(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tak Patah Arang, Bangkit dari Kondisi Tetraplegia dan Selesaikan S2 di Jerman

Program Cerita Sahabat Spesial di bulan Desember 2023 mengangkat tema Hari Internasional Penyandang Disabilitas yang jatuh tiap 3 Desember. Ruanita Indonesia mengundang Suan Ny yang tinggal di Jerman dan tinggal di kursi roda akibat kondisi tetraplegia.

Kondisi tetraplegia adalah Tetraplegia adalah kondisi seseorang akibat cedera yang terjadi pada otak, sumsum tulang belakang atau salah satunya sehingga orang tersebut mengalami kelumpuhan dari otot leher hingga seluruh anggota tubuhnya.

Suan Ny mengalami kecelakaan mobil ketika dia bersama anak dan temannya ingin berkunjung ke suatu karnaval di Jerman. Sejak kejadian tersebut, Suan Ny harus hidup di kursi roda. Sebelum kecelakaan terjadi, Suan Ny adalah ibu rumah tangga yang bekerja paruh waktu sebagai pengajar Bahasa Indonesia di VHS dan guru les untuk siswa-siswi Jerman. Suan Ny sendiri sempat mengalami mati suri akibat kecelakaan tersebut.

Follow us

Dengan tekad dan semangatnya, Suan Ny berusaha untuk bisa menggerakkan kepala, leher, bahu, dan tangannya meskipun dia masih harus tetap hidup di kursi roda. Suan Ny bertekad untuk menyelesaikan studi S2 yang sudah dia mulai di tahun 2015. Dalam kondisi yang terbatas, Suan Ny berhasil mendapatkan kelulusan di salah satu universitas di Jerman.

Suan Ny pun sempat merasa terluka dan kecewa karena suami Suan Ny pun berusaha meninggalkan dia. Suaminya datang ke rumah sakit, saat Suan Ny masih dirawat intensif. Dia mengatakan bahwa pengacara akan mengurus perceraian mereka. Suan Ny semakin hancur ketika anaknya pun tidak mengenalinya sejak dia dirawat lama di rumah sakit.

Suan Ny berpesan: “Save yourself first, before save the others!”. Beruntungnya pemerintah Jerman membantu dan mendukung kebutuhan Suan Ny untuk bisa bertahan hidup sebagai Single Mom seorang diri.

Bagaimana kecelakaan yang menimpa Suan Ny terjadi? Apa yang membuat Suan Ny bangkit dan termotivasi sebagai Single Mom, termasuk menyelesaikan studi S2? Apa saja yang ditunjang dan dibantu oleh Pemerintah Jerman untuk Suan Ny sebagai penyandang disabilitas? Apa pesan Suan Ny untuk pemerintah Indonesia dalam rangka Hari Internasional Penyandang Disabilitas?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam program Cerita Sahabat Spesial di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Subscribe kanal kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Mengapa Kita Tidak Boleh Tahu Jenis Kelamin Bayi Sebelum Dilahirkan?

Setiap bulan kami menghadirkan program cerita sahabat spesial yang disampaikan oleh sahabat Ruanita Indonesia di seluruh dunia. Dalam rangka memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, kami mengundang Indah Sibuea yang tinggal di India. Indah adalah warga negara Indonesia yang tinggal di India, tepatnya di New Delhi hampir tiga tahun.

Indah juga mengelola kanal YouTube pribadinya Indah Sibuea dengan pengikut hampir dua ribu. Indah banyak bercerita tentang serba-serbi kehidupan barunya, termasuk bagaimana pengamatan dan pengalamannya tinggal di India. Indah dapat dikontak via akun Instagram indahsibuea.

Berdasarkan pengamatannya, memang ada perbedaan perlakuan pengasuhan keluarga-keluarga di India dalam membesarkan dan mengasuh anak. Ketidaksetaraan terjadi misalnya bagaimana anak laki-laki lebih didahulukan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, dibandingkan anak perempuan. Fenomena ini masih nyata terjadi di desa, dibandingkan di kota besar seperti New Delhi yang menjadi kota tempat tinggalnya sekarang.

Follow us

Selama tinggal di India, Indah sempat mengalami kehamilan dan memeriksakan diri di dokter kandungan di sana. Ada aturan yang menurut dia tidak biasa, seperti bagaimana keinginannya untuk mengetahui jenis kelamin bayinya sebelum dilahirkan. Namun, hal itu tidak bisa dibenarkan untuk Indah mengetahui apakah anak yang dilahirkan itu anak laki-laki atau anak perempuan.

Dari pengamatan dan obrolannya dengan orang-orang India, pernikahan di India merupakan pesta besar yang memerlukan biaya. Hal ini mengingat status sosial dalam sebuah keluarga. Setelah menikah, perempuan di India terbiasa untuk tinggal menyatu dengan keluarga pihak suami. Kebanyakan mereka juga tinggal bersama ipar dan keluarga besar pihak suami.

Mengapa Indah tidak boleh mengetahui jenis kelamin bayi yang dilahirkan saat dia tinggal di India? Apakah masih terjadi perbedaan perlakuan pengasuhan antara anak laki-laki dengan anak perempuan? Bagaimana Indah menjelaskan tentang kehidupan keluarga di India? Apa saran Indah dalam rangka Hari Internasional Penghapusah Kekerasan terhadap Perempuan?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam video berikut ini di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami.

(RUMPITA) Bagaimana Trauma Healing yang Tepat?

Pada episode ke-19 diskusi Podcast Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – dipandu oleh Mutiah Nurfadni atau yang biasa akrab dipanggil Fadni mengambil tema tentang trauma.

Fadni sendiri adalah mahasiswi program studi master di salah satu universitas bergengsi di Berlin, Jerman. Untuk membahas lebih dalam tentang trauma, Fadni mengundang Estrelita Gracia., M.Sc. atau dikenal dengan Esta, yang juga Founder dari Momentizing yang berpusat di Taiwan.

Esta kini sedang mengambil master program psikologi klinis dewasa di salah satu universitas swasta di Jakarta, Indonesia. Esta berpendapat kita sebaiknya memilih kata yang tepat untuk menyebut trauma karena trauma adalah respon terhadap peristiwa yang membuat stres.

Trauma bisa terjadi secara kolektif seperti pandemi yang terjadi baru-baru ini. Covid-19 kemarin pun bisa memberikan trauma kolektif hingga menjadi budaya post-covid 19 yang baru seperti menggunakan konsep belajar digital, dan lainnya.

Follow us.

Menurut Esta, orang dengan trauma biasanya takut, tetapi orang yang takut belum tentu mengalami trauma. Trauma biasanya disertai dengan perasaan takut yang akut dan parah. Rasa takut tidak selalu menjadi trauma dan bergantung pada resiliensi/daya juangnya sehingga tidak menjadi trauma. Rasa takut berkepanjangan dan akut terhadap sesuatu tersebut dan tidak terselesaikan sehingga menjadi trauma.

Menjawab pertanyaan Fadni, Esta berpendapat bahwa orang harus bisa membedakan antara trauma dengan fobia yang biasanya ketakutan akan suatu objek. Trauma sendiri punya berbagai macam tergantung tingkatan, misalnya ada salah satu kejadian yang mengubah hidup kita seperti perang, pandemi, dll. Namun di sisi lain adalah kejadian yang sepele tetapi berlangsung sering/intens seperti misalnya pengabaian, kekerasan dalam rumah tangga, dsb bisa menyebabkan trauma.

Trauma perlu diatasi secara holistik (=holistic healing) dengan berbagai bantuan profesional seperti neurolog/ahli syaraf, psikiater, psikolog atau konselor. Kita perlu keseimbangan tubuh juga dengan nutrisi dan asupan makanan yang dikonsumsi dalam mengatasi trauma. Trauma perlu ditangani secara keseluruhan dan intensif, misalnya tidak cukup hanya konseling saja.

Apa perbedaan trauma yang terjadi pada anak-anak dengan orang dewasa? Bagaimana sebaiknya kita mengatasi trauma yang tepat? Apakah trauma bisa ditangani hanya dengan “Healing” yang menjadi gaya hidup kekinian? Bagaimana kita membantu anggota keluarga/kerabat yang lain yang sedang mengalami trauma?

Simak selengkapnya di diskusi Podcast Rumpita berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Ini Kesedihan Saya Tinggal Jauh dari Keluarga di Indonesia

Halo Sahabat Ruanita, saya senang bisa berpartisipasi dalam program Cerita Sahabat ini. Perkenalkan nama saya, Nikita Nazhira. Beberapa teman sering memanggil saya dengan nama panggilan Zhira, sebagian lagi memanggil saya dengan sebutan Niki. Saat ini, saya tinggal di Taiwan bersama suami dan anak saya. Sebelum pindah ke Taiwan, saya sempat tinggal di Austria dan Estonia. 

Saya mau berbagi cerita tentang kesedihan yang dialami apabila kita tinggal jauh dari keluarga di Indonesia. Tentu, itu tidak mudah dijalani di mana kita tinggal ribuan kilometer dari tanah air. Saya merasa sedih jauh dengan keluarga karena saya memiliki hubungan yang dekat dengan papa dan mama. Hubungan saya pun begitu harmonis dengan kakak-kakak saya. 

Setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda tentang arti keluarga. Bagi saya, keluarga adalah tempat ternyaman di mana saya bisa menjadi diri sendiri. Dalam keluarga, saya mengenal makna unconditional love sesungguhnya. Sayangnya, saya harus berpisah dari keluarga yang begitu berharga dalam hidup saya. Perpisahan dengan keluarga dimulai ketika saya berniat untuk melanjutkan studi pada tahun 2017.

Tak hanya itu, perpisahan saya dengan keluarga di Indonesia terjadi ketika saya memutuskan untuk menikah dengan pria berkebangsaan Austria. Hal itu yang membuat saya kemudian menetap di Austria.

Follow us

Menurut saya, ada banyak faktor yang membuat seseorang harus berpisah dengan keluarga. Sebagian orang berpisah dari keluarga karena harus studi di luar negeri, menikah dan ikut suami, atau sebagian lainnya adalah bekerja. Itu adalah faktor-faktor yang paling relate yang saya ketahui selama ini. Kehidupan saya berubah tidak hanya karena saya tinggal jauh dari keluarga saja, tetapi pekerjaan suami yang mobile sehingga kami harus tinggal di Austria, Estonia, dan kini di Taiwan.

Terpisah jarak dan waktu dari keluarga di Indonesia rupanya memberikan efek psikologis buat saya sendiri. Boleh dibilang, saya begitu akrab dengan keluarga dan kakak-kakak saya. Kini, saya pun harus bertumbuh secara mandiri. Apalagi saya harus bisa “segalanya” ketika suami harus berpergian “terbang” berminggu-minggu. 

Ketika suami harus bertugas, saya pun kadang dilanda kesepian, terutama ketika kami masih tinggal di Estonia. Estonia berada di wilayah Eropa Utara. Kondisi negara Estonia sendiri pun sangat jarang sekali mendapatkan paparan sinar matahari. Bahkan, suhu di Estonia bisa mencapai minus 20 derajat celcius ketika musim dingin tiba. Di saat itulah, saya sering mengalami kesepian dan kesedihan. 

Seharusnya ketika kita tinggal jauh dari keluarga, kita bisa membangun relasi yang baru dengan lingkungan sekitar. Saya merasa sulit bertemu dengan orang Indonesia lainnya karena kondisi kami yang harus mobile. 

Menurut saya, bertemu dengan orang-orang Indonesia di negeri perantauan seperti mengobati rasa rindu akan tanah air dan keluarga. Orang-orang Indonesia inilah yang saya anggap seperti keluarga saya sendiri. Begitulah cara saya mengatasi rasa kesedihan karena tinggal jauh dari keluarga di Indonesia. Selain itu, saya rutin melakukan video call dengan orang tua dan kakak-kakak saya kapan saja. Beruntungnya teknologi membuat kita begitu mudah terhubung dengan Indonesia yang jaraknya ribuan kilometer jauhnya. Melakukan video call dan menjalin komunikasi yang intens dengan keluarga adalah cara saya lainnya untuk mengobati kesedihan. Saya bisa membicarakan banyak hal dengan keluarga saya. 

Ketika suami mendapatkan tugas di Taiwan, saya benar-benar bahagia sekali untuk tinggal di salah satu negeri di Asia. Saya membayangkan jarak dan waktunya yang tidak sejauh seperti Austria dan Estonia, yang letaknya di Eropa. Namun, tantangan muncul kembali. Kami pindah bertepatan dengan pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Sebagaimana kita ketahui, pandemi telah menutup akses seluruh dunia termasuk kami yang tinggal di Taiwan.

Saat itu, saya sedang hamil besar. Saya ingin orang tua saya bisa berada di Taiwan, menemani kelahiran anak saya. Alhamdulillah, orang tua saya sempat berada di Taiwan satu bulan setelah saya melahirkan. Orang tua saya pun harus segera kembali ke tanah air karena seluruh dunia sudah mulai diberlakukan locked down. 

Sebagaimana umumnya anak perempuan yang menjadi seorang ibu untuk pertama kalinya, saya ingin sekali orang tua saya berada bersama saya untuk membantu saya. Sayangnya, hal itu tidak bisa dilakukan mengingat kondisi pandemi juga. Orang tua saya tidak bisa menemani atau membantu saya selama proses pengalaman menjadi ibu pertama untuk saya. Itu adalah masa terberat dalam hidup saya. Selain itu, suami pun harus bertugas “terbang” berminggu-minggu pada saat itu, sehingga membuat situasi saya semakin menantang.

Kesedihan tinggal jauh dari keluarga di Indonesia pun melanda saat itu, manakala saya harus mengurus semuanya seorang diri. Saya tidak bisa meminta bantuan babysitter atau cleaning service karena situasi di Taiwan yang begitu strict saat pandemi Covid-19 tersebut. Di titik itu, kemandirian saya diuji untuk mengatasi persoalan yang saya alami seperti kesedihan dan kesepian. Menurut saya, ketegaran adalah fondasi utama, yang membuat saya bisa melangsungkan kehidupan sehari-hari dengan baik.

Saya berpesan kepada sahabat Ruanita yang juga relate dengan cerita saya atau mengalami perasaan yang sama, I feel you. Pertama, acknowledge your feeling karena hal itu adalah wajar untuk merasakan perasaan-perasaan yang terjadi dalam diri kita. Validasikan rasa sedih, kecewa, marah, kesepian dan sebagainya, kemudian, ayo bangkit! Kita tidak boleh berlarut-larut terjebak dalam perasaan-perasaan tersebut. 

Kunci utama saya, berdasarkan pengalaman tersebut adalah mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa. Saya belajar ikhlas. Sahabat Ruanita juga bisa mencari teman atau social support group yang menjadi komunitas positif untuk saling mendukung satu sama lain. Terakhir, kita perlu juga melakukan olahraga. Tidak harus yang rumit, tetapi minimal kita bisa berjalan kaki ribuan langkah untuk menciptakan positive mind and body. 

Berdasarkan tinggal di tiga negara yang berbeda, saya merasakan bagaimana WNI dapat membangun community support yang equal, asalkan mendapatkan dukungan dari KBRI/KJRI. Penting rasanya untuk membangun solidaritas selama kita tinggal jauh dari tanah air. The last, saya juga berharap agar KBRI/KJRI dapat menyediakan social support community untuk WNI di mana saja. 

Penulis: Nikita Nazhira tinggal di Taiwan dan dapat dikontak di IG nazhira.

(CERITA SAHABAT) Sempat Menjadi Stay at Home Mom, Ajari Saya Atasi Emotionally Drained Mental Clutter

Hai, nama saya Yuanita Nurdiana dan biasa dipanggil Nita. Saat ini, saya tinggal di Bogor sejak lulus SMP tahun 2004 hingga sekarang. Aktivitas saya sekarang bekerja di Perusahaan Jasa Keuangan Syariah sebagai Kepala Bagian Recruitment & Assessment.

Kegiatan sehari hari adalah menjalani kehidupan bekerja full time semenjak lulus kuliah, menikah, dan akhirnya memiliki buah hati. Sebelumnya, saya dan suami masih tinggal bersama orang tua saya, sehingga keberadaan mereka sangat membantu dalam menjaga anak ketika saya dan suami bekerja. Suatu hari, saya mendapatkan kabar adik ibu saya lebih membutuhkan bantuan ibu disebabkan dia harus menjalani pengobatan kanker. Selain itu, hasil test kehamilan menyatakan saya mengandung anak kedua.

Kondisi tersebut membuat saya stres, bukan hanya karena keadaan dalam keluarga melainkan di saat yang bersamaan saya sedang menjalani masa promosi kenaikan jabatan setelah 5 tahun bekerja. Saya merasa sangat sedih, kacau, dan berpikir mengapa tidak ada seorang pun yang me-support kebutuhan saya. Setelah berdiskusi dengan suami dan keluarga, akhir tahun 2019 dengan berat hati saya menolak promosi kenaikan jabatan dan mengundurkan diri dari tempat bekerja.

Awalnya saya menikmati menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT), saya merasa santai dan bebas ingin melakukan apa saja tanpa harus menunggu weekend yang tentunya sambil menunggu kelahiran buah hati anak kedua kami. Tidak lama setelah anak kedua kami lahir, saya dan suami memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua dan belajar hidup mandiri.

Saya merasa sangat senang, setidaknya saya bisa membuktikan kepada lingkup sosial kami bahwa kami pun bisa hidup mandiri. Namun seiring berjalannya waktu, aktivitas sehari-hari saya menjadi sangat monoton. Saya merasa bosan dan lelah dengan aktivitas yang sama setiap harinya, yaitu mengurus 2 anak sekaligus. Saya merasa jenuh dengan keadaan ini yang sangat berbeda ketika saya bekerja.

Saya merasa kecewa karena saya merasa tidak bisa berinteraksi dengan orang dewasa. Setiap hari yang saya hadapi adalah dua anak kecil. Saya merasa depresi sampai berkonsultasi ke profesional via online, tetapi saya merasa tidak lebih baik.Akhir tahun 2019 bertepatan dengan issue yang mengawali datangnya pandemi membuat dunia saya semakin kecil. Ketika pemerintah memutuskan untuk memberlakukan Work From Home (WFH), menutup, atau bahkan sangat membatasi aktivitas di luar rumah, di situ saya merasa semakin stres lagi.

Saya harus mengurus Toddler dan bayi tanpa bantuan orang lain, kecuali suami. Sistem WFH memang sepanjang waktu suami ada di rumah, tetapi tidak menjadi lebih banyak waktu untuk bisa membantu mengurus anak. Bahkan suami tidak jarang weekend pun masih harus menghadiri meeting online.

Kondisi tersebut sangat menguras emosi saya, tidak jarang saya sedikit berteriak ketika berbicara ke anak. Saya merasa sedih tetapi saya pun merasa tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.Tahun 2022 kami harus pindah ke rumah ibu mertua saya disebabkan oleh beberapa hal. Setelah ayah mertua meninggal tahun 2021, ibu mertua memutuskan untuk pindah dari Surabaya ke Bogor, kota tempat tinggal kami. Selain itu, hanya kami yang memungkinkan untuk pindah menemani beliau. Jujur saya akui kalau kondisi inilah yang membuat saya semakin drop, merasa useless, dan stagnant berada di rumah mertua tanpa pekerjaan.

Saya merasakan hal yang sama setiap harinya, kurang berinteraksi dengan orang dewasa, sehingga membuat saya benar-benar bosan, jenuh, dan kurang bersemangat. Namun, saya tidak bisa mengekspresikan diri karena saya tinggal dengan ibu mertua. Saya merasa sangat depresi. Saya mengalami emosi yang tidak stabil, seringkali saya melimpahkannya ke anak-anak. Saat itu, hanya ada media sosial yang bisa menghibur saya. Namun, hal baru yang saya peroleh adalah saya belajar untuk berjualan mukena secara online. Walaupun hanya di saat tertentu seperti momen Idul Fitri dan Idul Adha tetapi saya cukup senang dengan hasil yang diperoleh.

Tidak hanya itu, hubungan yang sangat baik dengan kakak dan adik saya sangat menolong dan dapat menstabilkan emosional saya. Setiap weekend kakak selalu mengajak saya keluar walaupun hanya minum di coffee shop. Ketika ada kesempatan santai di rumah, waktu tersebut saya usahakan untuk bisa menghubungi teman atau sahabat. Bertukar cerita dengan mereka membuat saya merasa tidak sendirian menjalani hidup yang seperti ini.Mempelajari hal baru yaitu berjualan secara online adalah hasil positif di tengah kondisi emosi yang sangat tidak stabil.

Saya juga pernah diundang menjadi pembicara di kelas Psikologi Industri & Organisasi oleh teman yang juga seorang dosen di salah satu Universitas Swasta di Kota Depok. Berbagi cerita dan pengalaman sebagai seorang HRD kepada mahasiswa membuat saya senang dan merasa diri masih mampu dan berguna meski sekedar berbagi ilmu dengan teman dan adik-adik mahasiswa.

Dari keseluruhan kondisi yang saya alami, besar dampaknya pada beberapa hal dalam diri saya. Beberapa diantaranya emosi menjadi tidak stabil, merasa sangat tidak berdaya, jenuh, lelah, dan sangat bosan dengan aktivitas sehari-hari yang monoton. Bahkan sampai seringkali saya merasa “stuck” dan tidak tahu lagi harus bagaimana. Hal yang sangat saya syukuri adalah peran pasangan dan keluarga yang benar-benar memahami, mengerti, bahkan membantu yang tentunya dengan cara mereka. Saya merasa kunci utama untuk diri saya bisa bertahan dan menjalani semua ini adalah pasangan. Dia yang selalu menguatkan, memotivasi, dan mendukung apapun pilihan yang akan saya jalani nantinya.

Begitupun dengan keluarga, mereka tidak mempermasalahkan status saya yang menjadi Ibu Rumah Tangga. Ibu saya berkata, “Sebagai wanita, kita tidak boleh bergantung seratus persen pada suami dalam hal finansial, karena kita tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi suatu saat nanti”.

Tidak sampai di situ, menurut saya peran pasangan dan keluarga sangat berpengaruh terhadap kesehatan, baik fisik maupun mental. Jangan meremehkan kegiatan yang kita jalani sekarang! Emotionally Drained Mental Clutter ini sebagai dampak nyata dari kesediaan saya mengalah dan berada pada kondisi di luar keinginan hati nurani.

Tantangan dan kendala yang saya hadapi pada kondisi tersebut adalah bagaimana caranya supaya saya dapat melihat dan menjalani hal tersebut menjadi sesuatu yang “biasa” dan tidak menimbulkan efek stres berkepanjangan. Saya melakukan aktivitas yang monoton, tidak bisa berinteraksi dengan orang sebaya, merasa stagnan bahkan seringkali merasa insecure pada diri sendiri. Saya sampai merasa iri melihat dan mendengar perkembangan karier teman-teman di luar.

Saya kemudian beradaptasi dan berdamai dengan rutinitas sebagai Stay at Home Mom. Cara saya mengatasi tantangan dan kendala tersebut adalah dengan memperbanyak ibadah, banyak bersyukur, healing bersama keluarga dan juga mengurangi bermain media sosial, terutama Instagram.Harapan saya kepada keluarga dan pasangan, semoga kalian bisa menjadi garda terdepan yang selalu support. Sebagaimana saya menjalani peran menjadi stay at home Mom, itu bukan hal yang mudah.

Untuk ranah sosial, saya berharap kita tidak perlu membandingkan siapa yang paling baik atau melelahkan antara ibu pekerja dengan ibu rumah tangga karena kita semua sudah berada di posisi terbaik saat ini, apapun itu pilihannya.

Pesan saya untuk teman-teman yang mengalami kondisi hampir sama dengan efek Emotionally Drained Mental Clutter, saya percaya bahwa kita mampu untuk mengatasinya. Khusus untuk teman-teman yang tinggal di luar negeri, dengan terbatasnya support keluarga dikarenakan beda negara, saya yakin tingkat kesulitannya menjadi berlipat.

Saya hanya ingin sampaikan bahwa Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita dalam kondisi apapun, seperti yang disampaikan dalam ayat Al Quran yg selalu menguatkan saya ketika saya down yaitu Surat Al-Baqarah ayat 286 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Terima kasih!

Penulis: Inur Darham, tinggal di Swiss dan dapat dikontak di akun IG: inur_darham berdasarkan wawancara seorang sahabat, Yuanita Nurdiana yang tinggal di Bogor.

(IG LIVE) Membicarakan Film Pendek Bertema Kesehatan Mental “Dua Kali”

Pada episode Oktober 2023, Ruanita Indonesia mengambil tema tentang kesehatan mental dalam program diskusi IG Live yang diselenggarakan setiap bulan sekali. Sebagaimana program yang digelar oleh Ruanita Indonesia setiap peringatan Hari Kesehatan Mental, Anna selaku Host of IG Live menyebutkan rentetan acara yang pernah digelar.

Tahun 2021 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PPI Kiel dan KJRI Hamburg menggelar diskusi online bertema kekerasan dan pelecehan seksual. Hadir dalam kesempatan tersebut adalah Psikolog dari Yayasan Pulih dan Wakil Ketua LPSK RI. Di tahun 2022 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Swedish Indonesian Society (SIS) dan KBRI Stockholm menggelar diskusi online, berjudul: “Kesehatan Mental – Wajib Tahu, Bukan Tabu.”

Pada tahun 2023 ini, relawan Ruanita Indonesia berinisiatif membuat program yang berbeda melalui film pendek yang berjudul “Dua Kali”. Film pendek ini dikerjakan secara daring oleh relawan yang semuanya perempuan Indonesia di tiga kota berbeda, Jakarta, Passau, dan Hamburg. Pengambilan gambar untuk film “Dua Kali” adalah kota Hamburg. Film ini juga didukung oleh KJRI Hamburg.

Follow us

Untuk membahas detil tentang proses pembuatan film ini, IG Live menampilkan dua tim film yakni: koordinator tim film, Mariska Ajeng (akun IG: mrskadj) dan Sutradara film, Ullil Azmi (akun IG: ullilazmi). Tentunya, ada alasan yang melatarbelakangi ide pembuatan film. Film ini juga mendapatkan dukungan 2 warga negara Jerman sebagai peran pembantu.

Berawal dari status kesehatan mental yang dialami oleh Ajeng ketika dunia dilanda pandemi Covid-19, Ajeng betul-betul merasakan berbagai problematik cara pandang dari pihak keluarga, orang-orang sekitar, hingga mungkin cara pandang budaya yang masih memandang negatif terhadap kesehatan mental. Psikolog di Jerman, negara tinggal Ajeng sekarang, mendiagnosa Ajeng dengan depresi dan fobia sosial pada 2021.

Selama bergulat dengan status kesehatan mental, Ajeng mendapatkan dukungan sepenuhnya secara sosial dari Ullil yang adalah perawat psikiatri di salah satu klinik di Jerman. Setelah mendapatkan penanganan khusus di rumah sakit, Ajeng kembali lagi didiagnosa memiliki OCD (=Obsesissve Compulsive Disorder). Tentunya, hal ini tidak mudah bagi Ajeng yang menjalaninya di saat situasi dunia dilanda pandemi Covid-19.

Berawal dari kisah nyata, film “Dua Kali” ini diproduksi oleh perempuan Indonesia yang menjadi relawan di Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia. Mereka memproduksi film ini di sela-sela waktu lowong mereka. Tim Film “Dua Kali” terdiri atas: Mariska Ajeng; Ullil Azmi; Roshandeani Rosmananda; Nurul Vaoziyah; dan Stephanie Iriana Pasaribu.

Apa saja tantangan yang dihadapi oleh tim film dalam memproduksinya? Apakah maksud pembuatan film pendek bertema kesehatan mental ini? Apakah betul ada perspektif mixed-culture dalam memproduksi film bertema kesehatan mental ini? Apa pesan yang ingin disampaikan oleh tim Film? Mengapa judul film ini adalah “Dua Kali”?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut ini:

Untuk mendukung kami, subscribe kanal YouTube kami.

(CERITA SAHABAT) Trauma yang Buat Saya Tidak Percaya pada Siapapun

Halo, perkenalkan nama saya Robin. Jujur, saya ingin menjaga anonimitas saya sehingga saya tidak ingin Sahabat Ruanita mengetahui nama saya sebenarnya. Saya kembali menetap di Indonesia sudah 3 tahun lamanya. Sebenarnya, saya sudah pernah tinggal di Italia lebih lama tetapi baru-baru ini saya memutuskan untuk pindah lagi kembali ke Indonesia. Sebelumnya, saya tinggal di Italia cukup lama. Meskipun cukup sering berpindah-pindah lokasi, sebagian besar waktu saya habiskan tinggal di Italia, tepatnya di Bologna. Sekarang saya tinggal di daerah Seturan. Rutinitas saya sehari-hari adalah bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore. Saya bekerja hampir sepanjang waktu, tetapi terkadang saya bekerja dari pukul 10 hingga sampai pukul 19.00 malam. Intinya, saya bekerja sekitar delapan jam setiap hari. Saya juga melakukan hobi di waktu senggang. 

Berbicara tentang hal traumatis, saya ingin bercerita terkait pekerjaan. Oleh karena itu, saya tidak menyebutkan nama perusahaannya, meskipun saya akan menceritakan detil apa yang membuat saya trauma. Pengalaman trauma saya dimulai ketika saya bekerja di Indonesia. Saya bekerja di suatu perusahaan di sana. Saya senang bisa bekerja di perusahaan tersebut karena ada teman saya juga yang bekerja di sana. Prinsipnya, kami saling mempercayai satu sama lain.

Follow us

Namun, dia “menikam” juga dari belakang. Yang pada akhirnya perbuatannya itu telah menjebloskan saya ke dalam penjara. Sungguh hal itu telah membuat saya sangat trauma. Terlebih lagi karena saya pernah mengalami hal-hal traumatis yang berhubungan dengan tempat kerja dan bullying di tempat kerja.

Saya merasa dikhianati oleh seseorang yang sangat dipercayai. Bagaimana mungkin pengkhianatannya telah menjerumuskan saya ke dalam penjara. Syukurlah, saya sudah pulih sekarang. Namun, tentu masih ada “luka” yang mendalam di mana saya hampir tidak bisa mempercayai orang lain lagi seperti dulu. Saya mencoba berusaha sekuat tenaga untuk menemukan pekerjaan dimana tidak ada orang yang saya kenal di perusahaan tersebut. Saya menghindari bekerja dengan orang-orang yang sudah saya kenal sebelumnya. Walaupun, saya butuh rekomendasi dan tawaran pekerjaan ketika saya tiba kembali ke Indonesia lagi. Saya tidak ingin trauma saya kembali lagi.

Spesifiknya, saya ceritakan detil tentang penyebab trauma saya. Jadi, saya pernah bekerja di suatu perusahaan di Jakarta selama kurang lebih satu tahun. Empat bulan pertama semua tampak baik-baik saja. Setelah itu, saya sering bekerja lembur, bahkan saya pernah bekerja lebih dari 12 jam sehari. Hal itu menjadi pemicu permasalahan dalam rumah tangga saya. Hubungan saya dengan anak-anak di rumah mulai terganggu. Tentu, itu sangat menyedihkan buat saya karena saya juga tidak bisa pulang. Saya seperti terpisah dari semua orang.

Baik sekarang ataupun dulu, saya bahkan tidak bisa mempercayai rekan kerja. Kita bekerja seperti seolah-olah harus waspada dan terus mengawasi satu sama lain untuk memastikan kalau semua pekerjaan baik-baik saja dan terselesaikan. Menurut saya, hal itu tidak baik dan tidak ideal dalam bekerja. Kondisinya semakin parah ketika kantor saya mulai membuka cabang baru sehingga saya harus bekerja 22-23 jam per hari. Setidaknya, saya bekerja lembur selama 6 bulan sebelum akhirnya saya memutuskan berhenti dan mengundurkan diri.

Saya merasa tidak layak dan tidak cukup baik untuk mencapai kesuksesan dalam hidup. Saya merasa hidup saya sia-sia dan tidak ada gunanya. Saya bahkan tidak mempercayai orang lain hingga depresi menghantui saya saat ini. Saya berusaha mengatasinya agar bisa melewati hal-hal sulit. Saya seperti mati rasa. Saya tidak tahu persis apa yang terjadi dalam kepala saya karena saya tidak punya kata-kata untuk menjelaskannya. Saya seperti tersesat dan tidak berdaya.

Saya sudah pergi ke psikolog. Ya, itu membantu tetapi sebenarnya tidak cukup. Psikolog hanya berkata: “Kamu harus bisa membantu dirimu sendiri. Kamu harus percaya pada dirimu sendiri dalam prosesnya.” Psikolog tidak menjelaskan bagaimana caranya? Ya, dia menjelaskannya tetapi saya tidak dapat mengikutinya. Mengapa? Karena itu sebenarnya di luar kemampuan saya. Itu pendapat saya.

Saat orang mendapatkan tekanan psikologis, memang kita perlu pergi ke Psikolog. Itu membantu tetapi hanya sebagian kecil menurut saya. Hal yang perlu dilakukan adalah mengembangkan coping mechanism untuk bisa mengatasi persoalan dalam diri tersebut. Pertama, saya mengatasinya dengan menggambar, kemudian beralih ke menulis. Saya pikir saya dapat mengekpresikan perasaan saya lewat tulisan. Sayangnya, seseorang mengetahui tulisan saya sehingga dia seperti mengejek saya sehingga membuat saya merasa semakin buruk. Saya pun tidak pernah menulis lagi. Saya lanjutkan dengan berolahraga seperti bersepeda, berenang, atau lari. Saya juga coba pergi ke tempat fitness.

Tidak sampai di situ saja, saya pun berusaha mencari social support group di Indonesia. Itu sedikit membantu karena di sana saya bisa sedikit berbagi namun kurang efektif karena  tidak ada orang seperti Psikolog yang akan memberi assessment tentang masalah kita. Pada akhirnya, saya tidak melakukan apa pun untuk mengatasi trauma saya. Saya tidak punya cara lain untuk mengatasi diri sendiri. Saya merasa tidak nyambung dengan keluarga saya karena saya merasa masih tidak mampu untuk menyampaikan apa yang saya alami kepada mereka. Saya tidak ingin membuat banyak masalah lagi. Saya hanya memendamnya dan semakin lama itu menghancurkan saya.

Peristiwa traumatis itu tentu saja telah membuat saya marah. Saya punya banyak kemarahan dalam diri saya dan pada diri saya sendiri. Meskipun itu hanya masa lalu, tetapi saya tidak berdaya karena hal traumatis itu seperti berada dalam benak saya. Saya pun tidak bisa menjelaskannya dengan baik kepada orang-orang sekitar saya, bahkan Psikolog sekalipun. Saya bingung bagaimana saya menjelaskan hal traumatis ini.

Di balik itu semua, saya tetap mengambil hikmahnya. Dengan begitu, saya menjadi lebih tangguh daripada sebelumnya. Saya menjadi pekerja keras sekarang karena peristiwa trauma tersebut. Saya masih bersyukur meskipun saya tetap berharap efek trauma ini dapat berkurang pada akhirnya. Ketika ada sesuatu yang menjadi “trigger” trauma saya kembali, saya berusaha menghindari konfrontasi tersebut. Saya cukup memperhatikan bagaimana saya menilai situasi dan orang lain berperilaku terhadap saya agar perasaan traumatis itu tidak muncul.

Setelah kejadian traumatis itu, saya berhenti kerja dan melamar pekerjaan baru saat itu Namun, saya mengalami kesulitan untuk mengatasi masalah dengan tempat kerja dan lingkungan kerja. Akhirnya, saya “ditendang” bekerja di sana dan di sini. Saya benar-benar terpuruk dan kontrak saya pun tidak diperpanjang. Mereka menolak mempekerjakan saya karena saya dinilai tidak cocok untuk bekerja di perusahaan-perusahaan itu. Saya merasa seperti “orang tidak berguna” saat ini.

Terakhir ini pesan saya untuk Sahabat Ruanita yang juga punya pengalaman traumatis seperti saya. Saya sampaikan berikut ini dalam Bahasa Inggris saja. I think that is going to be a bit difficult. I can only say this actually: if you want to trust someone, don’t regret it. Just do it with all your might, with everything you have. If you decide to trust someone, do not regret it. Because regret is actually really painful and you are destroying yourself in the process. But if you made a bad decision, I need to remind myself over and over that it’s actually their choice not mine. I could not control what those other people would do to me because, again, it is their choice to do so. I can’t control it. I can control my reaction. Even though it is easier said than done, I would always try that. So trusting them, it’s going to be my choice but proving me wrong is their choice not mine. I should not prove that they are wrong or I should not prove that I am wrong or I was wrong to trust them. No. If I can say this you need to be able to separate your professional life and your personal life. And if that is not enough then you can have like a second layer of personal life that only you would know. And I think it’s gonna be able to make it better than what I have received so far.

Di hari kesehatan mental sedunia, saya ingin dunia menjadi lebih baik. Saya tahu kita perlu lebih banyak tenaga profesional terkait kesehatan mental. Namun, saya berpikir itu tidak mudah dan murah. Kebanyakan dari mereka punya tarif yang agak mahal seperti Psikolog saya. Jadi, saya berharap agar ada institusi kesehatan mental yang mudah diakses dan dilakukan secara kolektif sehingga ini bisa membantu semua orang untuk kesehatan mental yang lebih baik.

Penulis: Nita (akun IG: msiyuun_) berdasarkan hasil wawancara seorang teman yang tidak ingin disebutkan namanya.

(GALERI FOTO) Pertemuan dengan Wakil Ketua LPSK RI

Pada 4 Oktober 2023, Ruanita (=Rumah Aman Kita) Indonesia yang diwakilkan oleh Anna Knöbl melakukan kunjungan ke kantor LPSK (=Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) Republik Indonesia yang bertempat di Jakarta. Sambutan yang hangat diterima oleh Wakil Ketua LPSK RI, Livia DF Istania Iskandar. Livia sendiri pernah mengisi acara dalam dialog online yang digagas Ruanita Indonesia bersama KJRI Hamburg dan PPI Kiel beberapa waktu lalu.

Diskusi antara Ruanita Indonesia dengan Wakil Ketua LPSK RI berfokus pada bagaimana standar pelaporan kasus yang terjadi pada warga Indonesia yang sedang berada di luar Indonesia, tetapi kasus tersebut terkait dengan situasi di Indonesia. Contoh yang pernah ditangani oleh LPSK RI seperti kasus penipuan kerja di luar negeri dan kasus perdagangan orang yang memang terjadi di luar Indonesia.

Wakil LPSK RI mendukung untuk mengadakan lebih banyak dialog hukum dan diseminasi tentang standar pelaporan untuk WNI yang tinggal di luar negeri dengan melibatkan organisasi kemasyarakaratan seperti Ruanita Indonesia. Selain itu, penting bagi para staf diplomat untuk bisa memiliki skill dan pengetahuan yang baik tentang penanganan kasus-kasus domestik yang terjadi di luar negeri.

(GALERI FOTO) Live Talkshow di TVRI World Berbicara Eksistensi Ruanita Indonesia

Dalam rangka menjangkau lebih banyak orang-orang Indonesia di mancanegara, Ruanita Indonesia hadir membagikan keberadaannya lewat program Live Talkshow yang menjadi salah satu program TVRI World dalam siaran berbahasa Inggris. Ruanita Indonesia diwakilkan oleh Hernita Oktarini dan Anna Knöbl menceritakan tentang bagaimana awal mula terbentuknya Ruanita Indonesia sebagai social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan di mancanegara.

Siaran TVRI World ini sudah tayang di sejumlah negara di dunia, termasuk Eropa melalui misi kebudayaan yang memperkenalkan Indonesia lebih mendunia dalam siaran berbahasa Inggris.

(IG LIVE) Gelar Kampanye Sepekan bersama ALZI Ned dan ALZI Jerman, Ruanita Bangun Solidaritas Untuk Berbagi Dukungan Sosial

Diskusi IG Live Episode September 2023 mengambil tema Hari Alzheimer Sedunia sebagai bagian dari kampanye sepekan yang digelar Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia bersama Yayasan Alzheimer Indonesia di Belanda (ALZI Ned) dan Komunitas Alzheimer Indonesia di Jerman (ALZI Jerman). Diskusi IG Live yang berlangsung selama 35 menit ini menggunakan platform akun Instagram lewat akun ruanita.indonesia yang dipandu oleh Anna.

Kedua narasumber yang hadir dalam diskusi IG Live ini merupakan perwakilan dari ALZI Ned dan ALZI Jerman yakni: dr. I Putu Widhi Yuda Yadnya atau lebih dikenal dengan dokter Yuda yang mengambil spesialisasi penyakit dalam, tinggal di Jerman dan begitu aktif dalam komunitas SELINDO (Senior Lansia Indonesia) di Jerman serta komunitas ALZI Jerman.

Narasumber kedua adalah seorang tenaga profesional juga atau perawat untuk lansia yang tinggal dan bekerja di Belanda. Dia adalah Deasy Velner yang telah menetap lebih dari 20 tahun di Belanda. Deasy adalah perwakilan dari ALZI Ned yang juga merupakan Caregiver dari ibu kandungnya yang tinggal di Indonesia. Ibu dari Deasy adalah orang dengan demensia atau ODD dan kini mendapatkan perawatan khusus dengan biaya sekitar 16 – 19 juta rupiah setiap bulan di Indonesia.

Follow us

Dokter Yuda menjelaskan tentang Alzheimer dan Demensia yang tidak terpisahkan, bahkan sebetulnya tidak bisa dibedakan sebagaimana anggapan orang awam umumnya. Dokter Yuda kemudian menjelaskan 10 tanda mengenali gejala-gejala Alzheimer yang semuanya ini dapat diperoleh dengan mudah.

Apabila kita mengunjungi laman resmi Yayasan Alzheimer Indonesia atau Yayasan Alzheimer Indonesia di Belanda. Bagaimana pun kepedulian kita sebagai anggota keluarga sangat membantu secara signifikan untuk terapi sosial yang diperlukan ODD.

Meski kita tinggal jauh dari tanah air, bukan tidak mungkin kita tetap peduli pada masalah keluarga seperti yang dialami oleh Deasy sendiri. Dalam kesehariannya sebagai perawat mengurus orang-orang lanjut usia di Belanda yang semuanya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah Belanda, justru mendorong Deasy agar ibunya yang tinggal di Indonesia bisa mendapatkan perawatan yang berkualitas juga.

Sayangnya itu tidak mudah. Deasy mengamati bahwa Indonesia belum siap memberikan layanan berkualitas untuk ODD sehingga Deasy memutuskan untuk membayar ekstra kebutuhan perawatan sang ibu di Indonesia.

Jumlah yang fantastis tiap bulan harus dikucurkannya demi kebaikan sang ibu. Tentunya ini bergantung dengan kondisi dan tingkatan Alzheimer yang dialami ODD sendiri. Bukan tidak mungkin ada biaya tambahan lain seperti biaya obat-obatan dan biaya perawat khusus yang menjaganya 24 jam.

Dokter Yuda menjelaskan bagaimana penanganan ODD di Jerman dengan sistem kesehatan yang berlaku. Tidak jarang tenaga kesehatan perawat lansia untuk ODD menjadi biaya khusus yang harus dibayarkan keluarga demi penanganan intensif.

Di Jerman dan Belanda yang sudah memiliki layanan kesehatan untuk kelompok lanjut usia dan kelompok ODD diharapkan bisa menjadi harapan untuk orang Indonesia yang berada di perantauan seperti kita. Seperti pesan Deasy bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang bisa menghormati para orang tuanya dengan menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas.

Bukan tidak mungkin orang-orang Indonesia yang sekarang tinggal di luar negeri suatu saat akan kembali ke tanah air dan berharap ada perbaikan layanan kesehatan untuk kelompok lansia dan ODD sehingga menjadi jaminan kesehatan buat seluruh kelompok usia.

Selengkapnya tentang diskusi IG Live dapat disimak dalam rekaman berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Lakukan Audiensi dan Diskusi dengan Kementerian Luar Negeri RI

INDONESIA – Berdasarkan laporan permasalahan dan tantangan hidup tinggal di luar Indonesia, Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia pada hari Rabu (20/9) melakukan kunjungan ke Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Hadir dari tim Ruanita Indonesia antara lain: Natasha Hartanto, Hernita Oktarini, dan Anna Knöbl.

Dalam kesempatan tersebut, juru bicara dari Ruanita Indonesia yakni Natasha menjelaskan: profil Ruanita Indonesia, permasalahan dan tantangan warga Indonesia di luar Indonesia, dan harapan Ruanita Indonesia terhadap Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia.

Diskusi dan audiensi dari Kemlu dihadiri oleh Ardian Wicaksono, Fungsional Diplomat Madya di Amerika I, Ditjen Amerop; Chairul dari Direktorat Perlindungan WNI; dan Faisal dari Direktorat Eropa II.

Mereka mengapresiasi kinerja Ruanita Indonesia yang banyak terlibat untuk melakukan fungsi psikosial dan pendampingan permasalahan perempuan Indonesia di luar Indonesia, terutama area domestik.

Pada kesempatan tersebut, Kemlu RI memperkenalkan tentang aplikasi peduli yang diperuntukkan untuk warga Indonesia yang tinggal lebih dari 6 bulan dan bukan sebagai turis di negara tujuan. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur pelayanan lapor diri hingga tombol darurat yang dapat menginformasikan titik koordinat GPS bila warga Indonesia memerlukan bantuan darurat.

Sebagai contoh, ada seorang warga Indonesia yang tinggal di Jepang dan mengalami serangan jantung. Lalu dia menekan tombol darurat yang langsung terhubung dengan KBRI/KJRI terdekat. Alhasil, pertolongan pun datang sehingga dia tidak mendapatkan hal yang fatal. Sebenarnya lapor diri juga diperlukan untuk memastikan keberadaan warga Indonesia dan dapat dikenakan sanksi bila tidak melakukan lapor diri.

Aplikasi lain yang diperkenalkan Kemlu RI adalah aplikasi Safe Travel yang diluncurkan saat pandemi Covid-19 lalu. Aplikasi ini diperuntukkan untuk warga Indonesia yang tinggal kurang dari 6 bulan atau sebagai turis. Aplikasi ini memudahkan warga Indonesia untuk mengetahui situasi darurat di negara tujuan atau kontak perwakilan Indonesia di luar negeri.

Ruanita Indonesia mengharapkan adanya standar prosedur bagi warga Indonesia di luar negeri untuk melaporkan kejahatan/kriminalitas/permasalahan hukum yang dihadapi; fungsi konsuler yang aktif dan responsif dalam situasi darurat; memberikan sosialisasi dan edukasi yang mendalam dalam rangka preventif untuk permasalahan domestik; informasi dan komunikasi yang efektif tentang kondisi dan peraturan imigrasi negeri asing, dan perlindungan hak-hak WNI.

Dalam diskusi terbuka antara Ruanita Indonesia dengan Kemlu RI disebutkan pula tentang perlunya dukungan psikososial dan kapasitas knowledge yang diperlukan para diplomat KBRI/KJRI yang bertugas tentang masalah hukum yang menyangkut area domestik seperti hak asuh anak, perceraian, kekerasan dan pelecehan seksual sehingga hak hukum mereka dapat terpenuhi.

Selain itu, Kemlu diharapkan dapat membangun dialog hukum seputar hak-hak warga Indonesia di luar negeri yang lebih sering dengan melibatkan komunitas orang Indonesia di mancanegara atau organisasi kemasyarakatan seperti Ruanita Indonesia. Ruanita Indonesia juga berharap Kemlu dapat memiliki standar yang jelas dalam mengatasi pelanggaran hukum yang dilakukan seseorang dengan gangguan kesehatan mental.

Kesulitan warga Indonesia di luar negeri dalam memenuhi hak hukum dikarenakan kondisi finansial seperti tidak ada biaya untuk membayar pengacara setempat dan tidak ada biaya untuk penerjemah kasus hukumnya pun dibahas dalam diskusi terbuka.

Kemlu RI menyebutkan beberapa kasus hukum yang ditangani negara, apabila warga Indonesia dapat segera melaporkan permasalahan hukum yang ditanganinya.

Kemlu RI berharap sosialisasi terhadap aplikasi perlindungan WNI di luar negeri dapat ditingkatkan lagi, pembekalan untuk staf KBRI/KJRI dapat diperkuat untuk area domestik dan pemenuhan hak-hak perempuan di luar negeri dengan melibatkan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), dan lebih sering mengadakan dialog kemasyarakatan dengan melibatkan organisasi seperti Ruanita Indonesia lewat program-programnya.

(SIARAN BERITA) Cegah Kekerasan terhadap Perempuan di Luar Negeri, Komnas Perempuan dan Ruanita Bahas Inisiasi Kerja Sama

INDONESIA – Pada hari Senin (18/9) Ruanita Indonesia melakukan audiensi dan diskusi bersama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan yang bertempat di kantor Komnas Perempuan di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Ruanita diwakilkan oleh Anna Knöbl selaku Founder of Ruanita Indonesia yang didampingi oleh para relawan seperti: Hernita Oktarini, Natasha Hartanto, dan Stephanie Iriana Pasaribu.

Kedatangan tim Ruanita Indonesia disambut dengan baik oleh Komnas Perempuan yang dipimpin oleh Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat , Veryanto Sitohang dan didamping oleh Staf Komnas Perempuan lainnya. Dalam kesempatan tersebut, Komnas Perempuan mengapresiasi kerja Ruanita Indonesia yang selama ini telah berupaya untuk membuat program terstruktur dalam mengatasi kekerasan yang terjadi pada perempuan Indonesia di luar Indonesia.

Hernita Oktarini, selaku juru bicara dalam Tim Ruanita Indonesia menjelaskan tentang profil Ruanita Indonesia yang baru saja menginjak usia 2 tahun. Pada Maret 2023, Ruanita Indonesia telah berbadan hukum di bawah Pemerintah Indonesia dengan nama: Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia dan bekerja secara digital untuk terhubung dengan berbagai perempuan Indonesia di mancanegara.

Hernita juga menjabarkan tentang permasalahan dan tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia selama ini di luar Indonesia seperti: status izin tinggal, kultur (bahasa dan budaya), psikologis, pekerjaan, krisis sosial dan identitas kebangsaan, keamanan hingga keluarga dan pengasuhan anak.

“Tinggal di negara yang memiliki budaya, bahasa, dan sistem pemerintahan yang berbeda tentu mendapatkan beragam tantangan. Mulai dari aspek psikologosi, saat tinggal di luar negeri, hingga kekerasan yang dialami oleh perempuan-perempuan yang terikat dalam perkawinan campuran,” kata Anna menambahkan penjelasan Hernita.

Selain itu, Ruanita Indonesia berharap kepada Komnas Perempuan untuk memberikan dukungan dan perlindungan kepada perempuan Indonesia di luar negeri melalui dukungan psikosial, dukungan informasi dan edukasi tentang hak-hak perempuan di luar negeri, pemberdayaan ekonomi, dan advokasi hak-hak perempuan seperti menjadi perantara dengan KBRI/KJRI dalam mengakses layanan kekonsuleran. Ruanita Indonesia berharap dapat menindaklanjuti kerja sama dengan Komnas Perempuan sehingga menjadi program terintegrasi dan menyeluruh untuk memerangi kekerasan terhadap perempuan.

Lebih lanjut, Komnas Perempuan yang diwakilkan oleh Veryanto Sitohang menjelaskan: “Kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi, baik di luar negeri atau melibatkan warga negara asing lebih rumit untuk ditangani karena mempertimbangkan sistem hukum kedua negara.”

Acara ditutup dengan diskusi terbuka antara Ruanita Indonesia dengan Komnas Perempuan untuk menindaklanjuti kampanye bersama yang sudah dijalankan oleh Ruanita Indonesia setiap 25 November tiap tahun pada saat peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan.

(WARGA MENULIS) Kampanye Hari Alzheimer Sedunia 2023

  1. Lokasi tinggal: Swiss
  1. Pengalaman dalam keterkaitan dengan Alzheimer

Pada tahun 2017, saya menghadiri acara ALZI (=Alzheimer) di Jenewa, Swiss. Saat itu, kak DY menceritakan tentang ibunya yang mengalami Demensia Alzheimer. Dari situ, saya baru mengerti bahwa Alzheimer merupakan penyakit yang harus mendapatkan perhatian penuh oleh keluarga. Saya kemudian tergerak untuk menjadi member dari ALZI untuk  membantu meningkatkan kesadaran masyarakat di Jenewa, Swiss dan sekitarnya agar dapat meningkatkan kualitas hidup Orang Dengan Demensia (ODD).

  1. Mengapa penting mengenali Alzheimer sedini mungkin?

Sangat penting bagi kita untuk mengenali dan mengerti apa itu Alzheimer sedini mungkin. Dengan adanya pemahaman dini dan disertai pengetahuan tentang gejala-gejala Alzheimer, maka kita dapat mengambil langkah-langkah pertama untuk mencegah penyakit Alzheimer itu berkembang dengan cepat. 

Kita dapat belajar bagaimana sebaiknya mendampingi ODD supaya mereka merasa nyaman dan mengurangi rasa stres mereka. Begitu juga, apa saja aktivitas-aktivitas yang baik untuk diberikan kepada ODD agar dapat menstimulasi daya pikir mereka dan menjaga badan sehat. Hal ini dapat menolong untuk memperlambat perkembangan Demensia Alzheimer. 

Peran anggota keluarga sebagai caregivers utama itu sangat penting. Dengan mereka mengenali Alzheimer sedini mungkin, kita bisa menciptakan suasana saling mengerti antara ODD dan caregivers.

  1. Pesan di Hari Alzheimer Sedunia 2023

Dalam rangka Hari Alzheimer Sedunia, mari kita semua ikut aktif membantu organisasi ALZI dalam menjalankan visi dan misinya. Kita bisa membangun komunitas lansia sehat di mana pun kita berada dan mengajak generasi muda untuk ikut terlibat aktivitas-aktivitas organisasi ALZI agar memperoleh pemahaman dini tentang penyakit Alzheimer, serta bagaimana menghadapinya. Jangan maklum dengan pikun!

  1. Kontak

Herawasih Yasandikusuma

Jenewa, Swiss

Facebook: Wasih Yasandikusuma 

Instagram: alzi.geneva

(WARGA MENULIS) Kampanye Hari Alzheimer Sedunia 2023

  1. Lokasi tinggal: Qatar
  1. Pengalaman dalam keterkaitan dengan Alzheimer

Interaksi saya dengan Alzheimer Indonesia dimulai saat saya mendampingi perwakilan ALZI untuk menghadiri undangan sebagai narasumber dalam konferensi internasional di Qatar. Dalam dialog dan diskusi, saya terinspirasi oleh  ketulusan dan semangat seorang DY Suharya (Founder ALZI).

Didasari motivasi ingin berbagi ilmu dan berkontribusi sebagai seorang dokter umum dan Health Educator, saya bergabung menjadi relawan ALZI sejak tahun 2018. Selama itu, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga dan mengharukan terkait pendampingan dan perawatan Orang Dengan Demensia (ODD).

  1. Mengapa penting mengenali Alzheimer sedini mungkin?

Jumlah ODD diperkirakan akan terus meningkat, apalagi pasca pandemi COVID-19 lalu membuat banyak perubahan gaya hidup yang menjadi faktor risiko Demensia. Ini berarti, akan lebih banyak ODD dari yang mungkin diperkirakan. Demensia sendiri dapat disebabkan oleh beberapa kondisi gangguan dan penyakit, di mana kondisi terbanyak adalah jenis Demensia Alzheimer mencakup 60 hingga 70% kasus. Demensia Alzheimer adalah penyakit kronis neurodegeneratif yang umumnya dialami oleh mereka yang berusia diatas 65 tahun. 

Namun, beberapa hal dapat memungkinkan terjadi pada usia yang lebih muda bila terdapat faktor risiko dan kondisi komorbid yang memicunya terjadinya Demensia Alzheimer. Demensia Alzheimer berdampak tidak hanya pada orang yang mengalaminya, tetapi juga pada keluarganya.  

Penurunan fungsi kognitif dan gangguan perilaku dapat muncul dan memberikan pengaruh signifikan pada yang merawat dan mendampinginya. Pengetahuan dasar perihal penyakit, gejala, dan penanganannya sangat penting dimiliki agar semakin banyak orang dapat melakukan pencegahan atau mempertahankan kondisi untuk menghindari komplikasi yang lebih buruk. 

Keterampilan merawat dan mendampingi orang dengan demensia menjadi esensial bagi keluarga demi pengasuhan yang efektif dan  menjaga kesehatan mental caregiver yang mendampingi.

  1. Pesan di Hari Alzheimer Sedunia 2023

Untuk memperingati Hari Alzheimer Sedunia, mari bersama kita mengenali Demensia Alzheimer dan melakukan : 

  • Pencegahan dengan pola hidup sehat, stimulasi otak, dan silaturahmi sebagai bentuk interaksi sosial.
  • Deteksi dini dan penanganan yang komprehensif untuk ODD.
  • Bersama sebagai komunitas, kita dukung ODD dan caregiver dengan kepedulian, menawarkan bantuan, atau perhatian.
  • Menyebarluaskan awareness ini di masyarakat demi terciptanya kualitas hidup yang lebih baik untuk ODD dan caregiver.
  1. Kontak

dr. Kennia

Doha, Qatar

Akun Instagram: dr.kennia

(CERITA SAHABAT) Saya Lelah Menjadi People Pleaser

“You can always say no when you don’t want to”, itu adalah kalimat yang sangat sering diucapkan mertua saya kepada saya. Awalnya kalimat tersebut tidak berarti apapun kepada saya. Namun beberapa tahun belakangan ini kalimat tersebut menjadi sesuatu yang sangat sering muncul di kepala saya, ketika melakukan sesuatu atau mengambil sebuah keputusan. 

Hai, saya A WNI yang saat ini tinggal di Jerman and yes I am a people pleaser, not proud of that but it is what it is. 

Saya adalah anak pertama sekaligus cucu pertama dari keluarga ibu saya. Sebagai anak dan cucu pertama tanpa saya sadari saya adalah role model untuk adik-adik sekaligus sepupu-sepupu saya. Sejak kecil secara tidak langsung saya dituntut menjadi anak yang baik, harus bersikap baik, sopan terhadap orang tua, menyayangi adik-adik serta sepupu-sepupu saya, selalu harus mengalah, harus memiliki nilai akademis yang baik, dan masih banyak lagi.

Saya harus selalu mengikuti atau menuruti semua perkataan keluarga saya dan terkadang mengorbankan banyak hal untuk menyenangkan mereka. 

Sejak kecil hingga menginjak usia 30 tahun, saya tidak merasa ada yang salah dengan hal tersebut, namun tanpa saya sadari saya tumbuh menjadi seorang pembohong.

Meskipun sering saya jadikan bahan candaan dengan suami saya, kalau saya adalah pembohong yang tidak akan masuk neraka karena berbohong untuk kebaikan, tetapi berbohong tetap hal yang tidak baik untuk dilakukan.

Follow us @ruanita.indonesia

Menjadi people pleaser membuat saya bahkan sering berbohong kepada diri saya sendiri, bahkan terkadang kepada orang lain. Menjadi people pleaser  seringkali membuat saya tidak menjadi diri sendiri di hadapan orang lain.

Saya sangat sulit untuk berkata tidak, hal ini membuat saya menjadi kewalahan dalam menjalani kehidupan saya, terutama ketika saya bekerja dan harus selalu melakukan semua pekerjaan yang diperintahkan oleh atasan saya. Saya kemudian menjadi orang yang sering menggerutu dan pemarah hingga sering menyalahkan diri saya sendiri ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan apa yang saya harapkan. 

People pleaser sering menemukan kebahagiaan orang lain sebagai sumber kebahagiaan mereka, sehingga membuat mereka sangat sulit menemukan kebahagiaan mereka sendiri. Setelah pindah ke Jerman, saya menyadari kalau ternyata kalimat yang sering diucapkan mertua saya itu sangatlah penting, that’s how human should function, know your limit. 

Saat ini tentu saja saya masih sering menemukan kebahagiaan saya di dalam kebahagiaan orang lain. Namun setelah bertahun-tahun, saya akhirnya bisa secara perlahan-lahan menjadi seseorang yang lebih jujur dalam mengambil keputusan.

Saya mencoba lebih rasional dalam mengambil keputusan dan menjadi lebih bijak untuk mengartikulasikan alasan saya ketika saya harus mengatakan tidak kepada seseorang. Tidak mudah bagi saya yang besar dalam kebudayaan timur yang sangat kental untuk secara lantang mengatakan tidak atau menolak seseorang, terutama orang terdekat saya.  

Menurut saya, menjadi people pleaser bukanlah hal yang sehat. Kita bisa tetap menjadi seseorang yang baik tanpa harus menyenangkan orang lain, karena tentu saja definisi baik menurut tiap orang akan berbeda-beda.

Berhenti menjadi people pleaser bukan berarti membuat kita menjadi orang yang jahat dan tidak sopan, tetapi  kita hanya perlu mengetahui kapasitas diri kita dan membatasi hal-hal apa saja yang mampu kita lakukan dan tidak mampu kita lakukan. 

Saya rasa menjelaskan dengan baik kepada seseorang tentang penolakan dengan alasan yang logis dan tulus akan lebih baik dibandingkan kita berbohong untuk menghindari melakukan penolakan. At the end of the day, you create your own happiness, therefore it’s better to find it within yourself. 

Penulis: A tinggal di Jerman.