(CERITA SAHABAT) Dibuang Jangan, Disimpan Jadi Sampah

Halo Sahabat Ruanita, saya Citra dan tinggal di Jerman. Saat saya masih kuliah di awal tahun 2000an saya senang sekali menonton acara talkshow Oprah dari Amerika Serikat, yang saat itu sangat terkenal. Salah satu episode yang saya ingat sampai sekarang adalah tentang hoarding, atau yang dalam acara tersebut diterjemahkan ke dalam pengumpul kompulsif. 

Saya ingat di episode tersebut ada keluarga yang membuka diri dengan situasi di rumah mereka. Mereka menimbun barang-barang di garasi dan di rumah mereka sampai tidak ada ruang kosong untuk mereka hidup dengan nyaman. Rumah mereka pun dibersihkan oleh tim Oprah Show. Banyak barang yang dibuang, karena memang sebagian besar adalah sampah. Iya, mereka mengumpulkan “sampah” yang mereka pikir akan mereka butuhkan di masa depan atau memiliki nilai nostalgia untuk mereka, sehingga mereka berat untuk membuangnya dan akhirnya hanya tertimbun, sehingga menjadi sampah.

Menonton episode tersebut membuat saya takut. Saat itu saya termasuk orang yang menyimpan barang tidak terpakai dengan alasan nanti pasti perlu, masih belum rusak, atau sayang untuk dibuang karena ada kenangannya. Keluarga saya juga seperti itu. Dulu kami punya garasi mobil yang cukup besar, setengahnya habis untuk barang-barang yang disimpan oleh orang tua saya. Mungkin isinya sepeda rusak, peralatan tukang, spare part mobil, dan sebagainya. Semua tersimpan di dalam plastik dan diselimuti debu. Setelah rumah kami direnovasi, gudang tersebut hilang dan banyak juga barang yang dibuang. Barang yang masih ada pindah ke rak terbuka di halaman belakang.

Di dalam rumah kami juga tidak berbeda. Di rumah kami punya dua gudang. Gudang pertama di dapur yang isinya peralatan dapur yan tidak pernah dipakai. Dulu kami punya mesin cuci piring yang kami hanya pakai beberapa kali karena memakan banyak listrik dan air. Selama bertahun-tahun mesin itu ada di gudang tidak terpakai. Gudang kedua adalah kamar yang sebelumnya digunakan untuk asisten rumah tangga (ART) kami. Sejak kami tidak punya ART, ibu saya menjadikan kamar tersebut untuk gudang untuk kasur lipat, lemari isi seprai, dan sebagainya.

Saya khawatir sekali saya atau keluarga saya akan berakhir menjadi pengumpul kompulsif seperti di episode Oprah Show. Kondisi rumah kami tidak penuh seperti tipikal rumah orang dengan hoarding disorder, hanya di beberapa tempat barang-barang menumpuk dan kami tidak menimbun sampah atau barang rusak.  Saat itu saya kost di luar kota, saya punya beberapa botol krim muka yang sudah hampir kosong tapi masih saya simpan di meja saya. Alasannya adalah sayang untuk dibuang. Botol-botol tersebut masih ada isinya walau hanya sedikit dan masih bisa dipakai nanti. Setelah menonton Oprah Show, saya langsung buang semua botol hampir kosong itu. Berat sekali di hati, tapi dari pada saya berakhir menjadi hoarder.

Tidak hanya itu, saya juga mulai memilah barang-barang di kamar saya dan membuang yang tidak perlu, walau ada pikiran “nanti pasti butuh”. Ah, biar saja. Di lain pihak, di rumah saya sedikit banyak tidak berubah, karena saya tidak bisa begitu saya membuang barang-barang tanpa izin orang tua saya. Belakangan saya baru sadar, ibu dan ayah saya memiliki sifat yang sama tapi hampir mirip. 

Ayah saya suka mengumpulkan barang yang beliau pikir masih akan dipakai, karena barang-barang di gudang garasi memang barang beliau. Ibu saya rapi, walau “hobi” menyimpan barang yang masih bisa dipakai sehari-hari, seperti peralatan masak dan peralatan makan. Beliau juga sering mengeluarkan pakaian, tas, dan sepatu untuk diberikan kepada keluarga. Di rumah kami semua barang ada, walau tidak pernah dipakai. Saya pernah berpikir, kalau saya menikah dan pindah rumah nanti, saya tidak perlu beli panci dan piring lagi, karena tinggal bawa punya ibu yang menumpuk di rumah.

Saat ayah saya meninggal dunia 10 tahun lalu, ibu saya banyak membuang barang-barang yang beliau kumpulkan selama hidupnya. Rak terbuka di halaman belakang semakin menyusut isinya. Di dalam rumah kami juga gudang semakin sedikit isinya setelah banyak barang yang dibuang. Barang-barang pribadi ayah juga banyak dibuang, walau sebenarnya sedih sekali harus berpisah dengan barang-barang yang mengingatkan pada beliau. Akhirnya saya hanya menyimpan dua kemeja beliau yang saya bawa ke Jerman. Barang-barang tersebut juga bukan hanya disimpan, tapi juga sering saya kenakan. Buku harian dan beberapa barang pribadi beliau juga disimpan oleh ibu dan adik saya, sedangkan sisanya dibuang dan disumbangkan.

Sejak beberapa tahun terakhir ini saya hidup lebih ramah lingkungan. Saya menonton di Youtube video-video tentang hidup frugal dan minimalis, juga cara untuk merapihkan rumah, walau itu bukan menjadi gaya hidup saya sekarang. Dari sana saya belajar cara untuk tidak belanja secara kompulsif, walau memang ada juga saat di mana saya belanja kompulsif. Jika ingin membeli barang, saya pikirkan dulu selama sebulan. Saya pikirkan alasan untuk membeli barang, apakah penting, dan apakah saya punya barang serupa yang tidak saya pakai. Sering kali pada akhirnya saya tidak jadi beli. Saya tidak mau memungkiri, kadang juga ada waktu saya beli spontan. 

Baru-baru ini saya spontan membeli satu tumbler bergambar karakter kesukaan saya. Berbulan-bulan saya menahan diri untuk tidak beli tumbler, karena saya sudah punya dua tumbler stainless steel dan dua plastik, dan akhirnya gagal karena melihat tumbler bergambar karakter kesukaan saya. Sebulan setelah membeli saya medapatkan tumbler baru dari sahabat saya saat saya pulang ke Indonesia. Karena punya dua barang baru, maka saya mengeluarkan satu tumbler plastik yang memang sudah lama tidak dipakai. Jujur saja, saya menyesal membeli tumbler karakter karena desain barangnya tidak ergonomis. Untuk tidak kembali menumpuk barang, saya akali dengan menggunakan tumbler baru di rumah dan tumbler lama di tempat kerja. Pengalaman ini mengingatkan kembali untuk tidak kompulsif belanja, tapi memang harus teliti dan memikirkan baik-baik, jangan sampai malah hanya akan menumpuk di lemari.

Sejujurnya, mengeluarkan barang tidak mudah bagi saya. Sering kali saya sudah mengumpulkan barang-barang yang ingin saya keluarkan, tapi barang-barang tersebut malah diam berminggu-minggu di tempat yang sama karena masih ragu untuk “membuangnya”, atau bingung mau disumbangkan atau dijual. Pernah juga mereka kembali ke tempat sebelumnya, karena saya punya alasan untuk tetap menyimpannya. Memang jika mau mengeluarkan barang harus cepat dilakukan. Jika ditunda-tunda bisa jadi barang-barang itu malah kembali ke tempatnya. Sering juga saya merasa menyesal setelah membuang barang, tapi karena barangnya sudah tidak ada, saya tidak bisa apa-apa. Itu masih lebih bagus daripada barangnya menumpuk di rumah.

Orang Jerman mempunyai kebudayaan menggunakan ulang barang bekas orang lain yang masih bisa dipakai, bisa dengan menjual atau menghadiahkannya lewat website-website khusus. Cara tradisional adalah meletakan barang tersebut di pintu masuk gedung apartemen atau pinggir jalan. Cara terakhir ini yang sering saya gunakan kalau ingin cepat membuang barang. 

Sebenarnya saya lebih senang menjual barang-barang tersebut agar bisa dapat sedikit uang kembali. Sayangnya bisa perlu waktu lama sampai menemukan orang yang tertarik untuk membeli. Saya pernah memasukan iklan sepatu boots winter beberapa kali di sebuah website, sayangnya tidak dapat pembeli dan sepatu tersebut bertahun-tahun masih harus ada di rak sepatu saya. Akhirnya dua bulan lalu saya sumbangkan lewat kotak sumbangan tekstil dan sepatu yang ada di supermarket dekat rumah saya. Bertahun-tahun saya menyimpan sepatu yang tidak bisa saya pakai hanya karena saya mau dapat uang dari menjualnya kembali, akhirnya malah saya sumbangkan juga demi kedamaian di kepala dan hati saya. 

Tahun ini saya banyak sekali mengeluarkan barang. Setiap kepala saya terasa “penuh” saya mulai merapihkan setiap sudut apartemen saya dan juga mengeluarkan barang-barang yang saya tidak butuh atau tidak lagi disukai, dari kulkas kecil, sepatu, syal, sampai pulpen, dan klip kertas. Rasanya kepala sedikit kosong, saat apartemen kosong sedikit. Sebagian besar barang tersebut saya berikan ke orang agar mereka cepat keluar dari apartemen saya. Karena pengalaman-pengalaman tersebut, saya sekarang mikir-mikir lagi untuk membeli barang, karena kalau nanti tidak dipakai atau tidak disukai lagi, saya berarti harus merelakan uangnya terbang begitu saja. Apakah saya mau?

Sampai sekarang saya masih punya barang-barang yang harusnya dibuang tapi masih disimpan karena sayang atau nanti akan dipakai. Biasanya untuk menyortir barang, saya mengingat-ingat kapan terakhir menggunakan barang tersebut. Jika barang tersebut sering saya gunakan, bisa saya simpan. Jika sudah lama tidak, maka harus saya keluarkan. Saya pernah lihat tips menyortir barang, yaitu menulis catatan tanggal saat terakhir menggunakannya. Jika lebih dari satu bulan tidak diüakai, maka barang itu harus keluar. Saya tidak menggunakan teknik tersebut, hanya mengingat-ingat kapan terakhir dipakai. Tulisan ini juga menjadi pengingat saya untuk kembali menyortir barang untuk dikeluarkan dari rumah, terutama barang-barang yang sudah lama atau bahkan tidak pernah dipakai sejak beli.

Saya bersyukur saya menonton episode hoarding disorder di Oprah Show itu. Jika tidak, mungkin saat ini saya menyimpan banyak barang dan apartemen saya menjadi lebih penuh dari sekarang. Ayo, kita sama-sama menyortir barang di rumah, dari pada menjadi sampah.

Penulis: Citra, tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Optimis dan Dukungan Keluarga Jadi Kunci Kesembuhan Sofie

Dalam rangka memperingati Hari Internasional Melawan Kanker Payudara yang jatuh tiap 19 Oktober, RUANITA mengundang sahabat spesial yang bernama Suci Lestari Sofyan yang sudah menetap di Italia sejak 2016.

Setelah menikah dengan pria berkewarganegaraan Italia, kehidupan Sofi, begitu ia biasa disapa, lebih lama tinggal di Cina daripada di Italia.

Pada 2015 saat Sofie berusia 34 tahun, dia didiagnosa kanker payudara yang sudah memasuki stadium 3B.

Tentunya siapa pun akan berat mendengar berita tersebut, termasuk mental Sofie yang shock saat itu juga.

Dia tidak siap untuk menghadapi diagnosa dan penanganan medis yang harus ditekuninya kemudian.

Saat itu yang terpikir oleh Sofie mencari role model seperti Survivor yang berani berbagi inspirasi dan motivasi yang dibutuhkan menghadapi kondisi sulit tersebut.

Menjalani kemoterapi tentu bukan hal yang mudah dihadapi Sofie. Setelah berhasil melewati operasi, dokter kemudian melakukan proses pengangkatan total yang membuat Sofie down dan semakin bertambah berat untuk menjalani hidup ke depan.

