(IG LIVE) Ketika Menjadi Janda Bukan Akhir Cerita: Belajar Memilih Empati di Hari Internasional Janda

Mungkin tidak banyak tahu kalau ada peringatan Hari Internasional Janda yang diperingati tiap 23 Juni. Tentunya, kami mengambil momen ini untuk para perempuan agar bisa bersuara tentang bagaimana pengalaman dan tantangannya dalam status pernikahan yang disebut janda tersebut. Bahkan status janda itu masih menjadi stigma sosial yang memang perlu terus disuarakan, seperti melalui program diskusi IG LIVE bulan Juni ini. Program ini berhasil mengundang Telda Hille, yang bercerai dari suaminya di Jerman dan Barbie Nouva, seorang perempuan Indonesia yang memilih menjadi Single Mom by Choice di Rumania.

Melihat perempuan sendirian bersama anak tampaknya masih memberikan pertanyaan pribadi, seperti: “Ayahnya mana?”; “Kok bisa jadi ibu tunggal?”; “Nggak kasihan anaknya?” dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu mungkin hanya basa-basi. Namun bagi perempuan yang sedang berjuang membesarkan anak seorang diri, setiap kalimat itu bisa menjadi pengingat bahwa masyarakat masih lebih mudah menghakimi daripada memahami.

Itulah benang merah yang mengalir sepanjang diskusi Instagram Live Ruanita Indonesia dalam rangka memperingati Hari Internasional Janda yang diperingati setiap 23 Juni. Selama hampir satu jam, dua perempuan Indonesia yang kini tinggal di Eropa membuka lembar kehidupan yang selama ini jarang diceritakan kepada publik. Bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk mengajak kita melihat bahwa di balik status “janda” atau “single mom” selalu ada kisah yang jauh lebih kompleks daripada apa yang tampak di permukaan.

Barbie menjadi orang pertama yang berbagi cerita. Dengan suara yang tenang, ia mengenang bagaimana impiannya membangun keluarga harus berubah arah ketika pasangan yang dicintainya meninggal dunia. Kepergian itu memang menghapus banyak rencana, tetapi tidak menghilangkan keinginannya untuk menjadi seorang ibu. Ia memilih melanjutkan mimpi tersebut melalui keputusan yang telah mereka rencanakan bersama. Keputusan yang bagi dirinya lahir dari cinta, tetapi bagi sebagian orang justru memunculkan banyak tanda tanya.

Menariknya, selama tinggal di Eropa, Barbie hampir tidak pernah merasa harus menjelaskan pilihan hidupnya kepada siapa pun. Tidak ada yang sibuk bertanya siapa ayah anaknya atau mengapa ia membesarkan anak sendirian. Orang-orang menghormati ruang pribadi dan percaya bahwa setiap keluarga memiliki cerita yang tidak harus diketahui orang lain.

Namun suasananya berubah ketika ia lebih sering berada di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan mulai berdatangan. Bukan sekali dua kali, tetapi hampir setiap kali bertemu orang baru. Dari mana ayah anaknya? Apakah masih berkomunikasi? Mengapa memilih jalan hidup seperti itu? Awalnya Barbie mencoba menjawab dengan sabar. Lama-kelamaan ia menyadari bahwa yang melelahkan bukanlah memberikan penjelasan, melainkan menghadapi rasa ingin tahu yang seolah tidak ada habisnya.

Meski demikian, ia tidak pernah mengatakan bahwa membesarkan anak seorang diri adalah perjalanan yang mudah. Ada saat-saat ketika putranya mulai membutuhkan figur laki-laki dalam kehidupannya. Beruntung, ia memiliki saudara laki-laki yang hadir sebagai teladan bagi sang anak. Dukungan keluarga dan sahabat terdekat menjadi pengingat bahwa seorang ibu tidak harus menjalani semuanya sendirian. Kadang, kekuatan datang dari orang-orang yang memilih tinggal ketika yang lain hanya datang untuk bertanya.

Cerita berikutnya datang dari Telda. Jika Barbie berbicara tentang kehilangan, maka Telda berbicara tentang keberanian meninggalkan hubungan yang tidak lagi sehat. Saat memutuskan bercerai, anaknya masih sangat kecil. Di masa itu, ia bukan hanya harus menata ulang hidupnya, tetapi juga berusaha tetap menjadi tempat paling aman bagi buah hatinya.

Yang paling berat ternyata bukan proses perceraian itu sendiri. Yang jauh lebih menguras tenaga adalah komentar orang-orang di sekitarnya. Demi menjaga kesehatan mental, Telda memilih menutup akun media sosialnya. Ia tidak ingin setiap hari membaca penilaian dari orang-orang yang bahkan tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik rumah tangganya. Baginya, diam bukan berarti menyerah. Diam adalah cara bertahan agar dirinya tetap bisa menjadi ibu yang utuh bagi anaknya.

Di tengah masa yang penuh ketidakpastian itu, justru lingkungan tempat ia tinggal di Jerman menghadirkan pengalaman yang berbeda. Rekan kerja membantunya menemukan tempat perlindungan bagi perempuan. Teman-temannya bersedia menjaga anak ketika ia harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Tidak banyak pertanyaan yang diajukan. Yang lebih sering terdengar justru kalimat sederhana, “Apa yang bisa kami bantu?” Dukungan seperti itulah yang perlahan memulihkan rasa percaya dirinya.

Dalam diskusi tersebut, baik Barbie maupun Telda sama-sama menyoroti satu hal yang menurut mereka sangat membedakan pengalaman hidup di Eropa dan Indonesia, yaitu cara masyarakat memandang kehidupan pribadi seseorang. Di banyak negara Eropa, status sebagai ibu tunggal bukanlah identitas yang harus diperdebatkan. Sementara di Indonesia, status tersebut masih sering menjadi bahan penilaian sosial. Padahal tidak seorang pun benar-benar mengetahui luka, perjuangan, maupun alasan yang membawa seseorang sampai pada titik itu.

Ketika diminta menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia, Telda tidak berbicara tentang perubahan besar. Ia hanya mengajak kita belajar satu hal yang sederhana: empati. Menurutnya, masyarakat tidak harus selalu memiliki jawaban atas kehidupan orang lain. Tidak semua masalah membutuhkan komentar. Tidak semua kisah membutuhkan penilaian. Kadang seseorang hanya membutuhkan telinga yang mau mendengar dan hati yang bersedia memahami.

Ucapan itu terasa begitu emosional ketika Telda mengenang bagaimana komentar negatif yang pernah ia terima masih membekas hingga hari ini. Ia mengaku berusaha tidak menangis di depan orang lain karena ingin terlihat kuat. Namun sesampainya di rumah, semua rasa sakit itu tetap mencari jalannya sendiri. Saat itulah ia menyadari bahwa kata-kata dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat, tetapi sangat lama sembuhnya.

Meski demikian, keduanya sepakat bahwa alasan mereka terus melangkah selalu kembali kepada anak-anak mereka. Melihat anak tumbuh sehat, tertawa, bermain, dan menjalani hidup dengan bahagia menjadi sumber tenaga yang membuat semua perjuangan terasa berarti. Mereka tidak sedang mengejar pengakuan sebagai perempuan yang hebat. Mereka hanya ingin menjadi ibu yang hadir sepenuh hati bagi anak-anaknya.

Hari Internasional Janda pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang perempuan yang kehilangan pasangan. Hari ini mengingatkan kita bahwa di sekitar kita ada banyak perempuan yang setiap hari sedang bertarung melawan kesepian, stigma, dan berbagai prasangka yang tidak mereka pilih. Mungkin kita tidak mampu menghapus semua beban yang mereka pikul. Namun kita selalu punya pilihan untuk tidak menambah bebannya. Sebab sebelum mengajukan pertanyaan, mungkin kita perlu mengingat satu hal: setiap orang sedang membawa cerita yang tidak seluruhnya bisa kita lihat. Sering kali, bentuk kasih yang paling sederhana adalah memilih untuk mendengarkan, bukan menghakimi.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bagaimana Hidup sebagai Janda di Tengah Mayoritas Janda di Kamboja?

Tahukah kalau 23 Juni diperingati sebagai Hari Janda Internasional? Di banyak negara, status janda masih kerap dipandang sebelah mata. Namun, di balik label itu ada kisah perjuangan, keberanian, dan cinta tanpa batas. Salah satunya datang dari Ricca Maurizky, seorang perempuan Indonesia yang kini tinggal di Kamboja. Ricca bercerita bahwa di Kamboja, cukup banyak perempuan berstatus janda. Namun, pandangan masyarakat di sana berbeda dengan negara tetangga. Ia membandingkan dengan Malaysia yang membedakan istilah janda (cerai hidup) dan balu (ditinggal mati).

Menurut Ricca, di Malaysia, status balu lebih dihormati, karena kehilangan pasangan bukanlah pilihan. Sementara janda karena perceraian sering dianggap sebagai kegagalan rumah tangga.

“Tapi buat aku sendiri, entah itu janda atau balu, aku hanya ingin mempredikatkan diriku sebagai single parent,” ujarnya tegas.

Di tahun keempat tinggal di Kamboja, Ricca menjalani operasi karena fibroid. Dari situ, ia juga didiagnosis mengalami anxiety dan depression. Kondisi ini memaksanya untuk beradaptasi dan mengambil langkah berani. Dokter menyarankan Ricca pindah rumah demi memperbaiki suasana hati. Ia menyiapkan apartemen yang lebih kecil, dengan fasilitas lift dan layanan kebersihan mingguan. Semua dipikirkan agar setelah operasi, ia tetap bisa beraktivitas dengan aman dan nyaman.

Keputusan itu bukan hanya soal tempat tinggal, tapi juga bentuk nyata dari usaha untuk pulih. “Bagus itu, berarti kamu mau sembuh,” kata dokternya, memberi semangat. Di tengah stigma masyarakat, Ricca bersyukur dikelilingi lingkungan yang memahami perjuangannya. Rekan-rekan kerja melihat dirinya bukan sekadar janda, melainkan seorang ibu tangguh yang membesarkan dua anak seorang diri.

Bahkan, keluarganya mendukung penuh jika ia ingin menikah lagi. “Cari teman hidup, atau pengganti ayahnya anak-anak, itu terserah kamu,” begitu pesan dari mertuanya. Namun, Ricca memilih fokus pada perjalanan hidupnya saat ini. Selain sulit mencari pasangan, tantangan lain adalah kesepian. Hidup di luar negeri membuatnya sulit mendapatkan teman dekat.

“Orang asing yang datang ke sini tidak ada yang menetap. Mereka datang karena misi, karena tugas. Jadi nggak mudah,” tuturnya.

Kisah Ricca menggambarkan realita banyak janda di seluruh dunia, diantara stigma, kesepian, dan perjuangan membesarkan anak-anak. Namun, dari sana juga lahir ketangguhan, keberanian untuk pulih, dan kemampuan merancang kehidupan baru. Hari Janda Internasional bukan sekadar peringatan, tetapi ajakan untuk menghormati perjuangan perempuan seperti Ricca. Bagi mereka, status bukanlah akhir, melainkan jalan baru untuk menemukan resiliensi di tengah perjuangan tinggal jauh dari tanah air.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT ) Setelah Setahun Berlalu

Enak gak menikah dengan bule? Kok bisa dapat bule, sih? Ketemu di mana? Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu dilontarkan ketika saya menikah dengan pria Jerman. Sejujurnya, dengan siapa pun menikah, dari mana pun asal pasangan, tidak ada bedanya. Enak atau tidak enaknya bergantung pada karakter mereka.

Dulu memang saya berpikir jika menikah dengan pria asing, maka mereka akan memperlakukan istri lebih baik dari pria-pria Indonesia. Akan ada saling menghargai, saling membantu, dan keseimbangan gender. Akan tetapi, saya salah. Pria bule atau pria Indonesia itu sama.

Semuanya bermula ketika saya bertemu dengan pria Jerman di kota tercinta Jakarta. Pertemuan itu yang akhirnya membawa saya tinggal dan hidup di Jerman, negara yang tidak pernah ada dalam mimpi saya.

Saya pindah ke Jerman atas dasar cinta. Saya meninggalkan pekerjaan terbaik yang mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Itu pekerjaan yang memperbaiki finansial saya secara pribadi dan keluarga.

Saya adalah wanita single mandiri, bisa melakukan apa saja tanpa bantuan siapa-siapa, berjuang hidup di Jakarta yang keras, menghabiskan masa muda saya dengan sibuk memperbaiki perekonomian keluarga, menjadi tulang punggung keluarga, dan akhirnya luluh hanya dengan satu kata: cinta.

Tidak mudah untuk menikah dan berpindah hidup di negara asing.  Begitu banyak yang harus saya pelajari, kebiasaan orang-orang Jerman, budaya, dan terlebih lagi bahasa. Bahasa adalah yang terberat karena saya tidak hanya memelajari bahasa resmi Jerman (Hochdeutsch), tetapi saya harus mempelajari atau terbiasa mendengarkan bahasa lokal (dialek) Bayerisch (=salah satu dialek di negara bagian Bavaria, Jerman) yang terkadang membuat saya bingung.

Sedangkan tentang kebudayaan dan kebiasaan, saya sangat menyukainya karena semua itu menambah pengetahuan saya. Sejujurnya saya tidak merasakan apa itu yang namanya culture shock. Saya bahkan menikmati hal-hal baru yang saya temui di negara itu.

Proses kepindahan saya ke Jerman dimulai dari proses menuju pernikahan sipil yang direncanakan dan akan diadakan di Jerman. Saya memutuskan untuk memulai semua proses dokumen sendiri, tanpa menggunakan jasa agen, karena rasa keingintahuan saya dalam memproses dokumen-dokumen itu.

Begitu pun dengan calon suami. Dia juga sibuk menyiapkan dokumen-dokumen yang diminta oleh pihak pemerintahan Jerman.

Semuanya tidak semudah bayangan kami, apalagi di saat-saat pandemi ketika semua proses menjadi terbatas dan sangat lambat. Bahkan, hari pernikahan pun harus mundur karena visa yang belum bisa dikeluarkan oleh Kedutaan Jerman di Jakarta.

Follow us: @ruanita.indonesia

Tingkat stres yang tinggi antara mengurus dokumen-dokumen pernikahan, pekerjaan di kantor, dan kursus bahasa Jerman yang “wajib” saya ikuti di Goethe Institut Jakarta, menyebabkan naik-turunnya hubungan saya dan calon suami saat itu.

Ada masa-masa saya hampir menyerah dan tidak ingin melanjutkan proses pernikahan itu. Ada juga perasaan berat meninggalkan keluarga, terutama ibu, karena hanya beliaulah orang tua saya satu-satunya. Meninggalkan pekerjaan juga terasa berat karena saya sedang merasakan kesuksesan dari hasil jerih payah saya bertahun-tahun bergelut di dunia kerja.

Akan tetapi, atas dasar cinta dan keyakinan bahwa pria ini akan membahagiakan saya dan akan menjadi tempat sandaran seumur hidup, saya memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan saya yang nyaman di Indonesia untuk mengikuti suami ke negaranya.

Agustus 2020, hari “kemenangan” buat saya, ketika akhirnya saya bisa bersatu dengan pria yang saya cintai dan bersumpah bahwa saya akan selalu setia dan bersama dia dalam suka maupun duka, sampai Tuhan memanggil salah satu di antara kami. Di hari itu, walaupun ada rasa bahagia, ada rasa sedih juga ketika ibu tidak bisa menghadiri pernikahan yang saat itu saya kira adalah pernikahan pertama dan terakhir saya.

Beberapa bulan setelah pernikahan, semua masih terasa indah. Sampai setahun setelah pernikahan, sesuatu itu terjadi.

Selama ini saya tidak merasa ada masalah di dalam kehidupan rumah tangga kami, tetapi ternyata apa yang suami saya rasakan, berbeda. Suatu pagi, dia meminta kami untuk bercerai dengan alasan dia tidak bahagia.

Ada beberapa hal yang dia katakan sebagai alasan perceraian yang menurut saya lucu dan tidak masuk akal. Sesuatu yang dia tahu bahwa saya tidak akan bisa mewujudkannya dan dia mengetahui hal ini sebelum kami menikah.

Saat itu dia berjanji bahwa dia akan menerima keadaan tersebut dan tidak akan pernah meninggalkan saya. Ini salah satu alasan kenapa saya tetap mau menikah dengan dia. Akan tetapi, pada kenyataannya, janji hanyalah janji.

Manusia bisa berubah kapan pun dan melupakan janji-janjinya hingga pada akhirnya, saya ada di situasi ini. Saya sedang menjalani proses Trennungszeit, (=waktu perpisahan antara suami dengan istri sebelum resmi bercerai) sebagai salah satu persyaratan perceraian di Jerman.

Ketika dia mengucapkan kata cerai, selama dua minggu saya berpikir, apa yang harus dilakukan, bagaimana nasib saya sekarang, saya sendirian di negara ini.  Akan tetapi, saya bukan wanita bodoh dan pasrah dengan keadaan.

