(CERITA SAHABAT) Ini Cara Saya Melalui Midlife Crisis

Sahabat Ruanita, perkenalkan saya Griska Gunara, yang kini berusia sudah kepala empat alias 40-an. Saya telah menetap di Inggris selama beberapa tahun dan menjalani kehidupan yang dinamis, sebagai seorang ibu, praktisi yoga dan meditasi, dan photojournalist, serta juga menjadi kontributor di media online, termasuk juga di program cerita sahabat Ruanita loh. Seiring berjalannya usia, tentu saya pun menghadapi berbagai tantangan yang membuat saya melakukan refleksi diri.


Salah satu fase yang sering dihadapi manusia, namun jarang dibahas secara terbuka, adalah midlife crisis. Oleh karena itu, saya ingin berbagi pendapat dan pengalaman saya tersebut. Dulu, di usia 20-an, saya menganggap quarterlife crisis sebagai sesuatu yang menakutkan dan negatif. Namun, setelah mengalaminya sendiri, saya menyadari bahwa ini adalah fase transisi psikologis yang alami terjadi dalam diri manusia. Berbicara tentang Midlife crisis, umumnya terjadi antara usia 40 dan 60 tahun dan ditandai dengan perasaan tidak puas, kegelisahan, serta pencarian makna hidup. Ini bukan sekadar gangguan emosional, tetapi refleksi diri yang mendalam mengenai identitas, pencapaian, dan tujuan hidup ke depan.

Follow us

Saat mengalami quarterlife crisis di usia 20-an, saya berjuang mencari jati diri, menghadapi tekanan dari lingkungan, dan mencari tahu arah hidupnya. Berbeda dengan itu, midlife crisis atau yang disebut “krisis paruh baya” lebih berkaitan dengan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup yang sudah ditempuh dan bagaimana seseorang ingin menjalani sisa hidupnya. Hal ini sejalan dengan istilah “Krisis paruh baya” dicetuskan pertama kali pada tahun 1960-an oleh Psikolog asal Kanada. Menurut saya, krisis yang dihadapi ini bukanlah pengalaman universal dan hanya berbeda fase pada Midlife-Crisis dan Quarterlife-Crisis.

Menurut saya, beberapa tanda dan gejala umum dari midlife crisis meliputi:

  • Ketidakseimbangan emosional
  • Kegelisahan dan kecemasan
  • Keinginan untuk mengubah hidup secara signifikan
  • Mempertanyakan identitas dan pencapaian diri
  • Kesadaran tentang penuaan dan keterbatasan hidup
  • Gangguan fisik seperti insomnia atau perubahan berat badan drastis

Setiap individu memiliki pemicu yang berbeda dalam menghadapi midlife crisis. Saya mengalaminya setelah ada perubahan dalam keluarga, terutama ketika putri saya akan segera lulus SMA dan melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Selain itu, perbedaan budaya antara Indonesia dan Inggris juga memberikan tantangan tersendiri dalam menavigasi peran saya sebagai ibu dan perempuan yang ingin terus berkembang. Saya menilai, terkadang kurangnya penghargaan atas kontribusi dalam proyek kolaboratif juga bisa menjadi pemicu ketidakpuasan diri.


Sahabat Ruanita, saya menilai tantangan terbesar dalam menghadapi midlife crisis adalah diri sendiri. Terkadang, seseorang tanpa sadar menciptakan hambatan yang menghalangi pertumbuhan pribadi. Oleh karena itu, menyeimbangkan kehidupan, memiliki waktu untuk diri sendiri (me-time), serta menjaga kesehatan mental menjadi hal yang sangat penting. Seperti yang saya lakukan sebagai praktisi yoga dan meditasi, tentunya sangat membantu saya mengenali diri saya sendiri. 


Dengan kemajuan digitalisasi, masyarakat Indonesia, terutama di perkotaan, mulai lebih sadar akan adanya fenomena ini. Namun, masih ada stigma dan pandangan tabu terkait midlife crisis, terutama bagi perempuan. Misalnya, munculnya istilah puber kedua atau menopause yang sering kali dikaitkan dengan perubahan psikologis dan emosional pada perempuan usia paruh baya. Apakah sahabat Ruanita pernah mendengar atau mengalami hal ini?


Menurut saya, terdapat perbedaan mendasar antara cara perempuan Indonesia dan Inggris dalam menghadapi midlife crisis. Budaya di Inggris cenderung lebih individualistis, jadi banyak perempuan yang menghadapi midlife crisis dengan mencari perubahan yang lebih personal, seperti beralih karier, traveling, atau mengejar hobi baru. Terapi & self-care lebih umum karena lebih diterima secara luas, sehingga lebih banyak perempuan yang mencari bantuan profesional untuk mengatasi perasaan kehilangan arah atau ketidakpuasan dalam hidup. Tekanan sosial untuk tetap menjalankan peran tradisional sebagai istri atau ibu lebih rendah dibandingkan di Indonesia. 

Perempuan Inggris dapat lebih bebas menentukan pilihan hidup – keterbukaan ini yang membuat mereka merasa lebih leluasa untuk bercerai, pindah kota, atau mengubah gaya hidup tanpa merasa terlalu terikat oleh ekspektasi masyarakat. Isu seperti menopause, kesehatan mental depresi, atau perubahan hormonal dapat diperbincangkan lebih terbuka, sehingga perempuan di Inggris merasa lebih didukung dan memiliki lebih banyak sumber daya untuk menghadapinya.

Berdasarkan pengalaman, ini beberapa cara yang bisa membantu seseorang menghadapi midlife crisis dengan lebih positif, antara lain:

  1. Menjelajahi Minat Baru
    • Belajar keterampilan baru seperti bahasa, seni, atau musik.
    • Menulis jurnal reflektif untuk mencatat perjalanan hidup.
  2. Meningkatkan Koneksi Spiritual & Emosional
    • Praktik yoga dan meditasi untuk menenangkan pikiran.
    • Melakukan retreat atau perjalanan spiritual.
  3. Menjalin Koneksi Sosial Baru
    • Menghadiri agenda pertemuan di organisasi kemasyarakatan.
    • Berbagi pengalaman dengan orang lain melalui mentorship.
  4. Merawat Kesehatan Fisik & Mental
    • Mencoba olahraga baru seperti hiking atau bersepeda.
    • Mengadopsi pola makan sehat dan memasak makanan bergizi.
  5. Mengeksplorasi Karier & Kreativitas
    • Mencari peluang karier baru yang lebih bermakna.
    • Mengeksplorasi kegiatan kreatif seperti fotografi atau menulis.
    • Traveling untuk menemukan perspektif baru dalam hidup.


Seiring dengan perjalanan menghadapi midlife crisis, saya merasakan perubahan cara pandang terhadap diri sendiri dan kehidupan. Saya menjadi lebih percaya diri, tidak lagi terlalu bergantung pada validasi eksternal, dan lebih sadar akan pentingnya keseimbangan hidup. Saya menyadari bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian materi atau prestasi, tetapi juga tentang penerimaan diri dan kedamaian batin.


Di akhir, saya ingin memberikan pesan yang inspiratif kepada sahabat Ruanita, terutama perempuan Indonesia yang sedang menghadapi midlife crisis:

“Beranilah menghadapi diri sendiri dan berikan ruang untuk refleksi. Hidup tidak berhenti sampai di sini—ini justru awal dari babak baru yang lebih matang dan bermakna. Tidak selalu harus kuat atau mengutamakan orang lain; merawat diri sendiri bukanlah tindakan egois, tetapi bentuk mencintai diri sendiri. Jangan takut menghadapi perubahan, karena keindahan seorang perempuan tidak ditentukan oleh usia. Dunia belum berakhir—justru babak baru yang luar biasa menanti untuk dituliskan dalam perjalanan hidup kita.”


Jadi sahabat Ruanita, Midlife crisis bukanlah akhir, melainkan kesempatan untuk menata ulang hidup dengan lebih sadar dan bermakna. Semoga cerita saya dapat menginspirasi banyak perempuan untuk menghadapi fase ini dengan keberanian, kesadaran, dan kebahagiaan yang lebih dalam.

Penulis: Griska Gunara, tinggal di Inggris dan dapat dihubungi via akun instagram @griskagunara.

(CERITA SAHABAT) Resign atau Bertahan: Pengalaman Kerjaku di Austria

Halo, sahabat Ruanita! Aku, biasa dipanggil Anna, yang kini menetap di negeri suami sejak tahun 2017. Sebelum merantau ke Austria, aku bekerja di sebuah perusahaan Food & Beverage di Jakarta.

Posisiku saat itu adalah Asisten Manajer di bidang penjualan dan marketing. Boleh dibilang, karierku dulu di Jakarta cukup memuaskan. Tak pernah terbayang dalam hidupku, aku dapat menjalani pekerjaan di luar negeri.

Pernikahan telah membawaku terbang ribuan kilometer dari tanah air. Dari dulu, aku terbiasa memiliki uang sendiri, sehingga aku pun ingin melakukan hal yang sama saat aku berada di negeri suami. Perjalanan karierku di Austria dimulai dari sebuah kebetulan.

Untuk tinggal dan bertahan hidup di Austria, aku harus meningkatkan kemampuan Bahasa Jermanku. Setiba di sini, aku pun meneruskan Bahasa Jermanku kembali. Suatu malam, ketika aku baru saja menyelesaikan kursus bahasa Jerman, tawaran kerja kudapatkan. Saat itu, aku sedang menunggu suami menjemputku di sebuah restoran cepat saji. 

Sahabat Ruanita, aku tinggal di kota kecil, yang mana transportasi umum di daerah tempat tinggalku sangat terbatas. Sambil menunggu suami pada malam itu, seorang manajer restoran menghampiriku. Dia bertanya tentang latar belakangku. Setelah mengobrol lama, dia pun menawariku pekerjaan. 

Awalnya, aku cukup ragu, bagaimana mungkin aku bisa bekerja di negeri asing ini. Keraguanku lainnya adalah soal bahasa Jermanku yang masih buruk saat itu. Namun, manajer restoran itu tetap meyakinkanku bahwa kemampuan Bahasa Jerman bukan masalah besar.

Aku pun meminta waktu untuk mempertimbangkan tawaran itu. Yeay! dua minggu kemudian, aku mulai bekerja di restoran, yang mana pihak manajer menawariku. 

Meski aku punya pengalaman sebelumnya bekerja di bidang makanan juga, tetapi apa yang kuhadapi sehari-hari antara Indonesia dengan Austria jelas berbeda. Lingkungan kerja di restoran cepat saji sangat berbeda dengan apa yang pernah aku alami di Indonesia. Aku sempat frustrasi dan stres saat itu. 

Bekerja di situ, semuanya harus cepat dan tepat waktu. Tidak ada waktku untuk santai dan bermalas-malasan. Sebagai orang Indonesia yang terkenal ramah di dunia, demikian pula aku dikenal sebagai pribadi yang selalu tersenyum, ramah, dan humoris. Aku pikir itu adalah sifat khas orang Indonesia umumnya. 

Sahabat Ruanita, aku menilai pekerjaan pertamaku di restoran itu cukup berat. Aku bertanggung jawab atas kebersihan, antara lain: membersihkan meja tiap pelanggan, membersihkan lantai restoran, membuang sampah, hingga membersihkan toilet. Pulang kerja di hari pertama, aku menangis.

Aku kaget bahwa realita bekerja di negeri asing tidak seindah seperti yang kubayangkan sebelumnya. Ini semua membuatku frustrasi. Mungkin, aku memang belum menguasai Bahasa Jerman sepenuhnya di tempat kerja. Tak patah arang dan aku terus menguatkan diri. Bagaimana pun aku harus tetap bekerja di Austria, untuk diriku dan membantu kehidupan orang tuaku di Indonesia.

Setelah empat bulan bekerja di restoran tersebut, aku dipindahkan ke bagian pelayanan pelanggan. Pengalaman ini membentuk mentalku dan membantuku meningkatkan kemampuan Bahasa Jerman. Ini menjadi kesempatan buatku belajar Bahasa Jerman lebih baik lagi, pikirku.

Meski begitu, aku tahu bahwa ini tidak mudah. Aku selalu berpikir, jika pekerjaan sudah tidak nyaman dan tidak bisa dikompromikan lagi, maka aku harus mencari pekerjaan baru. Benar saja, aku mulai mencari peluang pekerjaan lain, apalagi pekerjaan di situ telah mengganggu kondisi mentalku.  

Akhirnya, aku mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar asal Jerman. Perbedaan terbesar antara pekerjaan lama dan baru adalah penghasilan, jam kerja yang lebih teratur, serta lingkungan kerja yang lebih profesional. Aku mendapatkan informasi lowongan kerja dari suamiku. Aku kemudian mencoba melamar dan ternyata aku diterima bekerja di situ. Wow!

Sahabat Ruanita, pastinya penasaran bagaimana aku bisa bekerja di situ. Aku berhasil melewati wawancara kerja. Saat wawancara, mereka bertanya tentang kemampuan komputer, kemampuan bekerja dalam tim, dan kemampuan bahasa Jerman. Rupanya, pengalaman kerja di restoran sebelumnya telah membantuku menghadapi tantangan di tempat kerja baru.

Bekerja di Austria telah memberiku banyak pelajaran berharga. Aku menjadi lebih disiplin, tepat waktu, dan bekerja dengan cepat serta akurat. Aku bangga bisa menunjukkan bahwa orang Indonesia adalah pekerja keras, cepat belajar, dan mampu beradaptasi dengan ritme kerja di luar negeri. Aku juga melihat bahwa ada banyak peluang karier bagi pendatang di Austria, selama kita mau belajar dan bekerja keras.

Untuk perempuan Indonesia yang ingin bekerja di luar negeri, pesanku adalah selalu menjaga kesehatan mental. Jika pekerjaan mulai membuat stres dan tidak nyaman, carilah yang baru.

Mental baja sangat diperlukan, begitu juga dengan kemauan untuk belajar, disiplin, dan kemampuan mengatur keuangan. Jangan konsumtif, karena hidup di luar negeri membutuhkan perhitungan matang dalam setiap aspek.

Pesan terakhirku untuk sahabat di Ruanita: selalu baca dengan teliti sebelum menandatangani kontrak apa pun. Hal ini sangat penting karena bisa berdampak fatal.

Oleh karena itu, menguasai bahasa negara tempat kita tinggal adalah keharusan. Jangan takut untuk belajar dan berusaha, karena setiap langkah kecil akan membawa kita lebih dekat kepada impian.

Penulis: Yuliana, dapat dikontak di akun instagram @yuliana.syamsudin dan tinggal di Austria.

(SIARAN BERITA) Bagaimana Membangun Ruang Aman bagi “Ibu Baru” di Negeri Rantau?

PARIS, 14 September – Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Kesmenesia, komunitas youarenotalone.mom di Prancis, serta Komunitas Pasangan Indonesia–Prancis, menyelenggarakan diskusi daring bertema Parenting di Prancis melalui platform Zoom.

Acara ini dimaksudkan sebagai media virtual support group bagi “New Mom” yang sedang berada di mancanegara dalam menavigasikan tema parenting, yang kontekstual dan transnasional. 

Kegiatan ini diinisiasi sebagai respon atas berbagai tantangan yang dialami perempuan Indonesia, khususnya ibu baru, yang menetap di Prancis, yang kemudian hampir dialami “New Mom” orang Indonesia di negeri rantau.

Menjadi ibu di negara asing bukan hanya pengalaman transformatif, tetapi juga penuh dengan dinamika emosional, adaptasi budaya, hingga keterbatasan akses terhadap dukungan sosial maupun layanan kesehatan. 

Di Prancis, sistem pengasuhan anak sangat dipengaruhi oleh nilai kemandirian serta struktur dukungan formal seperti crèche dan assistantes maternelles, yang berbeda dengan pola pengasuhan kolektif khas Indonesia.

Kondisi ini kerap menimbulkan rasa isolasi, baby blues, hingga depresi pascapersalinan bagi ibu baru yang jauh dari keluarga besar dan lingkungan budaya yang familiar.

Ruang interaktif digital ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang. Carolina Shinta, relawan Ruanita sekaligus pendiri komunitas youarenotalone.mom di Prancis, berbagi pengalaman pribadi sebagai ibu baru di negeri rantau dan pentingnya membangun komunitas pendukung.

Selanjutnya, Demira Shaifa, psikolog klinis anak yang kini menetap di Spanyol, memaparkan bagaimana orang tua dapat menavigasi perbedaan nilai dan norma dalam pola pengasuhan lintas budaya. 

Berkaitan dengan tumbuh kembang anak secara psikologis, dibawakan oleh Ranindra Anandita, psikolog lulusan Université de Bordeaux, yang kini berpraktik di Prancis.

Ia membahas kesehatan mental ibu baru dan bagaimana melakukan pola asuh yang sesuai usia perkembangan anak, beserta sistem dukungan kesehatan anak di Prancis.

Acara ini ditujukan bagi siapa saja yang tertarik dengan tema parenting, transnasional, atau lintas budaya, dan psikologi perkembangan anak, terutama ibu baru maupun calon ibu.

Melalui interaksi virtual ini, Ruanita Indonesia berharap dapat menciptakan ruang diskusi yang aman, suportif, sekaligus membuka jalan terbentuknya komunitas informal new moms abroad yang dapat saling mendukung dalam perjalanan menjadi ibu di luar negeri.

Acara ini tidak direkam. Ikuti berbagai program kami melalui berbagai platform media sosial yang tersedia. Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dapat diakses melalui kanal resmi Ruanita Indonesia.

(PODCAST RUMPITA) Literasi Anak di Tengah Dunia Digital yang Mengglobal

Dalam program bulanan diskusi Podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita, Anna sebagai Podcaster didampingi oleh relawan Ruanita lainnya yakni Etty P. Theresia yang tinggal di Frankfurt, Jerman.

Diskusi podcast episode bulan September ini, dilakukan dalam rangka memperingati Hari Literasi Sedunia dengan menghadirkan kisah inspiratif dari perempuan Indonesia yang menjadi pemerhati dunia literasi anak-anak.

Informan dalam diskusi podcast RUMPITA episode ke-41 adalah Azizah Seiger, atau akrab disapa Zee, yang menetap di Austria sejak 14 tahun lalu dan merupakan co-founder Seger Reading Club, sebuah komunitas literasi anak yang baru berdiri tapi penuh semangat dan visi besar di Indonesia.

Sebelum menyelami kisah Zee, Etty sempat berbagi tentang inisiatifnya mendirikan klub membaca buku anak di Jerman, yang dikenal Wortschatzbook Klub, komunitas membaca bersama yang aktif sejak 2019 dan kini rutin mengadakan pertemuan luring dua bulan sekali di Frankfurt. Menariknya, “Wordschatz” berasal dari bahasa Jerman Wortschatz, yang berarti “kosa kata”.

Fokus pada klub membaca yang dikelola oleh Zee, diberi nama Seger Reading Club, yang lahir dari kolaborasi antara Zee di Austria dan sahabatnya di Indonesia, yang berlokasi di Dusun Seger, Indonesia.

Kisah lahirnya komunitas ini bermula dari unggahan sahabatnya tersebut di media sosial yang menunjukkan anak-anak membaca dan menggambar di halaman rumahnya. “Langsung saya japri dan bilang: yuk kita bikin Reading Club,” cerita Zee penuh semangat.

Nama “Seger” sendiri ternyata bukan plesetan dari “Seiger” (nama belakang Zee), melainkan nama dusun tempat kegiatan membaca ini berlangsung.

Menurut Zee, berdirinya Seger Reading Club dilandasi dua jenis motivasi:

  1. Motivasi eksternal: terinspirasi dari pejuang literasi di Lombok Utara, keluarga besar guru, serta semangat sahabatnya sendiri.
  2. Motivasi internal: keinginan mendalam untuk menjadi bagian dari perubahan positif, didorong oleh nilai pribadi, hobi menulis, dan semangat memberi makna hidup.

“Ada keberanian yang harus kita miliki untuk menciptakan sesuatu yang berdampak. Dan keberanian itu datang dari kepercayaan diri dan mindset positif,” ujar Zee.

Sebagai ibu dari Yuna, balita 3 tahun yang tumbuh trilingual (bahasa Indonesia, Jerman, dan Inggris), Zee sangat memperhatikan penguatan literasi sejak dini. Ia konsisten membacakan buku, menciptakan rutinitas bedtime stories, dan memperhatikan pelafalan dalam setiap komunikasi.

Menariknya, Zee juga tidak menolak penggunaan teknologi. “Yuna belajar banyak dari kanal seperti Miss Rachel,” ujarnya. Namun, ia selektif, hanya memperbolehkan screen time lewat TV, bukan gadget genggam, untuk menjaga fokus dan keseimbangan bermain.

Yuna kini mampu mengenali huruf-huruf sejak usia dua tahun dan membaca kata-kata sederhana, bukti bahwa dukungan literasi di rumah bisa menghasilkan dampak besar bahkan sejak usia dini.

Di Seger Reading Club, anak-anak yang terbiasa dengan gadget awalnya tampak kurang tertarik pada buku. Untuk menyiasatinya, para relawan membacakan cerita dengan penuh ekspresi dan gerakan.

Sahabat Zee sendiri dan tim juga membuat video dongeng untuk diputar bersama menggunakan laptop. Ke depan, program akan menggunakan proyektor agar anak-anak bisa menonton bersama-sama.

“Banyak anak sekarang mengalami speech delay karena kebanyakan screen time,” tutur Zee. Seger Reading Club menjadi ruang alternatif yang bukan hanya menyenangkan, tapi juga menstimulasi kemampuan bahasa dan komunikasi.

Apa yang dilakukan oleh Zee di Seger Reading Club dan Etty di Wordschatzbook club, menunjukkan bahwa gerakan literasi bisa dimulai dari ruang sekecil apapun, asal ada tekad, keberanian, dan kolaborasi.

“Tanpa keberanian, tidak akan ada karya. Tanpa keinginan membantu, tidak akan ada perubahan,” kata Zee. Di tengah dominasi layar dan tantangan suara perempuan Indonesia di negeri rantau, menjadi pengingat bahwa kita semua bisa menjadi bagian dari solusi.

Simak diskusi PODCAST RUMPITA episode ke-41 berikut di kanal SPOTIFY dan pastikan FOLLOW agar kami dapat berbagi lebih lagi:

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Menyekolahkan Anak di Daycare Portugal adalah Perjalanan Adaptasi

Portugal bukanlah tujuan awal kami, tetapi takdir membawa kami ke negeri ini. Awalnya, kami berencana tinggal hanya enam bulan untuk mendukung studi suami, tetapi pesona Lisbon yang hangat, keramahan warganya, serta lingkungan yang inklusif membuat kami memutuskan untuk menetap lebih lama. 

Seiring berjalannya waktu, kami mulai memikirkan bagaimana tumbuh kembang anak-anak kami di masa depan, termasuk bagaimana anak-anak bersekolah nantinya. Rupanya kami memiliki tantangan untuk mencari sekolah yang sesuai untuk kebutuhan anak-anak kami, terutama Daycare bagi si kecil.

Berbeda dengan di Indonesia, pendaftaran Daycare di Portugal dilakukan secara online atau langsung dengan mengisi formulir di sekolah yang dituju. Syaratnya cukup jelas, seperti kartu identitas anak dan orang tua, bukti pajak, bukti tempat tinggal, buku vaksin, dan dalam beberapa kasus, surat keterangan tidak bekerja dari salah satu orang tua. 

Sebagai orang tua, kami pun harus merespon bagaimana proses pendaftaran segera dimulai. Apalagi sistem pendaftaran di sini berdasarkan sistem zonasi, yang menentukan sekolah berdasarkan alamat tempat tinggal. Kami harus bergerak cepat, karena masa pendaftaran berlangsung dari Maret hingga April.

Jika di Indonesia, saya mendapati banyak orang tua menunggu anak-anak mereka di sekolah, terutama di hari pertama mereka bersekolah. Namun, ini tidak berlaku di Portugal.

Di Portugal, baik Daycare maupun Taman Kanak-kanak (TK) memiliki kebijakan di mana orang tua hanya boleh mengantar dan menjemput anak. Orang tua dilarang untuk menemani anak-anak mereka di kelas. 

Saya merasa awalnya sangat sulit, terutama bagi anak kami yang masih perlu beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, seiring waktu, kami melihat peraturan tersebut sangat berdampak positif bagi anak-anak kami. Anak-anak belajar mandiri lebih cepat dan mulai membangun kepercayaan diri mereka. Wow!

Tantangan selanjutnya yang dihadapi adalah bahasa sebagai komunikasi sehari-hari orang tua dengan anak. Bahasa menjadi tantangan utama, baik bagi kami sebagai orang tua maupun anak-anak kami. Di rumah, kami berbicara dalam Bahasa Inggris, sementara di sekolah mereka harus beradaptasi dengan Bahasa Portugis. 

Pada awalnya, komunikasi dengan anak-anak terasa sulit buat kami. Namun,  anak-anak sudah mulai berbicara dengan lancar, setelah enam bulan berlalu. Bahkan, komunikasi anak-anak terdengar seperti penutur asli. Kecepatan adaptasi sosial mereka sungguh mengejutkan dan menginspirasi kami untuk ikut belajar Bahasa Portugis lebih serius.

Daycare dan TK di Portugal lebih menekankan pada eksplorasi dan sosialisasi dibandingkan akademik. Anak-anak tidak diajarkan membaca dan menulis seperti di Indonesia, tetapi mereka dibiasakan dengan aktivitas di luar ruangan, jalan-jalan ke taman, mengunjungi museum, menonton teater, serta merawat hewan peliharaan kelas. Kami menyadari bahwa pendidikan di sini lebih menitikberatkan pada pengembangan empati, disiplin, dan kemandirian dibandingkan keterampilan akademik di usia dini.

Berbicara tentan dukungan Pemerintah Portugal, kami menilai pemerintah di sini memberikan berbagai tunjangan bagi keluarga, termasuk Daycare gratis bagi yang memenuhi syarat. Sekolah negeri pun tidak memungut biaya, sedangkan sekolah swasta menerapkan biaya bervariasi, bergantung dengan subsidi dan berdasarkan penghasilan keluarga. Kami sendiri membayar sekitar 90 Euro per bulan, jauh lebih murah dari tarif standar yang bisa mencapai 300 Euro.

Selain itu, snack pagi hingga sore dan makan siang sepenuhnya disediakan oleh sekolah. Sahabat Ruanita perlu tahu, jika anak-anak ingin membawa bekal dari rumah, ada aturan ketat yang harus dipatuhi, seperti larangan membawa makanan gorengan, makanan manis, ataupun makanan instan. 

Bagaimana pun, menyekolahkan anak di Portugal memberi kami perspektif baru tentang pendidikan. Sekolah tidak memberlakukan adanya sistem ranking, seperti zaman saya bersekolah di Indonesia dulu. Sekolah juga tidak menerapkan ekstrakurikuler yang berlebihan. Saya menilai sekolah melakukan pendekatan yang lebih santai terhadap tugas sekolah, sehingga membuat anak-anak menikmati masa kecil mereka dengan lebih bebas. Sebagai orang tua, kami juga merasa lebih rileks, karena anak-anak belajar dengan cara yang lebih natural dan alami.

Di masa depan, kami ingin memastikan bahwa anak-anak tetap mendapatkan pendidikan berbasis nilai-nilai keluarga kami. Kami tengah mempertimbangkan sekolah Islam yang ada di Portugal, baik yang menggunakan kurikulum Portugal maupun Cambridge. Harapan kami, mereka tetap bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat dengan nilai-nilai yang seimbang antara budaya lokal dan keyakinan kami.

Untuk sahabat Ruanita, yang ingin menyekolahkan anak di Portugal, mohon perhatikan informasi pendaftaran Daycare sedini mungkin. Daftar tunggu bisa panjang, jadi semakin cepat mengurus pendaftaran, semakin besar kemungkinan mendapatkan tempat yang diinginkan. Hal yang terpenting, bersiaplah untuk mendukung anak-anak dalam menghadapi tantangan bahasa dan budaya yang baru.

Menurut saya, Portugal kini telah menjadi rumah kedua bagi kami.  Kami bersyukur atas pengalaman luar biasa ini.

Penulis: Rindu Ragillia, seorang ibu yang tinggal di Portugal dan dapat dikontak via akun instagram rinduragg.

(SIARAN BERITA) KBRI Dhaka dan Ruanita Indonesia Sukses Gelar Diskusi Daring “Cerdas & Bijak Bersama Teknologi”

Dhaka, 15 Agustus 2025 – KBRI Dhaka bersama Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertema “Cerdas dan Bijak Bersama Teknologi” pada Jumat, 15 Agustus 2025.

Acara ini diikuti oleh puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) di Bangladesh dengan tujuan meningkatkan literasi digital dan kesadaran terhadap maraknya hoaks serta penipuan berbasis teknologi.

Acara dibuka oleh Perwakilan KBRI Dhaka, Sahid Nurkarim, yang menekankan pentingnya membekali diri dengan keterampilan digital di era teknologi yang berkembang pesat. Diskusi dipandu oleh Elia Qudo, relawan Ruanita Indonesia di Bangladesh.

Follow us

Dua narasumber utama hadir berbagi wawasan. Anggy Eka Pratiwi, relawan Ruanita Indonesia dan mahasiswi PhD di Indian Institute of Technology Jodhpur, India, membahas cara mengenali hoaks serta modus penipuan yang melibatkan teknologi Artificial Intelligence (AI). 

Sementara itu, Octanty Mulianingtyas, dosen di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) Indonesia, memberikan tips praktis agar WNI dapat menggunakan teknologi secara aman dan bijak dalam kehidupan sehari-hari.

“Diskusi ini bukan hanya memperluas wawasan, tetapi juga menguatkan solidaritas komunitas WNI di Bangladesh agar mampu melawan hoaks dan menciptakan lingkungan digital yang sehat,” ungkap Sahid Nurkarim, perwakilan KBRI Dhaka.

Informasi lebih lanjut: Elia Qudo, Relawan Ruanita Indonesia di Dhaka (info@ruanita.com)

Rekaman acara diskusi dapat dilihat di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung keberlanjutan kami.

(CERITA SAHABAT) Perjuangan Ibu akan Hak Asuh Anak yang Berpaspor Indonesia di India

Halo, sahabat Ruanita! Aku bernama Sasa  merupakan perempuan Indonesia yang tertarik untuk membahas bagaimana perjuanganku sebagai ibu dalam mendapatkan hak asuh anak. Bagaimanapun, aku berhak mendapatkan hak asuh anak karena anak-anakku berpaspor Indonesia, meski mereka tinggal di India.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa hidup akan membawa aku menetap di India, sebuah negara dengan warna-warni budaya dan kehidupan yang begitu berbeda dari Indonesia. Aku telah menetap di sini selama lebih dari sepuluh tahun, yang berjuang untuk hak asuh anak-anakku dan berharap bisa membangun mimpi indah di Indonesia bersama anak-anakku nanti.

Ini semua berawal dari perkenalanku dengan seorang pria asal India melalui internet, yang kemudian menjadi awal kisah hidupku. Pernikahan, kelahiran putra, perceraian, hingga proses hukum yang panjang, semuanya aku lalui dengan keteguhan hati di negeri yang kini menjadi rumah keduaku sekarang.

Setelah perkenalan dengan ayah dari anak-anakku, aku menikah dengan seorang pria India yang kukenal di dunia maya. Awalnya, semua terasa indah. Aku memutuskan mengikuti suamiku ke India dan membangun keluarga di sini. Namun, di balik senyum dan kebahagiaan semu, aku harus menghadapi kekerasan dalam rumah tangga yang datang dari pihak keluarga mantan suamiku. Bertahun-tahun aku hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian, sampai akhirnya aku memutuskan untuk berjuang demi anak-anakku dan diriku sendiri.

Mantan suamiku juga memutuskan memilih perempuan lain untuk membangun bahtera kehidupan rumah tangganya. Aku tetap memilih tinggal di India agar aku bisa mendapatkan hak asuh anak-anakku yang selama ini tinggal bersama keluarga mantan suamiku. Proses perceraian di India bukanlah perkara mudah. Berbeda dengan di Indonesia yang bisa selesai dalam beberapa bulan, di sini aku harus bertahan selama bertahun-tahun. Namun, aku tak sendiri.

Dalam perjuangan itu, aku bertemu dengan suamiku yang sekarang yang banyak mendukung dan membantuku untuk bertahan di negeri Bollywood ini. Tak hanya suamiku, keluarga suamiku yang sekarang juga hadir memberikan dukungan tanpa syarat. Kakak ipar dan keluarganya menjadi sandaran emosional yang nyata, di tengah badai hidupku. Mereka membantuku memahami hukum setempat, mendampingiku di persidangan, dan menjaga anak-anakku ketika aku harus menghadiri sidang pengadilan.

Aku bersyukur karena akhirnya peringatan dilarang berpergian ke luar India, yang sempat menjeratku sebelumnya, telah dibuka oleh pengadilan di India. Proses mendapatkan hak asuh anak-anakku masih berjalan, tapi harapan mulai tampak di ujung jalan. 

Sahabat Ruanita, akhirnya aku kini berhasil mendapatkan anak-anakku. Meskipun mereka besar di India, tetapi kami memperkenalkan mereka pada identitas Indonesia. Kami berbicara tentang budaya Jawa, tentang Indonesia yang ramah, dan hangat serta indah. Anak-anakku memiliki paspor Indonesia dan aku tetap berkomunikasi dengan perwakilan pemerintah Indonesia di India, untuk memastikan semua dokumen mereka terurus dengan baik.

Adaptasi anak-anakku di sekolah cukup lancar. Mereka bersekolah di lingkungan berbahasa Inggris dan tumbuh menjadi anak-anak yang ceria dan percaya diri. Kadang aku terharu melihat mereka tetap menghormati budaya Indonesia, meski tinggal jauh dari tanah air.

Tinggal di India memberikanku banyak pelajaran hidup. Aku pernah dipandang sebelah mata hanya karena aku berasal dari Indonesia. Namun, aku memilih bersikap rendah hati dan membuktikan bahwa integritas dan kepribadian seseorang, tidak ditentukan oleh profesi atau asal negara.

Follow us

Masa depan? Aku memimpikan pulang ke Indonesia suatu hari nanti, membawa anak-anakku mengenal lebih dekat budaya tanah air mereka, dan mungkin kembali mengajar di institusi pendidikan. Saat ini, aku bekerja sebagai guru di India. Gajinya memang tidak besar, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membayar pengacara untuk memperjuangkan hak hukumku di pengadilan.

Untuk para perempuan Indonesia yang mungkin mengalami situasi serupa di negeri asing, aku ingin berkata: kamu tidak sendiri. Carilah dukungan, baik dari komunitas Indonesia maupun orang-orang lokal yang dapat dipercaya. Laporkan situasi kamu ke perwakilan pemerintah Indonesia terdekat. Tetaplah berdoa dan berpikir positif. Percayalah, badai pasti berlalu dan pertolongan sering datang dari arah yang tak terduga.

Hari ini, aku berdiri lebih kuat. Semua ini tidak lepas dari dukungan keluarga suamiku yang kedua, anak-anakku yang menjadi sumber semangatku, dan tentunya keyakinanku. Saya percaya bahwa Tuhan selalu menyertai langkahku. Ini adalah kisahku, dan aku harap dapat menjadi kekuatan bagi perempuan lain yang tengah berjuang dalam sunyi.

Penulis: Sasa, tinggal di India.

(IG LIVE) Melahirkan di Mancanegara Bukan Hanya Sekedar Biaya, Simak Berikut Ini

Ruanita Indonesia melalui akun instagram ruanita.indonesia, kembali menggelar diskusi IG LIVE bersama para sahabat Ruanita melalui program IG LIVE. Kali ini, tema yang diangkat adalah “Melahirkan di Mancanegara: Pelajaran dan Tantangan”.

Tema ini sarat cerita personal, penuh makna, dan kaya pembelajaran bagi perempuan Indonesia di berbagai belahan dunia.

Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, yang disapa Rufi, dari Ruanita Indonesia, diskusi ini menghadirkan dua narasumber perempuan yang membagikan pengalaman mereka menjalani proses kelahiran di luar negeri.

Meski jarak memisahkan dari tanah air, semangat dan kekuatan mereka sebagai ibu menjadi sumber inspirasi.

Dalam cerita para informan, terungkap berbagai pelajaran berharga yang diperoleh dari pengalaman melahirkan di negara lain.

Mereka berbagi tentang bagaimana sistem pelayanan kesehatan di luar negeri dapat berbeda secara signifikan dari Indonesia, baik dalam prosedur medis, budaya komunikasi, hingga dukungan pasca-persalinan.

Keberagaman ini menjadi kesempatan bagi para ibu untuk belajar beradaptasi, memahami perbedaan, dan mengambil yang terbaik dari setiap sistem.

Tak bisa dipungkiri, melahirkan jauh dari keluarga besar membawa tantangan tersendiri. Mulai dari kendala bahasa, perbedaan budaya, hingga rasa rindu kampung halaman. Namun, setiap tantangan yang dihadapi justru memperkuat mental dan membangun rasa percaya diri.

Follow us

Para informan menekankan pentingnya membangun jejaring dukungan, baik dari pasangan, komunitas lokal, maupun sesama ibu di perantauan, untuk menjaga kesehatan fisik dan mental selama proses menjadi orang tua baru.

Dari pengalaman mereka, satu pesan yang ingin disampaikan kepada para perempuan Indonesia adalah: setiap perjalanan menjadi ibu itu unik dan berharga, terlepas dari di mana proses itu berlangsung.

Yang terpenting adalah menjaga kesehatan, menerima dukungan, dan merayakan setiap momen, baik suka maupun duka.

Diskusi ini bukan hanya membuka wawasan, tetapi juga menegaskan bahwa pengalaman melahirkan di mancanegara bukan sekadar cerita tentang jarak dan perbedaan, melainkan tentang keberanian, ketangguhan, dan cinta yang tanpa batas.

Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode Agustus 2025 berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Begini Rasanya Pengalaman Melahirkan Anak Pertama di Amerika Serikat

Nama saya Fajar. Saya adalah perempuan Indonesia yang menikah dengan warga negara Amerika Serikat dan pindah ke Amerika pada Desember 2023, saat usia kehamilan saya memasuki lima bulan. Keputusan untuk pindah tidaklah mudah, mengingat saya harus meninggalkan tanah air dan memulai kehidupan baru di negeri yang serba asing. Namun, saya bersyukur memiliki suami yang sangat mendukung sepanjang perjalanan ini.

Saat pertama kali tiba di Colorado, saya merasa sangat sendirian. Di Brighton, tempat tinggal kami, hampir tidak ada orang Indonesia. Untungnya, saya kemudian bertemu komunitas ibu-ibu Indonesia di sebuah bazar masjid, yang membuat saya merasa lebih diterima dan memiliki teman untuk berbagi cerita.

Kehamilan pertama saya penuh dengan tantangan, terutama dalam beradaptasi dengan sistem kesehatan di Amerika Serikat. Sebelum pindah, saya rutin memeriksakan diri di Indonesia, termasuk mendapatkan buku kesehatan ibu dan anak dari Puskesmas. Dokter kandungan di Indonesia juga membekali saya dengan surat izin terbang dan obat penguat kandungan agar perjalanan panjang ke Amerika Serikat aman.

Sesampainya di Amerika Serikat, saya langsung mendaftar di Women’s Health Center di Colorado. Di sana, saya bertemu dengan bidan yang membantu saya selama masa kehamilan hingga persalinan. Setiap bulan, saya menjalani pemeriksaan rutin. Meskipun awalnya saya khawatir dengan kendala bahasa, ternyata para tenaga medis di sini sangat ramah dan selalu menjelaskan segala sesuatu dengan detail. Hal ini membuat saya merasa nyaman dan percaya diri.

Melahirkan di Amerika Serikat menjadi pengalaman yang luar biasa. Saya memilih metode persalinan sesar karena alasan medis. Prosesnya sangat berbeda dibandingkan dengan cerita teman-teman saya di Indonesia. Di sini, perhatian dokter dan perawat begitu detail. Setelah operasi, mereka memastikan saya tidak merasa sakit dan memantau kondisi saya dengan cermat sebelum mengizinkan saya pulang.

Hal yang membuat saya terkesan adalah kunjungan dokter laktasi pasca-persalinan. Dokter membantu memastikan saya dan bayi saya bisa menjalani proses menyusui dengan benar. Jika ada masalah, saya bisa langsung menghubungi dokter tersebut, bahkan setelah saya pulang ke rumah. Sistem ini benar-benar membuat saya merasa didukung.

Follow us

Sebagai ibu baru di negeri orang, tentu saya tidak terlepas dari tantangan emosional. Ada saat-saat di mana saya merasa kesepian, terutama ketika suami saya harus bekerja. Namun, saya bersyukur memiliki suami yang sangat mendukung. Ia membantu saya merawat bayi, dari mengganti popok hingga menenangkan bayi yang menangis.

Meski sempat merasa overwhelmed, untungnya saya tidak mengalami baby blues yang ekstrem. Saya banyak belajar untuk menerima perubahan ini dengan perlahan dan terus berkomunikasi dengan suami. Membaca cerita-cerita sahabat di Ruanita juga membantu saya merasa terhubung dengan pengalaman para ibu lainnya.

Budaya di Amerika dan Indonesia sangat berbeda, terutama dalam cara mendukung ibu baru. Di Amerika Serikat, saya melakukan tradisi baby shower, di mana keluarga besar datang sebelum bayi lahir untuk merayakan kehadiran anggota keluarga baru. Setelah melahirkan, tidak ada tradisi kunjungan seperti di Indonesia, tetapi perhatian yang diberikan melalui sistem kesehatan sangat luar biasa.

Selain itu, saya bertekad untuk membesarkan anak saya dengan nilai-nilai budaya Indonesia, seperti sopan santun kepada orang tua. Meski tinggal di Amerika, saya ingin anak saya tetap mengenal akar budayanya dan memiliki nilai-nilai yang kuat.

Melahirkan di negeri orang adalah pengalaman yang penuh dengan pelajaran. Bagi para ibu Indonesia yang menjalani perjalanan serupa, saya ingin berbagi pesan ini: persiapkan diri dengan baik, cari komunitas yang mendukung, dan jangan ragu untuk meminta bantuan jika diperlukan. Tidak ada ibu yang sempurna, tetapi setiap langkah kecil yang kita ambil adalah bentuk cinta terbesar untuk anak kita.

Tentang Penulis: Fajar adalah seorang ibu muda yang saat ini tinggal di Colorado, Amerika Serikat dan dapat dikontak via akun instagram @thomasandfajar.

(CERITA SAHABAT) Perjalanan Ketidakpastian Didiagnosa Sakit Autoimun dan Membangun Resiliensi Setelah Sakit di Austria

Halo Sahabat Ruanita, aku senang sekali bisa berbagi pengalaman dan kisahku lewat program cerita sahabat, apalagi yang kurasakan adalah sakit autoimun yang tidak mudah dipahami oleh orang awam. Perkenalkan aku, Zee atau biasa dipanggil Azizah, ibu seorang putri yang kini menetap di Austria lebih dari 10 tahun. Aku senang sekali melakukan aktivitas bertualang seperti hiking dan kegiatan outdoor lainnya. Namun, suatu ketika aku mengalami sakit yang tidak pasti dan hampir membuat duniaku runtuh seketika. 

Awalnya, aku hanya merasa sakit seperti influenza. Gejalanya ringan, tidak ada yang terlalu mengkhawatirkan. Namun, semakin lama, kondisiku semakin memburuk. Dokter pun tidak bisa langsung memberikan diagnosa pasti. Beberapa dugaan muncul: Morbus Bechet atau Granulomatosis dengan Poliangiitis (GPA). Kedua penyakit ini termasuk dalam kategori autoimun, dan lebih spesifik lagi, Bechet masuk dalam kategori autoinflammatory disease yang memengaruhi pembuluh darah atau disebut Blutgefäßerkrankung dalam bahasa Jerman.

Gejalaku semakin kompleks: pembuluh darah di paru-paru pecah, kaki mulai lumpuh, dan rasa sakit yang tak tertahankan. Aku mengalami serangkaian pemeriksaan dan diagnosa yang terus berubah-ubah. Mulai dari dugaan lupus hingga berbagai penyakit autoimun lainnya, semuanya diperiksa dan hasilnya selalu negatif.

Pada Desember 2023, aku mulai sering sakit-sakitan. Awalnya terasa seperti flu biasa tanpa demam, hanya badan yang ngilu dan sinusitis yang tak kunjung sembuh. Namun, pada Maret, gejalanya semakin aneh. Muncul luka di mulut seperti sariawan yang tak kunjung hilang, kaki tiba-tiba lebam tanpa sebab, dan luka yang terus muncul di berbagai bagian tubuh.

Follow us

Aku bahkan mengalami luka di area genital yang pada awalnya kupikir hanya iritasi biasa. Rasa sakitnya semakin parah hingga aku harus memberanikan diri melihat kondisiku dengan kaca. Ternyata, luka-luka itu sudah sangat besar.

Aku dan suami akhirnya memutuskan untuk pergi ke dokter spesialis ginekologi. Dokter langsung membawaku ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Aku sempat dicek untuk kemungkinan terkena penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS. Aku sempat merasa takut dan khawatir akan stigma sosial jika hasilnya positif. Namun, semua hasil tes menunjukkan negatif. Tak ada jawaban pasti mengenai penyakitku.

Kondisiku semakin memburuk. Pada April 2024, aku tiba-tiba bangun tidur dan tidak bisa bergerak. Badanku terasa nyeri dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku semakin sering keluar masuk rumah sakit, menjalani serangkaian tes dan operasi kecil hingga lima kali dalam waktu sebelas bulan. Aku pun dirawat untuk pemeriksaan organ secara menyeluruh: dari paru-paru, otak, hingga bagian tubuh lainnya. Para dokter kebingungan dan sering kali hanya bisa geleng-geleng kepala.

Aku sempat merasa sangat putus asa. Bahkan, dalam satu titik, aku berpikir bahwa lebih baik jika aku terkena kanker saja. Setidaknya, dengan kanker, ada diagnosa yang jelas dan pengobatan yang terarah. Namun, aku harus terus menjalani ketidakpastian ini.

Akhirnya, setelah perjuangan panjang, pada akhir Juni, dokter mulai mencurigai bahwa aku mengidap Morbus Bechet. Aku pun mulai mendapatkan pengobatan. Sayangnya, obat yang diberikan sangat keras hingga sistem pencernaanku kolaps, dan aku kembali harus dirawat di rumah sakit.

Di tengah semua ini, aku merasakan dampak besar pada keluargaku. Suamiku harus berhenti bekerja selama beberapa bulan untuk merawatku. Anak kami yang masih berusia dua tahun pun lebih banyak diasuh oleh neneknya karena aku hampir tidak bisa bergerak. Aku merasa begitu bersalah dan terpuruk karena tidak bisa menjalankan peranku sebagai ibu.

Aku akhirnya mendapatkan tawaran untuk berbicara dengan psikolog rumah sakit. Saat itu, aku menyadari bahwa selain perjuangan fisik, aku juga perlu bertahan secara mental dan emosional. Perjalanan ini masih panjang, tetapi aku terus berjuang untuk mendapatkan jawaban dan harapan akan kesembuhan.

Aku akhirnya mendapatkan tawaran untuk berbicara dengan psikolog rumah sakit. Saat itu, aku menyadari bahwa selain perjuangan fisik, aku juga perlu bertahan secara mental dan emosional. Dengan dorongan suami, aku mencoba berpikir lebih positif dan menerapkan afirmasi dalam keseharianku. Aku belajar bahwa menerima kenyataan adalah langkah pertama dalam menghadapi penyakit ini.

Berbulan-bulan aku hanya bisa berbaring, bahkan menggunakan alat bantu untuk berjalan (Krücken dalam Bahasa Jerman) pun tidak membantu. Suami selalu membawaku langsung ke pintu rumah sakit. Pada satu titik, aku merasa kehilangan kendali atas hidupku sendiri. Namun, suamiku terus mengingatkan bahwa ini bukan salahku. Aku berusaha mencari cara untuk mengalihkan pikiranku dari sakit yang terus menghantui, akhirnya aku menemukan distraksi dalam permainan video. Selama berbulan-bulan, game menjadi pelarian dari rasa sakit yang tak berkesudahan.

Aku juga sempat mengalami pertarungan batin yang berat. Dalam budaya Indonesia, sakit sering kali dikaitkan dengan karma atau azab. Bahkan ada yang menyarankan agar aku lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, komentar seperti itu justru membuatku semakin terpuruk. Aku menyadari bahwa aku harus menemukan kekuatan dari dalam diriku sendiri.

Seiring waktu, kondisi fisikku mulai membaik. Meski masih ada tantangan, aku mulai bisa melakukan hal-hal kecil seperti duduk bersama anakku, menonton TV bersamanya, dan merasakan kehangatan keluargaku. Motivasi terbesarku adalah anakku. Aku ingin bisa berjalan lagi, bermain dengannya, dan kembali menjalani kehidupan normal.

Kini, setelah perjalanan panjang, aku telah belajar banyak tentang kesabaran, penerimaan, dan pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat. Aku masih dalam proses pemulihan, tetapi aku lebih siap menghadapi masa depan dengan semangat baru.

Satu hal yang aku pelajari, ekspektasi yang terlalu tinggi bisa membawa kekecewaan. Aku mencoba untuk tidak menetapkan tenggat waktu bagi kesembuhanku. Aku fokus untuk menikmati setiap perkembangan kecil dan menghargai kehidupan yang masih kumiliki. Aku juga memahami bahwa tidak semua orang akan mengerti perjuanganku, dan itu tidak apa-apa. Yang penting, aku sendiri tahu apa yang harus kulakukan untuk bertahan.

Aku berharap kisahku bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang mengalami hal serupa. Aku senang sekarang aku mulai sedikit percaya diri dan berkontak dengan banyak orang. Aku tetap aktif menjadi co-founder Klub Membaca untuk anak-anak di Indonesia dan aku juga menjadi ketua departemen sosial di organisasi Perinma. Aku bahkan senang secara sukarela membantu di program Ruanita, seperti berbagi kisahku ini. Tidak mudah hidup dengan kondisi autoimun, tetapi dengan menerima keadaan dan tetap mencari kebahagiaan dalam hal-hal kecil, kita bisa terus melangkah ke depan.

Penulis: Azizah Seiger, tinggal di Austria dan dapat dikontak via akun instagram: wondering.zee.

(CERITA SAHABAT) Begini Cara Saya Berpikir Positif Untuk Hidup Lebih Baik di Belanda

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Risti, yang menetap di Belanda karena saya menikah dengan  suami, yang berkewarganegaraan Belanda. Masa-masa awal saya tinggal di Belanda, saya sempat  mengalami gegar budaya, mulai dari faktor cuaca, makanan, bahasa, gaya hidup sekaligus interaksi  sosial dengan berbagai kalangan.

Seiring berjalannya waktu, proses adaptasi dan filterisasi aspek sosial  budaya tersebut, perlahan saya bisa melewati dengan beragam tahapan usaha. Mengapa saya bisa  melaluinya dengan baik? karena saya berpikiran positif dalam menyikapi berbagai tantangan yang  dihadapi di negeri rantau. Berkaca dari pengalaman pribadi itu saya termotivasi untuk menuangkannya  dalam sebuah tulisan, dengan tema berpikir positif.  

Masa-masa Adaptasi 

Ada beberapa kebiasaan orang Belanda yang bagi saya cukup menarik dan sedikit berbeda dengan  kebiasaan kita di Indonesia, seperti kebiasaan untuk membuat janji terlebih dahulu untuk segala urusan.  Meskipun itu sekedar janji untuk minum teh atau kopi, kita harus memperhatikan waktu kita berkunjung  atau janji temu. Bila kita sepakat siang hari berkunjung ke rumah salah satu kenalan atau kerabat, maka  biasanya batas waktu tak tertulis untuk bertamu menjelang waktu makan malam sekitar jam 6 sore. 

Menariknya, bila tuan rumah sudah mengatakan “nou we gaan zo eten”, atau diterjemahkan “Sekarang  kami akan makan malam!”, itu berarti kita harus segera pergi! Namun, bila kita diundang untuk makan  siang sekaligus makan malam, maka sebelumnya tuan rumah akan menanyakan makanan apa yang  boleh dan tidak boleh dimakan oleh tamu, supaya mereka tidak menyajikannya.  

Salah satu keunikan lainnya di Belanda adalah menjadikan sepeda sebagai salah satu sarana  transportasi utama warga di sini. Jangan heran bila jumlah sepeda melebihi populasi jumlah penduduk.  Kebiasaan lainnya adalah pasangan yang bergandengan tangan saat berjalan dan mengucap salam  dengan orang yang berpapasan, meski kita tidak mengenalnya. Ketika saya dan suami melakukannya  di Indonesia, orang-orang melihat kami seperti orang yang aneh.

Satu lagi yang cukup berbeda dengan  budaya di Indonesia, laki-laki di Belanda juga terbiasa turun ke dapur memasak dan urusan rumah  tangga lainnya. Ada juga yang punya anak untuk menjaga dan mengasuh anak-anak mereka. Jadi  jangan heran, bila seorang bayi lahir maka ada cuti khusus untuk sang ibu dan untuk sang ayah.  

Sejak saya tinggal di Belanda, saya bersyukur dapat menyelaraskan ritme kehidupan dan rutinitas  dengan berbagai kegiatan yang menunjang proses adaptasi dengan lingkungan sekitar. Tahun pertama  sampai tahun kedua, saya disibukkan dengan segala formalitas untuk menjadi penduduk Belanda, mulai  dari belajar Bahasa Belanda dan beragam ujian yang menyertainya, termasuk berbagai tes kesehatan  yang wajib dan sukarela dan urusan-urusan lainnya.

Menginjak tahun ketiga, saya baru memberanikan  diri memasuki dunia kerja. Saya bersyukur sampai saat ini, saya masih dimampukan untuk berkiprah di  dunia kerja. Saya menjadikan rutinitas harian sebagai aktivitas yang menyenangkan. Saya senantiasa  menekankan prinsip: jalani segala proses hidup dengan rasa syukur dan penuh rasa bahagia.  

Berlanjut ke masa awal memasuki dunia kerja, saya bersyukur bahwa saya tidak mengalami gegar  budaya dengan sistem dan etos kerja di sini, selama kita menjalaninya sesuai dengan pedoman kerja  yang ditetapkan perusahaan untuk semua karyawan. Kerja di sini harus tepat waktu, semua kinerja kita  terpantau dan terukur. Supervisor juga tidak akan segan memberikan pujian atau kritik kepada kita. 

Selain itu, setiap 3 atau 6 bulan sekali kinerja kita dievaluasi, sistem upah sangat jelas dan transparan.  Sebagai pekerja, tidak ada alasan mendadak bahwa kita tidak datang kerja karena hujan misalnya.  Umumnya, karyawan yang tiga kali tidak datang dengan alasan yang tidak jelas, maka diberi peringatan keras. Jika pekerja masih juga melakukan pelanggaran kerja, maka otomatis hubungan kerja berakhir  dan perusahaan tidak akan memberikan surat referensi kerja.  

Saya bersyukur sampai saat ini saya dimampukan untuk mengemban tanggung jawab kerja sesuai  harapan perusahaan, pemberi kerja. Satu lagi yang membuat saya menjalani pekerjaan dengan rasa  bahagia, karena saya mendapati tidak ada halangan untuk kami – kaum muslim – dalam menjalankan  shalat di tempat kerja, bahkan perusahaan menyediakan ruangan khusus shalat.

Selain itu, saya juga  menjalin hubungan yang baik dan hangat dengan sesama rekan kerja. Dari pengalaman saya, tekanan  kerja seberat apapun, tentu terasa ringan dikerjakan dan diselesaikan bersama-sama, dengan semangat  gotong royong. Seperti pepatah: “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”.  

Mengelola rasa, jiwa, raga dan pikiran dalam menjalani hidup yang tentram 

Seiring dengan era digital, menjalin hubungan kemasyarakatan memang telah mengalami pergeseran  di hampir seluruh bagian bumi, termasuk di sini. Di Belanda, lazimnya pertemuan, baik yang bersifat  formal maupun nonformal, diawali temu janji yang dibuat lewat media sosial, seperti: e-mail, whatsapp,  facebook, instagram, dll. Bahkan, pertemuan dengan keluarga, sahabat atau bahkan tetangga tidak bisa  serta merta langsung datang, kita harus membuat janji terlebih dahulu.

Saya dan suami berkala setiap  dua minggu sekali untuk mengunjungi ibu di kota lain. Setidaknya, sekali dalam sebulan bertemu  sahabat-sahabat orang Belanda, menjalin silaturahmi dengan komunitas orang Indonesia di sini dengan  berbagai grup yang ada. Apalagi saat Ramadan, biasanya kami iftar dengan komunitas muslim Indonesia  atau para mualaf di Belanda. Saat Idul Fitri, biasanya kami mengirim hantaran lebaran ke tetangga 

tetangga di lingkungan rumah, yang kebetulan non muslim semua. Biasanya kami terlibat pembicaraan  hangat dengan para tetangga. Satu yang menjadi catatan saya, bahwa relasi sosial yang kita bangun  itu berpulang kembali kepada diri kita.

Bila kita menjalaninya penuh toleransi atas segala perbedaan,  selalu berbaik sangka, serta saling menjaga dan menolong, maka hati dan jiwa kita pun bahagia dan  tentram. Namun, bila relasi itu mulai toksik maka lebih baik kita menjaga jarak, karena hal itu  berpengaruh negatif pada diri dan jiwa kita.  

Ada banyak Perempuan yang menjadi inspirasi saya, setelah saya tinggal di sini. Dua di antaranya  adalah politikus Khadidja Arib dan pelari Sifan Hassan. Mereka begitu menginspirasi saya. Kiprah mereka  begitu luar biasa dalam pandangan saya dan sebagian warga Belanda. Mereka terlihat begitu energik  dan senantiasa optimis melewati beragam fase dalam proses kehidupannya.

Begitupun saya terus  belajar berproses untuk senantiasa optimis dan berpikir positif atas setiap fase kehidupan yang saya  jalani di negeri kincir ini. Ketika saya melewati satu fase yang tidak sesuai dengan harapan, maka saya  tetap berbaik sangka dan berpikir positif, bahwa ada rencana lain dari Allah SWT yang lebih baik. Hal  itu saya alami, ketika saya dan suami menjalani proses bayi tabung yang tidak berhasil. Saya dan suami  pada akhirnya menerima takdir itu dan berbuat lebih banyak untuk mendukung anak-anak yang kurang  beruntung dengan cara kami.  

Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Salah satu hikmah bagi saya adalah tersedia cukup ruang dan  waktu untuk menuangkan beragam peristiwa yang terjadi dalam bentuk tulisan, apalagi di saat suami  pergi ke kantor dan saya sedang berlibur kerja. Saat seperti itu, pikiran saya mengembara dan berkreasi.  Satu lagi bahwa bacaan pun mampu memengaruhi sikap positif kita.  

Ketika saya mengalami situasi sulit, maka hal pertama yang dilakukan adalah berdo’a kepada Allah SWT.  Setelah saya berpikir jernih, kemudian saya merenungkan apa yang terjadi, lalu berkata pada diri sendiri  bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan.

Pikiran positif itu sesungguhnya akan mempengaruhi  perilaku kita sehari-hari. Begitupun sebaliknya. Berpikir positif itu memerlukan energi jiwa yang cukup  melelahkan. Begitupun berpikir negatif. Jadi, kalau keduanya sama-sama melelahkan jiwa dan hati kita,  maka akan lebih bijak, bila kita memilih untuk senantiasa berpikir positif. 

Kebiasaan saya dan suami ngobrol tentang beragam tema juga membantu saya menjaga pola pikir yang  positif akan situasi di sekitar kita. Setelah lebih dari satu dasawarsa tinggal di sini, rasanya saya sudah  dapat mengatasi perasaan homesick. Kalaupun perasaan itu hadir, maka saya segera menelepon  keluarga di Indonesia.

Zaman ini begitu banyak perubahan, jarak dan waktu tidak lagi menjadi kendala  untuk melepas kerinduan dan bersilaturahmi. Mari manfaatkan kondisi dan situasi yang ada, dengan  sebaik-baiknya. Prinsipnya, apapun yang dihadapi kita terima, jalani, nikmati dan syukuri, sehingga kita  terjauhkan dari rasa stres dan depresi.  

Sebelum kita memutuskan untuk tinggal dan menetap di luar negeri, ada sebaiknya kita mempelajari  dan memahami dulu adat istiadat, budaya, dan aspek sosial kemasyarakatan di negara yang akan kita  datangi. Kita perlu membekali diri dengan pengetahuan yang cukup, agar kita dapat beradaptasi dengan  baik. Kita perlu tetap manjaga jati diri dan karakter kita sebagai orang Indonesia.

Tentunya, kita  sebaiknya berpikir positif dalam situasi dan keadaan apapun, serta di manapun tinggal. Ingat bahwa  berpikir positif tidak akan datang dengan sendirinya, tetapi diperlukan sebuah keterampilan yang harus  dipelajari. Berpikir positif akan melahirkan kebiasaan-kebiasaan yang lebih bersemangat dan optimis  untuk menjalani hidup.  

Semoga tulisan ringan dan sederhana saya mampu memberikan sedikit pencerahan untuk selalu  memotivasi diri kita dalam mengedepankan pola pikir yang positif.  

Penulis: Risti Handayani, kontributor Ruanita di Belanda, perantau di negeri Kincir Belanda, dan  dapat dihubungi lewat akun facebook: Ristiyanti Handayani.

(CERITA SAHABAT) Perempuan di Industri Tambang: Di Bawah Komando Perempuan

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya adalah Selvi Tandirerung, yang sekarang tinggal di Finlandia sudah lebih dari lima tahun lalu. Saya adalah perempuan Indonesia yang juga berprofesi sebagai  Mining Engineer atau Insinyur Pertambangan.

Saya ingin berbagi pengalaman dan inspirasi lewat program cerita sahabat ini, tentang peran perempuan dalam industri tambang. Sebagaimana kita sudah tahu, bahwa dunia tambang itu selalu dianggap sebagai dunia laki-laki.

Saat saya memulai karir saya di dunia pertambangan, memang sangat sedikit perempuan yang berminat untuk bekerja di pertambangan. Ya, contohnya saja dalam kuliahan itu kita hanya ada dari 56 atau 59 siswa dalam satu kelas.

Hanya ada 9 siswa perempuan dalam angkatan perkuliahan saat itu. Sahabat Ruanita, kita bisa melihat betapa jomplangnya antara mahasiswa peminat pertambangan berdasarkan gender. Kebanyakan mayoritas itu adalah mahasiswa laki-laki.

Mengapa saya sampai tiba di Finlandia? Awalnya, saya coba-coba saja untuk melamar ke perusahaan-perusahaan di luar seperti di Australia, di Amerika, di Turki.

Waktu itu, saya hanya tahu perusahaan tambang itu adanya di sekitar situ saja. Intinya, saya tidak pernah berpikir bahwa ada perusahaan pertambangan di negara Eropa.

Pada suatu hari, saya menemukan lowongan pekerjaan. Lowongan tersebut tertulis bahwa mereka membutuhkan untuk resident permit untuk bekerja di pertambangan di Finlandia.

Saya coba melamar dan kebetulan mereka tertarik dengan saya. Akhirnya, saya tiba di negara ini.

Di tempat kerja saya itu, sistem bekerjanya untuk saya sendiri adalah dua minggu  bekerja dan 2 minggu kerja on-site. Dua minggu tersebut, saya harus berada di site dan 1 minggu itu saya harus ada di rumah.

Hal yang suka dari tempat saya bekerja, perusahaan tambang telah menggalakkan campaign seperti Women in Mining.

Oleh karena itu, mereka pun mulai menerima beberapa perempuan yang dianggap bisa berkontribusi di dalam dunia pertambangan. 

Mengapa perempuan enggan atau kurang berminat bekerja di perusahaan pertambangan?

Menurut saya, hal ini mungkin disebabkan mereka berpikir bahwa perusahaan pertambangan itu identik dengan tanah kotor.

Ada juga yang berpendapat, bahwa kondisinya terlalu berbahaya untuk perempuan.

Dokumen pribadi milik Selvie Tandirerung.

Saya sendiri berpendapat, bekerja di tambang itu semua sudah diperhitungkan untuk sistem safety-nya.

Perusahaan tambang tentunya telah mempersiapkan kita yang bekerja agar risiko dan bahaya dapat diminimalisir terjadinya.  

Ada juga yang berpikir bahwa pekerjaan di industri tambang, hanya untuk pekerjaan laki-laki.

Di Finlandia, memang ada peraturan perundang-undangan yang menjelaskan bahwa perempuan itu mempunyai hak yang sama dengan laki-laki dalam hal apapun.

Level perempuan untuk bekerja, itu setara dengan laki-laki.

Kalau laki-laki bisa jadi presiden, perempuan juga bisa jadi presiden.

Itulah mengapa di Finlandia juga ada, perdana menteri perempuan. Perdana menteri perempuan yang saya maksud adalah Sanna MIrella Marin, yang menjabat 2019-2023.

Sahabat Ruanita, di Finlandia tidak ada statement yang bisa mengatakan bahwa hanya laki-laki yang bisa menduduki posisi direktur.

Atau, tidak ada pernyataan di Finlandia hanya laki-laki saja yang bisa bekerja di dunia pertamangan. Jadi, perempuan dan laki-laki memiliki level yang sama.

Di akhir cerita saya, saya cukup bangga bisa berkarier sebagai seorang perempuan Indonesia di Finlandia.

Satu kebanggaan, buat saya dan orang tua saya adalah saat koran lokal memuat berita tentang saya yang bekerja di industri tambang.

Judul artikel koran tersebut adalah naisen komenosa. Kalau teman-teman mau translate, judul artikel tersebut berarti di bawah komando seorang perempuan.

Penulis: Selvi Tandirerung, bekerja di industri tambang di Finlandia dan bisa dikontak via instagram exoticgirltravel.

(IG LIVE) The Joy of Less: Hidup Minimalis dari Perspektif Jurnalis Lepas di Italia dan Desainer Tas di Amerika Serikat

Ruang virtual Instagram Ruanita kembali menjadi tempat hangat berbagi cerita dan inspirasi. Diskusi IG LIVE interaktif bertema “The Joy of Less: Hidup Minimalis dalam Mode dan Fesyen” menghadirkan dua sahabat Ruanita yang tinggal di dua benua berbeda: yakni Rieska Wulandari di Milan, Italia dan Dewi Maya di South Carolina, Amerika Serikat.

Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita dari Ruanita Indonesia, diskusi ini menelusuri makna hidup minimalis dari sudut pandang keseharian hingga industri kreatif seperti fesyen.

Sebagai jurnalis lepas dan kontributor media, Rizka yang tinggal di kota Rimini, Italia, mengawali dengan menggambarkan bahwa hidup minimalis baginya berarti hidup secara cerdas, efisien, dan berkelanjutan.

“Buat saya, minimalisme bukan sekadar gaya hidup lucu-lucu. Tapi trik untuk menghadapi tantangan hidup,” ujarnya.

Rizka menekankan bahwa hidup di kota di Italia dengan ruang yang terbatas menuntut masyarakat untuk berbagi ruang dan fasilitas.

Dari apartemen kecil hingga taman umum, masyarakat belajar memanfaatkan sumber daya bersama—konsep minimalis yang kolektif, bukan individual.

Uniknya, meski Italia dikenal sebagai pusat mode dunia, Rizka mengungkapkan bahwa masyarakatnya justru sangat sadar akan esensi dan kualitas.

Gaya hidup old money atau professional style menjadi bentuk minimalisme tersendiri: membeli barang berkualitas tinggi sebagai investasi jangka panjang, bukan demi tren sesaat.

Sementara itu, Dewi, seorang desainer yang berbasis di South Carolina, AS, berbagi refleksinya setelah bertahun-tahun terjun di industri fashion. Ia mengaku bahwa kesadaran minimalis datang seiring pengalaman dan kedewasaan.

“Dulu, aku ikut tren terus. Tapi makin ke sini, aku sadar: fungsi lebih penting dari estetika sesaat,” katanya.

Dewi kini fokus mengembangkan karya berbasis slow fashion dan upcycled materials. Ia pernah membuat fashion show yang menggunakan tas-tas daur ulang dari plastik dan aktif bekerja sama dengan UKM Indonesia untuk memproduksi barang handmade dari jarak jauh.

Menurutnya, masyarakat Amerika cukup menghargai produk yang etis dan tahan lama. Kesadaran lingkungan dan preferensi terhadap kualitas menjadi alasan kuat mengapa minimalisme dalam fashion menjadi semakin relevan.

Baik Rizka maupun Dewi sepakat bahwa minimalisme tidak harus berarti “pelit” atau kekurangan. Justru, ini soal menyadari kebutuhan dan memprioritaskan fungsi, nilai, dan keberlanjutan. Beberapa tips yang mereka bagikan:

  • Gunakan kembali dan berbagi: dari baju bayi hingga buku, banyak bazar dan platform second-hand di Eropa.
  • Pilih bahan berkualitas: barang yang tahan lama bisa menjadi investasi, bahkan bisa diwariskan atau dijual kembali.
  • Kurasi lemari baju: lebih baik punya sedikit baju yang cocok dan fungsional daripada lemari penuh tren yang cepat usang.
  • Belanja dengan kesadaran: apakah barang ini akan berguna lama? Siapa yang membuatnya? Apa dampaknya bagi lingkungan?

Diskusi IG LIVE ini bukan sekadar tentang gaya atau tren, tapi soal cara memaknai hidup dengan lebih sederhana dan sadar.

“Di Italia, ada musim untuk bekerja keras, dan ada musim untuk istirahat dan menikmati hidup. Itu yang membuat hidup terasa seimbang,” ungkap Rizka sambil tersenyum di sela liburannya di pantai.

Akhir sesi terasa seperti pelukan hangat—dua perempuan Indonesia dari dua benua membuktikan bahwa hidup lebih sedikit bukan berarti kehilangan, tapi justru menemukan kembali makna, kesadaran, dan ruang untuk bernapas.

Simak selengkapnya Diskusi IG LIVE Episode Juli 2025 di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami

(CERITA SAHABAT) Praktik Gaya Hidup Minimalis yang Tak Mudah: Mulai dari Finansial ke Usaha Rumahan di Polandia

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya Lina, yang tinggal di Polandia. Sehari-hari, saya beraktivitas mengelola usaha Dapur Tempeh dan pastry, yang juga menjadi hobi saya. Saya senang bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat ini, terutama membagikan pengalaman, pengamatan, dan pendapat saya terkait gaya hidup minimalis. 

Gaya hidup minimalis kini menjadi trend tersendiri bagi pencintanya. Menurut saya, gaya hidup minimalis adalah gaya hidup yang fokus pada kesederhanaan. Sederhana memang! Saya pikir gaya hidup minimalis tidak mudah dijalani, di tengah kehidupan moderenitas yang serba mudah dan instan. Jujur, saya sendiri belum sepenuhnya tertarik menjalankan gaya hidup minimalis. Alasannya, gaya hidup minimalis tidak mudah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Sejak tinggal di Polandia, saya dan suami sedang belajar dan berusaha menerapkan gaya hidup sederhana dalam kehidupan keluarga kami. Kami juga memiliki dua anak kecil. Kami pun lebih memilih untuk fokus pada hal-hal penting untuk kebutuhan keluarga daripada keinginan pribadi.

Saya pikir, konsep minimalisme memiliki beberapa kategori. Mungkin ini yang memengaruhi cara saya dalam menjalani hidup sehari-hari di Polandia. Misalnya, kami sedang menjalani konsep minimalisme finansial. Minimalis finansial artinya gaya hidup  yang mungkin lebih mengarah pada pengelolaan keuangan, agar kami lebih bijak dalam menggunakan uang.

Sebagai contoh, kami hanya melakukan transaksi dengan uang tunai atau debit. Bagi kami, ini adalah pilihan hidup yang smart, karena hal yang kami lakukan sangat berpengaruh pada pengendalian diri dan mental. Kami tidak stres dengan tekanan untuk mengembalikan kredit, yang pernah saya alami saat masih muda dan belum berkeluarga.

Sahabat Ruanita, gaya hidup minimalis itu bermacam-macam ya dan bisa dipilih sesuai kebutuhan dan keinginan. Tentunya, ada banyak tantangan yang dihadapi dalam menerapkannya. Saya sendiri masih kesulitan untuk menemukan barang yang sesuai dengan kebutuhan saya, agar dapat menerapkan gaya hidup minimalis tersebut.

Saya ingin tampil cantik dan sudah terbiasa membeli Skincare yang saya bawa dari Jepang. Rupanya, skincare tersebut tidak cocok dengan iklim di Polandia. Pada akhirnya, saya harus merogoh kocek lebih lagi karena saya membeli berbagai merek Skincare untuk dapat menyesuaikan dengan kebutuhan kulit saya. Awalnya, saya ingin berhemat tetapi nyatanya saya malahan melakukan pemborosan. 

Sejak tinggal di Polandia, saya tidak menemukan perbedaan pandangan mengenai gaya hidup minimalis antara masyarakat Polandia dan Indonesia. Menurut saya, memilih hidup sederhana bukanlah budaya suatu negara, melainkan pilihan pribadi masing-masing. 

Selain itu, ada juga perbedaan cara penerapan minimalisme yang bergantung pada status perkawinan. Gaya hidup orang yang memiliki anak dengan orang lajang atau orang yang hidup tanpa anak, tentu akan berbeda. Sahabat Ruanita, gaya hidup minimalis itu tergantung pada pilihan masing-masing, bukan pada bagaimana budaya orang tersebut dibesarkan.

Setelah kami memutuskan minimalis finansial, kami selalu mempertimbangkan apakah barang yang akan dibeli itu benar-benar berguna dan tahan lama. Misalnya, saat membeli baju anak, kami akan membeli satu ukuran lebih besar agar bisa dipakai selama setahun, mengingat anak-anak tumbuh dengan cepat.

Dalam hal memasak, kami biasa memasak dengan porsi yang cukup, sehingga makanan tidak terbuang begitu saja. Selanjutnya, saya yang sekarang sedang mengelola usaha pun, saya hanya berinvestasi pada hal-hal yang benar-benar dapat mengembangkan usaha saya

Kembali tentang kebiasaan hidup di Polandia, yang mendukung gaya hidup minimalis, jujur saya tidak mengetahui banyak tentang kebiasaan budaya Polandia. Namun, yang saya perhatikan, orang Polandia lebih menyukai makanan rumahan daripada berkumpul di rumah makan, seperti halnya keluarga suami saya.

Selain itu, saya sepenuhnya belum dapat menjalankan kehidupan minimalis, yang seimbang antara pekerjaan, kehidupan sosial, dan waktu pribadi saya. Saya masih sibuk menjadi ibu rumah tangga sekaligus mengelola bisnis kecil saya, sehingga hampir tidak ada waktu untuk bersosialisasi.

Sehari-hari, saya sibuk mengelola usaha tempeh dan pastry. Usaha saya ini berawal dari pengalaman saya tinggal selama 13 tahun di Jepang. Di waktu senggang, saya mengikuti kursus pastry di Jepang, karena kue-kue di sana sangat ringan dan enak.

Sewaktu saya masih lajang, saya berkeinginan untuk membuat kue-kue tersebut untuk keluarga saya. Pada akhirnya saat pindah ke Polandia, saya memutuskan untuk membuka usaha dengan menerima pesanan kue. Kebetulan, kemampuan bahasa Polandia saya masih kurang memenuhi persyaratan untuk bekerja di Polandia.

Sementara untuk usaha tempeh yang saya tekuni, ini semua berawal dari pengalaman saya tinggal di Jepang, yang mana saya belajar langsung dari pengrajin tempe di sana. Selain tempe adalah makanan kesukaan saya sejak kecil, saya juga terinspirasi untuk membuat usaha tempe dari beliau di Jepang.

Ternyata, saya mendapatkan respon yang cukup menarik dari masyarakat Polandia sendiri, terutama mereka yang adalah vegetarian. Pembeli kami mengaku puas dengan tempeh yang dipesannya. Alasannya, mereka sudah pernah ke Indonesia dan menikmati tempeh di sana. Lainnya, mereka juga suka dengan tempeh buatan saya, meskipun ada yang mengeluhkan bau fermentasi tempeh. 

Dalam mengelola usaha tempeh dan pastry, tentunya tidak mudah dan memiliki kendala seperti bahan baku. Untuk pastry misalnya, tersedia berbagai jenis tepung terigu di Polandia, sehingga saya harus mencoba beberapa kali agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Sedangkan untuk tempe, tantangannya adalah sulitnya menemukan kacang kedelai berkualitas baik, agar tidak remuk saat proses pengupasan kedelai.”

Kembali ke gaya hidup minimalis dengan usaha rumahan, saya banyak mengunakan sistem pre-order agar produksi lebih tetap sasaran dan menghindari makanan terbuang. Saya juga banyak membagikan inspirasi saya mengelola usaha lewat akun Instagram saya, termasuk tentang video cara mengolah tempeh. 

Di Polandia, warga di sini selalu memberikan apresiasi yang positif atas apa saya yang kerjakan. Tentu, ini berbeda dengan kata-kata negatif yang kadang-kadang diterima dari orang Indonesia seperti: ‘Untuk apa buang waktu, buat sendiri lebih murah,’ atau menerima dan berkata, ‘Ah, biasa saja, lumayan!”

Sejak tinggal di Polandia, saya menyadari ada regulasi ketat terhadap kemasan makanan, sehingga pilihan kemasan yang dijual terbatas. Di Indonesia, kita bisa memiliki banyak variasi, misalnya memakai daun pisang untuk membungkus tempeh karena daun pisang begitu mudah didapatkan.

Dengan pilihan gaya hidup minimalis, saya memilih kemasan yang dapat digunakan kembali untuk kue-kue kering saya. Saya pun masih memasak dan menyediakan makanan di rumah adalah masakan Indonesia. Untuk acara ulang tahun atau acara tertentu, kami biasanya mengundang saudara-saudara suami untuk makan di rumah. Tentu saja, saya selalu memasak makanan Indonesia untuk mereka.

Sahabat Ruanita, hidup sebagai perempuan perantau tentu saja mengajarkan kemandarian baik dalam mengelola keuangan, tantangan keluarga, maupun kehidupan sosial.

Saya sendiri masih sedang belajar menerapkan gaya hidup minimalis, yang tentunya masih banyak sekali tantangan. Menurut saya, gaya hidup minimalis ini penting untuk diterapkan. Ketika kita memilih hidup sederhana, kita lebih dapat fokus pada hal – hal yang lebih penting. Langkah ini pastinya dapat menciptakan dunia yang lebih baik, terutama pada lingkungan. 

Penulis: Lina, yang tinggal di Polandia dan dapat dikontak via akun instagram: dozo_bialystok. Lina juga mengelola usaha tempeh dan dapat dikontak via akun instagram: dapur_tempeh

(CERITA SAHABAT) Serba-Serbi Budaya Tinggal di Spanyol Berdasarkan Pengalaman Saya

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Mariko Angeli yang tinggal di Spanyol. Saya adalah digital content creator yang senang membagikan kehidupan tinggal di Spanyol lewat laman media sosial ini. Berbicara mengenai budaya Spanyol, perbedaan yang mendasar yang dialami dalam kehidupan sehari-hari seperti makanan, waktu makan, dan kebiasaan makan yang agak berbeda dari Indonesia.

Jenis dan menu makanan pun berbeda. Mereka di Spanyol sering mengkonsumsi banyak roti, sebagai makanan, dan anggur, sebagai minuman, dalam keseharian mereka. Menariknya, waktu makan siang di Spanyol itu pukul 14.00, sedangkan di Indonesia saya terbiasa makan siang pada pukul 12.00. 

Di sekolah atau di tempat kerja kita memanggil atasan atau guru kita hanya dengan nama mereka saja. Itu yang menurut saya, salah satu norma sosial yang berbeda dengan di Indonesia. Meski hidup sudah terbilang modern di Eropa, tetapi saya masih menyaksikan bagaimana fenomena budaya masih ada di Spanyol.

Saya menemukannya saat acara perkabungan. Saya melihat salah satu keluarga dari teman saya, yang merupakan orang lokal Spanyol, ikut serta di situ. Mereka masih menerapkan tradisi yang bernama Luto/Duelo Prolongado. Ini merupakan  tradisi berkabung yang sangat lama bisa setahun atau lebih. 

Dalam tradisi ini, keluarga atau orang-orang terdekat dari almarhum memperpanjang periode berkabung sebagai bentuk penghormatan, cinta, dan kesedihan mendalam. Perempuan yang berkabung biasanya mengenakan pakaian hitam penuh, termasuk gaun panjang, selama periode berkabung.

Terkadang mereka juga mengenakan kerudung hitam, dikenal sebagai mantilla. Laki-laki umumnya mengenakan setelan hitam atau pakaian dengan warna gelap. Warna hitam ini melambangkan duka dan kesedihan. Pakaian hitam ini bisa dikenakan selama beberapa bulan hingga beberapa tahun, tergantung pada seberapa dekat hubungan dengan almarhum. 

Di komunitas kecil atau desa, tradisi Luto Prolongado biasanya lebih ketat karena semua orang mengenal satu sama lain, dan tekanan sosial untuk mematuhi aturan berkabung lebih kuat.

Pada beberapa kasus, jika ada keluarga dalam masa berkabung, seluruh komunitas mungkin menyesuaikan gaya hidup mereka, seperti menghentikan acara-acara meriah untuk menghormati yang meninggal. 

Disebut Duelo Prolongado, secara harfiah itu berarti duka cita atau kesedihan. Lebih lanjut, ini menjadi proses emosional atau psikologis yang mendalam dan dialami seseorang setelah kehilangan orang yang dicintai.

Mereka berfokus pada perasaan internal dan proses duka yang berlarut-larut. Perasaan duka yang tidak cepat mereda, di mana seseorang mungkin tetap merasa sangat terpukul atau sedih dalam waktu yang lama. 

Di jaman modern, tradisi ini sudah tidak begitu umum,  apalagi di kota-kota besar termasuk di Barcelona, yang menjadi tempat saya tinggal. Saya hanya sekali itu melihat sendiri.

Mungkin, kita masih bisa menemukan lebih banyak lagi di daerah-daerah konservatif atau religius, seperti di daerah pedesaan di Andalucia, Galicia, atau Castile. 

Di Spanyol, ada juga fenomena budaya lainnya yang disebut “ataques de nervios”. Dari literatur yang ditemukan, “Ataques de Nervious” merujuk pada suatu kondisi emosional atau serangan yang intens, seringkali disertai dengan gejala fisik dan emosional yang kuat seperti menangis, berteriak, tremor, dan perasaan kehilangan kontrol.

Kondisi ini sering dianggap sebagai respons terhadap situasi stres atau krisis emosional yang berat, dan biasanya terjadi dalam konteks sosial atau keluarga.

Menurut pandangan pribadi saya dan sekilas yang saya ketahui, stigma terhadap gangguan kesehatan mental masih ada di Spanyol, terutama di kalangan generasi yang lebih tua.

Namun, pandangan ini perlahan berubah, terutama di kalangan anak muda. Peningkatan kesadaran publik tentang pentingnya kesehatan mental, didukung oleh kampanye sosial dan liputan media, telah membantu mengurangi stigma seputar terapi psikologis dan gangguan mental. 

Kesadaran akan kesehatan mental di sini juga begitu gencar digalakkan. Saya pernah melihat ada iklan pemerintah di televisi, jika anak kita menjadi korban bullying, kita dapat mengontak nomor telepon bantuan yang disediakan.

Spanyol sepertinya masih memiliki budaya yang sangat erat dengan nilai-nilai keluarga dan komunitas. Dalam konteks ini, keluarga seringkali berperan sebagai sistem dukungan pertama bagi seseorang yang mengalami gangguan mental. Peran keluarga sangat penting. 

Yang saya ketahui orang Spanyol dikenal memiliki kehidupan sosial yang kuat dan komunitas yang erat. Mereka sering terlibat dalam aktivitas sosial dengan keluarga besar, teman-teman, atau tetangga.

Dukungan sosial yang kuat ini sering menjadi sumber kenyamanan dan dukungan emosional. Ketika menghadapi stres atau masalah, mereka cenderung berbagi dengan orang terdekat, yang dapat membantu mengurangi beban emosional. 

Selain fenomena budaya yang dijelaskan di atas, dalam konteks sosial budaya, saya perhatikan mereka memiliki tradisi yang unik lainnya. Saya sendiri belum pernah melihat atau mengenalnya di Indonesia.

Tradisi malam tahun baru di Spanyol, misalnya. Warga di sini memiliki kebiasaan memakan 12 buah anggur di 12 detik sebelum tahun yang baru. Menurut saya, ini adalah tradisi yang unik dan menarik dan berbeda dengan yang sering saya rayakan di Indonesia.

Jika sahabat Ruanita datang ke Spanyol, mungkin juga ada kesempatan untuk menyaksikan festival yang bernama El Colacho atau festival lompat bayi. Festival ini diadakan di kota Castrillo de Murcia di Spanyol utara.

Festival ini melibatkan seorang pria yang berpakaian sebagai “setan” (Colacho) yang melompati bayi-bayi yang diletakkan di atas kasur di jalan. Ritual ini dianggap sebagai cara untuk membersihkan bayi dari dosa asli dan membawa mereka keberuntungan serta perlindungan. Meski tidak ada bayi yang dilaporkan terluka, buat saya tradisi ini agak aneh dan berbahaya. 

Sebagai orang Indonesia di Spanyol, tak jarang mereka berpikir bahwa saya adalah seorang muslim. Warga lokal berasumsi bahwa semua orang Indonesia beragama Islam.

Ada juga yang tidak mengenal Indonesia, hingga saya menyebutkan pulau Bali, yang lebih banyak dikenal. Indonesia bukanlah negara yang sangat dikenal dari Asia Tenggara seperti Filipina, yang memiliki sejarah dan hubungan panjang dengan Spanyol. 

Untuk beradaptasi di Spanyol, saya tidak memiliki masalah tetapi saya masih harus belajar dalam berkomunikasi.  Di Barcelona, kita menggunakan dua bahasa, yakni Bahasa Catalan dan Bahasa Spanyol (Castellano), sehingga saya harus belajar dua bahasa tersebut untuk dapat berkomunikasi dan berinteraksi lebih baik.

Tentu saja, kita terus belajar bahasa Spanyol karena dengan komunikasi yang baik kita bisa mengerti dan bisa cepat beradaptasi, termasuk juga dalam lingkungan kerja. 

Secara pribadi, saya tidak memiliki tantangan yang signifikan. Malah saya merasa sistem kesehatan di Spanyol, seperti jaminan kesehatan dari pemerintah dan asuransi pribadi yang dipakai di sini sangat baik.

Begitu pula dengan sistem pendidikannya yang sangat baik, kita bisa mengaksesnya, mulai dari yang berbayar hingga gratis dari pemerintah. Tersedia juga banyak bantuan-bantuan pendidikan dari pemerintah dan swasta untuk siapa saja (lokal, imigran), yang menurut saya mungkin belum ada di Indonesia. 

Menurut pengamatan saya tentang perkembangan gender di Indonesia dan di Spanyol yang tidak sepenuhnya, dalam beberapa dekade terakhir, Spanyol telah mengalami perubahan signifikan dalam hal kesetaraan gender.

Undang-undang yang mendukung kesetaraan gender, hak perempuan, serta kebebasan seksual sudah lebih diperhatikan. Representasi perempuan di politik juga cukup tinggi. 

Di Spanyol, peran pria juga mengalami perubahan. Di masa lalu, pria dianggap sebagai pencari nafkah utama, tetapi kini ada ekspektasi bahwa pria turut berperan aktif dalam mengurus rumah tangga dan anak-anak. Cuti ayah menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap tanggung jawab pria dalam mengasuh anak. 

Kekerasan berbasis gender menjadi masalah serius di Spanyol, namun pemerintahnya telah berkomitmen kuat untuk memerangi hal ini. Ada undang-undang khusus untuk melindungi perempuan dari kekerasan dalam rumah tangga, dan kesadaran masyarakat terhadap isu ini semakin tinggi.

Nah, bagi sahabat Ruanita yang berencana pindah ke Spanyol untuk memahami dan mengatasi perbedaan budaya, adalah pelajari, cari informasi sebanyak-banyaknya tentang Spanyol, budaya, tradisi dan sebagainya, agar kita paham, apakah kita sanggup dengan segala perbedaannya.

Hal ini penting sebagai pertimbangan sebelum kita memutuskan untuk pindah ke Spanyol. Selain itu, belajar Bahasa Spanyol Basic itu penting sekali, sebelum pindah ke Spanyol sehingga membantu dan meringankan kita dalam berkomunikasi dan tinggal di Spanyol.

Penulis: Mariko Angeli, Digital Content Creator, tinggal di Spanyol, dapat dikontak akun IG marikoangeli_