(IG LIVE) Mendengar, Memahami, dan Mencegah: Menemukan Jalan Keluar dari Kegelapan

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pada 10 September menjadi momentum bagi Ruanita Indonesia untuk membuka ruang percakapan mengenai kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri. Melalui program diskusi Instagram Live, Ruanita Indonesia mengangkat tema mendengar, memahami, dan mencegah, dengan menghadirkan pengalaman personal sekaligus perspektif profesional mengenai mereka yang pernah berada dalam masa-masa paling gelap dalam hidupnya.

Diskusi tersebut menghadirkan Miystica Rosa, seorang praktisi kesehatan mental yang berada di Irlandia, serta Vita, seorang penyintas yang saat ini tinggal di Islandia. Dipandu oleh Zukhrufi Syasdwaita atau disapa Rufi dari Ruanita Indonesia, perbincangan berlangsung sekitar 30 hingga 40 menit dan membuka kesempatan bagi penonton untuk turut berpartisipasi melalui kolom komentar

Percakapan dimulai dari sebuah pengingat sederhana bahwa setiap manusia memiliki alasan dan tujuan keberadaannya. Kehidupan seseorang dipandang tetap memiliki arti, apa pun latar belakang dan situasi yang sedang dihadapinya. Bahkan ketika seseorang sedang berada dalam kondisi yang sangat sulit, keberadaannya tetap penting. Dalam konteks pencegahan bunuh diri, pemaknaan terhadap kehidupan menjadi salah satu pesan penting yang muncul dalam diskusi. Masa-masa gelap tidak dipandang sebagai keadaan yang akan berlangsung selamanya. Kesulitan memang dapat membuat seseorang merasa seolah-olah tidak ada jalan keluar, tetapi kegelapan tersebut tidak harus menjadi akhir dari perjalanan hidup seseorang.

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia kemudian tidak hanya dimaknai sebagai momentum untuk mengingat mereka yang meninggal akibat bunuh diri. Lebih jauh, momen ini menjadi ajakan untuk kembali menghargai kehidupan dan menyadari bahwa setiap orang masih memiliki kesempatan untuk menjalani, memperbaiki, dan melanjutkan hidupnya.

Salah satu bagian penting dalam diskusi adalah pembahasan mengenai berbagai anggapan keliru yang berkembang di masyarakat tentang bunuh diri. Salah satunya adalah keyakinan bahwa bunuh diri merupakan topik yang tidak seharusnya dibicarakan secara terbuka. Pandangan semacam itu justru dapat membuat seseorang yang sedang mengalami krisis semakin terisolasi. Percakapan mengenai bunuh diri perlu dibuka dengan hati-hati agar orang yang sedang berada dalam kegelapan dapat menyadari kondisi yang sedang dialaminya dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pertolongan.

Diskusi juga menyinggung anggapan bahwa hanya profesional tertentu yang dapat membantu seseorang yang memiliki pikiran untuk bunuh diri. Perspektif yang muncul justru menekankan pentingnya peran lingkungan sekitar. Mendengarkan, hadir, membangun koneksi, dan membantu seseorang menemukan akses menuju pertolongan merupakan bagian penting dari upaya pencegahan. Karena itu, membicarakan kondisi seseorang bukan berarti memperburuk keadaan. Sebaliknya, percakapan dapat menjadi langkah awal untuk membuat seseorang menyadari bahwa ia tidak sendirian dan bahwa ada jalan untuk keluar dari situasi yang sedang dihadapinya.

Pengalaman Vita memberikan dimensi personal pada pembahasan tersebut. Ia menggambarkan masa tergelap dalam hidupnya sebagai periode yang dipenuhi stres, depresi, dan kecemasan. Dalam kondisi itu, aktivitas sehari-hari terasa sangat berat. Keinginan untuk melakukan apa pun menghilang dan tidur menjadi pilihan untuk menghindari kenyataan. Perasaan tersebut juga membuatnya menarik diri dari lingkungan. Ia memilih berada di rumah dan menghindari pertemuan dengan orang lain, termasuk anak-anaknya. Isolasi menjadi bagian dari pengalaman ketika seseorang merasa tidak memiliki energi maupun kemampuan untuk menghadapi kehidupan sebagaimana biasanya.

Di balik kondisi tersebut terdapat berbagai persoalan yang saling berkelindan. Kehilangan pasangan, persoalan finansial, tekanan hidup, hingga berbagai pengalaman traumatis dapat membuat seseorang merasa semakin kehilangan harapan. Dalam kondisi krisis, kemampuan untuk melihat masa depan pun dapat menyempit. Seseorang mungkin tidak lagi mampu membayangkan adanya jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.

Vita juga menggambarkan betapa sulitnya mengungkapkan kondisi batin ketika seseorang berada dalam situasi tersebut. Ada perasaan yang begitu berat sehingga sulit diterjemahkan menjadi kata-kata. Justru karena itulah kehadiran orang lain dan ruang yang aman untuk berbicara menjadi sangat penting.

Titik balik dalam pengalaman Vita muncul ketika ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan pertolongan. Dalam situasi yang terasa sudah runtuh, ia akhirnya menghubungi layanan bantuan krisis Pieta yang tersedia selama 24 jam di tempat ia berada. Keputusan untuk menelepon menjadi sebuah langkah penting karena ia menyadari bahwa dirinya tidak dapat terus berada dalam kondisi tersebut.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan pentingnya kejujuran dalam menjawab pertanyaan sederhana mengenai keadaan seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan tentang kabar sering kali dijawab secara otomatis dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, di balik jawaban tersebut bisa saja terdapat pergulatan yang tidak terlihat. Bagi seseorang yang sedang mengalami krisis, keberanian untuk mengatakan kondisi sebenarnya dapat menjadi awal untuk memperoleh bantuan. Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk kesadaran bahwa bantuan diperlukan.

Dalam diskusi tersebut, kesehatan mental juga ditempatkan dalam konteks kehidupan yang lebih luas. Krisis bunuh diri tidak selalu muncul akibat satu persoalan tunggal. Masalah kesehatan fisik atau penyakit kronis, kecemasan, depresi, kehilangan pekerjaan, persoalan keuangan, trauma, maupun masalah dalam keluarga dapat menjadi bagian dari beban yang dirasakan seseorang. Ketika berbagai tekanan menumpuk, seseorang dapat kehilangan harapan dan merasa tidak berdaya. Situasi menjadi semakin berisiko ketika seseorang yang sedang berada dalam kondisi tersebut merasa sendirian dan tidak melihat adanya alternatif untuk keluar dari masalah.

Karena itu, pencegahan bunuh diri tidak cukup dilakukan dengan menunggu seseorang meminta bantuan. Lingkungan sekitar perlu membangun hubungan yang memungkinkan seseorang merasa aman untuk berbicara mengenai apa yang sedang dialaminya. Salah satu pesan terkuat dari diskusi Ruanita Indonesia adalah pentingnya keberanian untuk mendengarkan. Ketika seseorang menunjukkan tanda-tanda sedang berada dalam kondisi sangat gelap, orang-orang di sekitarnya tidak perlu langsung memiliki semua jawaban atau solusi.

Pencegahan pada akhirnya berkaitan dengan membangun koneksi. Ketika seseorang merasa terjebak dalam kegelapan, hubungan dengan teman, keluarga, komunitas, maupun layanan bantuan profesional dapat menjadi bagian dari jalan untuk keluar. Diskusi tersebut menekankan pentingnya menghubungi orang lain dan mencari layanan bantuan ketika dukungan dari lingkungan terdekat belum mencukupi. Hotline atau layanan krisis dapat menjadi salah satu pintu menuju pertolongan yang lebih tepat.

Pesan ini membuat peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pencegahan bukan hanya tentang tindakan besar atau intervensi profesional. Ia juga dapat dimulai dari keberanian untuk hadir, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memperhatikan perubahan pada orang di sekitar, dan membantu seseorang terhubung dengan pertolongan yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, percakapan Ruanita Indonesia mengingatkan bahwa seseorang yang sedang berada dalam kegelapan mungkin tidak selalu mampu menemukan jalan keluarnya seorang diri. Kehadiran orang lain dapat menjadi titik awal. Sebuah percakapan dapat membuka kesadaran. Sebuah panggilan dapat menghadirkan bantuan. Dan sebuah koneksi dapat menjadi jembatan agar seseorang kembali melihat kemungkinan untuk melanjutkan hidup.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(KNOWLEDGE SHARING) Mengenal Teknik Kesadaran dalam Kehidupan Sehari-hari Melalui ReAttach Method

Dublin, 14 Maret – Peringatan Hari Perempuan Internasional menjadi momentum penting bagi Ruanita Indonesia untuk menyelenggarakan berbagai ruang digital untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman perempuan. Salah satunya, melalui komunitas praktisi kesehatan mental Indonesia di mancanegara, Ruanita menggelar program Knowledge Sharing yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting.

