(SIARAN BERITA) Berkontemplasi Merdeka dari Kekerasan, Ruanita dan Komnas Perempuan Selenggarakan Workshop Seni Kolase

Para perempuan dari berbagai belahan dunia berkumpul dan berbincang. Mereka menggunting gambar dan menyusunnya menjadi sebuah ilustrasi visual utuh, yang menyiratkan gagasan dan pesan tentang perempuan yang merdeka dari kekerasan.

Aktivitas tersebut dilakukan dalam Workshop Seni Kolase yang diselenggarakan pada 4 dan 11 November 2023 oleh Ruanita dan Komnas Perempuan. Workshop yang mengusung tema “Merdeka dari Kekerasan” ini menghadirkan Komisioner Komnas Perempuan, Tiasri Wiandani sebagai narasumber dan Seniman Kertas Putri Ayusha sebagai pelatih Seni Kolase.

Workshop ini sengaja diselenggarakan secara daring agar dapat diikuti oleh masyarakat lintas wilayah, baik mereka yang berada di dalam maupun luar negeri. Melalui pendaftaran online, sebanyak 14 orang terpilih mengikuti kegiatan ini.

Kolase berasal dari bahasa Perancis “coller” yang artinya merekatkan. Seni kolase menjadi sarana bagi para pegiat seni yang ingin menyuarakan ide atau gagasan selain secara verbal maupun tulisan sehingga dapat mengekspresikannya melalui gambar.

Konsep kolase pertama kali dipopulerkan oleh sejumlah seniman dunia, di antaranya Pablo Picasso dari Spanyol, Georges Braque dan Henri Matisse dari Perancis, dan Hannah Höch dari Jerman. Untuk bisa membuat kolase, peserta perlu mempersiapkan bahan seperti gambar yang mendukung pesan atau gambar yang ingin dihasilkan, serta alat seperti gunting, lem kertas dan lain-lain.

Follow us

Putri Ayusha menjelaskan kolase adalah karya yang subjektif. Karya tidak dinilai benar berdasarkan anggapan benar atau salah dalam menyampaikan suatu pesan. Isu yang diangkat juga tidak dibatasi. Ilustrasi kolase bisa merupakan hasil perenungan dan pengalaman pribadi, ataupun inspirasi dari fenomena di sekitar kita, baik di dalam maupun luar negeri. Selama karya yang dihasilkan memiliki representasi dari isu yang diangkat, maka itu cukup merefleksikan tujuan dari suatu karya kolase.

“Inspirasi dalam membuat kolase sangat penting. Peserta harus berani berekspresi dan keluar dari zona nyaman dalam berpikir,” ujar Putri Ayusha, sambil memperagakan memotong gambar.

Misalnya saja, kolase dengan tema merdeka dari kekerasan yang ia buat. Sebagai contoh, Putri Ayusha menempelkan potongan gambar tangan mengepal dan laki-laki yang sedang menimbun tanah. Di bawahnya, gambar akar pohon yang telah tumbang ditempelkan bersamaan dengan gambar sepasang kaki perempuan. Selain menggunakan kertas, peserta juga bisa menambahkan elemen lain seperti tali, koran, atau tumbuhan kering.

Yenik Wahyuningtyas, salah satu peserta workshop berbagi pengalamannya saat pembuatan kolase. Ia menggambarkan hak perempuan yang terampas dalam reproduksi, yaitu isu pemaksaan kehamilan. Menurutnya kolase yang ia sedang buat merepresentasikan fakta pemaksaan kehamilan yang masih terjadi, serta suara perempuan maupun anak yang sebagai korban.

Selain Yenik, peserta lainnya turut mempresentasikan karya mereka yang memuat berbagai pesan seperti perempuan terbebas dari adanya belenggu patriarki, kekerasan verbal, hubungan toksikdalam suatu pernikahan, hak reproduksi perempuan Palestina maupun kekuatan dari adanya dukungan para perempuan.

Kolase Untuk Mendukung Korban Kekerasan

Selain menjadi ruang kontemplasi para peserta tentang merdeka dari kekerasan terhadap perempuan, karya terpilih dari workshop ini akan ditayangkan di media sosial. Karya kolase merupakan medium kampanye yang kreatif untuk menyuarakan ajakan kepada masyarakat untuk menciptakan kemerdekaan dari kekerasan, terutama perempuan yang berpotensi menjadi korban. Pesan kolase juga diperuntukan untuk mendukung korban kekerasan.

“Workshop ini juga sebagai upaya Komnas Perempuan untuk mendorong partisipasi masyarakat agar terus menyuarakan bahwa kekerasan bukanlah persoalan personal, atau aib seseorang, namun merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Khususnya disuarakan pada momentum 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan #16HAKTP pada 25 November s.d. 10 Desember 2023.

Masyarakat dapat terus mengawal implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) yang telah disahkan untuk menghapus berbagai akar penyebab lahirnya kasus kekerasan terhadap perempuan seperti subordinasi maupun patriarki,” ujar Tiasri Wiandani.

(CERITA SAHABAT) Apa Itu Cancel Culture?

Pernah mendengar istilah cancel culture? Menurut Fadologi, blog yang membahas frasa populer di media sosial menyebutkan istilah cancel culture merujuk pada aksi, gerakan menolak seorang publik figur atau perusahaan akibat perilaku atau pernyataan yang dianggap tidak pantas. Aksi ini umumnya terjadi di kalangan pengguna media sosial.

Alih-alih digunakan untuk memberi efek jera, cancel culture tak jarang berubah menjadi perilaku bullying pada pelakunya. Akibatnya mereka yang terkena imbasnya menjadi depresi dan memilih menarik diri dari lingkungan.

Cancel culture bisa menyebabkan seseorang kehilangan rasa empati. Fenomena ini juga menimbulkan masalah sosial lain berupa kekhawatiran takut akan penolakan.

Cancel culture terdapat dalam konsep Habermas tentang ruang publik(1962). Pada bukunya The structural transformation of the public sphere: An inquiry into a category of bourgeois society menyebutkan bahwa ruang publik dikuasai oleh kaum elit.

Saat itu, produser, sutradara serta sejumlah penguasa memiliki kemampuan untuk memilih pekerja di industri media, mengatur headline berita, memboikot dan membuat daftar hitam bagi mereka yang tidak diinginkan.

Zaman berganti internet membuat keterbatasan menjadi tak terbatas. Kini siapa saja dengan mudah mengakses dan berbagi informasi peran media menjadi kontrol sosial pun menjadi bias.

Fenomena cancel culture tak hanya menjadi masalah sosial tapi juga kesehatan. Pada dasarnya kita adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan berdasarkan rasa empati dan tolong menolong. Namun sikap penolakan ini tentu akan menimbulkan emosi negatif bagi orang-orang yang terlibat.

Walau begitu beberapa kasus cancel culture berhasil memerangi kasus seksisme dan rasisme. Salah satunya peristiwa yang menimpa pedangdut Saipul Jamil, ia diboikot untuk tampil di acara televisi usai bebas dari penjara karena terjerat kasus pedofilia.

Akibat peristiwa tersebut masyarakat Indonesia kini menjadi lebih peduli terhadap kasus penyimpangan seks ini dan menjadi lebih awas dalam melindungi anak.

Penulis: Farah Fuadona, WNI yang saat ini berdomisili di Ankara, Turki. Suka menulis dan berteman untuk menambah pengalaman.

(RUMPITA) Rasanya Menjadi First Time Mom di Jerman

Melanjutkan episode ke-18 di bulan Oktober, Podcast Rumpita mengangkat tema pengalaman menjadi seorang ibu pertama kali saat dia jauh dari keluarga besar di Indonesia dan tinggal di perantauan.

Untuk membahasnya lebih mendalam, Fadni yang menjadi Host dari Podcast Rumpita mengundang rekan Host lainnya, yakni Nadia yang saat ini sedang off dari Podcast Rumpita. Nadia dikabarkan sedang menjalani peran baru sebagai seorang ibu sehingga sedang mengambil cuti dari Podcast Rumpita.

Follow us.

Nadia telah tinggal lebih dari 10 tahun di Jerman sejak dia memulai studi S1. Tak disangka, Nadia pun menikah dan membangun keluarga di Jerman. Nadia pun merasakan berbagai perasaan yang menakutkan ketika dia mengetahui dirinya hamil. Perasaan cemas, khawatir, tidak percaya diri, hingga menyangsikan kemampuan diri sendiri sebagai ibu pun muncul dalam pikiran Nadia.

Bagi Nadia, tugas menjadi ibu adalah seumur hidup dalam menjalin ikatan batin antara ibu dengan anak. Nadia bertemu dengan suami, yang juga sesama pelajar asal Indonesia di Jerman, kemudian memulai hidup baru berkeluarga di Jerman. Tak hanya soal perasaan yang dialaminya, Nadia juga menceritakan pengalamannya untuk menyiapkan diri menjadi ibu seorang diri.

