(WARGA MENULIS) Perempuannya Berdaya, Bangsanya Perkasa

Pada tanggal 8 maret diperingati Hari Perempuan Sedunia sejak tahun 1911. Sudah lebih dari seabad ternyata perempuan berusaha menyerukan suaranya untuk lebih bisa aktif dalam lingkungan sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Hari yang sakral untuk kaum perempuan menantikan eksistensinya diakui, didukung dan juga dilindungi hak dan kewajibannya.

Jerman, Austria, Denmark, dan Swiss merupakan negara-negara di Eropa yang pertama kali ikut merayakan Hari Perempuan Internasional tatkala Amerika Serikat juga ingin mengatasi penindasan dan juga  kekerasan terhadap perempuan. Hari Perempuan Internasional dipilih menjadi hari libur umum di dua negara bagian Jerman yaitu di Mecklenburg-Western Pomerania dan Berlin. Tidak seluruh Jerman menjadikan 8 Maret sebagai hari libur.

Penyempitan kesenjangan gender di dalam bidang-bidang kehidupan seperti akses kesehatan, pendidikan, partisipasi dalam dunia berpolitik hingga kesetaraan ekonomi berlanjut  menjadi permasalahan pokok yang dialami kaum perempuan.

Salah satunya di negara berkembang  Indonesia, kaum perempuan kini dapat menikmati pendidikan tinggi dan pekerjaan  seperti kaum laki-laki tetapi kesenjangan gender dalam posisi kepemimpinan, potensi  penghasilan, dan peningkatan karier masih sangat mencolok.

Perempuan melihat diri mereka sebagai emansipasi yang sanggup menginspirasi individu di dalam dirinya sendiri. Perempuan menjadi kuat dan giat dalam mencapai tingkatan-tingkatan kehidupan  tertentu, seraya kemandirian mendukung untuk memperbaiki kualitas hidup.

Emansipasi bukan  untuk menggeser apalagi melangkahi kaum laki-laki. Emansipasi bukan menyampingkan ajaran-ajaran agama  yang telah dipelajari dan dipahami tentang tantanan peran perempuan di lingkungan hidup sosial.

Semboyan Hari Perempuan Internasional 2022 adalah: Kesetaraan gender hari ini untuk hari esok  yang berkelanjutan. Emansipasi tidak berarti kesetaraan, tetapi kebebasan memilih. Lebih banyak pilihan dalam masyarakat individual memungkinkan perempuan untuk lebih berprestasi.

Menteri  Federal Jerman untuk Perempuan dan Kehakiman, Christine Lambrecht telah mengeluarkan sebuah  resolusi tentang kuota perempuan dalam dunia kerja. Dia juga menghimbau perluasan lebih lanjut dari fasilitas  pengasuhan anak yang diaplikasikan dalam undang-undang posisi manajemen Jerman. Hal ini agar kaum  perempuan lebih banyak dalam posisi manajerial untuk bisnis dan layanan publik. 

Dikutip dari laman Kementerian Keluarga, Orang Lanjut Usia, Perempuan dan Anak Muda Jerman (Bundesministerium für Familie, Senioren, Frauen und Jugend) “Undang-Undang Posisi  Manajemen yang baru merupakan tonggak sejarah bagi wanita di Jerman. Dengan undang-undang tersebut, dipastikan bahwa lebih banyak wanita berkualifikasi tinggi dapat maju ke manajemen puncak.

Kuota minimal 30 persen perempuan kini telah terlampaui. Lebih banyak wanita di ruang  rapat, memperkaya ekonomi dan memiliki fungsi panutan yang penting, serta menyebar ke area  lain di perusahaan. Bahkan sebelum peraturan baru diberlakukan, perusahaan terkenal telah memberi kesempatan pada perempuan di dewan mereka. Ini sudah menunjukkan betapa pentingnya komitmen kami terhadap hukum.”

Dari pernyataan di atas, kepercayaan publik terhadap kepemimpinan perempuan di Jerman sudah cukup tinggi. Penyuluhan dan dukungan yang terus menerus dipekikan oleh Kementerian Jerman tersebut berbuah pencapaian yang manis. Baik instansi pemerintahan maupun perusahaan-perusahaan ternama di Jerman mengualifikasikan kapabilitas perempuan untuk menduduki bagian-bagian krusial.

Lalu bagaimana dengan perkembangan kesenjangan gender dan upah di Indonesia dalam  ruang publik? Apakah juga sudah berbuah manis atau justru semakin terasa masam?

Faktanya di Indonesia, usia masih saja menjadi faktor terpenting dalam bekerja. Dari sebuah penelitian The Conversation, kaum perempuan baru akan merasakan kesetaraan upah hasil kerja dengan  kaum laki-laki ketika mereka mencapai umur 30 tahun dan ke atas.

Hal ini berlaku jika memiliki lama pengalaman  kerja yang sama, memiliki tingkat pendidikan yang sama, dan bekerja di bidang yang sejenis.  Perbedaan upah hasil kerja bisa mencapai 27,60%. Dengan bertambahnya usia, kesenjangan upah di antara kedua kelompok ini semakin berkurang. 

Akan tetapi seiring pertambahan umur, banyak kaum perempuan yang  memutuskan untuk menikah dan memiliki buah hati. Oleh karena itu, banyak dari kaum perempuan  memilih jam kerja yang fleksibel, bahkan memilih usaha-usaha mandiri rumahan.

Tak sedikitpun  yang berhenti bekerja sepenuhnya dan memilih menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga. Oleh sebab itu, banyak perusahaan Indonesia yang enggan merekrut kaum  wanita dalam posisi-posisi teratas perusahaan karena alasan fleksibilitas, loyalitas, dan dedikasi  yang bersangkutan. 

Untuk meningkatkan kesetaraan gender di dunia kerja, dibutuhkan kepercayaan  perusahaan-perusahaan dengan memberikan lebih banyak fleksibilitas waktu bagi pekerja  perempuan. Ini tidak relevan apakah paruh waktu, penuh waktu atau Home Office. Ini mengingat bahwa  pria dan wanita melihat pencapaian akan konsep kesetaraan gender secara berbeda.

Penekanan  gagasan kesetaraan hak dan kewajiban di antara laki-laki dan perempuan sebagai orang tua pun  sangatlah penting. Baik seorang ayah maupun seorang ibu berhak mendapatkan cuti dalam mendidik dan  mengasuh anaknya secara bersama-sama tanpa memberatkan kepada salah satu pihak.

Di Jerman, cuti orang tua dimulai pada hari kelahiran anak dan berlangsung maksimal tiga tahun. Cuti orang tua dapat dibagi secara bebas oleh orang tua, hingga tiga bagian. Selama cuti melahirkan,  orang tua mendapatkan perlindungan khusus dari pemecatan. Perusahaan hanya dapat memecat  mereka karena alasan operasional yang mendesak.

Cuti melahirkan dibayarkan untuk dua belas  sampai empat belas bulan pertama, bukan oleh pemberi kerja tetapi oleh negara dalam bentuk  tunjangan orang tua. Hanya saja pekerja tidak mendapatkan hak atas pembayaran satu kali seperti bonus liburan atau tunjangan  hari raya selama periode ini.

Pemerintah Indonesia diharapkan dapat melirik ide-ide atau gagasan-gagasan dari negara-negara lain yang telah memiliki hasil di bidang kesetaraan gender. Hal ini bisa dilakukan dengan memelajari dan  menyesuaikannya dengan kondisi kemampuan negara masing-masing untuk keberlangsungan semua kaum, baik laki-laki maupun perempuan yang merata.

Tentunya, dibutuhkan juga kerja sama dan kesadaran akan pentingnya kehadiran masing-masing pihak untuk memenuhi hak-hak dan tanggung  jawabnya. Mari memperjuangkan bersama demi menciptakan lingkungan hidup yang dinamis dan  harmonis. 

Penulis: Nurfadni Mutiah, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.

(WARGA MENULIS) Sekarang Giliran Saya Bersuara

Jacinda Ardern, Ursula von der Leyen, dan Angela Merkel merupakan sederetan nama pemimpin wanita dalam bidang politik yang dikenal dunia. Banyak wanita yang menjadikan mereka inspirasi tetapi mungkin ada juga yang merasa, inspirasi mereka berakhir hanya pada tahap fantasi.

“Ah, mereka ‘kan memiliki karir yang bagus, latar belakang pendidikan yang mendukung, public speaking  yang baik. Lalu saya?“ mungkin begitu pikir kita.

Tidak semua wanita dapat mengidentifikasikan dirinya dengan role model tersebut. Jika kita memiliki pikiran seperti ini, saatnya mengubah cara pandang kita. Tidak hanya melihat ke atas atau ke samping, melihat kesuksesan wanita di sekitar kita tetapi lebih penting melihat ke dalam diri sendiri dan fokus pada pengembangan diri.

Apakah dalam perjalanan pengembangan diri saya, saya telah mencapai aktualisasi diri? Apakah saya puas dengan pencapaian saya dan saya nyaman dengan diri saya sendiri? Skill apa yang perlu saya asah untuk mencapai target pribadi saya? Mungkin pertanyaan ini dapat membantu kita dalam merefleksikan kebutuhan psikologis kita.

Abraham Maslow menggambarkan kebutuhan manusia dalam struktur piramida, di mana aktualisasi diri berada di puncak piramida. Kebutuhan ini akan muncul setelah kebutuhan fisiologis, rasa aman, kebutuhan sosial dan penghargaan terpenuhi.

Aktualisasi diri dapat diartikan bahwa kita telah menyadari potensi diri kita sendiri dan menggunakan kemampuan ini secara optimal dalam kehidupan kita sehari-hari dan terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Setelah menyadari potensi ini, mungkin ini saatnya kita para wanita memberanikan diri untuk memimpin.

Kepemimpinan kaum wanita di Indonesia tidak bisa dibilang minim. Namun hal ini masih dianggap istimewa, belum dianggap lumrah, dan bisa diterima sepenuhnya setara dengan kepemimpinan kaum pria. Kesempatan wanita untuk memimpin pun dalam masyarakat masih sedikit.

Tanpa kebijakan kuota untuk pemimpin wanita, wanita harus berjuang sendiri mencapai puncak karirnya. Sudah di puncak pun, wanita harus berhadapan dengan stereotype gender yang berkembang dalam budaya patriarki yang mengakar.

Stereotype feminitas pada wanita tertanam dalam masyarakat sejak dini. Contohnya anak laki-laki akan diberikan mainan mobil dan anak perempuan akan diberikan mainan boneka. Anak laki-laki diharapkan sebagai pemimpin rumah tangga sehingga nantinya membutuhkan mobil sebagai sarana transportasi untuk mencari nafkah.

Sebaliknya anak perempuan diharapkan sebagai seorang ibu yang akan membesarkan dan mengasuh anak-anaknya. Stereotype dalam pola asuh inilah yang menciptakan Stereotype gender, termasuk dalam konsep kepemimpinan.

Komunikasi memegang peranan penting dalam konsep kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mampu menggerakan anggotanya untuk mencapai tujuan kelompoknya. Oleh karena itu pemimpin harus didengarkan suara dan arahannya.

Penelitian-Penelitian di bidang Sosiolinguistik telah membuktikan bahwa gaya bahasa yang digunakan wanita berbeda dengan bahasa yang digunakan pria. Gaya bahasa wanita memungkinkan mereka untuk menuturkan pemikirannya melalui bahasa yang menunjukan identitas dirinya. Wanita ingin penyampaiannya diterima dalam struktur kebahasaan masyarakat yang lebih didominasi oleh pria.

Gaya bahasa wanita memiliki karakteristik yang dapat dikenali. Robin Lakoff, seorang profesor di bidang linguistik mengidentifikasi karakteristik bahasa yang digunakan oleh wanita. Salah satu karakteristik yang menandai gaya bahasa wanita adalah penggunaan aspek kesopanan dalam tata bahasanya.

Contohnya ketika pria lebih menggunakan kalimat perintah langsung seperti: „Tutup pintunya!“ maka wanita mengungkapkan perintah dalam bentuk pertanyaan. Contohnya seperti „Apakah Anda tidak keberatan untuk menutup pintunya?“

Dalam gaya bahasa wanita ini keputusan untuk menutup pintu diserahkan kepada penerima tugas. Itu menimbulkan kesan bahwa wanita tidak yakin dengan keinginannya. Hal ini bisa menjadi dilema bagi pemimpin wanita dalam mencapai tujuannya.

Padahal dengan gaya bahasa tersebut, wanita merasa dapat berbicara dengan kepercayaan diri, kenyamanan, kemandirian, dan perasaannya. Jika wanita keluar dari pola ini dan berbicara secara langsung seperti pria maka wanita akan dianggap tidak feminin, tidak disukai, dan dianggap kasar.

Konstruksi ini membatasi wanita, mengatur posisi wanita dalam masyarakat, dan menghambat kualitas kepemimpinan wanita. Di sisi lain, penelitian yang lebih baru di sisi lain menilai gaya bahasa wanita yang halus sebagai kekuatan wanita.

Gaya bahasa ini dapat juga digunakan wanita secara sadar untuk mempengaruhi lawan bicaranya dan merupakan strategi wanita dalam mencapai tujuannya. Pemahaman akan gaya bahasa wanita dapat membantu pemimpin wanita merefleksikan secara kritis cara berkomunikasinya karena bahasa mengubah cara berpikir dan dapat memengaruhi tindakan.

Sayangnya kesempatan wanita untuk memimpin masih kurang. Untuk menciptakan kesempatan yang kurang didukung sistem diperlukan inisiatif. Ini artinya wanita harus aktif untuk menciptakan peluang dalam memimpin.

Mungkin dalam karir kesempatan, wanita sebagai pemimpin belum tercapai. Namun ketika ada kesempatan-kesempatan kecil, cobalah berinisiatif mengambil tanggung jawab untuk memimpin. Misalnya, inisiatif mengorganisir acara.

Jika kesempatan ini pun belum datang, ciptakanlah peluang saat anda mempresentasikan ide atau gagasan Anda. Bicaralah dengan kepercayaan diri dan cara komunikasi yang secara sadar ditujukan untuk wanita atau pria sehingga kita sebagai wanita dapat berjuang menciptakan peluang untuk memimpin yang mungkin belum datang. Perjalanan kita masih panjang. 

Penulis: Brigita Febrina Jipi Saputra, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.

(WARGA MENULIS) Perempuan: Pemimpin yang Inklusif

Angela Merkel merupakan Kanselir Jerman perempuan pertama yang bisa membuktikan, bahwa perempuan juga bisa memimpin suatu negara dengan stabil selama 16 tahun. Berdasarkan pengalaman hidupnya, perempuan yang dibesarkan di Jerman Timur ini mengetahui benar makna dari kemerdekaan, sebab ia tumbuh dewasa dalam masyarakat yang terisolasi.

Ketika ia memulai karir pertamanya sebagai ilmuwan fisika di Berlin Timur, setiap hari ia harus menyaksikan tembok Berlin sepanjang jalan pulang, sebab ia tinggal tidak jauh dari situ. Ia melihat tembok Berlin yang terbentang sebagai hambatan bagi kemerdekaan dirinya.

Runtuhnya tembok Berlin pada tahun 1989 bukan hanya merupakan peristiwa runtuhnya sebuah bangunan, namun juga runtuhnya kekakuan ideologi. Kecakapan memimpin Angela Merkel bisa dilihat sebagai bukti runtuhnya stigma bahwa superioritas adalah hak laki-laki semata.

Tanpa berniat membandingkan diri dengan Angela Merkel, tapi secara alamiah saya juga terlahir sebagai perempuan. Mungkin semesta sedang berpihak pada saya karena sekarang saya berkesempatan hidup di Jerman.

Sebagai seorang guru Bahasa Jerman bagi imigran, saya diberikan kekuasaan di dalam kelas, di mana kendali ada di tangan saya. Peserta didik yang saya hadapi berasal dari berbagai negara dan budaya yang beragam sehingga tantangan yang muncul menjadi lebih kompleks dibandingkan dengan kelas homogen. Bahkan sebagian besar dari mereka merupakan pengungsi dari negara-negara konflik, yang artinya mereka juga turut membawa beban psikologis seperti trauma.

Tugas saya dalam mengajarkan Bahasa Jerman adalah berjalan bersama mereka dan menuntun mereka melampaui berbagai tembok batasan sehingga perlahan mereka bisa menyesuaikan diri dengan konteks kehidupan yang baru dan melanjutkan hidup mereka secara mandiri.

Pada mulanya, kadang saya merasa ragu dalam menghadapi berbagai dinamika situasi di kelas. Namun seiiring berjalannya waktu saya menyadari, bahwa ternyata saya harus membuka diri saya terlebih dahulu, agar mereka bersedia membuka hati mereka untuk proses belajar.

Ternyata saya harus melihat banyak hal dari perspektif mereka dan mendengarkan mereka untuk membuka gerbang-gerbang kemungkinan lainnya. Ternyata saya harus memulai merangkul mereka terlebih dahulu untuk bisa meruntuhkan tembok-tembok pembatas di antara kami.

Dalam konteks sosial, tembok pembatas bisa berupa konstruksi paradigma konvensional yang bisa menjadi sekat dalam pergaulan sesama manusia. Jika dalam berkomunikasi kita hanya mengamini bahwa pandangan kita yang terideal maka di situlah kita menciptakan jarak dengan lawan bicara.

Sebagai perempuan yang lahir dan dibesarkan dalam konteks masyarakat Indonesia, saya seringkali melihat bahkan merasakan sendiri kakunya tembok di kepala banyak orang dalam memandang kemerdekaan perempuan.

Pada suatu siang yang terik di depan sebuah warung kecil di Jogja, sembari menunggu teman, saya duduk dan bercakap-cakap dengan seorang ibu pemilik warung. Di sana kami bertukar berbagai cerita dan lelaku hidup.

Ketika ia mengetahui bahwa saya, di usia saya, belum berkeluarga dan memilih untuk berkarir di Jerman, sontak ia berkomentar: „Masih menunggu apa lagi sih, Mbak? Perempuan itu kan hidup bukan untuk diri kita sendiri saja, namun juga untuk keluarga. Sebaiknya tidak usah terlalu lama mempertimbangkan pilihan hidup.“

Saat itu saya memilih untuk menanggapi seperlunya, tidak berdiskusi lebih lanjut dengannya, dan perlahan meninggalkannya. Karena saya yakin, kami tidak akan bisa berbicara secara konstruktif. Namun yang menjadi perenungan saya adalah mengapa sebagian perempuan konvensional masih gemar mengambil peran sebagai penasihat kehidupan bagi perempuan lainnya? Ditambah lagi, mereka gemar menggunakan kata sapaan „Mbak“ seolah supaya terdengar akrab meskipun isi komentar yang dilontarkan sama sekali bukanlah sebuah sapaan keakraban.

Pembatas kemerdekaan tidak hanya selalu berbentuk bangunan fisik seperti tembok Berlin, namun juga bisa berbentuk konstruksi paradigma sosial di kepala manusia. Bak tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Timur setelah perang dunia kedua, demikian jugalah tembok-tembok konvensional di dalam kepala. Itu mampu membatasi keakraban antar manusia bahkan membatasi ruang gerak perempuan.

Perempuan itu dipimpin atau memimpin? Siapakah yang menentukan pilihan hidup perempuan dalam ranah privat dan sosial? Sejauh mana perempuan berhak mengaktualisasikan diri sesuai dengan pilihan hati mereka?

Kembali ke sosok Angela Merkel, ia merupakan sosok pemimpin perempuan kuat dan berpengaruh di Jerman bahkan Eropa. Dalam pengambilan keputusan, ia sangat mempertimbangkan fakta dan bekerja sesuai metodologi dengan penuh ketelitian.

Dalam masa kepemimpinannya, ia mampu membuka gerbang-gerbang komunikasi dan negosiasi dalam politik Eropa dan dunia. Selain itu, retorika yang ia pakai cenderung menekankan kerja sama dalam pemecahan berbagai masalah.

Ketika diwawancarai oleh salah satu media Jerman Deutsche Welle, ia diberi pertanyaan perihal taktik yang ia gunakan ketika menghadapi pemimpin negara dengan ideologi berbeda, seperti Putin dan Erdogan. Dengan tenang ia menjawab bahwa ia selalu datang ke percakapan semacam itu dengan hati yang terbuka.

Bahkan ia menegaskan betapa pentingnya mendengarkan lawan bicara, meskipun orang tersebut memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan dirinya. Karena jika kita kehilangan kemampuan mendengarkan maka tidak ada celah untuk solusi. Tegasnya.

Terkait dengan kebijakan politik bagi para imigran dari berbagai negara konflik, ia menunjukkan sikap inklusivitas kemanusiaannya dengan jelas. Ketika Jerman pada tahun 2015 membuka pintu bagi para pengungsi tersebut, ia menunjukkan sisi lembut keperempuannya.

Bahkan ia diberi sebutan „Mutti“ atau „Ibu“ oleh banyak orang. Terlebih lagi ketika ia mengunjungi Prancis dan berjalan bersama Presiden Emmanuel Macron, banyak warga Prancis meneriakinya „Vive Mutti!“ atau „Hidup Ibu!“

Hal ini patut diapresiasi, karena dari kacamata sejarah negara Jerman dan Prancis, tidak selalu berada dalam hubungan yang bersahabat. Dalam konteks ini, Angela Merkel sebagai pemimpin mampu menunjukkan dan membuktikan sifat-sifat inklusivitas feminin sepanjang karir politiknya.

Di ranah privat, ia tergolong sebagai orang yang cenderung suka menyendiri dan sangat menghormati ruang-ruang pribadinya. Ia gemar memberi ruang kepada dirinya sendiri untuk meregenerasi energi, misalnya dengan berkebun atau melakukan berbagai aktivitas di alam. Saya rasa, hal inilah yang membuatnya selalu bisa menampilkan performa yang stabil dalam perannya sebagai pemimpin perempuan di ruang publik.

Secara pribadi, saya menggemarinya sebagai sosok pemimpin perempuan yang cerdas, berkarakter pragmatis, berorientasi pada solusi, memiliki kecakapan interpersonal yang mumpuni, serta mengutamakan harmoni baik dalam konteks negara Jerman, Uni Eropa maupun global.

Menurut saya, baik seorang pemimpin maupun pendidik tidak hanya membutuhkan kemampuan intelegensinya semata, namun juga kedalaman rasa inklusivitas. Inklusivitas merupakan salah satu dimensi feminin, sedangkan eksklusivitas merupakan salah satu dimensi maskulin.

Feminin dan maskulin yang saya maksudkan di sini bukanlah perihal gender semata, namun ini perihal dimensi sifat manusia. Kedua dimensi tersebut ada di dalam diri kita sebagai manusia, meskipun tendensinya berbeda-beda.

Selama ini kita bisa melihat bahwa pergerakan dunia, kebijakan politik bahkan cara hidup kita lebih didominasi oleh eksklusivitas dimensi maskulin yang cenderung berorientasi pada ego dan ambisi. Misalnya, cara kita mengeksploitasi planet bumi selama ini merupakan salah satu manifestasi dimensi maskulin.

Ide kita untuk menumbuhkan ekonomi adalah dengan cara mengeruk habis sumber daya alam, tanpa berusaha mengembalikan potensinya kembali. Rumpangnya kesadaran meregenerasi alam berarti juga lunturnya dimensi feminin. Belakangan ini muncul semacam kerinduan untuk mengembalikan etika dan dimensi energi feminin, yang cenderung lebih inklusif.

Aspek-aspek feminin seperti melindungi, mengasuh, merawat, empati, kasih sayang, reflektif, dan inklusif yang ada dalam diri perempuan merupakan kekuatan yang mampu membawa keseimbangan. Secara alamiah dan berkaca dari peran Angela Merkel, karakter inklusivitas memang tak bisa dilepaskan dari sosok perempuan. Saya melihat hal ini sebagai anugerah bagi kita, perempuan.

Sudah lama kemampuan perempuan diragukan dalam ranah publik, namun perkembangan zaman ternyata menunjukkan bahwa dunia juga membutuhkan aspek-aspek feminin dalam menyelesaikan banyak perkara. Oleh karena itu, sudah saatnya kita memberikan lebih banyak kesempatan bagi para perempuan untuk memimpin dan berkontribusi dalam penyelesaian berbagai perkara.

Lantas pertanyaan mendasarnya sekarang adalah bagaimana cara menumbuhkan kecakapan perempuan agar keseimbangan dalam memimpin itu bisa terwujud?

Menurut saya, sebelum menjadi pemimpin di ruang publik, perempuan seharusnya memberikan ruang dan waktu untuk memimpin dirinya terlebih dahulu. Untuk hal ini, setiap perempuan seharusnya bersedia memulai revolusi batiniah untuk mengenal dirinya sendiri secara lebih dalam.

Revolusi batin tersebut bisa dimulai misalnya dengan afirmasi semacam ini:

“Potensi ada di dalam diriku dan pilihan ada di tanganku. Aku ingin mengubah diriku, menyesuaikan diriku dan melakukan hal terbaik yang aku bisa di setiap situasi yang aku hadapi.”

Dalam hal ini saya ingin memberikan semangat bagi semua perempuan di Indonesia tanpa terkecuali. Bahwa setiap perempuan berhak menjadi pemimpin atas dirinya terlebih dahulu. Itu merupakan sebuah dasar bagi mereka menuju ranah aktualisasi diri yang lebih luas.

Baik sebagai pemimpin bagi dirinya sendiri, sebagai pemimpin harian dalam hidup berkeluarga maupun sebagai pemimpin di ruang publik, seorang perempuan seharusnya memiliki keseimbangan antara kedua dimensi. Itu adalah maskulin (doing) dan feminin (being). Perempuan memiliki kemerdekaan untuk membuka kemungkinan-kemungkinan potensi dirinya. Ia berhak mengaktualisasikan diri sesuai dengan pilihan hidup dan suara batinnya.

Jika setiap perempuan di ranah mereka masing-masing, bisa mempraktikkan dan melatih keseimbangan dalam dirinya, maka saya rasa jiwa kepemimpinan dan kecakapan memimpin akan mengalir secara natural dan indah. Hal itu merupakan sebuah harapan menuju model kepemimpinan yang lebih insklusif dan mampu memanusiakan manusia.

Selamat Hari Perempuan Sedunia 2023 bagi semua perempuan Indonesia!

Penulis: Debora Sisca, peserta Workshop Warga Menulis 2023 dan tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Kebiasaan Phubbing Ajariku Beradaptasi dengan Situasi

Aku sangat suka membaca. Saking sukanya, aku harus membaca saat sedang makan. Dulu saat masih di Indonesia, aku membaca buku fisik. Namun, saat aku pindah ke Jerman, aku berpaling pada e-book. 

Selain e-book praktis, aku juga bisa membaca buku-buku yang dulu aku punya di Indonesia yang tidak tersedia secara fisik di Jerman. 

Kebiasaan ini aku bawa sampai Jerman. Saat aku masuk universitas, aku banyak menghabiskan waktuku sendirian, terutama saat makan. Aktivitas membaca sambil makan ini adalah salah satu caraku untuk tidak merasa kesepian saat makan sendirian, karena sahabatku tidak memiliki jadwal kuliah yang sama sepertiku.

Follow us: ruanita.indonesia

Saat aku sendirian, mungkin kebiasaan itu tidak terlalu mengganggu. Namun itu menjadi masalah saat kebiasaan itu terbawa bahkan jika aku sedang bersama sahabatku. 

Sahabatku merasa terganggu dengan kebiasaanku itu karena saat bersamanya, aku malah asyik dengan Handphone atau ipad. 

Tidak tahan lagi, akhirnya sahabatku memberikan ultimatum. 

“Nad, gue ketemu sama lo karena gue mau ngobrol dan ngabisin waktu sama lo,” dia bilang.

“Tapi gue merasa nggak dihargai karena lo malah sibuk baca novel. Janji ya, kalau lagi keluar sama gue lo gak boleh buka hp atau ipad, lo harus ngobrol sama gue. Kalau nggak, gue nggak mau lagi main sama lo!” lanjutnya lagi. 

Jujur, aku merasa tidak enak hati. Aku tidak bermaksud untuk tidak mempedulikan sahabatku itu. Namun dengan ultimatum itu, aku jadi sadar dengan kebiasaan burukku. Padahal dari dulu keluargaku suka menasehati kebiasaanku itu tetapi aku tidak menghiraukannya.

Sejak saat itu, saat aku keluar bersama orang lain. Sebisa mungkin aku tidak akan membuka hape atau ipad. Aku hanya membuka hp atau ipad saat aku menghabiskan waktu sendirian atau dengan suamiku. Bagaimana pun suamiku memiliki kebiasaan yang sama denganku, yaitu baca e-book sambil makan. 

Efek baiknya, aku tidak terlalu lagi terobsesi dengan hape atau ipad seperti dulu. Akupun menjadi lebih aware dengan karakter orang yang pergi bersamaku dan bisa lebih mencocokkan diri dengan mereka. 

Penulis: Nadia, tinggal di Jerman.

(IG LIVE) Apakah Kamu Mengalami Culture Shock?

Di bulan Januari 2023 ini RUANITA Indonesia mengangkat tema culture shock yang lazim dialami oleh pendatang saat beradaptasi dengan budaya baru. Seperti apa culture shock jika dilihat dari sudut pandang antropologi?

Dalam episode IG Live Sabtu lalu (28/1), Dina Diana lewat akun @ruanita.indonesia mengundang Novi Siti, salah satu volunteer RUANITA yang tinggal di Bergen-Norwegia. Sebagai pekerja sipil yang menetap di Norwegia selama 20 tahun belakangan dan memiliki latar belakang keilmuan di bidang antropologi, Novi berbagi pengalaman dan cara-cara yang ditempuh kala menghadapi culture shock.

Menurut Novi, untuk bisa menjelaskan culture shock atau gegar budaya ini harus dipahami dulu tahapannya, seperti pertama mungkin merasa kaget, kemudian mencoba untuk menghadapi situasi yang berbeda. Kadang ketika selanjutnya seseorang tidak bisa beradaptasi, itu akan menyebabkan stress.

Novi bercerita ketika pertama kali tiba di Tromsø untuk kuliah S2, dia mengalami banyak ‘kekagetan’ yang bersumber dari perbedaan hal-hal yang dialami dan dipelajarinya saat di Indonesia.

Perbedaan iklim, norma sosial serta kebiasaan berinteraksi di masyarakat Tromsø ternyata menimbulkan banyak kekagetan. Namun dia mencoba memahami dan menerima bahwa itulah Tromsø.

Lanjutnya lagi, perubahan peran dan tahapan hidup yang dijalaninya kala itu (awalnya sebagai mahasiswa dan kemudian menjadi seorang ibu) turut menyumbang beberapa ‘kekagetan’ tersebut.

Follow akun IG: ruanita.indonesia

Menurutnya, ada hal-hal yang berbeda dari pola pikir dan perilaku kita yang kemudian akan menimbulkan kekagetan tersebut, sehingga sangat penting untuk belajar memahami bagaimana perilaku dan perspektif orang lain melihat sesuatu; jangan sampai dijadikan benturan. Kekagetan inilah yang Novi coba untuk diterima dulu saja agar kemudian bisa ia pahami.

Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang open-minded membuat Novi merasa lebih mudah dalam dealing with culture shock, dalam hal menerapkan pola pikir ‘terima dulu saja seperti itu’. Budaya di Norwegia pun memberikan ruang untuk dapat mengekspresikan diri asalkan tidak melanggar hukum sehingga penting untuk memahami terlebih dahulu aturan-aturan yang berlaku.

Yang sama pentingnya untuk dipelajari pertama kali adalah memahami bahasa setempat. Ini karena bahasa bukanlah hanya urutan kata-kata dan kalimat saja, tetapi juga alat untuk mengekspresikan diri dan mengungkapkan sesuatu dengan asosiasi dan metafora lainnya.

Sebagai contoh, Novi menjelaskan bahwa orang Norwegia bukanlah orang yang ‘direct’ dalam menyatakan ketidaksetujuan. Sehingga ketika ingin menyatakan misalnya sebuah ide tidak cukup bagus atau biasa-biasa saja, mereka akan mengungkapkan dengan bertanya berputar-putar “I just wondering, why…” dan seterusnya.

Salah satu strategi adaptasi yang Novi pakai adalah mempelajari humor warga setempat dan bagaimana cara mereka bercanda. Novi melihat bahwa cara orang Norwegia bercanda adalah menggunakan metafora dan tidak direct bertanya tentang hal-hal sensitif seperti umur atau body shaming.

Lewat humor inilah Novi mempelajari kode-kode sosial yang berlaku di masyarakat, dan hal apa saja yang diminati oleh warga setempat serta menyelaraskannya dengan keinginannya juga. Menurutnya, ini adalah sebuah ‘seni’ untuk meyakinkan orang lokal bahwa kita tertarik mempelajari budaya mereka dan mau menyelaraskan diri.

Menurut Novi, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam bereaksi dan beradaptasi dengan budaya baru, seperti karakter pribadi, konteks situasi dan budaya asal, serta kebijakan integrasi dan willingness dari pemerintah di negara yang didatangi oleh imigran.

Seperti di Norwegia, pemerintah selalu membuat analisis risiko dalam menerapkan kebijakan imigrasi dan integrasi untuk pendatang. Salah satu hasilnya adalah pemerintah Norwegia menyediakan kursus samfunnskunskap atau social studies yang bisa diikuti oleh semua pendatang.

Selain itu negara juga menyediakan fasilitas konsultasi, konseling serta terapi untuk para pendatang yang sudah berada dalam tahapan kesulitan beradaptasi, tergantung pada sebesar apa masalah yang dihadapi.

Salah satu cara terbaik dalam meminimalisir culture shock adalah terima saja terlebih dahulu, baru kemudian kita bawa berefleksi. Novi menjelaskan bahwa dalam menghadapi budaya baru, jangan sampai kita menginterpretasikan sesuatu berdasarkan apa yang ada di nilai-nilai diri kita. Yang harus dilakukan adalah memahami terlebih dahulu di mana kita berada dan berdiri di saat ini.

Menurutnya, kita tidak bisa memaksakan atau merasa budaya kitalah yang lebih benar daripada budaya lain. Dan sebagai pendatang, memang ada semacam keharusan bagi kita untuk mengikuti peraturan di negara tersebut. Oleh karena itu, faktor kemampuan berbahasa lokal ini sangat penting agar kita dapat berkomunikasi dengan orang lokal untuk mempelajari bagaimana mereka berperilaku dan memahami nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam pemikiran mereka.

Selengkapnya bisa disimak dalam rekaman IG LIVE berikut ini:

Subscribe akun YouTube kami ya.

Penulis: Aini Hanafiah, tinggal di Norwegia (akun IG: aini_hanafiah)

(SIARAN BERITA) Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia, WNI di Jerman Gelar Diskusi Online

JERMAN – PPI Kiel bekerja sama dengan RUANITA – Rumah Aman Kita menggelar acara diskusi online bertema Kekerasan dan Pelecehan Seksual (KPS) yang diadakan secara daring pada Minggu, 10 Oktober 2021 dan diikuti oleh puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) dari Jerman, Belanda, Swiss, Spanyol, Swedia dan tentunya dari Indonesia.

Acara ini mendapatkan dukungan sepenuhnya dari KJRI Hamburg seperti yang disampaikan oleh Konjen RI untuk Hamburg Ardian Wicaksono. Dalam sambutan resminya, Ardian mengatakan bahwa WNI tidak perlu ragu lagi untuk menghubungi Perwakilan Pemerintah Indonesia di luar Indonesia bilamana mendapatkan masalah seperti kekerasan dan pelecehan seksual, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan lain sebagainya.

Perwakilan Pemerintah RI di luar Indonesia seperti KBRI Berlin, KJRI Frankfurt dan KJRI Hamburg telah memiliki regulasi yang terstandar untuk melindungi WNI. Selain itu, Ardian mengapresiasi inisiasi dari komunitas orang Indonesia di mancanegara seperti RUANITA – Rumah Aman Kita dan PPI Kiel yang telah menyiapkan acara diskusi online ini dengan baik.

KJRI Hamburg memberi perhatian penuh terhadap penanganan kasus yang dihadapi WNI di luar Indonesia. Aidil Khairunsyah menjelaskan langkah strategis perlindungan WNI yang mencakup tiga tahap yakni (1). Pencegahan melalui diseminasi informasi, kerja sama dengan berbagai pihak dan pemberdayaan masyarakat; (2). Deteksi Dini melalui pengembangan data base berbasis IT, penyediaan hotline pengaduan dan sinkronisasi data; (3). Perlindungan Cepat dan Tepat melalui penyediaan shelter, pemberian bantuan hukum dan psikologis hingga repatriasi. Aidil berharap WNI di luar Indonesia bisa lebih tanggap dan tidak segan untuk melaporkan kejadian yang menimpa mereka.

Ada pun acara diskusi online ini dilaksanakan bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh tiap tanggal 10 Oktober. Acara ini mendapatkan simpati dari peserta yang sebagian besar para pelajar/mahasiswa yang studi di Jerman dan di Indonesia.

Mahasiswa yang sedang studi S2 jurusan Psikologi di Universitas di Kiel sekaligus moderator, Firman Martua Tambunan mengatakan bahwa isu ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan sehingga informasi dan pengetahuan yang beredar di masyarakat belum tentu benar.

Firman menegaskan mitos-mitos seperti masalah kekerasan dan pelecehan seksual hanya terjadi pada perempuan saja, itu tidak benar. Dia berpendapat kekerasan dan pelecehan seksual dapat terjadi pada siapa saja dan berbagai kalangan usia.

Senada yang disampaikan Firman, Livia Istania DF Iskandar selaku Wakil Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI turut menjadi pembicara dalam diskusi online ini. Dia berpendapat bahwa masyarakat perlu menghargai sisi korban dan saksi yang mengalami kasus kekerasan dan pelecehan seksual.

Menurut Livia, tidak banyak korban dan saksi yang memahami hak-hak mereka dan pemahaman hukum yang berkaitan dengan kekerasan dan pelecehan seksual. Diskusi online ini diharapkan dapat menginformasikan tidak hanya sisi psikologis saja, tetapi juga sisi hukum yang tidak banyak diketahui masyarakat.

Berkaitan dengan sisi psikologis, Ika Putri Dewi selaku Psikolog dari Yayasan Pulih Indonesia berpendapat ada tiga aspek penting untuk memahami kekerasan dan pelecehan seksual, antara lain aspek ketimpangan gender, aspek kapasitas/kemampuan dari pelaku kepada korban dan aspek relasi antara pelaku dengan korban.

Masyarakat perlu juga memahami dampak psikologis korban yang berkepanjangan sehingga kita tidak menyalahkan korban dan melaporkan pelaku kepada pihak yang berwajib.

Acara diskusi online berlangsung selama dua jam lebih dan ditutup tanya jawab yang diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat. Bagaimana pun kasus kekerasan dan pelecehan seksual bak gunung es yang tak tampak di permukaan. RUANITA – Rumah Aman Kita adalah komunitas Indonesia di luar Indonesia yang berfokus pada isu kesehatan mental, kesetaraan gender, dan berbagi praktik baik tinggal di luar Indonesia.

Ibarat rumah, RUANITA menjadi wadah yang aman untuk berbagi pengalaman, cerita, ilmu dan pengetahuan yang dianggap tabu dan tersembunyi untuk diketahui dan dipahami.

Siaran ulang diskusi online ini bisa disaksikan dalam video berikut:

(CERITA SAHABAT) Menjadi “Other” Menuju Perjuangan Identitas

Your German is terrible. I can’t understand anything you said at all,” potong profesor saya, di saat saya sedang melakukan presentasi tentang pengungsi dan imigrasi paksa di kelas Antropologi Migrasi di suatu universitas di Jerman.

Saya dapat melihat teman-teman sekelas saya bertukar pandangan, wajah mereka memancarkan ketidakpercayaan dan horror. Perlahan wajah saya memucat.

Dengan tangan bergetar, saya berusaha melanjutkan presentasi saya tetapi profesor saya berdecak tidak sabar.

“Tidak perlu dilanjutkan, Anda terdengar seperti Google Translate. Apa Anda terlalu malas untuk menulis ulang presentasi ini dalam bahasa Jerman yang baik dan benar? Sudah cukup saya mendengarnya, silakan kembali!“ sahutnya.

Saya buru-buru menyelesaikan presentasi saya dan kembali ke tempat duduk. Teman satu kelompok saya hanya bisa memandangi saya dengan pandangan setengah kesal dan setengah iba.

Saat itu, saya baru saja mulai kuliah. Ersti, begitu mereka memanggil mahasiswa baru semester pertama. Apa saya menggunakan Google Translate? Ya dan tidak.

Memang betul, saat itu kemampuan bahasa Jerman saya masih buruk. Saya menggunakan bantuan Google Translate untuk menerjemahkan beberapa kalimat tetapi saya masih perbaiki dan tulis ulang.

Saya berusaha menjelaskan itu kepada profesor saya. Namun dia tidak bergeming.

“Lebih baik anda bicara bahasa Inggris saja, daripada anda menggunakan Google Translate untuk berbicara Bahasa Jerman!” katanya saat itu.

Setelah perkuliahan itu berakhir, teman-teman sekelas saya menghibur saya.

“Jangan pikirkan dia!“ kata mereka.

“Kami dapat mengerti apa yang kamu bicarakan. Kami tidak tahu kenapa dia bisa berpikir seperti itu tetapi kami berpikir bahasa Jerman kamu cukup bagus.“

Saya hanya dapat berterima kasih kepada mereka. Sejak saat itu, saya memiliki trauma untuk berbicara bahasa Jerman terutama di depan orang banyak. Sampai lima tahun setelah kejadian tersebut, saya masih belum bisa bicara bahasa Jerman.

Selama kuliah S1 saya kebanyakan diam atau berbicara dengan bahasa Jerman patah-patah yang dicampur Bahasa Inggris. 

Kejadian ini menegaskan posisi saya sebagai “The Other” di kelas. Secara harafiah, Other berarti “yang lain.” Secara antropologis, Other memiliki arti “anggota kelompok luar yang didominasi, yang identitasnya dianggap kurang” (Staszak 2008).

Identitas saya di kelas adalah orang asing yang tidak lahir dan besar di Jerman dan tidak bisa berbahasa Jerman dengan baik pula. Terlebih di kelas saya satu-satunya murid yang mengenakan hijab.

Teman-teman dan pengajar sangat mengakomodasi kelemahan saya dalam berbicara bahasa Jerman. Namun segala perlakuan tersebut semakin menegaskan tembok antara saya dan mereka.

Itu adalah awal dari gangguan kecemasan saya. Selama lima tahun saya kuliah S1, saya menghadapi beberapa situasi di mana kesehatan mental saya benar-benar terpuruk.

Saya didiagnosa gangguan panik, gangguan kecemasan, dan depresi. Ditambah saat tahun ketiga, saya terancam harus drop out jika saya tidak lulus salah satu ujian yang dilaksanakan secara lisan dalam bahasa Jerman.

Syukurlah! Pada akhirnya saya berhasil lulus S1 dengan nilai yang baik. 

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan menjadikan pengalaman saya sebagai “motivasi.“ Pada kenyataannya tidak mudah menjadikan trauma sebagai motivasi.

Saya memerlukan lebih dari lima tahun untuk akhirnya dapat berbicara bahasa Jerman tanpa harus merasa panik dan takut jika lawan bicara saya akan menyuruh saya diam.

Saya menyadari bahwa pengalaman saya bisa dialami oleh siapa saja yang sedang menjadi “Others.” Oleh karena itu, saya ingin mengucap kepada para “Others” terima kasih telah berjuang sampai saat ini.

Penulis: Nadia M, yang saat ini tinggal di desa di wilayah timur laut Jerman. Dia suka menulis artikel semi-ilmiah yang berhubungan dengan pengalaman dan kegemarannya. Hobinya adalah mengitari desa sambil berharap dia bisa bertemu kucing. Dia akan memulai kuliah S2 Social Anthropology pada winter-term ini. Dia berharap untuk menjadi peneliti orang Indonesia di Jerman.