
Namaku Asti Tyas Nurhidayati, perempuan asal Yogyakarta yang kini tinggal dan bekerja sebagai guru sekolah dasar di Islandia. Aku lahir dan besar di Jogja, menyelesaikan studi Teknik Elektro di Universitas Gadjah Mada.
Saat kuliah, aku aktif menjadi relawan di Griya Lentera PKBI Yogyakarta, memberikan penyuluhan pencegahan HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi, termasuk kepada para pekerja seks dan pelanggannya di Pasar Kembang. Dari pengalaman ini, aku mulai tertarik pada pekerjaan sosial yang melibatkan interaksi langsung dengan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Setelah lulus sebagai Sarjana Teknik, aku memilih jalur karir yang berbeda dari pendidikanku. Aku bekerja di Jakarta sebagai staf Behavior Change Intervention untuk pencegahan HIV/AIDS di bawah Program Aksi Stop AIDS Family Health International (FHI) dari tahun 2002 hingga 2009.
Di sana, aku menjadi fasilitator pelatihan bagi pekerja lapangan yang melakukan penyuluhan kepada kelompok risiko tinggi. Karena merasa perlu dukungan akademik yang lebih sesuai, aku melanjutkan kuliah S2 Komunikasi Pemasaran di FISIP Universitas Indonesia.
Lulus dari UI, aku bergabung dengan Rare Conservation Indonesia sebagai Communication Manager, fokus pada konservasi lingkungan dan perikanan berkelanjutan. Selain mengelola komunikasi organisasi, aku juga melatih staf lembaga pemerintah dan organisasi nirlaba di Indonesia, Malaysia, dan Timor Leste.
Aku bekerja sama dengan tim Rare dari Asia, Mikronesia, Afrika, hingga Amerika Latin. Aku sangat menikmati pekerjaan ini dari tahun 2009 hingga 2016, sampai akhirnya aku menikah dengan pria Islandia dan pindah ke Reykjavík pada pertengahan Ramadan, Juni 2016.
Di Islandia, aku memulai semuanya dari nol. Aku belajar Bahasa Islandia, yang rumit karena setiap kata berubah tergantung gender, fungsi, dan waktu. Aku mulai bekerja sebagai staf frístundaheimili, program after school untuk murid kelas 1 dan 2 SD, lalu lanjut kursus bahasa.
Aku sempat putus asa karena keterbatasan bahasa. Aku pernah bekerja di Kedutaan Besar India di Reykjavík tapi merasa tidak cocok dengan lingkungan kerja yang kaku.
Aku kembali bekerja sebagai asisten guru TK, tetapi lagi-lagi terbentur kemampuan bahasa. Anak-anak pernah bilang, “Ég skil ekki hvað þú talar (Aku tidak ngerti kamu ngomong apa)” atau “Þú talar íslensku mjög léleg (Kamu ngomong Bahasa Islandia jelek banget)”.
Aku akhirnya memutuskan kuliah S1 Bahasa Islandia secara formal di University of Iceland agar bisa belajar dengan terstruktur.
Setiap pagi dan siang aku kuliah, lalu sore kerja di frístundaheimili. Teori kuliah langsung kupakai dalam pekerjaan dan obrolan dengan anak-anak. Setelah lulus, aku lanjut ke program S2 Pendidikan Guru SD untuk mendapatkan surat izin mengajar dari pemerintah Islandia.
Alasan terbesar aku memilih jadi guru adalah karena kondisi kesehatan reproduksi tidak memungkinkan aku untuk bisa hamil dan melahirkan anak. Tapi dari situ, aku merasa bahwa Allah memberiku jalan lain yaitu mendidik anak-anak orang lain.
Lapangan kerja di sektor pendidikan di Islandia terbuka, terutama karena kekurangan guru TK dan SD. Saat ini banyak anak berusia 2 tahun harus menunggu antrian tersedianya tempat di TK.
Ini karena proporsi jumlah anak yang lebih besar daripada jumlah kursi di TK berikut jumlah guru dan staf TK. Orang tua sampai harus berhenti kerja atau bahkan jadi guru dan staf TK agar anak mereka diprioritaskan.
Menurutku, menjadi guru adalah proses belajar tanpa akhir. Selain sebagai pengajar, pendidik dan fasilitator, seorang guru harus bisa jadi psikolog, motivator, entertainer, perawat, bahkan detektif untuk menangani beragam hal yang terjadi pada anak-anak di sekolah setiap harinya. Bagaimana pun, pekerjaan ini juga sangat menguras fisik dan mental.
Tantangan utamaku sebagai guru di Islandia adalah Bahasa Islandia. Meskipun aku sudah kuliah S1 jurusan ini, aku masih sering salah grammar dan pengucapan. Kadang masih minder kalau harus bicara dengan orang tua murid asli Islandia.
Tapi suamiku dan teman-teman Islandia juga sering salah, bahkan aku pernah mengoreksi mereka, dan itu sedikit banyak membuatku percaya diri.
Sistem pendidikan inklusif di Islandia juga menantang. Semua anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, berhak masuk SD umum terdekat di lingkungan tempat tinggalnya.
Saat ini aku mengajar di kelas 2 SD dimana murid-muridku kebanyakan berusia 7-8 tahun. Namun di kelasku tersebut aku juga punya murid yang baru pindah dari Vietnam dengan diagnosa cerebral palsy, tak bisa bicara, terbatas gerak fisik dan secara kognitif setara anak usia dua tahun. Meski didampingi asisten, aku harus menyesuaikan bahan ajar dan strategi untuk semua murid di kelas, termasuk bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Islandia merupakan negara kecil, hanya sekitar 400.000 jiwa dengan sekitar 20% adalah imigran. Lonjakan jumlah imigran belum diimbangi infrastruktur pendidikan yang memadai, termasuk sekolah khusus. Anak berkebutuhan khusus bisa menunggu satu tahun untuk masuk sekolah khusus, dan selama itu mereka tetap belajar di sekolah umum.
Anak-anak lain juga beragam: ada yang ADHD, autis, punya gangguan belajar, gangguan bahasa, gangguan pengendalian mental dan lainnya. Tahun pertamaku mengajar profesional sangat menantang. Suamiku pernah protes karena aku terlalu banyak waktu untuk kerja dan sedikit waktu untuk keluarga. Aku terus belajar membagi waktu dan menjaga keseimbangan.
Sebagai imigran, aku ingin menunjukkan bahwa kami juga bisa berkontribusi positif bagi masyarakat setempat sebagai tenaga kerja profesional berpendidikan tinggi dan bersertifikat yang bisa menaiki jenjang karir. Bukan hanya pekerja kasar yang mengandalkan otot dan waktu dan dihargai dengan upah minimum.
Sistem pendidikan di Islandia tidak mengenal ujian kenaikan kelas. Anak tetap naik kelas sesuai usia. Tes hanya untuk mengukur dan mengevaluasi pengajaran, bukan menentukan kelulusan. Sistem ini ramah anak, tapi bisa jadi tantangan jika murid dengan kemampuan rendah tetap naik kelas.
Yang paling kusukai dari profesiku adalah aku bisa jadi contoh bahwa imigran juga bisa jadi guru. Sekitar 70% murid dan orang tua muridku adalah imigran dari berbagai negara. Saat wawancara dengan orang tua, aku kadang perlu bantuan penerjemah. Tapi itu juga membuatku merasa terhubung.
Aku suka budaya sekolah di sini yang flat dan casual. Semua dipanggil nama depan, termasuk kepala sekolah. Anak-anak pun memanggilku “Asti” atau “Kennari (Guru)”.
Filosofi hidup orang Islandia adalah “þetta reddast” (semua akan baik-baik saja). Mereka bekerja sesuai jam kerja dan tak bawa pekerjaan ke rumah. Aku masih belajar untuk menerapkan ini karena aku sering belum bisa lepas dari urusan kerja setelah jam pulang. Bahkan di rumah pun, aku masih sering mencari berbagai ide untuk menyiapkan bahan ajar bagi murid-muridku di sekolah.
Sebagai guru kelas, aku harus membuat laporan harian online tentang perilaku murid, terutama jika ada insiden. Aku juga harus menghubungi orang tua jika ada anak terluka atau melukai anak lain. Ini menguras energi karena aku harus mengingat insiden yang terjadi dan menuliskannya dalam Bahasa Islandia, yang aturannya kompleks.
Aku mengajar di lingkungan multikultural, banyak dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Menurut pengamatanku, banyak murid-muridku yang kurang pengawasan, pendidikan, dukungan bahkan kasih sayang dari orang tua mereka di rumah karena orang tua sibuk bekerja mencari nafkah dan melalaikan peran penting mereka dalam mendidik anak. Akibatnya, aku harus bekerja ekstra dalam manajemen kelas.
Sering aku kehilangan suara akibat radang tenggorokan, apalagi saat musim dingin atau Ramadan, karena kerap berteriak untuk menertibkan kelas. Itu sebabnya aku banyak menggunakan alat bantu dan berbagai teknik manajemen kelas. Classroom Screen misalnya, efektif membantuku untuk menulis instruksi di laptop dan menayangkannya di whiteboard supaya murid-murid bisa membacanya dan guru tidak perlu selalu bicara keras.
Pernah juga aku diprotes beberapa orang tua, dilaporkan ke kepala sekolah dan meminta anaknya dipindah ke kelas lain. Namun, manajemen sekolah selalu mendukungku dan mencarikan solusi tanpa harus memindahkan anak ke kelas lain.
Sebagai guru di Islandia, aku merasa punya peran dalam perkembangan akademik dan emosional anak-anak. Kami mengajarkan mereka bersosialisasi, mengelola emosi, dan belajar mandiri. Anak-anak diajak belajar lewat bermain, berpikir kritis, eksplorasi dan mencari solusi.
Sekolah memberi ruang untuk kreativitas dan waktu istirahat yang cukup. Kolaborasi dengan orang tua dan komunitas juga penting, termasuk menyediakan penerjemah saat rapat jika orang tua tidak bisa Bahasa Islandia atau Inggris.
Sebagai perempuan Indonesia, aku membawa nilai gotong royong, sopan santun, dan menghargai keanekaragaman. Rekan kerja dan orang tua murid menghargai latar belakangku. Bahkan, beberapa murid Muslim dari negara lain merasa lebih nyaman karena tahu aku juga Muslim.
Menurut pengamatanku, orang tua di Islandia memberi banyak kebebasan dan kepercayaan pada anak. Mereka tidak terlalu menuntut prestasi akademik, tapi lebih fokus pada karakter, kemandirian dan berpikir kritis. Aku belajar bahwa keseimbangan hidup sangat penting.
Masyarakat Islandia juga sangat mengedepankan kesetaraan sejak dini bagi anak laki-laki maupun perempuan, supaya kelak dapat berpartisipasi aktif dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
Anak perempuan punya kesempatan belajar di sekolah menjadi ahli mesin, ahli listrik atau tukang batu misalnya; sedangkan anak lak-laki juga punya kesempatan belajar menjadi koki, perias, penata rambut, penjahit atau perawat. Islandia secara konsisten menjadi negara paling unggul dalam kesetaraan gender di dunia, dengan 90% perempuan usia produktif bekerja, 50% anggota parlemen adalah perempuan.
Islandia merupakan negara pertama di dunia dengan presiden wanita. Saat ini, presiden dan perdana menteri Islandia juga wanita.
Pesanku untuk perempuan Indonesia yang ingin jadi guru di luar negeri: jangan takut mulai dari nol, terus belajar, dan percaya diri. Pengalaman pendidikan di Islandia bisa diterapkan di Indonesia, terutama soal ramah anak dan keberagaman. Gaya pengasuhan di Islandia yang menekankan kemandirian dan berpikir kritis layak dicontoh.
Untuk para orang tua, ayo terlibat dalam pendidikan anak, jalin komunikasi dengan guru, dan hargai setiap proses belajar sebagai bagian penting dari tumbuh kembang anak-anak kita. Guru dan orang tua adalah tim. Tanpa kerja sama, anak akan kehilangan arah dalam proses belajarnya. Mari tumbuh bersama, demi anak-anak kita.
Penulis: Asti Tyas Nurhidayati, Guru SD di Islandia, relawan Ruanita di Islandia, dan dapat dikontak via akun instagram @asti.tyas.nurhidayati
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.