(IG LIVE) Menyiasati Posisi Generasi Sandwich Saat Tinggal di Luar Indonesia

Dalam diskusi IG Live episode Juli 2024 mengangkat tema generasi sandwich, yang mungkin banyak relate dengan sahabat Ruanita yang tinggal di luar Indonesia dan sedang berada dalam posisi ini.

Namun begitu, tak banyak juga yang tahu istilah generasi sandwich tetapi kita telah berperan sebagai generasi sandwich meski tinggal jauh berada di luar Indonesia.

Untuk membahas lebih dalam, kami mengundang sahabat Ruanita yakni Ranindra Anandita, seorang Psikolog yang bermukim di Prancis dan Alfa Kurnia, seorang Mom Blogger yang tinggal di Brunei Darussalam.

Diskusi IG Live ini sepenuhnya dimoderasi oleh Rida Luthfiana Zahra, seorang relawan Ruanita yang sedang menempuh studi S2 di Jerman.

Banyak orang awam beranggapan bahwa generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja, padahal Ranindra menegaskah ada juga posisi generasi sandwich terjadi di Eropa atau Amerika saja.

Namun, cara pandang budaya di Asia atau Indonesia justru memperkuat dan menegaskan bahwa anak perlu bertanggung jawab kepada orang tua yang sudah melahirkan dan merawat sebelumnya.

Follow us

Sementara di budaya barat, peran ini ada tetapi diperkuat lagi dengan fasilitas yang tersedia bahwa orang-orang tua pun bisa mandiri atau tinggal di panti jompo.

Sementara Alfa Kurnia juga menceritakan bahwa tinggal di luar Indonesia itu tidak mudah dan tidak murah. Hal ini banyak tidak dipahami keluarga-keluarga di Indonesia yang menganggap tinggal di luar Indonesia itu lebih dari berkecukupan daripada tinggal di Indonesia.

Padahal berada dalam posisi generasi sandwich dan tinggal di luar Indonesia adalah dilema yang membuat mereka terbebani, bahkan tidak mungkin menjadi burnout.

Generasi sandwich ini juga bisa memunculkan intergenerational traumatic akibat anak-anak mengamati bagaimana relasi orang tua dengan nenek-kakeknya selama ini. Kita perlu memperhatikan bagaimana anak-anak memandang hal tersebut.

Peran menjadi generasi sandwich tidak hanya seputar tanggung jawab moral saja, tetapi juga tanggung jawab financial yang tidak mudah juga. Kita perlu bersikap hati-hati agar tidak memunculkan mindset yang berujung ke trauma untuk generasi berikutnya.

Lalu apa sih sebenarnya generasi sandwich itu? apakah generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja? Apakah benar generasi sandwich itu bisa menimbulkan burnout atau masalah mental di kemudian hari? Bagaimana sebaiknya kita bisa menyiasati tinggal di luar Indonesia tetapi masih terbenani dengan posisi generasi sandwich? Apa pesan dua tamu diskusi IG Live ini untuk sahabat Ruanita yang sedang menjalani peran generasi sandwich?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube kami sebagai berikut:

(PODCAST RUMPITA) Mulai Studi di Inggris Hingga ke Islandia Menuju Karier Internasional

Pada episode ke-27 ini, Podcast RUMPITA mengundang Dyah Anggraini C. yang kini menetap di Islandia.

Sebagai seorang ibu dan pekerja yang berkarier internasional, Dyah membagikan pengalaman hidupnya bagaimana studi pertama kali di mancanegara, yang dimulai dari Inggris.

Dyah pun sempat kembali ke Indonesia, dan kemudian memutuskan tinggal di Islandia.

Pernah bekerja di bidang financial and banking di Indonesia, Dyah pun mendalami studinya di Inggris.

Dyah pun tidak merasakan perbedaan yang besar antara berkuliah di Inggris dengan berkuliah di Islandia.

Mungkin perbedaan yang mencolok yang dialami seperti sistem penilaian yang berbeda, antara berkuliah di Inggris dengan di Islandia.

Follow us

Alasan keluarga membuat Dyah memutuskan pindah ke Islandia dan melanjutkan studi kembali di Islandia.

Tinggal di Reykjavic, ibukota Islandia, tentunya berbeda sekali dengan iklim dan suasana alamnya yang dirasakan Dyah, terutama saat musim panas atau musim dingin.

Dyah pun menceritakan bagaimana dukungan pemerintah Islandia saat dia sedang menyelesaikan studi dan baru saja melahirkan anaknya.

Tentunya, dukungan suami dan pengelolaan peran sangat diperlukan agar seimbang, sehingga kini Dyah pun tetap bekerja secara global bersama dengan orang-orang dari berbagai negara.

Apa saja perbedaan studi antara di Inggris dengan di Islandia? Bagaimana pendapat Dyah tentang iklim dan budaya orang-orang Islandia? Apa saja potensi yang bisa dilakukan warga Indonesia bila ingin studi atau berkarier di Islandia? Apa saja tantangan dan kesan yang dialami Dyah studi dan tinggal di Islandia? Apa pesan Dyah untuk orang Indonesia yang ingin wisata, studi, atau bekerja di Islandia?

Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, berikut ini:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tujuh Tahun Terpisah dari Anak, Usai Bercerai di India

Dalam episode cerita sahabat spesial di bulan Juni 2024, Ruanita Indonesia mengangkat cerita dari India terkait pelaksanaan Hari Janda Sedunia, yang diperingati setiap 23 Juni. Oleh karena itu, kami mengundang Dianita Pramesti yang tinggal di India dan bekerja sehari-hari sebagai pengajar di salah satu taman kanak-kanak atau Preschool di Goa, India.

Dianita adalah ibu dari dua orang putra, dari hasil perkawinannya dengan pria asal Goa, India. Di India, anak laki-laki begitu mendapat tempat istimewa dalam keluarga. Menjadi janda, terpisah dari anak kandung dan bertahan hidup di India yang tak mudah bagi Dianita saat itu.

Ini berbeda dengan anak-anak perempuan di India, ketika mereka tumbuh dewasa dan menikah, kebanyakan mereka akan ikut dan tinggal di pihak keluarga suami. Ketika perempuan menikah di India, perempuan pun perlu menyerahkan mas kawin kepada pihak keluarga laki-laki.

Sekelumit cerita Dianita tentang bagaimana dia mengenal betul kultur India, yang menjadi rumah keduanya sekarang. Awalnya, dia bertemu dengan pria berkewarganegaraan India yang kemudian membuatnya untuk menikah dan memutuskan tinggal di India.

follow us

Dianita mengakui dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan pernikahannya, tetapi pada akhirnya mantan suaminya tersebut memutuskan untuk pergi ke negara lain dan bekerja di sana. Mantan suaminya pun telah menemukan tambatan hati yang baru.

Setelah Dianita terpisah dari suaminya, kedua putranya terpaksa tinggal bersama keluarga di pihak mantan suami. Anak-anak Dianita diasuh dan dibesarkan oleh keluarga mantan suami. Sesekali Dianita bisa berkunjung untuk melihat kedua putranya, misalnya kalau mereka berulang tahun.

Keluarga pihak mantan suami tidak mengizinkan kedua putranya Dianita tinggal bersamanya, meskipun ayahnya dari kedua putranya pun tidak ikut mengasuh mereka. Selama tujuh tahun, Dianita berjuang untuk bertahan hidup di India dan memperjuangkan hak asuhnya agar bisa bersatu kembali dengan anak-anaknya.

Dianita mengakui itu tidak mudah, apalagi Dianita saat itu sudah menjadi janda dan harus menghidupi dirinya sendiri. Beruntung ada banyak pihak yang menolong Dianita, sehingga perjuangannya tidak sia-sia. Dia berhasil mendapatkan hak asuh anaknya, walaupun dia harus membayar mahal pihak pengacara di sana.

Kalau Anda bersimpati terhadap cerita Dianita dan ingin membantu secara finansial, silakan mendapatkan kontak Dianita dengan menghubungi email Ruanita Indonesia.

Apa yang terjadi dengan Dianita sehingga dia tinggal dan berpisah dengan suaminya? Bagaimana perjuangan Dianita mendapatkan hak asuh anaknya? Siapa saja stakeholders yang sudah membantu Dianita untuk keluar dari permasalahan hak asuh anaknya? Setelah mendapatkan hak asuh anaknya, bagaimana kehidupan Dianita sekarang? Apa pesan Dianita kepada kita semua?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(IG LIVE) Bagaimana Adaptasi Budaya dan Sekolah Anak yang Pindah Sekolah ke Mancanegara?

Dalam diskusi IG Live yang diselenggarakan pada bulan April 2024, Ruanita Indonesia mengambil tema parenting, yang khususnya tentang bagaimana adaptasi sosial dan budaya pada anak apabila anak berpindah sekolah ke luar negeri.

Bagaimana pun urusan kepindahan sekolah anak ke luar negeri, ternyata bukan hanya soal administrasi saja.

Melalui diskusi sekitar tiga puluh lima menit, Ruanita Indonesia mengajak orang tua untuk berbagi saran dan pengalaman agar dapat mengatasi permasalahan sosial dan budaya yang dihadapi anak.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Rida Luthfiana Zahra, yang adalah mahasiswi S2 di Jerman, mengundang dua tamu yang tinggal di Jerman dan Korea Selatan.

Mereka adalah Citra Dewi, seorang ibu yang tinggal di Korea Selatan dan Nadiya Dewantari, seorang ibu yang tinggal di Jerman. Nadiya merasa kesulitan juga untuk menjelaskan ke anak-anak bahwa mereka harus pindah ke negara lain, padahal anak-anak sudah merasa nyaman di Jepang, negara pertama sebelum pindah ke Jerman.

Nadiya membuat contoh-contoh yang mudah dicerna anak ketika anaknya sedang berusia lima tahun untuk berpindah sekolah ke Jerman, dari negara Jepang.

Citra menjelaskan bahwa perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan, bukan hal yang direncanakan. Citra mengakui bahwa tantangan yang dihadapi anak saat pindah, lebih pada kesulitan anak mempelajari Bahasa Korea.

Citra berusaha untuk mengatasi tantangan perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan dengan datang ke Multicultural Centre.

Follow us

Menurut Nadiya, kunci perpindahan sekolah anak ke luar negeri ada di orang tua, seperti berbagi peran antara ibu dan ayah untuk memberikan motivasi kepada anak-anak, yang disesuaikan dengan cara pandang dan usia perkembangan anak.

Sedangkan Citra berpendapat, orang tua tidak perlu khawatir apabila ingin membawa serta anak ke mancanegara dalam rangka bertugas. Selain itu, saran Citra orang tua perlu aktif untuk mencari tahu bagaimaan situasi sosial dan budaya yang menjadi negara tujuan anak agar anak tidak mengalami permasalahan.

Apa saja yang diperlukan bagi ibu untuk mempersiapkan kepindahan sekolah anak ke luar negeri? Apa saja tantangan yang dihadapi anak yang pindah sekolah ke Jepang, Jerman, atau Korea Selatan?

Bagaimana peran orang tua untuk membantu anak menyesuaikan budaya dan sosial saat anak berpindah sekolah? Apa saran Nadiya dan Citra untuk orang tua yang bertugas ke mancanegara dan perlu membawa serta anak-anak untuk pindah sekolah?

Simak diskusi IG Live selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini:

Silakan subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT) Usahaku Untuk Punya Anak

Sahabat Ruanita, perkenalkan namaku Renata. Aku tinggal di Belanda bersama suamiku dan anak kami yang berumur dua tahun. Aku dan suamiku menikah sejak tahun 2016, saat umurku sudah 34 tahun. Sejak itu kami berusaha untuk hamil, tetapi berkali-kali gagal. Pada akhirnya di tahun 2022, aku berhasil hamil dan anak kami lahir.

Setelah menikah, aku datang ke dokter kandunganku untuk minta rujukan ke klinik reproduksi, karena umurku yang waktu itu sudah tidak muda lagi. Beliau tidak langsung memenuhi permintaanku, tetapi menyuruh kami berusaha dulu sendiri selama satu tahun. Saat itu, suamiku dan aku masih tinggal terpisah karena alasan pekerjaan. Walaupun suamiku orang Jerman, tapi dia tinggal di Belanda, sedangkan aku tinggal di utara Jerman. Dokter kandunganku juga memberikan tips agar cepat hamil, sayangnya tidak berhasil.

Setahun kemudian, aku kembali ke dokterku, ternyata dia sudah pensiun dan diganti dokter lain. Sebelum memberikan rujukan, dia menyarankanku untuk tes ini dan itu, untuk mencari tahu penyebab susah hamil yang aku alami. Aku menolak, karena aku sudah mencoba secara alami seperti saran dokter sebelumnya dan biasanya di klinik reproduksi juga akan dicek semuanya. Akhirnya, aku dapat surat rujukan itu. 

Di klinik reproduksi, (Kinderwunschzentrum dalam bahasa Jerman) aku dijelaskan tentang tahap-tahap program punya anak sesuai dengan asuransiku. Aku hanya mempunyai asuransi umum, karena program kehamilan itu juga terbatas. Pada tahap pertama, kami dijelaskan penyebab-penyebab susah hamil. Selain tes hormon, rahimku juga diperiksa oleh mereka. Menurut mereka, tubafalopi kiriku tertutup dan ada polip di sana. Oleh karena itu, mereka melakukan operasi kecil untuk membuka pintu jalan tubafalopi itu ke rahimku dan mengangkat tiga polip yang sebesar buah ceri. Setelah itu, aku tidak boleh berhubungan seks selama tiga bulan.

Usai pasca operasi, aku kembali ke sana. Ternyata mereka menemukan polip lain, sehingga aku harus kembali ke ruang operasi. Setelah operasi pengangkatan, tetap saja aku belum hamil. Baru saat itulah, mereka menyarankan agar suamiku juga diperiksa. Hasilnya adalah sperma suamiku bermasalah. Kami susah hamil karena ada masalah dengan rahimku dan sperma suamiku. Setelah proses ini, kami kemudian bisa merencanakan proses inseminasi. Pengalamanku membuat janji di klinik reproduksi untuk proses ini tidak mudah, ditambah suamiku tinggal di negara lain. Di tahun 2017, aku pindah kerja ke Düsseldorf, sebuah kota di perbatasan Jerman dengan Belanda, agar bisa bertemu lebih sering dengan suamiku. Proses inseminasi ini dilanjutkan di sana. 

Asuransi umum di Jerman memberikan kesempatan delapan kali inseminasi dalam waktu dua tahun. Setelah kesempatan ini habis, baru proses bayi tabung bisa direncanakan. Total aku melakukan empat kali inseminasi. Dua kali berhasil hamil, tetapi keduanya aku keguguran. Aku putus asa, walau dokter bilang aku mengalami kemajuan karena terbukti bisa hamil.

Follow us

Aku meminta dokterku untuk langsung mencoba program bayi tabung karena umurku yang tidak lagi muda. Dokter kemudian membuat rencana program bayi tabung dan memberikan kami perkiraan biaya, yaitu sebesar 12.000-15.000 Euro yang harus kami bayar sendiri. Menurut hasil pemeriksaan mereka, hanya suamiku yang punya masalah sehingga aku susah hamil. Padahal menurut hasil pemeriksaan di kota sebelumnya, aku juga punya masalah. Sayangnya, suamiku tidak punya asuransi di Jerman, sehingga biaya tersebut harus kami tanggung sendiri. 

Setelah diskusi tersebut, kami berpikir untuk mencoba juga di Belanda. Sebelum aku memulai program bayi tabung, aku sempat hamil alami. Aku senang sekali bisa hamil sendiri tanpa bantuan, tapi sayangnya aku keguguran lagi. Waktu itu, aku posisinya baru pindah ke Belanda. Aku tidak mengerti harus ke mana, karena tidak seperti di Jerman yang banyak klinik dokter kandungan. Di lokasi tinggalku Belanda, aku tidak tahu di mana. Semua harus diurus di rumah sakit. Akhirnya, aku buat janji lagi dengan dokterku di Düsseldorf. Sayangnya, aku keguguran sebelum sempat ke sana untuk periksa kehamilan. 

Aku ingat, hari itu adalah hari sabtu. Praktik dokter tutup dan aku mengalami pendarahan saat berada di rumah kami di Belanda. Akhirnya, aku dan suamiku pergi ke Unit Gawat Darurat (UGD) di Düsseldorf. Menurut dokter jaga, wajar berdarah saat hamil, dan detak jantung janin juga masih ada. Malam itu, kami kembali ke rumah kosku di Düsseldorf. 

Keesokan harinya pendarahanku semakin parah, kami kembali ke UGD. Di sana dokter mengatakan detak jantung janinku sudah tidak ada. Duniaku runtuh, seperti lantai ditarik dari kakiku. Aku masih menyangkal dengan berpikir, “Masak sih? Kemarin masih ada (detak jantungnya). Salah kali alatnya. Salah kali dokternya.” Kami pulang kembali ke rumah kosku.  

Jam tiga pagi aku terbangun karena perutku sakit. Saat di atas toilet, aku merasa ada yang keluar. Aku pegang, bentuknya kecil seperti gummy bear. Saat itu aku tidak tahu itu apa. Antara sadar dan tidak sadar, aku flush dia ke dalam toilet. Belakangan aku baru sadar, kenapa waktu itu aku flush dia dan tidak  aku makamkan? Namun, pada saat kejadian tersebut, aku masih dalam fase penyangkalan. Dan semua itu terasa seperti mimpi. Aku masih berpikir itu bukan bayiku, bayiku masih di dalam rahimku. Setelah itu, aku langsung membangunkan suamiku, karena aku mengalami pendarahan hebat. Pada malam tersebut, aku dikuret di rumah sakit dan dirawat inap satu malam. Dokter di UGD menyarankan aku untuk melakukan pemeriksaan genetik, setelah dia tahu bahwa ini adalah keguguranku yang ketiga. Keguguran ini juga membuatku mengalami depresi dan sempat menerima terapi psikologi.

Beberapa bulan setelah keguguran ini, aku mendatangi klinik di Jerman untuk pemeriksaan genetik, seperti yang disarankan oleh dokter UGD. Tes hormon dilakukan untuk mengetahui alasan keguguran yang aku alami tiga kali. Dari pemeriksaan, ditemukan aku mengalami antiphospolipid syndrome (APS) pada kehamilan, yang membuat tubuhku melihat janin sebagai benda asing. Untuk mengusir “benda asing” ini, terjadi pengentalan darah di rahimku. Mereka memberikan saran, kalau aku hamil lagi aku harus dapat suntikan pengencer darah.

Sambil pemeriksaan ini, aku juga mendatangi klinik reproduksi di Belanda. Aku ceritakan tentang diagnosa tersebut, dokternya berkata “Tugas saya hanya membuat orang hamil, bukan mempertahankan kehamilan.” Namun, dia juga mendiskusikan hal ini ke dokter kandungan. 

Program hamil di Belanda sedikit berbeda dengan di Jerman. Di Belanda, semua biaya di-cover oleh asuransi. Tidak ada istilah, siapa yang “salah” dia yang harus bayar program hamil. Padahal saat di Jerman, kami disodori perkiraan biaya karena suami “penyebab” aku susah hamil. Oh ya, sebelum program bayi tabung dimulai, suami dites kembali oleh klinik reproduksi di Belanda. Hasilnya, dia sehat dan spermanya baik-baik saya. Hal ini bertentangan dengan dua hasil tes di Jerman. Batas umur di Belanda juga lebih tinggi, yaitu 43 tahun, sedangkan di Jerman 40 tahun. Di Belanda, aku mempunyai tiga kali jatah untuk program bayi tabung. Semuanya gratis.

Saat pertama kali datang ke klinik reproduksi, aku langsung dikasih resep obat suntik untuk menstimulasi hormon tubuh agar sel telurku keluar. Obat ini harus aku suntikan ke diriku sendiri selama 10 hari, dimulai dari hari pertama menstruasi. Mereka juga memberikan checklist, apa saja yang aku harus lakukan setiap hari, termasuk jam berapa aku harus disuntik. Setelah 10 hari pemberian suntikan, aku diminta datang lagi ke klinik untuk dicek, apakah ada sel telur yang siap untuk keluar.

Program pertama ini seperti percobaan untuk mengetahui berapa dosis yang sebenarnya dibutuhkan tubuhku. Dalam program pertama ini aku tidak hamil, karena dosisnya terlalu kecil untuk tubuhku, sehingga tidak ada reaksi apa pun. Pada program kedua, dokter memberikan dosis dua kali lebih besar dari dosis pertama. Dokter mengatakan itu adalah dosis tertinggi. Aku tidak akan diberikan lebih dari dosis tersebut. 

Berbeda dengan program pertama, di mana sel telurku tidak muncul, pada program kedua ini sel telurku ditemukan di tubafalopi kanan dan kiri. Jumlah dan ukuran mereka juga, ada yang siap untuk keluar dari tubafalopi. Setelah dilakukan pengecekan, aku diminta untuk tidak menyuntik lagi malam itu. Sebagai penggantinya, aku diberikan suntikan agar merangsang sel telur untuk keluar keesokan harinya. Aku diminta untuk menyuntik sendiri di rumah pada jam yang sudah ditentukan klinik. Mereka sudah memperhitungkan agar sel telur keluar saat aku berada untuk proses pengambilan sel telur dari folikel. Setelah sel telur diambil lewat vagina, pembuahan dilakukan saat itu juga. Suamiku datang 30 menit sebelumnya, agar spermanya bisa dibersihkan dan dipilih yang paling baik. 

Di Belanda, sel telur yang sudah dibuahi akan dikembalikan ke rahim setelah tiga hari, sedangkan di Jerman lima hari. Perbedaan lain, Belanda lebih hemat menggunakan obat bius pada saat proses pengambilan sel telur. Hanya bius lokal, bukan bius total seperti di Jerman. Pemeriksaan darah dan USG juga lebih hemat. Waktu aku hamil inseminasi di Jerman, aku periksa darah setiap dua hari. Di Belanda tidak seperti itu. Aku harus menunggu delapan minggu sampai aku boleh periksa darah dan USG untuk mengetahui, apakah ada detak jantung janinku atau tidak. Aku merasakannya, delapan minggu terlama di hidupku. Apakah janin berkembang atau tidak, kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi, menurut pendapat dokter kandunganku di Belanda. Bagaimana pun, itu sudah menjadi takdir. Alhamdulillah, aku benar-benar hamil. 

Di awal kehamilan, aku kembali ke Düsseldorf untuk pemeriksaan genetik. Aku diberikan obat pengencer darah yang harus aku suntikkan setiap hari hingga enam minggu setelah melahirkan. Selama hamil, aku juga lima kali harus diopname karena pendarahan. Akibat obat pengencer darah itu, memang aku gampang berdarah. Karena aku sedang hamil dan masih di bawah berusia tiga bulan, kami langsung ke UGD untuk pemeriksaan. Waktu itu, aku tidak ada pilihan lain, sehingga aku menjalaninya saja. Aku juga berpikir, semua ini akan selesai begitu anakku lahir. Selama kehamilan, aku mengatakan ke suami, kalau aku hanya ingin hamil sekali ini saja. Namun, begitu anakku sudah lahir, aku lupa sakitnya berbagai suntikan-suntikan itu.

Adopsi juga merupakan salah satu opsi untuk aku dan suamiku. Bahkan sampai sekarang, suamiku masih bilang untuk mengadopsi anak kedua. Begitu kami dihadapi pada pilihan tersebut, kami sejujurnya merasa sulit juga memutuskan, karena kami tidak tahu latar belakang keluarga dan kesehatannya. Selain itu, anak adopsi pun tidak lahir dari rahimku sendiri, sehingga aku takut tidak bisa menyayanginya seperti menyayangi anak kandung sendiri. Namun, sekarang saat aku sudah punya anak kandung, apakah aku bisa adil dengan anak kandung dan anak adopsi? Jawabannya tidak mungkin untukku. Jika anakku mungkin sudah besar, aku akan mempertimbangkannya lagi.

Kami memang ingin memiliki anak lagi. Di Belanda, jika program hamil berhasil, maka orang tua kembali mempunyai tiga kali kesempatan untuk mencoba program hamil. Setahun anakku lahir, kami mencoba lagi. Sayangnya gagal. Bulan Januari tahun ini, kami juga mencoba lagi untuk kedua kalinya. Sayangnya, kembali gagal. Kami sebenarnya masih punya satu kali kesempatan lagi, tetapi sepertinya tidak akan kami ambil lagi, karena perubahan situasi hidup kami. Suamiku kembali bekerja dan tinggal di Jerman, sedangkan aku dan anakku masih tinggal di Belanda sampai kontrak kerjaku di Belanda selesai pada pertengahan tahun ini.

Untuk Sahabat Ruanita yang sedang berusaha untuk hamil, jangan menyerah! Aku tahu bagaimana rasanya, seperti jatuh ke jurang setiap menstruasi. Ini seumpama, kita berusaha naik ke lembah jurang tersebut, setiba di atas, kita sudah jatuh ke jurang lagi, karena ternyata kita menstruasi lagi. Teknologi kesehatan zaman sekarang sudah maju sekali. Aku sendiri takjub dengan majunya teknologi kehamilan saat ini. Kita bisa mencari tahu penyebab gagalnya kehamilan dan keguguran, meskipun kita mungkin tidak mendapatkan jawaban dan solusinya. Aku bersyukur bahwa aku mendapatkan rujukan untuk tes genetik dan mendapatkan solusi agar keguguran tidak lagi terjadi, yaitu suntik hormon selama sembilan bulan kehamilan.

Aku juga bersyukur bahwa aku tinggal di luar Indonesia, sehingga tidak ada yang sering bertanya, “Kapan hamil?”. Menurutku, pertanyaan tersebut tidak sensitif sama sekali sekali. Kita tidak tahu, apa yang mereka hadapi, sehingga membuatnya susah hamil. Selama ini, aku menghibur diriku sendiri dengan mengatakan, setidaknya  tidak ada yang bertanya “Kapan hamil?”. Awalnya, orang tua dan saudaraku juga bertanya tentang kehamilanku. Setelah aku menjelaskan masalahnya, mereka berhenti bertanya. Sepertinya, itu sudah takdir. 

Aku juga bersyukur, ada asuransi kesehatan, sistem, dan fasilitas klinik reproduksi di Jerman dan di Belanda. Di sini, aku bisa berusaha tanpa kendala biaya karena itu gratis. Kita hanya perlu rajin mencari tahu tentang prosesnya saja. Kalau ada Sahabat Ruanita yang berumur di atas 40-an dan ingin mencoba program bayi tabung, bisa langsung menegosiasikan ke dokter, karena pihak asuransi akan mendengarkan dokter terlebih dulu. Dahulu aku patuh dengan aturan (asuransi) di Jerman, sehingga sepertinya banyak waktu terbuang untuk birokrasi. Mungkin jika saat itu aku tidak pindah ke Belanda, kami akan mengusahakan program bayi tabung dengan biaya yang disebut oleh dokter kami di Düsseldorf.

Dari satu keguguran ke keguguran lain, telah membuatku sulit menerimanya. Pada akhirnya, aku berpikir memang itu belum takdirnya saja. Bisa jadi, itu merupakan bentuk proteksi pada diri kita sendiri dan calon bayi. Aku juga belajar, ini bukan hanya usaha ibu untuk hamil, melainkan usaha bayi untuk bertahan hidup. Setiap bayi yang lahir sudah berjuang sangat kuat sejak dini. Setelah pembuahan, baik kehamilan alami atau buatan, belum tentu dia akan menjadi embrio. Kalau pun menjadi embrio, belum tentu dia bisa bertahan dalam rahim. Kalau pun dia bertahan, bisa jadi juga kromosomnya lebih atau kurang. Jika ini terjadi, bayi yang lahir belum tentu bisa berjuang hidup. Berdasarkan hasil refleksiku tersebut, jika anakku mulai rewel, maka aku sering menarik nafas dan mengingat lagi, bagaimana usahaku memiliki anak. Namanya juga anak kecil, dia mungkin sering rewel.

Seandainya aku bisa berbicara ke my younger self, aku mau mengatakan, kamu perlu menikmati hidup sebelum hamil. Saat hamil, kamu mungkin sudah tidak bisa melakukan ini dan itu. Misalnya, kamu mendapatkan menstruasi saat sedang berusaha hamil, itu tidak apa-apa untuk merasa sedih. Namun, jangan berlarut-larut! Dahulu, aku berkutat pada rencana kehamilanku. Setiap merencanakan sesuatu, aku selalu berpikir “Bagaimana kalau aku hamil?”. Aku pernah berpikir, “Liburan ke Indonesia sekarang saja, kayaknya karena tahun depan aku hamil.” Begitu aku tidak hamil, sakit sekali rasanya. Aku seperti tidak menikmati momen saat sedang tidak hamil itu. Jangan sampai kita bergantung pada pertanyaan, “Bagaimana kalau hamil?”.

Diceritakan oleh Renata, ibu anak satu yang tinggal di Belanda. Ditulis oleh Mariska Ajeng, relawan Ruanita Indonesia dan mengelola program Cerita Sahabat di Ruanita. (www.mariskaajeng.com).

(PODCAST RUMPITA) Bagaimana Pengalaman Mahasiswi Asal Jerman Magang dan Tinggal di Indonesia?

Memasuki episode ke-24 dari diskusi Podcast Rumpita, Ruanita Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang berasal dari Jerman dan pernah tinggal di Indonesia untuk bekerja magang dan ikut program pertukaran pelajaran ketika dia sedang remaja.

Dia adalah Leonie, yang pernah ikut program pertukaran pelajar di Sumatera Utara selama setahun dan tinggal bersama keluarga Indonesia. Oleh sebab itu, Leonie bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan mendorongnya untuk mencoba melamar program magang di Indonesia.

Follow us

Saat magang di Indonesia selama enam bulan, Leonie bekerja di area Menteng, Jakarta Pusat. Banyak hal menarik bagaimana Leonie bekerja sama dengan orang-orang Indonesia di tempat kerja. Contoh yang mengesankannya bagi Leonie adalah “jam karet” yang sangat berbeda dengan ketepatan waktu untuk orang-orang di Jerman. Menurut Leonie, kebiasaan ‘jam karet’ itu tidak sopan dalam budaya orang-orang di Jerman.

Lainnya, adalah penggunaan WhatsApp untuk berkomunikasi dalam situasi pekerjaan. Namun, Leonie mengakui kehangatan dan keramahan orang-orang Indonesia sangat membantu Leonie mengatasi culture shock Indonesia dan mengenali budaya Indonesia lebih baik lagi.

Leonie sangat menyukai Soto Medan, yang membuatnya bisa membedakan dengan baik, Soto Jakarta yang menggunakan santan. Leonie pun suka dengan sambal dan makanan pedas.

Leonie pun melakukan hal yang sama dengan menambahkan cabai setiap makanan, yang membuat anggota keluarganya merasa terkejut ketika Leonie kembali lagi ke Jerman. Leonie sangat senang dengan kuliner Indonesia yang membuatnya kerap merindukannya dan dia tidak punya masalah dengan kuliner Indonesia.

Orang Indonesia berkomunikasi dengan tidak direct, dibandingkan dengan orang-orang Jerman yang berkomunikasi langsung. Leonie juga mengakui bahwa orang-orang Jerman tampak serius dan tidak mudah juga membangun pertemanan.

Leonie berpesan untuk orang-orang Indonesia yang ingin bekerja dan tinggal di Jerman agar tidak malu berlatih Bahasa Jerman. Supaya tidak merasa kesepian, mahasiswa asal Indonesia di Jerman bisa bergabung dengan kelompok mahasiswa di universitas atau bersabar untuk membangun pertemanan dengan rekan-rekan kerja di kantor.

Diskusi Podcast ini dipandu oleh Fadni, Mahasiswi S2 di Jerman dan Anna. Mengapa Leonie ingin magang dan tinggal di Indonesia? Mengapa Leonie suka akan budaya Indonesia? Pengalaman berkesan apa yang ditemuinya selama magang dan tinggal di Indonesia? Apa pendapatnya tentang Bahasa Indonesia yang dipelajarinya selama ini? Apa pesan dan harapan Leonie sebagai perempuan Jerman kepada orang-orang Indonesia yang dikenalnya? 

Selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA dalam kanal Spotify berikut ini dan jangan lupa follow kanal SPOTIFY kami:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Resiliensi Ibu di Belgia yang Memiliki Anak dengan Autisme

Dunia memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia pada 2 April agar publik mendapatkan informasi yang benar dan tepat tentang Autisme, termasuk mengadvokasi anak dengan Autisme yang masih mendapatkan stigma dan diskriminasi.

Oleh karena itu, Ruanita Indonesia mengundang Alda Trisda yang tinggal di Belgia untuk berbagi pengalaman dan perjuangannya sebagai ibu dalam membesarkan anak dengan Autisme.

Alda mengakui di awal ketika anaknya didiagnosa sebagai anak dengan Autisme, dia tidak berkoordinasi dengan suami dalam mendapatkan penanganan yang tepat untuk anaknya. Alda berpesan agar orang tua yang memiliki anak dengan Autisme dapat bekerja sama antara ayah dan ibunya dalam merawat anak dengan Autisme. Alda menyebut istilahnya adalah ayah dan ibu punya level pengetahuan yang sama dalam membesarkan anak dengan Autisme.

Follow us

Di Belgia sendiri, Alda menyadari bahwa pemerintahnya sangat peduli terhadap anak berkebutuhan khusus. Meskipun diakui Alda, fasilitas dan sarananya tidak sebaik seperti negara-negara Eropa lainnya yang ada di sekitar Belgia.

Alda mendapatkan tunjangan finansial yang cukup baik dari Pemerintah Belgia, dalam membesarkan anak dengan Autisme, seperti menyediakan sarana belajar di rumah. Bahkan Alda mengambil kelas khusus sebagai orang tua yang memiliki anak dengan Autisme.

Pemerintah Belgia sangat peduli terhadap anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan Autisme. Alda sering mendapatkan kunjungan dari institusi perlindungan anak berkebutuhan khusus di Belgia untuk memastikan kebutuhan yang tepat untuk anak dengan Autisme.

Pemerintah Belgia juga menyediakan lokasi khusus yang membantu anak dengan Autisme tumbuh secara mandiri sosial yang mulai dari usia anak di bawah 18 tahun dan mereka yang sudah berusia di atas 18 tahun.

Alda lebih memilih untuk merawat dan membesarkan anaknya di rumah, sambil dia banyak mencari tahu bagaimana menangani anak dengan Autisme di rumah. Alda merasakan berbagai tantangan yang tak mudah sebagai ibu yang memiliki anak dengan Autisme.

Resiliensi sebagai ibu itu dirasakannya lebih sulit, dibandingkan membesarkan anak dengan Autisme. Hal terpenting ketika ada anak dengan Autisme di keluarga, adalah bagaimana kita menerima apa adanya dan kesabaran yang tinggi.

Bagaimana cara Alda dalam menyiapkan sarana belajar di rumah sehingga anak dengan Autisme dapat tumbuh mandiri? Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua ketika memiliki anak dengan Autisme? Apa saja kebijakan yang berlaku di Belgia dan negara-negara sekitarnya di Eropa terhadpa kebijakan anak berkebutuhan khusus, terutama anak dengan Autisme? Apa pesan Alda di Hari Peduli Autisme Sedunia?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam video program Cerita Sahabat Spesial berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung program-program kami ya!

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Naisen Komannossa: Di Bawah Komando Perempuan

Dalam program Cerita Sahabat Spesial episode Maret 2024 mengangkat tema tentang kepemimpinan perempuan yang masih menjadi satu rangkaian perayaan Hari Perempuan Internasional seperti tahun lalu, yakni mempromosikan isu kepemimpinan perempuan Indonesia. Untuk membahasnya lebih dalam, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang tinggal di Finlandia dan bekerja di industri tambang.

Sebagaimana kita ketahui bahwa angka partisipasi perempuan yang bekerja di dunia STEM (=Science, Technology, Engineering, and Math) masih sangat rendah. Namun hal ini berbeda seperti yang dialami oleh Selvie yang sudah bekerja di industri tambang sejak dia menyelesaikan kuliah pertambangan di Jakarta, Indonesia.

Follow us

Setelah lama bekerja di dunia pertambangan di Indonesia, Selvie mencoba peruntungan bekerja di pertambangan di luar Indonesia.

Sejak enam tahun lalu, Selvie bekerja dan menetap di Finlandia. Selvie pun mengakui sangat sedikit yang bekerja di dunia pertambangan. Bahkan pada saat Selvie masih studi, hanya 9 mahasiswa perempuan dari 50-an mahasiswa yang studi pertambangan.

Selvie melamar pekerjaan di Finlandia dengan sistem bekerja dua minggu on-side dan dua minggu harus berada di rumah.

Selvie mengakui bahwa perusahaan tambang di Finlandia telah menggalakkan kampanye “Women in Minning”. Selvie berpendapat bisa saja perempuan tidak tertarik bekerja di dunia tambang itu identik dengan pekerjaan yang kotor atau pekerjaan yang berbahaya.

Padahal menurut Selvie, perusahaan pastinya sudah melakukan uji keamanan yang memastikan keselamatan setiap perempuan. Finlandia pun telah menetapkan aturan kesetaraan gender dalam hal profesi pekerjaan.

Selvie pun bangga akan pekerjaannya, termasuk sebagai perempuan Asia yang bekerja di dunia pertambangan yang tidak mudah. Selvie pun pernah diwawancara oleh wartawan Finlandia dan kisahnya dimuat di surat kabar lokal berbahasa Finlandia yang berjudul: Di bawah Komando Perempuan.

Bagaimana Selvie bisa bekerja di dunia tambang? Mengapa tidak banyak perempuan bekerja di dunia tambang? Apa saja faktor-faktor yang membuat perempuan bisa bekerja di dunia tambang di luar Indonesia? Apa saja syarat bekerja di dunia tambang di Finlandia, terutama perempuan? Apa pesan Selvie di Hari Perempuan Internasional.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Jangan lupa subscribe kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi!

(SIARAN BERITA) Diskusi Daring Perayaan Hari Perempuan Internasional dan Peluncuran Buku “Warna-warni Kepemimpinan Perempuan”

Denmark/Jerman – Menjadi pemimpin merupakan bagian dari hak asasi manusia, baik perempuan maupun laki-laki. Hak asasi merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia. Sebagai hak asasi, akses menjadi pemimpin tidak bisa diabaikan karena alasan gender atau alasan penyerta lainnya, seperti ras, suku, agama, atau kondisi fisik. Urgensi perempuan menjadi pemimpin berpijak pada pentingnya suara perempuan diperhitungkan dan dipertimbangkan dalam proses-proses pembangunan. Jumlah perempuan yang mencapai setengah dari penduduk Indonesia membutuhkan kehadiran perempuan sebagai representasi suara perempuan dalam setiap pengambilan keputusan.

Secara bertahap kepemimpinan perempuan semakin diperhitungkan seiring dengan pengakuan terhadap kualitas perempuan. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa perempuan memiliki kekuatan fisik, intelektual, emosional, dan spiritual yang sama seperti laki-laki. Perempuan juga mampu melakukan hal-hal yang dapat dilakukan oleh laki-laki, baik di bidang professional, sosial, maupun pribadi, termasuk dalam hal kepemimpinan. Namun sayangnya, kepemimpinan perempuan juga masih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan laki-laki.

Follow us

Negara Republik Indonesia memiliki komitmen yang kuat untuk mengarusutamakan gender dalam pembangunan di segala bidang, baik di tingkat nasional, kawasan, maupun global. Sebagai warga Indonesia di mancanegara, Rumah Aman Kita (RUANITA) di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia bekerja sama dengan KJRI Frankfurt, DWP KJRI Frankfurt, yang didukung oleh Afiliansi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA) Jerman, Bildung und Gesundheit für Indonesien e.V. (BUGI), dan Persatuan Masyarakat Indonesia – Frankfurt e.V. (Permif), bermaksud menggelar diskusi daring pada Jumat, 8 Maret 2024. Acara yang bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional ini juga menjadi kesempatan untuk meluncurkan buku kedua RUANITA yang berjudul „Warna-warni Kepemimpinan Perempuan“ yang ditulis oleh 13 warga Indonesia yang tinggal di Eropa, sebagai bagian dari program Warga Menulis di tahun 2023 lalu.

Acara peluncuran buku tersebut dan perayaan Hari Perempuan Internasional ini akan diselenggarakan melalui kanal Zoom pada pukul 16.00-17.45 WIB atau 10.00-11.45 CET, dan terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia di mana pun. Acara ini akan dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, relawan Ruanita dan dibuka secara resmi oleh Tensi Triantoro, ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt. Peluncuran buku akan dilakukan oleh Andi Nurhaina sebagai ketua APPBIPA Jerman. Narasumber acara perayaan Hari Perempuan 2024 adalah Duta Besar RI untuk Denmark dan Lithuania, Dewi Savitri Wahab, yang akan menjelaskan peran KBRI/KJRI dalam mendukung partisipasi perempuan Indonesia di mancanegara.

Narasumber selanjutnya adalah Zakiyatul Mufidah Ahmad, yang adalah penerima beasiswa LPDP, seorang dosen di Indonesia, dan sedang menempuh pendidikan doktoral di Inggris. Dia akan menyampaikan materi tentang bagaimana dinamika kepemimpinan perempuan Indonesia dalam dunia digital. Sebagai penutup, Wendy A. Prajuli, yang adalah dosen di Universitas Bina Nusantara Indonesia, akan memberikan tanggapan dalam diskusi daring tersebut. Tersedia juga sesi tanya jawab dalam diskusi daring ini.

Diskusi daring ini diharapkan dapat mempromosikan partisipasi perempuan Indonesia dalam pembangunan dan berbagi informasi tentang peran perempuan Indonesia sebagai individu yang berdaya, punya potensi dan prestasi, sebagaimana yang menjadi tujuan proyek Ruanita, yakni mencapai kesetaraan gender.

Materi informasi dapat diunduh dengan mengisi formulir ini yang ditautkan.

Rekaman acara tersebut dapat dilihat pada kanal YouTube yang kami tautkan berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Meski Orang Tua Berpisah, Anak dengan Orang Tua Tidak Berpisah

Halo, perkenalkan nama saya Sekar. Sejak Oktober 2013, saya menetap di Kanton Zürich, Swiss, lebih tepatnya di kota Dietikon. Aktivitas saya sehari-hari saat ini adalah mengurus anak sekaligus bekerja sebagai Business Analyst yang memimpin sebuah tim beranggotakan 13 karyawan yang tersebar di Swiss, Inggris, dan Polandia.

Pernikahan yang dikaruniai seorang buah hati biasanya menjadikan kehidupan pasangan semakin lengkap. Menurut saya, kehadiran seorang anak di kehidupan kita adalah sebuah game changer. Anak sebagai individu dengan personality yang tentunya akan berbeda dengan orang tua nya, memunculkan perasaan sangat menggemaskan, penuh kasih sayang dan selalu ingin menemani tumbuh kembangnya. 

Namun, ada pula yang tidak siap untuk meninggalkan gaya hidup lamanya (tanpa anak). Begitupun dengan pernikahan ini. Setelah kehadiran anak yang lahir di tahun 2020, visi saya dan mantan suami ternyata menjadi tidak sejalan lagi. Berbagai upaya kami lakukan sampai menjalani konsultasi dan mediasi dengan seorang konsultan pasangan tetapi tidak berhasil. Alhasil, kami memutuskan untuk berpisah. Kami akhirnya resmi bercerai di tahun 2022.

Ketika awal berpisah, saya merasa sakit hati, marah, frustasi bahkan merasakan semua perasaan negatif pada saat itu. Namun, saya melihat kembali situasi dahulu setelah setahun lebih, kemudian ada perasaan lega yang sebelumnya tidak dirasakan. Saya lebih merasa bahagia dengan situasi sekarang.

Pada saat itu, kekhawatiran saya adalah soal anak. Bagaimana dia tetap bisa tumbuh dengan baik dan bahagia dengan kedua orang tua yang sudah berpisah. Saya juga tidak menginginkan anak putus kontak dengan ayahnya.

Menjadi seorang Single Mom, tidaklah mudah bagi saya. Saya membutuhkan waktu untuk bisa menerima dan berdamai dengan situasi saat ini. Saya bersyukur dikelilingi keluarga dan teman-teman yang selalu mendukung setiap saat. Wejangan orang tua sejak dulu untuk mandiri meskipun sudah menikah sangat membantu sekali. 

Sejak pindah ke Swiss, saya beruntung karena saya langsung mendapat pekerjaan hingga sekarang, kecuali sewaktu cuti melahirkan. Saya bersyukur perceraian tidak begitu mempengaruhi keadaan finansial saya. Saya berusaha untuk fokus pada diri sendiri dan keluarga (terutama anak) dan menghiraukan komentar-komentar negatif dari orang lain, terutama yang tidak begitu kenal kita. Toh, kita yang lebih tahu kehidupan kita sendiri, bukan orang lain=)

Pengalaman yang sangat menyentuh bagi saya pada saat menceritakan kepada orang tua mengenai kondisi pernikahan dan rencana akan berpisah dengan mantan suami. Saat itu, orang tua saya tidak menghakimi atau bertanya banyak hal. Mereka berkata bahwa mereka akan selalu ada di sisi saya dan mendukung apapun keputusan saya, begitupun adik dan teman-teman dekat saya. Saya sangat bersyukur atas dukungan mereka.

Berbicara mengenai bantuan sosial yang diberikan Pemerintah Swiss ini sebenarnya lebih diperuntukkan kepada orang-orang yang karena satu dan lain hal tidak bisa bekerja, termasuk Single Mom. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, bantuan tersebut hanya berlaku sementara. Tujuannya adalah untuk membantu mereka dalam mencari pekerjaan di Swiss sehingga dapat hidup lebih mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan sosial pemerintah.

follow us

Pekerjaan yang saya jalankan saat ini, tidak menjadikan saya termasuk dalam kategori penerima bantuan sosial dari pemerintah setempat. Walaupun sesekali sibuk dengan pekerjaan ataupun keinginan untuk memiliki quality time, tetapi saya dan mantan suami tetap menjaga komunikasi dengan baik dan lancar terutama untuk mengatur jadwal anak. Saat ini, anak juga sudah terbiasa dengan situasi di mana orang tua tinggal terpisah. Hal tersebut dikarenakan kondisi seperti ini sudah berlangsung sejak anak usia 1,5 tahun.

Jika ada teman atau Sahabat RUANITA yang sedang mengalami hal yang sama dengan pengalaman saya, perlu diingat bahwa setiap orang berbeda. Namun, penting memberikan waktu untuk berdamai dengan keadaan atau diri sendiri. Beranikan diri untuk meminta bantuan kepada keluarga, teman, institusi atau komunitas yang relevan jika dibutuhkan. Jika perpisahannya tidak ada kasus kekerasan, usahakan untuk tetap menjalin hubungan baik dengan mantan pasangan demi perkembangan (mental) anak. Sangat penting anak mengetahui bahwasanya mereka dicintai oleh kedua orang tua, terlepas dari kondisi keluarga yang tidak konvensional, yang mana orang tua harus berpisah.

Sebagai WNI yang tinggal di luar negeri, bantuan dan dukungan dari Perwakilan Republik Indonesia di negara tersebut sangatlah bermakna. Jika ada WNI yang melaporkannya ke KBRI/KJRI dan membutuhkan bantuan, mohon KBRI/KJRI untuk segera menanggapi. Sekecil apapun dukungan moral yang diberikan, ini akan sangat berharga pada situasi tersebut.

Penulis: Inur Darham, tinggal di Swiss dan dapat dikontak di akun IG: inur_darham berdasarkan wawancara seorang sahabat, Sekar Istianingrum (akun IG: xxsekar.indxx) yang juga tinggal di Swiss.

(CERITA SAHABAT) Mudik dan Kematian Senyap

Setiap tahun banyak keluarga Indonesia di mancanegara yang bermukim di Belanda berlibur ke Indonesia, termasuk saya. Selain untuk berwisata, kami biasanya bersilaturahmi dan melepas kerinduan bersama keluarga di Tanah Air. Selain itu, tentu saja memanjakan lidah dengan menikmati aneka kuliner tradisional khas Indonesia.

Sejak tahun lalu, begitu banyak perubahan global yang terjadi sebagai dampak wabah corona. Pergerakan dan perpindahan atau migrasi penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain, mengalami perubahan yang sangat drastis. Boleh dibilang semua mengalami hambatan sejak Covid-19 mewabah. 

Banyak negara memberlakukan lockdown, sistem karantina yang cukup lama, sarana transportasi udara yang tidak lagi terjadwal baik, bahkan lebih banyak pesawat terparkir di hanggar airport, dan beragam dampak pandemi lainnya. Itu pada akhirnya membuat banyak keluarga Indonesia di mancanegara, termasuk saya memutuskan untuk menunda liburan ke Tanah Air. Meski kerinduan pada orang tua, keluarga, kerabat, sahabat, teman, dan tetangga di begitu besar, namun demi kebaikan bersama, memang akan lebih baik menunda mudik hingga corona terkendali. 

Sejak pandemi dimulai tahun lalu, begitu banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Bukan saja beragam aspek kehidupan yang berubah, melainkan juga berdampak pada aspek kesehatan masyarakat, yang berujung pada aspek spiritual kematian.

Pandemi ini mengabarkan berita kematian yang tak biasa silih berganti. Varian Delta mengganas dan menular dengan sangat cepat dan mematikan. Isolasi/karantina mandiri menjadi salah satu alternatif terakhir, setelah begitu banyak rumah sakit yang kehabisan daya tampung pasien. Banyak negara yang pada akhirnya memberlakukan pembatasan kegiatan kemasyarakatan. 

Follow us @ruanita.indonesia

Pandemi telah menggerus sebagian tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Salah satunya tata nilai kesakralan sebuah kematian. Di antara berita Covid-19, seakan muncul kultur baru yaitu kematian yang senyap. Itu sebuah kultur kematian yang seakan terpangkas dari akar spiritual keagamaan dan kultur budaya. Seperangkat aturan dan protokol kesehatan yang diberlakukan secara global menjadi salah satu penyebab prosesi kematian seseorang tanpa salam perpisahan.

Secara mental, setiap orang mungkin merasakan ruang hampa nan sunyi karena beragam pembatasan dalam melakukan kontak sosial secara ragawi. Kehampaan itu masih tetap terasa meski beragam jaringan komunikasi online kerap dilakukan. Meski sedikit mengobati kesunyian, namun tidak bisa menggantikan rasa bahagia saat bersua keluarga, tetangga, teman, sahabat, dan kolega. Itu sekarang berganti menjadi keriuhan suara dan keelokan gambar di layar gadget. 

Saya yang memiliki keluarga besar di Indonesia, tidak hanya kesunyian yang dirasakan, tetapi juga kekhawatiran. Sejak varian Delta merebak di beberapa negara, termasuk di Indonesia, kabar kematian dari orang-orang yang dikenal pun memenuhi inbox gadget saya. Paman, tante, tetangga, sahabat, kerabat, dan teman terdekat lainnya, meninggal karena corona. 

Begitu banyak orang yang tertular virus itu dan akhirnya harus karantina mandiri. Kebutuhan akan oksigen melonjak! Tabung oksigen menjadi barang yang begitu berharga untuk menyambung nyawa. 

Begitu banyak kisah kematian yang membuat hati miris. Di beberapa kasus, sekeluarga meninggal dalam masa karantina mandiri di rumah mereka, atau meninggal sendirian di apartemen, dan kasus-kasus lainnya yang menjadi berita. 

Kesedihan saya semakin dalam karena hampir semua kematian karena corona, menjadikan keluarga yang ditinggalkan tidak bisa melepas kepergian orang yang dicintai dengan prosesi kematian yang wajar, khidmat, dan sakral. Saya yang pernah merasakan kehilangan ditinggal ibu dan kakak laki-laki karena penyakit yang lain, dapat membayangkan trauma kehilangan yang dirasakan ayah, ibu, anak, paman, tante, tetangga, kerabat, sahabat, dan teman yang ditinggalkan karena virus itu. 

Rasa kehilangan itu akan membekas begitu dalam karena kepergian untuk selamanya tanpa prosesi perpisahan yang normal untuk jenazah, dan pembatasan kunjungan langsung pada keluarga yang ditinggalkan, meski untuk sekadar mengungkapkan rasa duka dan saling menguatkan. Sebuah kultur kematian tercabut.

Secara psikososial kematian seseorang biasanya menjelma menjadi kedukaan bersama. Tak heran bila orang-orang yang ada di sekitar keluarga yang berduka bergandengan tangan, saling menguatkan, dan berbagi rasa optimistis akan masa depan. Namun, di masa pandemi ini, mencegah kemungkinan wabah semakin meluas, setiap orang atau kelompok orang seakan menjaga jarak. Setiap orang dibayangi dengan pemikiran dan ketakutan tiba giliran mereka meninggal dalam kesendirian, sunyi tanpa sempat mengucap salam perpisahan pada orang-orang yang dicintai. 

Bagaimanapun fase kematian akan menghampiri setiap yang bernyawa. Meski demikian, kematian yang indah dan baik tetap menjadi impian dalam hidup seseorang. Prosesi kematian bukan saja layak bagi yang meninggal, melainkan juga penting buat keluarga yang ditinggal pergi. Setidaknya, mereka mempersiapkan ruang kosong dalam kehidupan setelah ditinggal pergi orang terkasih supaya tidak hampa dan tetap optimistis. 

Semoga pandemi ini segera dapat teratasi dan semua memulai kembali kehidupan sosial secara normal. Dengan demikian, kelak bisa meninggal dalam keikhlasan dan dapat sekadar mengucap salam perpisahan pada orang-orang tersayang. Kehidupan memang begitu berharga, namun kematian pun menempati ruang yang penting dalam aspek sosial kemasyarakatan. 

Saya berharap dapat segera mudik dalam situasi normal. Saya sudah tidak sabar melepas segala rindu dengan pelukan hangat dan eratnya jabat tangan di tanah air. 

Penulis: Risti Handayani, tinggal di Belanda dan dapat dikontak via Facebook Ristiyanti Handayani. Tulisan ini sudah diterbitkan dalam buku berjudul: Cinta Tanpa Batas – Kisah Cinta Lintas Benua yang merupakan kerja sama antara RUANITA dengan Padmedia Publisher. 

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bagaimana Memahami Identitas Anak Birasial?

Dalam program Cerita Sahabat Spesial episode Januari 2024, kami mengundang Lara Dewi yang tinggal di Austria, Jerman, dan di musim panas dia tinggal di Guatemala. Lara memiliki ibu seorang Jerman dan ayahnya adalah seorang Indonesia. Menurut Lara, kedua orang tuanya bertemu saat mereka kuliah di universitas di Jerman. Lara sempat tinggal di Jerman dan di Indonesia semasa kecil.

Lara terbiasa berkomunikasi dalam Bahasa Jerman dengan kedua orang tuanya. Lara baru belajar Bahasa Indonesia ketika dia tumbuh remaja, saat dia menempuh studi di Jerman. Lara merasa komunikasi Bahasa Indonesianya kurang lancar dibandingkan Bahasa Jerman atau Bahasa Inggris.

Semasa kecil, Lara sempat merasa pengalaman tidak mengenakkan karena orang-orang di sekitar dia menganggap dia tampak berbeda atau seperti orang asing. Di Jerman, Lara merasa orang-orang sekitarnya tidak menganggap dia sepenuhnya orang Jerman. Sebaliknya saat Lara berada di Indonesia untuk tinggal beberapa waktu lamanya, orang-orang sekitarnya menganggap Lara begitu berbeda dan tidak sepenuhnya orang Indonesia.

Pertanyaan seperti: “Dari mana?” atau “Orang mana?” adalah pertanyaan yang sering dilontarkan orang-orang sekitar Lara saat bertemu dengan Lara. Lara sempat tinggal di Indonesia untuk belajar budaya, makanan, tarian, dan kain batik. Lara suka juga tinggal di Indonesia.

Follow us

Setelah tumbuh dewasa, Lara mengakui bahwa anak birasial adalah “Gift” yang tidak semua orang memilikinya. Lara pun mulai menerima identitas dirinya.

Lara berpikir lebih terbuka, fleksibel, toleran terhadap keragaman dunia. Lara bisa memahami bagaimana anak birasial merasa kesulitan berkomunikasi dan bingung menentukan identitas dirinya.

Bagaimana pengalaman Lara semasa kecil sebagai anak birasial? Apa saja tantangan yang dihadapi Lara semasa kecil tinggal di Jerman dan di Indonesia? Apakah Lara mengalami krisis identitas untuk menentukan siapa dirinya sebagai anak birasial? Bagaimana proses Lara memutuskan kewarganegaraannya dan menerima jati dirinya? Apa harapan Lara yang lahir dan besar sebagai anak birasial kepada dunia dan pemerintah Indonesia?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam program Cerita Sahabat Spesial berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Untuk mendukung kami, silakan subscribe kanal YouTube kami.

(RUMPITA) Memahami Negara Kolombia yang Bebas Visa Untuk WNI

Melanjutkan diskusi Podcast RUMPITA episode ke-20, Fadni yang menjadi Host mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Kolombia. Dia adalah Efi Yanuar, seorang kreator digital yang tinggal di Kolombia. Tentunya, Efi yang sudah menetap di Kolombia merasakan berbagai pengalaman menarik dan menantang selama di sana.

Barangkali diskusi podcast kali ini membuat sahabat Ruanita semakin penasaran untuk datang ke Kolombia dan mengetahui kebenaran sesungguhnya dari stereotip tentang orang-orang Kolombia. Cerita-cerita Efi tentang Kolombia bisa ditemukan di akun Instagramnya efi.di.kolombia.

Untuk datang sebagai turis, warga Indonesia tidak memerlukan turis tetapi cukup tiket pesawat pulang-pergi saja. Visa untuk warga Indonesia berlaku 90 hari dan bisa diperpanjang hingga 90 hari kemudian. Iklim dan cuaca negara Kolombia seperti layaknya di Indonesia, yang memiliki musim hujan dan musim panas. Efi sendiri mengakui tidak begitu sulit buat orang Indonesia untuk beradaptasi karena cuaca di Kolombia mirip dengan Indonesia. Ini berbeda dengan kota Bogota, yang berada di pegunungan atau dataran tinggi.

Bahasa yang digunakan warga Kolombia adalah Bahasa Spanyol, meskipun bahasa ini sedikit berbeda dengan Bahasa Spanyol di negara Spanyol seperti perbedaan kosakata. Perbedaan lainnya seperti subyek. Dalam Bahasa Spanyol ada 6 subyek, sedangkan dalam Bahasa Kolombia ada 5 subyek. Di Kolombia tidak ada sapaan seperti kakak, ibu, dan bapak seperti Bahasa Indonesia.

Soal kuliner di Kolombia, Efi merasakan sangat berbeda dengan Indonesia. Masakan Kolombia bisa saja memasukkan kacang merah, alpukat, singkong, jagung, atau pisang dan tidak banyak menggunakan rempah-rempah. Hal ini berbeda dengan kacang merah, alpukat atau singkong yang banyak digunakan dalam kuliner Indonesia sebagai dessert.

Follow us

Ada festival yang mirip di Kolombia seperti di Indonesia, yakni perayaan Semana Santa di Flores, Indonesia yang dilangsungkan selama tujuh hari dan menjelang Paskah. Stereotip yang selama ini dimunculkan pada telenovela atau opera sabun sewaktu Anna dan Fadni di Indonesia ternyata memang benar adanya, seperti kriminalitas di Kolombia. Efi pun mengakui tingkat kriminalitas di Kolombia pun cukup tinggi.

Bagaimana orang-orang Indonesia mempersepsikan negara Kolombia? Apakah Efi juga sempat mengalami culture shock selama tinggal di sana? Apa yang membuat Efi bertahan dan menyukai kehidupan bersama orang-orang Kolombia? Apa yang menarik dan menantang selama tinggal di Kolombia? Lalu apa yang perlu dipersiapkan kalau mau traveling ke Kolombia, yang mana WNI tidak perlu visa untuk berkunjung ke sana?

Lebih lanjut dan detilnya, silakan mendengarkan rekaman diskusi Podcast berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Kecemasan Saya Ketika Menjadi Ibu di Jerman

Halo, sahabat RUANITA! Saya Brina Weis, asal Tangerang yang kini menetap di Jerman sejak 2018. 

Dahulu saya tidak memiliki rencana untuk memiliki keturunan. Saya berpikir saat itu adalah saya berasal dari negara lain yang juga memiliki budaya yang berbeda. Ini pasti akan sulit jika saya harus mengajari anak dengan dua budaya dan bahasa sekaligus. Bahkan saya tidak memiliki pikiran untuk menikah dengan seorang pria Jerman. Hingga pada akhirnya ketika saya berkali-kali gagal menjalin hubungan dengan pria asal negara sendiri, saya mencoba peruntungan untuk menjalin hubungan dengan lelaki Jerman yang kemudian sekarang menjadi suami.

Akhirnya, kecemasan saya satu per satu mulai muncul ketika kami dikaruniai seorang anak perempuan di tahun 2022. Itu dimulai dari mengurus dokumen-dokumen untuk berbagai keperluan hingga menghadapi rumitnya alur birokrasi di sini. Namun tidak hanya itu, kecemasan lainnya yang muncul di kepala saya salah satunya adalah bahasa dan budaya.

Saya memang sudah tinggal di Jerman sejak tahun 2018. Bahasa Jerman sendiri adalah jurusan kuliah yang saya ambil saat masih belajar di universitas pada tahun 2013 silam. Namun, tetap saja saya merasa bahwa bahasa Jerman saya terbatas. Saya merasa takut jika harus berbicara atau mengajarkan Bahasa Jerman kepada anak saya. 

Mengapa saya belum mengajarkan Bahasa Indonesia? Saya memiliki prinsip bahwa kami saat ini tinggal di Jerman dan anak kami akan bersekolah dan mengenyam pendidikan di sini. Jadi untuk sementara, saya lebih memprioritaskan Bahasa Jerman dahulu ketimbang bahasa ibu saya sendiri. Saya juga sempat membaca sebuah artikel di mana jika anak diajarkan dua bahasa sekaligus, kemungkinan ia bisa mengalami speech delay atau terlambat berbicara. Saya tidak ingin hal itu terjadi.

Follow us

Ketika di rumah, saya berusaha berbicara Bahasa Jerman dengan anak saya. Jika saya rasa ada sedikit kesalahan, saya akan mengulangi kalimat tersebut kembali dengan struktur yang benar. Memang itu terkesan sulit. Suami saya pun selalu mengoreksi jika saya salah mengucapkan sesuatu dalam Bahasa Jerman. Saya juga terkadang suka tidak sengaja berbicara bahasa bayi kepada anak saya seperti memanggilnya dengan sebutan „tantik“ yang seharusnya „cantik“ dan „cayang“ yang maksudnya adalah „sayang“. Terlebih lagi ini adalah kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Kadang saya pun bingung, apa sebenarnya mau saya.

Belum lagi perbedaan budaya dan pola pikir antara saya dengan suami. Saya pernah bertanya pada suami, apa reaksinya jika suatu saat nanti anak kami memilih untuk menyukai sesama jenisnya. Atau pertanyaan seperti jika anak kami memilih untuk memeluk agama yang berbeda dari kami, apa reaksinya nanti. Banyak pertanyaan-pertanyaan  konyol yang kadang muncul di pikiran ketika saya memikirkan masa depan anak kami. 

Kecemasan lainnya adalah ketika saya harus berpergian sendiri dengan menggunakan transportasi umum. Saya selalu merasa cemas jika di tengah perjalanan, anak saya merasa tidak nyaman sehingga membuatnya menangis. Saya membayangkan tatapan tajam para penumpang lain kepada saya saja sudah membuat saya takut. Hal inilah yang akhirnya membuat saya berkali-kali membatalkan janji bertemu dengan kawan-kawan lainnya dan lebih memilih untuk berada di rumah dengan anak saya.

Tidak hanya itu, saya sendiri kadang merasa rindu dengan tanah air. Saya selalu membayangkan jika saja orang tua saya ada di sini mungkin akan lebih mudah, dalam mengasuh anak dan mengurus rumah karena mereka akan dengan senang hati ikut membantu. Namun saya kembali sadar bahwa saya di sini sendirian. Ditambah lagi setelah beberapa bulan kelahiran anak kami, kami memutuskan untuk pindah ke sebuah kampung kecil di Jerman selatan, tempat di mana mertua saya tinggal. Artinya, saya harus melepas pekerjaan baru saya kala itu dan juga berpamitan dengan teman-teman Indonesia saya di tempat lama. Saya benar-benar merasa sendiri.

Saat ini pun saya masih dalam masa cuti mengurus anak yang sudah berlangsung hampir satu tahun. Saya juga bersyukur bahwa anak kami mendapat tempat di Kinderkrippe (sebutan untuk tempat penitipan anak sebelum masuk TK) dan itu pun tidak otomatis ia langsung masuk saat itu juga. Ia akan masuk pada bulan September dan saya selesai cuti pada bulan Juni. Artinya, selama beberapa bulan saya harus meninggalkan anak dengan orang lain atau pengasuh untuk beberapa jam karena saya dan suami harus bekerja. 

Kami tidak bisa meninggalkan anak dengan mertua karena ibu mertua saya pun masih bekerja sedangkan bapak mertua saya punya kegiatan lain. Saya sendiri pun memilih untuk bekerja karena saya ingin membantu ekonomi keluarga kecil kami agar suami tidak berat sebelah dalam hal finansial.

Ditambah lagi, kadang saya dituntut oleh orang-orang terdekat saya untuk melakukan atau mengajarkan sesuatu kepada anak saya, seperti dia harus tidur sendiri, dia sudah bisa minum sendiri, dan lain-lain. Saya takut bila tuntutan-tuntutan itu tidak bisa saya turuti, mereka akan kecewa. Terlebih lagi mertua saya mewanti-wanti kami untuk tidak boleh salah dalam mendidik anak, berhubung anak kami adalah generasi perempuan satu-satunya dalam keluarga besar suami says. Jadi, bisa dikatakan anak kami sebagai „anak emas“ mereka.

Kecemasan-kecemasan itu akan selalu mengikuti ke mana pun langkah saya karena saya ingin menjadi orang tua yang baik untuk anak kami. Mungkin bagi orang lain terkesan terlalu berlebihan karena saya pun juga belum terbiasa. Semakin berjalannya waktu, saya mulai mencoba berdamai dengan kecemasan saya sendiri dan mencoba untuk berani menghadapinya. Semoga benang kusut dalam kepala saya satu per satu akan terurai. Semoga.

Penulis: Brina Weis, tinggal di Jerman dan dapat dihubungi melalui instagram @svasthi_

(AISIYU) Hands, Voices, Freedom

Pembuat karya: Putri Silitonga

Akun Instagram: qqutri

Judul karya: Hands, Voices, Freedom

Deskripsi: Kolase yang memiliki frase “Merdeka dari Kekerasan” menampilkan gambaran perempuan menahan sentuhan yang tidak diinginkan dan dikelilingi oleh tangan yang menggambarkan sifat invasif kekerasan terhadap wanita. Adanya bahan pangan di latar belakang mewakili esensi hak dan kebutuhan dasar perempuan untuk hidup aman. Terakhir, mikrofon di bagian belakang mewakili kepentingan untuk memperkuat suara perempuan, mendorong mereka bersuara, serta mengadvokasi pembebasan mereka.