(IG LIVE) Ketika Menjadi Janda Bukan Akhir Cerita: Belajar Memilih Empati di Hari Internasional Janda

Mungkin tidak banyak tahu kalau ada peringatan Hari Internasional Janda yang diperingati tiap 23 Juni. Tentunya, kami mengambil momen ini untuk para perempuan agar bisa bersuara tentang bagaimana pengalaman dan tantangannya dalam status pernikahan yang disebut janda tersebut. Bahkan status janda itu masih menjadi stigma sosial yang memang perlu terus disuarakan, seperti melalui program diskusi IG LIVE bulan Juni ini. Program ini berhasil mengundang Telda Hille, yang bercerai dari suaminya di Jerman dan Barbie Nouva, seorang perempuan Indonesia yang memilih menjadi Single Mom by Choice di Rumania.

Melihat perempuan sendirian bersama anak tampaknya masih memberikan pertanyaan pribadi, seperti: “Ayahnya mana?”; “Kok bisa jadi ibu tunggal?”; “Nggak kasihan anaknya?” dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu mungkin hanya basa-basi. Namun bagi perempuan yang sedang berjuang membesarkan anak seorang diri, setiap kalimat itu bisa menjadi pengingat bahwa masyarakat masih lebih mudah menghakimi daripada memahami.

Itulah benang merah yang mengalir sepanjang diskusi Instagram Live Ruanita Indonesia dalam rangka memperingati Hari Internasional Janda yang diperingati setiap 23 Juni. Selama hampir satu jam, dua perempuan Indonesia yang kini tinggal di Eropa membuka lembar kehidupan yang selama ini jarang diceritakan kepada publik. Bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk mengajak kita melihat bahwa di balik status “janda” atau “single mom” selalu ada kisah yang jauh lebih kompleks daripada apa yang tampak di permukaan.

Barbie menjadi orang pertama yang berbagi cerita. Dengan suara yang tenang, ia mengenang bagaimana impiannya membangun keluarga harus berubah arah ketika pasangan yang dicintainya meninggal dunia. Kepergian itu memang menghapus banyak rencana, tetapi tidak menghilangkan keinginannya untuk menjadi seorang ibu. Ia memilih melanjutkan mimpi tersebut melalui keputusan yang telah mereka rencanakan bersama. Keputusan yang bagi dirinya lahir dari cinta, tetapi bagi sebagian orang justru memunculkan banyak tanda tanya.

Menariknya, selama tinggal di Eropa, Barbie hampir tidak pernah merasa harus menjelaskan pilihan hidupnya kepada siapa pun. Tidak ada yang sibuk bertanya siapa ayah anaknya atau mengapa ia membesarkan anak sendirian. Orang-orang menghormati ruang pribadi dan percaya bahwa setiap keluarga memiliki cerita yang tidak harus diketahui orang lain.

Namun suasananya berubah ketika ia lebih sering berada di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan mulai berdatangan. Bukan sekali dua kali, tetapi hampir setiap kali bertemu orang baru. Dari mana ayah anaknya? Apakah masih berkomunikasi? Mengapa memilih jalan hidup seperti itu? Awalnya Barbie mencoba menjawab dengan sabar. Lama-kelamaan ia menyadari bahwa yang melelahkan bukanlah memberikan penjelasan, melainkan menghadapi rasa ingin tahu yang seolah tidak ada habisnya.

Meski demikian, ia tidak pernah mengatakan bahwa membesarkan anak seorang diri adalah perjalanan yang mudah. Ada saat-saat ketika putranya mulai membutuhkan figur laki-laki dalam kehidupannya. Beruntung, ia memiliki saudara laki-laki yang hadir sebagai teladan bagi sang anak. Dukungan keluarga dan sahabat terdekat menjadi pengingat bahwa seorang ibu tidak harus menjalani semuanya sendirian. Kadang, kekuatan datang dari orang-orang yang memilih tinggal ketika yang lain hanya datang untuk bertanya.

Cerita berikutnya datang dari Telda. Jika Barbie berbicara tentang kehilangan, maka Telda berbicara tentang keberanian meninggalkan hubungan yang tidak lagi sehat. Saat memutuskan bercerai, anaknya masih sangat kecil. Di masa itu, ia bukan hanya harus menata ulang hidupnya, tetapi juga berusaha tetap menjadi tempat paling aman bagi buah hatinya.

Yang paling berat ternyata bukan proses perceraian itu sendiri. Yang jauh lebih menguras tenaga adalah komentar orang-orang di sekitarnya. Demi menjaga kesehatan mental, Telda memilih menutup akun media sosialnya. Ia tidak ingin setiap hari membaca penilaian dari orang-orang yang bahkan tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik rumah tangganya. Baginya, diam bukan berarti menyerah. Diam adalah cara bertahan agar dirinya tetap bisa menjadi ibu yang utuh bagi anaknya.

Di tengah masa yang penuh ketidakpastian itu, justru lingkungan tempat ia tinggal di Jerman menghadirkan pengalaman yang berbeda. Rekan kerja membantunya menemukan tempat perlindungan bagi perempuan. Teman-temannya bersedia menjaga anak ketika ia harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Tidak banyak pertanyaan yang diajukan. Yang lebih sering terdengar justru kalimat sederhana, “Apa yang bisa kami bantu?” Dukungan seperti itulah yang perlahan memulihkan rasa percaya dirinya.

Dalam diskusi tersebut, baik Barbie maupun Telda sama-sama menyoroti satu hal yang menurut mereka sangat membedakan pengalaman hidup di Eropa dan Indonesia, yaitu cara masyarakat memandang kehidupan pribadi seseorang. Di banyak negara Eropa, status sebagai ibu tunggal bukanlah identitas yang harus diperdebatkan. Sementara di Indonesia, status tersebut masih sering menjadi bahan penilaian sosial. Padahal tidak seorang pun benar-benar mengetahui luka, perjuangan, maupun alasan yang membawa seseorang sampai pada titik itu.

Ketika diminta menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia, Telda tidak berbicara tentang perubahan besar. Ia hanya mengajak kita belajar satu hal yang sederhana: empati. Menurutnya, masyarakat tidak harus selalu memiliki jawaban atas kehidupan orang lain. Tidak semua masalah membutuhkan komentar. Tidak semua kisah membutuhkan penilaian. Kadang seseorang hanya membutuhkan telinga yang mau mendengar dan hati yang bersedia memahami.

Ucapan itu terasa begitu emosional ketika Telda mengenang bagaimana komentar negatif yang pernah ia terima masih membekas hingga hari ini. Ia mengaku berusaha tidak menangis di depan orang lain karena ingin terlihat kuat. Namun sesampainya di rumah, semua rasa sakit itu tetap mencari jalannya sendiri. Saat itulah ia menyadari bahwa kata-kata dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat, tetapi sangat lama sembuhnya.

Meski demikian, keduanya sepakat bahwa alasan mereka terus melangkah selalu kembali kepada anak-anak mereka. Melihat anak tumbuh sehat, tertawa, bermain, dan menjalani hidup dengan bahagia menjadi sumber tenaga yang membuat semua perjuangan terasa berarti. Mereka tidak sedang mengejar pengakuan sebagai perempuan yang hebat. Mereka hanya ingin menjadi ibu yang hadir sepenuh hati bagi anak-anaknya.

Hari Internasional Janda pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang perempuan yang kehilangan pasangan. Hari ini mengingatkan kita bahwa di sekitar kita ada banyak perempuan yang setiap hari sedang bertarung melawan kesepian, stigma, dan berbagai prasangka yang tidak mereka pilih. Mungkin kita tidak mampu menghapus semua beban yang mereka pikul. Namun kita selalu punya pilihan untuk tidak menambah bebannya. Sebab sebelum mengajukan pertanyaan, mungkin kita perlu mengingat satu hal: setiap orang sedang membawa cerita yang tidak seluruhnya bisa kita lihat. Sering kali, bentuk kasih yang paling sederhana adalah memilih untuk mendengarkan, bukan menghakimi.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Kisah Melawan Stigma Sosial Janda di Masyarakat

Kata “janda” seperti kata kutukan yang dilemparkan masyarakat tanpa ampun. Istilah “janda” tidak hanya menyiratkan kehilangan pasangan, tetapi juga dibebani dengan prasangka, stereotip, dan stigma yang seolah tak pernah usai. Saya, Conny Salamony, pernah hidup dalam bayang-bayang kata itu. Kini, saya menulis cerita sahabat ini bukan untuk membalas, melainkan untuk mengingatkan bahwa di balik kata “janda”, ada manusia yang juga berhak dihormati, dicintai, dan dikuatkan.

Saya mengenal suami saya lewat Yahoo Chat Room, sebuah tempat yang kini mungkin hanya tinggal sejarah. Kami mulai berkenalan pada 2004, menjalani hubungan jarak jauh, hingga akhirnya dia datang ke Indonesia pada 2006. Kami menikah pada 2007 di Jakarta. Dia adalah pria asal Sri Lanka yang hangat, lucu, dan sabar. Hidup bersamanya membuat saya harus keluar dari zona nyaman, belajar berpergian antar negara sendiri, tinggal di tempat asing seperti Sri Lanka dan Oman, dan belajar berkomunitas dengan cara yang baru.

Pernikahan kami tidak sempurna, tapi dipenuhi cinta dan pelajaran hidup. Meski sebagai istri saya sering sakit-sakitan, suami tetap mendampingi tanpa banyak keluhan. Hingga pada tahun 2017, tiba-tiba hidup kami berubah drastis.

Di pertengahan tahun itu, suami saya jatuh sakit secara mendadak. Diagnosisnya adalah diabetes, dan kondisinya memburuk dengan cepat. Saat itu kami tinggal di Oman, dan ia kemudian dirawat di Sri Lanka, negara asalnya. Saya dan anak kami masih tinggal di Oman.

Saat para tenaga medis memberi kode bahwa ini mungkin adalah akhir, saya mulai mempersiapkan diri secara emosional. Bulan Desember 2017, saya dan anak kami dipanggil ke Sri Lanka. Sayangnya, ia meninggal dunia saat kami masih di pesawat menuju ke sana.

Anak kami saat itu masih kecil. Ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, tapi ia tahu bahwa ibunya sedang terluka dan butuh teman. Ia pun tumbuh menjadi penyemangat saya, bahkan dalam kelucuannya yang kelam. Dalam satu kesempatan, saat teman-temannya berkata “my father is…”, ia menjawab, “my father is dead,” sambil tertawa. Saya tahu, itu cara dia berdamai.

Menjadi janda di Indonesia bukan perkara mudah. Justru di Sri Lanka-lah saya pertama kali merasakan stigma yang paling tajam. Di sana, seorang janda dianggap sebagai “kutukan” yang membawa kematian bagi suaminya. Sebuah pandangan yang membuat saya ingin menghilang.

Namun kembali ke Indonesia pun tidak serta merta membuat saya merasa aman. Saya mendapati diri saya menjadi sasaran prasangka. Kata-kata seperti “janda pelakor”, “lebih mudah diajak tidur”, hingga “lebih nakal karena pernah menikah” menjadi semacam bisikan yang tidak diucap di depan, tapi terasa menyesakkan.

Sebagai janda dari WNA, ada pula ekspektasi aneh. Laki-laki yang mencoba mendekati saya seringkali berasumsi bahwa saya lebih “liar” karena pernah menikah dengan pria asing. Rasanya ingin menampar mereka, tapi saya memilih untuk membangun jarak dan melindungi diri serta anak saya.

Saya bersyukur punya keluarga dan teman-teman yang menjadi support system saya. Tapi tidak semua orang begitu. Saya paham betul mengapa banyak perempuan takut menjadi janda, bukan hanya karena kehilangan pasangan, tetapi karena harus menghadapi dunia yang kejam setelahnya.

Setelah kepergian suami, saya tidak hanya berduka. Saya juga harus berpikir keras tentang bagaimana membesarkan anak dan mencukupi kebutuhan hidup. Beruntung, keluarga saya sangat mendukung, dan saya bisa tinggal bersama mereka. Secara finansial, saya bekerja sebagai virtual assistant, sebuah profesi yang saya bangun pelan-pelan dengan belajar dari komunitas daring.

Negara asal suami saya tidak memberikan dukungan apapun. Di Indonesia pun saya belum pernah mengajukan bantuan seperti KJP karena memang belum sempat. Yang paling menantang tentu saja mengelola keuangan dan memastikan anak saya tetap merasa dicintai, aman, dan diterima.

Saya sadar, anak-anak dari keluarga tunggal sering kali merasa tidak utuh. Sejak awal, saya tanamkan padanya bahwa siapapun yang saya dekati akan dikenalkan padanya. Bahwa dia tetap nomor satu di hidup saya. Keterbukaan dan kejujuran menjadi fondasi hubungan kami.

Sebagai istri WNA, ada tantangan tambahan: birokrasi yang rumit. Misalnya, saya tidak bisa menarik dana dari rekening suami saya di Sri Lanka karena saya bukan warga negara sana. Anak saya bisa, tapi dia masih berusia tujuh tahun saat itu. Jadi, kami hanya bisa tarik uangnya lewat ATM perlahan-lahan, sebelum rekening dibekukan.

Warisan? Tidak ada. Bahkan untuk menjual mobil peninggalan suami di Oman, saya harus mengurus surat kuasa dari notaris agar bisa menjualnya atas nama saya. Untuk paspor anak pun butuh perjuangan. Meski ia punya kewarganegaraan ganda, tetap saja prosesnya berliku dan mahal. Untungnya, sepupu suami yang bekerja sebagai wartawan membantu kami mempermudah beberapa prosedur lewat kenalannya.

Apa yang membuat saya bertahan sampai hari ini? Jawabannya sederhana: anak saya. Ia adalah sumber kekuatan terbesar saya, dan saya ingin menjadi sosok yang bisa ia banggakan. Selain itu, teman dan keluarga juga menjadi pengingat bahwa saya tidak sendiri.

Saya tidak segan memutus hubungan dengan orang-orang yang membawa energi negatif. Teman-teman yang hanya pandai mengomentari tapi tak pernah membantu, saya tinggalkan. Saya memilih menjaga kewarasan dan kesehatan mental, karena saya tahu itu kunci untuk bisa tetap menjadi ibu yang utuh dan manusia yang sehat.

Jika ada satu pesan yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat luas, itu adalah: jangan pernah menyalahkan pasangan yang masih hidup atas kematian pasangannya. Banyak orang bertanya kenapa suami saya bisa meninggal duluan. Apakah saya tidak bisa menjaga? Apakah saya tidak becus? Siapa yang bisa melawan takdir Tuhan?

Kematian bukanlah kesalahan pasangan yang ditinggal. Itu adalah keputusan semesta. Tugas kita bukan menghakimi, tapi memberi ruang bagi mereka yang ditinggalkan untuk sembuh.

Buat para perempuan, janganlah menganggap janda itu pelakor. Teruntuk para pria, perempuan nakal itu tidak selalu janda. Banyak janda yang justru menjaga kehormatan dan tahu betul batas tubuhnya.

Saya tahu betapa sulitnya menjadi janda. Namun, saya ingin mengingatkan bahwa kita semua tetap berharga di mata Tuhan. Jangan biarkan stigma membungkam suara kita. Jangan biarkan omongan orang lain menghapus harga diri kita.

Untuk yang masih punya anak kecil, ingatlah: mereka adalah semangat kita. Tidak apa-apa membuang orang-orang yang tidak mengerti perjuangan kita. Kesehatan mental jauh lebih penting daripada memenuhi ekspektasi sosial yang absurd.

Hari Janda Sedunia bukan hanya perayaan, tapi pengingat bahwa perempuan juga manusia, dan kehilangan tidak membuat kita lebih rendah. Kita bukan korban, kita pejuang.

Saya menulis ini bukan sebagai keluhan, tapi sebagai cermin. Masyarakat kita butuh bercermin tentang bagaimana mereka memperlakukan perempuan yang ditinggal mati oleh pasangan mereka.

Janda bukan label yang perlu disembunyikan, bukan status yang harus dibersihkan. Janda adalah status kehidupan, sama seperti “istri”, “ibu”, “anak”, atau “teman”.

Dan saya, Conny Salomony, memilih untuk menjadi janda yang bangga. Bukan karena ditinggal, tapi karena saya bertahan.

Penulis: Conny Salamony, admin komunitas kawin campur dan dapat dikontak via akun instagram connysalamony.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bagaimana Hidup sebagai Janda di Tengah Mayoritas Janda di Kamboja?

Tahukah kalau 23 Juni diperingati sebagai Hari Janda Internasional? Di banyak negara, status janda masih kerap dipandang sebelah mata. Namun, di balik label itu ada kisah perjuangan, keberanian, dan cinta tanpa batas. Salah satunya datang dari Ricca Maurizky, seorang perempuan Indonesia yang kini tinggal di Kamboja. Ricca bercerita bahwa di Kamboja, cukup banyak perempuan berstatus janda. Namun, pandangan masyarakat di sana berbeda dengan negara tetangga. Ia membandingkan dengan Malaysia yang membedakan istilah janda (cerai hidup) dan balu (ditinggal mati).

Menurut Ricca, di Malaysia, status balu lebih dihormati, karena kehilangan pasangan bukanlah pilihan. Sementara janda karena perceraian sering dianggap sebagai kegagalan rumah tangga.

“Tapi buat aku sendiri, entah itu janda atau balu, aku hanya ingin mempredikatkan diriku sebagai single parent,” ujarnya tegas.

Di tahun keempat tinggal di Kamboja, Ricca menjalani operasi karena fibroid. Dari situ, ia juga didiagnosis mengalami anxiety dan depression. Kondisi ini memaksanya untuk beradaptasi dan mengambil langkah berani. Dokter menyarankan Ricca pindah rumah demi memperbaiki suasana hati. Ia menyiapkan apartemen yang lebih kecil, dengan fasilitas lift dan layanan kebersihan mingguan. Semua dipikirkan agar setelah operasi, ia tetap bisa beraktivitas dengan aman dan nyaman.

Keputusan itu bukan hanya soal tempat tinggal, tapi juga bentuk nyata dari usaha untuk pulih. “Bagus itu, berarti kamu mau sembuh,” kata dokternya, memberi semangat. Di tengah stigma masyarakat, Ricca bersyukur dikelilingi lingkungan yang memahami perjuangannya. Rekan-rekan kerja melihat dirinya bukan sekadar janda, melainkan seorang ibu tangguh yang membesarkan dua anak seorang diri.

Bahkan, keluarganya mendukung penuh jika ia ingin menikah lagi. “Cari teman hidup, atau pengganti ayahnya anak-anak, itu terserah kamu,” begitu pesan dari mertuanya. Namun, Ricca memilih fokus pada perjalanan hidupnya saat ini. Selain sulit mencari pasangan, tantangan lain adalah kesepian. Hidup di luar negeri membuatnya sulit mendapatkan teman dekat.

“Orang asing yang datang ke sini tidak ada yang menetap. Mereka datang karena misi, karena tugas. Jadi nggak mudah,” tuturnya.

Kisah Ricca menggambarkan realita banyak janda di seluruh dunia, diantara stigma, kesepian, dan perjuangan membesarkan anak-anak. Namun, dari sana juga lahir ketangguhan, keberanian untuk pulih, dan kemampuan merancang kehidupan baru. Hari Janda Internasional bukan sekadar peringatan, tetapi ajakan untuk menghormati perjuangan perempuan seperti Ricca. Bagi mereka, status bukanlah akhir, melainkan jalan baru untuk menemukan resiliensi di tengah perjuangan tinggal jauh dari tanah air.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tujuh Tahun Terpisah dari Anak, Usai Bercerai di India

Dalam episode cerita sahabat spesial di bulan Juni 2024, Ruanita Indonesia mengangkat cerita dari India terkait pelaksanaan Hari Janda Sedunia, yang diperingati setiap 23 Juni. Oleh karena itu, kami mengundang Dianita Pramesti yang tinggal di India dan bekerja sehari-hari sebagai pengajar di salah satu taman kanak-kanak atau Preschool di Goa, India.

Dianita adalah ibu dari dua orang putra, dari hasil perkawinannya dengan pria asal Goa, India. Di India, anak laki-laki begitu mendapat tempat istimewa dalam keluarga. Menjadi janda, terpisah dari anak kandung dan bertahan hidup di India yang tak mudah bagi Dianita saat itu.

Ini berbeda dengan anak-anak perempuan di India, ketika mereka tumbuh dewasa dan menikah, kebanyakan mereka akan ikut dan tinggal di pihak keluarga suami. Ketika perempuan menikah di India, perempuan pun perlu menyerahkan mas kawin kepada pihak keluarga laki-laki.

Sekelumit cerita Dianita tentang bagaimana dia mengenal betul kultur India, yang menjadi rumah keduanya sekarang. Awalnya, dia bertemu dengan pria berkewarganegaraan India yang kemudian membuatnya untuk menikah dan memutuskan tinggal di India.

follow us

Dianita mengakui dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan pernikahannya, tetapi pada akhirnya mantan suaminya tersebut memutuskan untuk pergi ke negara lain dan bekerja di sana. Mantan suaminya pun telah menemukan tambatan hati yang baru.

Setelah Dianita terpisah dari suaminya, kedua putranya terpaksa tinggal bersama keluarga di pihak mantan suami. Anak-anak Dianita diasuh dan dibesarkan oleh keluarga mantan suami. Sesekali Dianita bisa berkunjung untuk melihat kedua putranya, misalnya kalau mereka berulang tahun.

Keluarga pihak mantan suami tidak mengizinkan kedua putranya Dianita tinggal bersamanya, meskipun ayahnya dari kedua putranya pun tidak ikut mengasuh mereka. Selama tujuh tahun, Dianita berjuang untuk bertahan hidup di India dan memperjuangkan hak asuhnya agar bisa bersatu kembali dengan anak-anaknya.

Dianita mengakui itu tidak mudah, apalagi Dianita saat itu sudah menjadi janda dan harus menghidupi dirinya sendiri. Beruntung ada banyak pihak yang menolong Dianita, sehingga perjuangannya tidak sia-sia. Dia berhasil mendapatkan hak asuh anaknya, walaupun dia harus membayar mahal pihak pengacara di sana.

Kalau Anda bersimpati terhadap cerita Dianita dan ingin membantu secara finansial, silakan mendapatkan kontak Dianita dengan menghubungi email Ruanita Indonesia.

Apa yang terjadi dengan Dianita sehingga dia tinggal dan berpisah dengan suaminya? Bagaimana perjuangan Dianita mendapatkan hak asuh anaknya? Siapa saja stakeholders yang sudah membantu Dianita untuk keluar dari permasalahan hak asuh anaknya? Setelah mendapatkan hak asuh anaknya, bagaimana kehidupan Dianita sekarang? Apa pesan Dianita kepada kita semua?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Bagaimana Tantangan Hidup Menjadi Janda di Perantauan?

Episode IG Live pada bulan Juni ini, RUANITA mengangkat tema International Widows Day yang diperingati setiap 23 Juni oleh dunia untuk mengadvokasi hak para janda yang masih mendapatkan stigma sosial dan belum dihargai di masyarakat.

Oleh karena itu, RUANITA mengundang Rizky Suryani atau yang disebut Kiky yang kini menetap di Swedia lewat akun IG: little_monkey2016 dan diskusi dipandu oleh Dina Diana, mahasiswi S3 di Jerman lewat akun IG: ruanita.indonesia.

Kiky telah menetap di Swedia sejak 2020 setelah menikah dengan pria asal Swedia pada pernikahan keduanya. Sebelumnya Kiky telah menikah dengan pria asing juga pada pernikahan pertamanya, tetapi kandas disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga selama lima tahun.

Enam tahun setelah pernikahan pertamanya berakhir, Kiky bertemu dengan almarhum suami keduanya. Setahun pernikahannya, almarhum suaminya mempunyai kanker.

Kiky mengakui almarhum suami keduanya adalah true love yang membuat Kiky merasakan cinta sejatinya, tetapi sayangnya maut memisahkan mereka. Kiky pun menyadari banyak challenging yang dihadapinya dalam merantau di Swedia seperti tantangan budaya, bahasa, sosial, dan hukum tetapi Kiky senang menjalaninya berkat dukungan almarhum suaminya. Setahun setelah menikah dengan alrmahum, suaminya didiagnosa kanker.

Menurut Kiky, pengalaman menjadi janda itu berbeda antara janda ditinggal mati dengan janda ditinggal hidup karena Kiky mengalami keduanya dalam pernikahannya. Menjadi janda di Swedia, Kiky mengakui tidak mengalami stigma sosial dari masyarakat sekitar.

Dia justru mendapatkan belas kasihan dari lingkungan sekitarnya. Kiky menyebutnya: “It’s just life. It happens to anybody.” ketika pernikahan keduanya berakhir karena maut.

Follow us: @ruanita.indonesia

Kiky berpendapat bahwa janda adalah status sosial seperti layaknya orang lajang, orang menikah, dan juga janda yang dapat terjadi pada siapapun. Kiky tidak merasa malu terhadap statusnya sebagai janda pada pernikahan pertamanya, bahkan dia cenderung bangga karena berhasil keluar dari pernikahan toksiknya.

Sedangkan pada pernikahan kedua, dia pun merasa sedih harus kehilangan suami akibat kanker yang merenggutnya. Akhirnya, Kiky kembali pada mindset untuk memahami situasi hidupnya.

Bagaimana Kiky menghadapi tantangan sosial yang kadang masih bermunculan di masyarakat Indonesia? Apa pesan Kiky pada masyarakat umumnya dan sahabat RUANITA khususnya yang mengalami situasi yang sama dengannya? Apa harapan Kiky di Hari Janda Internasional ini?

Simak selengkapnya dalam rekaman ulang berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami ya!

(CERITA SAHABAT ) Setelah Setahun Berlalu

Enak gak menikah dengan bule? Kok bisa dapat bule, sih? Ketemu di mana? Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu dilontarkan ketika saya menikah dengan pria Jerman. Sejujurnya, dengan siapa pun menikah, dari mana pun asal pasangan, tidak ada bedanya. Enak atau tidak enaknya bergantung pada karakter mereka.

Dulu memang saya berpikir jika menikah dengan pria asing, maka mereka akan memperlakukan istri lebih baik dari pria-pria Indonesia. Akan ada saling menghargai, saling membantu, dan keseimbangan gender. Akan tetapi, saya salah. Pria bule atau pria Indonesia itu sama.

Semuanya bermula ketika saya bertemu dengan pria Jerman di kota tercinta Jakarta. Pertemuan itu yang akhirnya membawa saya tinggal dan hidup di Jerman, negara yang tidak pernah ada dalam mimpi saya.

Saya pindah ke Jerman atas dasar cinta. Saya meninggalkan pekerjaan terbaik yang mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Itu pekerjaan yang memperbaiki finansial saya secara pribadi dan keluarga.

Saya adalah wanita single mandiri, bisa melakukan apa saja tanpa bantuan siapa-siapa, berjuang hidup di Jakarta yang keras, menghabiskan masa muda saya dengan sibuk memperbaiki perekonomian keluarga, menjadi tulang punggung keluarga, dan akhirnya luluh hanya dengan satu kata: cinta.

Tidak mudah untuk menikah dan berpindah hidup di negara asing.  Begitu banyak yang harus saya pelajari, kebiasaan orang-orang Jerman, budaya, dan terlebih lagi bahasa. Bahasa adalah yang terberat karena saya tidak hanya memelajari bahasa resmi Jerman (Hochdeutsch), tetapi saya harus mempelajari atau terbiasa mendengarkan bahasa lokal (dialek) Bayerisch (=salah satu dialek di negara bagian Bavaria, Jerman) yang terkadang membuat saya bingung.

Sedangkan tentang kebudayaan dan kebiasaan, saya sangat menyukainya karena semua itu menambah pengetahuan saya. Sejujurnya saya tidak merasakan apa itu yang namanya culture shock. Saya bahkan menikmati hal-hal baru yang saya temui di negara itu.

Proses kepindahan saya ke Jerman dimulai dari proses menuju pernikahan sipil yang direncanakan dan akan diadakan di Jerman. Saya memutuskan untuk memulai semua proses dokumen sendiri, tanpa menggunakan jasa agen, karena rasa keingintahuan saya dalam memproses dokumen-dokumen itu.

Begitu pun dengan calon suami. Dia juga sibuk menyiapkan dokumen-dokumen yang diminta oleh pihak pemerintahan Jerman.

Semuanya tidak semudah bayangan kami, apalagi di saat-saat pandemi ketika semua proses menjadi terbatas dan sangat lambat. Bahkan, hari pernikahan pun harus mundur karena visa yang belum bisa dikeluarkan oleh Kedutaan Jerman di Jakarta.

Follow us: @ruanita.indonesia

Tingkat stres yang tinggi antara mengurus dokumen-dokumen pernikahan, pekerjaan di kantor, dan kursus bahasa Jerman yang “wajib” saya ikuti di Goethe Institut Jakarta, menyebabkan naik-turunnya hubungan saya dan calon suami saat itu.

Ada masa-masa saya hampir menyerah dan tidak ingin melanjutkan proses pernikahan itu. Ada juga perasaan berat meninggalkan keluarga, terutama ibu, karena hanya beliaulah orang tua saya satu-satunya. Meninggalkan pekerjaan juga terasa berat karena saya sedang merasakan kesuksesan dari hasil jerih payah saya bertahun-tahun bergelut di dunia kerja.

Akan tetapi, atas dasar cinta dan keyakinan bahwa pria ini akan membahagiakan saya dan akan menjadi tempat sandaran seumur hidup, saya memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan saya yang nyaman di Indonesia untuk mengikuti suami ke negaranya.

Agustus 2020, hari “kemenangan” buat saya, ketika akhirnya saya bisa bersatu dengan pria yang saya cintai dan bersumpah bahwa saya akan selalu setia dan bersama dia dalam suka maupun duka, sampai Tuhan memanggil salah satu di antara kami. Di hari itu, walaupun ada rasa bahagia, ada rasa sedih juga ketika ibu tidak bisa menghadiri pernikahan yang saat itu saya kira adalah pernikahan pertama dan terakhir saya.

Beberapa bulan setelah pernikahan, semua masih terasa indah. Sampai setahun setelah pernikahan, sesuatu itu terjadi.

Selama ini saya tidak merasa ada masalah di dalam kehidupan rumah tangga kami, tetapi ternyata apa yang suami saya rasakan, berbeda. Suatu pagi, dia meminta kami untuk bercerai dengan alasan dia tidak bahagia.

Ada beberapa hal yang dia katakan sebagai alasan perceraian yang menurut saya lucu dan tidak masuk akal. Sesuatu yang dia tahu bahwa saya tidak akan bisa mewujudkannya dan dia mengetahui hal ini sebelum kami menikah.

Saat itu dia berjanji bahwa dia akan menerima keadaan tersebut dan tidak akan pernah meninggalkan saya. Ini salah satu alasan kenapa saya tetap mau menikah dengan dia. Akan tetapi, pada kenyataannya, janji hanyalah janji.

Manusia bisa berubah kapan pun dan melupakan janji-janjinya hingga pada akhirnya, saya ada di situasi ini. Saya sedang menjalani proses Trennungszeit, (=waktu perpisahan antara suami dengan istri sebelum resmi bercerai) sebagai salah satu persyaratan perceraian di Jerman.

Ketika dia mengucapkan kata cerai, selama dua minggu saya berpikir, apa yang harus dilakukan, bagaimana nasib saya sekarang, saya sendirian di negara ini.  Akan tetapi, saya bukan wanita bodoh dan pasrah dengan keadaan.

Saya mulai mencari-cari informasi dimulai dari browsing di internet, menghubungi beberapa teman saya yang juga menikah dengan warga Jerman. Bahkan, salah satu teman menyarankan untuk me-posting masalah saya di salah satu grup di media sosial. Bantuan informasi mulai banyak berdatangan, dukungan secara spiritual, dan teman-teman baru yang bersimpati serta ingin membantu.

Saya bersyukur bergabung dengan beberapa komunitas Warga Negara Indonesia yang tinggal di Jerman sehingga saya tidak benar-benar merasa sendirian. Informasi dan teman-teman baru yang saya dapatkan, bukan hanya dari teman-teman Indonesia, melainkan juga dari beberapa teman warga Jerman yang punya pengalaman dalam perceraian.

Saya mulai bangkit dan merencanakan untuk membangun kembali kehidupan yang baru. Saya tidak mau pasrah dan terpuruk dengan keadaan. Saya harus bertahan hidup di Jerman!

Saya mulai menghubungi satu organisasi yang bisa memberikan bantuan hukum secara gratis dan mereka bersedia membantu saya. Mengapa saya harus menghubungi pengacara? Saya merasa suami saya menyembunyikan sesuatu, tidak memberikan hak-hak yang seharusnya bisa saya dapatkan di masa-masa “perpisahan”.

Saya merasa juga tidak adanya keterbukaan atau informasi mengenai perceraian kami, maka saya memutuskan untuk mencari bantuan hukum. Saya merasa suami saya membodohi saya dengan tidak memberikan penjelasan tentang situasi yang saat ini terjadi.

Saya memang pendatang dan tidak tahu menahu tentang hukum-hukum perceraian di Jerman, tetapi saya tidak menyerah. Setiap hari saya berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk membela diri saya dan mendapatkan keadilan.

Saya juga mencari tahu bagaimana saya bisa tinggal lebih lama di Jerman apabila kami resmi bercerai. Saya bisa saja kembali ke Indonesia kapan pun, tetapi saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya mampu bertahan hidup di negara ini.

Bagaimana cara saya bisa bertahan hidup di Jerman? Saya mulai mencari pekerjaan dan memulai belajar bahasa Jerman tingkat lanjutan. Dua hal inilah yang saat ini menjadi poin terpenting untuk saya agar bisa bertahan hidup di Jerman.

Banyak hal positif yang saya dapatkan karena perceraian. Saya mendapatkan teman-teman baru di beberapa kota dan wilayah Jerman, mengetahui cara berpergian dengan transportasi umum di Jerman seperti bus dan kereta, memulai traveling kembali ke beberapa kota dan beberapa negara di wilayah Schengen, mengetahui proses untuk mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal.

Saya mulai melihat hal-hal positif dari masalah saya dan tidak mau melihat atau berpikir negatif. Saya hanya berfokus pada hal-hal yang akan membantu saya untuk hidup di Jerman. Saya mendapatkan beberapa komentar dari orang-orang yang mengetahui masalah saya. “Kamu tidak kelihatan sedih, kamu terlihat bahagia” kata mereka.

Inilah jawaban saya. “Masa kesedihan saya sudah lewat. Saatnya saya fokus untuk memulai hidup baru saya. Saya tidak akan bisa mulai membangun hidup baru jika saya selalu bersedih dan terpuruk dalam permasalahan.”

Saya yakin dan percaya, semua hal-hal yang saya lakukan saat ini akan membuahkan hasil yang baik untuk masa depan saya di Jerman.

Pesan saya, jika kalian adalah perempuan Indonesia yang memiliki masalah sama dengan saya atau bahkan lebih buruk dari saya, jangan takut! Kalian tidak sendirian, tetaplah kuat dan segera mencari bantuan informasi dari berbagai organisasi sosial di Jerman seperti Frauenhaus (=semacam rumah aman untuk perempuan yang bermasalah), atau hubungi teman-teman Indonesia yang kalian kenal.

Ketika kalian pindah dan hidup di Jerman, bergabunglah dengan grup-grup Warga Negara Indonesia yang hidup di Jerman. Dari sanalah kita bisa mendapatkan informasi atau dukungan dari mereka. Ingat, kita tidak sendirian!

Penulis: Rasya, bukan nama sebenarnya. Artikel ini telah diterbitkan dalam Buku Cinta Tanpa Batas, produksi RUANITA – Rumah Aman Kita yang diterbitkan oleh Padmedia Publisher.