(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tangan Perempuan, Napas Hutan: Cerita dari Balik Konservasi Orangutan

Di bulan Agustus ini, program video podcast cerita sahabat spesial yang hadir setiap bulan menayangkan tema yang spesial dalam peringatan Hari Orangutan Sedunia, setiap 19 Agustus. upaya menjaga alam sering kali identik dengan kerja lapangan yang berat dan didominasi oleh laki-laki. Namun, di balik itu semua, ada pendekatan yang pelan namun kuat, tumbuh dari ruang yang selama ini kerap terabaikan, yakni ruang perempuan. Bagi Francisca Ariantiningsih, perubahan besar dalam konservasi justru berakar dari dalam rumah.

Francisca lahir dan besar di Manokwari, Papua. Ketertarikannya pada dunia satwa liar sudah tumbuh sejak masa kuliah, ketika ia mulai melakukan penelitian terkait kehidupan satwa dan habitatnya. Ketertarikan itu membawanya melanjutkan studi hingga ke Australia, dan kini ia tengah menempuh pendidikan doktoral di Rutgers University, Amerika Serikat. Di sela studinya, ia tetap aktif bekerja di sebuah lembaga konservasi yang berfokus pada penyelamatan orangutan dan habitatnya di Sumatera.

Baginya, konservasi tidak pernah sesederhana melindungi satu spesies. Orangutan memang sering dijadikan simbol atau pintu masuk untuk meningkatkan kesadaran publik, tetapi sesungguhnya yang dijaga adalah keseluruhan keanekaragaman hayati di dalam suatu ekosistem. Hutan, satwa, dan manusia adalah satu kesatuan yang saling terhubung. Karena itu, pendekatan konservasi tidak bisa hanya berhenti pada perlindungan satwa, tetapi harus menyentuh aspek sosial, ekonomi, hingga budaya masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Pengalaman Francisca bekerja bersama lembaga konservasi lokal di Sumatera memperkuat keyakinannya akan pentingnya peran masyarakat setempat. Lembaga tersebut lahir dari inisiatif anak-anak muda lokal sejak awal tahun 2000-an, dan hingga kini tetap bertumpu pada kekuatan sumber daya manusia setempat. Mereka percaya bahwa masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan yang seharusnya menjadi aktor utama dalam upaya pelestarian. Tradisi, pengetahuan lokal, dan hubungan turun-temurun dengan alam menjadi fondasi yang tidak tergantikan.

Di tengah perjalanan itu, muncul satu pertanyaan penting yang kemudian mengubah arah pendekatan program: mengapa perempuan? Dalam banyak komunitas di Indonesia, ruang perempuan untuk terlibat dalam kegiatan konservasi sering kali terbatas oleh norma dan budaya. Namun di sisi lain, perempuan memegang peran yang sangat besar di dalam keluarga. Mereka bukan hanya pengelola rumah tangga, tetapi juga pendidik pertama bagi anak-anaknya. Ketika pengetahuan tentang konservasi diberikan kepada perempuan, nilai-nilai itu tidak berhenti pada satu individu, melainkan mengalir ke generasi berikutnya.

Dari pemahaman inilah lahir berbagai inisiatif yang secara khusus melibatkan perempuan. Salah satunya adalah pembentukan kelompok restorasi ekosistem berbasis perempuan. Dalam program ini, perempuan desa dilibatkan secara langsung dalam proses pembibitan, penanaman, hingga perawatan tanaman. Mereka bahkan menggunakan gedebok pisang sebagai media tanam, menggantikan polybag plastik yang selama ini umum digunakan. Pendekatan ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga dekat dengan keseharian mereka.

Seiring waktu, dampak dari program ini melampaui tujuan awalnya. Keterlibatan perempuan dalam kegiatan restorasi ternyata juga membuka peluang ekonomi baru. Bagi sebagian perempuan, terutama mereka yang kehilangan suami sebagai tulang punggung keluarga, program ini menjadi jalan untuk bertahan dan bangkit. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga penghasilan yang memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan menyekolahkan anak hingga jenjang yang lebih tinggi.

Perjalanan tersebut kemudian berkembang ke pendekatan lain yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu pengembangan kebun rumah atau home garden. Melalui program ini, perempuan didorong untuk memanfaatkan lahan kecil di sekitar rumah guna menanam kebutuhan pangan keluarga. Hasilnya tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga bisa dijual jika ada kelebihan. Dalam konteks masyarakat yang ruang geraknya terbatas, pendekatan ini menjadi solusi yang relevan sekaligus memberdayakan.

Bagi Francisca, pendekatan terhadap perempuan bukan sekadar strategi alternatif, melainkan kunci penting dalam keberhasilan konservasi jangka panjang. Ia melihat bahwa ketika perempuan diberi ruang yang tepat, mereka mampu menjadi penggerak perubahan yang efektif. Di tengah dominasi laki-laki dalam isu perlindungan kawasan dan satwa, pendekatan berbasis perempuan justru membuka pintu baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, konservasi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan kehidupan manusia dalam berbagai dimensinya. Apa yang dilakukan setiap hari, sekecil apa pun, memiliki dampak terhadap lingkungan. Kebiasaan sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik atau membawa tas belanja sendiri menjadi bagian dari upaya menjaga alam yang lebih besar.

Cerita Francisca mengingatkan bahwa harapan untuk masa depan lingkungan tidak selalu datang dari langkah besar atau kebijakan besar. Ia bisa tumbuh dari rumah, dari halaman kecil, dari tangan perempuan yang dengan sabar menanam, merawat, dan mengajarkan. Di sanalah, masa depan konservasi perlahan dibangun dengan cara yang mungkin sederhana, tetapi penuh makna.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial episode Agustus 2026 di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Fasilitasi Workshop Online tentang Empati, Gender, dan Keadilan Sosial dalam Konteks Banda Neira

Jakarta, April 2026 – Ruanita Indonesia bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Amerop telah menyelenggarakan workshop online bertajuk “The Forgotten Banda Neira: Women, Gender, Inclusivity & Social Justice in Island Community” pada Sabtu–Minggu, 18–19 April 2026 melalui platform Zoom.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan program pengabdian masyarakat ke Banda Neira, dengan fokus pada penguatan perspektif etika, kesadaran gender, serta keadilan sosial bagi peserta yang berasal dari berbagai negara studi.

Workshop difasilitasi oleh Fransisca Ariantiningsih, PhD student di Amerika Serikat dan aktivis lingkungan hidup; Zakiyatul Mufidah, PhD student di Inggris sekaligus dosen di Indonesia; serta fasilitator Ferdyani Atikaputri dan Anna Knöbl.

Selama dua hari pelaksanaan, workshop menghadirkan ruang diskusi yang mendorong peserta untuk memahami Banda Neira tidak hanya sebagai lokasi geografis atau destinasi sejarah, tetapi sebagai komunitas dengan kompleksitas sosial yang dipengaruhi oleh warisan kolonial, dinamika ekonomi, serta relasi gender.

Peserta diajak untuk merefleksikan berbagai pertanyaan kunci, antara lain:

  • Bagaimana cara berkunjung tanpa mengeksotisasi komunitas lokal?
  • Siapa yang diuntungkan dari narasi tentang Banda Neira?
  • Bagaimana sejarah kolonial masih memengaruhi kehidupan sosial saat ini?

Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, melalui diskusi kelompok, refleksi kritis, serta pemetaan gagasan secara kolektif.

Workshop juga menekankan pentingnya memahami isu gender dalam konteks yang lebih luas melalui pendekatan interseksionalitas, yang mempertimbangkan keterkaitan antara gender, kelas, geografi, dan akses terhadap sumber daya.

Dalam sesi diskusi, peserta mengeksplorasi konsep kerja tak terlihat (invisible labor), khususnya peran perempuan dalam menopang kehidupan sosial dan ekonomi yang sering tidak tercatat dalam narasi dominan.

Selain itu, peserta didorong untuk mengembangkan kesadaran terhadap posisi dan peran mereka sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas, serta potensi bias dalam praktik pengabdian masyarakat.

Salah satu fokus utama workshop adalah membangun kesadaran tentang etika representasi dan risiko eksotisasi dalam dokumentasi maupun narasi tentang komunitas.

Peserta diajak untuk membedakan antara empati dan pendekatan yang berpotensi memosisikan masyarakat sebagai objek, serta untuk menghindari narasi yang bersifat heroik atau paternalistik.

Sebagai bagian dari proses ini, peserta juga menyusun komitmen etis yang akan menjadi panduan dalam pelaksanaan kegiatan lapangan.

Sebagai tindak lanjut, peserta diharapkan membentuk kelompok kerja untuk mengembangkan karya kolektif, ssebagai medium yang etis dan tidak eksploitatif, sekaligus menjadi arsip pembelajaran kolektif peserta.

Komitmen terhadap Pembelajaran Kritis

Melalui workshop ini, Ruanita Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong pendekatan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan lapangan, tetapi juga pada proses pembelajaran kritis, reflektif, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi peserta untuk menjalankan program pengabdian dengan kesadaran sosial yang lebih mendalam, serta membangun praktik yang lebih adil dan inklusif dalam berinteraksi dengan komunitas.