(CERITA SAHABAT) Ada Banyak Alasan Memilih Menjadi Vegan

Halo, sahabat RUANITA. Perkenalkan nama saya Rita, yang sekarang tinggal di Hamburg, Jerman. Saya sudah tinggal di Jerman selama lebih dari 16 tahun. Sehari-hari, saya bekerja sebagai Florist. Saya senang membicarakan seputar nutrisi makanan dan gaya hidup, seperti tentang tema vegan, yang sekarang sedang menjadi trend tersendiri di dunia. 

Berbicara tentang gaya hidup vegan dan vegetarian, bisa jadi tak banyak orang Indonesia paham tentang kedua istilah tersebut atau membedakannya. Amat sangat disayangkan bahwa masih banyak yang mengira bahwa vegan itu Lifestyle miskin.

Mereka yang memilih menjadi vegan atau vegetarian masih dibilang miskin, terutama di Indonesia.  Banyak orang Indonesia yang awam berpikir bahwa orang tidak mampu membeli daging yang harganya begitu mahal, sehingga mereka menggantinya dengan tempe atau tahu. Menurut saya, hal ini mungkin dipicu dengan persepsi bahwa kalau dulu di Indonesia muncul pengganti protein daging, yakni tahu dan tempe.

Pemikiran tersebut masih melekat di orang Indonesia dari generasi ke generasi. Meskipun sekarang persepsi tersebut tergantikan dan lebih baik, mengingat teknologi komunikasi yang cepat dan mudah diakses, karena tempe dan tahu ternyata baik juga untuk nutrisi tubuh.

Hal tersebut menunjukkan ada peningkatan informasi nutrisi yang membaik. Informasi lainnya juga menunjukkan betapa pentingnya, kita menjaga lingkungan terutama dari segi konsumsi makan kita juga. 

Berbicara segi konsumsi, pandangan orang awam juga tampak dari kekhawatiran bahwa menikmati makanan tanpa daging itu berarti kurang nutrisi dalam hidupnya. Padahal, hidup vegan bukan berarti kekurangan nutrisi loh. Banyak sumber protein yang bisa diperoleh dari sayuran hijau atau kacang-kacangan, mushrooms atau tahu/tempe, dll.

Lainnya, seperti produk makanan laut bisa menjadi sumber makanan juga. Misalnya, seaweed yang sekarang menjadi alternatif sumber omega dan dijadikan produk makanan yang dijual di pasaran. Atau, rumput laut sendiri sedang banyak diteliti dan dimanfaatkan di industri makanan. Ini semua dimaksudkan untuk memberikan informasi nutrisi bahwa makanan tidak hanya dari daging semata. 

Kembali ke soal pilihan hidup menjadi vegan dan vegetarian, itu semua tergantung pada alasan pribadi. Ada anggapan bahwa mereka memilih hidup vegan atau vegetarian karena ingin menurunkan berat badan. Sejauh ini, belum ada teman-teman di sekitar saya yang memilih hidup vegan karena mereka ingin turun berat badan.

Kebanyakan dari mereka yang memilih hidup vegan, lebih disebabkan oleh alasan perlakuan buruk terhadap hewan. Lebih tepatnya, mereka merupakan penyayang binatang. Menurut saya, ada juga yang berpendapat mereka memilih vegan karena produksi daging itu membutuhkan banyak air, sehingga tidak ramah lingkungan.  

Lalu, bagaimana dengan masyarakat Indonesia? apakah gaya hidup vegan dan vegetarian juga dipahami dengan baik oleh masyarakat Indonesia? Menurut saya, belum banyak masyarakat luas di Indonesia memahami vegan dan vegetarian. Kalau pun mereka paham soal vegan dan vegetarian, saya pikir pengetahuan tentang vegan dan vegetarian masih minim dan belum merata.

Saya pikir orang-orang di Indonesia perlu lebih banyak informasi dan edukasi soal nutrisi sehat, tidak melulu soal daging saja. Masyarakat perlu diperkenalkan tentang sumber makanan alternatif, tidak hanya beras saja tetapi ada banyak pilihan makanan pengganti beras saja. 

Lainnya, kita bisa juga beralih untuk memanfaatkan pangan lokal dengan mulai menanam kebutuhan pangan keluarga di perkarangan rumah, misalnya cabai, tomat, dan lainnya seperti orang-orang di Jerman.

Dengan begitu, masyarakat lebih banyak mengonsumsi makanan yang sehat bernutrisi dari kebun sendiri, yang mengedukasi anak-anak tentang pentingnya makan sayur misalnya. Bukankah aneka warna makanan dengan sayuran dapat memikat selera makan?

Sebenarnya, di Indonesia banyak juga masyarakat yang tidak mengkonsumsi daging. Namun, alasan mereka tidak makan daging lebih disebabkan kepada ketidaksanggupan mereka membeli daging. Harga daging itu mahal sekali di pasaran Indonesia. Kesadaran orang di Indonesia untuk tidak makan daging, kebanyakan bukan karena peduli lingkungan.

Contohnya, kerabat terdekat saya di Indonesia yakni nenek dan sepupu saya. Mereka benar-benar vegan. Saya pun bertanya, apa alasan yang membuat mereka memilih hidup vegan.  Mereka pun menjawab bahwa mereka merasa trauma dengan bau amis dari darah hewan. Selain itu, mereka juga takut akan hewan.

Di sisi lain, mereka berdua tidak menyadari bahwa pilihan hidup vegan sekarang sedang menjadi trend gaya hidup di dunia sebagai akibat kesadaran akan promosi isu lingkungan hidup dan pengurangan polusi.

Hal menarik lainnya adalah ketika kita berbicara soal vegan dan vegetarian, kita harus berhadapan dengan isu praktik hidup yang sulit. Padahal, memilih hidup makan vegan dan vegetarian itu tidak sulit loh. Di Indonesia, konsumsi daging tidak seperti di Jerman.

Kita juga bisa memanfaatkan makanan asal Indonesia yang sudah mendunia, seperti tahu dan tempe misalnya. Kita punya makanan sejenis salad, mulai dari gado-gado, lotek, ketoprak, asinan, hingga rujak, dan lainnya yang bisa dinikmati tanpa konsumsi daging sama sekali. Kita punya lalapan dan aneka tumisan yang begitu nikmat dengan aneka rempah-rempah. 

Di Jerman, tempat tinggal saya sekarang, mereka telah membuat klasifikasi untuk kelompok makanan vegan dan vegetarian. Kita juga bisa dengan mudah menemukan tahu di setiap supermarket di Jerman. Produk makanan vegan tidak hanya ditemukan di supermarket khusus, tetapi sekarang tersedia hampir di setiap supermarket. 

Di Indonesia, justru sebenarnya jauh lebih mudah karena kita dikenal sebagai negara agraris yang punya banyak sayuran yang melimpah ruah. Sayuran di Indonesia bisa tumbuh dengan mudah setiap waktu, sementara di Jerman sayuran tentu tidak tumbuh ketika musim dingin.

Di Indonesia, kita punya sajian makanan vegan yang tidak membosankan seperti yang saya sebutkan di atas. Di Indonesia, kita bisa membeli aneka kebutuhan di pasar tradisional atau kita bisa dengan mudahnya datang ke kebun tetangga dan membelinya dengan mudah. 

Di Jerman, produk lokal seperti pasar tradisional dijajakan tidak setiap waktu. Ada yang mingguan (Wochenmarkt), atau hanya hari-hari tertentu saja. Harga pangan yang dijual di pasar produk lokal bisa empat kali lipat lebih mahal, ketimbang di supermarket biasa.

Biasanya ini disebabkan oleh perawatan sayuran dan pangan yang berbeda dari yang dijual di supermarket. Si penjual mengatakan bahwa mereka tidak menggunakan pestisida misalnya. Perawatan tanpa pestisida membutuhkan banyak waktu dan membutuhkan alternatif ramah lingkungan lain untuk membasmi hama.

Seperti ekosistem natural di alam, ulat dimakan oleh ayam. Dengan kata lain, mencari musuh alami hama lain agar mengurangi populasi hama jahat.  Kehadiran pasar lokal di Jerman juga didukung oleh masyarakat setempat untuk mendukung ekonomi lokal para petani yang telah bekerja. 

Berbicara tentang vegan, kadang ada juga anggapan bahwa itu semua perlu biaya yang tak murah. Berkaca dengan kehidupan di Jerman, menurut saya, apa pun pilihan hidup yang dipilih seperti vegan, vegetarian atau pemakan daging juga memiliki biaya konsumsi yang sama-sama mahal.

Di Jerman, harga daging tidak jauh berbeda dengan sayuran dan itu bergantung pada di mana mereka membelinya. Di Wochenmarkt atau pasar “kaget” tradisional itu harga daging terbilang lebih mahal lagi, dibandingkan di supermarket.

Daging diklasifikasikan mulai dari biasa, bio, hingga daging regional misalnya. Serupa dengan daging, membeli sayuran dan buah di pasar tradisional semacam “Wochenmarkt” di Jerman pun jauh lebih mahal. Penjualan sayuran di Jerman bergantung musim. Misalnya, kita bisa menemukan spargel atau asparagus yang dijual pada waktu tertentu saja. 

Di Indonesia, harga sayuran dan daging begitu berbeda jauh. Kemungkinan hidup vegan di Indonesia atau tanpa daging mungkin jauh lebih hemat. Apalagi kalau kita bisa berkebun sendiri, tentu jauh lebih berhemat untuk mengonsumsi tanpa daging.

Berkebun juga menjadi pilihan banyak orang-orang di Jerman. Selain lebih hemat, berkebun di Jerman juga bisa menjadi lebih sehat dan lebih terjamin kualitas pangan yang ingin dikelola. Kita bisa mulai memilih benih bibit sayuran atau buah usai musim dingin, yang semuanya begitu mudah didapat di supermarket.

Kalau tentang resep mengolah makanan vegan, saya pikir itu kembali kepada preferensi masing-masing individu. Jika kita ingin berhemat, kita bisa praktik masak sendiri di rumah. Kini tersedia berbagai kemudahan untuk mencontek resep di internet. Bila kita bisa masak sendiri di rumah, tentu kita bisa menyantapnya berkali-kali.

Memasak di rumah juga jauh lebih sehat, ketimbang membeli makanan di restoran. Di Jerman, kita perlu berpikir ulang untuk jajan atau makan di restoran. Untuk tips dari saya, kita bisa mulai dengan resep berbagai menu tempe dicampur sayuran. Jika suka sayur atau berkuah, coba memasak sayur lodeh, mie Ramen atau mie Udon. Biasanya mi tersebut sangat cocok untuk dibuat vegan. Kita bisa menggantikan menu daging dengan mushroom atau jamur sebagai alternatif daging. 

Oh ya, sebagai informasi nih kalau kalian ingin punya peluang usaha di industri makanan, sahabat Ruanita bisa mencoba industri makanan vegan. Pertama kali datang ke Jerman, gaya hidup vegan tidak sepopuler seperti sekarang loh. Kini semakin banyak orang beralih ke gaya hidup vegan karena alasan lingkungan hidup, sebagaimana minat terbesar orang-orang di Jerman.

Banyak juga restoran yang kini mengusung tema vegan dan vegetarian juga loh. Mungkin di Indonesia, industri makanan vegan dan vegetarian bisa berpotensi untuk menjadi pasar tersendiri bagi orang-orang yang memang tidak ingin mengonsumsi makanan daging. Misalnya, orang tidak mengonsumsi daging karena alasan agama, alasan kesehatan hingga alasan gaya hidup. 

Terakhir nih buat sahabat Ruanita, jangan pernah berpikir bahwa menjadi vegan atau vegetarian akan menjadi kekurangan nutrisi. Untuk berubah haluan konsumsi harian, kalian bisa perlahan-lahan mengurangi konsumsi daging sedikit demi sedikit.

Selain itu, kalian perlu juga berkonsultasi ke dokter atau ahli gizi, sebelum kalian secara total menjadi seorang vegan. Bagaimana pun kondisi tubuh setiap orang ‘kan berbeda-beda ya! Bagaimana menurut kalian semua?

Penulis: Rita, yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram lavendula_rita.

(SIARAN BERITA) Pemutaran Perdana Film Dokumenter “Dua Kali” dan Diskusi Bertema Kesehatan Mental

Hamburg, 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, RUANITA Indonesia bekerja sama dengan KJRI Hamburg dan PPI Hamburg akan menyelenggarakan acara Pemutaran Perdana dan Diskusi Film “Dua Kali”.

Acara ini akan berlangsung pada Sabtu, 12 Oktober 2024 bertempat di Aula KJRI Hamburg, mulai pukul 13:30 hingga 16:00 CEST.

Film “Dua Kali”, yang diproduksi secara sukarela oleh relawan RUANITA, mengangkat isu-isu seputar kesehatan mental yang masih dianggap tabu dalam banyak masyarakat, terutama bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.

Film dokumenter ini mengisahkan perjalanan perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri dan menghadapi tantangan terkait kesehatan mental.

Melalui film ini, RUANITA berharap dapat mengurangi stigma terhadap orang dengan gangguan mental, serta membangun solidaritas bagi mereka yang sedang berjuang dalam kesunyian.

Acara ini terdiri dari dua sesi utama, yakni pemutaran film dan diskusi mendalam bersama para ahli dan pembuat film. Aulia Farsi, psychiatric nurse di Jerman, dan Andi Arieta Amata Umar, Ketua PPI Hamburg, akan hadir sebagai penanggap dalam diskusi.

Selain itu, Ullil Azmi, sutradara film, serta Mariska Ajeng Harini, koordinator proyek film, juga akan berbagi pandangan mengenai proses produksi dan tujuan film ini.

Melalui acara ini, RUANITA berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia di Jerman tentang pentingnya kesehatan mental, sekaligus menyediakan ruang aman bagi mereka untuk berbagi pengalaman hidup di perantauan.

RUANITA juga berkomitmen untuk terus mendukung komunitas Indonesia di luar negeri dalam mengatasi tantangan kesehatan mental melalui pendekatan berbasis nilai dan sistem dukungan sosial.

RUANITA – Rumah Aman Kita, adalah komunitas digital yang memberikan dukungan dan psikoedukasi kepada perempuan Indonesia di mancanegara, dengan fokus pada kesetaraan gender, kesehatan mental, dan berbagi praktik hidup yang positif di luar negeri.

Melalui program diskusi dan menonton film bertema kesehatan mental ini, RUANITA berharap bisa mendorong lebih banyak percakapan terbuka tentang kesehatan mental dan memberikan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia mengenai sistem layanan kesehatan mental di luar negeri, khususnya di Jerman.

Untuk informasi lebih lanjut atau pendaftaran, silakan kunjungi situs web kami di www.ruanita.com atau hubungi kami di info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Jadi Advokat Kesehatan Mental Untuk Patahkan Stigma

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, Ruanita Indonesia menghadirkan program bulanan Cerita Sahabat Spesial (CSS). Pada episode Oktober 2024, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita sekaligus relawannya yang tinggal di Jerman untuk berbagi pengalaman pribadi seputar kesehatan mental.

Dia adalah Mariska Ajeng Harini, yang sekarang berprofesi sebagai seorang guru TK yang tinggal di Hamburg. Sebagai koordinator proyek film dokumenter “Dua Kali” lewat Ruanita Indonesia, Ajeng ingin bersuara lebih lantang tentang stigma yang selama ini masih melekat tentang kesehatan mental. Ajeng menjadi sosok inspiratif yang menceritakan perjalanannya melawan berbagai gangguan mental.

Ajeng mengungkapkan bagaimana pada tahun 2021 ia mengalami serangan depresi dan gangguan kecemasan yang berulang, menyebabkan ia menangis tanpa sebab, dan dihantui ketakutan tentang masa depan.

Setelah melewati masa sulit ini, Ajeng memutuskan untuk mencari bantuan profesional dan didiagnosis dengan depresi serta gangguan kecemasan, yang kemudian diperparah dengan OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) dan Avoidant Personality Disorder.

Dalam CSS ini, Ajeng menceritakan betapa sulitnya stigma yang melekat pada kesehatan mental, terutama orang-orang Indonesia. Ia berbagi pengalaman tentang sulitnya mendapatkan akses ke terapi di Jerman, sehingga ia harus menjalani perawatan di psikiatri atau rumah sakit jiwa.

Salah satu momen penting dalam video ini adalah ketika Ajeng menekankan pentingnya mencari bantuan yang tepat dari psikolog atau psikiater dan menghindari self-diagnosis, yang sering kali dilakukan oleh banyak orang.

Tujuan utama dari video CSS ini adalah mematahkan stigma terhadap gangguan mental, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental.

Ajeng menyampaikan bahwa penyakit mental tidak bisa dianggap remeh, dan melalui pengalamannya ia berharap dapat membantu orang lain memahami bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Program CSS ini juga bertujuan untuk memberikan dukungan dan inspirasi bagi sahabat Ruanita yang mungkin menghadapi tantangan serupa. Ajeng menutup ceritanya dengan pesan kuat bahwa orang dengan gangguan mental bisa sembuh, seperti yang ia alami setelah didiagnosis sembuh dari OCD pada tahun 2023.

Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus mengedukasi dan meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental melalui berbagai program, salah satunya adalah Cerita Sahabat Spesial yang dirilis setiap bulan.

Dengan program ini, diharapkan semakin banyak orang yang tergerak untuk membuka diri dan mencari bantuan, serta bersama-sama mematahkan stigma seputar kesehatan mental di masyarakat.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut:

(IG LIVE) Bagaimana Temukan Passion dalam Berkarier?

Tentunya, ada banyak pertimbangan mengapa orang harus meninggalkan karier demi mengejar passion. Ada yang berhasil dalam menekuni satu karier dalam hidup mereka, tetapi ada pula yang telah berganti karier dan belum mendapatkan passion yang dicarinya.

Lewat program diskusi IG Live tiap bulan, Ruanita Indonesia lewat akun instagram ruanita.indonesia yang dipandu oleh Zukhrufi Sysdawita atau yang disapa Rufi. Dia adalah relawan Ruanita Indonesia yang tinggal di Jerman, memandu obrolan seputar karier dan passion selama 30 menit. Rufi juga merupakan lulusan Master Governance and Public Policy dari University of Passau, Jerman.

Diskusi ini berhasil mengundang Tyka Karunia, perempuan Indonesia yang tinggal di Spanyol. Dia membagikan pengalamannya dalam membangun startup di bidang pariwisata yang bertujuan untuk menjembatani pengusaha UMKM Indonesia dengan pasar internasional. Ia juga menekankan pentingnya mengejar passion yang sejalan dengan minat pribadi dan tanggung jawab yang dimiliki.

Karena masalah teknis, diskusi IG Live tidak berhasil mengundang Putri Trapsiloningrum, seorang konsultan e-commerce di Jerman, pada kesempatan ini. Topik mengenai tantangan berkarier di Eropa turut dibahas. Tyka mengakui adanya perbedaan budaya, lingkungan, serta hambatan psikologis yang mempengaruhi proses adaptasi dan keberhasilan di lingkungan kerja.

Pada akhirnya, diskusi IG Live ini sepakat bahwa komitmen dan dukungan lingkungan, baik dari keluarga maupun rekan kerja, menjadi faktor penting dalam keberhasilan karier. Diskusi ini berlangsung selama 40 menit, di mana para peserta diajak untuk berinteraksi melalui kolom komentar dan bertanya seputar cara menemukan passion dalam karir mereka sendiri.

Acara diskusi ini juga menjadi ajang promosi untuk program mentoring karier perempuan di Eropa Barat yang akan diselenggaraka Ruanita dalam waktu dekat. Program ini akan mendorong peserta dapat belajar tentang pembuatan CV dan surat lamaran, khususnya untuk berkarier di Eropa.

Simak selengkapnya diskusi IG Live episode Eropa ini di kanal YouTube kami:

(CERITA SAHABAT) Mulai dari Pengalaman Konselor Sebaya hingga Inisiatif Program Konselor Sebaya di Jerman

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Alexandra Shafira. Saya biasa dipanggil Pia oleh keluarga dan teman-teman saya. Sekarang, saya tinggal di Hamburg, Jerman. Saya sudah berada di Jerman sekitar 4 tahun.

Awalnya, saya datang ke Jerman untuk mengikuti program Au Pair, yakni program pertukaran budaya yang mana saya tinggal di keluarga orang Jerman dan belajar budaya Jerman untuk periode setahun.

Saya kemudian melanjutkan pendidikan vokasional (dalam Bahasa Jerman disebut Ausbildung) di bidang Pflegefachfrau, yang dapat dijelaskan dalam Bahasa Indonesia sebagai perawat di rumah sakit.

Saat ini, saya melanjutkan pendidikan saya di HAW Hamburg, semacam University of Applied Science di Hamburg, Jerman Saya sekarang berkuliah di jurusan interdisziplinäre Gesundheitsversorgung und Management.

Selain berkuliah, saya bekerja di rumah sakit terbesar di Hamburg, Universitätsklinikum Eppendorf. Selain kuliah dan bekerja, saya menyempatkan diri untuk berkontribusi di organisasi kemasyarakatan seperti PPI Hamburg dan Ruanita Indonesia.

Berbicara tentang konselor sebaya, saya pernah menjadi salah satu peer-counselor saat saya masih duduk di bangku pertama SMA di Riau. Saya menjadi konselor sebaya selama satu periode yakni satu tahun.

Program konselor sebaya pada saat itu diberi nama, Remaja Teman Sebaya Anti Narkoba, yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Saat itu, sekolah saya menjadi mitra dari BNN untuk melaksanakan program pencegahan terhadap bahaya narkoba di kalangan pelajar.

Para konselor sebaya yang terpilih kemudian diundang untuk mendapatkan pelatihan sebagai konselor sebaya, dengan biaya ditanggung sepenuhnya oleh BNN. 

Sebagai konselor sebaya, tentunya saya memiliki pengalaman berkesan. Saya pernah menjadi konselor sebaya untuk teman dekat saya sendiri. Kesulitan yang saya hadapi sebagai konselor sebaya adalah bagaimana bisa tetap bersikap netral dan tidak menghakimi, walaupun saya tahu apa yang diceritakannya tidak sepenuhnya benar.

Namun, saya paham bahwa tugas saya bukan untuk memberikan solusi, yang bisa jadi tidak bisa dilakukan dalam hidup si pencerita masalah, melainkan menjadi social support yang mengarahkan pencerita masalah untuk tidak mengambil langkah yang menjerumuskan.

Dalam praktiknya, tugas sebagai konselor sebaya bukan tugas yang mudah. Saya perlu untuk menjadi pendengar aktif dan tidak menghakimi seperti yang disampaikan sebelumnya. 

Bagaimana pun,  kecenderungan kita ingin menggurui, menasihati, atau justru ikut serta bergosip adalah hal yang umum dan biasa terjadi ketika seseorang sedang bercerita masalahnya, apalagi saya sendiri merasa bahwa apa yang dilakukan pencerita sudah jelas-jelas salah.

Muncul pula perasaan dan keinginan untuk memotong pembicaraan dan memberikan solusi, sehingga tugas sebagai konselor sebaya adalah pengalaman yang menantang, yang paling sering saya alami.

Lalu, apa pentingnya peran konselor sebaya untuk mereka yang terbilang remaja saat itu ketimbang konselor profesional? Berbeda dengan konselor profesional, konselor sebaya menjadi bagian dari kelompok tersebut sehingga para konselor sebaya mengetahui dan terjun langsung di komunitas tersebut.

Sedangkan, konselor profesional tidak. Adanya perbedaan gaya komunikasi antara konselor sebaya dengan konselor profesional, membuat konselor sebaya lebih mudah diterima dalam komunitas tersebut. 

Adanya pola pikir yang serupa pula lah, konselor sebaya bisa memberikan dukungan yang sesuai dan dibutuhkan untuk pencerita masalah. Ditambah lagi, para pencerita yang masih remaja, lebih sulit untuk menemukan konselor profesional karena terkendala biaya yang tidak sedikit.

Selain itu, kesan yang beredar di masyarakat Indonesia yang berpendapat, bahwa orang yang menemui Psikolog atau Psikiater adalah “orang gila”. Hal ini, membuat semakin banyak remaja indonesia yang enggan menggunakan jasa profesional.

Tugas saya sebagai konselor sebaya adalah mendengarkan. Menurut saya, banyak pencerita masalah yang sebenarnya sudah tahu harus melakukan apa, tetapi mereka butuh validasi dan penguatan, agar dapat menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, konselor sebaya membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan aktif dan perhatian.

Tentunya, saya mendapat kebahagiaan tersendiri, bila saya bisa membantu orang lain. Selain itu, saya banyak belajar untuk melihat masalah dari berbagai perspektif dan kacamata yang berbeda. Saya juga sering terpukau oleh kemampuan berbagai orang untuk menganalisa situasi yang dapat membuka wawasan saya lebih baik lagi. 

Buat saya, hal terpenting dari kehadiran konselor sebagai adalah dukungan emosional ketika seseorang memiliki permasalahan.

Menurut saya, masih banyak orang yang tidak bisa mendapatkan dukungan emosional dari orang-orang terdekat mereka ketika mereka dihadapi berbagai masalah. Bagaimanapun, dukungan emosional sama pentingnya dengan dukungan fisik atau pun dukungan financial.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai konselor sebaya tersebut, saya berpendapat bahwa perlu ada kriteria tertentu dalam memilih konselor sebaya yang baik.

Menurut saya, seorang konselor sebaya harus memiliki empati, bisa menjadi pendengar yang baik, memiliki kemampuan menganalisa dan berpikir kritis, serta kemauan untuk belajar. Menjadi konselor sebaya diperlukan kerelaan untuk membantu orang lain, sehingga pencerita masalah tidak merasa dihakimi atau dipergunjingkan dalam komunitas mereka.

Saya setuju dengan apa yang sudah dirintis Ruanita, sebagai social support system untuk orang-orang Indonesia di luar Indonesia.

Bersama Ruanita, saya merencanakan program konselor sebaya untuk kelompok orang muda Indonesia yang sedang merantau ke luar negeri, khususnya di Jerman sebagai rumah kedua saya sekarang. 

Mereka yang disebut kelompok muda adalah mereka yang memasuki usia perkembangan dewasa muda, 18-30 tahun. Saya berharap KJRI/KBRI dapat mendukung program ini dengan memfasilitasi kebutuhan pelatihan konselor sebaya yang berkelanjutan dan memperkenalkan program konselor sebaya sebagai bagian dari inisiatif warga Indonesia di luar Indonesia.

Penulis, Alexandra. Saya adalah anak rantau yang mengejar cita-cita di Jerman. Temui saya di Instagram shafira1809 untuk berbagi cerita dan pengalaman saya selama merintis karier di Jerman. 

(CERITA SAHABAT) Praktik Mindfulness Lewat Meditasi Hanya Lima Puluh Ribu Rupiah

Halo, sahabat Ruanita. Nama saya Gitanyali Dayinta Ratitia, yang biasa dipanggil Tiara. Saya tinggal di Magdeburg, Jerman sekarang, tetapi saya juga Permanent Resident Singapore dan pernah menetap lama di sana. Sehari-hari saya beraktivitas sebagai Praktisi Reiki, Life Coaching, pemilik SPA dan saya juga sedikit-sedikit mulai mempelajari psikologi juga.

Saya ini mempraktikkan Healing Therapy kepada klien-klien saya, termasuk mengajari klien saya untuk bermeditasi. Silakan terus ikuti cerita saya ini, siapa tahu kalian tertarik melakukan praktik meditasi juga. 

Masih ada anggapan bahwa meditasi dikaitkan dengan keyakinan atau ajaran agama tertentu. Namun menurut saya, meditasi adalah latihan tentang bagaimana kita bisa bekerja, sehingga pikiran kita menjadi aktif dalam kesadaran.

Banyak orang yang tidak sadar dalam beraktivitas sehari-hari. Nah, meditasi membantu kita menyadari kehadiran penuh tentang apa yang kita lakukan. Sebenarnya, banyak hal dalam hidup yang berada di luar kendali kita. Tentunya, ini berkaitan juga tentang bagaimana cara kita merespon situasi yang kita hadapi dalam hidup. 

Agar kita memiliki kesadaran penuh tentang bagaimana pikiran kita itu bekerja, maka kita perlu memiliki kemampuan untuk mempertahankan fokus tersebut.

Meditasi adalah salah satu cara untuk melakukan fungsi Mindfulness tersebut. Meditasi memberikan manfaat ketenangan, memusatkan perhatian, dan bagaimana kita bisa menjadi pribadi berkualitas yang melatih empati, fokus, dan kesabaran.

Saya mengenal meditasi ketika saya menginjak usia sekitar dua puluh tahunan. Saat itu, saya masih tinggal di Singapura dan masih menikah dengan seorang pria asal Singapura. Saya merasa bahwa hidup di negeri orang itu tidak mudah, yang mana saya mengalami fase kehidupan yang sangat berbeda dari Indonesia.

Saya mengalami benturan seperti budaya, bahasa, mentalitas orang, dan sebagainya sehingga membuat saya stres, mudah marah, tidak merasa tenang, dan hidup yang hedonis, Chaos hampir tidak ada kedamaian. Hidup saya, saat itu tidak balance. 

Karena permasalahan tersebut, saya pun mencari tahu penyebabnya. Di Singapura memang tumbuh subur komunitas klub-klub meditasi, terutama kelompok meditasi yang berasal dari etnis India dan Chinese. Saya pun mulai tertarik mengikuti acara-acara mereka. Awalnya, saya mencoba dengan bermeditasi itu ternyata tidak mudah karena dalam pemahaman saya waktu itu bermeditasi berarti fokus dalam kesatuan, padahal dalam praktiknya otak kita itu seperti: monkey brain, monkey see, monkey do.

Bagaimana mau fokus dengan sesuatu kalau kepala kita banyak sekali aneka ragam persoalan dan macam-macam problem? Ternyata pemahaman pertama saya tentang meditasi ini salah! Yang benar adalah sebenarnya memfokuskan terlebih dahulu pernapasan yang keluar dan masuk baru dengan mengikuti ritme pernapasan sendiri.

Meditasi dilakukan dengan duduk bersila dan mencoba mengosongkan pikiran. Saya pun patuh mengikuti alur yang diinstruksikan, seperti musiknya atau kalimat Leader yang menuntun kita untuk melakukan teknik meditasi. Makin lama, saya merasakan ada energi yang berevolusi atau bertransformasi dalam diri saya.

Dari perangai saya, yang adalah orang yang mudah marah dan tidak sabaran, menjadi diri saya yang sabar dan penuh empati pada orang lain. Perubahan ini saya rasakan real dalam realitas hidup saya setelah melakukan meditasi tersebut. 

Setelah meditasi, saya merasakan kegembiraan tersendiri, dalam arti hidup saya menjadi lebih plong atau semua terasa ringan. Setiap ada permasalahan, saya selalu mengambil dari sisi yang positif. Itu membuat saya berhasil keluar dari permasalahan tersebut. Saya seperti memakai kacamata yang positif dan indah dalam hidup. 

Siapa bilang meditasi itu bisa dengan mudah dilakukan setiap hari. Tidak! Tentunya, kita berhadapan dengan rasa malas dalam diri untuk melakukan meditasi. Ketika rasa malas sudah menyerang, itu bisa menjadi musuh utama dalam melakukan meditasi. 

Ketika rasa malas muncul, timbul dalam pikiran saya ‘mengapa saya perlu melakukan meditasi?’ Setelah bermeditasi, beban masalah hidup yang saya alami itu seperti “terlempar” dan saya merasa lebih ringan. Saya merasa lebih kuat dalam menjalani hidup. Lewat meditasi, itu seperti memberikan energi kebesaran saya sebagai manusia.

Banyak manusia tidak memahami bahwa kita ini diciptakan dengan sempurna oleh Tuhan. Hanya kacamata pikiran manusia saja yang belum sampai dan selalu berpikir Kita tidak sempurna , makanya kebanyakan manusia mencari-cari kesalahan dan kekurangan diri sendiri dan kekurangan orang lain supaya menjadi “sempurna”.

Padahal Tuhan menciptakan kita sempurna . Kita adalah ciptaannya yang sempurna. Dengan meditasi, kita berlatih kesadaran untuk sadar bahwa dalam ciptaan Tuhan yang maha sempurna ini kita sudah cukup.

Melalui meditasi, kita bisa memahami bagaimana kita sebagai manusia menjadi bagian dari alam semesta untuk saling menyempurnakan dengan sesama makhluk lainnya. Dan berbagi kebahagiaan keceriaan dan Keberkahan akan hidup itu sendiri. 

Untuk sahabat Ruanita yang ingin memulai praktik meditasi, pertama-tama kalahkan dulu itu rasa malas dalam diri. Kedua, kebanyakan orang tidak tahu teknik melakukan meditasi. Selain rasa malas dan ketidaktahuan teknik meditasi, tentu ada anggapan bahwa orang yang mengalami gangguan kecemasan itu susah mempraktikkan meditasi. 

Saya menyarankan untuk tidak langsung duduk dan bermeditasi, tetapi mereka yang mengalami gangguan kecemasan dapat mulai latihan pernapasan terlebih dulu, sambil mendengarkan musik meditasi.

Ini memang sulit dan butuh perjuangan di awal. Lakukan dengan fokus kemudian lakukan pengulangan, selama 5 sampai 10 menit. Tidak usah berpikir untuk menjadi sempurna dan benar dalam melakukan meditasi. Ikuti irama pola pernapasan dan mengalir apa adanya , jangan berperang dengan pikiran. Ikuti alurnya dan mencoba berdamai. 

Dan ada kabar baiknya, saya juga menawarkan kepada kalian semua yang ingin praktik meditasi lewat teknik 28 hari yang bisa ditemukan linknya di akhir cerita ini.

Di sana, saya mengajari langkah demi langkah untuk melakukan meditasi. Misalnya, teknik meditasi dimulai dengan hitungan nafas. Bernafas itu pun sudah bisa disebut dengan meditasi. Bersyukurlah, kalau kita masih bisa bernafas, berarti kita masih diberi kehidupan. 

Kebanyakan orang hidup bernafas, tetapi tidak menyadari bahwa mereka itu masih hidup. Artinya, orang-orang tersebut tidak sadar sepenuhnya. Meditasi itu bisa dilakukan sendiri atau saya menawarkan kelas offline selama 28 hari. Setelah praktik meditasi 28 hari, saya berharap kalian bisa merasakan manfaat meditasi.

Semua langkah-langkahnya dapat dilakukan lewat media video dan lembar kerja sederhana yang saya sertakan tersebut. Tantangannya tentu tidak mudah. Baru sepuluh menit latihan, tiba-tiba pikiran kita dipenuhi dengan berbagai hal chaotic, sehingga pikiran kita menjadi chaos. Tentunya, latihan meditasi itu perlu perjuangan. Mulailah mengikuti latihan meditasi dari hari pertama hingga hari kedua puluh delapan, seperti yang saya ajarkan dalam teknik meditasi untuk pemula tersebut. 

Saya hanya minta kontribusi dari peserta yang ingin serius latihan meditasi dengan membayar sebesar lima puluh ribu rupiah. Saya melakukan ini semua, sebagai bentuk rasa syukur atas hidup saya.

Untuk menemukan kelas latihan meditasi, dapat dilihat dengan mengikuti pranala berikut https://ratitia-loell.mayar.link/pl/tantangan-kesadaran-28-hari atau temukan juga link Bio Instagram Ruanita. 

Penulis: Ratitia atau Tiara, pemilik dan pengelola Bali Java Wellness Healing di Magdeburg, Jerman. Dapat dikontak via akun Instagram balijava_wellness_healing atau akun TikTok @tiarasaja7.

(IG LIVE) Menyiasati Posisi Generasi Sandwich Saat Tinggal di Luar Indonesia

Dalam diskusi IG Live episode Juli 2024 mengangkat tema generasi sandwich, yang mungkin banyak relate dengan sahabat Ruanita yang tinggal di luar Indonesia dan sedang berada dalam posisi ini.

Namun begitu, tak banyak juga yang tahu istilah generasi sandwich tetapi kita telah berperan sebagai generasi sandwich meski tinggal jauh berada di luar Indonesia.

Untuk membahas lebih dalam, kami mengundang sahabat Ruanita yakni Ranindra Anandita, seorang Psikolog yang bermukim di Prancis dan Alfa Kurnia, seorang Mom Blogger yang tinggal di Brunei Darussalam.

Diskusi IG Live ini sepenuhnya dimoderasi oleh Rida Luthfiana Zahra, seorang relawan Ruanita yang sedang menempuh studi S2 di Jerman.

Banyak orang awam beranggapan bahwa generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja, padahal Ranindra menegaskah ada juga posisi generasi sandwich terjadi di Eropa atau Amerika saja.

Namun, cara pandang budaya di Asia atau Indonesia justru memperkuat dan menegaskan bahwa anak perlu bertanggung jawab kepada orang tua yang sudah melahirkan dan merawat sebelumnya.

Follow us

Sementara di budaya barat, peran ini ada tetapi diperkuat lagi dengan fasilitas yang tersedia bahwa orang-orang tua pun bisa mandiri atau tinggal di panti jompo.

Sementara Alfa Kurnia juga menceritakan bahwa tinggal di luar Indonesia itu tidak mudah dan tidak murah. Hal ini banyak tidak dipahami keluarga-keluarga di Indonesia yang menganggap tinggal di luar Indonesia itu lebih dari berkecukupan daripada tinggal di Indonesia.

Padahal berada dalam posisi generasi sandwich dan tinggal di luar Indonesia adalah dilema yang membuat mereka terbebani, bahkan tidak mungkin menjadi burnout.

Generasi sandwich ini juga bisa memunculkan intergenerational traumatic akibat anak-anak mengamati bagaimana relasi orang tua dengan nenek-kakeknya selama ini. Kita perlu memperhatikan bagaimana anak-anak memandang hal tersebut.

Peran menjadi generasi sandwich tidak hanya seputar tanggung jawab moral saja, tetapi juga tanggung jawab financial yang tidak mudah juga. Kita perlu bersikap hati-hati agar tidak memunculkan mindset yang berujung ke trauma untuk generasi berikutnya.

Lalu apa sih sebenarnya generasi sandwich itu? apakah generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja? Apakah benar generasi sandwich itu bisa menimbulkan burnout atau masalah mental di kemudian hari? Bagaimana sebaiknya kita bisa menyiasati tinggal di luar Indonesia tetapi masih terbenani dengan posisi generasi sandwich? Apa pesan dua tamu diskusi IG Live ini untuk sahabat Ruanita yang sedang menjalani peran generasi sandwich?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube kami sebagai berikut:

(CERITA SAHABAT) Mendampingi Anak Saat Masa Mengompol Sekunder

Mengompol atau yang lebih dikenal dengan nocturnal enuresis adalah suatu kondisi keluarnya urin secara tidak sengaja. Mengompol Sekunder adalah mengompol yang kembali terjadi setelah sang anak tidak pernah mengompol lagi setidaknya dalam kurun waktu setelah 6 bulan dari masa mengompol primer atau mengompol usia bayi.

Pada tahun 2018,  kami sekeluarga pindah ke Jepang. Saat itu, usia anak pertama kami 3 tahun. Kami lalu menapaki lembar kehidupan baru dengan segala ritme dan kultur baru bagi kami. Alhamdulillah, anak kami sudah lulus toilet training sejak usia 2 tahun. Selama di Jepang, singkat cerita adaptasi terjadi dengan cepat dan sangat baik bagi semua, terutama untuk anak kami.  

Pada tahun 2021, kami sekeluarga pindah ke Berlin, Jerman. Saat itu, anak pertama hampir berusia 6 tahun dan anak kedua berusia hampir 3 tahun. Penyesuaian diri pun tak elak kami lakukan. Penggunaan bahasa di rumah pun mengalami perubahan, Bahasa Jepang lalu Bahasa Jerman yang tentunya sangat berbeda. Sistem bahasa di rumah kami, One Parent One Language, mengalami sedikit perubahan. Dengan ayahnya, anak-anak tetap berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris.

Sedangkan dengan ibunya, komunikasi yang digunakan semula Bahasa Jepang, kini saya putuskan beralih ke Bahasa Jerman. Hal ini dilakukan untuk kepentingan mendukung proses adaptasi, terutama di lingkungan sekolah. Begitu kami tiba, di tahun anak kami menginjak usia sekolah dasar.  Inilah juga awal cerita mengenai mengompol sekunder yang dialami anak saya. 

Tahun 2021 juga bertepatan dengan masa transisi Pandemik ke Endemik. Kami datang ke kota dan negara baru yang bertepatan dengan tahun ajaran Sekolah Dasar dimulai. Ternyata, ini menjadi babak yang mungkin ‘spektakuler´ untuk anak pertama kami. Pada beberapa hari pertama sekolah, pengalaman anak masih lumayan smooth dan terjadilah mengompol sekunder ini, terutama ketika malam hari.

Beruntung, ketika dia mulai merasa berkemih, dia cepat terbangun dan lari ke toilet. Memang tidak merembes banyak tetapi dengan sifat perfeksionisnya, ternyata ini lumayan membuat dia frustasi. Ini terjadi setidaknya hampir seminggu. 

Pada siang hari, beberapa kali pun sempat terjadi tetapi sekedar terlambat menyadari dan kemudian bisa ditahan, lalu dia berlari menuju toilet. Awalnya, saya melihat ini sesuatu yang biasa. Namun ketika ini terlihat berulang, mulailah saya merasa cemas. Pembawaan sosok saya yang sering disebut tegas, pun turut campur. Ternyata ini pun menjadi salah satu pemicu yang membuat frustasi anak menjadi terasa lebih berat.  

Untuk anak usia sekolah dasar,  yang kemudian dilakukan ibu biasanya adalah membantu mengingatkan lagi tentang rutinitas seperti membiasakan berkemih sebelum tidur dan mengingatkan untuk tidak menahan keinginan berkemih jika sedang asyik bermain. Dalam kondisi anak yang merasa frustasi, pada diri anak yang dilihat adalah “Mama yang Cerewet”. Dengan ketidakmengertian, tidak memahami, dan jauh dari kesan membantu sehingga ini membuat saya patah hati.

Follow us

Sebagai ibu di zaman sekarang ini, sikap open minded saya pikir penting sekali. Selama beberapa hari dengan tujuan Bonding ibu dan anak, saya mencairkan suasana dengan sengaja menjemput dia lebih awal dari sekolah. Anak tidak mengikuti kegiatan daycare after school.

Saya mengajak dia makan siang berdua, bermain di taman sambil berpiknik, pergi ke tempat-tempat favoritnya, hingga kami pergi menonton film di bioskop hanya berdua saja. Kami melakukan banyak pelukan, mengusap kepala, bahkan bercanda lembut, mengucapkan banyak kata penuh makna kasih sayang, dan mengapresiasi atas segala hal baik yang dia lakukan. 

Tentu selama ´bonding´ ini, observasi tetap berjalan sambil sedikit demi sedikit mengeksplorasi perasaannya seperti masalah-masalah yang sedang dia hadapi. Namun, saya berusaha untuk tidak langsung ´frontal´menelisik pada masalah mengompol sekunder ini. Saya berasumsi pada saat itu, anak saya pun tidak memahami apa yang menjadi penyebab dia bisa mengompol lagi.

Saya berpikir, sangat tidak tepat rasanya pada kondisi tersebut bertanya: “mengapa bisa begini, begitu…’” pada anak. Toh,  anak pasti tidak bisa menjawabnya. Walaupun pertanyaan tersebut adalah bentuk kecemasan dengan sedikit kesal dari ibu, tetapi percayalah kita tidak akan mendapatkan jawaban dari anak.  

Yang terjadi adalah ibu dan anak akan sama-sama terjebak pada area debat kusir yang bercampur emosi.  Mungkin, ini bisa terjadi setelah terdapat “dinding pemisah tinggi dan tebal” yang terbangun antara ibu dengan anak. Oleh karena itu, kita sebagai ibu harus berusaha tenang sebisa mungkin meskipun berbagai rasa cemas, penasaran serta emosi lain yang dirasakan. 

Berjalan beberapa hari, saya mulai melihat ada titik terang. Lalu, saya datang kepada dua teman saya yang berprofesi sebagai Dokter dan Psikolog Anak. Saya datang berkonsultasi tentang masalah dan membawa beberapa kesimpulan hasil Bonding dan observasi yang sudah saya lakukan.

Dari konsultasi bersama ahli tersebut, saya semakin memahami mengenai mengompol sekunder. Selain itu, saya jadi memahami bahwa mengompol pada anak harus mendapatkan penanganan yang benar. 

Anak yang mengompol bukanlah anak yang malas atau nakal. Ada beberapa penyakit atau hal psikologis yang bisa terkait. Walaupun memang kebanyakan anak-anak yang mengompol tidak memiliki masalah kesehatan, mengompol biasanya akan membuat stres untuk orang tua. Namun patut diingat bahwa stres juga terjadi pada anak itu sendiri dan membuat anak tumbuh jadi anak yang tidak percaya diri apabila tidak ditangani dengan benar.

Pada kasus anak saya, mengompol sekunder ini terjadi pada masa-masa proses adaptasi lingkungan  dan sekolah baru, di mana ada rasa sedih yang mendalam terkait perpindahan dari Jepang ke Jerman. Usianya pada saat itu sudah memahami merasakan jalinan pertemanan, memiliki bonding dengan lingkungannya tetapi kemudian harus pindah ke tempat baru dan meninggalkan itu semua. 

Ketika datang ke lingkungan baru, ada banyak hal yang harus dicerna, budaya, kebiasaan – kebiasaan serta bahasa yang tentunya begitu berbeda. Begitu banyak hal yang harus dicerna dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, mungkin membuat jadi letih berlebih dan berimbas terhadap pengendalian diri dalam berkemih.

Berdasarkan teman – teman saya tadi, saya mendapat insight bahwa mengompol sekunder terjadi diduga karena ada masalah atau penyakit lain yang mendasarinya. Oleh karena itu, masalah atau penyakit yang mendasarinya ini yang harus dulu ditangani, sehingga diharapkan gangguan mengompol tidak terjadi lagi.

Karena masalahnya adalah psikologis, maka yang anak saya butuhkan adalah dukungan dan kehadiran sosok ibu yang menemani, meraih genggaman tangannya saat dia merasa tidak aman, mendekap erat saat dia merasa cemas, dan menyemangati dia. Benar saja, setelah masa-masa adaptasi awal ini terlewati dengan baik, dia tidak mengompol lagi. 

Pentingnya mencari tahu dengan bertanya kepada ahli atau membaca juga berpengaruh sekali bagi ibu untuk bisa tetap tenang. Oleh karena itu, saya pun mencari tahu dan mendalami mengenai mengompol pada anak. Banyak artikel saya baca dan video-video saya tonton.

Sebagai penguatan batin sebagai ibu, saya pun membaca banyak artikel dan cerita mengenai luar biasanya seorang ibu. Meneladani kisah-kisah tersebut bahkan sepenggal quotes ringan tentang ibu pun saya baca hampir setiap hari. 

Pesan saya untuk Sahabat Ruanita, menjadi ibu memanglah tidak mudah. Namun tetaplah optimis dan tanamkan selalu sifat mau terus belajar. Karena jiwa yang sedang kita besarkan bukan hanya sejiwa ini, tetapi ada jiwa lain yakni jiwa anak kita. Sebagai orang tua, kita perlu mendampingi anak melewati masa-masa sulit yang juga bagian dari tumbuh kembang.

Penulis: Nadiya Dewantari, Freelancer, dan ibu dari dua orang anak. Nadiya juga fasih berbicara dalam Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, dan Bahasa Jepang.  Nadiya pernah tinggal di Jepang, kini menetap di Jerman.

(PODCAST RUMPITA) Berkuliah Sambil Berwirausaha di Jerman

Dalam episode ke-22 diskusi Podcast Rumpita mengambil tema kehidupan pelajar di Jerman sambil berwirausaha. Sebagai pelajar di Jerman, kita dibatasi oleh aturan untuk bekerja yang terbatas dalam hitungan gaji/pendapatan yang tidak melebihi batas dikenakan pajak.

Di Jerman, pelajar yang ingin bekerja terhitung dalam penghasilan mini jobs. Tentunya, perjuangan untuk bertahan hidup di Jerman dengan segala kesukarannya memenuhi kehidupan sehari-hari dialami juga oleh Cynthia Utami, yang mengelola usaha masakan padang (lewat akun Instagram: kualiangek). Cynthia kini studi di Sosiologi di salah satu universitas di Jerman.

Rupanya aktivitas Cynthia pun tak hanya berwirausaha, dia pernah terlibat menjadi pengurus PPI. Lainnya, Cynthia juga founder dari Ikatan Pelajar Minang Internasional (IPMI). Untuk Ikatan IPMI ini, dapat dikontak via akun Instagram ipmi.internasional dan akun Instagram Cynthia dapat dikontak ke akun cynthiautami12.

Follow us

Tentunya Cynthia perlu membagi waktu antara berkuliah dengan berwirausaha. Cynthia mengambil di sela-sela kesibukan kuliah untuk berdagang, demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ketika masa ujian datang, Cynthia pun membatasi usaha wirausahanya. Cynthia pun berjualan hanya berdasarkan pesanan dan kebutuhan untuk berdagang sesuai acara.

Cynthia akan menjual dagangan masakan padangnya hanya pada saat musim dingin, sehingga pelanggan tetap menerima masakan dalam kondisi fresh dan pesanan dalam jumlah terbatas. Cynthia pun benar-benar mendapatkan rempah-rempah fresh yang dijual di toko Asia di Jerman dan bumbu rempah yang tidak ada di Jerman, benar-benar didatangkan langsung dari Indonesia.

Cynthia sendiri mengaku tidak berpengalaman dalam memasak di Indonesia. Cynthia pun menjelaskan teknik dan cara memasak masakan Padang yang memiliki bervariasi, termasuk rempah-rempah Indonesia yang sangat kaya yang bisa dikatakan menjadi rahasia racikan masakan Padang. Cynthia pun bangga dengan kultur orang Padang, yang mahir dalam berdagang dan bisa survive di tanah rantau.

Bagaimana Cynthia membagi waktu antara berkuliah dengan berwirausaha? Apa rahasia masakan Padang sebenarnya? Apa saja tantangan Cynthia sebagai mahasiswa untuk berwirausaha di Jerman? Apa yang mendasari Cynthia untuk berwirausaha masakan padang seperti nasi kapau di Jerman? Bagaimana Cynthia mendapatkan bumbu orisinal, meracik masakan hingga memasarkannya di Jerman? Sebagai orang Minang, apa yang membuat Cynthia mendirikan IPMI?

Simak selengkapnya diskusi Podcast Rumpita berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Berbagi Pengalaman Kerja Tentang Empat Orang dengan Epilepsi

Halo Sahabat Ruanita, kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman kerja bersama Orang Dengan Epilepsi (ODE) atau ada juga yang menyebutnya ayan. Saya pernah bekerja lebih dari 10 tahun di panti sosial untuk orang dengan disabilitas. Semua klien, begitu kami menyebut mereka, adalah orang dengan disabilitas mental, yang memiliki keterbatasan intelegensi dan fisik. Beberapa dari mereka juga mempunyai epilepsi.

Ada yang sering kejang (seizure), tapi ada juga yang tidak pernah. Karena banyaknya klien dengan epilepsi, yayasan kami juga menyediakan seminar sehari tentang epilepsi untuk karyawannya yang membutuhkan. Saya pernah mengikuti seminar ini, sayangnya sekarang sudah tidak ada lagi yang tertinggal. Satu-satunya hal yang saya ingat dari seminar itu adalah video tentang semut yang dianalogikan sebagai sel saraf di otak manusia, sebagai penjelasan tentang kejang. Video berbahasa Jerman ini bisa ditonton ulang di YouTube.

Saat masih kecil, saya sering dengar orang dengan epilepsi akan kambuh saat maghrib atau menjelang malam dengan ciri-ciri seperti tubuh yang kejang dan mulut berbusa. Stigma lain, yang pernah saya dengar adalah tubuh orang yang sedang mengalami kejang harus ditahan, untuk menghentikan kejang. Setelah bekerja di panti sosial, saya tahu stigma tersebut tidak 100% benar. Kejang tidak hanya terjadi saat maghrib atau menjelang malam, tapi kapan saja dan di mana saja. Tubuh orang yang sedang kejang juga tidak boleh ditahan, tapi dibiarkan saja sampai kejang berhenti dengan sendirinya.

Dulu di panti sosial kami, tinggal seorang klien laki-laki kelahiran tahun 60an. Beberapa tahun lalu, dia pindah ke panti jompo di kota tempat adik perempuannya tinggal. Kita sebut dia dengan klien pertama, karena saya akan menceritakan tiga klien lainnya. Dia adalah orang dengan autisme dan orang dengan epilepsi juga. Kejang epilepsinya sering kambuh tidak hanya ketika di panti, tapi juga di luar, misalnya ketika dia sedang jalan-jalan sendiri. Jika hal ini terjadi di luar, pejalan kaki yang kebetulan melihat akan menelepon ambulans yang membawanya ke Unit Gawat Darurat (UGD). Tidak heran, kami akan mendapatkan telepon dari UGD yang mengabarkan keadaan dia. 

Walau sering mengalami kejang, beruntung hal ini tidak membahayakan. Kami hanya perlu memastikan, bahwa tempat sekitar dia aman untuknya. Misalnya, kita perlu menyingkirkan bangku dan meja, jika dia mengalami kejang di dapur, dan terjatuh ke lantai. Hal ini untuk menghindari dia agar tidak terluka. Saat sedang mengalami kejang, dia tidak sadarkan diri, tubuhnya akan kaku juga, kejang berulang kali, dan mulutnya mengeluarkan busa. Setelah beberapa detik atau menit, dia akan kembali sadar dan kami akan membantunya untuk kembali berdiri dan duduk di kursinya. Kejang dia tidak berbahaya, karena dia akan kembali sadar setelah 1-3 menit dan tidak berulang. Hal itu akan menjadi berbahaya, jika kejang berulang dengan interval dekat dan/atau lebih dari tiga menit. Jika ini terjadi, kita harus menghubungi ambulans.

Kejang yang dia alami tidak selalu dengan dengan tubuh kaku dan kejang-kejang, sehingga membuat dia terjatuh, tapi bisa juga hanya kepalanya bergerak ke kanan dan kiri seperti orang sedang menggeleng dan matanya tertutup, atau pandangannya kosong. Jika ini terjadi, dia masih bisa duduk dengan stabil di kursinya. Kesadarannya akan datang, setelah beberapa detik, dan dia bisa melanjutkan aktivitasnya lagi dengan biasa.

Kalau tidak salah, pertama kali saya melihat dia kejang, adalah saat dia sedang di kamar mandi dan saya kebetulan ada di sana. Beruntungnya, saya tidak bekerja sendirian di hari itu. Jadi, saya berteriak memanggil rekan kerja saya, yang sudah lebih lama bekerja di panti kami. Kejang selanjutnya yang saya lihat, saat klien tersebut di dapur. Saya sudah lebih santai dan tahu itu tidak berbahaya. Saya dan rekan kerja hanya memberikannya ruang dengan menyingkirkan barang-barang di sekitarnya, agar dia tidak terluka. 

Pernah juga saya pergi berjalan-jalan dengan dia dan beberapa klien lainnya, tiba-tiba klien pertama mendadak kejang dan terjatuh di trotoar. Beruntung, ada pejalan kaki yang datang membantu melakukan pertolongan pertama ke dia, sementara saya menelepon ke panti untuk memberi kabar. Kami tidak memanggil ambulans, tetapi bos saya datang dengan mobil untuk menjemputnya. Oh iya, baru-baru ini bos saya bilang, klien pertama sudah bisa merasakan jika ia akan mengalami kejang. Tandanya, adalah jika ia menggosok-gosokkan tangannya di atas pahanya. 

Setelah dia pindah ke panti wredha, tidak ada lagi klien di panti kami yang mengalami kejang. Mungkin saja klien-klien adalah orang dengan epilepsi tanpa kejang atau terbantu dengan obat dari dokter. Singkat cerita, di tahun 2020 kami mempunyai klien baru yang juga orang dengan epilepsi. Sebelumnya, dia tinggal di panti di kota lain. Kita sebut dia sebagai klien kedua.

Saya sendiri tidak mengerti bagaimana ciri-ciri dia saat sedang kejang. Dia sering tertidur di atas sofa, di koridor utama di depan ruangan kerja kami. Informasi dari rekan kerja saya, saat itu dia sedang mengalami kejang. Menurut saya, dia hanya terlihat seperti tidur normal.

Di kasur tempat dia tinggal sebelumnya, selalu ada baby phone yang dinyalakan setiap malam untuk mengetahui, ketika dia mengalami kejang saat tidur. Menurut ibunya, dia akan mengeluarkan bunyi-bunyian jika itu terjadi. Baby phone tersebut hanya digunakan di bulan pertama dia tinggal di panti kami. Klien kedua ternyata memang tidak bisa tidur dengan tenang dan itu mengganggu karyawan yang sedang melakukan shift malam. Di panti kami, memang shift malam diperbolehkan tidur, bahkan tidak dibayar jika dia terjaga sepanjang malam. Baby phone tidak lagi digunakan atas persetujuan ibunya. 

Alternatif untuk dia, adalah alat sensor kejang yang dipasang di kasurnya. Alat ini akan mengirimkan peringatan surel ke alamat surel yang penggunanya telah terdaftar, jika dia mendeteksi kejang. Tidak hanya itu, aktivitas tidur juga terdokumentasi di alat, dan bisa dikirim ke surel dalam bentuk grafik gelombang. Dalam grafik tersebut, bisa dibaca kapan kejang terjadi dan berapa parah. Dengan data ini juga, ibu klien kedua berkonsultasi ke dokter neurologi. Waktu itu, alat ini masih prototipe, saya tidak tahu kelanjutan dari proyek tersebut. Namun, jika kita cari di Google, ada juga beberapa produk serupa, dan peringatan dikirim tidak hanya lewat surel, tapi juga lewat telepon.

Follow us

Pertengahan tahun lalu, satu bulan setelah ulang tahunnya ke-30, klien kedua meninggal dunia dalam tidur. Rekan kerja saya menemukan tubuhnya sudah dingin dan kaku, saat pagi-pagi dia ingin membangunkannya. Sesuai dengan prosedur, polisi mengirimkan jenazahnya ke dokter forensik untuk mengetahui penyebab kematian. Hasilnya, adalah apnea atau keadaan berhenti bernafas saat tidur. Sayangnya, tidak ada orang atau keluarganya yang memberikan penjelasan lebih lanjut kepada kami, apakah epilepsi anfal adalah penyebabnya. Sayangnya lagi, beberapa bulan sebelum dia meninggal, alat deteksi kejang dicopot dari kasurnya, karena dia lebih sering tidur di sofa di kamarnya. Ironisnya, pada malam kejadian itu, dia tidur di kasurnya. Kasur tersebut baru saja dipasang oleh bapaknya sehari sebelumnya.

Kematian mendadak pada orang dengan epilepsi, dikenal sebagai SUDEP (Sudden Unexpected Death in Epilepsy) adalah komplikasi terberat yang bisa terjadi saat kejang terjadi. Menurut website sudep.de, setiap tahunnya sekitar 700 orang meninggal karena SUDEP di Jerman dan 50.000 orang di dunia. SUDEP terjadi saat tidur dan 70% kasusnya terjadi pada malam hari atau waktu subuh. Untuk teman-teman yang bisa berbahasa Jerman, silakan buka website yayasan sudep.de untuk mendapatkan informasi lebih jelas tentang SUDEP dan bagaimana pencegahannya.

Selain klien kedua, ada satu orang klien kami yang sejak tahun 2022, mulai mengalami kejang. Kita sebut dia sebagai klien ketiga. Sebelumnya, dia tidak punya sejarah epilepsi dan tidak pernah mengalami kejang. Dia berumur awal 50an dan orang dengan Down Syndrom. Dia tidak bisa berbicara dan tidak mengerti hampir semua hal.  

Pertama kali, dia kejang terjadi di meja makan. Dia “tertidur” di meja makan saat sedang sarapan. Saya melihat bagaimana kepalanya, semakin lama semakin turun, sampai akhirnya menyentuh meja. Dia terlihat lemas, mukanya pucat, dan tidak bisa dibangunkan, seperti tidak sadarkan diri. Beberapa menit kemudian, dia sadar dengan sendirinya. Saat kembali sadar, dia seperti baru bangun dari tidurnya saja. Sayangnya, dia tidak bisa berbicara. Jadi, dia tidak bisa bercerita apa yang dialami. 

Tahun lalu, dia semakin sering mengalami kejang. Entah mengapa, itu terjadi selalu ketika saya sedang bekerja, dan saya menyaksikannya langsung. Kejang pertama yang membuatnya terluka terjadi di kamar mandi, di depan kamarnya. Waktu itu, saya sedang berjalan menuju ruangan cuci melewati kamar mandi tersebut. Saya lihat, dia sedang berdiri di tengah kamar mandi. Tidak lama kemudian, saya mendengar suara kencang, seperti sesuatu terjatuh. Saya lari menuju kamar mandi dan dia terbaring di sana, dengan muka menyentuh lantai. Tubuhnya kaku dan tidak sadarkan diri.  Saat kembali sadar, dia duduk bersila, dan mengeluarkan bunyi yang biasa keluar dari mulutnya. Satu gigi seri dia patah karena kejang tersebut, padahal dia hanya memiliki lima gigi.

Kejang selanjutnya terjadi lagi, saat saya kerja. Kali ini kejang berulang. Dua kejang pertama, terjadi pagi hari, saat saya belum datang. Rekan kerja pada shift malam melihat dia bagaimana terjatuh dari kursi di kamarnya, dengan kening duluan. Keningnya sobek. Saat saya datang, klien kami duduk di kursi rodanya di dalam kamarnya. Rekan kerja saya mendorongnya ke depan dan ke belakang, agar dia diam duduk di sana sampai ambulans datang. Petugas ambulans yang kemudian datang, membawanya ke Unit Gawat Darurat (UGD), untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kalau saya tidak salah, hari itu dia mengalami 4-5 kali kejang. 

Kejang selanjutnya terjadi, ketika saya juga bekerja. Saat saya datang pagi itu, rekan kerja pada shift malam bilang klien kami sempat kejang sebentar di kursi di ruang makan saat sarapan, karena itu dia tidak dikirim ke layanan daycare, tempat dia biasanya beraktivitas di siang hari. Saya tidak terpikir, dia akan mengalami kejang berulang seperti sebelumnya, sampai rekan kerja saya lainnya memanggil saya dari koridor, ke arah kamar klien-klien kami. 

Klien ketiga terbaring kaku di atas lantai. Kali ini dengan posisi punggung di bawah. Badannya kaku, disertai kejang, dan tidak sadarkan diri. Seperti yang terjadi sebelumnya, rekan kerja saya duduk di sampingnya sambil menyangga kepalanya dengan tangannya, agar tidak langsung menyentuh lantai, sedangkan saya berusaha tenang sambil menghubungi ambulans. Sayangnya, saya terlalu gugup dan menyerahkan telepon ke rekan kerja saya. 

Saat dia terbangun, kami menuntunnya kembali ke kamarnya, dan mendudukkannya di kursi rodanya. Ketika petugas ambulans datang beberapa menit kemudian dan memeriksa dia, dia kembali mengalami kejang. Mukanya pucat dan badannya lemas, ketika dia kembali sadar. Petugas ambulans menganalogikannya kejang seperti melakukan maraton. Menurutnya, lelahnya setelah kejang sama seperti, lelah setelah selesai maraton. Pagi itu, dia seperti melakukan tiga maraton, karena tiga kali mengalami kejang. 

Hari itu, dia kembali menghabiskan siang di UGD untuk pemeriksaan. Di sana juga dia mengalami kejang untuk keempat kalinya. Dokter UGD menulis di laporan, bahwa dari tes darah yang dilakukan setelah kejang, tidak ditemukan ada tanda-tanda epilepsi. Menurut dia, ada juga kejang yang bernama syncope. Dokter neurologi yang menanganinya dan mendapatkan semua laporan medis dari rumah sakit tetap mendiagnosanya sebagai epilepsi, dan memberinya pengobatan untuk orang dengan epilepsi. Saya sendiri tidak mengerti, apakah pengobatan epilepsi dan syncope, berbeda atau sama.

Saya juga sempat satu kali menemani klien lainnya di UGD, karena dia diduga mengalami kejang di tempat kerjanya. Kita sebut dia sebagai klien keempat. Selama saya bekerja di sana, tidak pernah sekalipun dia mengalami kejang, walau ia adalah orang dengan epilepsi. Selama di UGD, keadaan dia baik-baik saja dan tidak ada kejang ulang. Pemeriksaan yang dilakukan, juga menunjukan semua normal dan baik. Beruntungnya, klien saya yang ini bisa berkomunikasi, paling tidak dengan saya sebagai orang yang mengenal dia lebih dari 10 tahun, dan bisa menerjemahkannya ke dokter UGD yang menanganinya.

Satu minggu setelah saya mengantar klien terakhir ini ke UGD, saya mengajukan surat pengunduran diri. Kebetulan saat itu, saya mendapatkan tawaran pekerjaan lain. Saya juga beruntung, bos saya mengerti keadaan saya, dan bersedia melepaskan saya tiga bulan lebih cepat dari peraturan. 

Saya mengalami beban yang besar, setelah meninggalnya klien kedua dan kejang berulang yang dialami klien ketiga. Ditambah lagi, setiap kali ada klien yang kejang, selalu saya yang kebetulan sedang bekerja sehingga harus menyaksikannya. Padahal, saya hanya bekerja 2-3 hari dalam seminggu. Dalam perjalanan menuju ke UGD untuk menyusul klien keempat, saya menangis karena beban saya rasa terlalu berat. Cukup sekali itu saja, saya mengantarkan klien ke UGD. Saya juga tidak ingin suatu pagi nanti, saya menemukan klien meninggal di kasurnya.

Penulis: Anonim

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tak Patah Arang, Bangkit dari Kondisi Tetraplegia dan Selesaikan S2 di Jerman

Program Cerita Sahabat Spesial di bulan Desember 2023 mengangkat tema Hari Internasional Penyandang Disabilitas yang jatuh tiap 3 Desember. Ruanita Indonesia mengundang Suan Ny yang tinggal di Jerman dan tinggal di kursi roda akibat kondisi tetraplegia.

Kondisi tetraplegia adalah Tetraplegia adalah kondisi seseorang akibat cedera yang terjadi pada otak, sumsum tulang belakang atau salah satunya sehingga orang tersebut mengalami kelumpuhan dari otot leher hingga seluruh anggota tubuhnya.

Suan Ny mengalami kecelakaan mobil ketika dia bersama anak dan temannya ingin berkunjung ke suatu karnaval di Jerman. Sejak kejadian tersebut, Suan Ny harus hidup di kursi roda. Sebelum kecelakaan terjadi, Suan Ny adalah ibu rumah tangga yang bekerja paruh waktu sebagai pengajar Bahasa Indonesia di VHS dan guru les untuk siswa-siswi Jerman. Suan Ny sendiri sempat mengalami mati suri akibat kecelakaan tersebut.

Follow us

Dengan tekad dan semangatnya, Suan Ny berusaha untuk bisa menggerakkan kepala, leher, bahu, dan tangannya meskipun dia masih harus tetap hidup di kursi roda. Suan Ny bertekad untuk menyelesaikan studi S2 yang sudah dia mulai di tahun 2015. Dalam kondisi yang terbatas, Suan Ny berhasil mendapatkan kelulusan di salah satu universitas di Jerman.

Suan Ny pun sempat merasa terluka dan kecewa karena suami Suan Ny pun berusaha meninggalkan dia. Suaminya datang ke rumah sakit, saat Suan Ny masih dirawat intensif. Dia mengatakan bahwa pengacara akan mengurus perceraian mereka. Suan Ny semakin hancur ketika anaknya pun tidak mengenalinya sejak dia dirawat lama di rumah sakit.

Suan Ny berpesan: “Save yourself first, before save the others!”. Beruntungnya pemerintah Jerman membantu dan mendukung kebutuhan Suan Ny untuk bisa bertahan hidup sebagai Single Mom seorang diri.

Bagaimana kecelakaan yang menimpa Suan Ny terjadi? Apa yang membuat Suan Ny bangkit dan termotivasi sebagai Single Mom, termasuk menyelesaikan studi S2? Apa saja yang ditunjang dan dibantu oleh Pemerintah Jerman untuk Suan Ny sebagai penyandang disabilitas? Apa pesan Suan Ny untuk pemerintah Indonesia dalam rangka Hari Internasional Penyandang Disabilitas?

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya dalam program Cerita Sahabat Spesial di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

Subscribe kanal kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT) Saya Lelah Menjadi People Pleaser

You can always say no when you don’t want to”, itu adalah kalimat yang sangat sering diucapkan mertua saya kepada saya. Awalnya kalimat tersebut tidak berarti apapun kepada saya. Namun beberapa tahun belakangan ini kalimat tersebut menjadi sesuatu yang sangat sering muncul di kepala saya, ketika melakukan sesuatu atau mengambil sebuah keputusan. 

Hai, saya A WNI yang saat ini tinggal di Jerman and yes I am a people pleaser, not proud of that but it is what it is. 

Saya adalah anak pertama sekaligus cucu pertama dari keluarga ibu saya. Sebagai anak dan cucu pertama tanpa saya sadari saya adalah role model untuk adik-adik sekaligus sepupu-sepupu saya. Sejak kecil secara tidak langsung saya dituntut menjadi anak yang baik, harus bersikap baik, sopan terhadap orang tua, menyayangi adik-adik serta sepupu-sepupu saya, selalu harus mengalah, harus memiliki nilai akademis yang baik, dan masih banyak lagi.

Saya harus selalu mengikuti atau menuruti semua perkataan keluarga saya dan terkadang mengorbankan banyak hal untuk menyenangkan mereka. 

Sejak kecil hingga menginjak usia 30 tahun, saya tidak merasa ada yang salah dengan hal tersebut, namun tanpa saya sadari saya tumbuh menjadi seorang pembohong.

Meskipun sering saya jadikan bahan candaan dengan suami saya, kalau saya adalah pembohong yang tidak akan masuk neraka karena berbohong untuk kebaikan, tetapi berbohong tetap hal yang tidak baik untuk dilakukan.

Follow us @ruanita.indonesia

Menjadi people pleaser membuat saya bahkan sering berbohong kepada diri saya sendiri, bahkan terkadang kepada orang lain. Menjadi people pleaser  seringkali membuat saya tidak menjadi diri sendiri di hadapan orang lain.

Saya sangat sulit untuk berkata tidak, hal ini membuat saya menjadi kewalahan dalam menjalani kehidupan saya, terutama ketika saya bekerja dan harus selalu melakukan semua pekerjaan yang diperintahkan oleh atasan saya. Saya kemudian menjadi orang yang sering menggerutu dan pemarah hingga sering menyalahkan diri saya sendiri ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan apa yang saya harapkan. 

People pleaser sering menemukan kebahagiaan orang lain sebagai sumber kebahagiaan mereka, sehingga membuat mereka sangat sulit menemukan kebahagiaan mereka sendiri. Setelah pindah ke Jerman, saya menyadari kalau ternyata kalimat yang sering diucapkan mertua saya itu sangatlah penting, that’s how human should function, know your limit

Saat ini tentu saja saya masih sering menemukan kebahagiaan saya di dalam kebahagiaan orang lain. Namun setelah bertahun-tahun, saya akhirnya bisa secara perlahan-lahan menjadi seseorang yang lebih jujur dalam mengambil keputusan.

Saya mencoba lebih rasional dalam mengambil keputusan dan menjadi lebih bijak untuk mengartikulasikan alasan saya ketika saya harus mengatakan tidak kepada seseorang. Tidak mudah bagi saya yang besar dalam kebudayaan timur yang sangat kental untuk secara lantang mengatakan tidak atau menolak seseorang, terutama orang terdekat saya.  

Menurut saya, menjadi people pleaser bukanlah hal yang sehat. Kita bisa tetap menjadi seseorang yang baik tanpa harus menyenangkan orang lain, karena tentu saja definisi baik menurut tiap orang akan berbeda-beda.

Berhenti menjadi people pleaser bukan berarti membuat kita menjadi orang yang jahat dan tidak sopan, tetapi  kita hanya perlu mengetahui kapasitas diri kita dan membatasi hal-hal apa saja yang mampu kita lakukan dan tidak mampu kita lakukan. 

Saya rasa menjelaskan dengan baik kepada seseorang tentang penolakan dengan alasan yang logis dan tulus akan lebih baik dibandingkan kita berbohong untuk menghindari melakukan penolakan. At the end of the day, you create your own happiness, therefore it’s better to find it within yourself. 

Penulis: A tinggal di Jerman. 

(CERITA SAHABAT) Sanatana Dharma: Hukum Universal yang Tak Terbatas oleh Waktu

Sebagai warga Indonesia yang sudah delapan tahun hidup di Jerman, jalan hidup yang saya tempuh mampu mengajarkan saya banyak hal secara lebih mendalam. Saya rasa, keragaman manusia dan  fenomena sosial yang terjadi di Jerman, merupakan faktor yang mendorongnya.  

Meninggalkan zona nyaman di Indonesia untuk menghadapi lingkungan sosial yang lebih luas dan lebih  kompleks memang tidak mudah dan rasanya campur aduk. Namun sejalan dengan prosesnya, ternyata  pengalaman ini mampu memperluas perspektif saya sebagai manusia. “Ketidaknyamanan“ ini justru saya pandang sebagai “hak istimewa“ yang sangat saya syukuri.  

Saya mengawali perjalanan di Jerman pada tahun 2015. Waktu itu, saya mengikuti program AuPair (hidup dengan keluarga lokal Jerman untuk belajar bahasa dan budaya setempat). Lantas saya mengikuti suara hati saya untuk berkuliah Master di Friedrich-Schiller-Universität Jena; jurusan Bahasa  Jerman sebagai bahasa asing. Saya menggemari bahasa sudah sejak kecil. Kegemaran itulah yang mengantarkan saya hingga sejauh ini. Saat ini, saya bekerja sebagai Guru Bahasa Jerman bagi Penutur Asing di kota Leipzig. 

Ketika diundang oleh RUANITA untuk mengurai cerita bertema “Charity”, secara tidak langsung saya  juga terundang untuk menilik ulang perjalanan hidup saya, karena pengalaman rantau saya sering kali  bersinggungan dengan tema tersebut. Setelah menerima tawaran menulis, saya tidak langsung  bergegas mengumpulkan ide. Namun, saya justru memberi jarak dengan tema tersebut karena saya  ingin melihat ulang dan mendokumentasikan cerita saya dengan lebih jernih. 

Charity” lazimnya diartikan sebagai “amal” dalam Bahasa Indonesia. Namun menurut saya, kata  tersebut masih terlalu sempit untuk menggambarkan makna mulia dari “memberi tanpa pamrih“.  Karena berdasarkan pengamatan saya, kebanyakan orang memandang aksi beramal sebagai sebuah  transaksi; dengan harapan agar di masa depan ia mendapatkan “imbalan“ hal baik. 

Karena saya ingin melihat tema ini secara lebih mendalam, lantas saya melakukan riset dan memilih  satu kata dalam Bahasa Sansekerta yakni Sanātana Dharmasebagai dasar tulisan saya. Mengingat  bahasa ini juga merupakan salah satu unsur pembentuk Bahasa Indonesia.  

Sanātana Dharmaberarti hukum yang mendasari eksistensi kehidupan dan menyangkut sifat alami  kemanusiaan. Jika dibandingkan dengan hukum lainnya, misalnya hukum sosial; Sanātana Dharma tidak bersifat generasional yang harus diadaptasi bagi setiap generasi. Selain itu, Sanātana Dharma juga tidak bersifat transaksional seperti dalam proses jual beli. 

Saya pribadi memaknai ber-dharma sebagai kelaziman, karena kesadaran berbagi kepada sesama sudah  saya dapatkan dari rumah. Saya tumbuh dalam sebuah keluarga yang gemar memberi, meskipun  kadang keadaan kami sendiri belum stabil. Semangat memberi itulah yang lantas saya bawa sepanjang perjalanan saya hingga sekarang.  

Kilas balik pada Desember 2016, ketika masih menjadi mahasiswi di Jerman; saya dipercaya untuk menjadi  ketua acara “Malam Budaya Indonesia dan Penggalangan Dana untuk Perpustakaan Keliling di Aceh  dan Sumba Timur“. Kala itu, saya yang baru saja pindah ke kota yang baru dan mulai belajar beradaptasi  dengan budaya perkuliahan di Jerman, langsung memberanikan diri untuk memimpin acara tersebut. Meskipun saya tahu bahwa aktivitas saya akan semakin padat, karena saya berkuliah sambil bekerja, tetapi saya tidak menghentikan langkah. Saya menikmati prosesnya.

Please follow us: @ruanita.indonesia

Inspirasi datang ketika saya melihat postingan Instagram teman saya, yang kala itu menjadi pendidik  sukarelawan di daerah terluar Indonesia. Ia mengadakan kegiatan membaca bersama anak-anak di  Aceh dan Sumba Timur. Menurut laporannya, masih banyak anak-anak Indonesia usia Sekolah Dasar di  kedua daerah tersebut yang belum lancar membaca, karena secara geografis mereka tidak  mendapatkan akses ke perpustakaan atau toko buku. 

Semesta bergerak terlalu indah. Dalam waktu yang bersamaan, saya sedang mencari alamat untuk  menyalurkan dana yang akan kami kumpulkan melalui penjualan tiket acara. Setelah memilah berbagai  organisasi, saya menjatuhkan pilihan pada Program Perpustakaan Keliling tersebut. Ketika teman saya mengirimkan beberapa video keadaan di lapangan, hati saya langsung tergerak. Suara hati saya  mengatakan, bahwa karya kami di Jerman harus mampu memberikan dampak positif bagi sesama;  khususnya bagi anak-anak di daerah-daerah terluar Indonesia. 

Perjalanan ber-dharma saya tidak berhenti di situ saja. Saat ini, saya sedang aktif ber-dharma sosial di  sebuah komunitas pendidikan “Gemar Teghing Academy“ (GTA), yang dirintis oleh seorang teman baik  saya dari Bengkulu yang kini tinggal di Berlin. Dalam komunitas ini, saya dipercaya untuk memimpin  bagian Divisi Mitra Kerja sama dan Kolaborasi. Program-program kami saat ini meliputi: 

  • Kolaborasi dengan Bengkulu Express TV setiap hari Minggu dalam acara “Meraih Mimpi“, di mana diaspora Indonesia berbagi pengalaman kepada generasi muda tentang tema berkuliah atau bekerja di manca negara.  
  • Pengenalan Bahasa Jerman dasar secara gratis. 
  • Diskusi Online seputar tema: Mental Health dan Intercultural Communication Competence. 
  • Kerja sama dengan organisasi seperti PPI Dunia, PPI TV, PPI Berlin/Brandenburg; bahkan dengan  lembaga pendidikan seperti Universitas Negeri Semarang dan Universiti Malaysia Sabah. 

Hal yang mendasari saya untuk ikut ambil bagian dalam komunitas ini adalah spirit yang  melatarbelakanginya. Ketika pandemi dan lockdown berlangsung, pendiri GTA merefleksi diri dan  melihat ulang masa sekolahnya. Seperti saya pribadi, ia tidak memiliki kesempatan untuk belajar  banyak hal di luar sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga. Lalu ia tergerak untuk menyediakan platform belajar daring bagi generasi muda di Indonesia. 

Selain itu, saya juga ber-dharma kepada “Ibu Bumi“ melalui “Save Soil Movement“: Sebuah gerakan  global yang menyuarakan pentingnya revitalisasi kesuburan tanah, karena tanah merupakan dasar dan  sumber kehidupan kita di planet bumi. Dalam komunitas ini, saya bekerja secara mobile dan  internasional bagi Save Soil Jerman dan Indonesia. Karena saya bekerja sama dengan berbagai manusia dari berbagai macam latar belakang, maka kecakapan komunikasi antar budaya saya juga bisa terlatih.  

Pengalaman ber-dharma menjadi sukarelawan mengajarkan saya banyak hal. Saya mampu mengubah  pola pikir dan kepribadian saya. Saya menyadari, bahwa ketika saya bersedia untuk memberikan diri  seutuhnya tanpa embel-embel “imbalan“ hal baik, di sana saya merasakan kebahagiaan yang utuh. Konsep bahagia yang saya miliki bukan perihal materi, melainkan batiniah. Saya merasa menjadi manusia seutuhnya, ketika saya tidak hanya memikirkan diri saya sendiri; namun ketika saya juga turut berorientasi kepada kesejahteraan sesama manusia bahkan non manusia (misalnya alam).

Sayangnya kesediaan ber-dharma sebagai sukarelawan belum banyak diminati. Bahkan parahnya lagi,  gerakan aktivis kadang masih dipandang skeptis oleh beberapa kalangan. Padahal menurut saya,  generasi muda saat ini memiliki banyak potensi dan kemungkinan untuk memulai gerakan-gerakan konstruktif yang bisa membawa perbaikan bagi masa depan. 

Saya berharap agar pemerintah Indonesia dan dunia bersedia mendengarkan aspirasi, memberikan lebih banyak dukungan, serta penghargaan kepada organisasi atau komunitas yang digerakkan secara  sukarela. Para sukarelawan hebat ini memiliki semangat dan kepedulian terhadap penyelesaian berbagai masalah, serta rela menginvestasikan waktu dan energi mereka untuk mencari solusi. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika mereka diberi dukungan secara menyeluruh, agar gerakan yang mereka suarakan bisa  membawa perubahan atau perbaikan bagi masa depan. 

Kembali ke konsep “Sanātana Dharmadi atas. Sanātana berarti timeless (tak terbatas waktu), dan  Dharma berarti law (hukum). Menurut pandangan budaya Hindu dan Buddha, hukum ini yang  mendasari kehidupan dan merupakan sifat alami kemanusiaan. Ini bukan tentang transaksi (memberi menerima), tetapi tentang memahami sifat alami eksistensi kita sebagai manusia. 

Sudah saatnya, kita belajar mengasah sensibilitas diri terhadap hal-hal yang perlu dilakukan bagi  kebaikan bersama. Karena sensibilitas itu mampu menuntun kita kepada “rasa ingin memberi“ (sense  of giving), yang dengannya kita bisa membuka berbagai kemungkinan dan menemukan fungsi keberadaan kita sebagai manusia. Dalam hal ini, kita memang harus mau dan mampu mengupas ego dan pergi ke arah “tanpa pamrih“ (selflessness). Apabila kita mampu melihat hal-hal yang melebihi  kebutuhan diri kita sendiri, lantas melakukan sesuatu yang diperlukan untuk hal tersebut secara ikhlas,  maka kita menjalankan dharma secara utuh. 

Jika ditanya, mengapa saya memilih jalan ber-dharma; maka jawaban saya akan sangat sederhana. “Dharma-based way of living can bring me back to my natural existence as human being; since  Sanātana Dharma is the way, how the nature of existence functions” 

Penulis: Debora Sisca. Dia adalah Volunteer, Intercultural Speaker, and German as Foreign Language Teacher in Leipzig, Germany. 

(CERITA SAHABAT) Semua Itu Butuh Waktu Untuk Beradaptasi dengan Situasi

Banyak keluarga dan kolega menyayangkan keputusanku untuk pindah mengikuti suami ke Jerman. “Sayang, sudah kuliah mahal-mahal akhirnya tidak bekerja,” begitu kata mereka ketika aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku di Indonesia. Bagiku, orang bebas berkomentar apapun, namun kita lah yang mempunyai kendali penuh atas hidup kita. 

Sebelum memutuskan pindah ke Jerman tentunya aku sudah mempertimbangkan segala baik buruknya. Selain itu, aku juga membekali diri dengan belajar Bahasa Jerman dan mencari informasi seputar hidup dan bekerja di Jerman. 

Aku percaya pindah ke Jerman bukanlah akhir dari karierku. Setelah tiba di Jerman dan semua berkas kependudukan selesai diurus, aku mulai mendaftar untuk Annerkennung (=pengakuan ijazah). Sebagai seorang dokter umum, aku perlu melakukan Annerkennung sebelum bisa bekerja di Jerman. Tetapi karena suatu hal, saat ini aku belum bisa mendaftar Annerkennung. Hal ini tidak menyurutkan semangatku untuk berkarir di sini, malahan aku bisa memanfaatkan waktu ini untuk lebih mendalami Bahasa Jerman. 

Namun seiring dengan berjalannya waktu, antusiasmeku mulai memudar. Sebagai orang yang terbiasa bekerja 40-50 jam seminggu, aku mulai merasa membosankan ketika aku tidak bekerja. Di saat yang sama teman-temanku satu per satu mulai melanjutkan pendidikan atau mendapat promosi di karirnya. Sedangkan aku stuck di sini.

Follow us @ruanita.indonesia

Komentar negatif dari keluarga dan kolega ketika aku resign juga terus membayangiku. Hingga aku merasa cemas dan selalu bertanya pada diri sendiri, apakah keputusan pindah ke Jerman adalah hal yang tepat. Everything felt so overwhelming, and I couldn’t stop thinking: what am I even doing here?

Rasa cemas ini sering kali datang, terlebih bila aku sedang sendiri. Terlebih aku tinggal di kota kecil sehingga tidak mudah bagiku untuk mencari komunitas dan bertemu orang-orang baru. Sebelumnya, aku tidak menyangka tinggal di luar negeri bisa membuat kita merasa kesepian seperti ini. Namun aku bersyukur, suami dan teman-teman di sini sangat suportif terhadapku. 

Selain itu, Journaling membantuku mengatasi rasa cemasku. Meluapkan perasaan negatif ke dalam tulisan membuatku lebih tenang. Aku tersadar kalau setiap orang punya mimpinya masing-masing. Penting bagiku untuk fokus pada mimpiku sendiri. Semakin aku membandingkan diriku dengan hidup orang lain, semakin membuatku terus merasa kurang dan hanya akan membuatku berganti-ganti tujuan.

Realita pindah dan ikut tinggal bersama suami di luar negeri memang tidak seindah jalan cerita film komedi romantis. Namun, pindah ke luar negeri dapat membuka kesempatan yang mungkin tidak bisa kita dapatkan di negeri sendiri. 

Penulis: Gita Feddersen, tinggal di Jerman dan dapat dikontak di akun IG: gitafdsn

(CERITA SAHABAT) Ular Mengganti Kulitnya Untuk Menjadi Ular yang Lebih Besar Lagi

Semua dimulai ketika saya mengikuti program Ausbildung. Ausbildung adalah proses pendidikan vokasional yang dilaksanakan pemerintah Jerman untuk periode tertentu. Saya berangkat bersama salah satu teman sekampus saya. Kami tidak begitu dekat, tetapi selama proses Ausbildung kami menjadi dekat. Kami merasa saling berempati karena masa Ausbildung yang kami lewati sangat berat. Sedih dan senang kami lalui bersama.

Suatu hari, ia bertengkar hebat dengan atasan kami. Ia merasa tertekan, lalu kami mengobrol di ruang tertutup. Ia bercerita pada saya bahwa dia akan pulang ke Indonesia. Saya mengatakan untuk jangan berhenti di tengah jalan karena hanya tinggal 1 tahun lagi sampai kelulusan. Lalu ia mengatakan bahwa ibunya tengah sakit dan ia lebih baik pulang daripada meneruskan program ini. Mendengar alasan itu, saya hanya terdiam dan mengiyakan kepulangannya ke Indonesia.

Hari di mana ia pulang, saya mengantarkannya ke bandara Hamburg, dan membantu mendorong koper besarnya. Hari itu saya bahkan tidak masuk sekolah dan berbohong dengan alasan sakit demi mengantarnya. Sesampainya di bandara, saya mengatakan bahwa jika nanti ia sampai di Indonesia dan teman-teman lain ingin tahu tentang hidup saya, tanyakan langsung pada saya, saya akan menjawab sendiri.

Sebelumnya mereka sudah penasaran dengan kehidupan saya di Jerman.  Saya tidak ingin ia terganggu dengan pertanyaan tidak penting mereka. Ia pun mengangguk. 

Beberapa bulan setelah kepulangannya, kami masih sempat mengobrol baik. Suatu hari ia mengutarakan isi hatinya selama ini di dalam grup whatsapp kami dan teman lainnya. Ia mengatakan bahwa ia sudah muak kepada saya.

Saya dituduh menjelek-jelekkannya di depan kolega kerja lainnya sehingga mereka membencinya. Saya juga disebut sebagai alasan mengapa ia pulang ke Indonesia. Tidak hanya saya, semua teman di grup tersebut ia umbar keburukannya. Saya sangat geram, bahwa tidak seharusnya ia mefitnah kami di depan lainnya seperti itu.

Saya mengatakan jika ia memang kesal dengan saya, mengapa tidak dari dulu saja ia utarakan isi hatinya. Mengapa baru sekarang ia berperilaku demikian? Alasannya sederhana, dia sedang menstruasi sehingga emosinya saat ini berapi-api. Itu tidak masuk akal.

Saya sebagai ketua grup langsung mengeluarkan dia karena hal tersebut telah membuat saya kesal. Saat itu juga saya langsung mengatakan jika ada yang merasa kesal satu sama lain, silakan menyelesaikannya secara pribadi. Jangan sampai orang lain tahu karena itu tidak baik. Detik itu juga saya blokir semua kontak dan media sosialnya. 

Ternyata ia tidak berhenti sampai di situ. Ia mengontak teman-teman sekelas kami di Berufsschule dan menanyakan keberadaan ijazah kelas duanya yang tentu saja ada pada saya. Mereka pun berdatangan dan bertanya apakah kami sedang bertengkar.

Teman-teman pun bercerita bahwa pada awalnya ia sebenarnya sudah tahu keberadaan ijazahnya ada pada saya kemudian ia menjelek-jelekkan saya pada teman-teman lainnya.

Suatu hari saya mendapat kabar dari salah seorang teman kampus saya bahwa tingkahnya semakin hari semakin aneh. Dari menolak lamaran kerja karena  dia tidak suka Jobdesc-nya sampai mengutarakan bahwa ia menjalin hubungan dengan seseorang yang fiktif.

Saya sangat tahu keadaannya saat ini, di mana ia sedang stres karena uang mulai menipis dan ia masih belum juga bekerja. Saya justru merasa iba dengan cerita tersebut sampai kami kembali bertengkar hebat dalam grup kampus.

Semula berawal ketika akhirnya ia mengaku „dikerjain“ sepupunya yang mengedit fotonya dengan pria asing lalu disebar dalam grup kampus. Ia juga mengatakan bahwa aplikasi Tinder tidak selalu buruk, ia menyebut nama saya sebagai buktinya. Ia seolah-olah kembali menyeret saya dalam permainannya, dan saya tidak senang.

Follow us: @ruanita.indonesia

Saya yang selama ini diam, langsung menanyakan padanya mengapa ia mefitnah saya dan mengatakan hal jahat tentang saya  pada orang lain? Bahkan ia mengumbar  rahasia yang selama ini saya simpan padanya di depan banyak orang.

„Kamu sendiri yang mengatakan kamu tidak baik. Bahkan orang tuamu saja sampai menitipkanmu padaku karena mereka tidak sanggup mengurusmu!“.

Saya sangat terkejut dan langsung menanyakan kebenaran itu lewat orang tua saya. Ibu saya mengatakan tidak mendapat pesan apapun tetapi ayah saya lah yang menerimanya. Ayah saya mengatakan bahwa beliau sempat dikontak olehnya dan mengatakan bahwa saya sekarang memiliki seorang kekasih.

Ia memohon ayah saya untuk menasihati saya dan dan mengatakan „Dosa seorang ayah tidak bisa menasehati anak perempuannya“. Ayah saya sempat berterima kasih kepadanya dan mengatakan bahwa itu bukan urusannya. 

Kejadian tersebut meninggalkan bekas luka yang mendalam untuk saya. Sampai saat ini saya belum membuka hati untuk mencari teman baru. Pasangan saya pun sedih  dan selalu meminta untuk mencari teman baru tetapi selalu saya tolak. Saya belum siap karena luka tersebut membuat saya trauma.

Suatu hari saya melihat sebuah video yang mengatakan „Jangan membuka peluang sekali lagi untuk seseorang yang sudah menghancurkan hubungan dalam segi pertemanan, keuangan atau percintaan! Ular mengubah kulitnya untuk menjadi ular yang lebih besar lagi“. 

Penulis: Brina Weis tinggal di Jerman dan dapat dikontak di Instagram @svasthi_