(CERITA SAHABAT) Pantang Menyerah: Kunci Perempuan Berwirausaha di Negeri Orang

Tak ada yang bisa menebak jalannya kehidupan, termasuk apa yang saya jalani saat ini. Saya tak pernah bermimpi bisa tinggal di negeri empat musim, apalagi saya kini berwirausaha di rumah kedua saya.

Semula saya hanya ingin melanjutkan karir saya sebagai perawat sewaktu saya menikahi pria berkewarganegaraan asing. Perawat memang profesi saya dulu saat saya masih di Indonesia. Kami menikah dan memutuskan untuk tinggal di Greenland. 

Selama di Greenland, saya bekerja di salah satu rumah sakit. Dari pekerjaan ini, saya membeli kamera DSLR yang jauh lebih baik dari kamera sebelumnya yang saya miliki. Memiliki kamera canggih ini seperti memicu saya untuk terampil dalam dunia fotografi. 

Jujur dunia fotografi adalah impian saya sebelum menikahi suami. Dahulu saya suka sekali memotret acara perhelatan nikah yang dipercayakan pada saya. Mungkin fotografi adalah hobi saya sehingga saya sering mendokumentasikan berbagai momen foto atau memotret sesuai pesanan.

Setelah saya memiliki kamera DSLR yang lebih canggih, tiba-tiba saya ingin berwirausaha memiliki Studio Foto sendiri. Akhirnya pelan-pelan saya bisa mencicil kebutuhan untuk mewujudkan passion saya itu, sambil saya masih terus bekerja sebagai perawat. 

Saya memilih bidang usaha fotografi karena saya mencintai dunia photography. Dimulai dari hobi yang akhirnya itu menjadi passion terbesar saya. Saya tidak pernah mengikuti sekolah khusus memotret, kebanyakan otodidak. Saya hanya pernah mengikuti kursus online dua kali. Saya memberanikan diri untuk terjun menekuni usaha ini sejak 4 tahun lalu.

Kami pun pindah ke Denmark. Meski profesi saya perawat, saya pikir beralih profesi menjadi pilihan karena saya suka mencoba banyak hal selain bergelut dengan dunia keperawatan. 

Seiring waktu, banyak permintaan wedding photo session ke saya. Ini menjadi alasan mengapa saya berwirausaha. Dari situ saya berpikir untuk membuat badan usaha yang legal. Fokus usaha bisnis yang saya tekuni tidak hanya di bidang photography saja.

Saat acara memotret “wedding”, saya mendapat kesempatan membantu beberapa teman yang ingin menikah di Denmark. Denmark menjadi negara pilihan pasangan beda kebangsaan untuk menikah. Pada akhirnya usaha saya berkembang pada jasa agensi pernikahan internasional.

Faktor keberhasilan mendirikan usaha ini saya pikir adalah rajin berusaha dan tahu strategi memarketkannya. Saya banyak memakai sosial media untuk mengembangkan usaha saya. Tentu itu semua belum tentu berjalan mulus. Karena saya berpindah kota sehingga saya butuh waktu untuk menjangkau market pasar di sekitar saya.

Selama empat tahun menjalani usaha di negeri suami, saya tahu bahwa itu semua tak mudah. Saya pernah menghadapi klien yang marah-marah atau tidak puas dengan kinerja saya. Namun saya tak berkecil hati karena saya menganggap itu semua sebagai kritikan yang membangun. Saya belajar bahwa membangun usaha adalah sebuah proses ketekunan.

Saran saya bila kita ingin berwirausaha di negara baru maka pelajari terlebih dulu market yang ada. Sepintar apapun kita dengan talent yang kita miliki, kalau kita tidak tau trik memasarkannya, maka usaha tersebut akan susah sekali berkembang.

Hal terakhir adalah mental. Kita hidup di negara asing yang tentunya tidak mudah dan tidak menyerah. Walau usaha yang kita jalani susah, teruslah belajar dan menggali potensi yang ada.

Jika teman-teman butuh photo session dan informasi penyelenggaraan pernikahan di Denmark, silakan hubungi saya di akun media sosial Facebook https://www.facebook.com/dewinielsenphotograp dan akun Instagram https://www.instagram.com/dewinielsenphotography/

Penulis: Dewi Damanik – Denmark 

(PRODUK) Buku: Cinta Tanpa Batas

Pernikahan campuran yakni WNI dan WNA bukan perkara mudah. Dimulai dari lika-liku perkenalan dua budaya yang berbeda, mengurus dokumen yang ribet hingga komunikasi yang terkadang menjadi bumbu pahit manis kehidupan perkawinan campuran.

Buku ini seolah bunga rampai kehidupan perkawinan campuran yang tak tampak. Buku berjudul: Cinta Tanpa Batas ditulis langsung oleh 23 perempuan asal Indonesia yang tersebar di pelosok dunia. Buku ini ditulis dari A hingga Z dengan bahasa yang komunikatif nan inspiratif. Ceritanya pun kekinian yang aktraktif.

Harga buku selama masa Pre-Order Rp 100.000/buku di luar ongkos kirim sampai dengan 28 Februari 2022. Setelah itu, harga buku sebesar Rp 125.000/buku. Pesanan buku bisa kontak ke email: info@ruanita.com atau pesan ke tim dapur konten Ruanita.

(CERITA SAHABAT) SAD Buat Aku Sedih di Winter

Indonesia sebagai negeri tropis tentu tak mengenal istilah SAD, yang merupakan kepanjangan dari Seasonal Affective Disorders. Istilah ini benar-benar tidak kupahami sebelumnya. Di Indonesia semua terasa baik karena kami tak punya musim Winter. Informasi SAD juga tidak kuperoleh sebelum aku menjejakkan kaki di negeri tujuan studiku.

Ya, aku sudah tinggal hampir sepuluh tahun di Jerman. Aku sudah mulai terbiasa dengan kehidupanku di negeri empat musim ini. Aku putuskan tidak hanya menyelesaikan studi S1 saja di Jerman. Aku berniat melanjutkan pendidikan S2 di negeri sosis ini. Di sini aku bisa berbagi antara waktu kuliah dengan waktu kerja. Bagaimana pun aku harus bekerja apa saja demi memenuhi tuntutan hidup di negeri asing ini.

Aku lupa tahunnya, tetapi seingatku sekitar tahun 2015-2016 aku mulai merasa aneh saat musim Winter tiba. Mungkin banyak orang menyukai salju dan suasana khas musim dingin, tetapi tidak denganku. Musim Winter terasa panjang bagiku. Langit sudah kelabu dan gelap sejak jam 4 sore. Di situ aku mulai merasa lelah dengan hidupku. Aku tidak bisa menyebut ini dengan depresi karena aku benar-benar tidak punya masalah mental sebelumnya.

Aku mulai merasakan tanda-tanda itu bahkan hingga Winter tahun 2017. Di masa-masa perkuliahan, aku lebih memilih diam di rumah dari pada aku bergabung, mengikuti ajakan teman-teman untuk bermain ke luar rumah. Aku tak ingin bersosialisasi dengan siapa pun saat Winter tiba. Bahkan aku pun tak bersemangat untuk mengikuti perkuliahan. Aku absen dari jadwal kuliah alias tidak masuk kelas kuliah.

Aku pikir ini adalah jejak awal aku merasakan SAD itu atau yang biasa disebut oleh orang Jerman Winter Depression. Aku menilai diriku termasuk orang yang aktif, kuliah sambil bekerja di Jerman. Semua aku jalani dengan baik-baik saja, tetapi itu tidak terjadi selama Winter. Aku mulai mengalami mood swing, seperti ada saat aku menangis tanpa sebab. Suasana hatiku di musim dingin pun jadi ikut-ikutan kacau. Aku merasa kesepian padahal aku tidak benar-benar sendirian. Aku punya banyak teman.

Aku berpikir ini bisa disebabkan karena tekanan studiku, kuliahku yang belum selesai atau banyak pekerjaan yang kuambil untuk memenuhi biaya hidup di Jerman. Aku membiayai hidupku sendiri selama di Jerman. Beban di pundakku ini terasa semakin berat bila Winter tiba. Aku tak bergairah melakukan apa pun, bahkan aku tak berselera makan. Di musim dingin, aku hanya ingin diam di kamar. Doing nothing.

Aku mulai mengenali gejala SAD ketika prestasi kuliahku lebih baik pada semester musim panas dibandingkan semester musim dingin. Aku merasa kinerjaku lebih baik di musim panas ketimbang musim dingin. Entah mengapa aku tak mencari bantuan siapa pun saat aku merasa SAD. Aku berprinsip: ‘kalau kamu lelah ya istirahat, jangan maksain diri!’ sehingga aku menjalaninya dengan santai. Aku tidak berambisi dan aku mulai menerima diriku sendiri bahwa kalau Winter, aku pasti merasa kesepian dan down.

Follow us ruanita.indonesia

Aku mulai mencari tahu apa yang terjadi padaku. Ternyata aku mungkin mengalami SAD. Jatuhnya jadi self-analysis sih. Pada akhirnya, aku berdamai dengan keadaan dengan menjalani hidup normal saja saat Winter. Entah mengapa, lama-lama aku jadi terbiasa hidup ‘normal’ selama Winter. Meski aku masih merasa ‘sensitif’ saat Winter, tetapi kondisiku kini tak separah seperti Winter yang lalu. Aku makin sadar bahwa kesehatan mental sama pentingnya seperti kesehatan fisik.

Buatku hidup sehat dengan makanan bernutrisi dan olah raga sangat membantu kita lepas dari SAD selama Winter. Segera selesaikan dan cari bantuan jika kondisi SAD semakin parah. Itu saranku. Bagaimana pun kesehatan itu adalah sehat jasmani dan rohani. Kenali dirimu sendiri itu penting untuk membantu masalah mental yang kita hadapi.

That’s all.. hehehe. Aku harap ceritaku ini bisa membantu kalian yang mengalami hal yang sama saat Winter.

Penulis: Mahasiswa di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Beruntung Aku Belum Terlambat Kenali ADHD Saat Dewasa

Sahabat Ruanita, ADHD (=Attention Deficit Hyperactivity Disorder) bukan hal yang tabu untuk dibicarakan. Aku baru tahu bahwa aku mengalami gangguan ADHD saat umurku sudah dewasa. Aku baru tahu saat aku sedang menempuh kuliah Bachelor di Jerman. Aku tinggal di Jerman selama hampir delapan tahun. Aku masih berusaha untuk menyelesaikan studi Bachelor dan mengambil pekerjaan sampingan untuk bisa bertahan hidup di Jerman.

Aku memutuskan untuk pergi ke Psikolog yang disediakan kampus, tempatku berkuliah di Jerman setelah aku bertemu dengan tiga orang teman berbeda bangsa yang juga mengalami ADHD. Semula aku menceritakan pengalaman konyol yang aku alami sehari-hari seperti aku sering sekali kehilangan barang. Aku sering kali kehilangan atau kelupaan barang penting. Aku juga melakukan kesalahan yang sama secara tidak sengaja meski aku sudah mengingatkan diri untuk tidak melakukannya hahaha. 

Aku bahkan pernah berpikir, jangan pernah menyimpan sesuatu di kantong jaket! Entah mengapa, sesuatu itu pasti hilang atau tertinggal di mana. Aku sering sekali lupa meletakkan barang. Hal yang lebih parah, aku sulit sekali berkonsentrasi terhadap pelajaran yang sedang diajarkan dosen. Tiba-tiba aku bisa mengalami daydreaming haha. 

Konsentrasiku mudah sekali terganggu. Misalnya, ada teman yang bercerita padaku kemudian di tengah pembicaraan kami berbicara muncul topik atau perhatian yang mengalihkan perhatianku maka perhatianku pun terganggu. Konsentrasiku mudah sekali ter-distract

Di pagi hari saat aku bangun, aku bisa merasakan tubuhku mau bangun tetapi sebenarnya aku masih berada di tempat tidur haha. Hal yang membuatku kesal adalah aku suka sekali menunda pekerjaan. Aku sering berucap: Nanti. Setelah itu, aku lupa mengerjakannya. 

Di balik itu semua, aku menilai bahwa aku orang yang bertanggung jawab dalam proyek-proyek yang aku gemari. Aku suka sekali mengedit video. Aku bisa menjadi hyper fokus karena aku bisa mengerjakan itu sampai benar-benar tuntas. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa ADHD itu buruk ya! 

Bermula dari obrolan dengan teman ini, aku putuskan untuk memeriksakan diri ke Psikolog. Temanku sendiri mengaku bahwa dia sudah didiagnosa mengalami ADHD sejak masih kecil. Saat mood temanku ini lagi turun atau disebutnya lagi inactive maka dia bisa minum minuman alkohol. Sementara aku, kalau aku mengalami inactive maka aku memilih tidur sepanjang hari haha. Menurut diagnosa, aku mengalami kombinasi, artinya aku bisa menjadi hyperactive dan inactive.

Follow us ruanita.indonesia

Aku masih ingat aku pergi menjumpai Psikolog di kampus saat pandemi masih berlangsung. Aku membuat appointment dengan Psikolog tersebut. Aku disarankan untuk menyelesaikan pengujian klinis. Lagi-lagi pandemi membuatku melakukannya melalui online. Aku ingat, aku harus menyelesaikan tes tertulis online. Tak lama kemudian, aku mendapatkan hasilnya yang dikirimkan via email. Lalu aku bertemu dengan Psikolog kampus untuk membicarakan hasil dan penanganan selanjutnya.

Aku berhasil menjalani pertemuan dengan Psikolog di Universitas sebanyak tiga kali. Hasil tes menunjukkan bahwa ADHD yang kualami masih tergolong easy. Kalau sudah tergolong mild, maka penanganannya akan lebih intens lagi. Psikolog menyarankan aku untuk latihan “Brain Treatment” selama 5-10 menit setiap hari. Untuk membantu konsentrasi tugas-tugas harianku, aku disarankan untuk membuat to do list

Aku juga diminta untuk berlatih kepal tangan untuk menenangkan diri kalau aku mulai panik dan tak terarah. Namanya Autogenes Training yang membuatku lebih rileks. Psikolog juga memintaku membuat goals yang reachable sehingga membuatku lebih terstruktur dalam hidup. Boleh dibilang aku memiliki organizational skill yang rendah. 

Sementara temanku yang mengalami ADHD yang tingkatnya lebih parah dariku, dia disarankan untuk mengkonsumsi obat-obatan untuk mengontrol gangguan. Menurutku, orang dengan ADHD kadang muncul perilaku impulsive seperti misalnya minum alkohol, merokok atau berbelanja. Sementara impulsive yang kualami sepertinya hanya tidur hahaha. 

