggal di Swiss dan dapat dikontak di akun IG: inur_darham berdasarkan wawancara seorang sahabat, Sekar Istianingrum (akun IG: xxsekar.indxx) yang juga tinggal di Swiss.
Halo Sahabat Ruanita, kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman kerja bersama Orang Dengan Epilepsi (ODE) atau ada juga yang menyebutnya ayan. Saya pernah bekerja lebih dari 10 tahun di panti sosial untuk orang dengan disabilitas. Semua klien, begitu kami menyebut mereka, adalah orang dengan disabilitas mental, yang memiliki keterbatasan intelegensi dan fisik. Beberapa dari mereka juga mempunyai epilepsi.
Ada yang sering kejang (seizure), tapi ada juga yang tidak pernah. Karena banyaknya klien dengan epilepsi, yayasan kami juga menyediakan seminar sehari tentang epilepsi untuk karyawannya yang membutuhkan. Saya pernah mengikuti seminar ini, sayangnya sekarang sudah tidak ada lagi yang tertinggal. Satu-satunya hal yang saya ingat dari seminar itu adalah video tentang semut yang dianalogikan sebagai sel saraf di otak manusia, sebagai penjelasan tentang kejang. Video berbahasa Jerman ini bisa ditonton ulang di YouTube.
Saat masih kecil, saya sering dengar orang dengan epilepsi akan kambuh saat maghrib atau menjelang malam dengan ciri-ciri seperti tubuh yang kejang dan mulut berbusa. Stigma lain, yang pernah saya dengar adalah tubuh orang yang sedang mengalami kejang harus ditahan, untuk menghentikan kejang. Setelah bekerja di panti sosial, saya tahu stigma tersebut tidak 100% benar. Kejang tidak hanya terjadi saat maghrib atau menjelang malam, tapi kapan saja dan di mana saja. Tubuh orang yang sedang kejang juga tidak boleh ditahan, tapi dibiarkan saja sampai kejang berhenti dengan sendirinya.
Dulu di panti sosial kami, tinggal seorang klien laki-laki kelahiran tahun 60an. Beberapa tahun lalu, dia pindah ke panti jompo di kota tempat adik perempuannya tinggal. Kita sebut dia dengan klien pertama, karena saya akan menceritakan tiga klien lainnya. Dia adalah orang dengan autisme dan orang dengan epilepsi juga. Kejang epilepsinya sering kambuh tidak hanya ketika di panti, tapi juga di luar, misalnya ketika dia sedang jalan-jalan sendiri. Jika hal ini terjadi di luar, pejalan kaki yang kebetulan melihat akan menelepon ambulans yang membawanya ke Unit Gawat Darurat (UGD). Tidak heran, kami akan mendapatkan telepon dari UGD yang mengabarkan keadaan dia.
Walau sering mengalami kejang, beruntung hal ini tidak membahayakan. Kami hanya perlu memastikan, bahwa tempat sekitar dia aman untuknya. Misalnya, kita perlu menyingkirkan bangku dan meja, jika dia mengalami kejang di dapur, dan terjatuh ke lantai. Hal ini untuk menghindari dia agar tidak terluka. Saat sedang mengalami kejang, dia tidak sadarkan diri, tubuhnya akan kaku juga, kejang berulang kali, dan mulutnya mengeluarkan busa. Setelah beberapa detik atau menit, dia akan kembali sadar dan kami akan membantunya untuk kembali berdiri dan duduk di kursinya. Kejang dia tidak berbahaya, karena dia akan kembali sadar setelah 1-3 menit dan tidak berulang. Hal itu akan menjadi berbahaya, jika kejang berulang dengan interval dekat dan/atau lebih dari tiga menit. Jika ini terjadi, kita harus menghubungi ambulans.
Kejang yang dia alami tidak selalu dengan dengan tubuh kaku dan kejang-kejang, sehingga membuat dia terjatuh, tapi bisa juga hanya kepalanya bergerak ke kanan dan kiri seperti orang sedang menggeleng dan matanya tertutup, atau pandangannya kosong. Jika ini terjadi, dia masih bisa duduk dengan stabil di kursinya. Kesadarannya akan datang, setelah beberapa detik, dan dia bisa melanjutkan aktivitasnya lagi dengan biasa.
