(PODCAST IN ENGLISH) Dari Lulusan Keperawatan di Indonesia Menjadi Paramedis di Amerika Serikat: Perjalanan Memulai Lagi dari Nol

“Saya pikir memindahkan ijazah ke Amerika Serikat akan mudah. Ternyata tidak.”

Kalimat itu diucapkan Eka Nilawati tanpa dramatisasi. Setelah lebih dari satu dekade berkarier sebagai perawat di Indonesia, termasuk menjadi kepala perawat ICU dan ia membayangkan pengalamannya akan menjadi modal untuk melanjutkan profesi yang sama di Amerika Serikat. Namun, kenyataan berkata lain. Ketika pindah ke Amerika Serikat pada 2016 melalui visa keluarga setelah menikah dengan warga negara Amerika, Eka mendapati bahwa pengalaman profesional yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun tidak otomatis diakui. Di balik statusnya sebagai tenaga kesehatan berpengalaman, ia kembali menjadi seseorang yang harus memulai semuanya dari awal. Perjalanan itu bukan sekadar soal administrasi atau penyetaraan ijazah. Ia adalah kisah tentang identitas, migrasi, menjadi ibu, menjadi mahasiswa lagi, hingga belajar menerima bahwa memulai dari nol bukan berarti gagal.

Banyak perempuan Indonesia yang bermigrasi berharap dapat melanjutkan profesinya di negara tujuan. Namun, bagi tenaga kesehatan, proses tersebut jauh lebih kompleks dibanding sekadar menerjemahkan ijazah. Eka menjelaskan bahwa setiap negara bagian di Amerika Serikat memiliki regulasi berbeda terkait pengakuan profesi keperawatan. Proses verifikasi pendidikan, pengalaman kerja, hingga lisensi harus dilakukan melalui lembaga resmi, dan sering kali membutuhkan komunikasi langsung antara institusi di Indonesia dengan otoritas di Amerika. Ketika ia menjalani proses tersebut, Indonesia masih berada dalam masa transisi dari sistem administrasi manual menuju digital. Tidak adanya titik kontak yang jelas untuk proses verifikasi membuat langkahnya terhambat selama bertahun-tahun.

“Yang saya bayangkan sederhana, ternyata membutuhkan waktu, biaya, dan kesabaran yang luar biasa.”

Alih-alih menyerah, Eka memilih jalan lain. Karena belum dapat bekerja sebagai perawat, ia menerima pekerjaan sebagai caregiver di panti lansia. Pekerjaan yang secara administratif hanya membutuhkan ijazah sekolah menengah itu menjadi pintu masuknya kembali ke dunia pelayanan kesehatan. Dari sana, ia mengikuti pelatihan menjadi Certified Nursing Assistant (CNA), kemudian meningkatkan sertifikasinya agar dapat bekerja di rumah sakit.

Lima tahun bekerja sebagai CNA memberinya pengalaman baru mengenai sistem kesehatan Amerika Serikat sekaligus memperlihatkan bahwa perjalanan karier tidak selalu bergerak lurus. Kadang seseorang harus mundur beberapa langkah agar dapat melangkah lebih jauh. Di balik perjalanan profesional tersebut, ada kehidupan lain yang terus berjalan. Eka juga menjalani peran sebagai ibu dari dua anak, bekerja, sekaligus kembali menjadi mahasiswa. Setelah kelahiran anak keduanya, ia memutuskan kembali ke bangku kuliah untuk menentukan arah karier berikutnya.

“Target saya bukan menjadi mahasiswa dengan nilai sempurna. Target saya adalah menyelesaikan pendidikan.”

Pernyataan sederhana itu menggambarkan perubahan cara pandang yang dialami banyak perempuan setelah bermigrasi. Standar kesempurnaan yang selama ini melekat sering kali harus dinegosiasikan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Ada waktu ketika buku kuliah harus ditutup karena anak membutuhkan perhatian. Ada saat ketika tugas kuliah dikerjakan setelah semua pekerjaan rumah selesai. Dan ada hari-hari ketika keberhasilan diukur bukan dari nilai A, melainkan dari kemampuan bertahan menjalani semuanya.

Awalnya, Eka berencana kembali menjadi perawat. Namun pandemi mengubah segalanya. Ibunya di Indonesia mengalami stroke. Tidak adanya sistem layanan darurat seperti 911 menyebabkan penanganan medis terlambat diberikan. Tak lama kemudian, ayahnya meninggal dunia akibat komplikasi diabetes setelah mengalami keterlambatan mendapatkan pertolongan. Peristiwa itu mengubah arah hidupnya. Alih-alih kembali menempuh jalur keperawatan, Eka memilih menjadi paramedis. Baginya, profesi tersebut bukan sekadar pekerjaan baru, melainkan cara untuk memahami sistem layanan darurat yang suatu hari nanti ingin ia bawa pulang ke Indonesia. Mimpi itu mungkin masih jauh. Namun justru dari pengalaman personal itulah lahir gagasan tentang perubahan.

Bagi perempuan Indonesia yang ingin melanjutkan karier tenaga kesehatan di Amerika Serikat, Eka memiliki satu pesan utama: persiapan harus dimulai bahkan sebelum meninggalkan Indonesia. Kemampuan bahasa Inggris, sertifikasi seperti IELTS atau TOEFL, memahami persyaratan lisensi di negara bagian tujuan, hingga membangun komunikasi dengan universitas asal merupakan langkah yang dapat menghemat banyak waktu dan biaya. Menurutnya, proses tersebut tidak murah. Namun biaya terbesar justru datang ketika seseorang berangkat tanpa informasi yang memadai.

Di luar seluruh proses administrasi dan pendidikan, ada satu hal yang menurut Eka jauh lebih penting. Bekerja di sektor kesehatan tidak bisa hanya didorong oleh alasan ekonomi. Merawat seseorang pada masa paling rentan dalam hidupnya membutuhkan empati, kesabaran, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan privasi pasien di Amerika Serikat melalui regulasi seperti HIPAA. Bagi tenaga kesehatan, menjaga kerahasiaan informasi pasien bukan sekadar etika, melainkan kewajiban hukum yang dapat menentukan keberlangsungan profesi.

Baginya, budaya menghormati privasi pasien merupakan salah satu pelajaran penting yang layak terus diperkuat di berbagai sistem kesehatan, termasuk di Indonesia. Perjalanan Eka menunjukkan bahwa migrasi bukan hanya perpindahan geografis. Ia adalah proses menegosiasikan ulang identitas profesional, membangun kembali rasa percaya diri, dan menerima bahwa pengalaman panjang sekalipun kadang tidak langsung diakui di tempat baru. Namun, memulai dari awal tidak selalu berarti kehilangan arah. Kadang justru dari titik nol itulah seseorang menemukan alasan baru untuk terus melangkah. Dan bagi banyak perempuan Indonesia di perantauan, keberanian untuk terus belajar, beradaptasi, serta membuka kemungkinan-kemungkinan baru mungkin menjadi bekal paling berharga dalam perjalanan lintas negara.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini merupakan inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

Simak selengkapnya di kanal SPOTIFY dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Dari Jerman ke Slovenia: Lebih dari Sekadar Pindah Negara

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya Siti Aghata Romizah Yasmin, atau biasa dipanggil Aghata. Saya berasal dari Indonesia dan saat ini melanjutkan studi Master di Slovenia, setelah sebelumnya tinggal di Jerman selama setahun. Perjalanan tiga tahun merantau di Eropa ini bukan sekadar pindah negara, melainkan sebuah proses pembentukan diri yang menguji arti sebenarnya dari ketahanan diri.

Perpindahan saya dari Jerman ke Slovenia adalah sebuah evolusi. Pengalaman saya di Jerman memberi fondasi penting untuk memahami kehidupan di Eropa, namun tujuan saya lebih besar: melanjutkan pendidikan dan menantang diri di lingkungan yang sama sekali berbeda.

Jerman adalah ujian resiliensi pertama saya. Dua bulan awal terasa berat, culture shock membuat saya merindukan kehangatan Indonesia. Namun, dengan dukungan luar biasa dari keluarga angkat, saya belajar bahwa adaptasi bukan sekadar bertahan, tetapi juga tentang menerima dan tumbuh.

Saya sempat berpikir pengalaman di Jerman bisa dijadikan cetak biru untuk negara Eropa lainnya. Ternyata, saya salah besar. Slovenia punya “jiwa” dan ritme yang sama sekali berbeda. Proses adaptasi kali ini terasa lebih lambat, dan saya menyadari penyebabnya ada dua. Pertama, hilangnya “Efek Pelangi” yakni fase euforia di awal yang membuat semua tantangan terasa ringan.

Kedua, “Beban Ekspektasi”, yakni asumsi keliru bahwa karena sudah berpengalaman, semuanya akan mudah. Pengalaman justru membuat saya sedikit lengah dan lupa untuk kembali rendah hati. Saya harus kembali menjadi “murid” dari nol.

Tantangan terbesar saya adalah bahasa dan budaya. Awalnya, saya optimistis karena kemiripan alfabet Slovenia dengan Bahasa Indonesia. Namun, kesulitan sesungguhnya muncul di level lanjutan, saat saya berada di tengah penutur asli bahasa Slavia yang punya keunggulan alami. Ritme kelas yang cepat menguji saya secara akademis dan emosional. Saya harus berjuang dua kali lipat, mengubah rasa minder menjadi motivasi.

Masyarakat Slovenia juga cenderung lebih berhati-hati dengan orang asing. Mereka ramah, tetapi butuh waktu dan konsistensi untuk membangun kepercayaan. Di sinilah saya benar-benar memahami makna resiliensi emosional: kemampuan untuk proaktif memulai interaksi tanpa mengharapkan keterbukaan instan.

Tantangan ini diperkuat dengan tidak adanya komunitas Indonesia yang solid atau kedutaan besar di Slovenia. Ada kalanya saya merindukan keakraban tawa dan bahasa kita. Namun, situasi ini memaksa saya untuk tidak bergantung pada “jaring pengaman” budaya. Saya belajar hal yang paling fundamental: menjadi rumah bagi diriku sendiri. Ini bukan berarti menyendiri, melainkan secara proaktif membangun koneksi baru yang bermakna. Bagi saya, ini terwujud melalui pertemanan lintas budaya dan dengan menyalurkan energi untuk berkontribusi, seperti keterlibatan saya sebagai relawan di Ruanita, yang memberikan saya ruang untuk bertumbuh bersama komunitas.

Tentu, saya punya jangkar penolong. Seni adalah jangkar mental saya. Melukis, menggambar, hingga nail art menjadi ruang aman untuk menenangkan pikiran. Saya juga menulis untuk memaknai setiap tantangan. Dan yang terpenting, suami saya adalah rekan resiliensi saya. Kami tidak hanya saling mendukung secara emosional; kami memandang setiap kesulitan sebagai proyek tumbuh bersama yang harus dihadapi sebagai sebuah tim.

Kini, saya melihat migrasi sebagai proses tanpa akhir untuk membentuk diri. Saya belajar beberapa prinsip penting: kosongkan gelasmu sebelum memasuki lingkungan baru; bangun ekspektasi berdasarkan realitas, bukan ilusi; dan sadari bahwa hubungan adalah investasi berharga yang harus dirawat.

Untuk teman-teman yang sedang berjuang di negara baru, ingatlah: kamu tidak sendiri. Bicarakan apa yang kamu rasakan. Lalu, mulailah dari langkah kecil. Adaptasi bukan perlombaan, melainkan proses menemukan ritme baru. Dan yang paling penting, jadilah rumah bagi dirimu sendiri, di mana pun kamu berada.

Penulis: Siti Aghata Romizah Yasmin, relawan Ruanita Indonesia di Slovenia dan dapat dikontak via akun instagram aghataasasmin.

(IG LIVE) Memahami ADHD Lebih dari Sekadar “Tidak Bisa Fokus”: Ketika Dukungan dan Apresiasi Menjadi Kunci

Dalam rangka memperingati International ADHD Awareness Day yang diperingati setiap 13 Juli, Ruanita Indonesia kembali menghadirkan ruang diskusi digital melalui program Instagram Live. Diskusi ini mengajak masyarakat untuk memahami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) secara lebih utuh, baik dari perspektif profesional maupun pengalaman langsung keluarga yang mendampingi anak dengan ADHD.

Diskusi yang berlangsung selama sekitar 30–40 menit tersebut menghadirkan Lovely Christy Zega, seorang psikolog klinis yang tinggal di Jerman, serta Lena, seorang ibu yang memiliki anak dengan ADHD dan saat ini tinggal di Austria. Keduanya berbagi perspektif mengenai ADHD, mulai dari tantangan mengenali gejala, proses mendapatkan dukungan profesional, hingga pentingnya membangun lingkungan yang menerima dan mendukung individu neurodivergen.

Dalam diskusi tersebut, Lovely menjelaskan bahwa ADHD kerap dipahami secara terlalu sederhana. Banyak orang langsung mengaitkan ADHD dengan anak yang aktif atau sulit diam. Padahal, ADHD memiliki spektrum gejala yang lebih luas, termasuk kesulitan dalam mempertahankan perhatian, impulsivitas, serta tantangan dalam mengelola berbagai aktivitas sehari-hari.

Salah satu tantangan terbesar adalah membedakan ADHD dari kondisi lain yang juga dapat memengaruhi konsentrasi dan kemampuan menyelesaikan tugas. Kesulitan fokus, misalnya, juga dapat muncul ketika seseorang mengalami depresi atau berada dalam kondisi psikologis tertentu. Perbedaannya, ADHD merupakan kondisi neurodevelopmental yang berlangsung secara menetap dan dapat memengaruhi kehidupan seseorang dalam jangka panjang.

Seseorang dengan ADHD mungkin memiliki kemampuan intelektual yang baik, bahkan mampu berprestasi dan memiliki kompetensi tinggi di bidang tertentu. Namun, untuk menyelesaikan tugas yang bagi orang lain terasa sederhana, mereka bisa membutuhkan energi, waktu, dan usaha yang jauh lebih besar.

Tantangan tersebut juga dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang mungkin memiliki banyak minat dan ide, tetapi kesulitan menyelesaikan satu tugas hingga tuntas. Di sisi lain, ketika berhadapan dengan hal yang benar-benar diminati, seseorang dengan ADHD bahkan dapat mengalami hyperfocus, fokus yang sangat intens terhadap sesuatu yang menarik perhatian mereka.

Pengalaman Lena sebagai seorang ibu menunjukkan bahwa proses mengenali ADHD tidak selalu mudah. Pada awalnya, ia lebih memperhatikan sensitivitas anaknya terhadap suara dan lingkungan sekitar dibandingkan tingkat aktivitasnya.

Follow us

Menurut Lena, anak-anak pada umumnya memang aktif. Karena itu, anak yang banyak bergerak tidak serta-merta dapat disebut mengalami ADHD. Dalam pengalaman keluarganya, tantangan menjadi lebih terlihat ketika anak harus berhadapan dengan situasi yang menuntutnya untuk duduk, berkonsentrasi, dan menyelesaikan tugas yang tidak menarik baginya.

Sebelumnya, anak Lena mengikuti lingkungan belajar yang sangat fleksibel dan berpusat pada anak. Ia dapat belajar melalui permainan, memilih aktivitas yang sesuai dengan minatnya, serta mendapatkan dukungan terhadap kebutuhan sensoriknya. Dalam lingkungan seperti itu, tidak tampak masalah besar. Namun, ketika memasuki jenjang pendidikan yang menuntut lebih banyak struktur, tantangan mulai muncul. Anak Lena mengalami kesulitan menyelesaikan tugas-tugas yang sebenarnya mampu ia kerjakan. Situasi tersebut kemudian menimbulkan frustrasi, baik bagi sang anak maupun ibunya.

“Dia tahu bahwa dia bisa melakukannya, tetapi dia tidak bisa menyelesaikan tugas yang sebenarnya sederhana,” menjadi salah satu pengalaman yang menggambarkan tantangan tersebut.

Bagi Lena, situasi itu tidak hanya melelahkan secara praktis, tetapi juga emosional. Ia melihat anaknya merasa takut dan bingung karena tidak mampu menyelesaikan sesuatu yang sebenarnya ia pahami. Dari sinilah komunikasi dengan sekolah menjadi sangat penting. Lena berdiskusi dengan guru untuk memahami apa yang terjadi dan mencari bentuk dukungan yang sesuai. Sekolah kemudian mendorongnya untuk mencari bantuan profesional dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dalam diskusi, Lovely menjelaskan bahwa proses mengenali dan mendiagnosis ADHD tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan satu atau dua gejala. Pemeriksaan perlu mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan seseorang, termasuk riwayat perkembangan, kondisi psikologis, serta dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari. Karena itu, prosesnya dapat melibatkan berbagai profesional. Pemeriksaan medis dan diagnosis dapat melibatkan dokter atau neurolog, sementara dukungan psikologis dan terapi dapat diberikan oleh psikolog sesuai kebutuhan individu.

Penanganan ADHD juga tidak dapat disamaratakan. Kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Ada yang membutuhkan terapi, ada yang memerlukan dukungan medis, dan ada pula yang sangat terbantu oleh perubahan lingkungan. Dalam konteks anak, lingkungan sekolah dan keluarga memiliki peran besar. Dukungan sederhana, seperti memberikan ruang belajar yang lebih sesuai, mengurangi distraksi suara, menyediakan waktu tambahan, atau menyesuaikan cara belajar, dapat memberikan dampak yang besar.

Ketika ditanya mengenai berapa lama terapi ADHD perlu dilakukan, Lovely menekankan bahwa tidak ada jawaban tunggal. Durasi dan bentuk dukungan sangat bergantung pada kondisi individu serta lingkungan tempat ia berada. Lingkungan yang mendukung dapat membantu seseorang mengembangkan strategi untuk mengelola tantangan ADHD. Sebaliknya, lingkungan yang tidak memahami kebutuhan neurodivergen dapat membuat tantangan menjadi semakin berat. Dengan demikian, dukungan tidak hanya berfokus pada individu dengan ADHD. Keluarga, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat juga perlu mendapatkan pemahaman yang memadai.

Bagi Lena, salah satu bentuk dukungan terbesar yang dapat diberikan kepada anak dengan ADHD adalah apresiasi. Anak-anak neurodivergen sering kali menerima lebih banyak koreksi, label, dan kritik dibandingkan apresiasi. Mereka mungkin lebih sering mendengar bahwa dirinya “nakal”, “tidak bisa diatur”, “malas”, atau “tidak berusaha cukup keras”. Padahal, banyak hal yang tampak sederhana bagi orang lain dapat membutuhkan usaha yang sangat besar bagi seseorang dengan ADHD.

Karena itu, orang tua perlu melihat anak sebagai manusia secara utuh, bukan hanya berdasarkan apa yang mampu atau tidak mampu mereka lakukan. Apresiasi tidak harus selalu menunggu pencapaian besar. Usaha kecil, keberanian mencoba, kemampuan bertahan, dan proses belajar juga layak dihargai. Ketika seorang anak hanya menerima apresiasi setelah mencapai sesuatu, ia dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya hanya berharga ketika berhasil. Sebaliknya, apresiasi yang konsisten dapat membantu anak mengenali kekuatan dan potensinya.

Diskusi Ruanita Indonesia ini juga menjadi pengingat bahwa ADHD bukanlah sebuah label untuk menentukan nilai seseorang. Memiliki ADHD tidak berarti seseorang tidak cerdas, tidak mampu berprestasi, atau tidak memiliki masa depan. Banyak individu dengan ADHD memiliki kemampuan, kreativitas, minat, dan keunggulan yang kuat di bidang tertentu. Yang dibutuhkan adalah pemahaman terhadap cara kerja mereka, dukungan yang tepat, serta lingkungan yang tidak buru-buru menghakimi.

Mengenali ADHD dengan lebih baik berarti memahami bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menjalani kehidupan. Dengan memperluas pengetahuan dan mengurangi stigma, masyarakat dapat menciptakan ruang yang lebih aman bagi individu neurodivergen untuk berkembang. Melalui ruang diskusi seperti Instagram Live, Ruanita Indonesia terus menghadirkan percakapan penting mengenai kesehatan mental, pengalaman hidup orang Indonesia di perantauan, serta isu-isu yang relevan bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(CERITA SAHABAT) Saya Menemukan Diriku: Perjalanan Menyadari ADHD di Usia Dewasa

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya Rieska dan seorang jurnalis Indonesia yang tinggal di Italia. Pada 2022, hidup saya berubah drastis setelah mengalami kecelakaan saat bermain ski. Awalnya dokter mengatakan tidak ada patah tulang, tapi rasa nyeri yang luar biasa membuat saya mengalami insomnia dan kesulitan bergerak. 

Saya harus menjalani perawatan intensif, suntik dua kali sehari selama sebulan, terapi gelombang ultrasonik 12 jam sehari selama dua minggu, dan terapi penggeseran posisi tulang. Di bulan kedua, barulah bisa diketahui bahwa dua otot kaki saya putus, menjelaskan sakit yang begitu luar biasa itu.

Selama masa pemulihan, saya mencoba mengalihkan perhatian dengan membaca buku, menulis, menonton dokumenter, dan berdiskusi dengan teman lewat media sosial. Namun, seiring waktu, saya mulai menyadari hal-hal yang aneh terjadi dalam diri saya seperti: saya kesulitan memahami konsep waktu. Selain itu, emosi saya naik turun tanpa alasan jelas. Saya juga merasa otak terasa kabur (brain fog), bahkan sulit mengingat nama teman atau nama  kolega yang baru. Setiap malam, saya mendapay mimpi saya begitu vivid dan bertumpuk, kadang seperti film Inception atau pengalaman keluar dari tubuh, sehingga saat bangun alih-alih segar, saya malah tambah lelah.

Meski demikian, saya menikmati keindahan membaca 3–4 buku sejarah dalam dua minggu hanya untuk menyelesaikan satu atau dua tulisan. Menariknya, kalau sudah terpaku pada buku, saya bisa lupa makan dan minum meski kaki saya nyeri luar biasa. Saya sering bangun tengah malam untuk minum 5–7 gelas air tapi tetap merasa haus, dan ini membuat saya bolak-balik ke kamar mandi, menambah sulit tidur dan rasa sakit.

Kondisi ini menghantam saya secara mental, fisik, bahkan hampir secara seksual, karena rasa sakit berlangsung berbulan-bulan. Hal yang bisa saya nikmati hanyalah kepuasan spiritual, intelektual, dan finansial: menulis semua yang saya rasakan, mencatat kronologi sakit, dan tetap bekerja menulis laporan berita.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai mempertanyakan semua gejala ini, yakni haus berlebihan, kehilangan ingatan, brain fog, sulit fokus tapi kadang hyperfocus, emosi ekstrem, hingga disorientasi, mengalami mental paralyze dan bahkan semacam seizure saat emosi tak dapat dikendalikan. Karena penasaran, saya mengikuti beberapa tes online dan menemukan fakta mengejutkan: saya mengalami ADHD berat.

Saya berseru: Eureka! Semua anomali hidup saya ternyata memiliki jawaban. Saya tidak gila. Psikologi dan neurologi memberikan penjelasan yang sangat masuk akal.

Follow us

Sejak itu, saya mulai fokus pada cara alami meningkatkan dopamin: supaya bisa tidur tenang, saya paksakan olahraga meski rasa sakit tak terhingga, saya seleksi makanan dengan menu khusus yang dapat memicu produksi dopamin, sederhana tapi esensial seperti biji-bijian, kacang mede, ati ayam, daging dan berbagai macam ikan. Saya hanya makan karbohidrat saat makan siang, pagi dan malam saya cukup puas dengan makan buah dan sayur. 

Meski selama sakit, sehari-hari saya hanya berbaring, sebagai jurnalis, saya disiplinkan diri mencatat semua kegiatan harian untuk melihat apakah terapi yang saya buat, bisa memberikan perubahan. Terapi perbaikan posisi tulang memungkinkan saya untuk mulai melakukan olahraga sepeda statis. 

Perlahan tapi pasti, seiring dengan meningkatnya suplai dopamin dalam tubuh, saya mulai bisa mengontrol emosi, meningkatkan kemampuan memori, kabut otak mulai hilang, tidur mulai nyaman karena rasa haus tak lagi menyerang. Dugaan saya, rasa haus yang berlebihan pada penderita ADHD adalah salah satu sinyal yang diberikan tubuh, sebagai indikasi krisis dopamin pada otak akibat rasa sakit yang sangat dan insomnia yang kronik. 

Penemuan ini saya sampaikan kepada dokter, mereka terkesima karena saya bisa dengan jelas menuturkan dan menjelaskan proses penemuan saya, bagaimana saya mencoba bangkit dan mengatasi masalah ini secara natural dan disiplin mencatat semua perkembangannya. 

Dokter berkata bahwa ini adalah salah satu cara paling efektif untuk mengatasi ADHD dan dia juga memuji saya untuk tetap solid, menjadi pribadi yang sepenuhnya memiliki kedaulatan pada kebutuhan dasar dan keluar dari krisis dengan cara paling instingtif tapi sekaligus intelek.

Pendapat dokter ini didengar juga oleh suami yang hadir mendampingi. Dokter memuji saya sebagai pasien yang benar-benar komit mencari penyembuhan yang konkrit, tak sekedar mencari solusi dari segi fisik, tapi juga mental, intelektual  dan spiritual. 

Mendengar itu, suami mendukung penuh. Keluarga besar dan anak-anak kami beri tahu bahwa orang dengan ADHD tidak akan berfungsi penuh di pagi hari, karena ADHD memiliki gen pemburu yang aktif di malam hari, oleh karena itu, di pagi hari, suami mengambil alih situasi.

Ia menyiapkan sarapan dan mengantar anak. Saya mulai menjalankan fungsi sebagai istri, setelah suami dan anak-anak keluar dari rumah. Saya membagi waktu, yaitu pekerjaan intelektual siang hari, aktivitas fisik seperti beberes dan olahraga di malam hari setelah semua tugas rutin dan makan malam selesai. Saya juga mengambil keanggotaan pusat kebugaran untuk jam malam, menyesuaikan ritme tubuh saya dan ternyata tarifnya lebih ekonomis.

Saya cukup beruntung, kini saya dikelilingi orang-orang yang tepat. Saya memiliki tim kerja dan sahabat dekat yang sangat mendukung dalam hal membantu disiplin saya, menyesuaikan jadwal pekerjaan dan pertemuan, sehingga saya bisa tetap produktif tanpa stres.

Sementara itu, saya semakin sering menemukan orang dengan symptom ADHD dan saya langsung bisa mengenali “frekuensi” nya sehingga kami menjadi satu koneksi yang solid dan saya sebut “ADHD Soultribe”. Saya kerap menjadi rujukan bagi teman dan orang tua murid yang menghadapi situasi serupa.

Pelajaran terpenting: ADHD bukan penyakit. Ini adalah kondisi otak yang berbeda atau disebut neurodivergent, cara kerjanya unik, tak sama dengan otak kebanyakan atau neurotypical. 

Kelemahannya yang paling distingtif: Otak ADHD memproduksi dopamin lebih rendah, jadi gaya hidup dan lingkungan yang mendukung sangatlah penting. Kelebihan lain, ADHD  memiliki empati tinggi, kemampuan hyperfocus, dan potensi jenius yang harus dilindungi dari orang abusif (toxic).

Sahabat Ruanita, ini pesan untuk perempuan lain. Pertama, saya berpendapat bahwa ADHD adalah anugerah, bukan kelemahan. Segera juga lindungi diri dari orang yang toksik atau manipulatif. Ketiga, menurut saya, pentingnya untuk mencari lingkungan yang juga ADHD dan teman yang mendukung. Terakhir, saya pikir adalah disiplin diri sebagai kunci untuk thrive.

Seandainya saya tahu sejak dulu, mungkin saya bisa lebih cepat menemukan perlindungan dan lingkungan yang tepat. Namun, sekarang saya bersyukur. Saya merasa hidup ini indah, layak diperjuangkan. Saya bukan produk gagal, melainkan saya adalah produk langka.

Terima kasih, hidup telah mengajarkan saya untuk bangga menjadi diri sendiri.

Penulis: Rieska, jurnalis Indonesia yang tinggal di Italia dan dapat dikontak via akun instagram ri3ska.

(PODCAST RUMPITA) Menembus Dunia Hospitality Global: Cerita Inspiratif dari Bandung ke Swiss

Program diskusi bulanan Audio Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, kembali hadir dengan diskusi inspiratif lintas negara. Dipandu oleh Anna, host Podcast yang menetap di Jerman, episode kali ini mengangkat tema yang semakin relevan di era global: dunia hospitality, kepemimpinan, dan entrepreneurship.

Seperti biasa, Anna didampingi oleh relawan Ruanita Indonesia lainnya, Griska Gunara, yang saat ini berdomisili di Inggris (UK). Pengalaman panjang Griska di dunia kerja internasional membuat diskusi terasa lebih kaya dan kontekstual.

Griska membuka diskusi dengan refleksi pengalamannya di industri hospitality sejak pertengahan 2000-an. Menurutnya, hospitality memang berakar pada pelayanan, namun praktiknya sangat bergantung pada budaya, regulasi, dan standar di masing-masing negara.

Diskusi pun semakin menarik ketika Anna memperkenalkan tamu spesial dari Swiss, sosok muda Indonesia yang tengah menekuni dunia hospitality secara akademik dan praktis.

Informan yang diundang adalah Diva Arya Saskia Putri, mahasiswa Magister Hospitality, Entrepreneurship, and Innovation di Glion Institute of Higher Education, Swiss. Diva merupakan penerima Beasiswa LPDP, alumni Bandung, sekaligus Ketua PPI Swiss–Liechtenstein periode 2024–2025.

Tak hanya aktif secara akademik dan organisasi, Diva juga dikenal sebagai figur muda inspiratif yang memadukan dunia studi, kepemimpinan, dan bisnis digital.

Dalam diskusi, Diva membagikan perjalanan pendidikannya yang tidak instan. Keinginannya untuk kuliah di luar negeri sudah tumbuh sejak SMA. Ia akhirnya memilih International Class di ITB, dengan satu tahun masa studi di Inggris. Latar belakang akademiknya adalah business school, yang sama sekali belum bersinggungan langsung dengan hospitality.

Meski begitu, ketertarikannya pada dunia kuliner, traveling, dan pariwisata terus terpendam. Setelah lulus S1 di usia yang sangat muda, sekitar 19 tahun, Diva memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu, sesuai arahan orang tua, demi memahami dunia profesional sebelum benar-benar terjun membangun bisnis sendiri. Ia menghabiskan hampir lima tahun bekerja di dunia startup dan e-commerce di Jakarta sebelum akhirnya kembali mengejar mimpi lamanya: menempuh pendidikan hospitality di Swiss.

Sebagai mahasiswa magister, ketua organisasi pelajar, sekaligus pebisnis, Diva mengakui pentingnya manajemen waktu. Ia membagikan prinsip sederhana namun konsisten yang ia pegang. Menurutnya, semua orang memiliki 24 jam yang sama. Perbedaannya terletak pada bagaimana waktu tersebut dikelola. Ia membagi hari menjadi tiga bagian besar: waktu tanggung jawab (belajar atau bekerja), waktu istirahat, dan waktu personal yang menentukan kualitas hidup.

“Lima jam sisa itu yang bikin perbedaan. Mau dipakai untuk berkembang atau habis untuk scrolling,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya to-do list harian, kalender digital, dan evaluasi rutin sebelum tidur untuk menjaga produktivitas tanpa kehilangan keseimbangan hidup.

Pengalaman lintas negara memberi Diva perspektif baru tentang hospitality. Menurutnya, setiap negara memiliki cara berbeda dalam memberikan layanan. Swiss, yang kerap disebut sebagai “jantung hospitality dunia”, memberikan kesan mendalam baginya.

Salah satu pengalaman paling berkesan adalah kunjungan ke sebuah vila retreat di Swiss yang menerapkan konsep disconnect from technology. Para tamu diajak kembali menyatu dengan alam, tanpa internet, tanpa distraksi digital.

“Di situ aku sadar, hospitality bukan cuma soal profit, tapi juga sustainability, lingkungan, dan memberi dampak ke masyarakat,” tuturnya dengan emosional.

Menutup diskusi, Diva menyoroti tren besar di industri hospitality dan bisnis: AI, big data, dan personalisasi layanan. Menurutnya, hospitality modern menuntut empati yang didukung teknologi, mengenal tamu lebih dalam bahkan sebelum mereka datang.

Ia juga berpesan kepada generasi muda bahwa menjadi entrepreneur tidak selalu berarti langsung membangun bisnis besar. Entrepreneur adalah mindset: berani mengambil risiko, memahami diri sendiri, dan terus belajar.

“Sebelum melangkah, kenali diri kita. Lakukan assessment, pahami kekuatan dan kelemahan. Dari situ baru tentukan strategi,” pungkasnya.

Simak selengkapnya diskusi berikut ini di kanal SPOTIFY RUMPITA dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Ruang, Rasa, dan Identitas: Menjadi Perempuan Indonesia di Belanda

Halo, sahabat Ruanita! Saat pertama kali datang ke Belanda, saya dibuat terheran-heran. Kota tempat saya tinggal sebenarnya cukup modern, tapi suasananya begitu tenang, nyaris sunyi. Tidak ada suara klakson, tidak ada pedagang yang berteriak, hanya angin dingin dan suara burung dari kejauhan.

Suatu pagi, saya memberanikan diri keluar rumah sendirian untuk belanja ke supermarket. Sepanjang jalan, orang-orang yang saya temui tersenyum dan menyapa, “Hallo!” atau “Goedemorgen!” Sapaan sederhana itu membuat hati saya terasa hangat. Ada rasa diterima. Ada rasa bahwa, meskipun saya baru saja datang dari negeri tropis yang jauh, saya sudah disambut di sini.

Belanda memang negeri para pesepeda. Di jam-jam tertentu, jalanan dipenuhi anak-anak sekolah, pekerja, dan ibu rumah tangga yang bersepeda dengan tenang. Saya jarang sekali mendengar suara bising kendaraan. Kehidupan di sini berjalan dengan teratur dan rapi, tapi tidak kehilangan sisi kemanusiaan yang lembut.

Seiring waktu, saya menyadari bahwa banyak jejak Indonesia tertinggal di negeri ini. Hubungan sejarah panjang antara Indonesia dan Belanda tampak di berbagai ruang publik. Nama-nama jalan, gedung, bahkan tempat makan banyak yang menggunakan istilah Indonesia.

Di kota Utrecht, tempat saya tinggal, ada satu kawasan bernama Lombok. Kawasan ini penuh dengan nama jalan seperti Bandoengstraat, Javastraat, dan Kalimantanstraat. Saat melintasinya, saya merasa seperti sedang berjalan di tengah kenangan, riuhnya lalu lintas, aroma kopi, dan keriangan suasana yang mengingatkan saya pada Pasar Baru di Bandung.

Tak jauh dari sana, ada pula rumah-rumah lansia untuk warga keturunan Indonesia, dengan nama yang juga beraroma tanah air: Roemah Nusantara, Mandala, dan lainnya. Nama-nama itu seolah menjadi pengingat bahwa akar budaya Indonesia tetap hidup di negeri ini, bahkan di antara generasi yang sudah lama menetap di Belanda.

Meskipun jauh dari tanah air, saya tetap berusaha menjadikan rumah sebagai tempat yang berjiwa Indonesia. Dinding rumah dihiasi kain batik, ukiran kayu, dan hiasan wayang kecil yang saya bawa dari Yogyakarta. Di ruang makan, aroma rempah dari dapur selalu menguar, membawa kenangan masa kecil.

Bagi saya, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga ruang untuk menjaga jati diri. Setiap tamu yang datang, baik orang Belanda maupun teman dari negara lain, langsung tahu asal saya. “Wah, rumahmu hangat sekali!” kata mereka. Saya hanya tersenyum. Mungkin, yang mereka rasakan bukan sekadar hangatnya ruangan, tapi juga kehangatan budaya yang saya bawa dari tanah air.

Tinggal di negeri orang tidak berarti harus mengubah diri menjadi orang lain. Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia berarti tetap menjaga kehormatan, kesantunan, dan kelembutan dalam bersikap. Saya berusaha untuk tetap berpenampilan sopan, ramah dalam berbicara, dan menghormati setiap orang. Nilai-nilai ketimuran itu saya pegang erat, bahkan ketika berhadapan dengan budaya yang lebih terbuka dan bebas seperti di Eropa.

Saya tidak ingin menjadi “kebarat-baratan”. Sebaliknya, saya belajar untuk menyaring setiap pengaruh baru. Ambil yang baik, buang yang tidak sesuai dengan nilai yang saya yakini. Ketika menghadiri acara keluarga besar suami atau pertemuan kantor, saya sering mengenakan batik atau kebaya sederhana. Banyak yang memuji keanggunan busana Indonesia. Saya merasa bangga, tanpa perlu banyak bicara, orang bisa melihat jati diri saya dari cara berpakaian dan bertutur.

Bahasa Indonesia selalu menjadi jembatan kehangatan, terutama saat berkumpul dengan sesama orang Indonesia di Belanda. Kami bisa tertawa bersama, berbagi cerita, dan seolah jarak ribuan kilometer dengan tanah air menghilang begitu saja. Suami saya pun kini sedang belajar bahasa Indonesia. Kadang ucapannya masih terbata-bata, tapi itu justru membuat suasana rumah semakin hangat. Ia bilang, “Kalau bisa berbicara bahasamu, aku bisa lebih memahami hatimu.” Saya tersenyum mendengar itu. Ternyata, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah bentuk cinta.

Saya juga membawa tradisi berbagi makanan ke lingkungan tempat tinggal kami. Setiap Ramadan dan Idul Fitri, saya memasak rendang, ketupat, atau kue kering untuk tetangga. Mereka sangat menyukainya! Kadang mereka pun membalas dengan kue khas Belanda seperti appeltaart atau stroopwafel. Pertukaran ini menjadi jembatan kecil yang mempererat hubungan kami.

Tidak ada yang lebih mudah menyatukan dua budaya selain makanan. Saya percaya, aroma dan rasa memiliki bahasa universal yang bisa dimengerti siapa pun.

Orang Belanda sangat akrab dengan masakan Indonesia. Banyak dari mereka tumbuh dengan cerita atau kenangan tentang nasi goreng, sate, atau rijsttafel yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Saya sering mengadakan acara memasak kecil di rumah. Tetangga-tetangga saya penasaran bagaimana cara membuat sambal atau gado-gado. Saat saya menunjukkan rempah seperti lengkuas, daun jeruk, dan serai, mereka terpesona oleh aromanya. “Inilah rahasia kelezatan Asia Tenggara,” saya bercanda.

Selain itu, saya dan suami rutin mengunjungi Tong Tong Fair atau Pasar Indonesia, dua acara besar yang menampilkan budaya dan kuliner Indonesia di Belanda. Di sana, suasananya benar-benar seperti pasar di Indonesia: ramai, penuh tawa, dan wangi sate yang menggoda. Saya selalu merasa seperti pulang ke rumah, meski hanya untuk satu hari.

Tahun-tahun pertama di Belanda bukan tanpa tantangan. Cuaca dingin, bahasa yang sulit, dan rasa sepi sempat membuat saya merasa terasing. Ada masa di mana saya hanya berdiam di rumah dan menatap salju jatuh di luar jendela sambil menahan rindu pada keluarga di tanah air.

Namun, perlahan semuanya berubah. Saya mulai mengikuti kursus bahasa, bergabung dengan komunitas perempuan Indonesia, dan aktif dalam kegiatan sosial. Dari situ, saya belajar bahwa adaptasi bukan berarti kehilangan jati diri, tetapi menemukan keseimbangan antara dua dunia.

Sekarang, saya sudah merasa lebih “menyatu”. Saya bisa berbicara bahasa Belanda dengan percaya diri, memiliki teman dari berbagai bangsa, dan tetap menjaga hubungan erat dengan keluarga di Indonesia. Setiap panggilan video dengan keluarga selalu mengingatkan saya bahwa jarak tidak mampu memutus rasa cinta.

Sebagai perempuan Indonesia di Belanda, saya belajar bahwa budaya bukan sesuatu yang kaku. Budaya bisa tumbuh, beradaptasi, dan menyatu dengan lingkungan baru, asal kita tetap menjaga akarnya.

Saya mengagumi perempuan Belanda yang mandiri dan percaya diri. Mereka tidak takut berpendapat dan mengambil keputusan. Dari mereka, saya belajar arti keberanian. Namun dari budaya saya sendiri, saya belajar arti kelembutan dan empati. Dua hal ini: barat dan timur, yang kemudian saya padukan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia di luar negeri berarti menjadi jembatan: antara masa lalu dan masa kini, antara timur dan barat, antara tradisi dan modernitas.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda bukan hanya soal sejarah, tapi juga soal kemanusiaan yang terus terjalin hingga kini. Banyak warga Belanda yang menaruh minat besar terhadap Indonesia. Dalam setiap perbincangan, mereka selalu antusias bertanya tentang batik, Bali, atau kuliner Nusantara.

Saya senang berbagi cerita. Kadang dalam percakapan santai, saya menyisipkan filosofi hidup orang Indonesia, seperti gotong royong, rasa syukur, dan pentingnya keluarga. Mereka terkesan, karena di tengah dunia yang semakin individualistis, nilai-nilai itu terasa menyegarkan.

Beberapa kali saya juga diundang berbicara di acara komunitas lokal untuk mengenalkan budaya Indonesia. Dari situ saya belajar, bahwa menjaga budaya bukan selalu dengan hal besar, tapi bisa dimulai dari percakapan sederhana dan sikap sehari-hari.

Kini, setelah bertahun-tahun tinggal di Belanda, saya semakin sadar bahwa koneksi budaya bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang cara kita menjaganya hari ini.

Rumah kecil saya di Utrecht bukan sekadar tempat tinggal. Utrecht adalah ruang di mana dua budaya bertemu dan berdialog setiap hari. Di ruang makan, aroma rendang bertemu dengan roti gandum. Di ruang tamu, batik berpadu dengan vas bunga tulip. Di hati saya, cinta terhadap Indonesia tumbuh berdampingan dengan rasa syukur atas kehidupan baru di Belanda.

Sebagai perempuan perantau, saya hanya berharap agar kita semua, perempuan Indonesia di mana pun berada, tetap bangga dengan akar budaya sendiri. Kita boleh belajar dan beradaptasi, tetapi jangan pernah kehilangan rasa hormat dan kesantunan yang menjadi ciri khas kita.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda telah melewati masa panjang. Kini, saatnya kita membangunnya kembali dengan semangat baru: semangat kesetaraan, saling menghormati, dan saling belajar.

Karena di ujungnya, koneksi budaya bukan hanya tentang sejarah yang kita warisi, tetapi tentang cara kita menciptakan jembatan antarhati, dengan senyum, keramahan, dan cinta yang tidak mengenal batas waktu maupun jarak.

Di negeri orang, saya belajar bahwa menjadi perempuan Indonesia bukan sekadar tentang dari mana saya berasal, tetapi tentang bagaimana saya membawa kehangatan, kesantunan, dan cinta dari tanah air ke mana pun saya melangkah.

Penulis: Ristiyanti Handayani, tinggal di Belanda dapat dikontak via akun facebook Ristiyanti Handayani.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Berhasil Perkuat Kesiapan Profesional dan Interkultural Perawat Indonesia di Negara Berbahasa Jerman

Berlin, 28 Juni – Workshop online bertajuk “Praktik Nyata Perawat Indonesia di Eropa” sukses diselenggarakan dalam dua sesi pada Minggu, 28 Juni 2026 dan Minggu, 5 Juli 2026, pukul 10.00–12.00 CEST, melalui platform Zoom Meeting yang difasilitasi oleh Ruanita Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan Henny Silalahi, dosen keperawatan di Jerman, sebagai pemateri utama, dengan fokus pada penguatan kompetensi profesional, komunikasi klinis, serta kesiapan interkultural bagi perawat Indonesia yang bekerja atau akan berkarier di negara-negara berbahasa Jerman seperti Jerman, Swiss, dan Austria.

Workshop ini terbuka bagi perawat Indonesia dari berbagai jalur karier, termasuk mereka yang sedang mempersiapkan keberangkatan ke Jerman untuk meniti profesi keperawatan. Dengan pendekatan berbasis bukti (evidence-based insight), simulasi kasus nyata, dan refleksi pengalaman peserta, kegiatan ini dirancang untuk menjawab tantangan riil yang dihadapi perawat migran Indonesia di Eropa.

Selama ini, dunia keperawatan antarbudaya lebih banyak menekankan sisi administrasi dan kompetensi bahasa asing saja, padahal praktik nyata lebih daripada itu. Workshop daring ini menjawab kebutuhan komunikasi dan kompetensi yang masih ada gap di antara perawat-perawat di negara berbahasa Jerman.

Pada sesi pertama, workshop dibuka secara resmi oleh Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Berlin, Bapak Fajar Wirawan Harijo. Bapak Fajar Wirawan Harijo mengapresi ruang-ruang digital yang dibangun oleh Ruanita Indonesia untuk menyediakan ruang belajar sesama orang Indonesia, seperti workshop daring keperawatan antarbudaya. Ia menilai program ini bisa terus dilanjutkan di kemudian hari untuk membantu para perawat Indonesia beradaptasi dengan situasi negara tujuan, seperti Jerman.

Di hari pertama, peserta mendalami tema Intercultural Nursing Practice (Indonesia vs Jerman) yang membahas perbedaan budaya kerja, pola komunikasi, otonomi pasien, serta tanggung jawab hukum perawat di sistem kesehatan Jerman. Diskusi berkembang pada dinamika hubungan profesional antara tenaga kesehatan, termasuk bagaimana gaya komunikasi langsung dalam budaya Jerman dapat dipersepsikan berbeda oleh tenaga kesehatan asal Indonesia.

Sesi kedua mengangkat topik Clinical Communication & Workplace Survival, yang menitikberatkan pada keterampilan komunikasi efektif di lingkungan klinis, termasuk penggunaan metode SBAR, interaksi dengan pasien lansia, hingga strategi menghadapi konflik komunikasi dalam tim interprofesional. Peserta juga mengikuti simulasi handover dan latihan kalimat klinis yang relevan untuk konteks rumah sakit di Jerman.

Setiap sesi dirancang selama dua jam dengan struktur pembelajaran 20 persen konsep inti, 50 persen studi kasus dan simulasi, serta 30 persen diskusi dan refleksi pengalaman. Model ini memungkinkan peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh alat praktis yang dapat diterapkan langsung di tempat kerja.

Sebagai luaran, peserta memperoleh berbagai perangkat pendukung seperti checklist adaptasi budaya klinis, template komunikasi praktis, serta kumpulan frasa kunci yang umum digunakan dalam pelayanan kesehatan di Jerman.

Anna Knöbl, Founder Ruanita Indonesia, yang turut mengoordinasikan jalannya kegiatan, menegaskan bahwa workshop ini lahir dari kebutuhan nyata komunitas perawat Indonesia di Eropa.

“Perawat Indonesia di negara-negara berbahasa Jerman membutuhkan ruang belajar yang tidak hanya membahas teori, tetapi juga praktik nyata di lapangan. Workshop ini menjadi jembatan untuk memperkuat kesiapan profesional, adaptasi budaya, dan strategi karier yang realistis bagi mereka,” ujar Founder Ruanita Indonesia, Anna Knöbl yang tinggal di Jerman. Lebih lanjut Anna menekankan pentingnya kolaborasi lintas budaya dalam membangun ekosistem pendukung bagi tenaga kesehatan migran.

“Kami ingin menghadirkan forum yang relevan dan berdampak langsung. Tantangan terbesar bukan hanya bahasa, tetapi bagaimana memahami sistem kerja, komunikasi profesional, dan budaya klinis yang berbeda. Inilah kompetensi yang perlu dipersiapkan sejak awal,” jelas Anna Knöbl sekali lagi. Melalui workshop ini, diharapkan peserta menjadi lebih siap menghadapi culture shock, mampu berkomunikasi lebih efektif di rumah sakit, serta memiliki strategi karier yang lebih terarah di negara-negara berbahasa Jerman.

Keberhasilan penyelenggaraan program ini menandai semakin pentingnya ruang pengembangan kapasitas bagi tenaga kesehatan Indonesia di ranah global, sekaligus membuka peluang untuk penyelenggaraan program lanjutan yang lebih spesifik sesuai kebutuhan komunitas profesional Indonesia di Eropa.

(CERITA SAHABAT) Bulutangkis, Persahabatan, dan Keluarga Kedua di Dubai

Halo, sahabat Ruanita! Saya sudah hampir 14 tahun, tinggal di Dubai. Rasanya waktu berjalan begitu cepat sejak pertama kali menjejakkan kaki di kota yang megah sekaligus ramah ini. Saya datang sebagai seorang ibu rumah tangga yang mengikuti suami bekerja di luar negeri. 

Awalnya, kehidupan di tanah rantau tentu penuh penyesuaian. Namun, pelan-pelan saya belajar bahwa kunci untuk bertahan bukan hanya soal mengurus rumah atau keluarga, tetapi juga bagaimana saya bisa menemukan ruang untuk diri sendiri, tempat untuk berkembang, sehat, bahagia, sekaligus menjalin persahabatan.

Saya, Utari Giri, akhirnya menemukan ruang itu melalui bulutangkis. Sebuah olahraga yang sebelumnya tidak terlalu saya kenal, tetapi kini menjadi bagian penting dalam hidup saya. Lebih dari sekadar olahraga, bulutangkis telah membawa saya pada perjalanan yang penuh makna, membentuk komunitas yang kini saya sebut keluarga kedua: Indonesian Ladies Badminton (ILB) di Dubai.

Ceritanya sederhana. Dulu, di akhir pekan, kami sering bermain bulutangkis bersama keluarga. Para suami libur kerja, anak-anak ikut berlarian, sementara para istri mencoba ikut memukul kok sekadar untuk mengisi waktu. Lama-kelamaan, muncul ide dalam hati saya: kenapa tidak dibuat lebih rutin? Kenapa tidak ada wadah khusus bagi perempuan Indonesia di Dubai yang ingin bermain bulutangkis di luar akhir pekan?

Saya pun mengajak beberapa ibu untuk berlatih bersama. Ternyata sambutannya sangat positif. Banyak yang ingin ikut, bahkan ada yang baru pertama kali mencoba olahraga ini. Dari situlah, pada tanggal 26 Mei 2022, lahirlah Indonesian Ladies Badminton (ILB).

Sejak saat itu, bulutangkis bukan lagi sekadar kegiatan pengisi waktu luang, melainkan menjadi rutinitas yang saya dan teman-teman nantikan setiap minggu. Lucunya, saya sendiri baru benar-benar mengenal olahraga ini setelah ILB berdiri. Namun, entah kenapa, saya langsung jatuh cinta.

Sebelum ada ILB, kebersamaan perempuan Indonesia di Dubai sering terwujud dalam kegiatan arisan atau makan-makan. Menyenangkan, tentu saja, tetapi ada rasa yang kurang. Kami butuh aktivitas yang tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga memberi manfaat bagi tubuh dan pikiran.

Bulutangkis ternyata menjawab semua itu. Olahraga ini relatif mudah dipelajari, cepat membakar kalori, dan tidak semahal olahraga lain yang membutuhkan perlengkapan khusus. Namun, lebih dari itu, bulutangkis membuat kami bergerak, tertawa, berteriak bersama di lapangan. Menurut saya, ini sebuah kombinasi yang luar biasa untuk melepas stres.

Pada awalnya, kami berlatih hanya sekali seminggu, setiap hari Kamis. Namun, semakin hari semakin banyak yang ketagihan. “Kok rasanya kurang kalau hanya seminggu sekali,” begitu komentar beberapa teman. Akhirnya, sejak dua tahun terakhir, jadwal bertambah menjadi dua kali seminggu: Selasa dan Kamis.

Tempat latihan pertama kami adalah Zabeel Sport District, tepat di seberang Dubai Mall. Tempat itu punya kenangan yang tidak akan pernah terlupakan. Saya sering menyebutnya sebagai “rumah pertama” ILB. Sayangnya, satu minggu sebelum ulang tahun ILB yang ketiga, tempat itu tutup. Kami sempat sedih, tetapi latihan harus jalan terus. Kini, kami berlatih di Danube Sport World, semacam “rumah baru” ILB yang tak kalah hangat.

ILB terbuka untuk semua perempuan Indonesia di Dubai. Tidak ada syarat khusus selain niat untuk sehat dan semangat untuk konsisten. Hingga kini, anggota aktif kami lebih dari 30 orang, semuanya perempuan dengan rentang usia antara 25 hingga 50 tahun lebih. Mayoritas ibu rumah tangga, tetapi ada juga yang bekerja, bahkan beberapa masih lajang.

Yang membuat saya bangga, meskipun latar belakang berbeda-beda, semangat kami sama: ingin sehat, ingin punya teman, dan ingin bahagia.

Bagi saya pribadi, bulutangkis punya makna yang lebih dalam daripada sekadar olahraga. Dari sini, saya belajar banyak hal: bagaimana bekerja sama dengan pasangan bermain di lapangan, bagaimana menahan ego, bagaimana berpikir cepat untuk mengembalikan kok agar lawan sulit menerima.

Setiap pertandingan, entah menang atau kalah, selalu ada pelajaran tentang sportifitas. Menang tidak boleh membuat sombong, kalah pun tidak boleh membuat putus asa. Pelajaran ini ternyata juga berguna dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bersosialisasi dengan teman-teman.

Namun, yang paling berharga adalah bagaimana ILB menjadi tempat untuk melepas penat. Saat rutinitas rumah tangga terasa melelahkan, bermain bulutangkis bersama teman-teman seperti mengisi ulang baterai. Tertawa bersama di lapangan adalah terapi yang tidak bisa digantikan. ILB bagi saya dan teman-teman bukan sekadar komunitas, melainkan keluarga. Tiga tahun bersama, bertemu dua kali seminggu, sudah cukup untuk menumbuhkan ikatan yang dalam.

Tentu saja, tidak selalu mulus. Ada kalanya terjadi perbedaan pendapat atau ketegangan kecil. Namun, ketika kami ingat bahwa ILB adalah keluarga, semua bisa diredakan. Justru dari situlah kami belajar saling memahami. Solidaritas kami juga teruji di luar lapangan. Ketika ada anggota yang sakit atau keluarganya berpulang, selalu ada perwakilan yang hadir untuk memberi dukungan. Kalau ada kesulitan, biasanya teman-teman cerita langsung ke saya. Kadang saya simpan, kadang saya bagikan ke grup agar kita bisa mencari solusi bersama.

Selain itu, kami punya kebiasaan kecil yang ternyata sangat berarti: setelah latihan, biasanya kami makan siang bersama di rumah makan Indonesia. Di sanalah muncul diskusi ringan tentang anak, keluarga, pertemanan, bahkan pekerjaan. Dari obrolan santai itu, sering muncul ide-ide baru yang memperkaya kami.

Dubai, menurut saya, adalah kota yang ramah perempuan. Jadi sebenarnya tidak ada tantangan besar untuk perempuan Indonesia tinggal di sini. Justru komunitas-komunitas seperti ILB membuat hidup semakin mudah.

Mungkin kendala yang ada hanya soal waktu. Sebagian besar anggota adalah ibu rumah tangga dengan rutinitas antar jemput anak sekolah. Itulah kenapa jam latihan kami dipilih pukul 10.00 hingga 12.00, agar tetap ada waktu menjemput anak pulang. Kadang saat musim ujian, anak-anak pulang lebih awal, sehingga beberapa teman harus rela absen.

Namun, dukungan keluarga sangat besar. Tidak pernah ada cerita suami yang melarang istrinya bermain bulutangkis. Malah banyak yang mendorong. Saya percaya, melihat istri sehat dan bahagia juga membuat suami dan anak-anak ikut senang.

Ada begitu banyak momen indah bersama ILB. Setiap tahun, kami punya agenda rutin: tukar kado di awal tahun, buka puasa bersama, halal bihalal, ulang tahun ILB, hingga perayaan hari kemerdekaan. Semua acara itu selalu penuh tawa dan meninggalkan kenangan manis.

Kami juga sering mengikuti turnamen. Dua kali kami bertanding persahabatan dengan komunitas ibu-ibu Indonesia di Abu Dhabi. Kami juga rutin ikut turnamen KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai setiap perayaan hari kemerdekaan. Puncaknya, pada Februari 2025, kami berangkat ke Muscat, Oman, untuk mengikuti Indonesian GCC Tournament. Itu adalah turnamen persahabatan antara orang Indonesia di Timur Tengah. Kami bangga sekali bisa mewakili tim perempuan dari Uni Emirat Arab.

Saya selalu berharap ILB bisa terus menjadi wadah yang menginspirasi perempuan Indonesia di Dubai untuk peduli kesehatan, bergerak, berolahraga, dan tentu saja, menjalin persahabatan.

Saya ingin semakin banyak perempuan bergabung, tetapi dengan niat yang tulus. “Jangan hanya untuk eksis,” begitu pesan saya. Datanglah karena memang ingin berlatih, ingin sehat, ingin bahagia.

Moto kami sederhana: Health – Friendships – Happiness. Dari tiga kata ini saja sudah terlihat bahwa ILB adalah tempat yang tepat untuk siapa pun yang baru datang ke Dubai dan ingin menemukan keseimbangan hidup.

Kalau saya menoleh ke belakang, rasanya ajaib bagaimana bulutangkis bisa membawa perubahan besar dalam hidup saya. Dari sekadar iseng bermain di akhir pekan, kini saya menjadi bagian dari komunitas yang berisi lebih dari 30 perempuan hebat.

Kami tidak hanya memukul kok di lapangan. Kami saling mendukung, saling menguatkan, dan saling menjaga. Di tanah rantau, jauh dari keluarga, kami menemukan rumah kedua.

Bagi saya, ILB bukan hanya tentang olahraga. Ini tentang persahabatan, solidaritas, dan kebahagiaan yang tumbuh dari hati.

Dan, bagi siapa pun perempuan Indonesia yang datang ke Dubai, pintu ILB selalu terbuka. Mari bergabung, mari bergerak, mari sehat bersama. Karena di sini, setiap pukulan kok adalah energi, setiap tawa adalah obat, dan setiap pertemuan adalah berkah.

Penulis: Utari Giri, founder Indonesian Ladies Badminton (ILB) di Dubai. Tinggal di Uni Emirat Arab. Dapat dihubungi melalui Instagram:@utarigiri.

(IG LIVE) Ketika Menjadi Janda Bukan Akhir Cerita: Belajar Memilih Empati di Hari Internasional Janda

Mungkin tidak banyak tahu kalau ada peringatan Hari Internasional Janda yang diperingati tiap 23 Juni. Tentunya, kami mengambil momen ini untuk para perempuan agar bisa bersuara tentang bagaimana pengalaman dan tantangannya dalam status pernikahan yang disebut janda tersebut. Bahkan status janda itu masih menjadi stigma sosial yang memang perlu terus disuarakan, seperti melalui program diskusi IG LIVE bulan Juni ini. Program ini berhasil mengundang Telda Hille, yang bercerai dari suaminya di Jerman dan Barbie Nouva, seorang perempuan Indonesia yang memilih menjadi Single Mom by Choice di Rumania.

Melihat perempuan sendirian bersama anak tampaknya masih memberikan pertanyaan pribadi, seperti: “Ayahnya mana?”; “Kok bisa jadi ibu tunggal?”; “Nggak kasihan anaknya?” dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu mungkin hanya basa-basi. Namun bagi perempuan yang sedang berjuang membesarkan anak seorang diri, setiap kalimat itu bisa menjadi pengingat bahwa masyarakat masih lebih mudah menghakimi daripada memahami.

Itulah benang merah yang mengalir sepanjang diskusi Instagram Live Ruanita Indonesia dalam rangka memperingati Hari Internasional Janda yang diperingati setiap 23 Juni. Selama hampir satu jam, dua perempuan Indonesia yang kini tinggal di Eropa membuka lembar kehidupan yang selama ini jarang diceritakan kepada publik. Bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk mengajak kita melihat bahwa di balik status “janda” atau “single mom” selalu ada kisah yang jauh lebih kompleks daripada apa yang tampak di permukaan.

Barbie menjadi orang pertama yang berbagi cerita. Dengan suara yang tenang, ia mengenang bagaimana impiannya membangun keluarga harus berubah arah ketika pasangan yang dicintainya meninggal dunia. Kepergian itu memang menghapus banyak rencana, tetapi tidak menghilangkan keinginannya untuk menjadi seorang ibu. Ia memilih melanjutkan mimpi tersebut melalui keputusan yang telah mereka rencanakan bersama. Keputusan yang bagi dirinya lahir dari cinta, tetapi bagi sebagian orang justru memunculkan banyak tanda tanya.

Menariknya, selama tinggal di Eropa, Barbie hampir tidak pernah merasa harus menjelaskan pilihan hidupnya kepada siapa pun. Tidak ada yang sibuk bertanya siapa ayah anaknya atau mengapa ia membesarkan anak sendirian. Orang-orang menghormati ruang pribadi dan percaya bahwa setiap keluarga memiliki cerita yang tidak harus diketahui orang lain.

Namun suasananya berubah ketika ia lebih sering berada di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan mulai berdatangan. Bukan sekali dua kali, tetapi hampir setiap kali bertemu orang baru. Dari mana ayah anaknya? Apakah masih berkomunikasi? Mengapa memilih jalan hidup seperti itu? Awalnya Barbie mencoba menjawab dengan sabar. Lama-kelamaan ia menyadari bahwa yang melelahkan bukanlah memberikan penjelasan, melainkan menghadapi rasa ingin tahu yang seolah tidak ada habisnya.

Meski demikian, ia tidak pernah mengatakan bahwa membesarkan anak seorang diri adalah perjalanan yang mudah. Ada saat-saat ketika putranya mulai membutuhkan figur laki-laki dalam kehidupannya. Beruntung, ia memiliki saudara laki-laki yang hadir sebagai teladan bagi sang anak. Dukungan keluarga dan sahabat terdekat menjadi pengingat bahwa seorang ibu tidak harus menjalani semuanya sendirian. Kadang, kekuatan datang dari orang-orang yang memilih tinggal ketika yang lain hanya datang untuk bertanya.

Cerita berikutnya datang dari Telda. Jika Barbie berbicara tentang kehilangan, maka Telda berbicara tentang keberanian meninggalkan hubungan yang tidak lagi sehat. Saat memutuskan bercerai, anaknya masih sangat kecil. Di masa itu, ia bukan hanya harus menata ulang hidupnya, tetapi juga berusaha tetap menjadi tempat paling aman bagi buah hatinya.

Yang paling berat ternyata bukan proses perceraian itu sendiri. Yang jauh lebih menguras tenaga adalah komentar orang-orang di sekitarnya. Demi menjaga kesehatan mental, Telda memilih menutup akun media sosialnya. Ia tidak ingin setiap hari membaca penilaian dari orang-orang yang bahkan tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik rumah tangganya. Baginya, diam bukan berarti menyerah. Diam adalah cara bertahan agar dirinya tetap bisa menjadi ibu yang utuh bagi anaknya.

Di tengah masa yang penuh ketidakpastian itu, justru lingkungan tempat ia tinggal di Jerman menghadirkan pengalaman yang berbeda. Rekan kerja membantunya menemukan tempat perlindungan bagi perempuan. Teman-temannya bersedia menjaga anak ketika ia harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Tidak banyak pertanyaan yang diajukan. Yang lebih sering terdengar justru kalimat sederhana, “Apa yang bisa kami bantu?” Dukungan seperti itulah yang perlahan memulihkan rasa percaya dirinya.

Dalam diskusi tersebut, baik Barbie maupun Telda sama-sama menyoroti satu hal yang menurut mereka sangat membedakan pengalaman hidup di Eropa dan Indonesia, yaitu cara masyarakat memandang kehidupan pribadi seseorang. Di banyak negara Eropa, status sebagai ibu tunggal bukanlah identitas yang harus diperdebatkan. Sementara di Indonesia, status tersebut masih sering menjadi bahan penilaian sosial. Padahal tidak seorang pun benar-benar mengetahui luka, perjuangan, maupun alasan yang membawa seseorang sampai pada titik itu.

Ketika diminta menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia, Telda tidak berbicara tentang perubahan besar. Ia hanya mengajak kita belajar satu hal yang sederhana: empati. Menurutnya, masyarakat tidak harus selalu memiliki jawaban atas kehidupan orang lain. Tidak semua masalah membutuhkan komentar. Tidak semua kisah membutuhkan penilaian. Kadang seseorang hanya membutuhkan telinga yang mau mendengar dan hati yang bersedia memahami.

Ucapan itu terasa begitu emosional ketika Telda mengenang bagaimana komentar negatif yang pernah ia terima masih membekas hingga hari ini. Ia mengaku berusaha tidak menangis di depan orang lain karena ingin terlihat kuat. Namun sesampainya di rumah, semua rasa sakit itu tetap mencari jalannya sendiri. Saat itulah ia menyadari bahwa kata-kata dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat, tetapi sangat lama sembuhnya.

Meski demikian, keduanya sepakat bahwa alasan mereka terus melangkah selalu kembali kepada anak-anak mereka. Melihat anak tumbuh sehat, tertawa, bermain, dan menjalani hidup dengan bahagia menjadi sumber tenaga yang membuat semua perjuangan terasa berarti. Mereka tidak sedang mengejar pengakuan sebagai perempuan yang hebat. Mereka hanya ingin menjadi ibu yang hadir sepenuh hati bagi anak-anaknya.

Hari Internasional Janda pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang perempuan yang kehilangan pasangan. Hari ini mengingatkan kita bahwa di sekitar kita ada banyak perempuan yang setiap hari sedang bertarung melawan kesepian, stigma, dan berbagai prasangka yang tidak mereka pilih. Mungkin kita tidak mampu menghapus semua beban yang mereka pikul. Namun kita selalu punya pilihan untuk tidak menambah bebannya. Sebab sebelum mengajukan pertanyaan, mungkin kita perlu mengingat satu hal: setiap orang sedang membawa cerita yang tidak seluruhnya bisa kita lihat. Sering kali, bentuk kasih yang paling sederhana adalah memilih untuk mendengarkan, bukan menghakimi.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Seminar Daring Hari UMKM Internasional 2026

Jakarta, 27 Juni 2026 — Dalam rangka memperingati Hari UMKM Internasional, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan kegiatan diskusi daring bertajuk “Dari Nol ke Global, Cara Jitu Berwirausaha” pada Sabtu, 27 Juni 2026 melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan narasumber perempuan Indonesia yang memiliki pengalaman dan praktik baik dalam mengelola kewirausahaan di mancanegara.

Kegiatan diikuti oleh pelaku UMKM, perempuan wirausaha, akademisi, dan masyarakat umum di mana saja yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai penyusunan business plan, proses perizinan usaha di luar negeri, serta strategi membangun usaha di tingkat global.

Koordinator penyelenggara sekaligus moderator kegiatan, Griska Gunara, menyampaikan bahwa perempuan Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang dalam dunia kewirausahaan internasional apabila diberikan akses pengetahuan, jejaring, dan inspirasi yang tepat.

“Diskusi ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik perempuan Indonesia di berbagai negara agar semakin banyak perempuan berani memulai dan mengembangkan usaha hingga tingkat global,” ujar Griska Gunara.

Acara dibuka dengan motivasi dari Griska sendiri yang pernah menjadi pelaku usaha saat masih di Indonesia dulu. Dia berharap acara ini mendorong siapa saja dapat memanfaatkan keterampilan kejuruan dan teknologi digital sebagai bekal membangun usaha kreatif dan inovatif.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan sisi akademisi, Novy Anggaraini, PhD Student di Hungaria dan dosen ekonomi di Indonesia, menjelaskan pentingnya business plan sebagai fondasi dalam membangun usaha yang berkelanjutan. Ia juga menekankan perlunya adaptasi budaya bisnis dan penguatan kompetensi kewirausahaan bagi perempuan Indonesia yang ingin mengembangkan usaha di luar negeri.

Sementara itu, Winda Sulistiawati, perempuan wirausaha di Austria, berbagi pengalaman mengenai proses penyusunan business plan, pengajuan izin usaha, serta tantangan membangun usaha kuliner di Eropa, umumnya dan Austria, khususnya. Pada sesi berikutnya, Dewi Maya, perempuan wirausaha di Amerika Serikat dan owner brand tas “Dewi Maya”, memaparkan strategi pemasaran dan legalisasi usaha di Amerika Serikat.

Diskusi juga menghadirkan praktisi Dwi Kuntari, yang telah melakukan ekspor impor dengan brand Jamu Deka. Dia membagikan pengalaman dalam mengelola usaha “Jamu Deka” serta tantangan ekspor produk lokal Indonesia ke pasar internasional, seperti Italia.

Peserta terlihat antusias mengikuti sesi tanya jawab interaktif yang membahas peluang usaha global, tantangan adaptasi budaya bisnis, hingga strategi pemasaran digital untuk UMKM. Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia berharap semakin banyak perempuan Indonesia yang percaya diri untuk memulai usaha, memperluas jejaring kolaborasi, dan mengembangkan bisnis hingga tingkat internasional.

Anna Knöbl ingin memperkuat jaringan perempuan yang tertarik berwirausaha untuk membuat networking berkelanjutan yang saling mendukung lewat ruang digital yang diinisasi Ruanita Indonesia. Di masa berikutnya, Ruanita Indonesia akan membuat Networking para perempuan Indonesia di mana saja untuk bisa belajar satu sama lain dalam kewirausahaan.

(DATA) Peserta Kartini dalam Kewirausahaan dari 12 Negara Tahun 2026

Menindaklanjuti program “Kartini Masa Kini dalam Kewirausahaan” yang pernah dilaksanakan pada 2022 dan 2024 lalu, kami menggelarnya juga di tahun 2026 ini dengan menampilkan profil usaha dari teman-teman perempuan yang ada di luar Indonesia. Mereka tinggal di India, Singapura, Pakistan, Sri Lanka, Uni Emirat Arab, Islandia, Belanda, Austria, Irlandia, Italia, Turki, dan Amerika Serikat.

Tujuan dari program ini:

1. Menampilkan keragaman usaha/kreativitas yang dikelola oleh perempuan Indonesia sehingga menjadi inspirasi bagi siapa saja.

2. Menjadi “bank data” tentang keragaman usaha teman-teman perempuan di mancanegara yang dapat saling mendukung satu sama lain.

3. Membentuk jaringan sesama perempuan Indonesia di negeri rantau yang dimoderasi oleh Ruanita Indonesia.

INDIA

Nama lengkapTusini
Negara tinggalIndia
Nama Usaha/BrandTempe di Mumbai
Bidang UsahaKuliner
Media sosial pemilikFacebook: Sini Cj
Media sosial usahaInstagram :Tempedimumbai
Lama berwirausaha9 tahun / sejak 2017
Cerita singkat usahaUsaha tempe dan tahu saya bermula dari kerinduan akan makanan Indonesia yang sulit ditemukan di India, sekaligus keinginan membantu ekonomi keluarga dan menyediakan makanan sehat. Tempe dan tahu merupakan sumber protein nabati yang sangat dibutuhkan tubuh, sehingga memiliki nilai gizi yang baik untuk dikonsumsi sehari-hari.Dengan modal terbatas, saya memulai produksi kecil dari rumah dan terus belajar menjaga kualitas serta kebersihan. Meski menghadapi berbagai tantangan di awal, saya tetap semangat hingga pelanggan mulai percaya dan kembali membeli. Berkat dukungan suami dan kepercayaan pelanggan, usaha ini terus berkembang hingga sekarang.
Tantangan terbesar berwirausahaTantangan terbesar dalam usaha Tempe dan Tahu adalah keterbatasan modal, serta menjaga kualitas produksi. Pernah mengalami hasil produksi yang kurang baik atau bahkan gagal total, namun hal tersebut menjadi pelajaran untuk memperbaiki proses. Selain itu, membangun kepercayaan pelanggan juga tidak mudah di awal. Dari pengalaman ini, saya belajar pentingnya ketekunan, konsistensi, dan terus belajar agar usaha dapat berkembang.
Pesan untuk perempuan yang ingin berwirausahaUntuk perempuan Indonesia yang ingin berwirausaha, jangan takut memulai dari hal kecil. Tetaplah rajin, jujur, dan setia dalam setiap proses. Tentunya jangan lupa andalkan Tuhan dalam menghadapi tantangan, terus belajar, dan jaga kualitas usaha. Dengan ketekunan dan iman, usaha dapat berkembang dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Singapura

Nama lengkapNurhayati Anwar (Mam Sandra) 
Negara tinggalSingapura
Nama Usaha/BrandLiving Well Maid Agency Pte Ltd
Bidang UsahaJasa –  Penyalur resmi helper di Singapura
Media sosial pemilikInstagram/Facebook/TikTok mamsandra
Media sosial usahahttps://www.livingwellmaid.com 
Lama berwirausaha9 tahun / sejak 2017
Cerita singkat usahaSaya ingin helper dari Indonesia (PMI) di Singapura diperlakukan dengan baik di Singapura dan saya ingin Helper di Singapura dapat bekerja dengan baik untuk meraih mimpi-mimpinya. Motto: Matching Good Helper with Good Employers. 
Tantangan terbesar berwirausahaUntuk saya, tantangan untuk memotivasi saya untuk menjadi individu lebih baik secara individu dan bisnis. Berbicara mengelola Maid Agency, kita tidak hanya siapkan helper, tetapi juga memberikan yang terbaik kepada pemberi kerja. Tidak mudah, tetapi karena tekad saya yang kuat untuk bantu helper dan majikannya. Agency saya sampai saat ini dikenal sangat baik di Singapura, termasuk dari pemerintah Singapura, penerima (PMI) dan pemberi kerja di Singapura.
Pesan untuk perempuan yang ingin berwirausahaJust do. You never know if you never try and always give your best. Niat untuk bisnis harus benar, karena uang akan datang dengan sendirinya, jika kita bantu dengan baik. 

Pakistan

Nama lengkapAfriana Harahap
Negara tinggalPakistan
Nama Usaha/BrandLadies World
Bidang UsahaFashion (garmen dan perlengkapan wanita)
Media sosial pemilikInstagram usm.rina (Rina Usman)
Lokasi usahaPasar Utama di Distrik Rawalpindi, Pakistan
Lama berwirausahaSejak 2018
Cerita singkat usahaIni adalah usaha yang dikelola oleh suami-isteri. Setelah kedua putra beranjak besar, suami sudah berwirausaha dan memutuskan untuk mengajak saya agar mengelola kebutuhan sandang perempuan. 
Tantangan terbesar berwirausahaTidak ada
Pesan untuk perempuan yang ingin berwirausahaJangan banyak menuntut, jangan cepat mengeluh, dan jangan takut memulai dari nol!  Jika kita ikhlas, sabar, dan terus bergerak, jalan akan selalu terbuka.

Uni Emirat Arab

Nama lengkapMardiana Dwiliarossa 
Negara tinggalUni Emirat Arab Emirates (Dubai)
Nama Usaha/Brand@DwidiDubai 
Bidang UsahaDigital Kreatif (Socmed Licensed Permit No: 0873874)
Media sosial pemilikInstagram: @mardianadwi
Media sosial usaha@DwidiDubai 
Lama berwirausahaSejak Januari 2026
Cerita singkat usahaDua wanita konten kreator Indonesia @Nadyakelilingeropa @Winamawar yang menginspirasi saya untuk bisa membuat konten digital yang informatif dengan harapan dapat membantu audience untuk mendapatkan informasi yang akurat dan terpercaya seputar wisata meninggalkan kebenarannya. 
Tantangan terbesar berwirausahaMengemas suatu topik agar mudah diterima dan sesuai dengan panduan, dan dapat diterima dengan baik oleh audience melalui likes, share, dan repost. 
Pesan untuk perempuan yang ingin berwirausahaPercaya akan potensi besar dalam dirimu, yang bisa kita mulai dari setiap langkah kecil dan konsisten pada prosesnya. 

Islandia

Nama lengkapHerianty Novita Seiler
Negara tinggalIslandia
Nama Usaha/BrandCascade Félagasamtök
Bidang UsahaLainnya: Women empowerment   & Education
Media sosial pemilikInstagram: dorameonk
Lokasi usahaReykjavík 
Lama berwirausahaSejak tahun 2018
Cerita singkat usahaSaya dan teman saya ingin berkontribusi untuk pemberdayaan perempuan dan pendidikan untuk anak, menimba pengalaman dalam proyek-proyek dari Uni Eropa, agar dapat memberikan aspirasi, juga membantu perempuan dan pendidikan anak-anak di Indonesia dengan pengalaman-pengalaman NGO kami.
Tantangan terbesar berwirausahaMencari orang/teman yang mau bekerja sama dan duduk di board member di NGO kami. Untuk multiplier events dari proyek-proyek kami, kami juga mengalami tantangan yang sangat besar dan agak sulit. 
Pesan untuk perempuan yang ingin berwirausahaTetap positif dan semangat dengan kendala-kendala yang ada, jujur dalam menjalankan semua usaha yang hendak dijalankan.

Belanda

Nama lengkapHanna Salome Runkat (Panggilan Sally Runkat)
Negara tinggalBelanda
Nama Usaha/BrandSally’s Indonesian Kitchen 
Bidang UsahaKuliner
Media sosial pemilikInstagram Sally van Os Facebook Sally van Os
Media sosial usahaInstagram & Facebook sallyskitchen.nl dan http://www.sallyskitchen.nl
Lama berwirausahaSejak tahun 2016 / 10 tahun
Cerita singkat usahaSaya dan suami sudah lama bekerja di bidang hospitality dengan latar belakang sekolah kami adalah sekolah hospitality. Setelah lebih dari 20 tahun bekerja di hotel dan restoran, kami punya mimpi untuk punya restoran sendiri.
Tantangan terbesar berwirausahaTantangan terbesar mencari cook/juru masak yang mempunyai latar belakang masakan otentik Indonesia.
Pesan untuk perempuan yang ingin berwirausahaUntuk memulai usaha sendiri, kita harus serius mempelajari bidangnya, harus turun tangan sendiri, dan profesional. 

Irlandia

Nama lengkapMystica Rosa Oetami
Negara tinggalIrlandia
Nama Usaha/BrandThe Elevated Voyage Company
Bidang UsahaKesehatan dan Wellness
Media sosial pemilikRosa Utami (Instagram) atau  Maria Rosa (Facebook)
Media sosial usahahttp://www.theelevatedvoyagecompany.co
Lama berwirausaha26 tahun / Sejak 2010
Cerita singkat usahaSaya adalah seorang wirausaha dalam kegiatan konseling dan pelatihan kesehatan mental bagi perorangan maupun pasangan, dari usia remaja sampai dengan usia dewasa. Kegiatan ini saya minati, karena latar belakang pekerjaan saya sebelumnya yang suka mendengarkan cerita orang lain dan berempati dengan permasalahan orang lain. Seolah-olah ini adalah panggilan saya dalam bekerja. Usaha ini saya mulai ketika saya lulus dari kuliah Diploma Konseling di Inggris. Dalam kegiatan saya, saya selalu dipanggil untuk mambangun dan membuka jalan. Saya terpanggil untuk membuka layanan konseling di tempat daerah saya tinggal sampai 2010, yang hingga saat ini (walaupun saya sudah tidak disana lagi) layanan konseling tersebut masih berlangsung. Saat ini saya membuka layanan konseling bagi orang-orang lokal di Northern Ireland, yang latar belakangnya bermacam-macam: dari refuge, adiksi, trauma, relasi dan masalah kesehatan mental lainnya. Jika dihubungkan dengan kisah Ibu Kartini, saya mencontoh semangat untuk maju terus, walaupun mendapatkan rintangan. Menjadi pelopor, saya orang Asia satu-satunya di daerah sekitar saya yang menjadi Konselor, apalagi yang dari Indonesia. Hal ini menjadi kebanggan boleh memberikan warna nilai-nilai budaya Indonesia dalam ranah usaha konseling saya.
Tantangan terbesar berwirausahaTantangan dalam berwirausaha selalu ada. Dalam usaha saya, bahasa dan logat Indonesia saya serta figur Asia saya kadang membuat orang-orang berprasangka dan mempertanyakan apakah saya bisa memberikan konseling bagi mereka. Namun saya tidak patah semangat dan terus memberikan  layanan terbaik yang saya bisa berikan. Kata orang Jawa “ tresno jalaran soko kulino”, ini merekat dihati saya. Sehingga mendorong saya untuk lebih giat mempromosikan dan memperlihatkan kebiasaan saya, sehingga orang akhirnya getok tular mengakui bahwa apa yang mereka dapatkan dari layanan konseling dan pelatihan saya itu bagus dan memuaskan.
Pesan untuk perempuan yang ingin berwirausahaHadapi tantangan sebagai anugerah untuk mengasah kebisaan. Terus maju- jika kita lelah-istirahat sebentar-namun jangan pernah kita berhenti- karena kita tidak tahu jika tujuan kita sebenarnya sudah dekat.

Austria

Nama lengkapWinda Sulistiawati
Negara tinggalAustria
Nama Usaha/BrandWinda Sulistiawati – The Homecook & The Digital World
Bidang Usaha☑ Services (Primary)☑ Kuliner☑ Kreatif
Media sosial pemilikInstagram: https://www.instagram.com/winda_sulistiawati⁠
Lokasi usahaWeiz, Styria, Austria
Lama berwirausahaSejak 2023
Cerita singkat usahaSejak tahun 2023, Winda membangun merek pribadinya yang menggabungkan tiga pilar utama:Kuliner: Katering Asian Fusion dan acara budaya.Edukasi: Pelatihan penggunaan ponsel pintar (smartphone) khusus lansia.Digital: Kesadaran digital dan pembuatan konten.Proyek terbarunya adalah CCH – Content Creator Hub di Weiz, Austria. Ini merupakan sebuah ekosistem yang dirancang untuk membantu para kreator dan UMKM berkembang, berkolaborasi, serta melakukan monetisasi di era ekonomi digital.
Tantangan terbesar berwirausahaBeroperasi di Austria—negara yang sangat menjunjung tinggi sistem formal, struktur, dan sertifikasi—sementara ia datang dengan latar belakang kreatif berbasis pengalaman, Winda harus terus membuktikan kapasitasnya melalui hasil nyata, dampak sosial, dan konsistensi.Tantangan terbesarnya bukanlah kegagalan, melainkan proses belajar bagaimana mengubah pengalaman menjadi sebuah sistem yang dapat dikembangkan (scalable).
Pesan untuk perempuan yang ingin berwirausahaKamu tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk memulai. Mulailah dengan apa yang sudah kamu miliki: ceritamu, keahlianmu, dan ketangguhanmu.Dunia tidak membutuhkan lebih banyak bisnis yang sekadar terlihat sempurna. Dunia membutuhkan perempuan nyata yang memiliki keberanian, kedisiplinan, dan visi jangka panjang.Bangunlah secara perlahan. Bangunlah dengan kejujuran. Dan jangan pernah meremehkan kekuatan dari sebuah konsistensi.

Italia

Nama lengkapFifi Martiana Dewi
Negara tinggalItalia
Nama Usaha/BrandBalinesia
Bidang UsahaJewelry, clothing, and accessories
Media sosial pemilikIG: Balinesia_Firenze, FB: Balinesia Firenze
Lokasi usahaFlorence
Lama berwirausahaSejak 2003
Cerita singkat usahaSaya ingin mengenalkan produk Indonesia di kota saya
Tantangan terbesar berwirausahaBanyak orang yang berasumsi bahwa produk Indonesia kurang bermutu, seharusnya harga murah-murah. Menurut  mereka yang sudah pernah ke Indonesia, harga di sana relatif lebih murah daripada yang ada di toko saya. Untuk jenis barang yang mirip, produk saya biasanya lebih berkualitas dan bukan barang yang dijual di pinggir pantai. Kalaupun produknya sama persis, pasti lebih mahal di toko saya, karena semua detil ongkos dan pajak yang kita bayarkan.
Pesan untuk perempuan yang ingin berwirausahaTerus berkembang, terus mencari sesuatu yang baru, tetap menjaga mutu produk, dan yang paling penting. Tetap mempertahankan budaya orang  Indonesia yg ramah dan tetap senyum apapun kendala yang sedang dihadapi.

Turki

Nama lengkapDian Akbas
Negara tinggalTurki
Nama Usaha/BrandDian Akbas.Publishing
Bidang UsahaKreatif
Media sosial pemilik(Instagram: dianakbasauthor / Facebook: diam.akbas / TikTok / LinkedIn)
Media sosial usahahttp://www.dianakbas.com
Lama berwirausahaSejak 2025
Cerita singkat usahaTahun 2025 saya bekerja sebagai translator di PT GEMPITA ATMA INDONESIA (GAI).  Sekitar bulan Oktober kami mengajukan proyek terjemahan salah satu novel Turki pada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turki melalui program TEDA -Türk Kültür, Sanat ve Edebiyat Eserlerinin Dışa Açılımını Destekleme Projesi- yaitu Proyek Dukungan untuk Ekspansi Karya Sastra, Seni, dan Budaya Turki ke Luar Negeri. Untuk pengajuan ini diperlukan publishing yang nantinya akan menerbitkan novel tersebut di Indonesia. Di bawah PT GAI dibentuklah Dian Akbas Publishing. 
Tantangan terbesar berwirausahaSekarang masih bisa dibilang newborn yang berusaha meraba keadaan sekitar. Di masa depan, saya harus bisa bersaing dengan senior-senior yang sudah berjalan lebih dulu.
Pesan untuk perempuan yang ingin berwirausahaMeriset dan mempelajari ilmu tentang usaha yang akan dijalani. JANGAN FOMO!

Amerika Serikat

Nama lengkapDina Barber – Eski 
Negara tinggalAmerika Serikat
Nama Usaha/BrandPlus62 NYC LLC 
Bidang UsahaFashion
Media sosial pemilikhttps://www.instagram.com/superstylist_fashionworld/ 
Lokasi usahaNew York
Lama berwirausahaSejak 2020
Cerita singkat usahaSaya adalah seorang fashion consultant, fashion stylist, dan fashion producer yang berbasis di New York City. Perjalanan saya di industri fashion dimulai dari Indonesia, dengan visi sederhana namun kuat: membawa identitas dan kreativitas fashion Indonesia ke panggung internasional. Langkah besar dalam perjalanan ini saya mulai bersama partner saya, almarhumah Teti Rompis. Bersama beliau, kami berkeliling berbagai kota di Asia dan Eropa untuk mencari tempat yang tepat sebagai pintu masuk ke industri fashion global. Dari perjalanan tersebut, kami menemukan bahwa New York adalah kota dengan energi, peluang, dan keberagaman yang paling selaras dengan visi kami.
Setelah kepergian Ibu Teti, perjalanan ini tidak berhenti. Saya melanjutkan apa yang telah kami rintis, dengan komitmen yang sama untuk terus mengangkat fashion Indonesia ke tingkat internasional. Kehidupan membawa saya menetap di New York. Setelah saya menikah dengan warga Amerika, dan dari sini saya semakin mengembangkan karier saya secara global. Di New York, saya tidak hanya bekerja dengan desainer dan brand dari Indonesia, tetapi juga mulai menangani klien internasional. Melalui perusahaan saya, Plus 62 NYC LLC, saya fokus pada pengembangan brand, produksi fashion show, styling, serta strategi positioning untuk membantu desainer tampil relevan di pasar global. Bagi saya, fashion bukan hanya tentang estetika, tetapi juga tentang identitas, cerita, dan representasi. Setiap proyek yang saya kerjakan adalah bagian dari misi yang lebih besar: memastikan bahwa fashion Indonesia memiliki tempat yang kuat dan dihargai di industri fashion dunia, khususnya di New York. 
Tantangan terbesar berwirausahaTantangan terbesar dalam pekerjaan saya adalah bekerja dengan klien internasional yang berasal dari berbagai latar belakang. Ketika mereka akan tampil di panggung besar seperti New York Fashion Week, setiap detail harus dipersiapkan dengan sangat matang. Proses ini tidak selalu mudah, karena ada banyak perbedaan yang harus diselaraskan—mulai dari perbedaan zona waktu, mata uang, hingga sudut pandang terhadap fashion itu sendiri. Sebagai konsultan, saya sering berada di posisi menjembatani visi kreatif klien dengan standar dan ekspektasi industri di New York. Namun, justru di situlah letak kekuatan dari pekerjaan ini. Dengan komunikasi yang jelas, terbuka, dan konsisten, semua perbedaan tersebut bisa disatukan menjadi sebuah hasil yang kuat dan relevan. Bagi saya, tantangan ini bukan hambatan, tetapi bagian penting dari proses untuk menciptakan karya yang mampu berbicara di panggung global. 
Pesan untuk perempuan yang ingin berwirausahaPesan saya untuk perempuan Indonesia yang ingin berwirausaha: mulai saja dulu. Tidak ada yang benar-benar sempurna di awal, dan tidak perlu menunggu semuanya siap. Kalau kamu yakin dan mencintai bidang yang kamu jalani, hasil itu akan mengikuti. Memang, terdengar sederhana saat diucapkan, tapi semua orang sukses juga pernah berada di titik awal yang penuh keraguan.  Jangan terlalu banyak alasan, jangan terus menunggu waktu yang “tepat” karena sering kali waktu terbaik adalah sekarang. Percaya pada prosesnya, terus jalan, dan ingat: kamu pasti bisa.

(CERITA SAHABAT) Kisah Melawan Stigma Sosial Janda di Masyarakat

Kata “janda” seperti kata kutukan yang dilemparkan masyarakat tanpa ampun. Istilah “janda” tidak hanya menyiratkan kehilangan pasangan, tetapi juga dibebani dengan prasangka, stereotip, dan stigma yang seolah tak pernah usai. Saya, Conny Salamony, pernah hidup dalam bayang-bayang kata itu. Kini, saya menulis cerita sahabat ini bukan untuk membalas, melainkan untuk mengingatkan bahwa di balik kata “janda”, ada manusia yang juga berhak dihormati, dicintai, dan dikuatkan.

Saya mengenal suami saya lewat Yahoo Chat Room, sebuah tempat yang kini mungkin hanya tinggal sejarah. Kami mulai berkenalan pada 2004, menjalani hubungan jarak jauh, hingga akhirnya dia datang ke Indonesia pada 2006. Kami menikah pada 2007 di Jakarta. Dia adalah pria asal Sri Lanka yang hangat, lucu, dan sabar. Hidup bersamanya membuat saya harus keluar dari zona nyaman, belajar berpergian antar negara sendiri, tinggal di tempat asing seperti Sri Lanka dan Oman, dan belajar berkomunitas dengan cara yang baru.

Pernikahan kami tidak sempurna, tapi dipenuhi cinta dan pelajaran hidup. Meski sebagai istri saya sering sakit-sakitan, suami tetap mendampingi tanpa banyak keluhan. Hingga pada tahun 2017, tiba-tiba hidup kami berubah drastis.

Di pertengahan tahun itu, suami saya jatuh sakit secara mendadak. Diagnosisnya adalah diabetes, dan kondisinya memburuk dengan cepat. Saat itu kami tinggal di Oman, dan ia kemudian dirawat di Sri Lanka, negara asalnya. Saya dan anak kami masih tinggal di Oman.

Saat para tenaga medis memberi kode bahwa ini mungkin adalah akhir, saya mulai mempersiapkan diri secara emosional. Bulan Desember 2017, saya dan anak kami dipanggil ke Sri Lanka. Sayangnya, ia meninggal dunia saat kami masih di pesawat menuju ke sana.

Anak kami saat itu masih kecil. Ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, tapi ia tahu bahwa ibunya sedang terluka dan butuh teman. Ia pun tumbuh menjadi penyemangat saya, bahkan dalam kelucuannya yang kelam. Dalam satu kesempatan, saat teman-temannya berkata “my father is…”, ia menjawab, “my father is dead,” sambil tertawa. Saya tahu, itu cara dia berdamai.

Menjadi janda di Indonesia bukan perkara mudah. Justru di Sri Lanka-lah saya pertama kali merasakan stigma yang paling tajam. Di sana, seorang janda dianggap sebagai “kutukan” yang membawa kematian bagi suaminya. Sebuah pandangan yang membuat saya ingin menghilang.

Namun kembali ke Indonesia pun tidak serta merta membuat saya merasa aman. Saya mendapati diri saya menjadi sasaran prasangka. Kata-kata seperti “janda pelakor”, “lebih mudah diajak tidur”, hingga “lebih nakal karena pernah menikah” menjadi semacam bisikan yang tidak diucap di depan, tapi terasa menyesakkan.

Sebagai janda dari WNA, ada pula ekspektasi aneh. Laki-laki yang mencoba mendekati saya seringkali berasumsi bahwa saya lebih “liar” karena pernah menikah dengan pria asing. Rasanya ingin menampar mereka, tapi saya memilih untuk membangun jarak dan melindungi diri serta anak saya.

Saya bersyukur punya keluarga dan teman-teman yang menjadi support system saya. Tapi tidak semua orang begitu. Saya paham betul mengapa banyak perempuan takut menjadi janda, bukan hanya karena kehilangan pasangan, tetapi karena harus menghadapi dunia yang kejam setelahnya.

Setelah kepergian suami, saya tidak hanya berduka. Saya juga harus berpikir keras tentang bagaimana membesarkan anak dan mencukupi kebutuhan hidup. Beruntung, keluarga saya sangat mendukung, dan saya bisa tinggal bersama mereka. Secara finansial, saya bekerja sebagai virtual assistant, sebuah profesi yang saya bangun pelan-pelan dengan belajar dari komunitas daring.

Negara asal suami saya tidak memberikan dukungan apapun. Di Indonesia pun saya belum pernah mengajukan bantuan seperti KJP karena memang belum sempat. Yang paling menantang tentu saja mengelola keuangan dan memastikan anak saya tetap merasa dicintai, aman, dan diterima.

Saya sadar, anak-anak dari keluarga tunggal sering kali merasa tidak utuh. Sejak awal, saya tanamkan padanya bahwa siapapun yang saya dekati akan dikenalkan padanya. Bahwa dia tetap nomor satu di hidup saya. Keterbukaan dan kejujuran menjadi fondasi hubungan kami.

Sebagai istri WNA, ada tantangan tambahan: birokrasi yang rumit. Misalnya, saya tidak bisa menarik dana dari rekening suami saya di Sri Lanka karena saya bukan warga negara sana. Anak saya bisa, tapi dia masih berusia tujuh tahun saat itu. Jadi, kami hanya bisa tarik uangnya lewat ATM perlahan-lahan, sebelum rekening dibekukan.

Warisan? Tidak ada. Bahkan untuk menjual mobil peninggalan suami di Oman, saya harus mengurus surat kuasa dari notaris agar bisa menjualnya atas nama saya. Untuk paspor anak pun butuh perjuangan. Meski ia punya kewarganegaraan ganda, tetap saja prosesnya berliku dan mahal. Untungnya, sepupu suami yang bekerja sebagai wartawan membantu kami mempermudah beberapa prosedur lewat kenalannya.

Apa yang membuat saya bertahan sampai hari ini? Jawabannya sederhana: anak saya. Ia adalah sumber kekuatan terbesar saya, dan saya ingin menjadi sosok yang bisa ia banggakan. Selain itu, teman dan keluarga juga menjadi pengingat bahwa saya tidak sendiri.

Saya tidak segan memutus hubungan dengan orang-orang yang membawa energi negatif. Teman-teman yang hanya pandai mengomentari tapi tak pernah membantu, saya tinggalkan. Saya memilih menjaga kewarasan dan kesehatan mental, karena saya tahu itu kunci untuk bisa tetap menjadi ibu yang utuh dan manusia yang sehat.

Jika ada satu pesan yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat luas, itu adalah: jangan pernah menyalahkan pasangan yang masih hidup atas kematian pasangannya. Banyak orang bertanya kenapa suami saya bisa meninggal duluan. Apakah saya tidak bisa menjaga? Apakah saya tidak becus? Siapa yang bisa melawan takdir Tuhan?

Kematian bukanlah kesalahan pasangan yang ditinggal. Itu adalah keputusan semesta. Tugas kita bukan menghakimi, tapi memberi ruang bagi mereka yang ditinggalkan untuk sembuh.

Buat para perempuan, janganlah menganggap janda itu pelakor. Teruntuk para pria, perempuan nakal itu tidak selalu janda. Banyak janda yang justru menjaga kehormatan dan tahu betul batas tubuhnya.

Saya tahu betapa sulitnya menjadi janda. Namun, saya ingin mengingatkan bahwa kita semua tetap berharga di mata Tuhan. Jangan biarkan stigma membungkam suara kita. Jangan biarkan omongan orang lain menghapus harga diri kita.

Untuk yang masih punya anak kecil, ingatlah: mereka adalah semangat kita. Tidak apa-apa membuang orang-orang yang tidak mengerti perjuangan kita. Kesehatan mental jauh lebih penting daripada memenuhi ekspektasi sosial yang absurd.

Hari Janda Sedunia bukan hanya perayaan, tapi pengingat bahwa perempuan juga manusia, dan kehilangan tidak membuat kita lebih rendah. Kita bukan korban, kita pejuang.

Saya menulis ini bukan sebagai keluhan, tapi sebagai cermin. Masyarakat kita butuh bercermin tentang bagaimana mereka memperlakukan perempuan yang ditinggal mati oleh pasangan mereka.

Janda bukan label yang perlu disembunyikan, bukan status yang harus dibersihkan. Janda adalah status kehidupan, sama seperti “istri”, “ibu”, “anak”, atau “teman”.

Dan saya, Conny Salomony, memilih untuk menjadi janda yang bangga. Bukan karena ditinggal, tapi karena saya bertahan.

Penulis: Conny Salamony, admin komunitas kawin campur dan dapat dikontak via akun instagram connysalamony.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bagaimana Hidup sebagai Janda di Tengah Mayoritas Janda di Kamboja?

Tahukah kalau 23 Juni diperingati sebagai Hari Janda Internasional? Di banyak negara, status janda masih kerap dipandang sebelah mata. Namun, di balik label itu ada kisah perjuangan, keberanian, dan cinta tanpa batas. Salah satunya datang dari Ricca Maurizky, seorang perempuan Indonesia yang kini tinggal di Kamboja. Ricca bercerita bahwa di Kamboja, cukup banyak perempuan berstatus janda. Namun, pandangan masyarakat di sana berbeda dengan negara tetangga. Ia membandingkan dengan Malaysia yang membedakan istilah janda (cerai hidup) dan balu (ditinggal mati).

Menurut Ricca, di Malaysia, status balu lebih dihormati, karena kehilangan pasangan bukanlah pilihan. Sementara janda karena perceraian sering dianggap sebagai kegagalan rumah tangga.

“Tapi buat aku sendiri, entah itu janda atau balu, aku hanya ingin mempredikatkan diriku sebagai single parent,” ujarnya tegas.

Di tahun keempat tinggal di Kamboja, Ricca menjalani operasi karena fibroid. Dari situ, ia juga didiagnosis mengalami anxiety dan depression. Kondisi ini memaksanya untuk beradaptasi dan mengambil langkah berani. Dokter menyarankan Ricca pindah rumah demi memperbaiki suasana hati. Ia menyiapkan apartemen yang lebih kecil, dengan fasilitas lift dan layanan kebersihan mingguan. Semua dipikirkan agar setelah operasi, ia tetap bisa beraktivitas dengan aman dan nyaman.

Keputusan itu bukan hanya soal tempat tinggal, tapi juga bentuk nyata dari usaha untuk pulih. “Bagus itu, berarti kamu mau sembuh,” kata dokternya, memberi semangat. Di tengah stigma masyarakat, Ricca bersyukur dikelilingi lingkungan yang memahami perjuangannya. Rekan-rekan kerja melihat dirinya bukan sekadar janda, melainkan seorang ibu tangguh yang membesarkan dua anak seorang diri.

Bahkan, keluarganya mendukung penuh jika ia ingin menikah lagi. “Cari teman hidup, atau pengganti ayahnya anak-anak, itu terserah kamu,” begitu pesan dari mertuanya. Namun, Ricca memilih fokus pada perjalanan hidupnya saat ini. Selain sulit mencari pasangan, tantangan lain adalah kesepian. Hidup di luar negeri membuatnya sulit mendapatkan teman dekat.

“Orang asing yang datang ke sini tidak ada yang menetap. Mereka datang karena misi, karena tugas. Jadi nggak mudah,” tuturnya.

Kisah Ricca menggambarkan realita banyak janda di seluruh dunia, diantara stigma, kesepian, dan perjuangan membesarkan anak-anak. Namun, dari sana juga lahir ketangguhan, keberanian untuk pulih, dan kemampuan merancang kehidupan baru. Hari Janda Internasional bukan sekadar peringatan, tetapi ajakan untuk menghormati perjuangan perempuan seperti Ricca. Bagi mereka, status bukanlah akhir, melainkan jalan baru untuk menemukan resiliensi di tengah perjuangan tinggal jauh dari tanah air.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE SPESIAL) Tung Tung Sahur: Ketika Bunyi dari Gang Ramadan Indonesia Menjadi Memori Kolektif Dunia

Dalam program diskusi IG LIVE spesial antarbudaya Indonesia-Italia kali ini, berhasil mempertemukan Indonesia dan Italia. Suara sederhana yang selama puluhan tahun akrab di telinga masyarakat Indonesia mendadak menjadi bahan diskusi lintas budaya. Diskusi antarbudaya yang melibatkan antarabudaya Indonesia-Italia berbicara bukan tentang politik, bukan pula tentang ekonomi, melainkan tentang bunyi.

Tiga ketukan sederhana itu kini terdengar jauh melampaui gang-gang kecil di Indonesia. Tung. Tung. Tung. Sahur. Bunyi yang selama puluhan tahun menjadi penanda waktu sahur di bulan Ramadan tiba-tiba melompat ke ruang digital global, muncul dalam ribuan meme, video, dan percakapan lintas negara. Dari Jakarta hingga Roma, dari TikTok hingga Instagram, bunyi itu tidak lagi hanya milik masyarakat Indonesia. Ia telah menjadi bagian dari percakapan dunia.

Fenomena inilah yang menjadi topik diskusi IG Live Antarbudaya Indonesia–Italia yang diselenggarakan Ruanita Indonesia. Dipandu oleh Rieska Wulandari, jurnalis sekaligus relawan Ruanita Indonesia di Italia, diskusi menghadirkan Luigi Monteranni, peneliti asal Italia yang tengah menempuh studi doktoral dan meneliti musik Nusantara. Bagi Luigi, fenomena Tung Tung Sahur menarik bukan semata karena viralitasnya, melainkan karena ia menunjukkan bagaimana sebuah bunyi dapat bergerak melintasi batas budaya dan bahasa.

Menurut Luigi, daya tarik Tung Tung Sahur justru terletak pada kesederhanaannya. Banyak orang yang ikut membagikan, menirukan, atau membuat meme tentangnya tanpa benar-benar memahami konteks Ramadan di Indonesia. Mereka tidak mengenal tradisi membangunkan sahur, tidak mengetahui sejarahnya, bahkan mungkin tidak memahami arti kata yang mereka ucapkan. Namun mereka mengingat bunyinya. Dan dalam dunia digital hari ini, sering kali itu sudah cukup untuk membuat sesuatu menjadi viral.

Ia menjelaskan bahwa fenomena tersebut memiliki kekuatan sensorik yang sangat kuat. Bunyi yang sederhana, ritmis, dan mudah diingat akan lebih cepat menempel di kepala seseorang dibandingkan penjelasan panjang tentang asal-usulnya. Ketika seseorang mendengar “Tung Tung Sahur”, ada pengalaman mendengar yang langsung bekerja sebelum logika sempat mencari makna. Bunyi itu menjadi semacam pengait yang membuat orang ingin terus mengulanginya.

Bagi Luigi, hal ini mengingatkannya pada fenomena Om Telolet Om beberapa tahun lalu. Saat itu, dunia internet dibuat penasaran oleh ribuan komentar berisi kalimat yang terdengar asing bagi orang luar Indonesia. Banyak orang Eropa bertanya-tanya apa arti “telolet” dan mengapa kata itu memenuhi akun media sosial musisi internasional. Namun pada akhirnya, bukan makna katanya yang pertama kali menarik perhatian dunia, melainkan bunyi khas klakson bus yang menjadi inti dari fenomena tersebut.

Persamaan antara Om Telolet Om dan Tung Tung Sahur, menurut Luigi, adalah hadirnya unsur misteri. Internet menyukai sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami. Ketika sebuah fenomena datang dari budaya yang tidak familiar, rasa penasaran menjadi semakin besar. Orang ingin tahu apa artinya, dari mana asalnya, dan mengapa begitu banyak orang membicarakannya. Dalam konteks ini, Indonesia menawarkan sesuatu yang menarik bagi dunia: ruang misteri yang belum seluruhnya terjelaskan.

Luigi menilai bahwa Indonesia masih memiliki banyak elemen budaya yang belum terlalu dikenal secara global. Berbeda dengan Italia yang identik dengan pizza, pasta, atau Colosseum, Indonesia sering kali hadir sebagai sesuatu yang baru dan tidak terduga bagi banyak orang. Justru karena belum sepenuhnya dikenali, berbagai ekspresi budaya Indonesia kerap memunculkan rasa ingin tahu yang kuat di kalangan pengguna internet internasional.

Namun di balik viralitas itu, Luigi mengingatkan bahwa Tung Tung Sahur sesungguhnya bukan sekadar bunyi lucu atau bahan meme. Di Indonesia, bunyi tersebut merupakan bagian dari memori kolektif masyarakat. Ia lahir dari tradisi sosial yang telah hidup lama di berbagai daerah selama bulan Ramadan. Ada kebersamaan warga, semangat gotong royong, dan pengalaman budaya yang melekat di dalamnya. Bunyi tersebut mengandung cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar tren media sosial.

Ketika tradisi lokal memasuki ruang digital global, selalu ada dua kemungkinan yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, makna budaya yang mendalam bisa menyusut menjadi sekadar hiburan. Namun di sisi lain, viralitas juga membuka pintu bagi orang-orang untuk mengenal budaya yang sebelumnya tidak pernah mereka ketahui. Mereka mungkin datang karena meme, tetapi bisa saja bertahan karena rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap Indonesia.

Dalam pandangan Luigi, fenomena seperti ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai hiburan sesaat. Ia juga dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia dengan cara yang organik. Indonesia memiliki sejarah panjang dalam menyebarkan pengaruh budaya, baik melalui musik, batik, kuliner, maupun tradisi-tradisi keseharian yang unik. Kini, di era algoritma, salah satu jalannya bisa jadi melalui bunyi.

Diskusi malam itu akhirnya membawa satu kesimpulan menarik. Di tengah banjir informasi yang terus bergerak cepat, dunia ternyata masih bisa terhubung oleh sesuatu yang sangat sederhana. Sebuah suara. Sebuah ritme. Sebuah bunyi yang berasal dari tradisi lokal di Indonesia. Dan mungkin, itulah kekuatan budaya yang sesungguhnya: mampu menciptakan ingatan bersama, bahkan bagi orang-orang yang belum pernah bertemu dan hidup di belahan dunia yang berbeda.

Ketika Tung Tung Sahur terus bergema di ruang digital, yang sedang terjadi bukan sekadar tren internet. Ada sebuah memori kolektif yang sedang melakukan perjalanan. Berangkat dari gang-gang kecil Indonesia, melintasi layar ponsel jutaan orang, lalu menemukan makna baru di berbagai sudut dunia. Ingin tahun lebih banyak, silakan simak diskusi IG LIVE spesial antarbudaya Indonesia-Italia yang akan membahas fenomena budaya dari dua sisi.

(KNOWLEDGE SHARING) Bagaimana Membangun Kesadaran Berisiko dalam Relasi?

Jakarta, 20 Juni 2026 – Ruanita Indonesia yang memfasilitasi grup profesi/akademisi/asosiasi orang Indonesia di mancanegara yang berlatarbelakang psikologi atau kesehatan mental hari ini menyelenggarakan kegiatan Knowledge Sharing bertajuk “Relational Risk Awareness: Pengambilan Keputusan, Batasan, dan Keamanan dalam Relasi; Online, Offline, Lokal, maupun Jarak Jauh” secara daring dengan menghadirkan Family and Marriage Counselor, Leya Trajanoska, sebagai narasumber utama. Sebagai informasi, Leya lulusan S1 Psikologi dan profesi Psikolog penjurusan klinis Anak dan Remaja, Leya kemudian melanjutkan studi S2 Psikologi di Kanada dengan penjurusan Family and Marriage.

Kegiatan ini hadir sebagai respons terhadap semakin kompleksnya dinamika relasi interpersonal yang dihadapi orang Indonesia dewasa muda, baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri. Relasi saat ini dapat dimulai melalui berbagai jalur, mulai dari lingkungan kerja, komunitas, keluarga, hingga platform digital dan hubungan jarak jauh lintas negara. Di balik peluang membangun hubungan yang bermakna, terdapat pula risiko manipulasi emosional, penipuan, hingga eksploitasi personal maupun finansial yang semakin sering terjadi.

Melalui pendekatan berbasis bukti yang mengintegrasikan psikologi klinis, neuroscience pengambilan keputusan, dan literatur tentang manipulasi interpersonal, kegiatan ini dirancang sebagai ruang psikoedukasi yang netral, inklusif, dan tidak menghakimi. Fokus utama kegiatan bukan pada bentuk relasi tertentu, melainkan pada keterampilan universal yang dibutuhkan untuk membangun hubungan secara sadar, aman, dan sehat.

Dalam sesi ini, peserta akan mempelajari bagaimana keterlibatan emosional memengaruhi proses pengambilan keputusan, mengenali pola manipulasi seperti love bombing, urgency pressure, dan inkonsistensi perilaku, hingga memahami berbagai bentuk penipuan relasional seperti romance scam, sextortion, dan investment fraud yang dapat terjadi dalam konteks online maupun offline. Sebelum dimulai, peserta diwajibkan untuk mengisi lembar elektronik sebagai assesment kebutuhan pemateri.

Selain itu, peserta juga akan mendapatkan kerangka praktis untuk menilai relasi sehat dan tidak sehat, memahami pentingnya batasan dalam hubungan interpersonal, serta strategi pengambilan keputusan yang lebih sadar dan aman. Kegiatan akan diselenggarakan secara daring dengan format psikoedukasi interaktif, studi kasus aplikatif, diskusi kelompok kecil, dan sesi tanya jawab terstruktur. Sasaran kegiatan adalah orang Indonesia dewasa berusia 23 tahun ke atas, termasuk profesional muda, pekerja, mahasiswa pascasarjana, dan masyarakat umum yang sedang berada pada tahap kehidupan di mana keputusan relasional jangka panjang menjadi relevan.

Menurut Anna Knöbl, panitia penyelenggara, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang belajar yang aman dan reflektif bagi peserta untuk memahami dinamika relasi interpersonal secara lebih sadar di tengah perkembangan relasi modern yang semakin kompleks dan lintas konteks budaya maupun geografis.

“Relasi yang sehat tidak hanya dibangun atas dasar ketertarikan emosional, tetapi juga membutuhkan kesadaran, kemampuan mengenali risiko, serta keterampilan menetapkan batasan yang aman,” ujar Anna, selaku penyelenggara.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memiliki kerangka berpikir yang lebih jernih untuk menilai pola dalam relasi, mengenali tanda manipulasi sejak dini, mengambil keputusan dengan lebih sadar, serta memperoleh pengetahuan aplikatif yang relevan untuk jangka panjang. Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal pelaksanaan dan pendaftaran, masyarakat dapat mengikuti informasi resmi melalui kanal media sosial dan platform Ruanita Indonesia.