Aku menjalani pertemuan selama 45 menit hingga 1 jam dengan Psikolog Uni. Setelah tiga kali pertemuan, kebetulan aku memiliki tugas kampus yang tak terhitung banyaknya karena saat itu masih dalam situasi pandemi. Selain itu, Psikolog Uni juga sedang berlibur.

Aku belum pernah mengecek atau membuat appointment dengan Psikolog atau Psikoterapi lainnya di luar kampus. Aku masih sibuk dan belum ada waktu meskipun aku bisa mendapatkan semua fasilitas layanan psikologis secara gratis, baik di kota tempat aku tinggal, universitas atau pun Studentenwerk.

Hanya memang appointment untuk pertemuan dengan tenaga profesional di Jerman memerlukan waktu berbulan-bulan lamanya.

Aku berencana akan segera membuat appointment dengan Psikolog atau Psikoterapi setelah aku ada waktu. Aku sendiri masih menyelesaikan skripsi dan mengambil pekerjaan sampingan. Jika aku lulus nanti, aku masih ingin mencari pekerjaan atau bekerja magang di perusahaan di Jerman. Kalau aku tidak beruntung mendapatkan peluang di Jerman, aku akan pulang ke Indonesia. 

Sejauh ini, aku belum bercerita pada orang tuaku tentang kondisi yang kualami. Aku hanya bercerita dengan teman-teman dekatku di sini yang tahu dan memahami kondisiku. Aku juga tak berani menceritakan kondisiku di tempat kerjaku, aku khawatir mereka tidak menerimaku bekerja. 

Aku sudah mencari tahu bahwa orang-orang dengan ADHD pun banyak juga yang sukses di dunia. Aku tidak khawatir tentang masa depanku. Banyak juga orang-orang yang mengalami ADHD bisa berhasil menekuni bidang pekerjaan yang mereka geluti seperti marketing, bahkan ada orang dengan ADHD yang kukenal bisa menjadi Direktur perusahaan. 

Penulis: Anonim, perempuan di Jerman.

(IG LIVE) Perlukah Resolusi Tahun Baru?

NORWEGIA – Sabtu (8/1) RUANITA lewat akun @ruanita.indonesia kembali menggelar diskusi virtual IG Live. Dipandu oleh Ferdyani Atikaputri, kali ini RUANITA mengundang Dewi @dewinielsenphotography (warga diaspora Indonesia di Denmark) dan psikolog Anita Kristiana @anitapastelblue dari @iris_harapan untuk membahas tema ‘Resolusi Tahun Baru: Apakah Perlu?’

Setiap awal tahun, istilah ‘resolusi tahun baru’ pasti bertebaran di mana-mana. Di awal diskusi, Dewi bercerita bahwa dulu ia sering membuat resolusi tahun baru namun seiring dengan berjalannya waktu, kini tidak pernah lagi karena sepertinya banyak dari resolusi tersebut yang tidak tercapai.

Beberapa tahun belakangan, Dewi memutuskan untuk membuat ‘goals’ yang isinya lebih berupa harapan-harapan dari segi self improvement seperti ingin melatih intonasi lembut dalam berbahasa asing, mengasah skill fotografi dengan belajar di kelas online, atau lebih banyak membaca buku bahasa asing namun tidak menargetkan jumlah buku tertentu yang harus dihabiskan.

Sementara dalam hal pekerjaan, Dewi juga menuturkan bahwa sekarang ia memutuskan untuk ‘let it flow’, tidak ada target besar tertentu yang dibuat menjadi resolusi karena ada banyak tantangan yang harus dihadapi dan kerap kali berujung pada kekecewaan.

Namun kekhawatiran akan berjalannya waktu juga membuat Dewi merasa ada tuntutan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik untuk diri sendiri dan memberikan manfaat untuk keluarga dan komunitas.  

Menurut Anita Kristiana, sebenarnya yang membuat seeorang merasakan kekhawatiran adalah ekspektasi terhadap diri dan hidupnya, serta bagaimana ia menempatkan pikirannya di momen saat ini, di masa depan (terlalu khawatir aka napa yang belum terjadi) atau di masa lalu (memikirkan apa yang terjadi di masa lalu).

Lanjutnya lagi, there is no magic in January karena membuat resolusi itu sebenarnya adalah sesuatu yang baik, tetapi sebaiknya kita sendiri yang memilih kapan timing yang paling pas dan itu hanya kita yang tahu.  Anita memberikan contoh saat seseorang baru pindah tempat tinggal namun kemudian sudah membuat resolusi banyak selama enam bulan ke depan, apalagi kalau terpaku harus mulai 1 Januari, akhirnya resolusi ini terasa berat saat dijalankan karena tidak realistis.

Ke depannya ketika resolusi tersebut berulang kali gagal, ini akan memengaruhi self-efficacy (perasaan mampu) dalam diri manusia yang berhubungan dengan kepercayaan diri dalam kemampuan mencapai tujuan tersebut.

Akhirnya kita merasa percuma untuk membuat resolusi lagi, padahal mungkin yang perlu dibenahi adalah timing atau caranya saja agar masih dalam kendali kita sehingga resolusi tersebut lebih mudah dijalani. 

Lantas apakah lebih baik jika resolusi ini disebut sebagai goals atau ‘rencana’ saja, karena ketika semua orang menggunakan kata resolusi, maka membuat resolusi ini akan terasa mengintimidasi?

Menurut Anita, boleh saja malah dianjurkan karena timing-nya ini sebenarnya punya kita, bukan punya orang lain atau standar yang ditentukan oleh orang banyak. Tambahnya lagi, untuk mencapai resolusi tersebut harusnya diterjemahkan menjadi perencanaan.

Anita kemudian menjelaskan bahwa banyak orang melihat kondisi tahun baru ini sebagai sebuah simbol untuk awal yang baru. Jadi tahun baru ini adalah momen yang dipercaya banyak orang untuk kembali ‘lahir’ menjadi diri yang baru sehingga banyak orang merayakannya dengan membuat resolusi tahun baru.

Akhirnya wajar jika hype membuat resolusi ini lebih tinggi ketika tahun baru. Sementara menurut Anita, boleh saja jika ada yang menganggap momen ‘awal yang baru’ tersebut pada hari ulang tahun, anniversary, dan sebagainya. 

Dewi pun mengiyakan bahwa hari ulang tahunnya adalah momen untuk berefleksi tentang kondisi dirinya dan keluarga. Refleksi ini yang membuat Dewi memilah hal-hal apa saja yang di luar kendalinya dan membantunya untuk kembali memfokuskan diri ke hal-hal yang dapat ia lakukan atau kendalikan.

Dewi pun mengakui bahwa rasa takut dan kekhawatiran itu tetap ada, tetapi refleksi ini mengingatkan dirinya untuk menjadi manusia yang lebih baik dengan melakukan yang terbaik. Dewi menekankan bahwa tetap lakukan yang terbaik yang kita bisa dan jangan menyerah. Dewi bercerita tentang perjuangannya untuk belajar bahasa Denmark dan sempat di titik terendah ingin menyerah, namun ia tetap belajar sambil menekuni hobinya di bidang fotografi. Sekarang Dewi sudah lulus les bahasa dan juga punya usaha fotografi.

Seringkali ketika seseorang sudah membuat resolusi dengan rapi dan terencana baik, namun ujung-ujungnya tidak terlaksana. Anita membagikan beberapa tips yang bisa dilakukan untuk agar konsisten untuk menjalankan target tersebut: 

  1. Personal purpose, atau punya tujuan atau ‘why’ yang sangat personal. Tujuan ini harus spesifik personal untuk diri sendiri; bukan untuk pasangan, atau orang lain, bukan juga hal-hal lain yang menurut orang lain kebanyakan itu penting. Tanyakan ke diri sendiri, pentingnya tujuan ini apa untuk diri kita sendiri, apakah cocok dengan kebutuhan dan timing pribadi kita di saat ini. 
  2. Terkait dengan purpose atau tujuan tersebut, pastikan tujuan kita dalam melakukan resolusi tersebut karena sesuatu yang positif ingin dicapai atau didapatkan (approach-oriented goals), bukan karena untuk menghindari hal lain (avoidance-oriented goals). Anita menjelaskan bahwa motivasi manusia lebih banyak didorong oleh imbalan (reward) dibandingkan hukuman (punishment). Manakala kita melakukan satu hal karena menghindari hal lainnya, ini akan terasa seperti menghukum diri sendiri. Bandingkan jika resolusi tersebut dijalankan dengan tujuan personal yang positif sehingga kita bisa merasakan enjoyment-nya; setiap kali melakukannya terasa seperti ‘menang’ atas diri sendiri dan ini akan menjadi perasaan positif yang menjadi bahan bakar untuk konsisten menjalankan resolusi.
  3. Punya clarity (kejelasan) saat membuat resolusi. Buat resolusi yang spesifik dan jelas.
  4. Realistis dalam membuat resolusi. Anita menjelaskan, mulailah dengan satu action yang kecil dulu, namun dilakukan berkali-kali selama satu bulan, lalu dua bulan, setelah terbiasa baru tambah intensitasnya. Yang harus dipehatikan adalah selalu ingat tujuannya harus personal dan positif, agar bisa dijalankan dengan enjoyable. 
  5. Pastikan goals atau resolusi yang kita buat tersebut berada dalam kendali kita. Jika goals atau resolusi tersebut dibuat bergantung pada orang lain atau situasi eksternal, lama-kelamaan situasi tersebut dapat mengikis harapan dalam mencapai goals tersebut. 
  6. Faktor lingkungan. Temukan teman atau komunitas yang dapat diajak bersama-sama menikmati menjalankan resolusi tersebut. Atur juga kondisi sekitar agar mendukung kita dalam menjalankan resolusi.

Jikalau sahabat RUANITA memiliki ide menarik untuk tema IG Live, silakan follow akun instagram @ruanita.indonesia dan hubungi kami via DM. Terima kasih dan sampai jumpa di diskusi selanjutnya!


(Ditulis oleh Retno Aini untuk RUANITA Indonesia)

(CERITA SAHABAT) The Cat Who Came in from the Cold and Brought Us Warmth

Ilustrasi.

Namanya Kucing. Nama yang sangat original, bukan? 

Kucing ini datang di dalam kehidupan saya enam tahun yang lalu, setelah ia dibuang oleh pemiliknya di musim dingin, di sebuah kota kecil di pegunungan di Prancis.

Saya ingat betul, waktu itu di akhir Desember, di luar suhu udaranya minus 25 derajat. Musim dingin paling ekstrim yang pernah saya alami. Seekor bayi kucing berumur tiga bulan mengikuti suami saya kembali ke rumah.

Kucing itu terlihat lapar dan kedinginan, ada luka potong di salah satu bagian telinganya. Hari itu juga, kami putuskan untuk memberi makan dan membiarkan kucing itu tinggal di dalam rumah dan tidur bersama kami, mengingat suhu di luar yang mematikan untuk badannya kurus itu. 

Esoknya kami membuat pamflet yang kami rekatkan di papan pengumuman sekitar, siapa tahu kucing ini hanya tersesat dan si pemilik sedang mencarinya. Kami menunggu sampai satu minggu tetapi tidak ada seorangpun yang menghubungi kami. Akhirnya kami putuskan untuk memelihara kucing ini. 

Kami mencoba bertanya kepada dokter hewan sekitar untuk memeriksa apakah kucing ini memiliki chip identitas supaya kami bisa mengembalikan kepada pemiliknya. Ternyata kucing ini tidak memiliki identitas.

Beberapa bulan setelah itu kami pindah domisili ke negara tetangga dan kami kembali membawa si kucing kembali dokter hewan untuk mendapatkan vaksin dan paspor hewan yang dia butuhkan untuk bisa ikut pindah dengan kami.

Untungnya, di tempat tinggal kami sekarang tidak ada aturan tertentu untuk memiliki binatang peliharaan. 

Waktu pertama kali tinggal di Eropa, saya tinggal di pegunungan yang dingin. Suami bekerja setiap hari; dari pagi buta sampai malam baru pulang. Jadilah sehari-hari saya sendirian. Ditambah lagi cuaca yang selalu dingin dan saat itu masih dalam masa transisi menyesuaikan diri dengan kehidupan di Eropa membuat saya berada di ambang depresi.

Sampai akhirnya si kucing datang dan menjadi teman yang menghibur hari-hari saya yang sepi.

Tidak ada alasan tertentu mengapa saya memelihara kucing ini, bahkan tadinya benci dengan hewan kucing karena dulu waktu kecil saya pernah memelihara ayam dan ayamnya dimakan sama kucing. Jadi kesal, bukan?

Namun memang, suami sejak dulu sangat suka binatang terutama kucing. Ketika melihat kucing kecil tersebut mengikuti suami pulang ke rumah, saya sendiri tidak tega kalau harus meninggalkannya di luar di tengah suhu sedingin itu.

Dulu saya pernah memelihara ikan, tetapi ya gitu, ikan ‘kan tidak ada ekspresinya. Berbeda dengan kucing yang playful dan ekspresif.

Si kucing ini punya kebiasaan yang agak unik, hahaha!

Setiap hari dia harus tidur di kaki saya atau di kaki suami, dan kalau kasurnya nggak rapi dia nggak suka. Tiap pagi jam 6, dia akan membangunkan kami dengan “berjalan-jalan” di atas bantal kami, mengendus-endus, dan mengeong sampai kami bangun. Semacam punya alarm hidup, haha! 

Perawatannya kucing ini seperti perawatan pada umumnya: setiap tiga bulan sekali diberi anti parasite/anti kutu. Dia juga diberi vaksin sesuai dengan buku catatan dari dokter hewan. Si kucing juga selalu kami biarkan bermain bebas di luar, dari pagi sampai sore.

Jika kami liburan dengan waktu yang singkat (maksimal 3 hari), maka kami akan memastikan dia memiliki makanan, minuman dan tempat buang air yang cukup sampai kami pulang.

Oh ya, biasanya kami juga awasi dengan CCTV yang ada di rumah untuk memastikan dia baik-baik saja. Jika kami harus pergi dalam waktu yang lama atau lebih dari 3 hari, maka si kucing dititipkan ke tempat penitipan kucing agar dia tidak terlantar.

Tentu saja, ada beberapa hal yang membuat kami geleng-geleng kepala saat memelihara kucing ini. Pernah waktu itu saya harus ganti wallpaper di seantero rumah karena semuanya dicakari sama kucing sampai hancur.

