KALIMANTAN SELATAN, 18 Oktober – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Organisasi Kesmenesia serta Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) di Kalimantan Selatan menyelenggarakan diskusi online lintas negara pada hari ini.
Kegiatan ini mengusung tema “Akses Layanan Kesehatan Mental Saat Genting dan Bencana”, sesuai dengan fokus peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 secara global tahun ini.
Acara dihadiri lebih dari seratus orang yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom ini diikuti oleh anggota IPKJI, mahasiswa keperawatan jiwa, praktisi kesehatan jiwa, serta masyarakat umum yang tertarik dengan isu lintas budaya dalam kesehatan mental.
Diskusi dibuka oleh Maria Frani Ayu, perawat jiwa sekaligus koordinator penyelenggara, dilanjutkan dengan sambutan dari Achmad Syamsudin, Ketua IPKJI Kalimantan Selatan.
Sesi utama menghadirkan narasumber Aulia Farsi, perawat jiwa di Jerman sekaligus Co-founder Kesmenesia, yang berbagi pengalaman mengenai profesi perawat jiwa di Jerman, mulai dari sistem pendidikan, peran, hingga tantangan di lapangan.
Selain itu, Anna Knöbl, pendiri Ruanita Indonesia, juga membagikan praktik baik mengenai akses layanan kesehatan jiwa di Jerman khususnya pada situasi darurat dan bencana.
Diskusi semakin interaktif dengan sesi tanya jawab berdurasi hampir satu jam, di mana peserta antusias menyampaikan pertanyaan seputar layanan kesehatan mental lintas negara. Acara kemudian ditutup dengan rangkuman serta pesan peneguhan dari Maria Frani Ayu.
Melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan wawasan mengenai sistem layanan darurat kesehatan mental di Jerman, seperti: unit gawat darurat psikiatri, hotline krisis 24 jam, serta tim intervensi cepat komunitas, yang dapat menjadi inspirasi dalam memperkuat peran perawat jiwa di Indonesia.
Penyelenggara berharap diskusi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antarprofesi kesehatan jiwa di lintas negara.
Apa yang terjadi setelah lulus kuliah di luar negeri? Apakah karier langsung melesat, atau justru penuh tantangan yang tak terduga?
Pertanyaan ini menjadi benang merah dari perbincangan hangat antara Aini, host Jibber-Jabber dari Norwegia, dan Atika, seorang perempuan Indonesia yang baru menyelesaikan studi magisternya di Jerman.
Di episode keempat ini, Atika membagikan kisahnya yang jujur, inspiratif, dan penuh pembelajaran, tentang berani keluar dari zona nyaman, meniti pendidikan di negeri orang, hingga realita keras dunia kerja internasional.
“Merantau” adalah kata kunci yang mengawali perjalanan Atika. Lahir dan besar di Yogyakarta, ia memutuskan melanjutkan pendidikan S2 di Jerman untuk mengejar pertumbuhan pribadi dan profesional.
“Aku ingin keluar dari zona nyaman,” katanya. Alasan lainnya? Jerman menawarkan banyak program magister tanpa biaya kuliah dan biaya hidup yang relatif terjangkau dibanding negara Eropa Barat lainnya.
Atika mengambil program Development Studies di Universitas Passau, sebuah bidang interdisipliner yang mencakup ekonomi, politik, sosiologi, hingga isu-isu keberlanjutan global.
Tujuannya jelas: membangun karier di bidang kerja sama pembangunan internasional (international development cooperation), sebuah bidang yang sejalan dengan pengalamannya bekerja sebelum S2.
Namun, seperti banyak dari kita, arah karier ini tidak langsung terbentuk sejak awal kuliah. Justru pengalaman kerja di lapanganlah yang memperkuat keinginannya melanjutkan pendidikan dan memperluas jejaring global.
Meski lulus dengan semangat dan rencana, Atika menghadapi realita pasar kerja di Jerman yang kompetitif dan tidak selalu ramah pada internasional.
“Lingkungan kerja di sini masih banyak yang mensyaratkan bahasa Jerman bisnis,” ujarnya. Belum lagi kompleksitas visa, preferensi terhadap kewarganegaraan tertentu, serta dinamika politik global yang memengaruhi proyek-proyek pembangunan internasional.
Bahkan di bidang yang identik dengan kerja sama antarnegara seperti international development, Atika tetap merasakan tantangan tinggi sebagai warga negara asing. Kompetisi tidak hanya datang dari sesama mahasiswa internasional, tetapi juga dari lulusan lokal dan global lainnya.
Dari semua strategi pencarian kerja yang ia coba—magang, career fair, dan LinkedIn, Atika menekankan satu hal: jaringan (networking).
“Dulu aku nggak punya network di Jerman sama sekali. Sekarang, aku sudah punya beberapa orang yang bisa aku hubungi, minta feedback, atau sekadar diskusi,” ujarnya.
Prosesnya memang lambat, penuh keraguan, dan terkadang menyulitkan mental. Tapi justru dari langkah-langkah kecil inilah peluang besar muncul.
“Yang penting mulai dulu. Satu langkah membawa ke langkah berikutnya. Jangan tunggu semuanya siap.”
Bagi Atika, merantau bukan hanya tentang pencapaian profesional, tapi juga perjalanan menuju versi terbaik dirinya.
“Kadang kita gagal dan merasa belum berhasil. Tapi sebenarnya kegagalan itu adalah pencapaian juga, karena kita belajar dari situ,” katanya menutup obrolan dengan refleksi yang menyentuh hati.
“Baby steps. One step at a time. Karena sering kali kita terlalu keras sama diri sendiri, padahal kita sedang tumbuh.”
Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad
Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.
Dalam program bulanan diskusi Podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita, Anna sebagai Podcaster didampingi oleh relawan Ruanita lainnya yakni Etty P. Theresia yang tinggal di Frankfurt, Jerman.
Diskusi podcast episode bulan September ini, dilakukan dalam rangka memperingati Hari Literasi Sedunia dengan menghadirkan kisah inspiratif dari perempuan Indonesia yang menjadi pemerhati dunia literasi anak-anak.
Informan dalam diskusi podcast RUMPITA episode ke-41 adalah Azizah Seiger, atau akrab disapa Zee, yang menetap di Austria sejak 14 tahun lalu dan merupakan co-founder Seger Reading Club, sebuah komunitas literasi anak yang baru berdiri tapi penuh semangat dan visi besar di Indonesia.
Sebelum menyelami kisah Zee, Etty sempat berbagi tentang inisiatifnya mendirikan klub membaca buku anak di Jerman, yang dikenal Wortschatzbook Klub, komunitas membaca bersama yang aktif sejak 2019 dan kini rutin mengadakan pertemuan luring dua bulan sekali di Frankfurt. Menariknya, “Wordschatz” berasal dari bahasa Jerman Wortschatz, yang berarti “kosa kata”.
Fokus pada klub membaca yang dikelola oleh Zee, diberi nama Seger Reading Club, yang lahir dari kolaborasi antara Zee di Austria dan sahabatnya di Indonesia, yang berlokasi di Dusun Seger, Indonesia.
Kisah lahirnya komunitas ini bermula dari unggahan sahabatnya tersebut di media sosial yang menunjukkan anak-anak membaca dan menggambar di halaman rumahnya. “Langsung saya japri dan bilang: yuk kita bikin Reading Club,” cerita Zee penuh semangat.