Saya mulai mencari-cari informasi dimulai dari browsing di internet, menghubungi beberapa teman saya yang juga menikah dengan warga Jerman. Bahkan, salah satu teman menyarankan untuk me-posting masalah saya di salah satu grup di media sosial. Bantuan informasi mulai banyak berdatangan, dukungan secara spiritual, dan teman-teman baru yang bersimpati serta ingin membantu.

Saya bersyukur bergabung dengan beberapa komunitas Warga Negara Indonesia yang tinggal di Jerman sehingga saya tidak benar-benar merasa sendirian. Informasi dan teman-teman baru yang saya dapatkan, bukan hanya dari teman-teman Indonesia, melainkan juga dari beberapa teman warga Jerman yang punya pengalaman dalam perceraian.

Saya mulai bangkit dan merencanakan untuk membangun kembali kehidupan yang baru. Saya tidak mau pasrah dan terpuruk dengan keadaan. Saya harus bertahan hidup di Jerman!

Saya mulai menghubungi satu organisasi yang bisa memberikan bantuan hukum secara gratis dan mereka bersedia membantu saya. Mengapa saya harus menghubungi pengacara? Saya merasa suami saya menyembunyikan sesuatu, tidak memberikan hak-hak yang seharusnya bisa saya dapatkan di masa-masa “perpisahan”.

Saya merasa juga tidak adanya keterbukaan atau informasi mengenai perceraian kami, maka saya memutuskan untuk mencari bantuan hukum. Saya merasa suami saya membodohi saya dengan tidak memberikan penjelasan tentang situasi yang saat ini terjadi.

Saya memang pendatang dan tidak tahu menahu tentang hukum-hukum perceraian di Jerman, tetapi saya tidak menyerah. Setiap hari saya berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk membela diri saya dan mendapatkan keadilan.

Saya juga mencari tahu bagaimana saya bisa tinggal lebih lama di Jerman apabila kami resmi bercerai. Saya bisa saja kembali ke Indonesia kapan pun, tetapi saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya mampu bertahan hidup di negara ini.

Bagaimana cara saya bisa bertahan hidup di Jerman? Saya mulai mencari pekerjaan dan memulai belajar bahasa Jerman tingkat lanjutan. Dua hal inilah yang saat ini menjadi poin terpenting untuk saya agar bisa bertahan hidup di Jerman.

Banyak hal positif yang saya dapatkan karena perceraian. Saya mendapatkan teman-teman baru di beberapa kota dan wilayah Jerman, mengetahui cara berpergian dengan transportasi umum di Jerman seperti bus dan kereta, memulai traveling kembali ke beberapa kota dan beberapa negara di wilayah Schengen, mengetahui proses untuk mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal.

Saya mulai melihat hal-hal positif dari masalah saya dan tidak mau melihat atau berpikir negatif. Saya hanya berfokus pada hal-hal yang akan membantu saya untuk hidup di Jerman. Saya mendapatkan beberapa komentar dari orang-orang yang mengetahui masalah saya. “Kamu tidak kelihatan sedih, kamu terlihat bahagia” kata mereka.

Inilah jawaban saya. “Masa kesedihan saya sudah lewat. Saatnya saya fokus untuk memulai hidup baru saya. Saya tidak akan bisa mulai membangun hidup baru jika saya selalu bersedih dan terpuruk dalam permasalahan.”

Saya yakin dan percaya, semua hal-hal yang saya lakukan saat ini akan membuahkan hasil yang baik untuk masa depan saya di Jerman.

Pesan saya, jika kalian adalah perempuan Indonesia yang memiliki masalah sama dengan saya atau bahkan lebih buruk dari saya, jangan takut! Kalian tidak sendirian, tetaplah kuat dan segera mencari bantuan informasi dari berbagai organisasi sosial di Jerman seperti Frauenhaus (=semacam rumah aman untuk perempuan yang bermasalah), atau hubungi teman-teman Indonesia yang kalian kenal.

Ketika kalian pindah dan hidup di Jerman, bergabunglah dengan grup-grup Warga Negara Indonesia yang hidup di Jerman. Dari sanalah kita bisa mendapatkan informasi atau dukungan dari mereka. Ingat, kita tidak sendirian!

Penulis: Rasya, bukan nama sebenarnya. Artikel ini telah diterbitkan dalam Buku Cinta Tanpa Batas, produksi RUANITA – Rumah Aman Kita yang diterbitkan oleh Padmedia Publisher.