Furnitur rumah juga mau tidak mau ada banyak cakaran kucing. Kadang kala dia membawa pulang binatang buruannya buat hadiah, haha! Yang dibawa pulang ya macam-macam, bisa burung, tikus, atau kadal. Kadang buruan yang dibawa itu masih hidup, jadi ya kebayang lah geli. Kalau buruan yang dibawa sudah mati, itu jadi tugas suami saya untuk membersihkan, haha.

Namun di atas semua itu, bersama kucing ini saya jadi punya teman di kala saya kesepian dan jadi sering bangun pagi juga.

This cat helps me on being a more responsible person, too.

Penulis: Retno Aini Wijayanti dari pengalaman seorang teman yang tinggal di Eropa.

(DISKUSI ONLINE) Melihat Peluang Usaha Perempuan Indonesia di Eropa

Memilih membuka usaha di negeri perantauan bisa menjadi pilihan bagi sebagian perempuan Indonesia yang tinggal di luar Indonesia. Sebagai perempuan migran, pilihan menjadi wirausahawati bukan hal yang mudah. Setidaknya ada 5 hal yang perlu diperhatikan saat merambah bisnis di luar Indonesia seperti (1). Aturan pajak yang rumit; (2). Pendaftaran usaha; (3). Iklim ekonomi domisili negara yang ditempati; (4). Hambatan bahasa dan komunikasi; (5). Perbedaan budaya.

Oleh karena, RUANITA – Rumah Aman Kita, komunitas Indonesia di luar Indonesia yang berfokus pada promosi kesehatan mental, psikoedukasi dan praktik baik kehidupan di luar Indonesia bekerja sama dengan Komunitas Exportir Muda Indonesia (KEMI) di Turki untuk menggelar webinar bertema kewirausahan. 

Webinar ini diharapkan dapat membekali perempuan Indonesia yang tinggal di luar Indonesia mengenai regulasi perdagangan, jiwa kewirausahaan dan pengalaman menjadi pengusaha perempuan di luar negeri sehingga perempuan Indonesia di luar negeri mampu berdikari. Webinar ini diselenggarakan berkat kerja sama dengan KBRI Ankara, KBRI Den Haag, KEMI Turki dan IKAT Jerman.

Ada pun webinar akan dibuka secara resmi oleh Dubes RI untuk Turki, Lalu Muhamad Iqbal dan diawali dengan pemaparan dari Atase Perdagangan RI KBRI Den Haag, Sabbat Christian Sirait yang memaparkan tentang peluang produk Indonesia di pasar Eropa, terutama Belanda.

Setelah itu, peserta akan menyimak prosedur perijinan membuat usaha di Turki yang disampaikan oleh Ketua KEMI Turki, Leny Milla FW kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tentang strategi kewirausahan dan komunikasi lintas budaya yang disampaikan oleh Dessy Rutten yang telah lama berkecimpung sebagai Ekonom dan Pebisnis di Eropa.

Terakhir, peserta akan mendapatkan pengalaman praktik berwirausaha yang sudah dirintis oleh Ferlin Yoswara yang tinggal di Belanda. Acara webinar ini dipandu oleh Siti Aisah Pujiastuti, Mahasiswa jurusan Bisnis dan Budaya di Universitas Passau, Jerman sekaligus tim Humas RUANITA.

Acara akan ditutup dengan kuiz berhadiah yang disediakan para sponsor. Untuk pendaftaran bisa langsung scan barcode yang tersedia di flyer atau klik https://bit.ly/RUANITA-KEMI. Informasi lebih lanjut bisa langsung menghubungi panitia penyelenggara yakni KEMI Turki dan RUANITA.

(CERITA SAHABAT) Resolusi Awal Tahun: Rencanaku Belum Tentu RencanaNya

Aku tidak memiliki resolusi tahunan seperti orang-orang kebanyakan yang membuatnya sebelum tahun berakhir dengan me-publish-nya di media sosial, menulisnya di sebuah notes book, dan menempelnya di atas meja kerja. Aku membuat resolusi hidup jangka panjang di benakku sendiri. Aku hanya menjelaskan hal itu kepada diriku sendiri. 

Hal itu merupakan rancangan rencana-rencana tahapan kehidupanku yang “harus” aku capai. Seperti apa aku ingin melihat diriku di 5 tahun ke depan atau 10 tahun ke depan. Aku telah membuat nya sejak kurang lebih 6 tahun yang lalu. Saat umurku 20 tahun. Sekarang umurku sudah 26 tahun. Resolusi jangka panjangku tidak memiliki waktu mulai atau batas waktu “kadaluarsa”.

Hal tersebut tentu saja berjalan tidak seperti yang aku rancang. Contohnya, aku mengusahakan di saat umurku 25 tahun, aku sudah menyelesaikan studi Bachelor dan Master-ku di Jerman. Kemudian di umur 26 tahun aku bekerja di sebuah organisasi kemanusiaan, umur 27 tahun aku menikah dengan pujaan hatiku, 28 tahun – 30 tahun aku menjadi seorang ibu dan isteri yang baik sekaligus melanjutkan S3 dan mengajar di sebuah universitas di Jerman. 

Namun kenyataannya 6 tahun setelah resolusi jangka panjang tersebut dibuat, aku baru saja menyelesaikan Bachelorku dan aku baru melanjutkan studi master. Aku belum memiliki pekerjaan tetap. Pekerjaanku sekarang paruh waktu sebagai kasir di sebuah toko supermarket. Selain itu, aku mencari tambahan uang bekerja di  sebuah pabrik obat untuk bagian pengemasan. 

Hidupku tidak sespektakuler dan menjanjikan seperti rancangan resolusi yang telah kubuat. Aku juga punya resolusi lain juga seperti meningkatkan ketaatanku kepada Tuhan, selalu tepat waktu beribadah, selalu menambah hafalan surah-surah, lebih mengasihi, lebih beramal di saat apapun dan keadaan sulit. 

Aku harus menjaga kesehatan jasmaniku karena beberapa anggota keluargaku meninggalkan kami dalam keadaan sakit. Aku tidak menginginkan orang yang menyayangiku akan kehilanganku karena suatu penyakit. Itu sebab aku memulainya sedini mungkin dan sadar bahwa kesehatan dimulai dari cara kita berpikir, yaitu bersikap positif. 

Buatku keluarga adalah sekelompok orang yang menyatu karena ikatan darah, kemiripan sifat maupun fisik, atau mempunyai pandangan hidup atau perspektif dalam kehidupan yang sama. Sebagai keluarga, kita wajib bertugas untuk saling menyayangi, mendukung, melindungi, dan memotivasi, di dalam perjalanan untuk tumbuh berkembang bersama. Kita tidak memiliki batas kesabaran dan maaf untuk satu sama lain. 

Sebagai keluarga, kita bersedia ada untuk satu sama lain dalam 24 jam 7 hari. Kita ada mulai dari titik kehidupan tertinggi hingga terendah. Sebagai keluarga, kita bersama sampai tugas duniawi masing-masing berakhir dan berkumpul lagi di suatu tempat yang kekal.

Aku tidak mau terlalu bahagia, atau terlihat bahagia, karena bisa jadi datang ujian, entah ujian kecil atau pun ujian besar. Ada orang yang melihat orang lain bahagia, dia akan ikut bahagia dan mendoakan orang tersebut. Namun banyak juga orang yang melihat orang lain bahagia lalu berusaha untuk menghancurkannya. Aku tetap menikmati rasa bahagia itu dengan rasa bersyukur dan bersiap-siap untuk tahap ujian selanjutnya. 

Diremehkan tentang “kepintaran” sudah aku alami sejak kecil, mulai dari lingkungan keluarga besar dari tante-tanteku. Aku juga diremehkan oleh sepupu dan teman-teman sebaya yang masih sama-sama berjuang di Jerman ini. 

Ketika seseorang meremehkan atau memandang seseorang sebelah mata, menurutku, orang tersebut sebenarnya belum cukup mencintai dirinya sendiri. Bisa jadi dia belum cukup puas dengan apa yang dia capai selama ini. Atau dia sedang menghadapi krisis kepercayaan diri sehingga dia mengemis pengakuan dan pujian dari orang lain. 

Ketika aku sedang mengalami krisis kepercayaan diri atau aku merasa apapun yang aku jalani tidak sesuai dengan planning jangka panjangku maka aku selalu ingat, bahwa Tuhan adalah planner terbaik dan tersukses. Dia adalah segalanya. Menurutku, aku sudah lalui dan jalani saat ini dan ke depannya sudah ditakdirkan oleh yang Maha Kuasa.

Aku tidak perlu bersedih atau berkecil hati. Aku hanya harus terus berusaha, berusaha dan berusaha termasuk menekan egoku dan kemalasanku. Sampai saatnya aku berserah diri, dan bersyukur. Tidak ada lagi hal yang dapat aku lakukan di luar itu. 

Apapun resolusi yang kamu buat, entah tahunan maupun jangka panjang sepertiku, hal tersebut harus dapat memotivasi, meningkatkan rasa percaya diri dan memacu sifat konsisten yang kamu miliki. 

Tidak ada yang salah, tidak ada yang lebih baik dan buruk. Bagiku, semua resolusi yang kamu sematkan, hanya kamu sendiri yang akan jalani dan lalui. Bukan orang lain yang melakukan hal tersebut untuk kamu. Oleh karena itu, jangan juga kita menyamakan atau membandingkan dirimu dengan orang lain. Jadilah dirimu sendiri! Karena kamu berarti dan kamu harus menghargai segala hal yang ada di dirimu.

Penulis: Mahasiswa Master yang tidak pamer resolusi awal tahun dan tinggal di Jerman.