Kegiatan yang berlangsung hangat dan interaktif ini diikuti oleh para peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari praktisi kesehatan mental, pekerja sosial, hingga individu yang memiliki minat pada isu kesehatan mental dan pengembangan diri. Dalam paparannya, Mystica Rosa menyoroti pentingnya memahami kesehatan mental secara holistik, tidak hanya sebagai persoalan psikologis individu, tetapi juga sebagai pengalaman yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial, budaya, dan dinamika kehidupan modern.

Salah satu materi penting yang disampaikan dalam sesi ini adalah mengenai pendekatan multidisipliner dalam intervensi ReAttach. Dalam presentasinya dijelaskan bahwa intervensi ReAttach bertujuan untuk mengoptimalkan proses pengolahan informasi (information processing) serta mendukung perkembangan individu secara menyeluruh. Pendekatan ini menekankan bahwa proses pemulihan psikologis sering kali bersifat kompleks sehingga membutuhkan strategi terapi yang tidak hanya berfokus pada satu aspek saja.

Melalui pendekatan multidisipliner tersebut, seorang terapis diharapkan mampu menjalankan beberapa fungsi sekaligus dalam proses terapi. Hal ini meliputi kemampuan untuk mengatur tingkat arousal atau aktivasi emosi klien, mengaktifkan berbagai proses sensorik, melatih keterampilan kognitif sosial, serta membantu penyesuaian pola pikir kognitif yang lebih adaptif. Pendekatan ini bertujuan membantu individu memproses pengalaman secara lebih terstruktur sehingga mendukung keseimbangan emosi, perilaku, dan cara berpikir.

Materi ini juga memberikan gambaran bagaimana pendekatan terapi modern semakin mengintegrasikan aspek neurologis, psikologis, dan sosial dalam proses intervensi. Mystica Rosa menekankan bahwa pendekatan seperti ReAttach menunjukkan pentingnya fleksibilitas dan kreativitas terapis dalam membantu klien mengembangkan kapasitas diri, terutama dalam menghadapi tekanan hidup yang semakin kompleks di era global saat ini.

Selain pemaparan materi, sesi ini juga memberikan ruang diskusi yang aktif. Para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertukar pengalaman, mengajukan pertanyaan, serta merefleksikan tantangan yang sering dihadapi dalam praktik kesehatan mental, khususnya bagi komunitas Indonesia yang tinggal di luar negeri. Diskusi ini memperlihatkan bahwa kebutuhan akan ruang dialog yang aman dan suportif semakin relevan di tengah kompleksitas kehidupan global saat ini.

Atmosfer pertemuan berlangsung hangat dan reflektif. Banyak peserta mengungkapkan bahwa kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan profesional, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan antarpraktisi dan orang Indonesia yang memiliki perhatian pada isu kesehatan mental.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(IG LIVE SPESIAL) Melepas Diri dari Benang Kusut: Refleksi Trauma di World Trauma Day bersama Ruanita & Kesmenesia

Pada peringatan World Trauma Day tanggal 17 Oktober lalu, Ruanita Indonesia berkolaborasi dengan Kesmenesia menggelar sesi IG Live bertema “Melepas Diri dari Benang Kusut: Edisi Trauma Sedunia” pada Rabu (29/10) lalu.

Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, Relawan Ruanita Indonesia, sesi ini menghadirkan dua narasumber luar biasa: Bernadia Dwiyani, seorang konselor sekaligus trauma-informed yoga practitioner, dan Mystica Rosa, Psikoterapis sekaligus fasilitator Re-Teach Method yang kini menetap di Irlandia.

Diskusi dibuka dengan pembahasan mendasar: apa sebenarnya trauma itu? Menurut Rosa, trauma bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan energi yang terperangkap dalam sistem saraf tubuh akibat pengalaman yang belum terselesaikan.

“Namanya trauma itu bukan peristiwanya, tetapi energi yang tertangkap di dalam sistem saraf kita,” jelasnya, merujuk pada teori Peter Levine yang banyak meneliti respons hewan liar terhadap ancaman.

Rosa menjelaskan bahwa tubuh memiliki dua sistem saraf utama: sympathetic (yang berfungsi untuk melawan atau lari) dan parasympathetic (yang membuat tubuh membeku saat merasa terancam). Ketika energi akibat peristiwa traumatis tidak tersalurkan, tubuh “membekukannya” di dalam sistem saraf. Inilah yang kemudian membuat seseorang terus merasa waspada, takut, atau bahkan mati rasa dalam jangka panjang.

Lebih lanjut, beliau membedakan beberapa jenis trauma:

  • Trauma akut, akibat peristiwa tunggal seperti kecelakaan atau kehilangan mendadak.
  • Trauma kronis, yang muncul dari tekanan berulang dalam kehidupan sehari-hari.
  • Trauma perkembangan, akibat kurangnya rasa aman di masa kanak-kanak.
  • Trauma relasional dan kolektif, seperti pengalaman pandemi atau bencana besar.

Melanjutkan bahasan tersebut, Bernadia menyoroti keterhubungan antara trauma, tubuh, dan pikiran. Menurutnya, trauma sering kali muncul karena suatu pengalaman yang datang terlalu cepat, terlalu banyak, dan terlalu tiba-tiba, melebihi kapasitas tubuh untuk memprosesnya.

“Saat kita tidak bisa mengekspresikan energi itu, karena situasi sosial misalnya, maka tubuh akhirnya menyimpannya,” ujarnya.

Ia mencontohkan hasil riset yang menunjukkan bahwa stres dan trauma dapat tersimpan di jaringan otot terdalam, bahkan hingga ke fascia. Tubuh pun “mengingat” sensasi-sensasi itu. Inilah sebabnya pendekatan bottom-up kini banyak digunakan dalam pemulihan trauma, yakni dengan mengembalikan kesadaran dan rasa aman melalui tubuh terlebih dahulu, baru kemudian ke ranah pikiran.

“Tubuh punya memori. Jadi penyembuhan trauma bukan cuma soal pikiran, tapi juga soal bagaimana kita belajar merasakan tubuh kita lagi,” jelas Nadia.

Ketika ditanya apakah trauma bisa muncul kembali, Nadia menjelaskan bahwa tubuh bisa terpicu (triggered) oleh hal-hal kecil yang mengingatkan pada pengalaman lama.

“Misalnya seseorang pernah mengalami kekerasan di jalan yang gelap. Meskipun sekarang jalannya aman, tubuh bisa tetap merespons seolah bahaya itu masih ada,” katanya.

Ia menganalogikan trauma seperti mobil yang terus digas tanpa henti. “Kalau terus dipaksa jalan tanpa sempat istirahat, lama-lama mesinnya rusak. Begitu juga tubuh kita,” ujarnya, menggambarkan bagaimana energi yang terus aktif bisa mengarah pada kelelahan kronis, gangguan imun, hingga masalah fisik yang tak terjelaskan secara medis,

Menutup sesi, Rosa kembali menekankan pentingnya kesadaran tubuh dan proses penyelesaian siklus energi yang terperangkap. Ia menjelaskan bahwa sistem saraf kita bekerja tanpa henti menerima rangsangan dari dunia luar. Ketika sistem ini belum “menyelesaikan” siklus trauma, tubuh tetap membaca sinyal bahaya meski situasi sudah aman.

“Yang membuat kita teringat kembali itu adalah trauma memory. Jadi bukan peristiwa yang berulang, tapi sinyal tubuh yang belum selesai,” ujarnya.

Melalui pendekatan seperti Re-Teach Method, seseorang dapat belajar kembali mengenali emosi, mengolah persepsi, dan membangun rasa aman yang baru. Prosesnya pelan, lembut, dan berfokus pada kesadaran tubuh.

Program IG Live ini menjadi ruang reflektif untuk memahami bahwa trauma bukan hanya urusan masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana tubuh kita menyimpan, mengingat, dan berusaha bertahan. Rufi menutup sesi dengan ajakan untuk terus belajar mengenali diri:

“Trauma bukan akhir cerita. Ia bisa jadi awal dari perjalanan mengenal diri dan tubuh kita dengan lebih utuh.”

Kolaborasi antara Ruanita Indonesia dan Kesmenesia ini menjadi pengingat bahwa merawat kesehatan mental berarti juga merawat tubuh, sebab keduanya tidak bisa dipisahkan.

Pastikan SUBSCRIBE agar kami berbagi lebih banyak lagi. Simak di kanal YouTube kami berikut: