(PODCAST RUMPITA) Mengenali Isu Kesehatan Mental dan Cashless Society di Tiongkok

Dalam episode ke-29, program Podcast Rumpita (=Rumpi bersama Ruanita) mengambil tema kesehatan mental, sebagaimana peringatan dunia setiap 10 Oktober. Untuk membahas lebih lanjut, Fadni yang memandu diskusi podcast mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Tiongkok. Fadni adalah mahasiswa S2 di Universitas Humboldt di Berlin, Jerman.

Tamu yang hadir adalah Yantri Dewi, yang pernah tinggal di Belgia dan Norwegia, dan kini menetap di Tiongkok bersama keluarga. Yantri menceritakan pengalamannya saat terjadi Lockdown di Tiongkok, di mana Yantri bisa merasakan isu kesehatan mental dijalaninya selama di sana. Yantri mengatakan tema kesehatan mental telah ada dalam materi ajar kursus mandarin yang dipelajarinya.

Meski begitu, perlakukan Yantri sebagai expat selama tinggal di Tiongkok berbeda dengan warga Tiongkok sendiri dalam mendapatkan layanan kesehatan jiwa. Bagi Yantri, ia kini sudah fasih dalam berbicara bahasa Mandarin dan tidak kesulitan dalam berkomunikasi dengan warga lokal.

Yanti kini bekerja sebagai pengajar di sekolah internasional di Tiongkok. Dia juga banyak bercerita tentang perubahan masyarakat yang mengarah pada budaya digitalisasi yang meningkat. Budaya yang disebut cashless society memang diterapkan di Tiongkok. Banyak hal yang memang terkesan asing tetapi ini membuat tampak mudah ketika cashless menjadi kultur sehari-hari.

Apa yang membuat Yantri memutuskan tinggal di Tiongkok? Bagaimana pengalaman Yantri terkait isu kesehatan mental di Tiongkok? Apa saja yang menarik dan menantang dari kehidupan cashless society yang diterapkan di Tiongkok? Apa pesan Yantri kalau sahabat Ruanita ingin tinggal atau berwisata ke Tiongkok?

Simak selengkapnya lewat kanal podcast Spotify berikut ini dan jangan lupa follow kanal Spotify kami:


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar