NORWEGIA – Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai anugerah dari Tuhan, HAM wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, pemerintah dan setiap orang di dunia ini tanpa kecuali.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal HAM dan Hak Warga Negara (HWN). HAM berlaku secara universal yang melekat dalam diri manusia sejak ia lahir. HAM sendiri telah dideklarasikan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 yang memuat 30 pasal yang diterima secara umum untuk kesejahteraan bersama.
Sementara HWN adalah hak yang diperoleh seseorang sebagai warga negara yang hidup di suatu negara, biasanya diatur secara langsung atau tidak langsung oleh negara yang bersangkutan.
Tak semua memahami perbedaan HAM dan HWN. HAM melekat dalam diri manusia yang tidak terbatas sedangkan HWN dibatasi oleh aturan negara yang menaunginya. Sementara HAM berlaku sama untuk setiap manusia di bumi, HWN dapat berbeda antar satu negara dengan negara lainnya.
Namun dibalik perbedaan tersebut terdapat pula persamaan antara HAM dengan HWN seperti hak mendapatkan kehidupan yang layak, hak untuk mendapatkan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya, dan lain sebagainya.
Berkaitan dengan HAM dan HWN, istilah ‘Keindonesiaan’ mencuat ketika orang-orang ramai memperbincangkan sampul warna paspor yang dimiliki. Memahami keindonesiaan seolah-olah dipandang hanya mereka yang benar-benar cinta Indonesia dari kepemilikan warna paspor.
Realitas Indonesia dan keindonesiaan memang perlu pembacaan dan analisis yang multiperspektif, yang tidak mudah dipahami secara sederhana dan linier.
Oleh karena itu, pandangan integratif memahami keindonesiaan dirasakan penting untuk warga Indonesia di mancanegara melalui forum Diskusi Online yang diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia pada hari Sabtu 10 Desember 2022.
Diskusi Online ini diadakan atas inisiatif warga Indonesia yang tergabung dalam RUANITA (Rumah Aman Kita) bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Oslo, Norwegia. Untuk mengawali dialog, Prof. DR. Todung Mulya Lubis selaku Duta Besar RI untuk Norwegia dan Islandia akan memantik diskusi apakah kewarganegaraan tersebut merupakan pilihan hak asasi manusia.
Selanjutnya dalam diskusi online, perspektif lintas batas akan disampaikan oleh Novi, seorang ex WNI yang tinggal di Norwegia tentang pengalaman nasionalisme yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Narasumber selanjutnya adalah Ita Fadia Nadia yang berbicara perjuangan perempuan penyintas tragedi 1965 dan Yantri Dewi yang akan mempertegas pilihan kewarganegaraan bagi perempuan pelaku kawin campur. Diskusi Online juga ditutup oleh pemaparan Amiruddin, Komisioner Komnas HAM RI yang berbicara tentang kewarganegaraan dan hak asasi manusia.
Diskusi online ‘Keindonesiaan di Luar Indonesia dalam Perspektif HAM’ akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 Desember 2022 pukul 10.00 CET/16.00 WIB melalui aplikasi Zoom dan dibuka untuk umum. Selain itu, diskusi online ini menjadi penutup rangkaian peringatan kampanye 16 hari yang diselenggarakan RUANITA dalam rangka peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang dimulai dari 25 November 2022.
RUANITA – Rumah Aman Kita adalah komunitas Indonesia di mancanegara yang bertujuan untuk mempromosikan psikoedukasi, kesetaraan gender dan berbagi praktik baik tinggal di luar negeri. Ruanita adalah wadah berbagi ilmu, pengalaman dan cerita serta praktik baik untuk tinggal di luar negeri serta mengangkat tema sosial, budaya dan psikologi yang mungkin tidak populer dalam narasi publik. Dalam pelayanannya, Ruanita menggunakan Bahasa Indonesia serta menjunjung tinggi nilai personalitas, solidaritas, dan subsidiaritas.
“Bagaimana menerima kasus dan tidak menghakimi korban di masa mendatang melalui kebijakan terintegrasi?” kata Chris Poerba sebaga narasumber IG Live Episode November 2022 yang mengambil tema: kekerasan terhadap perempuan dalam perspektif Hak Asasi Manusia (HAM).
Program IG Live adalah salah satu program RUANITA yang diselenggarakan tiap bulan dengan tema-tema menarik dan mengundang tamu yang bercerita menurut pengetahuan, pengalaman dan pengamatan.
Pada Episode November 2022 IG Live dipandu oleh Fransisca Sax, volunteer RUANITA yang bekerja sebagai Psikolog dan menetap di Jerman.
Program IG Live ini menjadi bagian dari kampanye 16 hari peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang dimulai dari 25 November 2022.
Untuk mendalami tema ini, kami mengundang Chris Poerba, peneliti dan penulis buku bertema gender dan HAM. Chris Poerba juga pernah bekerja sebagai Badan Pekerja Purnabakti Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (2012-2021) dan sekarang bekerja sebagai konsultan peneliti di Komnas HAM Indonesia.
Fransisca menjelaskan latar belakang tema IG Live episode November 2022 adalah bagian dari rangkaian kampanye 16 hari yang diselenggarakan RUANITA yang disebut program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamu) yang kini memasuki tahun kedua. Tahun lalu RUANITA menggelar kampanye SURAT TERBUKA yang menyuarakan keprihatian akan maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan.
Mengingat kendala teknis yang dialami Fransisca di Jerman dan Chris Poerba di Indonesia, mohon agar penonton dapat memahami bagaimana kami telah berupaya maksimal dalam menyelenggarakan program IG Live tiap bulannya.
Kekerasan terhadap perempuan adalah termasuk bagian dari kekerasan terhadap hak asasi manusia. Ada kekerasan yang terjadi pada perempuan dan itu belum tentu dialami oleh para pria sehingga itu membuat penderitaan tersendiri bagi perempuan yang menjadi kelompok rentan. Hal ini pun sudah tercantum dalam Konvensi Internasional menjadi bagian dari Kekerasan Berbasis Gender.
Sebagai pekerja kemanusiaan, Chris Poerba tentu punya motivasi tersendiri karena telah bergelut lebih dari 10 tahun dalam isu yang sama. Chris menilai selama ini masih banyak orang rancu antara pendapat gender dan kodrat, padahal relasi perempuan dan laki-laki adalah sama. Chris mengaku ini tak mudah untuk meyakini paradigma berpikir seperti ini dalam masyarakat terutama yang masih mendominasi oleh paham patriaki.
Data WHO menunjukkan bahwa 1 dari 3 perempuan masih mengalami kekerasan dan dalam 10 tahun belum ada penurunan angka yang signifikan. Mengapa kasus kekerasan terhadap perempuan masih sulit diproses secara hukum?
Kekerasan terhadap perempuan ini masih terlihat seperti gunung es di mana ada banyak hal yang memengaruhi seperti korban tidak percaya satu sama lain, stigma sosial masyarakat, diskriminasi dan selama ini penanganannya memang masih hanya ada permukaan. Penanganannya menurut Chris perlu dilakukan secara menyeluruh oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Lebih jelas tentang program IG Live, bisa disaksikan rekamannya dalam saluran YouTube kami berikut:
“Hidup seperti tidak punya arah, tujuan dan pegangan. Anak yang semula menjadi tujuan segala aktivitas, kini menjadi tidak jelas. Terlebih di saat sekarang kesehatan fisik sudah mulai menurun, usia sudah hampir kepala 6, perasaan ingin berada di dekat anak membuat semakin kesepian. Di saat ada masalah, apapun itu, rasanya ingin bisa dikuatkan oleh anak-anak.”
Aku adalah seorang ibu dengan dua anak perempuan. Kami sekeluarga semula tinggal bersama di ibu kota. Sejak berhenti kerja, aku dan kedua putriku pindah ke kota lain, sedangkan suamiku menetap di ibu kota untuk mencari nafkah.
Selama 10 tahun bisa dibilang aku membesarkan dan mengurus kedua putriku sendirian. Seiring berjalannya waktu, hingga si sulung selesai SMA, tibalah waktunya untuk harus melepasnya, memenuhi keinginannya lanjut studi ke luar negeri.
Ketika putriku akan berangkat ke luar negeri, justru aku tidak bisa merasakan dengan jelas apa yang kurasakan. Semua mengalir menjadi satu: senang dan bangga karena keinginannya bisa terwujud, cemas karena tidak bisa menemani perjalanan jauhnya, sedih karena harus berpisah, bingung bagaimana caranya jika ingin bertemu dan sebagainya.
Campur aduk yang pasti. Yang menarik adalah, kuingat hari keberangkatannya yang mendadak waktu itu dikarenakan visa yang keluar mepet, masih ada beberapa barang yang anakku harus persiapkan atau beli.
Sebenarnya dia ingin membagi tugas supaya lebih cepat beres. Namun aku justru memaksanya untuk pergi bersama untuk semua yang harus ia urus.
Awalnya setelah tidak bersama atau serumah lagi, aku tidak merasakan suatu perasaan sedih atau kesepian atau terasa berat. Mungkin karena anak-anak sejak kecil sudah sering dan terbiasa ku tinggal; mandiri.
Hidup kujalani seperti biasa, toh masih ada satu lagi putriku. Selain itu, komunikasi dengan si sulung pun tetap bisa berlangsung dengan adanya internet.
Rasanya anak hanya sedang berada di luar kota. Tidak ada rasa kesepian yang cukup berarti. Didukung lagi dengan banyaknya aktivitas yang kulakukan.
Urusan sekolah si bungsu juga menyita waktu dan perhatian. Kegiatan pelayanan untuk gereja selalu menjadi penyemangat hidup.
Namun semakin lama hidupku kok justru terasa semakin “kosong”, kesepian dan tidak berarti. Hidup seperti tidak punya arah, tujuan dan pegangan. Anak yang semula menjadi tujuan segala aktivitas, kini menjadi tidak jelas.
Terlebih di saat sekarang kesehatan fisik sudah mulai menurun, usia sudah hampir kepala 6, perasaan ingin berada di dekat anak membuat semakin kesepian.
Di saat ada masalah, apapun itu, rasanya ingin bisa dikuatkan oleh anak-anak. Namun realita yang kuhadapi hanyalah perasaan kosong dan sendiri.
Pikiran tentang bagaimana dan apa yang terjadi dengan putri sulungku hari demi hari nun jauh di negeri orang, sungguh merangkai banyak prasangka.
Untuk menghalau atau lebih tepatnya menghindari rasa galau dan segala suasana pikiran dan hati yang berkecamuk yang terkadang muncul, aku lebih banyak menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan pelayanan gereja, di samping tentu saja berdoa tengah malam.
Tapi aku justru lebih banyak menghindari perjumpaan atau “kumpul-kumpul” ataupun sekadar zoom meeting dengan sanak keluarga besar, yang pasti dan selalu akan menanyakan kabar si sulung. Memang jadi terkesan melarikan diri, bukan mengatasi, dan pengecut. Namun aku hanya mampu begitu.
Sejujurnya, kalau aku boleh menyarankan, khususnya bagi para ibu, untuk berpikir dan mempertimbangkan matang-matang dari banyak faktor sebelum ambil keputusan akan “melepas” anak jauh ke seberang sana.
JERMAN – Ruanita, Alzi Jerman dan Alzi Belanda berkerja sama menyelenggarakan dialog daring dengan tema “Mengenal Alzheimer, Faktor Resiko, dan Cara Mengurangi Resikonya“ untuk memperingati Hari Alzheimer Sedunia yang jatuh pada tanggal 21 September lalu. Peringatan daring ini diselenggarakan pada hari Sabtu (24/09) pada pukul 10.00 CEST atau 15.00 WIB.
Selain untuk memperingati Hari Alzheimer Sedunia, acara ini juga bertujuan untuk memperkenalkan komunitas Alzheimer Indonesia Jerman (Alzi Jerman) dan Yayasan Alzheimer Indonesia di Nederland (ALZI Ned), memberikan informasi yang tepat tentang Alzheimer ke masyarakat, serta membangun dukungan sosial kepada keluarga dan caregiver Orang Dengan Demensia (ODD).
Konsul Jendral RI di Frankfurt Jerman, Asep Somantri memberikan dukungan penuhnya dan mengapresiasikan acara ini. Hal tersebut tertuang dalam sambutan saat membuka acara secara daring. Menurutnya, acara ini juga merupakan salah satu upaya pencegahan dan penanganan penyakit Alzheimer, yang sampai saat ini, baik obat atau penyebab pastinya belum ditemukan. Walau begitu Asep menekankan, “Ketiadaan obat bukan berarti tidak adanya pengobatan, perawatan, dan dukungan pasca diagnosis. Sesuai dengan himbauan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), hal ini menjadi hak asasi manusia, dan dimasukkan ke dalam perencanaan sistem kesehatan nasional“.
Asep juga menyampaikan, menurut laporan Alzheimer tahun 2002, pada tahun 2030 akan ada 2 juta orang dengan demensia di Indonesia dan akan berlipat ganda menjadi 4 juta orang pada tahun 2050. Karena itu, pemerintah RI melalui Kementerian Kesehatan memberikan perhatiannya dengan mengembangkan sistem kesehatan dan sosial, serta memberikan dukungannya kepada caregiver. Dari acara ini Asep berharap, „Langkah yang sangat baik ini terus dilanjutkan dan terus ditingkatkan. Mengingat pentingnya membangun kesadaran Alzheimer dari kita semua, sehingga kita mampu mengenali, mencegah, dan menangani Alzheimer secara baik, […] sehingga kualitas hidup ODD tetap terjaga dan bisa terus produktif“.
Sesi pertama diisi oleh narasumber Rudin Sumbajak, ketua Selindo (Senioren Lansia Indonesia) dan juga Koordinator Wilayah Sementara komunitas Alzi Jerman. Rusdin menjelaskan, berdirinya Alzi Jerman dua tahun lalu merupakan ide dari Konjen KJRI Frankfurt saat itu dan Amalia Fonk-Utomo (Yayasan Alzi Ned) karena semakin banyaknya orang tua Indonesia di Jerman.
Ia melanjutkan, berdirinya Selindo (dahulu bernama Lansia Indonesia) merupakan usulan dari Damos Agusman, Konsul KJRI Frankfurt pada tahun 2013 sebagai sebuah perkumpulan untuk lansia agar bisa saling membantu satu sama lain, “Kegiatan Selindo (bertujuan) untuk meringankan hidup lansia dengan bersuka cita bersama-sama. Setiap tiga bulan kami merayakan ulang tahun (anggota) dengan makan-makan“, tambahnya.
Selindo juga membantu anggotanya yang mempunyai masalah, seperti terkena penyakit demensia atau hidup sendiri tanpa keluarga. Selindo juga aktif melibatkan pemerintah Jerman dan Indonesia melalui kerja sama dengan organisasi-organisasi Alzheimer Jerman yang berada di bawah naungan Bundesministerium für Familie, Senioren, Frauen und Jugend (Kementerian federal bidang keluarga, lansia, perempuan, dan remaja) dan komunitas Alzi Jerman.
Rudin menambahkan, sampai saat ini Selindo dan komunitas Alzi Jerman masih berada di bawah pengurus yang sama, namun di masa depan kedua organisasi tersebut akan terpisah. Ia juga berharap akan ada koordinasi lebih baik dengan kelompok masyarakat di setiap kota sebagai penolong Alzi Jerman.
Sesi kedua diisi oleh narasumber Amalia Fonk-Utomo, founder Yayasan Alzheimer Indonesia Nederland (Alzi Ned). Saat ini Amalia juga menjabat sebagai dewan penasihat Yayasan Alzheimer Indonesia di Jakarta dan juga Head Accreditation Alzheimer Disease International di London, Inggris.
Saat acara berlangsung, Amalia sedang berada di Jakarta untuk menghadiri konferensi nasional tentang demensia dengan berjudul „Demensia, lalu bagaimana?“, yang dihadiri tidak hanya oleh multiprofesi tetapi juga ODD.
Alzi Ned berdiri sejak tahun 2016 dan mempunyai visi untuk meningkatkan kualitas hidup orang dengan demensia (ODD), keluarga, dan caregiver-nya yang berlatar belakang Indonesia di Belanda. Amalia menjelaskan tiga pilar Alzi Ned, yakni 1) risk reduction atau kegiatan untuk mengurangi faktor resiko demensia, seperti brain gym atau senam otak, 2) meaningful engagements atau kegiatan-kegiatan bermakna untuk mengaktifkan otak, olah raga, dan mendekatkan hubungan dengan keluarga atau teman; dan 3) edukasi tentang Alzheimer.
Amalia juga mengajak semua peserta acara untuk melakukan brain gym bersama dengan menyaksikan salah satu video yang tersedia di YouTube Alzheimer Indonesia. „Tidak hanya brain gym, di sana [Youtube] juga bisa ditemukan banyak video informasi tentang Alzheimer yang bisa kita pakai untuk sosialisi di Indonesia“, lanjut Amalia.
Amalia menjelaskan kegiatan Alzi Ned melingkupi kerja sama dengan pemerintah Belanda, pemerintah RI melalui KBRI dan/atau KJRI sebagai bentuk dukungan dari Kementerian Luar Negeri RI, dan masyarakat Indonesia di Belanda. Ia juga menekankan, bahwa demensia dan Alzheimer bukan hanya urusan lansia, tapi juga semua orang, karena jika seseorang terkena demensia atau Alzheimer maka yang terkena dampaknya juga keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Dialog daring ini juga diisi oleh pemaparan ahli dari Sven Juda, B.Sc. mahasiswa jurusan Psychology and Neurosience Universitas Maastrich, Belanda. Sven memulai presentasinya dengan menjabarkan perbedaan penyakit demensia dan Alzheimer. Menurutnya, demensia dan Alzheimer tidak sama tetapi sangat mirip.
Demensia adalah gangguan kemampuan kognitif yang meliputi kemampuan belajar dan mengingat, berbicara, mengambil keputusan, konsentrasi, motorik, dan hubungan sosial. Gangguan ini menyebabkan terganggunya aktivitas sehari-hari dan menjadi penyebab turunnya kualitas hidup penderitanya. Sedangkan Alzheimer adalah salah satu penyakit yang bisa menyebabkan demensia. Alzheimer merupakan indikasi terjadinya mutasi gen pada penderita atau memiliki sejarah keluarga dengan penyakit ini.
Menurutnya, gejala-gejala penyakit ini datang perlahan, namun konstan tanpa berhenti. Gejala-gejala umum demensia Alzheimer, yaitu gangguan daya ingat, susah komunikasi, sulit fokus, menarik diri dari kehidupan sosial, dan sebagainya. Sven kembali menekankan, „Demensia ini bukan Alzheimer dan Alzheimer ini bukan demensia. Penyakit Alzheimer ini adalah satu penyakit yang bisa menjadi sumber demensia, seperti Parkinson, tetapi memang benar 60-80% penyebab penyakit demensia adalah Alzheimer“.
Sampai saat ini penyebab Alzheimer masih belum ditemukan pasti, namun Sven menjelaskan, pada otak ODD ditemukan zat protein Beta-Aminoid berlebihan yang bertanggung jawab pada kerusakan neuron. Neuron yang rusak ini tidak bisa lagi menyerap nutrisi dan akhirnya mati.
Sayangnya, penelitian tentang Alzheimer masih hanya sampai di situ dan peneliti belum bisa mengungkap penyebab terjadinya aktivitas beta-aminoid tersebut, kecuali kemungkinan adanya faktor genetis. Tipe Alzheimer inilah yang 95% terjadi di masyarakat, sedangkan 5% lainnya disebabkan mutasi gen, seperti Down Syndrom. Demensia tipe ini bisa menyerang orang di bawah umur 60 tahun.
Sven menyebutkan faktor-faktor untuk mengurangi risiko demensia, yaitu makan sehat, berolah raga, mengurangi asupan gula, konsumsi alkohol terbatas, dan sebagainya. Dia juga mengatakan, bahwa kesehatan jantung sangat penting. Dengan jantung sehat, maka kemungkinan terkena Alzheimer pun menurun. Sven menekankan, “jika seseorang sudah terkena demensia, (gejala-gejalanya) susah dihentikan dan kondisi penderita akan semakin menurun dan bisa meninggal. Yang bisa dilakukan adalah mendukung kualitas hidup ODD ini, agar ia tidak menderita“.
Oleh karena itu, lanjutnya, kita harus mempunyai pengetahuan tentang gejala-gejala Alzheimer, sehingga bisa lebih cepat untuk menanganinya dan aktivitas hidup ODD bisa disesuaikan dengan penyakit ini. Sebelum menutup presentasinya, Sven mengulangi moto Alzheimer Indonesia, yakni “jangan maklum dengan pikun“.
Dalam sesi tanya-jawab, Rusdin menjawab pertanyaan apakah Selindo atau Alzi Jerman hanya sebatas di wilayah kerja KJRI Frankfurt. Menurutnya saat ini Selindo terbuka untuk masyarakat Indonesia di mana pun di Jerman, ia juga berharap akan ada perwakilan Selindo di kota-kota seluruh Jerman dan semua organisasi masyarakat di Jerman bisa menjadi partner Alzi Jerman. Rusdin dan juga Amalia mengungkapkan, keanggotaan Alzi Jerman dan Alzi Ned tidak tertutup bagi masyarakat Indonesia yang sudah berpindah kewarganegaraan.
Tidak hanya pertanyaan yang berkaitan dengan keorganisasian, beberapa pertanyaan yang masuk juga berkaitan dengan penyakit demensia. Salah satunya menanyakan kebenaran, bahwa orang yang tidak berolah raga lebih berisiko terkena Alzheimer. Menurut Sven, “berdasarkan definisinya, Alzheimer bukan hanya penyakit yang menyebabkan penurunan ingatan, tapi juga kemampuan koordinasi fisik“. Dia menjelaskan, bahwa, semua olah raga, contohnya lari atau silat membutuhkan koordinasi fisik, sehingga bisa dianggap sebagai ‚brain gym‘. Dia juga mengingatkan kembali, Alzheimer sangat berhubungan dengan kesehatan jantung, dan olah raga merupakan aktivitas yang baik bagi jantung.
Sesi keempat diisi oleh Sofian dan Susanna Juda. Pasangan suami istri yang tinggal di Jerman sejak akhir tahun 80an ini berbagi pengalaman tentang perawatan ibu mereka yang menderita Alzheimer sebelum akhirnya meninggal dunia. Mengawali presentasinya, Sofian menyebutkan beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab Alzheimer pada ibunya, yaitu Diabetes Melitus tipe 2 yang dideritanya dan stroke yang pernah menyerang dua kali. Ia juga menambahkan, empat saudara laki-laki ibunya juga menderita “pikun“, namun masih tanda tanya bagi mereka apakah Alzheimer merupakan penyakit keturunan di keluarga mereka.
Sofian dan keluarganya membuat dasar pengertian sendiri tentang Alzheimer yang menjadi dasar motivasi mereka untuk merawat ibu mereka dengan baik. Pertama Alzheimer adalah perpisahan bertahap, karena perlahan-lahan memisahkan keluarga dengan ODD, kedua Alzheimer adalah penyakit keluarga karena yang lebih menderita adalah keluarga, bukan ODD, ketiga Alzheimer belum bisa diobati, keempat Alzheimer tidak atau mungkin bisa diperlambat; kelima Alzheimer tidak mengenal umur, dan enam Alzheimer bisa menyerang siapa saja.
Dengan dasar pengertian itu, mereka sangat memprioritaskan ibu mereka dan menghapus alasan ‚tidak sempat/tidak ada waktu‘ untuk merawatnya. Mereka juga semaksimal mungkin menggunakan teknologi yang ada, karena saat itu ibu mereka berada di Indonesia. Hal ini dicerminkan dengan kontak setiap hari melalui Skype atau Whatsapp, memasang web cam di rumah untuk memantau aktivitas ibu mereka selama 24 jam, contohnya di depan kamar mandi dan dekat tempat tidur.
Sofian juga mengingatkan pentingnya dokumentasi yang baik tentang hasil pemeriksaan darah, obat-obat, juga tekanan darah, gula darah dan berat badan. Dokter-dokter yang ikut menangani ibu mereka tidak saling berkomunikasi tentang obat-obatan yang dikonsumsi ibunya.
Oleh karena itu daftar obat juga mereka dokumentasikan secara detail dan selalu dibawa setiap konsultasi dengan dokter. Bagi Sofian, “tanggung jawab (akan obat) bukan hanya di tangan dokter, tapi juga di tangan keluarga pasien“, karena keluarga yang memutuskan pengobatan pasien.
Dukungan juga mereka berikan dengan mengirimkan obat-obatan dari Jerman ke Indonesia, mencari penelitian ilmiah terbaru sebagai dasar pengambilan keputusan pengobatan selanjutnya, dan pertukaran informasi dengan dokter kepercayaan. Sofian dan Susanna pulang ke Indonesia setidaknya setahun sekali untuk merawat ibu mereka secara langsung. Mereka percaya perhatian dan waktu adalah pengobatan utama untuk penderita Alzheimer dan tanpa efek samping.
Mereka juga selalu meluangkan waktu untuk mencari informasi dan ide perawatan atau stimulasi bagi ibunya, contohnya bermain congklak dan halma sebagai latihan menstimulasi pikiran, fisioterapi dan membuat ketupat sebagai latihan motorik kasar dan halus, berkunjung ke sanak-saudara atau mengikuti kegiatan Alzi Indonesia sebagai kegiatan bersosialisasi.
Di acara ini mereka menekankan pentingnya ritme aktivitas sehari-hari penderita Alzheimer, yang seharusnya sama dengan kegiatan mereka sebelum terkena Alzheimer. Mereka mencontohkan kegiatan pagi ibu mereka yang meliputi sarapan dan sembahyang.
Stimulasi memori juga penting bagi penderita demensia. Bagi Sofian, caregiver terbaik bagi ODD adalah keluarga terdekatnya, karena mereka yang mengetahui bagaimana kehidupan dan aktivitas penderita sebelum sakit. Sofian dan Susanna rutin membawa ibu mereka ke tempat-tempat yang dulu pernah atau sering ibu mereka kunjungi, seperti kampung halaman, sekolah anak-anaknya dulu atau memasak makanan yang sering ibunya masak dulu.
Sebelum menutup pengalamannya merawat penderita Alzheimer, Sofian menyarankan keluarga dan caregiver ODD untuk selalu aktif mencari informasi tentang demensia dan jangan pernah menyerah. Dia juga menekankan, menyalahi masa lalu, misalnya karena orang tua penderit dulu tidak berolah raga, hanya membuat keluarga merasa terjebak di masa lalu dan tidak membantu penderita.
JERMAN – Tak banyak orang tua yang siap menerima kondisi anak dengan Autisme, apalagi tinggal jauh dari Indonesia. Padahal sikap mental orang tua ini menentukan dan berdampak pada bagaimana orang tua mendukung dan menangani kekhususan dan kompleksitasnya.
Hasil penelitian menunjukkan peran aktif orang tua sangat menunjang keberhasilan terapi dari penanganan anak dengan autisme. Bagaimana pun orang tua selalu ingin yang terbaik untuk tumbuh kembang anak-anaknya.
Kehidupan di luar Indonesia nyatanya memberikan pengaruh bagi orang tua yang mengalami anak dengan autisme. Orang tua dihadapkan pada prosedur kebijakan penanganan anak autis yang berbeda-beda sesuai kebijakan pemerintah yang berlaku.
Ketika anak dengan autisme sedang ditangani secara profesional, terkadang kita lupa memperhatikan kebutuhan psikologis bagi orang tua yang menjadi social support system untuk anak. Tidak jarang orang tua masih menyalahkan diri sendiri atau lingkungan. Ada juga orang tua yang menyalahkan vaksinasi, obat, salah pengasuhan atau terlambat diagnosa.
Ruanita – Rumah Aman Kita sebagai “Rumah” berbagi ilmu dan pengalaman untuk warga Indonesia di mancanegara bermaksud menggelar webinar bertema penanganan anak dengan autisme di mancanegara.
Webinar ini diawali dengan sharing pengalaman dari Alda Trisda sebagai orang tua yang memiliki anak dengan autisme dan saat ini tinggal di Belgia. Narasumber kedua adalah Dr. Deibby Mamahit, seorang ahli dan praktisi dalam menganani anak dengan autisme sesuai keilmuannya. Beliau saat ini tinggal di Singapura.
Tujuan diselenggarakan webinar adalah untuk membagikan pengalaman sebagai orang tua yang memiliki anak dengan autisme dan memberikan dukungan sosial kepada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dan tinggal di mancanegara.
Kedua, webinar ini bertujuan untuk memberikan informasi prosedur penanganan anak dengan autisme sesuai ilmu kedokteran dan pengalaman menangani anak dengan autisme di mancanegara.
Terakhir, webinar ini bertujuan untuk menjadi social support system bagi orang tua di mancanegara yang memiliki anak berkebutuhan khusus seperti anak dengan Autisme.
Webinar ini dibuka resmi oleh Ketua DWP KBRI Berlin yakni Sartika Oegroseno. Tentunya Jerman sebagai negara maju telah memiliki kebijakan tersendiri dalam memfasilitasi anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak dengan Autisme meski sebenarnya tidak ada angka yang pasti tentang jumlah anak dengan Autisme di Jerman. Untuk menguatkan diskusi, acara webinar dipandu oleh Fransisca Sax, M.Psi. yang juga seorang Psikolog yang bertugas di Daycare di Munich, Jerman.
RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di luar Indonesia yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar praktik baik tinggal di mancanegara dan permasalahan psikologis yang kerap dihadapi. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi, kesetaraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.
Rekaman ulang webinar bisa disaksikan di saluran YouTube berikut:
Cerita Sahabat Spesial bertema pengalaman melahirkan kali ini disampaikan oleh Fitri H. Wehrli yang sudah menetap di Swiss lebih dari 5 tahun. Ibu dari dua orang anak ini menuturkan pengalamannya melahirkan di Swiss yang begitu perhatian untuk kesejahteraan ibu dan anak. Di rumah sakit bersalin di Swiss telah tersedia semua pakaian yang dibutuhkan oleh ibu dan anak. Fitri merasa senang dan happy saat jelang persalinan kedua buah hatinya.
Semua fasilitasi layanan cek kehamilan, suntik, obat-obatan dan semua yang dibutuhkan ibu selama kehamilan hingga melahirkan ditanggung oleh asuransi yang sudah wajib dimiliki seseorang jika tinggal dan menetap di Swiss. Artinya, Fitri tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Menurut Fitri, tidak ada mitos-mitos tentang ibu hamil atau ibu melahirkan yang selama ini didengarnya sewaktu dia berada di Indonesia. Suami Fitri hanya menyarankan agar Fitri tetap happy menjadi ibu.
Sebagai seorang yang memiliki latar belakang perawat yang bekerja di rumah sakit, Fitri merasakan perbedaan pengalaman melahirkan antara Indonesia dengan Swiss. Di Indonesia, seorang ibu yang hamil hingga melahirkan ditangani oleh dokter yang sama sedangkan di Swiss berbeda. Selama kehamilan ibu memang ditangani oleh dokter, tetapi setelah ibu melahirkan maka ibu akan ditangani oleh Hebamme atau Bidan dalam Bahasa Indonesia.
Fitri pun menceritakan pengalaman melahirkan anak pertama kali di Swiss. Fitri sempat mendapatkan tindakan akupuntur setelah pembukaan satu agar dapat mempercepat proses lahiran yang dialaminya. Saat seorang ibu hendak melahirkan, dokter bertanya kepada ibu tentang metode melahirkan yang dikehendaki. Fitri memilih untuk melahirkan secara normal yang dibantu oleh seorang bidan yang sudah dirujuk oleh dokter.
Setelah Fitri melahirkan dengan kondisi yang baik-baik saja, Fitri kemudian dibawa ke suatu ruangan bersama anak yang baru saja dilahirkan. Menurut Fitri, ibu akan selalu bersama anak yang baru saja dilahirkan kalau kondisi keduanya baik-baik saja dan tanpa masalah. Biasanya dokter dan bidan akan berjaga dan stand by 24 jam di rumah sakit bersalin saat seorang ibu melahirkan untuk mengecek kondisi ibu dan anak.
Bidan yang membantu persalinan akan datang ke rumah dari ibu yang baru saja melahirkan, begitu cerita Fitri. Bidan akan mengontrol kondisi ibu dan bayi seperti melihat kesehatan, berat badan dan masalah yang ditemukan setelah persalinan. Bahkan ibu mendapatkan pengetahuan dasar dari Bidan tentang mengurus bayi yang baru saja lahir seperti memasang popok atau cara menyusui. Padahal pengetahuan dasar seperti ini biasanya sudah diperoleh ibu saat ibu masih di rumah sakit.
Hal menarik di Swiss adalah kunjungan dari pemerintah setempat terutama bagian perlindungan anak ke ibu yang baru saja melahirkan. Kunjungan mereka berfokus pada bagaimana kesiapan ibu dan keluarga dari bayi yang baru saja lahir. Apakah keluarga ini layak untuk mengasuh dan merawat bayi yang baru saja lahir? Demikian cerita Fitri saat pihak Gemeinde (=pemerintah setempat) mengecek kelahiran bayinya pertama kali. Mereka melihat apakah keluarga Fitri itu harmonis dan siap secara lahir batin untuk mengasuh bayi yang baru saja lahir tersebut.
Tak hanya soal kesiapan materi yang ditanyakan oleh pihak Gemeinde kepada ibu dan keluarga yang baru saja mendapatkan anggota keluarga baru, mereka juga mengecek apakah ibu yang baru saja melahirkan itu happy dengan kehadiran bayi tersebut. Mereka memantau kondisi mental ibu seperti mengalami stress, depresi, tidak bahagia, dan sebagainya. Mereka tidak hanya bertanya kepada ibu yang baru saja melahirkan tetapi juga kepada suami tentang kondisi istrinya. Kunjungan mereka dilengkapi juga dengan pemberian buku dan materi edukasi bertema Parenting yang bermanfaat bagi Fitri dan suami.
Berikutnya Fitri bercerita soal tunjangan anak yang diberikan Pemerintah Swiss untuk tiap anak yang lahir di Swiss. Pertimbangan tunjangan anak juga bergantung pada ayah atau ibu yang bekerja. Tunjangan anak diberikan kepada masing-masing anak. Bagi Fitri, tunjangan anak ini sangat membantunya dalam membiayai kebutuhan sehari-hari anak.
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Sahabat RUANITA, perkenalkan aku Ecie yang sekarang tinggal di Hamburg, Jerman sejak 2008. Sehari-hari aku masih aktif menjadi mahasiswa dan berbagai kegiatan sosial lainnya di Jerman. Aku ikut kelas Yoga itu pada tahun 2015 gara-gara aku tertarik ajakan seorang teman untuk ikut kelas Yoga, apalagi saat itu aku sedang merasa galau. Aku berpikir punya keahlian baru di perantauan itu bisa membantuku mengalihkan rasa galau.
Sejak itu, aku mulai berolahraga Yoga. Sebagai pemula aku diajari teknik relaksasi yang bernama Hatha. Ini semacam menggabungkan gerakan yang lembut dan lebih lambat. Sebenarnya ini gerakan stretching yang dulu sering kita lakukan sewaktu kita belajar olahraga di sekolah. Teknik lainnya aku belum bisa menguasai lebih banyak lagi sih. Waktu itu guru kelas Yoga mengajari aku untuk menghindari gerakan-gerakan yang salah dan berbahaya, meski gerakan Yoga tampak mudah.
Dalam Yoga itu kita harus belajar dulu teknik basic. Kelihatannya gerakan Yoga itu mudah, padahal itu perlu teknik dasar yang harus dikuasai pemula dulu. Jangan terkesan tahu dan segera mencoba sendirian tanpa belajar teknik dasar! Bisa jadi kita salah melakukan olahraga Yoga sehingga malahan membuat kita sakit pinggang atau sakit anggota tubuh lainnya. Karena kejadian seperti ini, orang-orang cenderung jadi malas dan kapok untuk kembali berolahraga Yoga.
Gerakan Yoga yang aku ketahui itu harus lambat dan tidak boleh buru-buru. Jangan tergiur untuk melihat orang yang berhasil membuat pose bentuk tubuh Yoga yang biasa dipamerkan di media sosial! Menurutku, Yoga itu lebih pada gerakan untuk mengatur diri sendiri dan nafas. Saat kita harus memaksakan pose tubuh sendiri, sebenarnya kita harus mengatur nafas. Ini sangat membantu orang untuk tetap rileks terutama buat mereka yang punya gangguan panik atau kecemasan. Kita harus konsentrasi dan tetap menikmati gerakan Yoga.
Aku tidak banyak mengikuti klub/kelas Yoga karena aku pikir Yoga bisa dilakukan dengan mengikuti instruksi yang bisa dilihat di YouTube misalnya. Intinya kita bisa berolahraga Yoga di rumah dan gratis pula. Meski aku sudah tidak ikutan kelas Yoga lagi, aku tetap rutin menjalani Yoga 2-3 kali dalam sehari karena ini membantu aku untuk tidur nyenyak.
Menurutku Yoga itu sangat membantu untuk kesehatan mental. Mengapa? Saat kita melakukan Yoga, kita melatih pernafasan secara teratur dan kita berkonsentrasi atas gerakan yang kita buat. Jadi gak ada waktu tuh untuk overthinking. Bagaimanapun happiness itu ‘kan berasal dari dalam diri sendiri dengan cara menggerakan tubuh seperti Yoga ini. Kita lebih fokus pada tubuh dan diri sendiri, dari pada hal-hal lain yang berasal dari luar diri.
Yoga itu simple gerakannya. Aku bisa loh sikat gigi dengan tangan kiri sambil melakukan Yoga. Atau aku bekerja di depan laptop sambil jongkok kemudian ditahan begitu sekian menit. Intinya kita harus membuat tubuh itu bergerak sehingga kita merasa happy. Bagaimanapun duduk berjam-jam di depan laptop atau komputer kan tidak sehat juga. Dengan Yoga, kita bisa melakukan gerakan-gerakan yang mudah untuk membuat tubuh tetap bergerak juga.
Sejauh pengamatanku, Yoga adalah olahraga yang umum di Jerman atau area tempat tinggalku sekarang. Aku mudah menemukan klub atau tempat kursus Yoga atau Pilates karena biasanya olahraga tersebut menjadi bagian dari program asuransi yang harus dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di Jerman. Ada yang bayar kelas Yoga kemudian nanti reimburse dari asuransinya atau kita bayar 50% dari iuran kelas Yoga tersebut.
Hal menarik di Jerman kalau kita mau berolahraga dengan harga terjangkau, ada tempat Gym murah meriah “Sport Spaß” yang membuat kita bisa memilih olahraga yang kita sukai, seperti Yoga yang biasa diadakan 2-3 kali dalam seminggu. Olahraga murah meriah ini biasa menjadi aktivitas warga Jerman semisal melakukan olahraga di kebun saat musim panas seperti sekarang ini. Saat aku melihat seperti itu di ruang publik, aku kadang berinisiatif ingin gabung sambil memberitahukan kepada mereka bahwa aku merupakan pemula untuk Yoga. Aku merasa senang bisa berolahraga Yoga bersama orang lain juga.
Musim panas seperti sekarang ini banyak orang-orang di Jerman yang suka melakukan olahraga Yoga di outdoor dan ruang terbuka. Misalnya saja ada loh yang melakukan gerakan Yoga di dalam air atau di atas papan selancar misalnya.
Sebenarnya kenapa Yoga? Aku tuh sudah mencoba olahraga lainnya seperti Surfing dan Panjat.
Aku cenderung suka olahraga Yoga karena Yoga itu bisa dilakukan di mana saja. Selain itu, aku bisa melakukan Yoga dengan teman-teman, bahkan aku pernah melakukannya di kebun. Atau aku juga bisa melakukan Yoga sendirian. Kalau orang suka berolahraga Yoga, mereka tidak harus punya peralatan dan memang Yoga mudah untuk diikuti. Orang bisa melihat berbagai gerakan Yoga hanya di YouTube misalnya.
Kalau suka Yoga kadang ada klub atau kelas Yoga dengan harga terjangkau. Seperti di Universitas tempatku studi, Universität Hamburg menawarkan juga kelas Yoga dengan iuran 20€ – 30€ per semester. Lainnya, kalau kita tinggal di Jerman, kita bisa membayar biaya 50% dari iuran kelas Yoga karena 50% biaya lainnya itu ditanggung oleh asuransi. Aku membayar kursus Yoga sekitar 130€ untuk 8 kali pertemuan.
Yoga itu gak butuh peralatan sehingga membuat banyak orang tertarik mencobanya. Untuk teknik Yoga lanjutan, memang kita memerlukan peralatan khusus seperti blok berbahan kayu atau gabus buat penyangga. Kata guru kelas Yoga yang mengajariku alat bantu ini kalau kita belum lentur. Kita bisa mencari alternatif alat bantu lainnya seperti kamus atau buku-buku tebal. Ketimbang kita membeli peralatan Yoga, kita juga bisa pakai alternatif yang ada di rumah seperti bantal, tali, atau selendang yang panjang.
Oh ya, kalau mau berolahraga Yoga, kita hanya pakai baju yang nyaman saja. Kita juga wajib menyediakan matras atau semacam alas untuk melakukan Yoga. Itu bisa dibeli di banyak tempat di Jerman dengan kisaran harga 10€ – 15€. Kalau kita berolahraga Yoga di tempat seperti kursus atau kelas Yoga biasanya kita bisa mendapat pinjaman matras tersebut.
Memang sih tak mudah untuk menekuni suatu kebiasaan sehat seperti Yoga ini. Kadang aku merasa malas untuk melakukannya atau menundanya hanya karena aku ingin pergi keluar rumah bersama teman-teman lainnya. Tantangannya itu lebih dari diri sendiri sih, bagaimana kita konsisten menekuninya apalagi kita sudah mendaftar dan membayar program Yoga tersebut. Harga program Yoga di ruangan panas itu berbayar 20€ per pertemuan. Sayang sekali jika kita hanya sekedar ikutan tetapi tidak menekuninya.
Saran aku buat teman-teman yang ingin ikut olahraga Yoga pertama kali adalah ikut saja dulu kursus yang tidak terlalu mahal seperti yang aku tuliskan di atas. Kedua, kita bisa termotivasi untuk konsisten olahraga Yoga kalau ada teman. Nah, ajak saja teman atau kenalan yang bersedia ikut Yoga juga. Lalu ikuti suara hati, apakah Yoga ini adalah olahraga yang cocok atau tidak? Kelas Yoga pemula itu biasanya sekitar 8 kali pertemuan. Selamat mencoba ya teman-teman yang tertarik untuk olahraga Yoga.
JERMAN – Ruanita – Rumah Aman Kita bekerja sama dengan Padmedia Publisher di Indonesia telah menyelenggarakan proyek bersama untuk mengumpulkan cerita pengalaman para pelaku kawin campur, yakni pernikahan antara Warga Negara Indonesia (WNI) dengan Warga Negara Asing (WNA).
Acara pengumpulan naskah sudah dimulai sejak Oktober 2021 lalu. Semua naskah yang terkumpul ditulis oleh para perempuan asal Indonesia yang tinggal di berbagai lokasi dan negara.
Kisah perkawinan campuran yang tertuang dalam buku bukan hanya bercerita tentang dokumen dan kelengkapan administrasi, melainkan ada kisah-kisah lainnya yang mungkin jarang terdengar di ranah publik.
Cerita integrasi budaya di antara kedua insan manusia dalam biduk rumah tangga tentu menjadi kisah haru biru yang tidak selalu melulu mendatangkan kisah romantis saja, tetapi juga tragis.
Ada kisah tabu tentang pandangan keluarga, pengasuhan anak, pengalaman menjadi orang tua hingga perpisahan ditulis apik berdasarkan kisah nyata yang dialami masing-masing penulis.
Ini bukan soal fantasi atau dokumentasi, ini adalah kisah yang menginformasi dan menginspirasi. Begitu penjelasan Anna Knöbl selaku Koordinator Tim Buku yang berbicara tentang proyek penerbitan buku ini.
Di tengah meningkatnya mobilisasi dan migrasi, bukan tidak mungkin angka pernikahan kawin campur bertambah. Angka ini belum tentu diiringi oleh bekal yang cukup untuk mengetahui seluk beluk budaya, komunikasi hingga hukum yang kerap menjadi pemicu dalam berumah tangga. Ada saja kasus di mana perempuan bingung menempatkan dirinya saat minimnya informasi dan bahasa yang dimilikinya di mancanegara.
Pertemuan dua budaya yang berbeda akan menghadirkan banyak hal baru yang akan memperkaya kehidupan. Ada banyak pengalaman positif yang dijalani para pelaku kawin campur, meskipun harus diakui hubungan kawin campur tidak terlepas pula dari stigma, konflik maupun masalah spesifik lain yang mengikutinya.
Dalam perkawinan campuran, analisa mendalam diperlukan untuk menjadi bekal edukasi yang dikemas menarik sehingga dapat menjadi petunjuk bagi pasangan kawin campur baik bagi yang belum menikah maupun sudah menikah.
Oleh karena itu, RUANITA telah menggagas dua kali Diskusi Virtual jelang peluncuran buku yang membahas tema seputar perkawinan campuran. Pada akhirnya buku berjudul Cinta Tanpa Batas ini telah terbit pada akhir April 2022 dan sudah mulai didistribusikan.
Sejalan dengan hal tersebut, RUANITA menggelar peluncuran buku secara daring yang diadakan pada hari Minggu, 19 Juni 2022 jam 10.00 waktu Eropa Tengah atau jam 15.00 WIB.
Dalam kesempatan tersebut, RUANITA mengundang Wakil Ketua DWP KBRI Berlin – Tenny Edison – yang memberikan pengantar tentang problematika yang dihadapi perempuan Indonesia di luar negeri, terutama di Jerman. Sebagai informasi, buku Cinta Tanpa Batas ini telah ditulis oleh 7 perempuan asal Indonesia yang saat ini bermukim di Jerman.
Selanjutnya, RUANITA juga menghadirkan Ketua Komnas Perempuan Indonesia – Andy Yentriyani – yang memberikan tanggapan atas terbitnya buku bertema perkawinan campuran. Acara satu jam ini diharapkan dapat menjadi media konstruktif untuk membangun solidaritas perempuan Indonesia di mana saja, tidak hanya soal isu perkawinan campuran.
RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar praktik baik tinggal di mancanegara dan permasalahan psikologis yang kerap dihadapi. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi, kesetaraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.
Informasi: info@ruanita.com
Untuk mengikuti kliping berita kami, sila buka tautan yang diberikan.
Sahabat RUANITA, perkenalkan aku X yang sekarang sedang bergulat mencari pekerjaan kedua di negeri, tempat aku menempuh studi Pascasarjana. Boleh dibilang aku cukup beruntung mendapatkan pekerjaan pertama setelah aku menyelesaikan studiku di benua biru ini. Apa daya aku tidak betah di kota yang menjadi lokasi kantor pekerjaan pertama, sehingga aku putuskan kembali ke kota asal aku menempuh studiku.
Berbicara soal gangguan tidur, ini bukan hal baru untuk diceritakan. Banyak teman-teman dekatku paham bagaimana aku kesulitan tidur kala aku sendirian, justru aku bisa tidur ketika ada teman yang menemani aku. Aneh memang!
Aku berpikir gangguan tidurku akan muncul kala aku stres dan banyak pikiran. Misalnya dulu aku mengkhawatirkan diriku yang belum lulus studi sementara teman-temanku sudah melanjutkan jenjang pendidikan lanjutan atau menempuh studi Pascasarjana lainnya.
Kecemasan soal lulus studi tersebut membuatku overthinking. Aku pernah mencoba untuk mengatasi kecemasan dan persoalan gangguan tidur ini ke Psikolog saat aku sedang berlibur ke Indonesia tetapi itu seperti berhenti sesaat. Entah mengapa aku nggak bisa mengendalikan pikiran-pikiran yang berkeliaran dalam kepalaku.
Overthinking-ku semakin parah ketika aku kehilangan ayahku yang telah tiada. Beliau meninggal karena penyakit Kanker Prostat. Selama aku di Indonesia, aku berkesempatan merawat ayahku. Aku berjaga di tengah malam kala ayahku merintih kesakitan. Tak jarang aku membawa ayahku ke rumah sakit di tengah malam.
Pola tidur yang berantakan saat merawat ayahku plus kekhawatiran akan hidupku seperti kelulusan membuatku terus berpikir saat aku hendak tidur. Aku telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi gangguan tidur. Di negeri yang aku tempati tersedia teh dari tanaman untuk mengatasi gangguan tidur. Sepertinya itu tidak bekerja.
Aku punya adik dan kenalan yang bekerja di dunia medis. Aku sudah bertanya bagaimana cara praktis mengatasi gangguan tidur. Semua tips yang mereka sarankan telah aku coba. Contohnya, aku harus membuat badanku lelah sehingga aku lebih mudah tidur. Namun hasilnya itu hanya sesaat saja.
Aku berusaha menggali apa penyebab overthinking yang kualami. Aku terlalu berlebihan tentang penyakit kanker yang diderita ayahku. Aku begitu khawatir kalau aku ‘kan mendapatkan penyakit kanker Prostat seperti ayahku, padahal itu tak mungkin karena aku adalah perempuan.
Kekhawatiran berlebihan dalam gaya hidup dan makanan juga sangat berpengaruh setelah ayahku tiada. Aku benar-benar picky terhadap makanan yang kusantap. Aku bisa memikirkan bagaimana pembuatan makanan tersebut sehingga aku tidak mengambil makanan tersebut.
Hal yang berlebihan juga tampak ketika aku memilih semua peralatan masak hanya terbuat dari metal, untuk menghindari alat masak dari plastik. Kecemasan berlebihan ini sekarang sudah mulai berkurang karena banyak orang telah meyakinkanku bahwa semua baik-baik saja dan tak perlu overthinking.
Aku sendiri telah mencoba membuat jadwal konseling dengan Psikolog di negeri tempatku studi, ternyata aku harus menunggu hingga berbulan-bulan. Lalu aku mendatangi praktik dokter umum untuk bisa merekomendasikanku ke ahlinya saat aku membahas gangguan tidur. Dokter bilang aku baik-baik saja.
Ya begitulah gangguan tidurku itu bisa datang dan pergi. Saat waktu konselingku datang, tiba-tiba semua terasa baik-baik saja. Aku mencoba segala cara untuk bisa tidur nyenyak sesuai anjuran medis tetapi aku kadang tidak bisa mengendalikan pikiranku saat tidur.
Aku mencoba konsisten dengan waktu tidurku, tetapi aku tak bisa menolak ketika ada waktu berkumpul dengan teman-teman yang membuatku begadang dan baru tidur pagi hari. Sampai sekarang aku masih berusaha mengatasi gangguan tidurku.
Penulis: X, sedang mencari pekerjaan di perantauan
Ini membuatku sadar. Bahwa selama aku di Jerman, tidak pernah sekali pun aku mendengar mereka membuat komentar, menyebut, atau bahkan menjadikan jidatku yang lebar sebagai bahan candaan mereka. Tidak hanya jidat, tetapi fisik juga. Kami tidak pernah menjadikan fisik sebagai bahan bercanda.
Jika kalian bertanya pada teman-temanku di Indonesia (SD, SMP, SMA, teman gereja) apa yang paling mereka ingat tentangku selain karakterku? Aku yakin diantaranya akan bilang tentang jidatku yang lebar. Lainnya bilang aku nonong atau jenong. Aku masih ingat dengan jelas bahwa seumur hidupku hingga aku pindah ke Jerman, hal itu atau istilah itu tidak pernah lepas dariku.
Percayalah, aku tak pernah sakit hati karena panggilan atau ejekan atau candaan itu, karena nyatanya memang jidatku lebar. Meskipun seiring berjalannya waktu panggilan-panggilan itu berkembang menjadi: lapangan terbang, lapangan sepak bola, mirip megamind, dan sebagainya.
Ketika mereka bercanda akan selalu ada imbuhan tentang “jidatku” itu di akhir kalimat mereka. Seumur hidupku pula tak pernah aku mendengar, baik teman, sahabat atau keluarga yang memberikan pujian terhadap fisik atau penampilanku. Sekedar kamu cantik saja tak pernah mereka katakan sehingga aku terbiasa dengan itu semua. Aku menganggap itu adalah hal biasa.
Hingga akhirnya di tahun 2020, dikarenakan kondisi kesehatan mentalku yang menjadi sangat tidak terkendali, aku harus mengonsumsi obat anti depresi yang memiliki efek samping terhadap perubahan hormon dan nafsu makanku. Akibatnya hanya dalam 1.5 bulan saja, berat badanku naik 13 kilogram.
Sebuah perubahan yang sangat ekstrim bagiku. Selama 4 bulan pertama aku sangat kesulitan untuk menerima perubahan bentuk tubuhku. Aku selalu merasa sangat gemuk. Aku terlihat aneh dan bantet.
Sepanjang waktu atau setiap kali aku melihat timbangan, aku selalu mengomel dan kesal dengan diriku sendiri. Hal ini adalah hal baru bagiku. Seumur hidup aku tak pernah bisa relate dengan apa yang perempuan-perempuan lain keluhkan seperti perut berlipat atau lipatan lemak yang muncul di sana-sini yang bisa membuat tidak percaya diri. Saat itu, akhirnya aku mengalaminya.
Menariknya adalah sejak tubuhku berubah aku mendapatkan begitu banyak compliment. Bahwa aku sangat cantik, tubuhku menarik, ini, dan itu sampai membuatku risih. Aku tidak biasa mendengar seperti itu. Tidak pernah aku mendapatkan pujian seperti itu di mana teman-temanku di sini terus menerus memuji setiap bertemu.
Bahkan mereka di sini iri dengan badanku sekarang. Aneh sekali rasanya. Hal itu sama sekali tidak membuatku besar kepala justru risih sekali. Selalu kujawab, “Apaan sih!”, “Halu lo!” atau “Ah, you just wanna make me happy.”
Salah satu temanku dan pacarku pun mengaku sedih mendengarkan jawabanku. Bagi mereka, aku benar-benar cantik dan menarik. Sedih rasanya bagi mereka ketika mereka mendengar reaksiku. Namun, apa boleh buat. Ini pun hal yang aneh bagiku. Aku tidak terbiasa dengan pujian itu.
Namun, karena pujian-pujian yang kudengar pertama kalinya dalam hidupku ini ternyata membuatku sadar. Bahwa selama aku di Jerman, baik teman-teman Indonesiaku, pacarku, teman-teman, kenalanku orang asing, orang Jerman maupun pria-pria asing yang aku pernah dekat pun, tidak pernah sekali pun aku mendengar mereka membuat komentar, menyebut, atau bahkan menjadikan jidatku yang lebar sebagai bahan candaan mereka.
Tidak hanya jidat, tetapi fisik juga. Kami tidak pernah menjadikan fisik sebagai bahan bercandaan. Kok bisa? Mungkin kebanyakan orang di Indonesia punya poni yang bisa menutupi dahi mereka, sedangkan aku tidak. Mungkin punya jidat yang lebar bukan hal yang umum di Indonesia.
Namun percayalah, di Jerman semuanya berjidat lebar adalah hal biasa. Untuk perempuan mengikat rambutnya ke belakang model ponytail dan tidak akan ada yang bilang, “Kamu tuh sudah tahu jidatnya lebar, mbok ya jangan dikucir begitu!” Yang mana kalimat ini sering kudengar dulu.
Lama-kelamaan aku bisa menerima tubuhku yang sekarang. Aku bisa menerima dan menghargai pujian yang kuterima. Aku memang jauh lebih cantik sekarang, terlihat jauh lebih sehat, dan bahagia dibandingkan saat aku di Indonesia dulu. Ah, mungkin makanya aku tak pernah mendapatkan pujian apapun tentang fisikku seumur hidupku, karena dulu aku memang terlihat tidak menarik sama sekali. Hahaha.
Lucunya, aku sekarang malah jijik kalau melihat foto-foto lamaku di Indonesia dan sekarang jadi khawatir kalau kelihatan sedikit lebih kurus. Hahaha. Begitulah manusia, tidak pernah puas. Namun yang mungkin harus digaris bawahi lagi adalah mengapa di sini aku tak pernah mendengar candaan atau panggilan tentang jidatku yang lebar atau bentuk fisikku yang lain dibandingkan di Indonesia? Jawabannya? Silakan direnungkan sendiri:)
Dalam rangka menindaklanjuti webinar kewirausahaan perempuan di Eropa yang berhasil di gelar 6 Februari 2022 lalu, Tim Ruanita berhasil mengumpulkan representasi profil perempuan berwirausaha di Eropa dan sekitarnya untuk merayakan Hari Kartini 2022 secara virtual. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan inspirasi tentang keragaman domisili dan jenis usaha untuk diketahui bersama. Tim Ruanita memposting representasi profil perempuan berwirausaha selama 2 pekan, 18 – 30 April 2022 di semua saluran media sosial.
Nama: Enggi Holt
Nama akun media sosial (Facebook + Instagram + YouTube)
Tahun ini genap tujuh tahun saya tinggal di sebuah negara di utara benua Eropa. Kali pertama menginjakkan kaki di Eropa, saya datang sebagai mahasiswa untuk studi master di bidang ilmu sosial. Mengantongi beasiswa dari sebuah lembaga di Indonesia, saya memulai masa studi master ditemani oleh suami tercinta. Ya, suami ikut menemani saya setelah resign dari tempatnya bekerja dan mendapatkan pekerjaan baru yang memungkinkannya untuk remote working. Ada mimpi yang sama-sama kami bawa ke Eropa: untuk memperkaya pengalaman hidup -selagi masih muda- dan untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik.
Namun setelah di Eropa, mata kami terbuka lebih lebar bahwa mimpi tersebut tidak sekonyong-konyong hadir seperti cerita-cerita sukses yang kami baca di media sosial. Soal memperkaya pengalaman hidup, sudah pasti ya… lewat kerja keras yang harus kami lewati untuk bisa mencapai penghidupan yang lebih baik.
Kesempatan kuliah ternyata menjadi salah satu pintu peluang membangun koneksi untuk mendapatkan pekerjaan. Dari teman kuliahlah saya mendapatkan pekerjaan part-time. Pekerjaan part time pertama saya adalah menjadi pelayan dan barista di sebuah kafe di pusat kota. Karena letak gedung kuliah hanya beda dua blok dari kafe, maka saya iyakan saja tawaran teman saya tersebut. Jadi pagi saya kuliah, siang atau sore jaga kafe. Namun saya hanya bekerja selama 1 semester saja karena di semester selanjutnya jadwal pekerjaan tersebut banyak bentrok dengan jadwal kuliah. Dengan berat hati saya relakan pekerjaan tersebut. Lagipula dengan kesibukan kuliah dan tugas kelompok, rasanya kalau ditambah bekerja jadi malah kewalahan.
Meski tak sampai setahun bekerja di kafe, namun di situlah saya melihat kenyataan bekerja di negara ini. Tantangan utama adalah kendala bahasa. Karena negara di Nordic area tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai Bahasa utama untuk komunikasi sehari-hari, maka saya harus bisa berbahasa lokal. Minimal dalam skala percakapan dulu saja, seperti untuk menjawab sapaan pengunjung, menanyakan pesanan, atau ngobrol tentang cuaca. Ini yang membuat saya mengambil mata kuliah Bahasa lokal di semester selanjutnya. Untungnya di kampus ada mata kuliah bahasa lokal tingkat A1-A2 untuk mahasiswa internasional. Kelas ini juga adalah salah satu keuntungan saya sebagai mahasiswa karena saya bahkan bisa mengambil kelas Bahasa sampai tingkat B1, gratis. Sementara pendatang jobseeker harus merogoh kocek dalam-dalam sampai ribuan kroner untuk mengambil kursus privat bahasa lokal.
Inilah kendala yang harus suami saya hadapi. Karena kami masuk ke Eropa lewat pintu yang berbeda -saya sebagai mahasiswa, suami sebagai remote worker yang juga jobseeker- maka tantangannya juga berbeda. Ibaratnya main ular tangga, status saya sebagai mahasiswa membuat starting point saya sudah menclok di anak tangga keenam atau kesepuluh, sementara suami saya betul-betul harus mulai dari nol. Kala berhadapan dengan kendala bahasa, suami saya sebagai job seeker harus membayar sendiri kelas kursus bahasa lokal. Pusing juga kalau lagi-lagi kami harus membobol tabungan dana darurat hanya untuk ikut kelas Bahasa. Apalagi setelah ada seorang teman yang bilang kalau bisa berbahasa lokal saja tidak cukup, kamu harus punya koneksi yang tepat untuk masuk di lingkungan pekerjaan yang disasar.
Kegamangan suami saya dijawab saat ia ke perpustakaan kota dan melihat iklan kegiatan kelas språkkafe. Språkkafe adalah program kafe gratisan yang diadakan sore hari di perpustakaan kota untuk membantu para pendatang berlatih ngobrol Bahasa lokal. Akhirnya suami saya memberanikan diri datang ke språkkafe di waktu luangnya, sekalian biar tidak suntuk bekerja dari rumah saja. Di saat yang sama, suami saya hanya mengambil pekerjaan proyek berbasis Bahasa Inggris saja. Waktu saya harus berhenti kerja di kafe, owner kafe pun bertanya apakah saya punya teman yang bisa mengisi posisi saya. Akhirnya saya tawarkan suami untuk mengambil pekerjaan tersebut. Sebenarnya suami saya orangnya introvert, tetapi demi kesempatan untuk mengasah kemampuan Bahasa, diapun mengambil pekerjaan di kafe tersebut. Karena pekerjaan proyeknya membutuhkan ia untuk stand by dari pagi hingga siang, maka suami menerima shift sore sampai beres-beres tutup kafe. Kelelahan, sudah pasti.
Dua tahun menjalani studi master, akhirnya saya lulus. Optimis memasuki pasar jobseeking lokal, saya pun memasang target mimpi untuk bisa kerja di bidang yang sesuai dengan studi master saya. Lagi-lagi impian saya harus terbentur dengan kenyataan kalau… kemampuan berbahasa saya belum cukup untuk masuk ke level kompetensi praktisi di kalangan orang lokal. Di saat yang sama, saya melamar untuk beberapa program doktoral S3 karena di negara ini PhD candidate dihitung sebagai pegawai kampus (pekerja riset), bukan sebagai mahasiswa penerima beasiswa. Namun lamarannya ditolak dengan berbagai alasan. Saat menghubungi supervisor yang dulu, beliau saat itu juga menyatakan belum ada dana turun untuk membuka riset baru. Antara marah karena kecewa dan tidak mau pulang karena urung menyerah, saya pun bekerja serabutan, mengambil beberapa pekerjaan part time dari mulai membersihkan rumah orang, bekerja kembali di kafe, jaga toko, serta menerima pekerjaan babysitting atau yang di sini disebut sebagai dag mamma. Pernah juga saya bekerja sebagai tour guide lepasan untuk turis mancanegara, menerima terjemahan dokumen serta menjadi penerjemah lisan. Apapun, asalkan saya bekerja dan ikut berkontribusi untuk keluarga.
Bagaimana dengan suami saya? Hidup itu seperti roda ya, kadang di atas, kadang di bawah. Suami saya yang meniti dari bawah sembari sabar membangun portfolio, membuat jejaring dan berlatih bahasa, akhirnya diterima bekerja di sebuah start-up company. Saya bangga melihat keberhasilan suami saat itu, namun dalam hati kecil saya tidak bisa 100% menerima kenyataan bahwa gelar master yang saya peroleh tidak banyak membukakan pintu setelah lulus, dan saya masih begini-begini saja. Perasaan itu membuat saya jadi seperti membenci diri sendiri. Kala itu suami saya berkata, tidak apa-apa, mungkin inilah saatnya income kami datang dari pintu yang dia buka, setelah sebelumnya datang dari pintu yang saya buka. Mungkin porsinya sedang berbeda saja, kata suami. Ah gampang kamu bilang begitu karena sekarang kamu yang sudah bekerja, kata saya getir.
Suatu hari, saya bertemu dengan salah satu senior kuliah. Mengetahui bahwa saya sedang bekerja paruh waktu sebagai babysitter, ia pun menyarankan, mengapa tidak mendaftar kerja sebagai asisten guru TK saja? Kamu sudah cukup lancar berbahasa lokal dan sudah lulus tes bahasa, kata teman saya, selain itu TK dan daycare selalu butuh guru pengganti dan asisten guru. Ia pun memberikan link ke sebuah agensi penyalur jasa asisten guru yang cukup terpercaya. Katanya lagi, kalau butuh surat referensi dengan senang hati dia akan membuatkan. Saya sebetulnya tidak terlalu yakin bisa betah mengurus anak-anak TK, tetapi dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang lebih dari sekadar kerja serabutan, akhirnya saya coba mendaftarkan diri ke agensi tersebut.
Tidak butuh lama menunggu untuk mendapatkan panggilan dari agensi. Saya pun ditempatkan di sebuah TK yang jaraknya sekitar 30 menit naik bus dari daerah rumah kami. Oh ya, saat itu kami sudah pindah ke pinggir kota demi mendapatkan rumah sewa yang lebih murah dan bisa menabung lebih banyak. Bagaimana pekerjaan di TK? Melelahkan, tetapi anehnya menyenangkan juga. Saya jadi banyak berlatih Bahasa lokal dengan para kolega dan anak-anak TK. Setelah dua tahun menjadi guru pengganti, kepala sekolah di TK terakhir tempat saya bekerja menawarkan pekerjaan tetap sebagai asisten guru TK, dengan porsi pekerjaan 50%. Selain itu dengan menjadi pegawai tetap, saya akan diberikan kursus-kursus pedagogi untuk memperkaya pengetahuan seputar pendidikan anak usia dini. Memang jauh sekali dari bidang yang menjadi latar belakang pendidikan saya, tetapi ini adalah kesempatan yang terlalu bagus untuk dilewatkan. Selain itu, saya sudah terlalu lelah bekerja serabutan. Saya juga tidak kuat hati menghadapi stigma bahwa pendatang dari rumpun negara saya hanya cocok untuk bekerja serabutan. Kalau mau menetap for good perantauan ini, saya harus punya permanent residence, dan untuk itu saya harus memiliki pekerjaan tetap.
Sampai saat ini, saya masih bekerja sebagai asisten guru TK. Dengan kemampuan Bahasa lokal yang sudah lebih mantap, saya pun mengambil kelas pedagogi dan sertifikasi sebagai guru TK. Ada orang-orang yang mengomentari kalau sayang sekali latar belakang akademik yang saya miliki jadi tidak terpakai sebagai praktisi, tetapi bagi saya, itu sudahlah cukup menjadi bekal pembuka pintu untuk masuk ke negara ini.
Penulis: Retno Aini Wijayanti dari pengalaman seorang teman yang tinggal di Eropa.
Apa yang akan aku lakukan di waktu lowong saat aku tak ada kelas di universitas dan bekerja paruh waktu? Aku mengunjungi toko online dan memasukkan daftar belanjaan yang ingin aku beli jika aku ada uang. Aku memasukkan barang-barang yang aku anggap “lucu”, menarik, bagus atau barang yang aku suka.
Keranjang belanjaanku sekarang sekitar delapan ratusan. Pandemi tahun lalu saja, dalam lima bulan, setiap bulan aku berbelanja hingga lebih dari empat pakaian. Perilaku berbelanjaku sangat ekstrim dibandingkan dulu sewaktu aku masih di Indonesia. Aku tidak pernah belanja baju sama sekali saat aku masih di Indonesia.
Boleh dibilang kegilaanku berbelanja dan memesan makanan disebabkan oleh “unconscious revenge” (balas dendam yang tidak disadari). Selama sembilan belas tahun aku tinggal di Indonesia, aku tak punya uang di tanganku sendiri. Orang tuaku tidak memberikan uang saku atau uang jajan seperti teman-temanku lainnya. Ibuku jarang sekali membelikanku baju baru.
Berbelanja baju baru yg sesuai dengan usia dan gaya anak muda sebayaku tidak ada dalam kamus keluargaku. Ibuku tidak pernah memperhatikan mode pakaian. Aku mendapatkan pakaian-pakaian bekas dari saudara-saudaraku lainnya. Aku menyebutnya lungsuran dari saudara-saudara dan kerabat ku.
Ketika aku merantau ke negeri orang dan bisa menghasilkan uang sendiri untuk membiayai semua kebutuhan hidupku dari A-Z, aku bisa membeli apapun yang aku inginkan dari keringatku sendiri, salah satunya pakaian.
Tak hanya berkunjung ke toko online saja, aku suka juga mengamati gaya berpakaian dari para artis atau public figure. Saat aku memperhatikan penampilan mereka, aku pun segera mencari tahu barang yang mereka pakai. Aku mencari padanan barang yang sama, tetapi berharga terjangkau. Aku merasa puas bahwa aku bisa memakainya seperti mereka, meskipun harganya tak sebanding seperti mereka.
Aku merasa momen istimewa seperti hari raya atau hari ulang tahun saja, aku sudah memikirkan tentang penampilan apa yang akan kupakai. Momen seperti liburan ke negara A, B atau C, aku sudah memikirkan penampilanku sejak jauh-jauh hari dan kemudian membeli apa yang aku inginkan.
Kegilaanku berbelanja semakin menjadi-jadi akibat kemudahan pembayaran. Saat saldo di bank menipis, toko online favoritku menawarkan pilihan “bayar nanti” yang menggodaku dalam jeratan penyesalan. Menyesali barang yang dibeli tentu saja sering kualami, apalagi saat aku seharusnya membayar kewajibanku yang lebih penting dan utama. Apa boleh buat, aku sudah terlanjur membelinya.
Sebenarnya aku juga tak bisa menyebut diriku “gila belanja” karena barang-barang yang aku beli bukanlah barang bermerek dan berharga mahal. Namun aku merasa puas bahwa aku bisa memiliki barang-barang yang dulu begitu sulit untuk kubeli.
Tema gila belanja ini, seperti membangunkanku. Saat ini aku masih terus berusaha dan belajar untuk menahan “kegilaan” ini. Karena aku sadar, meskipun gila belanja ini tidak berefek secara langsung secara psikologis padaku, namun efek negatifnya pada dompetku yang menambah list kecemasanku, yang sebetulnya tidak akan ada jika aku bisa membatasi diriku.
Penulis: Anonim, mahasiswa yang tinggal di benua biru.