
Halo, Sahabat Ruanita. Kali ini Ruanita Indonesia kembali hadir dalam Cerita Sahabat bersama Astrid Kurniasari untuk membahas tema imunisasi pada anak. Astrid Kurniasari adalah seorang general practitioner (GP) yang kini berdomisili di Norwegia.
Setelah lulus dari pendidikan kedokteran Universitas Brawijaya Malang dan bekerja sebagai dokter poliklinik di Indonesia, ia pindah ke Norwegia pada tahun 2012 bersama keluarganya. Kini Astrid sedang menjalani program Lege i Spesialisering-1 (LIS-1) di rumah sakit dan fasilitas kesehatan kommune.
Di Norwegia inilah Astrid merasakan pengalaman hidup dan karir yang berbeda, sekaligus menikmati keseimbangan antara bekerja dan membesarkan anak-anaknya. “Motivasi kami tinggal di Norwegia pada awalnya adalah untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih seimbang. Negara ini sangat mendukung work-life balance,” tutur Astrid.
Kehadiran negara dalam bentuk kemudahan fasilitas daycare dan jatah parental leave yang panjang membuat Astrid sebagai orangtua mampu membesarkan anak-anaknya sekaligus berkarir dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Pengalaman Astrid dalam menangani pasien terkait imunisasi di Norwegia membuka wawasan baru. Dalam perjalanannya, Astrid tidak hanya menangani kasus kesehatan tetapi juga mendalami isu-isu penting seputar imunisasi.
Menurut Astrid, imunisasi adalah hak dasar setiap anak. “Ini adalah cara kita melindungi mereka dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa manfaat imunisasi tidak hanya melindungi individu tetapi juga membentuk kekebalan komunitas (herd immunity). “Herd immunity sangat penting, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti bayi baru lahir, lansia, atau orang dengan sistem imun yang lemah.”
Sistem Imunisasi di Norwegia dan Pelajaran untuk Indonesia
Astrid menjelaskan bahwa imunisasi di Indonesia dibagi menjadi imunisasi yang diwajibkan dan yang dianjurkan, sedangkan imunisasi di Norwegia semua imunisasi bersifat dianjurkan (voluntary).
Meski program imunisasi di Norwegia bersifat sukarela, tetapi hampir semua keluarga mematuhinya.
Pada prinsipnya, imunisasi dasar untuk bayi di Norwegia dilakukan di posyandu, sedangkan imunisasi ulangan (booster) dan yang dianjurkan untuk anak-anak dan remaja dilaksanakan di sekolah dasar dan sekolah menengah.
Selain itu ada juga imunisasi atau vaksinasi tambahan yang dianjurkan sebelum bepergian ke negara-negara dengan penyakit endemis tertentu; imunisasi ini dapat diakses secara mandiri dan dilakukan di klinik imunisasi khusus perjalanan ataupun di tempat praktik dokter.
Sementara di Indonesia, imunisasi dasar, lanjutan dan mandiri bisa dilakukan di posyandu, sekolah, atau di tempat praktik dokter, rumah sakit, ataupun rumah imunisasi – sesuai dengan permintaan pasien.
Salah satu perbedaan utama antara Norwegia dan Indonesia adalah vaksin BCG. “Norwegia tidak memberikan vaksin BCG secara rutin karena bukan negara endemis tuberkulosis,” jelasnya.
Meski begitu, vaksin ini tetap diberikan kepada anak-anak dari kelompok risiko tertentu. Lalu vaksin Hepatitis A, tifoid dan DBD hanya diberikan atas permintaan khusus dari orang-orang yang akan bepergian ke negara dengan risiko penularan tinggi, dan ini tidak masuk dalam program pemerintah. Vaksin Varicella juga diberikan hanya jika ada permintaan pribadi karena tidak masuk program vaksin yang dianjurkan pemerintah.
Persepsi dan edukasi mengenai imunisasi di Indonesia dan Norwegia
Astrid menyoroti beberapa perbedaan persepsi akan imunisasi di Indonesia dan Norwegia, namun menurutnya, sulit untuk membandingkan masyarakat di kedua negara tersebut. Perbedaan karakteristik yang sangat beragam di masyarakat Indonesia dari segi budaya, kepercayaan, tingkat ekonomi dan pendidikan turut mempengaruhi keragaman persepsi akan imunisasi.
Ini berbeda dengan masyarakat Norwegia tidak memiliki keragaman yang signifikan diantara sesama penduduknya, namun keragaman justru datang dari kelompok warga pendatang/imigran.
Menurut Astrid, baik Indonesia dan Norwegia memiliki tantangannya masing-masing dalam edukasi imunisasi namun kuncinya adalah penggunaan sarana penyampaian edukasi yang tepat tentang dan disesuaikan kondisi masyarakat.
Misalnya, di Norwegia, sumber informasi untuk imunisasi dari Folkehelseinstitutet (FHI) bisa diakses dengan mudah oleh siapapun dan tersedia dalam beberapa bahasa. Sedangkan di Indonesia, tidak semua orang dapat mengakses informasi imunisasi dari IDAI atau Kemenkes. Justru peran para pemimpin komunitas, pemuka agama dan tokoh masyarakat sangat kuat.
Di Norwegia, Astrid mengedukasi pasien dengan menunjukkan fakta dari sumber kredibel. Ia mencontohkan situs FHI di Norwegia atau CDC dan IDAI untuk masyarakat Indonesia. “Kunci meluruskan mitos adalah edukasi yang berkelanjutan,” jelasnya. Astrid menyoroti bahwa akses terhadap informasi menjadi kunci keberhasilan imunisasi di Norwegia.
“Di sini, pemerintah menyediakan informasi yang mudah diakses dan tersedia dalam berbagai bahasa,” ungkapnya. Ia berharap Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa dengan melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam edukasi imunisasi.
Sebagai dokter, Astrid sering menghadapi mitos-mitos seputar imunisasi, baik di Indonesia maupun di Norwegia. Salah satu mitos yang paling sering ia temui adalah anggapan bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme.
“Itu adalah mitos yang sudah dibantah oleh banyak penelitian ilmiah,” tegas Astrid. Ia juga mengklarifikasi mitos lain seperti batuk atau pilek tidak boleh divaksin” atau vaksin mengandung bahan haram untuk umat Muslim.
Mengenai efek samping vaksinasi, dari pengamatan biasanya minim sekali dan umumnya berupa demam ringan dan sedikit nyeri di bekas suntikan.
Ini memang akan membuat anak merasa kurang sehat atau rewel, namun bisa diatasi dengan membuat anak merasa nyaman, mengompres bekas suntikan yang sakit, atau memberikan obat paracetamol jika anak merasa nyeri atau demam.
Astrid kerap menjelaskan kepada pasiennya bahwa efek samping vaksin yang umum, seperti demam ringan atau rasa nyeri di area bekas suntikan, biasanya tidak sebanding dengan risiko penyakit yang dapat dicegahnya.
“Jika ada kekhawatiran mengenai efek samping atau reaksi alergi, sebaiknya bertanya langsung kepada tenaga medis dan merujuk pada sumber terpercaya seperti IDAI, WHO atau CDC,” tambahnya.
Harapan Untuk Masa Depan
Astrid memiliki harapan besar untuk program imunisasi di Indonesia. “Tantangannya memang besar, mulai dari keberagaman masyarakat hingga geografis yang sulit,” katanya.
Namun, ia yakin bahwa tenaga kesehatan di Indonesia dapat terus bersemangat mengedukasi masyarakat. Dengan kolaborasi bersama komunitas dan tokoh masyarakat, cakupan imunisasi dapat ditingkatkan.
Di akhir wawancara, Astrid berpesan kepada orang tua yang masih ragu untuk memberikan imunisasi kepada anak-anak mereka.
“Vaksinasi adalah investasi untuk masa depan anak Anda. Jangan ragu untuk mencari informasi dari sumber yang terpercaya dan berkonsultasi dengan dokter.”
—-
Penulis: Aini Hanafiah, relawan Ruanita di Norwegia berdasarkan wawancara dengan Astrid Kurniasari yang dapat dikontak lewat akun instagram @astridku.