Kalau tidak salah, pertama kali saya melihat dia kejang, adalah saat dia sedang di kamar mandi dan saya kebetulan ada di sana. Beruntungnya, saya tidak bekerja sendirian di hari itu. Jadi, saya berteriak memanggil rekan kerja saya, yang sudah lebih lama bekerja di panti kami. Kejang selanjutnya yang saya lihat, saat klien tersebut di dapur. Saya sudah lebih santai dan tahu itu tidak berbahaya. Saya dan rekan kerja hanya memberikannya ruang dengan menyingkirkan barang-barang di sekitarnya, agar dia tidak terluka.
Pernah juga saya pergi berjalan-jalan dengan dia dan beberapa klien lainnya, tiba-tiba klien pertama mendadak kejang dan terjatuh di trotoar. Beruntung, ada pejalan kaki yang datang membantu melakukan pertolongan pertama ke dia, sementara saya menelepon ke panti untuk memberi kabar. Kami tidak memanggil ambulans, tetapi bos saya datang dengan mobil untuk menjemputnya. Oh iya, baru-baru ini bos saya bilang, klien pertama sudah bisa merasakan jika ia akan mengalami kejang. Tandanya, adalah jika ia menggosok-gosokkan tangannya di atas pahanya.
Setelah dia pindah ke panti wredha, tidak ada lagi klien di panti kami yang mengalami kejang. Mungkin saja klien-klien adalah orang dengan epilepsi tanpa kejang atau terbantu dengan obat dari dokter. Singkat cerita, di tahun 2020 kami mempunyai klien baru yang juga orang dengan epilepsi. Sebelumnya, dia tinggal di panti di kota lain. Kita sebut dia sebagai klien kedua.
Saya sendiri tidak mengerti bagaimana ciri-ciri dia saat sedang kejang. Dia sering tertidur di atas sofa, di koridor utama di depan ruangan kerja kami. Informasi dari rekan kerja saya, saat itu dia sedang mengalami kejang. Menurut saya, dia hanya terlihat seperti tidur normal.
Di kasur tempat dia tinggal sebelumnya, selalu ada baby phone yang dinyalakan setiap malam untuk mengetahui, ketika dia mengalami kejang saat tidur. Menurut ibunya, dia akan mengeluarkan bunyi-bunyian jika itu terjadi. Baby phone tersebut hanya digunakan di bulan pertama dia tinggal di panti kami. Klien kedua ternyata memang tidak bisa tidur dengan tenang dan itu mengganggu karyawan yang sedang melakukan shift malam. Di panti kami, memang shift malam diperbolehkan tidur, bahkan tidak dibayar jika dia terjaga sepanjang malam. Baby phone tidak lagi digunakan atas persetujuan ibunya.
Alternatif untuk dia, adalah alat sensor kejang yang dipasang di kasurnya. Alat ini akan mengirimkan peringatan surel ke alamat surel yang penggunanya telah terdaftar, jika dia mendeteksi kejang. Tidak hanya itu, aktivitas tidur juga terdokumentasi di alat, dan bisa dikirim ke surel dalam bentuk grafik gelombang. Dalam grafik tersebut, bisa dibaca kapan kejang terjadi dan berapa parah. Dengan data ini juga, ibu klien kedua berkonsultasi ke dokter neurologi. Waktu itu, alat ini masih prototipe, saya tidak tahu kelanjutan dari proyek tersebut. Namun, jika kita cari di Google, ada juga beberapa produk serupa, dan peringatan dikirim tidak hanya lewat surel, tapi juga lewat telepon.
Pertengahan tahun lalu, satu bulan setelah ulang tahunnya ke-30, klien kedua meninggal dunia dalam tidur. Rekan kerja saya menemukan tubuhnya sudah dingin dan kaku, saat pagi-pagi dia ingin membangunkannya. Sesuai dengan prosedur, polisi mengirimkan jenazahnya ke dokter forensik untuk mengetahui penyebab kematian. Hasilnya, adalah apnea atau keadaan berhenti bernafas saat tidur. Sayangnya, tidak ada orang atau keluarganya yang memberikan penjelasan lebih lanjut kepada kami, apakah epilepsi anfal adalah penyebabnya. Sayangnya lagi, beberapa bulan sebelum dia meninggal, alat deteksi kejang dicopot dari kasurnya, karena dia lebih sering tidur di sofa di kamarnya. Ironisnya, pada malam kejadian itu, dia tidur di kasurnya. Kasur tersebut baru saja dipasang oleh bapaknya sehari sebelumnya.
Kematian mendadak pada orang dengan epilepsi, dikenal sebagai SUDEP (Sudden Unexpected Death in Epilepsy) adalah komplikasi terberat yang bisa terjadi saat kejang terjadi. Menurut website sudep.de, setiap tahunnya sekitar 700 orang meninggal karena SUDEP di Jerman dan 50.000 orang di dunia. SUDEP terjadi saat tidur dan 70% kasusnya terjadi pada malam hari atau waktu subuh. Untuk teman-teman yang bisa berbahasa Jerman, silakan buka website yayasan sudep.de untuk mendapatkan informasi lebih jelas tentang SUDEP dan bagaimana pencegahannya.
Selain klien kedua, ada satu orang klien kami yang sejak tahun 2022, mulai mengalami kejang. Kita sebut dia sebagai klien ketiga. Sebelumnya, dia tidak punya sejarah epilepsi dan tidak pernah mengalami kejang. Dia berumur awal 50an dan orang dengan Down Syndrom. Dia tidak bisa berbicara dan tidak mengerti hampir semua hal.
Pertama kali, dia kejang terjadi di meja makan. Dia “tertidur” di meja makan saat sedang sarapan. Saya melihat bagaimana kepalanya, semakin lama semakin turun, sampai akhirnya menyentuh meja. Dia terlihat lemas, mukanya pucat, dan tidak bisa dibangunkan, seperti tidak sadarkan diri. Beberapa menit kemudian, dia sadar dengan sendirinya. Saat kembali sadar, dia seperti baru bangun dari tidurnya saja. Sayangnya, dia tidak bisa berbicara. Jadi, dia tidak bisa bercerita apa yang dialami.
Tahun lalu, dia semakin sering mengalami kejang. Entah mengapa, itu terjadi selalu ketika saya sedang bekerja, dan saya menyaksikannya langsung. Kejang pertama yang membuatnya terluka terjadi di kamar mandi, di depan kamarnya. Waktu itu, saya sedang berjalan menuju ruangan cuci melewati kamar mandi tersebut. Saya lihat, dia sedang berdiri di tengah kamar mandi. Tidak lama kemudian, saya mendengar suara kencang, seperti sesuatu terjatuh. Saya lari menuju kamar mandi dan dia terbaring di sana, dengan muka menyentuh lantai. Tubuhnya kaku dan tidak sadarkan diri. Saat kembali sadar, dia duduk bersila, dan mengeluarkan bunyi yang biasa keluar dari mulutnya. Satu gigi seri dia patah karena kejang tersebut, padahal dia hanya memiliki lima gigi.
Kejang selanjutnya terjadi lagi, saat saya kerja. Kali ini kejang berulang. Dua kejang pertama, terjadi pagi hari, saat saya belum datang. Rekan kerja pada shift malam melihat dia bagaimana terjatuh dari kursi di kamarnya, dengan kening duluan. Keningnya sobek. Saat saya datang, klien kami duduk di kursi rodanya di dalam kamarnya. Rekan kerja saya mendorongnya ke depan dan ke belakang, agar dia diam duduk di sana sampai ambulans datang. Petugas ambulans yang kemudian datang, membawanya ke Unit Gawat Darurat (UGD), untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kalau saya tidak salah, hari itu dia mengalami 4-5 kali kejang.
Kejang selanjutnya terjadi, ketika saya juga bekerja. Saat saya datang pagi itu, rekan kerja pada shift malam bilang klien kami sempat kejang sebentar di kursi di ruang makan saat sarapan, karena itu dia tidak dikirim ke layanan daycare, tempat dia biasanya beraktivitas di siang hari. Saya tidak terpikir, dia akan mengalami kejang berulang seperti sebelumnya, sampai rekan kerja saya lainnya memanggil saya dari koridor, ke arah kamar klien-klien kami.