Nadia sempat didiagnosa punya kadar diabetes tinggi saat hamil. Dia pun harus wanti-wanti untuk mengonsumsi apa yang dinikmatinya selama hamil. Bagi Nadia, ketidakhadiran ibu dan keluarga besar di Indonesia membuat dia merasa was-was menantikan sang buah hati.

Di Indonesia, kita terbiasa mendapatkan berbagai segudang nasihat untuk ibu hamil. Belum lagi banyak sekali bentuk perhatian dan dukungan sosial yang diberikan keluarga besar. Namun, Nadia tidak mengalaminya saat dia seorang diri tinggal di perantauan.

Bagaimana pengalaman Nadia menyiapkan diri untuk tidak takut menghadapi proses kehamilan? Apa saja yang harus dipersiapkan kalau seorang perempuan pendatang seperti Nadia, hamil dan melahirkan di Jerman? Mengapa Nadia merasa cemas dan khawatir sebelum persalinan? Bagaimana proses persalinan pada umumnya di Jerman? Siapa yang membantu persalinan Nadia di Jerman?

Selengkapnya diskusi Podcast dapat didengar berikut ini:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bagaimana Atasi Trauma dengan Play and Creative Arts Therapy?

Program cerita sahabat spesial digelar oleh Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia setiap bulan melalui video berkisar 5-10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube. Pada episode Oktober 2023 ini, Ruanita Indonesia mengundang Mala Holland yang telah bekerja di Inggris sebagai Psikoterapis. Sebagai tenaga profesional untuk Trauma Care Practitioner, Mala melakukan pendekatannya melalui play and creative arts dalam melayani kliennya dari berbagai kelompok usia.

Menurut Mala, trauma terjadi sebagai respon tubuh terhadap peristiwa yang pernah dialami. Mala menyadari bahwa tidak mudah bagi tiap orang untuk menceritakan persoalan trauma yang dialaminya. Bahkan Mala pernah mendapatkan klien usia anak-anak yang sama sekali belum dapat mengkomunikasikan apa yang dialaminya akibat peristiwa yang menyebabkan dia trauma.

Melalui pendekatan Play and Creative Art Therapy, Mala membantu para kliennya untuk mengkomunikasikan apa yang mereka alami dan rasakan. Menurut Mala, creative art atau playdough bisa membantu klien menggali hal yang tidak disadarinya yang ada di bagian ketidaksadaran manusia.

Trauma menurut Mala terjadi pada memori yang fragmented dan mungkin saja “tidak utuh” sehingga perlu dibantu untuk mengenali apa yang membuat seseorang itu merasa trauma. Setiap orang mengalami trauma yang tidak mudah dan perlu penanganan ahli/profesional melalui berbagai pendekatan. Mala sendiri juga menyebutkan berbagai trik yang bisa membantu seseorang untuk keluar dari traumanya.

Follow us

Pergi ke terapi atau bertemu dengan tenaga ahli adalah sebagian kecil yang memang membantu seseorang untuk keluar dari trauma. Namun, sebagian besar waktu yang diperlukan keluar dari trauma bergantung pada orang tersebut dan dukungan sosial dari orang-orang sekitarnya seperti keluarga.

Mala menyarankan agar kita perlu mencari tahu mana terapi yang cocok dengan kebutuhan kita. Bahkan Mala meminta kita untuk mengecek policy yang dimiliki si terapi dalam membantu kliennya. Kita bisa saja pergi mencari bantuan ke piskoterapi lainnya, bilamana dirasakan tidak cocok.

Bagaimana pendekatan play and creative art therapy dalam membantu klien mengatasi trauma? Apa saja yang diperlukan orang yang mengalami trauma untuk mengatasinya? Apa yang sebaiknya dilakukan keluarga dan social support system dalam membantu orang sekitar yang mengalami trauma? Berapa besaran biaya dan cara mendapatkan terapi untuk mengatasi trauma?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Subscribe kanal YouTube kami.

(IG LIVE) Membicarakan Film Pendek Bertema Kesehatan Mental “Dua Kali”

Pada episode Oktober 2023, Ruanita Indonesia mengambil tema tentang kesehatan mental dalam program diskusi IG Live yang diselenggarakan setiap bulan sekali. Sebagaimana program yang digelar oleh Ruanita Indonesia setiap peringatan Hari Kesehatan Mental, Anna selaku Host of IG Live menyebutkan rentetan acara yang pernah digelar.

Tahun 2021 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PPI Kiel dan KJRI Hamburg menggelar diskusi online bertema kekerasan dan pelecehan seksual. Hadir dalam kesempatan tersebut adalah Psikolog dari Yayasan Pulih dan Wakil Ketua LPSK RI. Di tahun 2022 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Swedish Indonesian Society (SIS) dan KBRI Stockholm menggelar diskusi online, berjudul: “Kesehatan Mental – Wajib Tahu, Bukan Tabu.”

Pada tahun 2023 ini, relawan Ruanita Indonesia berinisiatif membuat program yang berbeda melalui film pendek yang berjudul “Dua Kali”. Film pendek ini dikerjakan secara daring oleh relawan yang semuanya perempuan Indonesia di tiga kota berbeda, Jakarta, Passau, dan Hamburg. Pengambilan gambar untuk film “Dua Kali” adalah kota Hamburg. Film ini juga didukung oleh KJRI Hamburg.

Follow us

Untuk membahas detil tentang proses pembuatan film ini, IG Live menampilkan dua tim film yakni: koordinator tim film, Mariska Ajeng (akun IG: mrskadj) dan Sutradara film, Ullil Azmi (akun IG: ullilazmi). Tentunya, ada alasan yang melatarbelakangi ide pembuatan film. Film ini juga mendapatkan dukungan 2 warga negara Jerman sebagai peran pembantu.

Berawal dari status kesehatan mental yang dialami oleh Ajeng ketika dunia dilanda pandemi Covid-19, Ajeng betul-betul merasakan berbagai problematik cara pandang dari pihak keluarga, orang-orang sekitar, hingga mungkin cara pandang budaya yang masih memandang negatif terhadap kesehatan mental. Psikolog di Jerman, negara tinggal Ajeng sekarang, mendiagnosa Ajeng dengan depresi dan fobia sosial pada 2021.

Selama bergulat dengan status kesehatan mental, Ajeng mendapatkan dukungan sepenuhnya secara sosial dari Ullil yang adalah perawat psikiatri di salah satu klinik di Jerman. Setelah mendapatkan penanganan khusus di rumah sakit, Ajeng kembali lagi didiagnosa memiliki OCD (=Obsesissve Compulsive Disorder). Tentunya, hal ini tidak mudah bagi Ajeng yang menjalaninya di saat situasi dunia dilanda pandemi Covid-19.

Berawal dari kisah nyata, film “Dua Kali” ini diproduksi oleh perempuan Indonesia yang menjadi relawan di Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia. Mereka memproduksi film ini di sela-sela waktu lowong mereka. Tim Film “Dua Kali” terdiri atas: Mariska Ajeng; Ullil Azmi; Roshandeani Rosmananda; Nurul Vaoziyah; dan Stephanie Iriana Pasaribu.

Apa saja tantangan yang dihadapi oleh tim film dalam memproduksinya? Apakah maksud pembuatan film pendek bertema kesehatan mental ini? Apakah betul ada perspektif mixed-culture dalam memproduksi film bertema kesehatan mental ini? Apa pesan yang ingin disampaikan oleh tim Film? Mengapa judul film ini adalah “Dua Kali”?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut ini:

Untuk mendukung kami, subscribe kanal YouTube kami.

(GALERI FOTO) Live Talkshow di TVRI World Berbicara Eksistensi Ruanita Indonesia

Dalam rangka menjangkau lebih banyak orang-orang Indonesia di mancanegara, Ruanita Indonesia hadir membagikan keberadaannya lewat program Live Talkshow yang menjadi salah satu program TVRI World dalam siaran berbahasa Inggris. Ruanita Indonesia diwakilkan oleh Hernita Oktarini dan Anna Knöbl menceritakan tentang bagaimana awal mula terbentuknya Ruanita Indonesia sebagai social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan di mancanegara.

Siaran TVRI World ini sudah tayang di sejumlah negara di dunia, termasuk Eropa melalui misi kebudayaan yang memperkenalkan Indonesia lebih mendunia dalam siaran berbahasa Inggris.

