(SIARAN BERITA) Workshop Daring Produksi Audiobook  Dorong Kolaborasi untuk Literasi Inklusif

Jakarta, September 2026 – Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia menyelenggarakan Workshop Daring Produksi Audiobook  pada 19–20 September 2026 sebagai bagian dari rangkaian Program AISIYU (AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) dalam mendukung kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan pada 25 November – 10 Desember dan peringatan Hari Braile Sedunia pada Januari 2027 mendatang. Kegiatan ini mempertemukan pegiat inklusi, masyarakat umum, dan mitra strategis untuk memperkuat kapasitas produksi audiobook yang inklusif bagi siapa saja yang memerlukannya.

Workshop diselenggarakan bekerja sama dengan Komunitas Braille’iant Indonesia dan menghadirkan berbagai narasumber dari lembaga negara maupun komunitas yang memiliki perhatian terhadap isu kesetaraan gender, aksesibilitas, dan pendidikan inklusif. Sebagai informasi, komunitas Braille’iant Indonesia adalah komunitas anak muda Jogja yang berfokus pada pengembangan kapasitas difabel netra dan pendidikan inklusi.

Pada sesi pembuka, Ketua Komisi Nasional Disabilitas Republik Indonesia, Dante Rigmalia, menyampaikan materi mengenai pentingnya membangun akses informasi dan literasi yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa akses terhadap pengetahuan merupakan bagian dari pemenuhan hak penyandang disabilitas, sehingga pengembangan media yang mudah diakses, termasuk audiobook, menjadi salah satu upaya nyata untuk mewujudkan masyarakat yang lebih setara dan inklusif.

Sementara itu, sesi mengenai Pengarusutamaan Gender dan Inklusi Sosial (GESI) disampaikan oleh Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Devi Rahayu. Materi tersebut mengajak peserta memahami pentingnya mengintegrasikan perspektif gender dalam produksi pengetahuan dan media digital, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mendukung penghapusan kekerasan terhadap perempuan melalui kampanye yang inklusif dan berbasis hak asasi manusia. Workshop daring selama dua hari ini ini dimoderasi oleh Lu’luatul Awaliyah, mahasiswa S2 di UK.

Selain mendapatkan penguatan perspektif gender dan inklusi sosial, peserta juga memperoleh pelatihan teknis produksi audiobook yang difasilitasi oleh Veronica Christamia, Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Tiongkok sekaligus Founder Komunitas Braille’iant Indonesia. Materi mencakup teknik membaca naskah, perekaman suara, hingga penyuntingan audio menggunakan perangkat lunak Audacity.

Workshop diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki minat pada literasi, produksi konten digital, dan isu aksesibilitas. Melalui sesi praktik, setiap peserta mulai mengerjakan bagian audiobook yang akan dikembangkan secara kolaboratif sebagai produk akhir Program AISIYU. Untuk kampanye digital 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP), penyelenggara mengharapkan peserta membuat konten terkait refleksi pengalaman selama proses produksi audiobook, yang berlangsung pada 25 November – 10 Desember mendatang.

Setelah proses produksi dan penyuntingan selesai, audiobook akan dipublikasikan melalui platform Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia serta didistribusikan kepada komunitas netra, organisasi penyandang disabilitas, dan sekolah netra di Indonesia pada peringatan Hari Braille Sedunia, 4 Januari 2027. Audiobook ini merupakan bagian dari komitmen Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia untuk menghadirkan ruang digital yang positif, kreatif, dan inklusif, sekaligus membangun ruang kolaboratif bagi masyarakat untuk memproduksi karya-karya yang mengangkat nilai kesetaraan gender, aksesibilitas, dan pemberdayaan.

Melalui inisiatif ini, Ruanita Indonesia berharap dapat memperluas akses literasi bagi penyandang disabilitas netra, memperkuat budaya gotong royong dalam berkarya, serta mendorong lahirnya lebih banyak konten digital yang memberikan manfaat sosial bagi masyarakat.

Anna Knöbl selaku bagian dari penyelenggara Workshop Audiobook berharap semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa akses terhadap informasi, literasi, dan ruang berekspresi merupakan hak setiap orang. Dia menambahkan bahwa kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil, komunitas penyandang disabilitas, dan lembaga negara diharapkan menjadi langkah bersama dalam membangun ekosistem literasi yang inklusif, setara, dan bebas dari kekerasan terhadap perempuan.

(AISIYU) Salahkan Korban

Pembuat karya: Putri Ayusha

Akun Instagram: Kertasiun

Judul karya: Salahkan Korban

Deskripsi:

‘Lagian ngapain kamu keluar malam-malam’

‘Emang kamu pakai baju apa waktu itu’

‘Kok, baru lapor sekarang?’

‘Kenapa gak ngelawan atau teriak minta tolong?’

adalah beberapa contoh pernyataan dan pertanyaan yang dilontarkan kepada para korban pelecehan atau kekerasan seksual.

Pernyataan/pertanyaan tersebut seringkali terucap baik dari petugas kesehatan, kepolisian, maupun dari orang-orang terdekat korban. Alih-alih bersimpati atau berempati terhadap situasi yang dialami korban, baik sengaja atau tidak, mereka cenderung menyalahkan korban atas kejadian tersebut.

Korban seringkali juga menyalahkan diri mereka sendiri untuk alasan yang sama dengan orang lain. Akan tetapi, menyalahkan diri sendiri seperti itu tidak sehat dan bisa berdampak serius. Kekerasan seksual adalah murni kesalahan pelaku dan tidak pernah menjadi kesalahan korban.

Dalam beberapa waktu terakhir ini, mungkin tema ini telah banyak dibahas. Beberapa pihak berwenang dan media telah mengubah cara mereka menangani korban. Namun, jalan kita masih panjang, sampai kita sama sekali terbebas dari kekerasan.

(AISIYU) Perempuan: Di Antara Bayang-Bayang Stereotip dan Hak Kesehatan Reproduksi yang Ditanggalkan

Pembuat karya: Yenik Wahyuningsih

Akun Instagram: journalananda (dan) anandazeezeny

Judul karya: Perempuan – Di Antara Bayang-bayang Stereotip dan Hak Kesehatan Reproduksi yang ditinggalkan

Deskripsi:

Kupu-kupu merepresentasikan tentang harmoni perbedaan. Adanya perbedaan warna seharusnya menjadi hal yang indah dan disyukuri. Ini berkaitan dengan stereotip, standar kecantikan perempuan.

Perempuan dengan gambar kaktus di bawah merepresentasikan isu hak reproduksi pada perempuan, karena kerap kali perempuan tidak diberikan hak atas reproduksinya

Perempuan disambung dengan  gambar baground merah dan sedikit tulisan dan tersenyum merepresentasikan adanya kebebasan. Dia merasa bebas saat menulis apa yang selama ini masih mengganjal dalam pikirannya.

(AISIYU) Hands, Voices, Freedom

Pembuat karya: Putri Silitonga

Akun Instagram: qqutri

Judul karya: Hands, Voices, Freedom

Deskripsi: Kolase yang memiliki frase “Merdeka dari Kekerasan” menampilkan gambaran perempuan menahan sentuhan yang tidak diinginkan dan dikelilingi oleh tangan yang menggambarkan sifat invasif kekerasan terhadap wanita. Adanya bahan pangan di latar belakang mewakili esensi hak dan kebutuhan dasar perempuan untuk hidup aman. Terakhir, mikrofon di bagian belakang mewakili kepentingan untuk memperkuat suara perempuan, mendorong mereka bersuara, serta mengadvokasi pembebasan mereka.

(AISIYU) Sekutu di Awan Biru

Pembuat karya: Corinthiani

Akun Instagram: corin_sinulingga

Judul karya: Sekutu di Awan Biru

Deskripsi: Di sini ada awan biru sebagai bentuk ruang bebas, di mana langit selalu memberi kesempatan kepada siapapun manusia, termasuk seorang korban kekerasan. Bahkan, seorang korban punya kebebasan untuk menemukan support system atau women support women, membantunya untuk membatasi hubungan berkedok mengendalikan dan menjatuhkan.

(AISIYU)  Memutus Tali Kekang

Pembuat karya: Anonim

Akun Instagram: Tidak ada

Judul karya: Memutus Tali Kekang

Deskripsi: Kolase ini bercerita tentang pentingnya lebih banyak tindakan nyata untuk memastikan perempuan dalam segala keragamannya (diwakili oleh kupu-kupu dalam berbagai bentuk dan warna) hidup bebas dari kekerasan dan pemaksaan. Dampak kekerasan terhadap kesehatan dapat berlangsung seumur hidup, mempengaruhi kesehatan fisik, mental, seksual, dan reproduksi.

(AISIYU) Menyembuhkan Diri, Mencari Jalan Keluar dari Kekerasan

Pembuat karya: Nurfadni Mutiah

Akun Instagram: fadniiiii

Judul karya: Menyembuhkan Diri, Mencari Jalan Keluar dari Kekerasan

Deskripsi: Saya punya pengalaman, dari seorang rekan yang sedang hamil dan mengalami kekerasan. Kekerasan fisik terhadap perempuan yang sedang hamil, tentunya menciptakan situasi traumatis yang berpotensi merugikan ibu dan janin. Pilihan antara tetap tinggal atau mencari tempat aman menjadi dilema sulit. Belum lagi dia perlu mempertimbangkan kesehatan mental dan fisik yang rentan. Penting untuk mencari dukungan dari keluarga, teman, atau lembaga yang kompeten dalam membantu korban kekerasan domestik. Menemukan tempat yang lebih aman dan berusaha menyembuhkan diri adalah langkah penting menuju pemulihan dan keselamatan jangka panjang.

(AISIYU) Belari Walau Terikat

Pembuat karya: Anonim Judul karya: Berlari Walau Terikat Deskripsi: Karya ini menceritakan tentang keprihatinan saya terhadap tingginya kasus kekerasan dalam hubungan, baik itu kekerasan dalam berpacaran maupun kekerasan dalam rumah tangga di mana seringkali perempuan menjadi korbannya. Saya memilih gambar mata yang memar dan kaki yang terikat sebagai simbol kekerasan yang dialami oleh perempuan korban […]

(AISIYU) Bebas Mimpi Buruk

Pembuat karya: Putri Ayusha

Akun Instagram: kertasiun

Judul Karya: Bebas Mimpi Buruk

Deskripsi: Kekerasan yang dialami oleh perempuan dapat menyebabkan trauma yang mendalam dan berdampak jangka panjang pada kesehatan mental dan emosional. Efek dari trauma tersebut bisa sangat mendalam, yang menyebabkan mimpi buruk dan gejala lain yang sulit diatasi. Kolase ini bercerita tentang mimpi buruk yang selalu hadir setiap malam dan menghantui hidup para korban kekerasan. Para korban tentunya sangat berharap bahwa suatu hari mereka dapat terbebas (seperti burung yang terbang bebas di langit biru pada gambar) dari mimpi buruk dan trauma yang mereka alami pasca kejadian kekerasan, serta dapat melanjutkan hidup dengan penuh harapan dan ketangguhan.

(AISIYU) Merdeka Melawan Kekerasan Seksual di Pesantren

Pembuat karya: Msy

Akun Instagram: for.mujeres

Judul karya: Merdeka Melawan Kekerasan Seksual di Pesantren

Deskripsi: Kasus kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja. Pelaku dan korbannya pun bisa siapa saja. Komnas Perempuan mencatat lembaga pendidikan pesantren menempati urutan kedua terbanyak dalam hal kasus kekerasan seksual dalam periode 2015-2020. Pada perayaan 16HAKTP 2023, melalui kolase ini saya menyampaikan hormat kepada semua para santri yang sudah berjuang melawan kekerasan seksual yang ada di pesantren.

(AISIYU) Lepaskan Belenggu, Raih Impianmu

Pembuat karya: Nita

Akun Instagram: msiyuun_

Judul Karya: Lepaskan Belenggu, Raih Impianmu

Deskripsi: “Domestic Violence” (baik dalam hubungan berpacaran maupun dalam rumah tangga) terkadang menghampiri kaum perempuan tanpa mereka sadari. Berkedok sebagai “kodrat” dan tanggung jawab yang dipaksakan, perempuan bagaikan terpenjara di dalam sangkar emas, ataupun sangkar-sangkar lainnya, yang secara tidak langsung menempatkan diri mereka di bawah tekanan dan penindasan. Tetapi, sekalinya perempuan telah berdaya dan berani keluar dari lingkungan toksik itu, maka kebebasan telah menantinya. 

(AISIYU) Kekerasan Dunia Maya

Pembuat karya: Anonim

Akun Instagram: tidak ada

Judul Karya: Kekerasan Dunia Maya

Deskripsi Akhir-akhir ini saya melihat banyak terjadinya kekerasan dunia maya yang sering kali korbannya adalah perempuan. Salah satu bentuk kekerasan di dunia maya yang menyita perhatian saya adalah maraknya kasus “revenge porn”. Kasus ini banyak menyebar di berbagai media sosial dengan korban yang rata-rata perempuan muda. Saya merasa bahwa kasus-kasus ini dapat menghancurkan kehidupan seseorang karena bagaimanapun kekerasan digital itu dapat menyebar dengan cepat dan jejaknya akan selalu ada. Saya berharap karya ini dapat menjadi salah satu pengingat untuk generasi muda agar selalu berhati-hati sehingga mereka bisa terhindar dari kekerasan dunia maya.

(AISIYU) Rangkul, Bukan Pukul

Pembuat karya: Tuzhara R. Majid

Akun Instagram: tuzhararm

Judul karya: Rangkul, Bukan Pungkul

Deskripsi: Dari kolase yang dibuat ini, saya ingin menyampaikan gambaran kehidupan perempuan jikalau mereka tidak lagi menjadi korban, baik kekerasan verbal, fisik, maupun seksual. Mereka bisa kuat bagaikan batu bata, pun mampu bersemi menjadi apa yang diimpikan bagai bunga-bunga bermekaran. Mari sama-sama kita wujudkan perempuan Indonesia yang lebih sejahtera tanpa kekerasan. Jangan pukul tapi rangkul!

(AISIYU) Melawan Ketakutan

Pembuat karya: Rena Lolivier

Akun Instagram: renananina

Judul karya: Melawan Ketakutan

Deskripsi: Kekerasan Verbal adalah salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan yang paling sering terjadi dan dapat ditemui baik di dalam maupun di luar kehidupan domestik. Kekerasan ini seringkali diabaikan dan dianggap remeh, tetapi bisa menimbulkan dampak yang besar terhadap kesehatan mental. Gambar seorang perempuan yang hendak menutup panci dengan ikan “bergigi” di dalamnya menjadi simbol bahwa perempuan sebenarnya memiliki kekuatan untuk menghentikan segala kekerasan yang mereka alami. Melalui karya ini pula saya berharap bahwa kita sebagai perempuan mampu berdiri untuk diri kita sendiri, berani untuk berhenti “mendengarkan” kata-kata yang menyakitkan dan merdeka dari kekerasan itu sendiri.

(AISIYU) Lari dan Merdekalah!

Pembuat karya: Mia Olivia

Akun Instagram: miaolivers_

Judul karya: Lari dan Merdekalah!

Deskripsi: Kemerdekaan untukku adalah keberanian untuk kita lari, kabur, berpisah, melepaskan, dari semua penjara-penjara tak berbentuk yang dibangun oleh pola pikir patriarki. Bukan hanya secara fisik tetapi yang lebih utamanya secara pikiran, karena kalau kita tidak memerdekakan pola pikir kita, sejauh apapun kita melarikan diri, penjara itu akan tetap mengikuti. Kita harus sadar bahwa kita ini NYATA dan MAMPU melakukan apapun. Sendiri saja mampu apalagi bersama-sama. Uluran tangan banyak pihak juga sangat membantu untuk para perempuan memerdekakan diri dan pikirannya dan  kungkungan penjara patriarki. Seni adalah cara memerdekakan diri, sudah digunakan sejak ratusan abad atau bahkan lebih lama. Dengan berkesenian apapun bentuknya, semoga para perempuan bisa menemukan pintu-pintu kemerdekaannya.