Klien ketiga terbaring kaku di atas lantai. Kali ini dengan posisi punggung di bawah. Badannya kaku, disertai kejang, dan tidak sadarkan diri. Seperti yang terjadi sebelumnya, rekan kerja saya duduk di sampingnya sambil menyangga kepalanya dengan tangannya, agar tidak langsung menyentuh lantai, sedangkan saya berusaha tenang sambil menghubungi ambulans. Sayangnya, saya terlalu gugup dan menyerahkan telepon ke rekan kerja saya.
Saat dia terbangun, kami menuntunnya kembali ke kamarnya, dan mendudukkannya di kursi rodanya. Ketika petugas ambulans datang beberapa menit kemudian dan memeriksa dia, dia kembali mengalami kejang. Mukanya pucat dan badannya lemas, ketika dia kembali sadar. Petugas ambulans menganalogikannya kejang seperti melakukan maraton. Menurutnya, lelahnya setelah kejang sama seperti, lelah setelah selesai maraton. Pagi itu, dia seperti melakukan tiga maraton, karena tiga kali mengalami kejang.
Hari itu, dia kembali menghabiskan siang di UGD untuk pemeriksaan. Di sana juga dia mengalami kejang untuk keempat kalinya. Dokter UGD menulis di laporan, bahwa dari tes darah yang dilakukan setelah kejang, tidak ditemukan ada tanda-tanda epilepsi. Menurut dia, ada juga kejang yang bernama syncope. Dokter neurologi yang menanganinya dan mendapatkan semua laporan medis dari rumah sakit tetap mendiagnosanya sebagai epilepsi, dan memberinya pengobatan untuk orang dengan epilepsi. Saya sendiri tidak mengerti, apakah pengobatan epilepsi dan syncope, berbeda atau sama.
Saya juga sempat satu kali menemani klien lainnya di UGD, karena dia diduga mengalami kejang di tempat kerjanya. Kita sebut dia sebagai klien keempat. Selama saya bekerja di sana, tidak pernah sekalipun dia mengalami kejang, walau ia adalah orang dengan epilepsi. Selama di UGD, keadaan dia baik-baik saja dan tidak ada kejang ulang. Pemeriksaan yang dilakukan, juga menunjukan semua normal dan baik. Beruntungnya, klien saya yang ini bisa berkomunikasi, paling tidak dengan saya sebagai orang yang mengenal dia lebih dari 10 tahun, dan bisa menerjemahkannya ke dokter UGD yang menanganinya.
Satu minggu setelah saya mengantar klien terakhir ini ke UGD, saya mengajukan surat pengunduran diri. Kebetulan saat itu, saya mendapatkan tawaran pekerjaan lain. Saya juga beruntung, bos saya mengerti keadaan saya, dan bersedia melepaskan saya tiga bulan lebih cepat dari peraturan.
Saya mengalami beban yang besar, setelah meninggalnya klien kedua dan kejang berulang yang dialami klien ketiga. Ditambah lagi, setiap kali ada klien yang kejang, selalu saya yang kebetulan sedang bekerja sehingga harus menyaksikannya. Padahal, saya hanya bekerja 2-3 hari dalam seminggu. Dalam perjalanan menuju ke UGD untuk menyusul klien keempat, saya menangis karena beban saya rasa terlalu berat. Cukup sekali itu saja, saya mengantarkan klien ke UGD. Saya juga tidak ingin suatu pagi nanti, saya menemukan klien meninggal di kasurnya.
Halo Sahabat Ruanita, nama saya Utari Giri. Saya tinggal di Dubai sejak 2011 hingga saat ini. Saya adalah ibu rumah tangga yang senang melakukan kegiatan volunteer dan bersosialisasi. Bersama teman-teman Indonesia, saya mendirikan Komunitas Gelas Kosong yang bergerak di bidang sosial, dengan melakukan aktivitas sosial dan berdonasi. Selain itu, saya juga mengumpulkan orang-orang Bali yang tinggal di Dubai dan membentuk komunitas dengan nama Banjar Dubai.
