(CERITA SAHABAT) Pelukan: Bahasa Cinta yang Tak Perlu Berbahasa

Nama saya Siwi, biasa dipanggil Siwi oleh teman-teman dekat. Saya tinggal di Jerman, tepatnya di kota Berlin, dan sudah menetap di sini selama kurang lebih 10 tahun. Minat saya beragam, mulai dari membaca buku, memasak, serta mendalami budaya setempat. Pekerjaan sehari-hari saya adalah sebagai ibu, mahasiswi dan juga business developer di sebuah perusahaan tas di Berlin.

Di keluarga saya sendiri, berpelukan antara orang tua dan anak-anak atau antar kerabat sudah menjadi hal yang biasa. Budaya ini berasal dari nilai-nilai kekeluargaan yang kuat di Indonesia, di mana berpelukan dimaknai sebagai cara untuk menunjukkan kasih sayang dan dukungan emosional. 

Ketika saya pulang ke Indonesia, saya selalu merasakan kehangatan dalam pelukan orang tua dan suami saya setiap dia pulang kerja. Pelukan bagi kami seperti obat, untuk menunjukan rasa cinta, rindu, dan saling menguatkan. Saya berpikir, kami sudah bekerja keras selama berbulan-bulan dan momen berpelukan menjadi simbol pencapaian dan kerja sama yang erat. 

Dari sudut pandang budaya, berpelukan ini menunjukkan rasa keakraban dan solidaritas, sedangkan secara psikologis, ini memberi saya rasa dihargai dan diperhatikan, menguatkan ikatan emosional kami.

Sebagai ibu baru di perantauan merasa bahwa setiap tangan yang terulur adalah seperti harapan, begitu juga pelukan. Pelukan yang sederhana menyimpulkan banyak cinta, hangat, dan penghargaan. Berpelukan dalam budaya Indonesia sering kali dianggap sebagai tanda keakraban dan kasih sayang. 

Budaya kita sangat menghargai kedekatan emosional, dan berpelukan adalah salah satu cara untuk mengekspresikan rasa hormat dan cinta. Ini berbeda dengan budaya lain yang mungkin lebih menekankan pada kesantunan dengan cara yang lebih formal.

Menurut saya, berpelukan dalam budaya Indonesia sering kali dianggap sebagai tanda keakraban dan kasih sayang. Budaya kita sangat menghargai kedekatan emosional, dan berpelukan adalah salah satu cara untuk mengekspresikan rasa hormat dan cinta. Ini berbeda dengan budaya lain yang mungkin lebih menekankan pada kesantunan dengan cara yang lebih formal.

Saya memahami bahwa ada anggapan bahwa berpelukan hanya dilakukan sesama gender atau menyiratkan romantisme. Namun, bagi saya, berpelukan lebih dari sekadar aspek romantis. Ini adalah cara untuk menunjukkan dukungan, kasih sayang, dan keakraban tanpa memandang gender. Pandangan ini sangat penting untuk membangun hubungan yang sehat dan harmonis.

Secara psikologis, berpelukan memberikan banyak manfaat bagi saya. Ini membantu mengurangi stres, meningkatkan perasaan nyaman, dan memperkuat ikatan sosial. Berpelukan juga dapat merangsang produksi hormon oksitosin, yang dikenal sebagai “hormon cinta”, yang membantu meningkatkan mood dan rasa bahagia.

Saya pernah mengalami situasi di mana seseorang enggan untuk dipeluk. Hal ini terjadi saat saya ingin memeluk seorang teman yang baru saja kehilangan anggota keluarganya. Saya memahami bahwa tidak semua orang nyaman dengan kontak fisik. Alasan mereka mungkin beragam, termasuk perbedaan budaya, pengalaman pribadi, atau preferensi individu.

Di tempat kerja, saya juga pernah melihat budaya berpelukan diterapkan untuk menciptakan suasana yang lebih informal dan setara. Saya setuju dengan pendekatan ini karena dapat membantu mengurangi ketegangan dan membangun hubungan kerja yang lebih baik. Namun, penting untuk selalu menghormati batasan pribadi dan memastikan bahwa semua orang merasa nyaman.

Selama pandemi Covid-19, keterbatasan dalam kontak sosial, termasuk berpelukan, sangat mempengaruhi saya. Saya merasakan kehilangan kehangatan dan kedekatan yang biasanya dirasakan melalui pelukan. Berpelukan sangat penting dalam konteks kesehatan mental karena memberikan rasa nyaman dan mendukung kesejahteraan emosional, terutama di masa-masa sulit.

Kepada Sahabat Ruanita, saya ingin menyampaikan bahwa berpelukan memiliki banyak manfaat baik dari perspektif budaya maupun psikologis. Ini membantu memperkuat hubungan sosial, memberikan dukungan emosional, dan meningkatkan kesejahteraan mental. Jangan ragu untuk menunjukkan kasih sayang melalui pelukan, selama itu dilakukan dengan rasa hormat dan kesadaran akan batasan pribadi. 

“Hugs are the heartbeat from the soul to the soul.” — Terri Guillemets. Dan seperti banyak bahasa cinta yang dilakukan oleh manusia, pelukan adalah bahasa cinta yang tidak perlu berbahasa: hanya butuh dua tangan yang terulur dan empati.

Penulis: Siwi yang tinggal di Berlin, Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram @swdiary95. 

(CERITA SAHABAT) Hormati Prinsip Seseorang yang Stay Single, Bukan Malahan Lakukan Single Shaming

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan namaku Nita dan sekarang tinggal di Indonesia. Aku hampir 6 tahun menetap di Jerman untuk melanjutkan studi. Di tahun 2024, aku kembali tinggal di Indonesia. Sehari-hari, aku bekerja sebagai pengajar bahasa di kota kecil di Jawa Tengah. Tahun ini, aku akan berumur 36 tahun.

Senang sekali dapat bersuara lewat tema Single Shaming dalam program cerita sahabat ini. Bagaimana pun aku merasa tertekan dan tidak nyaman saat orang lain membahas status single aku, kehidupan privasiku atau latar belakang ceritaku sendiri. Sejak aku tinggal di Eropa, kehidupanku di sana seolah-olah mengajarkan bahwa ada beberapa hal yang termasuk ranah privasi dan tidak seharusnya orang lain ikut campur lebih dalam. 

Salah satunya adalah hal yang menyangkut status dan hubungan. Selain itu, aku juga punya kisah mengenai hubungan yang tidak mengenakkan di masa lalu sehingga mempengaruhi keputusanku untuk stay single sampai sekarang. Alasan ini pun bersifat pribadi sehingga orang lain tidak perlu tahu. Kedua alasan inilah yang menyebabkan rasa tidak nyaman itu muncul ketika orang lain membahas status Single aku.

Tidak mudah untuk mempertahankan prinsip, terlebih menyangkut status hubungan “stay single” ini. Biasanya orang-orang di sekitarku merespon beragam ketika mereka tahu aku masih single. Ada yang merasa kasihan, ada yang mengolok-olok, tetapi ada juga yang bersikap biasa saja. 

Terkadang aku merasa orang-orang di sekitarku menghakimiku hanya karena statusku yang masih lajang. Contohnya, ketika aku berkumpul dengan teman-teman lama dari masa sekolah dulu. Sebagian besar dari mereka yang sebenarnya tidak dekat denganku akan bertanya padaku. Apakah aku sudah menikah atau belum? Mereka kemudian memberikan komentar negatif yang bernada menyalahkan dan menuduh aku yang terlalu pemilih. Ada juga yang beranggapan status akademikku yang menurut mereka terlalu tinggi, hingga tidak ada pria yang berani mendekatiku. 

Aku sendiri tidak ambil pusing pendapat atau komentar orang lain terhadap statusku yang masih melajang. Kadang aku tidak memberikan jawaban yang serius. Kadang aku bawa jadi guyonan saja, daripada aku merasa sakit hati pada akhirnya. Aku menyadari bahwa orang Indonesia memang belum siap apabila mendapat jawaban yang serius dan bersifat kritik pedas, ketika mereka bertanya atau berkomentar tentang status single orang lain. 

Di sisi lain, aku merasa ada momen di mana aku seperti dipaksa untuk segera mencari pasangan. Hal ini lebih kuat datang justru dari keluargaku sendiri, terutama ibuku. Berulang kali aku mencoba untuk memberikan pengertian ke ibuku, bahwa saat ini aku memang tidak fokus untuk mencari pasangan. Aku sekarang sedang lebih fokus untuk membangun karir terlebih dahulu. Kadang aku juga cuma bercanda dengan merespon: “Aku mau menikah dengan siapa, wong pacar aja tidak punya”. 

Menurutku, masyarakat sah saja memiliki pandangan yang kuat tentang pentingnya memiliki pasangan. Itu mungkin berkaitan dengan kultur dan kepercayaan orang Indonesia yang masih kolot (tradisional). Mereka masih menganggap bahwa perempuan mempunyai masa expired berdasarkan umur. Pendapat ini tentu saja dikaitkan dengan kemampuan reproduksi seorang perempuan. Jika seseorang tidak memiliki pasangan, maka orang tersebut merupakan outlier atau outcast di masyarakat yang perlu dikasihani, karena mereka tidak seperti orang-orang kebanyakan. 

Beruntungnya, masih ada saja orang yang bersedia mendukung keputusanku untuk fokus pada karier. Dari keluarga, justru kakak iparku yang mendukungku untuk fokus membangun karier terlebih dahulu. Setelah berkarier, aku kemudian bisa memutuskan untuk mempunyai pasangan dan menikah. Selain itu, di luar keluarga masih ada sahabat-sahabatku yang mengetahui perjalanan hidupku. Mereka juga mendukungku untuk menjalani hidup sesuai dengan pace-nya saja. Mereka selalu mendengar, jika aku bercerita dan memberikan afirmasi positif terhadap semua keputusan yang aku ambil. 

Aku perlu memperhatikan kebahagiaanku sendiri, meskipun itu tidak mudah menghadapi tekanan di tengah lingkungan sekitar terhadap status lajangku. Caraku menjaga kepercayaan diri adalah dengan menyibukkan diri dengan pekerjaanku saat ini. Aku juga selalu bertemu dengan banyak orang. Walaupun aku belum punya pasangan, aku bisa menunjukkan kalau aku adalah orang yang mudah bergaul di lingkungan manapun. Selain itu, aku juga berusaha menikmati setiap proses kehidupan dan menikmati hari-hariku dengan teman-temanku. Aku pun senang melakukan hobiku. 

Kembali lagi soal tema single shaming, aku pernah berbicara secara langsung dengan orang yang melakukannya padaku. Kebetulan orang tersebut berasal dari saudara jauhku. Ketika aku memberikan pendapatku, mereka langsung terdiam. Akhirnya, mereka hanya bisa bilang “iya juga ya”. Seolah-olah komentar mereka itu hanyalah basa-basi saja, yang tidak ada efeknya. Padahal mereka seharusnya berpikir terlebih dulu tentang perasaanku, sebelum berbicara. 

Lewat cerita sahabat ini, aku ingin menyampaikan pesan kepada mereka yang sering memberikan komentar negatif tentang status single seseorang. Tolong normalisasi bahwa urusan status single seseorang itu adalah suatu privasi. Artinya, orang lain tidak perlu berkomentar atau mempertanyakan lebih lanjut, apabila hanya untuk basa-basi atau olok-olok semata. Bagaimana pun kalian tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan orang tersebut, sehingga mereka memilih untuk stay single. Hargai prinsip hidup seseorang tersebut yang (mungkin) masih memilih untuk berstatus single

Penulis: Nita dan dapat dikontak via akun instagram msiyuun_

(CERITA SAHABAT) Terima Kasih Itu Bukan Hanya Perlu, Melainkan Harus

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Theresia Indri Noviatun Assenheimer. Saya biasa dipanggil Iin. Saat ini, saya tinggal di Dietzenbach, suatu kota kecil 15 Kilometer dari Frankfurt, Jerman

Sejak tahun 1993, saya tinggal di Dietzenbach. Saya lahir dan dibesarkan di Yogyakarta dan telah menyelesaikan pendidikan sarjana di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta.

Saya adalah ibu dari dua orang putra yang sudah dewasa. Anak pertama sudah bekerja, sedangkan anak kedua masih menyelesaikan studi Master di Universitas St. Gallen, Swiss.

Sejak anak pertama saya berusia 11 bulan, saya bekerja paruh waktu di suatu toko kado dan peralatan rumah tangga di Offenbach. Sejak tahun 1998 sampai sekarang, saya bekerja 25 jam per minggu di suatu Supermarket di Offenbach. Meskipun hanya separuh hari, tetapi saya dipercaya untuk memegang Backstation atau Bakery.

Di waktu senggang saya suka menulis kecil-kecilan dan sederhana di kompasiana. Kesenangan menulis baru saya mulai pada saat pandemi Covid-19 lalu. Selain itu, saya juga aktif melayani di paroki di mana kami tinggal. Tanggung jawab saya seperti menata bunga di sekitar altar di gereja. Untuk merangkai bunga di gereja ini memang sudah saya lakukan sejak di Yogyakarta. Hobi ini berlanjut  pada tahun 1995, saya mengikuti kursus merangkai bunga di VHS di Dietzenbach.

Saya juga aktif melayani di Komunitas Masyarakat Katolik di Frankfurt sebagai kuster atau menyiapkan perayaan Misa. Saya tergerak menuliskan tema “Terima Kasih” yang sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Kata terima kasih sangat penting bagi saya. 

Suatu saat, saya bertemu dengan seorang rekan kerja lama, yang mana kami sama-sama. pernah bekerja di supermarket yang sama. Rekan kerja saya itu terkesan pada saya, karena saya selalu bilang terima kasih. Misalnya, saat saya duduk di kasir dan memanggil rekan kerja lainnya agar kasir berikutnya dapat dibuka, bila antrian sudah panjang. Rupanya rekan kerja saya terkesan, karena saya tidak hanya memanggil nama sambil  berkata Bitte (Silakan, dalam Bahasa Indonesia), tetapi juga selalu diakhiri dengan Danke (terima kasih). 

Rekan kerja saya tersebut berpendapat, bahwa panggilan mikrofon yang saya lakukan selalu ada kata Bitte dan diakhir dengan Danke. Sebisa mungkin saya mengucapkan terima kasih juga untuk hal-hal sederhana. Misalnya, saya selalu berucap terima kasih kepada seseorang yang menahan pintu, ketika kami memasuki suatu ruangan. 

Ucapan terima kasih merupakan penghargaan kepada orang lain. Nyatanya, itu tidak mudah untuk mampu mengucapkan terima kasih dengan tulus dari hati. Saya merasa kuncinya adalah kerendahan hati. Menurut saya, seseorang yang memiliki kerendahan hati tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih.

Dalam ucapan terima kasih tersirat rasa syukur, seperti syukur karena kebaikan orang lain. 

Jadi, menurut saya mengucapkan terima kasih itu perlu,  bahkan harus.

Budaya mengucapkan terima kasih bagus karena membuat hubungan dengan orang lain lebih nyaman. Ucapan terima kasih, baik yang diterima maupun diberikan, membuat nyaman yang menerimanya, meskipun kadang dikatakan tanpa senyuman. Bagi kita orang timur, kata terima kasih selalu diiringi dengan tersenyum.

Sering saya mendapati orang-orang tidak mengucapkan terima kasih. Menurut saya, mungkin saja mereka tidak terbiasa mengucapkan terima kasih. Misalnya, saat mereka sedang membayar di kasir dan uangnya tidak cukup, masih beberapa Cent. Kekurangan beberapa Cent tersebut saya ikhlaskan, meskipun orang tersebut tidak saya kenal. Setelah saya relakan beberapa Cent kepada orang tersebut, dia tidak mengatakan terima kasih sama sekali. Dia hanya cukup mengatakan „Ok“.

Ada kemungkinan mereka tidak terbiasa. Mungkin saja mereka begitu tiba-tiba, sehingga mereka bisa saja tidak terpikir bilang terima kasih. Ada kemungkinan lain orang tersebut tidak bisa Bahasa Jerman. Sekarang, Jerman telah menjadi negara multikultural dan banyak orang juga bukan orang Jerman yang bisa jadi tidak mengerti Bahasa Jerman.

Kalau kita melakukan sesuatu yang baik pada orang lain, kemudian orang tersebut tidak mengucapkan terima kasih, maka ya sudahlah! Saya selalu berpikir memberi saja dan membuat kebaikan saja,  tidak perlu berharap orang mengucapkan terima kasih. 

Sejak kecil di rumah, anak- anak saya telah terbiasa mengucapkan terima kasih mulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, setelah kami selesai makan bersama, maka anak-anak hampir selalu mengatakan „Danke Mama für leckere Essen„  atau “Terima kasih mama untuk makanan yang enak.”

Demikian juga saya mengatakan terima kasih untuk anak- anak, apabila anak-anak membantu saya membereskan meja makan, dan lain sebagainya. Saat ini, anak- anak tidak tinggal di rumah lagi. Bila mereka datang, saya mengucapkan terima kasih juga untuk waktunya dan kedatangan mereka. 

Dalam keluarga, terkadang kita menyepelekan dan sudah biasa tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena hubungan sangat dekat. Tidak! Menurut saya, terima kasih itu perlu dalam relasi apa pun, seperti suami istri, orang tua dan anak, anak dan orang tua, dan seterusnya.

Saya yakin ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana akan menyenangkan dan membahagiakan. Kalau hal ini dibiasakan dari rumah, maka anak-anak pun tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih di luar rumah.

Menurut saya, ucapan terima kasih sangatlah perlu. Ucapan terimakasih disampaikan di mana saja, bila diperlukan, bahkan dengan orang yang tidak dikenal. Dari ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana ini, tentu akan membuat nyaman siapa saja.

Penulis: Iin Assenheimer yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram iinassenheimer.

(IG LIVE) Literasi Ibu Untuk Persiapan Kelahiran Bayi Prematur

Menutup akhir tahun 2024, Ruanita Indonesia menggelar diskusi ig live yang diselengggarakan tiap bulan dengan beragam tema yang menarik. Nah, program diskusi ig live ruanita juga meningkatkan promosi tema parenting yang mungkin belum banyak dibahas, mengingat tema ini masih dipandang personal. Hal ini termasuk tentang bagaimana pengalaman ibu melahirkan prematur dalam tema yang dibahas berikut ini.

Diskusi IG LIVE episode Desember 2024 mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Jerman dan di Indonesia untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar kelahiran bayi prematur yang mereka hadapi. Bagaimana mereka bertukar cerita dan informasi, sehingga memperkaya diskusi IG LIVE kali ini tentang pentingnya literasi kesehatan ibu dan anak, agar ibu dan anak sama-sama sehat.

Diawali dengan cerita Siwi yang melahirkan anak prematur di Jerman. Ia bercerita bagaimana pihak rumah sakit dan pemerintah Jerman begitu mendukung fasilitas pada saat ia melahirkan bayi prematur. Siwi merasakan bahwa pengalamannya ini tidak mudah dan begitu mengkhawatirkan baginya saat itu.

Bagi Siwi, kehadiran suami sangat berarti untuk mendukung pemulihan kondisinya setelah melahirkan bayi premature. Hal serupa juga dialami oleh Mosi yang menekankan pentingnya dukungan suami dan keluarga besar saat ibu baru saja melahirkan bayi premture.

Mosi merasa kagum dengan cerita Siwi tentang bagaimana kehadiran negara lewat fasilitas yang diterima Siwi setelah melahirkan. Siwi bahkan mendapatkan perhatian ekstra karena kelahiran bayi prematur, seperti asisten rumah tangga selama dua minggu hingga kondisinya pulih dan adanya tenaga ahli seperti dokter dan bidan yang membantu merawat bayinya yang masih prematur.

Bagi Siwi dan Mosi, kehadiran social support system seperti pasangan hidup, keluarga besar, hingga support group yang mengalami kelahiran prematur sangat membantu untuk meningkatkan pemahaman bagaimana menghadapi bayi yang lahir prematur, terutama persoalan psikologis yang tidak mudah dihadapi oleh para ibu yang memiliki bayi prematur.

Simak Diskusi IG Live selengkapnya berikut ini dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami:

(AISIYU) Ruang Aman Wanita

Nama pembuat foto: Helena Siwi

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: Ruang Aman Wanita

Keterangan foto: Duduk sendiri di sebuah taman merupakan juga tempat teraman wanita ketika rasa jenuh melanda. 

Sekedar hanya duduk melihat keadaan sekitar pun bisa menjadi pelipur rasa karena menghirup udara segar, mendengar kicauan burung, dan berdiam sejenak bisa membuat kita untuk recovery sesaat.

(AISIYU) Hadiah Ulang Tahun dari Penganiaya

Nama pembuat foto: Go Suan Ny

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: Self Potrait (kiri) dan Hadiah Ulang Tahun dari Penganiaya (kanan)

Keterangan foto: (Kiri) Dipotret oleh seorang difabel menggunakan ujung lidah, yang juga adalah penyintas kekerasan. Sejak kecelakaan mobil tahun 2017, saya lumpuh total dari leher ke bawah dan dirawat di rumah oleh suster. 

Beberapa suster perawat melakukan kekerasan, dari pelecehan fisik hingga pelecehan sek***** pada terakhir Agustus 2024 lalu.

Semua suster perawat yang terlibat sudah diproses hukum.

(kanan) Salah satu suster perawat tetap saya cuti 6 minggu, dan seorang suster perawat pengganti datang pada pertengahan Agustus 2024.

Dia melakukan pelecehan sek**** dan memberi saya hadiah ulang tahun berupa lukisan diri saya, yang menggambarkan seorang gadis kecil tela*****, jongkok dengan tangan memegang kepala, kesakitan, karena rambut panjangnya yang hitam pekat ditarik.

(AISIYU) Lampu di Jalan

Nama pembuat foto: Mariska Ajeng Harini

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: Lampu di Jalan

Keterangan foto:

Tidak bisa dipungkiri malam hari bukan waktu yang tepat untuk perempuan berada di luar rumah, salah satu alasannya adalah kurangnya lampu penerangan di jalan.

Lampu-lampu di jalanan bukan hanya mempercantik kota, tetapi juga menjadikan jalanan sebagai ruang aman untuk perempuan di malam hari.

(AISIYU) Butuh Teman Bercerita

Nama pembuat foto: Anna

Lokasi negara tinggal: Jerman

Judul foto: “Butuh Teman Bercerita: Program Konseling Online Ruanita”

Keterangan foto: Per Agustus 2024, Ruanita Indonesia telah melayani sesi konseling online berbahasa Indonesia kepada lebih dari 60 orang yang tinggal di berbagai lokasi negara, sejak 2021. Program ini diselenggarakan secara gratis dan sukarela oleh Anna Knöbl, setiap Selasa dan Kamis pukul 18.00-20.00 waktu Eropa Tengah. Mayoritas peserta konseling online adalah perempuan Indonesia yang tinggal di mancanegara.

(SIARAN BERITA) Diskusi Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja

Jerman, 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, Ruanita Indonesia dengan dukungan KJRI Frankfurt dan Komunitas ALZI Jerman sukses menyelenggarakan diskusi bertema “Sehat Secara Mental, Produktif Secara Optimal” di Aula KJRI Frankfurt.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, khususnya di lingkungan kerja, yang sesuai dengan tema World Mental Health Day 2024.

Acara ini menghadirkan Fransisca Hapsari, Relawan Ruanita di Jerman dan mahasiswi PhD Psikologi di Technische Universität Darmstadt, sebagai pemateri pertama. Pemateri kedua adalah Sven Juda, mahasiswa (M.Sc.) Maastricht University Belanda, yang berfokus pada Psikologi Industri dan Organisasi.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Konjen KJRI Frankfurt Antonius Yudi Triantoro yang menegaskan pentingnya kesehatan mental dalam mendukung produktivitas dan hubungan kerja yang harmonis. Sebagai moderator diskusi, Relawan Ruanita lainnya, yakni Sesilia Susi, yang merupakan lulusan (M.A.) Hochschule Schmalkalden yang sedang bekerja sebagai Finance Staff di IOM, Berlin.

Diskusi dihadiri oleh para pekerja Indonesia di Jerman dan sejumlah warga Indonesia lainnya, yang datang langsung ke Aula KJRI Frankfurt ataupun mengikutinya secara daring via zoom meeting. Tujuan diskusi ini berfokus pada cara mengenali gejala awal gangguan kesehatan mental di tempat kerja serta strategi praktis untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan mental.

Sesi utama dimulai dengan pemaparan materi, yang menjelaskan definisi kesehatan mental di tempat kerja, gejala-gejala awal gangguan mental yang perlu diperhatikan, serta solusi dan strategi untuk menjaga keseimbangan mental di lingkungan kerja.

Selain itu, materi tentang situasi praktis dan kontekstual di Jerman juga turut dibagikan di sini. Sesi ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana peserta berbagi pengalaman dan menanyakan tips lebih lanjut terkait menjaga kesehatan mental di tempat kerja.

Pada kesempatan ini, Ruanita Indonesia sebagai social support system di mancanegara berkesempatan untuk ramah tamah dan berbincang dengan warga Indonesia di Frankfurt untuk memperkenalkan layanannya, terutama bagi mereka yang membutuhkan dukungan sosial.

Ruanita Indonesia, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk isu kesehatan mental dan kesetaraan gender bagi warga Indonesia di mancanegara, terus berupaya mempromosikan pentingnya kesehatan mental sebagai bagian integral dari kesejahteraan hidup.

Untuk materi informasi, dapat disimak lewat rekaman berikut di kanal YouTube kami:

(CERITA SAHABAT) Ada Banyak Alasan Memilih Menjadi Vegan

Halo, sahabat RUANITA. Perkenalkan nama saya Rita, yang sekarang tinggal di Hamburg, Jerman. Saya sudah tinggal di Jerman selama lebih dari 16 tahun. Sehari-hari, saya bekerja sebagai Florist. Saya senang membicarakan seputar nutrisi makanan dan gaya hidup, seperti tentang tema vegan, yang sekarang sedang menjadi trend tersendiri di dunia. 

Berbicara tentang gaya hidup vegan dan vegetarian, bisa jadi tak banyak orang Indonesia paham tentang kedua istilah tersebut atau membedakannya. Amat sangat disayangkan bahwa masih banyak yang mengira bahwa vegan itu Lifestyle miskin.

Mereka yang memilih menjadi vegan atau vegetarian masih dibilang miskin, terutama di Indonesia.  Banyak orang Indonesia yang awam berpikir bahwa orang tidak mampu membeli daging yang harganya begitu mahal, sehingga mereka menggantinya dengan tempe atau tahu. Menurut saya, hal ini mungkin dipicu dengan persepsi bahwa kalau dulu di Indonesia muncul pengganti protein daging, yakni tahu dan tempe.

Pemikiran tersebut masih melekat di orang Indonesia dari generasi ke generasi. Meskipun sekarang persepsi tersebut tergantikan dan lebih baik, mengingat teknologi komunikasi yang cepat dan mudah diakses, karena tempe dan tahu ternyata baik juga untuk nutrisi tubuh.

Hal tersebut menunjukkan ada peningkatan informasi nutrisi yang membaik. Informasi lainnya juga menunjukkan betapa pentingnya, kita menjaga lingkungan terutama dari segi konsumsi makan kita juga. 

Berbicara segi konsumsi, pandangan orang awam juga tampak dari kekhawatiran bahwa menikmati makanan tanpa daging itu berarti kurang nutrisi dalam hidupnya. Padahal, hidup vegan bukan berarti kekurangan nutrisi loh. Banyak sumber protein yang bisa diperoleh dari sayuran hijau atau kacang-kacangan, mushrooms atau tahu/tempe, dll.

Lainnya, seperti produk makanan laut bisa menjadi sumber makanan juga. Misalnya, seaweed yang sekarang menjadi alternatif sumber omega dan dijadikan produk makanan yang dijual di pasaran. Atau, rumput laut sendiri sedang banyak diteliti dan dimanfaatkan di industri makanan. Ini semua dimaksudkan untuk memberikan informasi nutrisi bahwa makanan tidak hanya dari daging semata. 

Kembali ke soal pilihan hidup menjadi vegan dan vegetarian, itu semua tergantung pada alasan pribadi. Ada anggapan bahwa mereka memilih hidup vegan atau vegetarian karena ingin menurunkan berat badan. Sejauh ini, belum ada teman-teman di sekitar saya yang memilih hidup vegan karena mereka ingin turun berat badan.

Kebanyakan dari mereka yang memilih hidup vegan, lebih disebabkan oleh alasan perlakuan buruk terhadap hewan. Lebih tepatnya, mereka merupakan penyayang binatang. Menurut saya, ada juga yang berpendapat mereka memilih vegan karena produksi daging itu membutuhkan banyak air, sehingga tidak ramah lingkungan.  

Lalu, bagaimana dengan masyarakat Indonesia? apakah gaya hidup vegan dan vegetarian juga dipahami dengan baik oleh masyarakat Indonesia? Menurut saya, belum banyak masyarakat luas di Indonesia memahami vegan dan vegetarian. Kalau pun mereka paham soal vegan dan vegetarian, saya pikir pengetahuan tentang vegan dan vegetarian masih minim dan belum merata.

Saya pikir orang-orang di Indonesia perlu lebih banyak informasi dan edukasi soal nutrisi sehat, tidak melulu soal daging saja. Masyarakat perlu diperkenalkan tentang sumber makanan alternatif, tidak hanya beras saja tetapi ada banyak pilihan makanan pengganti beras saja. 

Lainnya, kita bisa juga beralih untuk memanfaatkan pangan lokal dengan mulai menanam kebutuhan pangan keluarga di perkarangan rumah, misalnya cabai, tomat, dan lainnya seperti orang-orang di Jerman.

Dengan begitu, masyarakat lebih banyak mengonsumsi makanan yang sehat bernutrisi dari kebun sendiri, yang mengedukasi anak-anak tentang pentingnya makan sayur misalnya. Bukankah aneka warna makanan dengan sayuran dapat memikat selera makan?

Sebenarnya, di Indonesia banyak juga masyarakat yang tidak mengkonsumsi daging. Namun, alasan mereka tidak makan daging lebih disebabkan kepada ketidaksanggupan mereka membeli daging. Harga daging itu mahal sekali di pasaran Indonesia. Kesadaran orang di Indonesia untuk tidak makan daging, kebanyakan bukan karena peduli lingkungan.

Contohnya, kerabat terdekat saya di Indonesia yakni nenek dan sepupu saya. Mereka benar-benar vegan. Saya pun bertanya, apa alasan yang membuat mereka memilih hidup vegan.  Mereka pun menjawab bahwa mereka merasa trauma dengan bau amis dari darah hewan. Selain itu, mereka juga takut akan hewan.

Di sisi lain, mereka berdua tidak menyadari bahwa pilihan hidup vegan sekarang sedang menjadi trend gaya hidup di dunia sebagai akibat kesadaran akan promosi isu lingkungan hidup dan pengurangan polusi.

Hal menarik lainnya adalah ketika kita berbicara soal vegan dan vegetarian, kita harus berhadapan dengan isu praktik hidup yang sulit. Padahal, memilih hidup makan vegan dan vegetarian itu tidak sulit loh. Di Indonesia, konsumsi daging tidak seperti di Jerman.

Kita juga bisa memanfaatkan makanan asal Indonesia yang sudah mendunia, seperti tahu dan tempe misalnya. Kita punya makanan sejenis salad, mulai dari gado-gado, lotek, ketoprak, asinan, hingga rujak, dan lainnya yang bisa dinikmati tanpa konsumsi daging sama sekali. Kita punya lalapan dan aneka tumisan yang begitu nikmat dengan aneka rempah-rempah. 

Di Jerman, tempat tinggal saya sekarang, mereka telah membuat klasifikasi untuk kelompok makanan vegan dan vegetarian. Kita juga bisa dengan mudah menemukan tahu di setiap supermarket di Jerman. Produk makanan vegan tidak hanya ditemukan di supermarket khusus, tetapi sekarang tersedia hampir di setiap supermarket. 

Di Indonesia, justru sebenarnya jauh lebih mudah karena kita dikenal sebagai negara agraris yang punya banyak sayuran yang melimpah ruah. Sayuran di Indonesia bisa tumbuh dengan mudah setiap waktu, sementara di Jerman sayuran tentu tidak tumbuh ketika musim dingin.

Di Indonesia, kita punya sajian makanan vegan yang tidak membosankan seperti yang saya sebutkan di atas. Di Indonesia, kita bisa membeli aneka kebutuhan di pasar tradisional atau kita bisa dengan mudahnya datang ke kebun tetangga dan membelinya dengan mudah. 

Di Jerman, produk lokal seperti pasar tradisional dijajakan tidak setiap waktu. Ada yang mingguan (Wochenmarkt), atau hanya hari-hari tertentu saja. Harga pangan yang dijual di pasar produk lokal bisa empat kali lipat lebih mahal, ketimbang di supermarket biasa.

Biasanya ini disebabkan oleh perawatan sayuran dan pangan yang berbeda dari yang dijual di supermarket. Si penjual mengatakan bahwa mereka tidak menggunakan pestisida misalnya. Perawatan tanpa pestisida membutuhkan banyak waktu dan membutuhkan alternatif ramah lingkungan lain untuk membasmi hama.

Seperti ekosistem natural di alam, ulat dimakan oleh ayam. Dengan kata lain, mencari musuh alami hama lain agar mengurangi populasi hama jahat.  Kehadiran pasar lokal di Jerman juga didukung oleh masyarakat setempat untuk mendukung ekonomi lokal para petani yang telah bekerja. 

Berbicara tentang vegan, kadang ada juga anggapan bahwa itu semua perlu biaya yang tak murah. Berkaca dengan kehidupan di Jerman, menurut saya, apa pun pilihan hidup yang dipilih seperti vegan, vegetarian atau pemakan daging juga memiliki biaya konsumsi yang sama-sama mahal.

Di Jerman, harga daging tidak jauh berbeda dengan sayuran dan itu bergantung pada di mana mereka membelinya. Di Wochenmarkt atau pasar “kaget” tradisional itu harga daging terbilang lebih mahal lagi, dibandingkan di supermarket.

Daging diklasifikasikan mulai dari biasa, bio, hingga daging regional misalnya. Serupa dengan daging, membeli sayuran dan buah di pasar tradisional semacam “Wochenmarkt” di Jerman pun jauh lebih mahal. Penjualan sayuran di Jerman bergantung musim. Misalnya, kita bisa menemukan spargel atau asparagus yang dijual pada waktu tertentu saja. 

Di Indonesia, harga sayuran dan daging begitu berbeda jauh. Kemungkinan hidup vegan di Indonesia atau tanpa daging mungkin jauh lebih hemat. Apalagi kalau kita bisa berkebun sendiri, tentu jauh lebih berhemat untuk mengonsumsi tanpa daging.

Berkebun juga menjadi pilihan banyak orang-orang di Jerman. Selain lebih hemat, berkebun di Jerman juga bisa menjadi lebih sehat dan lebih terjamin kualitas pangan yang ingin dikelola. Kita bisa mulai memilih benih bibit sayuran atau buah usai musim dingin, yang semuanya begitu mudah didapat di supermarket.

Kalau tentang resep mengolah makanan vegan, saya pikir itu kembali kepada preferensi masing-masing individu. Jika kita ingin berhemat, kita bisa praktik masak sendiri di rumah. Kini tersedia berbagai kemudahan untuk mencontek resep di internet. Bila kita bisa masak sendiri di rumah, tentu kita bisa menyantapnya berkali-kali.

Memasak di rumah juga jauh lebih sehat, ketimbang membeli makanan di restoran. Di Jerman, kita perlu berpikir ulang untuk jajan atau makan di restoran. Untuk tips dari saya, kita bisa mulai dengan resep berbagai menu tempe dicampur sayuran. Jika suka sayur atau berkuah, coba memasak sayur lodeh, mie Ramen atau mie Udon. Biasanya mi tersebut sangat cocok untuk dibuat vegan. Kita bisa menggantikan menu daging dengan mushroom atau jamur sebagai alternatif daging. 

Oh ya, sebagai informasi nih kalau kalian ingin punya peluang usaha di industri makanan, sahabat Ruanita bisa mencoba industri makanan vegan. Pertama kali datang ke Jerman, gaya hidup vegan tidak sepopuler seperti sekarang loh. Kini semakin banyak orang beralih ke gaya hidup vegan karena alasan lingkungan hidup, sebagaimana minat terbesar orang-orang di Jerman.

Banyak juga restoran yang kini mengusung tema vegan dan vegetarian juga loh. Mungkin di Indonesia, industri makanan vegan dan vegetarian bisa berpotensi untuk menjadi pasar tersendiri bagi orang-orang yang memang tidak ingin mengonsumsi makanan daging. Misalnya, orang tidak mengonsumsi daging karena alasan agama, alasan kesehatan hingga alasan gaya hidup. 

Terakhir nih buat sahabat Ruanita, jangan pernah berpikir bahwa menjadi vegan atau vegetarian akan menjadi kekurangan nutrisi. Untuk berubah haluan konsumsi harian, kalian bisa perlahan-lahan mengurangi konsumsi daging sedikit demi sedikit.

Selain itu, kalian perlu juga berkonsultasi ke dokter atau ahli gizi, sebelum kalian secara total menjadi seorang vegan. Bagaimana pun kondisi tubuh setiap orang ‘kan berbeda-beda ya! Bagaimana menurut kalian semua?

Penulis: Rita, yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram lavendula_rita.

(SIARAN BERITA) Pemutaran Perdana Film Dokumenter “Dua Kali” dan Diskusi Bertema Kesehatan Mental

Hamburg, 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, RUANITA Indonesia bekerja sama dengan KJRI Hamburg dan PPI Hamburg akan menyelenggarakan acara Pemutaran Perdana dan Diskusi Film “Dua Kali”.

Acara ini akan berlangsung pada Sabtu, 12 Oktober 2024 bertempat di Aula KJRI Hamburg, mulai pukul 13:30 hingga 16:00 CEST.

Film “Dua Kali”, yang diproduksi secara sukarela oleh relawan RUANITA, mengangkat isu-isu seputar kesehatan mental yang masih dianggap tabu dalam banyak masyarakat, terutama bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.

Film dokumenter ini mengisahkan perjalanan perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri dan menghadapi tantangan terkait kesehatan mental.

Melalui film ini, RUANITA berharap dapat mengurangi stigma terhadap orang dengan gangguan mental, serta membangun solidaritas bagi mereka yang sedang berjuang dalam kesunyian.

Acara ini terdiri dari dua sesi utama, yakni pemutaran film dan diskusi mendalam bersama para ahli dan pembuat film. Aulia Farsi, psychiatric nurse di Jerman, dan Andi Arieta Amata Umar, Ketua PPI Hamburg, akan hadir sebagai penanggap dalam diskusi.

Selain itu, Ullil Azmi, sutradara film, serta Mariska Ajeng Harini, koordinator proyek film, juga akan berbagi pandangan mengenai proses produksi dan tujuan film ini.

Melalui acara ini, RUANITA berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia di Jerman tentang pentingnya kesehatan mental, sekaligus menyediakan ruang aman bagi mereka untuk berbagi pengalaman hidup di perantauan.

RUANITA juga berkomitmen untuk terus mendukung komunitas Indonesia di luar negeri dalam mengatasi tantangan kesehatan mental melalui pendekatan berbasis nilai dan sistem dukungan sosial.

RUANITA – Rumah Aman Kita, adalah komunitas digital yang memberikan dukungan dan psikoedukasi kepada perempuan Indonesia di mancanegara, dengan fokus pada kesetaraan gender, kesehatan mental, dan berbagi praktik hidup yang positif di luar negeri.

Melalui program diskusi dan menonton film bertema kesehatan mental ini, RUANITA berharap bisa mendorong lebih banyak percakapan terbuka tentang kesehatan mental dan memberikan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia mengenai sistem layanan kesehatan mental di luar negeri, khususnya di Jerman.

Untuk informasi lebih lanjut atau pendaftaran, silakan kunjungi situs web kami di www.ruanita.com atau hubungi kami di info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Jadi Advokat Kesehatan Mental Untuk Patahkan Stigma

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, Ruanita Indonesia menghadirkan program bulanan Cerita Sahabat Spesial (CSS). Pada episode Oktober 2024, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita sekaligus relawannya yang tinggal di Jerman untuk berbagi pengalaman pribadi seputar kesehatan mental.

Dia adalah Mariska Ajeng Harini, yang sekarang berprofesi sebagai seorang guru TK yang tinggal di Hamburg. Sebagai koordinator proyek film dokumenter “Dua Kali” lewat Ruanita Indonesia, Ajeng ingin bersuara lebih lantang tentang stigma yang selama ini masih melekat tentang kesehatan mental. Ajeng menjadi sosok inspiratif yang menceritakan perjalanannya melawan berbagai gangguan mental.

Ajeng mengungkapkan bagaimana pada tahun 2021 ia mengalami serangan depresi dan gangguan kecemasan yang berulang, menyebabkan ia menangis tanpa sebab, dan dihantui ketakutan tentang masa depan.

Setelah melewati masa sulit ini, Ajeng memutuskan untuk mencari bantuan profesional dan didiagnosis dengan depresi serta gangguan kecemasan, yang kemudian diperparah dengan OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) dan Avoidant Personality Disorder.

Dalam CSS ini, Ajeng menceritakan betapa sulitnya stigma yang melekat pada kesehatan mental, terutama orang-orang Indonesia. Ia berbagi pengalaman tentang sulitnya mendapatkan akses ke terapi di Jerman, sehingga ia harus menjalani perawatan di psikiatri atau rumah sakit jiwa.

Salah satu momen penting dalam video ini adalah ketika Ajeng menekankan pentingnya mencari bantuan yang tepat dari psikolog atau psikiater dan menghindari self-diagnosis, yang sering kali dilakukan oleh banyak orang.

Tujuan utama dari video CSS ini adalah mematahkan stigma terhadap gangguan mental, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental.

Ajeng menyampaikan bahwa penyakit mental tidak bisa dianggap remeh, dan melalui pengalamannya ia berharap dapat membantu orang lain memahami bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Program CSS ini juga bertujuan untuk memberikan dukungan dan inspirasi bagi sahabat Ruanita yang mungkin menghadapi tantangan serupa. Ajeng menutup ceritanya dengan pesan kuat bahwa orang dengan gangguan mental bisa sembuh, seperti yang ia alami setelah didiagnosis sembuh dari OCD pada tahun 2023.

Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus mengedukasi dan meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental melalui berbagai program, salah satunya adalah Cerita Sahabat Spesial yang dirilis setiap bulan.

Dengan program ini, diharapkan semakin banyak orang yang tergerak untuk membuka diri dan mencari bantuan, serta bersama-sama mematahkan stigma seputar kesehatan mental di masyarakat.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut:

(IG LIVE) Bagaimana Temukan Passion dalam Berkarier?

Tentunya, ada banyak pertimbangan mengapa orang harus meninggalkan karier demi mengejar passion. Ada yang berhasil dalam menekuni satu karier dalam hidup mereka, tetapi ada pula yang telah berganti karier dan belum mendapatkan passion yang dicarinya.

Lewat program diskusi IG Live tiap bulan, Ruanita Indonesia lewat akun instagram ruanita.indonesia yang dipandu oleh Zukhrufi Sysdawita atau yang disapa Rufi. Dia adalah relawan Ruanita Indonesia yang tinggal di Jerman, memandu obrolan seputar karier dan passion selama 30 menit. Rufi juga merupakan lulusan Master Governance and Public Policy dari University of Passau, Jerman.

Diskusi ini berhasil mengundang Tyka Karunia, perempuan Indonesia yang tinggal di Spanyol. Dia membagikan pengalamannya dalam membangun startup di bidang pariwisata yang bertujuan untuk menjembatani pengusaha UMKM Indonesia dengan pasar internasional. Ia juga menekankan pentingnya mengejar passion yang sejalan dengan minat pribadi dan tanggung jawab yang dimiliki.

Karena masalah teknis, diskusi IG Live tidak berhasil mengundang Putri Trapsiloningrum, seorang konsultan e-commerce di Jerman, pada kesempatan ini. Topik mengenai tantangan berkarier di Eropa turut dibahas. Tyka mengakui adanya perbedaan budaya, lingkungan, serta hambatan psikologis yang mempengaruhi proses adaptasi dan keberhasilan di lingkungan kerja.

Pada akhirnya, diskusi IG Live ini sepakat bahwa komitmen dan dukungan lingkungan, baik dari keluarga maupun rekan kerja, menjadi faktor penting dalam keberhasilan karier. Diskusi ini berlangsung selama 40 menit, di mana para peserta diajak untuk berinteraksi melalui kolom komentar dan bertanya seputar cara menemukan passion dalam karir mereka sendiri.

Acara diskusi ini juga menjadi ajang promosi untuk program mentoring karier perempuan di Eropa Barat yang akan diselenggaraka Ruanita dalam waktu dekat. Program ini akan mendorong peserta dapat belajar tentang pembuatan CV dan surat lamaran, khususnya untuk berkarier di Eropa.

Simak selengkapnya diskusi IG Live episode Eropa ini di kanal YouTube kami: