(CERITA SAHABAT) Bagaimana Brain Fog Bisa Muncul Dalam Fase Hidup Perempuan?

Secara harafiah istilah brain fog menggambarkan kondisi di mana isi kepala terasa seperti diselimuti kabut tebal, yang membuat kita kesulitan fokus dan mencerna informasi. Bentuk brain fog bisa berupa sulit berkonsentrasi, mengingat ulang dan mengorganisir sesuatu, kelelahan yang memperlambat keseharian, bingung dan pelupa, tidak teratur atau ceroboh, atau sulit mengungkapkan pikiran ke dalam kata-kata. Namun, apakah brain fog adalah penyakit atau kondisi medis yang harus diwaspadai?

Dari informasi yang saya baca, brain fog lebih condong ke kumpulan gejala psikologis yang memengaruhi kemampuan berpikir dan mengolah informasi. Namanya gejala, pasti ada penyebabnya.

Saya masih ingat jelas kala menjalani musim panas pertama di Tromsø, Norwegia. Mind you, empat bulan musim panas di Tromsø, tidak ada malam hari yang gelap, atau kondisi yang dikenal sebagai midnight sun. Alih-alih feeling refreshed menikmati hangatnya sinar matahari, isi kepala saya malah terasa berat, dan badan lesu sepanjang waktu. Aneh ya? Padahal musim panas harusnya terasa menyenangkan.

Ketika berkonsultasi ke dokter, usut punya usut ternyata saya kurang tidur. Jadi, paparan sinar matahari panjang di musim panas membuat tubuh saya alert terus sepanjang hari, sehingga siklus tidur saya terganggu. Parahnya lagi, saya ‘menuruti’ kondisi tubuh yang ogah tidur ini dengan netflix marathon. Ya, makinlah kurang tidur. Inilah yang bermanifestasi sebagai brain fog dalam bentuk grogginess, jadi pelupa dan ceroboh, serta badan kerap terasa lesu.

Apakah brain fog hanya terjadi karena kurang tidur? Ternyata tidak. Kelamaan tidur juga bikin brain fog muncul, lho. Ketika kepala dan badan terasa sluggish -lesu dan berat- setelah kelamaan tidur, nah itu juga termasuk brain fog.

The constant darkness ketika musim dingin di kutub utara justru membuat tubuh bawaannya selalu mengantuk. Rasanya seperti zombie tatkala menjalani hari-hari musim dingin, sulit rasanya untuk fully awake dan 100% awas.

Jadi kualitas siklus tidur memang sangat berpengaruh terhadap kemampuan fokus. Ketika siklus tidur terganggu -mau itu kekurangan atau kelamaan tidur- efeknya akan muncul dalam bentuk brain fog. Jangka panjangnya, brain fog juga dapat menurunkan kualitas hidup. Membiasakan cukup tidur 7-8 jam itu penting sekali.

Follow us

Biasakan pula punya sleep hygiene yang baik, seperti bangun dan tidur di jam yang sama setiap hari, menjauhkan televisi, komputer dan ponsel dari area kamar tidur, menghindari konsumsi kafein dan alkohol, serta menghindari kebiasaan bergadang semalam suntuk.

Nah yang terakhir itu kerap dialami mahasiswa dan pekerja kantoran ya, apalagi kala dipepet deadline. Iya sih, tugas-tugas beres semua tetapi keesokan harinya sulit fokus karena tubuh menagih istirahat. 

Ada lagi kondisi lain yang membuat brain fog ini muncul kembali di kehidupan saya. Yaitu, ketika saya hamil dan usai melahirkan. Di trimester akhir kehamilan, ada masa-masa di mana saya sulit sekali rasanya recalling things atau mengingat sesuatu.

Ini membuat saya agak kesal karena saya jadi pelupa dan ceroboh, ditambah lagi tidak segesit biasanya karena pegal-pegal dan perut semakin membesar. Ketika berkonsultasi ke jordmor (bidan), beliau menjelaskan bahwa kondisi hormonal selama kehamilan dan usai melahirkan memang dapat menyebabkan brain fog. ‘’I’m feeling slow and useless,’’ ucap saya mengadu ke Bu Bidan.

Beliau hanya tersenyum dan bilang, ‘’Yes, it must be frustrating to find yourself slowing, especially when you are an active person. Think about it as your body’s way to protect you and your baby. Listen to your body when it tells you to slow down, then try to rest.’’

Usai melahirkan, wah, jangan ditanya lagi. Yang namanya kelelahan dan kurang tidur, sudah sepaket datang dengan lahirnya si bayi ke dunia. Namun ketika sampai enam bulan kemudian brain fog tersebut masih muncul terus, saya mulai curiga ada sesuatu yang salah. Saat itu kesulitan fokus, jadi ceroboh dan kelelahan yang saya alami tidak lagi terasa ‘mengesalkan’, namun justru seperti sedih dan kosong.

Keseharian saya mengurus si kecil, rasanya seperti berlalu begitu saja, tanpa ada momen-momen khusus yang saya bisa ingat-ingat ulang. Saya kehilangan motivasi untuk menikmati hal-hal di sekitar saya dan tubuh seperti tidak bertenaga. Dalam kelelahan tersebut, emosi yang saya rasakan antara kosong saja, atau sedih nyaris sepanjang waktu.

Kali berikutnya datang ke posyandu, saya menceritakan kondisi ini ke helsesøster. Ternyata keputusan saya untuk menceritakan hal tersebut adalah keputusan yang tepat. Menurut suster, saya terkena post-partum depression dan butuh segera ditangani.

Di tahun 2021 usai terkena covid-19, saya berada dalam kondisi di mana banyak sekali hal yang sulit saya ingat ulang, seperti mengingat istilah atau kata-kata dalam Bahasa Norwegia atau Bahasa Inggris. Saya juga mengalami berkurangnya daya konsentrasi, terutama ketika harus multitasking, apalagi ketika menulis dan menyunting tulisan.

Tubuh dan otak saya seperti melambat dan ini membuat saya frustrasi, tetapi mau dilawan seperti apapun rasanya ya tetap melambat. Dokter menjelaskan bahwa inilah salah satu bentuk brain fog yang banyak dialami mereka yang terkena covid-19.

Belum diketahui apa penjelasannya, namun ada yang berteori bahwa brain fog bagian dari mekanisme tubuh untuk slowing down selama masa pemulihan sampai benar-benar sehat kembali. 

Berbagai penjelasan yang saya dapatkan dari para tenaga kesehatan, serta pengalaman pribadi membuat saya melihat brain fog ini sebagai sinyal dari tubuh.

Ketika mulai sulit fokus, lesu, mulai pelupa atau ceroboh, saya berusaha mengingat-ingat: apa yang terjadi atau saya pikirkan akhir-akhir ini, yang membuat tubuh saya mengirimkan sinyal tersebut? Apa yang tubuh saya berusaha sampaikan ke saya? Kalaupun tidak, ya sesimpel mungkin memang saya butuh istirahat saja, because rest is not a reward. 

Penulis: Anonim.

(CERITA SAHABAT) Meski Orang Tua Berpisah, Anak dengan Orang Tua Tidak Berpisah

Halo, perkenalkan nama saya Sekar. Sejak Oktober 2013, saya menetap di Kanton Zürich, Swiss, lebih tepatnya di kota Dietikon. Aktivitas saya sehari-hari saat ini adalah mengurus anak sekaligus bekerja sebagai Business Analyst yang memimpin sebuah tim beranggotakan 13 karyawan yang tersebar di Swiss, Inggris, dan Polandia.

Pernikahan yang dikaruniai seorang buah hati biasanya menjadikan kehidupan pasangan semakin lengkap. Menurut saya, kehadiran seorang anak di kehidupan kita adalah sebuah game changer. Anak sebagai individu dengan personality yang tentunya akan berbeda dengan orang tua nya, memunculkan perasaan sangat menggemaskan, penuh kasih sayang dan selalu ingin menemani tumbuh kembangnya. 

Namun, ada pula yang tidak siap untuk meninggalkan gaya hidup lamanya (tanpa anak). Begitupun dengan pernikahan ini. Setelah kehadiran anak yang lahir di tahun 2020, visi saya dan mantan suami ternyata menjadi tidak sejalan lagi. Berbagai upaya kami lakukan sampai menjalani konsultasi dan mediasi dengan seorang konsultan pasangan tetapi tidak berhasil. Alhasil, kami memutuskan untuk berpisah. Kami akhirnya resmi bercerai di tahun 2022.

Ketika awal berpisah, saya merasa sakit hati, marah, frustasi bahkan merasakan semua perasaan negatif pada saat itu. Namun, saya melihat kembali situasi dahulu setelah setahun lebih, kemudian ada perasaan lega yang sebelumnya tidak dirasakan. Saya lebih merasa bahagia dengan situasi sekarang.

Pada saat itu, kekhawatiran saya adalah soal anak. Bagaimana dia tetap bisa tumbuh dengan baik dan bahagia dengan kedua orang tua yang sudah berpisah. Saya juga tidak menginginkan anak putus kontak dengan ayahnya.

Menjadi seorang Single Mom, tidaklah mudah bagi saya. Saya membutuhkan waktu untuk bisa menerima dan berdamai dengan situasi saat ini. Saya bersyukur dikelilingi keluarga dan teman-teman yang selalu mendukung setiap saat. Wejangan orang tua sejak dulu untuk mandiri meskipun sudah menikah sangat membantu sekali. 

Sejak pindah ke Swiss, saya beruntung karena saya langsung mendapat pekerjaan hingga sekarang, kecuali sewaktu cuti melahirkan. Saya bersyukur perceraian tidak begitu mempengaruhi keadaan finansial saya. Saya berusaha untuk fokus pada diri sendiri dan keluarga (terutama anak) dan menghiraukan komentar-komentar negatif dari orang lain, terutama yang tidak begitu kenal kita. Toh, kita yang lebih tahu kehidupan kita sendiri, bukan orang lain=)

Pengalaman yang sangat menyentuh bagi saya pada saat menceritakan kepada orang tua mengenai kondisi pernikahan dan rencana akan berpisah dengan mantan suami. Saat itu, orang tua saya tidak menghakimi atau bertanya banyak hal. Mereka berkata bahwa mereka akan selalu ada di sisi saya dan mendukung apapun keputusan saya, begitupun adik dan teman-teman dekat saya. Saya sangat bersyukur atas dukungan mereka.

Berbicara mengenai bantuan sosial yang diberikan Pemerintah Swiss ini sebenarnya lebih diperuntukkan kepada orang-orang yang karena satu dan lain hal tidak bisa bekerja, termasuk Single Mom. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, bantuan tersebut hanya berlaku sementara. Tujuannya adalah untuk membantu mereka dalam mencari pekerjaan di Swiss sehingga dapat hidup lebih mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan sosial pemerintah.

follow us

Pekerjaan yang saya jalankan saat ini, tidak menjadikan saya termasuk dalam kategori penerima bantuan sosial dari pemerintah setempat. Walaupun sesekali sibuk dengan pekerjaan ataupun keinginan untuk memiliki quality time, tetapi saya dan mantan suami tetap menjaga komunikasi dengan baik dan lancar terutama untuk mengatur jadwal anak. Saat ini, anak juga sudah terbiasa dengan situasi di mana orang tua tinggal terpisah. Hal tersebut dikarenakan kondisi seperti ini sudah berlangsung sejak anak usia 1,5 tahun.

Jika ada teman atau Sahabat RUANITA yang sedang mengalami hal yang sama dengan pengalaman saya, perlu diingat bahwa setiap orang berbeda. Namun, penting memberikan waktu untuk berdamai dengan keadaan atau diri sendiri. Beranikan diri untuk meminta bantuan kepada keluarga, teman, institusi atau komunitas yang relevan jika dibutuhkan. Jika perpisahannya tidak ada kasus kekerasan, usahakan untuk tetap menjalin hubungan baik dengan mantan pasangan demi perkembangan (mental) anak. Sangat penting anak mengetahui bahwasanya mereka dicintai oleh kedua orang tua, terlepas dari kondisi keluarga yang tidak konvensional, yang mana orang tua harus berpisah.

Sebagai WNI yang tinggal di luar negeri, bantuan dan dukungan dari Perwakilan Republik Indonesia di negara tersebut sangatlah bermakna. Jika ada WNI yang melaporkannya ke KBRI/KJRI dan membutuhkan bantuan, mohon KBRI/KJRI untuk segera menanggapi. Sekecil apapun dukungan moral yang diberikan, ini akan sangat berharga pada situasi tersebut.

Penulis: Inur Darham, tinggal di Swiss dan dapat dikontak di akun IG: inur_darham berdasarkan wawancara seorang sahabat, Sekar Istianingrum (akun IG: xxsekar.indxx) yang juga tinggal di Swiss.

(CERITA SAHABAT) Berbagi Pengalaman Kerja Tentang Empat Orang dengan Epilepsi

Halo Sahabat Ruanita, kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman kerja bersama Orang Dengan Epilepsi (ODE) atau ada juga yang menyebutnya ayan. Saya pernah bekerja lebih dari 10 tahun di panti sosial untuk orang dengan disabilitas. Semua klien, begitu kami menyebut mereka, adalah orang dengan disabilitas mental, yang memiliki keterbatasan intelegensi dan fisik. Beberapa dari mereka juga mempunyai epilepsi.

Ada yang sering kejang (seizure), tapi ada juga yang tidak pernah. Karena banyaknya klien dengan epilepsi, yayasan kami juga menyediakan seminar sehari tentang epilepsi untuk karyawannya yang membutuhkan. Saya pernah mengikuti seminar ini, sayangnya sekarang sudah tidak ada lagi yang tertinggal. Satu-satunya hal yang saya ingat dari seminar itu adalah video tentang semut yang dianalogikan sebagai sel saraf di otak manusia, sebagai penjelasan tentang kejang. Video berbahasa Jerman ini bisa ditonton ulang di YouTube.

Saat masih kecil, saya sering dengar orang dengan epilepsi akan kambuh saat maghrib atau menjelang malam dengan ciri-ciri seperti tubuh yang kejang dan mulut berbusa. Stigma lain, yang pernah saya dengar adalah tubuh orang yang sedang mengalami kejang harus ditahan, untuk menghentikan kejang. Setelah bekerja di panti sosial, saya tahu stigma tersebut tidak 100% benar. Kejang tidak hanya terjadi saat maghrib atau menjelang malam, tapi kapan saja dan di mana saja. Tubuh orang yang sedang kejang juga tidak boleh ditahan, tapi dibiarkan saja sampai kejang berhenti dengan sendirinya.

Dulu di panti sosial kami, tinggal seorang klien laki-laki kelahiran tahun 60an. Beberapa tahun lalu, dia pindah ke panti jompo di kota tempat adik perempuannya tinggal. Kita sebut dia dengan klien pertama, karena saya akan menceritakan tiga klien lainnya. Dia adalah orang dengan autisme dan orang dengan epilepsi juga. Kejang epilepsinya sering kambuh tidak hanya ketika di panti, tapi juga di luar, misalnya ketika dia sedang jalan-jalan sendiri. Jika hal ini terjadi di luar, pejalan kaki yang kebetulan melihat akan menelepon ambulans yang membawanya ke Unit Gawat Darurat (UGD). Tidak heran, kami akan mendapatkan telepon dari UGD yang mengabarkan keadaan dia. 

Walau sering mengalami kejang, beruntung hal ini tidak membahayakan. Kami hanya perlu memastikan, bahwa tempat sekitar dia aman untuknya. Misalnya, kita perlu menyingkirkan bangku dan meja, jika dia mengalami kejang di dapur, dan terjatuh ke lantai. Hal ini untuk menghindari dia agar tidak terluka. Saat sedang mengalami kejang, dia tidak sadarkan diri, tubuhnya akan kaku juga, kejang berulang kali, dan mulutnya mengeluarkan busa. Setelah beberapa detik atau menit, dia akan kembali sadar dan kami akan membantunya untuk kembali berdiri dan duduk di kursinya. Kejang dia tidak berbahaya, karena dia akan kembali sadar setelah 1-3 menit dan tidak berulang. Hal itu akan menjadi berbahaya, jika kejang berulang dengan interval dekat dan/atau lebih dari tiga menit. Jika ini terjadi, kita harus menghubungi ambulans.

Kejang yang dia alami tidak selalu dengan dengan tubuh kaku dan kejang-kejang, sehingga membuat dia terjatuh, tapi bisa juga hanya kepalanya bergerak ke kanan dan kiri seperti orang sedang menggeleng dan matanya tertutup, atau pandangannya kosong. Jika ini terjadi, dia masih bisa duduk dengan stabil di kursinya. Kesadarannya akan datang, setelah beberapa detik, dan dia bisa melanjutkan aktivitasnya lagi dengan biasa.

Kalau tidak salah, pertama kali saya melihat dia kejang, adalah saat dia sedang di kamar mandi dan saya kebetulan ada di sana. Beruntungnya, saya tidak bekerja sendirian di hari itu. Jadi, saya berteriak memanggil rekan kerja saya, yang sudah lebih lama bekerja di panti kami. Kejang selanjutnya yang saya lihat, saat klien tersebut di dapur. Saya sudah lebih santai dan tahu itu tidak berbahaya. Saya dan rekan kerja hanya memberikannya ruang dengan menyingkirkan barang-barang di sekitarnya, agar dia tidak terluka. 

Pernah juga saya pergi berjalan-jalan dengan dia dan beberapa klien lainnya, tiba-tiba klien pertama mendadak kejang dan terjatuh di trotoar. Beruntung, ada pejalan kaki yang datang membantu melakukan pertolongan pertama ke dia, sementara saya menelepon ke panti untuk memberi kabar. Kami tidak memanggil ambulans, tetapi bos saya datang dengan mobil untuk menjemputnya. Oh iya, baru-baru ini bos saya bilang, klien pertama sudah bisa merasakan jika ia akan mengalami kejang. Tandanya, adalah jika ia menggosok-gosokkan tangannya di atas pahanya. 

Setelah dia pindah ke panti wredha, tidak ada lagi klien di panti kami yang mengalami kejang. Mungkin saja klien-klien adalah orang dengan epilepsi tanpa kejang atau terbantu dengan obat dari dokter. Singkat cerita, di tahun 2020 kami mempunyai klien baru yang juga orang dengan epilepsi. Sebelumnya, dia tinggal di panti di kota lain. Kita sebut dia sebagai klien kedua.

Saya sendiri tidak mengerti bagaimana ciri-ciri dia saat sedang kejang. Dia sering tertidur di atas sofa, di koridor utama di depan ruangan kerja kami. Informasi dari rekan kerja saya, saat itu dia sedang mengalami kejang. Menurut saya, dia hanya terlihat seperti tidur normal.

Di kasur tempat dia tinggal sebelumnya, selalu ada baby phone yang dinyalakan setiap malam untuk mengetahui, ketika dia mengalami kejang saat tidur. Menurut ibunya, dia akan mengeluarkan bunyi-bunyian jika itu terjadi. Baby phone tersebut hanya digunakan di bulan pertama dia tinggal di panti kami. Klien kedua ternyata memang tidak bisa tidur dengan tenang dan itu mengganggu karyawan yang sedang melakukan shift malam. Di panti kami, memang shift malam diperbolehkan tidur, bahkan tidak dibayar jika dia terjaga sepanjang malam. Baby phone tidak lagi digunakan atas persetujuan ibunya. 

Alternatif untuk dia, adalah alat sensor kejang yang dipasang di kasurnya. Alat ini akan mengirimkan peringatan surel ke alamat surel yang penggunanya telah terdaftar, jika dia mendeteksi kejang. Tidak hanya itu, aktivitas tidur juga terdokumentasi di alat, dan bisa dikirim ke surel dalam bentuk grafik gelombang. Dalam grafik tersebut, bisa dibaca kapan kejang terjadi dan berapa parah. Dengan data ini juga, ibu klien kedua berkonsultasi ke dokter neurologi. Waktu itu, alat ini masih prototipe, saya tidak tahu kelanjutan dari proyek tersebut. Namun, jika kita cari di Google, ada juga beberapa produk serupa, dan peringatan dikirim tidak hanya lewat surel, tapi juga lewat telepon.

Follow us

Pertengahan tahun lalu, satu bulan setelah ulang tahunnya ke-30, klien kedua meninggal dunia dalam tidur. Rekan kerja saya menemukan tubuhnya sudah dingin dan kaku, saat pagi-pagi dia ingin membangunkannya. Sesuai dengan prosedur, polisi mengirimkan jenazahnya ke dokter forensik untuk mengetahui penyebab kematian. Hasilnya, adalah apnea atau keadaan berhenti bernafas saat tidur. Sayangnya, tidak ada orang atau keluarganya yang memberikan penjelasan lebih lanjut kepada kami, apakah epilepsi anfal adalah penyebabnya. Sayangnya lagi, beberapa bulan sebelum dia meninggal, alat deteksi kejang dicopot dari kasurnya, karena dia lebih sering tidur di sofa di kamarnya. Ironisnya, pada malam kejadian itu, dia tidur di kasurnya. Kasur tersebut baru saja dipasang oleh bapaknya sehari sebelumnya.

Kematian mendadak pada orang dengan epilepsi, dikenal sebagai SUDEP (Sudden Unexpected Death in Epilepsy) adalah komplikasi terberat yang bisa terjadi saat kejang terjadi. Menurut website sudep.de, setiap tahunnya sekitar 700 orang meninggal karena SUDEP di Jerman dan 50.000 orang di dunia. SUDEP terjadi saat tidur dan 70% kasusnya terjadi pada malam hari atau waktu subuh. Untuk teman-teman yang bisa berbahasa Jerman, silakan buka website yayasan sudep.de untuk mendapatkan informasi lebih jelas tentang SUDEP dan bagaimana pencegahannya.

Selain klien kedua, ada satu orang klien kami yang sejak tahun 2022, mulai mengalami kejang. Kita sebut dia sebagai klien ketiga. Sebelumnya, dia tidak punya sejarah epilepsi dan tidak pernah mengalami kejang. Dia berumur awal 50an dan orang dengan Down Syndrom. Dia tidak bisa berbicara dan tidak mengerti hampir semua hal.  

Pertama kali, dia kejang terjadi di meja makan. Dia “tertidur” di meja makan saat sedang sarapan. Saya melihat bagaimana kepalanya, semakin lama semakin turun, sampai akhirnya menyentuh meja. Dia terlihat lemas, mukanya pucat, dan tidak bisa dibangunkan, seperti tidak sadarkan diri. Beberapa menit kemudian, dia sadar dengan sendirinya. Saat kembali sadar, dia seperti baru bangun dari tidurnya saja. Sayangnya, dia tidak bisa berbicara. Jadi, dia tidak bisa bercerita apa yang dialami. 

Tahun lalu, dia semakin sering mengalami kejang. Entah mengapa, itu terjadi selalu ketika saya sedang bekerja, dan saya menyaksikannya langsung. Kejang pertama yang membuatnya terluka terjadi di kamar mandi, di depan kamarnya. Waktu itu, saya sedang berjalan menuju ruangan cuci melewati kamar mandi tersebut. Saya lihat, dia sedang berdiri di tengah kamar mandi. Tidak lama kemudian, saya mendengar suara kencang, seperti sesuatu terjatuh. Saya lari menuju kamar mandi dan dia terbaring di sana, dengan muka menyentuh lantai. Tubuhnya kaku dan tidak sadarkan diri.  Saat kembali sadar, dia duduk bersila, dan mengeluarkan bunyi yang biasa keluar dari mulutnya. Satu gigi seri dia patah karena kejang tersebut, padahal dia hanya memiliki lima gigi.

Kejang selanjutnya terjadi lagi, saat saya kerja. Kali ini kejang berulang. Dua kejang pertama, terjadi pagi hari, saat saya belum datang. Rekan kerja pada shift malam melihat dia bagaimana terjatuh dari kursi di kamarnya, dengan kening duluan. Keningnya sobek. Saat saya datang, klien kami duduk di kursi rodanya di dalam kamarnya. Rekan kerja saya mendorongnya ke depan dan ke belakang, agar dia diam duduk di sana sampai ambulans datang. Petugas ambulans yang kemudian datang, membawanya ke Unit Gawat Darurat (UGD), untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kalau saya tidak salah, hari itu dia mengalami 4-5 kali kejang. 

Kejang selanjutnya terjadi, ketika saya juga bekerja. Saat saya datang pagi itu, rekan kerja pada shift malam bilang klien kami sempat kejang sebentar di kursi di ruang makan saat sarapan, karena itu dia tidak dikirim ke layanan daycare, tempat dia biasanya beraktivitas di siang hari. Saya tidak terpikir, dia akan mengalami kejang berulang seperti sebelumnya, sampai rekan kerja saya lainnya memanggil saya dari koridor, ke arah kamar klien-klien kami. 

Klien ketiga terbaring kaku di atas lantai. Kali ini dengan posisi punggung di bawah. Badannya kaku, disertai kejang, dan tidak sadarkan diri. Seperti yang terjadi sebelumnya, rekan kerja saya duduk di sampingnya sambil menyangga kepalanya dengan tangannya, agar tidak langsung menyentuh lantai, sedangkan saya berusaha tenang sambil menghubungi ambulans. Sayangnya, saya terlalu gugup dan menyerahkan telepon ke rekan kerja saya. 

Saat dia terbangun, kami menuntunnya kembali ke kamarnya, dan mendudukkannya di kursi rodanya. Ketika petugas ambulans datang beberapa menit kemudian dan memeriksa dia, dia kembali mengalami kejang. Mukanya pucat dan badannya lemas, ketika dia kembali sadar. Petugas ambulans menganalogikannya kejang seperti melakukan maraton. Menurutnya, lelahnya setelah kejang sama seperti, lelah setelah selesai maraton. Pagi itu, dia seperti melakukan tiga maraton, karena tiga kali mengalami kejang. 

Hari itu, dia kembali menghabiskan siang di UGD untuk pemeriksaan. Di sana juga dia mengalami kejang untuk keempat kalinya. Dokter UGD menulis di laporan, bahwa dari tes darah yang dilakukan setelah kejang, tidak ditemukan ada tanda-tanda epilepsi. Menurut dia, ada juga kejang yang bernama syncope. Dokter neurologi yang menanganinya dan mendapatkan semua laporan medis dari rumah sakit tetap mendiagnosanya sebagai epilepsi, dan memberinya pengobatan untuk orang dengan epilepsi. Saya sendiri tidak mengerti, apakah pengobatan epilepsi dan syncope, berbeda atau sama.

Saya juga sempat satu kali menemani klien lainnya di UGD, karena dia diduga mengalami kejang di tempat kerjanya. Kita sebut dia sebagai klien keempat. Selama saya bekerja di sana, tidak pernah sekalipun dia mengalami kejang, walau ia adalah orang dengan epilepsi. Selama di UGD, keadaan dia baik-baik saja dan tidak ada kejang ulang. Pemeriksaan yang dilakukan, juga menunjukan semua normal dan baik. Beruntungnya, klien saya yang ini bisa berkomunikasi, paling tidak dengan saya sebagai orang yang mengenal dia lebih dari 10 tahun, dan bisa menerjemahkannya ke dokter UGD yang menanganinya.

Satu minggu setelah saya mengantar klien terakhir ini ke UGD, saya mengajukan surat pengunduran diri. Kebetulan saat itu, saya mendapatkan tawaran pekerjaan lain. Saya juga beruntung, bos saya mengerti keadaan saya, dan bersedia melepaskan saya tiga bulan lebih cepat dari peraturan. 

Saya mengalami beban yang besar, setelah meninggalnya klien kedua dan kejang berulang yang dialami klien ketiga. Ditambah lagi, setiap kali ada klien yang kejang, selalu saya yang kebetulan sedang bekerja sehingga harus menyaksikannya. Padahal, saya hanya bekerja 2-3 hari dalam seminggu. Dalam perjalanan menuju ke UGD untuk menyusul klien keempat, saya menangis karena beban saya rasa terlalu berat. Cukup sekali itu saja, saya mengantarkan klien ke UGD. Saya juga tidak ingin suatu pagi nanti, saya menemukan klien meninggal di kasurnya.

Penulis: Anonim

(CERITA SAHABAT) Ini Semua Pendapat dan Pengalaman Saya Soal Amarah

Halo Sahabat Ruanita, nama saya Utari Giri. Saya tinggal di Dubai sejak 2011 hingga saat ini. Saya adalah ibu rumah tangga yang senang melakukan kegiatan volunteer dan bersosialisasi. Bersama teman-teman Indonesia, saya mendirikan Komunitas Gelas Kosong yang bergerak di bidang sosial, dengan melakukan aktivitas sosial dan berdonasi. Selain itu, saya juga mengumpulkan orang-orang Bali yang tinggal di Dubai dan membentuk komunitas dengan nama Banjar Dubai. 

Tak hanya itu saja, bersama beberapa teman, saya juga membentuk grup Indonesia Ladies Badminton, yaitu suatu wadah untuk mengajak ibu-ibu Indonesia di Dubai agar mau berolahraga, bergerak, berkumpul, dan bersilaturahmi. Di samping itu, beberapa kali saya juga membagikan ketrampilan craft  ke ibu-ibu di Dubai dan juga ilmu menulis. Saat ini, saya sedang bekerja untuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan menjadi Ketua PPLN (Panitia Penyelenggara Pemilu Luar Negeri) di Dubai hingga Pemilu 2024 selesai.

Berbicara tentang marah, tentu Sahabat Ruanita sudah mulai berpikir dari orang yang pemarah hingga bagaimana mengelola kemarahan. Menurut saya, marah adalah emosi yang ditunjukkan seseorang karena dia merasa dirugikan. Seseorang pun bisa marah apabila keadaan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan atas situasi tersebut.

Saya sendiri secara pribadi, tidak mempunyai cerita yang bersinggungan dengan pemarah. Mengapa? Karena, saya termasuk orang yang jarang marah. Saya selalu merasa takut dan gemetar  jika mendapati orang marah. Oleh karena itu, saya selalu menjauhi orang yang menurut saya mempunyai sifat pemarah.

Bagaimanapun, kemarahan dapat merusak relasi dengan orang lain, loh. Contohnya adalah saya sendiri. Jika saya sudah tahu bahwa seseorang itu pemarah, maka pelan-pelan saya pasti akan menghindari berhubungan dekat dengan yang bersangkutan. Mengapa? Ya, menurut saya tidak ada untungnya. Saya menjadi tidak nyaman dengan relasi seperti itu. Kalau Sahabat Ruanita, bagaimana menghadapi orang pemarah?

Tentunya, ada banyak faktor mengapa seseorang menjadi marah atau meluapkan amarahnya. Menurut saya, pertama,  itu bisa disebabkan karena karakter orang tersebut memang  pemarah. Jadi, hanya dengan pemicu yang kecil saja, sudah bisa membuat dia marah.  Kedua, bukan orang yang mudah terpancing marah, tetapi karena memang pemicu amarahnya yang sudah sangat parah sehingga dia sudah tidak bisa memakluminya. Bahkan orang tersebut tidak dapat mengendalikan emosinya.

Bagi saya, setiap orang berhak marah. Marah itu wajar, jika memang pada tempat, waktu, dan ekspresinya. Misalnya, kita sebagai perempuan dilecehkan, sudah sewajarnya jika kita marah terhadap pelaku. Marah pun menjadi tidak wajar kalau emosi yang meledak-ledak dan susah untuk dikendalikan sehingga bisa merugikan orang lain. Contohnya, seseorang yang sedang marah dan merasa emosi lalu melakukan kekerasan kepada orang lain.

Marah bisa terjadi pada siapa saja. Bahkan, sewaktu anak-anak saya masih kecil, saya sebagai ibu pada saat itu tidak luput dari emosi dan marah menghadapi kenakalan anak-anak. Namun, saya selalu berusaha untuk mengontrol diri saya saat marah, khususnya kepada anak-anak. Trik saya adalah menarik nafas pelan-pelan untuk mengendalikan marah. Pantang bagi saya untuk mengeluarkan kata-kata kurang baik kepada anak saya, meskipun saya sedang marah. Jangankan sumpah serapah, sambil marah saya justru selalu mengatakan, ”Semoga nanti kamu jadi orang sukses, ya, Nak”. 

Kemarahan dengan anak tentu berbeda bila marah dengan teman. Cara yang selalu saya tempuh adalah segera minta maaf dan memaafkan, kemudian menjauh/menghindar. Menjauh bukan berarti memutuskan silaturahmi, melainkan saya tidak ingin dekat lagi dan merasakan energi negatifnya. Namun, saya masih berteman, loh.  

Ada pendapat yang bilang kalau kurang tidur, orang cenderung suka marah-marah. Menurut saya, itu pasti ada hubungannya. Kita sebaiknya punya cukup waktu untuk tidur, karena bangun tidur dengan segar adalah kunci menjalani hari-hari yang indah. Jika kita kurang tidur, maka orang menjadi kurang fit, pusing dan lainnya sehingga mood-nya juga kurang baik. Kemungkinan hal ini yang menyebabkan orang tersebut menjadi mudah marah. 

Apakah ada kaitan antara pemarah dengan sakit jantung? Jujur, saya belum pernah mengamati secara khusus hubungan marah dengan sakit jantung. Mungkin hal ini bisa dijelaskan secara medis. Pesan saya untuk menghadapi pemarah, kita lebih baik menghindari pemarah jika tidak ingin bermasalah. 

Sebagai penutup, ini pesan saya untuk bisa mengelola rasa amarah dalam diri.  Tundukkan kepala, ambil nafas pelan-pelan dan teratur beberapa saat. Setelah itu, kita perlu berpikir jernih tentang baik dan buruknya apabila kita melepas kemarahan. Itu tips saya dan semoga bermanfaat untuk Sahabat Ruanita semua.

Penulis: Utari Giri, biasa dipanggil Utari, lahir di kota Kediri, dan kini tinggal di Dubai. Dia adalah seorang lulusan sarjana teknik sipil ITS dan punya hobi menulis. Dari kegiatan menulisnya, dia sudah menghasilkan dua buku solo, yaitu “Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Teknis Jurusan Teknis Sipil” (Gramedia) dan “Amazing Dubai” (Elex Media). Selain itu, dia punya puluhan karya dalam bentuk artikel dan buku antologi.

(CERITA SAHABAT) Mudik dan Kematian Senyap

Setiap tahun banyak keluarga diaspora yang bermukim di Belanda berlibur ke Indonesia, termasuk saya. Selain untuk berwisata, kami biasanya bersilaturahmi dan melepas kerinduan bersama keluarga di Tanah Air. Selain itu, tentu saja memanjakan lidah dengan menikmati aneka kuliner tradisional khas Indonesia.

Sejak tahun lalu, begitu banyak perubahan global yang terjadi sebagai dampak wabah corona. Pergerakan dan perpindahan atau migrasi penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain, mengalami perubahan yang sangat drastis. Boleh dibilang semua mengalami hambatan sejak Covid-19 mewabah. 

Banyak negara memberlakukan lockdown, sistem karantina yang cukup lama, sarana transportasi udara yang tidak lagi terjadwal baik, bahkan lebih banyak pesawat terparkir di hanggar airport, dan beragam dampak pandemi lainnya. Itu pada akhirnya membuat banyak keluarga diaspora termasuk saya memutuskan untuk menunda liburan ke Tanah Air. Meski kerinduan pada orang tua, keluarga, kerabat, sahabat, teman, dan tetangga di begitu besar, namun demi kebaikan bersama, memang akan lebih baik menunda mudik hingga corona terkendali. 

Sejak pandemi dimulai tahun lalu, begitu banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Bukan saja beragam aspek kehidupan yang berubah, melainkan juga berdampak pada aspek kesehatan masyarakat, yang berujung pada aspek spiritual kematian.

Pandemi ini mengabarkan berita kematian yang tak biasa silih berganti. Varian Delta mengganas dan menular dengan sangat cepat dan mematikan. Isolasi/karantina mandiri menjadi salah satu alternatif terakhir, setelah begitu banyak rumah sakit yang kehabisan daya tampung pasien. Banyak negara yang pada akhirnya memberlakukan pembatasan kegiatan kemasyarakatan. 

Follow us @ruanita.indonesia

Pandemi telah menggerus sebagian tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Salah satunya tata nilai kesakralan sebuah kematian. Di antara berita Covid-19, seakan muncul kultur baru yaitu kematian yang senyap. Itu sebuah kultur kematian yang seakan terpangkas dari akar spiritual keagamaan dan kultur budaya. Seperangkat aturan dan protokol kesehatan yang diberlakukan secara global menjadi salah satu penyebab prosesi kematian seseorang tanpa salam perpisahan.

Secara mental, setiap orang mungkin merasakan ruang hampa nan sunyi karena beragam pembatasan dalam melakukan kontak sosial secara ragawi. Kehampaan itu masih tetap terasa meski beragam jaringan komunikasi online kerap dilakukan. Meski sedikit mengobati kesunyian, namun tidak bisa menggantikan rasa bahagia saat bersua keluarga, tetangga, teman, sahabat, dan kolega. Itu sekarang berganti menjadi keriuhan suara dan keelokan gambar di layar gadget

Saya yang memiliki keluarga besar di Indonesia, tidak hanya kesunyian yang dirasakan, tetapi juga kekhawatiran. Sejak varian Delta merebak di beberapa negara, termasuk di Indonesia, kabar kematian dari orang-orang yang dikenal pun memenuhi inbox gadget saya. Paman, tante, tetangga, sahabat, kerabat, dan teman terdekat lainnya, meninggal karena corona. 

Begitu banyak orang yang tertular virus itu dan akhirnya harus karantina mandiri. Kebutuhan akan oksigen melonjak! Tabung oksigen menjadi barang yang begitu berharga untuk menyambung nyawa. 

Begitu banyak kisah kematian yang membuat hati miris. Di beberapa kasus, sekeluarga meninggal dalam masa karantina mandiri di rumah mereka, atau meninggal sendirian di apartemen, dan kasus-kasus lainnya yang menjadi berita. 

Kesedihan saya semakin dalam karena hampir semua kematian karena corona, menjadikan keluarga yang ditinggalkan tidak bisa melepas kepergian orang yang dicintai dengan prosesi kematian yang wajar, khidmat, dan sakral. Saya yang pernah merasakan kehilangan ditinggal ibu dan kakak laki-laki karena penyakit yang lain, dapat membayangkan trauma kehilangan yang dirasakan ayah, ibu, anak, paman, tante, tetangga, kerabat, sahabat, dan teman yang ditinggalkan karena virus itu. 

Rasa kehilangan itu akan membekas begitu dalam karena kepergian untuk selamanya tanpa prosesi perpisahan yang normal untuk jenazah, dan pembatasan kunjungan langsung pada keluarga yang ditinggalkan, meski untuk sekadar mengungkapkan rasa duka dan saling menguatkan. Sebuah kultur kematian tercabut.

Secara psikososial kematian seseorang biasanya menjelma menjadi kedukaan bersama. Tak heran bila orang-orang yang ada di sekitar keluarga yang berduka bergandengan tangan, saling menguatkan, dan berbagi rasa optimistis akan masa depan. Namun, di masa pandemi ini, mencegah kemungkinan wabah semakin meluas, setiap orang atau kelompok orang seakan menjaga jarak. Setiap orang dibayangi dengan pemikiran dan ketakutan tiba giliran mereka meninggal dalam kesendirian, sunyi tanpa sempat mengucap salam perpisahan pada orang-orang yang dicintai. 

Bagaimanapun fase kematian akan menghampiri setiap yang bernyawa. Meski demikian, kematian yang indah dan baik tetap menjadi impian dalam hidup seseorang. Prosesi kematian bukan saja layak bagi yang meninggal, melainkan juga penting buat keluarga yang ditinggal pergi. Setidaknya, mereka mempersiapkan ruang kosong dalam kehidupan setelah ditinggal pergi orang terkasih supaya tidak hampa dan tetap optimistis. 

Semoga pandemi ini segera dapat teratasi dan semua memulai kembali kehidupan sosial secara normal. Dengan demikian, kelak bisa meninggal dalam keikhlasan dan dapat sekadar mengucap salam perpisahan pada orang-orang tersayang. Kehidupan memang begitu berharga, namun kematian pun menempati ruang yang penting dalam aspek sosial kemasyarakatan. 

Saya berharap dapat segera mudik dalam situasi normal. Saya sudah tidak sabar melepas segala rindu dengan pelukan hangat dan eratnya jabat tangan di tanah air. 

Penulis: Risti Handayani, tinggal di Belanda dan dapat dikontak via Facebook Ristiyanti Handayani. Tulisan ini sudah diterbitkan dalam buku berjudul: Cinta Tanpa Batas – Kisah Cinta Lintas Benua yang merupakan kerja sama antara RUANITA dengan Padmedia Publisher. 

(CERITA SAHABAT) Ini Pesan Saya Sebagai Korban Body Shaming

Halo Sahabat Ruanita, saya senang sekali bisa terlibat dalam program Cerita Sahabat. Nama saya Nena dan berumur 42 tahun. Saya sudah pernah merasakan tinggal di Singapura, Australia, dan sekarang di Amerika Serikat selama kurang lebih masa kanak-kanak dan remaja. Kini aktivitas saya sehari-hari adalah ibu rumah tangga yang bekerja tetapi tidak full time

Tak hanya itu, saya mengisi waktu lowong dengan menjadi praktisi Pilates dan relawan Kanker yang dialami oleh remaja dan orang dewasa. Dalam cerita sahabat ini, saya ingin membagikan tema body shaming yang saya alami sendiri. Pengalaman pertama kali body shaming berupa ujaran kebencian yang saya rasakan ketika saya masih berusia 8 tahun. Mereka bilang kalau saya itu kurus, hitam, dekil, hidung oplas (=operasi plastik), dan lainnya. Saya tidak tahu mengapa mereka bilang hidung saya seperti itu. Mungkin hidung saya panjang seperti hidung pinokio. Entahlah.

Body shaming itu masih saya alami hingga sekarang. Karena begitu banyak, saya sampai menganggap itu sebagai hal biasa. Tak hanya body shaming, saya juga kadang mendapatkan ujaran kebencian seperti: Stupid, bodoh banget, dan lainnya. Pelaku biasanya orang Indonesia yang sudah dewasa, tetapi yang bilang seperti itu dari orang asing mungkin hanya satu atau dua orang saja. 

Menurut saya, pelaku body shaming melakukannya karena dia sendiri merasa tidak percaya diri dengan dirinya. Itu sebab, mereka punya kebiasaan untuk menyerang orang lain. Saya berpikir pelaku body shaming mungkin bisa jadi kurang bahagia atau tidak bahagia saat mereka masih kecil. 

Selain itu, saya melihat bahwa pelaku body shaming yang suka melakukan bullying ini sepertinya melampiaskan kekecewaannya pada orang lain. Bisa jadi pelaku pernah mengalami trauma masa kecil yang tidak atau belum terselesaikan. Mungkin saja dia pernah menjadi korban bullying juga. Seperti pengalaman saya, saya melihat pelaku body shaming itu pernah menjadi korban bullying dalam keluarga. Korban body shaming itu tidak pernah mengenal usia, menurut pengalaman saya.

Karena sedari kecil saya sudah mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan seperti itu, maka saya sudah punya ilmu bagaimana harus menangkal hal-hal tersebut. Saya belajar dari ibu saya. Intinya, kalau mereka serang maka kita tidak perlu diam saja. Nanti, kita akan terus diinjak dan dilecehkan. Ibaratnya kalau mereka menyerang mental saya, mereka berpikir saya penakut.

Sejak kecil, saya sudah diikutsertakan ibu untuk olahraga bela diri. Mungkin itu yang mendasari saya untuk tidak takut ketika ada orang yang berusaha menyerang saya, termasuk menyerang psikis saya.

Follow us

Beruntungnya saya tidak sampai depresi hanya karena body shaming. Saya mendengar banyak korban body shaming yang mengalami depresi hingga bunuh diri. Saya bisa membayangkan bahwa pelaku body shaming menyerang mental korban sehingga tidak tertahankan lagi. Kondisi mental seseorang memang berbeda-beda setiap orang sehingga tidak bisa dipukul rata. Ketika ada orang yang menjadi korban body shaming berhasil menangkalnya seperti saya, sementara lainnya tidak.

Untuk mengatasi body shaming nyatanya itu tidak mudah. Saya bukan ahli kejiwaan yang bisa dengan mudah menjawab ini. Saya berpikir bahwa pelaku diberi hukuman penjara saja, belum tentu menjadi jaminan kalau dia tidak melakukannya lagi. Mungkin Tuhan “menyentil” para pelaku ini sehingga mereka sadar dan tidak melakukan body shaming lagi. 

Sebagai korban body shaming, saya berpesan kepada kalian yang juga korban body shaming bahwa kalian tidak sendirian. Ayo, bangkit untuk memikirkan diri sendiri, bukan para pelaku body shaming yang bertujuan menjatuhkan mental kita. Ketika psikis kita terganggu, maka kita menjadi rentan terserang penyakit juga. Sebagai korban body shaming, saya ingin mendorong siapa saja untuk melakukan aktivitas yang lebih positif ketimbang menyerang tubuh orang lain. 

Jangan takut untuk kehilangan pertemanan! Adalah sebuah kemenangan ketika kita berhasil keluar dari lingkaran pertemanan toxic. Ganti circle pertemanan. Ingat, jangan mudah menyerah atau putus asa. Semoga Sahabat Ruanita selalu berbahagia!

Penulis: Nena yang dapat dikontak di akun IG nenamichelllee

(CERITA SAHABAT) Aku Tetap Orang Indonesia, walau Tak Berpaspor Indonesia

Halo Sahabat Ruanita, namaku Azizah. Aku tinggal di Jerman sudah 20 tahun lamanya, sejak aku berumur tiga tahun. Aku di sini karena ibuku pindah ke Jerman untuk ikut tinggal bersama ayah, yang sudah tinggal di sini sejak beliau masih remaja.

Kami adalah keluarga Indonesia. Ibu dan ayah mendidik aku dan adik-adikku dengan budaya Indonesia. Ayahku sudah 33 tahun tinggal di Jerman dan masih memegang paspor Indonesia. Ibu dan ayah berencana untuk menghabiskan masa tua di Indonesia kelak. Oleh karena itu, mereka tidak mau mengganti paspornya.

Menurut mereka, ini akan lebih gampang untuk mereka pindah ke Indonesia jika masih menjadi warga negara Indonesia. Memang pernah ada obrolan dari ayah untuk ganti kewarganegaraannya, tetapi tema tersebut sangat singkat dan tidak pernah dibicarakan lagi. 

Berbeda dengan ibu dan ayah, sejak tiga tahun lalu aku melepas paspor Indonesiaku dan menggantinya dengan paspor Jerman. Ada beberapa hal yang membuatku memutuskan untuk mempunyai paspor Jerman. Alasan pertama adalah kebebasan ber-traveling dan aku sangat suka traveling.

Aku sudah memikirkan perpidahan kewarganegaraan ini sejak berumur 15-16 tahun, masa di mana aku mengerti paspor Jerman adalah salah satu yang terkuat di dunia. Tentu saja ini mempermudah pemegangnya untuk berpergian ke mana saja. 

Waktu aku duduk di kelas 12, kelasku mengadakan karya wisata ke Irlandia. Aku adalah satu-satunya murid yang harus membuat visa untuk ke sana. Sebenarnya bukan hal yang sulit mengurus visa ke Irlandia, karena ini untuk keperluan sekolah dan guruku yang akan mengurusnya. Sayangnya, waktu itu guruku tidak mengurus salah satu dokumen yang dibutuhkan dan dia hanya menuliskannya sendiri.

Follow us

Hal ini menjadi masalah saat kami tiba di bandara di Irlandia. Aku panik sekali sewaktu  melihat semua teman-temanku sudah melewati cek imigrasi, hanya aku yang ditahan karena kurangnya dokumen tersebut. Akhirnya aku diperbolehkan untuk masuk Irlandia dengan surat probation. Kejadian ini memang bukan karena paspor Indonesiaku tapi karena keteledoran guruku.

Namun, tetap saja ini menjadi pertimbanganku untuk ganti kewarganegaraan. Pertimbangan ini semakin kuat saat aku kuliah dan harus ikut semester di luar Jerman. Tentunya, akan lebih mudah jika aku punya paspor Jerman dari pada paspor Indonesia. Tahun ini, aku berkesempatan untuk kuliah tiga bulan di Korea Selatan. Proses imigrasi sangat mudah karena aku pemegang paspor Jerman. 

Alasan kedua adalah aku ingin terus tinggal di Jerman selama hidupku. Mungkin di masa depan aku akan tinggal di negara lain, tetapi hampir tidak mungkin di Indonesia. Menurutku Indonesia adalah negara yang sangat indah dengan banyak tempat cantik, tapi aku besar di Jerman. Sistem dan kehidupan di Jerman sudah aku kenal baik.

Jika aku pindah ke Indonesia, akan banyak sekali yang berbeda, seperti gaya hidup misalnya. Di Indonesia, orang harus naik mobil jika ingin ke mana-mana, sistem kesehatannya masih belum bagus, dan sayangnya kualitas hidupnya juga rendah. Walau begitu, aku masih cinta Indonesia. Aku akan selalu ke sana untuk berlibur dan mengunjungi keluarga besarku.

Selain kedua alasan tersebut, menurutku kewarganegaraan atau nasionalisme seseorang tidak bisa dinilai dari selembar kertas. Sebaliknya, selembar kertas itu tidak bisa membuatku menjadi orang Indonesia atau orang Jerman. Aku masih orang Indonesia, walaupun aku mempunyai paspor Jerman.

Dua tahun terakhir ini, aku aktif bermain angklung di konsulat untuk belajar lebih banyak tentang Indonesia dan mempromosikan kebudayaan Indonesia kepada teman-teman Jermanku. Jiwa keindonesiaanku saat masih menjadi warga Indonesia dan sekarang setelah menjadi warga Jerman masih sama, tidak berkurang sedikitpun. Setiap berkenalan dengan orang baru juga, aku selalu bilang, aku orang Indonesia yang tinggal dan besar di Jerman. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah bilang aku orang Jerman. 

Proses ganti kewarganegaraan cukup mudah dan cepat. Aku hanya perlu mengirimkan beberapa dokumen yang mereka minta dan formulir yang aku harus isi, lalu datang ke imigrasi sesuai dengan jadwal yang sudah aku buat sebelumnya. Petugas imigrasi di sana menjelaskan proses naturalisasi, lalu membacakan sumpah yang harus aku setujui.

Kalau tidak salah, ada dua kalimat yang aku harus ulangi untuk sumpah, setelah itu aku menjadi orang Jerman. Petugas menggunting sampul paspor Indonesiaku menjadi segitiga. Saat itu, aku merasa sedikit sakit hati atau tidak enak melihat paspor Indonesiaku dirusak olehnya, walau sebenarnya tidak parah juga. Jujur, setelah aku mendapatkan paspor Jerman, aku tidak merasa senang ataupun kecewa. Aku merasa netral saja. Menurutku, itu hanya selembar kertas atau dokumen untuk berpergian dengan mudah.

Aku juga merasa bersyukur punya keluarga yang menghargai keputusanku. Saat aku memutuskan untuk berganti kewarganegaraan, ibu dan ayah tidak menentang. Namun, mereka khawatir apakah ini keputusan yang tepat untukku. Aku bisa mengerti kekhawatiran mereka tetapi waktu itu aku sudah yakin dengan keputusanku. Keluarga besarku di Indonesia juga punya kekhawatiran yang sama, tetapi mereka bisa mengerti keputusanku setelah aku menceritakan alasan-alasanku. 

Aku punya banyak teman-teman Indonesia yang lahir dan besar di sini. Ketika mereka mendengar keputusanku berganti kewarganegaraan, tidak ada yang kasih tanggapan khusus karena mereka juga mempunyai pengalaman dan masalah denganku yang sama saat traveling ke luar negeri.

Ada juga dari mereka yang bilang, bahwa mereka sedang menimbang-nimbang ingin ganti kewarganegaraan. Namun, ada juga yang bilang mereka akan tetap menjadi warga negara Indonesia karena mereka nanti ingin tinggal di Indonesia. Apa pun keputusan mereka, aku bisa mengerti. 

Teman-teman Jermanku juga tidak memberikan komentar negatif tentang perpindahan kewarganegaraanku. Mereka semua sangat positif dan bisa mengerti keputusan dan alasannya. Mereka tidak heran atau bereaksi aneh. Mereka netral. Untuk tulisan ini, aku sempat bertanya ke teman-temanku, bagaimana mereka melihatku.

Mereka bilang, aku adalah orang Indonesia yang besar di sini. Alasan mereka adalah aku tidak lahir di Jerman, orang tuaku orang Indonesia, dan secara kultur aku lebih Indonesia dari pada Jerman. Apa yang mereka lihat dariku sama seperti yang aku rasakan, aku tetap orang Indonesia. 

Penulis: Mariska Ajeng, penulis blog www.mariskaajeng.com yang menulis berdasarkan wawancara dengan Azizah. Azizah dapat dikontak ke akun Instagram azi_zaaah atau email info@ruanita.com

(CERITA SAHABAT) Stalking atau Penguntitan Itu Kejahatan Serius

Trigger warning: Konten berikut mungkin membuat pembaca tidak nyaman.

Halo, Sahabat Ruanita. Nama saya Amel dan saya adalah seorang penyintas kekerasan dalam hubungan berpacaran. Sebelumnya, saya tidak pernah membayangkan kalau saya mengalami kekerasan dalam bentuk apapun. Dalam relasi papa dan mama saya, saya tidak pernah melihat papa melayangkan tangannya ke mama. 

Saya juga sempat berpacaran selama empat tahun, tetapi saya pun tidak pernah mengalami kekerasan dari mantan pacar saya tersebut. Saya tidak pernah menceritakan kejadian ini kepada siapapun, apalagi ke orang tua. Saya tidak ingin membuat mereka khawatir karena saya tinggal di negeri orang. Namun sekarang, saya berani membagikan kisah ini agar berguna untuk sesama perempuan lainnya.

Pada tahun 2008, saya pindah ke Italia karena saya mendapat beasiswa kuliah di Politeknik di kota Torino. Ketika saya baru tiba setahun di Italia, saya berkenalan dengan seorang teman yang berlatar belakang agama yang sama. Ini membuat saya bahagia karena saya bisa melakukan banyak aktivitas bersama-sama dia, seperti beribadah dan mengaji bersama-sama. 

Kalau kami ngobrol, pun ‘nyambung’ sehingga pertemanan kami berlanjut menjadi berpacaran. Inilah yang kemudian menjadi titik mula munculnya tindak kekerasan. Setelah kami berpacaran, saya mulai melihat perbedaan di antara kami. Walaupun agama kami sama, tetapi latar belakang budaya kami memanglah berbeda. 

Namun, ia sama sekali tidak bisa menerima perbedaan ini. Suatu saat ketika dia marah, dia langsung menjambak rambut saya, kemudian menyeret saya ke kamar mandi. Sambil dia menjambak rambut saya, dia menyuruh saya untuk melihat ke cermin kamar mandi. Dia berteriak kepada saya dan berkata: “Vedi la puttana sei!’. Dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan: “Lihat tuh, kamu pe*****!”

Follow us

Sejak kejadian itu, saya pun langsung memutuskan hubungan dengan dia. Namun, dia tidak terima. Di situlah dia mulai menguntit atau stalking saya. Di saat yang sama, saya sedang melakukan praktik kerja di luar kota. Jaraknya sekitar 30 menit kalau saya naik kereta. 

Dia menguntit saya hingga saya naik kereta. Dia berada di gerbong berikutnya. Di kantor tempat saya bekerja pun, teman-teman saya bingung dan bertanya, siapa orang yang berdiri di luar kantor yang sedang menunggu saya. Saya mulai merasa takut dan stres karena dia terus menguntit saya. Ini yang membuat saya untuk pindah apartemen. 

Ketika skripsi saya sudah selesai, saya berpikir untuk pulang ke Indonesia. Seorang teman, yang kini telah menjadi suami saya, menyarankan saya untuk mencoba dulu di Italia. Dia berpendapat bahwa saya berbakat. Menurutnya, sayang sekali saya malah pulang ke Indonesia. Dia pun menawarkan saya untuk tinggal sementara di rumah ibunya agar aman. Ternyata penguntitan tersebut belum berakhir. 

Mantan pacar saya itu kembali menguntit saya hingga ke rumah ibu teman saya. Padahal rumah ibu teman saya ini letaknya jauh di luar kota. Itu sekitar tiga sampai empat jam naik mobil atau kereta. Saya semakin merasa ketakutan dan dan tidak enak juga. Saya sudah tinggal menumpang di rumah tersebut, tetapi saya malah membuat ibu teman saya ini ikut khawatir, karena saya dikuntit mantan pacar. Teman saya ini pun melaporkan penguntitan ini ke polisi.

Menurut teman yang kini adalah suami saya, penguntitan adalah masalah yang sangat serius. Di Eropa, sudah banyak kejadian stalking yang berujung pada pembunuhan atau femisida. Jadi femisida atau pembunuhan terhadap perempuan telah banyak kasusnya terjadi di Eropa. 

Teman saya ini pun berusaha meyakinkan saya agar saya bisa keluar dari situasi tersebut. Dia ingin saya berani dan segera meminta pertolongan ke polisi. Saya pun melaporkan kasus ini ke polisi Italia.

Kekerasan stalking atau penguntitan menyebabkan target atau korban merasa ketakutan dan frustasi. Stalking sama sekali bukanlah bentuk kepedulian apalagi kasih sayang, melainkan sebuah tindak kejahatan karena penguntitan dilakukan oleh pelaku stalker secara sistematik. 

Pelaku biasanya memiliki dengan niatan dan taktik yang dirancang untuk menekan dan memelihara relasi yang tidak dikehendaki oleh target atau korban. Setelah kejadian penguntitan tersebut, saya butuh waktu untuk bisa kembali merasa aman. Begitu pula bagaimana saya bisa mengembalikan kepercayaan diri saya lagi. 

Ada masa di mana saya merasa bahwa semua ini terjadi karena kesalahan saya, apalagi ketika teringat dia menyebut saya sebagai sebagai pelacur. Kejadian ini sudah tiga belas tahun berlalu dan saya butuh waktu lama untuk mampu keluar dari rasa bersalah dan takut ini. 

Namun, teman sekaligus suami saya sekarang telah berusaha menyakinkan. Saya berhak untuk merasa aman dan mendapatkan yang terbaik. Dia juga mengingatkan saya untuk mengisi waktu dengan kegiatan positif untuk membantu pemulihan. 

Bagi Sahabat Ruanita, ingat selalu bahwa kita itu berharga. Jangan pernah takut untuk keluar dari situasi buruk! Jangan biarkan kalian hilang asa!

Penulis: Aini Hanafiah, relawan Ruanita Indonesia seperti yang disampaikan oleh Amelia yang berprofesi sebagai perancang perhiasan dan tinggal di Italia. Artikel ini disusun berdasarkan video program Cerita Sahabat Spesial yang ditayangkan pada bulan November 2022.

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Sistem Parental Leave Dapat Mendorong Ayah Berperan Aktif dan Membantu Pemulihan Ibu?

Pengalaman melahirkan dua anak di dua negara membukakan mata saya akan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Kenyataannya, keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak bukanlah masalah mindset semata tetapi ini erat kaitannya dengan kebijakan yang diterapkan oleh negara dalam urusan parental leave.

Istilah parental leave atau cuti untuk orang tua mencakup cuti melahirkan untuk ibu, cuti ayah, maupun cuti adopsi. Parental leave mengacu kepada tunjangan untuk karyawan yang baru memiliki anak, di mana persyaratan kelayakan dan besarannya ditentukan oleh undang-undang negara. Orang tua berhak mendapatkan cuti sehubungan dengan kelahiran atau setelah kelahiran anak. Selain itu, orang tua juga berhak mendapatkan tunjangan selama mengambil cuti tersebut; dengan ini, mereka tetap mendapatkan pemasukan dan tidak kehilangan pekerjaan mereka ketika kondisi mengharuskan mereka merawat anak atau memulihkan diri setelah melahirkan. Antara ibu dan ayah juga bisa menggabungkan klaim tunjangan ini. 

Ketika anak pertama kami lahir di Malaysia di tahun 2010, kala itu suami saya bekerja sebagai staf akademik di universitas dan ia hanya mendapatkan cuti berbayar (paid paternity leave) selama tujuh hari. Sementara saya yang saat itu belum kembali bekerja, tidak mendapatkan tunjangan apapun. Oleh suami, jatah ‘cuti ayah’ ini diambil di hari ketika anak pertama kami lahir. 

Kalau ditanya apakah tujuh hari saja cukup, jujur saja ya tidak cukup. Seminggu pertama setelah kelahiran si kecil habis untuk kami bolak-balik ke rumah sakit bersalin untuk mengecek kondisi si kecil yang terkena kuning dan saya juga kesulitan untuk menyusui. Rasanya melelahkan sekali. Ketika si kecil mulai pulih, suami sudah harus kembali bekerja. Untungnya, saat itu ada ibu saya yang datang menjenguk selama dua minggu. Namun ketika ibu saya kembali ke tanah air, bisa dibilang saya sepenuhnya bergantung kepada suami untuk bisa ‘berfungsi’ kembali, memulihkan diri sampai berbulan-bulan kemudian, sekaligus merawat si kecil.

Follow us

Lagi-lagi, untungnya, supervisor suami sangat memaklumi kondisi kami sehingga beliau memberikan keringanan untuk suami saya membagi waktu bekerjanya antara di rumah dan di kampus. Saya ingat, beliau bilang kalau menjadi orang tua baru itu sudah cukup menantang, apalagi kalau di perantauan dan tidak ada sanak keluarga yang membantu. Masih segar dalam ingatan saya, pagi hari kami dimulai dengan suami memastikan saya sarapan cukup sambil menggendong si kecil yang sudah kenyang disusui. Setelah saya kenyang, barulah kami memandikan si kecil bersama-sama. Setelah si kecil bersih wangi, giliran saya yang mandi (sementara suami yang memakaikan baju dan popok). Kemudian barulah suami saya membersihkan semuanya, menyiapkan makan siang untuk kami berdua, lalu bersiap-siap pergi ke kampus. Sore harinya, suami saya pulang membawa takeaways untuk kami makan malam bersama. Sesampainya di rumah, ia langsung cuci tangan & ganti baju, menjerang air untuk mandi si kecil, lalu menggendong si kecil sambil memeriksanya apakah butuh ganti popok. Sementara saya disuruh makan malam duluan.

Saya tahu bahwa sedari awal, suami saya tidak pernah keberatan mengurus saya dan si kecil karena menurutnya itu sudah ‘kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar’. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kelelahan di masa awal-awal menjadi orang tua itu bukan hanya ibu yang mengalaminya. Saya bisa melihat kalau suami juga lelah sepulang dari kerja, apalagi harus membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus kami di rumah. Tetapi seandainya ia punya jatah ‘cuti ayah’ dengan jangka waktu yang lebih panjang, tentunya kerepotan ini bisa jauh diminimalisir.

Fast forward sembilan tahun kemudian ketika saya hamil anak kedua di Norwegia. Semuanya serba baru dan sangat-sangat berbeda dengan pengalaman ketika saya mengandung si sulung. Di Norwegia, kandungan baru mulai diperiksakan setelah memasuki usia kehamilan 12 minggu, dan diperiksanya pun oleh jordmor (bidan) di klinik helsestasjon (posyandu untuk ibu dan anak). Ibu hamil hanya diminta memeriksakan diri ke dokter umum atau spesialis di rumah sakit jika butuh tes klinis, dan untuk USG fetal screening. Selama tidak ditemukan kondisi-kondisi khusus selama kehamilan, intervensi medis benar-benar diupayakan seminimal mungkin. 

Ketika kehamilan memasuki usia 24 minggu, jordmor bertanya apakah saya sudah mengecek persyaratan untuk mengajukan cuti dan tunjangan orang tua, yang mana bisa dibaca di situs milik NAV (Arbeids- og velferdsetaten atau The Norwegian Labour and Welfare Agency). Adapun cuti dan tunjangan ini berlaku untuk baik ibu maupun ayah.  Ya, di Norwegia baik ibu maupun ayah berhak untuk mendapatkan parental leave atau foreldrepermisjon. Dalam situs disebutkan bahwa tunjangan yang dialokasikan selama orang tua mengambil permisjon dapat berupa foreldrepenger atau engangsstønad. Orang tua yang bekerja dapat mengambil permisjon hingga 49 minggu dengan kompensasi 100% gaji, atau 59 minggu dengan kompensasi 80% gaji. Foreldrepenger yang disalurkan oleh badan NAV akan mengompensasikan gaji tersebut. Dalam 49 atau 59 minggu permisjon tersebut, untuk ibu bekerja dapat mengambil permisjon selama 3 minggu sebelum melahirkan dan enam minggu pertama setelah melahirkan untuk pemulihan pasca bersalin (ini wajib diambil oleh ibu). Lalu ada juga slot waktu 15 minggu yang disebut sebagai pappakvote atau kuota cuti yang harus diambil oleh sang ayah. Adapun pappakvoten ini tidak bisa dialihkan untuk menambah jatah cuti ibu; jika tidak diambil, maka akan hangus. Sementara untuk orang tua dengan penghasilan di bawah 59310 kroner per tahun (ibu rumah tangga masuk dalam kategori ini) dapat mengajukan tunjangan engangsstønad.

Saya yang kala itu bekerja sebagai freelance editor awalnya tidak yakin bisa mendapatkan parental benefits sesuai peraturan di Norwegia tersebut. Namun setelah membaca informasi di situs Arbeidstilsynet (The Norwegian Labour Inspection Authority) bahwa wisausahawan, orang tua yang sedang menempuh studi maupun pekerja lepasan juga dapat mengajukan tunjangan orang tua, saya pun mengecek persyaratannya di situs nav.no. Sesuai dengan persyaratan minimum jumlah penghasilan per tahun, saya berhak untuk mendapatkan engangsstønad. Sementara suami saya dapat mengajukan foreldrepermisjon & foreldrepenger

Tiga bulan setelah anak kedua kami lahir, suami memulai masa permisjon. Kala itu suami memutuskan untuk mengambil jatah permisjon 59 minggu. Di saat yang sama, saya didiagnosis post-partum depression, ditambah beberapa minggu kemudian pandemi pun merebak. Kombinasi situasi ‘ajaib’ yang tidak pernah terbayangkan oleh saya bagaimana cara coping-nya sendirian. Kata suami, saya tidak perlu khawatir karena dengan masa permisjon yang panjang dan kondisi ekonomi keluarga tetap aman terjaga, saya cukup fokus saja untuk meneruskan terapi & upaya pengobatan.

Di Norwegia saya melihat sendiri bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak bukan hanya bergantung pada mindset ayahnya saja, tetapi juga dipermudah oleh aturan & kebijakan yang dibuat negara. Seperti adanya pappakvoten yang tidak hanya mendorong ayah untuk berperan aktif sejak awal usia kehidupan anak, namun juga mendorong kesetaraan gender dalam pengasuhan anak. Selain itu pemberian engangsstønad untuk ibu rumah tangga pun menunjukkan bahwa upaya melahirkan, merawat dan membesarkan anak adalah salah satu ‘pekerjaan’ besar yang membutuhkan tenaga, sumber daya dan stamina fisik maupun mental yang tidak sedikit, sehingga apapun status ekonomi orang tuanya, mereka berhak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan untuk menjamin kesejahteraan keluarga, terutama di masa terpenting dalam tahap awal kehidupan anak. 

Penulis: Aini Hanafiah, relawan Ruanita Indonesia yang tinggal di Norwegia. Aini dapat dikontak via akun Instagram (aini_hanafiah).

(CERITA SAHABAT) Kecemasan Saya Ketika Menjadi Ibu di Jerman

Halo, sahabat RUANITA! Saya Brina Weis, asal Tangerang yang kini menetap di Jerman sejak 2018. 

Dahulu saya tidak memiliki rencana untuk memiliki keturunan. Saya berpikir saat itu adalah saya berasal dari negara lain yang juga memiliki budaya yang berbeda. Ini pasti akan sulit jika saya harus mengajari anak dengan dua budaya dan bahasa sekaligus. Bahkan saya tidak memiliki pikiran untuk menikah dengan seorang pria Jerman. Hingga pada akhirnya ketika saya berkali-kali gagal menjalin hubungan dengan pria asal negara sendiri, saya mencoba peruntungan untuk menjalin hubungan dengan lelaki Jerman yang kemudian sekarang menjadi suami.

Akhirnya, kecemasan saya satu per satu mulai muncul ketika kami dikaruniai seorang anak perempuan di tahun 2022. Itu dimulai dari mengurus dokumen-dokumen untuk berbagai keperluan hingga menghadapi rumitnya alur birokrasi di sini. Namun tidak hanya itu, kecemasan lainnya yang muncul di kepala saya salah satunya adalah bahasa dan budaya.

Saya memang sudah tinggal di Jerman sejak tahun 2018. Bahasa Jerman sendiri adalah jurusan kuliah yang saya ambil saat masih belajar di universitas pada tahun 2013 silam. Namun, tetap saja saya merasa bahwa bahasa Jerman saya terbatas. Saya merasa takut jika harus berbicara atau mengajarkan Bahasa Jerman kepada anak saya. 

Mengapa saya belum mengajarkan Bahasa Indonesia? Saya memiliki prinsip bahwa kami saat ini tinggal di Jerman dan anak kami akan bersekolah dan mengenyam pendidikan di sini. Jadi untuk sementara, saya lebih memprioritaskan Bahasa Jerman dahulu ketimbang bahasa ibu saya sendiri. Saya juga sempat membaca sebuah artikel di mana jika anak diajarkan dua bahasa sekaligus, kemungkinan ia bisa mengalami speech delay atau terlambat berbicara. Saya tidak ingin hal itu terjadi.

Follow us

Ketika di rumah, saya berusaha berbicara Bahasa Jerman dengan anak saya. Jika saya rasa ada sedikit kesalahan, saya akan mengulangi kalimat tersebut kembali dengan struktur yang benar. Memang itu terkesan sulit. Suami saya pun selalu mengoreksi jika saya salah mengucapkan sesuatu dalam Bahasa Jerman. Saya juga terkadang suka tidak sengaja berbicara bahasa bayi kepada anak saya seperti memanggilnya dengan sebutan „tantik“ yang seharusnya „cantik“ dan „cayang“ yang maksudnya adalah „sayang“. Terlebih lagi ini adalah kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Kadang saya pun bingung, apa sebenarnya mau saya.

Belum lagi perbedaan budaya dan pola pikir antara saya dengan suami. Saya pernah bertanya pada suami, apa reaksinya jika suatu saat nanti anak kami memilih untuk menyukai sesama jenisnya. Atau pertanyaan seperti jika anak kami memilih untuk memeluk agama yang berbeda dari kami, apa reaksinya nanti. Banyak pertanyaan-pertanyaan  konyol yang kadang muncul di pikiran ketika saya memikirkan masa depan anak kami. 

Kecemasan lainnya adalah ketika saya harus berpergian sendiri dengan menggunakan transportasi umum. Saya selalu merasa cemas jika di tengah perjalanan, anak saya merasa tidak nyaman sehingga membuatnya menangis. Saya membayangkan tatapan tajam para penumpang lain kepada saya saja sudah membuat saya takut. Hal inilah yang akhirnya membuat saya berkali-kali membatalkan janji bertemu dengan kawan-kawan lainnya dan lebih memilih untuk berada di rumah dengan anak saya.

Tidak hanya itu, saya sendiri kadang merasa rindu dengan tanah air. Saya selalu membayangkan jika saja orang tua saya ada di sini mungkin akan lebih mudah, dalam mengasuh anak dan mengurus rumah karena mereka akan dengan senang hati ikut membantu. Namun saya kembali sadar bahwa saya di sini sendirian. Ditambah lagi setelah beberapa bulan kelahiran anak kami, kami memutuskan untuk pindah ke sebuah kampung kecil di Jerman selatan, tempat di mana mertua saya tinggal. Artinya, saya harus melepas pekerjaan baru saya kala itu dan juga berpamitan dengan teman-teman Indonesia saya di tempat lama. Saya benar-benar merasa sendiri.

Saat ini pun saya masih dalam masa cuti mengurus anak yang sudah berlangsung hampir satu tahun. Saya juga bersyukur bahwa anak kami mendapat tempat di Kinderkrippe (sebutan untuk tempat penitipan anak sebelum masuk TK) dan itu pun tidak otomatis ia langsung masuk saat itu juga. Ia akan masuk pada bulan September dan saya selesai cuti pada bulan Juni. Artinya, selama beberapa bulan saya harus meninggalkan anak dengan orang lain atau pengasuh untuk beberapa jam karena saya dan suami harus bekerja. 

Kami tidak bisa meninggalkan anak dengan mertua karena ibu mertua saya pun masih bekerja sedangkan bapak mertua saya punya kegiatan lain. Saya sendiri pun memilih untuk bekerja karena saya ingin membantu ekonomi keluarga kecil kami agar suami tidak berat sebelah dalam hal finansial.

Ditambah lagi, kadang saya dituntut oleh orang-orang terdekat saya untuk melakukan atau mengajarkan sesuatu kepada anak saya, seperti dia harus tidur sendiri, dia sudah bisa minum sendiri, dan lain-lain. Saya takut bila tuntutan-tuntutan itu tidak bisa saya turuti, mereka akan kecewa. Terlebih lagi mertua saya mewanti-wanti kami untuk tidak boleh salah dalam mendidik anak, berhubung anak kami adalah generasi perempuan satu-satunya dalam keluarga besar suami says. Jadi, bisa dikatakan anak kami sebagai „anak emas“ mereka.

Kecemasan-kecemasan itu akan selalu mengikuti ke mana pun langkah saya karena saya ingin menjadi orang tua yang baik untuk anak kami. Mungkin bagi orang lain terkesan terlalu berlebihan karena saya pun juga belum terbiasa. Semakin berjalannya waktu, saya mulai mencoba berdamai dengan kecemasan saya sendiri dan mencoba untuk berani menghadapinya. Semoga benang kusut dalam kepala saya satu per satu akan terurai. Semoga.

Penulis: Brina Weis, tinggal di Jerman dan dapat dihubungi melalui instagram @svasthi_

(CERITA SAHABAT) Begini Tips Healthy Relationship dengan Sesama Diaspora di Tanah Rantau

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan saya Anonim yang tinggal di luar Indonesia. Sejak Agustus 2010, saya menetap di salah satu negara di benua biru. Saya senang bisa mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi di sini, terutama berbagi pengalaman dan tips tentang Healthy Relationship.

Berbicara tentang Healthy Relationship tidak selalu berkaitan dengan relasi percintaan atau kehidupan perkawinan saja loh, tetapi bisa juga dijabarkan dalam relasi kita sebagai sesama orang Indonesia di perantauan. Bagaimanapun, kita yang hidup di luar Indonesia saat ini perlu untuk menjalin relasi dengan sesama orang Indonesia lainnya agar kita tidak merasa sendirian. 

Seperti yang disampaikan tadi, relasi yang sehat saat kita menjadi seorang perantau atau diaspora tidak hanya dengan keluarga inti saja atau pasangan hidup dan keluarga besar pasangan kita. Namun, kita juga perlu menjalin relasi yang baik dengan tetangga sekitar dan lebih luas seperti komunitas yang berkaitan dengan kita. Relasi yang sehat bisa diperluas lagi saat kita bekerja secara profesional atau secara sosial dengan dengan sesama pendatang dari tanah air sendiri.

Menurut saya, membangun relasi yang sehat itu penting. Secara prinsip, sebetulnya sederhana, seperti: saling menghargai, jujur, empati, saling mendukung, terbuka, atau siap berkolaborasi. Namun kenyataannya, banyak perantau merasa gagal. Alih-alih, sesama perantau bisa berkolaborasi, ini malah bersaing secara tidak sehat. 

Secara jujur, saya katakan kalau saya sendiri belum mencapai relasi yang sehat tersebut di antara sesama perantau di mancanegara. Saya memerhatikan kalau relasi antara sesama perantau itu justru banyak mengalami konflik. 

Berdasarkan pengamatan saya, sesama diaspora saling berpikir negatif satu sama lain. Sesama diaspora pun tidak mengenal secara pribadi, tetapi mereka lebih memercayai rumor yang berkembang. Ini sangat menyedihkan. Antar sesama diaspora juga mempraktikkan persaingan yang tidak sehat, bahkan mengintimidasi. Saya bingung. Mengapa mereka saling menjatuhkan dan sibuk meraih eksistensi diri yang semu?

Follow us

Perantau dari tanah air yang bermukim di mancanegara semakin banyak saja, dengan berbagai tujuan dan alasan seperti: studi, penelitian, pekerjaan, atau karena jodoh. Apapun motifnya, secara natural kita cenderung akan mencari teman sebangsa dan setanah air selama tinggal di tanah rantau ini. Bisa jadi, itu sebagai obat penawar rindu. Pendapat saya, kita sebaiknya jangan terlalu polos dan lugu. Tidak serta merta loh, Anda bisa langsung cocok atau langsung diterima oleh komunitas WNI tersebut. 

Relasi antar sesama orang Indonesia mungkin akan menjadi toxic atau tidak lagi Healthy Relationship, apabila:

1. Anda harus selalu berusaha menyenangkan orang lain. Relasi ini tidak reciprocal.  Artinya, mereka tidak peduli dengan perasaan dan hal-hal menyenangkan yang sudah Anda lakukan.

2. Tidak semua orang memiliki selera humor yang sama. Harap perhatikan ketika Anda bercanda bersama mereka, apakah mereka tersinggung? Kalau ya, itu artinya level humor Anda tidak sama. Carilah komunitas yang memililki level humor yang sama.

3. Tidak bisa menerima kata “tidak” dari Anda. Mereka marah bila Anda tidak bersedia. Itu berarti mereka tidak menghormati batasan-batasan yang Anda terapkan.

4. Mereka bergosip tentang Anda kemudian mereka marah ketika Anda mencoba untuk mengklarifikasinya langsung pada mereka. Artinya, mereka memang tidak sayang pada Anda.

5. Saling mengintimidasi. Jika lingkungan Anda menganut sistem senioritas dan ada semacam aroma “penggojlogan dan intimidasi”  sebagai anak baru, sebaiknya tinggalkan saja lingkungan yang demikian.

Namun demikian, sebaiknya kita perlu melengkapi diri dengan karakter berikut ini sebelum kita masuk dalam sebuah komunitas sesama diaspora, seperti:

  1. Jujur dan hindari tindakan kriminal. 

Jangan sampai niat kita semula berteman tetapi malah mencuri atau mengambil barang teman. Ingat, mencuri meski kecil sudah termasuk dalam tindakan kriminal dan berat sekali hukumannya. Anda bahkan bisa dideportasi.

  1. Saling Menghormati.

Tiap orang memiliki latar belakang, kisah, dan caranya sendiri yang memungkinkan dia bisa menetap di tanah asing. Jangan mudah mencela atau menghina cerita orang lain, karena itu bisa menghasilkan konflik yang tidak perlu. Toh, apapun kisah mereka – selama cerita itu tidak menyakiti Anda – itu adalah kisah perjuangan sesama manusia.

  1. Jauhi rasa iri dan dengki.

Usahakanlah untuk turut merasa bahagia apabila ada teman yang sukses, berhasil, dan mampu mengatasi tantangannya. Suatu saat Anda juga berhasil, mereka pun turut berbahagia juga.

  1. Mendengarkan. 

Jika diundang dalam sebuah pertemuan komunitas, cobalah untuk mendengarkan dan memerhatikan apa yang sedang dibicarakan oleh lawan bicara. Cobalah untuk mengingat agar saat Anda bertemu lagi, Anda bisa “menanyakan updated info” yang membuat pembicaraan selanjutnya berjalan lebih lancar.

  1. Memberi kebebasan pada setiap individu.

Setiap individu memiliki caranya sendiri dalam menghadapi krisis dan mencari jalan keluar. Bila perlu, kita mendorong  mereka supaya mereka bisa menemukan solusi yang out of the box dan lebih efektif.

  1. Melakukan kegiatan bersama.

Untuk menumbuhkan rasa kompak, kita bisa juga melakukan kegiatan bersama, seperti misalnya berburu barang vintage di pasar antik, atau thrift shop yang memiliki koleksi yang menarik dengan harga ekonomis.

  1. Kebaikan selalu berbuah kebaikan. 

Kalau ada teman yang memerlukan bantuan dan Anda bisa melakukannya, maka lakukanlah dengan tulus dan sepenuh hati.

  1. Memiliki value dan passion pada hal yang sama. 

Nah, kalau Anda menemukan orang-orang yang memiliki karakter seperti di atas, sebaiknya jangan dilepaskan. Mereka itu bagaikan berlian.

Melalui cerita sahabat ini, saya berharap agar ada forum komunikasi yang tidak sekedar hanya „Meminta Pertolongan“ saja pada komunitas diaspora. Saya berharap agar ada forum pelatihan atau semacamnya yang mengasuh atau berbagi/sharing. Peran ini mungkin bisa dilakukan oleh perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri. 

Semoga apa yang saya bagikan ini membantu Anda dalam mencari komunitas pertemanan yang sehat di tanah rantau! Sekali lagi, semoga bermanfaat. Salam dari dari perantauan.

Penulis: Anonim yang tinggal di perantauan dan menjadi korban intimidasi

(CERITA SAHABAT) Cegah Diabetes Dari Edukasi Diri Sampai Konsumsi Nutrisi

Halo Sahabat RUANITA, perkenalkan nama saya Yulyana. Ada pula yang memanggil saya, Juliana. Es klingt fast gleiche😊 atau dalam Bahasa Jerman maksudnya, itu sama saja mau dipanggil Yulyana atau Juliana. Saya tinggal di Jerman sejak April 2013. Lokasi tinggal saya terletak di desa kecil, namanya Iggensbach. Areanya berada di sekitar Landkreis Deggendorf-Passau, negara bagian Bavaria.

Kalau mau dibayangkan, lokasi tinggal saya itu sekitar 25 – 30 kilometer dari Kota Passau. Kalau kita naik kendaraan melalui Autobahn, jalan tol dalam Bahasa Jerman, maka lokasi tinggal saya bisa dicapai sekitar 15 – 16 kilometer dari Kota Deggendorf. Di kota Deggendorf inilah, saya bekerja sebagai Krankenpflegerin atau perawat dalam Bahasa Indonesia di IMC Stroke Station. Lebih jelasnya, saya adalah perawat pasien stroke dengan sistem monitor. 

Saya senang bisa ikut berpartisipasi dalam program cerita sahabat RUANITA, terutama berkaitan dengan pengalaman saya tentang diabetes yang dialami oleh orang-orang terdekat saya. Kita perlu tahu kalau diabetes merupakan salah satu Silent Killer Disease, karena penyakit ini begitu tersembuyi. Apabila kita terlambat menanganinya, ini akan berkomplikasi ke organ tubuh lainnya. Oleh karena itu, penting untuk kita mengedukasi diri sendiri tentang status kesehatan kita dan konsumsi nutrisi harian kita.

Berbicara soal diabetes, ini bukan hal asing bagi saya. Keluarga saya merupakan keluarga yang memiliki penyakit ini. Itu sebab diabetes dikenal sebagai penyakit keturunan. Jadi, mau tidak mau, saya pun memiliki gen ini. Saya kehilangan oma yang meninggal karena diabetes mellitus. Seingat saya, almarhum oma hanya mengontrol pola makan seperti mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat. Namun diabetes yang diderita oma berujung pada komplikasi.

Komplikasi yang dialami almarhum oma sudah sampai ke organ mata, di mana dia harus mengalami kebutaan. Almarhum oma mengalami dekubitus level 4, yang sudah tembus ke tulang dan sulit disembuhkan. Kejadian itu sekitar tahun 1996, yang mana kami sekeluarga belum banyak mengenal dekubitus. Saat itu, belum ada penanganan yang optimal untuk pasien diabetes dengan luka dekubitus di Indonesia. 

Diabetes juga dialami oleh papa saya, yang didiagnosa sebagai diabetes melitus tipe 2 oleh dokter. Menurut saya, penanganan papa jauh lebih baik ketimbang almarhum oma. Papa diberi obat gula dan rutin diperiksa kadar gula darahnya. Selain itu, fungsi ginjal papa pun diperiksa per tiga bulan, terutama untuk Hba1C. Papa saya juga mengontrol konsumsi karbohidrat dan gula sehingga kadar gula darahnya selalu stabil. Ketika seseorang didiagnosa memiliki diabetes, maka dia harus mulai mengedukasi dirinya sendiri untuk mengetahui asupan nutrisi dan perilaku kesehariannya.

Salah satu teman baik saya pun didiagnosa diabetes melitus tipe 2 di saat usianya sudah memasuki pertengahan 30 tahunan. Tentu saja, dia sangat panik luar biasa dan begitu cemas. Saya bisa memahami situasinya yang tidak mudah menerima kenyataan tersebut. Apalagi dia harus hidup tanpa nasi sebagai makanan pokok orang Indonesia. Itu sangat menyulitkan dia di awal hari-hari tanpa nasi. Tidak hanya mengontrol konsumsi nasi saja, dia pun harus mengontrol kadar gula darahnya. Dia pun jadi lebih banyak mengonsumsi makanan yang lebih bergizi. 

Bagi saya, didiagnosa penyakit apapun itu bukan berita menyenangkan bagi setiap orang. Apalagi kalau kita didiagnosa diabetes, yakni penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara total. Namun, kita perlu tahu kalau diabetes itu bisa dicegah bahkan kita bisa mengendalikan komplikasinya. Penyakit diabetes sendiri memiliki dua tipe yakni diabetes tipe 1 dan tipe 2. Pada diabetes tipe 1 disebabkan oleh tubuh tidak bisa memproduksi insulin. Sedangkan pada diabetes tipe 2 disebabkan karena tubuh gagal menggunakan atau memproduksi insulin secara efektif. Insulin sendiri merupakan hormon penting yang dapat membantu mengantarkan glukosa ke sel tubuh agar bisa menghasilkan energi. 

Seperti cerita saya di atas, diabetes telah menyerang orang-orang terdekat saya. Sebagai orang yang berpotensi memiliki diagnosa diabetes. saya pun mulai waspada terhadap kemungkinan ini. Benar saja, saya pun didiagnosa diabetes gestasional pada saat saya sedang hamil. Beruntungnya diagnosa ini cepat diketahui di awal sehingga penanganannya bisa segera dilakukan. Saya wajib melakukan tes darah sebanyak 4 kali dalam sehari, antara lain: saat bangun tidur, satu jam setelah sarapan, satu jam setelah makan siang, dan satu jam setelah makan malam. 

Tak hanya tes darah saja, saya pun harus melakukan diet sehat seperti karbohidrat. Saya pun jadi lebih memerhatikan kadar indeks karbohidrat yang dikonsumsi. Tentu saja, ini bukan hal mudah dilakukan di awal karena saya harus melakukannya sendiri agar saya tetap sehat. Saya harus menimbang semua makanan yang akan dimakan, misalnya untuk nasi, pasta, atau mi maka saya hanya boleh mengonsumsi sebesar 15 gram saja. Itu setara dengan 3-4 sendok makan full. Saya hanya boleh makan dengan porsi yang sedikit tetapi sering. Jelas, itu tidak mudah ya😊

Puji Tuhan, saya bisa melewati fase ini dan tidak memerlukan suntikan insulin selama proses kehamilan saya. Setelah anak saya lahir pun, saya wajib mengecek kembali kadar gula darah. Dokter internist endokrinologi menyatakan kalau hasilnya normal. Dengan kesadaran saya sendiri, saya harus menjaga pola makan saya. Itu adalah kebiasaan sehat yang harus dilakukan oleh mereka yang didiagnosa diabetes. Saya pun rutin untuk datang dan memeriksakan diri ke Hausartzin atau dokter saya di Jerman. 

Berbicara tentang diabetes, tidak hanya disebabkan oleh pengalaman orang terdekat saya dan apa yang saya alami sendiri. Menurut saya, penanganan diabetes di Indonesia saat ini jauh lebih baik daripada saat perawatan almarhum oma sekitar tahun 1990-an. Keberhasilan ini ditunjang oleh program BPJS-Prolanis atau Program Pengelolaan Penyakit Kronis seperti pasien-pasien yang didiagnosa diabetes di Indonesia. Jadi mereka yang didiagnosa diabetes dapat rutin mendaftarkan dirinya ke puskesmas terdekat, kemudian mereka akan dirujuk ke dokter spesialis endokrinologi. Para pasien diabetes melitus dan hipertensi akan mendapatkan obat gula, pen suntik insulin, bahkan check up laboratorium gratis setiap enam bulan untuk kadar gula darah, Hba1C, fungsi ginjal, dan juga kolesterol darah. 

Saya salut dengan komitmen pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas kesehatan warganya melalui program BPJS. Namun begitu, ini belum sepenuhnya optimal bila tidak didukung oleh kesadaran warga sendiri akan pola hidup sehat. Saat saya berlibur ke Indonesia, saya melihat dan mengalami banyak produk makanan yang dijual dengan kadar gula yang tidak terkontrol. Sayangnya, masyarakat awam masih kurang peka akan hal ini. Hidup sehat itu ada di tangan kita.

Dalam rangka World Diabetes Day, kita bisa mengedukasi diri sendiri dengan membaca informasi yang tertera dalam produk makanan atau minuman yang dijual. Menurut saya, pemerintah Indonesia perlu menerapkan limit maksimal kadar gula dalam suatu produk makanan atau minuman seperti di Eropa. Di beberapa negara Eropa, produsen bahan makanan wajib mencantumkan besaran persentase kadar gula dalam suatu produk makanan yang diproduksi. Semakin banyak kadar gula dalam produk tersebut, maka semakin banyak pajak yang harus dibayar pihak produsen. Cara lain adalah adanya Nutriscore skala yang menjadi patokan huruf dari A sampai dengan E dengan pemberian warna yang menentukan kadar gulanya seperti: A dengan warna hijau, B dengan warna hijau muda, C dengan warna kuning, D dengan warna orange, dan E dengan warna merah.

Sebagai konsumen, kita perlu bersikap cerdas dengan membaca petunjuk kemasan makanan atau minuman yang akan dikonsumsi. Kita perlu cari tahu atau bertanya ke narasumber yang kompeten atau ahli di bidangnya seperti dokter atau ahli nutrisi mengenai diabetes. Saya pikir penting untuk warga Indonesia mendapatkan penyuluhan kesehatan yang benar dan tepat tentang diabetes melalui kegiatan kemasyarakatan di komunitas-komunitas di Indonesia. Seperti misalnya, kita bisa mengedukasi diri dari mitos-mitos yang beredar dan tidak benar. Ada banyak mitos yang mengatakan kalau diabetes menyerang pada orang-orang yang memiliki kelebihan berat badan. Itu tidak benar. Diabetes dapat dialami pada siapa saja, terutama mereka yang tidak bisa menjaga pola makan dan hidup sehat. 

Pesan saya, pertama, diabetes itu bukan penyakit menular ya! Kedua, bersikaplah self-care atau peduli pada apa yang kita konsumsi. Ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Life healthy and balanced ya, Sahabat RUANITA! Terakhir, diabetes melitus bukan akhir segalanya. Kita masih bisa menjalani hidup dengan normal asalkan kita lebih memerhatikan pola makan dan rajin berolahraga, tentunya. 

Penulis: Juliana Wildenauer, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram: @schnuckiesnappy.

(CERITA SAHABAT) Ini Kesedihan Saya Tinggal Jauh dari Keluarga di Indonesia

Halo Sahabat Ruanita, saya senang bisa berpartisipasi dalam program Cerita Sahabat ini. Perkenalkan nama saya, Nikita Nazhira. Beberapa teman sering memanggil saya dengan nama panggilan Zhira, sebagian lagi memanggil saya dengan sebutan Niki. Saat ini, saya tinggal di Taiwan bersama suami dan anak saya. Sebelum pindah ke Taiwan, saya sempat tinggal di Austria dan Estonia. 

Saya mau berbagi cerita tentang kesedihan yang dialami apabila kita tinggal jauh dari keluarga di Indonesia. Tentu, itu tidak mudah dijalani di mana kita tinggal ribuan kilometer dari tanah air. Saya merasa sedih jauh dengan keluarga karena saya memiliki hubungan yang dekat dengan papa dan mama. Hubungan saya pun begitu harmonis dengan kakak-kakak saya. 

Setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda tentang arti keluarga. Bagi saya, keluarga adalah tempat ternyaman di mana saya bisa menjadi diri sendiri. Dalam keluarga, saya mengenal makna unconditional love sesungguhnya. Sayangnya, saya harus berpisah dari keluarga yang begitu berharga dalam hidup saya. Perpisahan dengan keluarga dimulai ketika saya berniat untuk melanjutkan studi pada tahun 2017.

Tak hanya itu, perpisahan saya dengan keluarga di Indonesia terjadi ketika saya memutuskan untuk menikah dengan pria berkebangsaan Austria. Hal itu yang membuat saya kemudian menetap di Austria.

Follow us

Menurut saya, ada banyak faktor yang membuat seseorang harus berpisah dengan keluarga. Sebagian orang berpisah dari keluarga karena harus studi di luar negeri, menikah dan ikut suami, atau sebagian lainnya adalah bekerja. Itu adalah faktor-faktor yang paling relate yang saya ketahui selama ini. Kehidupan saya berubah tidak hanya karena saya tinggal jauh dari keluarga saja, tetapi pekerjaan suami yang mobile sehingga kami harus tinggal di Austria, Estonia, dan kini di Taiwan.

Terpisah jarak dan waktu dari keluarga di Indonesia rupanya memberikan efek psikologis buat saya sendiri. Boleh dibilang, saya begitu akrab dengan keluarga dan kakak-kakak saya. Kini, saya pun harus bertumbuh secara mandiri. Apalagi saya harus bisa “segalanya” ketika suami harus berpergian “terbang” berminggu-minggu. 

Ketika suami harus bertugas, saya pun kadang dilanda kesepian, terutama ketika kami masih tinggal di Estonia. Estonia berada di wilayah Eropa Utara. Kondisi negara Estonia sendiri pun sangat jarang sekali mendapatkan paparan sinar matahari. Bahkan, suhu di Estonia bisa mencapai minus 20 derajat celcius ketika musim dingin tiba. Di saat itulah, saya sering mengalami kesepian dan kesedihan. 

Seharusnya ketika kita tinggal jauh dari keluarga, kita bisa membangun relasi yang baru dengan lingkungan sekitar. Saya merasa sulit bertemu dengan orang Indonesia lainnya karena kondisi kami yang harus mobile

Menurut saya, bertemu dengan orang-orang Indonesia di negeri perantauan seperti mengobati rasa rindu akan tanah air dan keluarga. Orang-orang Indonesia inilah yang saya anggap seperti keluarga saya sendiri. Begitulah cara saya mengatasi rasa kesedihan karena tinggal jauh dari keluarga di Indonesia. Selain itu, saya rutin melakukan video call dengan orang tua dan kakak-kakak saya kapan saja. Beruntungnya teknologi membuat kita begitu mudah terhubung dengan Indonesia yang jaraknya ribuan kilometer jauhnya. Melakukan video call dan menjalin komunikasi yang intens dengan keluarga adalah cara saya lainnya untuk mengobati kesedihan. Saya bisa membicarakan banyak hal dengan keluarga saya. 

Ketika suami mendapatkan tugas di Taiwan, saya benar-benar bahagia sekali untuk tinggal di salah satu negeri di Asia. Saya membayangkan jarak dan waktunya yang tidak sejauh seperti Austria dan Estonia, yang letaknya di Eropa. Namun, tantangan muncul kembali. Kami pindah bertepatan dengan pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Sebagaimana kita ketahui, pandemi telah menutup akses seluruh dunia termasuk kami yang tinggal di Taiwan.

Saat itu, saya sedang hamil besar. Saya ingin orang tua saya bisa berada di Taiwan, menemani kelahiran anak saya. Alhamdulillah, orang tua saya sempat berada di Taiwan satu bulan setelah saya melahirkan. Orang tua saya pun harus segera kembali ke tanah air karena seluruh dunia sudah mulai diberlakukan locked down

Sebagaimana umumnya anak perempuan yang menjadi seorang ibu untuk pertama kalinya, saya ingin sekali orang tua saya berada bersama saya untuk membantu saya. Sayangnya, hal itu tidak bisa dilakukan mengingat kondisi pandemi juga. Orang tua saya tidak bisa menemani atau membantu saya selama proses pengalaman menjadi ibu pertama untuk saya. Itu adalah masa terberat dalam hidup saya. Selain itu, suami pun harus bertugas “terbang” berminggu-minggu pada saat itu, sehingga membuat situasi saya semakin menantang.

Kesedihan tinggal jauh dari keluarga di Indonesia pun melanda saat itu, manakala saya harus mengurus semuanya seorang diri. Saya tidak bisa meminta bantuan babysitter atau cleaning service karena situasi di Taiwan yang begitu strict saat pandemi Covid-19 tersebut. Di titik itu, kemandirian saya diuji untuk mengatasi persoalan yang saya alami seperti kesedihan dan kesepian. Menurut saya, ketegaran adalah fondasi utama, yang membuat saya bisa melangsungkan kehidupan sehari-hari dengan baik.

Saya berpesan kepada sahabat Ruanita yang juga relate dengan cerita saya atau mengalami perasaan yang sama, I feel you. Pertama, acknowledge your feeling karena hal itu adalah wajar untuk merasakan perasaan-perasaan yang terjadi dalam diri kita. Validasikan rasa sedih, kecewa, marah, kesepian dan sebagainya, kemudian, ayo bangkit! Kita tidak boleh berlarut-larut terjebak dalam perasaan-perasaan tersebut. 

Kunci utama saya, berdasarkan pengalaman tersebut adalah mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa. Saya belajar ikhlas. Sahabat Ruanita juga bisa mencari teman atau social support group yang menjadi komunitas positif untuk saling mendukung satu sama lain. Terakhir, kita perlu juga melakukan olahraga. Tidak harus yang rumit, tetapi minimal kita bisa berjalan kaki ribuan langkah untuk menciptakan positive mind and body

Berdasarkan tinggal di tiga negara yang berbeda, saya merasakan bagaimana WNI dapat membangun community support yang equal, asalkan mendapatkan dukungan dari KBRI/KJRI. Penting rasanya untuk membangun solidaritas selama kita tinggal jauh dari tanah air. The last, saya juga berharap agar KBRI/KJRI dapat menyediakan social support community untuk WNI di mana saja. 

Penulis: Nikita Nazhira tinggal di Taiwan dan dapat dikontak di IG nazhira.

(CERITA SAHABAT) Apa Itu Cancel Culture?

Pernah mendengar istilah cancel culture? Menurut Fadologi, blog yang membahas frasa populer di media sosial menyebutkan istilah cancel culture merujuk pada aksi, gerakan menolak seorang publik figur atau perusahaan akibat perilaku atau pernyataan yang dianggap tidak pantas. Aksi ini umumnya terjadi di kalangan pengguna media sosial.

Alih-alih digunakan untuk memberi efek jera, cancel culture tak jarang berubah menjadi perilaku bullying pada pelakunya. Akibatnya mereka yang terkena imbasnya menjadi depresi dan memilih menarik diri dari lingkungan.

Cancel culture bisa menyebabkan seseorang kehilangan rasa empati. Fenomena ini juga menimbulkan masalah sosial lain berupa kekhawatiran takut akan penolakan.

Cancel culture terdapat dalam konsep Habermas tentang ruang publik(1962). Pada bukunya The structural transformation of the public sphere: An inquiry into a category of bourgeois society menyebutkan bahwa ruang publik dikuasai oleh kaum elit.

Saat itu, produser, sutradara serta sejumlah penguasa memiliki kemampuan untuk memilih pekerja di industri media, mengatur headline berita, memboikot dan membuat daftar hitam bagi mereka yang tidak diinginkan.

Zaman berganti internet membuat keterbatasan menjadi tak terbatas. Kini siapa saja dengan mudah mengakses dan berbagi informasi peran media menjadi kontrol sosial pun menjadi bias.

Fenomena cancel culture tak hanya menjadi masalah sosial tapi juga kesehatan. Pada dasarnya kita adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan berdasarkan rasa empati dan tolong menolong. Namun sikap penolakan ini tentu akan menimbulkan emosi negatif bagi orang-orang yang terlibat.

Walau begitu beberapa kasus cancel culture berhasil memerangi kasus seksisme dan rasisme. Salah satunya peristiwa yang menimpa pedangdut Saipul Jamil, ia diboikot untuk tampil di acara televisi usai bebas dari penjara karena terjerat kasus pedofilia.

Akibat peristiwa tersebut masyarakat Indonesia kini menjadi lebih peduli terhadap kasus penyimpangan seks ini dan menjadi lebih awas dalam melindungi anak.

Penulis: Farah Fuadona, WNI yang saat ini berdomisili di Ankara, Turki. Suka menulis dan berteman untuk menambah pengalaman.

(CERITA SAHABAT) Sempat Menjadi Stay at Home Mom, Ajari Saya Atasi Emotionally Drained Mental Clutter

Hai, nama saya Yuanita Nurdiana dan biasa dipanggil Nita. Saat ini, saya tinggal di Bogor sejak lulus SMP tahun 2004 hingga sekarang. Aktivitas saya sekarang bekerja di Perusahaan Jasa Keuangan Syariah sebagai Kepala Bagian Recruitment & Assessment.

Kegiatan sehari hari adalah menjalani kehidupan bekerja full time semenjak lulus kuliah, menikah, dan akhirnya memiliki buah hati. Sebelumnya, saya dan suami masih tinggal bersama orang tua saya, sehingga keberadaan mereka sangat membantu dalam menjaga anak ketika saya dan suami bekerja. Suatu hari, saya mendapatkan kabar adik ibu saya lebih membutuhkan bantuan ibu disebabkan dia harus menjalani pengobatan kanker. Selain itu, hasil test kehamilan menyatakan saya mengandung anak kedua.

Kondisi tersebut membuat saya stres, bukan hanya karena keadaan dalam keluarga melainkan di saat yang bersamaan saya sedang menjalani masa promosi kenaikan jabatan setelah 5 tahun bekerja. Saya merasa sangat sedih, kacau, dan berpikir mengapa tidak ada seorang pun yang me-support kebutuhan saya. Setelah berdiskusi dengan suami dan keluarga, akhir tahun 2019 dengan berat hati saya menolak promosi kenaikan jabatan dan mengundurkan diri dari tempat bekerja.

Awalnya saya menikmati menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT), saya merasa santai dan bebas ingin melakukan apa saja tanpa harus menunggu weekend yang tentunya sambil menunggu kelahiran buah hati anak kedua kami. Tidak lama setelah anak kedua kami lahir, saya dan suami memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua dan belajar hidup mandiri.

Saya merasa sangat senang, setidaknya saya bisa membuktikan kepada lingkup sosial kami bahwa kami pun bisa hidup mandiri. Namun seiring berjalannya waktu, aktivitas sehari-hari saya menjadi sangat monoton. Saya merasa bosan dan lelah dengan aktivitas yang sama setiap harinya, yaitu mengurus 2 anak sekaligus. Saya merasa jenuh dengan keadaan ini yang sangat berbeda ketika saya bekerja.

Saya merasa kecewa karena saya merasa tidak bisa berinteraksi dengan orang dewasa. Setiap hari yang saya hadapi adalah dua anak kecil. Saya merasa depresi sampai berkonsultasi ke profesional via online, tetapi saya merasa tidak lebih baik.Akhir tahun 2019 bertepatan dengan issue yang mengawali datangnya pandemi membuat dunia saya semakin kecil. Ketika pemerintah memutuskan untuk memberlakukan Work From Home (WFH), menutup, atau bahkan sangat membatasi aktivitas di luar rumah, di situ saya merasa semakin stres lagi.

Saya harus mengurus Toddler dan bayi tanpa bantuan orang lain, kecuali suami. Sistem WFH memang sepanjang waktu suami ada di rumah, tetapi tidak menjadi lebih banyak waktu untuk bisa membantu mengurus anak. Bahkan suami tidak jarang weekend pun masih harus menghadiri meeting online.

Kondisi tersebut sangat menguras emosi saya, tidak jarang saya sedikit berteriak ketika berbicara ke anak. Saya merasa sedih tetapi saya pun merasa tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.Tahun 2022 kami harus pindah ke rumah ibu mertua saya disebabkan oleh beberapa hal. Setelah ayah mertua meninggal tahun 2021, ibu mertua memutuskan untuk pindah dari Surabaya ke Bogor, kota tempat tinggal kami. Selain itu, hanya kami yang memungkinkan untuk pindah menemani beliau. Jujur saya akui kalau kondisi inilah yang membuat saya semakin drop, merasa useless, dan stagnant berada di rumah mertua tanpa pekerjaan.

Saya merasakan hal yang sama setiap harinya, kurang berinteraksi dengan orang dewasa, sehingga membuat saya benar-benar bosan, jenuh, dan kurang bersemangat. Namun, saya tidak bisa mengekspresikan diri karena saya tinggal dengan ibu mertua. Saya merasa sangat depresi. Saya mengalami emosi yang tidak stabil, seringkali saya melimpahkannya ke anak-anak. Saat itu, hanya ada media sosial yang bisa menghibur saya. Namun, hal baru yang saya peroleh adalah saya belajar untuk berjualan mukena secara online. Walaupun hanya di saat tertentu seperti momen Idul Fitri dan Idul Adha tetapi saya cukup senang dengan hasil yang diperoleh.

Tidak hanya itu, hubungan yang sangat baik dengan kakak dan adik saya sangat menolong dan dapat menstabilkan emosional saya. Setiap weekend kakak selalu mengajak saya keluar walaupun hanya minum di coffee shop. Ketika ada kesempatan santai di rumah, waktu tersebut saya usahakan untuk bisa menghubungi teman atau sahabat. Bertukar cerita dengan mereka membuat saya merasa tidak sendirian menjalani hidup yang seperti ini.Mempelajari hal baru yaitu berjualan secara online adalah hasil positif di tengah kondisi emosi yang sangat tidak stabil.

Saya juga pernah diundang menjadi pembicara di kelas Psikologi Industri & Organisasi oleh teman yang juga seorang dosen di salah satu Universitas Swasta di Kota Depok. Berbagi cerita dan pengalaman sebagai seorang HRD kepada mahasiswa membuat saya senang dan merasa diri masih mampu dan berguna meski sekedar berbagi ilmu dengan teman dan adik-adik mahasiswa.

Dari keseluruhan kondisi yang saya alami, besar dampaknya pada beberapa hal dalam diri saya. Beberapa diantaranya emosi menjadi tidak stabil, merasa sangat tidak berdaya, jenuh, lelah, dan sangat bosan dengan aktivitas sehari-hari yang monoton. Bahkan sampai seringkali saya merasa “stuck” dan tidak tahu lagi harus bagaimana. Hal yang sangat saya syukuri adalah peran pasangan dan keluarga yang benar-benar memahami, mengerti, bahkan membantu yang tentunya dengan cara mereka. Saya merasa kunci utama untuk diri saya bisa bertahan dan menjalani semua ini adalah pasangan. Dia yang selalu menguatkan, memotivasi, dan mendukung apapun pilihan yang akan saya jalani nantinya.

Begitupun dengan keluarga, mereka tidak mempermasalahkan status saya yang menjadi Ibu Rumah Tangga. Ibu saya berkata, “Sebagai wanita, kita tidak boleh bergantung seratus persen pada suami dalam hal finansial, karena kita tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi suatu saat nanti”.

Tidak sampai di situ, menurut saya peran pasangan dan keluarga sangat berpengaruh terhadap kesehatan, baik fisik maupun mental. Jangan meremehkan kegiatan yang kita jalani sekarang! Emotionally Drained Mental Clutter ini sebagai dampak nyata dari kesediaan saya mengalah dan berada pada kondisi di luar keinginan hati nurani.

Tantangan dan kendala yang saya hadapi pada kondisi tersebut adalah bagaimana caranya supaya saya dapat melihat dan menjalani hal tersebut menjadi sesuatu yang “biasa” dan tidak menimbulkan efek stres berkepanjangan. Saya melakukan aktivitas yang monoton, tidak bisa berinteraksi dengan orang sebaya, merasa stagnan bahkan seringkali merasa insecure pada diri sendiri. Saya sampai merasa iri melihat dan mendengar perkembangan karier teman-teman di luar.

Saya kemudian beradaptasi dan berdamai dengan rutinitas sebagai Stay at Home Mom. Cara saya mengatasi tantangan dan kendala tersebut adalah dengan memperbanyak ibadah, banyak bersyukur, healing bersama keluarga dan juga mengurangi bermain media sosial, terutama Instagram.Harapan saya kepada keluarga dan pasangan, semoga kalian bisa menjadi garda terdepan yang selalu support. Sebagaimana saya menjalani peran menjadi stay at home Mom, itu bukan hal yang mudah.

Untuk ranah sosial, saya berharap kita tidak perlu membandingkan siapa yang paling baik atau melelahkan antara ibu pekerja dengan ibu rumah tangga karena kita semua sudah berada di posisi terbaik saat ini, apapun itu pilihannya.

Pesan saya untuk teman-teman yang mengalami kondisi hampir sama dengan efek Emotionally Drained Mental Clutter, saya percaya bahwa kita mampu untuk mengatasinya. Khusus untuk teman-teman yang tinggal di luar negeri, dengan terbatasnya support keluarga dikarenakan beda negara, saya yakin tingkat kesulitannya menjadi berlipat.

Saya hanya ingin sampaikan bahwa Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita dalam kondisi apapun, seperti yang disampaikan dalam ayat Al Quran yg selalu menguatkan saya ketika saya down yaitu Surat Al-Baqarah ayat 286 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Terima kasih!

Penulis: Inur Darham, tinggal di Swiss dan dapat dikontak di akun IG: inur_darham berdasarkan wawancara seorang sahabat, Yuanita Nurdiana yang tinggal di Bogor.