“You can always say no when you don’t want to”, itu adalah kalimat yang sangat sering diucapkan mertua saya kepada saya. Awalnya kalimat tersebut tidak berarti apapun kepada saya. Namun beberapa tahun belakangan ini kalimat tersebut menjadi sesuatu yang sangat sering muncul di kepala saya, ketika melakukan sesuatu atau mengambil sebuah keputusan.
Hai, saya A WNI yang saat ini tinggal di Jerman and yes I am a people pleaser, not proud of that but it is what it is.
Saya adalah anak pertama sekaligus cucu pertama dari keluarga ibu saya. Sebagai anak dan cucu pertama tanpa saya sadari saya adalah role model untuk adik-adik sekaligus sepupu-sepupu saya. Sejak kecil secara tidak langsung saya dituntut menjadi anak yang baik, harus bersikap baik, sopan terhadap orang tua, menyayangi adik-adik serta sepupu-sepupu saya, selalu harus mengalah, harus memiliki nilai akademis yang baik, dan masih banyak lagi.
Saya harus selalu mengikuti atau menuruti semua perkataan keluarga saya dan terkadang mengorbankan banyak hal untuk menyenangkan mereka.
Sejak kecil hingga menginjak usia 30 tahun, saya tidak merasa ada yang salah dengan hal tersebut, namun tanpa saya sadari saya tumbuh menjadi seorang pembohong.
Meskipun sering saya jadikan bahan candaan dengan suami saya, kalau saya adalah pembohong yang tidak akan masuk neraka karena berbohong untuk kebaikan, tetapi berbohong tetap hal yang tidak baik untuk dilakukan.
Menjadi people pleaser membuat saya bahkan sering berbohong kepada diri saya sendiri, bahkan terkadang kepada orang lain. Menjadi people pleaser seringkali membuat saya tidak menjadi diri sendiri di hadapan orang lain.
Saya sangat sulit untuk berkata tidak, hal ini membuat saya menjadi kewalahan dalam menjalani kehidupan saya, terutama ketika saya bekerja dan harus selalu melakukan semua pekerjaan yang diperintahkan oleh atasan saya. Saya kemudian menjadi orang yang sering menggerutu dan pemarah hingga sering menyalahkan diri saya sendiri ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan apa yang saya harapkan.
People pleaser sering menemukan kebahagiaan orang lain sebagai sumber kebahagiaan mereka, sehingga membuat mereka sangat sulit menemukan kebahagiaan mereka sendiri. Setelah pindah ke Jerman, saya menyadari kalau ternyata kalimat yang sering diucapkan mertua saya itu sangatlah penting, that’s how human should function, know your limit.
Saat ini tentu saja saya masih sering menemukan kebahagiaan saya di dalam kebahagiaan orang lain. Namun setelah bertahun-tahun, saya akhirnya bisa secara perlahan-lahan menjadi seseorang yang lebih jujur dalam mengambil keputusan.
Saya mencoba lebih rasional dalam mengambil keputusan dan menjadi lebih bijak untuk mengartikulasikan alasan saya ketika saya harus mengatakan tidak kepada seseorang. Tidak mudah bagi saya yang besar dalam kebudayaan timur yang sangat kental untuk secara lantang mengatakan tidak atau menolak seseorang, terutama orang terdekat saya.
Menurut saya, menjadi people pleaser bukanlah hal yang sehat. Kita bisa tetap menjadi seseorang yang baik tanpa harus menyenangkan orang lain, karena tentu saja definisi baik menurut tiap orang akan berbeda-beda.
Berhenti menjadi people pleaser bukan berarti membuat kita menjadi orang yang jahat dan tidak sopan, tetapi kita hanya perlu mengetahui kapasitas diri kita dan membatasi hal-hal apa saja yang mampu kita lakukan dan tidak mampu kita lakukan.
Saya rasa menjelaskan dengan baik kepada seseorang tentang penolakan dengan alasan yang logis dan tulus akan lebih baik dibandingkan kita berbohong untuk menghindari melakukan penolakan. At the end of the day, you create your own happiness, therefore it’s better to find it within yourself.
Sebagai warga Indonesia yang sudah delapan tahun hidup di Jerman, jalan hidup yang saya tempuh mampu mengajarkan saya banyak hal secara lebih mendalam. Saya rasa, keragaman manusia dan fenomena sosial yang terjadi di Jerman, merupakan faktor yang mendorongnya.
Meninggalkan zona nyaman di Indonesia untuk menghadapi lingkungan sosial yang lebih luas dan lebih kompleks memang tidak mudah dan rasanya campur aduk. Namun sejalan dengan prosesnya, ternyata pengalaman ini mampu memperluas perspektif saya sebagai manusia. “Ketidaknyamanan“ ini justru saya pandang sebagai “hak istimewa“ yang sangat saya syukuri.
Saya mengawali perjalanan di Jerman pada tahun 2015. Waktu itu, saya mengikuti program AuPair (hidup dengan keluarga lokal Jerman untuk belajar bahasa dan budaya setempat). Lantas saya mengikuti suara hati saya untuk berkuliah Master di Friedrich-Schiller-Universität Jena; jurusan Bahasa Jerman sebagai bahasa asing. Saya menggemari bahasa sudah sejak kecil. Kegemaran itulah yang mengantarkan saya hingga sejauh ini. Saat ini, saya bekerja sebagai Guru Bahasa Jerman bagi Penutur Asing di kota Leipzig.
Ketika diundang oleh RUANITA untuk mengurai cerita bertema “Charity”, secara tidak langsung saya juga terundang untuk menilik ulang perjalanan hidup saya, karena pengalaman rantau saya sering kali bersinggungan dengan tema tersebut. Setelah menerima tawaran menulis, saya tidak langsung bergegas mengumpulkan ide. Namun, saya justru memberi jarak dengan tema tersebut karena saya ingin melihat ulang dan mendokumentasikan cerita saya dengan lebih jernih.
“Charity” lazimnya diartikan sebagai “amal” dalam Bahasa Indonesia. Namun menurut saya, kata tersebut masih terlalu sempit untuk menggambarkan makna mulia dari “memberi tanpa pamrih“. Karena berdasarkan pengamatan saya, kebanyakan orang memandang aksi beramal sebagai sebuah transaksi; dengan harapan agar di masa depan ia mendapatkan “imbalan“ hal baik.
Karena saya ingin melihat tema ini secara lebih mendalam, lantas saya melakukan riset dan memilih satu kata dalam Bahasa Sansekerta yakni “Sanātana Dharma“ sebagai dasar tulisan saya. Mengingat bahasa ini juga merupakan salah satu unsur pembentuk Bahasa Indonesia.
“Sanātana Dharma“ berarti hukum yang mendasari eksistensi kehidupan dan menyangkut sifat alami kemanusiaan. Jika dibandingkan dengan hukum lainnya, misalnya hukum sosial; Sanātana Dharma tidak bersifat generasional yang harus diadaptasi bagi setiap generasi. Selain itu, Sanātana Dharma juga tidak bersifat transaksional seperti dalam proses jual beli.
Saya pribadi memaknai ber-dharma sebagai kelaziman, karena kesadaran berbagi kepada sesama sudah saya dapatkan dari rumah. Saya tumbuh dalam sebuah keluarga yang gemar memberi, meskipun kadang keadaan kami sendiri belum stabil. Semangat memberi itulah yang lantas saya bawa sepanjang perjalanan saya hingga sekarang.
Kilas balik pada Desember 2016, ketika masih menjadi mahasiswi di Jerman; saya dipercaya untuk menjadi ketua acara “Malam Budaya Indonesia dan Penggalangan Dana untuk Perpustakaan Keliling di Aceh dan Sumba Timur“. Kala itu, saya yang baru saja pindah ke kota yang baru dan mulai belajar beradaptasi dengan budaya perkuliahan di Jerman, langsung memberanikan diri untuk memimpin acara tersebut. Meskipun saya tahu bahwa aktivitas saya akan semakin padat, karena saya berkuliah sambil bekerja, tetapi saya tidak menghentikan langkah. Saya menikmati prosesnya.
Inspirasi datang ketika saya melihat postingan Instagram teman saya, yang kala itu menjadi pendidik sukarelawan di daerah terluar Indonesia. Ia mengadakan kegiatan membaca bersama anak-anak di Aceh dan Sumba Timur. Menurut laporannya, masih banyak anak-anak Indonesia usia Sekolah Dasar di kedua daerah tersebut yang belum lancar membaca, karena secara geografis mereka tidak mendapatkan akses ke perpustakaan atau toko buku.
Semesta bergerak terlalu indah. Dalam waktu yang bersamaan, saya sedang mencari alamat untuk menyalurkan dana yang akan kami kumpulkan melalui penjualan tiket acara. Setelah memilah berbagai organisasi, saya menjatuhkan pilihan pada Program Perpustakaan Keliling tersebut. Ketika teman saya mengirimkan beberapa video keadaan di lapangan, hati saya langsung tergerak. Suara hati saya mengatakan, bahwa karya kami di Jerman harus mampu memberikan dampak positif bagi sesama; khususnya bagi anak-anak di daerah-daerah terluar Indonesia.
Perjalanan ber-dharma saya tidak berhenti di situ saja. Saat ini, saya sedang aktif ber-dharma sosial di sebuah komunitas pendidikan “Gemar Teghing Academy“ (GTA), yang dirintis oleh seorang teman baik saya dari Bengkulu yang kini tinggal di Berlin. Dalam komunitas ini, saya dipercaya untuk memimpin bagian Divisi Mitra Kerja sama dan Kolaborasi. Program-program kami saat ini meliputi:
Kolaborasi dengan Bengkulu Express TV setiap hari Minggu dalam acara “Meraih Mimpi“, di mana diaspora Indonesia berbagi pengalaman kepada generasi muda tentang tema berkuliah atau bekerja di manca negara.
Pengenalan Bahasa Jerman dasar secara gratis.
Diskusi Online seputar tema: Mental Health dan Intercultural Communication Competence.
Kerja sama dengan organisasi seperti PPI Dunia, PPI TV, PPI Berlin/Brandenburg; bahkan dengan lembaga pendidikan seperti Universitas Negeri Semarang dan Universiti Malaysia Sabah.
Hal yang mendasari saya untuk ikut ambil bagian dalam komunitas ini adalah spirit yang melatarbelakanginya. Ketika pandemi dan lockdown berlangsung, pendiri GTA merefleksi diri dan melihat ulang masa sekolahnya. Seperti saya pribadi, ia tidak memiliki kesempatan untuk belajar banyak hal di luar sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga. Lalu ia tergerak untuk menyediakan platform belajar daring bagi generasi muda di Indonesia.
Selain itu, saya juga ber-dharma kepada “Ibu Bumi“ melalui “Save Soil Movement“: Sebuah gerakan global yang menyuarakan pentingnya revitalisasi kesuburan tanah, karena tanah merupakan dasar dan sumber kehidupan kita di planet bumi. Dalam komunitas ini, saya bekerja secara mobile dan internasional bagi Save Soil Jerman dan Indonesia. Karena saya bekerja sama dengan berbagai manusia dari berbagai macam latar belakang, maka kecakapan komunikasi antar budaya saya juga bisa terlatih.
Pengalaman ber-dharma menjadi sukarelawan mengajarkan saya banyak hal. Saya mampu mengubah pola pikir dan kepribadian saya. Saya menyadari, bahwa ketika saya bersedia untuk memberikan diri seutuhnya tanpa embel-embel “imbalan“ hal baik, di sana saya merasakan kebahagiaan yang utuh. Konsep bahagia yang saya miliki bukan perihal materi, melainkan batiniah. Saya merasa menjadi manusia seutuhnya, ketika saya tidak hanya memikirkan diri saya sendiri; namun ketika saya juga turut berorientasi kepada kesejahteraan sesama manusia bahkan non manusia (misalnya alam).
Sayangnya kesediaan ber-dharma sebagai sukarelawan belum banyak diminati. Bahkan parahnya lagi, gerakan aktivis kadang masih dipandang skeptis oleh beberapa kalangan. Padahal menurut saya, generasi muda saat ini memiliki banyak potensi dan kemungkinan untuk memulai gerakan-gerakan konstruktif yang bisa membawa perbaikan bagi masa depan.
Saya berharap agar pemerintah Indonesia dan dunia bersedia mendengarkan aspirasi, memberikan lebih banyak dukungan, serta penghargaan kepada organisasi atau komunitas yang digerakkan secara sukarela. Para sukarelawan hebat ini memiliki semangat dan kepedulian terhadap penyelesaian berbagai masalah, serta rela menginvestasikan waktu dan energi mereka untuk mencari solusi. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika mereka diberi dukungan secara menyeluruh, agar gerakan yang mereka suarakan bisa membawa perubahan atau perbaikan bagi masa depan.
Kembali ke konsep “Sanātana Dharma“ di atas. Sanātanaberarti timeless (tak terbatas waktu), dan Dharmaberarti law (hukum). Menurut pandangan budaya Hindu dan Buddha, hukum ini yang mendasari kehidupan dan merupakan sifat alami kemanusiaan. Ini bukan tentang transaksi (memberi menerima), tetapi tentang memahami sifat alami eksistensi kita sebagai manusia.
Sudah saatnya, kita belajar mengasah sensibilitas diri terhadap hal-hal yang perlu dilakukan bagi kebaikan bersama. Karena sensibilitas itu mampu menuntun kita kepada “rasa ingin memberi“ (sense of giving), yang dengannya kita bisa membuka berbagai kemungkinan dan menemukan fungsi keberadaan kita sebagai manusia. Dalam hal ini, kita memang harus mau dan mampu mengupas ego dan pergi ke arah “tanpa pamrih“ (selflessness). Apabila kita mampu melihat hal-hal yang melebihi kebutuhan diri kita sendiri, lantas melakukan sesuatu yang diperlukan untuk hal tersebut secara ikhlas, maka kita menjalankan dharma secara utuh.
Jika ditanya, mengapa saya memilih jalan ber-dharma; maka jawaban saya akan sangat sederhana. “Dharma-based way of living can bring me back to my natural existence as human being; since Sanātana Dharma is the way, how the nature of existence functions”
Penulis: Debora Sisca. Dia adalah Volunteer, Intercultural Speaker, and German as Foreign Language Teacher in Leipzig, Germany.
Banyak keluarga dan kolega menyayangkan keputusanku untuk pindah mengikuti suami ke Jerman. “Sayang, sudah kuliah mahal-mahal akhirnya tidak bekerja,” begitu kata mereka ketika aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku di Indonesia. Bagiku, orang bebas berkomentar apapun, namun kita lah yang mempunyai kendali penuh atas hidup kita.
Sebelum memutuskan pindah ke Jerman tentunya aku sudah mempertimbangkan segala baik buruknya. Selain itu, aku juga membekali diri dengan belajar Bahasa Jerman dan mencari informasi seputar hidup dan bekerja di Jerman.
Aku percaya pindah ke Jerman bukanlah akhir dari karierku. Setelah tiba di Jerman dan semua berkas kependudukan selesai diurus, aku mulai mendaftar untuk Annerkennung (=pengakuan ijazah). Sebagai seorang dokter umum, aku perlu melakukan Annerkennung sebelum bisa bekerja di Jerman. Tetapi karena suatu hal, saat ini aku belum bisa mendaftar Annerkennung. Hal ini tidak menyurutkan semangatku untuk berkarir di sini, malahan aku bisa memanfaatkan waktu ini untuk lebih mendalami Bahasa Jerman.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, antusiasmeku mulai memudar. Sebagai orang yang terbiasa bekerja 40-50 jam seminggu, aku mulai merasa membosankan ketika aku tidak bekerja. Di saat yang sama teman-temanku satu per satu mulai melanjutkan pendidikan atau mendapat promosi di karirnya. Sedangkan aku stuck di sini.
Komentar negatif dari keluarga dan kolega ketika aku resign juga terus membayangiku. Hingga aku merasa cemas dan selalu bertanya pada diri sendiri, apakah keputusan pindah ke Jerman adalah hal yang tepat. Everything felt so overwhelming, and I couldn’t stop thinking: what am I even doing here?
Rasa cemas ini sering kali datang, terlebih bila aku sedang sendiri. Terlebih aku tinggal di kota kecil sehingga tidak mudah bagiku untuk mencari komunitas dan bertemu orang-orang baru. Sebelumnya, aku tidak menyangka tinggal di luar negeri bisa membuat kita merasa kesepian seperti ini. Namun aku bersyukur, suami dan teman-teman di sini sangat suportif terhadapku.
Selain itu, Journaling membantuku mengatasi rasa cemasku. Meluapkan perasaan negatif ke dalam tulisan membuatku lebih tenang. Aku tersadar kalau setiap orang punya mimpinya masing-masing. Penting bagiku untuk fokus pada mimpiku sendiri. Semakin aku membandingkan diriku dengan hidup orang lain, semakin membuatku terus merasa kurang dan hanya akan membuatku berganti-ganti tujuan.
Realita pindah dan ikut tinggal bersama suami di luar negeri memang tidak seindah jalan cerita film komedi romantis. Namun, pindah ke luar negeri dapat membuka kesempatan yang mungkin tidak bisa kita dapatkan di negeri sendiri.
Penulis: Gita Feddersen, tinggal di Jerman dan dapat dikontak di akun IG: gitafdsn
Semua dimulai ketika saya mengikuti program Ausbildung. Ausbildung adalah proses pendidikan vokasional yang dilaksanakan pemerintah Jerman untuk periode tertentu. Saya berangkat bersama salah satu teman sekampus saya. Kami tidak begitu dekat, tetapi selama proses Ausbildung kami menjadi dekat. Kami merasa saling berempati karena masa Ausbildung yang kami lewati sangat berat. Sedih dan senang kami lalui bersama.
Suatu hari, ia bertengkar hebat dengan atasan kami. Ia merasa tertekan, lalu kami mengobrol di ruang tertutup. Ia bercerita pada saya bahwa dia akan pulang ke Indonesia. Saya mengatakan untuk jangan berhenti di tengah jalan karena hanya tinggal 1 tahun lagi sampai kelulusan. Lalu ia mengatakan bahwa ibunya tengah sakit dan ia lebih baik pulang daripada meneruskan program ini. Mendengar alasan itu, saya hanya terdiam dan mengiyakan kepulangannya ke Indonesia.
Hari di mana ia pulang, saya mengantarkannya ke bandara Hamburg, dan membantu mendorong koper besarnya. Hari itu saya bahkan tidak masuk sekolah dan berbohong dengan alasan sakit demi mengantarnya. Sesampainya di bandara, saya mengatakan bahwa jika nanti ia sampai di Indonesia dan teman-teman lain ingin tahu tentang hidup saya, tanyakan langsung pada saya, saya akan menjawab sendiri.
Sebelumnya mereka sudah penasaran dengan kehidupan saya di Jerman. Saya tidak ingin ia terganggu dengan pertanyaan tidak penting mereka. Ia pun mengangguk.
Beberapa bulan setelah kepulangannya, kami masih sempat mengobrol baik. Suatu hari ia mengutarakan isi hatinya selama ini di dalam grup whatsapp kami dan teman lainnya. Ia mengatakan bahwa ia sudah muak kepada saya.
Saya dituduh menjelek-jelekkannya di depan kolega kerja lainnya sehingga mereka membencinya. Saya juga disebut sebagai alasan mengapa ia pulang ke Indonesia. Tidak hanya saya, semua teman di grup tersebut ia umbar keburukannya. Saya sangat geram, bahwa tidak seharusnya ia mefitnah kami di depan lainnya seperti itu.
Saya mengatakan jika ia memang kesal dengan saya, mengapa tidak dari dulu saja ia utarakan isi hatinya. Mengapa baru sekarang ia berperilaku demikian? Alasannya sederhana, dia sedang menstruasi sehingga emosinya saat ini berapi-api. Itu tidak masuk akal.
Saya sebagai ketua grup langsung mengeluarkan dia karena hal tersebut telah membuat saya kesal. Saat itu juga saya langsung mengatakan jika ada yang merasa kesal satu sama lain, silakan menyelesaikannya secara pribadi. Jangan sampai orang lain tahu karena itu tidak baik. Detik itu juga saya blokir semua kontak dan media sosialnya.
Ternyata ia tidak berhenti sampai di situ. Ia mengontak teman-teman sekelas kami di Berufsschule dan menanyakan keberadaan ijazah kelas duanya yang tentu saja ada pada saya. Mereka pun berdatangan dan bertanya apakah kami sedang bertengkar.
Teman-teman pun bercerita bahwa pada awalnya ia sebenarnya sudah tahu keberadaan ijazahnya ada pada saya kemudian ia menjelek-jelekkan saya pada teman-teman lainnya.
Suatu hari saya mendapat kabar dari salah seorang teman kampus saya bahwa tingkahnya semakin hari semakin aneh. Dari menolak lamaran kerja karena dia tidak suka Jobdesc-nya sampai mengutarakan bahwa ia menjalin hubungan dengan seseorang yang fiktif.
Saya sangat tahu keadaannya saat ini, di mana ia sedang stres karena uang mulai menipis dan ia masih belum juga bekerja. Saya justru merasa iba dengan cerita tersebut sampai kami kembali bertengkar hebat dalam grup kampus.
Semula berawal ketika akhirnya ia mengaku „dikerjain“ sepupunya yang mengedit fotonya dengan pria asing lalu disebar dalam grup kampus. Ia juga mengatakan bahwa aplikasi Tinder tidak selalu buruk, ia menyebut nama saya sebagai buktinya. Ia seolah-olah kembali menyeret saya dalam permainannya, dan saya tidak senang.
Saya yang selama ini diam, langsung menanyakan padanya mengapa ia mefitnah saya dan mengatakan hal jahat tentang saya pada orang lain? Bahkan ia mengumbar rahasia yang selama ini saya simpan padanya di depan banyak orang.
„Kamu sendiri yang mengatakan kamu tidak baik. Bahkan orang tuamu saja sampai menitipkanmu padaku karena mereka tidak sanggup mengurusmu!“.
Saya sangat terkejut dan langsung menanyakan kebenaran itu lewat orang tua saya. Ibu saya mengatakan tidak mendapat pesan apapun tetapi ayah saya lah yang menerimanya. Ayah saya mengatakan bahwa beliau sempat dikontak olehnya dan mengatakan bahwa saya sekarang memiliki seorang kekasih.
Ia memohon ayah saya untuk menasihati saya dan dan mengatakan „Dosa seorang ayah tidak bisa menasehati anak perempuannya“. Ayah saya sempat berterima kasih kepadanya dan mengatakan bahwa itu bukan urusannya.
Kejadian tersebut meninggalkan bekas luka yang mendalam untuk saya. Sampai saat ini saya belum membuka hati untuk mencari teman baru. Pasangan saya pun sedih dan selalu meminta untuk mencari teman baru tetapi selalu saya tolak. Saya belum siap karena luka tersebut membuat saya trauma.
Suatu hari saya melihat sebuah video yang mengatakan „Jangan membuka peluang sekali lagi untuk seseorang yang sudah menghancurkan hubungan dalam segi pertemanan, keuangan atau percintaan! Ular mengubah kulitnya untuk menjadi ular yang lebih besar lagi“.
Penulis: Brina Weis tinggal di Jerman dan dapat dikontak di Instagram @svasthi_
Halo Sahabat Ruanita, nama saya Ajeng dan tinggal di Hamburg, Jerman. Mungkin kalian sudah pernah membaca tulisan-tulisan saya di Cerita Sahabat Ruanita. Kali ini, saya mau bercerita tentang kesulitan saya memutuskan sesuatu.
Saya baru menyadari kesulitan tersebut setelah saya tinggal jauh dari rumah. Sebelumnya saya berkuliah di Bandung dan pulang ke rumah orang tua di Tangerang. Perjalanan ini bisa ditempuh dengan cepat dengan bus atau mobil travel. Jadi kalau saya perlu apa-apa, saya hanya perlu pulang. Ketika saya bingung memutuskan sesuatu, tinggal tanya ibu saya.
Begitu saya tinggal di Jerman, saya kebingungan saat membeli pakaian atau sepatu. Ini bukan hanya soal modelnya saja, tetapi juga ukurannya. Tidak hanya itu, hal kecil lain yang membuat saya harus memilih pun membuat saya overwhelmed.
Jika saya ingat-ingat, banyak sekali pengalaman saya saat saya bingung memilih barang. Saya selalu harus bertanya ke teman-teman dan keluarga (ibu dan adik perempuan) dengan cara mengirimkan foto-foto barang tersebut ke mereka. Saya meminta mereka memilihkannya untuk saya.
Tidak jarang, saya akan memesan atau membeli semua pakaian atau sepatu yang saya suka untuk dicoba di rumah dulu. Tentu saja, saya mencobanya tidak sendirian. Saya akan mengirimkan foto-fotonya ke teman-teman saya atau bahkan menelepon video dengan mereka agar mereka melihat saya saat mengenakan pakaian tersebut. Untungnya, teman-teman saya ini mempunyai selera yang bagus tentang fesyen sehingga bisa saya andalkan.
Bulan lalu, saya memesan sepatu di online shop. Saya memesan tiga sepatu dengan dua model dan dua ukuran berbeda untuk saya coba di rumah teman. Ya, di rumah teman. Saya juga mengirim langsung ke rumah dia. Selain karena saya jarang di rumah, saya ingin agar teman saya itu bisa melihat langsung saat saya memakainya. Padahal, saya sudah mengirimkan foto layar sepatu itu sebelumnya ke dia. Akhirnya, setelah saya melihat dan mencoba langsung, semua sepatu tersebut saya kembalikan.
Ditemani dengan teman saya itu, kami pergi ke toko sepatu dan menemukan sepasang sepatu yang nyaman. Tentu saja, itu atas bantuan dia. Dia yang memilih warna dan modelnya untuk saya. Oh ya, toko sepatu yang kami datangi ada cabangnya di mana-mana. Beberapa hari sebelumnya, saya sudah mengunjungi ke salah satu cabang tokonya tetapi tidak menemukan apa-apa.
Sepatu tersebut tidak saya pakai sampai dua minggu loh. Saya menunggu dempul ortopedi saya selesai, karena akan disesuaikan dengan sepatu tersebut. Setelah insole dimasukkan, saya memakai sepatu tersebut untuk keluar rumah. Ujung-ujungnya, saya menyesal membelinya. Pada waktu itu, saya memang membeli satu ukuran lebih besar agar insole bisa masuk. Sebagai catatan, sepatu tersebut punya insole yang bisa dilepas. Memang sih setelah sepatu disesuaikan, insole tersebut masuk. Namun, bagian lain kaki saya menjadi sakit karena sepatu itu ternyata terlalu besar.
Sebelum membeli barang, biasanya saya juga akan membaca deskripsi barang dan review dengan teliti. Saya akan memasukkan barang dengan rating bagus ke keranjang belanja digital sebelum membaca deskripsinya. Barang-barang yang saya maksudkan ini biasanya bukan hanya pakaian, tetapi lebih ke peralatan dapur, rumah tangga, atau barang elektronik. Saya merasa hanya sedikit barang-barang di rumah yang saya beli tanpa bertanya ke orang lain atau membaca deskripsinya terlebih dahulu.
Saya memang tidak terlalu senang pergi langsung ke toko pakaian atau sepatu. Menurut saya, banyaknya pilihan di toko maka membuat saya memerlukan waktu lama untuk berpikir. Bisa jadi, di toko saya akan sibuk memasukan banyak pilihan barang ke keranjang, berkeliling di toko tersebut sambil menimbang yang mana pilihan saya, atau apakah saya benar-benar membutuhkan dan mau membeli barang tersebut?
Saya juga selalu menyimpan struk belanja. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi kalau saya mungkin mengembalikan barang tersebut. Bisa jadi, saya akan melihat-lihat barang di toko online terlebih dahulu, kemudian mengunjungi ke toko sebenarnya untuk melihat langsung barang tersebut. Setelah itu, saya mungkin akan meletakan barang itu kembali di Display, lalu saya pulang untuk kembali melihatnya di toko online dan berpikir ulang.
Ini tidak hanya persoalan membeli barang. Membeli makanan di restoran juga, itu membingungkan untuk saya. Biasanya saya akan memesan makanan yang sudah pernah saya makan. Kalau di restoran baru, saya akan mengecek terlebih dulu di google review atau website restoran tersebut sebelumnya sehingga saya bisa berpikir lebih lama. Atau saya akan minta rekomendasi dari teman, jika mereka pernah makan di sana.
Memasak juga kadang menjadi hal yang sulit bagi saya. Kadang-kadang, saya akan bertanya ke keluarga di Indonesia atau suami di Denmark apa yang saya harus saya masak, walaupun hanya saya yang makan sendiri. Suami saya sudah enggan meresponnya karena dia tidak mengerti masakan Indonesia. Selain itu, pertanyaan saya terdengar “receh” juga.
Tidak hanya itu, saya juga sulit memutuskan apa yang harus saya lakukan. Contohnya, apakah saya harus menyeberang jalan saat lampu lalu lintas merah sebentar lagi, atau nanti saja? Kalau di tempat kerja, saya bingung memutuskan prioritas apa yang harus saya kerjakan terlebih dulu. Saya sudah tidak ingat lagi contoh-contoh lainnya. Ujung-ujungnya, saya akan terlihat seperti orang linglung, karena saya bisa jadi berputar-putar sendirian di tempat yang sama.
Karena setahun terakhir ini saya sakit kaki, akhirnya saya bikin janji juga di fisioterapi di dekat rumah. Fisioterapis yang praktik di sana ada banyak. Saya memilih fisioterapis yang paling atas di dalam daftar. Mengapa? Semakin saya melihat ke bawah daftar fisioterapis, saya semakin bingung.
Ternyata tepat sekali, jadwal fisioterapis yang saya pilih memang yang paling cepat. Di hari pertama, fisioterapis tersebut mengatakan kalau di sana saya bisa bebas memilih fisioterapis siapa pun. Fisioterapis akan menyesuaikan dengan jadwal saya. Di hari yang sama saya langsung booked empat janji lainnya dengan dia dan satu janji dengan terapis lainnya. Itupun karena jadwal janji terapis pertama tidak sesuai dengan saya. Iya, saya keukeuh membuat jadwal dengan dia lagi untuk menghindari kebingungan mencari fisioterapis baru.
Kemarin adalah jadwal saya dengan fisioterapis yang kedua. Ternyata lebih enak dibandingkan terapis yang pertama. Saya merasa menyesal juga tidak mencoba ke fisioterapis yang lain, karena dari sana saya akan belajar teknik baru untuk latihan otot kaki. Setiap jadwal dengan fisioterapis pertama, dia akan memberikan pijatan di kaki saya yang sakit.
Baru-baru ini saya baru mengerti, bahwa kesulitan saya memutuskan sesuatu itu berhubungan juga dengan ketakutan. Saya takut sepatu yang saya pakai tidak enak dipakai dan tidak bagus, karena itu saya tanya teman. Saya memesan atau memasak makanan yang itu-itu saya karena saya takut makanan lain tidak enak dan saya tidak menikmatinya. Saya takut lari menyeberang di zebra cross yang hampir merah, karena saya malu orang lain melihat saya panik atau takut tiba-tiba mobil akan jalan saat saya masih di tengah jalan. Takut salah, takut malu, dan takut menyesal, itu tiga alasan kebimbangan saya.
Walau saya selalu bertanya ke teman tentang pakaian dan sepatu yang akan dibeli, saya tidak selalu mendengarkan kata mereka. Saya pernah membeli sepatu kulit, walaupun teman saya bilang tidak. Alasannya, dia punya pengalaman kaki menjadi sakit dan lecet saat dia memakai sepatu kulit. Saat sepatu itu datang (lagi-lagi ke rumah teman saya), saya suka sekali.
Sejujurnya, saya merasa sedikit sedih dan takut, kalau pilihan saya sendiri ini salah. Apalagi, setelah saya melihat reaksi teman saya yang tidak tertarik saat saya memakai sepatu itu. Sampai sekarang, saya tidak menyesal mengenakan sepatu tersebut, walaupun memang kaki saya menjadi sakit dan berubah bentuk. By the way, sakit kaki yang tadi diceritakan di atas itu bukan karena sepatu kulit ini. Memang saya sudah mengalami sakit kaki sebelumnya.
Soal alasan psikologis kesulitan memilih, saya baru mengetahui awal tahun ini. Saat itu, terapis psikologis saya mengajukan banyak pertanyaan saat dia sedang melakukan diagnosa. Salah satu pertanyaannya adalah apakah saya susah memutuskan sesuatu. Contoh yang dia maksudkan adalah memilih baju atau makanan dalam kegiatan sehari-hari. Alhamdulillah, saya belum masuk ke tahap tersebut. Saya bisa memutuskan keduanya itu dengan cepat, walaupun pada akhirnya saya selalu memakai baju atau memesan masakan yang sama.
Setelah saya mengetahui indecisiveness berhubungan dengan psikologis saya, saya semakin berusaha untuk menguranginya. Trik saya adalah tidak terlalu banyak memikirkan hal tersebut. Jika saya mau memesan sepatu atau pakaian, saya memesan saja langsung model yang disukai. Hanya saja, saya memesan dua ukuran berbeda agar bisa dicoba dulu di rumah.
Saat saya memesan barang di online shop, saya masih mencari barang yang memiliki ulasan yang bagus dan membacanya tidak lagi detil. Saya sering juga memasukan dua atau tiga barang tersebut di keranjang lalu saya menunggunya hingga sebulan. Setelah itu, biasanya saya malah tidak lagi punya keinginan untuk memesan.
Hal yang lebih susah mungkin, memutuskan hal yang tidak bisa dibeli atau ditukar, seperti fisioterapis itu. Inginnya saya bisa bertanya ke mereka atau resepsionis tentang fisioterapis mana yang lebih bagus yang disarankan untuk saya. Tentunya, jawaban mereka akan sama saja, seperti kami punya standar yang sama. Sayangnya, di aplikasi cari dokter/terapis belum ada sistem ulasan pasien mereka.
Sebelum menikah, saya diserang oleh indecisiveness yang sangat kuat. Saya takut salah pilih. Rasanya saya mau bertanya ke semua orang dan meminta mereka memutuskannya untuk saya. Namun, tentu saja itu tidak bisa dilakukan. Alhamdulillah, saya tidak menyesali keputusan tersebut sampai sekarang. Kalau pun ada, saya masih punya alasan kuat untuk bahagia bersama suami.
Untuk Sahabat Ruanita, ini pesan saya. Kalau kamu juga memiliki problem indecisiveness seperti saya, cobalah untuk tidak terlalu memikirkan baik dan buruk dari pilihan kita. Sekali-sekali, cobalah bersikap spontan melakukan atau membeli sesuatu! Jangan juga memberikan kesempatan kepada kita untuk bersikap overthinking! Kita bisa loh mengikuti kata hati.
Saat mendapat tawaran menulis CERITA SAHABAT, saya memilih tema integrasi budaya, ketimbang dua tema lainnya. Padahal kursus integrasi saya ikuti 10 tahun lalu. Apakah pengalaman saya tersebut masih relevan saat ini? Awalnya saya pikir saya bisa bercerita menarik mengenai kursus integrasi budaya, ternyata sampai sebulan tenggat waktu yang diberikan, saya belum juga selesai menulis.
Nama saya Nella Silaen, berusia 44 tahun dan ibu dari dua anak (usia 8 tahun & 6 tahun). Saya tinggal di Chemnitz, Sachsen. Saya tinggal di Jerman sejak Mei 2011. Aktivitas keseharian selain sebagai ibu rumah tangga, saya sedang mengikuti kursus B2-Deutschkurs Beruf. Saya memiliki hobi berkebun dan mengerti sedikit cara merawat anggrek. Karena hobi berkebun tersebut, saya kerap mendapat panggilan untuk mengurus kebun orang Jerman.
Saya datang ke Jerman sebagai imigran cinta. Saya bertemu suami di online date. Kita saling cocok secara online lalu dia datang dua kali mengunjungi saya di Jakarta. Saya kemudian pergi ke Jerman bertemu keluarganya. Saya kembali ke Jakarta dan mengurus semua surat untuk menikah di Jerman.
Saat kami tiba di Jerman untuk menetap, kita mendaftarkan diri di kantor imigrasi (Ausländerbehörde) nanti kita diberitahu wajib ikut kursus integrasi. Petugas akan memberikan daftar tempat kursus yang berada di wilayah tempat tinggal kita. Atau kalau kita mau cari sendiri tempat kursusnya, pun bisa juga.
Setelah setahun tinggal di Jerman dan akan memperpanjang izin tinggal, petugas imigrasi akan menanyakan sertifikat kelulusan kursus integrasi. Atau, kalau mau apply izin tinggal tak terbatas di Jerman maka kita harus menunjukkan sertifikat lulus B1.
Kursus integrasi adalah kursus yang wajib diikuti oleh pendatang di Jerman (warga non EU), kursus ini terdiri dari kursus bahasa dan kursus orientasi. Saat ini kursus Integrasi memiliki 700 jam pelajaran. Biaya € 2,29 per jam pelajaran. Kursus Integrasi 600 jam dan kursus orientasi 100 jam.
Tahun 2012, saya mengikuti kursus integrasi masih 660 jam dan biaya 1 Euro/jam pelajaran. 1 jam pelajaran 45 menit. Ujian akhir gratis.
Kursus Integrasi wajib diikuti sampai tingkat B1. Mulai A1, A2 dan B1. Biaya kursus tidak dibayar sekaligus, tetapi tiap 100 jam pelajaran barulah kita bayar. Jika kita lulus ujian B1 maka kita kita mendapat kembali 50% uang kursus tersebut. Jadi pemerintah menanggung 50% nya. Jika peserta kursus tidak lulus ujian B1 maka kita bisa mengulang kursusnya dan tidak membayar lagi. Namun tidak ada pengembalian 50% uang kursus.
Kalau kita sudah bisa bahasa Jerman, atau dari Indonesia sudah mempunyai sertifikat lulus ujian C1 atau C2 maka kita tidak perlu ikut kursus integrasi lagi, mungkin perlu ikut kursus orientasi (100 jam).
Mengapa pendatang di Jerman wajib ikut kursus integrasi?
Jika kita ingin tinggal di Jerman, kita harus berbicara bahasa Jerman. Integrationskurs (Kursus Integrasi) wajib diikuti para migran dan pendatang sejak tahun 2005. Kalau kita tidak paham Bahasa Jerman, bagaimana keseharian kita?
Tentu saja ini akan merepotkan karena orang Jerman hanya mau bicara bahasa mereka saja. Kalau di Belanda, masih banyak orang mau berbahasa Inggris. Di Jerman jangan sakit hati dicuekin kalau tidak bisa bahasa Jerman!
Ya, mungkin di kota besar yang banyak expat seperti di Berlin, München atau Frankfurt bisa pakai Bahasa Inggris. Namun kalau kita berurusan dengan petugas kantor pemerintahan, misalnya mau urus surat apapun, penting bagi kita bisa berbahasa Jerman.
Pengetahuan bahasa Jerman membantu kita ketika mencari pekerjaan, bagaimana cara menulis surat lamaran, saat wawancara pekerjaan, harus mengisi formulir di kantor Imigrasi misalnya, atau mau membuka rekening bank, mau mendaftar sekolah anak, berbelanja, kunjungan ke dokter, ke kantor pos, menonton tv, menyapa orang asing, dan berbagai hal. Dalam keseharian, kita membutuhkan kemampuan Bahasa Jerman.
Pada kursus integrasi selain belajar bahasa Jerman dari tingkat dasar A1 kita juga belajar tentang negara Jerman, seperti sejarah, budaya, dan sistem hukumnya diajarkan dalam kursus orientasi. 600 jam belajar Bahasa Jerman. 100 jam nya adalah kursus orientasi. Ujian akhir ada 2, yakni ujian B1 dan ujian orientasi.
Pelajaran Bahasa Jerman di kursus integrasi menurut saya menarik. Kita mendapat buku yang isinya pelajaran membaca (lesen), menulis (schreiben), mendengar (hören) dan berbicara (sprechen). Tiap bab berbeda temanya. Misal bagian awal diajarkan bagaimana cara menyapa orang dengan sopan, bagaimana cara berkenalan, cara membuat janji dengan dokter, dan berbagai tema menarik lainnya seperti berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Deutsch ist eine schwere Sprache! Sebaiknya kita tidak bolos satu kalipun dari kursus. Kalau kita pernah bolos dan terlewat bagian pelajaran penting, maka kita akan sangat kesulitan ikut bab berikutnya. Kerjakan semua PR yang diberikan dan bisa cari contoh ujian di internet.
Bagian kursus orientasi
Kita belajar tentang negara Jerman seperti sejarah, budaya, dan sistem hukumnya. Selain itu, kita belajar mengetahui tipikal orang Jerman seperti apa. Misal budaya Jerman tepat waktu, jangan jam ngaret seperti di Indonesia dibawa ke Jerman. Kita akan kena omelan kalau tidak tepat waktu, meskipun oleh keluarga sendiri. Saat saya mendapat undangan makan, kita datang telat, suami dan saya pernah loh kena marah ibu mertuaku haha…
Budaya bikin termin di Jerman. Kalau di Indonesia mau berkunjung ke tetangga, teman dekat, teman kantor bisa saja tiba-tiba datang ‘kan. Nah, kalau di Jerman kita wajib bikin janji terlebih dahulu. Jangan sakit hati kalau kalau nge-bel rumah sahabatmu, walau yang bersangkutan ada di dalam rumah, dia tidak akan membukakan pintu haha.
Budaya memisahkan sampah di Jerman. Kalau di Indonesia semua sampah disatukan di tempat yang sama. Nah, di Jerman bisa sampai 5 jenis dipisahkannya di tiap rumah tangga. Sampah kertas ada tong khusus, sampah plastik, sampah organik, botol & gelas terpisah, dan sampah tidak bisa didaur ulang (rest müll). Baju bekas mau disumbangkan pun ada tempat khusus.
Sampah elektronik ada tempat khususnya. Kalau kita tidak memisahkan sampah menurut jenisnya, seringkali petugas angkut sampah buka tutup tong sampah dilihat sekilas isinya. Kalau tidak sesuai isinya, mereka tidak mau angkut. Atau kita dikasih kertas peringatan. Kalau kita mendapat beberapa kali peringatan maka kita kena denda deh!
Oh iya, botol beling bekas dibuang pun ada aturannya loh. Ada tong khusus sesuai warna botolnya haha. Ada tempat botol hijau, coklat, dan bening. Sebaiknya, kita melepas tutup botolnya juga. Bukan di Jerman memang, kalau itu tidak bikin ribet!
Kalau di Indonesia, kebanyakan suami tugasnya mencari uang di luar rumah dan ibu rumah tangga mengurus anak, masak dan beberes rumah. Nah, pria di Jerman selain mencari uang dan membantu istrinya, dia perlu mengurus anak, mandiin anak, memberi makan, dan ajak anak jalan-jalan. Ini agar si ibu punya waktu istirahat sebentar. Suami di Jerman juga mau disuruh masak, bebersih rumah dan menjemur cucian.
Orang Jerman itu to the point, bicara apa adanya. Kalau istri bertanya „Bagus mana, rambut pendek atau panjang. Baju mana yang lebih bagus dan seterusnya?“ jangan kamu mengharapkan jawaban yang menyenangkan dari suami. Sebaiknya jangan tanya pendapat orang Jerman, kecuali kalau siap sakit hati atau tidak sesuai yang ingin kamu dengar.
Orang Jerman kerap menegur kalau ada yang salah. Misal, tetangga menegur karena kita salah membuang sampah. Kita naik sepeda saat malam lalu lampu sepeda tidak nyala terkadang ada yang menegur.
Jangan heran juga kalau tetangga datang atau lapor polisi saat kita ribut bikin gaduh di jam tenang (Ruhezeit). Jam tenang yakni jam 10 malam hingga jam 7 pagi. Jam 1 siang hingga jam 3 sore jam pun termasuk jam tenang juga. Hari Minggu & tanggal merah satu hari pun dianggap jam tenang. Jadi kita tidak boleh bikin ribut.
Hati-hati ya, kalau mau masak yang bau-bau seperti goreng ikan asin, bikin sambal terasi, goreng ikan teri! Waspada kita ditegur tetangga karena aroma masakan tersebut mengganggu mereka haha. Jangan kaget kalau kita didatangi polisi karena tetangga lapor ada cium bau mayat. Padahal kamu sedang goreng ikan asin.
„Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.“ Kita sebaiknya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana kita tinggal. Dalam hal ini, kita tinggal di Jerman. Apa yang boleh saja dilakukan di Indonesia, bisa saja tidak biasa di Jerman :).
Pesan saya, kalau kita mau ikut kursus integrasi, penting kita mengetahui budaya orang Jerman. Saat kita mampu berbahasa Jerman dengan baik, kita bisa mengemukakan pendapat kita sendiri. Kalau apa yang kita lakukan benar sesuai aturan di Jerman, JANGAN takut untuk melawan orang Jerman juga hehe:) Jangan takut untuk komplain, seperti saya pernah menjawab tetanggaku yang rese teriakin dua anakku yang main di kebun kita. Anak-anakku disuruh tidak ribut. Padahal anak-anakku bermain bukan di jam tenang loh.
Si tetangga lansia rese itu sudah lebih dari 2 kali teriakin anak saya. Jadi saya melawan. Saya menjawab saja kalau anak-anak berhak main dan bisa bikin ribut. Saya pun pernah beberapa kali komplain ke kasir karena kurang uang kembalian atau berbagai komplain lainnya. Ya, itu karena saya mengerti Bahasa Jerman.
Perempuan ini bukan Sayu, anak perawan dari saudagar kaya raya dalam novel „Anak Perawan di Sarang Penyamun“, melainkan anak pendeta kelahiran Jerman Timur yang kemudian menjadi kanselir Jerman kedelapan, Angela Merkel.
Dua windu lamanya sosok Merkel menghiasi foto tahunan bersama pemimpin negara G7, kelompok 7 negara industri terpenting di dunia. Selama waktu itu wajah para pemimpin negara G7 silih berganti, sementara yang konstan hanyalah Angela Merkel, satu-satunya perempuan di sarang penyamun. Dia bukan perempuan lemah melainkan perempuan yang menentukan arah dan mengambil keputusan.
Angela Merkel menduduki puncak kepemimpinan di Jerman sebagai kanselir perempuan pertama di Republik ini selama 16 tahun. Waktu kepemimpinannya menyamai rekor Helmut Kohl, bapak asuh politiknya, yang juga memerintah selama 4 periode. Di tangan Merkel, Jerman melewati gejolak krisis finansial, krisis ekonomi, krisis Euro, krisis pengungsi, serta krisis korona. Ini bisa dikatakan tanpa pukulan yang berarti.
Untuk kebijakannya membuka perbatasan Jerman bagi para pengungsi terutama dari Timur Tengah pada masa krisis tahun 2015 yang lalu – sebuah keputusan yang tidak populer tapi sangat manusiawi – Merkel baru-baru ini dianugerahi penghargaan perdamaian dari UNESCO.
Selain berkali-kali didaulat oleh Forbes sebagai perempuan paling berkuasa di dunia, pada tahun 2016 majalah TIME juga menobatkan Merkel sebagai “The leader of the free world”, pemimpin dunia bebas. Sebagai perempuan, saya benar-benar bangga akan perempuan satu ini.
Lalu, bagaimana peranan kanselir perempuan ini dalam hal kesetaraan gender di Jerman?
Dalam kaitan ini prestasi Merkel yang sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan ini tak segemilang pamornya di dunia internasional. Menurut penulis biografinya, Jacqueline Boysen, Merkel memilih bersikap cenderung represif karena ketergantungannya pada suara para politikus laki-laki di belakangnya.
Partai Persatuan Demokrat Kristen (CDU) yang merupakan rumah politik Angela Merkel adalah partai konservatif yang masih mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan tuntutan kesetaraan. Sementara untuk tetap memegang tampuk kekuasaan politik, Merkel sangat memerlukan dukungan dari partainya.
Bertahun-tahun lamanya, Merkel yang tidak ingin disebut pejuang emansipasi itu menolak penetapan kuota perempuan di jajaran direksi untuk perusahaan besar. Dia berharap bahwa hal itu akan terjadi dengan sendirinya. Penantian tak berujung itu kemudian diakhiri dengan pengesahan undang-undang penetapan kuota perempuan sebesar 30% pada tahun 2015 oleh parlemen Jerman.
Sebagai hasil kerja sama dengan partai koalisi juga, beberapa undang-undang yang menguntungkan kehidupan berkeluarga kemudian disahkan di era Merkel. Contohnya Elternzeit, yaitu hak untuk mengambil cuti mengasuh anak yang dapat diambil selama maksimal 3 tahun, baik oleh ibu, oleh ayah, maupun oleh keduanya.
Orang tua tidak hanya bisa kembali ke tempat kerjanya setelah cuti ini saja, akan tetapi untuk jangka waktu tertentu mereka juga bisa mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Tunjangan itu sebesar 65% atau maksimal 1.800€ dari pendapatan Netto sebelumnya. Bahkan tunjangannya mencapai 100% untuk orang tua berpenghasilan rendah. Setelah kelahiran anak kedua pada tahun 2012, saya juga memanfaatkan kesempatan ini dan mengambil cuti selama satu tahun.
Jerman memang memiliki banyak peraturan dan perundang-undangan yang memihak perempuan. Misalnya undang-undang kesetaraan di dunia kerja yang memprioritaskan perempuan dalam proses perekrutan tenaga kerja atau kenaikan pangkat jika kualifikasinya setara dengan laki-laki. Hal ini dijamin dengan keberadaan Frauenbeauftragte di banyak perusahaan, dinas, lembaga, dan instansi sosial.
Perwakilan perempuan ini dilibatkan dalam proses perekrutan dan promosi jabatan. Hal ini untuk memastikan perlindungan dari diskriminasi dan perlakuan lain yang merugikan perempuan. Perwakilan perempuan atau perwakilan kesetaraan ini dijumpai di perusahaan atau instansi yang minimal memiliki 100 pegawai.
Akan tetapi pada praktiknya, banyak perusahaan atau instansi masih memandang kemungkinan perempuan untuk menjadi hamil dan mempunyai anak sebagai suatu kendala. Memang untuk waktu cuti hamil dan melahirkan (6 minggu menjelang persalinan dan 8 minggu setelahnya) perusahaan atau instansi harus mencari pengganti.
Jika seorang pegawai perempuan mengambil cuti panjang maka harus dicari penggantinya. Penggantinya harus siap untuk meninggalkan posisi tersebut apabila si pegawai perempuan tadi ingin kembali ke posisinya. Hal ini terkadang menimbulkan dilema. Di samping itu, ada juga kekhawatiran yang cukup beralasan. Kemungkinan seorang pegawai perempuan meninggalkan pekerjaannya lebih besar ketika memiliki anak dalam masa pertumbuhan.
Pemerintah Jerman memang menjamin hak anak mulai umur 1 tahun untuk mendapatkan tempat di institusi pengasuhan anak seperti Kinderhaus atau Kindergarten. Hal ini tidak hanya untuk mengantisipasi kebutuhan orang tua yang bekerja tapi juga untuk mendukung pertumbuhan anak usia dini. Akan tetapi, infrastruktur yang tersedia masih jauh dari memadai.
Saya sendiri mengalami kesulitan besar untuk mendapatkan tempat di Kindergarten bagi anak pertama kami. Ketika dia berumur 2 tahun, saya mulai mencari Kindergarten untuk tahun berikutnya ketika dia berumur 3 tahun. Saya tidak ingat lagi berapa Kindergarten dan Spielgruppe (kelompok bermain) yang saya datangi karena setiap kali mendapat jawaban negatif.
Beberapa orang bahkan terheran-heran bahwa saya baru mulai mencari tempat pada waktu itu. Seharusnya saya sudah jauh-jauh hari melakukannya.
”Kalau bisa, begitu Anda punya rencana untuk punya anak, Anda sudah harus mendaftarkannya di Kindergarten!” begitu canda seorang pegawai di satu Kindergarten yang saya kunjungi. Saya beruntung bisa mendapatkan tempat di salah satu Kinderhaus ketika anak saya berumur 3 tahun.
Seperti kebanyakan perempuan bekerja yang juga menjadi ibu, saya pun menjalankan tugas klasik itu. Saya mengurus anak dan rumah tangga, di samping bekerja penuh atau paruh waktu. Itu adalah tantangan yang maha berat bagi saya. Impian memberikan yang terbaik untuk keluarga dan juga tempat kerja seringkali tidak beranjak dari utopia.
Hal itu bahkan berbalik menjadi bumerang yang membuat saya semakin memahami apa makna dari istilah „beban ganda“. Oleh sebab itu, saya bisa memahaminya. Jika sebagian perempuan, walaupun mereka misalnya berpendidikan tinggi, lalu memilih meninggalkan pekerjaan. Mereka mengabdikan diri untuk anak dan keluarga. Sebuah keputusan mulia yang tidak selalu mendapat penghargaan setara.
Menurut sensus mikro tahun 2019 di negara dengan pendapatan domestik brutto terbesar di Uni Eropa, risiko kemiskinan pada perempuan juga lebih tinggi daripada untuk laki-laki. Hal ini disebabkan antara lain karena perempuan lebih banyak bekerja di sektor berpendapatan rendah dengan tunjangan yang minim, terutama untuk bisa bekerja paruh waktu agar bisa mengurus anaknya.
Selain itu, biografi masa kerja perempuan sering diselingi dengan jeda. Hal ini karena perempuan berhenti bekerja atau cuti untuk mengurus anak dan rumah tangga. Hal ini sekali lagi berarti pengurangan premi untuk asuransi pengangguran dan asuransi pensiun. Pada akhirnya, ini akan berdampak pada pemotongan pendapatan pada masa pengangguran atau pensiun.
Pekerjaan rumah berikutnya adalah perlakuan tidak adil dalam hal penetapan gaji yang juga masih merupakan praktik biasa di Jerman. Walaupun praktik ini sudah mengalami perbaikan dibandingkan dengan 15 tahun yang lalu. Pada tahun 2021, pendapatan perempuan di Jerman rata-rata 18% lebih sedikit daripada pendapatan laki-laki untuk pekerjaan dengan kualifikasi yang sama.
Salah satu alasannya adalah apa yang disebut Gender Care Gap. Gender gap adalah kesenjangan gender yang terjadi karena lebih banyak perempuan mengambil cuti panjang atau bekerja paruh waktu. Hal ini tentu saja akan berpengaruh negatif pada jenjang kenaikan gajinya. Selain itu, laki-laki lebih berani untuk menuntut gaji lebih tinggi. Sementara perempuan tergolong lebih segan untuk tawar-menawar kenaikan gaji.
Bagaimana situasinya di Indonesia?
Dalam satu hal, saya juga sempat merasakan kebanggaan, bahwa Indonesia mendahului Jerman dalam hal perempuan pemimpin negara. Adalah Megawati Soekarno Putri menjadi presiden RI kelima sekaligus presiden perempuan pertama Indonesia pada tahun 2001. Megawati juga adalah seorang perempuan di sarang penyamun yang dipenuhi politikus laki-laki berjejak patriarki.
Hal ini mungkin mendorong perdebatan tentang dikotomi antara perempuan dan laki-laki tapi belum dapat mengubah persepsi masyarakat Indonesia tentang kepemimpinan perempuan secara radikal. Dalam indeks kesenjangan gender yang dirilis oleh World Economic Forum tahun 2022, Indonesia menduduki posisi ke-94. Sementara Jerman berhasil naik ke posisi ke-10 dari 146 negara.
Namun dari tanah air baru-baru ini, saya terpukau melihat gambar yang menyebar dari pertemuan G20 di Bali pada bulan November tahun 2022. Ada dua sosok perempuan yang selalu mengapit Presiden Joko Widodo dalam perhelatan ini. Dua wajah familiar yang juga membuktikan bahwa perempuan Indonesia bisa unjuk gigi di ruang publik, bahkan di dunia internasional.
Perempuan pertama adalah Sri Mulyani, Menteri Keuangan yang sebelumnya ditarik ke Kabinet Jokowi, menduduki posisi Direktur Pelaksana di Bank Dunia, sebagai orang Indonesia pertama. Yang kedua adalah Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri. Beliau sebelumnya memimpin perwakilan diplomatik Republik Indonesia di beberapa negara Eropa. Namun, apakah kita hanya akan puas dengan menjadikan kedua perempuan ini inspirasi tanpa adanya aksi nyata gebrakan emansipasi?
Kembali ke Jerman. Kuatnya cengkeraman sistem patriarki di Jerman dapat dikatakan meminimalisasi capaian di bidang kesetaraan gender selama era Merkel. Adalah Annalena Baerbock, perempuan muda yang mengetuai Partai Hijau. Dia mulai digadang-gadang menjadi calon kanselir untuk pemilihan tahun 2021.
Banyak orang mempertanyakan – bahkan jauh sebelum pencalonannya dikukuhkan – apakah seorang ibu dengan dua anak usia sekolah dasar ini mampu mengemban tugas sebagai kanselir Jerman. Satu hal yang tidak akan dipertanyakan, seandainya dia seorang laki-laki.
Jujur saja, berapa banyak perempuan di antara kita yang tidak berpikir ke arah sana? Bagaimana perubahan paradigma bisa terjadi jika domestikasi perempuan masih disakralkan bahkan oleh kaumnya sendiri?
Annalena Baerbock kemudian didaulat menjadi Menteri Luar Negeri. Dia juga sebagai perempuan pertama di Jerman yang mengemban tugas ini. Di lingkungan Uni Eropa yang beranggotakan 28 negara, ada 6 perempuan yang memangku jabatan ini, termasuk Baerbock.
Di level ini, sudah ada lebih banyak perempuan di sarang penyamun. Namun di tingkat G7 kita kembali harus membiasakan diri dengan gambar para penyamun tanpa perempuan. Entah untuk berapa lama.
Penulis: Andi Nurhaina, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.
Pada tanggal 8 maret diperingati Hari Perempuan Sedunia sejak tahun 1911. Sudah lebih dari seabad ternyata perempuan berusaha menyerukan suaranya untuk lebih bisa aktif dalam lingkungan sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Hari yang sakral untuk kaum perempuan menantikan eksistensinya diakui, didukung dan juga dilindungi hak dan kewajibannya.
Jerman, Austria, Denmark, dan Swiss merupakan negara-negara di Eropa yang pertama kali ikut merayakan Hari Perempuan Internasional tatkala Amerika Serikat juga ingin mengatasi penindasan dan juga kekerasan terhadap perempuan. Hari Perempuan Internasional dipilih menjadi hari libur umum di dua negara bagian Jerman yaitu di Mecklenburg-Western Pomerania dan Berlin. Tidak seluruh Jerman menjadikan 8 Maret sebagai hari libur.
Penyempitan kesenjangan gender di dalam bidang-bidang kehidupan seperti akses kesehatan, pendidikan, partisipasi dalam dunia berpolitik hingga kesetaraan ekonomi berlanjut menjadi permasalahan pokok yang dialami kaum perempuan.
Salah satunya di negara berkembang Indonesia, kaum perempuan kini dapat menikmati pendidikan tinggi dan pekerjaan seperti kaum laki-laki tetapi kesenjangan gender dalam posisi kepemimpinan, potensi penghasilan, dan peningkatan karier masih sangat mencolok.
Perempuan melihat diri mereka sebagai emansipasi yang sanggup menginspirasi individu di dalam dirinya sendiri. Perempuan menjadi kuat dan giat dalam mencapai tingkatan-tingkatan kehidupan tertentu, seraya kemandirian mendukung untuk memperbaiki kualitas hidup.
Emansipasi bukan untuk menggeser apalagi melangkahi kaum laki-laki. Emansipasi bukan menyampingkan ajaran-ajaran agama yang telah dipelajari dan dipahami tentang tantanan peran perempuan di lingkungan hidup sosial.
Semboyan Hari Perempuan Internasional 2022 adalah: Kesetaraan gender hari ini untuk hari esok yang berkelanjutan. Emansipasi tidak berarti kesetaraan, tetapi kebebasan memilih. Lebih banyak pilihan dalam masyarakat individual memungkinkan perempuan untuk lebih berprestasi.
Menteri Federal Jerman untuk Perempuan dan Kehakiman, Christine Lambrecht telah mengeluarkan sebuah resolusi tentang kuota perempuan dalam dunia kerja. Dia juga menghimbau perluasan lebih lanjut dari fasilitas pengasuhan anak yang diaplikasikan dalam undang-undang posisi manajemen Jerman. Hal ini agar kaum perempuan lebih banyak dalam posisi manajerial untuk bisnis dan layanan publik.
Dikutip dari laman Kementerian Keluarga, Orang Lanjut Usia, Perempuan dan Anak Muda Jerman (Bundesministerium für Familie, Senioren, Frauen und Jugend) “Undang-Undang Posisi Manajemen yang baru merupakan tonggak sejarah bagi wanita di Jerman. Dengan undang-undang tersebut, dipastikan bahwa lebih banyak wanita berkualifikasi tinggi dapat maju ke manajemen puncak.
Kuota minimal 30 persen perempuan kini telah terlampaui. Lebih banyak wanita di ruang rapat, memperkaya ekonomi dan memiliki fungsi panutan yang penting, serta menyebar ke area lain di perusahaan. Bahkan sebelum peraturan baru diberlakukan, perusahaan terkenal telah memberi kesempatan pada perempuan di dewan mereka. Ini sudah menunjukkan betapa pentingnya komitmen kami terhadap hukum.”
Dari pernyataan di atas, kepercayaan publik terhadap kepemimpinan perempuan di Jerman sudah cukup tinggi. Penyuluhan dan dukungan yang terus menerus dipekikan oleh Kementerian Jerman tersebut berbuah pencapaian yang manis. Baik instansi pemerintahan maupun perusahaan-perusahaan ternama di Jerman mengualifikasikan kapabilitas perempuan untuk menduduki bagian-bagian krusial.
Lalu bagaimana dengan perkembangan kesenjangan gender dan upah di Indonesia dalam ruang publik? Apakah juga sudah berbuah manis atau justru semakin terasa masam?
Faktanya di Indonesia, usia masih saja menjadi faktor terpenting dalam bekerja. Dari sebuah penelitian The Conversation, kaum perempuan baru akan merasakan kesetaraan upah hasil kerja dengan kaum laki-laki ketika mereka mencapai umur 30 tahun dan ke atas.
Hal ini berlaku jika memiliki lama pengalaman kerja yang sama, memiliki tingkat pendidikan yang sama, dan bekerja di bidang yang sejenis. Perbedaan upah hasil kerja bisa mencapai 27,60%. Dengan bertambahnya usia, kesenjangan upah di antara kedua kelompok ini semakin berkurang.
Akan tetapi seiring pertambahan umur, banyak kaum perempuan yang memutuskan untuk menikah dan memiliki buah hati. Oleh karena itu, banyak dari kaum perempuan memilih jam kerja yang fleksibel, bahkan memilih usaha-usaha mandiri rumahan.
Tak sedikitpun yang berhenti bekerja sepenuhnya dan memilih menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga. Oleh sebab itu, banyak perusahaan Indonesia yang enggan merekrut kaum wanita dalam posisi-posisi teratas perusahaan karena alasan fleksibilitas, loyalitas, dan dedikasi yang bersangkutan.
Untuk meningkatkan kesetaraan gender di dunia kerja, dibutuhkan kepercayaan perusahaan-perusahaan dengan memberikan lebih banyak fleksibilitas waktu bagi pekerja perempuan. Ini tidak relevan apakah paruh waktu, penuh waktu atau Home Office. Ini mengingat bahwa pria dan wanita melihat pencapaian akan konsep kesetaraan gender secara berbeda.
Penekanan gagasan kesetaraan hak dan kewajiban di antara laki-laki dan perempuan sebagai orang tua pun sangatlah penting. Baik seorang ayah maupun seorang ibu berhak mendapatkan cuti dalam mendidik dan mengasuh anaknya secara bersama-sama tanpa memberatkan kepada salah satu pihak.
Di Jerman, cuti orang tua dimulai pada hari kelahiran anak dan berlangsung maksimal tiga tahun. Cuti orang tua dapat dibagi secara bebas oleh orang tua, hingga tiga bagian. Selama cuti melahirkan, orang tua mendapatkan perlindungan khusus dari pemecatan. Perusahaan hanya dapat memecat mereka karena alasan operasional yang mendesak.
Cuti melahirkan dibayarkan untuk dua belas sampai empat belas bulan pertama, bukan oleh pemberi kerja tetapi oleh negara dalam bentuk tunjangan orang tua. Hanya saja pekerja tidak mendapatkan hak atas pembayaran satu kali seperti bonus liburan atau tunjangan hari raya selama periode ini.
Pemerintah Indonesia diharapkan dapat melirik ide-ide atau gagasan-gagasan dari negara-negara lain yang telah memiliki hasil di bidang kesetaraan gender. Hal ini bisa dilakukan dengan memelajari dan menyesuaikannya dengan kondisi kemampuan negara masing-masing untuk keberlangsungan semua kaum, baik laki-laki maupun perempuan yang merata.
Tentunya, dibutuhkan juga kerja sama dan kesadaran akan pentingnya kehadiran masing-masing pihak untuk memenuhi hak-hak dan tanggung jawabnya. Mari memperjuangkan bersama demi menciptakan lingkungan hidup yang dinamis dan harmonis.
Penulis: Nurfadni Mutiah, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.
Jacinda Ardern, Ursula von der Leyen, dan Angela Merkel merupakan sederetan nama pemimpin wanita dalam bidang politik yang dikenal dunia. Banyak wanita yang menjadikan mereka inspirasi tetapi mungkin ada juga yang merasa, inspirasi mereka berakhir hanya pada tahap fantasi.
“Ah, mereka ‘kan memiliki karir yang bagus, latar belakang pendidikan yang mendukung, public speaking yang baik. Lalu saya?“ mungkin begitu pikir kita.
Tidak semua wanita dapat mengidentifikasikan dirinya dengan role model tersebut. Jika kita memiliki pikiran seperti ini, saatnya mengubah cara pandang kita. Tidak hanya melihat ke atas atau ke samping, melihat kesuksesan wanita di sekitar kita tetapi lebih penting melihat ke dalam diri sendiri dan fokus pada pengembangan diri.
Apakah dalam perjalanan pengembangan diri saya, saya telah mencapai aktualisasi diri? Apakah saya puas dengan pencapaian saya dan saya nyaman dengan diri saya sendiri? Skill apa yang perlu saya asah untuk mencapai target pribadi saya? Mungkin pertanyaan ini dapat membantu kita dalam merefleksikan kebutuhan psikologis kita.
Abraham Maslow menggambarkan kebutuhan manusia dalam struktur piramida, di mana aktualisasi diri berada di puncak piramida. Kebutuhan ini akan muncul setelah kebutuhan fisiologis, rasa aman, kebutuhan sosial dan penghargaan terpenuhi.
Aktualisasi diri dapat diartikan bahwa kita telah menyadari potensi diri kita sendiri dan menggunakan kemampuan ini secara optimal dalam kehidupan kita sehari-hari dan terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Setelah menyadari potensi ini, mungkin ini saatnya kita para wanita memberanikan diri untuk memimpin.
Kepemimpinan kaum wanita di Indonesia tidak bisa dibilang minim. Namun hal ini masih dianggap istimewa, belum dianggap lumrah, dan bisa diterima sepenuhnya setara dengan kepemimpinan kaum pria. Kesempatan wanita untuk memimpin pun dalam masyarakat masih sedikit.
Tanpa kebijakan kuota untuk pemimpin wanita, wanita harus berjuang sendiri mencapai puncak karirnya. Sudah di puncak pun, wanita harus berhadapan dengan stereotype gender yang berkembang dalam budaya patriarki yang mengakar.
Stereotype feminitas pada wanita tertanam dalam masyarakat sejak dini. Contohnya anak laki-laki akan diberikan mainan mobil dan anak perempuan akan diberikan mainan boneka. Anak laki-laki diharapkan sebagai pemimpin rumah tangga sehingga nantinya membutuhkan mobil sebagai sarana transportasi untuk mencari nafkah.
Sebaliknya anak perempuan diharapkan sebagai seorang ibu yang akan membesarkan dan mengasuh anak-anaknya. Stereotype dalam pola asuh inilah yang menciptakan Stereotype gender, termasuk dalam konsep kepemimpinan.
Komunikasi memegang peranan penting dalam konsep kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mampu menggerakan anggotanya untuk mencapai tujuan kelompoknya. Oleh karena itu pemimpin harus didengarkan suara dan arahannya.
Penelitian-Penelitian di bidang Sosiolinguistik telah membuktikan bahwa gaya bahasa yang digunakan wanita berbeda dengan bahasa yang digunakan pria. Gaya bahasa wanita memungkinkan mereka untuk menuturkan pemikirannya melalui bahasa yang menunjukan identitas dirinya. Wanita ingin penyampaiannya diterima dalam struktur kebahasaan masyarakat yang lebih didominasi oleh pria.
Gaya bahasa wanita memiliki karakteristik yang dapat dikenali. Robin Lakoff, seorang profesor di bidang linguistik mengidentifikasi karakteristik bahasa yang digunakan oleh wanita. Salah satu karakteristik yang menandai gaya bahasa wanita adalah penggunaan aspek kesopanan dalam tata bahasanya.
Contohnya ketika pria lebih menggunakan kalimat perintah langsung seperti: „Tutup pintunya!“ maka wanita mengungkapkan perintah dalam bentuk pertanyaan. Contohnya seperti „Apakah Anda tidak keberatan untuk menutup pintunya?“
Dalam gaya bahasa wanita ini keputusan untuk menutup pintu diserahkan kepada penerima tugas. Itu menimbulkan kesan bahwa wanita tidak yakin dengan keinginannya. Hal ini bisa menjadi dilema bagi pemimpin wanita dalam mencapai tujuannya.
Padahal dengan gaya bahasa tersebut, wanita merasa dapat berbicara dengan kepercayaan diri, kenyamanan, kemandirian, dan perasaannya. Jika wanita keluar dari pola ini dan berbicara secara langsung seperti pria maka wanita akan dianggap tidak feminin, tidak disukai, dan dianggap kasar.
Konstruksi ini membatasi wanita, mengatur posisi wanita dalam masyarakat, dan menghambat kualitas kepemimpinan wanita. Di sisi lain, penelitian yang lebih baru di sisi lain menilai gaya bahasa wanita yang halus sebagai kekuatan wanita.
Gaya bahasa ini dapat juga digunakan wanita secara sadar untuk mempengaruhi lawan bicaranya dan merupakan strategi wanita dalam mencapai tujuannya. Pemahaman akan gaya bahasa wanita dapat membantu pemimpin wanita merefleksikan secara kritis cara berkomunikasinya karena bahasa mengubah cara berpikir dan dapat memengaruhi tindakan.
Sayangnya kesempatan wanita untuk memimpin masih kurang. Untuk menciptakan kesempatan yang kurang didukung sistem diperlukan inisiatif. Ini artinya wanita harus aktif untuk menciptakan peluang dalam memimpin.
Mungkin dalam karir kesempatan, wanita sebagai pemimpin belum tercapai. Namun ketika ada kesempatan-kesempatan kecil, cobalah berinisiatif mengambil tanggung jawab untuk memimpin. Misalnya, inisiatif mengorganisir acara.
Jika kesempatan ini pun belum datang, ciptakanlah peluang saat anda mempresentasikan ide atau gagasan Anda. Bicaralah dengan kepercayaan diri dan cara komunikasi yang secara sadar ditujukan untuk wanita atau pria sehingga kita sebagai wanita dapat berjuang menciptakan peluang untuk memimpin yang mungkin belum datang. Perjalanan kita masih panjang.
Penulis: Brigita Febrina Jipi Saputra, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.
Angela Merkel merupakan Kanselir Jerman perempuan pertama yang bisa membuktikan, bahwa perempuan juga bisa memimpin suatu negara dengan stabil selama 16 tahun. Berdasarkan pengalaman hidupnya, perempuan yang dibesarkan di Jerman Timur ini mengetahui benar makna dari kemerdekaan, sebab ia tumbuh dewasa dalam masyarakat yang terisolasi.
Ketika ia memulai karir pertamanya sebagai ilmuwan fisika di Berlin Timur, setiap hari ia harus menyaksikan tembok Berlin sepanjang jalan pulang, sebab ia tinggal tidak jauh dari situ. Ia melihat tembok Berlin yang terbentang sebagai hambatan bagi kemerdekaan dirinya.
Runtuhnya tembok Berlin pada tahun 1989 bukan hanya merupakan peristiwa runtuhnya sebuah bangunan, namun juga runtuhnya kekakuan ideologi. Kecakapan memimpin Angela Merkel bisa dilihat sebagai bukti runtuhnya stigma bahwa superioritas adalah hak laki-laki semata.
Tanpa berniat membandingkan diri dengan Angela Merkel, tapi secara alamiah saya juga terlahir sebagai perempuan. Mungkin semesta sedang berpihak pada saya karena sekarang saya berkesempatan hidup di Jerman.
Sebagai seorang guru Bahasa Jerman bagi imigran, saya diberikan kekuasaan di dalam kelas, di mana kendali ada di tangan saya. Peserta didik yang saya hadapi berasal dari berbagai negara dan budaya yang beragam sehingga tantangan yang muncul menjadi lebih kompleks dibandingkan dengan kelas homogen. Bahkan sebagian besar dari mereka merupakan pengungsi dari negara-negara konflik, yang artinya mereka juga turut membawa beban psikologis seperti trauma.
Tugas saya dalam mengajarkan Bahasa Jerman adalah berjalan bersama mereka dan menuntun mereka melampaui berbagai tembok batasan sehingga perlahan mereka bisa menyesuaikan diri dengan konteks kehidupan yang baru dan melanjutkan hidup mereka secara mandiri.
Pada mulanya, kadang saya merasa ragu dalam menghadapi berbagai dinamika situasi di kelas. Namun seiiring berjalannya waktu saya menyadari, bahwa ternyata saya harus membuka diri saya terlebih dahulu, agar mereka bersedia membuka hati mereka untuk proses belajar.
Ternyata saya harus melihat banyak hal dari perspektif mereka dan mendengarkan mereka untuk membuka gerbang-gerbang kemungkinan lainnya. Ternyata saya harus memulai merangkul mereka terlebih dahulu untuk bisa meruntuhkan tembok-tembok pembatas di antara kami.
Dalam konteks sosial, tembok pembatas bisa berupa konstruksi paradigma konvensional yang bisa menjadi sekat dalam pergaulan sesama manusia. Jika dalam berkomunikasi kita hanya mengamini bahwa pandangan kita yang terideal maka di situlah kita menciptakan jarak dengan lawan bicara.
Sebagai perempuan yang lahir dan dibesarkan dalam konteks masyarakat Indonesia, saya seringkali melihat bahkan merasakan sendiri kakunya tembok di kepala banyak orang dalam memandang kemerdekaan perempuan.
Pada suatu siang yang terik di depan sebuah warung kecil di Jogja, sembari menunggu teman, saya duduk dan bercakap-cakap dengan seorang ibu pemilik warung. Di sana kami bertukar berbagai cerita dan lelaku hidup.
Ketika ia mengetahui bahwa saya, di usia saya, belum berkeluarga dan memilih untuk berkarir di Jerman, sontak ia berkomentar: „Masih menunggu apa lagi sih, Mbak? Perempuan itu kan hidup bukan untuk diri kita sendiri saja, namun juga untuk keluarga. Sebaiknya tidak usah terlalu lama mempertimbangkan pilihan hidup.“
Saat itu saya memilih untuk menanggapi seperlunya, tidak berdiskusi lebih lanjut dengannya, dan perlahan meninggalkannya. Karena saya yakin, kami tidak akan bisa berbicara secara konstruktif. Namun yang menjadi perenungan saya adalah mengapa sebagian perempuan konvensional masih gemar mengambil peran sebagai penasihat kehidupan bagi perempuan lainnya? Ditambah lagi, mereka gemar menggunakan kata sapaan „Mbak“ seolah supaya terdengar akrab meskipun isi komentar yang dilontarkan sama sekali bukanlah sebuah sapaan keakraban.
Pembatas kemerdekaan tidak hanya selalu berbentuk bangunan fisik seperti tembok Berlin, namun juga bisa berbentuk konstruksi paradigma sosial di kepala manusia. Bak tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Timur setelah perang dunia kedua, demikian jugalah tembok-tembok konvensional di dalam kepala. Itu mampu membatasi keakraban antar manusia bahkan membatasi ruang gerak perempuan.
Perempuan itu dipimpin atau memimpin? Siapakah yang menentukan pilihan hidup perempuan dalam ranah privat dan sosial? Sejauh mana perempuan berhak mengaktualisasikan diri sesuai dengan pilihan hati mereka?
Kembali ke sosok Angela Merkel, ia merupakan sosok pemimpin perempuan kuat dan berpengaruh di Jerman bahkan Eropa. Dalam pengambilan keputusan, ia sangat mempertimbangkan fakta dan bekerja sesuai metodologi dengan penuh ketelitian.
Dalam masa kepemimpinannya, ia mampu membuka gerbang-gerbang komunikasi dan negosiasi dalam politik Eropa dan dunia. Selain itu, retorika yang ia pakai cenderung menekankan kerja sama dalam pemecahan berbagai masalah.
Ketika diwawancarai oleh salah satu media Jerman Deutsche Welle, ia diberi pertanyaan perihal taktik yang ia gunakan ketika menghadapi pemimpin negara dengan ideologi berbeda, seperti Putin dan Erdogan. Dengan tenang ia menjawab bahwa ia selalu datang ke percakapan semacam itu dengan hati yang terbuka.
Bahkan ia menegaskan betapa pentingnya mendengarkan lawan bicara, meskipun orang tersebut memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan dirinya. Karena jika kita kehilangan kemampuan mendengarkan maka tidak ada celah untuk solusi. Tegasnya.
Terkait dengan kebijakan politik bagi para imigran dari berbagai negara konflik, ia menunjukkan sikap inklusivitas kemanusiaannya dengan jelas. Ketika Jerman pada tahun 2015 membuka pintu bagi para pengungsi tersebut, ia menunjukkan sisi lembut keperempuannya.
Bahkan ia diberi sebutan „Mutti“ atau „Ibu“ oleh banyak orang. Terlebih lagi ketika ia mengunjungi Prancis dan berjalan bersama Presiden Emmanuel Macron, banyak warga Prancis meneriakinya „Vive Mutti!“ atau „Hidup Ibu!“
Hal ini patut diapresiasi, karena dari kacamata sejarah negara Jerman dan Prancis, tidak selalu berada dalam hubungan yang bersahabat. Dalam konteks ini, Angela Merkel sebagai pemimpin mampu menunjukkan dan membuktikan sifat-sifat inklusivitas feminin sepanjang karir politiknya.
Di ranah privat, ia tergolong sebagai orang yang cenderung suka menyendiri dan sangat menghormati ruang-ruang pribadinya. Ia gemar memberi ruang kepada dirinya sendiri untuk meregenerasi energi, misalnya dengan berkebun atau melakukan berbagai aktivitas di alam. Saya rasa, hal inilah yang membuatnya selalu bisa menampilkan performa yang stabil dalam perannya sebagai pemimpin perempuan di ruang publik.
Secara pribadi, saya menggemarinya sebagai sosok pemimpin perempuan yang cerdas, berkarakter pragmatis, berorientasi pada solusi, memiliki kecakapan interpersonal yang mumpuni, serta mengutamakan harmoni baik dalam konteks negara Jerman, Uni Eropa maupun global.
Menurut saya, baik seorang pemimpin maupun pendidik tidak hanya membutuhkan kemampuan intelegensinya semata, namun juga kedalaman rasa inklusivitas. Inklusivitas merupakan salah satu dimensi feminin, sedangkan eksklusivitas merupakan salah satu dimensi maskulin.
Feminin dan maskulin yang saya maksudkan di sini bukanlah perihal gender semata, namun ini perihal dimensi sifat manusia. Kedua dimensi tersebut ada di dalam diri kita sebagai manusia, meskipun tendensinya berbeda-beda.
Selama ini kita bisa melihat bahwa pergerakan dunia, kebijakan politik bahkan cara hidup kita lebih didominasi oleh eksklusivitas dimensi maskulin yang cenderung berorientasi pada ego dan ambisi. Misalnya, cara kita mengeksploitasi planet bumi selama ini merupakan salah satu manifestasi dimensi maskulin.
Ide kita untuk menumbuhkan ekonomi adalah dengan cara mengeruk habis sumber daya alam, tanpa berusaha mengembalikan potensinya kembali. Rumpangnya kesadaran meregenerasi alam berarti juga lunturnya dimensi feminin. Belakangan ini muncul semacam kerinduan untuk mengembalikan etika dan dimensi energi feminin, yang cenderung lebih inklusif.
Aspek-aspek feminin seperti melindungi, mengasuh, merawat, empati, kasih sayang, reflektif, dan inklusif yang ada dalam diri perempuan merupakan kekuatan yang mampu membawa keseimbangan. Secara alamiah dan berkaca dari peran Angela Merkel, karakter inklusivitas memang tak bisa dilepaskan dari sosok perempuan. Saya melihat hal ini sebagai anugerah bagi kita, perempuan.
Sudah lama kemampuan perempuan diragukan dalam ranah publik, namun perkembangan zaman ternyata menunjukkan bahwa dunia juga membutuhkan aspek-aspek feminin dalam menyelesaikan banyak perkara. Oleh karena itu, sudah saatnya kita memberikan lebih banyak kesempatan bagi para perempuan untuk memimpin dan berkontribusi dalam penyelesaian berbagai perkara.
Lantas pertanyaan mendasarnya sekarang adalah bagaimana cara menumbuhkan kecakapan perempuan agar keseimbangan dalam memimpin itu bisa terwujud?
Menurut saya, sebelum menjadi pemimpin di ruang publik, perempuan seharusnya memberikan ruang dan waktu untuk memimpin dirinya terlebih dahulu. Untuk hal ini, setiap perempuan seharusnya bersedia memulai revolusi batiniah untuk mengenal dirinya sendiri secara lebih dalam.
Revolusi batin tersebut bisa dimulai misalnya dengan afirmasi semacam ini:
“Potensi ada di dalam diriku dan pilihan ada di tanganku. Aku ingin mengubah diriku, menyesuaikan diriku dan melakukan hal terbaik yang aku bisa di setiap situasi yang aku hadapi.”
Dalam hal ini saya ingin memberikan semangat bagi semua perempuan di Indonesia tanpa terkecuali. Bahwa setiap perempuan berhak menjadi pemimpin atas dirinya terlebih dahulu. Itu merupakan sebuah dasar bagi mereka menuju ranah aktualisasi diri yang lebih luas.
Baik sebagai pemimpin bagi dirinya sendiri, sebagai pemimpin harian dalam hidup berkeluarga maupun sebagai pemimpin di ruang publik, seorang perempuan seharusnya memiliki keseimbangan antara kedua dimensi. Itu adalah maskulin (doing) dan feminin (being). Perempuan memiliki kemerdekaan untuk membuka kemungkinan-kemungkinan potensi dirinya. Ia berhak mengaktualisasikan diri sesuai dengan pilihan hidup dan suara batinnya.
Jika setiap perempuan di ranah mereka masing-masing, bisa mempraktikkan dan melatih keseimbangan dalam dirinya, maka saya rasa jiwa kepemimpinan dan kecakapan memimpin akan mengalir secara natural dan indah. Hal itu merupakan sebuah harapan menuju model kepemimpinan yang lebih insklusif dan mampu memanusiakan manusia.
Selamat Hari Perempuan Sedunia 2023 bagi semua perempuan Indonesia!
Penulis: Debora Sisca, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.
Aku sangat suka membaca. Saking sukanya, aku harus membaca saat sedang makan. Dulu saat masih di Indonesia, aku membaca buku fisik. Namun, saat aku pindah ke Jerman, aku berpaling pada e-book.
Selain e-book praktis, aku juga bisa membaca buku-buku yang dulu aku punya di Indonesia yang tidak tersedia secara fisik di Jerman.
Kebiasaan ini aku bawa sampai Jerman. Saat aku masuk universitas, aku banyak menghabiskan waktuku sendirian, terutama saat makan. Aktivitas membaca sambil makan ini adalah salah satu caraku untuk tidak merasa kesepian saat makan sendirian, karena sahabatku tidak memiliki jadwal kuliah yang sama sepertiku.
Saat aku sendirian, mungkin kebiasaan itu tidak terlalu mengganggu. Namun itu menjadi masalah saat kebiasaan itu terbawa bahkan jika aku sedang bersama sahabatku.
Sahabatku merasa terganggu dengan kebiasaanku itu karena saat bersamanya, aku malah asyik dengan Handphone atau ipad.
Tidak tahan lagi, akhirnya sahabatku memberikan ultimatum.
“Nad, gue ketemu sama lo karena gue mau ngobrol dan ngabisin waktu sama lo,” dia bilang.
“Tapi gue merasa nggak dihargai karena lo malah sibuk baca novel. Janji ya, kalau lagi keluar sama gue lo gak boleh buka hp atau ipad, lo harus ngobrol sama gue. Kalau nggak, gue nggak mau lagi main sama lo!” lanjutnya lagi.
Jujur, aku merasa tidak enak hati. Aku tidak bermaksud untuk tidak mempedulikan sahabatku itu. Namun dengan ultimatum itu, aku jadi sadar dengan kebiasaan burukku. Padahal dari dulu keluargaku suka menasehati kebiasaanku itu tetapi aku tidak menghiraukannya.
Sejak saat itu, saat aku keluar bersama orang lain. Sebisa mungkin aku tidak akan membuka hape atau ipad. Aku hanya membuka hp atau ipad saat aku menghabiskan waktu sendirian atau dengan suamiku. Bagaimana pun suamiku memiliki kebiasaan yang sama denganku, yaitu baca e-book sambil makan.
Efek baiknya, aku tidak terlalu lagi terobsesi dengan hape atau ipad seperti dulu. Akupun menjadi lebih aware dengan karakter orang yang pergi bersamaku dan bisa lebih mencocokkan diri dengan mereka.
Di bulan Januari 2023 ini RUANITA Indonesia mengangkat tema culture shock yang lazim dialami oleh pendatang saat beradaptasi dengan budaya baru. Seperti apa culture shock jika dilihat dari sudut pandang antropologi?
Dalam episode IG Live Sabtu lalu (28/1), Dina Diana lewat akun @ruanita.indonesia mengundang Novi Siti, salah satu volunteer RUANITA yang tinggal di Bergen-Norwegia. Sebagai pekerja sipil yang menetap di Norwegia selama 20 tahun belakangan dan memiliki latar belakang keilmuan di bidang antropologi, Novi berbagi pengalaman dan cara-cara yang ditempuh kala menghadapi culture shock.
Menurut Novi, untuk bisa menjelaskan culture shock atau gegar budaya ini harus dipahami dulu tahapannya, seperti pertama mungkin merasa kaget, kemudian mencoba untuk menghadapi situasi yang berbeda. Kadang ketika selanjutnya seseorang tidak bisa beradaptasi, itu akan menyebabkan stress.
Novi bercerita ketika pertama kali tiba di Tromsø untuk kuliah S2, dia mengalami banyak ‘kekagetan’ yang bersumber dari perbedaan hal-hal yang dialami dan dipelajarinya saat di Indonesia.
Perbedaan iklim, norma sosial serta kebiasaan berinteraksi di masyarakat Tromsø ternyata menimbulkan banyak kekagetan. Namun dia mencoba memahami dan menerima bahwa itulah Tromsø.
Lanjutnya lagi, perubahan peran dan tahapan hidup yang dijalaninya kala itu (awalnya sebagai mahasiswa dan kemudian menjadi seorang ibu) turut menyumbang beberapa ‘kekagetan’ tersebut.
Menurutnya, ada hal-hal yang berbeda dari pola pikir dan perilaku kita yang kemudian akan menimbulkan kekagetan tersebut, sehingga sangat penting untuk belajar memahami bagaimana perilaku dan perspektif orang lain melihat sesuatu; jangan sampai dijadikan benturan. Kekagetan inilah yang Novi coba untuk diterima dulu saja agar kemudian bisa ia pahami.
Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang open-minded membuat Novi merasa lebih mudah dalam dealing with culture shock, dalam hal menerapkan pola pikir ‘terima dulu saja seperti itu’. Budaya di Norwegia pun memberikan ruang untuk dapat mengekspresikan diri asalkan tidak melanggar hukum sehingga penting untuk memahami terlebih dahulu aturan-aturan yang berlaku.
Yang sama pentingnya untuk dipelajari pertama kali adalah memahami bahasa setempat. Ini karena bahasa bukanlah hanya urutan kata-kata dan kalimat saja, tetapi juga alat untuk mengekspresikan diri dan mengungkapkan sesuatu dengan asosiasi dan metafora lainnya.
Sebagai contoh, Novi menjelaskan bahwa orang Norwegia bukanlah orang yang ‘direct’ dalam menyatakan ketidaksetujuan. Sehingga ketika ingin menyatakan misalnya sebuah ide tidak cukup bagus atau biasa-biasa saja, mereka akan mengungkapkan dengan bertanya berputar-putar “I just wondering, why…” dan seterusnya.
Salah satu strategi adaptasi yang Novi pakai adalah mempelajari humor warga setempat dan bagaimana cara mereka bercanda. Novi melihat bahwa cara orang Norwegia bercanda adalah menggunakan metafora dan tidak direct bertanya tentang hal-hal sensitif seperti umur atau body shaming.
Lewat humor inilah Novi mempelajari kode-kode sosial yang berlaku di masyarakat, dan hal apa saja yang diminati oleh warga setempat serta menyelaraskannya dengan keinginannya juga. Menurutnya, ini adalah sebuah ‘seni’ untuk meyakinkan orang lokal bahwa kita tertarik mempelajari budaya mereka dan mau menyelaraskan diri.
Menurut Novi, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam bereaksi dan beradaptasi dengan budaya baru, seperti karakter pribadi, konteks situasi dan budaya asal, serta kebijakan integrasi dan willingness dari pemerintah di negara yang didatangi oleh imigran.
Seperti di Norwegia, pemerintah selalu membuat analisis risiko dalam menerapkan kebijakan imigrasi dan integrasi untuk pendatang. Salah satu hasilnya adalah pemerintah Norwegia menyediakan kursus samfunnskunskap atau social studies yang bisa diikuti oleh semua pendatang.
Selain itu negara juga menyediakan fasilitas konsultasi, konseling serta terapi untuk para pendatang yang sudah berada dalam tahapan kesulitan beradaptasi, tergantung pada sebesar apa masalah yang dihadapi.
Salah satu cara terbaik dalam meminimalisir culture shock adalah terima saja terlebih dahulu, baru kemudian kita bawa berefleksi. Novi menjelaskan bahwa dalam menghadapi budaya baru, jangan sampai kita menginterpretasikan sesuatu berdasarkan apa yang ada di nilai-nilai diri kita. Yang harus dilakukan adalah memahami terlebih dahulu di mana kita berada dan berdiri di saat ini.
Menurutnya, kita tidak bisa memaksakan atau merasa budaya kitalah yang lebih benar daripada budaya lain. Dan sebagai pendatang, memang ada semacam keharusan bagi kita untuk mengikuti peraturan di negara tersebut. Oleh karena itu, faktor kemampuan berbahasa lokal ini sangat penting agar kita dapat berkomunikasi dengan orang lokal untuk mempelajari bagaimana mereka berperilaku dan memahami nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam pemikiran mereka.
Selengkapnya bisa disimak dalam rekaman IG LIVE berikut ini:
Subscribe akun YouTube kami ya.
Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (akun IG: aini_hanafiah)
JERMAN – PPI Kiel bekerja sama dengan RUANITA – Rumah Aman Kita menggelar acara diskusi online bertema Kekerasan dan Pelecehan Seksual (KPS) yang diadakan secara daring pada Minggu, 10 Oktober 2021 dan diikuti oleh puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) dari Jerman, Belanda, Swiss, Spanyol, Swedia dan tentunya dari Indonesia.
Acara ini mendapatkan dukungan sepenuhnya dari KJRI Hamburg seperti yang disampaikan oleh Konjen RI untuk Hamburg Ardian Wicaksono. Dalam sambutan resminya, Ardian mengatakan bahwa WNI tidak perlu ragu lagi untuk menghubungi Perwakilan Pemerintah Indonesia di luar Indonesia bilamana mendapatkan masalah seperti kekerasan dan pelecehan seksual, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan lain sebagainya.
Perwakilan Pemerintah RI di luar Indonesia seperti KBRI Berlin, KJRI Frankfurt dan KJRI Hamburg telah memiliki regulasi yang terstandar untuk melindungi WNI. Selain itu, Ardian mengapresiasi inisiasi dari komunitas orang Indonesia di mancanegara seperti RUANITA – Rumah Aman Kita dan PPI Kiel yang telah menyiapkan acara diskusi online ini dengan baik.
KJRI Hamburg memberi perhatian penuh terhadap penanganan kasus yang dihadapi WNI di luar Indonesia. Aidil Khairunsyah menjelaskan langkah strategis perlindungan WNI yang mencakup tiga tahap yakni (1). Pencegahan melalui diseminasi informasi, kerja sama dengan berbagai pihak dan pemberdayaan masyarakat; (2). Deteksi Dini melalui pengembangan data base berbasis IT, penyediaan hotline pengaduan dan sinkronisasi data; (3). Perlindungan Cepat dan Tepat melalui penyediaan shelter, pemberian bantuan hukum dan psikologis hingga repatriasi. Aidil berharap WNI di luar Indonesia bisa lebih tanggap dan tidak segan untuk melaporkan kejadian yang menimpa mereka.
Ada pun acara diskusi online ini dilaksanakan bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh tiap tanggal 10 Oktober. Acara ini mendapatkan simpati dari peserta yang sebagian besar para pelajar/mahasiswa yang studi di Jerman dan di Indonesia.
Mahasiswa yang sedang studi S2 jurusan Psikologi di Universitas di Kiel sekaligus moderator, Firman Martua Tambunan mengatakan bahwa isu ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan sehingga informasi dan pengetahuan yang beredar di masyarakat belum tentu benar.
Firman menegaskan mitos-mitos seperti masalah kekerasan dan pelecehan seksual hanya terjadi pada perempuan saja, itu tidak benar. Dia berpendapat kekerasan dan pelecehan seksual dapat terjadi pada siapa saja dan berbagai kalangan usia.
Senada yang disampaikan Firman, Livia Istania DF Iskandar selaku Wakil Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI turut menjadi pembicara dalam diskusi online ini. Dia berpendapat bahwa masyarakat perlu menghargai sisi korban dan saksi yang mengalami kasus kekerasan dan pelecehan seksual.
Menurut Livia, tidak banyak korban dan saksi yang memahami hak-hak mereka dan pemahaman hukum yang berkaitan dengan kekerasan dan pelecehan seksual. Diskusi online ini diharapkan dapat menginformasikan tidak hanya sisi psikologis saja, tetapi juga sisi hukum yang tidak banyak diketahui masyarakat.
Berkaitan dengan sisi psikologis, Ika Putri Dewi selaku Psikolog dari Yayasan Pulih Indonesia berpendapat ada tiga aspek penting untuk memahami kekerasan dan pelecehan seksual, antara lain aspek ketimpangan gender, aspek kapasitas/kemampuan dari pelaku kepada korban dan aspek relasi antara pelaku dengan korban.
Masyarakat perlu juga memahami dampak psikologis korban yang berkepanjangan sehingga kita tidak menyalahkan korban dan melaporkan pelaku kepada pihak yang berwajib.
Acara diskusi online berlangsung selama dua jam lebih dan ditutup tanya jawab yang diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat. Bagaimana pun kasus kekerasan dan pelecehan seksual bak gunung es yang tak tampak di permukaan. RUANITA – Rumah Aman Kita adalah komunitas Indonesia di luar Indonesia yang berfokus pada isu kesehatan mental, kesetaraan gender, dan berbagi praktik baik tinggal di luar Indonesia.
Ibarat rumah, RUANITA menjadi wadah yang aman untuk berbagi pengalaman, cerita, ilmu dan pengetahuan yang dianggap tabu dan tersembunyi untuk diketahui dan dipahami.
Siaran ulang diskusi online ini bisa disaksikan dalam video berikut:
“Your German is terrible. I can’t understand anything you said at all,” potong profesor saya, di saat saya sedang melakukan presentasi tentang pengungsi dan imigrasi paksa di kelas Antropologi Migrasi di suatu universitas di Jerman.
Saya dapat melihat teman-teman sekelas saya bertukar pandangan, wajah mereka memancarkan ketidakpercayaan dan horror. Perlahan wajah saya memucat.
Dengan tangan bergetar, saya berusaha melanjutkan presentasi saya tetapi profesor saya berdecak tidak sabar.
“Tidak perlu dilanjutkan, Anda terdengar seperti Google Translate. Apa Anda terlalu malas untuk menulis ulang presentasi ini dalam bahasa Jerman yang baik dan benar? Sudah cukup saya mendengarnya, silakan kembali!“ sahutnya.
Saya buru-buru menyelesaikan presentasi saya dan kembali ke tempat duduk. Teman satu kelompok saya hanya bisa memandangi saya dengan pandangan setengah kesal dan setengah iba.
Saat itu, saya baru saja mulai kuliah. Ersti, begitu mereka memanggil mahasiswa baru semester pertama. Apa saya menggunakan Google Translate? Ya dan tidak.
Memang betul, saat itu kemampuan bahasa Jerman saya masih buruk. Saya menggunakan bantuan Google Translate untuk menerjemahkan beberapa kalimat tetapi saya masih perbaiki dan tulis ulang.
Saya berusaha menjelaskan itu kepada profesor saya. Namun dia tidak bergeming.
“Lebih baik anda bicara bahasa Inggris saja, daripada anda menggunakan Google Translate untuk berbicara Bahasa Jerman!” katanya saat itu.
Setelah perkuliahan itu berakhir, teman-teman sekelas saya menghibur saya.
“Jangan pikirkan dia!“ kata mereka.
“Kami dapat mengerti apa yang kamu bicarakan. Kami tidak tahu kenapa dia bisa berpikir seperti itu tetapi kami berpikir bahasa Jerman kamu cukup bagus.“
Saya hanya dapat berterima kasih kepada mereka. Sejak saat itu, saya memiliki trauma untuk berbicara bahasa Jerman terutama di depan orang banyak. Sampai lima tahun setelah kejadian tersebut, saya masih belum bisa bicara bahasa Jerman.
Selama kuliah S1 saya kebanyakan diam atau berbicara dengan bahasa Jerman patah-patah yang dicampur Bahasa Inggris.
Kejadian ini menegaskan posisi saya sebagai “The Other” di kelas. Secara harafiah, Other berarti “yang lain.” Secara antropologis, Other memiliki arti “anggota kelompok luar yang didominasi, yang identitasnya dianggap kurang” (Staszak 2008).
Identitas saya di kelas adalah orang asing yang tidak lahir dan besar di Jerman dan tidak bisa berbahasa Jerman dengan baik pula. Terlebih di kelas saya satu-satunya murid yang mengenakan hijab.
Teman-teman dan pengajar sangat mengakomodasi kelemahan saya dalam berbicara bahasa Jerman. Namun segala perlakuan tersebut semakin menegaskan tembok antara saya dan mereka.
Itu adalah awal dari gangguan kecemasan saya. Selama lima tahun saya kuliah S1, saya menghadapi beberapa situasi di mana kesehatan mental saya benar-benar terpuruk.
Saya didiagnosa gangguan panik, gangguan kecemasan, dan depresi. Ditambah saat tahun ketiga, saya terancam harus drop out jika saya tidak lulus salah satu ujian yang dilaksanakan secara lisan dalam bahasa Jerman.
Syukurlah! Pada akhirnya saya berhasil lulus S1 dengan nilai yang baik.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan menjadikan pengalaman saya sebagai “motivasi.“ Pada kenyataannya tidak mudah menjadikan trauma sebagai motivasi.
Saya memerlukan lebih dari lima tahun untuk akhirnya dapat berbicara bahasa Jerman tanpa harus merasa panik dan takut jika lawan bicara saya akan menyuruh saya diam.
Saya menyadari bahwa pengalaman saya bisa dialami oleh siapa saja yang sedang menjadi “Others.” Oleh karena itu, saya ingin mengucap kepada para “Others” terima kasih telah berjuang sampai saat ini.
Penulis: Nadia M, yang saat ini tinggal di desa di wilayah timur laut Jerman. Dia suka menulis artikel semi-ilmiah yang berhubungan dengan pengalaman dan kegemarannya. Hobinya adalah mengitari desa sambil berharap dia bisa bertemu kucing. Dia akan memulai kuliah S2 Social Anthropology pada winter-term ini. Dia berharap untuk menjadi peneliti orang Indonesia di Jerman.