
Saat mendapat tawaran menulis CERITA SAHABAT, saya memilih tema integrasi budaya, ketimbang dua tema lainnya. Padahal kursus integrasi saya ikuti 10 tahun lalu. Apakah pengalaman saya tersebut masih relevan saat ini? Awalnya saya pikir saya bisa bercerita menarik mengenai kursus integrasi budaya, ternyata sampai sebulan tenggat waktu yang diberikan, saya belum juga selesai menulis.
Nama saya Nella Silaen, berusia 44 tahun dan ibu dari dua anak (usia 8 tahun & 6 tahun). Saya tinggal di Chemnitz, Sachsen. Saya tinggal di Jerman sejak Mei 2011. Aktivitas keseharian selain sebagai ibu rumah tangga, saya sedang mengikuti kursus B2-Deutschkurs Beruf. Saya memiliki hobi berkebun dan mengerti sedikit cara merawat anggrek. Karena hobi berkebun tersebut, saya kerap mendapat panggilan untuk mengurus kebun orang Jerman.
Saya datang ke Jerman sebagai imigran cinta. Saya bertemu suami di online date. Kita saling cocok secara online lalu dia datang dua kali mengunjungi saya di Jakarta. Saya kemudian pergi ke Jerman bertemu keluarganya. Saya kembali ke Jakarta dan mengurus semua surat untuk menikah di Jerman.
Saat kami tiba di Jerman untuk menetap, kita mendaftarkan diri di kantor imigrasi (Ausländerbehörde) nanti kita diberitahu wajib ikut kursus integrasi. Petugas akan memberikan daftar tempat kursus yang berada di wilayah tempat tinggal kita. Atau kalau kita mau cari sendiri tempat kursusnya, pun bisa juga.
Setelah setahun tinggal di Jerman dan akan memperpanjang izin tinggal, petugas imigrasi akan menanyakan sertifikat kelulusan kursus integrasi. Atau, kalau mau apply izin tinggal tak terbatas di Jerman maka kita harus menunjukkan sertifikat lulus B1.
Apa itu Kursus Integrasi (Integrationskurs)?
Kursus integrasi adalah kursus yang wajib diikuti oleh pendatang di Jerman (warga non EU), kursus ini terdiri dari kursus bahasa dan kursus orientasi. Saat ini kursus Integrasi memiliki 700 jam pelajaran. Biaya € 2,29 per jam pelajaran. Kursus Integrasi 600 jam dan kursus orientasi 100 jam.
Tahun 2012, saya mengikuti kursus integrasi masih 660 jam dan biaya 1 Euro/jam pelajaran. 1 jam pelajaran 45 menit. Ujian akhir gratis.
Kursus Integrasi wajib diikuti sampai tingkat B1. Mulai A1, A2 dan B1. Biaya kursus tidak dibayar sekaligus, tetapi tiap 100 jam pelajaran barulah kita bayar. Jika kita lulus ujian B1 maka kita kita mendapat kembali 50% uang kursus tersebut. Jadi pemerintah menanggung 50% nya. Jika peserta kursus tidak lulus ujian B1 maka kita bisa mengulang kursusnya dan tidak membayar lagi. Namun tidak ada pengembalian 50% uang kursus.
Kalau kita sudah bisa bahasa Jerman, atau dari Indonesia sudah mempunyai sertifikat lulus ujian C1 atau C2 maka kita tidak perlu ikut kursus integrasi lagi, mungkin perlu ikut kursus orientasi (100 jam).
Mengapa pendatang di Jerman wajib ikut kursus integrasi?
Jika kita ingin tinggal di Jerman, kita harus berbicara bahasa Jerman. Integrationskurs (Kursus Integrasi) wajib diikuti para migran dan pendatang sejak tahun 2005. Kalau kita tidak paham Bahasa Jerman, bagaimana keseharian kita?
Tentu saja ini akan merepotkan karena orang Jerman hanya mau bicara bahasa mereka saja. Kalau di Belanda, masih banyak orang mau berbahasa Inggris. Di Jerman jangan sakit hati dicuekin kalau tidak bisa bahasa Jerman!
Ya, mungkin di kota besar yang banyak expat seperti di Berlin, München atau Frankfurt bisa pakai Bahasa Inggris. Namun kalau kita berurusan dengan petugas kantor pemerintahan, misalnya mau urus surat apapun, penting bagi kita bisa berbahasa Jerman.
Pengetahuan bahasa Jerman membantu kita ketika mencari pekerjaan, bagaimana cara menulis surat lamaran, saat wawancara pekerjaan, harus mengisi formulir di kantor Imigrasi misalnya, atau mau membuka rekening bank, mau mendaftar sekolah anak, berbelanja, kunjungan ke dokter, ke kantor pos, menonton tv, menyapa orang asing, dan berbagai hal. Dalam keseharian, kita membutuhkan kemampuan Bahasa Jerman.
Pada kursus integrasi selain belajar bahasa Jerman dari tingkat dasar A1 kita juga belajar tentang negara Jerman, seperti sejarah, budaya, dan sistem hukumnya diajarkan dalam kursus orientasi. 600 jam belajar Bahasa Jerman. 100 jam nya adalah kursus orientasi. Ujian akhir ada 2, yakni ujian B1 dan ujian orientasi.
Pelajaran Bahasa Jerman di kursus integrasi menurut saya menarik. Kita mendapat buku yang isinya pelajaran membaca (lesen), menulis (schreiben), mendengar (hören) dan berbicara (sprechen). Tiap bab berbeda temanya. Misal bagian awal diajarkan bagaimana cara menyapa orang dengan sopan, bagaimana cara berkenalan, cara membuat janji dengan dokter, dan berbagai tema menarik lainnya seperti berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Deutsch ist eine schwere Sprache! Sebaiknya kita tidak bolos satu kalipun dari kursus. Kalau kita pernah bolos dan terlewat bagian pelajaran penting, maka kita akan sangat kesulitan ikut bab berikutnya. Kerjakan semua PR yang diberikan dan bisa cari contoh ujian di internet.
Bagian kursus orientasi
Kita belajar tentang negara Jerman seperti sejarah, budaya, dan sistem hukumnya. Selain itu, kita belajar mengetahui tipikal orang Jerman seperti apa. Misal budaya Jerman tepat waktu, jangan jam ngaret seperti di Indonesia dibawa ke Jerman. Kita akan kena omelan kalau tidak tepat waktu, meskipun oleh keluarga sendiri. Saat saya mendapat undangan makan, kita datang telat, suami dan saya pernah loh kena marah ibu mertuaku haha…
Budaya bikin termin di Jerman. Kalau di Indonesia mau berkunjung ke tetangga, teman dekat, teman kantor bisa saja tiba-tiba datang ‘kan. Nah, kalau di Jerman kita wajib bikin janji terlebih dahulu. Jangan sakit hati kalau kalau nge-bel rumah sahabatmu, walau yang bersangkutan ada di dalam rumah, dia tidak akan membukakan pintu haha.
Budaya memisahkan sampah di Jerman. Kalau di Indonesia semua sampah disatukan di tempat yang sama. Nah, di Jerman bisa sampai 5 jenis dipisahkannya di tiap rumah tangga. Sampah kertas ada tong khusus, sampah plastik, sampah organik, botol & gelas terpisah, dan sampah tidak bisa didaur ulang (rest müll). Baju bekas mau disumbangkan pun ada tempat khusus.
Sampah elektronik ada tempat khususnya. Kalau kita tidak memisahkan sampah menurut jenisnya, seringkali petugas angkut sampah buka tutup tong sampah dilihat sekilas isinya. Kalau tidak sesuai isinya, mereka tidak mau angkut. Atau kita dikasih kertas peringatan. Kalau kita mendapat beberapa kali peringatan maka kita kena denda deh!
Oh iya, botol beling bekas dibuang pun ada aturannya loh. Ada tong khusus sesuai warna botolnya haha. Ada tempat botol hijau, coklat, dan bening. Sebaiknya, kita melepas tutup botolnya juga. Bukan di Jerman memang, kalau itu tidak bikin ribet!
Kalau di Indonesia, kebanyakan suami tugasnya mencari uang di luar rumah dan ibu rumah tangga mengurus anak, masak dan beberes rumah. Nah, pria di Jerman selain mencari uang dan membantu istrinya, dia perlu mengurus anak, mandiin anak, memberi makan, dan ajak anak jalan-jalan. Ini agar si ibu punya waktu istirahat sebentar. Suami di Jerman juga mau disuruh masak, bebersih rumah dan menjemur cucian.
Orang Jerman itu to the point, bicara apa adanya. Kalau istri bertanya „Bagus mana, rambut pendek atau panjang. Baju mana yang lebih bagus dan seterusnya?“ jangan kamu mengharapkan jawaban yang menyenangkan dari suami. Sebaiknya jangan tanya pendapat orang Jerman, kecuali kalau siap sakit hati atau tidak sesuai yang ingin kamu dengar.
Orang Jerman kerap menegur kalau ada yang salah. Misal, tetangga menegur karena kita salah membuang sampah. Kita naik sepeda saat malam lalu lampu sepeda tidak nyala terkadang ada yang menegur.
Jangan heran juga kalau tetangga datang atau lapor polisi saat kita ribut bikin gaduh di jam tenang (Ruhezeit). Jam tenang yakni jam 10 malam hingga jam 7 pagi. Jam 1 siang hingga jam 3 sore jam pun termasuk jam tenang juga. Hari Minggu & tanggal merah satu hari pun dianggap jam tenang. Jadi kita tidak boleh bikin ribut.
Hati-hati ya, kalau mau masak yang bau-bau seperti goreng ikan asin, bikin sambal terasi, goreng ikan teri! Waspada kita ditegur tetangga karena aroma masakan tersebut mengganggu mereka haha. Jangan kaget kalau kita didatangi polisi karena tetangga lapor ada cium bau mayat. Padahal kamu sedang goreng ikan asin.
„Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.“ Kita sebaiknya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana kita tinggal. Dalam hal ini, kita tinggal di Jerman. Apa yang boleh saja dilakukan di Indonesia, bisa saja tidak biasa di Jerman :).
Pesan saya, kalau kita mau ikut kursus integrasi, penting kita mengetahui budaya orang Jerman. Saat kita mampu berbahasa Jerman dengan baik, kita bisa mengemukakan pendapat kita sendiri. Kalau apa yang kita lakukan benar sesuai aturan di Jerman, JANGAN takut untuk melawan orang Jerman juga hehe:) Jangan takut untuk komplain, seperti saya pernah menjawab tetanggaku yang rese teriakin dua anakku yang main di kebun kita. Anak-anakku disuruh tidak ribut. Padahal anak-anakku bermain bukan di jam tenang loh.
Si tetangga lansia rese itu sudah lebih dari 2 kali teriakin anak saya. Jadi saya melawan. Saya menjawab saja kalau anak-anak berhak main dan bisa bikin ribut. Saya pun pernah beberapa kali komplain ke kasir karena kurang uang kembalian atau berbagai komplain lainnya. Ya, itu karena saya mengerti Bahasa Jerman.
Penulis: Nella Silaen, penulis di http://www.pursuingmydreams.com.
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.