(CERITA SAHABAT) Melindungi Anak dengan Imunisasi – Fakta dan Harapan

Halo, Sahabat Ruanita. Kali ini Ruanita Indonesia kembali hadir dalam Cerita Sahabat bersama Astrid Kurniasari untuk membahas tema imunisasi pada anak. Astrid Kurniasari adalah seorang general practitioner (GP) yang kini berdomisili di Norwegia.

Setelah lulus dari pendidikan kedokteran Universitas Brawijaya Malang dan bekerja sebagai dokter poliklinik di Indonesia, ia pindah ke Norwegia pada tahun 2012 bersama keluarganya. Kini Astrid sedang menjalani program Lege i Spesialisering-1 (LIS-1) di rumah sakit dan fasilitas kesehatan kommune

Di Norwegia inilah Astrid merasakan pengalaman hidup dan karir yang berbeda, sekaligus menikmati keseimbangan antara bekerja dan membesarkan anak-anaknya. “Motivasi kami tinggal di Norwegia pada awalnya adalah untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih seimbang. Negara ini sangat mendukung work-life balance,” tutur Astrid.

Kehadiran negara dalam bentuk kemudahan fasilitas daycare dan jatah parental leave yang panjang membuat Astrid sebagai orangtua mampu membesarkan anak-anaknya sekaligus berkarir dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Follow us

Pengalaman Astrid dalam menangani pasien terkait imunisasi di Norwegia membuka wawasan baru. Dalam perjalanannya, Astrid tidak hanya menangani kasus kesehatan tetapi juga mendalami isu-isu penting seputar imunisasi.

Menurut Astrid, imunisasi adalah hak dasar setiap anak. “Ini adalah cara kita melindungi mereka dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah,” jelasnya. 

Ia menekankan bahwa manfaat imunisasi tidak hanya melindungi individu tetapi juga membentuk kekebalan komunitas (herd immunity). “Herd immunity sangat penting, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti bayi baru lahir, lansia, atau orang dengan sistem imun yang lemah.”

Sistem Imunisasi di Norwegia dan Pelajaran untuk Indonesia

Astrid menjelaskan bahwa imunisasi di Indonesia dibagi menjadi imunisasi yang diwajibkan dan yang dianjurkan, sedangkan imunisasi di Norwegia semua imunisasi bersifat dianjurkan (voluntary).

Meski program imunisasi di Norwegia bersifat sukarela, tetapi hampir semua keluarga mematuhinya. 

Pada prinsipnya, imunisasi dasar untuk bayi di Norwegia dilakukan di posyandu, sedangkan imunisasi ulangan (booster) dan yang dianjurkan untuk anak-anak dan remaja dilaksanakan di sekolah dasar dan sekolah menengah.

Selain itu ada juga imunisasi atau vaksinasi tambahan yang dianjurkan sebelum bepergian ke negara-negara dengan penyakit endemis tertentu; imunisasi ini dapat diakses secara mandiri dan dilakukan di klinik imunisasi khusus perjalanan ataupun di tempat praktik dokter. 

Sementara di Indonesia, imunisasi dasar, lanjutan dan mandiri bisa dilakukan di posyandu, sekolah, atau di tempat praktik dokter, rumah sakit, ataupun rumah imunisasi – sesuai dengan permintaan pasien.

Salah satu perbedaan utama antara Norwegia dan Indonesia adalah vaksin BCG. “Norwegia tidak memberikan vaksin BCG secara rutin karena bukan negara endemis tuberkulosis,” jelasnya.

Meski begitu, vaksin ini tetap diberikan kepada anak-anak dari kelompok risiko tertentu. Lalu vaksin Hepatitis A, tifoid dan DBD hanya diberikan atas permintaan khusus dari orang-orang yang akan bepergian ke negara dengan risiko penularan tinggi, dan ini tidak masuk dalam program pemerintah. Vaksin Varicella juga diberikan hanya jika ada permintaan pribadi karena tidak masuk program vaksin yang dianjurkan pemerintah.

Persepsi dan edukasi mengenai imunisasi di Indonesia dan Norwegia 

Astrid menyoroti beberapa perbedaan persepsi akan imunisasi di Indonesia dan Norwegia, namun menurutnya, sulit untuk membandingkan masyarakat di kedua negara tersebut. Perbedaan karakteristik yang sangat beragam di masyarakat Indonesia dari segi budaya, kepercayaan, tingkat ekonomi dan pendidikan turut mempengaruhi keragaman persepsi akan imunisasi.

Ini berbeda dengan masyarakat Norwegia tidak memiliki keragaman yang signifikan diantara sesama penduduknya, namun keragaman justru datang dari kelompok warga pendatang/imigran.

Menurut Astrid, baik Indonesia dan Norwegia memiliki tantangannya masing-masing dalam edukasi imunisasi namun kuncinya adalah penggunaan sarana penyampaian edukasi yang tepat tentang dan disesuaikan kondisi masyarakat.

Misalnya, di Norwegia, sumber informasi untuk imunisasi dari Folkehelseinstitutet (FHI) bisa diakses dengan mudah oleh siapapun dan tersedia dalam beberapa bahasa. Sedangkan di Indonesia, tidak semua orang dapat mengakses informasi imunisasi dari IDAI atau Kemenkes. Justru peran para pemimpin komunitas, pemuka agama dan tokoh masyarakat sangat kuat.

Di Norwegia, Astrid mengedukasi pasien dengan menunjukkan fakta dari sumber kredibel. Ia mencontohkan situs FHI di Norwegia atau CDC dan IDAI untuk masyarakat Indonesia. “Kunci meluruskan mitos adalah edukasi yang berkelanjutan,” jelasnya. Astrid menyoroti bahwa akses terhadap informasi menjadi kunci keberhasilan imunisasi di Norwegia. 

“Di sini, pemerintah menyediakan informasi yang mudah diakses dan tersedia dalam berbagai bahasa,” ungkapnya. Ia berharap Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa dengan melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam edukasi imunisasi.

Sebagai dokter, Astrid sering menghadapi mitos-mitos seputar imunisasi, baik di Indonesia maupun di Norwegia. Salah satu mitos yang paling sering ia temui adalah anggapan bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme.

“Itu adalah mitos yang sudah dibantah oleh banyak penelitian ilmiah,” tegas Astrid. Ia juga mengklarifikasi mitos lain seperti batuk atau pilek tidak boleh divaksin” atau vaksin mengandung bahan haram untuk umat Muslim.

Mengenai efek samping vaksinasi, dari pengamatan biasanya minim sekali dan umumnya berupa demam ringan dan sedikit nyeri di bekas suntikan.

Ini memang akan membuat anak merasa kurang sehat atau rewel, namun bisa diatasi dengan membuat anak merasa nyaman, mengompres bekas suntikan yang sakit, atau memberikan obat paracetamol jika anak merasa nyeri atau demam.

Astrid kerap menjelaskan kepada pasiennya bahwa efek samping vaksin yang umum, seperti demam ringan atau rasa nyeri di area bekas suntikan, biasanya tidak sebanding dengan risiko penyakit yang dapat dicegahnya.

“Jika ada kekhawatiran mengenai efek samping atau reaksi alergi, sebaiknya bertanya langsung kepada tenaga medis dan merujuk pada sumber terpercaya seperti IDAI, WHO atau CDC,” tambahnya. 

Harapan Untuk Masa Depan

Astrid memiliki harapan besar untuk program imunisasi di Indonesia. “Tantangannya memang besar, mulai dari keberagaman masyarakat hingga geografis yang sulit,” katanya.

Namun, ia yakin bahwa tenaga kesehatan di Indonesia dapat terus bersemangat mengedukasi masyarakat. Dengan kolaborasi bersama komunitas dan tokoh masyarakat, cakupan imunisasi dapat ditingkatkan.

Di akhir wawancara, Astrid berpesan kepada orang tua yang masih ragu untuk memberikan imunisasi kepada anak-anak mereka.

“Vaksinasi adalah investasi untuk masa depan anak Anda. Jangan ragu untuk mencari informasi dari sumber yang terpercaya dan berkonsultasi dengan dokter.”

—-

Penulis: Aini Hanafiah, relawan Ruanita di Norwegia berdasarkan wawancara dengan Astrid Kurniasari yang dapat dikontak lewat akun instagram @astridku.

(CERITA SAHABAT) Hormati Prinsip Seseorang yang Stay Single, Bukan Malahan Lakukan Single Shaming

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan namaku Nita dan sekarang tinggal di Indonesia. Aku hampir 6 tahun menetap di Jerman untuk melanjutkan studi. Di tahun 2024, aku kembali tinggal di Indonesia. Sehari-hari, aku bekerja sebagai pengajar bahasa di kota kecil di Jawa Tengah. Tahun ini, aku akan berumur 36 tahun.

Senang sekali dapat bersuara lewat tema Single Shaming dalam program cerita sahabat ini. Bagaimana pun aku merasa tertekan dan tidak nyaman saat orang lain membahas status single aku, kehidupan privasiku atau latar belakang ceritaku sendiri. Sejak aku tinggal di Eropa, kehidupanku di sana seolah-olah mengajarkan bahwa ada beberapa hal yang termasuk ranah privasi dan tidak seharusnya orang lain ikut campur lebih dalam. 

Salah satunya adalah hal yang menyangkut status dan hubungan. Selain itu, aku juga punya kisah mengenai hubungan yang tidak mengenakkan di masa lalu sehingga mempengaruhi keputusanku untuk stay single sampai sekarang. Alasan ini pun bersifat pribadi sehingga orang lain tidak perlu tahu. Kedua alasan inilah yang menyebabkan rasa tidak nyaman itu muncul ketika orang lain membahas status Single aku.

Tidak mudah untuk mempertahankan prinsip, terlebih menyangkut status hubungan “stay single” ini. Biasanya orang-orang di sekitarku merespon beragam ketika mereka tahu aku masih single. Ada yang merasa kasihan, ada yang mengolok-olok, tetapi ada juga yang bersikap biasa saja. 

Terkadang aku merasa orang-orang di sekitarku menghakimiku hanya karena statusku yang masih lajang. Contohnya, ketika aku berkumpul dengan teman-teman lama dari masa sekolah dulu. Sebagian besar dari mereka yang sebenarnya tidak dekat denganku akan bertanya padaku. Apakah aku sudah menikah atau belum? Mereka kemudian memberikan komentar negatif yang bernada menyalahkan dan menuduh aku yang terlalu pemilih. Ada juga yang beranggapan status akademikku yang menurut mereka terlalu tinggi, hingga tidak ada pria yang berani mendekatiku. 

Aku sendiri tidak ambil pusing pendapat atau komentar orang lain terhadap statusku yang masih melajang. Kadang aku tidak memberikan jawaban yang serius. Kadang aku bawa jadi guyonan saja, daripada aku merasa sakit hati pada akhirnya. Aku menyadari bahwa orang Indonesia memang belum siap apabila mendapat jawaban yang serius dan bersifat kritik pedas, ketika mereka bertanya atau berkomentar tentang status single orang lain. 

Di sisi lain, aku merasa ada momen di mana aku seperti dipaksa untuk segera mencari pasangan. Hal ini lebih kuat datang justru dari keluargaku sendiri, terutama ibuku. Berulang kali aku mencoba untuk memberikan pengertian ke ibuku, bahwa saat ini aku memang tidak fokus untuk mencari pasangan. Aku sekarang sedang lebih fokus untuk membangun karir terlebih dahulu. Kadang aku juga cuma bercanda dengan merespon: “Aku mau menikah dengan siapa, wong pacar aja tidak punya”. 

Menurutku, masyarakat sah saja memiliki pandangan yang kuat tentang pentingnya memiliki pasangan. Itu mungkin berkaitan dengan kultur dan kepercayaan orang Indonesia yang masih kolot (tradisional). Mereka masih menganggap bahwa perempuan mempunyai masa expired berdasarkan umur. Pendapat ini tentu saja dikaitkan dengan kemampuan reproduksi seorang perempuan. Jika seseorang tidak memiliki pasangan, maka orang tersebut merupakan outlier atau outcast di masyarakat yang perlu dikasihani, karena mereka tidak seperti orang-orang kebanyakan. 

Beruntungnya, masih ada saja orang yang bersedia mendukung keputusanku untuk fokus pada karier. Dari keluarga, justru kakak iparku yang mendukungku untuk fokus membangun karier terlebih dahulu. Setelah berkarier, aku kemudian bisa memutuskan untuk mempunyai pasangan dan menikah. Selain itu, di luar keluarga masih ada sahabat-sahabatku yang mengetahui perjalanan hidupku. Mereka juga mendukungku untuk menjalani hidup sesuai dengan pace-nya saja. Mereka selalu mendengar, jika aku bercerita dan memberikan afirmasi positif terhadap semua keputusan yang aku ambil. 

Aku perlu memperhatikan kebahagiaanku sendiri, meskipun itu tidak mudah menghadapi tekanan di tengah lingkungan sekitar terhadap status lajangku. Caraku menjaga kepercayaan diri adalah dengan menyibukkan diri dengan pekerjaanku saat ini. Aku juga selalu bertemu dengan banyak orang. Walaupun aku belum punya pasangan, aku bisa menunjukkan kalau aku adalah orang yang mudah bergaul di lingkungan manapun. Selain itu, aku juga berusaha menikmati setiap proses kehidupan dan menikmati hari-hariku dengan teman-temanku. Aku pun senang melakukan hobiku. 

Kembali lagi soal tema single shaming, aku pernah berbicara secara langsung dengan orang yang melakukannya padaku. Kebetulan orang tersebut berasal dari saudara jauhku. Ketika aku memberikan pendapatku, mereka langsung terdiam. Akhirnya, mereka hanya bisa bilang “iya juga ya”. Seolah-olah komentar mereka itu hanyalah basa-basi saja, yang tidak ada efeknya. Padahal mereka seharusnya berpikir terlebih dulu tentang perasaanku, sebelum berbicara. 

Lewat cerita sahabat ini, aku ingin menyampaikan pesan kepada mereka yang sering memberikan komentar negatif tentang status single seseorang. Tolong normalisasi bahwa urusan status single seseorang itu adalah suatu privasi. Artinya, orang lain tidak perlu berkomentar atau mempertanyakan lebih lanjut, apabila hanya untuk basa-basi atau olok-olok semata. Bagaimana pun kalian tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan orang tersebut, sehingga mereka memilih untuk stay single. Hargai prinsip hidup seseorang tersebut yang (mungkin) masih memilih untuk berstatus single

Penulis: Nita dan dapat dikontak via akun instagram msiyuun_

(CERITA SAHABAT) Dibuang Jangan, Disimpan Jadi Sampah

Halo Sahabat Ruanita, saya Citra dan tinggal di Jerman. Saat saya masih kuliah di awal tahun 2000an saya senang sekali menonton acara talkshow Oprah dari Amerika Serikat, yang saat itu sangat terkenal. Salah satu episode yang saya ingat sampai sekarang adalah tentang hoarding, atau yang dalam acara tersebut diterjemahkan ke dalam pengumpul kompulsif. 

Saya ingat di episode tersebut ada keluarga yang membuka diri dengan situasi di rumah mereka. Mereka menimbun barang-barang di garasi dan di rumah mereka sampai tidak ada ruang kosong untuk mereka hidup dengan nyaman. Rumah mereka pun dibersihkan oleh tim Oprah Show. Banyak barang yang dibuang, karena memang sebagian besar adalah sampah. Iya, mereka mengumpulkan “sampah” yang mereka pikir akan mereka butuhkan di masa depan atau memiliki nilai nostalgia untuk mereka, sehingga mereka berat untuk membuangnya dan akhirnya hanya tertimbun, sehingga menjadi sampah.

Menonton episode tersebut membuat saya takut. Saat itu saya termasuk orang yang menyimpan barang tidak terpakai dengan alasan nanti pasti perlu, masih belum rusak, atau sayang untuk dibuang karena ada kenangannya. Keluarga saya juga seperti itu. Dulu kami punya garasi mobil yang cukup besar, setengahnya habis untuk barang-barang yang disimpan oleh orang tua saya. Mungkin isinya sepeda rusak, peralatan tukang, spare part mobil, dan sebagainya. Semua tersimpan di dalam plastik dan diselimuti debu. Setelah rumah kami direnovasi, gudang tersebut hilang dan banyak juga barang yang dibuang. Barang yang masih ada pindah ke rak terbuka di halaman belakang.

Di dalam rumah kami juga tidak berbeda. Di rumah kami punya dua gudang. Gudang pertama di dapur yang isinya peralatan dapur yan tidak pernah dipakai. Dulu kami punya mesin cuci piring yang kami hanya pakai beberapa kali karena memakan banyak listrik dan air. Selama bertahun-tahun mesin itu ada di gudang tidak terpakai. Gudang kedua adalah kamar yang sebelumnya digunakan untuk asisten rumah tangga (ART) kami. Sejak kami tidak punya ART, ibu saya menjadikan kamar tersebut untuk gudang untuk kasur lipat, lemari isi seprai, dan sebagainya.

Saya khawatir sekali saya atau keluarga saya akan berakhir menjadi pengumpul kompulsif seperti di episode Oprah Show. Kondisi rumah kami tidak penuh seperti tipikal rumah orang dengan hoarding disorder, hanya di beberapa tempat barang-barang menumpuk dan kami tidak menimbun sampah atau barang rusak.  Saat itu saya kost di luar kota, saya punya beberapa botol krim muka yang sudah hampir kosong tapi masih saya simpan di meja saya. Alasannya adalah sayang untuk dibuang. Botol-botol tersebut masih ada isinya walau hanya sedikit dan masih bisa dipakai nanti. Setelah menonton Oprah Show, saya langsung buang semua botol hampir kosong itu. Berat sekali di hati, tapi dari pada saya berakhir menjadi hoarder.

Tidak hanya itu, saya juga mulai memilah barang-barang di kamar saya dan membuang yang tidak perlu, walau ada pikiran “nanti pasti butuh”. Ah, biar saja. Di lain pihak, di rumah saya sedikit banyak tidak berubah, karena saya tidak bisa begitu saya membuang barang-barang tanpa izin orang tua saya. Belakangan saya baru sadar, ibu dan ayah saya memiliki sifat yang sama tapi hampir mirip. 

Ayah saya suka mengumpulkan barang yang beliau pikir masih akan dipakai, karena barang-barang di gudang garasi memang barang beliau. Ibu saya rapi, walau “hobi” menyimpan barang yang masih bisa dipakai sehari-hari, seperti peralatan masak dan peralatan makan. Beliau juga sering mengeluarkan pakaian, tas, dan sepatu untuk diberikan kepada keluarga. Di rumah kami semua barang ada, walau tidak pernah dipakai. Saya pernah berpikir, kalau saya menikah dan pindah rumah nanti, saya tidak perlu beli panci dan piring lagi, karena tinggal bawa punya ibu yang menumpuk di rumah.

Saat ayah saya meninggal dunia 10 tahun lalu, ibu saya banyak membuang barang-barang yang beliau kumpulkan selama hidupnya. Rak terbuka di halaman belakang semakin menyusut isinya. Di dalam rumah kami juga gudang semakin sedikit isinya setelah banyak barang yang dibuang. Barang-barang pribadi ayah juga banyak dibuang, walau sebenarnya sedih sekali harus berpisah dengan barang-barang yang mengingatkan pada beliau. Akhirnya saya hanya menyimpan dua kemeja beliau yang saya bawa ke Jerman. Barang-barang tersebut juga bukan hanya disimpan, tapi juga sering saya kenakan. Buku harian dan beberapa barang pribadi beliau juga disimpan oleh ibu dan adik saya, sedangkan sisanya dibuang dan disumbangkan.

Sejak beberapa tahun terakhir ini saya hidup lebih ramah lingkungan. Saya menonton di Youtube video-video tentang hidup frugal dan minimalis, juga cara untuk merapihkan rumah, walau itu bukan menjadi gaya hidup saya sekarang. Dari sana saya belajar cara untuk tidak belanja secara kompulsif, walau memang ada juga saat di mana saya belanja kompulsif. Jika ingin membeli barang, saya pikirkan dulu selama sebulan. Saya pikirkan alasan untuk membeli barang, apakah penting, dan apakah saya punya barang serupa yang tidak saya pakai. Sering kali pada akhirnya saya tidak jadi beli. Saya tidak mau memungkiri, kadang juga ada waktu saya beli spontan. 

Baru-baru ini saya spontan membeli satu tumbler bergambar karakter kesukaan saya. Berbulan-bulan saya menahan diri untuk tidak beli tumbler, karena saya sudah punya dua tumbler stainless steel dan dua plastik, dan akhirnya gagal karena melihat tumbler bergambar karakter kesukaan saya. Sebulan setelah membeli saya medapatkan tumbler baru dari sahabat saya saat saya pulang ke Indonesia. Karena punya dua barang baru, maka saya mengeluarkan satu tumbler plastik yang memang sudah lama tidak dipakai. Jujur saja, saya menyesal membeli tumbler karakter karena desain barangnya tidak ergonomis. Untuk tidak kembali menumpuk barang, saya akali dengan menggunakan tumbler baru di rumah dan tumbler lama di tempat kerja. Pengalaman ini mengingatkan kembali untuk tidak kompulsif belanja, tapi memang harus teliti dan memikirkan baik-baik, jangan sampai malah hanya akan menumpuk di lemari.

Sejujurnya, mengeluarkan barang tidak mudah bagi saya. Sering kali saya sudah mengumpulkan barang-barang yang ingin saya keluarkan, tapi barang-barang tersebut malah diam berminggu-minggu di tempat yang sama karena masih ragu untuk “membuangnya”, atau bingung mau disumbangkan atau dijual. Pernah juga mereka kembali ke tempat sebelumnya, karena saya punya alasan untuk tetap menyimpannya. Memang jika mau mengeluarkan barang harus cepat dilakukan. Jika ditunda-tunda bisa jadi barang-barang itu malah kembali ke tempatnya. Sering juga saya merasa menyesal setelah membuang barang, tapi karena barangnya sudah tidak ada, saya tidak bisa apa-apa. Itu masih lebih bagus daripada barangnya menumpuk di rumah.

Orang Jerman mempunyai kebudayaan menggunakan ulang barang bekas orang lain yang masih bisa dipakai, bisa dengan menjual atau menghadiahkannya lewat website-website khusus. Cara tradisional adalah meletakan barang tersebut di pintu masuk gedung apartemen atau pinggir jalan. Cara terakhir ini yang sering saya gunakan kalau ingin cepat membuang barang. 

Sebenarnya saya lebih senang menjual barang-barang tersebut agar bisa dapat sedikit uang kembali. Sayangnya bisa perlu waktu lama sampai menemukan orang yang tertarik untuk membeli. Saya pernah memasukan iklan sepatu boots winter beberapa kali di sebuah website, sayangnya tidak dapat pembeli dan sepatu tersebut bertahun-tahun masih harus ada di rak sepatu saya. Akhirnya dua bulan lalu saya sumbangkan lewat kotak sumbangan tekstil dan sepatu yang ada di supermarket dekat rumah saya. Bertahun-tahun saya menyimpan sepatu yang tidak bisa saya pakai hanya karena saya mau dapat uang dari menjualnya kembali, akhirnya malah saya sumbangkan juga demi kedamaian di kepala dan hati saya. 

Tahun ini saya banyak sekali mengeluarkan barang. Setiap kepala saya terasa “penuh” saya mulai merapihkan setiap sudut apartemen saya dan juga mengeluarkan barang-barang yang saya tidak butuh atau tidak lagi disukai, dari kulkas kecil, sepatu, syal, sampai pulpen, dan klip kertas. Rasanya kepala sedikit kosong, saat apartemen kosong sedikit. Sebagian besar barang tersebut saya berikan ke orang agar mereka cepat keluar dari apartemen saya. Karena pengalaman-pengalaman tersebut, saya sekarang mikir-mikir lagi untuk membeli barang, karena kalau nanti tidak dipakai atau tidak disukai lagi, saya berarti harus merelakan uangnya terbang begitu saja. Apakah saya mau?

Sampai sekarang saya masih punya barang-barang yang harusnya dibuang tapi masih disimpan karena sayang atau nanti akan dipakai. Biasanya untuk menyortir barang, saya mengingat-ingat kapan terakhir menggunakan barang tersebut. Jika barang tersebut sering saya gunakan, bisa saya simpan. Jika sudah lama tidak, maka harus saya keluarkan. Saya pernah lihat tips menyortir barang, yaitu menulis catatan tanggal saat terakhir menggunakannya. Jika lebih dari satu bulan tidak diüakai, maka barang itu harus keluar. Saya tidak menggunakan teknik tersebut, hanya mengingat-ingat kapan terakhir dipakai. Tulisan ini juga menjadi pengingat saya untuk kembali menyortir barang untuk dikeluarkan dari rumah, terutama barang-barang yang sudah lama atau bahkan tidak pernah dipakai sejak beli.

Saya bersyukur saya menonton episode hoarding disorder di Oprah Show itu. Jika tidak, mungkin saat ini saya menyimpan banyak barang dan apartemen saya menjadi lebih penuh dari sekarang. Ayo, kita sama-sama menyortir barang di rumah, dari pada menjadi sampah.

Penulis: Citra, tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Simak Cerita Saya yang Studi Pengobatan Ayurveda Langsung dari India

Halo Sahabat RUANITA, perkenalkan nama saya Rakanita Arifah. Saya biasa dipanggil Nita. Saat ini saya sedang menempuh studi di New Delhi, India dengan jurusan Bachelor of Ayurvedic Medicine and Surgery (BAMS) atau yang lebih dikenal dengan Kedokteran Ayurveda. Saya memulai perkuliahan di India sejak 2019.

Sebelum mengutarakan pendapat, mari kita kenali dulu apa itu Ayurveda? Ayurveda merupakan sistem pengobatan tradisional yang sudah ada sejak 5000 tahun lalu.

World Health Organization (WHO) menetapkan Ayurveda sebagai pengobatan tradisional tertua di dunia. Walaupun begitu, ilmu Ayurveda terus berkembang dengan banyaknya penelitian yang mendukung keilmuan dari konsep Ayurveda. Itu sebab, Ayurveda tetap eksis dan relevan sampai pada era saat ini. 

Mengapa saya tertarik mendalami pengobatan Ayurveda? Mungkin sebagian Sahabat RUANITA bertanya-tanya. Pertama kali, saya mengenal Ayurveda yaitu pada saat saya duduk di bangku SD. Pada saat itu, saya sedang mengikuti ibu saya untuk belajar yoga di Bali. Saat itu, saya pun berkesempatan untuk melihat langsung proses pengobatan Ayurveda. Singkat cerita, saya mulai mencari tahu lebih dalam lagi tentang Ayurveda di bangku SMA.

Saya melihat Ayurveda ini unik sekali, berbeda dengan pengobatan modern yang sudah marak di manapun. Lalu saat saya mendekati waktu kelulusan SMA, saya mulai mencari informasi detil tentang pendidikan Kedokteran Ayurveda di India. Ini yang menguatkan niat dan tekad saya untuk apply beasiswa. 

Saya studi di India melalui AYUSH Scholarship, yang bekerja sama dengan ICCR (Indian Council for Cultural Relations). Prosesnya sepertinya hampir sama dengan beasiswa pada umumnya. Pertama, kita harus menyiapkan beberapa dokumen seperti paspor, ijazah yang sudah diterjemahkan, recommendation letter, medical certificate, dsb.

Semua informasi tersebut bisa diakses langsung di website ICCR. Proses pengurusan Visa Student saya pada saat itu tergolong cepat dan efektif karena pihak ICCR Jakarta pun turut membimbing hingga proses pembuatan visa selesai.

Follow us

Tak mudah memang tinggal jauh dari keluarga. Itu menjadi hal yang begitu berat untuk saya pribadi. Namun saya bersyukur bahwa saya memiliki keluarga yang selalu support pada apapun keputusan dalam hidup saya. Salah satunya adalah melanjutkan studi ke India.

Tahun pertama menjadi tahun yang paling challenging bagi saya, karena saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, teman baru, dan juga bahasa baru. But like people said, “No pain, no gain!”  Walau saya kuliah merantau diiringi dengan seribu tantangan, tetapi saya tetap menikmati prosesnya.

Kembali lagi soal pengobatan Ayurveda, tujuan dari Ayurveda sendiri bukan hanya mengobati penyakit, melainkan juga membantu manusia dalam menjaga kesehatan dengan memelihara keseimbangan pikiran, raga, dan spiritual. Kita sendiri mungkin mengenal berbagai pengobatan tradisional di dunia. 

Nah, salah satu hal unik dari Ayurveda yang membedakannya dari pengobatan tradisional lainnya adalah Ayurveda menerapkan konsep TRI DOSHA atau 3 sistem fungsional tubuh. TRI DOSHA ini yang berfungsi sebagai penyangga dan mengontrol sistem tubuh dalam kehidupan, yang mana jika dalam keadaan tidak seimbang akan mengakibatkan penyakit dalam tubuh.

Terlebih lagi, Ayurveda melihat tiap individu memiliki karakteristik dasar tubuh yang berbeda-beda. Itu yang menjadikan Ayurveda unik dalam mengobati penyakit karena tiap individu bisa mendapat penanganan yang berbeda baik dalam obat-obatan maupun terapinya.

Perkembangan bidang kesehatan baik itu moderen maupun tradisional, pasti memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menciptakan inovasi yang lebih efektif untuk menangangani masalah kesehatan.

Ayurveda hadir sebagai salah satu pilihan pengobatan untuk mengobati penyakit, yang mana sistem pengobatannya menggunakan pendekatan holistik dan natural. Obat-obatan Ayurveda juga terbuat dari bahan-bahan natural sehingga peluang akan efek samping yang didapat cenderung lebih kecil.

Selama saya belajar Ayurveda, saya banyak mendapatkan pengalaman berkesan di India seperti memelajari dan membuat obat dari tanaman herbal salah satunya.

Pada tahun kedua pembelajaran, kami – mahasiswa Kedokteran Ayurveda atau BAMS – memelajari Dravya Guna. Mata kuliah ini memelajari tentang obat-obatan atau pharmacology khususnya tanaman herbal. 

Salah satu fasilitas yang dimiliki kampus kami adalah herbal garden, di mana berisi tanaman-tanaman obat Ayurveda. Pada saat jadwal praktik, kami bersama-sama melakukan observasi tanaman obat guna mengetahui akan morfologi tanaman, manfaat tanaman, dsb. Itu merupakan salah satu pembelajaran yang sangat berkesan bagi saya pribadi.

Menurut saya pribadi, kita yang tinggal di Indonesia sangat bisa untuk mempraktikkan pengobatan Ayurveda. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia masih erat dengan ilmu empirisnya. Di era modern ini, tidak sedikit masyarakat yang menerapkan “back to nature”.

Pengobatan Ayurveda menggunakan sumber daya alam untuk bahan dasar obat-obatannya. Dengan minim efek samping, saya percaya Ayurveda dapat menjadi pilihan masyarakat dalam mengobati penyakitnya ataupun yang ingin hidup sehat bersama Ayurveda.

Sebagai orang yang sedang belajar ilmu pengobatan, saya berharap kita semua bisa mendapatkan kualitas kesehatan yang lebih baik. Selain itu, saya berharap kita bisa mendapatkan pengobatan yang aman, efektif, mudah, dan murah bagi pasien. Tentunya, harapan saya tidak hanya seputar pengobatan saja, tetapi juga kita harus berfokus pada faktor pencegahan.

Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Point-point tersebut linear dengan tujuan dari pengobatan Ayurveda sendiri. Saya yakin, Ayurveda dapat menjadi salah satu solusi tepat dalam menangani masalah kesehatan yang ada. 

Untuk Sahabat RUANITA yang tertarik studi pengobatan Ayurveda seperti saya sekarang, silakan untuk mengunjungi website ICCR yang membahas info studi lebih lanjut.

Orang Indonesia yang kini menjadi lulusan kedokteran Ayurveda dari India terhitung 7 orang. Kami tergabung dalam sebuah organisasi yang dikenal Organisasi Profesi Tenaga Kesehatan Tradisional – AYURVEDA VAIDYA INDONESIA (AVINDO). 

Jika teman-teman tertarik dengan pengobatan Ayurveda, bisa kunjungi website kami yaitu www.avindo.org atau di Instagram kami @avindo_org untuk info lebih lanjut. 

Penulis: Rakanita Arifah atau biasa dipanggil Nita. Saat ini, Nita sedang tinggal di New delhi, India untuk menempuh studi S1 jurusan Bachelor of Ayurvedic Medicine and Surgery (BAMS). Nita dapat dikontak via akun Instagram: @rakanitaarifah.

(CERITA SAHABAT) Bekerja Pakai Hati dengan Lansia

Halo Sahabat Ruanita, aku Nurul tinggal dan bekerja di Hamburg. Aku ingin berbagi cerita tentang pengalamanku bekerja di klinik psikiatri geriatri (panti werdha) sebagai kepala perawat. Aku bekerja di sana sejak akhir tahun 2016, lebih tepatnya ketika aku masih sekolah vokasi di jurusan keperawatan lansia.

Walau namanya panti werdha atau jompo, jangan bayangkan panti werdha di Indonesia, ya, karena ini berbeda sekali. Saat aku masih kuliah di Bandung, aku pernah mengunjungi salah satu panti werdha di sana. Satu kamar tidur diisi oleh 6-8 orang, seperti bangsal. Di Jerman tidak begitu. Setiap kamar maksimal diisi oleh dua pasien yang bisa mereka dekorasi sesuai keinginan mereka. Ruang makan seperti restoran dan pasien mendapatkan four-course meal yang disesuaikan dengan diet mereka. Selain itu juga dilengkapi dengan taman, lift untuk menuju lantai lain, fisioterapi, dan salon. Stigma negatif tentang panti werdha di Indonesia ini yang membuat keluargaku dulu sulit memberikan izin untukku untuk bersekolah dan bekerja di bidang ini.

Sebagai perawat bersertifikat, tugasku adalah membuat rencana penanganan pasien, perawatan luka, suntik-menyuntik (obat dan insulin), kunjungan bersama dokter klinik dan dokter syaraf yang datang secara rutin, konsultasi keluarga pasien, komunikasi dengan toko alat kesehatan dan terapis dari luar (fisioterapi dan terapi wicara), dokumentasi untuk audit eksternal untuk asuransi kesehatan, perawatan paliatif, menyiapkan dan memberikan obat sesuai dengan resep dokter. Selain itu, aku juga membantu makan dan perawatan sehari-hari, seperti mandi misalnya.

Penanganan pasien di sini tidak sembarangan. Penanganan perawatan setiap pasien tidak sama, tetapi disesuaikan dengan profil mereka (pekerjaan, hobi, keluarga, dll), masalah/penyakit mereka, juga berdasarkan dengan diskusi dengan keluarga dan dokter mereka. Sebisa mungkin sistem perawatan kami disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien. Namun, itu juga tergantung dengan kondisi pasien itu sendiri, apakah mereka masih bisa memahami situasi sekarang, atau tidak sama sekali. Semua ini harus direncanakan dengan matang karena mereka akan tinggal di klinik kami selamanya.

Hampir semua pasien kami adalah orang dengan demensia, atau dalam bahasa awam sering disebut dengan pikun. Demensia adalah bentuk dari penurunan fungsi otak, karena mereka itu pelupa, kebingungan, dan disorientasi. Demensia mempunyai beragam tipe berdasarkan penyebabnya. Contohnya, Alzheimer yang menjadi tipe demensia terbanyak. Demensia juga bisa dipicu oleh makanan, alkohol, rokok, kegemukan, darah tinggi, dan/atau penyakit sebelumnya seperti luka dalam kepala, stroke, serangan jantung, epilepsi, dan parkinson. Kurangnya kontak sosial saat mereka muda dulu juga bisa menjadi pemicu. Umur juga berpengaruh, walaupun juga ada kasus demensia anak. Pasien di tempatku rata-rata berumur di atas 80 tahun. Ada yang baru masuk di umur 97 tahun karena dia baru terkena demensia. Demensia bisa dimulai dari tahap awal, atau langsung ke tahap lanjutan, tergantung dari pemicunya. 

Tahapan demensia pasien-pasien yang aku tangani juga berbeda-beda. Sampai saat ini, demensia yang aku tangani masih dalam level baik, seperti momen saat mereka masih nyaman dan mengerti obrolan kami. Ada juga pasien yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa berbaring di tempat tidur, tetapi ada juga yang seperti orang normal dan bisa dicintai. Dari situ aku tahu bahwa mereka juga manusia yang dahulu pernah punya jiwa yang sehat. Itulah alasan aku suka bekerja dengan lansia, meskipun juga berat bekerja dengan mereka. 

Kami pernah mempunyai pasien yang senang bermusik. Musik membantu dia untuk bangkit lagi, sampai dia meninggal. Saat pertama datang ke klinikku, kondisi badan dia masih sehat dan fit. Aku dan rekan kerjaku sesama orang Indonesia sering meluangkan waktu setelah jam kerja untuk bermain musik dan gitar dengan dia, meskipun saat itu dia sudah tidak bisa pegang gitar lagi. Beberapa tahun kemudian, kondisi kesehatan dia menurun dan jatuh koma di rumah sakit. 

Dokter menyarankan istrinya untuk melepaskan alat bantu pernafasan. Dia menolak, lalu datang ke klinik kami. Aku dan rekan berinisiatif meminta istrinya untuk mencoba memperdengarkan musik-musik yang dia suka dan video saat kami dulu bermain musik bersama. Tidak lama setelah dia mendengarkan musik-musik itu, dia menunjukan reaksi dan perkembangan. Sampai akhirnya, dia kembali lagi ke klinik kami, walaupun dengan keadaan tidak terawat dan tidak bisa melakukan apa-apa. 

Kami melatih lagi kemampuan fisiknya dengan bantuan fisioterapis dan terapi wicara. Tiga bulan kemudian, dia bisa berdiri dan berbicara lagi. Sayangnya sekitar 6-8 bulan kemudian, kesehatan fisiknya menurun dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. Tidak lama kemudian dia meninggal di kamarnya di klinik kami, sesuai dengan keinginannya.

Aku punya banyak sekali pengalaman menarik selama bekerja di klinik panti werdha. Yang paling aku suka adalah saat mereka bercerita tentang masa lalu dan masa muda mereka sambil menunjukan foto album mereka. Aku suka sekali dengan The Beatles. Baru-baru ini aku membantu pasien yang pindah dari kamar untuk berdua ke kamar sendiri. Dia termasuk pasien yang dekat denganku. 

Dia pernah terkena stroke yang menyebabkan gangguan bicara. Oleh karena itu, dia sering teriak-teriak, tetapi itu bukan karena dia marah. Saat aku membereskan album foto, aku menemukan album The Beatles dengan tanda tangan asli mereka. Dia bilang, dia bertemu The Beatles saat mereka konser di Jerman. Saat itu lagu-lagu The Beatles baru diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman.

Cerita lucu juga aku punya banyak. Sebagai bentuk penanganan orang dengan demensia, aku sering harus bermain peran seperti aktris film. Pernah ada satu nenek yang bercerita kalau barangnya dicuri. Aku pun berperan sebagai petugas keamanan dan membantu dia untuk menelepon polisi.

Dengan pasien lain, yang dulu adalah seorang guru SD, aku berperan sebagai kepala sekolah. Oleh karena itu, dia bercerita bahwa murid-muridnya yang berjumlah 23 orang itu tidak bisa diam. Jika ada pasien yang tidak mau disuntik, aku akan datang lima menit kemudian untuk berganti peran menjadi anaknya atau siapa pun untuk membujuknya. 

Setiap hari, aku harus pintar-pintar berganti peran. Teknik yang dinamakan validasi ini merupakan teknik penting dalam menangani orang dengan demensia. Jika mereka diteriaki, mereka akan memblokir dirinya dengan pura-pura tidak mendengar, karena orang di seberangnya melawan keinginannya. Itu sebab, aku berbaur dengan dunia mereka dan mengikuti peran sesuai dengan yang mereka inginkan. Jika pasien bercerita anaknya sakit, aku akan memvalidasinya dengan bertanya, „Anak ibu yang sakit di mana?“. Aku juga akan ikut „mencari“ anaknya tersebut.

Cerita tidak mengenakkan juga pernah aku alami di klinik. Kami pernah punya pasien berumur 103 tahun yang masih sehat secara fisik dan jiwanya. Aktivitas sehari-hari bisa dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain, tetapi dia narsisnya tidak ada dua. Dia menjulukiku „die kleine Schwarze“ (si hitam kecil) dan rekan kerjaku „die Kleine mit Kopftuch“ (si kecil berjilbab). 

Dia menolak menerima penanganan dari kami. Dia hanya ingin ditangani oleh orang Jerman. Hal ini tentu tidak memungkinkan karena tidak ada perawat di tempatku yang seratus persen berdarah Jerman. Kepala layanan keperawatan kami mengundang keluarganya untuk berdiskusi. Menurut anak-anaknya, ibu mereka merasa dirinya kuat. Dia mengalami dua perang dunia dan berhasil mendidik anak-anaknya sendirian, karena suaminya ikut berperang. Anak-anaknya sampai menjadi dokter. 

Akhirnya aku bilang ke pasienku ini, bahwa aku hanya melakukan tugasku. Kami tidak perlu berbicara apa-apa. Aku harus profesional dan tahu batasanku sendiri. Aku juga menolak untuk menangani dia kalau aku tidak mau. Lama-lama dia sendiri mengakui kalau aku dan rekan kerjaku memang baik. Kami tidak pernah balik meneriaki dia, setiap dia melakukan tindakan rasis. 

Menurutku, pengalaman paling tidak mengenakan adalah ketika ada pasien meninggal. Aku tidak mengenal mereka hanya satu atau dua minggu saja tetapi sudah bertahun-tahun. Ada beberapa pasien yang mempunyai chemistry yang pas denganku. Aku tahu, di dunia keperawatan kita boleh berempati tetapi jangan bersimpati dengan pasien. Dikhawatirkan jika terjadi sesuatu dengan pasien tersebut, aku juga yang sulit melepaskannya. 

Secara profesional hal ini mudah. Namun pasienku manusia dan aku bekerja dengan hati. Aku pasti sedih dan tidak jarang juga menangis, jika ada yang meninggal, apalagi kalau dia adalah pasien yang dekat denganku. Walaupun begitu, di hari mereka meninggal aku tetap profesional. Aku tidak memperlihatkan kesedihanku dan aku masih bisa mengontak keluarga, layananan kematian, dan dokternya. Aku harus kuat. Aku tidak bisa larut dalam kesedihan kemudian aku tidak bekerja. 

Hal ini tentu tidak datang serta-merta. Awal aku bekerja di bidang ini, aku juga tidak tahu harus bagaimana jika ada pasien meninggal. Pengalaman pertamaku kehilangan pasien, aku menjaga jarak dan tidak mengunjungi dia di kamarnya. Aku tidak mau lihat dia. Lama-lama, aku terbiasa. Menurutku, itu hal yang manusiawi kalau aku sedih dan menangis.

Kembali ke tema demensia. Demensia sebenarnya bisa dicegah dengan gaya hidup sehat – gizi seimbang dan olahraga rutin. Pergi piknik dan kontak dengan orang lain juga bisa membantu. Begitu pun dengan melakukan aktivitas otak, seperti membaca buku, mengerjakan kuis, mengisi TTS (Teka-Teki Silang), dan puzzle untuk melatih otak agar tidak ada syaraf otak yang tidak terpakai dan lama-kelamaan mati. Kegiatan pasien di klinik kami juga seperti itu. Mereka dibacakan novel atau koran setiap pagi. 

Untuk mengetahui apakah seseorang terkena demensia, kita bisa mengetahui dari aktivitas dan orientasinya sehari-hari. Ada pasienku, yang dulu saat masih tinggal sendiri, sering lupa mematikan kompor. Dia berulang kali memasak makanan yang sama karena dia lupa sebelumnya baru saja memasak itu. Anaknya yang sadar dengan perubahan ibunya itu kemudian membawa ibunya tinggal di klinik kami. Itu seperti keinginan ibunya, sebelum dia terkena demensia.

Kehilangan ingatan jangka pendek juga salah satu ciri-cirinya. Ingatan yang disimpan 30 tahun saat otak dan badan masih sehat bisa bertahan dibandingkan dengan yang disimpan setahun lalu. Hal ini berat untuk para lansia yang pernah mengalami perang dunia. Banyak dari mereka yang terpicu traumanya jika mendengar suara petasan atau kembang api di tahun baru. Itu disebabkan apa yang tersimpan di ingatannya adalah peristiwa perang saat mereka masih muda. 

Banyak juga lansia yang lupa dengan wajah anak-anaknya, karena yang tersimpan adalah wajah anak-anaknya saat masih kecil. Sedangkan wajah anak-anak mereka saat dewasa, mereka tidak menyimpannya. Dia ingat dia punya anak, tetapi dalam benak dia adalah muka anaknya saat masih kecil. Oleh karena itu, album foto sangat penting bagi mereka. Dengan melihat-lihat album foto, mereka terpancing untuk ingat lagi kejadian baru-baru ini.

Menurutku, cara untuk membantu orang dengan demensia adalah dengan memberikan mereka waktu dalam berbagai hal. Semakin kita memaksakan mereka sesuatu, semakin mereka akan melawan. Oleh karena itu, kesabaran juga sangat penting. Caraku mencoba berperan dengan menyesuaikan situasi pasien, bisa dicoba untuk menangani anggota keluarga dengan demensia. 

Aku menekankan bahwa ini tidak bisa diaplikasikan ke semua orang dengan demensia, terutama ke orang dengan demensia agresif. Demensia agresif ini termasuk juga ke dalam tipe demensia. Hal itu terjadi karena ada gangguan di otak bagian depan yang bisa menyebabkan perubahan kepribadian. Misalnya, semula orang tersebut baik hati tetapi saat terkena demensia menjadi agresif, seperti sering teriak-teriak atau marah-marah.

Aku berharap semakin banyak lagi penyuluhan tentang demensia di Indonesia. Ini bisa dimulai dari pengertian, penyebab, ciri-ciri, dan cara penangannya. Penambahan wawasan ini penting tidak hanya untuk orang tua atau lansia saja, tetapi juga pihak keluarga, agar kita bisa mengenal ciri-cirinya dengan mandiri dan sedini mungkin.

Penyuluhan ini juga penting untuk mematahkan stigma di masyarakat. Jangan lagi ada ucapan, “Nenek dia jadi gila”, karena sering teriak-teriak atau melakukan sesuatu tidak normal. Hal ini tentu saja  tidak mengenakan untuk keluarga mereka juga. Demensia tidak sama dengan gila. Ini bukan disebabkan oleh gangguan psikologis, tetapi terpicu karena syaraf di otaknya yang tidak lagi bekerja sepenuhnya.

Untuk Sahabat Ruanita yang ingin bekerja di bidang ini, aku sarankan untuk mencari tahu terlebih dahulu tentang demensia dan cakupan bidang keperawatan lansia. Kita juga harus siap bekerja dengan mereka. Tidak jarang orang yang bilang ingin bekerja menjadi perawat di bidang ini, sayangnya harus berakhir di tengah jalan karena merasa berat. 

Penanganan di sini berbeda dengan  di rumah sakit umumnya. Di rumah sakit, mungkin pentingnya adalah pemberian obat, sedangkan di panti penanganan dimulai dari pasien bangun tidur sampai tidur lagi. Selain itu, penting juga kita mempunyai kesabaran dan empati yang banyak, ramah, profesional, berhati besar, rajin, dan pengertian. Kita harus memahami bahwa yang mereka lakukan itu karena mereka sakit, bukan karena mereka benci kita. 

Ditulis oleh Mariska Ajeng (www.mariskaajeng.com) berdasarkan cerita dari Nurul Vaoziyah yang bisa dihubungi via info@ruanita.com atau langsung ke Instagram pribadinya @nurulvaoziyah.

(CERITA SAHABAT) Mengatasi Bullying pada Anak: Kasih Sayang dan Dukungan Keluarga

 Di sebuah kota kecil di Swiss, tinggal seorang anak bernama Daniel. Daniel adalah seorang anak yang cerdas dan penuh semangat. Dia memiliki tekad yang kuat untuk belajar dan selalu ingin berbagi pengetahuannya dengan teman-temannya. Namun, hidupnya berubah ketika dia masuk ke kelas lima. Di kelas barunya, Daniel bertemu dengan Kevin, seorang anak yang sering merasa cemburu pada kecerdasan dan kepopuleran Daniel. Kevin merasa terancam oleh kemampuan Daniel dan memutuskan untuk mengubahnya menjadi sasaran bullying

Awalnya, bullying itu terjadi secara halus, dengan cemoohan dan ejekan di balik punggung Daniel. Pertama kali, Daniel merasakan adanya sesuatu yang tidak beres adalah ketika dia mulai kehilangan teman-temannya. Mereka menghindari Daniel dan berpaling kepada Kevin, karena takut menjadi korban selanjutnya. Daniel merasa sendirian dan takut. Dia merasa tidak berdaya menghadapi sikap Kevin dan mulai merasa rendah diri.  

Perubahan dalam perilaku Daniel mulai terlihat. Dia menjadi lebih tertutup, sering merasa sedih, dan prestasinya di sekolah mulai menurun. Pada suatu hari, ketika Daniel pulang dari sekolah dengan mata yang merah karena menahan air mata, ibunya, Lisa, melihat perubahan ini dan memutuskan untuk mengajak bicara Daniel. Setelah beberapa saat keraguannya luluh, Daniel akhirnya menceritakan pengalaman bullying yang dialaminya dari Kevin. 

Mendengar cerita Daniel, hati Lisa teriris. Dia merasa sedih melihat anaknya yang sedang menderita. Lisa dengan tegas meyakinkan Daniel bahwa dia tidak sendirian dan bahwa mereka akan menghadapi masalah ini bersama-sama.

Follow us: @ruanita.indonesia

Bullying adalah tindakan yang sangat tidak menyenangkan dan berdampak negatif bagi korban. Saya percaya bahwa bullying adalah masalah serius yang perlu segera diatasi. Bullying dapat merusak harga diri dan kesejahteraan mental seseorang, dan mempengaruhi perkembangan mereka secara keseluruhan.

Penting bagi kita sebagai masyarakat untuk bersama-sama mengambil tindakan dan mengedukasi anak-anak tentang pentingnya menghormati dan menghargai orang lain. Hanya dengan menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, kita dapat menghentikan kejadian bullying.

Dari pengalaman yang dialami Daniel dan Lisa, orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak mereka yang menjadi korban bullying. Berikut adalah beberapa tindakan yang dapat diambil:

  1. Dengarkan dengan empati

Dengarkan cerita anak Anda dengan penuh perhatian dan empati. Berikan mereka ruang untuk berbicara tentang pengalaman mereka tanpa interupsi. Ini akan membantu anak merasa didengar dan didukung.

  1. Berikan dukungan dan cinta

Berikan dukungan dan cinta tanpa syarat pada anak Anda. Jelaskan bahwa mereka tidak salah dan tidak sendirian. Pastikan anak merasa aman dan terlindungi di lingkungan keluarga mereka.

  1. Ajari strategi penanganan konflik

Bantu anak Anda untuk mengembangkan keterampilan sosial dan strategi penanganan konflik yang efektif. Ajari mereka cara mengkomunikasikan perasaan mereka secara positif dan mencari bantuan dari orang dewasa ketika dibutuhkan.

  1. Koordinasi dengan sekolah

Sampaikan masalah ini kepada pihak sekolah dan ajak mereka berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah ini. 

Penyebab bullying pada anak bisa bermacam-macam, dan seringkali merupakan hasil dari beberapa faktor yang saling berinteraksi. Kurangnya pemahaman tentang empati dan penghargaan terhadap perbedaan orang lain, memiliki masalah kepercayaan diri dan harga diri rendah, pengaruh lingkungan seperti keluarga yang tidak mendukung atau pola perilaku agresif dalam lingkungan sekitar anak, tekanan sosial dan dorongan untuk menunjukkan dominasi atau kuasa atas orang lain, dan yang juga seringkali dilupakan adalah kurangnya memberikan pemahaman tentang dampak buruk dari tindakan bullying.

Dengan niat ingin berbagi pengalamannya, Lisa memiliki beberapa saran untuk orang tua korban Bullying, antara lain :

Yang pertama, dengarkan dan percayai anak Anda. Berikan mereka kesempatan untuk berbicara tentang pengalaman mereka dan pastikan mereka merasa didengar dan didukung. Kemudian berikutnya, jaga komunikasi terbuka dengan sekolah. Koordinasikan dengan guru dan staf sekolah untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menangani bullying.

Kita juga perlu mendorong anak untuk mengembangkan keterampilan sosial dan kepercayaan diri yang kuat melalui kegiatan yang positif, seperti olahraga, seni, atau klub-klub yang diminati. Jangan lupa ajari anak Anda tentang pentingnya penghargaan terhadap perbedaan orang lain dan bagaimana bertindak dengan empati. 

Dan jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika diperlukan. Konsultasikan dengan psikolog atau konselor yang berpengalaman untuk membantu anak Anda mengatasi trauma dan membangun kembali kepercayaan diri mereka.Terus berikan dukungan dan cinta tanpa syarat. Ingatkan anak Anda bahwa mereka berharga dan tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini.

Lisa juga berbicara dengan Daniel tentang pentingnya menghargai diri sendiri dan memperkuat kepercayaan diri. Mereka mencari kegiatan ekstrakurikuler yang diminati Daniel, seperti bergabung dengan klub sains dan drama di sekolah. Melalui kegiatan ini, Daniel bertemu dengan teman-teman baru yang mendukung dan menghargainya.

Selain itu, Lisa terus memberikan dukungan emosional pada Daniel. Dia selalu siap mendengarkan keluh kesah dan kekhawatiran Daniel, serta memberikan nasihat dan dorongan yang dibutuhkan. Lisa juga mengajarkan Daniel tentang pentingnya empati dan penghargaan terhadap orang lain, sehingga Daniel dapat memahami bahwa tindakan Kevin bukan salahnya.

Dalam beberapa bulan, dengan dukungan yang tak tergoyahkan dari ibunya dan tindakan yang diambil oleh sekolah, situasi mulai berubah bagi Daniel. Bullying yang dialaminya mulai mereda. Kevin mendapatkan pemahaman tentang dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindakannya. Mereka berdua mendapatkan kesempatan untuk berdamai dan memperbaiki hubungan mereka.

Daniel belajar banyak dari pengalaman ini. Dia tumbuh menjadi anak yang lebih kuat dan penuh kepercayaan diri. Dia juga mulai memahami bahwa kebaikan, empati, dan dukungan adalah senjata yang paling ampuh dalam menghadapi bullying.

Melalui kesabaran, kasih sayang, dan tindakan yang tepat, Lisa membantu Daniel mengatasi pengalaman bullying yang dialaminya. Mereka membuktikan bahwa dengan mendukung satu sama lain, kita dapat mengatasi tantangan yang sulit dalam hidup dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Untuk Sahabat Ruanita yang mungkin anaknya mengalami bullying sama seperti yang dialami Daniel, Lisa berpesan bahwa: “Ingatlah setiap situasi bullying adalah unik, dan solusi efektif mungkin berbeda untuk setiap anak. Kita harus tetap tunjukan empati, tanggap dan berkomunikasi dengan anak Anda. Dengan dukungan yang tepat, anak dapat menghadapi pengalaman ini dengan kekuatan dan membangun kepercayaan diri yang kokoh.’’

Penulis: Nadiya Dewantari, Freelancer, dan ibu dari dua orang anak. Nadiya juga fasih berbicara dalam Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, dan Bahasa Jepang.  Nadiya pernah tinggal di Jepang, kini menetap di Jerman. 

(CERITA SAHABAT) Menjadi Perempuan Baru

Wang Sinawang, yang terlihat indah belum tentu indah. Bagi sebagian orang mungkin tinggal di luar negeri itu terlihat indah dan menyenangkan. Tidak jarang saya mendapatkan pesan dari teman-teman lama saya yang bunyinya “Wah enak ya kamu sekarang tinggal di luar negeri”. Pesan-pesan itu biasanya hanya saya tanggapi dengan senyuman dan tawa formalitas saja karena nyatanya bagi saya realita tidak selalu seindah foto-foto yang ada di instagram. Seperti yang selalu saya katakan: Don’t assume, maybe I only show you what I want you to see. 

Beberapa bulan setelah menikah, saya memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman untuk bisa bersama dengan suami saya di Prancis. Meninggalkan keluarga, teman dan segala pencapaian saya di Indonesia bukanlah hal yang mudah bagi saya. Bisa dibilang tahun pertama saya tinggal di Eropa adalah tahun yang paling berat yang pernah saya alami. Tahun pertama pernikahan ini adalah tahun di mana banyak sekali pertanyaan bermunculan di dalam pikiran saya seperti “siapakah diri saya saat ini”, “apakah menikah adalah keputusan yang tepat”, “bagaimana caranya hidup di negara orang” dan lain sebagainya.

Sebelum menikah saya adalah seorang perempuan dengan aktivitas tinggi, bahkan saya hampir tidak memiliki banyak waktu di rumah. Saya memiliki pekerjaan yang baik di sebuah perusahaan Internasional dan memiliki banyak teman. Ketika kemudian saya menikah dan meninggalkan semua itu, perubahan yang sangat drastis terjadi di dalam kehidupan saya.

Saya yang dulu aktif dan jarang memiliki waktu kosong menjadi saya yang memiliki terlalu banyak waktu. Memiliki waktu untuk bersantai selama beberapa saat memang menyenangkan, tetapi lama kelamaan justru hal inilah yang menyerang saya dari belakang. Banyaknya waktu yang saya miliki membuat saya tenggelam di dalam banyak pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang eksistensi diri saya, yang sebenarnya tidak perlu.

Follow us: @ruanita.indonesia

Selain itu, perbedaan budaya dan minimnya pemahaman bahasa yang digunakan di negara yang saat itu saya tinggali mengambil peran yang cukup signifikan dalam pergolakan batin saya. Ya, memang sebelum memutuskan untuk pindah ke negara ini saya sudah mengambil kursus bahasa, tetapi nyatanya praktik menggunakan bahasa yang benar-benar baru bukanlah hal yang mudah dan memerlukan dedikasi tinggi. 

Ditambah karena alasan tertentu, suami saya lebih memilih untuk berbicara dalam bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari kami di rumah. Hal ini membuat kehidupan saya di negara baru ini seperti dikelilingi sebuah tembok. Tembok inilah yang seringkali membuat saya merasa menjadi orang luar ketika saya harus bertemu atau menghadiri acara dengan keluarga dan teman-teman suami saya.

Saat ini saya masih terus berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa saya, walaupun sudah tidak separah dulu. Kebanyakan lawan bicara saya pun cukup sabar dan selalu berusaha untuk memahami dan menghargai usaha saya untuk berkomunikasi walaupun terkadang dengan aksen dan pengucapan yang cukup jauh dari yang seharusnya.

Selama beberapa tahun tinggal di Eropa, saya merasakan banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam diri saya. Saya bukan lagi orang yang sama, bukan berarti saya sudah kehilangan akar budaya tetapi justru saya menjadi lebih kaya. Tinggal di Eropa dengan proses adaptasi yang sebegitu rupa membuat pribadi saya yang seorang wanita Jawa tertempa, berubah dan dibentuk ulang menjadi lebih tahan banting. 

Klise memang, tetapi saya benar-benar yakin bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Dari proses yang lama dan melelahkan itulah saya mengambil pelajaran dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Bagi saya, hal yang paling penting adalah untuk memulai segala hal dengan pikiran yang terbuka.

Penulis: Rena, tinggal di Swiss.

(CERITA SAHABAT) Begini Pengalaman dan Saran Menuliskan Goals Awal Tahun, Kalau Kamu?

Halo! Nama saya Puti Ceniza Sapphira, biasa dipanggil Chica. Sejak November 2021 saya kembali merantau di Amerika Serikat, tepatnya di Upper Peninsula Michigan, kota Houghton. Kesibukan sehari-sehari saya sebagai homemaker, directing my community library in Bandung @pustakalanalibrary, menjadi Mamin di @mamarantau, dan menjadi volunteer di beberapa organisasi di sini.

Berbicara tentang resolusi awal tahun, menurut saya adalah intensi, harapan, dan capaian yang kita terapkan pada diri kita untuk menyambut tahun baru dengan semangat baru. Tentunya harapan menjadi manusia yang lebih baik lagi – baik sebagai makhluk individu, sosial, dan spiritual.  Tentunya semua  itu, biasanya dilakukan dengan berkesadaran untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Saya sendiri menulis Goals awal tahun yang jadi kebiasaan sedari usia remaja. Dengan kita memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kita jadi memiliki skala prioritas. Menurut saya, Goals itu seperti panduan mau mengalokasikan energi, waktu, effort kita ke mana di tahun tersebut dan juga menjaga intensi kita untuk meraih sesuatu yang memberi dampak baik pada keberlangsungan hidup kita di tahun itu.

Ada pengalaman menarik ketika saya menuliskan Goals awal tahun. Contohnya waktu tahun 2019 lalu. Saya jadi membuka kembali jurnal di akhir 2019 nih dan membaca “New Year’s Resolution” di mana saya menuliskannya begini: read every day; learn a new language; pick up a new hobby; take up a new course; level up your skills; wake up early; weekly exercise.

Follow us: ruanita.indonesia ya!

Dan bisa ketebak ya, gagal semua 😀 Kenapa? Karena jelas dari poin-poin yang saya tulis di atas saya tidak memiliki SMART Goals. Apa itu SMART?

S itu berarti Specific: Goals kita itu harus jelas, detil dan langsung pada tujuan yang ingin dicapai. M itu berarti Measurable yang mana kita harus menjelaskan bagaimana cara kita mencapainya. A itu berarti Achievable yang mana kita harus menuliskan Goals yang realistis untuk mencapainya. R itu berarti Relevant yang mana kita menuliskan Goals yang langsung pada prioritas tujuan hidup kita. Terakhir itu T yang berarti Time-Bound yang mana kita punya timeline untuk mewujudkannya.

Selain SMART, kita juga  bisa menerapkan tips-tips membangun SISTEM dalam membentuk kebiasaan baru seperti yang ada dari buku Atomic Habits oleh James Clear. Atomic habits adalah perubahan ke arah yang lebih baik dalam skala kecil. 1% peningkatan setiap harinya. 1% improvement setiap hari bisa membawa perubahan yang sangat besar jika dilakukan secara rutin dalam 365 hari. Tujuan (Goals) lebih condong ke hasil. Kalau sistem adalah tentang proses yang kita alami buat menggapai hasil.

Dalam membentuk kebiasaan, sistem lebih penting. Mengapa? Semua orang bisa aja punya tujuan, tapi hanya orang sukses yang bisa meraihnya soalnya mereka punya sistem. Alasan kedua, tujuan membatasi kebahagiaan karena kita merasa hanya akan bahagia kalau kita meraih tujuan itu.

Jadi, bikin Goals percuma dong? Gak juga; karena keberadaan Goals akan bagus untuk menentukan arah (setting a direction) tetapi untuk memiliki progres, membangun sistem lebih penting.

Dari sumber bacaan yang saya baca, ada tiga level dalam mengubah kebiasaan. Level 1: Mengubah hasil. Seringkali tujuan levelnya ada di sini. Misal, makan lebih sehat. Level 2: Mengubah proses. Kebiasaan levelnya ada di sini. Misal, makan buah 5 macam per hari. Level 3: Mengubah identitas. Level yang terbaik karena berarti kita mengubah mindset, asumsi, kepercayaan kita daripada “saya ingin sehat” maka “Saya orang yang fit dan sehat”

Selain yang disebutkan di atas, saya pikir ada empat cara untuk membuat kebiasaan antara lain: make it obvious, make it attractive, make it satisfying, dan terakhir make it easy.

Membuat kebiasaan menulis Goals awal tahun memang tidak mudah. Ini dari sumber bacaan yang saya baca yakni kita harus punya antara lain: (1). Habit Formation. Jangan kelamaan bikin rencana dan overthinking, kebiasaannya segera dilakukan aja; (2). The Law of Least Effort. Bikin lingkungan yang mendukung pembentukan kebiasaanmu. Misal,kita ingin belajar gitar, taruh gitarnya di tempat yang gampang dilihat dan buat playlist dari YouTube untuk belajar beberapa lagu yang kamu sukai di level pemula; (3). Two-minute Rule. Waktu mulai, bikin kebiasaannya gampang. Misal, kalau pengen mulai membiasakan diri baca buku, baca sehari sehalaman aja. Kalau udah biasa, nambah lagi dikit-dikit; (4). A commitment device. Investasi ke hal-hal yang bikin kebiasaanmu lebih gampang di kemudian hari. Misal, ingin menabung, riset dan daftar ke bank yang menawarkan fitur menabung otomatis.

Cara yang jauh lebih baik untuk mendekati resolusi adalah dengan memilih satu kebiasaan baru untuk difokuskan, dan kemudian menambahkan yang lain nanti (setelah kebiasaan pertama tertanam dalam rutinitas harian Anda) – daripada 7 resolusi sekaligus yang membuat kewalahan.

Selain fokus pada resolusi yang sedikit daripada resolusi yang banyak, kita juga harus memulainya dari hal yang kecil dulu. Misalnya, jika tujuan akhir kita adalah mulai workout lebih sering maka tidak realistis untuk kondisi dari yang tidak pernah berolahraga menjadi berolahraga selama satu jam setiap hari.

Mulailah dengan menetapkan tujuan yang lebih kecil dan lebih realistis, seperti ‘Saya akan melakukan yoga stretching 5 menit setiap hari saat bangun tidur’. Ketika melakukan stretching 5 menit di pagi hari terasa lebih alami, kemudian bertahap tingkatkan menjadi 10 menit, 20 menit, dst. Mungkin perlu beberapa minggu/bulan untuk mencapai tujuan teman-teman, tetapi itu lebih baik daripada gagal di bulan Januari dan menyerah di bulan berikutnya!

Tantangannya adalah kita butuh waktu untuk bisa ngobrol dan cek ke dalam diri apa sih yang masih kurang dari diri dan apa yang ingin dikembangkan. Beberapa pertanyaan untuk ditanyakan pada diri sendiri seperti berikut ini:

  • Akankah tujuan ini memengaruhi kebahagiaan jangka panjang saya?
  • Apakah tujuan ini menguntungkan pernikahan, karier, atau keluarga saya?
  • Apakah tujuan ini secara praktis berguna untuk kehidupan saya sehari-hari?
  • Apakah tujuan in akan relevan dengan kebutuhan saya?
  • Apakah saya melakukan ini karena saya pikir orang lain mengharapkannya ini dari saya?

Utamanya adalah kesadaran dan kemauan diri untuk menjaga semangat mewujudkan Goals tersebut. Oleh karena itu penting kita membangun sistem termasuk juga partner in crime yang bisa sama-sama mengingatkan untuk semangat. Semisal, saya ingin bisa rutin nge-Gym atau fitness. Kalau sendiri, kadang ada rasa mager atau bosan, dengan ada teman jadi bisa saling bergantian kalau ada yang satu melemah semangatnya 😀

Juga keep your success in your journal, rasanya memuaskan sekali dengan membuat habit tracker dan melihat progress kita dari waktu ke waktu.

Oh ya, penting juga untuk kita selalu keep update sama topik yang ingin kita perbaiki. Misal kalau ingin mulai bisa keuangan yang sehat, coba follow, simak podcast, baca artikel/subscribe blog yang berhubungan sama topik Financial. Perluas literasi terkait resolusi yang ingin dicapai.

Terakhir ini adalah saran dan pesan saya untuk teman-teman yang ingin memulainya. Take time to think, reflect, and write what is your ideal life and how you perceive your better self next year. Make it SMART and build a SYSTEM that makes you eager to pursue it!

Penulis: Puti Ceniza merupakan mamarantau di Houghton, MI, AS. Di tengah menyempatkan diri untuk menjadi relawan aktif beberapa komunitas di kotanya ia juga menjalani peran sebagai Director di perpustakaan komunitas yang ia dirikan sejak 2015 di Bandung, @pustakalanalibrary.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Optimis dan Dukungan Keluarga Jadi Kunci Kesembuhan Sofie

Dalam rangka memperingati Hari Internasional Melawan Kanker Payudara yang jatuh tiap 19 Oktober, RUANITA mengundang sahabat spesial yang bernama Suci Lestari Sofyan yang sudah menetap di Italia sejak 2016.

Setelah menikah dengan pria berkewarganegaraan Italia, kehidupan Sofi, begitu ia biasa disapa, lebih lama tinggal di Cina daripada di Italia.

Pada 2015 saat Sofie berusia 34 tahun, dia didiagnosa kanker payudara yang sudah memasuki stadium 3B.

Tentunya siapa pun akan berat mendengar berita tersebut, termasuk mental Sofie yang shock saat itu juga.

Dia tidak siap untuk menghadapi diagnosa dan penanganan medis yang harus ditekuninya kemudian.

Saat itu yang terpikir oleh Sofie mencari role model seperti Survivor yang berani berbagi inspirasi dan motivasi yang dibutuhkan menghadapi kondisi sulit tersebut.

Menjalani kemoterapi tentu bukan hal yang mudah dihadapi Sofie. Setelah berhasil melewati operasi, dokter kemudian melakukan proses pengangkatan total yang membuat Sofie down dan semakin bertambah berat untuk menjalani hidup ke depan.

Apa yang paling berat dirasakan oleh Sofie adalah masalah mental untuk menjalani kehidupan selanjutnya.

Sofie berhasil menemukan solusinya dengan menjalani meditasi.

Bagi Sofie, dukungan sosial seperti pasangan hidup dan keluarga telah memberikan motivasi terbesar untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik.

Lebih lengkap cerita Sofie tersebut dapat disimak dalam saluran YouTube berikut ini:

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam program ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.

(CERITA SAHABAT) Perasaan Diabaikan dari Teman-teman di Indonesia Mendorongku Temui Psikolog

Halo, perkenalkan saya X.  Saat ini tinggal di sebuah kota di bagian barat negara Jerman. Saya pindah ke Jerman 3 tahun lalu setelah menikah dengan pria berkebangsaan Jerman.

Sebelum pindah ke Jerman, saya bekerja di Jakarta. Kepindahan saya ke Jerman memang merupakan salah satu perubahan terbesar dalam hidup saya, meskipun ini bukan kali pertama saya menginjakan kaki di Jerman.

Namun perbedaan tersebut sangat terasa sekali ketika saya ke Jerman hanya untuk berlibur dengan ketika saya tinggal dan menetap di Jerman. 

Kepindahan saya ke Jerman terasa sangat menyenangkan pada awalnya, karena saya sampai ketika musim panas dan merasakan berbagai hal baru yang menyenangkan. Namun perlahan-lahan perasaan tersebut berubah menjadi kebingungan, kesedihan hingga perasaan kesepian.

Saat itu hal yang sering saya lakukan ketika merasa kesepian adalah bercerita kepada teman-teman saya di Indonesia, walaupun hanya sesaat tetapi saya merasa lega ketika bercerita dengan teman saya. 

Hal tersebut membuat saya selalu berusaha lebih untuk menjalin komunikasi dengan teman-teman saya di Indonesia dan tanpa saya sadari membuat saya secara emosional sangat bergantung terhadap mereka, sehingga saya lupa bahwa saya punya hidup yang harus saya jalani di sini.

Semakin lama saya semakin tenggelam dalam hal-hal yang membuat saya menjadi tidak bahagia dan merasa kesepian. Saat itu yang bisa saya lakukan adalah menyalahkan diri sendiri dan keadaan, terutama ketika saya merasa diabaikan oleh orang-orang terdekat saya. 

Perasaan terabaikan tersebut sebenarnya merupakan akumulasi dari intensitas komunikasi saya yang semakin berkurang dengan teman-teman saya.

Hal yang sebenarnya bisa saya pahami dengan kesibukan mereka dan perbedaan waktu. Namun saat itu rasanya saya tidak bisa menerima hal tersebut dengan lapang dada.

Follow akun: ruanita.indonesia

Semakin lama saya membiarkan perasaan tidak nyaman tersebut berlarut-larut hingga tanpa saya sadari mulai mengganggu kondisi fisik saya. Saya menjadi sering sekali merasakan berbagai macam gangguan kesehatan, bahkan seringkali mempertanyakan kewarasan saya.

Hal tersebut membuat saya akhirnya memberanikan diri untuk menghubungi seorang teman yang juga tinggal di salah satu negara di Eropa. Saya menceritakan semua hal yang saya alami dan berakhir dengan pertanyaan apakah perlu saya untuk mencari bantuan seorang profesional?

Teman saya pun menyarankan agar saya mencari bantuan seorang profesional karena dia juga merupakan lulusan psikologi. 

Setelah percakapan tersebut, saya kemudian menghubungi seorang Psikolog dan mendaftarkan diri untuk sesi terapi dengan beliau. Setelah sesi terapi saya menjadi merasa lebih baik dalam menjalani hari-hari saya.

Saya juga menjadi lebih sadar akan pentingnya kemampuan mengelola emosi dan merawat kesehatan mental. Tentu saja semua proses tersebut tidak mudah dan cepat, perlu kesadaran secara penuh dan kemauan untuk saya dapat berubah menjadi lebih baik, dan juga perlu dukungan penuh dari orang sekitar kita, terutama pasangan terlebih untuk orang yang berada dalam keadaan seperti saya yang jauh dari keluarga dan teman.

Saat ini tentu saja perasaan tidak enak tersebut masih sering muncul. Namun saya kini tahu bagaimana caranya agar saya bisa tidak berlarut-larut dalam merasakan perasaan negatif yang saya rasakan.

Saya juga semakin mengenali diri saya sendiri dan menyadari pentingnya untuk mengenali berbagai tanda-tanda perilaku psikologis yang tidak seharusnya saya rasakan. 

Penulis: X, tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT) OCD Itu Bukan Sekedar Cuci Tangan atau Bolak-balik Cek Pintu

Saya yakin sebagian besar orang sudah tahu apa itu OCD (Obsessive Compulsive Disorder) atau gangguan obsesif kompulsif. Mungkin ada juga yang pernah melabeli dirinya atau orang lain dengan OCD karena sering cuci tangan, bersih-bersih, atau menyusun barang secara simetris, tapi tahu tidak kalau OCD lebih dari itu?

Sesuai dengan namanya, gangguan ini menyebabkan penderita melakukan sesuatu dengan obsesif dan terus menerus (kompulsif). Perilaku dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan pikiran-pikiran buruk dan kecemasan yang penderita alami.

Perilaku mencuci tangan berkali-kali, misalnya, bertujuan untuk menghilangkan pikiran buruk, bahwa tangan penderita menyentuh benda berkuman yang bisa menyebabkannya jatuh sakit. Ketenangan hati ini sayangnya hanya bersifat sementara. Jika nanti penderita menyentuh sesuatu lagi, ia akan kembali mempunyai pikiran-pikiran negatif dan cuci tangan kembali harus dilakukan. Begitu seterusnya, seperti lingkaran setan.

Saya Ajeng, tinggal di Hamburg. Proses tersebut baru saya mengerti 10 bulan terakhir ini, sejak saya didiagnosis OCD oleh psikolog. Memang selama ini saya sudah berpikiran saya mempunyai gejala OCD karena „hobi“ banget pakai pembersih tangan sejak mulai remaja. Sempat berkurang karena saya tidak mau berakhir menjadi penderita OCD, tapi sejak pandemi malah semakin bertambah.

Mengamati diri sendiri, saya pakai cairan pembersih tangan pada akhirnya bukan karena takut bakteri, tapi karena jijik. Sejak pandemi mata saya „terbuka“, orang bisa saja pegang hidung atau mulut lalu pegang gagang pintu atau tiang bus. Membayangkannya saja jijik.

Bukan hanya soal cuci tangan, bagi saya juga penting kalau tempat tidur dan sofa saya bebas dari pakaian yang dipakai di luar rumah. Bahkan terakhir sebelum saya terapi, karpet saya juga sudah termasuk. Jika ada teman datang dan duduk di sofa dan di karpet, saya akan langsung mengganti alas sofa dengan yang bersih agar saya bisa duduk di atasnya dengan baju rumah. Jika saya sedang malas menyuci, saya akan menyemprot sofa dan karpet dengan desinfektan.

Selain ritual pasca menerima tamu, saya masih punya banyak contoh tindakan OCD lainnya, seperti ritual pulang ke rumah, ritual toilet, dan ritual pegang ponsel. Walau begitu, tindakan saya tidak seburuk dengan pikiran obsesif kompulsif saya. Oh ya, dalam bahasa Jerman ada dua istilah penting yang berhubungan dengan Zwangsstörung (OCD), yaitu 1) Zwangsgedanken dan 2) Zwangshandlung. Istilah pertama berarti pikiran OC dan yang kedua adalah perilaku/tindakan OC (sengaja saya hilangkan huruf D di akhir singkatan). Menurut saya kedua istilah ini memudahkan sekali untuk mengerti OCD, bahwa OCD bukan hanya soal perilaku tapi juga pikiran.

Walau perilaku OC saya tidak terlalu parah dan tetap membuat saya frustrasi juga memakan banyak waktu saya, tapi pikiran OC lebih membuat saya frustrasi. Pikiran-pikiran agresif termasuk ke dalamnya, misalnya bayangan yang terlintas di pikiran saya saat saya sedang menunggu di kereta di stasiun: OCD mendorong orang ke rel kereta.

Menurut co-terapis saya, saya harus membuat jarak dengan OCD saya, karena itu saya tidak bilang „saya mendorong orang ke rel kereta api“ tapi OCD saya yang melakukannya. OCD saya yang mau mendorong orang ke rel kereta api, saya tidak. Sejak itu saya berhenti mengatasnamakan saya di semua pikiran agresif yang pernah terlintas di benak saya. 

Pikiran-pikiran OC juga mengganggu kehidupan sehari-hari saya. Kadang saya harus menghindar bertemu teman atau pergi ke suatu tempat karena saya takut pikiran agresif muncul. Ketakutan terbesar saya adalah membuat pikiran agresif itu menjadi kenyataan. Di RS saya harus mengikuti seminar atau terapi grup tentang OCD seminggu sekali. Di sana trainer kami bilang penderita OCD, terutama mereka yang sudah mendapatkan diagnosis dari ahli, tidak akan melakukan pikiran agresifnya. Mereka justru akan berusaha untuk menghindar, baik secara fisik, dengan tidak datang ke tempat tersebut, atau secara pikiran dengan berusaha menekan pikiran-pikiran tersebut (keduanya sebenarnya tidak disarankan).

Silakan follow kami di Instagram: ruanita.indonesia ya.

Pikiran-pikiran agresif ini pernah membuat saya sangat sedih, karena membuat saya merasa menjadi orang jahat, tidak bermoral juga tidak beragama. Saya bukan orang baik karena saya punya berpikiran mencelakakan orang lain dan orang-orang yang saya sayangi. Lucunya, pikiran dan ketakutan menjadi orang jahat ini juga bisa menjadi bagian dari pikiran obsesif kompulsif. Sejak rajin ikut terapi dan tentang OCD, saya semakin yakin, bahwa yang jahat itu OCD bukan saya. Pikiran-pikiran OC bukan kenyataan. Dan yang paling penting: pikiran-pikiran agresif itu bukan bagian dari kepribadian saya.

Oh iya, saya juga baru tahu loh kalau perfectionist juga termasuk ke dalam OCD. Saya dulu tidak sadar kalau saya perfectionist, sampai teman-teman saya kasih bukti: datang selalu tepat waktu, bahkan kalau bisa lebih awal; nilai kuliah harus bagus; berkunjung ke rumah orang harus bawa buah tangan; kerjaan harus perfect; dan rumah harus bersih dan wangi kalau ada tamu datang.

Saya kira itu semua hal biasa, tapi saat di terapi grup kami disodori contoh-contoh yang ternyata itu SAYA BANGET. Saya juga tak sadar kalau perfectionist itu bukan hal baik dan mengapa orang-orang memandangnya negatif. Maksud saya, bukankah semua yang harus kita lakukan harus benar-benar sempurna hasilnya? 

Ternyata kekurangan dari perfectionist adalah bisa membuat frustrasi. Untuk datang tepat waktu saya harus benar-benar kalkulasi waktu. Jika saya janjian jam 12 dan waktu tempuh 30 menit, saya akan memberikan waktu tambahan 5-10 menit. Jaga-jaga di jalan ada kejadian tak terduga. Untuk itu saya harus tahu jam berapa bangun tidur dan siap-siap. Tambahan waktu itu juga penting, karena anxiety membuat saya harus ke toilet berkali-kali sebelum saya keluar rumah.

Teman saya bilang, bagus dong saya datang cepat jadi tidak stres di jalan. Hmm, sebenarnya sebaliknya. Saya frustrasi. Jika bus/kereta datang telat, saya akan kesal sendiri, seharusnya saya berangkat lebih pagi lagi. Kelemahan lainnya, saya juga memaksakan teman-teman saya untuk tepat waktu dan saya akan marah jika mereka datang telat, terutama jika tanpa kabar. Hasilnya: beberapa di antara mereka malas untuk janjian dengan saya lagi.

Jika kalian sadar saya menulis dengan ejaan bahasa Indonesia yang hampir sempurna, itu juga bagian dari perilaku perfectionist saya 😛 Rasanya gatal sekali jika saya salah menulis. Latihan-latihan yang saya lakukan untuk mengurangi ke-perfectionist-an saya adalah datang telat; menulis Whatsapp dan email tanpa memperhatikan PUEBI; tidak membereskan apartemen, jika tamu datang; dan tidak membawa buah tangan, kalau bertamu ke teman. Oh, satu lagi kelemahan saya gara-gara si  perfectionist ini, saya malu sekali untuk berbicara Bahasa Jerman, padahal saya tinggal di Jerman. Bagi saya lebih baik diam dari pada salah menggunakan bahasa asing. Kalau saya tidak perfectionist, saya pasti akan lebih berani berbicara menggunakan bahasa asing.

Latihan-latihan yang saya sebut di atas saya lakukan mandiri dan terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari, selain itu saya juga melakukan bersama co-terapis saya. Latihan atau terapi itu bernama Exposure and Response Prevention (ERP) dan sangat serius dan harus direncanakan dengan baik. Sebelumnya saya harus membuat hierarki perilaku dan pikiran OC saya dari 10-100%. Perilaku dan pikiran OC di atas 50% akan dilatih bersama. Sebelum, selama, dan sesudah latihan akan ada grafik tentang ketegangan saya. Setelah latihan saya harus memberikan diri sendiri hadiah yang juga harus saya rencanakan sebelumnya. Minggu lalu saya latihan memegang dan mengusap tembok yang punya motif bulatan-bulatan kecil menonjol. Saya tidak boleh menyuci tangan, menggunakan desinfektan, atau menyeka tangan saya ke pakaian selama satu jam. Setelah itu saya pergi beli bubble tea sebagai hadiah untuk diri sendiri.

Sebelum membuat hierarki OCD itu saya diminta untuk mengisi protokol tentang self-observation. Setiap OCD saya muncul saya harus menuliskan detailnya: apa yang saya pikirkan, apa perasaan saya, bagaimana perasaan saya saat OC hilang, seberapa sering itu terjadi, dan kegiatan apa yang bisa saya lakukan jika perilaku dan pikiran OC itu tidak ada. Dari situ saya bisa tahu yang terbanyak adalah mencuci tangan dan kedua terbanyak adalah pikiran agresif. Latihan-latihan ini mungkin akan harus saya lakukan bulan depan, setelah latihan-latihan di level lebih bawah sudah selesai.

Jika tadi saya menyebutkan tentang co-terapis, terapi grup atau seminar, itu karena di tahun 2021 saya dirawat inap di psikiatri khusus gangguan kecemasan dan OCD. Awalnya karena saya didiagnosa gangguan kecemasan (fobia sosial) dan depresi. Di Hamburg susah sekali untuk menemukan psikoterapis, pasien harus menunggu minimal setengah tahun. Psikiater saya menyarankan untuk masuk rumah sakit, karena lebih cepat dapat tempat. Akhirnya setelah banyak konsultasi dengan psikiater, psikolog dan kolega-kolega yang juga pernah masuk psikiatri, saya memberanikan diri untuk mendaftar. Bukan keputusan yang mudah, tapi menjadi keputusan terbaik yang pernah saya buat.

Hari kedua di psikiatri saya mengukuti workshop tentang gangguan kecemasan. Salah satu peserta cerita tentang Zwangsgedanken (OC pikiran) yang ia miliki. Karena saya tidak paham, dia menjelaskan ke saya apa itu. Saya kaget sekali waktu itu, karena saya bisa melihat diri saya di cerita dia. Besoknya saya menemui psikolog saya sambil menangis, karena saya takut sekali kalau saya juga punya OCD.

Saya menganggap diri saya gagal, tidak beragama, jika saya sampai punya tiga gangguan metal dalam satu waktu. Singkat cerita, benar saya memiliki OCD. Awalnya sangat berat bagi saya untuk menerimanya, tapi setelah benar-benar memahami gangguan-gangguan mental yang saya miliki, saya akhirnya bisa menerima. Bahkan saya bersyukur bisa mendapatkan diagnosa tersebut.

Saya tinggal di rumah sakit selama tiga bulan. Berbeda dengan rumah sakit jiwa yang kita dengar tentang kesuramannya, suasana di sana santai dan terbuka sekali. Setiap sore pasien diperbolehkan pulang atau keluar sampai maksimal jam 10 malam. Satu malam di akhir pekan pun kami boleh tidur di rumah. Tidak terasa seperti sedang di rumah sakit jiwa.

Oh ya, karena memiliki asuransi kesehatan, hampir seluruh biaya rumah sakit saya diambil alih oleh asuransi. Dalam satu tahun pasien hanya mengeluarkan biaya rawat inap sebesar 10 Euro/ hari. Karena saya di rumah sakit selama tiga bulan, maka saya hanya membayar 280 Euro untuk 28 hari dan sisanya oleh asuransi. Tagihannya baru saya dapatkan sekitar empat bulan setelahnya. Kaget juga, karena saya kira bebas biaya 😛

Saya berharap stigma negatif tentang gangguan metal hilang dari masyarakat kita, agar orang-orang bisa lebih terbuka tentang kesehatan mentalnya dan tidak sungkan mencari pertolongan. Selain itu, harapan saya akses ke kesehatan mental di Indonesia menjadi lebih mudah dan terjangkau. Kualitas rumah sakit jiwa juga semoga semakin baik lagi.

Untuk teman-teman yang masih awam tentang OCD, yuk cari tahu lagi tentang OCD dari ahlinya atau dari pengalaman orang-orang dengan OCD. Bahkan sekarang ini informasi tentang OCD bisa diakses di media sosial, seperti Instagram. Jika kamu merasa memiliki gejala-gejala, pastikan hanya dokter atau psikolog yang diagnosa kamu. Dan jangan lupa, kamu tidak sendiri dan OCD bisa dikalahkan.

Penulis: Mariska Ajeng. Menetap di Hamburg, Jerman. Tulisannya bisa dibaca di http://www.mariskaajeng.wordpress.com

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Perlu Tahu Nih Kalau Mau Kerja di Norwegia

Cerita Sahabat Spesial kali ini adalah sharing pengalaman dari Novi yang sudah hampir dua puluh tahun tinggal di Norwegia. Semula Novi berangkat ke Norwegia untuk studi Master di Tromso pada 2004 hingga akhirnya Novi membangun keluarga dan memiliki karir mapan di institusi milik pemerintah Norwegia yang menyediakan Benefit untuk pencari kerja.

Novi berpendapat bahwa para pencari kerja yang berasal dari pendatang itu bisa mendapatkan 52 Benefit yang disediakan pemerintah Norwegia agar setiap orang bisa tetap aktif bekerja. Dari lima juta penduduk negara Norwegia, sekitar sembilan ratus ribu orang adalah pendatang yang datang mencari peruntungan hidup di Norwegia, termasuk orang-orang Indonesia. Tercatat berdasarkan statistik ada 1.971 orang Indonesia yang tersebar di berbagai bidang pekerjaan di Norwegia, tutur Novi.

Kategori orang yang berpotensi sebagai angkatan kerja di Norwegia menurut Novi dimulai dari usia 15 tahun hingga 74 tahun mengingat angka harapan hidup yang tinggi di Norwegia. Hal menarik apabila kita menjadi pengangguran di Norwegia, pemerintah menyediakan tunjangan pengangguran yang bisa diklaim setelah seseorang tidak punya pengangguran. Tunjangan bisa diterima setelah 21 hari.

Kondisi ini berbeda ketika terjadi Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia mengingat ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Di Norwegia terdapat lima ratus ribu orang “dirumahkan”. Pemerintah Norwegia membuat kebijakan untuk memangkas waktu lamanya seseorang mendapatkan tunjangan pengangguran menjadi hanya 3-5 hari saja.

NAV ini membuat pemetaan bagaimana seseorang di Norwegia bisa mendapatkan pekerjaan dan mendorong seseorang mendapatkan haknya seperti misalnya akses tunjangan sosial. Tunjangan sosial di Norwegia bergantung pada misalnya seseorang yang masih single terhitung mendapatkan tunjangan 700€ per bulan. Ini berbeda sekali dengan seseorang yang sudah memiliki anak.

Hal menarik lainnya yang diceritakan Novi adalah bagaimana pekerja di Norwegia bisa menuntut hak mereka kepada pemberi kerja seperti misalnya demonstrasi yang biasa dilakukan para pekerja. Biasanya pekerja akan bernegosiasi dengan kantor pemberi kerja melalui serikat buruh. Serikat buruh pun bernegosiasi mengenai aspirasi pekerja seperti yang pernah terjadi baru-baru ini.

Terjadi kenaikan upah sebesar 3,8% yang dimenangkan oleh para pekerja. Proses kenaikan gaji di kantor pemerintah seperti yang dialami oleh Novi terjadi secara sentral dan lokal. Sebagai pekerja, kita pun dipertimbangkan tentunya dari kinerja yang diberikan kepada pemberi kerja. Fokus utama kenaikan gaji di Norwegia adalah bagaimana si pekerja dapat berkontribusi lebih baik lagi bagi produktivitas pemberi kerja.

Terakhir Novi juga bercerita tentang proses pensiun di Norwegia yang berlaku saat seseorang sudah memasuki usia 67 tahun. Menurut Novi, siapa pun bisa mendapatkan uang pensiun asalkan sudah bekerja lebih dari tiga tahun di Norwegia. Klaim pensiun baru akan diberikan setelah seseorang sudah memasuki usia 67 tahun.

