(SIARAN BERITA) Kolaborasi dengan Fakultas Psikologi di Banda Aceh, Peringati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026

BANDA ACEH — Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day) yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2026, organisasi Kesmenesia berkolaborasi dengan UIN Ar-Raniry Banda Aceh serta BEM Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry menggelar sebuah seminar daring internasional. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk adaptasi kontekstual terhadap tema yang diusung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2026, yaitu “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change.”

Melalui subtema “Mendengar Suara, Menguatkan Perubahan: Berbagi Pengalaman Hidup tentang Kesehatan Mental,” forum global ini menempatkan pengalaman hidup (lived experience) sebagai sumber pengetahuan dan keahlian yang krusial. Langkah ini diambil untuk membangun sistem kesehatan mental yang lebih berpusat pada manusia, berbasis hak, dan responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat. WHO menekankan bahwa keterlibatan individu dengan pengalaman hidup tidak boleh sebatas mendengarkan kesaksian, melainkan harus diberi ruang intervensi dalam memengaruhi kebijakan, desain layanan, praktik, hingga evaluasi pelayanan kesehatan jiwa.

Semangat inklusi tersebut dinilai sangat relevan bagi masyarakat Indonesia di berbagai belahan dunia, termasuk orang Indonesia yang menetap di mancanegara. Pengalaman dalam menghadapi persoalan kesehatan mental kerap kali berbeda, dipengaruhi oleh benturan sosial, budaya, perbedaan sistem pelayanan kesehatan, tantangan migrasi, pendidikan, pekerjaan, hingga ketersediaan dukungan sosial di lingkungan sekitar.

Acara yang diinisiasi berdasarkan nota kesepakatan kerja sama antara Ruanita Indonesia, Kesmenesia, dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini dikemas dalam konsep utama “Sharing Voices, Creating Change.” Penyelenggara menegaskan bahwa forum ini tidak berjalan sebagai seminar satu arah, melainkan sebuah ruang aman untuk saling berbagi suara melalui dialog antarperspektif yang utuh.

Sesi diskusi utama yang bertajuk “Two Voices, One Conversation: Lived Experiences in Mental Health” mempertemukan tiga sudut pandang strategis dari para pakar dan praktisi, di antaranya: Pertama, Mariska Ajeng Harini selaku Mental Health Advocate dan Relawan Ruanita Indonesia. Ia menyoroti pengalaman nyata dalam kerja-kerja advokasi komunitas, urgensi pembentukan ruang aman, pemenuhan hak suara masyarakat, serta strategi memutus rantai stigma negatif di kalangan generasi muda.

Kedua, Aulia Farsi yang merupakan seorang perawat jiwa aktif di Jerman sekaligus menjabat sebagai Ketua Kesmenesia periode 2026–2028. Aulia mengulas dinamika pelayanan kesehatan jiwa di Jerman, implementasi pendekatan person-centred care, serta pembelajaran praktis dari sistem kesehatan luar negeri yang dapat diadaptasikan ke dalam konteks sosial di Indonesia.

Melalui seminar internasional ini, para peserta diajak untuk memahami secara mendalam bahwa kesehatan mental melampaui batasan diagnosis medis semata, melainkan erat kaitannya dengan aspek kemanusiaan, aksesibilitas bantuan, dukungan sosial, dan hak partisipasi publik. Output jangka panjang yang ditargetkan dari dialog ini meliputi perluasan jejaring global, penyusunan materi edukasi kampanye digital, hingga perumusan rekomendasi taktis bagi komunitas dan organisasi lintas negara dengan tetap mengedepankan prinsip keamanan dan etika komunikasi kesehatan mental yang ketat.

Diselenggarakan secara daring oleh Ruanita Indonesia, kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu, 10 Oktober 2026, mulai pukul 13.00 hingga 15.05 WIB (atau pukul 08.00–10.00 CEST untuk wilayah Jerman) melalui akses platform Zoom Meeting serta siaran langsung YouTube Live. Simak selengkapnya dalam rekaman berikut di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita.