(SIARAN BERITA) Pentingnya Ruang Aman di Perantauan untuk Berbagi Dukungan Psikologis

MADRID, 5 September – Komunitas perantau Indonesia di Spanyol kini memiliki ruang aman untuk saling menguatkan mental di tengah kerasnya dinamika hidup di negeri orang. Langkah ini diinisiasi oleh Ruanita Indonesia yang menggelar Sesi Nonton & Diskusi Komunitas Indonesia di Spanyol, sebuah ruang inklusif yang dirancang khusus untuk membedah tantangan psikologis warga negara Indonesia di perantauan.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI LBBP untuk Kerajaan Spanyol, Dr. Muhammad Najib. Dalam sambutannya, Dubes Muhammad Najib menyampaikan pesan penguat yang menegaskan bahwa pihak kedutaan sangat mendukung kehadiran ruang-ruang diskusi terbuka seperti ini. Beliau menekankan pentingnya bagi sesama warga Indonesia di luar negeri untuk saling berbagi dukungan psikologis, meruntuhkan stigma seputar kesehatan mental, dan bergandengan tangan menghadapi tantangan adaptasi di lingkungan yang baru. Dukungan nyata dari perwakilan RI ini menjadi legitimasi penting bagi ruang aman yang terus dibangun oleh Ruanita Indonesia.

Mengidentifikasi Gelombang Emosi di Perantauan

Selanjutnya, diskusi interaktif ini dipandu oleh dua fasilitator ahli, yaitu Bernadia Dwiyani, seorang mental health educator sekaligus co-founder Kesmenesia di Spanyol, bersama Anna Knöbl, PhD Student, Psikolog di Jerman yang juga menjadi Produser film pendek dokumenter “Dua Kali” yang mengambil setting kehidupan perantau Indonesia di Jerman. Film “Dua Kali” mengambil cerita dari Relawan Ruanita Indonesia di Jerman yang mengalami permasalahan mental saat Pandemi COVID-19 lalu dan bagaimana dia mengakses layanan kesehatan mental, disertai perjuangannya untuk mematahkan stigma sosial. Suasana diskusi berjalan dengan prinsip ruang aman yang sangat ketat, di mana lembar kerja dan cerita para peserta dijaga kerahasiaannya secara penuh.

Sesi pertama dimulai tepat setelah pemutaran Film “Dua Kali”, yang memicu para peserta untuk mengidentifikasi emosi dominan melalui kacamata karakter di layar kaca. Mereka diajak memvalidasi perasaan-perasaan berat yang kerap melanda warga Indonesia di Spanyol, mulai dari homesickness, rasa sepi ekstrim (expat loneliness), kecemasan mendalam terhadap birokrasi dan masa depan, hingga krisis kehilangan identitas diri.

Menyusun Peta Strategi Hadapi Stres

Memasuki paruh kedua acara setelah penayangan Film “Dua Kali”, fokus diskusi bergeser pada penyusunan peta koping atau strategi konkret dalam menghadapi stres. Para fasilitator memetakan dua jalur utama yang bisa diambil oleh para perantau di Spanyol.

Jalur pertama adalah problem-focused coping untuk mengubah situasi stres, seperti mulai mengambil kursus bahasa lokal, merapikan jadwal pengurusan TIE, atau aktif bergabung dalam jaringan masyarakat Indonesia di Spanyol. Jalur kedua adalah emotion-focused coping untuk menenangkan pikiran saat situasi belum bisa diubah, yang diimplementasikan melalui aksi sederhana seperti menelepon keluarga di tanah air, berjalan sore di taman, atau berolahraga.

Melalui siaran pers ini, Ruanita Indonesia menegaskan kembali pesan psikoedukasi utama mereka bahwa merasa tidak baik-baik saja di tempat yang baru adalah respons yang sepenuhnya normal, dan mengakui kerentanan merupakan langkah awal menuju ketahanan diri. Bagi masyarakat Indonesia di Spanyol yang membutuhkan jaring pengaman atau bantuan psikologis lebih lanjut, Ruanita Indonesia membuka akses konsultasi yang dapat dijadwalkan secara langsung melalui laman booking resmi di website.

(GALERI FOTO) Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di KBRI Berlin

Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia diselenggarakan dalam kerja sama Ruanita Indonesia dengan KBRI Berlin, yang dilaksanakan di Rumah Budaya Indonesia Berlin pada Sabtu, 18 Oktober 2026. Acara ini menjadi media refleksi dan diskusi buat siapa saja untuk memahami layanan kesehatan mental di Jerman dan berbagi dukungan psikologis satu sama lain.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Jadi Advokat Kesehatan Mental Untuk Patahkan Stigma

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, Ruanita Indonesia menghadirkan program bulanan Cerita Sahabat Spesial (CSS). Pada episode Oktober 2024, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita sekaligus relawannya yang tinggal di Jerman untuk berbagi pengalaman pribadi seputar kesehatan mental.

Dia adalah Mariska Ajeng Harini, yang sekarang berprofesi sebagai seorang guru TK yang tinggal di Hamburg. Sebagai koordinator proyek film dokumenter “Dua Kali” lewat Ruanita Indonesia, Ajeng ingin bersuara lebih lantang tentang stigma yang selama ini masih melekat tentang kesehatan mental. Ajeng menjadi sosok inspiratif yang menceritakan perjalanannya melawan berbagai gangguan mental.

Ajeng mengungkapkan bagaimana pada tahun 2021 ia mengalami serangan depresi dan gangguan kecemasan yang berulang, menyebabkan ia menangis tanpa sebab, dan dihantui ketakutan tentang masa depan.

Setelah melewati masa sulit ini, Ajeng memutuskan untuk mencari bantuan profesional dan didiagnosis dengan depresi serta gangguan kecemasan, yang kemudian diperparah dengan OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) dan Avoidant Personality Disorder.

Dalam CSS ini, Ajeng menceritakan betapa sulitnya stigma yang melekat pada kesehatan mental, terutama orang-orang Indonesia. Ia berbagi pengalaman tentang sulitnya mendapatkan akses ke terapi di Jerman, sehingga ia harus menjalani perawatan di psikiatri atau rumah sakit jiwa.

Salah satu momen penting dalam video ini adalah ketika Ajeng menekankan pentingnya mencari bantuan yang tepat dari psikolog atau psikiater dan menghindari self-diagnosis, yang sering kali dilakukan oleh banyak orang.

Tujuan utama dari video CSS ini adalah mematahkan stigma terhadap gangguan mental, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental.

Ajeng menyampaikan bahwa penyakit mental tidak bisa dianggap remeh, dan melalui pengalamannya ia berharap dapat membantu orang lain memahami bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Program CSS ini juga bertujuan untuk memberikan dukungan dan inspirasi bagi sahabat Ruanita yang mungkin menghadapi tantangan serupa. Ajeng menutup ceritanya dengan pesan kuat bahwa orang dengan gangguan mental bisa sembuh, seperti yang ia alami setelah didiagnosis sembuh dari OCD pada tahun 2023.

Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus mengedukasi dan meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental melalui berbagai program, salah satunya adalah Cerita Sahabat Spesial yang dirilis setiap bulan.

Dengan program ini, diharapkan semakin banyak orang yang tergerak untuk membuka diri dan mencari bantuan, serta bersama-sama mematahkan stigma seputar kesehatan mental di masyarakat.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut:

(IG LIVE) Membicarakan Film Pendek Bertema Kesehatan Mental “Dua Kali”

Pada episode Oktober 2023, Ruanita Indonesia mengambil tema tentang kesehatan mental dalam program diskusi IG Live yang diselenggarakan setiap bulan sekali. Sebagaimana program yang digelar oleh Ruanita Indonesia setiap peringatan Hari Kesehatan Mental, Anna selaku Host of IG Live menyebutkan rentetan acara yang pernah digelar.

Tahun 2021 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PPI Kiel dan KJRI Hamburg menggelar diskusi online bertema kekerasan dan pelecehan seksual. Hadir dalam kesempatan tersebut adalah Psikolog dari Yayasan Pulih dan Wakil Ketua LPSK RI. Di tahun 2022 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Swedish Indonesian Society (SIS) dan KBRI Stockholm menggelar diskusi online, berjudul: “Kesehatan Mental – Wajib Tahu, Bukan Tabu.”

Pada tahun 2023 ini, relawan Ruanita Indonesia berinisiatif membuat program yang berbeda melalui film pendek yang berjudul “Dua Kali”. Film pendek ini dikerjakan secara daring oleh relawan yang semuanya perempuan Indonesia di tiga kota berbeda, Jakarta, Passau, dan Hamburg. Pengambilan gambar untuk film “Dua Kali” adalah kota Hamburg. Film ini juga didukung oleh KJRI Hamburg.

Follow us

Untuk membahas detil tentang proses pembuatan film ini, IG Live menampilkan dua tim film yakni: koordinator tim film, Mariska Ajeng (akun IG: mrskadj) dan Sutradara film, Ullil Azmi (akun IG: ullilazmi). Tentunya, ada alasan yang melatarbelakangi ide pembuatan film. Film ini juga mendapatkan dukungan 2 warga negara Jerman sebagai peran pembantu.

Berawal dari status kesehatan mental yang dialami oleh Ajeng ketika dunia dilanda pandemi Covid-19, Ajeng betul-betul merasakan berbagai problematik cara pandang dari pihak keluarga, orang-orang sekitar, hingga mungkin cara pandang budaya yang masih memandang negatif terhadap kesehatan mental. Psikolog di Jerman, negara tinggal Ajeng sekarang, mendiagnosa Ajeng dengan depresi dan fobia sosial pada 2021.

Selama bergulat dengan status kesehatan mental, Ajeng mendapatkan dukungan sepenuhnya secara sosial dari Ullil yang adalah perawat psikiatri di salah satu klinik di Jerman. Setelah mendapatkan penanganan khusus di rumah sakit, Ajeng kembali lagi didiagnosa memiliki OCD (=Obsesissve Compulsive Disorder). Tentunya, hal ini tidak mudah bagi Ajeng yang menjalaninya di saat situasi dunia dilanda pandemi Covid-19.

Berawal dari kisah nyata, film “Dua Kali” ini diproduksi oleh perempuan Indonesia yang menjadi relawan di Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia. Mereka memproduksi film ini di sela-sela waktu lowong mereka. Tim Film “Dua Kali” terdiri atas: Mariska Ajeng; Ullil Azmi; Roshandeani Rosmananda; Nurul Vaoziyah; dan Stephanie Iriana Pasaribu.

Apa saja tantangan yang dihadapi oleh tim film dalam memproduksinya? Apakah maksud pembuatan film pendek bertema kesehatan mental ini? Apakah betul ada perspektif mixed-culture dalam memproduksi film bertema kesehatan mental ini? Apa pesan yang ingin disampaikan oleh tim Film? Mengapa judul film ini adalah “Dua Kali”?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut ini:

Untuk mendukung kami, subscribe kanal YouTube kami.