(WARGA MENULIS) Keibuan Adalah Kepemimpinan

Setiap orang punya waktu terbaik yang mereka nantikan dalam keseharian. Ada yang menantikan jam istirahat untuk bertemu teman dan membeli makan siang bersama. Ada menantikan jam pulang kerja, ketika pasangan datang menjemput.

Sementara saya selalu menantikan waktu si sulung pulang sekolah. Saya membayangkan pertanyaan apa lagi yang akan si kecil lontarkan untuk saya. Kami membahasnya dalam tawa sambil sesekali saling berdebat. Ini tidak berubah selama 12 tahun belakangan.

Pada suatu siang ketika sedang menulis artikel ini dan mengalami kebuntuan, suara bel rumah memecah konsentrasi saya. Rupanya si sulung pulang sekolah. Beberapa saat kemudian sambil menemani si sulung melahap camilan, iseng saya bertanya.

Do you think being a mother aligned with… leadership?”

Well,” jawabnya, “Being a mother is basically being a leader because you are the boss of your kid and your husband, which is my papa, around most of the time.”

Mau tertawa tetapi kok terasa nyata, ya.

Selama ini kita dijejalkan dengan romantisme motherhood image: kelemah-lembutan, merawat, feminin, dan patuh. Keibuan dan perempuan selalu dilekatkan dengan sifat-sifat pasif yang posisinya di bawah sifat-sifat maskulin yang diletakkan dalam posisi aktif dan dominan.

Tak jarang kepasifan ini dipertahankan untuk memberikan ruang agar sisi maskulin lebih banyak diaktualisasikan. Sifat-sifat keibuan hanya menjadi pelengkap, peredam, atau pemanis saja. Dari situ lahir anggapan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan keibuan, hanya pantas disematkan dengan kata ‘Cuma’. Cuma jadi ibu. Cuma mengurus keluarga. But turns out, motherhood is a work. An active work. A hard work.

Ketika memulai proses mencari pekerjaan di Norwegia, saya belajar satu kata baru: Veiledning. Veiledning yang berarti ‘panduan’ atau ‘arahan’, berasal dari kata å veilede – memandu, atau mengarahkan ke jalan atau tujuan tertentu. Ini mengingatkan saya akan tugas utama seorang ibu: sebagai pengarah dan Manager keluarga.

Salah satu aspek dalam kehidupan sebagai seorang ibu yang tidak pernah saya sangka adalah aktif memandu dan mengarahkan. Saya kira setelah anak-anak lahir, hidup hanya akan melulu dipenuhi popok kotor, cucian, dan membersihkan (dan bahkan menghabiskan) sisa-sisa makanan bayi. Ternyata itu hanya terjadi di dua-tiga tahun pertama saja.

Ketika si kecil mulai bisa berkomunikasi aktif, saya disadarkan pada kenyataan bahwa tugas utama sebagai seorang ibu adalah mengarahkan dan memandu anak-anak untuk membiasakan hidup yang tertib dan mengasah pola pikir serta perilaku mereka.

Apalagi ketika saya harus membesarkan anak di perantauan, sebuah kondisi yang bisa dibilang minim support system dalam hal kesamaan prioritas dan nilai-nilai yang dianut keluarga kami. Dan untuk bisa siap melakukan ini, saya harus mampu mengenali dan mengarahkan diri saya terlebih dahulu.

Lantas, apa hubungannya dengan kepemimpinan?

Setiap orang adalah pemimpin bagi diri mereka masing-masing. Tampak klise, tapi ada benarnya. Kepemimpinan seseorang terhadap dirinya pribadi terbentuk dari berbagai keputusan yang diambilnya pada setiap aspek kehidupan.

Keputusan-keputusan yang dipelajari sedari kecil hingga dewasa, sampai seumur hidup. Dari mana lagi ini semua dapat dipelajari, kalau bukan dari orangtua. Tanpa bermaksud mengglorifikasi peran ibu, profil ayah juga memainkan peran penting di sini. Tapi mari fokus dulu dengan pengalaman para perempuan yang memutuskan untuk terjun menjalani peran sebagai ibu.

Saat ini kepemimpinan seringkali dikaitkan dengan tampilan publik. Padahal tampilan hanyalah salah satu efek dari hasil seseorang memimpin diri mereka, yang bertemu dengan orang-orang sejiwa dan lalu berkomunitas, kemudian bersama-sama mampu membawa pengaruh baik ke lingkungan sekitar.

Kepemimpinan pun masih dilihat sebagai sesuatu yang individualistik. Itu hanya menyoroti beberapa individu yang mampu tampil di publik, tanpa berusaha melihat seberapa besar dukungan yang individu tersebut dapatkan, atau latar belakang kehidupan yang turut membentuk individu tersebut. Sampai pada akhirnya dia bisa bersuara dan memiliki daya pengaruh terhadap sekitarnya.

Di dunia kepemimpinan yang masih mengusung nilai-nilai tradisional maskulin, gaya kepemimpinan perempuan masih sering disorot seberapa ‘kuat’ sisi maskulin perempuan muncul ketika memimpin: ketegasan, vokal menyuarakan ide dan pendapat, langkah taktis yang diambil, dan sebagainya. Tidak ada yang salah sebenarnya dari hal-hal tersebut. Tetapi seringkali orang lupa bahwa pemimpin itu dibentuk dan dirawat, tidak hanya dilahirkan.

Dalam budaya Indonesia masih kental norma bahwa ketika perempuan memutuskan untuk menjalani peran sebagai seorang ibu, dia harus mengalah dan mengabadikan diri di belakang layar untuk kebaikan keluarga. Padahal semua tugas yang seorang ibu jalani bukanlah pekerjaan pasif. Mendidik anak, keluarga serta mengatur rumah tangga membutuhkan banyak ilmu, bukan hanya sebatas butuh kesabaran dan tenaga untuk mendulang pahala saja.

Motherhood yang selama ini dilihat sebagai sesuatu yang pasif, sebenarnya adalah bentuk kepemimpinan perempuan dalam menentukan yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya. Kemampuan seorang perempuan dalam mengenali diri mereka dan membuat keputusan untuk kebaikan diri mereka akan terus dipakai tatkala mereka memutuskan untuk menjalani peran baru.

Apapun peran yang dijalaninya. Ketika dia memilih karir pekerjaan, memilih bidang ilmu, memilih pasangan, atau berkomunikasi dengan pasangan dalam partnership yang setara dalam membangun keluarga, semua itu adalah sebuah seni tersendiri dalam memimpin.

Menjadi pemimpin bagi diri sendiri tidak lantas total berhenti ketika seorang perempuan memutuskan untuk menjalani peran baru sebagai ibu. Keibuan adalah sebuah bentuk kepemimpinan aktif. Bukan hanya dengan aktif menyuarakan pendapat, tetapi juga dengan membangun empati, merawat hubungan, serta dengan welas-asih.

Ketika perempuan bersama-sama membangun komunitas, mereka tidak hanya aktif merawat keluarga dan saling mendukung tetapi juga dalam konteks merawat lingkar pertemanan dan jejaring sosial yang mereka miliki.

Melihat anak-anak tumbuh di tanah perantauan ini menyadarkan saya bahwa motherhood is indeed a leadership. Saya menyadari bahwa saya tidak tahu apa-apa sampai ketika saya harus pergi meninggalkan tanah air dan memulai hidup di perantauan.

Hidup yang sama sekali berbeda dengan kondisi di tanah air. Hidup di perantauan membuat saya harus banyak mengambil keputusan drastis untuk diri saya sendiri terlebih dahulu. Sebelum saya berada di posisi di mana harus membuat banyak keputusan untuk keluarga saya.

Segala tantangan yang saya lewati selama di perantauan, itu adalah hasil dari keputusan yang saya ambil untuk diri saya dalam ‘memimpin’ dan mengarahkan diri sendiri sebelum mengarahkan dan memandu anak-anak bersama pasangan. Saya sebagai ibu adalah support system utama anak-anak saya, terutama dalam mengarahkan identitas anak-anak saya saat tumbuh besar di perantauan ini.

Ya, banyak langkah yang saya salah ambil, tetapi dari situ pelajaran datang. Kesalahan akan menjadi alasan untuk menghukum diri sendiri, kalau kita tidak melihatnya dengan kacamata welas asih. Sifat-sifat keibuan yang dimiliki perempuan tidak hanya bermanfaat kala mereka membangun hubungan dengan sekitarnya saja tetapi juga untuk menyayangi, mendengarkan, mengasihi, serta mengarahkan hidup mereka.

Bayangkan ketika keperempuan tetap disematkan dengan sifat-sifat pasif. Tumbuh dengan tidak diberi ruang untuk belajar, berpendapat, dan mengambil keputusan. Saya tidak bisa membayangkannya, setidaknya dalam kehidupan anak-anak saya. Yang saya bayangkan, anak-anak saya akan tumbuh di dunia baru. Perempuan harus dapat menjadi The Master of their own fate di mana perempuan dapat membuat pilihan mereka sendiri dengan sadar dan sehat.

Jika saatnya mereka memilih untuk membuat pilihan baru bersama seseorang, mereka dapat menjadi pasangan setara dalam membuat pilihan-pilihan tersebut. Itu bukan hanya sebagai pelengkap atau pemanis. Karena dengan segala peran yang disematkan untuk perempuan, mereka tetaplah manusia utuh sebagai diri mereka sendiri.

Penulis: Aini Hanafiah, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Norwegia.

(CERITA SAHABAT) Begini Caraku Latih Toilet Training pada Anak

Salam kenal, nama saya Retno. Saat ini saya tinggal di Norwegia, dan aktivitas sehari-hari sebagai editor dan ibu rumah tangga. 

Kedua anak perempuan kami berusia 12 tahun dan 3 tahun dan keduanya lahir di perantauan. Saat ini si bungsu baru mulai toilet training. 

Sebenarnya ada cerita menarik saat dulu si sulung mulai toilet training. Awalnya saya berencana untuk memulai toilet training si sulung ketika ia berusia 2 tahun. Saat itu ia hanya menggunakan popok kain berbentuk celana sehingga sudah terbiasa mengenali rasa ‘basah’ dan minta ganti popok. Saya pikir ‘oh kayaknya bisa dicoba toilet training, nih’. 

Kami pun mengajak si kecil membeli dua potty seat: yang berbentuk bangku dan yang bisa diletakkan di atas toilet. Kenyataannya si kecil hanya tertarik untuk bermain-main dengan potty seat. Ia malah menangis takut saat diajak untuk menggunakan potty di toilet. Lalu saat itu kami juga sibuk sekali menyiapkan kepindahan dari Malaysia ke Indonesia, yang kemudian dilanjutkan lagi ke Tromsø (kota di utara Norwegia yang posisinya berada di dalam lingkar kutub utara). 

Dari beberapa buku panduan toilet training yang pernah saya baca, disebutkan bahwa waktu-waktu transisi besar seperti kepindahan sekolah, pindah rumah, saat anak sakit atau saat anak baru disapih bukanlah waktu yang tepat untuk memulai proses toilet training. Jadilah toilet training-nya ditunda. Dengan alasan kepraktisan juga, si sulung masih menggunakan popok sekali pakai (pospak) selama perjalanan sampai tiba di Tromsø. 

Kami tiba di Tromsø di bulan Februari saat puncaknya musim dingin dan nyaris setiap hari badai salju. Saat itu si sulung berusia 2.5 tahun. Waktu itu selain membawa banyak lauk untuk ransum makanan selama seminggu, saya juga membawa bekal satu bungkus pospak untuk berjaga-jaga. Namun setelah empat hari tiba di Tromsø, badai salju tidak kunjung reda sementara… bekal pospak yang kami bawa sudah habis! 

Saat itu popok celana kain dan kedua potty seats yang kami beli juga ikut dibawa ke Tromsø. Seperti biasa, potty seats-nya dibuat mainan saja oleh si sulung. Dan saat itu si sulung mau duduk di potty seat di kamar mandi sambil menunggu saya ‘mengerjakan urusan’ di toilet. Ya, saat itu sampai ke kamar mandipun saya diikuti oleh si sulung. Kombinasi badai salju tak kunjung reda, kehabisan popok dan melihat si sulung akhirnya mau duduk di potty seat, akhirnya saya mulai saja proses toilet training. Dan berhasil! 

Setiap pagi setelah bangun tidur, saya ajak si kecil untuk pipis sekaligus poopy sambil menunggu saya. Jadi duduk berdua di toilet saja sampai ‘urusannya’ selesai. Begitu pula dengan siang, sore, dan malam sebelum tidur. Hanya butuh waktu seminggu dan sekali ‘kecelakaan’ mengompol, si sulung pun bebas tidak lagi memakai pospak. Lalu saat badai salju reda dan kami bisa ke supermarket, kami ajak si sulung mampir ke toko baju untuk memilih sendiri celana dalam dengan gambar tokoh kartun favoritnya.

Follow akun IG @ruanita.indonesia

Ketika lima bulan kemudian si sulung masuk barnehage (daycare) dan sudah genap berusia tiga tahun, ia sudah tidak lagi memakai popok. Sebelum ia masuk barnehage, kami ajari cara untuk memberi tahu kalau mau ke toilet dan cara untuk membersihkan diri menggunakan tissue. Selama di rumah, si sulung selalu kami bersihkan dengan air, namun di daycare biasanya hanya tersedia tissue/toilet paper saja. 

Saya komunikasikan juga kepada para gurunya bahwa kalau di rumah, si sulung selalu dibersihkan dengan air setelah buang air besar, sehingga mungkin jika di sekolah hanya dibersihkan dengan tissue ia akan merasa agak kering dan pedih. Guru-guru barnehage pun bisa mengerti dan menyediakan wet wipes atau tissue basah.

Fast forward ke sembilan tahun kemudian, ketika sudah ada si bungsu. Kami memutuskan untuk memasukkan si bungsu ke barnehage ketika ia berumur dua tahun. Namun saat itu banyak hal yang memengaruhi kemampuan adaptasi si bungsu di situasi barnehage yang asing buatnya, terutama setelah dua tahun pandemi. 

Saya agak ragu si bungsu bisa mulai toilet training sebelum masuk barnehage, apalagi kondisinya juga bersamaan dengan kami boyongan pindah rumah. Ketika berdiskusi dengan guru barnehage-nya, bu guru juga mengutarakan hal yang sama: sebaiknya toilet training nanti saja setelah si bungsu bisa beradaptasi dengan suasana baru di barnehage. 

Rentang usia yang cukup jauh antara si sulung dan bungsu ini membuat saya mengingat-ingat ulang cara toilet training si sulung dahulu. Untungnya Ruanita bersama psikolog Stephany Iriana membuat video yang sangat informatif mengenai proses toilet training pada tautan berikut: https://youtu.be/AWKl3o18Ehk

Stephany menjelaskan beberapa tanda yang orangtua perlu kenali seputar kesiapan anak untuk mulai toilet training. Beberapa tandanya adalah seperti berikut: 

  • anak sudah bisa berjalan dan bisa duduk dalam jangka waktu pendek, 
  • anak sudah bisa mengucapkan kata-kata pendek dan mengerti perintah sederhana, 
  • anak tertarik mengobservasi kegiatan orang lain,
  • popok anak bisa kering selama durasi dua jam,
  • anak bisa menunjukkan gesture yang mengisyaratkan,
  • anak tidak nyaman saat memakai diapers atau menolak dipakaikan,
  • anak bisa menunjukkan gesture yang mengisyaratkan kalau dia mau ke toilet,
  • anak mampu menarik atau menaikkan celananya,
  • anak dapat memahami instruksi atau kalimat perintah sederhana.