(CERITA SAHABAT) Mulai Dari Atasi Galau Sampai Kelola Emosi yang Jadi Manfaat Aku Berolahraga Yoga

Sahabat RUANITA, perkenalkan aku Ecie yang sekarang tinggal di Hamburg, Jerman sejak 2008. Sehari-hari aku masih aktif menjadi mahasiswa dan berbagai kegiatan sosial lainnya di Jerman. Aku ikut kelas Yoga itu pada tahun 2015 gara-gara aku tertarik ajakan seorang teman untuk ikut kelas Yoga, apalagi saat itu aku sedang merasa galau. Aku berpikir punya keahlian baru di perantauan itu bisa membantuku mengalihkan rasa galau. 

Sejak itu, aku mulai berolahraga Yoga. Sebagai pemula aku diajari teknik relaksasi yang bernama Hatha. Ini semacam menggabungkan gerakan yang lembut dan lebih lambat. Sebenarnya ini gerakan stretching yang dulu sering kita lakukan sewaktu kita belajar olahraga di sekolah. Teknik lainnya aku belum bisa menguasai lebih banyak lagi sih. Waktu itu guru kelas Yoga mengajari aku untuk menghindari gerakan-gerakan yang salah dan berbahaya, meski gerakan Yoga tampak mudah. 

Dalam Yoga itu kita harus belajar dulu teknik basic. Kelihatannya gerakan Yoga itu mudah, padahal itu perlu teknik dasar yang harus dikuasai pemula dulu. Jangan terkesan tahu dan segera mencoba sendirian tanpa belajar teknik dasar! Bisa jadi kita salah melakukan olahraga Yoga sehingga malahan membuat kita sakit pinggang atau sakit anggota tubuh lainnya. Karena kejadian seperti ini, orang-orang cenderung jadi malas dan kapok untuk kembali berolahraga Yoga.

Gerakan Yoga yang aku ketahui itu harus lambat dan tidak boleh buru-buru. Jangan tergiur untuk melihat orang yang berhasil membuat pose bentuk tubuh Yoga yang biasa dipamerkan di media sosial! Menurutku, Yoga itu lebih pada gerakan untuk mengatur diri sendiri dan nafas. Saat kita harus memaksakan pose tubuh sendiri, sebenarnya kita harus mengatur nafas. Ini sangat membantu orang untuk tetap rileks terutama buat mereka yang punya gangguan panik atau kecemasan. Kita harus konsentrasi dan tetap menikmati gerakan Yoga.

Aku tidak banyak mengikuti klub/kelas Yoga karena aku pikir Yoga bisa dilakukan dengan mengikuti instruksi yang bisa dilihat di YouTube misalnya. Intinya kita bisa berolahraga Yoga di rumah dan gratis pula. Meski aku sudah tidak ikutan kelas Yoga lagi, aku tetap rutin menjalani Yoga 2-3 kali dalam sehari karena ini membantu aku untuk tidur nyenyak.

Menurutku Yoga itu sangat membantu untuk kesehatan mental. Mengapa? Saat kita melakukan Yoga, kita melatih pernafasan secara teratur dan kita berkonsentrasi atas gerakan yang kita buat. Jadi gak ada waktu tuh untuk overthinking. Bagaimanapun happiness itu ‘kan berasal dari dalam diri sendiri dengan cara menggerakan tubuh seperti Yoga ini. Kita lebih fokus pada tubuh dan diri sendiri, dari pada hal-hal lain yang berasal dari luar diri. 

Yoga itu simple gerakannya. Aku bisa loh sikat gigi dengan tangan kiri sambil melakukan Yoga. Atau aku bekerja di depan laptop sambil jongkok kemudian ditahan begitu sekian menit. Intinya kita harus membuat tubuh itu bergerak sehingga kita merasa happy. Bagaimanapun duduk berjam-jam di depan laptop atau komputer kan tidak sehat juga. Dengan Yoga, kita bisa melakukan gerakan-gerakan yang mudah untuk membuat tubuh tetap bergerak juga.

Sejauh pengamatanku, Yoga adalah olahraga yang umum di Jerman atau area tempat tinggalku sekarang. Aku mudah menemukan klub atau tempat kursus Yoga atau Pilates karena biasanya olahraga tersebut menjadi bagian dari program asuransi yang harus dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di Jerman. Ada yang bayar kelas Yoga kemudian nanti reimburse dari asuransinya atau kita bayar 50% dari iuran kelas Yoga tersebut.  

Hal menarik di Jerman kalau kita mau berolahraga dengan harga terjangkau, ada tempat Gym murah meriah “Sport Spaß” yang membuat kita bisa memilih olahraga yang kita sukai, seperti Yoga yang biasa diadakan 2-3 kali dalam seminggu. Olahraga murah meriah ini biasa menjadi aktivitas warga Jerman semisal melakukan olahraga di kebun saat musim panas seperti sekarang ini. Saat aku melihat seperti itu di ruang publik, aku kadang berinisiatif ingin gabung sambil memberitahukan kepada mereka bahwa aku merupakan pemula untuk Yoga. Aku merasa senang bisa berolahraga Yoga bersama orang lain juga.

Musim panas seperti sekarang ini banyak orang-orang di Jerman yang suka melakukan olahraga Yoga di outdoor dan ruang terbuka. Misalnya saja ada loh yang melakukan gerakan Yoga di dalam air atau di atas papan selancar misalnya.

Sebenarnya kenapa Yoga? Aku tuh sudah mencoba olahraga lainnya seperti Surfing dan Panjat. 

Aku cenderung suka olahraga Yoga karena Yoga itu bisa dilakukan di mana saja. Selain itu, aku bisa melakukan Yoga dengan teman-teman, bahkan aku pernah melakukannya di kebun. Atau aku juga bisa melakukan Yoga sendirian. Kalau orang suka berolahraga Yoga, mereka tidak harus punya peralatan dan memang Yoga mudah untuk diikuti. Orang bisa melihat berbagai gerakan Yoga hanya di YouTube misalnya. 

Kalau suka Yoga kadang ada klub atau kelas Yoga dengan harga terjangkau. Seperti di Universitas tempatku studi, Universität Hamburg menawarkan juga kelas Yoga dengan iuran 20€ – 30€ per semester. Lainnya, kalau kita tinggal di Jerman, kita bisa membayar biaya 50% dari iuran kelas Yoga karena 50% biaya lainnya itu ditanggung oleh asuransi. Aku membayar kursus Yoga sekitar 130€ untuk 8 kali pertemuan.

Yoga itu gak butuh peralatan sehingga membuat banyak orang tertarik mencobanya. Untuk teknik Yoga lanjutan, memang kita memerlukan peralatan khusus seperti blok berbahan kayu atau gabus buat penyangga. Kata guru kelas Yoga yang mengajariku alat bantu ini kalau kita belum lentur. Kita bisa mencari alternatif alat bantu lainnya seperti kamus atau buku-buku tebal. Ketimbang kita membeli peralatan Yoga, kita juga bisa pakai alternatif yang ada di rumah seperti bantal, tali, atau selendang yang panjang.  

Oh ya, kalau mau berolahraga Yoga, kita hanya pakai baju yang nyaman saja. Kita juga wajib menyediakan matras atau semacam alas untuk melakukan Yoga. Itu bisa dibeli di banyak tempat di Jerman dengan kisaran harga 10€ – 15€. Kalau kita berolahraga Yoga di tempat seperti kursus atau kelas Yoga biasanya kita bisa mendapat pinjaman matras tersebut.

Memang sih tak mudah untuk menekuni suatu kebiasaan sehat seperti Yoga ini. Kadang aku merasa malas untuk melakukannya atau menundanya hanya karena aku ingin pergi keluar rumah bersama teman-teman lainnya. Tantangannya itu lebih dari diri sendiri sih, bagaimana kita konsisten menekuninya apalagi kita sudah mendaftar dan membayar program Yoga tersebut. Harga program Yoga di ruangan panas itu berbayar 20€ per pertemuan. Sayang sekali jika kita hanya sekedar ikutan tetapi tidak menekuninya. 

Saran aku buat teman-teman yang ingin ikut olahraga Yoga pertama kali adalah ikut saja dulu kursus yang tidak terlalu mahal seperti yang aku tuliskan di atas. Kedua, kita bisa termotivasi untuk konsisten olahraga Yoga kalau ada teman. Nah, ajak saja teman atau kenalan yang bersedia ikut Yoga juga. Lalu ikuti suara hati, apakah Yoga ini adalah olahraga yang cocok atau tidak? Kelas Yoga pemula itu biasanya sekitar 8 kali pertemuan. Selamat mencoba ya teman-teman yang tertarik untuk olahraga Yoga.

Penulis: Ecie, tinggal di Hamburg

(CERITA SAHABAT) Ini Penyebab Gangguan Tidurku

Sahabat RUANITA, perkenalkan aku X yang sekarang sedang bergulat mencari pekerjaan kedua di negeri, tempat aku menempuh studi Pascasarjana. Boleh dibilang aku cukup beruntung mendapatkan pekerjaan pertama setelah aku menyelesaikan studiku di benua biru ini. Apa daya aku tidak betah di kota yang menjadi lokasi kantor pekerjaan pertama, sehingga aku putuskan kembali ke kota asal aku menempuh studiku.

Berbicara soal gangguan tidur, ini bukan hal baru untuk diceritakan. Banyak teman-teman dekatku paham bagaimana aku kesulitan tidur kala aku sendirian, justru aku bisa tidur ketika ada teman yang menemani aku. Aneh memang!

Aku berpikir gangguan tidurku akan muncul kala aku stres dan banyak pikiran. Misalnya dulu aku mengkhawatirkan diriku yang belum lulus studi sementara teman-temanku sudah melanjutkan jenjang pendidikan lanjutan atau menempuh studi Pascasarjana lainnya. 

Kecemasan soal lulus studi tersebut membuatku overthinking. Aku pernah mencoba untuk mengatasi kecemasan dan persoalan gangguan tidur ini ke Psikolog saat aku sedang berlibur ke Indonesia tetapi itu seperti berhenti sesaat. Entah mengapa aku nggak bisa mengendalikan pikiran-pikiran yang berkeliaran dalam kepalaku.

Overthinking-ku semakin parah ketika aku kehilangan ayahku yang telah tiada. Beliau meninggal karena penyakit Kanker Prostat. Selama aku di Indonesia, aku berkesempatan merawat ayahku. Aku berjaga di tengah malam kala ayahku merintih kesakitan. Tak jarang aku membawa ayahku ke rumah sakit di tengah malam.

Pola tidur yang berantakan saat merawat ayahku plus kekhawatiran akan hidupku seperti kelulusan membuatku terus berpikir saat aku hendak tidur. Aku telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi gangguan tidur. Di negeri yang aku tempati tersedia teh dari tanaman untuk mengatasi gangguan tidur. Sepertinya itu tidak bekerja.

Aku punya adik dan kenalan yang bekerja di dunia medis. Aku sudah bertanya bagaimana cara praktis mengatasi gangguan tidur. Semua tips yang mereka sarankan telah aku coba. Contohnya, aku harus membuat badanku lelah sehingga aku lebih mudah tidur. Namun hasilnya itu hanya sesaat saja.

Aku berusaha menggali apa penyebab overthinking yang kualami. Aku terlalu berlebihan tentang penyakit kanker yang diderita ayahku. Aku begitu khawatir kalau aku ‘kan mendapatkan penyakit kanker Prostat seperti ayahku, padahal itu tak mungkin karena aku adalah perempuan.

Kekhawatiran berlebihan dalam gaya hidup dan makanan juga sangat berpengaruh setelah ayahku tiada. Aku benar-benar picky terhadap makanan yang kusantap. Aku bisa memikirkan bagaimana pembuatan makanan tersebut sehingga aku tidak mengambil makanan tersebut.

Hal yang berlebihan juga tampak ketika aku memilih semua peralatan masak hanya terbuat dari metal, untuk menghindari alat masak dari plastik. Kecemasan berlebihan ini sekarang sudah mulai berkurang karena banyak orang telah meyakinkanku bahwa semua baik-baik saja dan tak perlu overthinking.

Aku sendiri telah mencoba membuat jadwal konseling dengan Psikolog di negeri tempatku studi, ternyata aku harus menunggu hingga berbulan-bulan. Lalu aku mendatangi praktik dokter umum untuk bisa merekomendasikanku ke ahlinya saat aku membahas gangguan tidur. Dokter bilang aku baik-baik saja.

Ya begitulah gangguan tidurku itu bisa datang dan pergi. Saat waktu konselingku datang, tiba-tiba semua terasa baik-baik saja. Aku mencoba segala cara untuk bisa tidur nyenyak sesuai anjuran medis tetapi aku kadang tidak bisa mengendalikan pikiranku saat tidur.

Aku mencoba konsisten dengan waktu tidurku, tetapi aku tak bisa menolak ketika ada waktu berkumpul dengan teman-teman yang membuatku begadang dan baru tidur pagi hari. Sampai sekarang aku masih berusaha mengatasi gangguan tidurku.

Penulis: X, sedang mencari pekerjaan di perantauan