(IG LIVE) Kesedihan dan Kesepian di Hari Raya: Ruanita Indonesia Bahas Realita Emosional Perayaan di Perantauan

Ruanita Indonesia kembali menggelar program bulanan Diskusi IG Live episode Desember 2025 dengan tema yang jarang disentuh namun sangat relevan: kesedihan dan kesepian di hari raya.

Gelaran rutin bulanan ini menghadirkan percakapan santai tetapi penuh makna bersama para narasumber yang memiliki pengalaman hidup di luar negeri, khususnya dalam merayakan hari-hari besar tanpa keluarga dan dalam konteks budaya yang berbeda.

Dipandu oleh Bernadeta Dwiyani, Praktisi Kesehatan Mental di Spanyol dan Co-founder Kesmenesia, sesi ini menghadirkan dua pembicara: Firman, psikolog klinis sekaligus co-founder Kesmenesia yang menetap di Jerman dan Vero, pengajar BIPA yang tinggal di Tiongkok

Topik ini dianggap penting karena di tengah hingar-bingar Natal dan Tahun Baru, sempat terlupakan bahwa perayaan tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Banyak orang merasakan tekanan emosional, kehilangan, bahkan isolasi; terutama mereka yang tinggal jauh dari keluarga.

Follow us

Ketika diminta menggambarkan suasana Natal di Tiongkok, Vero menjelaskan bahwa perayaan tersebut tidak menjadi bagian dari tradisi mayoritas. Ia menerangkan bahwa: Natal lebih dirayakan sebatas simbol dan dekorasi di pusat perbelanjaan. Selain itu, esensi dan nilai spiritualnya kurang dipahami oleh masyarakat lokal. Perayaan agama di Tiongkok cenderung diatur ketat oleh pemerintah, sehingga umat harus merayakan secara terbatas.

Meski begitu, ia mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan: dekorasi Natal mulai terlihat lebih terbuka dan kehadiran orang asing meningkat sehingga toleransi terhadap perayaan semakin membaik.

Namun, ketika bicara tentang pengalaman emosional, Vero tak menampik adanya rasa rindu kampung halaman: kerinduan pada masakan khas, keluarga, serta kegiatan seperti ibadah bersama menjadi pemicu kesedihan yang kerap muncul setiap menjelang hari raya.

Dalam kesempatan ini, Firman memberi penjelasan mendalam tentang mengapa hari raya dapat memicu rasa sedih atau kesepian.

Menurut Firman ada berbagai faktor, antara lain:

  • situasi hari raya sebenarnya netral, namun makna yang kita berikan bersifat personal;
  • ekspektasi sosial, termasuk gambaran ideal yang kita lihat dari iklan, budaya, dan media sosial—membentuk tekanan bahwa kita harus bahagia;
  • kehilangan, proses berduka, atau pengalaman masa lalu dapat muncul kembali ketika rutinitas berhenti dan kita punya waktu untuk merenung;
  • rasa kesepian tidak selalu berarti sendirian secara fisik—bahkan di tengah keluarga pun, seseorang dapat merasa hampa.

Firman menegaskan bahwa rasa sedih di hari raya adalah sesuatu yang normal, bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, momen libur dapat menjadi kesempatan untuk: memproses emosi yang selama ini terpendam, mempertanyakan ulang idealisasi perayaan, memahami kebutuhan pribadi, menetapkan batasan (boundaries), dan mencari keseimbangan antara koneksi dan waktu untuk diri sendiri.

Dalam diskusi, kedua narasumber menyentuh isu yang dialami banyak pengikut Ruanita Indonesia: merayakan hari raya sebagai migran atau ekspatriat.

Tantangannya meliputi: perbedaan budaya dan norma sosial, keterbatasan kebebasan beragama, minimnya akses ke komunitas, jarak fisik dari keluarga, dan kesepian yang muncul karena “perbandingan” dengan suasana kampung halaman

Firman mendorong audiens untuk: menerima bahwa tidak semua emosi harus ceria, mengenali fase adaptasi yang sedang dijalani, membuka diri terhadap komunitas lokal atau orang-orang Indonesia di negeri tersebut, fleksibel antara kebutuhan pribadi dan sosialisasi

Diskusi IG Live ini menjadi ruang aman bagi migran, mahasiswa, dan pekerja perantauan untuk saling berbagi pengalaman. Tema yang jarang diangkat ini justru menyoroti sisi kemanusiaan hari raya: bahwa tidak semua orang bahagia, dan itu wajar.

Perayaan bukan sekadar simbol, tetapi tentang koneksi, keseimbangan, dan penerimaan diri.

Simak rekaman selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung:

(IG LIVE) Bagaimana Adaptasi Budaya dan Sekolah Anak yang Pindah Sekolah ke Mancanegara?

Dalam diskusi IG Live yang diselenggarakan pada bulan April 2024, Ruanita Indonesia mengambil tema parenting, yang khususnya tentang bagaimana adaptasi sosial dan budaya pada anak apabila anak berpindah sekolah ke luar negeri.

Bagaimana pun urusan kepindahan sekolah anak ke luar negeri, ternyata bukan hanya soal administrasi saja.

Melalui diskusi sekitar tiga puluh lima menit, Ruanita Indonesia mengajak orang tua untuk berbagi saran dan pengalaman agar dapat mengatasi permasalahan sosial dan budaya yang dihadapi anak.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Rida Luthfiana Zahra, yang adalah mahasiswi S2 di Jerman, mengundang dua tamu yang tinggal di Jerman dan Korea Selatan.

Mereka adalah Citra Dewi, seorang ibu yang tinggal di Korea Selatan dan Nadiya Dewantari, seorang ibu yang tinggal di Jerman. Nadiya merasa kesulitan juga untuk menjelaskan ke anak-anak bahwa mereka harus pindah ke negara lain, padahal anak-anak sudah merasa nyaman di Jepang, negara pertama sebelum pindah ke Jerman.

Nadiya membuat contoh-contoh yang mudah dicerna anak ketika anaknya sedang berusia lima tahun untuk berpindah sekolah ke Jerman, dari negara Jepang.

Citra menjelaskan bahwa perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan, bukan hal yang direncanakan. Citra mengakui bahwa tantangan yang dihadapi anak saat pindah, lebih pada kesulitan anak mempelajari Bahasa Korea.

Citra berusaha untuk mengatasi tantangan perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan dengan datang ke Multicultural Centre.

Follow us

Menurut Nadiya, kunci perpindahan sekolah anak ke luar negeri ada di orang tua, seperti berbagi peran antara ibu dan ayah untuk memberikan motivasi kepada anak-anak, yang disesuaikan dengan cara pandang dan usia perkembangan anak.

Sedangkan Citra berpendapat, orang tua tidak perlu khawatir apabila ingin membawa serta anak ke mancanegara dalam rangka bertugas. Selain itu, saran Citra orang tua perlu aktif untuk mencari tahu bagaimaan situasi sosial dan budaya yang menjadi negara tujuan anak agar anak tidak mengalami permasalahan.

Apa saja yang diperlukan bagi ibu untuk mempersiapkan kepindahan sekolah anak ke luar negeri? Apa saja tantangan yang dihadapi anak yang pindah sekolah ke Jepang, Jerman, atau Korea Selatan?

Bagaimana peran orang tua untuk membantu anak menyesuaikan budaya dan sosial saat anak berpindah sekolah? Apa saran Nadiya dan Citra untuk orang tua yang bertugas ke mancanegara dan perlu membawa serta anak-anak untuk pindah sekolah?

Simak diskusi IG Live selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini:

Silakan subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Bagaimana Membedakan Perilaku Orang Tua dengan Perilaku Child Shaming?

Dalam episode IG Live bulan Agustus 2023 RUANITA mengambil tema Child Shaming yang mungkin dilakukan oleh sebagian orang tua, tanpa disadari. Child Shaming sendiri diartikan sebagai metode orang tua untuk menumbuhkan rasa malu pada anak-anak yang menyebabkan anak-anak membatasi perilaku dan perasaan negatif mereka sendiri. Hal ini bisa termasuk komentar langsung atau tidak langsung tentang apa yang anak lakukan.

Child Shaming itu menurut orang tua dianggap efektif untuk mendisiplinkan anak karena dilakukan melalui verbal atau lisan, dari pada hukuman fisik. Baik hukuman fisik maupun hukuman verbal seperti Child Shaming sebetulnya sangat membahayakan bagi masa depan anak di kemudian hari. Seiring dengan penggunaan media sosial, banyak orang tua juga melakukan Child Shaming yang kemudian ditampilkan lewat akun media sosialnya.

Oleh karena itu, RUANITA lewat akun Instagram ruanita.indonesia mengundang tamu yang adalah seorang ibu, penulis, dan Content Creator yang kini menetap di Norwegia. Dia adalah Savitry “Icha” Khairunnisa lewat akun instagram ichasavitry. Diskusi IG Live ini diselenggarakan pada Sabtu, 12 Agustus 2023 pukul 10.00 CEST lalu dan dipandu oleh Dina Diana, mahasiswi S3 di Jerman. Icha begitu tamu IG Live disapa, menyadari bahwa banyak orang tua telah melakukan Child Shaming dalam pengamatannya karena beban orang tua, pengalaman masa kecil, keyakinan pola asuh, dan faktor lainnya.

Follow akun Instagram ruanita.indonesia

Contoh misalnya, anak mengalami tantrum di supermarket atau anak memiliki nilai ujian yang kurang memuaskan, kemudian orang tua membuat malu dengan memarahi, membentak, atau membuat kalimat-kalimat yang membuat anak semakin malu. Padahal orang tua di budaya barat misalnya, mereka akan membiarkan anak ketika anak mengalami tantrum. Perbedaan budaya ini juga sangat memengaruhi dalam perilaku orang tua melakukan Child Shaming.

Jaman memang sudah berubah, di mana penggunaan media sosial juga memengaruhi perilaku orang tua dalam melakukan Child Shaming. Melalui media sosial misalnya orang tua menghukum anak, menghadap ke tembok karena anak terlalu banyak main gadget. Orang tua merekam hukuman tersebut untuk memperlihatkan bagaimana orang tua bersikap tegas dan disiplin terhadap anak, padahal video perekaman hukuman terhadap anak itu sudah termasuk Child Shaming. Demikian pendapat Icha Savitry, yang memiliki seorang putra dan kini telah berusia remaja.

Saran Icha, sebagai orang tua perlu mendiskusikan dalam pelaksanaan peraturan atau kebijakan di rumah. Anak perlu dilibatkan agar orang tua tidak otoriter dan anak juga tidak merasa dipermalukan dengan kalimat verbal yang diberikan di depan umum atau dipublikasikan lewat media sosial. Icha berharap orang tua untuk lebih bijak untuk menempatkan diri seperti anak ketika akan mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat anak malu atau ketika akan memposting sesuatu di media sosial yang melibatkan anak.

Bagaimana cara orang tua untuk membuat disiplin anak tanpa melakukan Child Shaming? Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan agar orang tua tidak melakukan Child Shaming? Bagaimana orang tua perlu lebih bijak menggunakan media sosial sehingga tidak membuat perilaku Child Shaming untuk anak-anaknya? Apa saran Icha juga sebagai orang tua dan penulis buku bertema parenting?

Simak selengkapnya dalam diskusi IG Live berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Bagaimana Perkembangan Slow Fashion versus Fast Fashion?

Diskusi IG LIVE episode Juli 2023 yang diangkat oleh RUANITA lewat akun Instagram ruanita.indonesia adalah tentang Fast Fashion. Sebagaimana kita ketahui, perkembangan fashion begitu cepat seiring dengan tuntutan gaya hidup, permintaan pasar, hingga harga yang terjangkau turut serta memicu kehadiran fenomena sosial ini. Tentu saja Fast Fashion yang dibahas dalam IG LIVE ini bukan hanya menyangkut mode semata, melainkan saja isu lingkungan hidup dan kemanusiaan yang kian hari mengancam.

Untuk membahas lebih detil, RUANITA mengundang praktisi fesyen antara lain: Vanny Tousignant yang tinggal di Amerika Serikat lewat akun Instagram vannytousignant dan Eugenia Putri Stederi yang tinggal di Jerman lewat akun Instagram utte_tee. Vanny sendiri adalah seorang Founder dan Fashion Producer dari New York Indonesia Fashion Week yang berdiri sejak 2017. Sedangkan Eugenia atau biasa disapa Ute adalah Supporter Local Labels yang sering diminta menjadi model voluntary untuk karya fesyen.

Vanny telah banyak berpengalaman dalam mempromosikan brand fashion Indonesia yang memiliki potensi untuk masuk ke pasar mode New York. Vanny telah 21 tahun bekerja di Amerika Serikat sehingga menjabat Restaurant Manager kemudian beralih ke mode. Vanny berpendapat bahwa pilihan hidup fast and slow fashion itu berada di tangan konsumen.

Follow us: ruanita.indonesia

Desainer Indonesia sudah merancang pakaian-pakaian ternama dan akan berkembang pesat dalam dunia fesyen. Menurut Vanny, dia menjadi konsultan mode agar nama Indonesia dikenal lebih luas di dunia. Vanny ingin memerkenalkan mode Indonesia seperti tenun atau busana tradisional Indonesia ke kancah dunia Internasional.

Sementara Ute sejak 2016 mulai menggiatkan produk lokal di Jerman terutama penggunaan barang secondhand dan layak pakai. Tahun 2020 Ute mulai merambah untuk mempromosikan label lokal di Indonesia. Ute sendiri lebih memilih mode yang nyaman dipakai dan tidak memikirkan opini atau pendapat orang tentang pilihan pakaian yang dikenakannya.

Vanny menyarankan agar pemerintah dapat giat mempromosikan pengrajin lokal di daerah yang kaya akan tradisi seperti tenun, perhiasan, dan berbagai produk lokal. Sebagai konsumen, kita pun perlu bijak dengan membeli karya pengrajin lokal sehingga mendongkrak perekonomian negara Indonesia juga. Indonesia tidak hanya sebagai konsumen fesyen saja, tetapi Vanny menilai Indonesia punya potensi yang besar juga dalam dunia fesyen di masa mendatang.

Apa yang dimaksud dengan fast fashion sebenarnya? Bagaimana tantangan dunia fashion sekarang ini dalam melihat perkembangan mode yang kian cepat? Apa langkah praktisi fashion seperti Vanny dan Ute dalam menekan laju fast fashion? Apa harapan mereka sebagai praktisi fesyen untuk kita sebagai konsumen?

Silakan subscribe kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Konsep Bahagia di Denmark & Finlandia

Kebahagiaan pada umumnya biasa diidentifikasikan oleh gerakan wajah tersenyum atau tertawa. Namun apakah tertawa dan tersenyum menjadi satu-satunya tolak ukur dalam kebahagiaan?

Pada IG Live di bulan Maret 2023, Ruanita membahas tentang kebahagiaan atau apa yang menyebabkan seseorang bisa menjadi bahagia yang dipandu oleh Fransisca Sax seorang volunteer RUANITA yang bekerja sebagai Psikolog dan menetap di Jerman.

Pada kesempatan kali ini ada dua sahabat Ruanita, Selvie Tandirerung yang berkerja sebagai Mine Engineer di Finlandia dan juga Dewi Nielsen yang bekerja sebagai suster di Denmark, akan bercerita dan berbagi sudut pandang mereka tentang apa itu kebahagiaan di Finlandia & Denmark.

Lalu mengapa di Finlandia dan Denmark?

Follow us ruanita.indonesia



Menurut Statista, Finlandia dan Denmark merupakan dua negara peringkat teratas dalam index kebahagiaan. Selvie dan Dewi yang sudah lama menetap di kedua negara tersebut bercerita tentang cara hidup dan juga kebiasaan yang menyebabkan dua negara tersebut berada di peringkat atas negara paling bahagia di seluruh dunia. Selain itu, mereka juga akan berbagi tentang perbedaan kultur & cara pandang antara Indonesia dan Denmark & Finlandia dan juga perbedaan fundamental dalam konsep kebahagiaan.

Padahal jika ditilik, Finlandia dan Denmark yang secara geografis berada di Eropa Utara, terkenal akan minimnya sinar matahari ketika musim dingin ditambah lagi suhu cuaca yang hanya berkisar sekitar 20 derajat Celcius pada musim panas. Kekayaan alam mereka juga tidak seberagam atau tidak semelimpah ruah jika dibandingkan dengan Indonesia

Kemudian, apa sih yang membuat Finlandia & Denmark berada di peringkat atas?

Apakah karena masyarakat di dua negara tersebut suka tertawa? Atau karena mereka gemar membayar pajak? Atau mungkin karena mereka mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi antar sesama dan juga kepada badan pemerintahan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, silahkan klik dan putar ulang siaran IG Live Ruanita yang semoga akan menjawab rasa penasaran para sahabat Ruanita dan juga bisa menjadi pembelajaran di hidup kita.

Penulis: Putri T. tinggal di Jerman (akun IG: pupsaloompa)

(IG LIVE) Kekerasan terhadap Perempuan dalam Kasus HIV & AIDS

Episode IG Live di bulan Desember 2022 ini masih menjadi rangkaian kampanye 16 Hari memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang jatuh pada 25 November. Sejalan dengan peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember, RUANITA mengundang narasumber yang memahami dan meneliti HIV & AIDS selama ini terutama dalam kasus HIV & AIDS yang terjadi pada perempuan. Apakah ada kekerasan pada perempuan dalam kasus HIV & AIDS?

