(SIARAN BERITA) Kesehatan Mental: Wajib Tahu, Bukan Tabu

SWEDIA – Akhir-akhir ini isu kesehatan mental mulai ramai dibicarakan di tengah masyarakat. Beberapa orang terkenal, khususnya dari Indonesia mulai membuka diri dengan bercerita tentang gangguan kesehatan mental yang mereka alami.

Respon dari masyarakat beragam, banyak yang mengutarakan dukungannya, namun banyak juga yang menyangkal dan beranggapan gangguan mental adalah bukti kurangnya iman.

Padahal kesehatan mental erat kaitannya dengan faktor genetis, perubahan hormon, dan/atau situasi hidup, misalkan disebabkan oleh pandemi yang sudah berlangsung tiga tahun ini.

Stigma sosial dan juga kurangnya pemahaman tentang kesehatan mental membuat banyak penderitanya memilih untuk menyembunyikan diri dan tidak menerima pengobatan atau terapi yang dibutuhkan.

Hambatan lain bagi kesembuhan gangguan mental adalah sulit ditemukannya layanan kesehatan mental (ahli profesional dan rumah sakit) yang terjangkau, baik secara jarak dan biaya.

Para WNI yang tinggal di luar Indonesia, khususnya di Eropa, mungkin lebih beruntung. Akses yang mudah ke layanan kesehatan mental dan minimnya stigma membuat gangguan kesehatan mental lebih cepat ditangani oleh ahlinya.

Walau begitu, banyak dari mereka yang memilih untuk tetap merahasiakan tentang gangguan mentalnya dari teman-teman dan keluarganya sambil tetap menerima pengobatan yang mereka perlukan, padahal teman dan keluarga merupakan dukungan sosial yang sangat mereka butuhkan untuk sembuh.

Rumah Aman Kita (RUANITA) selaku komunitas Indonesia di luar Indonesia yang aktif mempromosikan isu kesehatan mental bekerja sama dengan Swedish Indonesian Society (SIS) menggelar diskusi virtual bertema kesehatan mental untuk memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2022 yang jatuh pada tanggal 10 Oktober setiap tahunnya.

Diskusi virtual dengan judul „Kesehatan Mental: Wajib Tahu, bukan Tabu“ ini didukung sepenuhnya oleh KBRI Stockholm, Swedia. Acara akan berlangsung melalui kanal Zoom pada hari Minggu, 09 Oktober 2022, pukul 15.00-17.00 WIB (10.00-12.00 CEST).

Acara diskusi virtual ini terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia di mana pun dan bisa dihadiri tanpa pendaftaran dengan mengakses tautan Zoom: bit.ly/webinar-ruanita-sis. Diskusi virtual ini akan dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI untuk Swedia dan Latvia, Kamapradipta Isnomo.

Follow us ruanita.indonesia

Acara akan dipandu oleh moderator Christophora Nismaya (relawan Ruanita dan mahasiswa Indonesia di Jerman), sedangkan narasumber-narasumber acara ini adalah Iwa Mulyana selaku Protokoler Konsuler KBRI Stockholm, Estrelita Gracia konselor cross-cultural trauma founder Momentaizing di Taiwan, Isabel Nielsen selaku konsultan asuransi kesehatan di Swedia, dan Jessika mahasiswa di Swedia.

Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk membagi pengalaman mengakses layanan kesehatan mental bagi WNI yang berada di luar negeri, terutama Swedia, negara yang terkenal memiliki layanan terbaik di dunia bagi orang dengan gangguan mental.

Kedua, memberikan edukasi yang benar dan tepat tentang kesehatan mental untuk mematahkan stigma yang ada di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Ketiga, untuk mendorong pemerintah Indonesia lewat perwakilannya di mancanegara untuk memberikan layanan kesehatan mental bagi warga Indonesia di luar negeri. 

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar permasalahan psikologis dan kehidupan di luar negeri. Tujuan diberdirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental dan kesetaraan gender serta berbagi praktik baik nggal di luar Indonesia. 

Informasi: Mariska Ajeng, tinggal di Jerman (email: info@ruanita.com)

Rekaman acaranya bisa disimak sebagai berikut:

Tolong Subscribe kami ya.

(IG LIVE) Kenali Jebakan Hubungan Gaslighting yang Berbahaya

RUANITA menyelenggarakan program IG Live setiap bulan dengan durasi selama 30-45 menit. IG Live Episode Agustus 2022 dibawakan oleh Natasha Hartanto, seorang WNI yang telah menyelesaikan studi di Jerman kemudian menetap di Jerman.

Natasha via akun IG@ruanita.indonesia akan memandu diskusi virtual bertema Gaslighting yang umumnya tidak dipahami oleh mereka yang sedang terjebak di dalamnya.

Fenomena Gaslighting tidak banyak dipahami ketika seseorang mulai merasa rapuh, merasa bersalah, hingga merasa tidak waras lagi akibat perilaku Gaslighting yang sudah memanipulasi hubungan mereka selama ini.

Gaslighting adalah bagian dari bentuk perilaku Psychological Abuse yang kemudian akan dijelaskan dengan baik oleh narasumber IG Live kali ini. RUANITA telah mengundang Anita Kristina, seorang Psikolog Klinis dan juga founder dari IRIS.

Lewat akun IG: @iris_harapan, Anita memperkenalkan IRIS sebagai wadah yang memberikan pendampingan bagi para korban KDRT untuk berdaya dan bangkit menjadi dirinya sendiri.

Follow akun: ruanita.indonesia

Untuk mendalami Gaslighting, Anita menjelaskan istilah ini yang sebenarnya menjadi populer belakangan ini. Istilah ini diambil dari suatu film yang terinspirasi dari lampu gas yang dimainkan suami untuk memanipulasi keyakinan istri.

Film yang tayang pada tahun 1938 ini kemudian berhasil membuat si istri menjadi rapuh dan kerap disangkal oleh suami berulang kali lewat permainan lampu gas.

Anita menjelaskan bahwa cara mengenali jebakan hubungan Gaslighting: (1). Pelaku menyangkal keyakinan korban dan merasa lupa apa yang sebenarnya terjadi; (2). Pelaku meremehkan apa yang dirasakan atau apa yang diyakini korban. Pelaku membuat korban mempertanyakan kebenaran bahkan kewarasan korban. Pelaku melakukannya dengan halus bahkan menggunakan siasat Love Bombing seperti pujian dan kata-kata cinta sehingga korban menjadi ragu dan bingung. Siasat ini membuat korban merasa bersalah dan kebingungan.

Perilaku Gaslighting seperti konsisten “menyerang” pijakan korban seperti konsep diri, kompetensi, keyakinannya yang berulang-ulang sehingga membuat korban pun rapuh, bahkan ada yang berujung pada petaka. Tujuan dari pelaku adalah melemahkan korban sehingga korban bergantung pada pelaku.

Anita menyarankan jika adalah korban, maka kita bisa melakukan empat poin berikut: (1). Agree to Disagree: Kita tetap yakin terhadap apa yang kita percayai meskipun pelaku kerap menyangkal. (2). Kita tidak menggubris apa yang diperbuat pelaku. (3). Mencari validasi dari Significant Others seperti teman, orang tua, yang mengenal kita dengan baik. (4). Mencari bantuan profesional agar bisa keluar dari jebakan hubungan Gaslighting.

Lebih lengkap diskusi virtual kami tersebut bisa disimak dalam saluran YouTube berikut:

(CERITA SAHABAT) OCD Itu Bukan Sekedar Cuci Tangan atau Bolak-balik Cek Pintu

Saya yakin sebagian besar orang sudah tahu apa itu OCD (Obsessive Compulsive Disorder) atau gangguan obsesif kompulsif. Mungkin ada juga yang pernah melabeli dirinya atau orang lain dengan OCD karena sering cuci tangan, bersih-bersih, atau menyusun barang secara simetris, tapi tahu tidak kalau OCD lebih dari itu?

Sesuai dengan namanya, gangguan ini menyebabkan penderita melakukan sesuatu dengan obsesif dan terus menerus (kompulsif). Perilaku dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan pikiran-pikiran buruk dan kecemasan yang penderita alami.

Perilaku mencuci tangan berkali-kali, misalnya, bertujuan untuk menghilangkan pikiran buruk, bahwa tangan penderita menyentuh benda berkuman yang bisa menyebabkannya jatuh sakit. Ketenangan hati ini sayangnya hanya bersifat sementara. Jika nanti penderita menyentuh sesuatu lagi, ia akan kembali mempunyai pikiran-pikiran negatif dan cuci tangan kembali harus dilakukan. Begitu seterusnya, seperti lingkaran setan.

Saya Ajeng, tinggal di Hamburg. Proses tersebut baru saya mengerti 10 bulan terakhir ini, sejak saya didiagnosis OCD oleh psikolog. Memang selama ini saya sudah berpikiran saya mempunyai gejala OCD karena „hobi“ banget pakai pembersih tangan sejak mulai remaja. Sempat berkurang karena saya tidak mau berakhir menjadi penderita OCD, tapi sejak pandemi malah semakin bertambah.

Mengamati diri sendiri, saya pakai cairan pembersih tangan pada akhirnya bukan karena takut bakteri, tapi karena jijik. Sejak pandemi mata saya „terbuka“, orang bisa saja pegang hidung atau mulut lalu pegang gagang pintu atau tiang bus. Membayangkannya saja jijik.

Bukan hanya soal cuci tangan, bagi saya juga penting kalau tempat tidur dan sofa saya bebas dari pakaian yang dipakai di luar rumah. Bahkan terakhir sebelum saya terapi, karpet saya juga sudah termasuk. Jika ada teman datang dan duduk di sofa dan di karpet, saya akan langsung mengganti alas sofa dengan yang bersih agar saya bisa duduk di atasnya dengan baju rumah. Jika saya sedang malas menyuci, saya akan menyemprot sofa dan karpet dengan desinfektan.

Selain ritual pasca menerima tamu, saya masih punya banyak contoh tindakan OCD lainnya, seperti ritual pulang ke rumah, ritual toilet, dan ritual pegang ponsel. Walau begitu, tindakan saya tidak seburuk dengan pikiran obsesif kompulsif saya. Oh ya, dalam bahasa Jerman ada dua istilah penting yang berhubungan dengan Zwangsstörung (OCD), yaitu 1) Zwangsgedanken dan 2) Zwangshandlung. Istilah pertama berarti pikiran OC dan yang kedua adalah perilaku/tindakan OC (sengaja saya hilangkan huruf D di akhir singkatan). Menurut saya kedua istilah ini memudahkan sekali untuk mengerti OCD, bahwa OCD bukan hanya soal perilaku tapi juga pikiran.

Walau perilaku OC saya tidak terlalu parah dan tetap membuat saya frustrasi juga memakan banyak waktu saya, tapi pikiran OC lebih membuat saya frustrasi. Pikiran-pikiran agresif termasuk ke dalamnya, misalnya bayangan yang terlintas di pikiran saya saat saya sedang menunggu di kereta di stasiun: OCD mendorong orang ke rel kereta.

Menurut co-terapis saya, saya harus membuat jarak dengan OCD saya, karena itu saya tidak bilang „saya mendorong orang ke rel kereta api“ tapi OCD saya yang melakukannya. OCD saya yang mau mendorong orang ke rel kereta api, saya tidak. Sejak itu saya berhenti mengatasnamakan saya di semua pikiran agresif yang pernah terlintas di benak saya. 

Pikiran-pikiran OC juga mengganggu kehidupan sehari-hari saya. Kadang saya harus menghindar bertemu teman atau pergi ke suatu tempat karena saya takut pikiran agresif muncul. Ketakutan terbesar saya adalah membuat pikiran agresif itu menjadi kenyataan. Di RS saya harus mengikuti seminar atau terapi grup tentang OCD seminggu sekali. Di sana trainer kami bilang penderita OCD, terutama mereka yang sudah mendapatkan diagnosis dari ahli, tidak akan melakukan pikiran agresifnya. Mereka justru akan berusaha untuk menghindar, baik secara fisik, dengan tidak datang ke tempat tersebut, atau secara pikiran dengan berusaha menekan pikiran-pikiran tersebut (keduanya sebenarnya tidak disarankan).

Silakan follow kami di Instagram: ruanita.indonesia ya.

Pikiran-pikiran agresif ini pernah membuat saya sangat sedih, karena membuat saya merasa menjadi orang jahat, tidak bermoral juga tidak beragama. Saya bukan orang baik karena saya punya berpikiran mencelakakan orang lain dan orang-orang yang saya sayangi. Lucunya, pikiran dan ketakutan menjadi orang jahat ini juga bisa menjadi bagian dari pikiran obsesif kompulsif. Sejak rajin ikut terapi dan tentang OCD, saya semakin yakin, bahwa yang jahat itu OCD bukan saya. Pikiran-pikiran OC bukan kenyataan. Dan yang paling penting: pikiran-pikiran agresif itu bukan bagian dari kepribadian saya.

Oh iya, saya juga baru tahu loh kalau perfectionist juga termasuk ke dalam OCD. Saya dulu tidak sadar kalau saya perfectionist, sampai teman-teman saya kasih bukti: datang selalu tepat waktu, bahkan kalau bisa lebih awal; nilai kuliah harus bagus; berkunjung ke rumah orang harus bawa buah tangan; kerjaan harus perfect; dan rumah harus bersih dan wangi kalau ada tamu datang.

Saya kira itu semua hal biasa, tapi saat di terapi grup kami disodori contoh-contoh yang ternyata itu SAYA BANGET. Saya juga tak sadar kalau perfectionist itu bukan hal baik dan mengapa orang-orang memandangnya negatif. Maksud saya, bukankah semua yang harus kita lakukan harus benar-benar sempurna hasilnya? 

Ternyata kekurangan dari perfectionist adalah bisa membuat frustrasi. Untuk datang tepat waktu saya harus benar-benar kalkulasi waktu. Jika saya janjian jam 12 dan waktu tempuh 30 menit, saya akan memberikan waktu tambahan 5-10 menit. Jaga-jaga di jalan ada kejadian tak terduga. Untuk itu saya harus tahu jam berapa bangun tidur dan siap-siap. Tambahan waktu itu juga penting, karena anxiety membuat saya harus ke toilet berkali-kali sebelum saya keluar rumah.

Teman saya bilang, bagus dong saya datang cepat jadi tidak stres di jalan. Hmm, sebenarnya sebaliknya. Saya frustrasi. Jika bus/kereta datang telat, saya akan kesal sendiri, seharusnya saya berangkat lebih pagi lagi. Kelemahan lainnya, saya juga memaksakan teman-teman saya untuk tepat waktu dan saya akan marah jika mereka datang telat, terutama jika tanpa kabar. Hasilnya: beberapa di antara mereka malas untuk janjian dengan saya lagi.

Jika kalian sadar saya menulis dengan ejaan bahasa Indonesia yang hampir sempurna, itu juga bagian dari perilaku perfectionist saya 😛 Rasanya gatal sekali jika saya salah menulis. Latihan-latihan yang saya lakukan untuk mengurangi ke-perfectionist-an saya adalah datang telat; menulis Whatsapp dan email tanpa memperhatikan PUEBI; tidak membereskan apartemen, jika tamu datang; dan tidak membawa buah tangan, kalau bertamu ke teman. Oh, satu lagi kelemahan saya gara-gara si  perfectionist ini, saya malu sekali untuk berbicara Bahasa Jerman, padahal saya tinggal di Jerman. Bagi saya lebih baik diam dari pada salah menggunakan bahasa asing. Kalau saya tidak perfectionist, saya pasti akan lebih berani berbicara menggunakan bahasa asing.

Latihan-latihan yang saya sebut di atas saya lakukan mandiri dan terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari, selain itu saya juga melakukan bersama co-terapis saya. Latihan atau terapi itu bernama Exposure and Response Prevention (ERP) dan sangat serius dan harus direncanakan dengan baik. Sebelumnya saya harus membuat hierarki perilaku dan pikiran OC saya dari 10-100%. Perilaku dan pikiran OC di atas 50% akan dilatih bersama. Sebelum, selama, dan sesudah latihan akan ada grafik tentang ketegangan saya. Setelah latihan saya harus memberikan diri sendiri hadiah yang juga harus saya rencanakan sebelumnya. Minggu lalu saya latihan memegang dan mengusap tembok yang punya motif bulatan-bulatan kecil menonjol. Saya tidak boleh menyuci tangan, menggunakan desinfektan, atau menyeka tangan saya ke pakaian selama satu jam. Setelah itu saya pergi beli bubble tea sebagai hadiah untuk diri sendiri.

Sebelum membuat hierarki OCD itu saya diminta untuk mengisi protokol tentang self-observation. Setiap OCD saya muncul saya harus menuliskan detailnya: apa yang saya pikirkan, apa perasaan saya, bagaimana perasaan saya saat OC hilang, seberapa sering itu terjadi, dan kegiatan apa yang bisa saya lakukan jika perilaku dan pikiran OC itu tidak ada. Dari situ saya bisa tahu yang terbanyak adalah mencuci tangan dan kedua terbanyak adalah pikiran agresif. Latihan-latihan ini mungkin akan harus saya lakukan bulan depan, setelah latihan-latihan di level lebih bawah sudah selesai.

Jika tadi saya menyebutkan tentang co-terapis, terapi grup atau seminar, itu karena di tahun 2021 saya dirawat inap di psikiatri khusus gangguan kecemasan dan OCD. Awalnya karena saya didiagnosa gangguan kecemasan (fobia sosial) dan depresi. Di Hamburg susah sekali untuk menemukan psikoterapis, pasien harus menunggu minimal setengah tahun. Psikiater saya menyarankan untuk masuk rumah sakit, karena lebih cepat dapat tempat. Akhirnya setelah banyak konsultasi dengan psikiater, psikolog dan kolega-kolega yang juga pernah masuk psikiatri, saya memberanikan diri untuk mendaftar. Bukan keputusan yang mudah, tapi menjadi keputusan terbaik yang pernah saya buat.

Hari kedua di psikiatri saya mengukuti workshop tentang gangguan kecemasan. Salah satu peserta cerita tentang Zwangsgedanken (OC pikiran) yang ia miliki. Karena saya tidak paham, dia menjelaskan ke saya apa itu. Saya kaget sekali waktu itu, karena saya bisa melihat diri saya di cerita dia. Besoknya saya menemui psikolog saya sambil menangis, karena saya takut sekali kalau saya juga punya OCD.

Saya menganggap diri saya gagal, tidak beragama, jika saya sampai punya tiga gangguan metal dalam satu waktu. Singkat cerita, benar saya memiliki OCD. Awalnya sangat berat bagi saya untuk menerimanya, tapi setelah benar-benar memahami gangguan-gangguan mental yang saya miliki, saya akhirnya bisa menerima. Bahkan saya bersyukur bisa mendapatkan diagnosa tersebut.

Saya tinggal di rumah sakit selama tiga bulan. Berbeda dengan rumah sakit jiwa yang kita dengar tentang kesuramannya, suasana di sana santai dan terbuka sekali. Setiap sore pasien diperbolehkan pulang atau keluar sampai maksimal jam 10 malam. Satu malam di akhir pekan pun kami boleh tidur di rumah. Tidak terasa seperti sedang di rumah sakit jiwa.

Oh ya, karena memiliki asuransi kesehatan, hampir seluruh biaya rumah sakit saya diambil alih oleh asuransi. Dalam satu tahun pasien hanya mengeluarkan biaya rawat inap sebesar 10 Euro/ hari. Karena saya di rumah sakit selama tiga bulan, maka saya hanya membayar 280 Euro untuk 28 hari dan sisanya oleh asuransi. Tagihannya baru saya dapatkan sekitar empat bulan setelahnya. Kaget juga, karena saya kira bebas biaya 😛

Saya berharap stigma negatif tentang gangguan metal hilang dari masyarakat kita, agar orang-orang bisa lebih terbuka tentang kesehatan mentalnya dan tidak sungkan mencari pertolongan. Selain itu, harapan saya akses ke kesehatan mental di Indonesia menjadi lebih mudah dan terjangkau. Kualitas rumah sakit jiwa juga semoga semakin baik lagi.

Untuk teman-teman yang masih awam tentang OCD, yuk cari tahu lagi tentang OCD dari ahlinya atau dari pengalaman orang-orang dengan OCD. Bahkan sekarang ini informasi tentang OCD bisa diakses di media sosial, seperti Instagram. Jika kamu merasa memiliki gejala-gejala, pastikan hanya dokter atau psikolog yang diagnosa kamu. Dan jangan lupa, kamu tidak sendiri dan OCD bisa dikalahkan.

Penulis: Mariska Ajeng. Menetap di Hamburg, Jerman. Tulisannya bisa dibaca di http://www.mariskaajeng.wordpress.com

(RUMPITA) Semua Demi Visa

Sahabat Ruanita, episode kelima dari Rumpita (=Rumpi bersama Ruanita) adalah seputar pengalaman Nadia dan Fadni sebagai mahasiswa yang studi di Jerman dalam memperpanjang Visa sebagai ijin tinggal bagi WNI di luar negeri. Bemula dari cerita Nadia mengurus perpanjangan Visa sementara saat pandemi melanda dunia dua tahun lalu.

Baik Nadia maupun Fadni kini sedang menempuh program Pascasarjana di Jerman setelah mereka lulus sarjana di Jerman. Syarat untuk perpanjangan Visa Studi di Jerman menurut Nadia adalah punya tabungan sekitar 10 ribu Euro, keterangan status ijin tinggal seperti mahasiswa, kerja, dll., kontrak rumah di Jerman dan surat keterangan tempat tinggal.

Sebagai mahasiswa di luar negeri, tiap orang punya kisah masing-masing yang menarik dan tak mudah untuk dijalani. Bagaimana pengalaman Nadia dan Fadni mengurus perpanjangan Visa sebagai mahasiswa di Jerman? Ada juga tips Nadia dan Fadni yang bisa membantu untuk perpanjangan Visa. Simak cerita mereka di saluran berikut:

(CERITA SAHABAT) Pentingnya Konsistensi Untuk Perkembangan Bahasa Anak Kawin Campur, Beda Bahasa Ibu

Sahabat Ruanita, aku menikah dengan pria berkebangsaan Swiss kemudian menetap di negeri suami sudah lebih dari lima tahun. Aku memiliki dua putera yang membuatku happy selama tinggal di perantauan. Setidaknya aku kini tidak sendirian dan kesepian lagi karena ada dua buah hatiku.

Soal merawat anak sebenarnya tak begitu sulit mengingat aku punya dasar pengalaman bekerja sebagai perawat di rumah sakit saat aku masih di Indonesia. Aku juga beruntung memiliki suami yang pengertian dan ikut serta berbagi tugas pengasuhan anak-anak. 

Ketika aku melahirkan, dokter menyampaikan kalau anakku ke depan akan menjadi anak yang hyperaktif. Awalnya anakku itu mengalami tantrum, apabila keinginannya tidak terpenuhi. Aku pikir itu wajar terjadi pada anak-anak.

Kejadian yang paling aku ingat adalah anakku baru dua hari masuk sekolah, gurunya itu mengatakan kalau anakku tidak bisa mengikuti pembelajaran. Katanya, anakku kalau melihat mainan tersedia di sekolah, dia lebih sibuk bermain daripada mengikuti apa yang disampaikan gurunya. Menurutku itu hal yang biasa bahwa anak lebih suka bermain daripada mengikuti instruksi gurunya. 

Guru anakku pun berinisiatif untuk mengetahui lebih jauh tentang perkembangan anakku dan anakku yang juga belum bisa berbicara, dengan bertanya ke suami dan dokter anak. Kejadian itu dilaporkan ke Gemeinde (=sebutan untuk pemerintah lokal setempat) yang kemudian mendiagnosa apa yang terjadi dengan anakku. Mereka berpendapat bahwa anakku mengalami kelambatan bicara dan anakku pun tidak memahami Bahasa Jerman dengan baik. Menurutku, anakku butuh yang terbaik untuk tumbuh kembangnya. Aku pun menuruti apa yang menjadi rekomendasi mereka.

Aku disarankan membawa anakku ke Logopädie, bagian terapi yang memfokuskan pada kesulitan bicara anak, kesalahan pengucapan, kesalahan pemahaman bicara yang biasanya tersedia di negara-negara berbahasa Jerman seperti Swiss. Aku tetap optimis itu semua untuk kebaikan anakku tanpa menghiraukan pendapat orang-orang bahwa anakku butuh Psikolog Anak dan Logopädie. Aku berpikir positif bahwa semua treatment itu untuk kebaikan anakku juga. 

Aku bersyukur sejak dini aku tahu masalah perkembangan anakku kemudian dibantu oleh Psikolog Anak dan Logopädie di sini. Psikolog Anak tiap satu minggu sekali datang ke rumahku seperti mengajak anakku bermain, mengamati perilaku anakku, mengajari bahasa ke anakku. Kunjungan Psikolog Anak berlangsung selama satu jam seminggu sekali. Untuk Logopädie itu gratis dimana aku bersama anakku berkunjung seminggu sekali ke terapi wicara tersebut. Semua penanganan anak itu aku dapatkan gratis sebagai layanan pemerintah kepada masyarakat. 

Untuk layanan Logopädie privat 1 jam dikenakan 110 CHF. Kalau kita mau layanan privat, tentu saja harus bayar. Saya mendapatkan layanan umum saja sehingga aku dan anakku bisa ditangani cepat. Pemerintah di sini menyadari pentingnya layanan Logopädie untuk membantu anak-anak yang terlahir dari pelaku kawin campur. Bagaimana pun anak tentu kesulitan mencerna atau memahami bahasa kedua orang tua mereka. 

Akhirnya aku mengatasi kesulitan berbicara pada anak dengan cara aku dan suamiku konsisten berbicara pada anakku. Aku konsisten berbicara dengan Bahasa Indonesia pada anakku. Sedangkan suamiku berbicara konsisten Bahasa Swiss-Deutsch pada anakku. Anakku mungkin mendapatkan bahasa baru semisal dari tontonan YouTube, pembelajaran di sekolah atau pergaulan dengan teman sebayanya. Aku konsisten tidak berbicara Bahasa Inggris sedikit pun pada anakku. Cara ini akan membuat anakku tidak bingung memahami bahasa.

Dokter/ahli sih berpendapat tidak ada masalah bagaimana orang tua harus berbicara pada anaknya. Namun aku menerapkan pola berbicara seperti itu, aku berbicara dalam Bahasa Indonesia sedangkan suamiku berbicara dalam Bahasa Swiss-Deutsch. Pendapatku, anak bisa berbicara bahasa lainnya seperti Bahasa Inggris atau Bahasa Mandarin di sekolah. Namun aku mengajarinya Bahasa Indonesia agar anakku bisa berkomunikasi dengan nenek-kakeknya atau orang tuaku dan juga keluargaku.

Bagaimana pun anak-anak perlu diajari bahasa ibu sebagai komunikasi anak dengan ibunya di rumah. Bahasa ibu itu lebih penting di rumah. Kalau anak di luar rumah, biarkan anak-anak belajar dengan sendirinya. 

