(SIARAN BERITA) Seminar Daring “Youth Diplomacy and Digital Literacy” Berlangsung Interaktif dan Inspiratif yang Berdampak Inklusif

Sabtu, 23 Mei 2026 — Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan Seminar Online bertajuk “Youth Diplomacy and Digital Empowerment” melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan yang berlangsung selama dua jam ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang yang antusias mempelajari diplomasi praktis dan pemanfaatan media digital untuk gerakan sosial.

Seminar daring ini diselenggarakan sebagai ruang belajar interaktif bagi generasi muda dan komunitas untuk memahami pentingnya diplomasi dalam pembangunan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kemampuan literasi digital dalam memperkuat advokasi sosial.

Acara dibuka dengan salam pembuka dari Aurelia Vinton, PPI Amerop, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas komunitas dan pemanfaatan teknologi digital untuk menciptakan dampak sosial yang lebih luas dan berkelanjutan. Harapannya, ruang-ruang digital seperti ini akan memperkaya pengetahuan dan pengalaman terkait tema-teman pembangunan sosial yang inklusif dan berkelanjutan, seperti yang baru saja dilaksanakan.

Pada sesi pertama, Hernita Oktarini, Relawan Ruanita Indonesia sekaligus lulusan Development Studies di Jerman dan peneliti independen isu pesisir serta sustainability, membawakan materi mengenai konsep diplomasi dalam pembangunan berkelanjutan. Hernita menjelaskan bagaimana individu dan komunitas dapat berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk melalui kolaborasi internasional dan penguatan isu masyarakat pesisir serta nelayan.

Peserta juga diajak memahami tantangan dan peluang dalam membangun kemitraan global untuk mendukung komunitas lokal. Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan terkait strategi membangun jejaring internasional dan praktik diplomasi di tingkat komunitas. Sesi kedua menghadirkan Veronica Christamia, dosen di Tiongkok sekaligus founder Komunitas Netra dan Nasi Bungkus Gratis Jogja. Veronica membagikan pengalaman mengenai pentingnya literasi digital untuk gerakan sosial dan strategi membangun narasi yang impactful di media sosial.

Follow us

Dalam paparannya, Veronica menjelaskan berbagai pendekatan sederhana namun efektif dalam membuat konten advokasi, mulai dari storytelling, reels, hingga kampanye digital berbasis komunitas. Peserta juga mendapatkan wawasan mengenai penggunaan platform digital untuk memperluas awareness terhadap isu sosial. Salah satu bagian yang paling menarik dalam workshop ini adalah sesi mini workshop, di mana peserta diminta menyusun konsep kampanye sosial berbasis digital. Peserta merancang ide kampanye dengan menentukan isu yang diangkat, target audiens, strategi kolaborasi, platform digital yang digunakan, hingga contoh caption dan ide konten kampanye.

Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman langsung dalam merancang kampanye sosial yang relevan dan aplikatif. Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi, foto bersama, serta harapan agar workshop ini dapat menjadi awal lahirnya berbagai ide kolaborasi dan gerakan sosial yang lebih kreatif, inklusif, dan berdampak positif bagi masyarakat.

Ruanita Indonesia berharap kegiatan ini dapat terus mendorong generasi muda untuk aktif membangun perubahan sosial melalui diplomasi, kolaborasi, dan pemanfaatan teknologi digital secara bijak dan berkelanjutan. Lebih lanjut, rekaman pemaparan materi dapat disimak melalui kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut:

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Fasilitasi Workshop Online tentang Empati, Gender, dan Keadilan Sosial dalam Konteks Banda Neira

Jakarta, April 2026 – Ruanita Indonesia bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Amerop telah menyelenggarakan workshop online bertajuk “The Forgotten Banda Neira: Women, Gender, Inclusivity & Social Justice in Island Community” pada Sabtu–Minggu, 18–19 April 2026 melalui platform Zoom.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan program pengabdian masyarakat ke Banda Neira, dengan fokus pada penguatan perspektif etika, kesadaran gender, serta keadilan sosial bagi peserta yang berasal dari berbagai negara studi.

Workshop difasilitasi oleh Fransisca Ariantiningsih, PhD student di Amerika Serikat dan aktivis lingkungan hidup; Zakiyatul Mufidah, PhD student di Inggris sekaligus dosen di Indonesia; serta fasilitator Ferdyani Atikaputri dan Anna Knöbl.

Selama dua hari pelaksanaan, workshop menghadirkan ruang diskusi yang mendorong peserta untuk memahami Banda Neira tidak hanya sebagai lokasi geografis atau destinasi sejarah, tetapi sebagai komunitas dengan kompleksitas sosial yang dipengaruhi oleh warisan kolonial, dinamika ekonomi, serta relasi gender.

Peserta diajak untuk merefleksikan berbagai pertanyaan kunci, antara lain:

  • Bagaimana cara berkunjung tanpa mengeksotisasi komunitas lokal?
  • Siapa yang diuntungkan dari narasi tentang Banda Neira?
  • Bagaimana sejarah kolonial masih memengaruhi kehidupan sosial saat ini?

Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, melalui diskusi kelompok, refleksi kritis, serta pemetaan gagasan secara kolektif.

Workshop juga menekankan pentingnya memahami isu gender dalam konteks yang lebih luas melalui pendekatan interseksionalitas, yang mempertimbangkan keterkaitan antara gender, kelas, geografi, dan akses terhadap sumber daya.

Dalam sesi diskusi, peserta mengeksplorasi konsep kerja tak terlihat (invisible labor), khususnya peran perempuan dalam menopang kehidupan sosial dan ekonomi yang sering tidak tercatat dalam narasi dominan.

Selain itu, peserta didorong untuk mengembangkan kesadaran terhadap posisi dan peran mereka sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas, serta potensi bias dalam praktik pengabdian masyarakat.

Salah satu fokus utama workshop adalah membangun kesadaran tentang etika representasi dan risiko eksotisasi dalam dokumentasi maupun narasi tentang komunitas.

Peserta diajak untuk membedakan antara empati dan pendekatan yang berpotensi memosisikan masyarakat sebagai objek, serta untuk menghindari narasi yang bersifat heroik atau paternalistik.

Sebagai bagian dari proses ini, peserta juga menyusun komitmen etis yang akan menjadi panduan dalam pelaksanaan kegiatan lapangan.

Sebagai tindak lanjut, peserta diharapkan membentuk kelompok kerja untuk mengembangkan karya kolektif, ssebagai medium yang etis dan tidak eksploitatif, sekaligus menjadi arsip pembelajaran kolektif peserta.

Komitmen terhadap Pembelajaran Kritis

Melalui workshop ini, Ruanita Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong pendekatan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan lapangan, tetapi juga pada proses pembelajaran kritis, reflektif, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi peserta untuk menjalankan program pengabdian dengan kesadaran sosial yang lebih mendalam, serta membangun praktik yang lebih adil dan inklusif dalam berinteraksi dengan komunitas.