(IG LIVE) Kenali Jebakan Hubungan Gaslighting yang Berbahaya

RUANITA menyelenggarakan program IG Live setiap bulan dengan durasi selama 30-45 menit. IG Live Episode Agustus 2022 dibawakan oleh Natasha Hartanto, seorang WNI yang telah menyelesaikan studi di Jerman kemudian menetap di Jerman.

Natasha via akun IG@ruanita.indonesia akan memandu diskusi virtual bertema Gaslighting yang umumnya tidak dipahami oleh mereka yang sedang terjebak di dalamnya.

Fenomena Gaslighting tidak banyak dipahami ketika seseorang mulai merasa rapuh, merasa bersalah, hingga merasa tidak waras lagi akibat perilaku Gaslighting yang sudah memanipulasi hubungan mereka selama ini.

Gaslighting adalah bagian dari bentuk perilaku Psychological Abuse yang kemudian akan dijelaskan dengan baik oleh narasumber IG Live kali ini. RUANITA telah mengundang Anita Kristina, seorang Psikolog Klinis dan juga founder dari IRIS.

Lewat akun IG: @iris_harapan, Anita memperkenalkan IRIS sebagai wadah yang memberikan pendampingan bagi para korban KDRT untuk berdaya dan bangkit menjadi dirinya sendiri.

Follow akun: ruanita.indonesia

Untuk mendalami Gaslighting, Anita menjelaskan istilah ini yang sebenarnya menjadi populer belakangan ini. Istilah ini diambil dari suatu film yang terinspirasi dari lampu gas yang dimainkan suami untuk memanipulasi keyakinan istri.

Film yang tayang pada tahun 1938 ini kemudian berhasil membuat si istri menjadi rapuh dan kerap disangkal oleh suami berulang kali lewat permainan lampu gas.

Anita menjelaskan bahwa cara mengenali jebakan hubungan Gaslighting: (1). Pelaku menyangkal keyakinan korban dan merasa lupa apa yang sebenarnya terjadi; (2). Pelaku meremehkan apa yang dirasakan atau apa yang diyakini korban. Pelaku membuat korban mempertanyakan kebenaran bahkan kewarasan korban. Pelaku melakukannya dengan halus bahkan menggunakan siasat Love Bombing seperti pujian dan kata-kata cinta sehingga korban menjadi ragu dan bingung. Siasat ini membuat korban merasa bersalah dan kebingungan.

Perilaku Gaslighting seperti konsisten “menyerang” pijakan korban seperti konsep diri, kompetensi, keyakinannya yang berulang-ulang sehingga membuat korban pun rapuh, bahkan ada yang berujung pada petaka. Tujuan dari pelaku adalah melemahkan korban sehingga korban bergantung pada pelaku.

Anita menyarankan jika adalah korban, maka kita bisa melakukan empat poin berikut: (1). Agree to Disagree: Kita tetap yakin terhadap apa yang kita percayai meskipun pelaku kerap menyangkal. (2). Kita tidak menggubris apa yang diperbuat pelaku. (3). Mencari validasi dari Significant Others seperti teman, orang tua, yang mengenal kita dengan baik. (4). Mencari bantuan profesional agar bisa keluar dari jebakan hubungan Gaslighting.

Lebih lengkap diskusi virtual kami tersebut bisa disimak dalam saluran YouTube berikut:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Apa sih Nasionalisme di Mata Ex WNI?

Cerita Sahabat Spesial kali ini menghadirkan Sri Tunruang, seorang pensiunan yang sudah tinggal di Jerman selama lebih dari 45 tahun.

Berawal dari studi jurusan Ilmu Perusahaan di RWTH Aachen, Sri kemudian membangun hidup bersama keluarga di Jerman hingga pensiun.

Dia kini aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan yang berfokus pada Indonesia, Perempuan dan Integrasi.

Meski Sri telah menjadi warga negara Jerman, tetapi kecintaannya pada Indonesia semakin mendalam sejak tinggal di perantauan.

Pesan Bung Karno yang dikemas dalam pigura cantik di dinding rumahnya menjadi pengingatnya tentang Indonesia.

“Bawalah badanmu berkeliling dunia, tetapi tunjukkanlah jiwamu kepada Tuhan dan Indonesia!” yang menuntunnya untuk tidak pernah melupakan Indonesia.

Menurut Sri, paspor bukan menjadi hal penting untuk mengukur tingkat nasionalisme seseorang. Kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi dan keadaan seseorang yang menyebabkan dia harus tinggal dan memutuskan untuk mematuhi aturan di mana dia tinggal.

Bagi Sri, kebangsaan dan kewarganegaraan adalah dua hal yang berbeda. Kewarganegaraan itu menjadi hal pokok yang tertuang di paspor.

Sri juga mengingatkan pentingnya untuk tidak melupakan sejarah bangsa Indonesia meski kita berada di perantauan. Sri tetap mengajarkan anak-anaknya untuk berbahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari di Jerman.

Bahasa ibu adalah cara kita mengenalkan anak-anak tentang dunia. Bahasa ibu menjadi identitas yang ingin kita tunjukkan kepada dunia.

Tantangan menunjukkan jati diri sebagai orang Indonesia di perantauan diyakini Sri sebagai hal yang tak mudah dalam lingkungan orang-orang yang bukan Indonesia.

Sri berharap agar perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri tetap dapat mengundang orang-orang Indonesia yang tidak lagi menjadi warga negara Indonesia saat ada acara-acara besar seperti perayaan tujuhbelasan, hari raya lebaran dan lain-lain.

Dia menutup pesannya kepada pemerintah Indonesia untuk mempermudah kebutuhan para pelaku kawin campur yang tinggal di perantauan.

Lebih lengkap, simak penjelasan Sri Tunruang dalam video berikut:

(CERITA SAHABAT) Begitu Tinggal di Jerman, Aku Sadar Kalau Dia Manipulatif

Ini adalah pengalamanku yang sampai saat ini kadang masih menjadi traumaku dan tentunya menjadi pelajaran berharga bagiku. Selama empat tahun, sejak aku masih SMA hingga aku tiba di Jerman 2017 yang lalu, aku memiliki mantan pacar yang enam tahun lebih tua dariku, yang melakukan gashlighting terhadapku dan sayangnya baru kusadari setelah aku berhasil putus darinya. Kami berkenalan di acara karang taruna desa kami saat aku masih duduk di bangku SMP. 

Awalnya dia menunjukkan sikap yang baik dan perhatian. Namun lama kelamaan dia mulai berubah dan menunjukkan sikap yang tidak masuk akal. Dia mulai menjauhkanku dari teman-teman dan keluargaku. Ia mulai melarangku untuk bermain dengan teman-temanku.

Ia berusaha meyakinkanku bahwa teman-teman yang sudah kukenal lama ini bukanlah orang yang baik. “Kalau kamu cuma main sama dia, mau jadi apa kamu!”, katanya saat itu. Meskipun pulang malam adalah hal yang sudah biasa bagiku dan tentunya dengan sepengetahuan kedua orang tuaku, ia mulai sering berargumen, “Kamu tuh sudah dibilang bukan anak baik-baik, pulang malem. Tidak usah deh ikut acara apa-apa. Demi nama baik kamu.”

Selain dia menjauhkanku dari keluargaku, ia bahkan memanggil orang tuaku langsung dengan nama, mengatai-ngatai kedua orang tuaku dan berusaha mendoktrinku bahwa orang tuaku bukanlah orang yang baik.

Follow akun IG: ruanita.indonesia

Sebenarnya pun keluarga dan beberapa tetanggaku sudah memperingatkan dan melarangku untuk berhubungan dengannya. Sayangnya bagiku saat ini, hanya “jangan dekat dengannya” tidaklah cukup meyakinkanku.

Tidak seorang pun yang menjelaskan padaku dengan mengapa aku tak boleh dekat dengannya. Mereka hanya mengatakan: intinya jangan berhubungan sama dia. Titik. Peringatan itu kuabaikan saja dan aku tidak mau memercayainya. Aku pernah menanyakan hal ini padanya dan jawabannya, “Dia saja yang tidak mau kita bersama.” Bodohnya aku, aku memercayai jawabannya itu.

Ini yang menjadi poin penting bagaimana aku sulit lepas dari mantan pacarku ini dan entah bagaimana tetap saja mempercayainya. Mungkin sebagai gambaran awal, aku adalah tipikal orang yang “ngemong”, super care dan royal. Ketika orang melihat ini sebagai poin plus, ini adalah titik lemahku di hadapannya, yang sering ia manfaatkan. Caranya memanipulasiku sangatlah manis, menjanjikan sesuatu yang hampir setiap perempuan ingin dengar dari setiap laki-laki, seperti ingin membangunkan rumah untukku, membicarakan berapa banyak anak yang ingin dia miliki bersamaku, atau bagaimana ia ingin berakhir bersamaku.

Ketika ia tahu aku sudah dalam kuasanya, ia memanfaatkan “kelemahanku” dengan bersikap manja padaku, menunjukkan karakter lemah yang bisa menyentuh hatiku, dan mulai meminta ini itu. Lama kelamaan tidak lagi sungkan untuk meminta apapun dariku. “Aku mau ini dong”, “Aku mau itu dong” atau “Belikan ini dong”. Sayangnya makin ke sini ia jadi memaksa untuk dituruti keinginannya saat itu juga. Jika tidak dituruti ia akan berkata, “Apaan sih. Kayak begitu saja tidak bisa. Sudah, kalau tidak mau, putus aja.” 

Bertahun-tahun ia terus mengulang-ulang, bahwa cuma dia yang mau menerimaku. Dia mendoktrinku untuk memercayai bahwa aku anak yang nakal dan ia sudah memperbaiki imejku. Dia mempermasalahkan keperawananku dan mengatakan bahwa semua mantannya masih perawan dan cuma aku yang tidak. Padahal dia juga melakukan hubungan sex denganku. Dia terus mengatakan, seharusnya aku bersyukur bahwa dia mau denganku, hanya dia yang mengerti aku dan sebagainya. 

Bahkan pernah suatu kali, saat aku ketahuan chat dengan teman perempuanku yang dilarangnya, ia lalu menginjak hapeku dan menendang dadaku. Itu justru membuatku merasa bersalah mengapa aku melakukannya dan menyakiti dia. Ia bersikap seakan-akan dia orang tuaku, layaknya orang tua menasihati anaknya.

Ketika dia marah, aku jadi berpikir, dia mau aku jadi lebih baik. Karena ia membuatku sibuk memikirkan “kesalahanku” dan menyalahkan diriku sendiri, aku sampai tak sadar kalau dia sering “membeli perempuan”. Namun ketika dia mau sesuatu, seketika dia bisa berubah sikap begitu saja menjadi sangat sweet dan manja, yang membuatku tidak bisa menolak kemauannya. 

Sebenarnya aku sadar bahwa dia bersikap buruk dan aku harus mengakhiri hubungan ini dengannya. Namun setiap kali mau putus, di kepalaku selalu muncul: siapa lagi yang bisa mengerti dia selain aku, siapa lagi yang mau sama dia selain aku. Yang ada di kepalaku justru bagaimana orang tuaku bisa menerima dia, karena meskipun begitu aku juga tidak mau kehilangan orang tuaku.

Ironisnya, bahkan saat aku sudah di Jerman ia mulai membuat janji-janji manis seperti akan mengunjungiku di Jerman. Selang dua minggu setelah kedatanganku di Jerman, ia minta dibelikan motor CB.

Ini semua membuatku jadi parno kalau dekat dengan laki-laki yang apa-apa minta dibayarin, sampai sekarang aku masih bermimpi tentangnya seperti dikejar-kejar, aku jadi merasa rendah diri dan merasa kecil dihadapan orang tuaku dan tentunya masih merasa bersalah terhadap orang tuaku dan belum bisa memaafkan diriku sendiri. 

Sekolah ke Jerman lah yang menyelamatkan hidupku darinya. Setelah aku pindah ke Jerman, aku menjadi sibuk, banyak hal yang harus aku urus, aku memulai sesuatu yang besar, dan ini antara hidup dan mati tanpa orang tua. Bertemu berbagai macam orang, aku mulai merasakan perbedaan karakter dan treatment terhadapku dibandingkan dengan mantanku.

Selain itu, sejak aku ke Jerman aku bertemu banyak orang-orang baru dengan berbagai macam latar belakang, asal daerah yang berbeda dan cerita masa lalu yang hampir sama, yang membuatku berpikir bahwa aku tidak sendirian. Bahwa siapapun bisa membuat kesalahan dan mengambil keputusan yang salah dan itu tidak menjamin bahwa di masa depan juga akan mengambil keputusan yang salah lagi. Dan mereka juga bisa berhasil dalam hidup.

Untuk mengakhiri ceritaku, aku menyadari bahwa sulit untuk korban menyadari dan keluar dari hubungan seperti ini. Hanya orang itu sendiri yang bisa melepaskan dirinya dari hubungan itu dan mengambil keputusan. Namun sangat penting juga, kalau kalian punya teman atau anggota keluarga yang mengalami hal serupa, dalam kasus seperti ini kalian harus tegas dan jangan hanya melarang tanpa penjelasan apapun.

Penulis: Mahasiswi, tinggal di Jerman.

(RUMPITA) Jauh Di Mata, Susah Di Dompet

Episode ke-6 Podcast Rumpita ini – Nadia dan Fadni – dimulai dari nostalgia jelang persiapan acara Tujuhbelasan yang dulu mereka ikuti saat masih di Indonesia. Kini mereka menetap di Jerman selama satu dekade yang berawal dari studi sarjana mereka. Suka duka sebagai mahasiswa di tanah rantau dibahas oleh Fadni dan Nadia.

Cerita nostalgia, rindu tanah air mereka berawal dari bagaimana mereka menghias sekitar rumah tinggal, perlombaan Tujuhbelasan dan kemeriahan yang tak dijumpai di luar Indonesia. Namun apakah kemeriahan itu juga diperoleh saat mereka di negeri perantauan?

Mereka bertutur perasaan jauh dari kehidupan keluarga dan teman-teman di Indonesia. Jarak yang terbentang antara Jerman – Indonesia terkadang membuat kesepian, kerinduan dan kesedihan yang dialami oleh Nadia dan Fadni. Nadia perlu juga pertimbangkan bahwa biaya yang tak mudah dan murah untuk pulang-pergi Indonesia untuk melepas perasaan-perasaan tersebut.

Follow akun Instagram: ruanita.indonesia

Indonesia yang letaknya di ribuan kilometer terasa jauh saat kita berada di perantauan, seperti yang dirasakan Nadia dan Fadni, apalagi mereka adalah mahasiswa. Tahun-tahun perjuangan di Jerman begitu sulit dan panjang saat kita begitu kesulitan untuk membeli tiket pesawat pulang-pergi hanya untuk melepas kerinduan pada keluarga.

Sebagai orang yang dekat dengan keluarga, Nadia dan Fadni merasa iri melihat kebersamaan orang-orang sekitar yang bisa berkumpul bersama keluarga. Membangun impian di negeri orang terkadang membuat kita merindukan tanah air. Bagaimana kelanjutan celoteh Nadia dan Fadni pada episode ke-6?

Simak selengkapnya di saluran berikut:

Follow podcast kami ya!

(CERITA SAHABAT) OCD Itu Bukan Sekedar Cuci Tangan atau Bolak-balik Cek Pintu

Saya yakin sebagian besar orang sudah tahu apa itu OCD (Obsessive Compulsive Disorder) atau gangguan obsesif kompulsif. Mungkin ada juga yang pernah melabeli dirinya atau orang lain dengan OCD karena sering cuci tangan, bersih-bersih, atau menyusun barang secara simetris, tapi tahu tidak kalau OCD lebih dari itu?

Sesuai dengan namanya, gangguan ini menyebabkan penderita melakukan sesuatu dengan obsesif dan terus menerus (kompulsif). Perilaku dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan pikiran-pikiran buruk dan kecemasan yang penderita alami.

Perilaku mencuci tangan berkali-kali, misalnya, bertujuan untuk menghilangkan pikiran buruk, bahwa tangan penderita menyentuh benda berkuman yang bisa menyebabkannya jatuh sakit. Ketenangan hati ini sayangnya hanya bersifat sementara. Jika nanti penderita menyentuh sesuatu lagi, ia akan kembali mempunyai pikiran-pikiran negatif dan cuci tangan kembali harus dilakukan. Begitu seterusnya, seperti lingkaran setan.

Saya Ajeng, tinggal di Hamburg. Proses tersebut baru saya mengerti 10 bulan terakhir ini, sejak saya didiagnosis OCD oleh psikolog. Memang selama ini saya sudah berpikiran saya mempunyai gejala OCD karena „hobi“ banget pakai pembersih tangan sejak mulai remaja. Sempat berkurang karena saya tidak mau berakhir menjadi penderita OCD, tapi sejak pandemi malah semakin bertambah.

Mengamati diri sendiri, saya pakai cairan pembersih tangan pada akhirnya bukan karena takut bakteri, tapi karena jijik. Sejak pandemi mata saya „terbuka“, orang bisa saja pegang hidung atau mulut lalu pegang gagang pintu atau tiang bus. Membayangkannya saja jijik.

Bukan hanya soal cuci tangan, bagi saya juga penting kalau tempat tidur dan sofa saya bebas dari pakaian yang dipakai di luar rumah. Bahkan terakhir sebelum saya terapi, karpet saya juga sudah termasuk. Jika ada teman datang dan duduk di sofa dan di karpet, saya akan langsung mengganti alas sofa dengan yang bersih agar saya bisa duduk di atasnya dengan baju rumah. Jika saya sedang malas menyuci, saya akan menyemprot sofa dan karpet dengan desinfektan.

Selain ritual pasca menerima tamu, saya masih punya banyak contoh tindakan OCD lainnya, seperti ritual pulang ke rumah, ritual toilet, dan ritual pegang ponsel. Walau begitu, tindakan saya tidak seburuk dengan pikiran obsesif kompulsif saya. Oh ya, dalam bahasa Jerman ada dua istilah penting yang berhubungan dengan Zwangsstörung (OCD), yaitu 1) Zwangsgedanken dan 2) Zwangshandlung. Istilah pertama berarti pikiran OC dan yang kedua adalah perilaku/tindakan OC (sengaja saya hilangkan huruf D di akhir singkatan). Menurut saya kedua istilah ini memudahkan sekali untuk mengerti OCD, bahwa OCD bukan hanya soal perilaku tapi juga pikiran.

Walau perilaku OC saya tidak terlalu parah dan tetap membuat saya frustrasi juga memakan banyak waktu saya, tapi pikiran OC lebih membuat saya frustrasi. Pikiran-pikiran agresif termasuk ke dalamnya, misalnya bayangan yang terlintas di pikiran saya saat saya sedang menunggu di kereta di stasiun: OCD mendorong orang ke rel kereta.

Menurut co-terapis saya, saya harus membuat jarak dengan OCD saya, karena itu saya tidak bilang „saya mendorong orang ke rel kereta api“ tapi OCD saya yang melakukannya. OCD saya yang mau mendorong orang ke rel kereta api, saya tidak. Sejak itu saya berhenti mengatasnamakan saya di semua pikiran agresif yang pernah terlintas di benak saya. 

Pikiran-pikiran OC juga mengganggu kehidupan sehari-hari saya. Kadang saya harus menghindar bertemu teman atau pergi ke suatu tempat karena saya takut pikiran agresif muncul. Ketakutan terbesar saya adalah membuat pikiran agresif itu menjadi kenyataan. Di RS saya harus mengikuti seminar atau terapi grup tentang OCD seminggu sekali. Di sana trainer kami bilang penderita OCD, terutama mereka yang sudah mendapatkan diagnosis dari ahli, tidak akan melakukan pikiran agresifnya. Mereka justru akan berusaha untuk menghindar, baik secara fisik, dengan tidak datang ke tempat tersebut, atau secara pikiran dengan berusaha menekan pikiran-pikiran tersebut (keduanya sebenarnya tidak disarankan).

Silakan follow kami di Instagram: ruanita.indonesia ya.

Pikiran-pikiran agresif ini pernah membuat saya sangat sedih, karena membuat saya merasa menjadi orang jahat, tidak bermoral juga tidak beragama. Saya bukan orang baik karena saya punya berpikiran mencelakakan orang lain dan orang-orang yang saya sayangi. Lucunya, pikiran dan ketakutan menjadi orang jahat ini juga bisa menjadi bagian dari pikiran obsesif kompulsif. Sejak rajin ikut terapi dan tentang OCD, saya semakin yakin, bahwa yang jahat itu OCD bukan saya. Pikiran-pikiran OC bukan kenyataan. Dan yang paling penting: pikiran-pikiran agresif itu bukan bagian dari kepribadian saya.

Oh iya, saya juga baru tahu loh kalau perfectionist juga termasuk ke dalam OCD. Saya dulu tidak sadar kalau saya perfectionist, sampai teman-teman saya kasih bukti: datang selalu tepat waktu, bahkan kalau bisa lebih awal; nilai kuliah harus bagus; berkunjung ke rumah orang harus bawa buah tangan; kerjaan harus perfect; dan rumah harus bersih dan wangi kalau ada tamu datang.

Saya kira itu semua hal biasa, tapi saat di terapi grup kami disodori contoh-contoh yang ternyata itu SAYA BANGET. Saya juga tak sadar kalau perfectionist itu bukan hal baik dan mengapa orang-orang memandangnya negatif. Maksud saya, bukankah semua yang harus kita lakukan harus benar-benar sempurna hasilnya? 

Ternyata kekurangan dari perfectionist adalah bisa membuat frustrasi. Untuk datang tepat waktu saya harus benar-benar kalkulasi waktu. Jika saya janjian jam 12 dan waktu tempuh 30 menit, saya akan memberikan waktu tambahan 5-10 menit. Jaga-jaga di jalan ada kejadian tak terduga. Untuk itu saya harus tahu jam berapa bangun tidur dan siap-siap. Tambahan waktu itu juga penting, karena anxiety membuat saya harus ke toilet berkali-kali sebelum saya keluar rumah.

Teman saya bilang, bagus dong saya datang cepat jadi tidak stres di jalan. Hmm, sebenarnya sebaliknya. Saya frustrasi. Jika bus/kereta datang telat, saya akan kesal sendiri, seharusnya saya berangkat lebih pagi lagi. Kelemahan lainnya, saya juga memaksakan teman-teman saya untuk tepat waktu dan saya akan marah jika mereka datang telat, terutama jika tanpa kabar. Hasilnya: beberapa di antara mereka malas untuk janjian dengan saya lagi.

Jika kalian sadar saya menulis dengan ejaan bahasa Indonesia yang hampir sempurna, itu juga bagian dari perilaku perfectionist saya 😛 Rasanya gatal sekali jika saya salah menulis. Latihan-latihan yang saya lakukan untuk mengurangi ke-perfectionist-an saya adalah datang telat; menulis Whatsapp dan email tanpa memperhatikan PUEBI; tidak membereskan apartemen, jika tamu datang; dan tidak membawa buah tangan, kalau bertamu ke teman. Oh, satu lagi kelemahan saya gara-gara si  perfectionist ini, saya malu sekali untuk berbicara Bahasa Jerman, padahal saya tinggal di Jerman. Bagi saya lebih baik diam dari pada salah menggunakan bahasa asing. Kalau saya tidak perfectionist, saya pasti akan lebih berani berbicara menggunakan bahasa asing.

Latihan-latihan yang saya sebut di atas saya lakukan mandiri dan terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari, selain itu saya juga melakukan bersama co-terapis saya. Latihan atau terapi itu bernama Exposure and Response Prevention (ERP) dan sangat serius dan harus direncanakan dengan baik. Sebelumnya saya harus membuat hierarki perilaku dan pikiran OC saya dari 10-100%. Perilaku dan pikiran OC di atas 50% akan dilatih bersama. Sebelum, selama, dan sesudah latihan akan ada grafik tentang ketegangan saya. Setelah latihan saya harus memberikan diri sendiri hadiah yang juga harus saya rencanakan sebelumnya. Minggu lalu saya latihan memegang dan mengusap tembok yang punya motif bulatan-bulatan kecil menonjol. Saya tidak boleh menyuci tangan, menggunakan desinfektan, atau menyeka tangan saya ke pakaian selama satu jam. Setelah itu saya pergi beli bubble tea sebagai hadiah untuk diri sendiri.

Sebelum membuat hierarki OCD itu saya diminta untuk mengisi protokol tentang self-observation. Setiap OCD saya muncul saya harus menuliskan detailnya: apa yang saya pikirkan, apa perasaan saya, bagaimana perasaan saya saat OC hilang, seberapa sering itu terjadi, dan kegiatan apa yang bisa saya lakukan jika perilaku dan pikiran OC itu tidak ada. Dari situ saya bisa tahu yang terbanyak adalah mencuci tangan dan kedua terbanyak adalah pikiran agresif. Latihan-latihan ini mungkin akan harus saya lakukan bulan depan, setelah latihan-latihan di level lebih bawah sudah selesai.

Jika tadi saya menyebutkan tentang co-terapis, terapi grup atau seminar, itu karena di tahun 2021 saya dirawat inap di psikiatri khusus gangguan kecemasan dan OCD. Awalnya karena saya didiagnosa gangguan kecemasan (fobia sosial) dan depresi. Di Hamburg susah sekali untuk menemukan psikoterapis, pasien harus menunggu minimal setengah tahun. Psikiater saya menyarankan untuk masuk rumah sakit, karena lebih cepat dapat tempat. Akhirnya setelah banyak konsultasi dengan psikiater, psikolog dan kolega-kolega yang juga pernah masuk psikiatri, saya memberanikan diri untuk mendaftar. Bukan keputusan yang mudah, tapi menjadi keputusan terbaik yang pernah saya buat.

Hari kedua di psikiatri saya mengukuti workshop tentang gangguan kecemasan. Salah satu peserta cerita tentang Zwangsgedanken (OC pikiran) yang ia miliki. Karena saya tidak paham, dia menjelaskan ke saya apa itu. Saya kaget sekali waktu itu, karena saya bisa melihat diri saya di cerita dia. Besoknya saya menemui psikolog saya sambil menangis, karena saya takut sekali kalau saya juga punya OCD.

Saya menganggap diri saya gagal, tidak beragama, jika saya sampai punya tiga gangguan metal dalam satu waktu. Singkat cerita, benar saya memiliki OCD. Awalnya sangat berat bagi saya untuk menerimanya, tapi setelah benar-benar memahami gangguan-gangguan mental yang saya miliki, saya akhirnya bisa menerima. Bahkan saya bersyukur bisa mendapatkan diagnosa tersebut.

Saya tinggal di rumah sakit selama tiga bulan. Berbeda dengan rumah sakit jiwa yang kita dengar tentang kesuramannya, suasana di sana santai dan terbuka sekali. Setiap sore pasien diperbolehkan pulang atau keluar sampai maksimal jam 10 malam. Satu malam di akhir pekan pun kami boleh tidur di rumah. Tidak terasa seperti sedang di rumah sakit jiwa.

Oh ya, karena memiliki asuransi kesehatan, hampir seluruh biaya rumah sakit saya diambil alih oleh asuransi. Dalam satu tahun pasien hanya mengeluarkan biaya rawat inap sebesar 10 Euro/ hari. Karena saya di rumah sakit selama tiga bulan, maka saya hanya membayar 280 Euro untuk 28 hari dan sisanya oleh asuransi. Tagihannya baru saya dapatkan sekitar empat bulan setelahnya. Kaget juga, karena saya kira bebas biaya 😛

Saya berharap stigma negatif tentang gangguan metal hilang dari masyarakat kita, agar orang-orang bisa lebih terbuka tentang kesehatan mentalnya dan tidak sungkan mencari pertolongan. Selain itu, harapan saya akses ke kesehatan mental di Indonesia menjadi lebih mudah dan terjangkau. Kualitas rumah sakit jiwa juga semoga semakin baik lagi.

Untuk teman-teman yang masih awam tentang OCD, yuk cari tahu lagi tentang OCD dari ahlinya atau dari pengalaman orang-orang dengan OCD. Bahkan sekarang ini informasi tentang OCD bisa diakses di media sosial, seperti Instagram. Jika kamu merasa memiliki gejala-gejala, pastikan hanya dokter atau psikolog yang diagnosa kamu. Dan jangan lupa, kamu tidak sendiri dan OCD bisa dikalahkan.

Penulis: Mariska Ajeng. Menetap di Hamburg, Jerman. Tulisannya bisa dibaca di http://www.mariskaajeng.wordpress.com

(PELITA) Bagaimana Depresi pada Ibu Melahirkan Terjadi?

Ruanita – Rumah Aman Kita menyelenggarakan program PELITA: Parenting with Ruanita yang membahas tema-tema pengasuhan anak yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di mancanegara. Program PELITA hadir tiap bulan sekali berupa video pendek, tak lebih dari 30 menit, yang bercerita tentang tema pengasuhan anak yang dialami orang-orang Indonesia di mancanegara.

Melalui PELITA, Ruanita mengajak warga Indonesia yang tinggal di mancanegara untuk berbagi cerita dan pengetahuan tentang pengalamannya agar dapat mempromosikan praktik baik – keterampilan hidup – di luar negeri. Ide parenting dikumpulkan dari berbagai masukan dan informasi yang dihadapi orang-orang Indonesia sehari-hari.

Pemandu dari PELITA adalah Stephanie Iriana Pasaribu, seorang ibu dan mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi S3 di Belanda. Dengan latar belakang keilumuan dan pengalamannya, Stephanie bercerita dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami tentang isu-isu parenting yang tak banyak diketahui.

Seperti tema pada episode ke-3 adalah depresi yang tak banyak diketahui oleh para ibu yang melahirkan. Kondisi depresi pada ibu yang melahirkan bisa berlangsung pendek dan panjang. Dengan intensitas dan frekuensinya, kita perlu memahami apakah itu Postpartum Depression atau Baby Blues – yang kemudian dijelaskan dengan baik oleh Stephanie.

Selain faktor penyebab terjadinya depresi, Stephanie juga menceritakan dukungan sosial penting bagi seorang ibu yang baru saja melahirkan. Ketika bayi dilahirkan, kita tidak hanya memikirkan tentang kondisi bayinya saja, tetapi juga kondisi si ibu termasuk kesiapan mentalnya apalagi saat tinggal di mancanegara. Bayi yang sehat dan ibu yang sehat merupakan faktor keberhasilan tumbuh kembang anak yang diperlukan dalam keluarga.

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi sehingga tidak dapat dijadikan terapi, diagnosa pribadi atau sebagai bentuk penanganan psikologis. Konten yang disajikan hanya bertujuan untuk psikoedukasi yang disesuaikan dengan komunitas Indonesia di luar Indonesia. Konten ini tidak dapat menggantikan pendapat profesional.