Melanjutkan program cerita sahabat spesial di bulan April 2026, Ruanita Indonesia mengangkat tema Hari Kesehatan Sedunia yang jatuh pada 7 April, dengan mengundang sahabat Ruanita yang berprofesi sebagai ibu dan peneliti medis di Jepang. Dia adalah Ratoe Suraya yang pernah menjadi dokter di Indonesia kemudian melanjutkan studi PhD di Jepang dan kini menetap di negeri matahari terbit tersebut.
Dokter Ratoe, begitu akrab disapa, kini bekerja di lab respirologi atau laboratorium yang khusus menangani paru di Kobe University, Provinsi Hyogo di Jepang. Tentunya berada dalam posisi sekarang, tidak mudah dihadapi oleh Ratoe sendiri. Terbentur oleh ijin praktik di Jepang, membuatnya banting sentir menjadi peneliti di Jepang.
Ratoe mengakui, bekerja di Jepang diperlukan kompetensi bahasa Jepang yang cukup menantang. Di samping itu, dia harus berbagi peran sebagai pekerja profesional dan ibu rumah tangga di Jepang, termasuk bagaimana mengerjakan tugas domestik, tanpa asistensi dari siapa pun. Bersyukur bahwa pemerintah Jepang memberikan layanan kesehatan yang sama untuk pekerja profesional seperti Ratoe dan keluarganya.
Sebagai contoh, anaknya dapat dititipkan di Akachan Baby Home atau Daycare sejak berusia 6 bulan. Ratoe mengakui tidak ada kesulitan untuk mendaftarkan anak di Daycare di Kota Kobe, Provinsi Hyogo. Menurutnya, pemerintah Jepang sangat concern terhadap kesehatan ibu dan anak mulai sejak dalam kandungan si ibu. Hal itu bisa diterapkan di Indonesia untuk mencegah penyakit-penyakit yang rentan dan berisiko.
Sebelum anak dilahirkan, ada pre screening untuk mengetahui kelainan metabolis dan kelainan kongenital selama dalam kandungan. Setelah anak lahir, ada pengecekan juga seperti screening tulis, screening mata dan seterusnya yang memastikan status kesehatan anak. Di Jepang, setiap anak mendapatkan tunjangan anak dengan prosedur yang mudah, termasuk untuk pekerja profesional seperti Ratoe yang bukan merupakan warga negara Jepang.
Ratoe mengingatkan bahwa tidak perlu khawatir jika ada orang Indonesia yang ingin tinggal dan menetap di Jepang apabila membawa anak-anak mereka. Bagaimana pun pemerintah Jepang memastikan setiap orang yang tinggal di Jepang untuk mendapatkan layanan kesehatan yang berlaku sama untuk warga negara Jepang sendiri.
Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Belajar dari studi dan tinggal di Jepang, apa rekomendasi Dokter Ratoe untuk pemerintah Indonesia di Hari Kesehatan Sedunia bagi layanan kesehatan ibu dan anak? Simak selengkapnya di Kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Wenny, di Prancis. Saya menikah dengan pria berkewarganegaraan Prancis. Karena jadwal kerja suami yang sangat padat, ia jarang berada di rumah. Sehari-hari, saya yang mengurus dan membesarkan anak kami seorang diri.
Dalam keluarga, bahasa sehari-hari yang kami gunakan adalah Bahasa Inggris, walaupun mertua dan suami saya lebih nyaman menggunakan Bahasa Prancis. Saya sendiri tidak begitu fasih lagu-lagu anak berbahasa Prancis, sehingga sejak anak bayi saya terbiasa menggunakan YouTube untuk memutarkan lagu-lagu tersebut. Tanpa sadar, dari situlah anak saya banyak terpapar screen time. Saya belakangan menyadari bahwa kebiasaan ini membuat anak jadi sulit mengendalikan emosi dan cenderung kecanduan layar.
Selain itu, anak saya lahir prematur. Dia lahir sebulan lebih cepat dari perkiraan. Proses kelahiran pun cukup sulit. Saya harus menunggu lama untuk melahirkan normal, meski akhirnya dokter tetap melakukan operasi caesar. Sejak lahir, saya sudah merasa ada sesuatu yang berbeda. Anak saya jarang sekali mengeluarkan suara, tidak “bubbling” seperti bayi pada umumnya.
Ketika usianya masuk satu tahun, tanda-tanda keterlambatan bicara mulai semakin jelas. Meski ia mengerti instruksi dan bisa merespons panggilan, ia jarang mengeluarkan kata. Saat berinteraksi dengan keluarga suami, mereka tidak terlalu khawatir. Bagi mereka, wajar saja anak menjadi bilingual atau bahkan trilingual karena terbiasa mendengar tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Prancis). Mereka percaya suatu hari nanti anak akan bisa berbicara. Namun sebagai seorang ibu, saya tetap merasa cemas.
Saya dan suami sempat membawa anak ke beberapa dokter, dari dokter umum hingga pediatric. Hasilnya? Tidak ada diagnosis khusus, hanya saran agar kami sabar dan mengurangi screen time. Seorang pediatris bahkan menekankan konsep zero screen bagi anak kecil. Tetapi praktiknya sulit, karena saya sendirian mengurus rumah dan anak tanpa banyak dukungan.
Di usia 2 tahun 5 bulan, anak saya sudah sangat mengerti apa yang kami katakan dalam Bahasa Prancis maupun Bahasa Inggris. Ia bisa mengikuti instruksi sederhana, bahkan membantu menyiapkan sepatu ketika kami hendak keluar rumah. Namun kosakatanya masih terbatas, seperti: hanya “mama”, “papa”, “yes”, “no”, dan beberapa kata dalam Bahasa Prancis. Anak saya menunjukkan kecerdasan dalam aspek motorik dan tindakan, tetapi perkembangan verbalnya lambat.
Menurut saya, sistem kesehatan di Prancis terasa lambat jika dibandingkan dengan di Indonesia, di mana layanan terapi wicara sudah mulai berkembang luas. Di sini, kami harus mencari sendiri referensi dan dokter belum tentu mau menerima pasien baru tanpa rujukan resmi.
Tantangan terberat bagi saya adalah rasa kesepian dalam mengasuh anak. Suami sibuk, keluarga jauh, dan keterampilan bahasa saya yang terbatas membuat saya harus berjuang ekstra. Anak saya tidak pergi rutin ke daycare lagi, karena keterbatasan waktu suami untuk mengantar, sehingga kesehariannya lebih banyak bersama saya.
Meski begitu, saya belajar untuk bersyukur. Hal-hal kecil seperti mendengar anak menyebut “mama” atau “daddy” sudah menjadi kebahagiaan besar bagi saya. Saya percaya anak saya termasuk late bloomer. Suatu hari, ia akan berbicara dengan lancar, mungkin pada usia 3 atau 4 tahun.
Saya menyadari bahwa membesarkan anak di luar negeri, dengan latar budaya dan bahasa yang berbeda, penuh tantangan. Ada kalanya saya merasa bingung antara mengajarkan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, atau bahasa Prancis. Mertua tentu berharap cucu mereka fasih berbahasa Prancis, sementara saya ingin anak tetap mengenal bahasa ibu.
Harapan saya sederhana: semoga anak saya bisa tumbuh percaya diri dan mampu berkomunikasi dengan baik layaknya anak-anak lain seusianya, meskipun jalannya sedikit lebih lambat.
Tips dari saya untuk orang tua lainnya, tanpa bermaksud menggurui tetapi belajar satu sama lain, antara lain:
Kurangi paparan layar sejak dini. Lebih baik memperkenalkan lagu anak-anak secara langsung, bukan dari YouTube.
Konsistensi bahasa. Pilih satu bahasa utama lebih dulu sebelum memperkenalkan bahasa lain agar anak tidak bingung.
Dukungan bersama. Ayah dan ibu perlu sama-sama terlibat, jangan hanya salah satu yang memikul beban pengasuhan.
Bersyukur pada progres kecil. Setiap kata baru yang keluar dari mulut anak adalah pencapaian besar.
Siap menghadapi perbedaan budaya. Tinggal di luar negeri berarti siap menghadapi pola asuh, aturan, dan ekspektasi yang berbeda dengan di Indonesia.
Sahabat Ruanita, menjadi ibu dari anak dengan keterlambatan bicara membuat saya belajar banyak hal. Saya belajar tentang kesabaran, penerimaan, dan arti syukur. Saya yakin, bahwa setiap anak punya waktunya sendiri. Dan untuk anak saya, meski ia seorang late bloomer, saya percaya suatu hari nanti ia akan mengejar ketertinggalannya.
Penulis: Wenny, tinggal di Prancis dan dapat dikontak via akun instagram wennymarty.
Den Haag, 11 April — Dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Sedunia 2026, Ruanita Indonesi kembali hadir menggelar diskusi daring yang berfokus pada kesehatan gigi. Tema acara yang diambil yakni: “Kupas Tuntas Kesehatan Gigi dari Balita ke Lansia” memberikan pemahaman yang mendalam perihal kesehatan gigi yang terabaikan. Diskusi daring yang hangat tentang kesehatan gigi dan mulut mengalir selama dua jam penuh, mempertemukan orang tua, caregiver, anggota komunitas lansia seperti ALZI Ned, hingga pemerhati kesehatan dalam satu ruang virtual.
Kegiatan ini menjadi refleksi bahwa kesehatan gigi dan mulut bukan sekadar urusan estetika, melainkan bagian tak terpisahkan dari kualitas hidup. Momentum Hari Kesehatan Sedunia dimanfaatkan untuk menyoroti isu yang kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya terasa sejak usia dini hingga lanjut usia.
Diskusi dibuka oleh moderator, Dessy de Waal-Ekarini, tenaga kesehatan yang bermukim di Belanda. Dalam pengantarnya, ia mengajak peserta melihat kesehatan gigi sebagai investasi jangka panjang. “Perawatan gigi bukan hanya soal hari ini, tetapi tentang masa depan anak-anak kita dan kualitas hidup saat menua,” ujarnya, mengawali sesi dengan penuh semangat.
Sesi pertama menghadirkan Drg. Natalia Ekaputri dari Belanda yang mengupas kesehatan gigi anak-anak. Ia menekankan bahwa masalah gigi berlubang pada balita dan anak usia sekolah masih menjadi tantangan serius, termasuk di komunitas diaspora. Menurutnya, peran orang tua sangat krusial dalam membentuk kebiasaan sejak dini. Orang tua memerhatikan kebiasaan si kecil mulai dari membatasi konsumsi gula, membiasakan menyikat gigi dua kali sehari, hingga rutin memeriksakan gigi ke dokter.
Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, ia menjelaskan bagaimana gangguan gigi dapat memengaruhi tumbuh kembang anak, konsentrasi belajar, bahkan kepercayaan diri. “Rasa sakit pada gigi bisa membuat anak sulit makan dan tidur. Dalam jangka panjang, ini memengaruhi nutrisi dan perkembangan mereka,” jelasnya. Para orang tua tampak antusias, terlihat dari deretan pertanyaan yang mulai memenuhi kolom chat bahkan sebelum sesi berakhir.
Memasuki sesi kedua, Drg. Asti Sutanto dari Belgia memperluas perspektif ke kelompok dewasa dan lansia. Ia mengingatkan bahwa masalah gigi tidak berhenti ketika seseorang beranjak dewasa. Penyakit gusi, kehilangan gigi, hingga infeksi mulut dapat berkaitan erat dengan penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan jantung. Pada lansia, tantangannya semakin kompleks, terutama bagi mereka yang mengalami penurunan fungsi kognitif atau berisiko demensia.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan caregiver dalam merawat kesehatan mulut lansia, terutama yang memiliki keterbatasan fisik. “Kesehatan mulut memengaruhi kemampuan makan, berbicara, dan bersosialisasi. Pada lansia, ini sangat berhubungan dengan kualitas hidup,” paparnya.
Sesi tanya jawab menjadi bagian paling dinamis. Peserta dari komunitas parenting dan komunitas lansia seperti ALZI Ned aktif berbagi pengalaman, mulai dari anak yang sulit menyikat gigi hingga orang tua lanjut usia yang menolak memakai gigi tiruan. Diskusi berkembang menjadi ruang saling belajar, tidak hanya antara narasumber dan peserta, tetapi juga antarpeserta.
Beberapa peserta mengaku baru menyadari kaitan erat antara kesehatan gigi dan risiko penyakit sistemik. Ada pula yang terinspirasi untuk mulai menerapkan jadwal pemeriksaan rutin keluarga setelah mengikuti diskusi ini.
Kegiatan ditutup dengan rangkuman pesan kunci dari kedua pemateri bahwa pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Edukasi harus dimulai sejak dini serta berlanjut sepanjang hayat. Semangat kolaborasi lintas komunitas terasa kuat, membuka peluang kerja sama berkelanjutan dalam program promotif dan preventif di masa mendatang.
Dessy de Waal-Ekarini sebagai moderator menyatakan bahwa diskusi daring ini bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan pengingat bahwa senyum sehat adalah cerminan kepedulian terhadap diri sendiri dan orang-orang terkasih. Dari balita hingga lansia, kesehatan gigi dan mulut terbukti menjadi fondasi penting bagi hidup yang lebih berkualitas, yang selama ini masih kurang menjadi perhatian kesehatan secara keseluruhan.
Rekaman acara dapat disimak di kanal kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Dalam edisi spesial Hari Kesehatan Dunia, Podcast Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – menghadirkan narasumber istimewa: drg. Natalia Ekapuntri, seorang dokter gigi asal Indonesia yang kini tinggal dan berpraktik di Belanda.
Bersama Anna di Jerman dan Dianita di India, diskusi podcast Rumpita kali ini menyoroti pentingnya kesehatan mulut dan gigi anak-anak, serta berbagai tantangan dan sistem pelayanan kesehatan gigi di Belanda.
Saat pertama kali pindah ke Belanda, Natalia tidak bisa langsung membuka praktik. Ia harus mengikuti serangkaian uji kualifikasi, mulai dari uji bahasa Belanda setara IELTS, hingga tes teori dan praktik kedokteran gigi yang sangat ketat. Proses ini memakan waktu hingga dua tahun, apalagi sambil mengurus keluarga dan membesarkan anak.
Di Belanda, sistemnya menekankan tanggung jawab individu. Semua dokter, termasuk dokter gigi, harus melalui validasi menyeluruh sebelum bisa praktik,” ujar Natalia.
Diskusi kemudian mengarah pada kasus anak-anak yang takut ke dokter gigi. Diana, co-host yang tinggal di India, bercerita tentang putranya yang mengalami trauma karena pengalaman buruk saat pemeriksaan di sekolah. Anak-anak lain menangis dan berteriak, dan sejak itu putranya enggan ke dokter gigi.
Natalia menanggapi dengan menyampaikan bahwa trauma seperti ini bisa dipahami, tetapi bisa dipulihkan. Yang terpenting adalah membangun kepercayaan anak terhadap dokter gigi, mulai dari hal sederhana seperti menyambut dengan ramah, mengenalkan alat-alat secara visual, hingga memberi ruang komunikasi yang nyaman.
“Saya selalu bilang ke pasien anak, saya bukan sekadar dokter gigi, saya adalah teman mereka yang ingin tahu pengalaman mereka,” jelas Natalia.
Natalia menekankan bahwa merawat gigi bukan hanya soal teknis. Seorang dokter gigi harus juga memiliki empati dan pendekatan holistik, karena banyak kasus gigi berkaitan dengan masalah sensorik, psikologis, hingga neurologis. Ia pernah menangani anak dengan autisme yang awalnya sulit ditangani, namun setelah observasi dan pendekatan bersama keluarga, anak tersebut dapat dirawat dengan lebih baik.
Saya bukan hanya memeriksa gigi. Saya bertanya, ‘Apa makanan favoritmu? Apakah kamu suka tekstur tertentu?’ Dari situ saya bisa mendeteksi apakah ada indikasi kebutuhan khusus,” ungkapnya.
Salah satu keunggulan sistem kesehatan gigi di Belanda adalah akses gratis bagi anak-anak hingga usia 18 tahun. Bahkan, ada program dari organisasi yang mengunjungi sekolah-sekolah dengan unit mobil perawatan gigi untuk memberikan edukasi dan pencegahan sejak dini.
Anak-anak dikenalkan pada alat seperti kaca mulut dan disikat bersama sambil belajar. Edukasi ini diberikan secara individual, bukan massal, sehingga anak-anak merasa lebih aman dan diperhatikan.
Podcast ini menjadi pengingat pentingnya peran dokter gigi dalam membangun kepercayaan dan menciptakan ruang aman untuk anak-anak. Bagi para orang tua, penting juga untuk tidak memaksakan perawatan, tetapi memberikan pemahaman dan menjadi jembatan kepercayaan antara anak dan dokter.
“Sama seperti mobil yang harus diservis rutin, mulut dan gigi juga perlu dikontrol setiap enam bulan,” tutup Natalia dengan analogi yang sederhana tapi mengena.
Simak selengkapnya diskusi PODCAST RUMPITA di Kanal Spotify RUMPITA dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.
Jika ada satu kata untuk menggambarkan hubungan saya dengan Papa, maka kata itu adalah hangat. Sejak kecil, Papa hadir dengan cara yang dekat, penuh dukungan, dan membuat saya merasa aman. Bukan hanya saya, kakak dan adik saya pun akan mengatakan hal yang sama. Kami bertiga sungguh beruntung, karena punya seorang ayah yang hadir sepenuh hati di masa tumbuh kami.
Sulit untuk menunjuk satu momen yang paling berkesan, karena hampir di setiap fase hidup, Papa selalu ada. Beliau bukan tipe yang sempurna tanpa cela dan memang tidak ada manusia yang demikian. Namun, dalam diri Papa, saya menemukan figur ayah yang cukup. Cukup dalam arti memberi dukungan emosional, cukup dalam arti hadir di saat dibutuhkan, cukup dalam arti menjadi tempat pulang.
Dengan latar belakang psikologi, saya memahami istilah father complex atau kadang disebut juga daddy issues sebagai kondisi yang berakar dari hubungan sulit dengan figur ayah. Entah karena ayah terlalu dominan, dingin secara emosional, terlalu sering mengkritik, absen secara fisik, atau bahkan menyakiti. Meski tidak masuk dalam kategori resmi seperti DSM V atau ICD-10, dinamika ini nyata terlihat dalam kehidupan banyak orang.
Dampaknya bisa beragam, seperti: kesulitan mempercayai orang lain, sulit menjalin kedekatan emosional, atau kebutuhan besar akan validasi dari figur dominan. Ada juga yang kemudian membawa pola itu ke dalam relasi romantis atau relasi kerja dengan figur otoritas.
Dalam diri saya sendiri, tidak ada gejala yang terlalu menonjol. Namun, saya bisa mengenali adanya kebutuhan validasi tertentu dari figur otoritas. Sisi positifnya, hal ini membuat saya berusaha keras di sekolah dan kuliah. Pada akhirnya, nilai saya bagus, bahkan beberapa kali juara kelas. Tapi di sisi lain, diskusi dan perdebatan dengan Papa melatih saya untuk tidak menerima begitu saja otoritas apa pun. Bagi saya, sesuatu harus masuk akal dulu sebelum saya bisa menerimanya. Itu mungkin salah satu warisan paling berharga dari relasi kami.
Papa dan Mama berasal dari latar budaya berbeda, tetapi sama-sama tumbuh dalam nilai-nilai yang memberi tempat lebih bagi anak laki-laki ketimbang perempuan. Namun, dalam praktiknya mereka memilih untuk memperlakukan kami bertiga dengan setara. Pendidikan yang terbaik sesuai kemampuan dan minat diberikan, tanpa membedakan jenis kelamin. Itu keputusan yang sederhana, tetapi dampaknya besar dalam hidup saya.
Saat tumbuh, saya melihat figur ayah dalam budaya populer sering digambarkan sebagai kepala keluarga yang berwibawa, mencari nafkah, menegakkan aturan, membaca koran di beranda rumah, sementara urusan dapur dan anak diserahkan pada ibu. Gambarannya klasik, yaitu berpakaian safari, rokok, dan kopi buatan istri.
Kini, gambaran itu bergeser. Ayah-ayah masa kini lebih terlibat dalam pengasuhan anak, lebih hangat, lebih dekat secara emosional. Namun, di banyak keluarga, keputusan akhir tetap dianggap ranah ayah. Pergeseran peran ini menghadirkan dinamika baru, kadang juga konflik, tergantung konteks sosial dan budaya masing-masing.
Ada satu titik balik dalam relasi saya dengan orang tua, baik Papa maupun Mama, di mana saya mulai menyadari bahwa mereka manusia biasa. Waktu kecil, orang tua tampak seperti pahlawan super. Mereka seperti tak pernah lelah, selalu tahu jawaban, mampu mengatasi segalanya. Tapi seiring saya tumbuh, saya melihat mereka juga bisa salah, lelah, bahkan sakit.
Kesadaran itu menjadi tanda bahwa saya sedang beranjak dewasa. Saya belajar melihat mereka bukan hanya sebagai orang tua, tapi juga sebagai manusia dengan keterbatasan. Dari situ, hubungan kami berubah. Dari relasi yang timpang menjadi relasi yang lebih setara, terutama ketika saya mulai dewasa.
Sekarang, ketika Papa sudah tiada, keinginan terbesar saya terhadap beliau hanya satu, yakni rindu. Saya merindukan kehadiran fisiknya, diskusi-diskusi panjang, perdebatan seru, atau sekadar menanyakan pendapat beliau tentang banyak hal.
Tahun-tahun terakhir hidupnya, hubungan kami semakin matang. Papa makin menghargai kemandirian saya dalam mengambil keputusan, dan saya merasa lebih dihargai sebagai individu dewasa. Meski demikian, di mata saya, saya akan selalu tetap menjadi putrinya.
Bagi saya, berbicara tentang father complex pada akhirnya adalah berbicara tentang dinamika relasi kuasa. Saat kita masih kecil, relasi dengan orang tua memang tidak seimbang. Mereka yang memutuskan, kita mengikuti. Tapi seiring anak bertumbuh, idealnya relasi itu bergeser menjadi lebih setara.
Tidak semua keluarga mengalami pergeseran ini dengan mulus. Kadang otoritas tetap ditekankan, kadang muncul konflik. Tetapi dalam pengalaman saya, pergeseran itu terjadi dengan wajar. Dan saya bersyukur bisa merasakannya bersama Papa.
Jika ada sahabat Ruanita yang membaca tulisan ini dan sedang mengalami konflik batin dengan ayahnya, saya ingin menyampaikan satu hal, setiap keluarga unik. Tidak ada pola tunggal yang bisa berlaku untuk semua orang.
Kalau Anda ingin memahami lebih jauh bagaimana hubungan dengan ayah mempengaruhi hidup saat ini, saya menyarankan melakukannya bersama tenaga profesional seperti psikoterapis atau konselor. Ada hal-hal yang bisa kita selesaikan sendiri, tetapi ada juga yang butuh pendampingan aman dari orang yang terlatih.
Bagi saya, menulis tentang father complex bukanlah tentang mencari kekurangan Papa, melainkan tentang menyadari betapa besar pengaruh relasi itu dalam membentuk siapa saya hari ini. Saya beruntung memiliki figur ayah yang hangat, mendukung, dan penuh kasih. Namun saya juga belajar melihatnya sebagai manusia dengan keterbatasan.
Pada akhirnya, apa yang tersisa kini adalah rindu. Dan mungkin, di dalam rindu itu, saya bisa merasakan kembali kehangatan yang pernah begitu nyata hadir dalam hidup saya.
Penulis: Nelden, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram @neldendj.
Podcast PMI Stories – Cerita-cerita Pekerja Migran Indonesia episode kedua menghadirkan kisah Sari Wijayanti, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang pernah bekerja selama sembilan tahun di Singapura dan kini menetap di Swedia setelah menikah dengan warga setempat. Dipandu oleh Dewi Lubis, PMI di Singapura sekaligus host podcast, episode ini menggali perjalanan karier Sari, transisi hidup antarnegara, hingga proses membangun kehidupan baru di Eropa.
Sari memulai perjalanannya sebagai PMI di Singapura dengan alasan ekonomi. Ia menyadari kondisi finansial saat itu belum cukup memberikan rasa aman bagi dirinya dan kedua putranya. Di Singapura, Sari bekerja di sektor domestik dengan tanggung jawab sebagai nursery dan caregiver, mengasuh anak kecil sesuai dengan keterampilan yang ia miliki.
Tantangan terbesarnya adalah menghadapi anak-anak yang sedang tantrum atau sakit, yang mana situasi tersebut menuntut kesabaran, ketahanan emosi, dan profesionalitas tinggi. Namun, dukungan komunitas PMI yang aktif dengan kegiatan positif, serta support penuh dari orang tua yang menjaga anak-anaknya di Indonesia, menjadi fondasi kuat yang membuatnya mampu fokus bekerja dan berkembang.
Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa hidupnya akan membawanya pindah ke Eropa. Keputusan hijrah ke Swedia dilandasi kepercayaan pada pasangan dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Proses pengurusan visa ikatan keluarga memakan waktu sekitar satu tahun, yakni masa tunggu yang cukup panjang dan penuh ketidakpastian.
Setibanya di Swedia, Sari menghadapi culture shock terbesar pada cuaca ekstrem empat musim, terutama musim dingin yang sangat berbeda dari iklim tropis Asia Tenggara. Tantangan berikutnya adalah bahasa Swedia, yang menjadi kunci penting integrasi sosial. Meski masyarakat Swedia fasih berbahasa Inggris, kemampuan bahasa lokal tetap dibutuhkan untuk benar-benar menyatu dalam kehidupan sehari-hari.
Kini, setelah 16 bulan menetap di Swedia, Sari menjalani kehidupan baru dengan bekerja paruh waktu di restoran sebagai waitress dan kasir, sembari mengikuti kelas bahasa Swedia secara daring sebagai persiapan mengikuti sekolah bahasa formal.
Ia menekankan bahwa di Swedia, kesetaraan gender sangat dijunjung tinggi, di mana perempuan didorong untuk mandiri dan berkontribusi melalui pekerjaan, termasuk dalam sistem pajak dan jaminan sosial yang mendukung kesejahteraan jangka panjang seperti dana pensiun.
Dalam refleksinya, Sari mengakui bahwa integrasi sosial di Swedia kini semakin menantang. Ia menyoroti adanya pergeseran sosial yang membuat pendatang harus lebih mandiri dan proaktif dalam belajar bahasa serta memahami budaya lokal.
Tantangan pengangguran dan kesenjangan sosial di kalangan migran turut menjadi isu yang memengaruhi proses integrasi. Meski demikian, dukungan pasangan dan komunikasi dengan komunitas Indonesia melalui grup daring menjadi penguat dalam proses adaptasinya.
Menutup perbincangan, Sari berbagi pesan mendalam bagi para PMI yang tengah membangun masa depan di luar negeri. Ia mengingatkan agar perjuangan tidak dianggap sebagai beban, melainkan sebagai proses pembelajaran, seperti layaknya sekolah kehidupan. Mungkin suatu saat akan mencapai titik kelulusan.
Sari mendorong PMI untuk mempersiapkan mental, memahami budaya negara tujuan, dan menguasai bahasa sebelum memutuskan pindah, terutama dalam konteks pernikahan lintas negara. “Buatlah uang bekerja untuk kalian, bukan kalian yang terus bekerja untuk uang,” pesannya. Ia seperti menegaskan pentingnya kemandirian finansial dan visi jangka panjang.
Cerita Sari Wijayanti menjadi potret transformasi identitas seorang PMI, dari pekerja domestik di Asia Tenggara hingga perempuan Indonesia yang tengah membangun babak baru kehidupan di Eropa. Episode ini tidak hanya menghadirkan cerita migrasi, tetapi juga refleksi tentang keberanian mengambil keputusan, adaptasi lintas budaya, dan makna perjuangan dalam meraih masa depan yang lebih baik.
Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan. Cerita Irma bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang bagaimana bertahan dan mengalahkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan di tanah air sendiri.
Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Halo Sahabat Ruanita, nama saya Sienna Mila, boleh panggil saya Mila atau Sienna. Saya adalah seorang ibu yang pernah menetap di Korea Selatan dan kini menetap di Bangladesh. Perjalanan hidup saya cukup panjang dan berliku, hingga akhirnya membawa saya melahirkan anak pertama di Korea Selatan. Menurut saya, itu merupakan sebuah pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Semuanya berawal dari tahun 2000-an, tepatnya setelah saya lulus SMA. Saat itu saya bekerja di sebuah restoran Korea di kawasan Melawai, Jakarta. Sambil bekerja, saya juga melanjutkan kuliah S1. Dari restoran tersebut, saya mulai mengenal budaya Korea dan bertemu banyak orang Korea yang tinggal atau bekerja di Jakarta.
Pekerjaan saya kemudian berkembang. Saya berkesempatan menjadi PA (Personal Assistant) sekaligus sekretaris untuk seorang staf ahli asal Korea yang bekerja di salah satu Kementerian di Jakarta. Di situlah hidup saya berubah. Saya belajar banyak tentang kedisiplinan, budaya kerja, sekaligus membuka jaringan pertemanan dengan banyak orang Korea dari berbagai bidang bisnis.
Sepuluh tahun bekerja, saya kemudian diperkenalkan dengan kenalan atasan saya untuk menjalin kerja sama bisnis. Perusahaan itu bergerak di bidang pengembangan IT di Korea Selatan, dengan rencana membangun platform belanja online di Indonesia. Dari perjanjian itu, saya mulai bolak-balik Indonesia–Korea, hingga akhirnya saya tinggal cukup lama di Korea Selatan.
Antara tahun 2018 sampai 2022, saya dan suami lebih banyak menetap di Korea. Alasannya cukup dramatis: saya mengalami pecah ketuban lebih awal ketika sedang melakukan kunjungan bisnis di kota Daegu. Saat itu, saya tengah hamil anak pertama. Awalnya saya sudah konsultasi dengan dokter di Indonesia sebelum berangkat, kondisi kandungan sehat dan diperbolehkan naik pesawat selama penerbangan tidak lebih dari 10 jam. Karena penerbangan ke Korea Selatan hanya memakan waktu 6 jam, saya merasa aman saja.
Namun takdir berkata lain. Di tengah kesibukan urusan bisnis, saya tiba-tiba harus menghadapi momen kelahiran di negara asing. Untungnya, ketika itu saya ditemani suami yang memang ikut ke Korea Selatan untuk urusan bisnis juga.
Saat tiba di rumah sakit di Daegu, kendala pertama yang saya hadapi adalah bahasa. Tidak banyak tenaga medis yang bisa berbahasa Inggris, sementara saya dan suami tidak menguasai bahasa Korea. Komunikasi menjadi sulit sekali.
Saya mengalami kontraksi cukup lama, hingga akhirnya dokter yang bisa berbahasa Inggris datang dan memutuskan bahwa saya harus melahirkan lewat operasi Caesar. Malam itu saya masuk ruang operasi, perasaan saya campur aduk antara panik, takut, dan pasrah.
Proses persalinan berjalan, tetapi setelah melahirkan saya mengalami pendarahan hebat. Rasa sakitnya luar biasa, hingga saya diberi morfin. Saking sakitnya, saya sempat berpikir saya tidak akan selamat malam itu. Alhamdulillah, saya masih diberi kekuatan dan akhirnya bisa melewati masa kritis tersebut.
Tiga hari setelah melahirkan, kondisi saya mulai membaik. Saat itu ada seorang ibu yang datang dan menawarkan saya untuk menggunakan jasa postpartum care. Apa itu? Itu adalah layanan perawatan pasca melahirkan yang populer di Korea. Layanan ini mencakup perawatan ibu, bayi, hingga pemulihan fisik. Namun saya menolak, lebih karena pertimbangan pribadi dan biaya.
Setelah tujuh hari dirawat, saya diperbolehkan pulang. Namun saat berada di kasir rumah sakit, saya dan suami dibuat kaget. Karena tidak memiliki asuransi di Korea, biaya persalinan kami mencapai 7,5 juta Won, atau sekitar 89 juta rupiah.
Saya mencoba meminta bantuan bagian administrasi dengan harapan ada potongan atau keringanan. Tetapi staf rumah sakit justru menyalahkan kami. Kalimat yang masih saya ingat hingga sekarang adalah: “Kenapa melahirkan di Korea? Seperti di Indonesia tidak ada rumah sakit saja.”
Saya dan suami hanya bisa terdiam. Akhirnya, kami membayar penuh tanpa potongan sedikit pun. Perasaan saya campur aduk antara lelah, sedih, sekaligus kecewa.
Setelah keluar dari rumah sakit, suami saya akhirnya diterima bekerja di perusahaan partner kami di bidang IT. Saya pun tinggal di rumah untuk mengurus bayi. Namun perjuangan baru saja dimulai.
Perbedaan cuaca, sulitnya mencari layanan kesehatan anak, hingga kendala bahasa membuat hari-hari kami penuh tantangan. Saya masih ingat ketika anak kami demam tinggi di tengah malam. Kami bergegas ke UGD terdekat, tetapi karena saat itu hari Minggu, rumah sakit seperti rumah sakit hantu, yakni sepi, tanpa ada dokter atau perawat yang berjaga.
Ada juga masa ketika saya bingung mencari susu formula untuk bayi. Setiap kali mencoba merek baru, kulit bayi saya bereaksi dengan gatal-gatal dan kemerahan di sekujur tubuh. Saya hanya bisa menangis sendirian sambil menenangkan anak.
Untungnya, saya mendapat dukungan besar dari keluarga suami di Bangladesh dan keluarga saya di Indonesia, meski hanya lewat video call. Suami juga sangat membantu setiap kali ia pulang kerja. Mantan atasan saya bahkan membantu komunikasi dengan pihak rumah sakit dan pengurusan visa.
Setelah lebih dari dua tahun di Korea, saya akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia. Saya ingin anak saya belajar bahasa Indonesia dan bersekolah di PAUD. Alhamdulillah, anak saya kini sudah fasih berbahasa ibunya.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Bangladesh, negara asal suami. Suami masih harus menyelesaikan kontraknya di Korea hingga 2026, sementara saya dan anak menetap di Bangladesh dulu. Anak saya akan mulai sekolah dasar di sana, dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Kami pun berencana melanjutkan perjalanan ke Kanada atau Amerika di masa depan, demi masa depan pendidikan anak.
Melahirkan di Korea Selatan memberikan saya banyak pelajaran berharga, terutama tentang persiapan. Untuk Sahabat Ruanita yang mungkin suatu saat berencana melahirkan di luar negeri, saya ingin berbagi beberapa hal:
1. Bahasa itu penting. Jika tidak bisa bahasa lokal, setidaknya harus ada keluarga atau pendamping yang bisa membantu.
2. Asuransi wajib. Jangan pernah bepergian tanpa asuransi, apalagi jika sedang hamil.
3. Postpartum care di Korea sangat baik. Jika ada biaya, jangan ragu untuk ikut. Itu akan membantu pemulihan ibu dan bayi.
4. Status kewarganegaraan bayi. Di Korea, bayi yang lahir dari orang tua bukan warga negara Korea tidak otomatis mendapat hak atau benefit apa pun.
5. Persiapan mental, fisik, dan materi. Semua harus seimbang. Jangan hanya siap materi, tapi juga siap menghadapi cuaca, lingkungan, hingga budaya baru.
Sahabat Ruanita, pengalaman melahirkan di Korea adalah salah satu momen paling sulit sekaligus paling berharga dalam hidup saya. Rasanya seperti ujian besar yang Allah berikan, Alhamdulillah saya bisa melewatinya.
Kalau ditanya, apakah saya mau mengulang pengalaman melahirkan di negara ketiga lagi? Jawabannya: tidak. Terlalu banyak risiko, terutama jika tanpa dukungan keluarga dekat dan tanpa penguasaan bahasa.
Namun, saya tetap bersyukur. Dari pengalaman ini, saya belajar tentang ketabahan, dukungan keluarga, dan pentingnya persiapan. Saya juga belajar bahwa menjadi seorang ibu berarti siap menghadapi hal-hal di luar dugaan, di mana pun kita berada.
Bagi saya, melahirkan di luar negeri, terutama di negara dengan bahasa yang berbeda, bukan hanya soal proses medis. Itu juga soal bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan menemukan kekuatan di saat kita merasa sendirian.
Itulah cerita saya, Sahabat Ruanita. Pengalaman melahirkan di Korea Selatan akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Meski penuh air mata, rasa sakit, dan kekecewaan, ada juga rasa syukur, cinta, dan kekuatan baru yang saya temukan.
Semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran dan inspirasi bagi perempuan Indonesia lain yang mungkin sedang atau akan menghadapi situasi serupa.
Penulis: Sienna Mila, seorang ibu yang tinggal di Bangladesh dan dapat dikontak via akun instagram: sienna_milaa.
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Malam ini punggung saya kaku. Seharian berpindah dari bangsal rumah sakit, ke perpustakaan, lalu ke meja diskusi, rasanya sumsum tulang saya sedang diperas. Menjadi perawat sekaligus mahasiswa di negeri orang adalah perjuangan menyeimbangkan “American Mind” yang menuntut standar tinggi, dengan “Asian Heart” yang mudah tersinggung. Salah sedikit, profesionalisme dianggap serangan pribadi. Lelahnya bukan main.
Ditulis oleh Maria Frani Ayu Andari Dias di Indonesia
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Dan hari itu tiba. Ica terlebih dahulu kirim SMS kepada Rachman bahwa hubungan mereka telah berakhir. Dengan berat hati Rachman juga menyetujuinya. Rachman juga sempat menelepon Ica dan menyanyikan dua buah lagu yaitu “Aku Memilih Setia” dari Fatin dan “Don’t You Remember” dari Adele. Dan begitu sebaliknya, Ica juga menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Pergilah Kasih” dari d’Masiv. Mereka saling berjanji untuk tidak pacaran sebelum cita-cita dan mimpi mereka tercapai.
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Kawin campur ini ternyata bukan soal menyatukan dua paspor, Bu. Ini soal bagaimana aku harus tetap menjadi ‘Indonesia’ di saat tubuhku sendiri mulai mengkhianatiku. Kulitku meratap, ia minta air, ia minta minyak, ia minta kepastian bahwa aku masih seorang perempuan meski rahimku sebentar lagi sunyi. Ibu, gema suaramu selalu ada di antara heningnya salju Ankara. Engkau pernah bilang, ‘Perempuan itu seperti tanah, makin kering makin butuh dipupuk kasih sayang.’ Sekarang aku mengerti kenapa aku terus mengoleskan minyak ini berkali-kali. Aku bukan sedang mengobati kulit, Bu. Aku sedang memupuk rindu supaya aku tidak hancur menjadi debu di negeri orang.
Dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia yang jatuh setiap 24 Maret, Ruanita Indonesia kembali menghadirkan diskusi Instagram Live yang sarat makna. Dipandu oleh Rufi, ruang digital itu berubah menjadi wadah belajar bersama, tentang penyakit yang masih menjadi tantangan besar kesehatan global: tuberkulosis (TB).
Dengan menghadirkan dua narasumber dari latar belakang berbeda, antara lailn: dr. Sharifah Janatin Aliyah SpP, seorang dokter spesialis paru, dan Hilda Amanda Safir, mahasiswa kedokteran di Tiongkok, diskusi ini menjembatani ilmu medis dan perspektif lapangan lintas negara.
“Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis,” jelas dr. Aliyah membuka diskusi. Ia menekankan bahwa TB bukan hanya penyakit paru, tetapi bisa menyerang hampir seluruh organ tubuh, mulai dari otak, tulang belakang, hingga usus.
Penularannya pun terbilang mudah. Bakteri menyebar melalui udara ketika penderita TB aktif batuk, bersin, atau bahkan berbicara. Namun menariknya, tidak semua orang yang terpapar akan langsung sakit.
Sekitar 90% orang mampu melawan bakteri ini dengan sistem imun mereka. Sisanya, sekitar 10–20%, berisiko mengembangkan infeksi laten, di mana bakteri “tidur” dalam tubuh dan bisa aktif kembali ketika daya tahan tubuh menurun.
“Di sinilah TB menjadi unik sekaligus menantang. Bakterinya bisa bersembunyi dari sistem imun,” tambahnya.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan TB adalah gejala yang sering tidak disadari. Batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, keringat malam, dan demam ringan adalah tanda-tanda umum, tetapi sering dianggap sepele.
Padahal, keterlambatan diagnosis bisa berujung pada komplikasi serius.
Kini, metode diagnosis sudah semakin canggih. Tes cepat molekuler memungkinkan deteksi bakteri sekaligus mengetahui resistensi obat hanya dalam waktu singkat. Ini menjadi kemajuan besar dibanding metode lama yang memerlukan waktu berminggu-minggu.
TB bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Namun, proses pengobatannya membutuhkan komitmen tinggi.
“Pengobatan standar berlangsung minimal enam bulan dan harus diminum setiap hari,” tegas dr. Aliyah.
Masalahnya, banyak pasien berhenti di tengah jalan, entah karena merasa sudah sembuh atau karena tekanan sosial. Hal ini berbahaya, karena dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap obat.
Hilda, mahasiswa kedokteran yang tengah menempuh studi di Tiongkok, membagikan perspektif menarik tentang bagaimana negara tersebut menangani TB.
Di sana, pasien TB langsung masuk ke dalam sistem pelaporan nasional yang terintegrasi. Data dipantau secara real-time oleh lembaga kesehatan nasional, sehingga pengobatan dapat diawasi secara ketat.
“Pasien tidak hanya diobati, tapi juga dipantau kepatuhannya. Bahkan keluarga dilibatkan sebagai pengawas minum obat,” jelas Hilda.
Pendekatan ini dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS), di mana pasien tidak minum obat sendiri tanpa pengawasan.
Selain itu, strategi preventif juga diperkuat melalui:
Screening aktif pada kelompok berisiko tinggi
Edukasi berbasis komunitas
Kampanye digital melalui platform populer
Program kampus seperti seminar dan pemeriksaan gratis
Meski sistemnya kuat, Tiongkok tetap menghadapi tantangan serupa dengan Indonesia: akses layanan yang belum merata, edukasi yang belum menyentuh semua lapisan masyarakat, dan yang paling sulit adalah lagi-lagi stigma sosial.
Bahkan di era digital, misinformasi masih beredar. Hilda menyinggung konten viral yang mengklaim TB bisa disembuhkan hanya dengan obat herbal, sebuah contoh nyata bagaimana informasi keliru bisa membahayakan.
Melalui diskusi hangat ini, Ruanita Indonesia tidak hanya memperingati Hari TB Sedunia, tetapi juga menghidupkan semangat kolektif untuk melawan TB.
Karena pada akhirnya, perjuangan melawan TB bukan hanya soal obat dan diagnosis, tetapi juga tentang keberanian untuk peduli, memahami, dan bergerak bersama.
“TB bisa disembuhkan, asal kita tidak berhenti di tengah jalan, baik sebagai pasien, tenaga kesehatan, maupun masyarakat,” menjadi pesan yang menggema di akhir sesi.
Selengkapnya tentang diskusi IG LIVE episode Maret dapat disimak di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Suamiku sedang melahap sarapannya, sambil memeriksa e-mail dari laptop. Katanya, hari ini dia bisa masuk kantor agak siang, meski ada beberapa bahan meeting yang harus disiapkannya dari rumah. Minggu depan, ia harus kembali tugas ke Oslo, dan dilanjutkan dengan ekspedisi Barents Sea selama tiga minggu. Membayangkannya saja, aku sudah lelah. Hari-hari bertiga saja dengan anak-anak, sementara suamiku melanglang buana dengan pekerjaannya.
LONDON, 8 Maret – Menyadari persoalan psikologis yang dialami perempuan pekerja migran Indonesia seperti: kesepian, trauma, sandwich generation, hingga pikiran bunuh diri, yang telah mendorong Ruanita Indonesia menyelenggarakan sesi konseling kelompok daring ini.
Bagi banyak Perempuan Pekerja Migran Indonesia (PMI), perjalanan bekerja di luar negeri bukan hanya tentang pengorbanan ekonomi, tetapi juga tentang menghadapi tekanan, kehilangan, dan pengalaman yang meninggalkan luka batin.
Dalam memperingati Hari Perempuan Internasional, sesi konseling kelompok daring dihadirkan sebagai ruang aman bagi PMI yang memiliki situasi trauma dan sedang tinggal di luar Indonesia. Selama dua jam, para peserta terhubung melalui pertemuan virtual untuk berbagi pengalaman, mendengarkan satu sama lain, dan membangun rasa saling menguatkan dalam suasana yang empatik dan penuh penghormatan.
Sesi ini difasilitasi oleh Idei Swasti, Psikolog dan kandidat doktor di Inggris, serta relawan Ruanita Indonesia. Dengan pendekatan yang hangat dan partisipatif, peserta diajak memahami bahwa respons terhadap trauma adalah hal yang manusiawi. Tidak ada kewajiban untuk membuka detail pengalaman; yang diutamakan adalah rasa aman, kerahasiaan, dan kebersamaan.
Dalam dinamika kelompok, terlihat bahwa meski latar belakang negara dan jenis pekerjaan berbeda, pengalaman emosional yang dirasakan memiliki kesamaan: rasa sepi, tekanan berkepanjangan, serta kebutuhan untuk didengar tanpa dihakimi.
Beberapa peserta membagikan refleksi tentang beban kerja dan jarak dari keluarga, sementara yang lain memilih hadir dan menyimak, tetap menjadi bagian dari lingkar dukungan yang tercipta.
Menurut Anna Knöbl, Founder dari Ruanita Indonesia, yang memberikan pengantar awal sesi konseling, momentum Hari Perempuan Internasional dimaknai bukan hanya sebagai perayaan, melainkan sebagai pengingat bahwa kesehatan mental perempuan migran adalah isu nyata yang perlu mendapat perhatian bersama. Kegiatan ini memang bukan pengganti terapi individual, namun menjadi langkah kolektif untuk membangun solidaritas, memulihkan harapan, dan menegaskan bahwa perempuan migran tidak berjalan sendiri dalam proses penyembuhan mereka.
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Di sanalah luka pertama lahir. Malamnya, meja makan terasa seperti ruang sidang.
“Kalau memang ambil, bilang saja,” kata Cece tanpa menatap. Sendok di tangan Sari berhenti.
“Saya nggak ambil Ce, tidak tahu saya!”
Remuk hati Sari, menahan agar air mata tak jatuh, dan segera dia menyelesaikan makan nya. Tapi serasa semua sesak tak bisa ditelan. Koko ikut bicara, suaranya hati-hati.
Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional sepanjang Maret 2026, Ruanita Indonesia menghadirkan sebuah kampanye digital yang merayakan kekuatan suara, imajinasi, dan pengalaman perempuan Indonesia sebagai warga global. Kampanye ini mengangkat karya-karya fiksi yang ditulis oleh perempuan Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sebuah ruang aman di mana jarak geografis tidak lagi membatasi keberanian untuk bercerita, merawat ingatan, dan membayangkan masa depan.
Melalui Workshop Online Warga Menulis Fiksi, para peserta menarasikan kehidupan mereka di negeri-negeri yang jauh dari tanah air, tentang rindu yang berlapis bahasa, tentang identitas yang terus bertransformasi, tentang keteguhan menghadapi perbedaan, serta tentang solidaritas yang lahir dari keberanian untuk bersuara. Kutipan-kutipan karya fiksi yang lahir dari proses ini akan melalui kurasi dan penyuntingan untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah buku. Ini diharapkan sebuah produk pengetahuan yang merekam jejak batin, pemikiran, dan pengalaman perempuan Indonesia di panggung dunia.
Proyek ini dikelola oleh dua perempuan Indonesia yang juga hidup sebagai warga global: Asmayani Kusrini yang berbasis di Belgia dan Anna Knöbl yang berkarya di Jerman. Bersama, mereka membuka ruang lintas batas bagi perempuan Indonesia untuk menulis bukan hanya sebagai ekspresi kreatif, tetapi sebagai tindakan keberanian, perlawanan, dan perayaan diri.
Kampanye ini bukan sekadar tentang karya fiksi, melainkan tentang menghadirkan perempuan Indonesia sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan menciptakan makna di berbagai belahan dunia. Setiap cerita adalah bukti bahwa pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan yang hidup. Setiap kata adalah langkah menuju dunia yang lebih setara.
Maret 2026, mari membaca, mendengar, dan merayakan suara perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Di Negara India, terutama di komunitas Pak Su, status seseorang dilihat dari apa yang mereka punya. Semakin banyak perhiasan yang dikenakan, maka semakin menunjukkan status ekonominya. Hal itu menunjukkan semakin bagus dan gemerlap baju, maka akan menjadi trend setter fashion para wanita. Sedangkan saya? Ahh saya tak sanggup untuk berpakaian heboh, seperti mereka. Terlalu panas dan rasanya tempat pestanya tak sesuai. Biasanya saya hanya menggunakan salwar suit dengan jilbab sederhana dan sedikit perhiasan, jika tempat pestanya di dalam ruangan tanpa AC. Tak jarang saya menjadi buah bibir di antara para wanita di pesta itu. Dan saya tidak peduli!