(IG LIVE) Gelar Kampanye Sepekan bersama ALZI Ned dan ALZI Jerman, Ruanita Bangun Solidaritas Untuk Berbagi Dukungan Sosial

Diskusi IG Live Episode September 2023 mengambil tema Hari Alzheimer Sedunia sebagai bagian dari kampanye sepekan yang digelar Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia bersama Yayasan Alzheimer Indonesia di Belanda (ALZI Ned) dan Komunitas Alzheimer Indonesia di Jerman (ALZI Jerman). Diskusi IG Live yang berlangsung selama 35 menit ini menggunakan platform akun Instagram lewat akun ruanita.indonesia yang dipandu oleh Anna.

Kedua narasumber yang hadir dalam diskusi IG Live ini merupakan perwakilan dari ALZI Ned dan ALZI Jerman yakni: dr. I Putu Widhi Yuda Yadnya atau lebih dikenal dengan dokter Yuda yang mengambil spesialisasi penyakit dalam, tinggal di Jerman dan begitu aktif dalam komunitas SELINDO (Senior Lansia Indonesia) di Jerman serta komunitas ALZI Jerman.

Narasumber kedua adalah seorang tenaga profesional juga atau perawat untuk lansia yang tinggal dan bekerja di Belanda. Dia adalah Deasy Velner yang telah menetap lebih dari 20 tahun di Belanda. Deasy adalah perwakilan dari ALZI Ned yang juga merupakan Caregiver dari ibu kandungnya yang tinggal di Indonesia. Ibu dari Deasy adalah orang dengan demensia atau ODD dan kini mendapatkan perawatan khusus dengan biaya sekitar 16 – 19 juta rupiah setiap bulan di Indonesia.

Follow us

Dokter Yuda menjelaskan tentang Alzheimer dan Demensia yang tidak terpisahkan, bahkan sebetulnya tidak bisa dibedakan sebagaimana anggapan orang awam umumnya. Dokter Yuda kemudian menjelaskan 10 tanda mengenali gejala-gejala Alzheimer yang semuanya ini dapat diperoleh dengan mudah.

Apabila kita mengunjungi laman resmi Yayasan Alzheimer Indonesia atau Yayasan Alzheimer Indonesia di Belanda. Bagaimana pun kepedulian kita sebagai anggota keluarga sangat membantu secara signifikan untuk terapi sosial yang diperlukan ODD.

Meski kita tinggal jauh dari tanah air, bukan tidak mungkin kita tetap peduli pada masalah keluarga seperti yang dialami oleh Deasy sendiri. Dalam kesehariannya sebagai perawat mengurus orang-orang lanjut usia di Belanda yang semuanya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah Belanda, justru mendorong Deasy agar ibunya yang tinggal di Indonesia bisa mendapatkan perawatan yang berkualitas juga.

Sayangnya itu tidak mudah. Deasy mengamati bahwa Indonesia belum siap memberikan layanan berkualitas untuk ODD sehingga Deasy memutuskan untuk membayar ekstra kebutuhan perawatan sang ibu di Indonesia.

Jumlah yang fantastis tiap bulan harus dikucurkannya demi kebaikan sang ibu. Tentunya ini bergantung dengan kondisi dan tingkatan Alzheimer yang dialami ODD sendiri. Bukan tidak mungkin ada biaya tambahan lain seperti biaya obat-obatan dan biaya perawat khusus yang menjaganya 24 jam.

Dokter Yuda menjelaskan bagaimana penanganan ODD di Jerman dengan sistem kesehatan yang berlaku. Tidak jarang tenaga kesehatan perawat lansia untuk ODD menjadi biaya khusus yang harus dibayarkan keluarga demi penanganan intensif.

Di Jerman dan Belanda yang sudah memiliki layanan kesehatan untuk kelompok lanjut usia dan kelompok ODD diharapkan bisa menjadi harapan untuk orang Indonesia yang berada di perantauan seperti kita. Seperti pesan Deasy bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang bisa menghormati para orang tuanya dengan menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas.

Bukan tidak mungkin orang-orang Indonesia yang sekarang tinggal di luar negeri suatu saat akan kembali ke tanah air dan berharap ada perbaikan layanan kesehatan untuk kelompok lansia dan ODD sehingga menjadi jaminan kesehatan buat seluruh kelompok usia.

Selengkapnya tentang diskusi IG Live dapat disimak dalam rekaman berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Promosi Indonesia di Luar Indonesia dan Tantangannya

Dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78, RUANITA mengundang Eka Moncarre yang tinggal hampir 30 tahun di Prancis dan telah lama bergiat di bisnis promosi pariwisata Indonesia di luar Indonesia.

Setelah menyelesaikan studi di Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP) di Indonesia, Eka kemudian melanjutkan kuliahnya di Prancis untuk menekuni bidang pariwisata, terutama memperkenalkan Indonesia di Eropa. Eka bahkan pernah ditunjuk sebagai VITO (=Visit Indonesia Tourism Officer) sebagai agen perwakilan promosi Indonesia di mancanegara.

Pengalaman Eka dalam dunia pariwisata dan budaya sudah tidak diragukan lagi. Eka bercerita kalau dia pernah dipercaya untuk mendampingi perhelatan COP tahun 2021 di Paris.

Keinginannya semakin kuat untuk mempromosikan Indonesia di Eropa, setelah dia berhasil membuat business plan untuk merintis House of Indonesia atau yang dikenal La Maison De L’Indonesie di Paris.

Eka adalah Fouder dan CEO untuk rumah budaya di Paris yang banyak mempromosikan Indonesia lewat industri kopi, kuliner, produk-produk kerajinan orang Indonesia, ekspo budaya, hingga pariwisata.

Follow us ruanita.indonesia

Dalam video berdurasi 5 menit, Eka bercerita bagaimana awal mulanya dia ingin memperkenalkan kopi asal Indonesia yang tidak dikenal kafe-kafe di Eropa padahal Indonesia adalah produsen kopi terbesar di dunia.

Eka menyadari bahwa merintis promosi Indonesia pun tidak mudah. Salah satunya, Eka berpendapat penting untuk melihat poin of view orang-orang bukan Indonesia tentang Indonesia sendiri.

Selain itu, Eka berpendapat pentingnya promosi sebagai investasi, bukan lagi memandang promosi sebagai membayar atau tidak membayar. Eka menyadari berbisnis pariwisata dan budaya bukan hal yang mudah.

Apa saja tantangan Eka dalam merintis usahanya di Paris, Prancis? Bagaimana sebaiknya peran pemerintah Indonesia dalam mempromosikan Indonesia di luar Indonesia? Apa saja kunci keberhasilan Eka dalam mengelola usaha yang dirintisnya? Apa harapan Eka agar promosi pariwisata dan budaya Indonesia tidak “jalan di tempat”?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

LIKE dan SUBSCRIBE kanal YouTube kami ya!

(PELITA) Tantangan Single Mom yang Tinggal di Luar Indonesia

Salah satu program yang dilakukan oleh RUANITA adalah program Parentingtalks with RUANITA atau yang disingkat PELITA. Program ini biasa dibawakan oleh Stephany Iriana Pasaribu, seorang mahasiswi S3 di salah satu universitas di Belanda dan juga seorang Single Mom.

Mulai episode 9 Stephany akan membawakan format baru, yang mana PELITA tidak lagi dalam bentuk monolog. PELITA akan menjadi dialog antara Stephany dengan narasumber yang diundangnya untuk membahas tema pengasuhan dari sisi berbeda.

Pada episode 9 ini, Stephany mengundang Sekar Istianingrum yang sudah sepuluh tahun tinggal di Swiss. Selama tujuh tahun, Sekar menikah dengan pria berkewarganegaraan Swiss yang kemudian kandas setelah kelahiran anak semata wayangnya.

Follow us: @ruanita.indonesia

Sekar bercerita bagaimana dia dan mantan suami telah berupaya untuk melakukan konseling untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangganya. Sayangnya, Sekar dan mantan suaminya tidak bisa lagi mempertahankannya. Sekar dan mantan suami kemudian memutuskan menjalani konsep co-parenting.

Sebagai awalan, Stephany juga menanyakan aktivitas sehari-hari Sekar yang menghabiskan 80% waktunya dalam seminggu untuk bekerja. Sisanya sekar menghabiskan waktu bersama anak semata wayangnya. Sekar pun memiliki kiat khusus agar life balanced dapat berjalan optimal bagi kesejahteraan dirinya dan buah hatinya.

Bagaimana perjalanan Sekar hingga tiba di Swiss? Apa saja tantangan yang dihadapinya sebagai Single Mom selama tinggal di luar Indonesia? Bagaimana Sekar mengatasi problema hidup yang dijalaninya sebagai Single Mom? Apa saja bentuk dukungan dari Pemerintah Swiss untuk Sekar sebagai Single Mom? Lalu apa saja pesan Sekar untuk Single Mom yang tinggal di Indonesia dan luar Indonesia?

Simak jawabannya dalam kanal YouTube kami berikut ini.