Saya sendiri menunggu jasa layanan ini hingga dua bulan agar anak bisa langsung ditangani. Anakku sempat berhenti dari playgroup karena menunggu layanan Logopädie tersebut.

Kadang ada saja pendapat miring kalau anak pergi ke Psikolog, maka masalah anak jadi bermacam-macam. Kita perlu memahami bahwa Psikolog itu membantu masalah kita, terutama untuk tumbuh kembang anak. Kita bisa cerita sama mereka juga karena mereka akan membantu dan memberikan solusinya.

Alhamdulilah, anakku sekarang sudah luar biasa tumbuh kembangnya. Mereka bilang juga kalau anakku itu Intelligent. Sekarang anakku bisa berbicara lancar daripada sebelumnya. Kelambatan bicara atau masalah bicara anak pada perkawinan campuran yang berbeda bahasa ibu bukan hal yang baru. Anakku pun mengalami perkembangan bahasa yang baik dan lebih baik.

Aku bersyukur tahu sejak dini tentang masalah tumbuh kembang anak sehingga aku dan suamiku bisa mengoreksi bersama.

Penulis:

Fitri H. Wehrli kini bermukim di Swiss. Buah pikir Fitri lainnya yang sudah terbit: CINTA TANPA BATAS (2022).

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Keluarga itu Dicek Kesiapannya Untuk Memiliki Anak di Swiss

Cerita Sahabat Spesial bertema pengalaman melahirkan kali ini disampaikan oleh Fitri H. Wehrli yang sudah menetap di Swiss lebih dari 5 tahun. Ibu dari dua orang anak ini menuturkan pengalamannya melahirkan di Swiss yang begitu perhatian untuk kesejahteraan ibu dan anak. Di rumah sakit bersalin di Swiss telah tersedia semua pakaian yang dibutuhkan oleh ibu dan anak. Fitri merasa senang dan happy saat jelang persalinan kedua buah hatinya.

Semua fasilitasi layanan cek kehamilan, suntik, obat-obatan dan semua yang dibutuhkan ibu selama kehamilan hingga melahirkan ditanggung oleh asuransi yang sudah wajib dimiliki seseorang jika tinggal dan menetap di Swiss. Artinya, Fitri tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Menurut Fitri, tidak ada mitos-mitos tentang ibu hamil atau ibu melahirkan yang selama ini didengarnya sewaktu dia berada di Indonesia. Suami Fitri hanya menyarankan agar Fitri tetap happy menjadi ibu.

Sebagai seorang yang memiliki latar belakang perawat yang bekerja di rumah sakit, Fitri merasakan perbedaan pengalaman melahirkan antara Indonesia dengan Swiss. Di Indonesia, seorang ibu yang hamil hingga melahirkan ditangani oleh dokter yang sama sedangkan di Swiss berbeda. Selama kehamilan ibu memang ditangani oleh dokter, tetapi setelah ibu melahirkan maka ibu akan ditangani oleh Hebamme atau Bidan dalam Bahasa Indonesia.

Fitri pun menceritakan pengalaman melahirkan anak pertama kali di Swiss. Fitri sempat mendapatkan tindakan akupuntur setelah pembukaan satu agar dapat mempercepat proses lahiran yang dialaminya. Saat seorang ibu hendak melahirkan, dokter bertanya kepada ibu tentang metode melahirkan yang dikehendaki. Fitri memilih untuk melahirkan secara normal yang dibantu oleh seorang bidan yang sudah dirujuk oleh dokter.

Setelah Fitri melahirkan dengan kondisi yang baik-baik saja, Fitri kemudian dibawa ke suatu ruangan bersama anak yang baru saja dilahirkan. Menurut Fitri, ibu akan selalu bersama anak yang baru saja dilahirkan kalau kondisi keduanya baik-baik saja dan tanpa masalah. Biasanya dokter dan bidan akan berjaga dan stand by 24 jam di rumah sakit bersalin saat seorang ibu melahirkan untuk mengecek kondisi ibu dan anak.

Bidan yang membantu persalinan akan datang ke rumah dari ibu yang baru saja melahirkan, begitu cerita Fitri. Bidan akan mengontrol kondisi ibu dan bayi seperti melihat kesehatan, berat badan dan masalah yang ditemukan setelah persalinan. Bahkan ibu mendapatkan pengetahuan dasar dari Bidan tentang mengurus bayi yang baru saja lahir seperti memasang popok atau cara menyusui. Padahal pengetahuan dasar seperti ini biasanya sudah diperoleh ibu saat ibu masih di rumah sakit.

Hal menarik di Swiss adalah kunjungan dari pemerintah setempat terutama bagian perlindungan anak ke ibu yang baru saja melahirkan. Kunjungan mereka berfokus pada bagaimana kesiapan ibu dan keluarga dari bayi yang baru saja lahir. Apakah keluarga ini layak untuk mengasuh dan merawat bayi yang baru saja lahir? Demikian cerita Fitri saat pihak Gemeinde (=pemerintah setempat) mengecek kelahiran bayinya pertama kali. Mereka melihat apakah keluarga Fitri itu harmonis dan siap secara lahir batin untuk mengasuh bayi yang baru saja lahir tersebut.

Tak hanya soal kesiapan materi yang ditanyakan oleh pihak Gemeinde kepada ibu dan keluarga yang baru saja mendapatkan anggota keluarga baru, mereka juga mengecek apakah ibu yang baru saja melahirkan itu happy dengan kehadiran bayi tersebut. Mereka memantau kondisi mental ibu seperti mengalami stress, depresi, tidak bahagia, dan sebagainya. Mereka tidak hanya bertanya kepada ibu yang baru saja melahirkan tetapi juga kepada suami tentang kondisi istrinya. Kunjungan mereka dilengkapi juga dengan pemberian buku dan materi edukasi bertema Parenting yang bermanfaat bagi Fitri dan suami.

Berikutnya Fitri bercerita soal tunjangan anak yang diberikan Pemerintah Swiss untuk tiap anak yang lahir di Swiss. Pertimbangan tunjangan anak juga bergantung pada ayah atau ibu yang bekerja. Tunjangan anak diberikan kepada masing-masing anak. Bagi Fitri, tunjangan anak ini sangat membantunya dalam membiayai kebutuhan sehari-hari anak.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(RUMPITA) Rasanya Kuliah di Luar Negeri

Nadia dan Fadni adalah mahasiswa Pascasarjana yang kini belajar di Jerman. Berawal dari impian mereka ingin kuliah di Jerman, mereka mulai studi sarjana di Jerman kemudian melanjutkan lagi studi sambil mencari peluang pekerjaan.

Nadia sendiri bercerita bahwa biaya kuliah berawal dari pemberian orang tua, hingga akhirnya dia sendiri harus mencari cara agar bisa mandiri dan mencoba berbagai peruntungan di Jerman.

Sebagai informasi, kuliah di Jerman tidak selalu bergantung pada daftar kehadiran mahasiswa. Namun ini menjadi kendala Nadia ketika dia mendapatkan pekerjaan sampingan yang tidak bisa serta merta menjadi fleksibel untuk mengatur jadwal kuliah.

Di tempat studi Nadia, daftar hadir mahasiswa itu wajib diperhatikan sehingga mahasiswa yang ingin kuliah sambil kerja perlu memperhatikan hal ini.

Nadia mengalami betapa beratnya harus kuliah sambil bekerja di Jerman. Istilah “Kuliah atau Kuli, Ah” menjadi julukan disematkan ketika mahasiswa berusaha mandiri untuk mencukupi biaya hidup di luar negeri.

Nadia menjelaskan bahwa mahasiwa di Jerman bisa bekerja dengan standar upah 450€ per bulan yang tidak kena potongan pajak. Mahasiswa juga perlu memperhatikan jumlah jam kerja yang disyaratkan, sehingga mahasiswa tidak boleh melebihi aturan tersebut.

Sementara Fadni bersyukur bahwa biaya kuliah ditanggung oleh orang tua tetapi Fadni tetap berusaha mencari mini jobs untuk melihat peluang liburan ke negeri tetangga.

Fadni menggambarkan pengalaman kerja yang kerap tak menetap, sekitar 1 bulan, 3 bulan bahkan pernah 1 tahun. Pengalaman menarik ketika Fadni harus bekerja sebagai Houskeeper di hotel dimana selama ini Fadni hanya sebagai tamu di hotel.

Sebagai pekerja hotel, Fadni akhirnya memutuskan berhenti bekerja. Dia harus banyak bekerja di hari Sabtu dan Minggu terutama pengalaman Fadni yang tidak nyaman dan tak enak untuk membersihkan kamar mandi dan kamar tidur tamu hotel.

Pengalaman kerja yang membuat stres untuk Fadni adalah mengantarkan makanan ke pelanggan, terutama saat jam makan tiba. Pekerjaan itu membuat sangat hectic, apalagi di area kota besar seperti Berlin.

Pekerjaan demi pekerjaan ditekuni Fadni dan Nadia dengan harapan melatih kemandirian mereka selama berada di luar negeri.

Bagaimana pun pekerjaan tersebut melatih mental mereka untuk tidak bergantung pada orang tua dan menghadapi suka duka berhadapan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Belum lagi muncul berbagai streotype Nadia dan Fadni yang berasal dari Asia, yang dianggap sebagai pekerja penurut.

Bagaimana kisah pengalaman mereka yang sedang kuliah sambil bekerja di Jerman?

(CERITA SAHABAT) Ini Penyebab Gangguan Tidurku

Sahabat RUANITA, perkenalkan aku X yang sekarang sedang bergulat mencari pekerjaan kedua di negeri, tempat aku menempuh studi Pascasarjana. Boleh dibilang aku cukup beruntung mendapatkan pekerjaan pertama setelah aku menyelesaikan studiku di benua biru ini. Apa daya aku tidak betah di kota yang menjadi lokasi kantor pekerjaan pertama, sehingga aku putuskan kembali ke kota asal aku menempuh studiku.

Berbicara soal gangguan tidur, ini bukan hal baru untuk diceritakan. Banyak teman-teman dekatku paham bagaimana aku kesulitan tidur kala aku sendirian, justru aku bisa tidur ketika ada teman yang menemani aku. Aneh memang!

Aku berpikir gangguan tidurku akan muncul kala aku stres dan banyak pikiran. Misalnya dulu aku mengkhawatirkan diriku yang belum lulus studi sementara teman-temanku sudah melanjutkan jenjang pendidikan lanjutan atau menempuh studi Pascasarjana lainnya. 

Kecemasan soal lulus studi tersebut membuatku overthinking. Aku pernah mencoba untuk mengatasi kecemasan dan persoalan gangguan tidur ini ke Psikolog saat aku sedang berlibur ke Indonesia tetapi itu seperti berhenti sesaat. Entah mengapa aku nggak bisa mengendalikan pikiran-pikiran yang berkeliaran dalam kepalaku.

Overthinking-ku semakin parah ketika aku kehilangan ayahku yang telah tiada. Beliau meninggal karena penyakit Kanker Prostat. Selama aku di Indonesia, aku berkesempatan merawat ayahku. Aku berjaga di tengah malam kala ayahku merintih kesakitan. Tak jarang aku membawa ayahku ke rumah sakit di tengah malam.

Pola tidur yang berantakan saat merawat ayahku plus kekhawatiran akan hidupku seperti kelulusan membuatku terus berpikir saat aku hendak tidur. Aku telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi gangguan tidur. Di negeri yang aku tempati tersedia teh dari tanaman untuk mengatasi gangguan tidur. Sepertinya itu tidak bekerja.

Aku punya adik dan kenalan yang bekerja di dunia medis. Aku sudah bertanya bagaimana cara praktis mengatasi gangguan tidur. Semua tips yang mereka sarankan telah aku coba. Contohnya, aku harus membuat badanku lelah sehingga aku lebih mudah tidur. Namun hasilnya itu hanya sesaat saja.

Aku berusaha menggali apa penyebab overthinking yang kualami. Aku terlalu berlebihan tentang penyakit kanker yang diderita ayahku. Aku begitu khawatir kalau aku ‘kan mendapatkan penyakit kanker Prostat seperti ayahku, padahal itu tak mungkin karena aku adalah perempuan.

Kekhawatiran berlebihan dalam gaya hidup dan makanan juga sangat berpengaruh setelah ayahku tiada. Aku benar-benar picky terhadap makanan yang kusantap. Aku bisa memikirkan bagaimana pembuatan makanan tersebut sehingga aku tidak mengambil makanan tersebut.

Hal yang berlebihan juga tampak ketika aku memilih semua peralatan masak hanya terbuat dari metal, untuk menghindari alat masak dari plastik. Kecemasan berlebihan ini sekarang sudah mulai berkurang karena banyak orang telah meyakinkanku bahwa semua baik-baik saja dan tak perlu overthinking.

Aku sendiri telah mencoba membuat jadwal konseling dengan Psikolog di negeri tempatku studi, ternyata aku harus menunggu hingga berbulan-bulan. Lalu aku mendatangi praktik dokter umum untuk bisa merekomendasikanku ke ahlinya saat aku membahas gangguan tidur. Dokter bilang aku baik-baik saja.

Ya begitulah gangguan tidurku itu bisa datang dan pergi. Saat waktu konselingku datang, tiba-tiba semua terasa baik-baik saja. Aku mencoba segala cara untuk bisa tidur nyenyak sesuai anjuran medis tetapi aku kadang tidak bisa mengendalikan pikiranku saat tidur.

Aku mencoba konsisten dengan waktu tidurku, tetapi aku tak bisa menolak ketika ada waktu berkumpul dengan teman-teman yang membuatku begadang dan baru tidur pagi hari. Sampai sekarang aku masih berusaha mengatasi gangguan tidurku.

Penulis: X, sedang mencari pekerjaan di perantauan

(CERITA SAHABAT) Ketika Dulu Tubuhku Jadi Bahan Candaan

Ini membuatku sadar. Bahwa selama aku di Jerman, tidak pernah sekali pun aku mendengar mereka membuat komentar, menyebut, atau bahkan menjadikan jidatku yang lebar sebagai bahan candaan mereka. Tidak hanya jidat, tetapi fisik juga. Kami tidak pernah menjadikan fisik sebagai bahan bercanda.

Jika kalian bertanya pada teman-temanku di Indonesia (SD, SMP, SMA, teman gereja) apa yang paling mereka ingat tentangku selain karakterku? Aku yakin diantaranya akan bilang tentang jidatku yang lebar. Lainnya bilang aku nonong atau jenong. Aku masih ingat dengan jelas bahwa seumur hidupku hingga aku pindah ke Jerman, hal itu atau istilah itu tidak pernah lepas dariku. 

Percayalah, aku tak pernah sakit hati karena panggilan atau ejekan atau candaan itu, karena nyatanya memang jidatku lebar. Meskipun seiring berjalannya waktu panggilan-panggilan itu berkembang menjadi: lapangan terbang, lapangan sepak bola, mirip megamind, dan sebagainya.

Ketika mereka bercanda akan selalu ada imbuhan tentang “jidatku” itu di akhir kalimat mereka. Seumur hidupku pula tak pernah aku mendengar, baik teman, sahabat atau keluarga yang memberikan pujian terhadap fisik atau penampilanku. Sekedar kamu cantik saja tak pernah mereka katakan sehingga aku terbiasa dengan itu semua. Aku menganggap itu adalah hal biasa.

Hingga akhirnya di tahun 2020, dikarenakan kondisi kesehatan mentalku yang menjadi sangat tidak terkendali, aku harus mengonsumsi obat anti depresi yang memiliki efek samping terhadap perubahan hormon dan nafsu makanku. Akibatnya hanya dalam 1.5 bulan saja, berat badanku naik 13 kilogram.

Sebuah perubahan yang sangat ekstrim bagiku. Selama 4 bulan pertama aku sangat kesulitan untuk menerima perubahan bentuk tubuhku. Aku selalu merasa sangat gemuk. Aku terlihat aneh dan bantet.

Sepanjang waktu atau setiap kali aku melihat timbangan, aku selalu mengomel dan kesal dengan diriku sendiri. Hal ini adalah hal baru bagiku. Seumur hidup aku tak pernah bisa relate dengan apa yang perempuan-perempuan lain keluhkan seperti perut berlipat atau lipatan lemak yang muncul di sana-sini yang bisa membuat tidak percaya diri. Saat itu, akhirnya aku mengalaminya. 

Menariknya adalah sejak tubuhku berubah aku mendapatkan begitu banyak compliment. Bahwa aku sangat cantik, tubuhku menarik, ini, dan itu sampai membuatku risih. Aku tidak biasa mendengar seperti itu. Tidak pernah aku mendapatkan pujian seperti itu di mana teman-temanku di sini terus menerus memuji setiap bertemu.

Bahkan mereka di sini iri dengan badanku sekarang. Aneh sekali rasanya. Hal itu sama sekali tidak membuatku besar kepala justru risih sekali. Selalu kujawab, “Apaan sih!”, “Halu lo!” atau “Ah, you just wanna make me happy.”

Salah satu temanku dan pacarku pun mengaku sedih mendengarkan jawabanku. Bagi mereka, aku benar-benar cantik dan menarik. Sedih rasanya bagi mereka ketika mereka mendengar reaksiku. Namun, apa boleh buat. Ini pun hal yang aneh bagiku. Aku tidak terbiasa dengan pujian itu.

Namun, karena pujian-pujian yang kudengar pertama kalinya dalam hidupku ini ternyata membuatku sadar. Bahwa selama aku di Jerman, baik teman-teman Indonesiaku, pacarku, teman-teman, kenalanku orang asing, orang Jerman maupun pria-pria asing yang aku pernah dekat pun, tidak pernah sekali pun aku mendengar mereka membuat komentar, menyebut, atau bahkan menjadikan jidatku yang lebar sebagai bahan candaan mereka.

Tidak hanya jidat, tetapi fisik juga. Kami tidak pernah menjadikan fisik sebagai bahan bercandaan. Kok bisa? Mungkin kebanyakan orang di Indonesia punya poni yang bisa menutupi dahi mereka, sedangkan aku tidak. Mungkin punya jidat yang lebar bukan hal yang umum di Indonesia.

Namun percayalah, di Jerman semuanya berjidat lebar adalah hal biasa. Untuk perempuan mengikat rambutnya ke belakang model ponytail dan tidak akan ada yang bilang, “Kamu tuh sudah tahu jidatnya lebar, mbok ya jangan dikucir begitu!” Yang mana kalimat ini sering kudengar dulu.

Lama-kelamaan aku bisa menerima tubuhku yang sekarang. Aku bisa menerima dan menghargai pujian yang kuterima. Aku memang jauh lebih cantik sekarang, terlihat jauh lebih sehat, dan bahagia dibandingkan saat aku di Indonesia dulu. Ah, mungkin makanya aku tak pernah mendapatkan pujian apapun tentang fisikku seumur hidupku, karena dulu aku memang terlihat tidak menarik sama sekali. Hahaha. 

Lucunya, aku sekarang malah jijik kalau melihat foto-foto lamaku di Indonesia dan sekarang jadi khawatir kalau kelihatan sedikit lebih kurus. Hahaha. Begitulah manusia, tidak pernah puas. Namun yang mungkin harus digaris bawahi lagi adalah mengapa di sini aku tak pernah mendengar candaan atau panggilan tentang jidatku yang lebar atau bentuk fisikku yang lain dibandingkan di Indonesia? Jawabannya? Silakan direnungkan sendiri:) 

Penulis: Nisyma, tinggal di Jerman

(CERITA SAHABAT) Begini Pengalamanku Urus Ibu dengan Skizofrenia di Jerman

Sahabat RUANITA, namaku David (=bukan nama sebenarnya). Aku tinggal di Jerman. Aku tidak bisa bercerita banyak tentang pengalamanku dengan ibuku yang mengalami Skizofrenia karena aku sempat hilang kontak dengan beliau lebih dari dua puluh tahun. Aku senang bisa berbagi cerita ini agar bisa dipahami bahwa orang dengan Skizofrenia adalah manusia juga. Kita perlu menghargai mereka sebagai pribadi yang membutuhkan penanganan yang benar dan ahli, bukan memasungnya.

Menurutku, apa yang dialami oleh ibuku adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sebagai anak, aku hanya melihat ibuku mengalami sesuatu yang janggal. Aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya melihat bagaimana usaha ayahku untuk menyembuhkan ibuku. Ya, kita dapat mengobati gejala-gejala yang dialami ibuku, tetapi sebenarnya itu tidak menyembuhkan penyakitnya. Sampai sekarang, para ahli masih meneliti bagaimana pengobatan yang tepat untuk menyembuhkannya. 

Aku benar-benar tidak mengenali dengan tepat, bagaimana awalnya ibuku mengalami Skizofrenia. Jika dikatakan orang dengan Skizofrenia tidak menjaga kebersihan diri, itu benar. Kita perlu energi yang besar untuk mengusahakan kebersihan orang dengan Skizofrenia. Selain itu, aku melihat ibuku tidak ada kontak mata. Itu mungkin tidak sering, tetapi aku bisa merasakan tidak ada kontak mata. Menurut pengalamanku, saat depresi, dia mungkin benar-benar tidak ada ekspresi wajah.

Pendapatku kita tidak bisa menyamaratakan gejala-gejala orang dengan Skizofrenia. Kita tidak dapat menggeneralisasikan bahwa orang dengan Skizofrenia itu semua sama seluruh dunia. Itu sama seperti sakit flu dan batuk. Ada yang mengalami hanya batuk saja atau flu saja, hanya karena dia mengalami demam. Bagiku, setiap orang itu berbeda dan penyakitnya berbeda pula. Demikian pula dengan orang dengan Skizofrenia. 

Aku hanya bisa meyakini apa yang dialami ibuku sebagai pemikiran tidak rasional. Apa yang tampak tidak rasional bagi semua orang, tetapi tidak bagi orang dengan Skizofrenia. Kadang ibuku terjebak dalam hal sepele yang tidak penting. Mungkin itu yang membuat orang di sekitarnya sebagai social support merasa kelelahan menangani orang dengan Skizofrenia.  

Mungkin sudah ada berbagai penyakit yang kita temukan, tetapi masih banyak penyakit yang belum kita temukan. Bagaimana pun pikiran manusia begitu kompleks seperti Skizofrenia yang sampai sekarang belum ada obat yang tepat untuk menyembuhkannya. Oleh karena itu, kita perlu berabad-abad untuk memahami semuanya sepenuhnya.

Salah satu faktor yang mendukung kesembuhan Skizofrenia adalah dukungan sosial seperti keluarga. Keluarga sangat toleran terhadap ibuku. Kami telah berupaya untuk membantu kesembuhannya. Ibuku pernah memutuskan kontak dengan kami sebagai keluarganya. Dia harus mengonsumsi obat agar penyakitnya tidak kambuh lagi. 

Namun aku sadar bahwa penyakit ibuku kambuh lagi. Aku tidak tahu mengapa. Aku menduga kalau ibuku telah mengurangi dosis obat yang diberikannya.  Ibuku ingin sekali menurunkan berat badannya sehingga dia menurunkan dosis obat tersebut. Tentu saja, fungsi pil yang diminumnya itu menjadi kontraproduktif. Hanya karena dia ingin menurunkan berat badannya, maka gejala yang dialami ibuku kambuh lagi. Kami belum mendengar kabar terbarunya lagi selama hampir satu tahun. Kami juga tidak tahu apakah dia baik-baik saja sekarang atau tidak.

Ada hal yang saya tidak suka dari kebijakan pemerintah Jerman di sini tentang aturan minum obat oleh pasien. Kami sebagai keluarganya ingin agar ibuku segera sembuh dan pulih dengan minum obat secara rutin. Namun, peraturan di sini cukup jelas bahwa dia minum obat kalau dia mau dan sepanjang orang dengan Skizofrenia tidak menyakiti dirinya sendiri atau menyerang orang lain. Bahkan seorang dokter pun tidak dapat melakukan apa pun. Kami sebagai keluarga pun tidak berdaya, jika ibu bersikap seperti itu. Kami hanya bisa duduk dan menunggu hingga ibu sadar. Kami sebagai keluarga tidak bisa berbuat apa pun. Kami juga tidak bisa mengikatnya yang mungkin kami dengar dari kasus-kasus lainnya. 

Mengenai stigma orang dengan Skizofrenia, kami sadar bahwa itu masih terjadi di masyarakat. Bagiku, orang dengan Skizofrenia adalah manusia juga. Kami bisa memaklumi jika ibuku mengatakan hal yang menyakitkan, karena kami tahu bahwa dia tidak bermaksud begitu. Menurutku, kita harus peduli dan menaruh perhatian terhadap orang dengan Skizofrenia. Kita bisa melibatkan mereka, jika dia mau dan menginginkannya. Kita bisa membawa dia, mungkin dia akan sadar. 

Sebagai penutup, aku hanya ingin menyampaikan pentingnya kampanye skala besar untuk memerangi stigma sosial yang masih melekat pada orang dengan Skizofrenia. Bagaimana pun orang dengan Skizofrenia adalah manusia juga dan mereka tidak bermaksud buruk/jahat. Kita perlu memberikan dukungan sosial demi kesembuhan mereka. 

Penulis: David, tinggal di Jerman

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Perlu Tahu Kalau Mau Datang ke Swedia

Sahabat RUANITA, adakah yang ingin datang untuk bekerja, berkuliah atau membangun hidup baru di Swedia?

Swedia adalah negeri yang kecil yang aman dan juga nyaman loh. Begitu pendapat Nada Danielsson, yang pernah menjabat sebagai Chairwoman Swedish Indonesian Society atau perhimpunan warga Indonesia yang bermukim di Swedia.

Nada berbagi pendapatnya tentang tinggal dan menetap di Swedia yang sudah dijalaninya selama lebih dari 20 tahun lebih.

Bagaimana pun tak banyak orang Indonesia memahami bagaimana budaya dan kebiasaan orang Swedia sebenarnya. Misalnya lelucon tentang bentuk tubuh sebagai percakapan sehari-hari ternyata adalah hal tabu loh untuk diucapkan.

Nada berpesan juga kalau mau datang ke Swedia kepada para perempuan, bahwa sebaiknya tidak hanya sekedar jadi ibu rumah tangga saja loh. Alasannya?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(RUMPITA) Begini Rasanya Pacaran Beda Kultur

Sahabat RUANITA, episode ketiga kali ini dibawakan oleh Nadia dan Fadni dengan tema: Pacaran Beda Kultur. Sebagai mahasiswa yang sedang menempuh studi Master di Jerman, Nadia dan Fadni membeberkan berbagai pengalaman dan pendapatnya selama tinggal di Jerman. Tentu pacaran beda kultur bukan hal yang mudah dihadapi, apalagi budaya masih dipandang sebagai hal yang essential.

Menempuh pendidikan atau sedang menjalani pekerjaan di negara perantauan kerap dihadapkan pada pilihan asmara yang sulit, terutama jika itu menyangkut nilai-nilai, prinsip hidup, keyakinan agama hingga tradisi yang berbenturan dengan pacar yang baru saja dikenal. Nah, bagaimana pengalaman menghadapi pacaran beda kultur di masa-masa studi di mancanegara?

Penasaran dengan cerita mereka? Sila simak Podcast episode ke-3 di saluran RUMPITA: Rumpi bersama RUANITA.