
Sahabat Ruanita, perkenalkan saya Griska Gunara, yang kini berusia sudah kepala empat alias 40-an. Saya telah menetap di Inggris selama beberapa tahun dan menjalani kehidupan yang dinamis, sebagai seorang ibu, praktisi yoga dan meditasi, dan photojournalist, serta juga menjadi kontributor di media online, termasuk juga di program cerita sahabat Ruanita loh. Seiring berjalannya usia, tentu saya pun menghadapi berbagai tantangan yang membuat saya melakukan refleksi diri.
Salah satu fase yang sering dihadapi manusia, namun jarang dibahas secara terbuka, adalah midlife crisis. Oleh karena itu, saya ingin berbagi pendapat dan pengalaman saya tersebut. Dulu, di usia 20-an, saya menganggap quarterlife crisis sebagai sesuatu yang menakutkan dan negatif. Namun, setelah mengalaminya sendiri, saya menyadari bahwa ini adalah fase transisi psikologis yang alami terjadi dalam diri manusia. Berbicara tentang Midlife crisis, umumnya terjadi antara usia 40 dan 60 tahun dan ditandai dengan perasaan tidak puas, kegelisahan, serta pencarian makna hidup. Ini bukan sekadar gangguan emosional, tetapi refleksi diri yang mendalam mengenai identitas, pencapaian, dan tujuan hidup ke depan.
Saat mengalami quarterlife crisis di usia 20-an, saya berjuang mencari jati diri, menghadapi tekanan dari lingkungan, dan mencari tahu arah hidupnya. Berbeda dengan itu, midlife crisis atau yang disebut “krisis paruh baya” lebih berkaitan dengan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup yang sudah ditempuh dan bagaimana seseorang ingin menjalani sisa hidupnya. Hal ini sejalan dengan istilah “Krisis paruh baya” dicetuskan pertama kali pada tahun 1960-an oleh Psikolog asal Kanada. Menurut saya, krisis yang dihadapi ini bukanlah pengalaman universal dan hanya berbeda fase pada Midlife-Crisis dan Quarterlife-Crisis.
Menurut saya, beberapa tanda dan gejala umum dari midlife crisis meliputi:
- Ketidakseimbangan emosional
- Kegelisahan dan kecemasan
- Keinginan untuk mengubah hidup secara signifikan
- Mempertanyakan identitas dan pencapaian diri
- Kesadaran tentang penuaan dan keterbatasan hidup
- Gangguan fisik seperti insomnia atau perubahan berat badan drastis
Setiap individu memiliki pemicu yang berbeda dalam menghadapi midlife crisis. Saya mengalaminya setelah ada perubahan dalam keluarga, terutama ketika putri saya akan segera lulus SMA dan melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Selain itu, perbedaan budaya antara Indonesia dan Inggris juga memberikan tantangan tersendiri dalam menavigasi peran saya sebagai ibu dan perempuan yang ingin terus berkembang. Saya menilai, terkadang kurangnya penghargaan atas kontribusi dalam proyek kolaboratif juga bisa menjadi pemicu ketidakpuasan diri.
Sahabat Ruanita, saya menilai tantangan terbesar dalam menghadapi midlife crisis adalah diri sendiri. Terkadang, seseorang tanpa sadar menciptakan hambatan yang menghalangi pertumbuhan pribadi. Oleh karena itu, menyeimbangkan kehidupan, memiliki waktu untuk diri sendiri (me-time), serta menjaga kesehatan mental menjadi hal yang sangat penting. Seperti yang saya lakukan sebagai praktisi yoga dan meditasi, tentunya sangat membantu saya mengenali diri saya sendiri.
Dengan kemajuan digitalisasi, masyarakat Indonesia, terutama di perkotaan, mulai lebih sadar akan adanya fenomena ini. Namun, masih ada stigma dan pandangan tabu terkait midlife crisis, terutama bagi perempuan. Misalnya, munculnya istilah puber kedua atau menopause yang sering kali dikaitkan dengan perubahan psikologis dan emosional pada perempuan usia paruh baya. Apakah sahabat Ruanita pernah mendengar atau mengalami hal ini?
Menurut saya, terdapat perbedaan mendasar antara cara perempuan Indonesia dan Inggris dalam menghadapi midlife crisis. Budaya di Inggris cenderung lebih individualistis, jadi banyak perempuan yang menghadapi midlife crisis dengan mencari perubahan yang lebih personal, seperti beralih karier, traveling, atau mengejar hobi baru. Terapi & self-care lebih umum karena lebih diterima secara luas, sehingga lebih banyak perempuan yang mencari bantuan profesional untuk mengatasi perasaan kehilangan arah atau ketidakpuasan dalam hidup. Tekanan sosial untuk tetap menjalankan peran tradisional sebagai istri atau ibu lebih rendah dibandingkan di Indonesia.
Perempuan Inggris dapat lebih bebas menentukan pilihan hidup – keterbukaan ini yang membuat mereka merasa lebih leluasa untuk bercerai, pindah kota, atau mengubah gaya hidup tanpa merasa terlalu terikat oleh ekspektasi masyarakat. Isu seperti menopause, kesehatan mental depresi, atau perubahan hormonal dapat diperbincangkan lebih terbuka, sehingga perempuan di Inggris merasa lebih didukung dan memiliki lebih banyak sumber daya untuk menghadapinya.
Berdasarkan pengalaman, ini beberapa cara yang bisa membantu seseorang menghadapi midlife crisis dengan lebih positif, antara lain:
- Menjelajahi Minat Baru
- Belajar keterampilan baru seperti bahasa, seni, atau musik.
- Menulis jurnal reflektif untuk mencatat perjalanan hidup.
- Meningkatkan Koneksi Spiritual & Emosional
- Praktik yoga dan meditasi untuk menenangkan pikiran.
- Melakukan retreat atau perjalanan spiritual.
- Menjalin Koneksi Sosial Baru
- Menghadiri agenda pertemuan di organisasi kemasyarakatan.
- Berbagi pengalaman dengan orang lain melalui mentorship.
- Merawat Kesehatan Fisik & Mental
- Mencoba olahraga baru seperti hiking atau bersepeda.
- Mengadopsi pola makan sehat dan memasak makanan bergizi.
- Mengeksplorasi Karier & Kreativitas
- Mencari peluang karier baru yang lebih bermakna.
- Mengeksplorasi kegiatan kreatif seperti fotografi atau menulis.
- Traveling untuk menemukan perspektif baru dalam hidup.
Seiring dengan perjalanan menghadapi midlife crisis, saya merasakan perubahan cara pandang terhadap diri sendiri dan kehidupan. Saya menjadi lebih percaya diri, tidak lagi terlalu bergantung pada validasi eksternal, dan lebih sadar akan pentingnya keseimbangan hidup. Saya menyadari bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian materi atau prestasi, tetapi juga tentang penerimaan diri dan kedamaian batin.
Di akhir, saya ingin memberikan pesan yang inspiratif kepada sahabat Ruanita, terutama perempuan Indonesia yang sedang menghadapi midlife crisis:
“Beranilah menghadapi diri sendiri dan berikan ruang untuk refleksi. Hidup tidak berhenti sampai di sini—ini justru awal dari babak baru yang lebih matang dan bermakna. Tidak selalu harus kuat atau mengutamakan orang lain; merawat diri sendiri bukanlah tindakan egois, tetapi bentuk mencintai diri sendiri. Jangan takut menghadapi perubahan, karena keindahan seorang perempuan tidak ditentukan oleh usia. Dunia belum berakhir—justru babak baru yang luar biasa menanti untuk dituliskan dalam perjalanan hidup kita.”
Jadi sahabat Ruanita, Midlife crisis bukanlah akhir, melainkan kesempatan untuk menata ulang hidup dengan lebih sadar dan bermakna. Semoga cerita saya dapat menginspirasi banyak perempuan untuk menghadapi fase ini dengan keberanian, kesadaran, dan kebahagiaan yang lebih dalam.
Penulis: Griska Gunara, tinggal di Inggris dan dapat dihubungi via akun instagram @griskagunara.
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.