Narasumber yang dimaksud adalah Anindita Gabriella Sudewo (akun IG: gabiaja) yang adalah peneliti dan pernah bekerja di HIV & AIDS Research Center Unika Atma Jaya Jakarta. Gabi – begitu dia disapa – telah menyelesaikan tema Disertasi berkaitan HIV & AIDS di UNSW Australia. Gabi Sudewo Ph.D. baru saja menyelesaikan Disertasi studi S3 di UNSW Australia yang masih berkaitan dengan HIV & AIDS.

Norma sosial membuat perempuan lebih rentan dalam kasus HIV & AIDS, di mana terjadi relasi kuasa dalam kasus heteronormatif bahwa perempuan disalahkan dan perempuan tidak punya kuasa untuk mendapatkan layanan kesehatan. Misalnya ada kasus perempuan tidak punya kuasa untuk pergi mendapatkan pengobatan dan layanan rutin karena suami tidak mendukung.

Follow akun IG: ruanita.indonesia

Pengaruh struktur sosial mengenai pandangan: menjadi istri yang baik, pasangan seks yang baik, dan lainnya sehingga menyulitkan perempuan sebagai partner seks untuk melindungi diri misalnya pemakaian kondom saat berhubungan seks. Perempuan dalam penelitian Gabi juga ditemukan bahwa mereka masih sulit untuk mengambil keputusan untuk kesehatan dan perlindungan dirinya.

Kekerasan dalam kasus HIV & AIDS bukan hanya berupa kekerasan fisik atau kekerasan verbal melainkan pada pembatasan terhadap layanan kesehatan HIV & AIDS dan tidak adanya dukungan sosial dari pasangan seks pada perempuan.

Perempuan sebenarnya memiliki kekuatan yakni network sosial yang cukup kuat dibandingkan laki-laki. Melalui social support system yang dibangun seperti RUANITA, ini bisa mengurangi risiko bermunculan kasus HIV & AIDS. Selain itu, kita perlu meningkatkan kampanye untuk sadar tes HIV & AIDS agar lebih dini mengetahui statusnya.

Sejak muncul HIV & AIDS pertama kali di dunia memang tampak seperti isu yang menyeramkan yang berkaitan dengan perilaku seks atau penggunaan zat, bukan masalah kesehatan yang menjadi prioritas. Penting juga memiliki kesadaran untuk memeriksakan dirinya melalui tes HIV & AIDS sehingga lebih dini mengetahui statusnya.

Hari AIDS Sedunia ini juga mendorong pemahaman masyarakat bahwa HIV & AIDS adalah isu kesehatan kronis, bukan isu moral sehingga perlu kesadaran bersama. Hari AIDS Sedunia ini juga perlu memerangi stigma sosial di masyarakat yang menghambat kampanye di masyarakat. Padahal dukungan sosial itu penting untuk mereka yang hidup dengan HIV & AIDS seperti dukungan pengobatan, motivasi, dan lainnya.

Sebagai manusia, kita punya hak asasi manusia yang sama untuk melindungi diri dan mendapatkan akses kesehatan yang sama. Begitu pun dalam kasus HIV & AIDS, kita perlu mendorong peningkatan informasi yang benar dan tepat tentang HIV & AIDS.

Pesan Gabi adalah memulai dukungan dari diri sendiri seperti tidak membuat stigma sosial kepada mereka yang hidup dengan HIV & AIDS. Sebagai makhluk sosial, kita perlu memberikan dukungan yang memberdayakan kepada mereka yang menjadi kelompok rentan dan memberikan advokasi kepada perempuan yang masih menjadi kelompok rentan.

Lebih lanjut tentang diskusi virtual IG Live dapat menyimak rekamannya di saluran YouTube kami berikut:

Disclaimer: RUANITA menyajikan konten dengan tujuan informasi, edukasi dan komunikasi dengan maksud berbagi praktik baik kehidupan orang Indonesia di mancanegara. Konten ini tidak dapat mewakili pendapat profesional/ahli dan disesuaikan dengan konteks dan pengalaman masing-masing narasumber yang terlibat dalam program ini. Mohon kebijakan penonton yang menyaksikannya.

(IG LIVE) Kekerasan terhadap Perempuan dalam Perspektif HAM

“Bagaimana menerima kasus dan tidak menghakimi korban di masa mendatang melalui kebijakan terintegrasi?” kata Chris Poerba sebaga narasumber IG Live Episode November 2022 yang mengambil tema: kekerasan terhadap perempuan dalam perspektif Hak Asasi Manusia (HAM).

Program IG Live adalah salah satu program RUANITA yang diselenggarakan tiap bulan dengan tema-tema menarik dan mengundang tamu yang bercerita menurut pengetahuan, pengalaman dan pengamatan.

Pada Episode November 2022 IG Live dipandu oleh Fransisca Sax, volunteer RUANITA yang bekerja sebagai Psikolog dan menetap di Jerman.

Program IG Live ini menjadi bagian dari kampanye 16 hari peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang dimulai dari 25 November 2022.

Untuk mendalami tema ini, kami mengundang Chris Poerba, peneliti dan penulis buku bertema gender dan HAM. Chris Poerba juga pernah bekerja sebagai Badan Pekerja Purnabakti Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (2012-2021) dan sekarang bekerja sebagai konsultan peneliti di Komnas HAM Indonesia.

Follow kami: akun ruanita.indonesia

Fransisca menjelaskan latar belakang tema IG Live episode November 2022 adalah bagian dari rangkaian kampanye 16 hari yang diselenggarakan RUANITA yang disebut program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamu) yang kini memasuki tahun kedua. Tahun lalu RUANITA menggelar kampanye SURAT TERBUKA yang menyuarakan keprihatian akan maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan.

Mengingat kendala teknis yang dialami Fransisca di Jerman dan Chris Poerba di Indonesia, mohon agar penonton dapat memahami bagaimana kami telah berupaya maksimal dalam menyelenggarakan program IG Live tiap bulannya.

Kekerasan terhadap perempuan adalah termasuk bagian dari kekerasan terhadap hak asasi manusia. Ada kekerasan yang terjadi pada perempuan dan itu belum tentu dialami oleh para pria sehingga itu membuat penderitaan tersendiri bagi perempuan yang menjadi kelompok rentan. Hal ini pun sudah tercantum dalam Konvensi Internasional menjadi bagian dari Kekerasan Berbasis Gender.

Sebagai pekerja kemanusiaan, Chris Poerba tentu punya motivasi tersendiri karena telah bergelut lebih dari 10 tahun dalam isu yang sama. Chris menilai selama ini masih banyak orang rancu antara pendapat gender dan kodrat, padahal relasi perempuan dan laki-laki adalah sama. Chris mengaku ini tak mudah untuk meyakini paradigma berpikir seperti ini dalam masyarakat terutama yang masih mendominasi oleh paham patriaki.

Data WHO menunjukkan bahwa 1 dari 3 perempuan masih mengalami kekerasan dan dalam 10 tahun belum ada penurunan angka yang signifikan. Mengapa kasus kekerasan terhadap perempuan masih sulit diproses secara hukum?

Kekerasan terhadap perempuan ini masih terlihat seperti gunung es di mana ada banyak hal yang memengaruhi seperti korban tidak percaya satu sama lain, stigma sosial masyarakat, diskriminasi dan selama ini penanganannya memang masih hanya ada permukaan. Penanganannya menurut Chris perlu dilakukan secara menyeluruh oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Lebih jelas tentang program IG Live, bisa disaksikan rekamannya dalam saluran YouTube kami berikut:

(IG LIVE) Kenali Jebakan Hubungan Gaslighting yang Berbahaya

RUANITA menyelenggarakan program IG Live setiap bulan dengan durasi selama 30-45 menit. IG Live Episode Agustus 2022 dibawakan oleh Natasha Hartanto, seorang WNI yang telah menyelesaikan studi di Jerman kemudian menetap di Jerman.

Natasha via akun IG@ruanita.indonesia akan memandu diskusi virtual bertema Gaslighting yang umumnya tidak dipahami oleh mereka yang sedang terjebak di dalamnya.

Fenomena Gaslighting tidak banyak dipahami ketika seseorang mulai merasa rapuh, merasa bersalah, hingga merasa tidak waras lagi akibat perilaku Gaslighting yang sudah memanipulasi hubungan mereka selama ini.

Gaslighting adalah bagian dari bentuk perilaku Psychological Abuse yang kemudian akan dijelaskan dengan baik oleh narasumber IG Live kali ini. RUANITA telah mengundang Anita Kristina, seorang Psikolog Klinis dan juga founder dari IRIS.

Lewat akun IG: @iris_harapan, Anita memperkenalkan IRIS sebagai wadah yang memberikan pendampingan bagi para korban KDRT untuk berdaya dan bangkit menjadi dirinya sendiri.

Follow akun: ruanita.indonesia

Untuk mendalami Gaslighting, Anita menjelaskan istilah ini yang sebenarnya menjadi populer belakangan ini. Istilah ini diambil dari suatu film yang terinspirasi dari lampu gas yang dimainkan suami untuk memanipulasi keyakinan istri.

Film yang tayang pada tahun 1938 ini kemudian berhasil membuat si istri menjadi rapuh dan kerap disangkal oleh suami berulang kali lewat permainan lampu gas.

Anita menjelaskan bahwa cara mengenali jebakan hubungan Gaslighting: (1). Pelaku menyangkal keyakinan korban dan merasa lupa apa yang sebenarnya terjadi; (2). Pelaku meremehkan apa yang dirasakan atau apa yang diyakini korban. Pelaku membuat korban mempertanyakan kebenaran bahkan kewarasan korban. Pelaku melakukannya dengan halus bahkan menggunakan siasat Love Bombing seperti pujian dan kata-kata cinta sehingga korban menjadi ragu dan bingung. Siasat ini membuat korban merasa bersalah dan kebingungan.

Perilaku Gaslighting seperti konsisten “menyerang” pijakan korban seperti konsep diri, kompetensi, keyakinannya yang berulang-ulang sehingga membuat korban pun rapuh, bahkan ada yang berujung pada petaka. Tujuan dari pelaku adalah melemahkan korban sehingga korban bergantung pada pelaku.

Anita menyarankan jika adalah korban, maka kita bisa melakukan empat poin berikut: (1). Agree to Disagree: Kita tetap yakin terhadap apa yang kita percayai meskipun pelaku kerap menyangkal. (2). Kita tidak menggubris apa yang diperbuat pelaku. (3). Mencari validasi dari Significant Others seperti teman, orang tua, yang mengenal kita dengan baik. (4). Mencari bantuan profesional agar bisa keluar dari jebakan hubungan Gaslighting.

Lebih lengkap diskusi virtual kami tersebut bisa disimak dalam saluran YouTube berikut:

(IG LIVE) Penanganan Anak dengan Autisme di Jerman

JERMAN – IG Live Episode Juli 2022 yang diselenggarakan oleh Ruanita – Rumah Aman Kita adalah bertema penanganan anak dengan Autisme di Jerman. Acara IG Live (16/7) dipandu oleh Christophora Nisyma, yang biasa disapa Nisyma (akun IG: ruanita.indonesia). Dia kemudian mengundang narasumber yang berbagi keilmuan dan pengalaman seputar menangani anak dengan Autisme di Jerman. Narasumber yang dimaksud adalah Fransisca Sax, M.Psi. yang bertugas saat ini di Daycare di Munich, Jerman.

IG Live di bulan Juli ini sebagai pengantar webinar yang digelar Ruanita dengan judul: Bagaimana Menangani Anak dengan Autisme di Mancanegara? pada Minggu, 17 Juli 2022. Fransisca menetap di Jerman sejak 2016, kemudian dia memutuskan untuk bekerja di Daycare untuk anak dan remaja berkebutuhan khusus di Munich pada 2020.

Layanan yang dilakukan Fransisca sehari-hari juga termasuk anak-anak yang masuk gangguan dalam spektrum Autisme melalui bermain, makan siang, ngobrol, atau melakukan terapi. Fransisca biasa membuat diagnosa perkembangan tiap anak/remaja yang didampinginya.

Tugas lainnya yang berkaitan dengan fungsi orang tua yang dilakukan Fransisca adalah membantu orang tua untuk menemukan terapi yang sesuai untuk kebutuhan anak. Di Jerman terdapat peraturan yang mengatur bahwa anak-anak dengan Autisme bisa terinklusi di masyarakat. Ini menjadi perbedaan Jerman dengan negara lainnya. Autisme dan anak-anak berkebutuhan khusus adalah keragaman yang memperkaya, bukan membebani.

Oleh karena itu, pemerintah Jerman berharap bahwa masyarakat juga bisa menerima anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak-anak dengan Autisme. Itu berarti bukan hanya anak-anak berkebutuhan khusus saja yang dituntut bisa beradaptasi di masyarakat. Masyarakat juga harus bisa membantu mereka – anak/remaja berkebutuhan khusus – terinklusi di masyarakat.

Jerman sudah meratifikasi sejak 2009 Konvensi PBB tentang hak individu anak-anak berkebutuhan khusus. Ratifikasi ini sudah berlaku di 16 negara bagian di Jerman, yang disesuaikan dengan kebijakan tiap-tiap negara bagian. Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus di Jerman patut mengetahui paragraf 35A BGB yang menjadi landasan kuat agar anak berkebutuhan khusus tetap dapat terlayani seperti terapi, bantuan finansial dan bantuan pendampingan lainnya.

Sekolah itu gratis di Jerman sedangkan terapi untuk anak berkebutuhan khusus ditanggung oleh asuransi kesehatan. Untuk mendapatkan layanan tak berbayar bagi anak-anak berkebutuhan khusus, orang tua perlu menghubungi instansi terkait di Jerman.

Di paragraf 35A BGB tersebut tertera bahwa anak/remaja yang berkebutuhan khusus itu mendapatkan layanan inklusi jika perkembangannya lebih lambat 6 bulan dari usia perkembangan atau individu seusianya. Misalnya anak umur 6 tahun tetapi belum dapat melakukan toilet training atau belum bisa berbicara seperti anak-anak seusianya.

Kondisi anak-anak yang mengalami keterlambatan tentu akan mempengaruhi proses perkembangan anak selanjutnya seperti dia tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Penting untuk mengetahui dan mendeteksi perkembangan anak sejak dini agar bisa dilakukan penanganan secepatnya.

Diagnostik keterlambatan anak ini menjadi indikator bahwa anak memerlukan penanganan dini. Bantuan terkait anak-anak berkebutuhan khusus yang disediakan pemerintah Jerman kepada masyarakat berupa bantuan rawat jalan, tempat tinggal khusus sifatnya sementara, bantuan perawat/terapis untuk membantu anak berkebutuhan khusus sampai rumah tinggal permanen untuk anak-anak berkebutuhan khusus bila mereka tidak lagi memiliki orang tua/sanak keluarga lainnya.

Tujuan pemerintah Jerman lewat program inklusi adalah memberi kesempatan kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa mandiri dan bisa hidup di masyarakat pada umumnya. Spektrum anak dengan Autisme itu begitu luas sehingga perlu terapi yang mana bantuan pun bergantung pada diagnostik dari anak/remaja tersebut. Pemerintah mengambil alih pembiayaan sehingga perlu juga ada laporan mengenai perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus yang dibiayainya melalui diagnostik berkala. Ini pula yang menjadi bagian dari pekerjaan Fransisca sehari-hari.

Menurut Fransisca, penanganan anak dengan Autisme itu harus dilakukan secara holistik mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial, hukum dan lainnya. Di Jerman terapi yang diberikan kepada anak dengan Autisme pertama kali diberikan oleh dokter anak setelah melihat kecenderungan atau kemungkinan gangguan spektrum Autisme. Orang tua kemudian membawa anak untuk bagian penanganan anak usia dini. Orang tua akan didampingi dalam merawat dan mengasuh anak-anak dengan Autisme. Fransisca menegaskan layanan ini hanya untuk anak-anak berusia PAUD atau anak-anak yang belum memasuki usia sekolah.

Anak dengan gangguan spektrum Autisme biasanya mengalami masalah bahasa, meski begitu bukan berarti dia tidak bisa bicara. Diagnosa bisa merujuk pada bagaimana kondisi anak sebenarnya sehingga perlu stimulasi lebih lanjut. Anak bisa dirujuk ke terapi wicara atau dalam Logopädie Therapie dalam Bahasa Jerman.

Lainnya anak dengan gangguan spektrum Autisme punya kecenderungan masalah dengan sensori panca indera seperti fokus pada penglihatan atau pendengaran tertentu saja. Anak-anak yang punya kecenderungan demikian, menurut Fransisca, biasanya dirujuk ke Ergotherapie dalam Bahasa Jerman. Di Indonesia, Ergotherapie disebut sebagai terapi okupasi.

Lebih lanjut tentang penanganan anak dengan Autisme di Jerman yang disampaikan oleh Fransisca dapat disaksikan dalam tayangan IG Live berikut:

(IG LIVE) Kenali Sebab dan Tips Gangguan Tidur di Musim Panas

JERMAN – Dalam meningkatkan Psikoedukasi, RUANITA – Rumah Aman Kita menggelar program IG Live bulanan yang dipandu oleh Ferdyani Atikaputri lewat akun IG: ruanita.indonesia. Atika, begitu biasa disapa adalah seorang volunteer Tim Dapur Konten dan juga sedang menempuh pendidikan Pascasarjana di Jerman. Pada program IG Live Juni 2022 bertema: Gangguan Tidur di Musim Panas, Atika mengundang narasumber yang merupakan Founder dari Indopsycare.

Dia adalah Dr. phil. Edo Sebastian Jaya, M.Psi yang juga merupakan Psikolog Klinis lewat akun IG: indopsycare. Edo menjelaskan berbagai macam gangguan tidur yang selama ini tidak banyak diketahui oleh orang awam. Atika mengamini bahwa gangguan tidur lebih banyak dikenal hanya insomnia saja.

Gangguan tidur ada beberapa jenis berdasarkan ICD – International Classification of Disease, seperti insomnia; sleep apnea; sleep related movement disorders seperti kaki gerak-gerak, sering terbangun, tidur sambil jalan, tiba-tiba terbangun karena mimpi buruk; gangguan tidur yang disebabkan oleh kebanyakan tidur; gangguan tidur yang disebabkan oleh sejenis lalat yang hidup di Afrika yang bisa menginfeksi tubuh kita sehingga membuat kita banyak tidur; dan gangguan tidur lainnya yang banyak sekali.

Fokus pada gangguan tidur di musim panas, Atika menceritakan pengalaman gangguan tidur yang juga dialaminya sejak dia pindah ke Jerman untuk studi. Di Indonesia siklus gelap dan terang sudah teratur sehingga Atika tidak mengalami gangguan tidur. Berbeda dengan pengalaman Atika di Jerman, lama matahari bersinar pada musim panas menyebabkan adanya gangguan tidur. Di musim panas, tubuh pun masih aktif bergerak karena lamanya matahari.

Edo menjawab bahwa gangguan tidur yang dialami di musim panas disebabkan oleh siklus lamanya matahari dimana tubuh merekam melalui mata sehingga membuat kita sulit tidur di jam yang sebelumnya kita terbiasa tidur. Di musim panas hormon melatonin yang dihasilkan tubuh berkurang sehingga membuat kita tetap terjaga hingga waktu gelap tiba. Tubuh kita lebih bergantung pada lamanya sinar matahari.

Bagi orang Indonesia yang belum beradaptasi dengan negeri empat musim, kita perlu mencermati seperti apa gangguan tidur di musim panas yang sudah sangat mengganggu hingga menyebabkan masalah kesehatan. Gangguan tidur ini sifatnya subjektif dan kembali lagi bagaimana sistem metabolisme masing-masing individu. Meski tidur terdengar sepele, kita terkadang memercayai mitos seperti kita akan bisa menabung jam tidur saat wiken tiba.

Mitos seputar tidur tidak tepat bahwa kita bisa menabung “jam tidur” saat wiken tiba karena kembali lagi bagaimana metabolisme tubuh masing-masing individu. Jika hari Senin dan Selasa, kita sudah tidak tidur malam hari kemudian baru membalas “waktu tidur” di hari wiken maka itu tidak tepat karena terlalu lama. Kembali lagi soal mitos tersebut, ada yang bisa membalas “waktu tidur” bergantung pada usia muda yang masih produktif dan memang secara kebetulan individu tersebut tidak punya masalah kesehatan.

Kebiasaan lama tidur juga bergantung pada usia. Menurut Edo, tidak banyak penelitian yang membahas jumlah jam tidur dengan usia. Edo menjelaskan bahwa lama waktu tidur itu bergantung pada kebutuhan tidur, usia, dan konteks. Ketika bayi, kita butuh waktu tidur lebih panjang sebaliknya ketika dewasa itu kembali pada kebutuhan individu tersebut. Ada lansia yang butuh tidur 7 jam, 8 jam atau 9 jam atau bergantung pada aktivitas kita sehari-hari.

Seiring perkembangan zaman dan kualitas gaya hidup sehat meningkat, bisa saja ada lansia yang banyak beraktivitas olah raga dan aktif sehingga tentu saja membutuhkan waktu tidur yang lebih banyak dibandingkan orang dewasa muda yang tidak lebih aktif.

Edo menyarankan untuk tidak merasa kecil hati jika di usia 40 tahun punya waktu tidur 9 jam. Bagaimana pun kebutuhan tidur bergantung pada konteks, aktivitas dan ritme biologis individu tersebut. Oleh karena itu, 7-9 jam waktu tidur bukan hal yang mutlak dipercayai.

Mengenai insomnia sebagai gangguan tidur yang populer dikenal banyak orang, Edo menjelaskan berdasarkan kriteria diagnostik dalam ICD 11 – International Classification of Disease – yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO) terdapat 3 jenis. Antara lain: (1). susah tidur, yakni kita berusaha untuk tidur padahal kita sudah berada di tempat tidur lebih dari 30 menit; (2). kita merasa sering terbangun saat kita sedang tertidur yang terjadi rutin dan sehingga membentuk pola; (3). Early Awakening, kita pasang alarm untuk bangun jam 9 pagi tetapi kita sudah terbangun di jam 6 pagi.

Edo menceritakan salah satu studi tentang gangguan tidur seperti eksperimen pada tikus. Kelompok pertama dimana kandang tikus tetap terpasang lampu menyala terang. Kelompok kedua justru sebaliknya ketika waktu tikus tidur. Setelah dua minggu, kedua kelompok diperiksa hasilnya.

Kelompok pertama terjadi peningkatan lemak pada tubuh tikus dan risiko kesehatan jantung yang meningkat. Tikus pada kelompok pertama semakin obesitas meskipun kedua kelompok mendapatkan asupan makanan yang sama dengan kelompok kedua. Hasil studi menunjukkan bahwa tidak baik siklus tidur yang berantakan pada manusia karena itu memberikan risiko buruk pada jantung.

Penelitian lainnya menunjukkan bahwa pekerja yang memiliki night shift juga beresiko untuk masalah jantung, hipertensi, dan penyakit lainnya. Hal menarik adalah saran dari penelitian yang menunjukkan bahwa tidur siang juga baik untuk kesehatan jantung kala kita seharusnya beraktivitas di siang hari. Secara pribadi, Edo menyarankan waktu tidur sebaiknya bergantung pada lamanya cahaya matahari.

Program IG Live hadir tiap satu bulan sekali yang ditayangkan oleh Ruanita – Rumah Aman Kita. Anda bisa follow akun Instagram ruanita.indonesia atau mengirimkan pertanyaan lainnya ke email: info@ruanita.com.

(IG LIVE) Penting Bangun Dukungan Sosial Untuk Orang dengan Skizofrenia

NORWEGIA – Dalam rangka Hari Skizofrenia Seduia yang jatuh tiap 24 Mei, Sabtu (28/5) Ruanita kembali menggelar diskusi virtual IG Live dengan mengusung tema ‘Membangun Dukungan Sosial Bagi Orang dengan Skizofrenia’. Lewat akun @ruanita.indonesia, Atika sebagai pemandu diskusi dari tim Ruanita mengundang Yohanes Herdiyanto selaku akademisi & aktivis kesehatan mental untuk berbagi perspektif baru dalam membangun solidaritas bagi mereka yang hidup dengan skizofrenia. 

Adapun skizofrenia adalah kondisi mental yang bermanifestasi pada masalah kognitif, perilaku dan emosi, serta ditandai dengan munculnya gejala yang bervariasi berupa delusi, halusinasi, dan bicara tidak teratur yang mengakibatkan gangguan kemampuan untuk berfungsi. Di awal diskusi, Yohanes Herdiyanto atau yang kerap disapa Kak Hendi menjelaskan bahwa kondisi skizofrenia ini muncul dalam range yang luas dan beragam, seperti ada orang yang mengalami gejala ringan saja karena mungkin sudah rutin minum obat, namun ada juga mereka yang mengalami gejala parah karena mungkin tidak pernah atau tidak rutin diobati. Yang harus diperhatikan adalah baik itu orang dengan skizofrenia maupun keluarganya harus ditolong, jangan sampai dikenakan stigma seperti kondisi skizofrenia disebabkan karena keturunan atau karena karma buruk dari masa lalu. Mengalami skizofrenia saja sudah berat, jangan lagi ditambah dengan stigma negatif.

Atika menuturkan beberapa persepsi keliru yang muncul di masyarakat awam tentang orang dengan skizofrenia (ODS), salah satunya adalah berkepribadian ganda. Persepsi keliru ini turut andil dalam melahirkan reaksi yang keliru dari kebanyakan orang dalam menghadapi ODS maupun keluarga yang mengurusnya. Menurut Kak Hendi, salah satu fenomena yang kerap ditemukan di Indonesia adalah gelandangan psikotik; biasanya mereka adalah ODS yang kabur dari keluarganya atau tidak lagi punya keluarga yang mengurusi, sehingga mereka hidup di jalanan dengan mengais-ngais makanan.

Secara garis besar jika kita hendak membantu, menurut Kak Hendi yang harus diperhatikan terlebih dahulu adalah mengamati apakah ODS tersebut membahayakan dirinya sendiri dan orang lain, seperti membawa benda tajam atau berperilaku agresif. Kalau mereka tidak membahayakan, bisa kita coba tolong dengan memberikan makanan dan minuman, atau membantu menghubungkan mereka ke lembaga-lembaga yang dapat membantu memberikan perawatan kepada mereka.

Fenomena lain yang lahir dari persepsi keliru adalah pemasungan ODS, baik itu dengan dirantai atau dikurung di kamar yang intinya untuk membatasi ruang gerak. Biasanya pasung ini banyak dilakukan oleh keluarga sendiri karena adanya kekhawatiran bahwa ODS tersebut bisa kabur dari rumah lalu berperilaku agresif seperti memecahkan jendela atau menyerang orang lain.

Bisa juga karena saat semua anggota keluarga harus bekerja maka tidak ada yang bisa mengawasi ODS tersebut sehingga kemudian dipasung. Pemasungan yang terlihat ekstrem ini menurut Kak Hendi biasanya bukanlah dilandasi atas kebencian, melainkan lebih karena kepedulian dan kekhawatiran keluarga akan kondisi ODS yang mereka urus. Yang disayangkan adalah kurangnya edukasi bahwa orang yang dipasung tersebut seharusnya diobati, karena jika tidak diobati, kondisinya akan selalu kumat terus dan tidak bisa lepas dari pasungan. 

Terkait dengan informasi seputar pengobatan, Kak Hendi menjelaskan bahwa keluarga ODS dapat mencari informasi pengobatan dan perawatan ke rumah sakit. Jikalau masih terbentur stigma dalam upaya mencari bantuan medis, di beberapa kota besar di Indonesia sudah ada komunitas yang didirikan oleh keluarga ODS dan professional kesehatan jiwa yang saling mendukung dengan memberikan informasi perawatan dan pengobatan untuk ODS. Salah satu komunitasnya adalah Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) yang sudah ada di beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

Untuk mengakses obat psikotik dan pelayanan kesehatan jiwa sudah bisa dilakukan di puskesmas level kecamatan, dan nantinya bisa juga dirujuk ke beberapa rumah sakit yang memiliki layanan psikiatri. Di tingkat desa pun ada kader kesehatan jiwa yang dibantu oleh perangkat desa maupun Babinsa (bintara Pembina desa) untuk membantu evakuasi ODS yang dipasung atau ODS yang mengamuk karena psikotik ke rumah sakit jiwa. Mengenai biaya pengobatan, sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sudah punya sistem untuk perawatan kesehatan jiwa. Bagi ODS yang memiliki BPJS penerima subsidi pemerintah maupun membayar sendiri sudah bisa gratis mendapatkan obat.

Kak Hendi menekankan bahwa ODS harus rutin mengonsumsi obat untuk kondisi psikotiknya, jangan sampai terputus kecuali kalau ada rekomendasi dari dokter untuk mengganti jenis obat.

Bagi keluarga dan orang-orang terdekat ODS, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengawasi, mengingatkan dan menyemangati ODS agar rutin berobat. Kak Hendi menjelaskan tiga pilar pengobatan skizofrenia yang perlu dipahami:

  1. Treatment farmakologi. Ini adalah tahap utama dalam mengobati kondisi skizofrenia. Skizofrenia adalah kondisi ketidaknormalan dalam sistem saraf yang menyebabkan berlebihnya aktivitas hormon dopamine di otak dan menyebabkan gejala-gejala psikotik. Obat-obatan anti-psikotik membantu menekan aktivitas hormon dopamine dan mengontrol gejala psikotik.
  2. Upaya psikoterapi dari psikiater dan psikolog.
  3. Dukungan psikososial untuk melatih ODS kembali ke masyarakat seperti untuk bekerja, punya usaha sendiri, atau terlibat dalam kegiatan masyarakat dan kegiatan vokasional lainnya. Kak Hendi juga menekankan bahwa keluarga ODS tetap menjadi tonggak penting dalam membantu pemulihan ODS dan mengawasinya agar rutin mengonsumsi obat. 

Jikalau sahabat RUANITA memiliki ide menarik untuk tema IG Live, silakan follow akun instagram @ruanita.indonesia dan hubungi kami via DM. Terima kasih dan sampai jumpa di diskusi selanjutnya!

(Ditulis oleh Aini Hanafiah untuk RUANITA Indonesia)

(IG LIVE) Kartini Masa Kini dalam Kewirausahaan

NORWEGIA – Sabtu (23/4) Ruanita Indonesia kembali menggelar diskusi virtual IG Live lewat akun instagram @ruanita.indonesia. Diskusi virtual kali ini mengambil momentum peringatan Hari Kartini dan melanjutkan tema yang sama dari acara Webinar Kewirausahaan yang diadakan 6 Februari 2022 lalu. Dipandu oleh Ferdyani Atikaputri/Atika dari Tim Ruanita Indonesia, kali ini Ruanita mengundang Ibu Dessy Rutten Ph.D FERSA, akademisi dan pebisnis yang tinggal di Belanda untuk membahas tema ‘Kartini Masa Kini dalam Kewirausahaan’. 

Bagi perempuan Indonesia yang tinggal di Eropa, aktivitas berwirausaha bisa menjadi pilihan untuk pekerjaan dan aktualisasi diri. Namun ada banyak hal yang harus dipelajari dan disiapkan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Terlebih lagi setelah situasi pandemi COVID-19 selama lebih dari dua tahun belakangan; di satu sisi memunculkan banyak tantangan namun juga menciptakan banyak kesempatan baru yang unik dalam dunia kewirausahaan. Dalam diskusi virtual kali ini, Ibu Dessy Rutten menjabarkan kiat-kiat agar perempuan Indonesia dapat tetap tangguh dalam berwirausaha di Eropa dan meneladani semangat Ibu Kartini dalam membangun solidaritas sesama perempuan Indonesia.

Di awal diskusi, menurut Ibu Dessy Ruten, sosok pahlawan perempuan yang punya pengaruh dalam hidupnya adalah sosok almarhumah ibunda. Dari sosok ibundalah ia belajar nilai-nilai kewanitaan mulai dari sopan santun, tata tertib, kerapian, tepat waktu, serta belajar tidak hanya menjadi profesional tetapi juga untuk keterampilan mengurus diri dan keluarga. Nilai-nilai yang dipelajari dari ibunda menjadi bekal bagi Ibu Dessy Rutten tatkala pindah ke luar negeri karena saat merantau dan hidup sendiri inilah dituntut harus mandiri tetapi tetap mempunyai budi pekerti dan menjunjung nilai-nilai luhur wanita Indonesia.

Ibu Dessy Rutten pun bercerita ketika kepindahannya yang pertama kali ke Inggris, ia menemukan ada karakteristik yang mirip antara budaya Inggris dan Jawa dari segi sopan santun, etika berbahasa, kedisiplinan serta british diplomacy. Hanya dengan mengubah konteks beda negara, nilai-nilai yang mirip ini jadi cocok karena sudah melekat sebelumnya. Dari situlah Ibu Dessy Rutten melihat bahwa nilai-nilai yang dipelajari dari ibunda di Indonesia menjadi lebih disuburkan ketika merantau ke Inggris.

Kondisi merantau di Eropa juga membuat Ibu Dessy termotivasi dengan nilai egaliter dan keyakinan apapun bisa kita capai, tentunya dengan tetap menjalankan hak dan kewajiban kita. Kalau menilik lagi isi surat-surat yang ditulis R.A.Kartini kepada JH Abendanon, tutur Ibu Dessy, saat itu Kartini merasa terbuka sekali jendela wawasannya karena pada masa itu liberalisasi dan gerakan kebangkitan wanita sudah ada di Eropa, yang menanamkan keyakinan bahwa perempuan bisa mencapai pendidikan setinggi apapun. Pendidikan ini bisa ditempuh lewat jalur formal maupun informal, never stop learning

Ibu Dessy memberikan contoh nilai lainnya yang dipelajari ketika di Eropa adalah kemandirian secara finansial. Kewirausahaan bisa masuk sebagai salah satu jalan bagi wanita untuk mencapai cita-citanya dan mencapai kemandirian finansial atau ekonomi. Lanjutnya lagi, menilik arti kata ‘ekonomi’ sendiri adalah ‘ilmu untuk mengatur rumah tangga’, baik itu rumah tangga dalam lingkup keluarga sebagai unit terkecil, di lingkup perusahaan, maupun di masyarakat dan negara.

Sebagai wanita, ilmu ekonomi bisa mulai diterapkan dulu untuk diri sendiri lalu untuk keluarga, lalu ke luar berkarir, hingga sampai di tingkat mengatur perusahaan karena itu semua pada dasarnya adalah penerapan ilmu ekonomi. Penjelasan Ibu Dessy disarikan oleh Atika sebagai bentuk emansipasi wanita adalah dimulai dari diri sendiri, lalu diterapkan ke keluarga dan ke lingkungan yang lebih besar. 

Berbicara tentang hal kewirausahaan, meskipun skalanya masih kecil namun beberapa tahun belakangan aktivitas kewirausahaan menjadi penolong bagi banyak perempuan Indonesia untuk survive menghadapi tantangan pandemi. Ibu Dessy Rutten sendiri melihat prospek kewirausahaan oleh wanita Indonesia sebagai tantangan yang harus disambut dengan optimisme agar dapat menyiapkan peluang dari tantangan tersebut.

Namun sebelum memulai berwirausaha, Ibu Dessy Rutten menjelaskan bahwa peluang kewirausahaan ini bergantung pada beberapa faktor seperti wilayah geografis, perizinan, serta resources yang tersedia. Beberapa elemen kewirausahaan tersebut dari satu negara dengan negara yang lain bisa berbeda-beda. Namun inti dari kewirausahaan adalah pemberdayaan diri dari dalam ke luar, dengan menjadi mandiri dan berdaya.

Menurut Ibu Dessy Rutten, peluang kewirausahaan di Indonesia di Indonesia lebih mudah karena izinnya tidak serumit di luar negeri dan pasarnya sudah langsung jelas, tinggal kita menentukan fokus segmen, permodalan serta jenis jasa dan produk yang akan ditawarkan. Sementara di luar negeri ada juga peluang kewirausahaan namun sebelum memulainya kita harus lebih jeli membuat pemetaan resources yang dimiliki, mempelajari perizinan, marketing, serta menemukan market dari jasa atau produk yang hendak kita tawarkan. Ditambah lagi, hasil adaptasi dari kondisi pandemi ini menciptakan percepatan pada push factor untuk penguasaan digital skill

Ibu Dessy Rutten juga menekankan bahwa di luar semua elemen tersebut, setiap individu memiliki talent yang spesifik, tinggal bagaimana mengasah kemampuan tersebut sebelum memulai berwirausaha. Ini bisa dimulai dengan mengenali hobi dan bakat yang dimiliki, lalu mempelajari kekurangan apa saja yang harus dibenahi sehingga nantinya kita dapat lebih cerdas melihat peluang. Jika sebelum berwirausaha kita kesulitan untuk objektif melihat hal-hal yang harus dibenahi, Ibu Dessy Rutten menyarankan tidak ada salahnya untuk meminta bantuan orang lain untuk assessing dan memberikan komentar sebagai mentor.

Punya mentor ini penting namun kita harus selektif dalam mencari mentor yang objektif. Mulai juga dengan membuat business plan yang kecil namun teliti dalam penjabaran operasionalnya dan market serta bentuk produk atau jasanya spesifik. Khusus bagi yang tinggal di luar negeri, Ibu Dessy menekankan untuk mempelajari dan memiliki izin usaha terlebih dahulu karena nanti ini berkaitan dengan urusan pajak. Intinya, pelaku usaha tidak bisa mengelak dari membayar pajak dan izin usaha; jangan sampai menjalankan usaha gelap karena nanti urusannya repot.

Mengenai penguasaan digital skill untuk mendukung aktivitas kewirausahaan, menurut Ibu Dessy Rutten kita dapat langsung fokus pada marketing. Semua marketing sekarang berfokus pada digital marketing, apalagi platformnya sudah banyak di media sosial dan melalui e-commerce dan payment system yang lebih terpadu. Ibu Dessy Rutten menekankan bahwa meskipun sekarang banyak platform belajar yang bisa diakses secara gratis, tetapi segala sesuatu yang berkualitas itu ada ‘harga’ yang harus dibayarkan, entah itu berupa tenaga maupun waktu yang diluangkan untuk belajar.

Jika mempunyai keterbatasan financial resources untuk belajar lagi, Ibu Dessy Rutten menyarankan untuk mulai dengan mencari info lewat google atau belajar secara otodidak dengan mengamati pola marketing akun-akun favorit lalu disesuaikan kembali dengan budget dan kemampuan masing-masing.

Satu hal yang Ibu Dessy Rutten akui bahwa belajar itu adalah proses yang terus-menerus dan bagian dari ibadah; never stop learning. Bagi Ibu Dessy Rutten, belajar adalah proses yang mengasyikkan dan sebagai wanita, seiring dengan bergantinya identitas diri kita juga harus mempelajari banyak hal baru. Ketika di bangku kuliah dan dunia kerja belajar bisnis, ketika berkeluarga belajarnya beralih ke pendidikan anak karena ini penting untuk menanamkan karakter baik pada diri anak. Untuk pendidikan formal, Ibu Dessy Rutten terus mengasah digital marketing skills dengan setiap tahun mengambil kursus lagi untuk mengikuti perkembangan dunia media sosial yang pesat. 

Menurut Ibu Dessy Rutten, belajar tidaklah hanya sebatas yang didapatkan dari bangku sekolah formal saja, tetapi juga mempelajari keterampilan lainnya untuk pengembangan diri seperti public speaking, belajar negosiasi bisnis, bahkan belajar berkebun serta belajar secara otodidak yang melibatkan trial and error. Contoh nyata yang bisa kita pelajari dari tulisan-tulisan korespondensi R. A. Kartini adalah pentingnya kemampuan berbahasa dan berkomunikasi. Saat tinggal di luar negeri, selain penguasaan bahasa Inggris, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa lokal adalah penting dan pasti berguna dalam bersosialisasi dan berbisnis.

Dalam berwirausaha, komunikasi dalam bahasa lokal penting bagi marketing untuk mengenalkan usaha, menjual produk dan jasa yang ditawarkan kepada konsumen, serta berdialog dengan partner bisnis untuk mencapai suatu deal. Kemampuan dasar komunikasi dalam banyak bahasa turut membantu kita dalam menyerap ilmu-ilmu di luar jalur pendidikan formal.

Ibu Dessy Rutten sangat menyarankan perempuan Indonesia sedari muda untuk mengasah kemampuan komunikasi, mindset & cognitive skills dan pembelajaran karakter, karena ini akan berguna sekali untuk mengembangkan diri, berkarir, maupun saat nanti berkeluarga. Peran wanita sangatlah unik dan kompleks berlapis-lapis, sehingga dibutuhkan kemampuan dan kemauan untuk terus mau belajar dan mengembangkan diri.

Jika sahabat Ruanita memiliki ide menarik untuk tema IG Live, silakan follow akun instagram @ruanita.indonesia dan hubungi kami via DM. Terima kasih dan sampai jumpa di diskusi selanjutnya!

(Ditulis oleh Aini Hanafiah untuk RUANITA Indonesia)

(IG LIVE) Bagaimana Prosedur dan Adaptasi Anak di Daycare di Eropa?

JERMAN – IG Live Episode Maret 2022 mengambil tema tentang Daycare di Eropa. Seperti biasa, Atika mengundang dua orang tamu yakni Hesti Aryani (akun IG: hestiaryani) yang kini menetap di Zürich, Swiss dan Juwita (akun IG: juwitanzl) yang menetap di Gerestried, sekitar 30 menit dari Kota Munich, Jerman. Mereka berdua akan cerita bagaimana pengalaman mendaftarkan anak di Daycare. Lebih lanjut mereka bercerita prosedur dan biaya yang diperlukan untuk mendaftarkan anak. Tak lupa, mereka bercerita menangani anak untuk beradaptasi di Daycare, yang terasa asing secara budaya untuk anak-anak mereka.

Juwita memiliki seorang putra berumur 3 tahun, yang sekarang masih bersekolah di Kinderkrippe (semacam Playgroup di Jerman) sejak tahun lalu. Awal pendidikan di Jerman dimulai sejak September tiap tahun. Jika orang tua ingin mendaftarkan anak ke Daycare di Jerman, orang tua perlu mendaftarkan secara online melalui website yang tersedia oleh pemerintah setempat. Orang tua di Jerman biasanya lebih sulit mendaftarkan anak di Daycare karena perlu menunggu antrian, terutama mereka yang tinggal di kota besar. Juwita sempat tertunda setahun untuk mendapatkan Daycare, yang jaraknya tak jauh dari rumah tinggal. Kemudian ia mendaftarkan ulang di website dan berhasil mendapatkan Daycare yang letaknya sedikit lebih jauh dari rumah tinggal.

Di Jerman, pendaftaran anak di Daycare gratis sementara biaya Daycare bergantung pada kebijakan dan fasilitas yang tersedia. Pengalaman Juwita yang menyekolahkan anak di Daycare milik pemerintah setempat, dia harus membayar uang makan untuk anak selama di Daycare. Pembayaran Daycare bergantung pada lamanya anak tinggal di Daycare. Juwita bercerita dia harus membayar 450€ per bulan selama 8 jam di Kinderkrippe/Playgroup. Pembayaran Taman Kanak-kanak di Jerman sebenarnya jauh lebih murah, sekitar 280€ per bulan.

Tak jauh berbeda dengan Juwita, Hesti yang tinggal di Zürich bertutur pengalaman anaknya yang sekarang berumur 4 tahun dan sedang memasuki Taman Kanak-kanak. Prosedur memasukkan anak ke Taman Kanak-kanak berdasarkan pengalaman Hesti, lebih mudah karena Universitas yang menjadi tempat bekerjanya telah menyediakan fasilitas tersebut. Pencarian Daycare di kota besar di Swiss pun tak jauh berbeda dengan di Jerman. Bahkan saat seorang ibu sedang hamil besar, dia bisa saja sudah mulai mencari tahu Daycare yang tersedia untuk anaknya kelak. Pemerintah Swiss biasanya lebih memprioritaskan anak-anak dari kedua orang tua yang bekerja.

“Saya bekerja hanya 40 persen dalam satu minggu, sehingga slot anak saya bisa terpakai untuk anak lain yang membutuhkan” kata Hesti. Salah satu syarat di Swiss adalah orang tua perlu menginformasikan bukti vaksin yang diterima sebelumnya oleh anak dengan menyerahkan buku vaksin. Syarat vaksin di Daycare di Swiss tidak wajib. Pembayaran Daycare di Swiss ditentukan berdasarkan lama anak dalam hitungan “Half Day” dan “Full Day”. “Half Day” berarti anak tidak mendapatkan makan siang selama di Daycare. Uniknya, pembayaran Daycare dihitung per hari. Harganya bisa bervariasi. Hesti menuturkan ia membayar 135 Franc Swiss atau sekitar 135€ per hari. Oleh sebab itu, orang tua perlu memikirkan ulang untuk memasukkan anak di Daycare di Swiss. Hesti menambahkan semakin kecil anak dititipkan di Daycare maka semakin mahal biayanya. Misalnya anak umur 4 bulan sudah bisa dititipkan ke Daycare dengan estimasi biaya 180 Franc Swiss per hari. Hesti memperkirakan jika orang tua menitipkan anak di Daycare selama sebulan, maka estimasi biayanya sekitar 2.400 Franc Swiss.

Pengalaman menarik dari Hesti yang datang sebagai akademisi, dia mendapatkan tawaran program integrasi untuk anaknya. Program Integrasi ini, seperti belajar Bahasa Jerman dan biasanya diikuti oleh anak-anak yang berasal dari keluarga pendatang di Swiss. Biaya program ini disubsidi oleh pemerintah lokal. Selain itu, pemerintah di Swiss juga memperhitungkan income dari kedua orang tua untuk mendapatkan potongan pembiayaan anak di Daycare. Taman kanak-kanak atau yang disebut Kindergarten dalam Bahasa Jerman merupakan fasilitas yang gratis dan disediakan oleh pemerintah. Memang usia terberat untuk membiayai anak-anak adalah pada saat anak-anak membutuhkan Daycare, anak-anak yang belum bisa masuk ke Taman Kanak-kanak.

Bagaimana mengatasi adaptasi anak di Daycare?

Juwita menceritakan proses adaptasi untuk anaknya berlaku selama sebulan. Hal itu semacam kebijakan yang umumnya berlaku di Jerman, di mana orang tua bisa bersama anak di Daycare yang  kemudian dilepas bertahap. Juwita melihat anaknya bisa bersosialisasi baik dengan sesama anak-anak lainnya setelah dua minggu anaknya masuk Kinderkrippe/Playgroup.

Sebagaimana cerita Juwita, Hesti juga mengamini bahwa tersedia kebijakan adaptasi di Daycare untuk anaknya di Swiss yang berlaku selama dua bulan. Proses adaptasi ini sangat diperlukan untuk anak-anak agar pengalaman pertama di Daycare ini tidak membuat anak trauma. Oleh karena itu, Hesti tidak bisa meninggalkan anaknya selama proses adaptasi, meskipun anaknya sudah bisa bersosialisasi dengan baik dalam hitungan sebulan.  Orang tua wajib berada di Daycare selama dua bulan pertama sesuai tahapan kebijakan yang diberikan oleh Daycare. Orang tua juga tidak boleh langsung meninggalkan anak, tanpa mengucapkan perpisahan. Bagaimana pun anak perlu diberitahukan jika orang tua mereka pergi, meskipun anak menangis karena mereka berpisah dari orang tua mereka.

Hesti melihat bahwa anaknya begitu menyenangi fasilitas dan suasana Daycare yang tersedia, tetapi ada kendala pada bahasa yang terdengar asing untuk anaknya. Dahulu Hesti tinggal di Yogyakarta di mana anak sehari-hari lebih banyak mendengarkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Hesti tidak mengajarkan bahasa asing sedikit pun kepada anaknya.

Apa manfaat Daycare?

Juwita merasakan manfaat anaknya berada di Daycare, terutama untuk kefasihan berbahasa anak. Sebagai pelaku kawin campur, Juwita merasa anaknya memiliki kemampuan berbahasa yang sangat cepat selama di Daycare. Sebelum anak masuk di Daycare, Juwita melihat bagaimana anaknya kesulitan dalam berkomunikasi. Setelah anaknya masuk di Daycare, kosakata anak berkembang lebih cepat. Anak juga belajar disiplin seperti anak bisa makan sendiri. Juwita merasakan manfaat Daycare untuk anaknya.

Serupa dengan Juwita, Hesti juga merasakan manfaat yang besar dari memasukkan anak ke Daycare. Anak bisa belajar rules, ada tahapan anak menjadi mandiri. Anak juga mengobservasi anak lain seusia dia sehingga memotivasi anak untuk mencoba juga. Misalnya, anak melihat anak lain bisa makan sendiri maka anak juga ikut mencoba makan sendiri. Itu bekal yang sangat bagus sebelum anak masuk Taman Kanak-kanak.

Bagaimana pun Hesti menjelaskan bahwa syarat anak untuk masuk ke Taman Kanak-Kanak di Swiss adalah anak sudah bisa melakukan toilet training dengan baik, pakai baju dan sepatu sendiri serta anak mampu merespon komunikasi orang lain. Sebetulnya, anak merasakan banyak manfaat selama berada di Daycare seperti melatih kemampuan mandiri dan kemampuan sosialisasi.

Apa saran dan tips untuk memasukkan anak di Daycare?

Untuk orang tua yang masih di Indonesia dan ingin membawa anaknya ke Eropa, Juwita berpendapat bahwa anak perlu memiliki catatan buku vaksin sebagai syarat masuk. Setelah anak lahir, orang tua juga harus bersegera mendaftarkan anak secara online, meski anak masuk dalam daftar tunggu. Pemerintah Jerman juga membantu orang tua yang kesulitan secara financial untuk membayar Playgroup atau Kindergarten. Bagaimana pun kebutuhan anak untuk pendidikan dini sangat diperlukan bagi tumbuh kembang anak.

Hesti menambahkan tips untuk orang tua adalah mulai mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang prosedur pendaftaran anak di Daycare, terutama bagi orang tua yang sudah tahu akan lokasi tinggalnya. Bagaimana pun lokasi Daycare biasanya bergantung pada lokasi tempat tinggalnya. Ia menambahkan orang tua tidak perlu khawatir untuk tantangan bahasa asing yang harus dikuasi anak di bawah lima tahun. Berdasarkan pengalamannya, anak yang memasuki usia golden age itu sangat mudah untuk menyerap bahasa asing dari sekitarnya.

Orang tua perlu juga membangun koneksi dengan sesama komunitas orang tua lainnya sehingga bisa mendapatkan informasi seluas-luasnya tentang Daycare. Terakhir, Hesti mengatakan bahwa orang tua tidak boleh memaksakan anak ke Daycare supaya anak lebih nyaman untuk tahapan berikutnya.