(PELITA) Sempat Jadi Single Mom, Kini Menetap di Inggris Demi Membesarkan Anak dengan Berkebutuhan Khusus

Dalam episode 11 Parentingtalks with Ruanita atau PELITA, Stephanie Iriana Pasaribu mengundang sahabat Ruanita yang kini menetap di Inggris untuk berdiskusi tentang merawat dan membesarkan anak dengan berkebutuhan khusus.

Dia adalah Anastasia Betty yang pernah menjadi guru selama dua puluh lima tahun di Jakarta. Kemudian Betty kini berfokus pada kariernya sebagai Nursery Practitioners atau Council Nursery selama dua tahun di London. Di Indonesia, pekerjaan Betty dinilai seperti guru taman kanak-kanak.

Sejak Betty masih berada di Indonesia, dia sudah menyadari kalau anaknya dengan Autisme. Betty sempat menyadari kalau anaknya tuli karena anaknya tidak merespon pembicaraan. Perlahan Betty memperhatikan perkembangan anaknya yang menyusun balok dengan sempurna dan senang memperhatikan dengan detil air mancur atau kipas angin.

Follow us

Betty sempat mengalami kendala dari mantan suaminya yang menolak status anaknya dengan berkebutuhan khusus. Betty pun harus sembunyi-sembunyi untuk membawanya ke terapi yang diperlukan.

Mantan suami Betty tidak mendukung apa yang diperjuangkan Betty untuk biaya terapi yang sangat mahal. Betty pun menyadari mantan suami tidak mendukung untuk anaknya mendapatkan layanan yang tepat dan sesuai untuk kebutuhannya.

Betty melihat bahwa anaknya memiliki masalah dalam motorik halusnya, sehingga anaknya sampai sekarang tidak bisa memecahkan telur atau menggunting. Betty menduga permasalahan dengan anaknya terkendala karena tidak ada komunikasi yang baik dengan anak.

Betty hampir putus asa dengan kondisi anaknya dan permasalahan perkawinannya dengan mantan suaminya. Berbekal pendidikan dan pengalamannya sebagai guru, Betty merawat dan membesarkan anaknya agar dapat bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.

Setelah bercerai dari mantan suami pertama, Betty mengurus dan membesarkan anaknya selama sebelas tahun sebelum akhirnya dia pindah ke Inggris.

Bagaimana perjuangan Betty membesarkan anaknya? Apa yang terjadi sehingga Betty memutuskan membawa anaknya ke Inggris? Bagaimana pengurusan anak dengan kebutuhan khusus di Inggris? Apa saja bentuk dukungan pemerintah Inggris terhadap Betty untuk merawat dan membesarkan anaknya?

Lebih lanjut tentang diskusi ini, dapat dilihat di kanal YouTube ini:

Untuk mendukung kami, silakan subscribe kanal YouTube kami.

(PELITA) Mengapa Memilih Childfree?

Pada episode ke-10 di bulan Oktober 2023 program PELITA mengambil tema tentang Childfree yang terjadi di Indonesia. Untuk membahas lebih dalam, Ruanita (=Rumah Aman Kita) Indonesia mengundang dua narasumber yang menjadi penggiat Childfree di Indonesia.

Mereka adalah Ratu Victoria Tunggono yang adalah penulis buku “Childfree” dan lainnya adalah Kei Savourie yang adalah seorang founder dari Kelascinta.

Stephanie mengawali diskusi tentang bagaimana asal mula mereka memilih menjadi Childfree di Indonesia.

Victoria sendiri telah menemukan buku dan komunitas yang membahas lebih dalam tentang Childfree sehingga dia bisa membedakan apa itu childfree dan childless.

Sedangkan Kei lebih menekankan untuk memilih hidup tidak harus sesuai dengan apa yang terjadi pada kebanyakan masyarakat di Indonesia, termasuk memilih Childfree. Kei sendiri akhirnya berhasil memilih ketika dia menemukan istri yang akhirnya menyepakati pilihan Childfree setelah menikah.

Kei juga menjelaskan bahwa pilihan Childfree muncul ketika dunia sudah diperkenalkan dengan pilihan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.

Follow us

Kei dan Victoria menyadari bahwa mereka dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang sangat baik sebagai role model, sedangkan mereka berdua merasa tidak yakin bisa menjadi orang tua yang baik.

Baik Victoria maupun Kei menyadari bahwa masyarakat Indonesia memiliki big pressure sebagai orang tua. Meski demikian, diskusi terbuka seperti yang digagas Ruanita Indonesia ini sangat efektif untuk menepis mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Contohnya, masyarakat memandang perempuan dianggap egois kalau memilih Childfree.

Victoria sangat menghormati orang-orang yang sudah memilih menjadi orang tua dan berharap agar pilihan orang tua sebagai ikatan batin seumur hidup. Menjadi orang tua harus bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut dan tidak menjadikan anak sebagai “eksperimen” atau coba-coba.

Subscribe kanal YouTube kami ya untuk mendukung program kami.

(PELITA) Tantangan Single Mom yang Tinggal di Luar Indonesia

Salah satu program yang dilakukan oleh RUANITA adalah program Parentingtalks with RUANITA atau yang disingkat PELITA. Program ini biasa dibawakan oleh Stephany Iriana Pasaribu, seorang mahasiswi S3 di salah satu universitas di Belanda dan juga seorang Single Mom.

Mulai episode 9 Stephany akan membawakan format baru, yang mana PELITA tidak lagi dalam bentuk monolog. PELITA akan menjadi dialog antara Stephany dengan narasumber yang diundangnya untuk membahas tema pengasuhan dari sisi berbeda.

Pada episode 9 ini, Stephany mengundang Sekar Istianingrum yang sudah sepuluh tahun tinggal di Swiss. Selama tujuh tahun, Sekar menikah dengan pria berkewarganegaraan Swiss yang kemudian kandas setelah kelahiran anak semata wayangnya.

Follow us: @ruanita.indonesia

Sekar bercerita bagaimana dia dan mantan suami telah berupaya untuk melakukan konseling untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangganya. Sayangnya, Sekar dan mantan suaminya tidak bisa lagi mempertahankannya. Sekar dan mantan suami kemudian memutuskan menjalani konsep co-parenting.

Sebagai awalan, Stephany juga menanyakan aktivitas sehari-hari Sekar yang menghabiskan 80% waktunya dalam seminggu untuk bekerja. Sisanya sekar menghabiskan waktu bersama anak semata wayangnya. Sekar pun memiliki kiat khusus agar life balanced dapat berjalan optimal bagi kesejahteraan dirinya dan buah hatinya.

Bagaimana perjalanan Sekar hingga tiba di Swiss? Apa saja tantangan yang dihadapinya sebagai Single Mom selama tinggal di luar Indonesia? Bagaimana Sekar mengatasi problema hidup yang dijalaninya sebagai Single Mom? Apa saja bentuk dukungan dari Pemerintah Swiss untuk Sekar sebagai Single Mom? Lalu apa saja pesan Sekar untuk Single Mom yang tinggal di Indonesia dan luar Indonesia?

Simak jawabannya dalam kanal YouTube kami berikut ini.

(PELITA) Pahami Tumbuh Kembang Anak Usia Bayi hingga 5 Tahun

Episode PELITA – Parentingtalk with RUANITA – kedelapan di bulan Maret 2023 kali ini membahas tentang tahapan-tahapan tumbuh kembang anak (atau developmental milestones) pada anak usia bayi hingga 5 tahun. Tahapan tumbuh kembang anak sangat menarik untuk diperbincangkan diantara para orang tua supaya adanya pemahaman tentang titik-titik yang menjadi acuan dalam tumbuh kembang anak.

Pada diskusi kali ini, Stephany menjelaskan bahwa titik tumbuh kembang anak mempunyai tahapan-tahapan tertentu sesuai dengan usia biologis sang anak dan ini ditandai oleh beberapa domain yang patut diobservasi oleh para orang tua.

Nah, apa sih yang dimaksud dengan tahapan tumbuh kembang anak?

Follow us: @ruanita.indonesia

Sedari anak usia bayi hingga usia lima tahun, anak akan mengalami fase-fase perkembangan di dalam fungsi indera mereka dimana perubahan tersebut merupakan perkembangan secara kualitatif yang berjalan secara linear dengan usia biologis anak.

Contohnya adalah kemampuan anak usia 1 tahun tentulah berbeda dengan kemampuan anak usia 3 tahun. Ini dikarenakan fungsi-fungsi motorik mereka seperti motorik kasar dan motorik halus ditambah dengan fungsi-fungsi lain seperti fungsi sosial dan tingkah laku akan mengalami perkembangan; juga fungsi indera pendengaran, penglihatan, dan fungsi kognitif. Peran observasi dari orang tua dalam tumbuh kembang anak dirasa sangat penting agar orang tua bisa mendeteksi secara dini jika buah hati mereka mengalami keterlambatan.

Di dalam episode ini, Stephany membahas secara detail tumbuh kembang anak yang dilalui sesuai tahapan usia biologis anak – dari usia bayi hingga usia 5 tahun – dan faktor-faktor apa saja yang bisa menyebabkan anak mengalami keterlambatan dalam tumbuh kembangnya. Selain itu, Stephany juga membagikan tips apa yang seharusnya dilakukan orang tua jika buah hati mereka mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan.

Untuk mengetahui secara lengkapnya, sahabat Ruanita bisa menonton di kanal YouTube Ruanita dan jangan lupa untuk klik berlangganan atau subscribe dan juga klik simbol lonceng supaya para sahabat Ruanita tidak ketinggalan diskusi-diskusi menarik lainnya dari Ruanita.

Lalu jika dirasakan tayangan PELITA kali ini menarik dan akan bermanfaat bagi para orang tua pada umumnya, khususnya mereka yang baru merasakan menjadi orang tua, para sahabat Ruanita juga bisa membagikan tautan video YouTube di bawah ini.

Penulis: Putri T. berdomisili di Jerman (akun IG: pupsaloompa)

(PELITA) Adakah Pengaruh Budaya dan Psikologi terhadap Ngidam Saat Hamil, Apalagi di Luar Negeri?

Episode PELITA – Parentingtalk with RUANITA – yang ketujuh di bulan Januari 2023 membahas perihal Ngidam saat hamil atau dalam Bahasa Inggris disebut sebagai “food craving during pregnancy” yang selama ini masih menjadi pertanyaan para ahli, mengapa ada sebagian perempuan mengalami ngidam dan sebagian lagi tidak?

Stephany menjelaskan bagaimana ngidam yang dialami seorang perempuan tidak terlepas dari pengaruh psikologi dan budaya dari perempuan yang hamil tersebut, di mana dia tinggal atau dari mana perempuan tersebut berasal. Stephany mengatakan kalau ngidam makanan tertentu bisa jadi dikaitkan dengan kebutuhan nutrisi yang diperlukan seorang ibu saat hamil.

Misalnya ada seorang ibu yang hamil dan ngidam makan daging, padahal selama ini dia adalah seorang vegetarian. Ahli menyebut bahwa hormon pada saat hamil berkembang sehingga tubuh perempuan meminta nutrisi yang diinginkannya, seperti kebutuhan akan zat besi dari daging yang selama ini tidak diperolehnya. Itu hanya contoh saja, dari sekian banyak ngidam yang dialami oleh banyak perempuan terutama dari Asia.

Sejujurnya Stephany sudah berusaha mencari lebih banyak literatur terkait ngidam dalam teks berbahasa Inggris atau fenomena yang terjadi dalam budaya barat, ternyata tidak banyak ditemukan. Ngidam dalam perpektif budaya Asia, terutama Indonesia biasanya berkaitan dengan budaya atau cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang sedang hamil.

Sebagai contoh, Stephany menceritakan pengalaman pribadinya ketika dia hamil dan sedang berada di Indonesia. Dia kerap mendapatkan pertanyaan-pertanyaan identik misalnya, “Sedang ngidam apa bu?” atau Ibu dari Stephany juga tak segan memenuhi makanan yang diinginkan Stephany sesulit apa pun.

Contohnya Stephany ngidam Baklava, snack manis dari Yunani. Beruntung Stephany bisa mendapatkan Baklava di Indonesia sehingga dia bisa menikmati Baklava tersebut. Meskipun begitu, kita harus tahu apakah ngidam itu begitu intense dan dalam porsi besar? Kembali ke soal Baklava yang begitu manis, agar ibu yang ngidam perlu memperhatikan asupan nutris agar tidak banyak gula yang dikonsumsinya.

Follow akun IG @ruanita.indonesia

Artinya ngidam perlu memperhatikan kondisi kesehatan ibu dan bayi yang dikandungnya sehingga tidak perlu berlebihan. Stephany juga ngidam Yogurt Turkish yang memang begitu sulit ditemukan saat di Jakarta. Menurut Stephany, Baklava dan Yogurt Turkish yang diidam-idamkannya adalah bentuk memori terindah dia bersama suami saat menikmatinya di Belanda. Artinya ngidam juga bisa dikaitkan dengan kenangan akan makanan tersebut.

Selain itu, ibu yang ngidam juga perlu memperhatikan konteks kondisi ibu terutama ibu yang memiliki masalah kesehatan seperti obesitas, eating disorders atau food restrictions karena bagaimana pun saat ngidam juga ibu memiliki keinginan untuk menikmati makanan yang selama ini di luar kebiasaannya.

Stephany menyarankan agar ibu bisa berkonsultasi dengan ahli/profesional bila ibu memiliki kondisi kesehatan yang sudah menjadi penyertanya. Dalam beberapa kasus tertentu, ngidam juga memiliki idaman makanan yang ekstrim seperti bubuk deterjen misalnya. Ini sudah tidak wajar.

Hal tidak wajar misalnya ngidam makanan yang dimasak oleh suami atau ngidam pakai baju merah. Dalam konteks budaya di Amerika atau Eropa tidak ditemukan banyak perempuan yang mengalami ngidam. Bahkan secara psikologis bisa jadi ngidam merupakan ekspresi dari kenyamanan yang dibutuhkan perempuan saat hamil.

Lebih lanjut tentang penjelasan dari keilmuan Stephany dan pengalamannya sebagai ibu bisa dicek di kanal YouTube kami berikut:

Subscribe kanal YouTube kami.

(PELITA) Anak Saya Speech Delay Karena Dia Dengar 4 Bahasa

Episode Parentingtalk with RUANITA (=PELITA) pada bulan November 2022 ini mengambil tema tentang perkembangan bahasa anak, terutama anak-anak yang lahir dan besar pada keluarga multiculture. Seperti biasa, Stephany yang menjadi Host dari program PELITA menjelaskan dengan baik dari keilmuan psikologi yang dipelajarinya dan pengalamannya sebagai ibu dari seorang anak laki-laki berusia 7 tahun.

Stephany awalnya bingung ketika anaknya lahir dengan bahasa yang beragam di mana Stephany saat itu tinggal di Belanda untuk menempuh pendidikan lanjutan S3 di salah satu universitas di sana. Stephany berbicara dengan anaknya menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sementara ayah dari anaknya berbicara dengan Bahasa Inggris, Bahasa Belanda, terkadang Bahasa Arab.

Berdasarkan pengalamannya tersebut, anak Stephany mengalami speech delay sehingga dia pun segera mencari tahu dan menanyakan keterlambatan bicara anaknya pada ahlinya. Terkadang kita begitu mempercayai pendapat budaya yang mengatakan bahwa speech delay pada anak-anak seusianya itu adalah hal yang umum padahal kita perlu mencari tahu penyebabnya.

Stephany menceritakan bahwa anaknya mengalami kebingungan untuk memformulasikan kalimat karena dia mendengar empat bahasa sekaligus. Tak jarang anaknya pun mengucapkan kata yang bercampur dan tidak konsisten pada 1 bahasa, misalnya: ini Auto, auto adalah mobil dalam Bahasa Belanda.

Stephany juga menceritakan metode one language one person di mana orang tua perlu konsisten untuk mengajarkan pada 1 bahasa yang benar-benar dikuasai saja pada anak. Orang tua juga perlu keseriusan dan komitmen untuk mengajarkan pada anak yang dibesarkan secara bilingual, termasuk bagaimana orang tua juga harus bisa menjadi role model bagi anak-anaknya.

Jika memang tidak ingin anak berbicara bahasa yang campur maka sebaiknya orang tua juga tidak berbicara hal yang sama. Orang tua juga perlu mengapresiasi setiap langkah kecil dari perkembangan anak seperti tidak memaksa anak apabila dia sudah merasa kelelahan dengan bahasa bilingual yang dipelajarinya.

Penjelasan Stephany dengan bahasa sederhana dari keilmuan dan pengalamannya membuat program PELITA kerap dinantikan oleh sahabat RUANITA yang mencari tahu lebih banyak tentang tema pengasuhan di mancanegara. Kalau ada saran/pertanyaan, silakan kirim ke info@ruanita.com.

PELITA Episode 7 dapat disimak sebagai berikut:

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.

(PELITA) Toilet Training Untuk Anak Batita, Bagaimana Sih?

Episode ke-6 PELITA: Parentingtalk with RUANITA yang dibawakan oleh Stephany Iriana Pasaribu bertemakan Toilet Training untuk anak bawah tiga tahun. Tak mudah bagi orang tua untuk mengajari anak melakukan kegiatan buang air kecil dan buang air besar secara mandiri, apalagi untuk anak berusia di bawah tiga tahun.

Proses berlangsung toilet training tiap anak berbeda-beda, yang berkisar sekitar 18 bulan hingga 3 tahun. Orang tua perlu mengenali kesiapan anak untuk mulai dengan toilet training melalui beberapa tandanya seperti yang dijelaskan Stephany.

Contohnya, apakah anak sudah bisa berjalan dan sudah bisa duduk? Apakah anak sudah bisa mengucapkan komunikasi yang pendek? Tanda lain yang mungkin dianggap sepele adalah apakah anak dapat menaikkan atau menurunkan celana yang digunakannya atau masih perlu bantuan orang lain?

Follow akun: ruanita.indonesia

Untuk melakukan latihan buang air besar dan buang air kecil, orang tua dapat menyiapkan peralatan sederhana. Orang tua bisa memberikan alat bantu yang biasanya tersedia di toko kebutuhan anak.

Stephany menyarankan agar orang tua mengajak anaknya untuk memilih potty yang sesuai dengan selera anak agar anak merasa nyaman dan menumbuhkan rasa kepemilikan.

Saran lain dari Stephany, biarkan anak memainkan potty sepanjang itu bersih untuk dimainkan sehingga anak tidak merasa canggung. Selain itu, orang tua perlu mendorong anak untuk dapat melakukan latihan dengan baik seperti memberikan stiker ke anak bila anak telah mencoba.

Poin yang diperhatikan lainnya adalah dorongan seperti hadiah atau pujian dilakukan setelah anak mencobanya dan hargai apa pun usahanya. Orang tua tidak boleh marah bila anak belum berhasil atau salah melakukannya. Perhatikan juga, dengan siapa anak merasa nyaman untuk latihan ini?

Diperlukan kesabaran dan kreativitas orang tua agar proses Toilet Training anak berjalan dengan baik dan teratur. Tak hanya menjelaskan secara teori saja, Stephany juga membicarakan dari pengalamannya sebagai ibu dalam melatih kebutuhan buang air untuk anaknya.

Seperti apa penjelasan dan pengalaman Stephany, sila saksikan dalam tayangan berikut:

Dukung kami dengan subscribe channel kami ya.

Jika ada saran/pertanyaan, silakan kontak info@ruanita.com atau follow akun media sosial seperti IG: @ruanita.indonesia atau FB Fanpage: Ruanita – Rumah Aman Kita.

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.

(PELITA) Anak dengan Autisme Sensitif pada Cahaya dan Sentuhan

Episode Parentingtalk with RUANITA atau disingkat PELITA pada bulan September 2022 ini membahas tentang anak dengan Autisme.

Biasanya tak mudah orang tua mengenali tanda-tanda gangguan perkembangan ini pada usia 1-2 tahun karena semua tampak terlihat wajar. Misalnya, anak di usia satu tahun sudah bisa mengucapkan sekian banyak kata, tetapi anak mengalami keterlambatan bicara.

Tanda berikutnya yang mudah dikenali adalah repetitive movement pada anak dengan Autisme.

Gejala yang paling jelas lainnya adalah eye contact seperti cara melihat anak yang berbeda atau menghindari tatapan mata kita.

Follow akun: ruanita.indonesia

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa anak lelaki punya risiko empat kali lebih besar dibandingkan dengan anak perempuan.

Selain itu, belum ada kaitan antara risiko anak dengan Autisme terhadap status ekonomi, tingkat pendidikan orang tua dan lain sebagainya sehingga orang tua tidak perlu merasa bersalah ketika anak mengalami Autisme. Anak dengan Autisme juga mengalami kesulitan ketika harus berinteraksi sosial dengan anak lainnya.

Orang tua perlu mengenali gangguan perkembangan anak di usia lebih dini seperti 1-2 tahun sehingga penanganannya lebih optimal karena memang anak-anak tampak normal di usia 1-2 tahun.

Anak dengan Autisme biasanya sensitif terhadap cahaya, sentuhan, bau, suara, dan lainnya yang tampak mirip dengan anak dengan gangguan pemrosesan sensori yang sudah dibahas pada episode sebelumnya.

Anak dengan Autisme tampak menarik diri dan biasanya asyik dengan “dunianya” sendiri. Permainan anak dengan Autisme juga tidak melibatkan dengan orang lain atau teman lain, tidak cukup responsif dari orang sekitarnya sehingga muncul penilaian kalau anak dengan Autisme itu kurang empati.

Padahal itu tidak demikian. Anak dengan Autisme biasanya tidak mampu untuk meniru dalam permainan atau melakukan permainan yang tampak rigid.

Simak pemaparan Stephanie lebih lanjut berikut ini:

Jika ada saran/pertanyaan, silakan kontak info@ruanita.com atau follow akun media sosial seperti IG: @ruanita.indonesia atau FB Fanpage: Ruanita – Rumah Aman Kita.

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.

(PELITA) Bagaimana Depresi pada Ibu Melahirkan Terjadi?

Ruanita – Rumah Aman Kita menyelenggarakan program PELITA: Parenting with Ruanita yang membahas tema-tema pengasuhan anak yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di mancanegara. Program PELITA hadir tiap bulan sekali berupa video pendek, tak lebih dari 30 menit, yang bercerita tentang tema pengasuhan anak yang dialami orang-orang Indonesia di mancanegara.

Melalui PELITA, Ruanita mengajak warga Indonesia yang tinggal di mancanegara untuk berbagi cerita dan pengetahuan tentang pengalamannya agar dapat mempromosikan praktik baik – keterampilan hidup – di luar negeri. Ide parenting dikumpulkan dari berbagai masukan dan informasi yang dihadapi orang-orang Indonesia sehari-hari.

Pemandu dari PELITA adalah Stephanie Iriana Pasaribu, seorang ibu dan mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi S3 di Belanda. Dengan latar belakang keilumuan dan pengalamannya, Stephanie bercerita dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami tentang isu-isu parenting yang tak banyak diketahui.

Seperti tema pada episode ke-3 adalah depresi yang tak banyak diketahui oleh para ibu yang melahirkan. Kondisi depresi pada ibu yang melahirkan bisa berlangsung pendek dan panjang. Dengan intensitas dan frekuensinya, kita perlu memahami apakah itu Postpartum Depression atau Baby Blues – yang kemudian dijelaskan dengan baik oleh Stephanie.

Selain faktor penyebab terjadinya depresi, Stephanie juga menceritakan dukungan sosial penting bagi seorang ibu yang baru saja melahirkan. Ketika bayi dilahirkan, kita tidak hanya memikirkan tentang kondisi bayinya saja, tetapi juga kondisi si ibu termasuk kesiapan mentalnya apalagi saat tinggal di mancanegara. Bayi yang sehat dan ibu yang sehat merupakan faktor keberhasilan tumbuh kembang anak yang diperlukan dalam keluarga.

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.

(PELITA) Kenali Gangguan Perkembangan Anak yang Menyangkut Sensori Sejak Dini

Tak banyak orang tua yang berhasil mengenali gangguan perkembangan yang dialami anaknya, terutama bagaimana anak dapat merespon dengan tepat sesuai panca inderanya. Respon anak dengan gangguan pemrosesan sensori bisa berlebihan atau bisa berkurang. Hal ini dialami langsung oleh Stephanie, yang adalah seorang ibu dan saat ini sedang menyelesaikan studi Ph.D di Belanda.

Stephanie bertutur dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami untuk para ibu yang berada di mancanegara meski dia memiliki keilmuan sebagai Psikolog. Gangguan pemrosesan sensori kadang bisa dikenali sebagai anak dengan Autisme, tetapi itu tidak sama.

Gangguan pemrosesan sensorik adalah suatu kondisi di mana otak mengalami kesulitan menerima dan merespons informasi yang masuk melalui indera. Anak-anak dengan gangguan pemrosesan sensorik mengalami kesulitan memproses informasi dari indera (sentuhan, gerakan, penciuman, rasa, penglihatan, dan pendengaran) dan merespons informasi tersebut dengan tepat.

Anak-anak ini biasanya memiliki satu atau lebih indera yang bereaksi berlebihan atau kurang terhadap rangsangan. Gangguan pemrosesan sensorik dapat menyebabkan masalah dengan perkembangan dan perilaku anak.

Lebih lengkap tentang penjelasan Stephanie tersebut, bisa dilihat dalam tayangan video berikut:

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.

(PELITA) Kok Anak Saya Umur Segini Belum Bicara

Stephanie menceritakan pengalamannya sebagai ibu bagaimana mengenali kondisi anak yang terlambat bicara. Tutur Stephanie, sebaiknya orang tua sudah mengidentifikasikan perkembangan anaknya sedini mungkin agar penanganannya dapat cepat teratasi.

Berdasarkan perkembangan bahasa anak, terdapat beberapa fase seberapa banyak jumlah kata yang sudah dapat disebutkan anak. Misalnya anak umur dua tahun sebaiknya sudah memiliki 150-300 kata dan dapat menyusun 2-3 kalimat.

Selain itu, keterlambatan bicara pada anak sering dikaitkan dengan gejala autis pada anak. Stephanie menjelaskan dengan baik dalam video berikut menurut keilmuannya tentang apa yang harus dilakukan untuk mengatasi anak yang terlambat bicara.

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.