(IG LIVE) Mendengar, Memahami, dan Mencegah: Menemukan Jalan Keluar dari Kegelapan

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pada 10 September menjadi momentum bagi Ruanita Indonesia untuk membuka ruang percakapan mengenai kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri. Melalui program diskusi Instagram Live, Ruanita Indonesia mengangkat tema mendengar, memahami, dan mencegah, dengan menghadirkan pengalaman personal sekaligus perspektif profesional mengenai mereka yang pernah berada dalam masa-masa paling gelap dalam hidupnya.

Diskusi tersebut menghadirkan Miystica Rosa, seorang praktisi kesehatan mental yang berada di Irlandia, serta Vita, seorang penyintas yang saat ini tinggal di Islandia. Dipandu oleh Zukhrufi Syasdwaita atau disapa Rufi dari Ruanita Indonesia, perbincangan berlangsung sekitar 30 hingga 40 menit dan membuka kesempatan bagi penonton untuk turut berpartisipasi melalui kolom komentar

Percakapan dimulai dari sebuah pengingat sederhana bahwa setiap manusia memiliki alasan dan tujuan keberadaannya. Kehidupan seseorang dipandang tetap memiliki arti, apa pun latar belakang dan situasi yang sedang dihadapinya. Bahkan ketika seseorang sedang berada dalam kondisi yang sangat sulit, keberadaannya tetap penting. Dalam konteks pencegahan bunuh diri, pemaknaan terhadap kehidupan menjadi salah satu pesan penting yang muncul dalam diskusi. Masa-masa gelap tidak dipandang sebagai keadaan yang akan berlangsung selamanya. Kesulitan memang dapat membuat seseorang merasa seolah-olah tidak ada jalan keluar, tetapi kegelapan tersebut tidak harus menjadi akhir dari perjalanan hidup seseorang.

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia kemudian tidak hanya dimaknai sebagai momentum untuk mengingat mereka yang meninggal akibat bunuh diri. Lebih jauh, momen ini menjadi ajakan untuk kembali menghargai kehidupan dan menyadari bahwa setiap orang masih memiliki kesempatan untuk menjalani, memperbaiki, dan melanjutkan hidupnya.

Salah satu bagian penting dalam diskusi adalah pembahasan mengenai berbagai anggapan keliru yang berkembang di masyarakat tentang bunuh diri. Salah satunya adalah keyakinan bahwa bunuh diri merupakan topik yang tidak seharusnya dibicarakan secara terbuka. Pandangan semacam itu justru dapat membuat seseorang yang sedang mengalami krisis semakin terisolasi. Percakapan mengenai bunuh diri perlu dibuka dengan hati-hati agar orang yang sedang berada dalam kegelapan dapat menyadari kondisi yang sedang dialaminya dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pertolongan.

Diskusi juga menyinggung anggapan bahwa hanya profesional tertentu yang dapat membantu seseorang yang memiliki pikiran untuk bunuh diri. Perspektif yang muncul justru menekankan pentingnya peran lingkungan sekitar. Mendengarkan, hadir, membangun koneksi, dan membantu seseorang menemukan akses menuju pertolongan merupakan bagian penting dari upaya pencegahan. Karena itu, membicarakan kondisi seseorang bukan berarti memperburuk keadaan. Sebaliknya, percakapan dapat menjadi langkah awal untuk membuat seseorang menyadari bahwa ia tidak sendirian dan bahwa ada jalan untuk keluar dari situasi yang sedang dihadapinya.

Pengalaman Vita memberikan dimensi personal pada pembahasan tersebut. Ia menggambarkan masa tergelap dalam hidupnya sebagai periode yang dipenuhi stres, depresi, dan kecemasan. Dalam kondisi itu, aktivitas sehari-hari terasa sangat berat. Keinginan untuk melakukan apa pun menghilang dan tidur menjadi pilihan untuk menghindari kenyataan. Perasaan tersebut juga membuatnya menarik diri dari lingkungan. Ia memilih berada di rumah dan menghindari pertemuan dengan orang lain, termasuk anak-anaknya. Isolasi menjadi bagian dari pengalaman ketika seseorang merasa tidak memiliki energi maupun kemampuan untuk menghadapi kehidupan sebagaimana biasanya.

Di balik kondisi tersebut terdapat berbagai persoalan yang saling berkelindan. Kehilangan pasangan, persoalan finansial, tekanan hidup, hingga berbagai pengalaman traumatis dapat membuat seseorang merasa semakin kehilangan harapan. Dalam kondisi krisis, kemampuan untuk melihat masa depan pun dapat menyempit. Seseorang mungkin tidak lagi mampu membayangkan adanya jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.

Vita juga menggambarkan betapa sulitnya mengungkapkan kondisi batin ketika seseorang berada dalam situasi tersebut. Ada perasaan yang begitu berat sehingga sulit diterjemahkan menjadi kata-kata. Justru karena itulah kehadiran orang lain dan ruang yang aman untuk berbicara menjadi sangat penting.

Titik balik dalam pengalaman Vita muncul ketika ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan pertolongan. Dalam situasi yang terasa sudah runtuh, ia akhirnya menghubungi layanan bantuan krisis Pieta yang tersedia selama 24 jam di tempat ia berada. Keputusan untuk menelepon menjadi sebuah langkah penting karena ia menyadari bahwa dirinya tidak dapat terus berada dalam kondisi tersebut.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan pentingnya kejujuran dalam menjawab pertanyaan sederhana mengenai keadaan seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan tentang kabar sering kali dijawab secara otomatis dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, di balik jawaban tersebut bisa saja terdapat pergulatan yang tidak terlihat. Bagi seseorang yang sedang mengalami krisis, keberanian untuk mengatakan kondisi sebenarnya dapat menjadi awal untuk memperoleh bantuan. Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk kesadaran bahwa bantuan diperlukan.

Dalam diskusi tersebut, kesehatan mental juga ditempatkan dalam konteks kehidupan yang lebih luas. Krisis bunuh diri tidak selalu muncul akibat satu persoalan tunggal. Masalah kesehatan fisik atau penyakit kronis, kecemasan, depresi, kehilangan pekerjaan, persoalan keuangan, trauma, maupun masalah dalam keluarga dapat menjadi bagian dari beban yang dirasakan seseorang. Ketika berbagai tekanan menumpuk, seseorang dapat kehilangan harapan dan merasa tidak berdaya. Situasi menjadi semakin berisiko ketika seseorang yang sedang berada dalam kondisi tersebut merasa sendirian dan tidak melihat adanya alternatif untuk keluar dari masalah.

Karena itu, pencegahan bunuh diri tidak cukup dilakukan dengan menunggu seseorang meminta bantuan. Lingkungan sekitar perlu membangun hubungan yang memungkinkan seseorang merasa aman untuk berbicara mengenai apa yang sedang dialaminya. Salah satu pesan terkuat dari diskusi Ruanita Indonesia adalah pentingnya keberanian untuk mendengarkan. Ketika seseorang menunjukkan tanda-tanda sedang berada dalam kondisi sangat gelap, orang-orang di sekitarnya tidak perlu langsung memiliki semua jawaban atau solusi.

Pencegahan pada akhirnya berkaitan dengan membangun koneksi. Ketika seseorang merasa terjebak dalam kegelapan, hubungan dengan teman, keluarga, komunitas, maupun layanan bantuan profesional dapat menjadi bagian dari jalan untuk keluar. Diskusi tersebut menekankan pentingnya menghubungi orang lain dan mencari layanan bantuan ketika dukungan dari lingkungan terdekat belum mencukupi. Hotline atau layanan krisis dapat menjadi salah satu pintu menuju pertolongan yang lebih tepat.

Pesan ini membuat peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pencegahan bukan hanya tentang tindakan besar atau intervensi profesional. Ia juga dapat dimulai dari keberanian untuk hadir, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memperhatikan perubahan pada orang di sekitar, dan membantu seseorang terhubung dengan pertolongan yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, percakapan Ruanita Indonesia mengingatkan bahwa seseorang yang sedang berada dalam kegelapan mungkin tidak selalu mampu menemukan jalan keluarnya seorang diri. Kehadiran orang lain dapat menjadi titik awal. Sebuah percakapan dapat membuka kesadaran. Sebuah panggilan dapat menghadirkan bantuan. Dan sebuah koneksi dapat menjadi jembatan agar seseorang kembali melihat kemungkinan untuk melanjutkan hidup.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(CERITA SAHABAT) Mengapa Penting Jadi Guru SD di Islandia?

Namaku Asti Tyas Nurhidayati, perempuan asal Yogyakarta yang kini tinggal dan bekerja  sebagai guru sekolah dasar di Islandia. Aku lahir dan besar di Jogja, menyelesaikan studi Teknik Elektro di Universitas Gadjah Mada.

Saat kuliah, aku aktif menjadi relawan di Griya  Lentera PKBI Yogyakarta, memberikan penyuluhan pencegahan HIV/AIDS dan kesehatan  reproduksi, termasuk kepada para pekerja seks dan pelanggannya di Pasar Kembang.  Dari pengalaman ini, aku mulai tertarik pada pekerjaan sosial yang melibatkan interaksi  langsung dengan masyarakat, terutama kelompok rentan.

Setelah lulus sebagai Sarjana Teknik, aku memilih jalur karir yang berbeda dari pendidikanku. Aku bekerja di Jakarta sebagai staf Behavior Change Intervention untuk  pencegahan HIV/AIDS di bawah Program Aksi Stop AIDS Family Health International  (FHI) dari tahun 2002 hingga 2009.

Di sana, aku menjadi fasilitator pelatihan bagi  pekerja lapangan yang melakukan penyuluhan kepada kelompok risiko tinggi. Karena  merasa perlu dukungan akademik yang lebih sesuai, aku melanjutkan kuliah S2  Komunikasi Pemasaran di FISIP Universitas Indonesia.

Lulus dari UI, aku bergabung dengan Rare Conservation Indonesia sebagai  Communication Manager, fokus pada konservasi lingkungan dan perikanan  berkelanjutan. Selain mengelola komunikasi organisasi, aku juga melatih staf lembaga  pemerintah dan organisasi nirlaba di Indonesia, Malaysia, dan Timor Leste.

Aku bekerja  sama dengan tim Rare dari Asia, Mikronesia, Afrika, hingga Amerika Latin. Aku sangat  menikmati pekerjaan ini dari tahun 2009 hingga 2016, sampai akhirnya aku menikah  dengan pria Islandia dan pindah ke Reykjavík pada pertengahan Ramadan, Juni 2016.

Di Islandia, aku memulai semuanya dari nol. Aku belajar Bahasa Islandia, yang rumit  karena setiap kata berubah tergantung gender, fungsi, dan waktu. Aku mulai bekerja  sebagai staf frístundaheimili, program after school untuk murid kelas 1 dan 2 SD, lalu  lanjut kursus bahasa.

Aku sempat putus asa karena keterbatasan bahasa. Aku pernah  bekerja di Kedutaan Besar India di Reykjavík tapi merasa tidak cocok dengan lingkungan  kerja yang kaku.

Aku kembali bekerja sebagai asisten guru TK, tetapi lagi-lagi terbentur kemampuan  bahasa. Anak-anak pernah bilang, “Ég skil ekki hvað þú talar (Aku tidak ngerti kamu ngomong apa)” atau “Þú talar íslensku  mjög léleg (Kamu ngomong Bahasa Islandia jelek banget)”.

Aku akhirnya memutuskan kuliah S1 Bahasa Islandia secara formal di  University of Iceland agar bisa belajar dengan terstruktur.

Setiap pagi dan siang aku kuliah, lalu sore kerja di frístundaheimili. Teori kuliah langsung  kupakai dalam pekerjaan dan obrolan dengan anak-anak. Setelah lulus, aku lanjut ke  program S2 Pendidikan Guru SD untuk mendapatkan surat izin mengajar dari  pemerintah Islandia.

Alasan terbesar aku memilih jadi guru adalah karena kondisi kesehatan reproduksi tidak memungkinkan aku untuk bisa hamil dan melahirkan anak. Tapi dari situ, aku merasa bahwa Allah memberiku jalan lain yaitu mendidik anak-anak orang lain.

Lapangan kerja di sektor pendidikan di Islandia terbuka, terutama  karena kekurangan guru TK dan SD. Saat ini banyak anak berusia 2 tahun harus menunggu antrian tersedianya tempat di TK.

Ini karena proporsi jumlah anak yang lebih besar daripada jumlah kursi di TK berikut jumlah guru dan staf TK. Orang tua sampai harus berhenti kerja atau bahkan jadi guru dan staf TK agar anak mereka  diprioritaskan.

Menurutku, menjadi guru adalah proses belajar tanpa akhir. Selain sebagai pengajar, pendidik dan fasilitator, seorang guru harus bisa jadi psikolog, motivator, entertainer, perawat, bahkan detektif untuk menangani beragam hal yang terjadi pada anak-anak di sekolah setiap harinya. Bagaimana pun, pekerjaan ini juga sangat menguras fisik dan mental.

Tantangan utamaku sebagai guru di Islandia adalah Bahasa Islandia. Meskipun aku sudah  kuliah S1 jurusan ini, aku masih sering salah grammar dan pengucapan. Kadang masih minder kalau harus bicara dengan orang tua murid asli Islandia.

Tapi suamiku dan teman-teman  Islandia juga sering salah, bahkan aku pernah mengoreksi mereka, dan itu sedikit  banyak membuatku percaya diri.

Sistem pendidikan inklusif di Islandia juga menantang. Semua anak, termasuk  yang berkebutuhan khusus, berhak masuk SD umum terdekat di lingkungan tempat tinggalnya.

Saat ini aku mengajar di kelas 2 SD dimana murid-muridku kebanyakan berusia 7-8 tahun. Namun di kelasku tersebut aku juga punya murid yang baru pindah dari Vietnam dengan diagnosa cerebral palsy, tak bisa bicara, terbatas gerak fisik dan secara kognitif setara anak usia dua tahun. Meski  didampingi asisten, aku harus menyesuaikan bahan ajar dan strategi untuk semua murid di kelas, termasuk bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Islandia merupakan negara kecil, hanya sekitar 400.000 jiwa dengan sekitar 20% adalah imigran. Lonjakan  jumlah imigran belum diimbangi infrastruktur pendidikan yang memadai, termasuk  sekolah khusus. Anak berkebutuhan khusus bisa menunggu satu tahun untuk masuk  sekolah khusus, dan selama itu mereka tetap belajar di sekolah umum.

Anak-anak lain juga beragam: ada yang ADHD, autis, punya gangguan belajar, gangguan  bahasa, gangguan pengendalian mental dan lainnya. Tahun pertamaku mengajar profesional sangat menantang. Suamiku pernah protes karena aku terlalu banyak waktu untuk kerja dan sedikit waktu  untuk keluarga. Aku terus belajar membagi waktu dan menjaga keseimbangan.

Sebagai imigran, aku ingin menunjukkan bahwa kami juga bisa berkontribusi positif bagi masyarakat setempat sebagai tenaga kerja profesional berpendidikan tinggi dan bersertifikat yang bisa menaiki jenjang karir. Bukan hanya pekerja kasar yang mengandalkan otot dan waktu dan dihargai dengan upah minimum.

Sistem pendidikan di Islandia tidak mengenal ujian kenaikan kelas. Anak tetap naik  kelas sesuai usia. Tes hanya untuk mengukur dan mengevaluasi pengajaran, bukan  menentukan kelulusan. Sistem ini ramah anak, tapi bisa jadi tantangan jika murid  dengan kemampuan rendah tetap naik kelas.

Yang paling kusukai dari profesiku adalah aku bisa jadi contoh bahwa imigran juga bisa  jadi guru. Sekitar 70% murid dan orang tua muridku adalah imigran dari berbagai negara.  Saat wawancara dengan orang tua, aku kadang perlu bantuan penerjemah. Tapi itu juga  membuatku merasa terhubung.

Aku suka budaya sekolah di sini yang flat dan casual. Semua dipanggil nama depan,  termasuk kepala sekolah. Anak-anak pun memanggilku “Asti” atau “Kennari (Guru)”.

Filosofi hidup orang Islandia adalah “þetta reddast” (semua akan baik-baik saja). Mereka  bekerja sesuai jam kerja dan tak bawa pekerjaan ke rumah. Aku masih belajar untuk  menerapkan ini karena aku sering belum bisa lepas dari urusan kerja setelah jam  pulang. Bahkan di rumah pun, aku masih sering mencari berbagai ide untuk menyiapkan bahan ajar bagi murid-muridku di sekolah.

Sebagai guru kelas, aku harus membuat laporan harian online tentang perilaku murid,  terutama jika ada insiden. Aku juga harus menghubungi orang tua jika ada anak terluka atau melukai anak lain. Ini menguras energi karena aku harus mengingat insiden yang terjadi dan menuliskannya dalam Bahasa  Islandia, yang aturannya kompleks.

Aku mengajar di lingkungan multikultural, banyak dari keluarga ekonomi menengah ke  bawah. Menurut pengamatanku, banyak murid-muridku yang kurang pengawasan, pendidikan, dukungan bahkan kasih sayang dari orang tua mereka di rumah karena orang tua sibuk bekerja mencari nafkah dan melalaikan peran penting mereka dalam mendidik anak. Akibatnya, aku harus  bekerja ekstra dalam manajemen kelas.

Sering aku kehilangan suara akibat radang tenggorokan, apalagi saat musim dingin atau Ramadan, karena kerap berteriak untuk menertibkan kelas. Itu sebabnya aku banyak menggunakan alat bantu dan berbagai teknik manajemen kelas. Classroom Screen misalnya, efektif membantuku untuk menulis instruksi di laptop dan menayangkannya di whiteboard supaya murid-murid bisa membacanya dan guru tidak perlu selalu bicara keras.

Pernah juga aku diprotes beberapa orang tua, dilaporkan ke kepala sekolah dan meminta anaknya dipindah ke kelas lain. Namun, manajemen sekolah selalu mendukungku dan mencarikan solusi tanpa harus memindahkan anak ke kelas lain.

Sebagai guru di Islandia, aku merasa punya peran dalam perkembangan akademik dan  emosional anak-anak. Kami mengajarkan mereka bersosialisasi, mengelola emosi, dan  belajar mandiri. Anak-anak diajak belajar lewat bermain, berpikir kritis, eksplorasi dan mencari solusi.

Sekolah memberi ruang untuk kreativitas dan waktu istirahat yang cukup. Kolaborasi  dengan orang tua dan komunitas juga penting, termasuk menyediakan penerjemah saat  rapat jika orang tua tidak bisa Bahasa Islandia atau Inggris.

Sebagai perempuan Indonesia, aku membawa nilai gotong royong, sopan santun, dan menghargai keanekaragaman. Rekan kerja dan orang tua murid menghargai latar belakangku. Bahkan, beberapa murid Muslim dari negara lain merasa lebih nyaman karena tahu aku juga Muslim.

Menurut pengamatanku, orang tua di Islandia memberi banyak kebebasan dan  kepercayaan pada anak. Mereka tidak terlalu menuntut prestasi akademik, tapi lebih  fokus pada karakter, kemandirian dan berpikir kritis. Aku belajar bahwa keseimbangan hidup sangat  penting.

Masyarakat Islandia juga sangat mengedepankan kesetaraan sejak dini bagi anak laki-laki maupun perempuan, supaya kelak dapat berpartisipasi aktif dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Anak perempuan punya kesempatan belajar di sekolah menjadi ahli mesin, ahli listrik atau tukang batu misalnya; sedangkan anak lak-laki juga punya kesempatan belajar menjadi koki, perias, penata rambut, penjahit atau perawat. Islandia secara konsisten menjadi negara paling unggul dalam kesetaraan gender di dunia, dengan 90% perempuan usia produktif bekerja, 50% anggota parlemen adalah perempuan.

Islandia merupakan negara pertama di dunia dengan presiden wanita. Saat ini, presiden dan perdana menteri Islandia juga wanita.

Pesanku untuk perempuan Indonesia yang ingin jadi guru di luar negeri: jangan takut  mulai dari nol, terus belajar, dan percaya diri. Pengalaman pendidikan di Islandia bisa  diterapkan di Indonesia, terutama soal ramah anak dan keberagaman. Gaya  pengasuhan di Islandia yang menekankan kemandirian dan berpikir kritis  layak  dicontoh.

Untuk para orang tua, ayo terlibat dalam pendidikan anak, jalin komunikasi dengan guru,  dan hargai setiap proses belajar sebagai bagian penting dari tumbuh kembang anak-anak  kita. Guru dan orang tua adalah tim. Tanpa kerja sama, anak akan kehilangan arah dalam  proses belajarnya. Mari tumbuh bersama, demi anak-anak kita.

Penulis: Asti Tyas Nurhidayati, Guru SD di Islandia, relawan Ruanita di Islandia, dan  dapat dikontak via akun instagram @asti.tyas.nurhidayati

(WARGA MENULIS) Þetta reddast

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.

Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.

Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.

Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.

Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.

Aku tertegun. Akhirnya datang juga, kekhawatiran yang aku kubur di lubuk hati terdalam sejak aku memutuskan untuk belajar dan berkarier menjadi guru Sekolah Dasar di Reykjavík, ibukota paling Utara di dunia. Ya. Aku. Orang Indonesia yang baru mulai belajar bahasa Islandia sejak sembilan tahun lalu, menjelang usia kepala 4. Bahasa Islandia. Salah satu bahasa tersulit di dunia. Kaya dengan infleksi. Setiap kata berubah sesuai dengan jenis, fungsi, gender, keterangan waktu dan berbagai aturan kompleks. Orang asli Islandia pun merasa sulit untuk menjelaskannya.

Ditulis oleh Tyas Nurhidayati di Islandia.

(PODCAST IN ENGLISH) Bagaimana Berintegrasi di Islandia Setelah Tinggal 25 Tahun?

Podcast berbahasa Inggris Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad yang dikelola Ruanita Indonesia kembali hadir dengan cerita inspiratif perempuan Indonesia di luar negeri. Kali ini, host Aini Hanafiah dari Norwegia berbincang dengan Vita, seorang perempuan Indonesia yang sudah menetap di Reykjavík, Islandia, selama lebih dari 25 tahun.

Vita pertama kali pindah ke Islandia pada tahun 2000 karena menikah dengan pasangannya yang berasal dari sana. Sebelumnya, ia bekerja sebagai pramugari di Jeddah, Arab Saudi, dan terbiasa berpindah-pindah negara. Karena itu, adaptasi terhadap iklim ekstrem dan budaya baru di Islandia tidak menjadi halangan besar baginya.

“Buat saya, pindah itu bukan akhir dari cerita, tapi justru awal dari petualangan baru,” ungkap Vita.

Meski terbiasa dengan lingkungan multikultural, Vita mengaku awal kepindahannya penuh tantangan. Ia harus beradaptasi menjadi “serba bisa”, seperti: mengurus anak, memasak, belajar mengemudi, hingga menavigasi sistem pendidikan dan kesehatan di Islandia.

Salah satu pengalaman berkesan adalah ketika ia harus aktif memperjuangkan agar anaknya segera mendapat tempat di taman kanak-kanak. “Sebagai orang Indonesia, rasanya tidak biasa untuk ‘pushy’ atau menuntut. Tapi di sini saya belajar kalau kadang kita memang harus lebih tegas,” kata Vita.

Bagi Vita, mempelajari bahasa Islandia menjadi langkah penting dalam proses integrasi. Pemerintah memang mewajibkan imigran untuk mengikuti kursus bahasa, meski biayanya harus ditanggung sendiri. Dengan dukungan keluarga mertua, Vita perlahan belajar bahasa Islandia, meski hingga kini ia lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.

“Bahasa itu pintu. Kalau kita mau belajar, pintunya terbuka. Kalau kita menolak, ya kita akan terisolasi,” ujarnya. 

Vita merasa beruntung memiliki sistem dukungan yang kuat dari keluarga besar suami. Kehadiran mereka membuat proses adaptasi terasa lebih ringan. Ia juga tak menyangka bisa bertemu dengan sesama orang Indonesia di tempat yang jauh seperti Islandia.

“Rasanya lucu, tiba-tiba ada yang menyapa ‘Kamu dari Indonesia?’ di supermarket. Dari situ saya sadar, bahkan di dekat Kutub Utara pun kita bisa menemukan saudara sebangsa,” kenangnya.

Selama lebih dari dua dekade, Vita tidak hanya membesarkan keluarga tetapi juga aktif bekerja, termasuk di dewan kota Reykjavík untuk isu-isu imigran. Ia menekankan bahwa kunci bertahan di luar negeri adalah keterbukaan, inisiatif, dan kemauan belajar.

“Islandia itu tempat yang ekstrem, baik alam maupun budayanya. Ada orang yang langsung jatuh cinta, ada juga yang merasa sulit. Saya memilih untuk mencintai tempat ini, karena di sini saya membangun hidup saya,” tuturnya.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

(AISIYU) I Can Contribute Beautiful things to This World Even If They are Small

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam Rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Asti yang tinggal di Islandia.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(SIARAN BERITA) Ruanita Kerja Sama dengan KemenPPPA dan KBRI Berlin Gelar Diskusi Daring Interaktif Bertema Program Au Pair di Eropa Barat & Skandinavia

JERMAN, 29 Juni 2025 — Ruanita Indonesia, melalui platform daring www.ruanita.com, menyelenggarakan sebuah diskusi online bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Program Au Pair di Eropa Barat dan Skandinavia: Peluang, Pengalaman, dan Aspek Hukum” pada Minggu, 29 Juni 2025, pukul 10.00–12.00 CET (15.00–17.00 WIB).

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita dalam menyuarakan perlindungan dan pemberdayaan perempuan Indonesia di luar negeri melalui edukasi dan ruang berbagi yang aman.

Program Au Pair telah menjadi salah satu jalur populer bagi generasi muda Indonesia untuk meraih pengalaman internasional.

Melalui skema ini, peserta—yang biasanya berusia muda—memiliki kesempatan tinggal di luar negeri, tinggal bersama keluarga angkat (host family), belajar bahasa baru, serta memahami budaya lokal secara langsung.

Follow us

Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu semulus yang dibayangkan. Banyak calon Au Pair yang melangkah tanpa informasi cukup, bahkan hanya bermodalkan keinginan untuk “keluar negeri secepatnya”, tanpa mengetahui hak dan kewajiban, risiko hukum, dan tantangan hidup sebagai Au Pair di negara asing.

Akibatnya, tidak sedikit yang mengalami kesulitan—bahkan potensi eksploitasi—akibat minimnya bekal informasi dan dukungan.

Melihat fenomena ini, Ruanita Indonesia merasa perlu menghadirkan forum terbuka dan edukatif untuk memberikan informasi yang akurat, serta memperkuat pemahaman calon peserta terhadap realita program Au Pair, khususnya di kawasan Eropa Barat dan Skandinavia.

Acara ini menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang—baik mereka yang tertarik dengan program pertukaran budaya, mereka yang pernah menjadi peserta Au Pair, akademisi yang berminat akan budaya, maupun pihak berwenang dari pemerintah.

Diskusi akan dimoderatori oleh Asti Tyas Nurhidayati, relawan Ruanita Indonesia yang saat ini berdomisili di Islandia.

Susunan acara akan dimulai dengan sambutan dari Irjen Pol. (Purn) Desy Andriani, Deputi Perlindungan Hak Perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA RI), yang memberikan pengantar mengenai pentingnya perlindungan hukum dan edukasi sebelum mengikuti program internasional seperti Au Pair.

Dua pembicara utama yang akan membagikan pengalaman langsung adalah:

  • Lina Herliana, mantan peserta Au Pair dan kini mahasiswa di Finlandia. Ia memaparkan perjalanannya dari proses pendaftaran hingga kehidupan pasca-Au Pair.
  • Puji Sumarno, Au Pair yang saat ini sedang berada di Norwegia, yang berbagi tantangan dan keseharian sebagai bagian dari keluarga angkat di Eropa Utara.

Diskusi juga akan mendapatkan perspektif hukum dan perlindungan dari perwakilan pemerintah, yaitu Satriyo Pringgodhani, Koordinator Perlindungan WNI dan Konsuler di KBRI Berlin.

Ia menjelaskan bagaimana KBRI Berlin mendampingi WNI yang menjadi peserta Au Pair dan pentingnya mengikuti jalur resmi.

Selain itu, akan hadir seorang penanggap dari kalangan akademisi, yakni Vivid F. Argarini memberikan tinjauan sosial-budaya serta mengamati program Au Pair sebagai program pertukaran budaya, yang diminati oleh mahasiswa yang mencari peluang karier dan hidup di mancanegara.

Menurut Asti Tyas Nurhidayati, diskusi ini bukan sekadar forum berbagi cerita, melainkan juga “benteng informasi dan pelindung” bagi generasi muda Indonesia yang tertarik mengikuti program internasional.

“Melalui pengalaman nyata dan pembahasan legalitas, kami ingin memastikan bahwa adik-adik kita berangkat bukan hanya dengan semangat, tapi juga dengan bekal pengetahuan yang cukup,” ujarnya.

Diskusi ini terbuka untuk mahasiswa, lulusan baru, komunitas pecinta bahasa asing, serta masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih dalam tentang pertukaran budaya melalui jalur Au Pair.

Peserta tidak hanya dapat mengikuti acara melalui Zoom, tetapi juga dapat menyimak melalui YouTube Live di kanal Ruanita – Rumah Aman Kita.

Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) merupakan komunitas digital dan organisasi relawan yang berbasis manajemen nilai dan intervensi komunitas, dengan fokus pada perlindungan, pendidikan, dan penguatan advokasi perempuan Indonesia di luar negeri. Berbagai kegiatan telah dilakukan sejak pendiriannya, seperti diskusi daring, kampanye kesadaran hak migran, pelatihan keterampilan daring, hingga publikasi e-book edukatif.

Acara ini merupakan bagian dari program reguler yang mendorong keterlibatan aktif perempuan Indonesia dalam isu-isu global, sekaligus memperkuat perlindungan sosial dan hukum di ranah migrasi internasional.

Informasi lebih lanjut: Asti Tyas Nurhidayati (e-mail: info@ruanita.com) 

Rekamannya dapat dilihat di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung keberlangsungan program kami:

(AISIYU) Pizza vs Volcano

Nama pembuat foto: Asti Tyas Nurhidayati

Lokasi negara tinggal: Islandia

Judul foto: Pizza vs Volcano

Keterangan foto: Sekolah dan dunia pendidikan bisa jadi ruang aman bagi perempuan untuk bekerja mengembangkan diri sesuai pendidikan, kemampuan, minat dan bakat. Namun, bekerja sebagai guru bagaikan dua sisi mata uang. 

Di satu sisi, bangga dan bahagia, berkontribusi positif bagi masyarakat lokal, mendidik generasi muda harapan masa depan, mewakili keragaman dan kesetaraan peran imigran dan minoritas. Ini bagaikan pizza aneka rasa dan topping yang menarik mata, lezat, nikmat, mengenyangkan dan memberikan kepuasan. 

Di sisi lain, sistem pendidikan inklusif mendorong guru harus siap mendidik semua murid dengan berbagai kebutuhan dan kemampuan yang berbeda. Anak-anak berkebutuhan khusus ataupun yang bermasalah dalam mental dan perilaku dapat memberikan berbagai tekanan mental bahkan fisik bagi guru, bahkan bisa mengancam dan membahayakan guru dalam ekskalasi tertentu. Ini bagaikan gunung api yang indah dan menarik dilihat jika dalam keadaan tenang, namun sewaktu-waktu dapat meledak dahsyat sehingga perlu siap sedia, waspada dan pengawasan ketat.

(PODCAST RUMPITA) Mulai Studi di Inggris Hingga ke Islandia Menuju Karier Internasional

Pada episode ke-27 ini, Podcast RUMPITA mengundang Dyah Anggraini C. yang kini menetap di Islandia.

Sebagai seorang ibu dan pekerja yang berkarier internasional, Dyah membagikan pengalaman hidupnya bagaimana studi pertama kali di mancanegara, yang dimulai dari Inggris.

Dyah pun sempat kembali ke Indonesia, dan kemudian memutuskan tinggal di Islandia.

Pernah bekerja di bidang financial and banking di Indonesia, Dyah pun mendalami studinya di Inggris.

Dyah pun tidak merasakan perbedaan yang besar antara berkuliah di Inggris dengan berkuliah di Islandia.

Mungkin perbedaan yang mencolok yang dialami seperti sistem penilaian yang berbeda, antara berkuliah di Inggris dengan di Islandia.

Follow us

Alasan keluarga membuat Dyah memutuskan pindah ke Islandia dan melanjutkan studi kembali di Islandia.

Tinggal di Reykjavic, ibukota Islandia, tentunya berbeda sekali dengan iklim dan suasana alamnya yang dirasakan Dyah, terutama saat musim panas atau musim dingin.

Dyah pun menceritakan bagaimana dukungan pemerintah Islandia saat dia sedang menyelesaikan studi dan baru saja melahirkan anaknya.

Tentunya, dukungan suami dan pengelolaan peran sangat diperlukan agar seimbang, sehingga kini Dyah pun tetap bekerja secara global bersama dengan orang-orang dari berbagai negara.

Apa saja perbedaan studi antara di Inggris dengan di Islandia? Bagaimana pendapat Dyah tentang iklim dan budaya orang-orang Islandia? Apa saja potensi yang bisa dilakukan warga Indonesia bila ingin studi atau berkarier di Islandia? Apa saja tantangan dan kesan yang dialami Dyah studi dan tinggal di Islandia? Apa pesan Dyah untuk orang Indonesia yang ingin wisata, studi, atau bekerja di Islandia?

Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, berikut ini: