(CERITA SAHABAT SPESIAL) Hari Kesehatan Mental Sedunia dan Ruang Aman yang Tak Terlihat

Di bulan Oktober, Ruanita Indonesia secara konsisten bersuara untuk kesehatan mental sejak berdiri di tahun 2021. Tahun ini lewat program video cerita sahabat spesial (CSS), Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Irlandia sebagai praktisi kesehatan mental. Dia adalah Yuki Fragariani, yang berbicara tentang pengalamannya mendampingi teman-teman perempuan dari lintas negara.

Bagi banyak orang, ruang aman sering dibayangkan sebagai sebuah tempat atau ruangan yang tenang, sudut yang nyaman, atau lokasi yang terasa melindungi. Namun bagi Yuki, ruang aman bukan sekadar ruang fisik. Ruang aman adalah pengalaman yang dirasakan, sebuah kehadiran yang memberi rasa diterima tanpa syarat, tanpa penghakiman.

Selama 15 tahun tinggal di Irlandia, Yuki menapaki perjalanan yang tidak selalu lurus. Ketertarikannya pada perilaku manusia dan psikologi sudah tumbuh sejak muda. Ia sempat menempuh berbagai profesi, mulai dari guru bahasa Jepang, penerjemah, hingga corporate trainer. Namun, perjalanan hidupnya perlahan membawanya ke satu panggilan yang lebih dalam, yakni merawat kesehatan mental sejak Pandemi COVID-19.

Langkah itu dimulai dari yoga. Setelah bertahun-tahun berlatih, pada 2017 Yuki memutuskan untuk mendalami yoga secara serius dan menjadi instruktur. Dari sanalah ia mulai memahami bahwa yoga bukan sekadar latihan fisik. Lebih dari itu, yoga menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan antara tubuh dan pikiran, yakni sebuah koneksi yang sering kali diabaikan.

Pengalaman selama pandemi menjadi titik balik yang semakin menguatkan arah hidupnya. Yuki menyaksikan langsung bagaimana banyak orang mengalami kecemasan, stres, dan rasa terisolasi. Di masa yang penuh ketidakpastian itu, Yuki melihat betapa pentingnya keterhubungan antara tubuh dan pikiran dalam menjaga kesehatan mental. Ia pun terdorong untuk melangkah lebih jauh, mengikuti pelatihan dan menjadi hipnoterapis, agar dapat membantu lebih banyak orang, terutama perempuan.

Dalam praktiknya, Yuki banyak mendampingi perempuan yang selama ini terbiasa menjadi penopang bagi orang lain. Mereka adalah ibu, istri, pekerja, yang memberi begitu banyak untuk keluarga dan lingkungan. Namun di balik itu, sering kali mereka lupa memberikan ruang dan kasih untuk diri sendiri. Dari situlah banyak luka bermula, seperti: perasaan lelah, tidak didukung, hingga kehilangan arah.

Mendengarkan cerita-cerita tersebut bukanlah hal yang mudah. Sebagai seorang profesional, Yuki dituntut untuk tetap objektif. Namun sebagai manusia, ia tidak selalu bisa sepenuhnya lepas dari emosi. Ada kalanya ia ikut merasakan kesedihan, kelelahan, bahkan beban dari cerita yang ia dengar. Namun justru di situlah empati menjadi jembatan yang menguatkan proses pendampingan.

Di Irlandia, ia juga banyak membantu perempuan, khususnya para ibu bekerja, yang menghadapi ketergantungan terhadap alkohol. Kebiasaan yang awalnya mungkin hanya pelarian kecil, perlahan menjadi sesuatu yang sulit dikendalikan. Melalui pendekatan yang penuh empati, Yuki membantu mereka kembali mengenali diri, memahami luka, dan perlahan mengambil kembali kendali atas hidup mereka.

Baginya, salah satu kunci penting dalam kesehatan mental adalah self-care. Ia mengibaratkannya seperti instruksi keselamatan di pesawat: kenakan masker oksigen untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain. Sebuah pengingat sederhana, tetapi sering terlupakan. Merawat diri tidak harus rumit. Menurutnya, itu bisa melalui istirahat, menulis jurnal, atau sekadar berjalan di alam.

Namun, ada satu hal yang sering menjadi jebakan, terutama bagi perempuan: tuntutan untuk selalu kuat. Di satu sisi, hal ini bisa menjadi sumber motivasi. Tetapi di sisi lain, ia juga bisa menjadi tekanan yang membuat perempuan merasa tidak boleh lemah, tidak boleh menangis, dan tidak boleh rentan. Padahal, menekan emosi justru dapat memperburuk kondisi mental.

Yuki percaya bahwa perempuan juga membutuhkan ruang untuk jujur pada perasaannya. Menangis bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk pelepasan yang sehat. Begitu pula dengan meminta bantuan, yang juga berarti itu bukan kegagalan, melainkan langkah berani untuk sembuh.

Ia pernah mendampingi seorang perempuan muda yang datang dengan luka batin terkait body image. Sejak kecil, ia terbiasa menerima kritik tentang penampilan dan dibandingkan dengan saudara kandungnya. Luka itu tertanam dalam dan membentuk suara kritis di dalam dirinya. Melalui proses healing yang perlahan, dengan pendekatan inner child dan self-compassion, perempuan itu mulai belajar berdamai dengan dirinya sendiri.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, Yuki juga melihat bahaya dari apa yang sering disebut sebagai toxic positivity. Memaksa diri untuk selalu terlihat kuat dan bahagia, tanpa benar-benar memproses emosi, ibarat menutup luka dengan plester tanpa mengobatinya. Sementara penyembuhan yang nyata justru membutuhkan kejujuran, mengakui rasa sakit, menerima emosi, dan memberi ruang untuk pulih.

Ada saatnya seseorang perlu berhenti memaksakan diri untuk terus kuat. Ketika kelelahan semakin dalam, ketika emosi terasa berputar tanpa henti, atau ketika seseorang merasa semakin terisolasi, itulah tanda bahwa bantuan dibutuhkan. Dalam momen-momen seperti itu, langkah sederhana seperti berhenti sejenak dan bernapas bisa menjadi awal yang penting.

Bagi Yuki, menciptakan ruang aman dimulai dari hal paling mendasar, yakni hadir sepenuhnya, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menjaga kepercayaan. Ruang aman bukan tentang di mana seseorang berada, tetapi bagaimana seseorang merasa.

Di luar ruang praktiknya, Yuki juga menyimpan harapan yang lebih luas. Ia ingin layanan kesehatan mental semakin mudah diakses oleh siapa pun. Ia ingin lebih banyak orang memahami bahwa merasa lelah atau tidak berdaya bukanlah tanda kelemahan. Yuki ingin setiap orang tahu satu hal sederhana, namun sangat penting. Bahwa mereka tidak sendirian. Karena pada akhirnya, kesehatan mental bukanlah kemewahan. Kesehatan mental adalah hak setiap manusia.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial episode Oktober 2026 di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung kami.

(KNOWLEDGE SHARING) Ruanita Indonesia Ajak Penyintas Autoimun Bangun Self-Compassion dan Komunikasi yang Sehat

JAKARTA, 26 September – Organisasi nirlaba berbasis digital yang berfokus pada promosi kesehatan mental, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan Knowledge Sharing Meeting bertajuk “Komunikasi yang Menyembuhkan: Membangun Self-Compassion dan Relasi Sehat sebagai Penyintas Autoimun” pada Sabtu, 26 September 2026.

Acara yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom Meeting pukul 10.00–12.00 CEST ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya komunikasi yang sehat dalam menjaga kesehatan mental serta kualitas hidup para penyintas penyakit kronis. Pertemuan inklusif ini dihadiri oleh para penyintas autoimun, caregiver, keluarga, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang memiliki perhatian besar terhadap isu kesehatan mental.

Dipandu oleh Griska Gunara selaku relawan Ruanita Indonesia di Inggris (UK) sebagai moderator, acara ini menghadirkan dua perspektif mendalam yang saling melengkapi. Pada sesi pertama, Azizah, seorang penyintas autoimun asal Indonesia yang kini menetap di Austria, membagikan kisah perjalanan hidupnya yang penuh tantangan.

Ia mengisahkan bagaimana proses menerima diagnosis medis, perjuangan menghadapi invisible illness di tengah stigma lingkungan, hingga pentingnya membangun dukungan keluarga. Melalui cerita nyatanya, Azizah menekankan bahwa praktik komunikasi yang baik dan penerimaan diri merupakan kunci utama dalam menjaga stabilitas emosional di tengah kondisi fisik yang tidak menentu.

Melengkapi perspektif tersebut, sesi kedua diisi oleh Yuki Fragariani, seorang Hypnotherapist dan Mental Health Professional yang berbasis di Irlandia. Yuki memaparkan materi ilmiah sekaligus praktis mengenai bagaimana bahasa dan pikiran saling memengaruhi kesehatan mental. Dalam penjelasannya, beliau menyoroti bahaya pola kalimat negatif pada diri sendiri (negative self-talk) yang sering muncul tanpa disadari oleh para penyintas penyakit kronis.

Sebagai solusinya, Yuki mengajak para peserta untuk melatih self-compassion atau sikap penuh kasih kepada diri sendiri, serta menerapkan komunikasi asertif agar mampu menyampaikan kebutuhan fisik maupun emosional mereka secara sehat kepada lingkungan sosial.

Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang dinamis, sesi tanya jawab, serta refleksi bersama antarperserta. Melalui ruang edukasi yang aman ini, Anna Knöbl berharap para peserta dapat membawa pulang strategi praktis untuk membangun dialog yang lebih empatik dengan diri sendiri maupun orang lain. Dengan suksesnya penyelenggaraan kegiatan ini, Ruanita Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk terus memfasilitasi ruang belajar yang saling menguatkan demi terciptanya lingkungan yang lebih suportif bagi para penyintas autoimun di mana pun berada.

Simak rekaman sesi pemateri berikut di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Mendengar, Memahami, dan Mencegah: Menemukan Jalan Keluar dari Kegelapan

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pada 10 September menjadi momentum bagi Ruanita Indonesia untuk membuka ruang percakapan mengenai kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri. Melalui program diskusi Instagram Live, Ruanita Indonesia mengangkat tema mendengar, memahami, dan mencegah, dengan menghadirkan pengalaman personal sekaligus perspektif profesional mengenai mereka yang pernah berada dalam masa-masa paling gelap dalam hidupnya.

Diskusi tersebut menghadirkan Miystica Rosa, seorang praktisi kesehatan mental yang berada di Irlandia, serta Vita, seorang penyintas yang saat ini tinggal di Islandia. Dipandu oleh Zukhrufi Syasdwaita atau disapa Rufi dari Ruanita Indonesia, perbincangan berlangsung sekitar 30 hingga 40 menit dan membuka kesempatan bagi penonton untuk turut berpartisipasi melalui kolom komentar

Percakapan dimulai dari sebuah pengingat sederhana bahwa setiap manusia memiliki alasan dan tujuan keberadaannya. Kehidupan seseorang dipandang tetap memiliki arti, apa pun latar belakang dan situasi yang sedang dihadapinya. Bahkan ketika seseorang sedang berada dalam kondisi yang sangat sulit, keberadaannya tetap penting. Dalam konteks pencegahan bunuh diri, pemaknaan terhadap kehidupan menjadi salah satu pesan penting yang muncul dalam diskusi. Masa-masa gelap tidak dipandang sebagai keadaan yang akan berlangsung selamanya. Kesulitan memang dapat membuat seseorang merasa seolah-olah tidak ada jalan keluar, tetapi kegelapan tersebut tidak harus menjadi akhir dari perjalanan hidup seseorang.

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia kemudian tidak hanya dimaknai sebagai momentum untuk mengingat mereka yang meninggal akibat bunuh diri. Lebih jauh, momen ini menjadi ajakan untuk kembali menghargai kehidupan dan menyadari bahwa setiap orang masih memiliki kesempatan untuk menjalani, memperbaiki, dan melanjutkan hidupnya.

Salah satu bagian penting dalam diskusi adalah pembahasan mengenai berbagai anggapan keliru yang berkembang di masyarakat tentang bunuh diri. Salah satunya adalah keyakinan bahwa bunuh diri merupakan topik yang tidak seharusnya dibicarakan secara terbuka. Pandangan semacam itu justru dapat membuat seseorang yang sedang mengalami krisis semakin terisolasi. Percakapan mengenai bunuh diri perlu dibuka dengan hati-hati agar orang yang sedang berada dalam kegelapan dapat menyadari kondisi yang sedang dialaminya dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pertolongan.

Diskusi juga menyinggung anggapan bahwa hanya profesional tertentu yang dapat membantu seseorang yang memiliki pikiran untuk bunuh diri. Perspektif yang muncul justru menekankan pentingnya peran lingkungan sekitar. Mendengarkan, hadir, membangun koneksi, dan membantu seseorang menemukan akses menuju pertolongan merupakan bagian penting dari upaya pencegahan. Karena itu, membicarakan kondisi seseorang bukan berarti memperburuk keadaan. Sebaliknya, percakapan dapat menjadi langkah awal untuk membuat seseorang menyadari bahwa ia tidak sendirian dan bahwa ada jalan untuk keluar dari situasi yang sedang dihadapinya.

Pengalaman Vita memberikan dimensi personal pada pembahasan tersebut. Ia menggambarkan masa tergelap dalam hidupnya sebagai periode yang dipenuhi stres, depresi, dan kecemasan. Dalam kondisi itu, aktivitas sehari-hari terasa sangat berat. Keinginan untuk melakukan apa pun menghilang dan tidur menjadi pilihan untuk menghindari kenyataan. Perasaan tersebut juga membuatnya menarik diri dari lingkungan. Ia memilih berada di rumah dan menghindari pertemuan dengan orang lain, termasuk anak-anaknya. Isolasi menjadi bagian dari pengalaman ketika seseorang merasa tidak memiliki energi maupun kemampuan untuk menghadapi kehidupan sebagaimana biasanya.

Di balik kondisi tersebut terdapat berbagai persoalan yang saling berkelindan. Kehilangan pasangan, persoalan finansial, tekanan hidup, hingga berbagai pengalaman traumatis dapat membuat seseorang merasa semakin kehilangan harapan. Dalam kondisi krisis, kemampuan untuk melihat masa depan pun dapat menyempit. Seseorang mungkin tidak lagi mampu membayangkan adanya jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.

Vita juga menggambarkan betapa sulitnya mengungkapkan kondisi batin ketika seseorang berada dalam situasi tersebut. Ada perasaan yang begitu berat sehingga sulit diterjemahkan menjadi kata-kata. Justru karena itulah kehadiran orang lain dan ruang yang aman untuk berbicara menjadi sangat penting.

Titik balik dalam pengalaman Vita muncul ketika ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan pertolongan. Dalam situasi yang terasa sudah runtuh, ia akhirnya menghubungi layanan bantuan krisis Pieta yang tersedia selama 24 jam di tempat ia berada. Keputusan untuk menelepon menjadi sebuah langkah penting karena ia menyadari bahwa dirinya tidak dapat terus berada dalam kondisi tersebut.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan pentingnya kejujuran dalam menjawab pertanyaan sederhana mengenai keadaan seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan tentang kabar sering kali dijawab secara otomatis dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, di balik jawaban tersebut bisa saja terdapat pergulatan yang tidak terlihat. Bagi seseorang yang sedang mengalami krisis, keberanian untuk mengatakan kondisi sebenarnya dapat menjadi awal untuk memperoleh bantuan. Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk kesadaran bahwa bantuan diperlukan.

Dalam diskusi tersebut, kesehatan mental juga ditempatkan dalam konteks kehidupan yang lebih luas. Krisis bunuh diri tidak selalu muncul akibat satu persoalan tunggal. Masalah kesehatan fisik atau penyakit kronis, kecemasan, depresi, kehilangan pekerjaan, persoalan keuangan, trauma, maupun masalah dalam keluarga dapat menjadi bagian dari beban yang dirasakan seseorang. Ketika berbagai tekanan menumpuk, seseorang dapat kehilangan harapan dan merasa tidak berdaya. Situasi menjadi semakin berisiko ketika seseorang yang sedang berada dalam kondisi tersebut merasa sendirian dan tidak melihat adanya alternatif untuk keluar dari masalah.

Karena itu, pencegahan bunuh diri tidak cukup dilakukan dengan menunggu seseorang meminta bantuan. Lingkungan sekitar perlu membangun hubungan yang memungkinkan seseorang merasa aman untuk berbicara mengenai apa yang sedang dialaminya. Salah satu pesan terkuat dari diskusi Ruanita Indonesia adalah pentingnya keberanian untuk mendengarkan. Ketika seseorang menunjukkan tanda-tanda sedang berada dalam kondisi sangat gelap, orang-orang di sekitarnya tidak perlu langsung memiliki semua jawaban atau solusi.

Pencegahan pada akhirnya berkaitan dengan membangun koneksi. Ketika seseorang merasa terjebak dalam kegelapan, hubungan dengan teman, keluarga, komunitas, maupun layanan bantuan profesional dapat menjadi bagian dari jalan untuk keluar. Diskusi tersebut menekankan pentingnya menghubungi orang lain dan mencari layanan bantuan ketika dukungan dari lingkungan terdekat belum mencukupi. Hotline atau layanan krisis dapat menjadi salah satu pintu menuju pertolongan yang lebih tepat.

Pesan ini membuat peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pencegahan bukan hanya tentang tindakan besar atau intervensi profesional. Ia juga dapat dimulai dari keberanian untuk hadir, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memperhatikan perubahan pada orang di sekitar, dan membantu seseorang terhubung dengan pertolongan yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, percakapan Ruanita Indonesia mengingatkan bahwa seseorang yang sedang berada dalam kegelapan mungkin tidak selalu mampu menemukan jalan keluarnya seorang diri. Kehadiran orang lain dapat menjadi titik awal. Sebuah percakapan dapat membuka kesadaran. Sebuah panggilan dapat menghadirkan bantuan. Dan sebuah koneksi dapat menjadi jembatan agar seseorang kembali melihat kemungkinan untuk melanjutkan hidup.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(KNOWLEDGE SHARING) Mengenal Teknik Kesadaran dalam Kehidupan Sehari-hari Melalui ReAttach Method

Dublin, 14 Maret – Peringatan Hari Perempuan Internasional menjadi momentum penting bagi Ruanita Indonesia untuk menyelenggarakan berbagai ruang digital untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman perempuan. Salah satunya, melalui komunitas praktisi kesehatan mental Indonesia di mancanegara, Ruanita menggelar program Knowledge Sharing yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting.

Kegiatan yang berlangsung hangat dan interaktif ini diikuti oleh para peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari praktisi kesehatan mental, pekerja sosial, hingga individu yang memiliki minat pada isu kesehatan mental dan pengembangan diri. Dalam paparannya, Mystica Rosa menyoroti pentingnya memahami kesehatan mental secara holistik, tidak hanya sebagai persoalan psikologis individu, tetapi juga sebagai pengalaman yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial, budaya, dan dinamika kehidupan modern.

Salah satu materi penting yang disampaikan dalam sesi ini adalah mengenai pendekatan multidisipliner dalam intervensi ReAttach. Dalam presentasinya dijelaskan bahwa intervensi ReAttach bertujuan untuk mengoptimalkan proses pengolahan informasi (information processing) serta mendukung perkembangan individu secara menyeluruh. Pendekatan ini menekankan bahwa proses pemulihan psikologis sering kali bersifat kompleks sehingga membutuhkan strategi terapi yang tidak hanya berfokus pada satu aspek saja.

Melalui pendekatan multidisipliner tersebut, seorang terapis diharapkan mampu menjalankan beberapa fungsi sekaligus dalam proses terapi. Hal ini meliputi kemampuan untuk mengatur tingkat arousal atau aktivasi emosi klien, mengaktifkan berbagai proses sensorik, melatih keterampilan kognitif sosial, serta membantu penyesuaian pola pikir kognitif yang lebih adaptif. Pendekatan ini bertujuan membantu individu memproses pengalaman secara lebih terstruktur sehingga mendukung keseimbangan emosi, perilaku, dan cara berpikir.

Materi ini juga memberikan gambaran bagaimana pendekatan terapi modern semakin mengintegrasikan aspek neurologis, psikologis, dan sosial dalam proses intervensi. Mystica Rosa menekankan bahwa pendekatan seperti ReAttach menunjukkan pentingnya fleksibilitas dan kreativitas terapis dalam membantu klien mengembangkan kapasitas diri, terutama dalam menghadapi tekanan hidup yang semakin kompleks di era global saat ini.

Selain pemaparan materi, sesi ini juga memberikan ruang diskusi yang aktif. Para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertukar pengalaman, mengajukan pertanyaan, serta merefleksikan tantangan yang sering dihadapi dalam praktik kesehatan mental, khususnya bagi komunitas Indonesia yang tinggal di luar negeri. Diskusi ini memperlihatkan bahwa kebutuhan akan ruang dialog yang aman dan suportif semakin relevan di tengah kompleksitas kehidupan global saat ini.

Atmosfer pertemuan berlangsung hangat dan reflektif. Banyak peserta mengungkapkan bahwa kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan profesional, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan antarpraktisi dan orang Indonesia yang memiliki perhatian pada isu kesehatan mental.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.