Tak hanya itu saja, bersama beberapa teman, saya juga membentuk grup Indonesia Ladies Badminton, yaitu suatu wadah untuk mengajak ibu-ibu Indonesia di Dubai agar mau berolahraga, bergerak, berkumpul, dan bersilaturahmi. Di samping itu, beberapa kali saya juga membagikan ketrampilan craft ke ibu-ibu di Dubai dan juga ilmu menulis. Saat ini, saya sedang bekerja untuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan menjadi Ketua PPLN (Panitia Penyelenggara Pemilu Luar Negeri) di Dubai hingga Pemilu 2024 selesai.
Berbicara tentang marah, tentu Sahabat Ruanita sudah mulai berpikir dari orang yang pemarah hingga bagaimana mengelola kemarahan. Menurut saya, marah adalah emosi yang ditunjukkan seseorang karena dia merasa dirugikan. Seseorang pun bisa marah apabila keadaan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan atas situasi tersebut.
Saya sendiri secara pribadi, tidak mempunyai cerita yang bersinggungan dengan pemarah. Mengapa? Karena, saya termasuk orang yang jarang marah. Saya selalu merasa takut dan gemetar jika mendapati orang marah. Oleh karena itu, saya selalu menjauhi orang yang menurut saya mempunyai sifat pemarah.
Bagaimanapun, kemarahan dapat merusak relasi dengan orang lain, loh. Contohnya adalah saya sendiri. Jika saya sudah tahu bahwa seseorang itu pemarah, maka pelan-pelan saya pasti akan menghindari berhubungan dekat dengan yang bersangkutan. Mengapa? Ya, menurut saya tidak ada untungnya. Saya menjadi tidak nyaman dengan relasi seperti itu. Kalau Sahabat Ruanita, bagaimana menghadapi orang pemarah?
Tentunya, ada banyak faktor mengapa seseorang menjadi marah atau meluapkan amarahnya. Menurut saya, pertama, itu bisa disebabkan karena karakter orang tersebut memang pemarah. Jadi, hanya dengan pemicu yang kecil saja, sudah bisa membuat dia marah. Kedua, bukan orang yang mudah terpancing marah, tetapi karena memang pemicu amarahnya yang sudah sangat parah sehingga dia sudah tidak bisa memakluminya. Bahkan orang tersebut tidak dapat mengendalikan emosinya.
Bagi saya, setiap orang berhak marah. Marah itu wajar, jika memang pada tempat, waktu, dan ekspresinya. Misalnya, kita sebagai perempuan dilecehkan, sudah sewajarnya jika kita marah terhadap pelaku. Marah pun menjadi tidak wajar kalau emosi yang meledak-ledak dan susah untuk dikendalikan sehingga bisa merugikan orang lain. Contohnya, seseorang yang sedang marah dan merasa emosi lalu melakukan kekerasan kepada orang lain.
Marah bisa terjadi pada siapa saja. Bahkan, sewaktu anak-anak saya masih kecil, saya sebagai ibu pada saat itu tidak luput dari emosi dan marah menghadapi kenakalan anak-anak. Namun, saya selalu berusaha untuk mengontrol diri saya saat marah, khususnya kepada anak-anak. Trik saya adalah menarik nafas pelan-pelan untuk mengendalikan marah. Pantang bagi saya untuk mengeluarkan kata-kata kurang baik kepada anak saya, meskipun saya sedang marah. Jangankan sumpah serapah, sambil marah saya justru selalu mengatakan, ”Semoga nanti kamu jadi orang sukses, ya, Nak”.
Kemarahan dengan anak tentu berbeda bila marah dengan teman. Cara yang selalu saya tempuh adalah segera minta maaf dan memaafkan, kemudian menjauh/menghindar. Menjauh bukan berarti memutuskan silaturahmi, melainkan saya tidak ingin dekat lagi dan merasakan energi negatifnya. Namun, saya masih berteman, loh.
Ada pendapat yang bilang kalau kurang tidur, orang cenderung suka marah-marah. Menurut saya, itu pasti ada hubungannya. Kita sebaiknya punya cukup waktu untuk tidur, karena bangun tidur dengan segar adalah kunci menjalani hari-hari yang indah. Jika kita kurang tidur, maka orang menjadi kurang fit, pusing dan lainnya sehingga mood-nya juga kurang baik. Kemungkinan hal ini yang menyebabkan orang tersebut menjadi mudah marah.
Apakah ada kaitan antara pemarah dengan sakit jantung? Jujur, saya belum pernah mengamati secara khusus hubungan marah dengan sakit jantung. Mungkin hal ini bisa dijelaskan secara medis. Pesan saya untuk menghadapi pemarah, kita lebih baik menghindari pemarah jika tidak ingin bermasalah.
Sebagai penutup, ini pesan saya untuk bisa mengelola rasa amarah dalam diri. Tundukkan kepala, ambil nafas pelan-pelan dan teratur beberapa saat. Setelah itu, kita perlu berpikir jernih tentang baik dan buruknya apabila kita melepas kemarahan. Itu tips saya dan semoga bermanfaat untuk Sahabat Ruanita semua.
Penulis: Utari Giri, biasa dipanggil Utari, lahir di kota Kediri, dan kini tinggal di Dubai. Dia adalah seorang lulusan sarjana teknik sipil ITS dan punya hobi menulis. Dari kegiatan menulisnya, dia sudah menghasilkan dua buku solo, yaitu “Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Teknis Jurusan Teknis Sipil” (Gramedia) dan “Amazing Dubai” (Elex Media). Selain itu, dia punya puluhan karya dalam bentuk artikel dan buku antologi.
Setiap tahun banyak keluarga Indonesia di mancanegara yang bermukim di Belanda berlibur ke Indonesia, termasuk saya. Selain untuk berwisata, kami biasanya bersilaturahmi dan melepas kerinduan bersama keluarga di Tanah Air. Selain itu, tentu saja memanjakan lidah dengan menikmati aneka kuliner tradisional khas Indonesia.
Sejak tahun lalu, begitu banyak perubahan global yang terjadi sebagai dampak wabah corona. Pergerakan dan perpindahan atau migrasi penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain, mengalami perubahan yang sangat drastis. Boleh dibilang semua mengalami hambatan sejak Covid-19 mewabah.
Banyak negara memberlakukan lockdown, sistem karantina yang cukup lama, sarana transportasi udara yang tidak lagi terjadwal baik, bahkan lebih banyak pesawat terparkir di hanggar airport, dan beragam dampak pandemi lainnya. Itu pada akhirnya membuat banyak keluarga Indonesia di mancanegara, termasuk saya memutuskan untuk menunda liburan ke Tanah Air. Meski kerinduan pada orang tua, keluarga, kerabat, sahabat, teman, dan tetangga di begitu besar, namun demi kebaikan bersama, memang akan lebih baik menunda mudik hingga corona terkendali.
Sejak pandemi dimulai tahun lalu, begitu banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Bukan saja beragam aspek kehidupan yang berubah, melainkan juga berdampak pada aspek kesehatan masyarakat, yang berujung pada aspek spiritual kematian.
Pandemi ini mengabarkan berita kematian yang tak biasa silih berganti. Varian Delta mengganas dan menular dengan sangat cepat dan mematikan. Isolasi/karantina mandiri menjadi salah satu alternatif terakhir, setelah begitu banyak rumah sakit yang kehabisan daya tampung pasien. Banyak negara yang pada akhirnya memberlakukan pembatasan kegiatan kemasyarakatan.
Pandemi telah menggerus sebagian tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Salah satunya tata nilai kesakralan sebuah kematian. Di antara berita Covid-19, seakan muncul kultur baru yaitu kematian yang senyap. Itu sebuah kultur kematian yang seakan terpangkas dari akar spiritual keagamaan dan kultur budaya. Seperangkat aturan dan protokol kesehatan yang diberlakukan secara global menjadi salah satu penyebab prosesi kematian seseorang tanpa salam perpisahan.
Secara mental, setiap orang mungkin merasakan ruang hampa nan sunyi karena beragam pembatasan dalam melakukan kontak sosial secara ragawi. Kehampaan itu masih tetap terasa meski beragam jaringan komunikasi online kerap dilakukan. Meski sedikit mengobati kesunyian, namun tidak bisa menggantikan rasa bahagia saat bersua keluarga, tetangga, teman, sahabat, dan kolega. Itu sekarang berganti menjadi keriuhan suara dan keelokan gambar di layar gadget.