Nama “Seger” sendiri ternyata bukan plesetan dari “Seiger” (nama belakang Zee), melainkan nama dusun tempat kegiatan membaca ini berlangsung.
Menurut Zee, berdirinya Seger Reading Club dilandasi dua jenis motivasi:
Motivasi eksternal: terinspirasi dari pejuang literasi di Lombok Utara, keluarga besar guru, serta semangat sahabatnya sendiri.
Motivasi internal: keinginan mendalam untuk menjadi bagian dari perubahan positif, didorong oleh nilai pribadi, hobi menulis, dan semangat memberi makna hidup.
“Ada keberanian yang harus kita miliki untuk menciptakan sesuatu yang berdampak. Dan keberanian itu datang dari kepercayaan diri dan mindset positif,” ujar Zee.
Sebagai ibu dari Yuna, balita 3 tahun yang tumbuh trilingual (bahasa Indonesia, Jerman, dan Inggris), Zee sangat memperhatikan penguatan literasi sejak dini. Ia konsisten membacakan buku, menciptakan rutinitas bedtime stories, dan memperhatikan pelafalan dalam setiap komunikasi.
Menariknya, Zee juga tidak menolak penggunaan teknologi. “Yuna belajar banyak dari kanal seperti Miss Rachel,” ujarnya. Namun, ia selektif, hanya memperbolehkan screen time lewat TV, bukan gadget genggam, untuk menjaga fokus dan keseimbangan bermain.
Yuna kini mampu mengenali huruf-huruf sejak usia dua tahun dan membaca kata-kata sederhana, bukti bahwa dukungan literasi di rumah bisa menghasilkan dampak besar bahkan sejak usia dini.
Di Seger Reading Club, anak-anak yang terbiasa dengan gadget awalnya tampak kurang tertarik pada buku. Untuk menyiasatinya, para relawan membacakan cerita dengan penuh ekspresi dan gerakan.
Sahabat Zee sendiri dan tim juga membuat video dongeng untuk diputar bersama menggunakan laptop. Ke depan, program akan menggunakan proyektor agar anak-anak bisa menonton bersama-sama.
“Banyak anak sekarang mengalami speech delay karena kebanyakan screen time,” tutur Zee. Seger Reading Club menjadi ruang alternatif yang bukan hanya menyenangkan, tapi juga menstimulasi kemampuan bahasa dan komunikasi.
Apa yang dilakukan oleh Zee di Seger Reading Club dan Etty di Wordschatzbook club, menunjukkan bahwa gerakan literasi bisa dimulai dari ruang sekecil apapun, asal ada tekad, keberanian, dan kolaborasi.
“Tanpa keberanian, tidak akan ada karya. Tanpa keinginan membantu, tidak akan ada perubahan,” kata Zee. Di tengah dominasi layar dan tantangan suara perempuan Indonesia di negeri rantau, menjadi pengingat bahwa kita semua bisa menjadi bagian dari solusi.
Simak diskusi PODCAST RUMPITA episode ke-41 berikut di kanal SPOTIFY dan pastikan FOLLOW agar kami dapat berbagi lebih lagi:
JERMAN, 29 Juni 2025 — Ruanita Indonesia, melalui platform daringwww.ruanita.com, menyelenggarakan sebuah diskusi online bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Program Au Pair di Eropa Barat dan Skandinavia: Peluang, Pengalaman, dan Aspek Hukum” pada Minggu, 29 Juni 2025, pukul 10.00–12.00 CET (15.00–17.00 WIB).
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita dalam menyuarakan perlindungan dan pemberdayaan perempuan Indonesia di luar negeri melalui edukasi dan ruang berbagi yang aman.
Program Au Pair telah menjadi salah satu jalur populer bagi generasi muda Indonesia untuk meraih pengalaman internasional.
Melalui skema ini, peserta—yang biasanya berusia muda—memiliki kesempatan tinggal di luar negeri, tinggal bersama keluarga angkat (host family), belajar bahasa baru, serta memahami budaya lokal secara langsung.
Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu semulus yang dibayangkan. Banyak calon Au Pair yang melangkah tanpa informasi cukup, bahkan hanya bermodalkan keinginan untuk “keluar negeri secepatnya”, tanpa mengetahui hak dan kewajiban, risiko hukum, dan tantangan hidup sebagai Au Pair di negara asing.
Akibatnya, tidak sedikit yang mengalami kesulitan—bahkan potensi eksploitasi—akibat minimnya bekal informasi dan dukungan.
Melihat fenomena ini, Ruanita Indonesia merasa perlu menghadirkan forum terbuka dan edukatif untuk memberikan informasi yang akurat, serta memperkuat pemahaman calon peserta terhadap realita program Au Pair, khususnya di kawasan Eropa Barat dan Skandinavia.
Acara ini menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang—baik mereka yang tertarik dengan program pertukaran budaya, mereka yang pernah menjadi peserta Au Pair, akademisi yang berminat akan budaya, maupun pihak berwenang dari pemerintah.
Diskusi akan dimoderatori oleh Asti Tyas Nurhidayati, relawan Ruanita Indonesia yang saat ini berdomisili di Islandia.
Susunan acara akan dimulai dengan sambutan dari Irjen Pol. (Purn) Desy Andriani, Deputi Perlindungan Hak Perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA RI), yang memberikan pengantar mengenai pentingnya perlindungan hukum dan edukasi sebelum mengikuti program internasional seperti Au Pair.
Dua pembicara utama yang akan membagikan pengalaman langsung adalah:
Lina Herliana, mantan peserta Au Pair dan kini mahasiswa di Finlandia. Ia memaparkan perjalanannya dari proses pendaftaran hingga kehidupan pasca-Au Pair.
Puji Sumarno, Au Pair yang saat ini sedang berada di Norwegia, yang berbagi tantangan dan keseharian sebagai bagian dari keluarga angkat di Eropa Utara.
Diskusi juga akan mendapatkan perspektif hukum dan perlindungan dari perwakilan pemerintah, yaitu Satriyo Pringgodhani, Koordinator Perlindungan WNI dan Konsuler di KBRI Berlin.
Ia menjelaskan bagaimana KBRI Berlin mendampingi WNI yang menjadi peserta Au Pair dan pentingnya mengikuti jalur resmi.
Selain itu, akan hadir seorang penanggap dari kalangan akademisi, yakni Vivid F. Argarini memberikan tinjauan sosial-budaya serta mengamati program Au Pair sebagai program pertukaran budaya, yang diminati oleh mahasiswa yang mencari peluang karier dan hidup di mancanegara.
Menurut Asti Tyas Nurhidayati, diskusi ini bukan sekadar forum berbagi cerita, melainkan juga “benteng informasi dan pelindung” bagi generasi muda Indonesia yang tertarik mengikuti program internasional.
“Melalui pengalaman nyata dan pembahasan legalitas, kami ingin memastikan bahwa adik-adik kita berangkat bukan hanya dengan semangat, tapi juga dengan bekal pengetahuan yang cukup,” ujarnya.
Diskusi ini terbuka untuk mahasiswa, lulusan baru, komunitas pecinta bahasa asing, serta masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih dalam tentang pertukaran budaya melalui jalur Au Pair.
Peserta tidak hanya dapat mengikuti acara melalui Zoom, tetapi juga dapat menyimak melalui YouTube Live di kanal Ruanita – Rumah Aman Kita.
Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) merupakan komunitas digital dan organisasi relawan yang berbasis manajemen nilai dan intervensi komunitas, dengan fokus pada perlindungan, pendidikan, dan penguatan advokasi perempuan Indonesia di luar negeri. Berbagai kegiatan telah dilakukan sejak pendiriannya, seperti diskusi daring, kampanye kesadaran hak migran, pelatihan keterampilan daring, hingga publikasi e-book edukatif.
Acara ini merupakan bagian dari program reguler yang mendorong keterlibatan aktif perempuan Indonesia dalam isu-isu global, sekaligus memperkuat perlindungan sosial dan hukum di ranah migrasi internasional.
Informasi lebih lanjut: Asti Tyas Nurhidayati (e-mail: info@ruanita.com)
Rekamannya dapat dilihat di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung keberlangsungan program kami:
Halo, sahabat Ruanita! Saya adalah Priskila, yang berasal dari Bandung, Jawa Barat dan kini menetap di Hamburg, Jerman. Saya adalah singer sekaligus songwriter juga. Dalam rangka World Music Day, saya ingin berbagi kisah tentang bagaimana musik telah menjadi bagian penting dalam perjalanan saya. Bagi saya, musik sangat berarti, terutama dalam mengatasi tantangan kesehatan mental.
Musik bagi saya bukan sekadar pekerjaan, melainkan medium untuk menyampaikan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sahabat Ruanita, saya percaya musik memiliki peran sebagai bahasa universal yang dapat menyentuh hati setiap orang, bahkan melampaui batas-batas budaya dan bahasa.
Ketika saya pertama kali pindah ke Jerman, saya merasa fase adaptasi yang berat. Saya sempat mengalami fase depresi, yang akhirnya memotivasi saya untuk menemukan cara penyembuhan atau healing.
Saya kemudian menjalani pendidikan musik di Pop Akademie Hamburg. Pada akhirnya, saya menemukan bahwa bermain musik bersama band di studio setiap hari, menyanyikan dan memainkan lagu ciptaan sendiri, ternyata memberikan efek penyembuhan yang luar biasa. Musik membantu memulihkan kepercayaan diri saya, yang sempat hilang, akibat tekanan di masa-masa sulit.
Melalui pengalaman itu, saya menyadari bahwa genre musik tertentu memiliki efek berbeda pada setiap individu. Ada yang merasa lega dengan mendengarkan musik metal atau rock, sementara yang lain, seperti saya, lebih menemukan kenyamanan dalam lagu pop atau balada. Kalau sahabat Ruanita, suka genre musik yang mana?
Musik kini menjadi bagian dari keseharian saya, baik sebagai pekerjaan maupun bentuk pelayanan sosial. Saya mengajar gitar di sekolah musik, memberi les privat, dan tampil di berbagai acara musik di Jerman, termasuk festival musik dan acara komunitas Indonesia.
Lebih dari itu, saya juga terlibat dalam kegiatan yang menggunakan musik sebagai alat untuk mendukung kesehatan mental. Saya memimpin kelompok bernyanyi di sebuah tempat tinggal bagi individu dengan gangguan mental. Bersama mereka, saya menyanyikan lagu-lagu yang mereka kenal atau pilih sendiri. Bagi saya, ini seperti menciptakan suasana yang penuh semangat dan kebersamaan.
Saya berpendapat bahwa musik adalah sarana untuk mengungkapkan isi hati yang sulit dijelaskan. Bahkan tanpa memahami bahasa sebuah lagu, orang tetap bisa merasakan jiwa yang terkandung di dalamnya. Musik menjadi alat untuk menyalurkan emosi yang terpendam, memberikan kepuasan tersendiri, dan membantu meningkatkan suasana hati.
Meskipun saya bukan terapis atau dokter, saya telah menyelesaikan pelatihan sebagai pendamping pemulihan, yang disebut dalam Bahasa Jerman, sebagai Genesungsbegleiter. Lewat peran ini, saya mendukung individu dengan gangguan kesehatan mental, berbagi pengalaman pribadi, dan menggunakan musik sebagai salah satu pendekatan kreatif untuk membantu mereka.
Sahabat Ruanita, saya percaya bahwa setiap orang membutuhkan sesuatu yang membuat hidup lebih berwarna. Itu bisa berarti sesuatu yang mereka cintai dan passionate terhadapnya. Tidak hanya musik, tetapi juga hobi atau aktivitas lain seperti menggambar, menulis, olahraga, atau mendaki gunung.
Pesan saya sederhana: temukan passion Anda. Sahabat Ruanita bisa melakukan apa yang disukai sebagai cara untuk meringankan stres, menghidupkan gairah, atau sekadar memberikan kesenangan.
Melalui program cerita sahabat ini, saya ingin menyampaikan bahwa harapan selalu ada, meski kadang terasa jauh. Temukan alasan untuk bertahan dan lakukan apa yang dicintai. Dengan begitu, hidup akan terasa lebih indah.
Terima kasih kepada Ruanita Indonesia yang telah memberi saya kesempatan untuk berbagi cerita ini. Saya harap pengalaman saya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang sedang berjuang.
Penulis: Priskila Wowor, Singer/songwriter, menetap di Hamburg, Jerman dan dapat dikontak via akun instagram priskila_wowor.
Sahabat Ruanita, saya menggunakan dating apps selama lebih dari enam tahun untuk mencari jodoh di Jerman. Saya bertemu dengan beragam laki-laki dari sana. Laki-laki pertama yang saya temui baik dan kami saling menyukai.
Walau pada akhirnya tidak berakhir dengan baik, tapi kali menyelesaikannya dengan baik-baik dan pamit. Laki-laki selanjutnya ada yang mirip, ada juga berbeda, ada mereka menghilang begitu saya tanpa jejak. Perilaku seperti ini sekarang disebut dengan ghosting.
Makna dari ghosting sendiri adalah menghilang tanpa jejak. Seperti hantu (ghost), orang yang melakukan ghosting tidak terlihat tanpa jejak. Menurut saya di-ghosting itu tidak enak. Saya sendiri sudah tidak ingat lagi berapa kali di-ghosting, tapi yang paling membekas di ingatan saya adalah kejadian pada tahun 2017-2018.
Waktu itu saya dekat dengan seorang laki-laki yang berbeda negara dengan saya. Dia tinggal di Belanda dan saya tinggal di Jerman. Kami pernah bertemu satu kali, saat saya ke Belanda untuk mengunjungi teman baik saya.
Kota tempat tinggal laki-laki ini sebenarnya hanya sekitar satu jam dari kota teman saya, tapi saat itu dia sebenarnya sedang tugas di Inggris. Dia sengaja pulang ke Belanda untuk bertemu saya di kota tetangga. Duh, bikin ge-er sekali ‘kan?
Sebelum dan setelah bertemu semuanya berjalan baik. Setiap hari kami berkomunikasi via tulisan atau telepon. Di telepon kami juga sudah membicarakan, bahwa perkenalan yang kami lakukan ini bertujuan untuk menikah, bukan hanya sekedar main-main saja.
Waktu itu kebetulan mendekati acara wisuda saya dari salah satu universitas di Jerman. Dia bersedia datang menjadi pendamping wisuda saya. Dia sudah setuju untuk mengambil penerbangan pagi dari Belanda ke Jerman karena acara wisuda baru di sore hari pukul 16.30.
Namun dua minggu sebelum saya wisuda, dia menghilang begitu saja tanpa kabar. Ketika itu kami sudah kenal kurang-lebih enam bulan, bukan waktu yang singkat.
Saya ingat, pesan saya di Whatsapp waktu itu berhari-hari belum contreng biru. Mungkin saking ingin menghindar dari saya, dia sampai tidak membuka pesan saya di handphone-nya, jadi hanya membacanya di smartwatch saja. Mungkin.
Itu hanya fantasi saya. Suatu saat tiba-tiba pesan tersebut bercontreng biru dan saya mendapatkan balasan dari dia, yang hanya bilang dia sedang sibuk. Mungkin dia tidak sengaja membuka pesan saya jadi terpaksa harus membalasnya. Mungkin. Itu adalah pesan terakhir yang saya dapatkan dari dia.
Selama saya menggunakan dating apps, saya pernah juga beberapa kali di-ghosting beberapa laki-laki, tapi laki-laki ini satu-satunya yang membuat saya sangat patah hati dan kecewa karena di-ghosting.
Mungkin karena saya sudah berharap banyak dari dia. Saya butuh waktu lama untuk sembuh dari patah hati saya. Sampai sekarang kejadian tersebut masih membuat saya sedih dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan dia.
Jujur, saya juga pernah ghosting ke orang lain, tapi biasanya yang baru mengobrol atau mungkin pernah bertemu sekali, tapi tidak pernah berbicara masalah serius, apa lagi sampai tentang niat menikah.
Benar-benar masih dalam tahap perkenalan awal. Saya melakukan itu biasanya karena tidak tahu dan tidak enak untuk menolak orang, jadi saya menghindari mereka dengan menghilang dari mereka.
Saya juga beberapa kali di-ghosting orang saat di tahap yang sama, tapi itu juga tidak terlalu membekas di ingatan saya. Mungkin karena memang masih baru kenal dan/atau saya sendiri juga tidak suka dengan mereka.
Tapi apa yang laki-laki di Belanda lakukan itu menurut saya kejam sekali. Saya sering memikirkan apa yang salah dari saya sampai dia tidak mengatakan langsung ke saya.
Apakah saya terlalu dominan? Mengapa dia menghilang begitu saja? Saya salah apa? Apa dia juga merasa tidak enak memutuskan saya, makanya menghilang? Apa dia ilfil a.ka hilang feeling ke saya? Begitu buruknya kah saya sampai dia ilfil dan ghosting saya? Dan pikir-pikiran lain yang membuat saya sedih juga tidak percaya diri.
Saya sempat mengirimkan pesan mengkonfrontasi dia. Saya bertanya mengapa dia keeping distance ke saya dan sebagai orang dewasa sebenarnya kita bisa berbicara jika ada masalah.
Saya juga bilang kalau saya merasa dia tidak punya respect ke saya karena apa yang dia lakukan. Hasilnya nihil, dia tetap tidak bergeming untuk membalas pesan saya. Saya sebenarnya juga ingin menuliskan hal lain ke dia, tentang saya memaafkan dia walau permintaan maaf itu tidak pernah saya dapatkan, tapi untungnya sahabat saya melarang saya untuk mengirimkannya.
Oh iya, mungkin 1-2 bulan, sejak dia ghosting saya, dia aktif lagi di dating app tempat kami berkenalan, padahal sebelumnya saat bersama saya sudah tidak aktif lagi.
Saya memerlukan waktu lama sampai akhirnya bisa mulai melupakan dia. Saat itu saya senang mencari quotes di Instagram yang bisa mewakili isi hati saya. Saya follow seseorang di Instagram yang banyak menulis komik strip tentang patah hati.
Suatu hari dia pos sebuah komik hanya dengan satu paragraf, “Was I not worth a goodbye?”. Saya menangis saat membaca itu. Ini seperti berasal dari hati terdalam saya. Apakah saya tidak berharga sampai seorang laki-laki berhenti menghubungi saya tanpa bilang apa pun?
Mungkin waktu itu saya me-repost komik tersebut di Whatsapp story saya, saya tidak ingat lagi, tapi seingat saya ada kenalan laki-laki, yang waktu itu dekat dengan saya dan tahu cerita saya di-ghosting laki-laki sebelumnya, menenangkan saya dengan bilang, “It’s not the worth of your, he showed his worth.”
Kata-kata itu menyejukkan saya yang sedang mellow. Mungkin sejak itu saya mulai bisa berdamai dengan diri sendiri. Apa pun alasan dia ghosting saya waktu itu, dia hanya menunjukkan buruknya nilai atau kualitas dia.
Sahabat Ruanita pernah mendengar istilah tsundoku atau bibliomania? Saya baru-baru ini saja mengenal istilah-istilah tersebut, tapi tenyata saya sudah lama menjadi salah seorang yang melakukan praktiknya. Apa sih tsundoku atau bibliomania itu?
Istilah ini ternyata mengacu pada seseorang yang lebih banyak membeli buku daripada membacanya. Ya, salah satunya adalah saya. Meskipun sudah mencoba untuk mengurangi belanja buku, tetap saja koleksi buku saya lebih banyak dari waktu yang bisa saya luangkan untuk membacanya.
Dari situ saya sempat terpikir untuk membuat kelompok baca bareng, bahasa kerennya sih book club ya. Selain untuk memberikan kesempatan buku-buku untuk dibaca orang lain juga, saya juga bermimpi bahwa lewat kegiatan itu saya bisa meluangkan waktu untuk semakin sering membaca dan menemukan teman untuk ngobrol tentang berbagai tema seru.
Beberapa tahun ide ini mengendap di kepala, sampai akhirnya terpikir, sepertinya harus mulai dari versi digital dulu. Maka lahirlah akun Instagram Wortschatz Book Club (@wortschatz.bookclub) di akhir tahun 2019, yang disusul dengan kanal membaca nyaring di Youtube dengan nama yang sama.
Mengapa namanya Wortschatz? Apalagi dicampur dengan Book Club, aduh, bahasa Jerman campur bahasa Inggris. Mana bahasa Indonesianya?
Nama ini saya pilih karena pertama, memang tujuan saya adalah sesama orang Indonesia yang tinggal di Jerman, atau orang Jerman yang tertarik akan buku dan bahasa Indonesia, sehingga mereka pasti sudah familiar dengan kata ini.
Alasan kedua, saya suka sekali terjemahan langsung dari kata Wortschatz. Meskipun kata Wortschatz artinya adalah „kosakata“ dalam bahasa Indonesia, namun jika diterjemahkan mentah-mentah kata ini mengandung sebuah arti yang indah: harta karun kata-kata. Coba bayangkan, betapa kata-kata adalah harta yang sangat berharga.
Buku anak sendiri selalu menarik untuk saya karena saya suka sekali melihat dan membaca buku yang berwarna-warni. Pada waktu saya mulai belajar bahasa Jerman, suami saya – yang pada saat itu bahkan belum berstatus sebagai pacar – membelikan saya sebuah buku anak berbahasa Jerman yang lucu sekali. Sejak saat itu, saya jadi sering mencoba untuk membaca buku anak untuk menambah kosakata.
Alasan lain mengapa saya tidak keberatan untuk membeli dan mengumpulkan buku anak adalah untuk memanjakan diri sendiri.
Meskipun saya tumbuh di dalam keluarga dengan banyak buku dan bahan bacaan di rumah, membeli buku anak dengan kertas tebal, full color dan berhalaman sedikit bukanlah prioritas karena untuk kami termasuk mahal sekali.
Buku anak masa kini pun isinya sangat beragam. Tidak seperti di masa kecil saya di mana pilihan kami adalah membaca dongeng nusantara cetakan stensil hitam putih yang penuh dengan titipan pesan moral atau cerita-cerita terjemahan putri-putrian Disney. Jadilah saya sangat menikmati berbagai buku bacaan anak yang bervariasi, seru dan juga menarik secara visual.
Sewaktu kecil orang tua saya rajin menceritakan dongeng Si Kancil dan membacakan nyaring buku, artikel surat kabar, bahkan serial komik Manusia Laba-Laba yang terbit setiap akhir pekan di koran lokal.
Karena itulah ketika berpikir-pikir, bagaimana ya caranya „berbagi“ buku tanpa harus mengirim buku fisiknya, saya terpikir untuk melakukan aktivitas membacakan nyaring atau read aloud.
Sebagai guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, saya juga merasa bahwa mendengarkan suara orang Indonesia yang membacakan kalimat-kalimat bahasa Indonesia dengan kecepatan yang terkontrol pasti juga membantu untuk memperkuat asosiasi antara tulisan dan ucapan kosakata bahasa Indonesia, melatih pendengaran sekaligus melatih pelafalan.
Saya sangat beruntung, karena saya mendapatkan kontak beberapa penerbit buku anak yang mengijinkan saya untuk membacakan buku-buku anak terbitan mereka, serta menampilkannya di kanal Youtube Wortschatz Book Club sebagai kegiatan non-profit.
Dalam beberapa tahun terakhir ada juga semakin banyak alternatif bacaan anak berkualitas yang tersedia secara legal secara digital yang boleh digunakan dalam kegiatan literasi anak.
Kalau kita berbicara tentang membaca, tentunya kita tak bisa lepas dari berbagai tujuan dari kegiatan membaca itu sendiri. Selain membaca untuk bersantai, bersenang-senang atau masuk ke dunia fantasi, kita juga membaca untuk mengumpulkan informasi.
Kita semua pasti pernah membaca buku demi menyelesaikan tugas di sekolah atau kampus, atau membaca buku manual untuk mengetahui cara mengoperasikan alat elektronik yang baru dibeli, atau membaca tabloid gosip untuk tahu berita gosip artis terbaru. Itu semua adalah informasi yang bisa kita dapatkan dari berbagai sumber bacaan.
Untuk menghemat waktu dalam mengumpulkan informasi, ada banyak teknik membaca yang seringkali dirangkum dalam istilah speed reading. Saya sendiri paling sering menggunakan dua teknik yang bernama scanning dan skimming.
Scanning adalah sebuah teknik di mana kita membaca sekilas sebuah teks, atau membaca bagian-bagian tertentu sebuah teks, untuk memahami inti utama dari isi teks tersebut. Sementara skimming adalah sebuah teknik di mana kita secara khusus mencari informasi tertentu dalam teks, misalnya ketika harus menjawab pertanyaan dalam ujian yang memuat bahan bacaan.
Menurut saya, penting sekali untuk mengenalkan kegiatan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan, sekaligus memperkaya pengetahuan. Oleh karena itu mengambil waktu untuk benar-benar menikmati seluruh aspek dari buku dan kegiatan membaca adalah fokus dari kegiatan membaca pada usia dini. Dalam kegiatan read aloud, kita mengeksplorasi sebuah buku dari gambar sampulnya, warna-warninya, sampai jalan cerita dan rima bahasanya.
Menanamkan prinsip bahwa kegiatan membaca adalah sesuatu yang menyenangkan ini penting karena pada saat anak mulai masuk sekolah, kegiatan membaca akan lebih banyak bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan pelan-pelan bergeser dari „kesenangan“ menjadi „tugas“.
Pada saat anak mulai banyak membaca di sekolah inilah pelan-pelan bisa diperkenalkan beberapa konsep dasar speed reading, misalnya seperti mengenali bahwa banyak ide utama dalam sebuah paragraf bisa ditemukan di kalimat pertama atau kalimat terakhir dari paragraf tersebut.
Hal ini di kemudian hari akan membantu anak untuk melakukan teknik scanning atau skimming secara sederhana, meskipun belum mengenal istilahnya.
Salah satu kelebihan utama dari kegiatan read aloud adalah mendekatkan anak dengan buku dan tulisan jauh sebelum anak bisa membaca sendiri.
Melalui pendekatan audio dan visual, kombinasi suara orang tua atau pendamping yang membacakan teks dengan ilustrasi dan bentuk huruf-huruf yang ada di halaman buku, anak mulai dibiasakan untuk memahami bahwa teks dan rangkaian huruf di atas kertas memiliki makna.
Dalam teks yang dibacakan nyaring, anak sudah biasa mengenali elemen 5W 1 H; apa yang terjadi, siapa yang melakukannya, di mana kejadiannya, kapan kejadiannya, mengapa terjadi, dan bagaimana bisa terjadi. Bukankah ini elemen-elemen umum dalam hampir semua cerita dan teks informatif?
Karena itu skill atau kemampuan yang kita dapatkan dari kegiatan read aloud menjadi modal kita untuk memahami teks tertulis ketika kita sudah bisa membaca sendiri, sebuah kelebihan yang juga direkam dalam berbagai penelitian yang dirangkum oleh Jim Trelease dalam bukunya The Read-Aloud Handbook (7th Edition, Penguin Books, New York, 2013).
Dalam kegiatan Wortschatz Book Club sendiri kami sering bertemu dengan banyak keluarga yang sudah secara rutin melakukan kegiatan read aloud di rumah.
Ada juga yang mengatakan bahwa mereka mempelajari teknik read aloud dari salah satu workshop singkat yang diberikan oleh Wortschatz Book Club dalam rangka Hari Anak Nasional 2021 dan sudah berhasil memraktikkannya di dalam keluarga.
Senang sekali mendengar sharing seperti ini, karena saya optimis bahwa anak-anak yang sudah biasa menikmati kegiatan membaca nyaring bersama keluarga akan punya kesan positif terhadap kegiatan membaca, dan semoga akan terus membaca sampai mereka dewasa.
Tentu buku cetak konvensional memiliki saingan berat di dunia keseharian. Perkembangan teknologi bisa menjadi peluang sekaligus tantangan dalam dunia buku.
Di satu sisi kemajuan teknologi memberikan semakin banyak kesempatan untuk membaca dalam berbagai format dan kesempatan. Di sisi lain, teknologi juga menciptakan banyak alternatif “hiburan“ yang lebih menarik dan serba instan jika dibandingkan dengan buku.
Saya mungkin sedikit kuno, namun saya cenderung berhati-hati dengan penggunaan AI atau kecerdasan artifisial untuk membantu membaca dan merangkum bahan bacaan. Meskipun tidak ada salahnya mencoba berbagai teknologi terbaru untuk membantu mempermudah hidup, namun banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, termasuk membaca, adalah skill atau kemampuan yang harus terus diasah.
Kemampuan untuk membaca secara kritis sangatlah penting dalam kehidupan modern yang semakin lama semakin mengaburkan batas antara dunia nyata dan dunia maya. Harapannya tentu saja agar para pembaca mampu dengan cepat mengenali informasi penting di dalam tulisan yang ditemukan di dunia nyata maupun dunia maya, dan tidak sekadar terjebak hanya membaca judulnya saja, alias terkena judul click bait.
Sejak pertengahan tahun 2023 Wortschatz Book Club juga secara rutin mengadakan kegiatan luring di kota Frankfurt am Main, saat ini fokusnya masih pada literasi anak. Dalam beberapa kesempatan, ada juga keluarga yang menanyakan mengenai kemungkinan untuk bersama-sama belajar bahasa Indonesia bersama anak-anak keturunan Indonesia.
Mungkin akan segera terwujud kegiatan ini? Mungkin juga suatu saat di masa depan meluas pada kegiatan literasi untuk seluruh anggota keluarga, bukan anak-anak saja? Mohon dukungan dan bantuan doanya ya, Sahabat Ruanita. Dan selamat membaca bersama keluarga!
Penulis: Etty Prihantini Theresia, bisa dikontak via @wortschatz.bookclub atau @ep_theresia atau Facebook Etty Prihantini.
Pemuja udara hangat mesti sabar menunggu karena suhu belum beranjak dari titik beku.
Angin dingin Winter Ostsee menembus ventilasi kayu sesaki ruang tamu, menusuk kulit seorang hawa yang sedang berkutik diruang tamu.
Malam itu perapian telah membakar kobar cinta api pada kayu yang lagi bercumbu, menjadikannya bara penghangat tubuh ruang tamu.
Wanita dan degup gundah, diluar beberapa mata bintang masih menyala.
Mata pijar lampu baca diatas meja kerja empat persegi belum gugur, menerangi baris Aksara dan kertas putih, meluap rasa yang tak ingin menjadi mata bara di jiwa yang mencari asa.
Jelaga merayap, hampir menutup mata lampu,
menemani debu yang tak ingin berkaca sendiri di wajah lampu baca ruang tamu.
Nama saya Siwi, biasa dipanggil Siwi oleh teman-teman dekat. Saya tinggal di Jerman, tepatnya di kota Berlin, dan sudah menetap di sini selama kurang lebih 10 tahun. Minat saya beragam, mulai dari membaca buku, memasak, serta mendalami budaya setempat. Pekerjaan sehari-hari saya adalah sebagai ibu, mahasiswi dan juga business developer di sebuah perusahaan tas di Berlin.
Di keluarga saya sendiri, berpelukan antara orang tua dan anak-anak atau antar kerabat sudah menjadi hal yang biasa. Budaya ini berasal dari nilai-nilai kekeluargaan yang kuat di Indonesia, di mana berpelukan dimaknai sebagai cara untuk menunjukkan kasih sayang dan dukungan emosional.
Ketika saya pulang ke Indonesia, saya selalu merasakan kehangatan dalam pelukan orang tua dan suami saya setiap dia pulang kerja. Pelukan bagi kami seperti obat, untuk menunjukan rasa cinta, rindu, dan saling menguatkan. Saya berpikir, kami sudah bekerja keras selama berbulan-bulan dan momen berpelukan menjadi simbol pencapaian dan kerja sama yang erat.
Dari sudut pandang budaya, berpelukan ini menunjukkan rasa keakraban dan solidaritas, sedangkan secara psikologis, ini memberi saya rasa dihargai dan diperhatikan, menguatkan ikatan emosional kami.
Sebagai ibu baru di perantauan merasa bahwa setiap tangan yang terulur adalah seperti harapan, begitu juga pelukan. Pelukan yang sederhana menyimpulkan banyak cinta, hangat, dan penghargaan. Berpelukan dalam budaya Indonesia sering kali dianggap sebagai tanda keakraban dan kasih sayang.
Budaya kita sangat menghargai kedekatan emosional, dan berpelukan adalah salah satu cara untuk mengekspresikan rasa hormat dan cinta. Ini berbeda dengan budaya lain yang mungkin lebih menekankan pada kesantunan dengan cara yang lebih formal.
Menurut saya, berpelukan dalam budaya Indonesia sering kali dianggap sebagai tanda keakraban dan kasih sayang. Budaya kita sangat menghargai kedekatan emosional, dan berpelukan adalah salah satu cara untuk mengekspresikan rasa hormat dan cinta. Ini berbeda dengan budaya lain yang mungkin lebih menekankan pada kesantunan dengan cara yang lebih formal.
Saya memahami bahwa ada anggapan bahwa berpelukan hanya dilakukan sesama gender atau menyiratkan romantisme. Namun, bagi saya, berpelukan lebih dari sekadar aspek romantis. Ini adalah cara untuk menunjukkan dukungan, kasih sayang, dan keakraban tanpa memandang gender. Pandangan ini sangat penting untuk membangun hubungan yang sehat dan harmonis.
Secara psikologis, berpelukan memberikan banyak manfaat bagi saya. Ini membantu mengurangi stres, meningkatkan perasaan nyaman, dan memperkuat ikatan sosial. Berpelukan juga dapat merangsang produksi hormon oksitosin, yang dikenal sebagai “hormon cinta”, yang membantu meningkatkan mood dan rasa bahagia.
Saya pernah mengalami situasi di mana seseorang enggan untuk dipeluk. Hal ini terjadi saat saya ingin memeluk seorang teman yang baru saja kehilangan anggota keluarganya. Saya memahami bahwa tidak semua orang nyaman dengan kontak fisik. Alasan mereka mungkin beragam, termasuk perbedaan budaya, pengalaman pribadi, atau preferensi individu.
Di tempat kerja, saya juga pernah melihat budaya berpelukan diterapkan untuk menciptakan suasana yang lebih informal dan setara. Saya setuju dengan pendekatan ini karena dapat membantu mengurangi ketegangan dan membangun hubungan kerja yang lebih baik. Namun, penting untuk selalu menghormati batasan pribadi dan memastikan bahwa semua orang merasa nyaman.
Selama pandemi Covid-19, keterbatasan dalam kontak sosial, termasuk berpelukan, sangat mempengaruhi saya. Saya merasakan kehilangan kehangatan dan kedekatan yang biasanya dirasakan melalui pelukan. Berpelukan sangat penting dalam konteks kesehatan mental karena memberikan rasa nyaman dan mendukung kesejahteraan emosional, terutama di masa-masa sulit.
Kepada Sahabat Ruanita, saya ingin menyampaikan bahwa berpelukan memiliki banyak manfaat baik dari perspektif budaya maupun psikologis. Ini membantu memperkuat hubungan sosial, memberikan dukungan emosional, dan meningkatkan kesejahteraan mental. Jangan ragu untuk menunjukkan kasih sayang melalui pelukan, selama itu dilakukan dengan rasa hormat dan kesadaran akan batasan pribadi.
“Hugs are the heartbeat from the soul to the soul.” — Terri Guillemets. Dan seperti banyak bahasa cinta yang dilakukan oleh manusia, pelukan adalah bahasa cinta yang tidak perlu berbahasa: hanya butuh dua tangan yang terulur dan empati.
Penulis: Siwi yang tinggal di Berlin, Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram @swdiary95.
Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan namaku Nita dan sekarang tinggal di Indonesia. Aku hampir 6 tahun menetap di Jerman untuk melanjutkan studi. Di tahun 2024, aku kembali tinggal di Indonesia. Sehari-hari, aku bekerja sebagai pengajar bahasa di kota kecil di Jawa Tengah. Tahun ini, aku akan berumur 36 tahun.
Senang sekali dapat bersuara lewat tema Single Shaming dalam program cerita sahabat ini. Bagaimana pun aku merasa tertekan dan tidak nyaman saat orang lain membahas status single aku, kehidupan privasiku atau latar belakang ceritaku sendiri. Sejak aku tinggal di Eropa, kehidupanku di sana seolah-olah mengajarkan bahwa ada beberapa hal yang termasuk ranah privasi dan tidak seharusnya orang lain ikut campur lebih dalam.
Salah satunya adalah hal yang menyangkut status dan hubungan. Selain itu, aku juga punya kisah mengenai hubungan yang tidak mengenakkan di masa lalu sehingga mempengaruhi keputusanku untuk stay single sampai sekarang. Alasan ini pun bersifat pribadi sehingga orang lain tidak perlu tahu. Kedua alasan inilah yang menyebabkan rasa tidak nyaman itu muncul ketika orang lain membahas status Single aku.
Tidak mudah untuk mempertahankan prinsip, terlebih menyangkut status hubungan “stay single” ini. Biasanya orang-orang di sekitarku merespon beragam ketika mereka tahu aku masih single. Ada yang merasa kasihan, ada yang mengolok-olok, tetapi ada juga yang bersikap biasa saja.
Terkadang aku merasa orang-orang di sekitarku menghakimiku hanya karena statusku yang masih lajang. Contohnya, ketika aku berkumpul dengan teman-teman lama dari masa sekolah dulu. Sebagian besar dari mereka yang sebenarnya tidak dekat denganku akan bertanya padaku. Apakah aku sudah menikah atau belum? Mereka kemudian memberikan komentar negatif yang bernada menyalahkan dan menuduh aku yang terlalu pemilih. Ada juga yang beranggapan status akademikku yang menurut mereka terlalu tinggi, hingga tidak ada pria yang berani mendekatiku.
Aku sendiri tidak ambil pusing pendapat atau komentar orang lain terhadap statusku yang masih melajang. Kadang aku tidak memberikan jawaban yang serius. Kadang aku bawa jadi guyonan saja, daripada aku merasa sakit hati pada akhirnya. Aku menyadari bahwa orang Indonesia memang belum siap apabila mendapat jawaban yang serius dan bersifat kritik pedas, ketika mereka bertanya atau berkomentar tentang status single orang lain.
Di sisi lain, aku merasa ada momen di mana aku seperti dipaksa untuk segera mencari pasangan. Hal ini lebih kuat datang justru dari keluargaku sendiri, terutama ibuku. Berulang kali aku mencoba untuk memberikan pengertian ke ibuku, bahwa saat ini aku memang tidak fokus untuk mencari pasangan. Aku sekarang sedang lebih fokus untuk membangun karir terlebih dahulu. Kadang aku juga cuma bercanda dengan merespon: “Aku mau menikah dengan siapa, wong pacar aja tidak punya”.
Menurutku, masyarakat sah saja memiliki pandangan yang kuat tentang pentingnya memiliki pasangan. Itu mungkin berkaitan dengan kultur dan kepercayaan orang Indonesia yang masih kolot (tradisional). Mereka masih menganggap bahwa perempuan mempunyai masa expired berdasarkan umur. Pendapat ini tentu saja dikaitkan dengan kemampuan reproduksi seorang perempuan. Jika seseorang tidak memiliki pasangan, maka orang tersebut merupakan outlier atau outcast di masyarakat yang perlu dikasihani, karena mereka tidak seperti orang-orang kebanyakan.
Beruntungnya, masih ada saja orang yang bersedia mendukung keputusanku untuk fokus pada karier. Dari keluarga, justru kakak iparku yang mendukungku untuk fokus membangun karier terlebih dahulu. Setelah berkarier, aku kemudian bisa memutuskan untuk mempunyai pasangan dan menikah. Selain itu, di luar keluarga masih ada sahabat-sahabatku yang mengetahui perjalanan hidupku. Mereka juga mendukungku untuk menjalani hidup sesuai dengan pace-nya saja. Mereka selalu mendengar, jika aku bercerita dan memberikan afirmasi positif terhadap semua keputusan yang aku ambil.
Aku perlu memperhatikan kebahagiaanku sendiri, meskipun itu tidak mudah menghadapi tekanan di tengah lingkungan sekitar terhadap status lajangku. Caraku menjaga kepercayaan diri adalah dengan menyibukkan diri dengan pekerjaanku saat ini. Aku juga selalu bertemu dengan banyak orang. Walaupun aku belum punya pasangan, aku bisa menunjukkan kalau aku adalah orang yang mudah bergaul di lingkungan manapun. Selain itu, aku juga berusaha menikmati setiap proses kehidupan dan menikmati hari-hariku dengan teman-temanku. Aku pun senang melakukan hobiku.
Kembali lagi soal tema single shaming, aku pernah berbicara secara langsung dengan orang yang melakukannya padaku. Kebetulan orang tersebut berasal dari saudara jauhku. Ketika aku memberikan pendapatku, mereka langsung terdiam. Akhirnya, mereka hanya bisa bilang “iya juga ya”. Seolah-olah komentar mereka itu hanyalah basa-basi saja, yang tidak ada efeknya. Padahal mereka seharusnya berpikir terlebih dulu tentang perasaanku, sebelum berbicara.
Lewat cerita sahabat ini, aku ingin menyampaikan pesan kepada mereka yang sering memberikan komentar negatif tentang status single seseorang. Tolong normalisasi bahwa urusan status single seseorang itu adalah suatu privasi. Artinya, orang lain tidak perlu berkomentar atau mempertanyakan lebih lanjut, apabila hanya untuk basa-basi atau olok-olok semata. Bagaimana pun kalian tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan orang tersebut, sehingga mereka memilih untuk stay single. Hargai prinsip hidup seseorang tersebut yang (mungkin) masih memilih untuk berstatus single.
Penulis: Nita dan dapat dikontak via akun instagram msiyuun_
Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Theresia Indri Noviatun Assenheimer. Saya biasa dipanggil Iin. Saat ini, saya tinggal di Dietzenbach, suatu kota kecil 15 Kilometer dari Frankfurt, Jerman
Sejak tahun 1993, saya tinggal di Dietzenbach. Saya lahir dan dibesarkan di Yogyakarta dan telah menyelesaikan pendidikan sarjana di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta.
Saya adalah ibu dari dua orang putra yang sudah dewasa. Anak pertama sudah bekerja, sedangkan anak kedua masih menyelesaikan studi Master di Universitas St. Gallen, Swiss.
Sejak anak pertama saya berusia 11 bulan, saya bekerja paruh waktu di suatu toko kado dan peralatan rumah tangga di Offenbach. Sejak tahun 1998 sampai sekarang, saya bekerja 25 jam per minggu di suatu Supermarket di Offenbach. Meskipun hanya separuh hari, tetapi saya dipercaya untuk memegang Backstation atau Bakery.
Di waktu senggang saya suka menulis kecil-kecilan dan sederhana di kompasiana. Kesenangan menulis baru saya mulai pada saat pandemi Covid-19 lalu. Selain itu, saya juga aktif melayani di paroki di mana kami tinggal. Tanggung jawab saya seperti menata bunga di sekitar altar di gereja. Untuk merangkai bunga di gereja ini memang sudah saya lakukan sejak di Yogyakarta. Hobi ini berlanjut pada tahun 1995, saya mengikuti kursus merangkai bunga di VHS di Dietzenbach.
Saya juga aktif melayani di Komunitas Masyarakat Katolik di Frankfurt sebagai kuster atau menyiapkan perayaan Misa. Saya tergerak menuliskan tema “Terima Kasih” yang sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Kata terima kasih sangat penting bagi saya.
Suatu saat, saya bertemu dengan seorang rekan kerja lama, yang mana kami sama-sama. pernah bekerja di supermarket yang sama. Rekan kerja saya itu terkesan pada saya, karena saya selalu bilang terima kasih. Misalnya, saat saya duduk di kasir dan memanggil rekan kerja lainnya agar kasir berikutnya dapat dibuka, bila antrian sudah panjang. Rupanya rekan kerja saya terkesan, karena saya tidak hanya memanggil nama sambil berkata Bitte (Silakan, dalam Bahasa Indonesia), tetapi juga selalu diakhiri dengan Danke (terima kasih).
Rekan kerja saya tersebut berpendapat, bahwa panggilan mikrofon yang saya lakukan selalu ada kata Bitte dan diakhir dengan Danke. Sebisa mungkin saya mengucapkan terima kasih juga untuk hal-hal sederhana. Misalnya, saya selalu berucap terima kasih kepada seseorang yang menahan pintu, ketika kami memasuki suatu ruangan.
Ucapan terima kasih merupakan penghargaan kepada orang lain. Nyatanya, itu tidak mudah untuk mampu mengucapkan terima kasih dengan tulus dari hati. Saya merasa kuncinya adalah kerendahan hati. Menurut saya, seseorang yang memiliki kerendahan hati tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih.
Dalam ucapan terima kasih tersirat rasa syukur, seperti syukur karena kebaikan orang lain.
Jadi, menurut saya mengucapkan terima kasih itu perlu, bahkan harus.
Budaya mengucapkan terima kasih bagus karena membuat hubungan dengan orang lain lebih nyaman. Ucapan terima kasih, baik yang diterima maupun diberikan, membuat nyaman yang menerimanya, meskipun kadang dikatakan tanpa senyuman. Bagi kita orang timur, kata terima kasih selalu diiringi dengan tersenyum.
Sering saya mendapati orang-orang tidak mengucapkan terima kasih. Menurut saya, mungkin saja mereka tidak terbiasa mengucapkan terima kasih. Misalnya, saat mereka sedang membayar di kasir dan uangnya tidak cukup, masih beberapa Cent. Kekurangan beberapa Cent tersebut saya ikhlaskan, meskipun orang tersebut tidak saya kenal. Setelah saya relakan beberapa Cent kepada orang tersebut, dia tidak mengatakan terima kasih sama sekali. Dia hanya cukup mengatakan „Ok“.
Ada kemungkinan mereka tidak terbiasa. Mungkin saja mereka begitu tiba-tiba, sehingga mereka bisa saja tidak terpikir bilang terima kasih. Ada kemungkinan lain orang tersebut tidak bisa Bahasa Jerman. Sekarang, Jerman telah menjadi negara multikultural dan banyak orang juga bukan orang Jerman yang bisa jadi tidak mengerti Bahasa Jerman.
Kalau kita melakukan sesuatu yang baik pada orang lain, kemudian orang tersebut tidak mengucapkan terima kasih, maka ya sudahlah! Saya selalu berpikir memberi saja dan membuat kebaikan saja, tidak perlu berharap orang mengucapkan terima kasih.
Sejak kecil di rumah, anak- anak saya telah terbiasa mengucapkan terima kasih mulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, setelah kami selesai makan bersama, maka anak-anak hampir selalu mengatakan „Danke Mama für leckere Essen„ atau “Terima kasih mama untuk makanan yang enak.”
Demikian juga saya mengatakan terima kasih untuk anak- anak, apabila anak-anak membantu saya membereskan meja makan, dan lain sebagainya. Saat ini, anak- anak tidak tinggal di rumah lagi. Bila mereka datang, saya mengucapkan terima kasih juga untuk waktunya dan kedatangan mereka.
Dalam keluarga, terkadang kita menyepelekan dan sudah biasa tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena hubungan sangat dekat. Tidak! Menurut saya, terima kasih itu perlu dalam relasi apa pun, seperti suami istri, orang tua dan anak, anak dan orang tua, dan seterusnya.
Saya yakin ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana akan menyenangkan dan membahagiakan. Kalau hal ini dibiasakan dari rumah, maka anak-anak pun tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih di luar rumah.
Menurut saya, ucapan terima kasih sangatlah perlu. Ucapan terimakasih disampaikan di mana saja, bila diperlukan, bahkan dengan orang yang tidak dikenal. Dari ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana ini, tentu akan membuat nyaman siapa saja.
Penulis: Iin Assenheimer yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram iinassenheimer.
Menutup akhir tahun 2024, Ruanita Indonesia menggelar diskusi ig live yang diselengggarakan tiap bulan dengan beragam tema yang menarik. Nah, program diskusi ig live ruanita juga meningkatkan promosi tema parenting yang mungkin belum banyak dibahas, mengingat tema ini masih dipandang personal. Hal ini termasuk tentang bagaimana pengalaman ibu melahirkan prematur dalam tema yang dibahas berikut ini.
Diskusi IG LIVE episode Desember 2024 mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Jerman dan di Indonesia untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar kelahiran bayi prematur yang mereka hadapi. Bagaimana mereka bertukar cerita dan informasi, sehingga memperkaya diskusi IG LIVE kali ini tentang pentingnya literasi kesehatan ibu dan anak, agar ibu dan anak sama-sama sehat.
Diawali dengan cerita Siwi yang melahirkan anak prematur di Jerman. Ia bercerita bagaimana pihak rumah sakit dan pemerintah Jerman begitu mendukung fasilitas pada saat ia melahirkan bayi prematur. Siwi merasakan bahwa pengalamannya ini tidak mudah dan begitu mengkhawatirkan baginya saat itu.
Bagi Siwi, kehadiran suami sangat berarti untuk mendukung pemulihan kondisinya setelah melahirkan bayi premature. Hal serupa juga dialami oleh Mosi yang menekankan pentingnya dukungan suami dan keluarga besar saat ibu baru saja melahirkan bayi premture.
Mosi merasa kagum dengan cerita Siwi tentang bagaimana kehadiran negara lewat fasilitas yang diterima Siwi setelah melahirkan. Siwi bahkan mendapatkan perhatian ekstra karena kelahiran bayi prematur, seperti asisten rumah tangga selama dua minggu hingga kondisinya pulih dan adanya tenaga ahli seperti dokter dan bidan yang membantu merawat bayinya yang masih prematur.
Bagi Siwi dan Mosi, kehadiran social support system seperti pasangan hidup, keluarga besar, hingga support group yang mengalami kelahiran prematur sangat membantu untuk meningkatkan pemahaman bagaimana menghadapi bayi yang lahir prematur, terutama persoalan psikologis yang tidak mudah dihadapi oleh para ibu yang memiliki bayi prematur.
Simak Diskusi IG Live selengkapnya berikut ini dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami:
Keterangan foto: Duduk sendiri di sebuah taman merupakan juga tempat teraman wanita ketika rasa jenuh melanda.
Sekedar hanya duduk melihat keadaan sekitar pun bisa menjadi pelipur rasa karena menghirup udara segar, mendengar kicauan burung, dan berdiam sejenak bisa membuat kita untuk recovery sesaat.