Satu tips yang Stephany bagi adalah biarkan anak memilih tipe potty seats yang ia mau gunakan, dan sediakan beberapa jenis potty yang ditempatkan di beberapa tempat yang berbeda. Lalu untuk menyemangati anak, bisa coba memberikan rewards dalam bentuk stickers lucu setiap kali anak mencoba menggunakan toilet. Yang terpenting adalah orangtua jangan memaksakan anak untuk segera menggunakan potty. Sebagai awalnya, biarkan anak bermain dan bereksplorasi dengan potty seatsnya selama potty-nya bersih. 

Sampai saat ini si bungsu masih dalam proses membiasakan dirinya mengenali benda potty seats ini. Saat ini dia sudah mau duduk di potty di kamar mandi, tetapi tidak mau kalau celananya dilepas untuk mulai pipis. 

Namun dia sudah bisa memberi tahu kami setiap pagi saat dia mau poopy. Dan dia masih takut untuk duduk di potty yang dipasang di atas toilet dewasa karena kakinya menggantung (selain juga karena bagian dalam toiletnya seperti bolong besar), jadi nampaknya dia lebih memilih potty seats berbentuk bangku kecil. 

Minggu lalu waktu kami berdiskusi dengan guru barnehage, gurunya menjelaskan bahwa kini si bungsu sudah bisa popoknya kering selama dua jam lebih, dan jarang sekali poopy saat di sekolah. Namun dia masih pipis sekali di popoknya, biasanya setelah makan siang. Si bungsu juga menunjukkan ketertarikan saat melihat anak lain menggunakan potty di sekolah. 

Guru menjelaskan bahwa kalau mau, si bungsu sudah bisa memulai toilet training dan kami di rumah bisa bekerjasama dengan guru di barnehage. Nampaknya learning curve si bungsu dalam proses toilet training ini tidak secepat si sulung, tetapi tidak mengapa… kenyataannya memang beda anak bisa beda cara dan beda kesiapan dalam memulai toilet training.

Menurut saya, proses toilet training ini banyak faktor trial-error. Buat orangtua, harap diingat kalau accident happens. Ada kalanya anak bilang mau pipis atau poopy, sudah duduk di potty, eh ternyata malah tidak pipis atau poopy. Ini tidak masalah, nanti bisa dicoba lagi. Begitu pula ketika anak tiba-tiba kecolongan mengompol atau poopy di celana, ini juga tidak mengapa. 

Ini terjadi saat dulu si sulung toilet training; ia tampak malu saat kebablasan mengompol karena keasyikan bermain. Saya ajak saja ia untuk segera cebok sambil diberitahu pelan-pelan kalau next time mau pipis, langsung beritahu Mama ya. 

Untuk mama/papa, harap diingat kalau bekas pipis itu selalu bisa dibersihkan, dicuci dan dibereskan kok. Anggap saja bagian dari proses belajar. Kalau anak sampai mengompol, jangan dimarahi. Kalau anak dimarahi atau dipermalukan, ini bisa jadi boomerang karena anak jadi takut memberitahu kalau dia mau pipis atau poopy.

Apakah perlu mengajari toilet training sedini mungkin? Tergantung kebutuhan dan kesiapan anak, selain kesiapan orangtua juga. Mengajar toilet training butuh konsistensi dan kesabaran dari orangtua. Selain itu dari diskusi bersama guru, ia menyebutkan bahwa sebaiknya anak sudah toilet training sebelum usia empat tahun karena ini adalah salah satu indikasi kesiapan anak untuk belajar beradaptasi sebelum nanti masuk sekolah dasar. 

Belajar toilet training juga bukan hanya masalah semata lepas popok dan bisa menggunakan toilet, tetapi juga anak belajar untuk mengomunikasikan ketidaknyamanan, anak belajar membersihkan dirinya sendiri (bagian dari kemandirian), dan anak belajar untuk awas dengan body autonomy dan kondisi tubuhnya.

Beberapa masalah seperti sembelit bisa diantisipasi dengan orang tua mengingatkan anak untuk rajin minum air putih dan rutin makan sayur, buah-buahan dan yogurt (atau makanan probiotik lainnya seperti tempe). Namun kalau sampai anak jarang buang air kecil disertai demam, sebaiknya segera periksakan ke dokter untuk diperiksa apakah ada kemungkinan terkena infeksi saluran kemih (ISK).

Penulis: Aini Hanafiah (Akun IG: aini_hanafiah)

(IG LIVE) Penting Bangun Dukungan Sosial Untuk Orang dengan Skizofrenia

NORWEGIA – Dalam rangka Hari Skizofrenia Seduia yang jatuh tiap 24 Mei, Sabtu (28/5) Ruanita kembali menggelar diskusi virtual IG Live dengan mengusung tema ‘Membangun Dukungan Sosial Bagi Orang dengan Skizofrenia’. Lewat akun @ruanita.indonesia, Atika sebagai pemandu diskusi dari tim Ruanita mengundang Yohanes Herdiyanto selaku akademisi & aktivis kesehatan mental untuk berbagi perspektif baru dalam membangun solidaritas bagi mereka yang hidup dengan skizofrenia. 

Adapun skizofrenia adalah kondisi mental yang bermanifestasi pada masalah kognitif, perilaku dan emosi, serta ditandai dengan munculnya gejala yang bervariasi berupa delusi, halusinasi, dan bicara tidak teratur yang mengakibatkan gangguan kemampuan untuk berfungsi. Di awal diskusi, Yohanes Herdiyanto atau yang kerap disapa Kak Hendi menjelaskan bahwa kondisi skizofrenia ini muncul dalam range yang luas dan beragam, seperti ada orang yang mengalami gejala ringan saja karena mungkin sudah rutin minum obat, namun ada juga mereka yang mengalami gejala parah karena mungkin tidak pernah atau tidak rutin diobati. Yang harus diperhatikan adalah baik itu orang dengan skizofrenia maupun keluarganya harus ditolong, jangan sampai dikenakan stigma seperti kondisi skizofrenia disebabkan karena keturunan atau karena karma buruk dari masa lalu. Mengalami skizofrenia saja sudah berat, jangan lagi ditambah dengan stigma negatif.

Atika menuturkan beberapa persepsi keliru yang muncul di masyarakat awam tentang orang dengan skizofrenia (ODS), salah satunya adalah berkepribadian ganda. Persepsi keliru ini turut andil dalam melahirkan reaksi yang keliru dari kebanyakan orang dalam menghadapi ODS maupun keluarga yang mengurusnya. Menurut Kak Hendi, salah satu fenomena yang kerap ditemukan di Indonesia adalah gelandangan psikotik; biasanya mereka adalah ODS yang kabur dari keluarganya atau tidak lagi punya keluarga yang mengurusi, sehingga mereka hidup di jalanan dengan mengais-ngais makanan.

Secara garis besar jika kita hendak membantu, menurut Kak Hendi yang harus diperhatikan terlebih dahulu adalah mengamati apakah ODS tersebut membahayakan dirinya sendiri dan orang lain, seperti membawa benda tajam atau berperilaku agresif. Kalau mereka tidak membahayakan, bisa kita coba tolong dengan memberikan makanan dan minuman, atau membantu menghubungkan mereka ke lembaga-lembaga yang dapat membantu memberikan perawatan kepada mereka.

Fenomena lain yang lahir dari persepsi keliru adalah pemasungan ODS, baik itu dengan dirantai atau dikurung di kamar yang intinya untuk membatasi ruang gerak. Biasanya pasung ini banyak dilakukan oleh keluarga sendiri karena adanya kekhawatiran bahwa ODS tersebut bisa kabur dari rumah lalu berperilaku agresif seperti memecahkan jendela atau menyerang orang lain.

Bisa juga karena saat semua anggota keluarga harus bekerja maka tidak ada yang bisa mengawasi ODS tersebut sehingga kemudian dipasung. Pemasungan yang terlihat ekstrem ini menurut Kak Hendi biasanya bukanlah dilandasi atas kebencian, melainkan lebih karena kepedulian dan kekhawatiran keluarga akan kondisi ODS yang mereka urus. Yang disayangkan adalah kurangnya edukasi bahwa orang yang dipasung tersebut seharusnya diobati, karena jika tidak diobati, kondisinya akan selalu kumat terus dan tidak bisa lepas dari pasungan. 

Terkait dengan informasi seputar pengobatan, Kak Hendi menjelaskan bahwa keluarga ODS dapat mencari informasi pengobatan dan perawatan ke rumah sakit. Jikalau masih terbentur stigma dalam upaya mencari bantuan medis, di beberapa kota besar di Indonesia sudah ada komunitas yang didirikan oleh keluarga ODS dan professional kesehatan jiwa yang saling mendukung dengan memberikan informasi perawatan dan pengobatan untuk ODS. Salah satu komunitasnya adalah Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) yang sudah ada di beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

Untuk mengakses obat psikotik dan pelayanan kesehatan jiwa sudah bisa dilakukan di puskesmas level kecamatan, dan nantinya bisa juga dirujuk ke beberapa rumah sakit yang memiliki layanan psikiatri. Di tingkat desa pun ada kader kesehatan jiwa yang dibantu oleh perangkat desa maupun Babinsa (bintara Pembina desa) untuk membantu evakuasi ODS yang dipasung atau ODS yang mengamuk karena psikotik ke rumah sakit jiwa. Mengenai biaya pengobatan, sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sudah punya sistem untuk perawatan kesehatan jiwa. Bagi ODS yang memiliki BPJS penerima subsidi pemerintah maupun membayar sendiri sudah bisa gratis mendapatkan obat.

Kak Hendi menekankan bahwa ODS harus rutin mengonsumsi obat untuk kondisi psikotiknya, jangan sampai terputus kecuali kalau ada rekomendasi dari dokter untuk mengganti jenis obat.

Bagi keluarga dan orang-orang terdekat ODS, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengawasi, mengingatkan dan menyemangati ODS agar rutin berobat. Kak Hendi menjelaskan tiga pilar pengobatan skizofrenia yang perlu dipahami:

  1. Treatment farmakologi. Ini adalah tahap utama dalam mengobati kondisi skizofrenia. Skizofrenia adalah kondisi ketidaknormalan dalam sistem saraf yang menyebabkan berlebihnya aktivitas hormon dopamine di otak dan menyebabkan gejala-gejala psikotik. Obat-obatan anti-psikotik membantu menekan aktivitas hormon dopamine dan mengontrol gejala psikotik.
  2. Upaya psikoterapi dari psikiater dan psikolog.
  3. Dukungan psikososial untuk melatih ODS kembali ke masyarakat seperti untuk bekerja, punya usaha sendiri, atau terlibat dalam kegiatan masyarakat dan kegiatan vokasional lainnya. Kak Hendi juga menekankan bahwa keluarga ODS tetap menjadi tonggak penting dalam membantu pemulihan ODS dan mengawasinya agar rutin mengonsumsi obat. 

Jikalau sahabat RUANITA memiliki ide menarik untuk tema IG Live, silakan follow akun instagram @ruanita.indonesia dan hubungi kami via DM. Terima kasih dan sampai jumpa di diskusi selanjutnya!

(Ditulis oleh Aini Hanafiah untuk RUANITA Indonesia)