Apa yang paling berat dirasakan oleh Sofie adalah masalah mental untuk menjalani kehidupan selanjutnya.

Sofie berhasil menemukan solusinya dengan menjalani meditasi.

Bagi Sofie, dukungan sosial seperti pasangan hidup dan keluarga telah memberikan motivasi terbesar untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik.

Lebih lengkap cerita Sofie tersebut dapat disimak dalam saluran YouTube berikut ini:

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam program ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.

(CERITA SAHABAT) Begini Cara Saya Ajarkan Sex Education pada Anak Usia Dini di Norwegia

Waktu sembilan tahun silam saat saya baru merantau, seorang teman pernah menyuarakan ‘keprihatinan’nya tentang pendidikan anak usia dini di Norwegia, 

“Saya baca berita kalau di salah satu kommune, mereka mengajarkan sex education di barnehage. Lengkap dijelaskan bagaimana bayi bisa ada di perut ibu, lalu sebutan seperti penis dan vagina. Apa iya itu pantas diajarkan ke anak-anak? Nanti malah anak-anak jadi tahu hal-hal yang seharusnya belum pantas mereka ketahui, kan? Hati-hati lho kalau nanti nyari TK buat anak!”

Kala itu anak sulung saya masih berusia tiga tahun, dan kami sedang dalam waiting list pendaftaran barnehage (semacam daycare di Norwegia) dari kommune (setingkat kabupaten/kotamadya). Mendengar keluhan sang teman, saya jadi penasaran, seseram itukah kondisi aslinya di barnehage? Ketika membaca link berita yang dibagikan sang teman, ternyata sex education tersebut masih sebatas wacana usulan kommune (Pemda) setempat saja. Namun kejadian ini mengingatkan saya akan kondisi yang pernah saya pelajari di lapangan. 

Sebelum berkeluarga dan merantau, saya mengajar sains di sekolah menengah pertama di Indonesia. Semasa mengajar, tim psikolog sekolah menerima banyak keluhan dari orang tua siswa yang khawatir akan bentuk materi ‘sex education’ -atau yang saya pilih sebut sebagai pendidikan kesehatan reproduksi- yang akan diajarkan di sekolah. Karena muatan pendidikan kespro ini lebih masuk ke pelajaran sains, jadilah saya digaet oleh tim kurikulum untuk menggodok materi pendidikan kesehatan reproduksi tersebut bersama tim psikolog sekolah juga. 

Yang saya pelajari tentang pendidikan kespro untuk anak ternyata luas sekali cakupannya. Tidak seperti yang kebanyakan orang khawatirkan bahwa ‘sex education’ artinya mengajarkan hal-hal tidak senonoh kepada anak. Sebenarnya pendidikan kesehatan reproduksi adalah untuk membangun pengetahuan anak secara bertahap dalam mengenali dirinya sebagai manusia yang berjenis kelamin, fitrah apa saja yang mengikutinya, dan bagaimana cara menjaganya sebagai bagian dari tubuh mereka. Dan ini semua bisa dimulai sejak anak masih usia dini atau balita. Kok bisa? Ya diajarkannya secara bertahap, age appropriately. Kalau bisa dikenalkan sedari balita, siapa lagi yang lebih tepat untuk mengajarkan kalau bukan orangtua.

Menurut saya pribadi, mau tinggal di Indonesia ataupun di perantauan, orang tua harus membekali diri dengan pengetahuan hal-hal apa saja yang bisa diajarkan ke anak usia dini sehubungan dengan pendidikan kesehatan reproduksi. Mengajarkan kesehatan reproduksi ke anak usia 0-2 tahun bisa dimulai dengan belajar nama-nama bagian tubuh mereka. Momen sehari-hari seperti saat mandi, ganti popok, atau ganti baju dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan nama-nama bagian tubuh kepada anak. 

Sedari usia 0-2 tahun ini juga anak sudah bisa diajak untuk untuk merawat dan menjaga kebersihan tubuhnya. Ketika anak harus ganti popok atau cebok, ajak sambil bahasakan aktivitas tersebut dengan santai dan tenang. Itu sudah cukup untuk mengenalkan anak dan membangun kebiasaan bahwa kalau setelah buang hajat ya harus dibersihkan, biar sehat. Sambil diajak, orang tua meminta izin seperti “Adek pipis/pup, jadi harus cebok/ganti popok ya biar bersih. Boleh papa/mama bantu yuk? Ayo kita ganti popok/cebok yuk?” lalu mengajak anak untuk ke kamar mandi buat cebok, atau untuk diganti popoknya. Kalau anak sudah terbiasa, bisa mulai dibekali dengan pesan bahwa hanya mama atau papa atau guru di TK yang boleh membantu cebok atau ganti popok, bukan orang lain. 

Selain itu anak di rentang usia ini sudah bisa dikenalkan dengan konsep ‘malu’ kalau tubuhnya tidak berpakaian. Dulu saat si kecil habis mandi, untuk mengajaknya segera pakai baju saya bilang “Kalau badannya kebuka, malu ya? Ih malu. Yuk kita tutup handuk, lalu pakai baju”.

Saya juga belajar bahwa kalau tiba-tiba anak lari telanjang setelah mandi, sebisa mungkin jangan ditertawakan atau kita menganggap itu lucu, apalagi sampai direkam atau difoto. Meski sebenarnya bisa jadi memang tampak lucu menggemaskan, tetapi sebaiknya tumbuhkan rasa malu pada anak saat mereka tidak berpakaian. Cukup datangi si kecil dengan tenang lalu bungkus dengan handuk dan gendong untuk dipakaikan baju.  

Satu hal yang saya perhatikan saat melihat guru di barnehage mengganti popok si kecil adalah mereka terbiasa menyebut aktivitas seputar pipis, kentut atau buang hajat sebagai… ya aktivitas fisiologis biasa saja, layaknya yang manusia normal lakukan sehari-hari. Tidak ada eufimisme seperti ‘buang air’ atau ‘ke belakang’ untuk menyebut aktivitas buang hajat tersebut. Jadi kata-kata seperti ‘bæsj’ (kotoran berak), ‘tisse’ (pipis) dan ‘promp’ (kentut) biasa saja digunakan oleh balita-balita tersebut dengan guru mereka saat ganti popok atau minta ditemani ke toilet.

Follow us: @ruanita.indonesia

Begitu pula saat anak-anak balita ini sedang potty training, guru-guru akan mengingatkan mereka untuk ke toilet dan membantu si anak pipis di toilet dan membersihkan diri.  Palingan untuk anak yang sudah besar, mereka akan minta izin dengan bilang ‘gå på do’ (pergi ke toilet). Gurunya pun akan membiarkan si anak masuk ke toilet dan membereskan urusannya sendiri, sementara si guru menunggu di luar toilet. Kalaupun si anak membutuhkan bantuan, anak akan langsung memintanya. Atau kalau gurunya merasa si anak terlalu lama di kamar mandi, mereka akan mengeceknya dengan bertanya apakah si anak butuh bantuan atau tidak. 

Oh ya, dari sini juga penting buat orangtua tahu nama-nama seputar organ kelamin dan aktivitas buang hajat dalam bahasa lokal. Pernah ada kejadian anak seorang kenalan yang ketika sedang jalan-jalan berkali-kali meminta ‘Adek tisse, papa… adek mau tisse!” dan sang papa bingung ‘tisse’ itu apa. Untung si anak tidak sampai keburu mengompol di jalan.

Selain itu, tidak ada rasa malu yang bercampur rasa bersalah saat anak-anak merasa harus buang hajat atau ganti popok. Kalaupun ada yang mengompol, yah… accident happens. Karena anak-anak tidak merasa ketakutan, ketika mengompol di popok atau saat mereka merasa butuh ke toilet maka mereka tidak ragu meminta bantuan ke guru.

Ini berbeda sekali dengan pengalaman pribadi saya waktu kecil yang kalau mau pipis saja harus sampai bisik-bisik minta izin karena dianggap saru, atau saat melihat keponakan dimarahi sampai menangis hanya karena mengompol yang kemudian justru memperparah ngompolnya. 

Yang saya perhatikan ketika si sulung berusia 3-4 tahun, ia sudah tahu bahwa penampakan fisik anak laki-laki dan perempuan berbeda. Anak-anak di usia ini selain memperhatikan tubuh mereka, mereka juga memperhatikan tubuh anak-anak lain. Dulu anak saya membuat observasi awalnya sebagai teman-temannya yang perempuan suka pakai rok dan rambutnya panjang, sementara teman-teman lelaki rambutnya pendek dan pakai celana. 

Di rentang umur ini pula si sulung mulai bertanya, mengapa pipis perempuan dan laki-laki berbeda. Di sini akhirnya kami ajari si kecil bahwa ‘alat pipis’ manusia itu diciptakan oleh Tuhan ada dua jenis, itulah yang menjadikan mereka perempuan atau lelaki. Kami ajarkan juga bahwa penis adalah nama untuk organ kelamin laki-laki, dan vulva untuk organ kelamin perempuan.

Saya pribadi awalnya merasa aneh menyebut penis atau vulva, secara waktu kecil kenalnya sebutan ‘dompet’ atau ‘burung’. Tetapi kemudian yang muncul di benak adalah bagaimana kalau keterusan membahasakan organ kelamin sebagai burung atau dompet, lalu anaknya lihat hewan burung atau aksesoris dompet dan malah jadi bingung sendiri? Lah sampai sekarang saya juga heran kenapa harus disebutnya ‘burung’ atau ‘dompet’ sih, hahaha! Apalagi sama istilah ‘birds and bees’.

Ketika si kecil masuk usia 5 tahun, dari pengalaman saya sih sudah bertanya ‘Baby itu dari mana, Mama? Kok bisa ada di dalam perut mamanya?’ Nah, ini dia. 

Ada kalanya kita sebagai orangtua kaget mendengar pertanyaan anak. Ini wajar, secara kebanyakan dari kita tumbuh di masa yang berbeda dengan anak-anak kita sekarang, dengan batasan pengetahuan yang berbeda pula. Dari pengalaman sewaktu mengajar, di situ saya belajar bahwa untuk menjawab pertanyaan anak, selalu mulai dari apa yang sudah diketahui oleh anak. 

Untuk mencari tahu, seringkali saya balik bertanya, “What do you think?” atau “What do you know so far about that?”. I mean, seorang anak usia empat tahun mungkin tidak butuh jawaban saintifik lengkap mengenai proses konsepsi dan sexual intercourse saat mereka bertanya “baby itu dari mana, Mama? Kok bisa ada di dalam perut mamanya?” Mungkin setelah kita tarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, try buying time by asking, “Hmm, kalau menurut kamu, bagaimana?”. Dengarkan saja dulu jawaban dari anak, dan ini akan bersambung ke poin selanjutnya,

Berikan informasi secukupnya, berikan jawaban sesuai fakta (sebaiknya hindari jawaban yang mengandung mitos), serta -bila diperlukan- perbaiki informasi yang anak salah tangkap. Waktu itu saya hanya jawab, “Well, the baby grows in a special place called a womb. That special place only presents in a mother’s tummy, with a help from the father. The baby will be held closed to the mother’s heart, warm and snuggled. Do you want to feel how warm the baby inside the mother’s tummy? It’s the same like being hug by me. Here, let me hug you!”

Waktu itu sih anaknya langsung mau saya peluk sambil ketawa-ketawa, sambil ditimang-timang serasa kembali menjadi bayi. Dan untuk sementara, saya pun terselamatkan dari pertanyaan yang lebih ajaib lagi, haha! 

Senangnya lagi, di perpustakaan lokal dan di toko buku online seperti Bookdepository saya menemukan banyak buku cerita yang membantu saya menjelaskan soal human body dan bahasan kesehatan reproduksi ini kepada si kecil. Dan ada banyak buku yang penjelasannya dibikin sesuai rentang usia anak, mau dari 2 tahun sampai buku tentang pubertas untuk dibaca anak-anak usia 6-8 tahun pun ada. 

Momen obrolan di usia prasekolah ini juga saya jadikan sebagai kesempatan untuk ‘menyisipkan’ beberapa nilai religius kepada anak. Ini tentunya kembali ke keyakinan masing-masing orangtua, ya. Saat itu momen ini juga saya pakai untuk mengecek bagaimana perasaan anak tentang topik tersebut, selain juga untuk menyampaikan perasaan dan nilai-nilai yang kita anut kepada anak.

Misalnya, waktu itu anak saya bertanya tentang salah satu anggota keluarga kami yang sudah lama belum memiliki anak. Ini saya jawab dengan, ‘Sometimes people will have a baby when they are ready, but sometimes it’s the other way around. And they will continue to exert their love toward people that they care most. In this case,it’s like my aunt and my uncle who are so devoted to you and loving you like a little princess!”

Perlu dipahami juga bahwa di usia ini, anak akan -dan akan selalu- membuat observasinya sendiri, dari melihat hal-hal yang ada di sekitarnya. Adalah penting untuk membuat anak merasa aman dan nyaman saat menyampaikan hasil observasinya tersebut.

Ketika misalnya orangtua merasa kaget atau tidak nyaman saat mendengar hasil observasi anak, just take a deep breath… and buy your time by asking,what do you think?” Dan kalau kita tidak bisa menemukan jawabannya saat itu juga, it’s ok to say “I don’t know… yet”. Mungkin bisa juga dilanjutkan dengan, “Maybe later we can go to the library and find the answer from a book about human body. How about that?”

Dari pengalaman yang sudah-sudah sih, ketika anak berumur 5-6 tahun ini saya mulai mendapatkan beberapa pertanyaan yang cukup bikin deg-degan. Dan seiring dengan bertambah luasnya dunia anak, sebelum ia masuk SD kami bekali dengan pengetahuan tentang ‘stranger danger’.

Seperti, mengingatkan anak bahwa tidak ada orang lain yang boleh memegang bagian manapun di tubuhnya, kecuali kalau ia butuh bantuan, atau kalau sedang sakit mau diperiksa dokter yang mana papa atau mama pun akan turut berada di ruang periksa.  Kami juga membiasakan untuk bertanya terlebih dahulu ke anak, meski seremeh “Wanna hug?” atau “Hold my hand, please?”.

Ternyata di barnehage pun guru-gurunya mengajarkan hal yang sama, tiap kali hendak berpelukan, selalu bertanya terlebih dahulu “Stor klem?” (big hug). Selain itu si kecil juga kami ajari untuk berkata “Tidak” (dan kalau perlu segera lari menghindar atau melawan) bila ia tidak merasa nyaman untuk kontak fisik apapun.

Normalkan penggunaan kata “Tidak” untuk mulai mengajarkan anak tentang boundaries & consent. Ajari pula anak untuk menyampaikan secara langsung kepada orangtua bila ia mengalami rasa sakit dan tidak nyaman terhadap perlakuan orang lain.

Sebagai orang Asia juga, biasanyanya kita memiliki kebiasaan yang berbeda seputar urusan membersihkan diri seusai buang hajat. Ini saya sampaikan di awal ke guru saat si kecil akan mulai masuk barnehage. Saya bilang bahwa di rumah biasanya si kecil saya bersihkan dengan kucuran air dan tisu wipes, jadi mungkin anak saya awal-awal akan merasa tidak terlalu nyaman hanya menggunakan tisu saja.

Untungnya guru di sekolah bisa menerima informasi ini dan menjelaskan bahwa saat mengganti popok di barnehage, guru akan selalu mengenakan sarung tangan sekali pakai, dan anak-anak akan dibersihkan menggunakan tisu dan air agar semua kotorannya bersih terangkat.

Tidak ada kata ‘terlalu awal’ untuk ngobrol dengan anak seputar bahasan kesehatan reproduksi ini. Bahkan ternyata bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana. Kenyataannya, anak hanya bisa merasa nyaman membangun dialog dengan orangtua seputar bahasan ini kalau orangtua bisa membangun rasa percaya dan aman dalam diri anak terlebih dahulu. Ini adalah landasan penting untuk hubungan orangtua dan anak.

Tentunya ini tidak dibangun hanya dari sekali percakapan; ini adalah dialog yang berlanjut antara orang tua dan anak, dibangun dari percakapan-percakapan kecil yang berlanjut dan berkembang seiring dengan pertumbuhan anak.

Penting bagi anak-anak untuk merasa aman dan nyaman, agar bisa jujur datang ke orangtua untuk mendapatkan informasi yang dapat dipercaya. Percakapan yang terbuka dan jujur yang dibangun sedari anak berusia dini akan sangat membantu kita -sebagai orangtua- untuk dapat membuka dialog-dialog selanjutnya dengan lebih mudah.

Pesan yang penting adalah agar anak tidak perlu merasa malu atau takut bertanya tentang seks kepada orangtua. Dialog yang orangtua bangun bersama anak akan menjadi dasar bagi anak-anak untuk mencari informasi yang tepat, dan nantinya membantu mereka membuat pilihan yang sehat tentang kesehatan reproduksi mereka.

Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia

(CERITA SAHABAT) The Cat Who Came in from the Cold and Brought Us Warmth

Ilustrasi.

Namanya Kucing. Nama yang sangat original, bukan? 

Kucing ini datang di dalam kehidupan saya enam tahun yang lalu, setelah ia dibuang oleh pemiliknya di musim dingin, di sebuah kota kecil di pegunungan di Prancis.

Saya ingat betul, waktu itu di akhir Desember, di luar suhu udaranya minus 25 derajat. Musim dingin paling ekstrim yang pernah saya alami. Seekor bayi kucing berumur tiga bulan mengikuti suami saya kembali ke rumah.

Kucing itu terlihat lapar dan kedinginan, ada luka potong di salah satu bagian telinganya. Hari itu juga, kami putuskan untuk memberi makan dan membiarkan kucing itu tinggal di dalam rumah dan tidur bersama kami, mengingat suhu di luar yang mematikan untuk badannya kurus itu. 

Esoknya kami membuat pamflet yang kami rekatkan di papan pengumuman sekitar, siapa tahu kucing ini hanya tersesat dan si pemilik sedang mencarinya. Kami menunggu sampai satu minggu tetapi tidak ada seorangpun yang menghubungi kami. Akhirnya kami putuskan untuk memelihara kucing ini. 

Kami mencoba bertanya kepada dokter hewan sekitar untuk memeriksa apakah kucing ini memiliki chip identitas supaya kami bisa mengembalikan kepada pemiliknya. Ternyata kucing ini tidak memiliki identitas.

Beberapa bulan setelah itu kami pindah domisili ke negara tetangga dan kami kembali membawa si kucing kembali dokter hewan untuk mendapatkan vaksin dan paspor hewan yang dia butuhkan untuk bisa ikut pindah dengan kami.

Untungnya, di tempat tinggal kami sekarang tidak ada aturan tertentu untuk memiliki binatang peliharaan. 

Waktu pertama kali tinggal di Eropa, saya tinggal di pegunungan yang dingin. Suami bekerja setiap hari; dari pagi buta sampai malam baru pulang. Jadilah sehari-hari saya sendirian. Ditambah lagi cuaca yang selalu dingin dan saat itu masih dalam masa transisi menyesuaikan diri dengan kehidupan di Eropa membuat saya berada di ambang depresi.

Sampai akhirnya si kucing datang dan menjadi teman yang menghibur hari-hari saya yang sepi.

Tidak ada alasan tertentu mengapa saya memelihara kucing ini, bahkan tadinya benci dengan hewan kucing karena dulu waktu kecil saya pernah memelihara ayam dan ayamnya dimakan sama kucing. Jadi kesal, bukan?

Namun memang, suami sejak dulu sangat suka binatang terutama kucing. Ketika melihat kucing kecil tersebut mengikuti suami pulang ke rumah, saya sendiri tidak tega kalau harus meninggalkannya di luar di tengah suhu sedingin itu.

Dulu saya pernah memelihara ikan, tetapi ya gitu, ikan ‘kan tidak ada ekspresinya. Berbeda dengan kucing yang playful dan ekspresif.

Si kucing ini punya kebiasaan yang agak unik, hahaha!

Setiap hari dia harus tidur di kaki saya atau di kaki suami, dan kalau kasurnya nggak rapi dia nggak suka. Tiap pagi jam 6, dia akan membangunkan kami dengan “berjalan-jalan” di atas bantal kami, mengendus-endus, dan mengeong sampai kami bangun. Semacam punya alarm hidup, haha! 

Perawatannya kucing ini seperti perawatan pada umumnya: setiap tiga bulan sekali diberi anti parasite/anti kutu. Dia juga diberi vaksin sesuai dengan buku catatan dari dokter hewan. Si kucing juga selalu kami biarkan bermain bebas di luar, dari pagi sampai sore.

Jika kami liburan dengan waktu yang singkat (maksimal 3 hari), maka kami akan memastikan dia memiliki makanan, minuman dan tempat buang air yang cukup sampai kami pulang.

Oh ya, biasanya kami juga awasi dengan CCTV yang ada di rumah untuk memastikan dia baik-baik saja. Jika kami harus pergi dalam waktu yang lama atau lebih dari 3 hari, maka si kucing dititipkan ke tempat penitipan kucing agar dia tidak terlantar.

Tentu saja, ada beberapa hal yang membuat kami geleng-geleng kepala saat memelihara kucing ini. Pernah waktu itu saya harus ganti wallpaper di seantero rumah karena semuanya dicakari sama kucing sampai hancur.

Furnitur rumah juga mau tidak mau ada banyak cakaran kucing. Kadang kala dia membawa pulang binatang buruannya buat hadiah, haha! Yang dibawa pulang ya macam-macam, bisa burung, tikus, atau kadal. Kadang buruan yang dibawa itu masih hidup, jadi ya kebayang lah geli. Kalau buruan yang dibawa sudah mati, itu jadi tugas suami saya untuk membersihkan, haha.

Namun di atas semua itu, bersama kucing ini saya jadi punya teman di kala saya kesepian dan jadi sering bangun pagi juga.

This cat helps me on being a more responsible person, too.

Penulis: Retno Aini Wijayanti dari pengalaman seorang teman yang tinggal di Eropa.

(CERITA SAHABAT) Tahun Perjuangan yang Menguatkanku

Sahabat RUANITA, aku mau bercerita betapa tahun 2021 yang aku lewati ini merupakan tahun yang tak mudah buatku. Masalah hidupku datang bertubi-tubi di tahun ini. Aku tak menyangka, kehidupanku di negeri asing mengajarkanku banyak hal, termasuk untuk tidak mudah mempercayai teman sesama WNI yang kuanggap sebagai sahabatku sendiri. Dari situ aku belajar untuk pasrah dan hanya mengandalkan Tuhan saja saat aku berkeluh kesah.

Ceritaku berawal dari akhir tahun 2020, ketika aku memutuskan untuk membuka usaha di negeri asal mantan suamiku. Saat dulu aku berniat membuka usaha, dia masih suamiku dan mendukung niatku berwirausaha di negara kelahirannya. Sebagai orang yang terbiasa bekerja dan banyak aktivitas sejak aku masih di Indonesia, aku berniat untuk membuka usaha di ibu kota suatu negara di Eropa. Perjalanan panjang mencari lokasi usaha, mengurus perijinan hingga merintis usaha di negeri asing itu bukan hal yang mudah bagiku. 

Setelah aku berhasil membuka usaha yang kuinginkan, aku mengalami masalah rumah tangga. Aku tak mengerti budaya asing ini yang seperti mengikatku untuk tidak bisa bergerak menjadi diriku sendiri. Konflik rumah tangga dengan mantan suamiku memuncak sehingga aku memutuskan untuk berpisah.

Aku pergi keluar dari rumah dan menjadi diriku sendiri. Rupanya, keputusanku keluar dari rumah membuatku kehilangan kesempatan untuk bersatu dengan suamiku lagi. Aku putuskan untuk tinggal sendiri, di apartemen yang letaknya tak jauh dari lokasi usahaku. Setelah 2,5 tahun aku berumah tangga, aku harus berpisah dengan pria yang telah membawaku ke negeri asing ini. Mantan suamiku pun kini telah hidup dengan perempuan lain. 

Semula aku mempercayai sepenuhnya teman, asal Indonesia yang kuanggap sebagai saudara sendiri. Dia mengetahui seluk beluk tentang masalah rumah tanggaku hingga niatku untuk berwirausaha. Pada akhirnya, cerita-ceritaku padanya menjadi bumerang buatku sendiri.

Teman ini bak musuh dalam selimut yang membuat terganggu. Saat aku terpuruk tak berdaya karena masalah rumah tanggaku, dia justru merendahkanku. Dengan lantang dia berujar: “Otak itu jangan taruh di dengkul! Ngaca dong, kamu itu siapa! Kamu itu gak kaya!”

Aku berusaha bangkit dan mengumpulkan kekuatan untuk  bisa melewati krisis yang kualami. Pada akhirnya, aku berpisah dengan suamiku. Aku berpikir memang tak mungkin keduanya bisa berjalan beriringan, antara niatku berwirausaha dengan keharmonisan rumah tangga. Aku gagal dalam berumah tangga, bukan berarti aku gagal sepenuhnya dalam hidup.

Aku fokuskan hidupku pada usaha yang kurintis di negeri asing, meski itu tak mudah. Apalagi aku merintis usaha di saat pandemi sedang melanda dunia ini. Aku hampir patah arang karena lockdown yang berkepanjangan. Aku tak putus asa, aku tetap menjalani usahaku dengan ketekunan. 

Usahaku mulai membuahkan hasil. Beberapa orang-orang ingin bermitra dengan usaha yang aku jalani. Keberhasilan usaha yang aku rintis dilirik media dan mendapat sambutan yang luar biasa dari pejabat publik  karena kebetulan aku ditunjuk sebagai leader sebuah organisasi bisnis. Aku merasa keharuan luar biasa ketika lagu Indonesia Raya berhasil diperdengarkan di lokasi usahaku saat upacara pembukaan.

Follow us ruanita.indonesia

Aku bisa mengatakan bahwa tahun ini adalah tahun perjuangan pun tahun kesedihan. Ayahku telah berpulang di tahun ini. Ayah adalah figur panutan yang membuatku berdiri tegar seperti sekarang. Aku benar-benar terpukul saat ayahku berpulang. Aku semakin bersedih karena aku pun tak bisa menghadiri saat-saat terakhir ayah.

Pandemi telah membuatku tetap di negeri asing ini. Aku berpikir aku baru saja merintis usaha dan tak mudah buatku mempercayai orang-orang di sekitarku untuk mengelolanya. Bersyukurlah, keluarga besarku di Indonesia menerima keputusanku untuk tidak pulang ke Indonesia. 

Prinsipku, aku boleh sedih, aku boleh gagal, tetapi aku tak boleh menyerah dalam hidup. Tekadku sudah bulat untuk tetap menekuni usaha rintisan ku di negeri asing ini. Tahun ini memberi pelajaran berharga untukku bahwa Tuhan tahu apa yang kubutuhkan. Aku tak mungkin membuat usaha bisnisku dan bahtera rumah tangga berjalan seiringan.

Tuhan melihat perjuanganku sehingga aku dipertemukan dengan teman-teman yang lebih baik dan mendukungku. Misalnya, aku bertemu dengan orang-orang baik yang menolongku untuk meneruskan perijinan usaha yang kutekuni ketika mantan suamiku tidak mau jadi penjamin untuk pengurusan surat-suratku di negaranya. Wajar aku kecewa karena dia tidak pernah menafkahiku selama kami menikah. Aku memilih berpisah dengannya.

Tuhan menguatkanku melewati badai hidup yang aku alami di tahun ini karena Dia tahu bahwa aku bisa melewatinya dengan baik. Krisis hidup yang dialami orang-orang berbeda di tahun ini. Tahun ini adalah tahun perjuangan dan tahun kesedihan yang justru menguatkanku di negeri perantauan ini.

Di tahun berikutnya, aku akan fokus untuk mengembangkan usaha yang kurintis daripada sekedar mencari pasangan hidup di usiaku yang tak lagi muda. Aku berharap bisa merintis kerja sama dengan orang-orang yang bisa memajukan usaha kurintis ini. Tuhan tidak tidur. 

Penulis: Perempuan dan tinggal di Eropa.

(CERITA SAHABAT) Berawal dari Pribadi yang Insecure hingga Kondisi Financial Insecurty di Negeri Orang

Ini tahun kelima aku tinggal di negeri empat musim. Aku datang ke negara ini untuk tujuan studi master yang sudah aku selesaikan sejak tahun lalu. Studiku di Eropa sepenuhnya atas biaya sendiri. Ibuku membiayai sepenuhnya kuliah dan hidupku di sini.

Setelah studi selesai, keluargaku berharap aku bisa pulang kembali ke Indonesia. Mereka berharap aku bisa bekerja dan tinggal di Indonesia lagi. 

Sebenarnya aku berharap aku bisa mendapatkan pekerjaan dan tinggal di negara asal studiku. Itu menjadi alasanku pada orang tuaku untuk tidak pulang langsung ke Indonesia setelah studi selesai.

Apa daya Pandemi melanda seluruh dunia. Pandemi juga membuat banyak orang kehilangan pekerjaan dan juga krisis keuangan. Pandemi telah membuatku memiliki masalah mental.

Aku sudah tidak meminta bantuan keuangan orang tuaku lagi sejak aku bisa mendapatkan penghasilan sendiri di negeri yang aku tempati. Pekerjaan itu memang memberi aku uang untuk bertahan hidup di Jerman, tetapi pekerjaan itu berat sekali. Pekerjaan itu tidak hanya sulit secara fisik, tetapi juga secara mental juga.

Pada akhirnya aku harus keluar masuk Klinik untuk mengatasi keluhanku. Aku didiagnosa mengalami masalah depresi. Akibatnya aku memutuskan berhenti dari pekerjaan yang sudah dua tahun aku jalani.

Aku harus menjalani perawatan mental di klinik secara rutin sampai sekarang. Selain itu, pekerjaan itu tak tepat untukku lagi yang kini tidak lagi menyandang mahasiswa.

Follow us: ruanita.indonesia

Bagaimana caranya aku bertahan di tengah Pandemi? Bagaimana caranya aku bertahan hidup di negeri empat musim ini karena aku sudah kehilangan pekerjaan? Bagaimana caranya aku bertahan hidup di negeri asing yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari, sementara studiku berbahasa Inggris? Kemampuan bahasa lokalku tidak sebaik bahasa Inggris yang mudah buatku.

Mungkin banyak orang akan senang karena lulus studi, aku malahan bingung dan merasa insecure. Aku bingung dan kehilangan arah. Aku mulai khawatir bagaimana aku bertahan di negeri ini.

Ini berawal dari diagnosa masalah mental yang aku alami, kemudian aku perlu mendapatkan perawatan rutin hingga aku khawatir dengan keuanganku. Aku tak punya pekerjaan dan tabungan.

Sehari-hari, aku mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah lokal di sini tetapi itu berarti tidak selamanya. Mereka sudah mulai memberikan peringatan agar aku segera mendapatkan pekerjaan. Itu sangat tidak mudah karena aku tidak tinggal di kota besar yang punya banyak peluang kerja untuk para Migran berbahasa Inggris sepertiku.

Aku mulai khawatir dengan hidupku di negeri asing ini karena batas visaku sebagai pencari kerja akan berakhir dalam hitungan bulan. Aku frustrasi dengan kondisi keuanganku karena semua terasa mahal dan berat buatku. Orang tuaku seolah-olah tidak peduli karena aku pun tidak patuh pada mereka untuk pulang ke Indonesia.

Aku tidak percaya diri dengan potensi hidupku karena banyak kali lamaran pekerjaan yang aku kirimkan kerap mendapatkan penolakan. Aku kehilangan arah setelah studiku selesai. Mungkin benar pepatah yang menyatakan: Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang. 

Aku seperti tak berani menatap masa depanku sendiri karena aku tidak punya rencana keuangan yang aku siapkan sebelumnya. Aku tak punya pekerjaan. Aku mengkhawatirkan isi dompetku karena biaya hidup di negeri orang tidak murah.

Sementara kembali ke Indonesia, aku belum siap untuk menata kehidupanku lagi. Aku terlalu jatuh cinta dengan negeri ini, meski aku tak tahu bagaimana aku bertahan hidup.

Penulis: Anonim yang sudah lulus studi dan tinggal di negeri empat musim.

(CERITA SAHABAT) Karena Rumput Tetangga Belum Pasti Lebih Hijau

Setiap kali orang mengetahui kalau aku bersekolah di luar negeri, mereka selalu berkata, “Wah, enak ya kuliah di luar negeri, jalan-jalan terus! Aku lihat di instagram kamu, seru ya? Pasti gak kaya di Indonesia yang kuliahnya tugas melulu! Irinya…“ 

Aku hanya bisa tersenyum. Ya jelas saja, siapa sih yang mau update kesusahannya di Instagram? Tentunya, seperti orang-orang lain, aku hanya mengunggah foto-fotoku disaat aku senang di Instagram. Aku sudah kebal mendengar kalimat-kalimat seperti itu. 

Tadinya aku merasa konyol dan akan menyanggah perkataan mereka. Namun, aku sudah terlalu sering mendengarnya, jadi aku hanya tersenyum. 

“Andai saja kalian tahu, kalau aku jauh lebih iri pada kalian” sahutku dalam hati. Bagaimana tidak? 

Teman-teman seangkatanku saat SMA dulu sudah lulus kuliah beberapa tahun yang lalu dan sudah meniti karier masing-masing. Sementara aku? 

Sudah beberapa tahun lamanya, aku masih berstatus sebagai mahasiswa S1 di Jerman. Banyak juga yang menyindir, bahkan orangtuaku pun kadang menyindir halus, kenapa aku belum lulus-lulus juga. 

Apa boleh buat, banyak kendala yang membuat aku harus terus menyandang gelar “Mahasiswa Abadi” ini. 

Kadang aku berkilah, “Hei, bahkan orang Jerman juga butuh waktu lama untuk lulus S1, tahu!“ kadang mereka mau mengerti, kadang mereka masih suka nyinyir. Itu tidak terlalu menggangguku, tapi ada saatnya aku menyesali keputusanku untuk kuliah di negara ini.

Seandainya waktu itu aku tidak memutuskan untuk merantau, mungkin aku sudah seperti mereka. Sudah lulus dan dapat kerja. Mungkin juga sudah menikah? Yang penting, aku tidak perlu mengikuti perkuliahan dalam bahasa asing.

Jurusan yang aku pilih sudah cukup sulit, dipersulit lagi dengan kendala bahasa. Aku pun bukan orang kaya yang serba berkecukupan bahkan lebih, jadi di saat waktu senggang, aku harus bekerja part-time di berbagai tempat. 

Jangan salah, aku bersyukur karena memiliki pengalaman ini. Sewaktu aku melihat teman-teman sepantaranku dulu, mau tidak mau aku terus membandingkan mereka dengan situasiku sekarang. 

Ketika perasaan insecure dan rendah diri melanda, aku menenangkan diriku dengan berpikir, “Hei, bukankah kamu juga hanya melihat mereka disaat mereka senang? Seperti aku, mungkin saja mereka punya kesusahan yang mereka sembunyikan dari mata sosial media. Seperti mereka, aku pun hanya melihat satu porsi dari kehidupan mereka!“ 

Setelah berpikir seperti itu, aku merasa lebih tenang kembali.

Sekarang, saat berkumpul dengan sesama pejuang dari Indonesia, kami hanya tertawa saat mendengar perbandingan-perbandingan di antara situasi kami dengan situasi teman-teman kami di Indonesia. Perasaan ingin menyerah tentu saja tetap ada, terlebih saat berhadapan dengan Kantor Imigrasi Jerman. Namun semua ini adalah proses, jadi, nikmati saja seluruh prosesnya. 

Memang, rumput tetangga itu belum pasti lebih hijau dibanding rumput sendiri… 

Penulis: A adalah salah seorang Mahasiswa S1 Abadi di Jerman. Umurnya hampir mencapai kepala 3. Hobinya adalah jalan-jalan, olahraga, dan fotografi. Dia anak yang rajin dan senang bekerja serta mencari relasi. Dia berharap untuk bisa menikahi kekasihnya sesegera mungkin di Indonesia.