
Halo, Sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku D, perempuan asal Jawa Timur yang sudah hampir sembilan tahun tinggal di India. Aku menikah dengan pria India dan saat ini bekerja sebagai pengajar di salah satu sekolah swasta di sana. Selama tinggal di negeri orang, tentu banyak pengalaman yang aku alami. Namun, ada dua kejadian di tahun 2026 yang sampai hari ini masih membekas dalam ingatanku. Tentunya, ini berkaitan dengan tema cerita sahabat yang ingin kuceritakan. Ya, itu adalah pengalaman terkait gigitan anjing dan kekhawatiran akan rabies.
Kejadian pertama terjadi sekitar beberapa bulan lalu di malam hari. Saat itu aku sedang mengunjungi rumah seorang teman untuk mengantarkan makanan sebelum menghadiri acara kebaktian di rumah jemaat yang masih berada di daerah yang sama. Kami hanya berdiri di dekat pagar rumah sambil berbincang sebentar. Tiba-tiba seekor anjing peliharaan yang berada di luar rumah mendekat dan langsung menggigit kakiku.
Aku sangat terkejut. Saat diperiksa, lukanya hanya berupa goresan kecil tanpa darah, tetapi jujur di dalam hati aku sangat panik. Setelah itu, aku tetap pergi menghadiri kebaktian sambil terus berdoa. Suamiku berusaha menenangkan aku sepanjang perjalanan. Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan luka tersebut.
Keesokan harinya aku memfoto luka itu dan mengirimkannya kepada dokter yang aku kenal. Setelah melihat kondisinya, beliau menyarankan agar aku segera datang ke rumah sakit swasta dekat tempatku bekerja. Syukurlah prosesnya cepat karena ada dokter kenalan yang membuatku merasa lebih nyaman. Setelah diperiksa, dokter menyarankan aku menjalani vaksin anti rabies sebagai tindakan pencegahan.
Aku akhirnya menjalani lima kali suntikan vaksin anti rabies di India. Puji Tuhan, semua proses pengobatan berjalan dengan baik. Namun ternyata pengalaman itu belum berhenti sampai di situ. Tak sampai di situ, suamiku juga mengalami kejadian yang jauh lebih serius. Kami memiliki tiga anjing peliharaan yang semuanya sudah mendapatkan vaksin rabies enam bulan sebelumnya. Hari itu, suamiku membawa salah satu anjing kami bernama Brutus ke rumah sakit hewan karena ada benjolan di tubuhnya dan perlu diperiksa lebih lanjut.
Setelah Brutus dibius dan diambil darahnya, kakak iparku meminta suamiku membangunkannya karena sangat menyayangi hewan tersebut. Padahal sebenarnya jika dibiarkan beberapa saat, Brutus akan sadar sendiri dengan tenang. Karena masih setengah sadar akibat pengaruh bius, Brutus terkejut dan langsung menggigit wajah suamiku.
Kami tidak bisa marah karena hewan itu sedang tidak sadar sepenuhnya. Tetapi sebagai istri, tentu aku sangat syok melihat wajah suamiku penuh luka dan darah. Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan lukanya lalu menghubungi dokter kami. Setelah melihat kondisi luka yang cukup serius, dokter menyarankan agar suamiku segera dibawa ke rumah sakit pemerintah karena membutuhkan penanganan khusus.
Jujur, aku cukup takut dengan rumah sakit pemerintah di India karena prosesnya terkenal panjang dan berbeda dengan di Indonesia. Selain itu, kendala bahasa juga sering menjadi tantangan karena banyak orang menggunakan bahasa daerah. Kadang ketika mereka tahu kita orang asing dan tidak mengerti bahasa setempat, biaya bisa terasa lebih mahal.
Tetapi Puji Tuhan, hari itu suamiku langsung mendapatkan penanganan cepat. Ia menerima 11 jahitan di wajah dan enam suntikan pada hari pertama, lalu dilanjutkan dengan empat suntikan berikutnya sesuai jadwal. Walaupun suntikan terakhir sempat terlewat karena lupa, perawat mengatakan kondisinya tetap aman karena dosis penting sudah diberikan sebelumnya. Sampai hari ini, suamiku dalam keadaan sehat.
Dari dua pengalaman tersebut, aku belajar bahwa gigitan hewan tidak boleh dianggap sepele, bahkan jika hanya berupa goresan kecil tanpa darah. Banyak orang berpikir luka kecil tidak berbahaya, padahal risiko rabies tetap ada. Saat aku digigit, rasa cemas langsung muncul, apalagi setelah melihat berbagai video dan cerita orang yang tidak mendapatkan suntikan rabies tepat waktu. Untuk mengatasi rasa takut dan overthinking, aku mencoba menyibukkan diri dan terus berpikir positif.
Pengalaman ini juga membuatku lebih berhati-hati, terutama saat berkunjung ke rumah orang atau berkendara di India karena terkadang ada anjing yang mengejar di jalan. Selain anjing, di beberapa daerah juga banyak monyet berkeliaran sehingga kewaspadaan memang sangat penting.
Untuk Sahabat Ruanita yang sedang atau akan tinggal di luar negeri, aku ingin mengatakan bahwa hidup jauh dari rumah memang tidak selalu mudah. Ada rindu yang dipendam sendiri, air mata yang jatuh diam-diam, dan perjuangan yang tidak semua orang pahami. Tetapi percayalah, kamu hebat karena mampu bertahan sejauh ini.
Jangan pernah merasa sendirian. Di balik semua luka dan pengorbanan, ada versi dirimu yang sedang tumbuh menjadi perempuan yang lebih kuat, lebih berani, dan lebih dewasa. Tetap jaga hati dan jangan kehilangan dirimu sendiri karena kerasnya dunia. Sejauh apa pun kita pergi, doa orang tua dan tanah kelahiran akan selalu memeluk kita.
Sejak kejadian digigit anjing itu, aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi mampu tetap melangkah dengan lebih hati-hati dan penuh kewaspadaan. Kadang sebuah luka justru mengajarkan kita untuk lebih menjaga diri dan lebih menghargai keselamatan. Hati-hati ya, Sahabat Ruanita. Kalau pergi ke India, terutama ke daerah yang banyak hewan berkeliaran, jangan lupa tetap waspada dan jaga diri baik-baik.
Penulis: D yang tinggal di India dan dapat dikontak via e-mail info@ruanita.com
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.