(CERITA SAHABAT) Melahirkan Tanpa Mitos, Terpenting adalah Ibu yang Melahirkan itu Happy di Swiss

“Aku pernah bertanya ke suamiku, ada tidak sih mitos seputar kehamilan seperti itu di Swiss? Karena di Indonesia ada ya. Lalu kata suamiku, ‘tidak ada, yang penting ibu yang baru melahirkan happy, senang’. Tidak ada mitos-mitos seperti itu.” – Fitri

Halo, sahabat Ruanita! Kali ini, kita akan menceritakan Fitri berdasarkan program cerita sahabat spesial, yang pernah ditayangkan pada episode Juni 2022 lalu. Fitri adalah seorang perempuan Indonesia yang kini tinggal di Swiss dan membagikan pengalamannya saat menjalani kehamilan dan proses persalinan di negeri Eropa Tengah tersebut. Dalam kisahnya, ia membandingkan bagaimana pendekatan terhadap kehamilan dan persalinan sangat berbeda antara Indonesia dan Swiss, termasuk dalam hal kepercayaan, mitos, dan praktik keseharian.

Di Indonesia, kita sangat akrab dengan mitos-mitos kehamilan: mulai dari larangan makan makanan tertentu, posisi tidur yang diatur, sampai pantangan bersentuhan dengan benda atau aktivitas tertentu yang katanya bisa berdampak pada bayi. Namun, bagi Fitri, semua mitos itu seperti menguap begitu saja ketika ia menjalani kehamilan di Swiss.

Saat ia bertanya kepada suaminya, yang merupakan orang Swiss, apakah ada pantangan atau kepercayaan tertentu yang harus diikuti selama kehamilan, jawabannya sederhana namun mencengangkan bagi Fitri: tidak ada.

Yang terpenting dalam sistem Swiss, menurut suaminya dan tim medis yang mendampingi, adalah kesejahteraan ibu: apakah sang ibu merasa senang, tenang, dan nyaman. Tidak ada larangan makan ini atau itu, tidak ada anjuran untuk menghindari hal-hal tertentu berdasarkan kepercayaan turun-temurun. Semua rekomendasi medis berdasarkan ilmu pengetahuan dan kebutuhan individual sang ibu.

Bagi Fitri, sistem layanan kesehatan di Swiss merupakan salah satu yang terbaik yang pernah ia alami. Dari kontrol kehamilan bulanan, suntikan, tindakan medis, hingga pengobatan dan proses melahirkan – semuanya ditanggung oleh asuransi. Ia bahkan tidak perlu pusing menyiapkan pakaian atau perlengkapan bayi di rumah sakit, karena semuanya telah disediakan.

Menariknya, sistem perawatan ibu hamil dan melahirkan di Swiss begitu terstruktur. Setiap ibu hamil mendapatkan informasi jelas dan terperinci sejak awal. Ketika waktu melahirkan semakin dekat, Fitri tinggal menelepon rumah sakit yang telah ditentukan untuk membuat janji. Bahkan sebelum hari kelahiran, kondisi dirinya diperiksa dan ia diberikan tindakan akupunktur untuk mempercepat pembukaan – sebuah praktik medis yang jauh dari nuansa mistik atau mitos.

Hal unik lainnya adalah bahwa dokter kandungan yang mendampingi pemeriksaan kehamilan bulanan bukanlah orang yang akan menolong persalinan. Proses kelahiran Fitri justru ditangani oleh bidan rumah sakit, seorang profesional yang sudah terlatih.

Prosesnya pun sangat fleksibel. Saat diminta memilih metode persalinan, ia diberikan pilihan: normal atau melalui air (water birth). Fitri memilih melahirkan secara normal karena merasa tidak nyaman dengan kemungkinan melihat darah di air.

Setelah persalinan, Fitri dan bayinya langsung dipindahkan ke kamar bersama. Sistem di Swiss sangat menekankan ikatan antara ibu dan bayi, sehingga mereka tidak dipisahkan.

Hal yang lebih mengesankan lagi adalah layanan pascapersalinan di rumah. Lima hari setelah keluar dari rumah sakit, bidan akan datang ke rumah untuk memeriksa kondisi ibu dan bayi. Mereka mengecek berat badan bayi, melihat apakah ada tanda-tanda masalah kesehatan, dan bahkan mengajarkan ulang cara menyusui dan memandikan bayi.

Lebih lanjut, lembaga perlindungan anak setempat, juga akan datang ke rumah. Kunjungan mereka bukan dalam rangka menghakimi, melainkan untuk memastikan bahwa anak tumbuh di lingkungan yang aman dan sehat. Mereka ingin melihat apakah ibu dan ayah merasa bahagia, apakah rumah tangga harmonis, dan apakah ada potensi stres yang dapat mengganggu perkembangan anak.

Karena kemampuan bahasa Jermannya saat itu belum terlalu lancar, Fitri bahkan diberikan buku-buku anak sebagai bentuk dukungan edukatif untuk keluarga mudanya. Baginya, sistem ini sangat membantu dan tidak membuatnya merasa sendirian.

Satu hal lagi yang menarik adalah soal subsidi. Pemerintah Swiss memberikan bantuan tunai sekitar 200 Swiss Franc per anak setiap bulan (saat itu) jumlah yang cukup signifikan untuk membantu membeli kebutuhan dasar seperti susu dan popok. Sistem ini berlaku baik bagi ibu maupun ayah, tergantung siapa yang bekerja.

Bagi Fitri, menjalani kehamilan dan persalinan tanpa tekanan mitos membuatnya merasa lebih ringan dan fokus pada hal-hal penting: kesehatannya sendiri dan kebahagiaan bayinya. Ia merasa bahwa sistem Swiss lebih mempercayai kekuatan pengetahuan, pendampingan profesional, dan dukungan sosial, daripada ketakutan yang tidak rasional.

Cerita Fitri memberi kita perspektif bahwa kehamilan adalah pengalaman yang sangat personal dan seharusnya bebas dari rasa takut yang tidak berdasar. Pengalaman di Swiss menunjukkan bahwa ibu bisa lebih bahagia dan tenang ketika didampingi oleh sistem yang empatik, ilmiah, dan suportif, bukan oleh larangan-larangan yang belum tentu relevan.

Ruanita percaya bahwa setiap perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan dukungan yang ramah, berbasis bukti, dan bebas stigma. Cerita sahabat seperti ini menjadi inspirasi kita semua untuk terus mendorong sistem layanan yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih manusiawi.

Penulis: Andanistya, Relawan Ruanita Indonesia.

(CERITA SAHABAT) Dari Lahir Premature, Krabbelstube di Jerman, ke Kesehatan Mental Ibu

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya adalah Putri (nama samaran) dan sudah tinggal di Jerman sekitar dua tahun. Saya pindah ke Jerman karena saya menikah dengan pasangan saya, yang merupakan pria berkewarganegaraan Jerman. Saat tiba di Jerman, usia kehamilan saya sudah lebih dari enam bulan, dan masa beradaptasi cukup berat, baik fisik maupun emosional.

Saya sangat ingin anak saya tumbuh dalam kondisi yang optimal. Tantangan utama di awal adalah menghadapi lingkungan baru tanpa keluarga dekat, serta harus melewati masa-masa sulit di rumah sakit dengan kondisi bahasa yang terbatas. 

Ketika saya sedang mengandung di usia 7 bulan, dokter mendeteksi ada masalah pada kehamilan, khususnya pada plasenta. Saya dirujuk untuk pemeriksaan darurat di rumah sakit. Keesokan harinya, saya langsung pergi ke rumah sakit dan ternyata memang harus dirawat inap selama lebih dari satu minggu.

Dokter berusaha mempertahankan kehamilan selama mungkin, tetapi pada akhirnya saya harus menjalani operasi mendadak, karena kondisi yang mengancam. Bayi saya lahir di usia kandungan 32 minggu dengan berat 1,5 kg. Setelah itu, anak saya dirawat di ruang intensif selama lebih dari seminggu, lalu dipindahkan ke ruang perawatan anak biasa. Saya sendiri masih harus tinggal di rumah sakit. 

Anak saya lahir prematur di usia kandungan 32 minggu, setelah saya mengalami komplikasi kehamilan. Anak saya harus dirawat intensif selama hampir tiga bulan di rumah sakit, sementara saya menjalani masa pemulihan dengan kendala bahasa dan tanpa dukungan keluarga dekat.

Tantangan terbesar sebagai ibu pertama kali adalah pada masa awal kelahiran. Kondisi anak saya sangat membutuhkan perawatan intensif, sementara saya memiliki keterbatasan dalam berbahasa Jerman sehingga membuat situasi terasa sangat berat. Selain itu, proses pemulihan saya sendiri pasca operasi dan harus menjalani hari-hari penuh kekhawatiran, tanpa dukungan keluarga di sekitar sangat menguji ketahanan mental saya.

Masa itu sangat sulit dan penuh tekanan, apalagi karena saya belum bisa berbahasa Jerman dan tidak semua perawat bisa berbicara bahasa Inggris. Saya akhirnya meminta izin pulang lebih cepat karena merasa sangat stres dan tidak bisa tidur nyenyak. Anak saya tetap tinggal di rumah sakit selama sekitar tiga bulan, dan saya harus bolak-balik setiap hari untuk menjenguknya. Anak saya juga sempat menjalani operasi kecil. Saya bersyukur bahwa semuanya berjalan baik setelah itu. 

Masa-masa itu sangat menantang, tetapi saya belajar menjadi lebih kuat dan sabar. Saat ini, saya berfokus merawat anak dan menikmati belajar hal-hal baru, terutama seputar dunia anak-anak. Dalam keseharian, saya senang belajar hal baru, seperti dunia anak-anak, dan menikmati membaca serta berkegiatan di rumah.

Sebagai ibu di lingkungan baru, saya harus menyesuaikan diri dengan budaya, bahasa, dan sistem pengasuhan yang berbeda. Saya harus beradaptasi dengan budaya dan bahasa yang sangat berbeda. Saya juga tinggal jauh dari keluarga saya di Indonesia, yang tentu membuat saya merasa cukup kesepian di awal. 

Namun seiring waktu, saya mulai mengenal lingkungan sekitar dan menemukan orang-orang yang baik dan suportif, terutama dalam konteks pengasuhan anak. Saya memutuskan mendaftarkan anak ke Krabbelstube karena anak saya perlu bersosialisasi dan belajar berinteraksi dengan anak-anak lain.

Selain itu, saya juga ingin menjauhkan anak saya dari lingkungan yang tidak kondusif di sekitar rumah, yang menurut saya kurang sehat secara emosional. Saya percaya anak-anak butuh lingkungan yang stabil dan suportif untuk berkembang secara optimal. Meski awalnya sulit, saya bersyukur mendapat dukungan dari para pendidik di Krabbelstube, tempat anak saya kini bersekolah. Nah, apa itu Krabbelstube? Saya ingin berbaginya lewat cerita sahabat berikut ini. 

Di Krabbelstube, anak saya dapat mengikuti berbagai kegiatan seperti olahraga, musik, bermain, dan eksplorasi. Kegiatan di Krabbelstube sangat beragam dan menyenangkan.

Setiap hari Senin ada kegiatan olahraga, hari Kamis ada sesi musik, dan di hari-hari lainnya ada kegiatan bermain bebas, seni, membaca buku, dan eksplorasi di luar ruangan. Semua dilakukan dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan usia anak. 

Perkembangan anak saya pun sangat pesat. Perbedaan anak saya, sebelum dan sesudah masuk Krabbelstube tentunya tampak sekali. Sebelum masuk Krabbelstube, anak saya belum bisa duduk sendiri.

Sekitar enam bulan setelah masuk, ia berkembang sangat pesat, mulai dari bisa merangkak, memahami perintah sederhana, dan sampai mengekspresikan keinginannya. Ia juga menjadi lebih aktif, tertarik pada lingkungan, dan mulai menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi. 

Secara fisik, saya melihat anak saya menjadi lebih kuat dan aktif. Secara kognitif, ia mulai bisa memahami instruksi dan mengenali rutinitas. Secara emosional, ia lebih ekspresif dan tampak bahagia. Ia juga mulai bisa berkomunikasi dengan cara-cara sederhana dan menunjukkan minat besar terhadap hal-hal di sekitarnya. 

Biaya bulanan sekitar 289 Euro, dengan fasilitas yang lengkap dan lingkungan yang aman. Biaya tersebut mencakup 80 Euro untuk biaya makan, 200 euro untuk betreuungkosten (=biaya penitipan anak), dan 9 Euro untuk keanggotaan kegiatan olahraga. Para pengasuh di Krabbelstube sangat profesional, ramah, dan terbuka. Ketika saya memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tentang anak saya, mereka selalu siap memberikan penjelasan yang membantu dan menenangkan.

Fasilitasnya cukup lengkap, termasuk ruang bermain dalam dan luar ruangan, perlengkapan belajar, alat musik, perlengkapan olahraga anak, serta makanan yang disiapkan dengan standar gizi yang baik. Lingkungannya sangat aman dan bersih. 

Saya terkesan dengan sistem pendidikan dan kesehatan anak di Jerman yang terkoordinasi dan mendukung intervensi dini. Sistem di Jerman cukup terstruktur. Anak-anak dipantau secara berkala melalui pemeriksaan kesehatan dan perkembangan, serta bisa mendapatkan bantuan dan dukungan dini dari berbagai lembaga pendidikan dan kesehatan, jika diperlukan. Orang tua juga dilibatkan secara aktif dalam proses ini.  

Saya belajar bahwa kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan tenaga kesehatan sangat penting. Sistem di sini sangat terkoordinasi dan fokus pada pencegahan serta intervensi dini. Saya berharap di Indonesia bisa diterapkan sistem pendampingan yang serupa agar setiap anak memiliki kesempatan berkembang secara optimal sejak dini. 

Saya berharap anak saya dapat tumbuh dengan bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensinya secara maksimal. Saya ingin ia mendapatkan pendidikan yang baik, memiliki teman yang mendukung, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Saya juga berharap ia tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan bisa menghargai perbedaan di sekitarnya. Harapan saya, anak saya bisa tumbuh bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensinya. Saya merasa perjalanan ini sangat menantang, terutama secara emosional.

Namun saya belajar untuk lebih kuat dan sabar. Dukungan pasangan dan orang-orang di sekitar sangat membantu. Saya juga mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental saya sebagai ibu agar dapat memberikan lingkungan yang positif untuk anak saya. 

Pesan saya: membesarkan anak tidak cukup hanya dengan memberikan makan dan pakaian. Orang tua harus menyediakan lingkungan yang suportif dan sehat secara emosional. Saya menyadari betapa pentingnya menjaga kondisi mental dan stabilitas lingkungan bagi tumbuh kembang anak. Jangan ragu untuk mencari bantuan dan buat keputusan yang terbaik demi kebaikan anak, meskipun itu berat. 

Satu lagi, sahabat Ruanita! Pesan saya untuk para ibu lainnya: jangan ragu mencari bantuan! Jagalah kesehatan mental kita sebagai orang tua, karena itu adalah fondasi bagi anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang positif.

Penulis: Putri (nama samaran) dan tinggal di Jerman.

(PODCAST IN ENGLISH) Bagaimana Berintegrasi di Islandia Setelah Tinggal 25 Tahun?

Podcast berbahasa Inggris Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad yang dikelola Ruanita Indonesia kembali hadir dengan cerita inspiratif perempuan Indonesia di luar negeri. Kali ini, host Aini Hanafiah dari Norwegia berbincang dengan Vita, seorang perempuan Indonesia yang sudah menetap di Reykjavík, Islandia, selama lebih dari 25 tahun.

Vita pertama kali pindah ke Islandia pada tahun 2000 karena menikah dengan pasangannya yang berasal dari sana. Sebelumnya, ia bekerja sebagai pramugari di Jeddah, Arab Saudi, dan terbiasa berpindah-pindah negara. Karena itu, adaptasi terhadap iklim ekstrem dan budaya baru di Islandia tidak menjadi halangan besar baginya.

“Buat saya, pindah itu bukan akhir dari cerita, tapi justru awal dari petualangan baru,” ungkap Vita.

Meski terbiasa dengan lingkungan multikultural, Vita mengaku awal kepindahannya penuh tantangan. Ia harus beradaptasi menjadi “serba bisa”, seperti: mengurus anak, memasak, belajar mengemudi, hingga menavigasi sistem pendidikan dan kesehatan di Islandia.

Salah satu pengalaman berkesan adalah ketika ia harus aktif memperjuangkan agar anaknya segera mendapat tempat di taman kanak-kanak. “Sebagai orang Indonesia, rasanya tidak biasa untuk ‘pushy’ atau menuntut. Tapi di sini saya belajar kalau kadang kita memang harus lebih tegas,” kata Vita.

Bagi Vita, mempelajari bahasa Islandia menjadi langkah penting dalam proses integrasi. Pemerintah memang mewajibkan imigran untuk mengikuti kursus bahasa, meski biayanya harus ditanggung sendiri. Dengan dukungan keluarga mertua, Vita perlahan belajar bahasa Islandia, meski hingga kini ia lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.

“Bahasa itu pintu. Kalau kita mau belajar, pintunya terbuka. Kalau kita menolak, ya kita akan terisolasi,” ujarnya. 

Vita merasa beruntung memiliki sistem dukungan yang kuat dari keluarga besar suami. Kehadiran mereka membuat proses adaptasi terasa lebih ringan. Ia juga tak menyangka bisa bertemu dengan sesama orang Indonesia di tempat yang jauh seperti Islandia.

“Rasanya lucu, tiba-tiba ada yang menyapa ‘Kamu dari Indonesia?’ di supermarket. Dari situ saya sadar, bahkan di dekat Kutub Utara pun kita bisa menemukan saudara sebangsa,” kenangnya.

Selama lebih dari dua dekade, Vita tidak hanya membesarkan keluarga tetapi juga aktif bekerja, termasuk di dewan kota Reykjavík untuk isu-isu imigran. Ia menekankan bahwa kunci bertahan di luar negeri adalah keterbukaan, inisiatif, dan kemauan belajar.

“Islandia itu tempat yang ekstrem, baik alam maupun budayanya. Ada orang yang langsung jatuh cinta, ada juga yang merasa sulit. Saya memilih untuk mencintai tempat ini, karena di sini saya membangun hidup saya,” tuturnya.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

(CERITA SAHABAT) Menjadi Ibu Sambung Lintas Budaya, Ini yang Saya Pelajari

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Ida yang menetap di Jerman lebih dari 20 tahun lebih. Saya berasal dari Bandung, Indonesia. Sebelum hidup saya berubah total di Jerman, saya adalah seorang guru sosiologi dan guru BK di sebuah SMA Islam berasrama di Bandung.

Hidup saya kala itu penuh dinamika: mengajar, membina remaja dari berbagai pelosok tanah air, dan aktif di berbagai kegiatan sosial. Saya mencintai kehidupan saya yang teratur dan penuh makna masa itu. Tapi hidup kadang membawa kita ke jalan yang sama sekali tak terduga.

Pada tahun 1999, saya dikenalkan oleh beberapa mantan murid saya kepada Pak Muiz, seorang pria Indonesia yang sudah lama menetap di Hamburg, Jerman.

Ia seorang duda dengan lima anak dari pernikahan sebelumnya dengan perempuan Jerman. Perkenalan kami unik, banyak melalui percakapan telepon, tanpa proses pacaran seperti umumnya. Tidak ada romantisme berlebih, hanya ada niat baik dan keberanian untuk membangun kembali hidup yang baru.

Setelah mengenalnya lebih dalam, saya melihat ketulusan seorang ayah yang berjuang membesarkan kelima anaknya sendirian setelah perpisahan yang pahit.

Ada satu kalimat dari Pak Muiz yang membekas di hati saya: “Jangan hanya menikahi saya, tapi juga menikahi anak-anak saya.” Kalimat itu menjadi janji batin saya.

Kami menikah di Bandung. Beberapa bulan kemudian, saya datang ke Jerman sebagai turis, sebelum akhirnya menetap secara resmi di tahun 2000.

Pertemuan dengan Anak-anak Sambung

Saat pertama kali bertemu, anak-anak menyambut saya dengan cukup hangat. Tapi saya bisa merasakan ada dinding tak kasat mata di antara kami. Wajar, saya pikir. Mereka adalah anak-anak dari keluarga broken home, membawa luka dan ketidakpercayaan terhadap figur ibu baru.

Anak pertama, laki-laki, berusia 21 tahun, baru selesai wajib militer. Anak kedua dan ketiga, perempuan, masing-masing berusia 19 dan 18 tahun. Si kembar, dua anak perempuan, baru berusia 11 tahun. Saya membayangkan bahwa dengan usia-usia seperti itu, mereka sudah mandiri seperti remaja di Indonesia. Tapi realitasnya berbeda.

Mereka tumbuh dalam budaya Jerman yang sangat menjunjung kemandirian, namun pada saat yang sama menyimpan luka emosional yang dalam. Anak tertua menarik diri di kamar, kecewa karena gagal berkarier di militer. Anak kedua sibuk dengan Ausbildung, semacam pendidikan vokasi. Anak ketiga berhenti sekolah. Dan si kembar, meski lebih mudah didekati, tetap menunjukkan kehati-hatian.

Tantangan Awal

Bahasa menjadi tantangan pertama. Saya tidak bisa berbahasa Jerman. Bahasa Inggris saya pun tidak banyak berguna di lingkungan kami, karena tetangga-tetangga dan toko-toko di sekitar hanya berbahasa Jerman. Anak-anak sambung saya hanya sedikit mengerti bahasa Indonesia.

Tapi saya tidak menyerah. Saya memilih menggunakan “bahasa tubuh”. Saya memasak untuk mereka, membersihkan rumah, menyiapkan sarapan, mendampingi tugas sekolah si kembar. Dengan itulah saya membangun komunikasi: lewat tindakan, bukan kata-kata.

Suami saya sangat membantu dalam hal ini. Ia meminta anak-anak untuk memanggil saya “Ibu,” bukan hanya menyebut nama saya, meskipun dalam budaya Jerman biasanya anak-anak memanggil ibu sambung dengan nama saja.

Mengalah untuk Bertahan

Saya belajar mengalah. Sangat banyak. Saya tidak membawa konsep otoritas saya sebagai “ibu baru” ke dalam rumah ini. Saya masuk sebagai tamu. Saya memahami bahwa rumah ini pernah retak. Anak-anak ini sudah melalui cukup banyak luka. Maka saya memutuskan, untuk sementara, saya hanya perlu hadir: sebagai teman, sebagai sosok yang konsisten dan bisa dipercaya.

Meskipun demikian, ada masa-masa di mana saya hampir menyerah. Tahun pertama menjadi ujian berat. Dunia saya yang dulu penuh aktivitas sosial, kini berganti menjadi rutinitas membangunkan anak-anak, menyiapkan sarapan, membereskan rumah, memasak, dan mendengarkan kesunyian.

Banyak malam saya bertanya pada diri sendiri: “Mengapa saya meninggalkan dunia saya?” Ada saat-saat di mana rasa kesepian menggerogoti. Ada godaan untuk pulang saja ke Indonesia, kembali ke kehidupan yang nyaman.

Namun saya ingat janji saya. Saya menikahi Pak Muiz dan anak-anaknya. Saya bertahan.

Adaptasi Nilai Budaya

Saya membawa nilai-nilai Indonesia ke dalam rumah ini: keramahan, perhatian, ketekunan. Setiap masakan Indonesia yang saya siapkan menjadi jembatan kecil menuju hati mereka. Mereka mulai menyukai rendang, nasi goreng, sate, dan makanan-makanan sederhana yang saya buat.

Namun saya juga belajar dari budaya Jerman: menghargai privasi, tidak mencampuri urusan orang tanpa diundang, berbicara secukupnya. Anak-anak di sini lebih senang jika diberi ruang. Saya belajar untuk tidak “menggurui” atau “memaksa.” Saya menawarkan bantuan, bukan memaksakan kehadiran saya.

Pelan-pelan, hubungan kami membaik. Si kembar mulai lebih sering bercerita. Mereka menunjukkan hasil ujian sekolahnya, meminta tanda tangan saya, dan menceritakan teman-temannya. Anak-anak yang lebih besar tetap menjaga jarak, tapi saya tahu mereka mulai menghargai kehadiran saya.

Konflik Emosional

Tentu saja, konflik tetap ada. Terutama di awal, ada rasa dari anak-anak bahwa saya “merebut” ayah mereka. Mereka yang selama enam tahun hanya hidup berempat dengan ayahnya, tiba-tiba harus berbagi perhatian.

Saya mengatasi itu dengan mengalah. Saya membiarkan mereka menikmati waktu-waktu bersama ayah mereka. Saya tidak menuntut perhatian suami saya berlebihan. Saya menjaga agar saya tidak memperkeruh suasana. Saya memilih menjadi penyokong dari belakang.

Saya percaya, cinta dan kepercayaan tidak bisa dituntut. Ia harus tumbuh perlahan.

Merayakan Keberhasilan Kecil

Ada satu momen yang sangat membekas: ketika si kembar mendapatkan nilai bagus di sekolah dan mereka berlari pulang menunjukkan hasilnya pada saya. Saat itu, saya tahu bahwa sedikit demi sedikit, dinding itu mulai runtuh.

Ada pula momen di mana anak-anak yang lebih besar, meskipun jarang berbicara, mulai menunjukkan perhatian kecil: memanggil saya untuk makan bersama, atau sekadar mengucapkan terima kasih atas makanan yang saya buat.

Pelajaran Besar

Tinggal di Jerman, menjadi ibu sambung lintas budaya, mengajarkan saya banyak hal:

Pertama, cinta itu lebih dari sekadar kata-kata. Ia hadir dalam perbuatan sederhana: memasak, mendengarkan, menemani dalam kesunyian.

Kedua, membangun keluarga berarti membangun kesabaran dan ketulusan. Kita tidak bisa menuntut cinta. Kita hanya bisa menawarkan cinta.

Ketiga, dalam keluarga lintas budaya, kita tidak bisa membawa semua nilai dari tanah air kita tanpa adaptasi. Kita harus membuka diri, belajar menghormati cara hidup yang berbeda.

Dan keempat, untuk bisa bertahan, kita harus berdamai dengan mimpi-mimpi yang tidak selalu bisa diwujudkan.

Saya dulu bermimpi melanjutkan S2 di Jerman. Tapi saya memilih menunda, karena prioritas saya adalah membangun keluarga ini. Bukan hanya keluarga saya dan suami, tapi juga menyembuhkan luka-luka lama anak-anak sambung kami.

Penutup

Menurut saya, pernikahan adalah ibadah dan merupakan sebuah janji suci pada Tuhan. Saya bertahan dalam pernikahan sebagai ibu sambung, itu lebih disebabkan pada komitmen saya terhadap nilai dan moralitas pernikahan. Pernikahan adalah sebuah kontrak sosial, yang bukan hanya menyangkut suami dan istri, melainkan juga keluarga dari suami dan istri.

Kini, setelah lebih dari dua dekade, saya menulis cerita ini bukan untuk menunjukkan betapa sulitnya perjalanan ini, tapi untuk berbagi bahwa perjalanan ini sangat mungkin dilalui. Dengan cinta, kesabaran, dan kerendahan hati.

Untuk Sahabat Ruanita yang mungkin sedang melalui jalan yang serupa: percayalah, cinta sejati itu dibangun pelan-pelan. Bukan dalam hitungan hari, tapi dalam kesetiaan bertahun-tahun.

Penulis: Ida, tinggal di Hamburg dan dapat dikontak via akun instagram idasurjantiridwan.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Merayakan Perempuan Migran dan Globalisasi Inklusif bersama Ruanita Indonesia

Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan program bulanan yang dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebuah platform yang berkomitmen pada penguatan kapasitas dan advokasi bagi perempuan Indonesia, khususnya dalam konteks peran dan perjuangan mereka di berbagai bidang kehidupan.

Pada edisi bulan Desember 2025 ini, CSS hadir dalam format istimewa untuk memperingati Hari Migran Internasional, dengan menghadirkan Novy Anggraini, seorang dosen sekaligus kandidat doktoral di Doctoral School of Economic and Regional Science, Matei University, Hungaria.

Lewat sesi berbagi ini, Novy tidak hanya membagikan kisah pribadinya sebagai perempuan Indonesia yang menempuh studi di luar negeri, namun juga menggambarkan kompleksitas, tantangan, serta peluang yang bisa diraih oleh perempuan migran dalam lanskap global saat ini.

Dalam perkenalannya, Novy menegaskan pentingnya pendidikan sebagai pintu masuk bagi perempuan untuk mengambil peran lebih luas di tingkat global. Keputusannya memilih Hungaria sebagai tempat studi bukan hanya karena faktor beasiswa, tapi juga karena posisi strategis negara tersebut di kawasan Eropa Tengah serta reputasinya dalam menghasilkan pemikir dan ilmuwan berkelas dunia.

Di lingkungan akademik Hungaria, Novy merasa dihargai sebagai perempuan. Ia menggambarkan suasana diskusi akademik yang inklusif, tanpa diskriminasi, di mana semua mahasiswa, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan menunjukkan kemampuan, termasuk dalam forum-forum internasional seperti konferensi ilmiah.

Dalam sesi Cerita Sahabat Spesial ini, Novy mengajak peserta untuk melihat globalisasi dari dua sisi. Di satu sisi, globalisasi membuka akses yang lebih luas bagi perempuan Indonesia untuk mengembangkan diri, belajar, dan bekerja lintas batas negara. Namun di sisi lain, globalisasi juga menuntut kesiapan, terutama dari segi soft skill dan kemampuan bahasa asing.

“Selain bahasa Inggris, minimal ada satu bahasa asing lagi yang harus dikuasai,” tegasnya. Ia mendorong perempuan Indonesia untuk melakukan riset mendalam sebelum memutuskan merantau.

Hal-hal penting seperti jenis pekerjaan yang banyak dibutuhkan di negara tujuan, keterampilan yang dibutuhkan, dan kebijakan lokal terhadap pekerja migran wajib diketahui sejak awal.

Pengalaman Novy sebagai migran perempuan membawanya memahami langsung bagaimana sistem sosial dan hukum di negara lain bisa memberikan perlindungan yang layak bagi perempuan.

Follow us

Ia mencontohkan sistem cuti hamil di Hungaria yang bisa mencapai tiga tahun, dan selama masa tersebut, perusahaan tetap wajib membayar gaji. “Kalau tidak, perusahaan bisa dituntut,” ujarnya.

Lebih lanjut, Novy juga mengungkap bahwa sistem pajak di Hungaria memberikan keuntungan bagi perempuan, terutama mereka yang berstatus ibu tunggal, termasuk dalam hal tax refund. Yang menarik, hak-hak ini diberikan tidak hanya kepada warga lokal, tetapi juga berlaku untuk migran.

Meski banyak regulasi yang mendukung, Novy menekankan pentingnya keberadaan wadah atau pusat bantuan di negara-negara tujuan migrasi untuk perempuan-perempuan migran Indonesia.

Ia menilai bahwa banyak perempuan migran mengalami tekanan emosional atau tantangan hukum, dan tidak tahu harus ke mana mencari bantuan.

Ia mengusulkan agar pemerintah Indonesia, melalui kerja sama bilateral maupun perwakilan di luar negeri, bisa menyediakan legal consultant atau lembaga advokasi yang secara khusus menangani isu-isu perempuan migran.

“Kita butuh tempat curhat, tempat konsultasi, dan juga pelatihan sebelum diberangkatkan,” tuturnya.

Sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Novy juga berbagi tentang bagaimana ia melihat peran institusi pendidikan tinggi dalam mempersiapkan mahasiswanya menghadapi tantangan dunia kerja.

Ia menyambut baik kebijakan kampus dan Dikti yang kini mulai mewajibkan magang dan kerja praktik. Baginya, langkah ini sangat strategis untuk menjembatani kesenjangan antara teori yang diajarkan di kampus dengan realitas lapangan.

“Mahasiswa harus dihadapkan pada dunia nyata sejak awal. Mereka harus tahu bagaimana kerja tim, bagaimana menghadapi konflik, dan bagaimana menyelesaikan masalah,” kata Novy.

Menutup sesi CSS, Novy memberikan pesan kuat kepada seluruh perempuan Indonesia yang bercita-cita membangun karier di luar negeri. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental dan emosional, bukan hanya teknis.

Perempuan harus tahu apa yang mereka inginkan, menetapkan prioritas, dan membekali diri dengan pengetahuan yang cukup sebelum mengambil langkah besar sebagai pekerja, pelajar, atau profesional di luar negeri.

Lebih jauh, ia mengingatkan pentingnya memperkuat support system sesama perempuan. Baik di dalam negeri maupun di negara tujuan migrasi, perempuan perlu saling menguatkan, berbagi informasi, dan berjejaring agar dapat terus berkembang tanpa merasa sendiri.

Program Cerita Sahabat Spesial episode Desember ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman pribadi, tapi juga menjadi refleksi bersama tentang pentingnya kehadiran kebijakan, dukungan komunitas, dan advokasi sistemik bagi perempuan migran Indonesia.

Peringatan Hari Migran Internasional bukan sekadar seremoni, tapi juga momentum untuk mempertegas komitmen kita semua, baik masyarakat sipil, akademisi, maupun negara, dalam mendukung para perempuan yang memilih berjuang lintas batas demi masa depan yang lebih baik.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi:

(AISIYU) I Can Contribute Beautiful things to This World Even If They are Small

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam Rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Asti yang tinggal di Islandia.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(POLICY BRIEF) Memperkuat Keamanan Digital dan Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender Online bagi Perempuan Indonesia di Ruang Siber Global

POLICY BRIEF (DRAFT – UNTUK KOMNAS PEREMPUAN & KEMENPPPA) 

Disusun untuk: Komnas Perempuan & Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) 

1. Executive Summary 

Peningkatan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) terhadap perempuan Indonesia menunjukkan urgensi intervensi kebijakan yang lebih sistematis dan berbasis bukti. Bentuk-bentuk kekerasan seperti non-consensual dissemination of intimate images (NCII), sexual extortion, cyberstalking, penipuan berbasis relasi semu, serta penyalahgunaan teknologi deepfake semakin meluas. 

Policy brief ini menyajikan analisis dan rekomendasi strategis untuk memperkuat perlindungan melalui penguatan regulasi, literasi digital, akuntabilitas platform, dan layanan pemulihan, selaras dengan mandat Komnas Perempuan dan KemenPPPA. 

2. Latar Belakang 

KBGO meningkat dan menjadi ancaman serius terhadap hak asasi perempuan. Ruang digital menjadi bagian integral kehidupan perempuan, namun risiko seperti eksploitasi data, manipulasi teknologi, dan kekerasan psikologis terus berkembang. Mandat Komnas Perempuan dan KemenPPPA diperlukan untuk menghasilkan kebijakan efektif. 

3. Identifikasi Masalah Utama 

  • Kompleksitas bentuk KBGO seperti NCII dan deepfake. 
  • Dampak serius pada kesehatan mental dan partisipasi publik. 
  • Kerentanan teknis dan rendahnya literasi digital. 
  • Kesenjangan implementasi kebijakan dan layanan korban. 

4. Analisis Kebijakan 

KBGO melanggar hak atas rasa aman dan privasi. Intervensi diperlukan melalui penguatan pemantauan, layanan korban, akuntabilitas platform, dan edukasi publik. 

5. Rekomendasi Kebijakan 

A. Untuk Komnas Perempuan: 

  • Memperkuat dokumentasi dan pemantauan KBGO. 
  • Mengembangkan rekomendasi kebijakan terkait NCII dan deepfake. 
  • Sinkronisasi kebijakan antarlembaga. 
  • Memperluas kampanye perlindungan perempuan di ruang digital. 

B. Untuk KemenPPPA: 

  • Integrasi literasi digital sensitif gender dalam program nasional. 
  • Modul literasi digital bagi perempuan terkait keamanan data.
  • Penguatan layanan trauma-informed. 
  • Peningkatan kapasitas UPTD PPA dalam penanganan bukti digital. 

C. Kolaborasi Komnas Perempuan – KemenPPPA: 

  • Menyusun pedoman nasional penanganan KBGO. 
  • Kampanye nasional “Ruang Digital Aman bagi Perempuan Indonesia”. 
  • Membangun mekanisme rujukan cepat antarinstansi dan platform digital. 

D. Untuk Platform Digital: 

  • Mekanisme pelaporan cepat untuk NCII dan deepfake. 
  • Implementasi safety by default. 
  • Dialog teknis dengan pemerintah dan Komnas Perempuan. 

E. Untuk Sektor Pendidikan & Organisasi Sipil: 

  • Penguatan riset dan edukasi publik tentang KBGO. 
  • Pelibatan komunitas perempuan sebagai agen deteksi dini. 

6. Pesan Kunci 

KBGO adalah pelanggaran serius yang memerlukan respons terintegrasi. Literasi digital sensitif gender dan akuntabilitas platform adalah pilar utama. 

7. Penutup 

Ancaman digital terhadap perempuan Indonesia membutuhkan kolaborasi kuat antar lembaga negara, platform digital, dan masyarakat sipil. Rekomendasi kebijakan ini diharapkan memperkuat perlindungan perempuan di ruang digital.

Tertanda 

Tim Penyelenggara Forum Online: PhD Connections

  • Anna Knöbl, Founder Ruanita Indonesia
  • Ari Nursenja Rivanti, PhD Student di Finlandia
  • Zakiyatul Mufidah, PhD Student di UK
  • Fransisca Hapsari, PhD Student di Jerman
  • Anggy Eka Pratiwi, PhD Student di India

(AISIYU) I am Enough

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam Rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Rena yang tinggal di Swiss.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(SIARAN BERITA) Ruanita Gelar Diskusi Daring: Atasi Adiksi Games Online pada Anak Berusia SD dengan Libatkan 3 Kontinen

Jakarta, 29 November 2025 — Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Atasi Adiksi Games Online pada Anak Usia Sekolah Dasar” pada Sabtu, 29 November 2025. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom ini menghadirkan peserta dari berbagai negara, mulai dari orang tua, guru, pemerhati anak, hingga mahasiswa yang peduli terhadap isu pendidikan dan perkembangan anak di era digital.

Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber dari lintas negara yang memberikan pandangan dan pengalaman berharga. Mom Elia Qudo, ibu rumah tangga asal Bangladesh, berbagi kisah nyata dalam mendampingi anak usia sekolah dasar yang gemar bermain game online, termasuk bagaimana ia mengatur keseimbangan antara waktu bermain dan belajar anak di rumah. 

Dari Australia, Ayah Andri, pendidik dan pendiri Indolanan, menyoroti pentingnya permainan dalam proses tumbuh kembang anak serta memperkenalkan kembali nilai permainan tradisional sebagai alternatif yang menyenangkan dan edukatif untuk mengatasi kecanduan game.

Follow us

Sementara itu, Mom Mala Holland, seorang psikoterapis yang berdomisili di Inggris, membagikan perspektif psikologis melalui pendekatan play therapy dan memberikan tips praktis bagi orang tua dalam mengelola penggunaan gawai pada anak usia sekolah dasar.

Kegiatan ini dipandu oleh Asti Tyas Nurhidayati, guru sekolah dasar sekaligus relawan Ruanita yang saat ini berdomisili di Islandia. Suasana diskusi berlangsung interaktif dan hangat. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman pribadi seputar tantangan mendampingi anak di tengah kemudahan akses digital yang begitu luas.

Melalui diskusi ini, para peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dampak adiksi game online terhadap aspek psikologis, sosial, dan akademik anak. Mereka juga mendapatkan strategi praktis untuk mencegah dan mengatasi kecanduan sejak dini, termasuk pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam menumbuhkan keseimbangan antara aktivitas digital dan interaksi sosial di dunia nyata.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam membangun kesadaran bersama tentang pentingnya pendampingan orang tua di era digital. Ruanita Indonesia juga berencana mempublikasikan rangkuman hasil diskusi beserta rekomendasi praktis bagi orang tua melalui laman resmi www.ruanita.com dan media sosial sebagai bahan edukasi masyarakat.

Perwakilan Ruanita Indonesia menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber dan peserta yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. “Adiksi game pada anak adalah tantangan zaman yang harus kita hadapi bersama dengan bijak. Kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan profesional menjadi kunci agar anak-anak dapat tumbuh seimbang di tengah dunia digital,” ujar Asti Tyas menutup acara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita Indonesia untuk terus menghadirkan ruang dialog dan pembelajaran bagi perempuan serta keluarga Indonesia di seluruh dunia, guna menciptakan generasi anak yang cerdas, tangguh, dan berdaya di era teknologi.

Informasi lebih lanjut, bisa mengontak Asti Tyas Nurhidayati melalui e-mail info@ruanita.com.

(AISIYU) Saya Tidak Sendirian

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam Rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Nelden yang tinggal di Jerman.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(AISIYU) Hal-hal Baik Mengalir kepada Saya dan Saya Menerima Kelimpahannya

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Griska yang tinggal di UK.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(IG LIVE SPESIAL) Pengalaman dan Tantangan Mendampingi Perempuan Penyintas Kekerasan di Mancanegara

Dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Kesmenesia, organisasi profesi tenaga kesehatan mental orang Indonesia di Eropa, mengadakan sesi IG LIVE bertema “Pengalaman Pendampingan Perempuan Penyintas Kekerasan di Luar Negeri.” Acara ini disiarkan dari tiga negara berbeda: Spanyol, Jerman, dan Inggris, mempertemukan perspektif lintas-budaya mengenai isu kekerasan berbasis gender, terutama yang dialami perempuan Indonesia di luar negeri.

Acara dipandu oleh Bernadia Dwiyani, Co-founder Kesmenesia yang kini bermukim di Spanyol. Dua narasumber yang hadir adalah Mala Holland, seorang psychotherapist di Inggris yang bekerja dengan perempuan dan anak penyintas kekerasan, serta Nelden Djakababa-Gericke, pendamping penyintas sekaligus praktisi kesehatan mental di Jerman.

Bernadia mengingatkan bahwa sejak 1993, PBB telah menetapkan 25 November sebagai International Day for the Elimination of Violence Against Women. Ia juga menyoroti laporan kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia yang pada April 2023 mencapai 5.949 kasus, angka yang menunjukkan betapa seriusnya persoalan ini.

Menurut Mala, hari ini menjadi pengingat bahwa masih banyak perempuan, di sekitar kita dan di seluruh dunia, yang hidup dalam ketakutan. “Kesetaraan gender bukan hanya soal hak yang sama, tapi juga soal rasa aman yang sama,” katanya.

Budaya yang menormalkan penderitaan perempuan membuat kekerasan sering dianggap wajar atau bahkan perlu, padahal perempuan membutuhkan ruang aman untuk menjadi diri mereka sendiri tanpa rasa takut.

Nelden menambahkan bahwa fakta kita masih membutuhkan hari peringatan ini menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender belum selesai. “Kalau kita benar-benar setara, hari seperti ini sudah tidak diperlukan lagi,” ujarnya.

Ia menyoroti bahwa sejak kecil, perempuan dibesarkan dengan kewaspadaan berlebih atas keselamatan diri, sebuah beban yang tidak dialami laki-laki secara setara.

Mala, yang bekerja di sektor amal di Inggris, mengungkapkan bahwa kekerasan terhadap perempuan hampir selalu berdampak pada anak.

Trauma yang dialami ibu akan memengaruhi cara mereka mengasuh, cara mengambil keputusan, hingga persepsi anak terhadap relasi dan keselamatan. Sejak 2022, anak yang menyaksikan kekerasan pada ibunya kini diakui sebagai victim of domestic abuse, meski tidak mengalami kekerasan secara langsung.

Ia menjelaskan bahwa siklus kekerasan tidak otomatis berhenti ketika hubungan berakhir. Banyak pelaku menggunakan jalur hukum, finansial, atau tekanan sosial untuk terus mengontrol mantan pasangan. “Kadang kekerasan justru semakin meningkat setelah hubungan itu putus,” jelasnya.

Mala memaparkan bahwa perempuan migran menghadapi lapisan kesulitan tambahan, seperti:

  • Hambatan bahasa, yang membuat mereka sulit menceritakan pengalaman atau memahami hak hukum.
  • Ketidakpastian status tinggal, yang sering dimanfaatkan pelaku untuk mengancam.
  • Minimnya jaringan sosial, terutama bila tinggal di kota kecil.
  • Tekanan budaya dan agama, yang kadang mendorong perempuan kembali ke hubungan berbahaya demi menjaga “keutuhan keluarga”.

Lebih jauh, ia menyoroti adanya normalisasi kekerasan dalam sebagian keluarga migran. Bagi sebagian orang, kekerasan dipandang sebagai disiplin rumah tangga, sehingga perempuan tidak mengenali bahwa mereka sedang mengalami relasi berbahaya.

Saat ditanya bagaimana mencegah kekerasan terjadi kembali, Mala menekankan satu hal penting: “Pencegahan bukan tanggung jawab korban. Tanggung jawab ada pada pelaku.”

Ia menolak narasi yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus “lebih hati-hati”.

Follow us

Menurutnya, pelaku yang harus mengakui perbuatannya, mengikuti terapi, dan berkomitmen berubah.

Namun, bagi penyintas, yang paling penting adalah:

  • Mengetahui nomor bantuan darurat
  • Memahami batas dan red flags
  • Menyadari bahwa permintaan maaf pelaku tidak selalu berarti perubahan
  • Mengutamakan keselamatan diri dan anak

Menurut Mala, sebelum memulai terapi, penyintas harus merasa aman secara eksternal. Pemulihan tidak mungkin terjadi jika mereka masih berada dalam lingkungan berbahaya.

Beberapa langkah penting:

  1. Keamanan fisik: tempat tinggal aman, akses pangan, kesehatan, dan pendidikan anak.
  2. Keamanan hukum: akses terhadap shelter, bantuan hukum, atau sistem perlindungan setempat.
  3. Keamanan emosional: proses terapi yang membantu penyintas menemukan kembali rasa percaya diri dan martabat.

“Terapi adalah proses membangun kembali keamanan dari dalam,” kata Mala. Namun fondasinya tetap pada keamanan eksternal yang stabil.

Acara ditutup dengan penegasan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan hanya isu personal, tetapi persoalan sosial yang berdampak lintas generasi. Trauma perempuan hari ini dapat membentuk masa depan anak-anak mereka, dan pada akhirnya masyarakat secara keseluruhan.

Melalui dialog lintas negara ini, Ruanita Indonesia dan Kesmenesia kembali menegaskan komitmen untuk menyediakan ruang aman bagi penyintas dan meningkatkan kesadaran publik mengenai kekerasan terhadap perempuan, terutama dalam konteks migrasi.

Simak selengkap di kanal YouTube Kesmenesia dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Perjuangan Panjang Seorang Ibu Indonesia di Jerman untuk Keadilan dan Hak Asuh

Sejak Ruanita berdiri pada 2021, implementasi salah satu program berfokus pada dukungan kepada perempuan Indonesia penyintas kekerasan dan bagaimana membangun support system agar mereka tidak sendirian.

Program yang disebut sebagai AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) melalui kampanye digital agar menjadi perhatian global dan esensial selama 16 Hari Anti Kekerasan terhadap perempuan (HAKTP).

Pada November 2025 dari Cerita Sahabat Spesial (CSS) oleh Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) mengangkat kisah Dwi Hariyani, seorang perempuan Indonesia yang telah tinggal di Jerman selama hampir 14 tahun dan menjalani perjuangan hukum demi mendapatkan kembali hak asuh anaknya.

Awal yang Sulit dan Kenyataan yang Pahit

Dwi pindah ke Jerman setelah menikah dengan seorang pria Jerman yang ia temui dalam waktu singkat. Ketika tiba di Jerman dalam kondisi hamil besar, ia menikah dan kemudian melahirkan anak di bulan berikutnya.

Namun, kenyataan hidup tak seindah harapan. Hubungan rumah tangganya kandas, dan yang lebih tragis, anaknya diambil secara sepihak oleh pihak suami saat ia ditinggal keluar rumah.

Frauenhaus: Rumah Aman untuk Permulaan Baru

Beruntung, seorang tetangga orang Jerman memberinya informasi tentang Frauenhaus, yakni rumah perlindungan bagi perempuan yang mengalami kekerasan atau ketidakadilan dalam rumah tangga. Dari tempat itulah perjuangan panjang Dwi dimulai.

Di Frauenhaus, ia mulai dibantu untuk menyusun langkah hukum: mendapatkan pengacara, mencatat kronologi kejadian, dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan.

Namun, kondisi awal Dwi sangat memberatkan, seperti: tidak memiliki izin tinggal tetap, tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki tempat tinggal sendiri, dan tidak memiliki penghasilan tetap. Semua alasan ini, membuat hak asuh anak lebih berpihak kepada pihak suami.

Enam Tahun, Lebih dari 15 Kali Pengadilan

Apa yang dilalui Dwi bukan perkara mudah, apalagi tinggal jauh dari tanah air. Ia harus menjalani lebih dari 15 kali sidang pengadilan selama hampir tujuh tahun. Hakim yang sama mengikuti perjalanannya, bahkan sempat bertanya, “Kenapa Anda tidak menyerah saja?”

Namun, Dwi memilih untuk tetap bertahan. Sebagai seorang ibu, tidak ada perjuangan yang terlalu berat untuk memperjuangkan anaknya.

Ia percaya pada kekuatan doa dan kekuatan tindakan. “Saya percaya tidak ada yang tidak mungkin dalam Tuhan,” ujarnya dengan mantap.

Menata Hidup Kembali: Bahasa, Pekerjaan, dan Hak Asuh

Saran pengacaranya sederhana tapi berat: jika ingin mendapatkan hak asuh anak, Dwi harus bisa menguasai bahasa Jerman dengan cepat, memiliki pekerjaan tetap, memiliki tempat tinggal mandiri, dan menjalankan hak kunjungan (Umgangsrecht) secara konsisten.

Dwi melakukannya semua. Ia mengikuti kursus bahasa sambil bekerja full time dan mengambil pekerjaan tambahan part-time.

Ia membiayai semua kebutuhan hukum sendiri, dari membayar pengacara hingga kebutuhan sehari-hari. Ia bahkan menempuh perjalanan 400 km dua minggu sekali selama enam tahun untuk bisa bertemu anaknya.

Semua itu dilakukan Dwi seorang diri di Jerman.

Disiplin Diri dan Strategi Bertahan

Dwi mengakui bahwa tantangan terbesar adalah sistem di Jerman dan bagaimana resiliensi dirinya sendiri. Dwi berusaha mengontrol emosi, belajar bahasa asing dalam waktu singkat, dan menghadapi birokrasi yang kompleks, meski itu adalah tantangan yang berat.

Sistem di Jerman membantunya untuknya belajar cepat memahami semua informasi, dengan mandiri. Tidak ada yang benar-benar membimbing atau mendampingi secara intens. “Mereka bantu hanya seminimal itu saja,” ujar Dwi.

Namun Dwi tetap konsisten. Ia menjalankan semua arahan pengacara dan hakim, dengan tekad yang bulat: mendapatkan kembali anaknya dan berjuang untuk membangun kehidupan baru di Jerman.

Frauenhaus dan Pentingnya Edukasi untuk Perempuan Indonesia di Luar Negeri

Dwi menekankan bahwa Frauenhaus adalah langkah pertama yang krusial bagi perempuan di Jerman yang mengalami kekerasan atau tekanan dalam rumah tangga di luar negeri.

Di sana, mereka bisa mendapatkan informasi awal tentang apa yang harus dilakukan, ke mana melapor, dan siapa yang bisa dihubungi.

Namun, edukasi tentang hal ini belum banyak diketahui oleh perempuan Indonesia di luar negeri, terutama yang berada dalam hubungan rentan atau mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Ia berharap ada lembaga payung atau organisasi seperti Ruanita Indonesia yang berfokus melindungi dan mengedukasi perempuan Indonesia di luar negeri, khususnya dalam memahami hak-hak perempuan migran.

Keteguhan Hati, Nilai Diri, dan Pesan untuk Perempuan Indonesia

Dwi tidak ingin kisahnya menjadi sekadar tragedi. Ia menjadikan semua luka itu sebagai pembakar semangat untuk bangkit dan bertahan.

Bahkan ketika sudah bekerja dan mandiri, ia tetap harus membayar semua hutang bantuan pemerintah yang dulu sempat ia terima, saat tak berdaya.

Baginya, perempuan Indonesia harus belajar menakar risiko sebelum menikah dengan orang asing.

Tidak cukup hanya dengan mimpi tentang hidup “lebih enak” di luar negeri. Ada realitas, sistem hukum yang berbeda, dan tantangan yang harus disadari sejak awal.

“Tinggikan value dirimu dulu. Entah kamu tinggal di Indonesia atau di luar negeri, kamu harus punya nilai diri yang kuat,” tegasnya. Karena hanya dengan itu, seorang perempuan bisa bertahan dalam situasi tersulit sekali pun.

Cerita Sahabat Spesial: Menjadi Suara bagi yang Tak Bersuara

Program Cerita Sahabat Spesial adalah program bulanan tiap bulan berbentuk video melalui kanal YouTube Ruanita Indonesia.

Program ini hadir sebagai wadah berbagi cerita, pengalaman, dan inspirasi dari perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Edisi November ini bertepatan dengan peringatan Kampanye Digital 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Ini diharapkan dapat menyuarakan pengalaman bagi mereka yang voiceless, seperti Dwi.

Dwi Hariyani bukan hanya sosok ibu. Ia adalah gambaran nyata keteguhan hati perempuan Indonesia yang mampu bertahan, membangun kembali hidupnya dari nol, dan tidak pernah kehilangan harapan, saat tinggal di mancanegara.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial (CSS) di kanal YouTube dan pastikan SUBSCRIBE ya:

(CERITA SAHABAT) Menjadi Single Mom by Choice di Rumania: It’s my Choice

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan, saya Barbie Nouva, yang kini menetap di Rumania. Saya lahir dan besar di Indonesia, dengan darah campuran yang unik. Mama saya berasal dari Brasil, sementara papa saya berdarah Arab. Sejak kecil, saya sudah terbiasa berada di persimpangan budaya, sehingga saya tumbuh di antara beragam nilai, bahasa, dan kebiasaan.

Masa muda saya banyak diwarnai dengan musik. Saya menempuh pendidikan di Berlin University, mengambil studi Musik. Musik adalah cinta pertama saya, pintu yang membawa saya berkelana jauh dari tanah kelahiran. Namun, setelah lulus dan kembali ke Indonesia, karier musik saya tidak berkembang sesuai harapan. Dari situ saya mengambil keputusan: saya kembali lagi ke Eropa. Saya sempat melanjutkan studi di Spanyol, hingga akhirnya mendapat tawaran pekerjaan di Rumania.

Awal 2024, saya resmi pindah ke sini. Saat ini, saya sedang menjalani parental leave selama dua tahun. Hari-hari saya diisi dengan mengurus anak, mengikuti kelas daring tentang parenting dan keterampilan baru, membuat konten edukasi tentang perjalanan saya sebagai ibu tunggal, serta tetap mengelola bisnis skincare di Indonesia dari jauh.



Keputusan saya menjadi seorang single mom by choice tidak datang tiba-tiba. Ini berawal dari sebuah janji dan cinta. Bersama almarhum pasangan saya, kami pernah merencanakan memiliki anak lewat inseminasi. Alasan utamanya adalah kesehatan saya. Saya memiliki autoimun, riwayat overweight, dan pernah koma karena anoreksia nervosa. Kondisi itu membuat beliau khawatir jika saya hamil secara alami.

Beliau yang lebih dulu mencari informasi tentang inseminasi. Saya masih ingat, betapa seriusnya ia memastikan bahwa saya akan tetap sehat jika suatu hari kami memiliki anak. Sayangnya, rencana itu terhenti ketika beliau berpulang karena kanker. Kehilangan itu mengguncang saya. Saya bahkan sempat menunda semuanya, memberi tahu rumah sakit bahwa saya tidak akan melanjutkan program.

Meski begitu, saya tetap menjaga komunikasi dengan bank donor yang sudah kami pilih. Dalam hati, saya menyimpan satu janji untuk diri sendiri: jika suatu saat saya merasa siap, dan menemukan donor yang mirip dengan beliau, saya akan melanjutkan langkah ini.



Bagi saya, single mother by choice bukan sekadar label. Ia adalah perwujudan kesiapan seorang perempuan untuk menjadi ibu meskipun tidak memiliki pasangan. Ini tentang tanggung jawab, keberanian, dan cinta yang mendalam.

Sebenarnya, keinginan saya menjadi ibu tunggal sudah ada sejak remaja. Waktu itu, saya menyampaikannya pelan-pelan pada keluarga. Mereka hanya tersenyum, menganggapnya angan-angan anak kecil. Tapi ide itu tetap tumbuh di hati saya.

Akhirnya saya benar-benar menjalani prosedur inseminasi dan hamil, keluarga terkejut. Kehamilan saya tidak berjalan mulus. Kondisi fisik saya melemah hingga dokter utama sempat menyarankan untuk mempertimbangkan terminasi. Itu masa-masa penuh air mata.

Saya berbicara dengan keluarga, dan jawaban mereka membuat saya terharu. Mereka berkata, “Ini kan mimpi kamu. Kalau kamu memilih bertahan, jalani dengan sepenuh hati.” Kata-kata itu menjadi cahaya di tengah gelap. Saya merasa dikuatkan, dicintai, dan tidak dihakimi. Meski jarak memisahkan, mereka selalu hadir.

Setelah anak saya lahir, tantangan baru pun dimulai. Tantangan terbesar justru datang dari pikiran saya sendiri. Saya sering overthinking terhadap komentar orang. Tak jarang muncul rasa takut dan ragu. Dari situ saya belajar untuk memilah: komentar mana yang akan saya dengarkan, dan mana yang sebaiknya saya abaikan.

Dari sisi sosial, menjadi ibu tunggal di Rumania punya warna tersendiri. Secara budaya, banyak orang masih memandang single mother by choice dengan rasa kasihan atau keheranan. Ada yang berkata, “sayang sekali…” dengan nada prihatin. Tetapi dari sisi hukum dan layanan kesehatan, pemerintah tetap melindungi hak-hak ibu tunggal. Itu membuat saya merasa aman, meskipun ada stigma di sekitar.

Kendala bahasa juga membuat saya sulit masuk ke komunitas ibu tunggal lokal. Mayoritas menggunakan bahasa Rumania, sementara saya hanya bisa bahasa Inggris. Saya tetap berusaha membangun koneksi, tapi memang tidak mudah.

Menjadi ibu tunggal berarti saya harus kuat, tapi saya juga manusia biasa. Masa kehamilan yang penuh drama fisik, ditambah pengalaman diskriminasi di tempat kerja, membuat kondisi mental saya jatuh. Saya bahkan sempat mengalami trust issue yang cukup parah.

Untuk menjaga diri, saya rutin berkomunikasi dengan psikolog dan psikiater. Saya belajar untuk punya me time: berkuda, pilates, atau sekadar melatih diri mempercayakan anak pada nanny, meskipun tetap saya awasi lewat CCTV.

Setiap kali saya ingin menyerah, saya melihat anak saya. Dia adalah alasan saya bertahan, hadiah terindah dari Tuhan, cahaya yang membuat saya terus melangkah.

Di sini, komunitas ibu tunggal biasanya fokus pada mereka yang mengalami kesulitan ekonomi. Untuk single mom by choice, hampir tidak ada wadah yang khusus. Saya sempat bergabung dengan kelompok lokal, tapi kendala bahasa membuat saya tidak aktif.

Beruntung, saya punya dua sahabat orang Indonesia di Rumania. Kami sering memasak bersama, makan bareng, ngobrol, bermain di taman dengan anak-anak. Sederhana, tapi sangat berarti. Kehadiran mereka seperti oase di hari-hari yang kadang terasa sepi.

Kalau bisa memutar waktu, saya ingin lebih mempersiapkan tubuh saya sebelum menjalani prosedur. Namun, saya tidak menyesal dengan keputusan ini. Menjadi single mom by choice adalah pilihan terbaik yang pernah saya ambil.

Setelah kepergian almarhum, saya sadar bahwa saya belum siap memiliki pasangan lagi. Hubungan-hubungan lain tidak berjalan baik. Tetapi untuk anak, saya siap sepenuhnya. Anak saya adalah pusat hidup saya, alasan saya untuk menciptakan rumah yang penuh cinta, disiplin, dan nilai-nilai yang saya yakini.

Saya tahu banyak perempuan di Indonesia mungkin merasa siap menjadi ibu, tapi belum tentu siap menjadi istri. Dan itu tidak apa-apa.

Pesan saya sederhana: jika memang sudah siap, lakukan dengan tenang. Ikuti kata hati, jangan terburu-buru mengikuti standar orang lain. Baik dalam memilih pasangan maupun donor, yang paling penting adalah kesiapan diri sendiri.

Saya juga berharap masyarakat Indonesia bisa lebih bijak melihat pilihan single mom by choice. Ini bukan soal kebebasan tanpa batas, tapi soal tanggung jawab. Perempuan yang memilih jalan ini biasanya sudah memikirkan pendidikan, kesejahteraan, dan masa depan anaknya dengan matang.

Pada akhirnya, menjadi ibu tunggal bukan tentang kekurangan, melainkan tentang keberanian. Tentang cinta yang memilih untuk hadir, bahkan ketika jalannya berbeda. Tentang komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi generasi berikutnya.

Sahabat Ruanita, ini adalah cerita saya. Semoga bisa menjadi pengingat bahwa setiap perempuan punya hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Ingatlah, bahwa keibuan, dalam segala bentuk apapun pilihannya, selalu berakar pada cinta.

Penulis: Barbie Nouva, perempuan Indonesia yang kini menjalani hidup sebagai Single Mom by Choice di Rumania dan dapat dikontak via akun instagram official.barbienouva.

(GALERI FOTO) Peringatan Hari Kesehatan Mental bersama KBRI Wina dan PPI Austria

Acara difasilitasi oleh KBRI Wina, Austria dan dihadiri oleh Dubes RI, Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia sekaligus Organisasi Internasional di Wina. Acara ini dipandu oleh relawan Ruanita di Austria, Azizah Seiger. Hadir sebagai pemateri adalah Anna Knöbl dan Liebgard Fuchs, Neuro-Mental Trainer di Austria.