Saya yang memiliki keluarga besar di Indonesia, tidak hanya kesunyian yang dirasakan, tetapi juga kekhawatiran. Sejak varian Delta merebak di beberapa negara, termasuk di Indonesia, kabar kematian dari orang-orang yang dikenal pun memenuhi inbox gadget saya. Paman, tante, tetangga, sahabat, kerabat, dan teman terdekat lainnya, meninggal karena corona.
Begitu banyak orang yang tertular virus itu dan akhirnya harus karantina mandiri. Kebutuhan akan oksigen melonjak! Tabung oksigen menjadi barang yang begitu berharga untuk menyambung nyawa.
Begitu banyak kisah kematian yang membuat hati miris. Di beberapa kasus, sekeluarga meninggal dalam masa karantina mandiri di rumah mereka, atau meninggal sendirian di apartemen, dan kasus-kasus lainnya yang menjadi berita.
Kesedihan saya semakin dalam karena hampir semua kematian karena corona, menjadikan keluarga yang ditinggalkan tidak bisa melepas kepergian orang yang dicintai dengan prosesi kematian yang wajar, khidmat, dan sakral. Saya yang pernah merasakan kehilangan ditinggal ibu dan kakak laki-laki karena penyakit yang lain, dapat membayangkan trauma kehilangan yang dirasakan ayah, ibu, anak, paman, tante, tetangga, kerabat, sahabat, dan teman yang ditinggalkan karena virus itu.
Rasa kehilangan itu akan membekas begitu dalam karena kepergian untuk selamanya tanpa prosesi perpisahan yang normal untuk jenazah, dan pembatasan kunjungan langsung pada keluarga yang ditinggalkan, meski untuk sekadar mengungkapkan rasa duka dan saling menguatkan. Sebuah kultur kematian tercabut.
Secara psikososial kematian seseorang biasanya menjelma menjadi kedukaan bersama. Tak heran bila orang-orang yang ada di sekitar keluarga yang berduka bergandengan tangan, saling menguatkan, dan berbagi rasa optimistis akan masa depan. Namun, di masa pandemi ini, mencegah kemungkinan wabah semakin meluas, setiap orang atau kelompok orang seakan menjaga jarak. Setiap orang dibayangi dengan pemikiran dan ketakutan tiba giliran mereka meninggal dalam kesendirian, sunyi tanpa sempat mengucap salam perpisahan pada orang-orang yang dicintai.
Bagaimanapun fase kematian akan menghampiri setiap yang bernyawa. Meski demikian, kematian yang indah dan baik tetap menjadi impian dalam hidup seseorang. Prosesi kematian bukan saja layak bagi yang meninggal, melainkan juga penting buat keluarga yang ditinggal pergi. Setidaknya, mereka mempersiapkan ruang kosong dalam kehidupan setelah ditinggal pergi orang terkasih supaya tidak hampa dan tetap optimistis.
Semoga pandemi ini segera dapat teratasi dan semua memulai kembali kehidupan sosial secara normal. Dengan demikian, kelak bisa meninggal dalam keikhlasan dan dapat sekadar mengucap salam perpisahan pada orang-orang tersayang. Kehidupan memang begitu berharga, namun kematian pun menempati ruang yang penting dalam aspek sosial kemasyarakatan.
Saya berharap dapat segera mudik dalam situasi normal. Saya sudah tidak sabar melepas segala rindu dengan pelukan hangat dan eratnya jabat tangan di tanah air.
Penulis: Risti Handayani, tinggal di Belanda dan dapat dikontak via Facebook Ristiyanti Handayani. Tulisan ini sudah diterbitkan dalam buku berjudul: Cinta Tanpa Batas – Kisah Cinta Lintas Benua yang merupakan kerja sama antara RUANITA dengan Padmedia Publisher.
Halo Sahabat Ruanita, saya senang sekali bisa terlibat dalam program Cerita Sahabat. Nama saya Nena dan berumur 42 tahun. Saya sudah pernah merasakan tinggal di Singapura, Australia, dan sekarang di Amerika Serikat selama kurang lebih masa kanak-kanak dan remaja. Kini aktivitas saya sehari-hari adalah ibu rumah tangga yang bekerja tetapi tidak full time.
Tak hanya itu, saya mengisi waktu lowong dengan menjadi praktisi Pilates dan relawan Kanker yang dialami oleh remaja dan orang dewasa. Dalam cerita sahabat ini, saya ingin membagikan tema body shaming yang saya alami sendiri. Pengalaman pertama kali body shaming berupa ujaran kebencian yang saya rasakan ketika saya masih berusia 8 tahun. Mereka bilang kalau saya itu kurus, hitam, dekil, hidung oplas (=operasi plastik), dan lainnya. Saya tidak tahu mengapa mereka bilang hidung saya seperti itu. Mungkin hidung saya panjang seperti hidung pinokio. Entahlah.
Body shaming itu masih saya alami hingga sekarang. Karena begitu banyak, saya sampai menganggap itu sebagai hal biasa. Tak hanya body shaming, saya juga kadang mendapatkan ujaran kebencian seperti: Stupid, bodoh banget, dan lainnya. Pelaku biasanya orang Indonesia yang sudah dewasa, tetapi yang bilang seperti itu dari orang asing mungkin hanya satu atau dua orang saja.
Menurut saya, pelaku body shaming melakukannya karena dia sendiri merasa tidak percaya diri dengan dirinya. Itu sebab, mereka punya kebiasaan untuk menyerang orang lain. Saya berpikir pelaku body shaming mungkin bisa jadi kurang bahagia atau tidak bahagia saat mereka masih kecil.
Selain itu, saya melihat bahwa pelaku body shaming yang suka melakukan bullying ini sepertinya melampiaskan kekecewaannya pada orang lain. Bisa jadi pelaku pernah mengalami trauma masa kecil yang tidak atau belum terselesaikan. Mungkin saja dia pernah menjadi korban bullying juga. Seperti pengalaman saya, saya melihat pelaku body shaming itu pernah menjadi korban bullying dalam keluarga. Korban body shaming itu tidak pernah mengenal usia, menurut pengalaman saya.
Karena sedari kecil saya sudah mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan seperti itu, maka saya sudah punya ilmu bagaimana harus menangkal hal-hal tersebut. Saya belajar dari ibu saya. Intinya, kalau mereka serang maka kita tidak perlu diam saja. Nanti, kita akan terus diinjak dan dilecehkan. Ibaratnya kalau mereka menyerang mental saya, mereka berpikir saya penakut.
Sejak kecil, saya sudah diikutsertakan ibu untuk olahraga bela diri. Mungkin itu yang mendasari saya untuk tidak takut ketika ada orang yang berusaha menyerang saya, termasuk menyerang psikis saya.
Beruntungnya saya tidak sampai depresi hanya karena body shaming. Saya mendengar banyak korban body shaming yang mengalami depresi hingga bunuh diri. Saya bisa membayangkan bahwa pelaku body shaming menyerang mental korban sehingga tidak tertahankan lagi. Kondisi mental seseorang memang berbeda-beda setiap orang sehingga tidak bisa dipukul rata. Ketika ada orang yang menjadi korban body shaming berhasil menangkalnya seperti saya, sementara lainnya tidak.
Untuk mengatasi body shaming nyatanya itu tidak mudah. Saya bukan ahli kejiwaan yang bisa dengan mudah menjawab ini. Saya berpikir bahwa pelaku diberi hukuman penjara saja, belum tentu menjadi jaminan kalau dia tidak melakukannya lagi. Mungkin Tuhan “menyentil” para pelaku ini sehingga mereka sadar dan tidak melakukan body shaming lagi.
Sebagai korban body shaming, saya berpesan kepada kalian yang juga korban body shaming bahwa kalian tidak sendirian. Ayo, bangkit untuk memikirkan diri sendiri, bukan para pelaku body shaming yang bertujuan menjatuhkan mental kita. Ketika psikis kita terganggu, maka kita menjadi rentan terserang penyakit juga. Sebagai korban body shaming, saya ingin mendorong siapa saja untuk melakukan aktivitas yang lebih positif ketimbang menyerang tubuh orang lain.
Jangan takut untuk kehilangan pertemanan! Adalah sebuah kemenangan ketika kita berhasil keluar dari lingkaran pertemanan toxic. Ganti circle pertemanan. Ingat, jangan mudah menyerah atau putus asa. Semoga Sahabat Ruanita selalu berbahagia!
Penulis: Nena yang dapat dikontak di akun IG nenamichelllee