(CERITA SAHABAT) Kemampuan Bahasa Jerman Adalah Kunci Integrasi Budaya di Jerman

Saat mendapat tawaran menulis CERITA SAHABAT, saya memilih tema integrasi budaya,  ketimbang dua tema lainnya. Padahal kursus integrasi saya ikuti 10 tahun lalu. Apakah pengalaman  saya tersebut masih relevan saat ini? Awalnya saya pikir saya bisa bercerita menarik mengenai kursus integrasi budaya, ternyata sampai sebulan  tenggat waktu yang diberikan, saya belum juga selesai menulis. 

Nama saya Nella Silaen, berusia 44 tahun dan ibu dari dua anak (usia 8 tahun & 6 tahun). Saya tinggal di Chemnitz,  Sachsen. Saya tinggal di Jerman sejak Mei 2011. Aktivitas keseharian selain sebagai ibu rumah  tangga, saya sedang mengikuti kursus B2-Deutschkurs Beruf. Saya memiliki hobi berkebun dan mengerti sedikit cara merawat anggrek. Karena hobi berkebun tersebut, saya kerap mendapat panggilan untuk  mengurus kebun orang Jerman. 

Saya datang ke Jerman sebagai imigran cinta. Saya bertemu suami di online date. Kita saling cocok  secara online lalu dia datang dua kali mengunjungi saya di Jakarta. Saya kemudian pergi ke Jerman bertemu  keluarganya. Saya kembali ke Jakarta dan mengurus semua surat untuk menikah di Jerman. 

Saat kami tiba di Jerman untuk menetap, kita mendaftarkan diri di kantor imigrasi (Ausländerbehörde) nanti  kita diberitahu wajib ikut kursus integrasi. Petugas akan memberikan daftar tempat kursus yang berada di wilayah tempat tinggal kita. Atau kalau kita mau cari sendiri tempat kursusnya, pun bisa juga.  

Setelah setahun tinggal di Jerman dan akan memperpanjang izin tinggal, petugas imigrasi akan  menanyakan sertifikat kelulusan kursus integrasi. Atau, kalau mau apply izin tinggal tak terbatas di Jerman maka kita harus menunjukkan sertifikat lulus B1.

Follow us: ruanita.indonesia

Apa itu Kursus Integrasi (Integrationskurs)?  

Kursus integrasi adalah kursus yang wajib diikuti oleh pendatang di Jerman (warga non EU), kursus ini terdiri dari kursus bahasa dan kursus orientasi. Saat ini kursus Integrasi memiliki 700 jam  pelajaran. Biaya € 2,29 per jam pelajaran. Kursus Integrasi 600 jam dan kursus orientasi 100 jam. 

Tahun 2012, saya mengikuti kursus integrasi masih 660 jam dan biaya 1 Euro/jam pelajaran. 1 jam  pelajaran 45 menit. Ujian akhir gratis. 

Kursus Integrasi wajib diikuti sampai tingkat B1. Mulai A1, A2 dan B1. Biaya kursus tidak dibayar  sekaligus, tetapi tiap 100 jam pelajaran barulah kita bayar. Jika kita lulus ujian B1 maka kita  kita mendapat kembali 50% uang kursus tersebut. Jadi pemerintah menanggung 50% nya. Jika peserta kursus tidak lulus ujian B1 maka kita bisa mengulang kursusnya dan tidak membayar lagi. Namun tidak ada pengembalian 50% uang kursus. 

Kalau kita sudah bisa bahasa Jerman, atau dari Indonesia sudah mempunyai sertifikat lulus ujian C1 atau C2 maka kita tidak perlu ikut kursus integrasi lagi, mungkin perlu ikut kursus orientasi (100 jam). 

Mengapa pendatang di Jerman wajib ikut kursus integrasi? 

Jika kita ingin tinggal di Jerman, kita harus berbicara bahasa Jerman. Integrationskurs (Kursus  Integrasi) wajib diikuti para migran dan pendatang sejak tahun 2005. Kalau kita tidak paham Bahasa Jerman, bagaimana keseharian kita? 

Tentu saja ini akan merepotkan karena orang Jerman hanya mau bicara bahasa mereka saja. Kalau di Belanda, masih banyak orang mau berbahasa Inggris. Di Jerman jangan sakit hati dicuekin kalau tidak bisa bahasa Jerman! 

Ya, mungkin di kota besar yang banyak expat seperti di Berlin, München atau Frankfurt bisa pakai Bahasa Inggris. Namun kalau kita berurusan dengan petugas kantor pemerintahan, misalnya mau urus surat apapun, penting bagi kita bisa berbahasa Jerman. 

Pengetahuan bahasa Jerman membantu kita ketika mencari pekerjaan, bagaimana cara menulis surat lamaran, saat wawancara pekerjaan, harus mengisi formulir di kantor Imigrasi misalnya, atau mau  membuka rekening bank, mau mendaftar sekolah anak, berbelanja, kunjungan ke dokter, ke kantor pos,  menonton tv, menyapa orang asing, dan berbagai hal. Dalam keseharian, kita membutuhkan  kemampuan Bahasa Jerman. 

Pada kursus integrasi selain belajar bahasa Jerman dari tingkat dasar A1 kita juga belajar tentang  negara Jerman, seperti sejarah, budaya, dan sistem hukumnya diajarkan dalam kursus orientasi. 600  jam belajar Bahasa Jerman. 100 jam nya adalah kursus orientasi. Ujian akhir ada 2, yakni ujian B1 dan ujian orientasi. 

Pelajaran Bahasa Jerman di kursus integrasi menurut saya menarik. Kita mendapat buku yang isinya pelajaran membaca (lesen), menulis (schreiben), mendengar (hören) dan berbicara (sprechen). Tiap bab berbeda temanya. Misal bagian awal diajarkan bagaimana cara menyapa orang dengan sopan,  bagaimana cara berkenalan, cara membuat janji dengan dokter, dan berbagai tema menarik lainnya seperti berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. 

Deutsch ist eine schwere Sprache! Sebaiknya kita tidak bolos satu kalipun dari kursus. Kalau kita pernah bolos dan terlewat bagian pelajaran penting, maka kita akan sangat kesulitan ikut bab berikutnya. Kerjakan semua PR yang diberikan dan bisa cari contoh ujian di internet. 

Bagian kursus orientasi 

Kita belajar tentang negara Jerman seperti sejarah, budaya, dan sistem hukumnya. Selain itu, kita  belajar mengetahui tipikal orang Jerman seperti apa. Misal budaya Jerman tepat waktu, jangan jam  ngaret seperti di Indonesia dibawa ke Jerman. Kita akan kena omelan kalau tidak tepat waktu,  meskipun oleh keluarga sendiri. Saat saya mendapat undangan makan, kita datang telat, suami dan saya pernah loh kena marah ibu mertuaku haha… 

Budaya bikin termin di Jerman. Kalau di Indonesia mau berkunjung ke tetangga, teman dekat,  teman kantor bisa saja tiba-tiba datang ‘kan. Nah, kalau di Jerman kita wajib bikin janji terlebih dahulu. Jangan sakit hati kalau kalau nge-bel rumah sahabatmu, walau yang bersangkutan ada di dalam rumah, dia tidak akan membukakan pintu haha. 

Budaya memisahkan sampah di Jerman. Kalau di Indonesia semua sampah disatukan di tempat  yang sama. Nah, di Jerman bisa sampai 5 jenis dipisahkannya di tiap rumah tangga. Sampah kertas  ada tong khusus, sampah plastik, sampah organik, botol & gelas terpisah, dan sampah tidak bisa didaur  ulang (rest müll). Baju bekas mau disumbangkan pun ada tempat khusus.  

Sampah elektronik ada tempat khususnya. Kalau kita tidak memisahkan sampah menurut jenisnya,  seringkali petugas angkut sampah buka tutup tong sampah dilihat sekilas isinya. Kalau tidak sesuai  isinya, mereka tidak mau angkut. Atau kita dikasih kertas peringatan. Kalau kita mendapat beberapa kali peringatan maka kita kena denda deh!

Oh iya, botol beling bekas dibuang pun ada aturannya loh. Ada tong khusus sesuai warna botolnya  haha. Ada tempat botol hijau, coklat, dan bening. Sebaiknya, kita melepas tutup botolnya juga. Bukan di Jerman memang, kalau itu tidak bikin ribet!

Kalau di Indonesia, kebanyakan suami tugasnya mencari uang di luar rumah dan ibu rumah tangga  mengurus anak, masak dan beberes rumah. Nah, pria di Jerman selain mencari uang dan membantu  istrinya, dia perlu mengurus anak, mandiin anak, memberi makan, dan ajak anak jalan-jalan. Ini agar si ibu punya waktu istirahat sebentar. Suami di Jerman juga mau disuruh masak, bebersih rumah dan menjemur cucian. 

Orang Jerman itu to the point, bicara apa adanya. Kalau istri bertanya „Bagus mana, rambut pendek  atau panjang. Baju mana  yang lebih bagus dan seterusnya?“  jangan kamu mengharapkan jawaban yang menyenangkan dari suami. Sebaiknya jangan tanya pendapat orang Jerman, kecuali kalau siap sakit hati atau tidak sesuai yang ingin kamu dengar. 

Orang Jerman kerap menegur kalau ada yang salah. Misal, tetangga menegur karena kita salah membuang sampah. Kita naik  sepeda saat malam lalu lampu sepeda tidak nyala terkadang ada yang menegur. 

Jangan heran juga kalau tetangga datang atau lapor polisi saat kita ribut bikin gaduh di jam tenang (Ruhezeit). Jam tenang yakni jam 10 malam hingga jam 7 pagi. Jam 1 siang hingga jam 3 sore jam pun termasuk jam tenang juga. Hari Minggu & tanggal merah satu hari pun dianggap jam tenang. Jadi kita tidak boleh bikin ribut. 

Hati-hati ya, kalau mau masak yang bau-bau seperti goreng ikan asin, bikin sambal terasi, goreng  ikan teri! Waspada kita ditegur tetangga karena aroma masakan tersebut mengganggu mereka haha. Jangan kaget kalau kita didatangi polisi karena tetangga lapor ada cium bau mayat. Padahal kamu sedang goreng ikan asin.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.“ Kita sebaiknya bisa menyesuaikan diri dengan  lingkungan di mana kita tinggal. Dalam hal ini, kita tinggal di Jerman. Apa yang boleh saja dilakukan di Indonesia,  bisa saja tidak biasa di Jerman :). 

Pesan saya, kalau kita mau ikut kursus integrasi, penting kita mengetahui budaya orang Jerman. Saat kita mampu  berbahasa Jerman dengan baik, kita bisa mengemukakan pendapat kita sendiri. Kalau apa yang kita  lakukan benar sesuai aturan di Jerman, JANGAN takut untuk melawan orang Jerman juga hehe:) Jangan takut untuk komplain, seperti saya pernah menjawab tetanggaku yang rese teriakin dua anakku yang main di kebun kita. Anak-anakku disuruh tidak ribut. Padahal anak-anakku bermain bukan di jam tenang loh.  

Si tetangga lansia rese itu sudah lebih dari 2 kali teriakin anak saya. Jadi saya melawan. Saya menjawab saja kalau anak-anak berhak main dan bisa bikin ribut. Saya pun pernah beberapa kali komplain ke kasir karena kurang uang kembalian atau berbagai komplain lainnya. Ya, itu karena saya mengerti Bahasa Jerman. 

Penulis: Nella Silaen, penulis di http://www.pursuingmydreams.com.

(IG LIVE) Bagaimana Tantangan Hidup Menjadi Janda di Perantauan?

Episode IG Live pada bulan Juni ini, RUANITA mengangkat tema International Widows Day yang diperingati setiap 23 Juni oleh dunia untuk mengadvokasi hak para janda yang masih mendapatkan stigma sosial dan belum dihargai di masyarakat.

Oleh karena itu, RUANITA mengundang Rizky Suryani atau yang disebut Kiky yang kini menetap di Swedia lewat akun IG: little_monkey2016 dan diskusi dipandu oleh Dina Diana, mahasiswi S3 di Jerman lewat akun IG: ruanita.indonesia.

Kiky telah menetap di Swedia sejak 2020 setelah menikah dengan pria asal Swedia pada pernikahan keduanya. Sebelumnya Kiky telah menikah dengan pria asing juga pada pernikahan pertamanya, tetapi kandas disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga selama lima tahun.

Enam tahun setelah pernikahan pertamanya berakhir, Kiky bertemu dengan almarhum suami keduanya. Setahun pernikahannya, almarhum suaminya mempunyai kanker.

Kiky mengakui almarhum suami keduanya adalah true love yang membuat Kiky merasakan cinta sejatinya, tetapi sayangnya maut memisahkan mereka. Kiky pun menyadari banyak challenging yang dihadapinya dalam merantau di Swedia seperti tantangan budaya, bahasa, sosial, dan hukum tetapi Kiky senang menjalaninya berkat dukungan almarhum suaminya. Setahun setelah menikah dengan alrmahum, suaminya didiagnosa kanker.

Menurut Kiky, pengalaman menjadi janda itu berbeda antara janda ditinggal mati dengan janda ditinggal hidup karena Kiky mengalami keduanya dalam pernikahannya. Menjadi janda di Swedia, Kiky mengakui tidak mengalami stigma sosial dari masyarakat sekitar.

Dia justru mendapatkan belas kasihan dari lingkungan sekitarnya. Kiky menyebutnya: “It’s just life. It happens to anybody.” ketika pernikahan keduanya berakhir karena maut.

Follow us: @ruanita.indonesia

Kiky berpendapat bahwa janda adalah status sosial seperti layaknya orang lajang, orang menikah, dan juga janda yang dapat terjadi pada siapapun. Kiky tidak merasa malu terhadap statusnya sebagai janda pada pernikahan pertamanya, bahkan dia cenderung bangga karena berhasil keluar dari pernikahan toksiknya.

Sedangkan pada pernikahan kedua, dia pun merasa sedih harus kehilangan suami akibat kanker yang merenggutnya. Akhirnya, Kiky kembali pada mindset untuk memahami situasi hidupnya.

Bagaimana Kiky menghadapi tantangan sosial yang kadang masih bermunculan di masyarakat Indonesia? Apa pesan Kiky pada masyarakat umumnya dan sahabat RUANITA khususnya yang mengalami situasi yang sama dengannya? Apa harapan Kiky di Hari Janda Internasional ini?

Simak selengkapnya dalam rekaman ulang berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami ya!

(CERITA SAHABAT) Kesepian Itu Beda Dari Sendirian, Mau Tahu?

Sahabat RUANITA, saya senang sekali bisa ikut serta berbagi cerita kehidupan saya di Turki. Saya akhirnya memberanikan diri menuliskan cerita pengalaman hidup bertema kesepian di negeri orang ini dengan harapan teman-teman yang ingin pindah ikut suami ke negeri yang baru dapat mengantisipasi perasaan seperti ini. 

Perkenalkan nama saya Ika yang pindah ke negeri suami, Turki sejak 2020. Dahulu saat saya masih di Indonesia, saya bekerja sebagai Customer Service di perusahaan asuransi dan perbankan. Tentunya pekerjaan tersebut membuat saya bertemu dengan banyak orang tiap hari. Buat saya bertemu dengan orang baru, itu bukan perkara sulit untuk membangun komunikasi.

Dahulu saya tidak mengalami kesepian, dengan kesibukan bekerja dan kultur masyarakat Indonesia yang hangat. Saya sendiri tidak pernah membayangkan kalau saya akan tinggal di negeri yang jauh dari tanah air dan jauh dari keluarga yang dicintai.

Setelah menikah dan menetap di Turki, saya belum menemukan pekerjaan yang pasti. Aktivitas saya sehari-hari seperti ibu rumah tangga umumnya. Saya bahagia bercampur sedih ketika saya berhasil menikah dengan pria pujaan saya dan sedih karena saya harus berpisah dengan keluarga di Indonesia. 

Jauh dari keluarga dan ditinggal suami pergi kerja itu membuat saya semakin sedih dan merasa kesepian. Kesepian menjadikan saya lebih sensitif. Saya jadi mudah menangis apalagi bila saya rindu keluarga di Indonesia. Rindu juga bagaimana saya dulu begitu sibuk bertemu dengan banyak orang pada saat bekerja.

Setelah suami pergi kerja, saya biasanya mulai membuka laptop dan ber-google ria untuk mengusir kesepian dan kesedihan. Saya mencari film yang disukai seperti komedi misalnya untuk mengobati rasa sedih. Kadang saya mencari aneka resep masakan dan mencobanya di dapur rumah sendiri. Dengan adanya internet, saya juga banyak mencari tahu rempah-rempah yang kadang sulit ditemukan di Turki kemudian berusaha keras mencari alternatifnya sehingga mirip seperti di tanah air.

Follow us: @ruanita.indonesia

Menurut saya kesepian dan sendirian itu berbeda. Sendirian itu lebih pada eksistensi dirinya yang memilih tinggal tanpa orang lain. Bisa jadi sendirian tidak membuat dia kesepian seperti saya yang kadang sensitif dan menangis sesenggukan karena kesepian. Saya mengalami kesepian karena situasi yang membuat saya belum menemukan aktivitas pekerjaan seperti dulu di Indonesia. 

Seseorang seperti saya bisa saja kesepian karena dia sedang berada di luar kebiasaan. Biasa sibuk, tiba-tiba saya lebih sering berdiam di rumah dan hanya mengurus rumah saja. Saya sempat menduga, apa yang saya alami adalah Culture Shock ketika saya tidak memahami situasi di tempat tinggal suami saya sebelumnya. 

Mungkin saja saya belum menemukan skill atau aktivitas untuk mengisi waktu luang. Saya kadang ikutan acara yang diselenggarakan Kedubes Indonesia. Katanya, kita bisa saja takut terlibat dalam komunitas Indonesia di luar negeri karena takut terjebak pada relasi toksik dari teman-teman kita. Itu sebab saya memilih teman-teman yang tepat untuk bisa keluar bersama mereka, sekedar chit chat atau pergi ke kafe.

Selebihnya saya biasa mengusir kesepian dengan mencoba resep baru, menonton film atau bernyanyi. Bersyukur suami saya merupakan orang pengertian dan sabar. Jadi faktornya bukan hanya soal Culture Shock saja, tetapi juga kendala bahasa. Bagaimana mungkin saya bisa bekerja kalau saya belum bisa menguasai Bahasa Turki. 

Jadi untuk Sahabat RUANITA yang ingin tinggal di negeri suami sebaiknya mempersiapkan mental juga agar bisa mengatasi perubahan situasi. Saya tahu itu tidak mudah. Intinya kita harus menyiapkan diri untuk menerima perubahan budaya, bahasa bahkan selera makanan juga. Soal kesepian, itu bisa terjadi di mana saja. Intinya kita yang paling tahu bagaimana melakukan hal-hal yang menjadi kesenangan kita. 

Kalau dulu di Indonesia tidak punya waktu untuk hobi misalnya, sekarang saatnya kembangkan diri dengan belajar bahasa dan budaya baru. Satu pesan saya juga nih buat Sahabat RUANITA yang berada di mancanegara kalau kita perlu saling memberi support satu sama lain, bukan saling menjatuhkan. Sebagai sesama warga Indonesia di perantauan, kita bisa kok saling bertukar informasi atau cerita seperti yang dilakukan di RUANITA. Ini penting loh buat kita menambah wawasan dan keterampilan hidup selama tinggal di luar negeri.

Banyak juga loh teman-teman yang berada di luar negeri dan pindah ikut suami mulai merasakan kesenangan tersendiri. Jadi kesepian mungkin terjadi ketika kita belum menemukan aktivitas yang tepat saja. Kita bisa mengisi waktu lowong dengan hal-hal yang disukai seperti memasak, bernyanyi, menonton film, dll. Kalau saya saat ini, saya sedang bersemangat ikut kursus bahasa.

Kita juga bisa menyalurkan hobi yang selama ini belum terwujud di Indonesia. Bukan tidak mungkin loh, hobi kita itu bisa menghasilkan penghasilan. Semoga cerita saya ini bisa memberi inspirasi buat Sahabat RUANITA yang sedang bingung atau belum menemukan aktivitas yang tepat saat di negara baru. Jadi kalian itu bukan kesepian atau sendirian tetapi belum saja menemukan passion kalian. Semangat ya Besttieee!

Penulis: Ika Indra Söyler, tinggal di Turki sejak 2020 dan dapat dikontak via akun IG: ika_indra_isw

(GALERI FOTO) Soft Launching Buku: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan

Foto-foto berikut adalah Soft Launching buku yang diselenggarakan oleh RUANITA bekerja sama dengan KBRI BERLIN, Rumah Budaya Indonesia di Berlin, APPBIPA JERMAN, dan IKAT Jerman. Acara ini terselenggaranya secara hybrid di Rumah Budaya Indonesia di Berlin pada Jumat, 23 Juni 2023 pukul 15.30 CEST.

Rekaman acara tersebut sebagai berikut:

Subscribe Kanal YouTube kami.

(PRODUK) Buku: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan

Ruanita Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang mendukung tujuan pembangunan keberlanjutan terutama untuk poin „Kesehatan Mental“ dan poin „Kesetaraan Gender“ serta membagikan praktik baik orang Indonesia melalui pengalaman, pengamatan dan pengetahuan dalam berbagai programnya.

Pada fokus kesetaraan gender, RUANITA melakukan berbagai program yang melibatkan banyak perempuan Indonesia di luar negeri untuk menggali potensi mereka dan menempatkan mereka untuk berbagi dukungan satu sama lain terutama untuk kelompok yang rentan ketika kami sedang berada di mancanegara.

Dengan prioritas manajemen berbasis nilai yang diusung, RUANITA diharapkan bisa menjadi social support system di luar negeri yang mendukung partisipasi perempuan Indonesia di luar negeri. Namun akses partisipasi perempuan Indonesia masih terbilang rendah baik di Indonesia maupun di luar Indonesia.

Salah satu cara meningkatkan partisipasi perempuan Indonesia dengan promosi praktik baik yang dituangkan dalam tulisan, yang ditulis oleh warga Indonesia di mancanegara melalui program Warga Menulis.

Program Warga Menulis 2023 sudah berhasil terlaksana berkat kerja sama antara RUANITA dengan APPBIPA Jerman pada 4-5 Februari 2023 dan telah menghasilkan 13 naskah bertema kepemimpinan perempuan di ruang publik yang kemudian dibukukan.

Follow us: @ruanita.indonesia

Para penulis naskah dalam buku ini berasal dari Jerman, Swiss, Spanyol, Belanda, dan Norwegia. Sosok perempuan yang ditulis tidak hanya para perempuan dari Indonesia yang menjadi pemimpin, tetapi juga para perempuan pemimpin dunia yang berada di luar Indonesia. Para perempuan yang menginspirasi tidak hanya sosok perempuan masa kini yang dikenal, tetapi juga perempuan pemimpin di masa lalu dalam peradaban sejarah.

Perempuan pemimpin tidak hanya dalam area publik saja, perempuan pun bisa memimpin dalam area privat. Kepemimpinan bukan berarti posisi tinggi dan posisi rendah, melainkan melibatkan perempuan untuk mengambil kebijakan dalam berbagai situasi, termasuk situasi bencana/krisis kemanusiaan. Bagaimanapun penulis buku ini tidak hanya perempuan saja, tetapi juga ada pria yang ikut menyuarakan kepemimpinan perempuan.

Oleh karena itu, buku ini kami beri judul: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan yang mewakili suara warga Indonesia di mancanegara. Kata pengantar buku ini ditulis oleh Dubes RI untuk Denmark & Lithuania; Atdikbud KBRI Berlin; dan Sastrawan sekaligus Jurnalis. Buku ini tidak kami jual. Kami berharap buku ini mampu menyuarakan suara-suara warga Indonesia di mancanegara.

(CERITA SAHABAT ) Setelah Setahun Berlalu

Enak gak menikah dengan bule? Kok bisa dapat bule, sih? Ketemu di mana? Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu dilontarkan ketika saya menikah dengan pria Jerman. Sejujurnya, dengan siapa pun menikah, dari mana pun asal pasangan, tidak ada bedanya. Enak atau tidak enaknya bergantung pada karakter mereka.

Dulu memang saya berpikir jika menikah dengan pria asing, maka mereka akan memperlakukan istri lebih baik dari pria-pria Indonesia. Akan ada saling menghargai, saling membantu, dan keseimbangan gender. Akan tetapi, saya salah. Pria bule atau pria Indonesia itu sama.

Semuanya bermula ketika saya bertemu dengan pria Jerman di kota tercinta Jakarta. Pertemuan itu yang akhirnya membawa saya tinggal dan hidup di Jerman, negara yang tidak pernah ada dalam mimpi saya.

Saya pindah ke Jerman atas dasar cinta. Saya meninggalkan pekerjaan terbaik yang mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Itu pekerjaan yang memperbaiki finansial saya secara pribadi dan keluarga.

Saya adalah wanita single mandiri, bisa melakukan apa saja tanpa bantuan siapa-siapa, berjuang hidup di Jakarta yang keras, menghabiskan masa muda saya dengan sibuk memperbaiki perekonomian keluarga, menjadi tulang punggung keluarga, dan akhirnya luluh hanya dengan satu kata: cinta.

Tidak mudah untuk menikah dan berpindah hidup di negara asing.  Begitu banyak yang harus saya pelajari, kebiasaan orang-orang Jerman, budaya, dan terlebih lagi bahasa. Bahasa adalah yang terberat karena saya tidak hanya memelajari bahasa resmi Jerman (Hochdeutsch), tetapi saya harus mempelajari atau terbiasa mendengarkan bahasa lokal (dialek) Bayerisch (=salah satu dialek di negara bagian Bavaria, Jerman) yang terkadang membuat saya bingung.

Sedangkan tentang kebudayaan dan kebiasaan, saya sangat menyukainya karena semua itu menambah pengetahuan saya. Sejujurnya saya tidak merasakan apa itu yang namanya culture shock. Saya bahkan menikmati hal-hal baru yang saya temui di negara itu.

Proses kepindahan saya ke Jerman dimulai dari proses menuju pernikahan sipil yang direncanakan dan akan diadakan di Jerman. Saya memutuskan untuk memulai semua proses dokumen sendiri, tanpa menggunakan jasa agen, karena rasa keingintahuan saya dalam memproses dokumen-dokumen itu.

Begitu pun dengan calon suami. Dia juga sibuk menyiapkan dokumen-dokumen yang diminta oleh pihak pemerintahan Jerman.

Semuanya tidak semudah bayangan kami, apalagi di saat-saat pandemi ketika semua proses menjadi terbatas dan sangat lambat. Bahkan, hari pernikahan pun harus mundur karena visa yang belum bisa dikeluarkan oleh Kedutaan Jerman di Jakarta.

Follow us: @ruanita.indonesia

Tingkat stres yang tinggi antara mengurus dokumen-dokumen pernikahan, pekerjaan di kantor, dan kursus bahasa Jerman yang “wajib” saya ikuti di Goethe Institut Jakarta, menyebabkan naik-turunnya hubungan saya dan calon suami saat itu.

Ada masa-masa saya hampir menyerah dan tidak ingin melanjutkan proses pernikahan itu. Ada juga perasaan berat meninggalkan keluarga, terutama ibu, karena hanya beliaulah orang tua saya satu-satunya. Meninggalkan pekerjaan juga terasa berat karena saya sedang merasakan kesuksesan dari hasil jerih payah saya bertahun-tahun bergelut di dunia kerja.

Akan tetapi, atas dasar cinta dan keyakinan bahwa pria ini akan membahagiakan saya dan akan menjadi tempat sandaran seumur hidup, saya memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan saya yang nyaman di Indonesia untuk mengikuti suami ke negaranya.

Agustus 2020, hari “kemenangan” buat saya, ketika akhirnya saya bisa bersatu dengan pria yang saya cintai dan bersumpah bahwa saya akan selalu setia dan bersama dia dalam suka maupun duka, sampai Tuhan memanggil salah satu di antara kami. Di hari itu, walaupun ada rasa bahagia, ada rasa sedih juga ketika ibu tidak bisa menghadiri pernikahan yang saat itu saya kira adalah pernikahan pertama dan terakhir saya.

Beberapa bulan setelah pernikahan, semua masih terasa indah. Sampai setahun setelah pernikahan, sesuatu itu terjadi.

Selama ini saya tidak merasa ada masalah di dalam kehidupan rumah tangga kami, tetapi ternyata apa yang suami saya rasakan, berbeda. Suatu pagi, dia meminta kami untuk bercerai dengan alasan dia tidak bahagia.

Ada beberapa hal yang dia katakan sebagai alasan perceraian yang menurut saya lucu dan tidak masuk akal. Sesuatu yang dia tahu bahwa saya tidak akan bisa mewujudkannya dan dia mengetahui hal ini sebelum kami menikah.

Saat itu dia berjanji bahwa dia akan menerima keadaan tersebut dan tidak akan pernah meninggalkan saya. Ini salah satu alasan kenapa saya tetap mau menikah dengan dia. Akan tetapi, pada kenyataannya, janji hanyalah janji.

Manusia bisa berubah kapan pun dan melupakan janji-janjinya hingga pada akhirnya, saya ada di situasi ini. Saya sedang menjalani proses Trennungszeit, (=waktu perpisahan antara suami dengan istri sebelum resmi bercerai) sebagai salah satu persyaratan perceraian di Jerman.

Ketika dia mengucapkan kata cerai, selama dua minggu saya berpikir, apa yang harus dilakukan, bagaimana nasib saya sekarang, saya sendirian di negara ini.  Akan tetapi, saya bukan wanita bodoh dan pasrah dengan keadaan.

Saya mulai mencari-cari informasi dimulai dari browsing di internet, menghubungi beberapa teman saya yang juga menikah dengan warga Jerman. Bahkan, salah satu teman menyarankan untuk me-posting masalah saya di salah satu grup di media sosial. Bantuan informasi mulai banyak berdatangan, dukungan secara spiritual, dan teman-teman baru yang bersimpati serta ingin membantu.

Saya bersyukur bergabung dengan beberapa komunitas Warga Negara Indonesia yang tinggal di Jerman sehingga saya tidak benar-benar merasa sendirian. Informasi dan teman-teman baru yang saya dapatkan, bukan hanya dari teman-teman Indonesia, melainkan juga dari beberapa teman warga Jerman yang punya pengalaman dalam perceraian.

Saya mulai bangkit dan merencanakan untuk membangun kembali kehidupan yang baru. Saya tidak mau pasrah dan terpuruk dengan keadaan. Saya harus bertahan hidup di Jerman!

Saya mulai menghubungi satu organisasi yang bisa memberikan bantuan hukum secara gratis dan mereka bersedia membantu saya. Mengapa saya harus menghubungi pengacara? Saya merasa suami saya menyembunyikan sesuatu, tidak memberikan hak-hak yang seharusnya bisa saya dapatkan di masa-masa “perpisahan”.

Saya merasa juga tidak adanya keterbukaan atau informasi mengenai perceraian kami, maka saya memutuskan untuk mencari bantuan hukum. Saya merasa suami saya membodohi saya dengan tidak memberikan penjelasan tentang situasi yang saat ini terjadi.

Saya memang pendatang dan tidak tahu menahu tentang hukum-hukum perceraian di Jerman, tetapi saya tidak menyerah. Setiap hari saya berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk membela diri saya dan mendapatkan keadilan.

Saya juga mencari tahu bagaimana saya bisa tinggal lebih lama di Jerman apabila kami resmi bercerai. Saya bisa saja kembali ke Indonesia kapan pun, tetapi saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya mampu bertahan hidup di negara ini.

Bagaimana cara saya bisa bertahan hidup di Jerman? Saya mulai mencari pekerjaan dan memulai belajar bahasa Jerman tingkat lanjutan. Dua hal inilah yang saat ini menjadi poin terpenting untuk saya agar bisa bertahan hidup di Jerman.

Banyak hal positif yang saya dapatkan karena perceraian. Saya mendapatkan teman-teman baru di beberapa kota dan wilayah Jerman, mengetahui cara berpergian dengan transportasi umum di Jerman seperti bus dan kereta, memulai traveling kembali ke beberapa kota dan beberapa negara di wilayah Schengen, mengetahui proses untuk mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal.

Saya mulai melihat hal-hal positif dari masalah saya dan tidak mau melihat atau berpikir negatif. Saya hanya berfokus pada hal-hal yang akan membantu saya untuk hidup di Jerman. Saya mendapatkan beberapa komentar dari orang-orang yang mengetahui masalah saya. “Kamu tidak kelihatan sedih, kamu terlihat bahagia” kata mereka.

Inilah jawaban saya. “Masa kesedihan saya sudah lewat. Saatnya saya fokus untuk memulai hidup baru saya. Saya tidak akan bisa mulai membangun hidup baru jika saya selalu bersedih dan terpuruk dalam permasalahan.”

Saya yakin dan percaya, semua hal-hal yang saya lakukan saat ini akan membuahkan hasil yang baik untuk masa depan saya di Jerman.

Pesan saya, jika kalian adalah perempuan Indonesia yang memiliki masalah sama dengan saya atau bahkan lebih buruk dari saya, jangan takut! Kalian tidak sendirian, tetaplah kuat dan segera mencari bantuan informasi dari berbagai organisasi sosial di Jerman seperti Frauenhaus (=semacam rumah aman untuk perempuan yang bermasalah), atau hubungi teman-teman Indonesia yang kalian kenal.

Ketika kalian pindah dan hidup di Jerman, bergabunglah dengan grup-grup Warga Negara Indonesia yang hidup di Jerman. Dari sanalah kita bisa mendapatkan informasi atau dukungan dari mereka. Ingat, kita tidak sendirian!

Penulis: Rasya, bukan nama sebenarnya. Artikel ini telah diterbitkan dalam Buku Cinta Tanpa Batas, produksi RUANITA – Rumah Aman Kita yang diterbitkan oleh Padmedia Publisher.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Nilai Remitansi ke Indonesia Jauh Lebih Besar dari Pariwisata

Program Cerita Sahabat Spesial Episode Juni 2023 mengangkat tema remitansi keluarga di Indonesia yang memang dirayakan secara internasional pada 16 Juni setiap tahun. Pada perayaan International Day of Family Remittances RUANITA mengundang Senior Economist, Senior Banker and Business Woman yang kini menetap di Belanda. Dia adalah Dessy Rutten yang telah 25 tahun tinggal di Eropa dan ahli dalam urusan ekonomi perbankan.

Karena keahlian dalam literasi keuangan tersebut, RUANITA meminta pendapat beliau tentang remitansi keluarga yang biasa dilakukan oleh orang-orang Indonesia yang bermukim di luar negeri. Ada banyak alasan mengapa orang Indonesia tinggal dan bekerja di luar negeri? Dari sekian alasan pastinya mereka mengirimkan uang ke keluarga di Indonesia dengan berbagai alasan.

Dessy menjelaskan tujuan orang Indonesia melakukan remitansi. Pertama, remitansi ditujukan untuk kebutuhan edukasi di mana orang-orang Indonesia di luar negeri banyak mendukung kebutuhan pendidikan anggota keluarga mereka di Indonesia.

Peringkat kedua, remitansi banyak dilakukan juga untuk berobat anggota keluarga di Indonesia. Alasan ketiga, orang-orang Indonesia di luar negeri melakukan remitansi untuk membangun atau merenovasi rumah di Indonesia. Baru alasan terakhir yang sebenarnya bagus dan penting adalah modal usaha.

Follow us: @ruanita.indonesia

Tidak semua orang-orang Indonesia di luar negeri bertahan seumur hidup dan tinggal di luar negeri, banyak juga dari mereka yang ingin menghabiskan masa tua di tanah air. Sayangnya anggota keluarga di Indonesia tidak memanfaatkan uang remitansi yang diberikan anggota keluarga lainnya di luar negeri.

Dessy menyarankan untuk meminta anggota keluarga di Indonesia agar membuka akun bank di Indonesia agar bukti pengiriman uang dapat terekam dengan jelas. Bagaimana pun pemberian uang secara cash kepada anggota keluarga di Indonesia menurut Dessy adalah sangat tidak mendidik.

Bila melihat APBN di Indonesia, Dessy berpendapat kalau nilai remintasi itu menyumbangkan sepuluh persen. Artinya nilai remitansi sendiri lebih besar dari sektor pariwisata. Dengan potensi nilai remintasi yang besar, sudah seharusnya pemerintah beserta jajarannya untuk membuat kebijakan dan mengelolanya dengan tepat sasaran. Bukan tidak mungkin, tujuan dari International Day of Family Remittances yang diperingati setiap 16 Juni bahwa remitansi dapat berdampak pada pembangunan dapat tercapai.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak penjelasan lengkap dari Dessy Rutten di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung program kami.

(CERITA SAHABAT) Menjadi Perempuan Baru

Wang Sinawang, yang terlihat indah belum tentu indah. Bagi sebagian orang mungkin tinggal di luar negeri itu terlihat indah dan menyenangkan. Tidak jarang saya mendapatkan pesan dari teman-teman lama saya yang bunyinya “Wah enak ya kamu sekarang tinggal di luar negeri”. Pesan-pesan itu biasanya hanya saya tanggapi dengan senyuman dan tawa formalitas saja karena nyatanya bagi saya realita tidak selalu seindah foto-foto yang ada di instagram. Seperti yang selalu saya katakan: Don’t assume, maybe I only show you what I want you to see. 

Beberapa bulan setelah menikah, saya memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman untuk bisa bersama dengan suami saya di Prancis. Meninggalkan keluarga, teman dan segala pencapaian saya di Indonesia bukanlah hal yang mudah bagi saya. Bisa dibilang tahun pertama saya tinggal di Eropa adalah tahun yang paling berat yang pernah saya alami. Tahun pertama pernikahan ini adalah tahun di mana banyak sekali pertanyaan bermunculan di dalam pikiran saya seperti “siapakah diri saya saat ini”, “apakah menikah adalah keputusan yang tepat”, “bagaimana caranya hidup di negara orang” dan lain sebagainya.

Sebelum menikah saya adalah seorang perempuan dengan aktivitas tinggi, bahkan saya hampir tidak memiliki banyak waktu di rumah. Saya memiliki pekerjaan yang baik di sebuah perusahaan Internasional dan memiliki banyak teman. Ketika kemudian saya menikah dan meninggalkan semua itu, perubahan yang sangat drastis terjadi di dalam kehidupan saya.

Saya yang dulu aktif dan jarang memiliki waktu kosong menjadi saya yang memiliki terlalu banyak waktu. Memiliki waktu untuk bersantai selama beberapa saat memang menyenangkan, tetapi lama kelamaan justru hal inilah yang menyerang saya dari belakang. Banyaknya waktu yang saya miliki membuat saya tenggelam di dalam banyak pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang eksistensi diri saya, yang sebenarnya tidak perlu.

Follow us: @ruanita.indonesia

Selain itu, perbedaan budaya dan minimnya pemahaman bahasa yang digunakan di negara yang saat itu saya tinggali mengambil peran yang cukup signifikan dalam pergolakan batin saya. Ya, memang sebelum memutuskan untuk pindah ke negara ini saya sudah mengambil kursus bahasa, tetapi nyatanya praktik menggunakan bahasa yang benar-benar baru bukanlah hal yang mudah dan memerlukan dedikasi tinggi. 

Ditambah karena alasan tertentu, suami saya lebih memilih untuk berbicara dalam bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari kami di rumah. Hal ini membuat kehidupan saya di negara baru ini seperti dikelilingi sebuah tembok. Tembok inilah yang seringkali membuat saya merasa menjadi orang luar ketika saya harus bertemu atau menghadiri acara dengan keluarga dan teman-teman suami saya.

Saat ini saya masih terus berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa saya, walaupun sudah tidak separah dulu. Kebanyakan lawan bicara saya pun cukup sabar dan selalu berusaha untuk memahami dan menghargai usaha saya untuk berkomunikasi walaupun terkadang dengan aksen dan pengucapan yang cukup jauh dari yang seharusnya.

Selama beberapa tahun tinggal di Eropa, saya merasakan banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam diri saya. Saya bukan lagi orang yang sama, bukan berarti saya sudah kehilangan akar budaya tetapi justru saya menjadi lebih kaya. Tinggal di Eropa dengan proses adaptasi yang sebegitu rupa membuat pribadi saya yang seorang wanita Jawa tertempa, berubah dan dibentuk ulang menjadi lebih tahan banting. 

Klise memang, tetapi saya benar-benar yakin bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Dari proses yang lama dan melelahkan itulah saya mengambil pelajaran dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Bagi saya, hal yang paling penting adalah untuk memulai segala hal dengan pikiran yang terbuka.

Penulis: Rena, tinggal di Swiss.

(IG LIVE) Bagaimana Play Therapy Bisa Atasi Trauma?

Di bulan Mei 2023 ini RUANITA Kembali hadir dengan diskusi online IG Live bertema ‘Bagaimana Play Therapy Bisa Mengatasi Trauma’. Kali ini host Dina Diana @ibudindia mengundang narasumber diskusi Mala Holland, seorang psikoterapis dan trainer untuk trauma model di Inggris yang mendalami play and creative art therapy untuk mengatasi trauma di @connectplaytherapy.

Kala mendengar kata ‘bermain’, mungkin yang terpikirkan hanyalah aktivitas bermain untuk anak-anak. Kenyataannya secara ilmiah bermain membawa manfaat positif untuk kesehatan jiwa di segala kelompok usia. Seperti apa sajakah bentuk play therapy dan bagaimana caranya dalam mengatasi trauma?

Mala Holland menjelaskan bahwa trauma itu punya banyak jenis dan bentuk, tergantung pada kasus penyebabnya. Untuk bidang trauma yang didalami oleh Mala sendiri adalah trauma pada kasus kekerasan seksual dan kekerasan domestik.

Play and creative art therapy adalah sebuah model psikoterapi yang menggunakan permainan dan alat-alat seni untuk membantu seseorang mengekspresikan diri dan memproses apa yang dipikirkan atau dirasakan. 

Ketika bicara tentang trauma, menurut Mala orang kerap kali orang kesulitan untuk menjelaskan atau bingung untuk mengekspresikan yang dirasakan. Contohnya seperti ketika Mala bertanya ‘Hi, how are you?’ kepada klien, jawaban awal yang didapat hanyalah kalimat-kalimat pendek seperti ‘I’m fine’, atau ‘a little bit sad’.

Ketika mulai memakai tools seperti lewat permainan atau art and crafting material seperti pasir dan tanah liat, mereka bisa lebih mengerti perasaan mereka sendiri, mudah mengekspresikan perasaan, dan lebih bebas untuk memproses apa yang mereka alami.

Dalam hubungan antara usia, memori dan trauma, Mala menuturkan bahwa secara alami anak-anak belum mulai terbentuk memorinya di bawah usia 3 atau 4 tahun. Ini ada hubungannya dengan kematangan fungsi otak, terutama di bagian prefrontal lobe yang mengatur rasionalitas dan baru matang nanti di usia 20-an.

Mala menegaskan bahwa oleh karena itu banyak memori trauma manusia terekam sebagai emosi atau perasaan, namun secara kognitif tidak mampu mengingatnya.

Ini terjadi di banyak kasus trauma di mana korban tidak bisa mengingat kejadian atau penyebab trauma tetapi merasakan efeknya dengan intens, atau bisa tiba-tiba terpicu (triggered) oleh situasi-situasi tertentu.

Untuk kasus di mana trauma itu muncul dan orang tidak punya kemampuan atau tidak sempat untuk memprosesnya, ini akan memengaruhi coping strategy. Menurut Mala, trauma is not just what happen to us, but it is our ability to process the event. Sebenarnya kondisi triggered ini adalah cara kerja alami dari otak untuk melindungi diri agar aman.

Namun ketika efek dari sebuah kejadian menjadi sedemikian hebatnya sampai mengganggu fungsi dan kehidupan sehari-hari, di situlah trauma tersebut sudah berkembang menjadi post-traumatic stress disorder (PTSD) dan membutuhkan penanganan yang berbeda lagi.

Follow us: @ruanita.indonesia

Kondisi yang Mala kerap temui adalah kerap kali klien dengan kondisi trauma tahu apa yang membuat mereka sakit atau takut, tetapi tidak memiliki kemampuan kognitif atau kosa kata yang cukup untuk menjelaskan apa yang terjadi atau apa yang dirasakan.

Namun ketika mulai memakai art sand atau pasir dan gambar saat terapi, barulah keluar cerita tentang kejadian traumatis yang dialami oleh klien. 

Mala juga menuturkan bahwa penting bagi orangtua untuk mampu memodelkan komunikasi yang sehat, agar anak belajar untuk berani bercerita dan merasa aman ketika mengomunikasi kejadian apapun kepada orangtua. Di sisi lain, memang ada anak-anak yang pembawaan atau sifatnya cenderung tertutup dan tidak langsung terbuka untuk bercerita.

Di sinilah orangtua harus lebih jeli memperhatikan perubahan perilaku anak-anak mereka, karena Mala menjelaskan bahwa inilah yang akan terlihat lebih awal ketika anak mengalami kejadian yang menimbulkan trauma.

Menurut Mala, terapis play therapy dasarnya mulai dari bekerja pada penanganan trauma pada anak-anak terlebih dahulu lalu baru orang dewasa. Namun khusus art therapy dimulai dengan menangani orang dewasa terlebih dahulu baru kemudian mengambil extra module untuk penanganan trauma pada anak-anak.

Informasi lebih lengkapnya, Sahabat RUANITA dapat simak dalam video berikut:

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendapatkan video terbaru dari kami.

(CERITA SAHABAT) Perhatikan Kebiasaan Makan dan Terpenting Menikmati Makanannya

Hai, namaku Rita. Aku tinggal di Hamburg, Jerman saat ini. Kegiatanku sekarang sebagai Florist atau perangkai bunga dalam Bahasa Indonesia di salah satu toko bunga di Hamburg. Pekerjaan ini sangat menyenangkan dan kreatif. Sebelum aku masuk ke dunia Floristic, aku pernah kuliah di Universitas Hamburg. Tepatnya tahun 2014/2015, aku memulai kuliah. Awal tahun 2020 aku selesai dengan sarjanaku atau Bachelor.

Kembali ke masa itu. Sekitar tahun 2013/2014 dan aku mulai daftar untuk masuk Universitas, aku sempat mengalami stres berat karena aku mengurusi berbagai hal, seperti perpanjangan visa, dll. Selain itu, kehidupan di Jerman terkadang sangat berat dijalani sendirian.

Nah, pola makanku menjadi tidak teratur ketika aku terlalu stres. Lalu berat badanku turun drastis, sekitar 3 kg. Untukku kehilangan 3 kg itu sangat banyak karena buatku sendiri sangat susah sekali untuk menaikkannya kembali. Maklum saja dari kecil sampai dewasa memang aku tidak pernah punya berat badan melebihi 42 kg. 

Namun aku pernah loh mengalami satu kali, sekali-kalinya dalam hidup 42 kg. Berat badan normalku sebenarnya antara 37 sampai dengan 39 kg. Mungkin untuk orang seusiaku, awalnya banyak orang bertanya, apakah ini normal? Walaupun begitu, dokterku pun tidak mengkhawatirkan berat badanku ini. Menurutnya, memang ini sudah genetik. Selain itu, kesehatanku baik-baik saja. 

Saat menyadari di mana beratku turun menjadi 34 kg kala itu, aku langsung pergi ke dokter. Aku diperiksa, test darah, dll. Hasilnya memang aku baik-baik saja. Namun, aku masih belum puas dengan hasil pemeriksaannya. Kecemasanku belum juga berkurang.

Aku ikuti sesi psikologi khusus untuk gizi dan masalah berat badan. Ternyata ini lumayan memotivasiku. Aku juga banyak membaca artikel di internet tentang pola makan. 

Dulu aku sempat download aplikasi untuk menghitung kalori makanan, dan lainnya. Namun dengan berjalannya waktu, aku lebih mengerti dengan kebutuhanku sendiri.


Masa stres itu memang masa yang begitu sulit untuk mengontrol diri sendiri. Pola makanku dulu yang teratur, jadi terabaikan. 

Dokterku juga memberikan minuman ekstra berkalori untuk membantu menaikkan berat badan. Nama minumannya Fortimel. Aku disarankan untuk minum 2-3 botol/hari dan ditambah aku juga tetap makan seperti biasanya. 

Satu botol berisi 300 ml dan memiliki 300 kalori. Minuman ini juga memiliki berbagai rasa. Tanpa resep dokter orang tidak bisa mendapatkan minuman berkalori ini. Memang ada syaratnya dan asuransi yang menanggung biayanya. 

Aku biasanya hanya membayar 5% dari 100% harga minumannya, yaitu 10€ untuk 128 botol. Minuman ini dulu membantuku sekali. Namun lama-lama aku tidak bisa mengonsumsinya lagi karena kadang-kadang membuatku merasa mual. Akhirnya aku hanya minum satu kali sehari. Setelah berat badanku kembali ke 37 kg, aku berhenti minum Fortimel. Sebagai gantinya, aku mengusahakan membuat smoothie yang berkalori tinggi atau makanan lainnya. 

Aku juga berbagi cerita tentang masalah berat badan ke teman-temanku di sini. Saat itu, ada satu teman asal Jerman yang kebetulan juga mendapatkan resep minuman ini dari dokternya. Lalu kami saling bercerita. Ternyata temanku ini juga merasakan hal yang sama tentang minuman itu. 

Di Jerman, berbicara tentang berat badan adalah hal yang sensitif. Di sini orang hampir tidak pernah menyinggung berat badan seperti: Kenapa kurus?; Kok gendut?; Kamu makannya banyak kok tetep kurus?, dan lain-lain.

Orang-orang di sini sangat menghormati dan menjaga sesuatu yang dianggap pribadi. Hal ini juga membuat aku merasa lebih percaya diri. 

Saat aku masih di Indonesia, aku mengalami Bullying. Di Jerman, malah sebaliknya, mereka memuji. Terkadang, ketika di Indonesia, kita tidak  sadar, kalau lingkungan sekitar mem-bully.

Mungkin memang maksud mereka tidak serius seperti sekedar mendapat julukan “Olive” atau si kurus. Ternyata, hal itu berpengaruh terhadap kesehatan mental loh. Dulu aku tidak berani dan tidak percaya diri memakai baju lengan pendek. Hal ini karena aku mengingat kata-kata mereka yang berada di sekitarku itu.

Beruntungnya lagi aku tinggal di sini, aku punya akses kesehatan yang baik. Jadi segala sesuatu bisa aku konsultasikan dengan ahlinya. Dokter atau para ahli di sini, tidak me-judge kekurangan atau masalah kita. 

Untuk teman-teman yang punya masalah sama, tak usah sungkan untuk bertanya ke psikolog, dokter ataupun tenaga profesional. 

Pesanku ini teruntuk teman-teman yang lebih cepat turun berat badan daripada naik berat badan seperti aku ini. Coba kalian tambahkan ekstra porsi kalori setiap harinya seperti, Smoothie, buah-buahan, juga cemilan berprotein lainnya. Usahakan makanan tersebut tetap hadir di antara menu sehari-hari. 

Selain makanan utama, makanan kecil yang disebutkan tadi pun perlu diusahakan. Saranku lainnya adalah mengurangi makan Fast food atau cepat saji. 

Semua saranku ini sudah terbukti berdampak bagus terhadap mentalku selama ini. Yang mana aku mulai disiplin dan merasa nyaman dengan kebiasaan makanku. Aku merasakan dampak positifnya, bukan hanya secara fisik melainkan secara mental juga. Kesehatan mental ‘kan salah satu hal terpenting dalam hidup kita. 

 
Biarpun berat badan kembali normal, aku tetap memerhatikan kebiasaan makanku. Memang sih tidak semudah yang dibicarakan. Menurutku, stres juga bisa memengaruhi loh.

Untungnya aku sadar akan hal itu.  Aku ingin mengubahnya! Memang itu butuh proses dan perjalanan yang panjang.  Aku percaya, sesulit apapun itu kalau kita mau berusaha, suatu saat itu akan membuahkan hasil. 


Intinya dalam keadaan apa pun, kita harus tetap ingat makan. Biasanya, aku masak dengan porsi banyak agar bisa dimakan pada hari-hari berikutnya. Ini sangat membantu, apalagi kalau hari-hari yang membuatku bakalan sibuk sekali. 

Beban stres bisa berkurang. Pokoknya sesibuk apapun, sempatkan waktu untuk makan. Terakhir yang lebih penting lagi, menikmati juga makanannya.

Penulis: Rita, tinggal di Jerman dan dapat dikontak akun IG ritasjungle.

(SIARAN BERITA) Workshop Kewirausahaan Perempuan: Penyusunan Business Plan

JERMANBusiness plan atau rencana bisnis adalah hal mendasar untuk kesuksesan suatu bisnis. Sebagai inti dari sebuah bisnis, rencana bisnis harus bisa menyakinkan banyak pihak yang bisa membantu berkembangnya suatu bisnis, contohnya pemberi modal.

Rencana faktor keberhasilan model bisnis juga akan dijelaskan dalam rencana bisnis, seperti jasa atau produk, target konsumen, pemasukan dan pengeluaran. Karena alasan-alasan tersebut, rencana bisnis merupakan dokumen yang paling penting dalam pembuatan atau pengembangan suatu bisnis.

Menindaklanjuti seminar pada tahun 2022 dengan tema „Kewirausahaan Perempuan di Indonesia“, tahun ini Ruanita menyelenggarakan workshop penyusunan business plan.

Dalam workshop ini akan dibahas tiga tema penting, yaitu cara menjadi wirausaha perempuan, bagaimana menulis business plan, dan cara mengembangkan model keuangan. Diharapkan dengan workshop ini akan muncul lebih banyak lagi wirausaha perempuan Indonesia di mancanegara, terutama di Eropa.

Follow us: ruanita.indonesia

Workshop akan dibagi ke dalam dua pertemuan, yaitu pada hari sabtu, tanggal 13 dan 20 Mai 2023, pada pukul 10.00-12.00 CEST atau 15.00-17.00 WIB. Acara workshop akan dipandu oleh moderator Sartika Kurniawan, yang juga merupakan pengusaha perempuan di Spanyol dan dibuka dengan sambutan dari Syafiih Kamil selaku CEO dari Java Foundation Amsterdam.

Narasumber Dessy Rutten yang merupakan ekonom senior, wirausaha perempuan, dan dosen tidak hanya akan berbicara tentang tiga tema yang telah disebutkan di atas, namun pada sesi terakhir di pertemuan kedua juga akan memberi masukan pada business plan yang akan disusun peserta setelah workshop hari pertama dan dikirimkan kepada panitia penyelenggara. 

Workshop ini akan berlangsung secara virtual dan bisa diikuti dengan mendaftarkan diri sebelumnya melalui bit.ly/workshop-ruanita dengan biaya sebesar lima (5) Euro.

Peserta diharapkan sudah atau berencana memiliki usaha dan bersedia mempraktikan pembuatan proposal bisnis. Panitia juga akan memberikan sertifikat elektronik kepada peserta yang hadir penuh selama dua hari dan mengirimkan proposal bisnis yang mereka susun.

Tujuan diselenggarakannya acara pelatihan penulisan proposal bisnis ini, selain bentuk dari tindak lanjut dari seminar bertemakan kewirausahaan perempuan di Eropa pada Februari 2022 lalu adalah peserta memiliki kapasitas rencana bisnis dan mempraktikan ilmu yang sudah didapatkan dengan menyusun rencana bisnis.

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar permasalahan psikologis dan kehidupan di luar negeri. Tujuan diberdirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, kesetaraan gender, serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia. 

(CERITA SAHABAT) Menurut Saya, Career Gap itu Self Acceptance dan Berani Keluar dari Comfort Zone

Menikah adalah salah satu fase dalam kehidupan yang momennya banyak melibatkan emosi baik keluarga, pasangan bahkan diri sendiri. Perkenalkan saya adalah Inur, berasal dari keluarga pendidik atau pengajar. Ayah, ibu dan kedua kakak saya adalah seorang pengajar, baik di instansi, sekolah dasar dan universitas. Begitu pun saya, enam tahun mengajar di universitas swasta di daerah Depok – Jawa Barat. Sampai pada akhirnya, saya memutuskan untuk bekerja di perusahaan. 

Sebagai satu-satunya orang yang mengatur personalia, rasanya senang sekali pada saat itu walaupun saya merasa ada gap antara yang saya pelajari (Psikologi Klinis) dengan aplikasi pada pekerjaan (Psikologi Industri dan Organisasi). Namun saya berusaha untuk bisa menjadikan diri saya bukan sekedar melihat sisi Industri dan Organisasi tetapi bisa sekaligus melakukan konseling ketika karyawan mengalami masalah. Observasi ketika rekrutmen tidak selalu berdasarkan yang tampak, tetapi saya pun mencoba menganalisa dari hal-hal yang biasanya luput dari penilaian User

Selama tujuh tahun bekerja di perusahaan terakhir, saya merasa memiliki keluarga yang sangat dekat. Prinsip saya, ketika bekerja kami adalah rekan kerja, tetapi ketika selesai bekerja mereka adalah adik, sahabat, kakak, bahkan orang tua yang mengajarkan banyak hal kepada saya. Kondisi comfort zone tersebut terpaksa harus saya akhiri karena saya menikah dengan pria warga negara Switzerland. Tepatnya 30 November 2021 saya resmi mengundurkan diri dan siap untuk pindah ke negara bersalju. 

‘’Sedih yang tidak berujung’’ benar-benar menjadi kalimat yang saya rasakan. Dimulai dengan surprise farewell dari Departemen Operasional & HRGA. Makan-makan yang awalnya menjadi Birthday Lunch seorang teman (karena saya bertugas membeli kue ulang tahun) ternyata itu adalah surprise Farewell Lunch saya. 

Rasa haru melebihi surprise ulang tahun, betapa tidak,  pelukan dari atasan dan sahabat diiringi lagu “Mungkinkah” dari Stinky. Sama sekali tidak ada kecurigaan, momen ulang tahun yang seharusnya hanya berlima menjadi 2 meja panjang dari 2 departemen. 

Lagu selamat ulang tahun yang biasa dinyanyikan semua pramusaji  berganti jadi lagu sedih, polosnya di awal saya tetap membuat video dan happy, sampai seorang teman memeluk saya dari belakang kemudian atasan juga ikut memeluk. Baru saya sadar, momen, hadiah bahkan kue ulang tahun yang bertuliskan nama teman semuanya di hari itu adalah untuk saya. Terima kasih ibu dan bapak, teman-teman semuanya, masih suka sedih kalau melihat video tersebut.

Begitu juga di hari terakhir saya bekerja, sengaja saya memesan makanan untuk semua karyawan agar kami bisa makan bersama-sama. Sepatah dua patah salam perpisahan dari saya sebelum kami semua mulai mengambil makanan. Walaupun saat itu masih berjalan sistem pembagian Work from Home dan Work from Office, tetapi bersyukur banyak karyawan yang tetap datang ke kantor sehingga momen dan foto perpisahan terasa sangat hangat. 

Kemudian kurang lebih seminggu setelah hari terakhir saya bekerja, salah satu teman kantor berkunjung ke rumah untuk memberikan hadiah perpisahan dan foto bersama yang dibingkai dengan ukuran yang sangat besar. Infonya, ada teman yang inisiatif untuk mengumpulkan dana untuk kemudian dibelikan beberapa barang yang sangat berguna saat musim Winter. Masha Allah, saya bersyukur diberikan rekan kerja seperti saudara. Sampai dengan tulisan ini saya buat, Alhamdulillah saya masih menjalin komunikasi dengan hampir semua teman kerja.

Perasaan senang akhirnya bisa bersama dengan suami, tetapi  juga sedih harus meninggalkan keluarga, sahabat, dan rekan kerja. Namun hidup harus berjalan, kita tidak pernah mengetahui rencana Sang Pencipta. Tanggal 8 Desember 2021  saya tiba di Switzerland, pengurusan semua dokumen pun selesai. Mulailah saya berpikir: “Terus saya ngapain disini? Apa yang bisa saya kerjakan dan juga menghasilkan ?”

Follow us: @ruanita.indonesia

Saya sempat merasa up and down, stres karena tuntutan merasa harus segera mengikuti les bahasa. Sampai pernah ada momen saya takut ketemu kakak ipar karena selalu ditanya update les bahasa. Pengeluaran rutin tetap berjalan sementara pemasukan rutin belum ada. Merasa inferior, tidak berdaya, bergantung parah sampai akhirnya menangis sejadi-jadinya ke suami. 

Alhamdulillah suami sangat mengerti, dia tidak pernah memaksa saya untuk bekerja, bahkan untuk les bahasa. Dia sangat senang ketika saya izin main bertemu teman WNI yang juga tinggal di Zürich. Senyumnya sumringah ketika saya pulang dari Asia Store membawa belanjaan. Hampir setiap minggu saya main bertemu dengan teman-teman, makin banyak kenalan makin banyak pelajaran, ilmu, motivasi bahkan nasehat yang saya dapat. 

Pemahaman saya pada saat itu tidak mudah mendapatkan pekerjaan di Swiss, mostly must be certified dari lembaga atau sekolah di Swiss juga. Pusing lagi kan jadi nya, 😀

Searching di social media, tawaran dari teman yang kerja di restoran, bikin saya tambah bingung. Saya sempat merasa takut antara mau kerja tapi jadi harus bicara sama orang, nah bahasanya saja belum lancar.

Awalnya saya belum pernah mendengar yang namanya Career Gap, tapi mungkin yang saya lalui selama 6 bulan pertama di Switzerland adalah fenomena Career Gap, di mana saya tidak sedang bekerja karena menikah dan harus pindah negara. Menurut saya sebenarnya Career Gap ini sering sekali terjadi. Tidak hanya kaum perempuan, para pria juga mengalami. Hanya saja dilihat dari alasannya, mungkin kaum perempuanlah yang lebih sering mengalami. Beberapa alasan terjadinya Career Gap adalah menikah, memiliki anak, pindah tempat tinggal, pemutusan hubungan kerja, dll.

Pada kasus saya, setelah mencoba aktif di media social dengan belajar buat video dan foto yang aesthetic, soal masakan atau sekedar memperlihatkan keindahan kota tempat saya tinggal, saya merasa jenuh karena menuntut saya harus terus aktif setiap hari untuk benar-benar menghasilkan sesuatu yang dapat dinikmati teman di media social

Sampai akhirnya saya menemukan sebuah platform Babysitting di Switzerland. Bermodal senang dengan anak kecil, dekat dengan semua keponakan dan Bahasa Inggris, saya coba membuat account. Tiga bulan setelahnya tawaran pekerjaan masuk melalui message, mereka berkewarganegaraan USA yang juga tinggal di Switzerland dan berjarak hanya 500m dari rumah. Berkunjung ke kediamannya, bertemu dengan anak dan mendiskusikan banyak hal mengenai pekerjaan. Setelah itu saya diskusikan kembali dengan suami, apakah baik untuk saya lanjutkan atau tidak. 

Memiliki pekerjaan membuat saya lebih mandiri dan percaya diri. Banyak hikmah yang saya pelajari. Perbedaan negara yang signifikan membuat saya harus menyadari saya bukan siapa-siapa di sini. Selalu berdiskusi dengan suami adalah hal penting bagi saya. Apakah pekerjaan saya akan membuatnya malu atau tidak, bagaimana kira-kira pendapat keluarga suami apakah akan memalukan bagi mereka atau tidak. 

Hal itu yang saya ke depankan sebelumnya. Setelah mendapat pekerjaan, kepercayaan dan menyayangi anak kecil seperti keponakan atau anak sendiri adalah cara saya memperlakukan mereka. Saat menemani anak bermain, seringkali kami mengunjungi teman-teman sekolahnya, sehingga para orang tua mengenal saya dengan baik. 

Ini saya dengar karena mereka menceritakannya ke saya 😊. Sampai akhirnya beberapa di antara mereka meminta untuk Occasional Babysitter. Tepat 1,5 bulan pekerjaan tersebut selesai dan lanjut pekerjaan berikutnya tanpa gap, kontrak kerja yang awalnya hanya dua bulan dan sekarang sampai waktu yang tidak ditentukan 😊

Memiliki beberapa kenalan (orang tua anak sekolah) di kota yang sama membuat saya merasa punya teman dan tidak sendiri lagi. Kondisi ini membuat saya semakin berani dan pada akhirnya mendaftar Kursus Bahasa Jerman yang diadakan oleh Gemeinde kota tempat saya tinggal. 

Yap, makin banyak kenalan, makin sering tegur sapa karena bertemu di supermarket, taman bermain, dan public transport. Tidak hanya para orang tua, tetapi kasir supermarket, pegawai restoran dan gerai toko di supermarket, sampai beberapa bus driver dan taxi driver. Masha Allah, senang sekali rasanya saat ini, saya merasa aman karena sudah punya banyak kenalan dan tidak khawatir lagi walaupun pulang malam.

Kembali perihal Career Gap, menurut saya intinya ada self-acceptance. Ketika kita menerima dengan baik kondisi tersebut, maka secara tidak sadar tubuh pun akan merasa rileks. Saat merasa santai, cara pandang dan cara berpikir akan lebih baik. Begitupun dengan pemilihan aktivitas yang ingin dikerjakan, apakah tetap mencari pekerjaan baru atau sekedar menyalurkan hobi. 

Namun peran pasangan, keluarga atau teman dekat juga sangat mempengaruhi. Bagaimana mereka ikut menerima, memotivasi, memberi nasehat, dan atau memberi solusi. Saya bersyukur atas segalanya, tetapi tetap bermimpi suatu saat bisa berkomunikasi dengan baik menggunakan Bahasa Jerman dan atau Swiss German. Saya juga ingin mendapat pekerjaan sesuai dengan mimpi saya. 

Penulis: Inur Darham, seorang anak bungsu dari tiga bersaudara. Inur memelajari Psikologi Klinis pada jenjang Universitas, mengajar di Fakultas Psikologi, menjadi pembicara pada beberapa Dialogue Interactive, menggeluti bidang Human Resource pada Pest Control dan Oil and Gas Company, menikah lalu mengundurkan diri dan kini tinggal di Switzerland.

(CERITA SAHABAT) Hentikan Stigma Negatif pada Patchwork Family

Namaku Fadni, aku berasal dari Jakarta dan sekarang bermukim di Jerman. Pada tahun 2014, aku lulus SMA berpindah dan memberanikan diri melanjutkan pendidikan di Jerman hingga sekarang. Kini aku berdomisili  di ibukota Jerman yaitu kota Berlin. Terhitung aku sudah 9 tahun tinggal di Jerman, tepat pada tanggal 7 Februari  2023 lalu. 

Kegiatanku sehari-hari tentu saja tidak jauh berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa  pada umumnya, seperti: menghadiri seminar-seminar, presentasi, dan mengerjakan tugas perkuliahan lainnya. Selain itu aku juga menyempatkan bekerja paruh waktu untuk menambahkan uang  saku dan membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Namun pekerjaanku masih serabutan, terkadang aku  menjadi kasir di sebuah toko kelontongan. Sekali-kali aku juga bekerja di pabrik obat-obatan. 

Aku lahir di sebuah keluarga yang standar, boleh dibilang umum. Aku memiliki satu ayah, satu ibu, dua saudara kandung, dua nenek, dan dua kakek. Situasi keluarga besarku lainnya pun seragam.  Aku berpendapat tentang hal ini di luar ajaran agama yang kami percayai. Poligami, Poliandri  bahkan perceraian pun bukan menjadi pilihan di dalam keluargaku. Di dalam keluargaku keutuhan adalah segalanya. Itu merupakan barometer keluarga atau pernikahan yang tertanam di diriku  sejak kecil. Lambat laun lingkunganku pun berganti menjadi lebih luas dan terbuka. Aku pun  mulai mengenal struktur kehidupan keluarga dari teman-teman di sekitarku. 

Ternyata, ada  beberapa temanku memiliki struktur keluarga yang lebih komplit. Ada sosok lain sebagai ayah, ada sosok ibu tambahan, dan tahu-tahu ada kakak dan adik sambung yang belum pernah sebelumnya bertemu atau dikenal. Mereka sudah tumbuh besar dan tinggal bersama dalam satu atap. Belum lagi, kakek dan nenek mereka yang juga terkejut mendapat „cucu“ baru yang tidak mengenal masa kecilnya.

Follow us ruanita.indonesia

Aku menceritakan hal ini sesuai pengalaman yang aku jalin dengan teman-temanku yang memiliki keluarga sambung atau istilah lainnya Patchwork Family. Jelas kondisi dan keadaan mereka semua tidak sama. Begitu juga mungkin Sahabat Ruanita yang membaca ini, memiliki pandangan yang berbeda. Aku coba mendeskripsikan apa yang aku rasa ketika mengetahui temanku memiliki Patchwork Family.  Mendengar pernyataan salah satu temanku tersebut tentang silsilah keluarganya, perasaanku awalnya bingung. Aku merasakan empati yang meninggi dan condong ke arah sedih. 

Awalnya aku tidak tahu, apakah dia sudah dapat menerima kondisi keluarganya atau keputusan kedua  orang tuanya bersama pasangan baru mereka masing-masing. Setelah itu, muncul rasa simpati yang lebih terhadap temanku tersebut. Aku melihat seberapa dewasanya dia, bagaimana dia berbesar hati untuk  dapat menerima jalan kehidupannya. Aku berusaha juga lebih banyak menyempatkan waktu untuk menanyakan kabarnya sesekali. Aku pun berusaha tidak bertanya lebih dalam tentang keluarganya tersebut, kecuali temanku yang ingin bercerita sendiri, tanpa adanya paksaan atau pertanyaan pancingan. 

Cara aku menjelaskan kepada keluarga atau teman-teman tentang keluarga sambung yang dimiliki teman-temanku yaitu dengan diawali menceritakan prestasi yang ia dapat, bagaimana kemampuan yang mereka miliki serta tekadnya. Lalu, aku bercerita tentang struktur keluarga sambung, bahwa temanku tersebut memiliki banyak saudara dan lingkungan sosial yang lebih luas. Dia bisa saja bertemu keluarganya di jalan tanpa dia sadari baik itu keluarga kandung, keluarga tiri maupun keluarga sambung. 

Karena adanya ikatan baru dari kedua orang tua yang ia sayangi, ia pun harus bersedia untuk mengenal dan memelajarinya satu persatu. Di satu sisi, ia pun enggan untuk  memosisikan dirinya sebagai anggota keluarga baru. Dia butuh waktu dan usaha yang tiada henti.  Akupun sedikit khawatir bahwa keluarga atau teman-temanku lainnya akan berpikiran buruk  terhadap teman-temanku yang memiliki Patchwork Family. Atau pahitnya aku dilarang untuk  berkontak dengan mereka kembali karena penilaian yang ada di masyarakat luas pada umumnya. Di lingkungan keluarga dan pertemananku, hal ini masih sangat jarang dilalui. 

Pada awalnya, reaksi orang terdekat seperti keluarga d Indonesia tentang struktur keluarga yang demikian adalah menggeneralisasikannya. Padahal, kebanyakan dari keluarga yang menjalaninya memiliki pemahaman kehidupan yang berbeda-beda.  Mulai dari asal-usul, daerah tempat tinggal, adat istiadat hingga norma serta kebiasaan setempat disebutkan menjadi penyebab terbesar Patchwork Family terbentuk. Lalu tingkat pendidikan juga dipertanyakan oleh keluarga dan teman-temanku. 

Ketika aku menceritakan tentang teman-teman dari Patchwork Family, keluarga dan teman-temanku yang tidak mengalami Patchwork Family  tampak cemas dan berempati.  Mereka pun berasumsi bahwa anak-anak yang mengalami keluarga sambung atau Patchwork Family merupakan anak yang tak terurus, seperti Troublemakers (=mencari masalah), memiliki banyak masalah dalam keluarganya, hingga memiliki Childhood Trauma yang mendalam. Oleh karena itu, keluarga dan teman-temanku yang tidak mengalami keluarga sambung pun dapat bercermin dan merasa harus lebih memerhatikan satu sama lain dalam hal berkeluarga. Mereka harus menghormati masing-masing individu dalam keluarga serta peranannya. 

Salah satu contoh bentuk social support  yang diberikan kepada teman-teman dengan keluarga sambung adalah perhatian dari ibuku. Ibuku berpesan padaku untuk tetap menjalin pertemanan dengan mereka, mencoba selalu ada, dan mengulurkan tangan ketika mereka memerlukan pertolongan. Menurut ibuku, kita perlu peka yang lebih tinggi pada mereka. 

Bahwasanya kehidupan berjalan tidak selalu seperti apa yang kita inginkan atau impikan. Kita pun tidak bisa membuat standar mana keluarga terbaik ataupun keluarga ideal. Kita perlu belajar  menerima takdir atau keadaan yang tidak menetap dengan lapang dada. Kita sebaiknya menjalin kontak yang hangat sehingga hidup pun akan menyenangkan kembali. Aku yakin, bahwa setiap fase dalam  kehidupan kita akan mengantarkan diri kita sendiri ke posisi yang lebih baik.  

Untuk menemukan kecocokan dan penerimaan satu sama lain, aku tentu saja pernah mengalami fase berselisih dengan teman-temanku, terlepas dari apapun struktur keluarga mereka. Ketika aku menjalin komunikasi dengan orang lain, ada kalanya muncul selisih paham atau perbedaan, terlepas dari apapun latar belakang struktur keluarganya tersebut. Menurutku, itu adalah hal yang lumrah. 

Aku hanya perlu tahu bagaimana aku harus menempatkan diri, tidak  terbawa emosi, memahami maksud pendapat yang dilontarkan teman lain, dan menghargai apapun keputusan akhirnya. Setiap aku berkenalan dengan teman baru, aku tidak pernah membanding-bandingkan. Aku tidak memiliki ekspektasi bahwa dia harus  cocok dan satu frekuensi dalam berpikir, berpendapat ataupun memberikan saran bila kita berdiskusi bersama. 

Menurutku, setiap individu bisa menjadi guru untuk kita. Setiap individu yang kita kenal dapat memberikan kita sebuah pelajaran yang baru. Setiap makhluk di dunia ini unik terlepas dari cara bicaranya, cara menyampaikan pendapat, atau cara mereka menghadapi masalah pada fase-fase kehidupan tertentu pun berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh pengalaman, alur kehidupan, dan wawasan yang juga bervariasi 

Pengalaman berharga yang bisa aku bagikan setelah mengenal beberapa temanku yang memiliki Patchwork Family atau keluarga sambung adalah cara pandangku tentang keluarga ideal pun berubah. Di dalam Patchwork Family yang sering dinilai sebagai keluarga-keluarga gagal dalam masyarakat ternyata tumbuh juga anak-anak ceria yang berprestasi. Mereka juga tumbuh dengan toleransi yang lebih tinggi, lebih mudah bersosialisasi, dan cepat menyesuaikan diri pada lingkungan. 

Walaupun sebagai seorang anak dalam Patchwork Family, teman-temanku memiliki peran yang mendalam sebagai orang kakak dan adik sekaligus. Saya pikir ini memerlukan usaha penerimaan diri yang lebih besar hingga pada akhirnya mereka dapat membuka diri kepada keluarga-keluarga barunya dan menerima situasi baru. Meskipun di sisi lain, ada juga seorang  temanku yang masih belum bisa bangkit dari trauma dan depresi yang dialaminya, sejak orang tuanya bercerai. Kini orang tuanya masing-masing telah memiliki pasangan baru. Temanku ini masih memilih untuk tetap menutup diri. Dia pun sempat mengaku kalau dia tidak memiliki mimpi hingga tujuan hidup. Temanku ini menjadi sulit untuk merasakan kebahagiaan atau kesedihan.  

Sekali lagi, aku menekankan bahwa aku bukan seorang ahli yang memiliki ilmu dan pengalaman langsung dalam hal ini. Aku hanya ingin berpendapat di sini, karena orang terdekatku dan beberapa teman di lingkunganku hidup dalam keluarga sambung atau Patchwork Family. Menurutku, faktor-faktor yang mendukung keberhasilan Patchwork Family antara lain:

  1. Kita tidak memaksa tetapi memberikan cukup waktu dan tempat agar setiap individu di dalamnya  merealisasikan keadaan yang baru dan mengolah emosi serta ego masing-masing. Kita harus tetap menjalin hubungan baik dengan mereka. Penting diingat kalau kita tidak perlu memutus tali silaturahmi dengan keluarga sebelumnya karena ada tanggung jawab bersama yang tidak akan pernah putus.  
  2. Kita harus tetap berkomunikasi, yakni menceritakan kepada anak atau pasangan lama dan keluarga baru tentang masa lalunya. Bahwa semuanya telah selesai secara baik-baik. Kita berharap setiap individu di dalam keluarga ini telah menerima, memaafkan, dan menjalani kehidupan baru yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan masa lalu. Komunikasi ini pun harus dijalankan secara rutin, agar kedekatan tetap terjaga, terutama anak-anak, supaya mereka tidak menjauh dan merasa asing pada orang tua dan keluarga.  
  3. Kita harus memberikan perhatian dengan cara memberikan waktu dan prioritas terhadap anggota keluarga satu sama lain. Ini semua membutuhkan proses terbentuknya Patchwork Family melalui pendampingan oleh orang tua, psikolog, hingga anggota keluarga yang dituakan. Ini sangat dibutuhkan oleh anak-anak di dalam Patchwork Family. Penting juga role model dari orang tua atau saudara kandung agar setiap individu di dalamnya tidak merasakan kesepian atau meyakini  perbedaan yang kontras. Hati-hati juga agar jangan sampai orang tua sibuk dengan pasangan baru atau anak-anak  sambungnya. Sebagai orang tua, kita bisa memberikan penjelasan yang jujur apa yang dirasakan dan dikehendaki di masa depan dengan kondisi baru. Orang tua perlu meyakinkan kalau mereka selalu ada, satu sama lain. Tidak  ada perubahan terhadap cinta dan kasih sayang yang akan diberikan nantinya. 
  4. Kita perlu juga menanamkan keadilan, di mana semua individu di dalam keluarga mendapatkan hak dan kewajiban yang sama sesuai perannya masing-masing. Segala bentuk pemberian disalurkan sama ke seluruh anggota keluarga sesuai posisinya, dalam semua aspek kehidupan seadil-adilnya. Jangan biarkan terjadi perbedaan baik kepada anak kandung, anak tiri maupun anak sambung! Bagaimanapun hal ini akan menimbulkan kecemburuan  ke depannya dan berakibat timbul rasa kurang percaya diri, terutama pada anak.
  5. Kita perlu menghargai privasi setiap anggota keluarga dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, dengan cara tetap  memberikan ruang untuk sendiri atau Me time. Kita tidak perlu memaksa salah satu pihak untuk terus menerus bersama-sama dengan anggota keluarga lain. Kita tidak memaksa untuk menceritakan segala hal yang terjadi dalam hidupnya agar tidak adanya rahasia atau hal-hal yang ditutupi.  
  6. Kita perlu terbuka dengan cara tidak menyembunyikan perasaan atau pikiran yang dimiliki. Kita menyadari bahwa tidak ada orang yang  ingin disakiti dan menyakiti. Semua orang berhak menjalankan keputusannya masing-masing.  Semua orang berhak untuk bangkit lagi dan menemukan cintanya. Semua orang juga berhak memberikan kesempatan untuk tetap mendukung setelah adanya kegagalan dalam keluarga. Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini dan kita pasti pernah berbuat kesalahan. 

Pesanku untuk sahabat Ruanita yang mengalami situasi Patchwork Family, aku berada dalam sepatu kalian. Aku bisa memahami sudah berapa banyak kerikil di dalam sepatu kalian yang ingin disingkirkan, dikeluarkan atau dibersihkan agar kalian bisa tersenyum kembali. Kita harus merelakan, berbesar hati, dan perlahan membuka diri. Jangan sungkan, jika kalian butuh teman atau keluarga untuk berbagi apa yang ada di dalam pikiran dan hati kalian!

Terakhir, kita percaya bahwa menjalani adalah hal yang paling baik untuk semua pihak agar mendapatkan kedamaian dan kebahagian yang abadi. Kalian tidak sendirian. Kalian harus percaya bahwa tidak akan ada yang meninggalkan apalagi melupakan kalian. Semua orang ada untuk menyayangi kalian setulus hati. 

Aku berharap pada masyarakat untuk menghentikan stigma negatif. Ada banyak stigma negatif yang terus menerus tertanam luas tentang Patchwork Family,  ibu tiri atau ibu sambung yang kejam, bapak sambung atau bapak tiri yang sering diberitakan telah melakukan  pelecehan seksual terhadap anak tiri atau anak sambungnya. Stigma negatif lainnya pada anak-anak dengan Patchwork Family  seperti dianggap anak nakal, anak-anak yang memiliki pergaulan bebas, anak-anak yang menggunakan obat-obatan terlarang atau anak-anak berkonflik dengan hukum. Kita tidak menjauhi mereka atau melakukan Bullying  karena perbedaan yang dimiliki. 

Sebagai teman, tetangga atau keluarga, kita perlu memberikan ruang yang aman dan nyaman untuk mereka. Kita perlu mendampingi, mengulurkan tangan, dan mendukung mereka. Sudah sepatutnya, kita menghargai privasi mereka dengan tidak bertanya terlalu dalam, seperti: apa penyebab perceraian orang tua mereka?  apakah ibu/bapak baru mereka bersikap baik? atau pertanyaan lainnya yang dapat melukai perasaan mereka. 

Kita tidak tahu bagaimana kondisi dan situasi mereka, apakah cukup stabil atau baik-baik saja untuk menjawab keingintahuan kita, meskipun kita memiliki kedekatan dengan mereka. Jangan pula menceritakan hal-hal buruk mengenai pengalaman keluarga sambung atau Patchwork Family yang lain. Bagaimana pun, tidak semua hal tentang  perpisahan membawa keterpurukan atau kehancuran. Justru kita perlu mengambil banyak pelajaran dari apa yang mereka alami. 

Tidak ada orang di dunia ini yang menginginkan perpisahan apalagi dengan keluarga yang dicintai yang telah melahirkan dan membesarkan kita ke dunia ini. Sudah sepatutnya kita menghargai kondisi kehidupan keluarga, terlepas dari apapun struktur keluarga tersebut. Semua orang itu berbeda dan tidak ada yang sama. Masalah yang  dihadapinya pun bervariasi dan tidak ada yang mirip. Kita tidak tahu, betapa sulitnya tumbuh di dalam keluarga baru. Kita tidak pernah tahu sudah berapa banyak usaha yang telah mereka lakukan. Saranku, kita mendoakan yang terbaik dan memberikan dukungan agar mereka dapat mencintai dirinya sendiri terlebih dulu baru kemudian orang lain di sekitarnya. 

Penulis: Fadni, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun IG: @fadniiii.

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Treatment PMDD di Amerika Serikat dan Finlandia yang Saya Alami

Nama saya Rika, tinggal di Helsinki bersama suami yang warga Finlandia dan dua anak laki-laki. Setahun belakangan ini hidup saya rasanya sibuk sekali karena sekarang saya kembali bekerja full time setelah dua tahun sempat vakum dari dunia tenaga kerja. Selain itu saya juga ikut kelas menari India di Helsinki dan seminggu sekali mengajar tari Indonesia di KBRI. Hampir setiap hari saya juga harus wara-wiri mengantar anak pergi dan pulang ekskul. Tiap-tiap anak jadwal latihannya empat kali dalam seminggu, belum termasuk turnamen yang sering diadakan di akhir pekan. 

Setelah melahirkan anak pertama saya mengalami postpartum depression. Si anak pertama memang termasuk “high need baby” yang tidurnya sedikit, nangisnya banyak, dan cuma bisa tenang jika disusui. Capek sekali rasanya jadi ibu baru. Setelah kejadian tersebut, memang rasanya saya jadi lebih mudah mengalami stres dan depresi.  Pada akhirnya di tahun 2018 saya mengalami depresi berkepanjangan dan memutuskan untuk mulai mengonsumsi obat antidepresi. Keadaan saya jadi lebih baik berkat obat antidepresi. Namun menjelang menstruasi tetap saja depresi saya kembali lagi walaupun kadarnya sedikit saja. 

Tahun 2019, suami saya ditugaskan ke Amerika Serikat selama dua tahun. Wuaaaa, rasanya bahagia sekali. Amerika ‘kan negara impian saya. Karena merasa terlalu bahagia, saya memutuskan untuk berhenti minum obat antidepresi. Optimis sekali hidup saya akan bahagia pol di Amerika. Lagipula, obat antidepresinya bikin saya jerawatan dan naik berat badan. ‘Kan sebel. 

6-8 bulan lepas dari antidepresi saya mulai menyadari bahwa setiap habis masa ovulasi, pasti saja mood saya memburuk. Bukan sekadar mood swings seperti PMS (premenstrual syndrome) biasa, tetapi benar-benar masuk ke keadaan depresi lagi. Kebetulan saya juga menderita mittelschmerz alias sakit nyeri ovulasi, jadi saya tahu persis kapan saya ovulasi. Seperti magic saja, mood saya berubah total sehari setelah ovulasi. Bagaimana merasakannya? Ketika bangun tidur ada perasaan berat di dada. Otak pun cuma bisa dipakai untuk memikirkan hal-hal negatif. Susah sekali buat merasa senang. 

Pandemi membuat keadaan saya jadi lebih parah. Keadaan terisolasi bikin depresi menjadi-jadi. Semakin lama, kondisi depresi saya semakin parah sampai kadang tidak sanggup untuk bangun dari tempat tidur. Semua terasa berat, melelahkan, menakutkan, bikin sedih, bikin marah, dan bikin putus asa. Jadi saya cuma bisa mengurung diri saja di kamar. Namun tiga hari setelah menstruasi, keadaan berubah total lagi. Saya bangun tidur dan hati rasanya ringan. Rasanya ingin ke dapur, bikin makanan enak-enak untuk keluarga. Ingin menghirup udara segar, ingin jalan-jalan, ingin ngobrol panjang lebar. Semua perasaan depresi tiba-tiba hilang. Sampai nanti setelah ovulasi, depresinya akan datang kembali.

Follow us: @ruanita.indonesia

Hidup saya pun jadi terbagi menjadi dua shift, masing-masing per dua minggu. Ketika lagi “normal”, saya banyak bikin rencana ini-itu. Namun begitu depresinya datang, langsung semuanya buyar. Sampai akhirnya saya nggak pernah lagi mau bikin rencana apa-apa. Mau baca buku saja jadi malas karena bacaannya jadi terbengkalai ketika depresi kumat dan akhirnya malah kena denda telat mengembalikan buku ke perpustakaan. 

Pertama kali ketemu dokter itu gara-gara depresi di akhir tahun 2018. Sebenarnya ini atas inisiatif suami: dia yang membawa saya ke puskesmas karena saya jadi gampang histeris kalau ada masalah. Di tahun 2021, saya kembali menemui dokter. Saat itu saya sedang tinggal di Amerika Serikat, dan PMDD (termasuk depresinya) kumat akibat pandemi. Kondisi ini yang mendorong saya kembali mencari bantuan profesional. 

Singkatnya sih, PMDD (premenstrual dysphoric disorder) itu adalah versi parahnya PMS. Kalau PMS umumnya perempuan mengalami mood swings, penderita PMDD malah mengalami depresi. Gejala PMDD nggak sekadar masalah mental. Umumnya juga merambah ke fisik seperti saya yang mengalami kram perut selama dua mingguan sejak ovulasi hingga hari kedua menstruasi. Jerawat juga wadaaaw… jangan ditanya. Mati satu tumbuh seribu.

Di Amerika urusan ketemu dokter jadi gampang berkat asuransi, termasuk dokter spesialis. Tidak tanggung-tanggung, saya ketemu dua dokter sekaligus: dokter umum dan spesialis ObGyn karena saat itu saya sudah curiga sepertinya yang saya alami adalah gejala PMDD. 

Mau cerita sedikit tentang kunjungan saya ke dua dokter tersebut. Dokter umum saya berteori kalau PMDD disebabkan karena underlying depression. Jadi kalau ingin menyembuhkan PMDD, depresinya yang harus diberesin. ObGyn saya berpendapat PMDD dan depresi itu seperti telur dan ayam: entah mana yang mulai duluan dan memberi efek ke yang lain. Sebelum memberikan treatment, beliau meminta saya untuk mengisi jurnal siklus menstruasi dulu selama 3 bulan. Jurnal ini merekam gejala-gejala umum PMDD. Tujuannya untuk melihat apakah gejala tersebut muncul secara sporadis, konstan, atau di waktu tertentu saja. Berkat jurnal ini jadi terlihat kalau memang gejala depresi maupun fisik (kram perut, jerawat) yang saya alami muncul di fase luteal hingga hari ke-2 atau ke-3 menstruasi. 

Kalau ditanya soal apa yang biasa dilakukan saat mengalami fase PMDD? Sayangnya karena terlalu tenggelam dalam keadaan depresi, saya jadi tidak melakukan apa-apa. Namun satu hal yang jelas: setelah minum obat, gejala PMDD saya sangat minim dan hampir seperti hari-hari normal lainnya. 

Ada beberapa peristiwa yang pernah saya alami saat PMDD terjadi. Kalau lagi masuk fase PMDD dan depresi memuncak, saya jadi takut menyetir mobil. Entah mengapa rasanya deg-degan terus dan akhirnya jadi banyak bikin kesalahan. Pernah suatu kali, saya banting setir ke kiri karena ada bunyi klakson. Gak tahunya, bukan saya yang diklakson. Tapi cuma dengar klakson saja sudah cukup bikin saya panik dan otomatis banting setir. Untung jalanan lagi sepi. 

Soal proses menerima kondisi PMDD ini, saya terpukul sekali waktu dokter bilang PMDD biasanya disebabkan oleh underlying depression. Waktu tahu soal PMDD, saya menyalahkan hormon atas keadaan depresi saya. Lega rasanya ada yang bisa disalahkan. Tapi setelah mendengar perkataan bu dokter, saya sempat terpuruk selama beberapa hari. Pikiran ‘ternyata memang saya yang depresi’ dan ‘memang saya yang gak beres’ terus berulang-ulang muncul. 

Yang kemudian sangat membantu adalah ketika beberapa teman bercerita kalau mereka juga didiagnosa depresi dan sama-sama minum antidepressant seperti saya. Segala pertanyaan “Why me?” dan pikiran yang menyalahkan diri sendiri langsung hilang. Siapa saja bisa depresi, entah apa pun alasannya. 

Saya baru mulai mencari informasi ketika muncul rasa heran: kenapa depresi saya munculnya menjelang menstruasi? Lewat pencarian google barulah saya mengenal istilah PMDD. Lalu karena malas sekali rasanya kembali minum obat antidepresi, saya berusaha mencari pengobatan alternatif. Kebetulan dokter umum saya di Amerika mempunyai pendekatan holistik dalam pengobatan dan beliau memberikan banyak masukan tentang mencoba akupunktur dan obat-obatan herbal yang bisa saya coba seperti misalnya St. John’s Wort dan chinese medicine yang katanya ampuh untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan hormon (yang sering kali dikaitkan dengan PMDD). 

Saya sempat datang ke klinik TCM (traditional chinese medicine) dan obat yang diresepkan cukup membantu. Pikiran jadi lebih tenang, kulit muka jadi bersih. Tapi terus kliniknya sempat tutup lama sekali ketika kasus pandemi memuncak. Pengobatan saya pun jadi berhenti di tengah jalan.

Untuk proses dan prosedur mendapatkan treatment depresi dan PMDD ini, di Finlandia sendiri penanganan untuk segala macam masalah kesehatan dimulai dari puskesmas. Jadi saya nggak bingung-bingung harus mencari bantuan ke mana. Walaupun saya lumayan kaget karena ternyata antidepressant saya diresepkan oleh dokter umum. Tidak perlu menemui psikiater. Dokter pun menjelaskan bahwa kasus-kasus tertentu saja yang dirujuk ke psikiater. Namun saya juga mendapatkan sesi terapi pendamping, kok. Ada perawat khusus yang menemui saya sebulan sekali untuk talk-therapy. Ini sifatnya optional dan pada akhirnya saya hentikan setelah dua kali pertemuan karena nggak enak kalau terlalu sering izin dari kantor. Waktu itu belum jamannya WFH (=Work From Home), sih. 

Untuk obat yang diresepkan, obat antidepresi standar seperti citalophram dan e-citalophram harganya murah sekali. Lebih murah dari Panadol. Waktu saya pindah obat ke Voxra, dokternya minta maaf karena obatnya mahal. Eh ternyata masih sangat terjangkau, kok. Terima kasih universal healthcare

Ketika tinggal di Amerika Serikat, untungnya kami punya asuransi yang lumayan bagus. Segala pengobatan ke dokter gratis, tapi biaya obat tidak ditanggung penuh walaupun mendapatkan potongan harga. Karena saya diresepkan dua jenis obat (antidepressant dan pil KB), bayarnya sungguh lumayan. Apalagi pil KB-nya, bahkan setelah diskon harganya hampir 60 dollar/pack. Di Finlandia, pil yang sama harganya 14 euro/pack. 

Asuransi kami juga menanggung psikoterapi, jadi saya sempat konsultasi rutin dengan psikolog seminggu sekali selama beberapa bulan. Ini hal yang sangat mewah karena kunjungan ke psikolog itu mahal sekali dan di Finlandia cuma kasus-kasus berat saja yang dirujuk ke psikolog maupun psikiater dengan biaya ditanggung negara. Kalau terapinya atas inisiatif sendiri, bayarnya sungguh bikin bangkrut. 

Banyak sekali pelajaran yang saya petik dari memiliki kondisi PMDD ini. Pertama, saya tidak lagi meremehkan PMS. Sebelum hamil saya tidak pernah mengalami PMS sampai-sampai saya kira PMS itu dongeng saja yang dijadikan alasan buat manja. Eh, taunya… sekarang saya malah dikasih PMDD. Penderita PMDD ataupun PMS berhak mendapat empati. 

Pelajaran lain berkaitan dengan depresi. Depresi tidak selalu terlihat dan pada umumnya orang nggak mau kelihatan depresi. Jangan kaget kalau dengar kabar seseorang menderita depresi. Gak usah bilang “Gak nyangka ya, kayanya hidupnya seneng-seneng terus“. Kalau ada teman yang tiba-tiba menghilang, yang jadi jarang ngumpul, coba cek keadaanya. Depresi bikin seseorang merasa helpless, insignificant, and even unloved. Just to know that someone cares helps A LOT! 

Gak perlu mikirin terlalu ribet, bagaimana membantu seseorang keluar dari depresi. Pada umumnya cuma profesional yang bisa membantu. Just. Be. There. Dan bantu dia mengerjakan hal-hal yang sulit dia lakukan sendiri seperti beli makanan, bersih-bersih rumah. Itu sudah sangat cukup dan berarti.

Satu lagi pelajaran yang sangat berarti: ternyata benar loh yang orang-orang bilang, kalau olahraga dan udara segar sangat ampuh untuk mengatasi depresi. Keadaan PMDD saya jadi lebih teratasi kalau saya lagi rutin berolahraga dan banyak-banyak keluar rumah. Terkukung di rumah dan kurang gerak sungguh pencetus depresi.

Penulis: Rika, tinggal di Helsinki. Bisa dihubungi di akun instagram @seerika.

(IG LIVE) Konsep Bahagia di Denmark & Finlandia

Kebahagiaan pada umumnya biasa diidentifikasikan oleh gerakan wajah tersenyum atau tertawa. Namun apakah tertawa dan tersenyum menjadi satu-satunya tolak ukur dalam kebahagiaan?

Pada IG Live di bulan Maret 2023, Ruanita membahas tentang kebahagiaan atau apa yang menyebabkan seseorang bisa menjadi bahagia yang dipandu oleh Fransisca Sax seorang volunteer RUANITA yang bekerja sebagai Psikolog dan menetap di Jerman.

Pada kesempatan kali ini ada dua sahabat Ruanita, Selvie Tandirerung yang berkerja sebagai Mine Engineer di Finlandia dan juga Dewi Nielsen yang bekerja sebagai suster di Denmark, akan bercerita dan berbagi sudut pandang mereka tentang apa itu kebahagiaan di Finlandia & Denmark.

Lalu mengapa di Finlandia dan Denmark?

Follow us ruanita.indonesia



Menurut Statista, Finlandia dan Denmark merupakan dua negara peringkat teratas dalam index kebahagiaan. Selvie dan Dewi yang sudah lama menetap di kedua negara tersebut bercerita tentang cara hidup dan juga kebiasaan yang menyebabkan dua negara tersebut berada di peringkat atas negara paling bahagia di seluruh dunia. Selain itu, mereka juga akan berbagi tentang perbedaan kultur & cara pandang antara Indonesia dan Denmark & Finlandia dan juga perbedaan fundamental dalam konsep kebahagiaan.

Padahal jika ditilik, Finlandia dan Denmark yang secara geografis berada di Eropa Utara, terkenal akan minimnya sinar matahari ketika musim dingin ditambah lagi suhu cuaca yang hanya berkisar sekitar 20 derajat Celcius pada musim panas. Kekayaan alam mereka juga tidak seberagam atau tidak semelimpah ruah jika dibandingkan dengan Indonesia

Kemudian, apa sih yang membuat Finlandia & Denmark berada di peringkat atas?

Apakah karena masyarakat di dua negara tersebut suka tertawa? Atau karena mereka gemar membayar pajak? Atau mungkin karena mereka mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi antar sesama dan juga kepada badan pemerintahan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, silahkan klik dan putar ulang siaran IG Live Ruanita yang semoga akan menjawab rasa penasaran para sahabat Ruanita dan juga bisa menjadi pembelajaran di hidup kita.

Penulis: Putri T. tinggal di Jerman (akun IG: pupsaloompa)