(CERITA SAHABAT) Mitos dan Magis di antara Generasi Tua dan Generasi Muda di Turki

Halo, sahabat Ruanita! Apa kabar? Senang sekali bisa menyapa kamu lagi dari Turki, negara yang selalu memikat dengan pesona budaya dan sejarahnya. Pada tulisan terakhir, saya sempat berbagi tentang pengalaman mistis yang saya alami di sini. Nah, kali ini, saya ingin mengajakmu berjalan-jalan menyusuri dunia mitos dan kepercayaan magis masyarakat Turki. Ada banyak hal unik yang saya temui, mulai dari benda-benda jimat, ramalan kopi, hingga mitos tentang ibu hamil dan bayi.

Sedikit cerita tentang diri saya. Saya lahir dan besar di tanah Sunda, tepatnya di Bogor. Di Indonesia, saya sudah akrab dengan mitos sejak kecil. Misalnya, orang tua dulu sering bilang, “Kalau menyapu lantai jangan setengah-setengah, nanti dapat suami yang jorok atau brewokan,” atau “Jangan duduk di atas meja, nanti banyak hutang.”

Hal-hal semacam ini terasa biasa saja bagi saya. Ketika saya pindah ke Turki, saya menemukan dimensi baru dari dunia mitos dan kepercayaan. Ada rasa penasaran sekaligus kagum, karena setiap budaya punya cara unik dalam memandang dunia gaib dan hal-hal yang tidak terlihat.

Sudah hampir lima tahun saya tinggal di Turki, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Lüleburgaz. Letaknya tidak terlalu jauh dari perbatasan dengan Bulgaria. Awalnya, tentu ada rasa canggung. Saya tinggal di kompleks yang sama dengan kakak ipar, sementara rumah mertua hanya berjarak sekitar 15 km dari tempat kami.

Untuk beradaptasi, saya memutuskan ikut kursus bahasa Turki. Dari sana, saya mulai punya teman-teman lokal yang kemudian mengenalkan saya pada kebudayaan, tradisi, dan mitos-mitos khas negeri ini. Ada banyak kejutan budaya yang membuat saya berpikir, “Oh, ternyata di sini juga ada mitos yang mirip dengan Indonesia!”

Pengalaman pertama saya yang cukup membekas terjadi di sebuah toko roti. Waktu itu, saya hanya ingin memutar plastik kantong roti agar roti di dalamnya tidak keras terkena angin. Eh, ternyata, suami kakak ipar melihatnya dan langsung menegur dengan nada serius. Katanya, saya “memainkan” roti, dan itu dianggap dosa.

Di Turki, roti bukan sekadar makanan, melainkan simbol keberkahan. Roti harus dihormati, tidak boleh dibuang sembarangan, apalagi sampai terinjak. Bahkan ada cerita bahwa roti yang jatuh ke lantai harus segera diambil, dibersihkan, dan dicium sebagai tanda penghormatan. Saya sempat kaget, karena di Indonesia kita jarang mendengar mitos tentang roti. Pengalaman ini membuat saya semakin menghargai roti setiap kali menyentuhnya.

Di Turki, nazar boncuğu atau jimat mata biru adalah benda yang sangat populer. Bentuknya mirip mata berwarna biru yang dipercaya mampu menangkal energi jahat dan melindungi pemiliknya dari bala. Saya sering melihat jimat ini tergantung di pintu rumah, dipasang di mobil, atau dijadikan perhiasan.

Kakak ipar saya termasuk orang yang sangat percaya pada kekuatan jimat ini. Saat anaknya sakit, dia menempelkan peniti bermata biru pada baju anaknya sebagai “perlindungan.” Walaupun anaknya sembuh setelah minum obat dari dokter, kakak ipar tetap yakin jimat ini punya peran.

Selain mata biru, ada juga kalung dan gelang dari batu alam. Kakak ipar saya membelikan perhiasan batu untuk anak-anaknya, dengan keyakinan bahwa batu tersebut bisa membawa energi positif, membuat anak lebih rajin belajar, dan disayang guru. Uniknya, kalung dan gelang ini tidak bisa langsung dipakai. Harus dikubur selama 10 hari di halaman rumah sebelum digunakan. Rasanya seperti ritual yang penuh makna, sekaligus magis.

Salah satu pengalaman paling seru adalah saat pertama kali saya diramal dengan kopi Turki. Bagi orang Turki, ampas kopi bisa “membisikkan” masa depan. Caranya sederhana: setelah kopi diminum, cangkir kecilnya dibalik ke tatakan, diputar tiga kali ke kiri, lalu dibiarkan sebentar. Ketika cangkir diangkat, pola ampas kopi di dalamnya dibaca sebagai ramalan.

Saya masih ingat suasananya waktu itu. Kami duduk di ruang tamu yang hangat, ditemani semerbak aroma kopi yang kental. Seorang nenek mulai mengangkat cangkir saya dengan pelan, memandangnya seolah membaca sebuah peta rahasia. “Kamu akan mendapat kabar dari orang jauh,” katanya dengan nada yakin. Beberapa hari kemudian, memang ada satu keluarga Indonesia yang datang berkunjung ke rumah!

Ramalan kopi bukan hanya sekadar hiburan. Dalam budaya Turki, ritual ini juga jadi cara untuk mempererat hubungan sosial. Seringkali, sesi meramal diakhiri dengan tawa, cerita masa lalu, dan harapan-harapan baru. Bagi saya, ada sesuatu yang magis saat seseorang membaca ampas kopi dan menghubungkannya dengan kisah hidup kita.

Cerita lain datang dari teman saya yang juga orang Indonesia. Saat hamil, dia pernah menyembunyikan kue di kantong celana karena kuenya tidak cukup untuk tamu yang datang. Ibu mertua menegurnya dengan serius. Katanya, itu bisa membuat bayi lahir dengan tanda lahir di tempat yang sama.

Awalnya, teman saya menganggap itu takhayul. Ternyata, setelah melahirkan, bayinya memang punya tanda lahir di paha kiri, sebesar kue yang disembunyikan!

Selain itu, ada kepercayaan bahwa foto bayi di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak ditampilkan jelas di media sosial. Orang percaya bahwa wajah bayi perlu “dilindungi” dari energi negatif. Hal ini mirip dengan kepercayaan di beberapa daerah di Indonesia.

Di kota kecil seperti Lüleburgaz, jimat dan ramalan masih jadi bagian dari keseharian beberapa orang. Ada yang menggantung bawang putih dan cabai kering di rumah untuk mengusir jin. Ada juga yang menulis ayat suci di kertas lalu menyimpannya di dompet agar rezeki lancar.

Saya pernah melihat langsung tetangga yang sangat percaya pada ramalan. Mereka mengundang peramal kopi untuk acara keluarga, seperti ulang tahun atau syukuran. Di sana, satu per satu tamu diminta untuk menunjukkan cangkirnya. Lucunya, suasana jadi penuh tawa ketika ramalan “unik” muncul, seperti prediksi jodoh atau rezeki mendadak.

Walaupun suami saya dan keluarganya lebih rasional, mereka tidak pernah mengejek atau merendahkan orang yang percaya pada hal-hal ini. Lingkungan pertemanan saya pun begitu. Ada yang percaya, ada yang skeptis, tapi semua saling menghargai. Menurut saya, sikap toleransi inilah yang membuat budaya Turki terasa hangat dan inklusif.

Salah satu tradisi yang saya anggap menarik adalah malam Kına. Ini adalah perayaan khusus calon pengantin perempuan sebelum menikah. Ia akan mengenakan gaun merah, dihias dengan emas, dan tangannya digambar dengan tinta henna. Malam itu, para perempuan seperti ibu, calon mertua, dan teman-teman dekat—akan menari bersama mengelilingi pengantin.

Saya pernah menghadiri malam Kına dan merasa seperti melihat adegan dari film sejarah. Lampu-lampu redup berpadu dengan musik tradisional yang menggema, menciptakan suasana haru sekaligus sakral. Ada momen ketika calon pengantin menangis, diiringi nyanyian lembut dari para perempuan yang hadir. Rasanya, tradisi ini bukan hanya tentang pesta, tapi juga doa dan restu untuk memulai hidup baru.

Bagaimana dengan anak-anak muda Turki? Apakah mereka masih percaya mitos? Jawabannya beragam. Beberapa teman muda saya sangat skeptis dan menganggap mitos hanyalah warisan masa lalu. Namun, ada juga yang percaya, bahkan bisa meramal dengan kopi atau tarot.

Di kota besar seperti Istanbul, generasi muda cenderung lebih rasional. Namun di kota kecil seperti Lüleburgaz, mitos masih hidup sebagai bagian dari identitas lokal. Hal ini mirip dengan Indonesia, di mana masyarakat kota besar mulai melupakan mitos, sementara daerah kecil masih melestarikannya.

Saya pernah mengalami momen unik dengan teman muda Turki. Saat kami sedang memasak bersama, saya hendak memberikan pisau langsung dari tangan saya. Dia tiba-tiba menghentikan saya, “Karin, letakkan saja pisau itu. Jangan diberikan langsung, nanti kita bertengkar.” Saya tersenyum kecil, karena mitos ini mengingatkan saya pada larangan-larangan di kampung halaman.

Saya pribadi tidak terlalu percaya pada mitos, tapi saya menghormati tradisi dan kepercayaan orang lain. Bagi saya, mitos adalah bagian dari kekayaan budaya.

Pengalaman paling mengesankan tentu saja saat diramal dengan kopi Turki. Ramalan itu menyentuh sisi terdalam hidup saya. Teman yang meramal bahkan menyebut tentang ayah saya yang sudah tiada, padahal saya tidak pernah menceritakan hal itu. Rasanya campur aduk—antara terharu, heran, dan percaya bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tak kasat mata.

Saya jadi belajar bahwa kepercayaan magis seringkali hadir sebagai cara manusia mencari pegangan, terutama di saat mereka merasa tak berdaya atau butuh jawaban.

Ternyata, ada beberapa mitos di Turki yang mirip dengan budaya kita. Misalnya, kuping panas atau berdenging pertanda ada yang membicarakan kita. Atau tangan gatal sebagai tanda akan mendapat uang. Ada juga kepercayaan bahwa makanan sisa pengajian membawa berkah jika dimakan.

Hal-hal semacam ini membuat saya merasa ada benang merah antara budaya Indonesia dan Turki. Mungkin karena keduanya sama-sama punya tradisi lisan yang kuat, di mana cerita diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari semua kisah ini, saya belajar bahwa mitos dan magis bukan hanya soal benar atau salah. Ini adalah cerita yang mengikat manusia dengan sejarah, keluarga, dan identitasnya.

Jika ada satu hal dari budaya mistis Turki yang ingin saya bagikan kepada sahabat Ruanita, itu adalah ramalan kopi Turki. Percaya atau tidak, ritual sederhana ini mampu membuka percakapan, menyatukan orang, bahkan memberi kita semacam harapan tentang masa depan.

Terima kasih sudah membaca cerita saya kali ini. Semoga kisah ini bisa menjadi jendela kecil untuk melihat keajaiban budaya Turki. Jangan ragu untuk berbagi pendapat atau cerita serupa di kolom komentar ya. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

Penulis: Karin, relawan Ruanita di Turki. Bisa dihubungi melalui Instagram: @noviakarina19.


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar