
Tahukah kalau 23 Juni diperingati sebagai Hari Janda Internasional? Di banyak negara, status janda masih kerap dipandang sebelah mata. Namun, di balik label itu ada kisah perjuangan, keberanian, dan cinta tanpa batas. Salah satunya datang dari Ricca Maurizky, seorang perempuan Indonesia yang kini tinggal di Kamboja. Ricca bercerita bahwa di Kamboja, cukup banyak perempuan berstatus janda. Namun, pandangan masyarakat di sana berbeda dengan negara tetangga. Ia membandingkan dengan Malaysia yang membedakan istilah janda (cerai hidup) dan balu (ditinggal mati).
Menurut Ricca, di Malaysia, status balu lebih dihormati, karena kehilangan pasangan bukanlah pilihan. Sementara janda karena perceraian sering dianggap sebagai kegagalan rumah tangga.
“Tapi buat aku sendiri, entah itu janda atau balu, aku hanya ingin mempredikatkan diriku sebagai single parent,” ujarnya tegas.
Di tahun keempat tinggal di Kamboja, Ricca menjalani operasi karena fibroid. Dari situ, ia juga didiagnosis mengalami anxiety dan depression. Kondisi ini memaksanya untuk beradaptasi dan mengambil langkah berani. Dokter menyarankan Ricca pindah rumah demi memperbaiki suasana hati. Ia menyiapkan apartemen yang lebih kecil, dengan fasilitas lift dan layanan kebersihan mingguan. Semua dipikirkan agar setelah operasi, ia tetap bisa beraktivitas dengan aman dan nyaman.
Keputusan itu bukan hanya soal tempat tinggal, tapi juga bentuk nyata dari usaha untuk pulih. “Bagus itu, berarti kamu mau sembuh,” kata dokternya, memberi semangat. Di tengah stigma masyarakat, Ricca bersyukur dikelilingi lingkungan yang memahami perjuangannya. Rekan-rekan kerja melihat dirinya bukan sekadar janda, melainkan seorang ibu tangguh yang membesarkan dua anak seorang diri.
Bahkan, keluarganya mendukung penuh jika ia ingin menikah lagi. “Cari teman hidup, atau pengganti ayahnya anak-anak, itu terserah kamu,” begitu pesan dari mertuanya. Namun, Ricca memilih fokus pada perjalanan hidupnya saat ini. Selain sulit mencari pasangan, tantangan lain adalah kesepian. Hidup di luar negeri membuatnya sulit mendapatkan teman dekat.
“Orang asing yang datang ke sini tidak ada yang menetap. Mereka datang karena misi, karena tugas. Jadi nggak mudah,” tuturnya.
Kisah Ricca menggambarkan realita banyak janda di seluruh dunia, diantara stigma, kesepian, dan perjuangan membesarkan anak-anak. Namun, dari sana juga lahir ketangguhan, keberanian untuk pulih, dan kemampuan merancang kehidupan baru. Hari Janda Internasional bukan sekadar peringatan, tetapi ajakan untuk menghormati perjuangan perempuan seperti Ricca. Bagi mereka, status bukanlah akhir, melainkan jalan baru untuk menemukan resiliensi di tengah perjuangan tinggal jauh dari tanah air.
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.