(SIARAN BERITA) Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia, WNI di Jerman Gelar Diskusi Online

JERMAN – PPI Kiel bekerja sama dengan RUANITA – Rumah Aman Kita menggelar acara diskusi online bertema Kekerasan dan Pelecehan Seksual (KPS) yang diadakan secara daring pada Minggu, 10 Oktober 2021 dan diikuti oleh puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) dari Jerman, Belanda, Swiss, Spanyol, Swedia dan tentunya dari Indonesia.

Acara ini mendapatkan dukungan sepenuhnya dari KJRI Hamburg seperti yang disampaikan oleh Konjen RI untuk Hamburg Ardian Wicaksono. Dalam sambutan resminya, Ardian mengatakan bahwa WNI tidak perlu ragu lagi untuk menghubungi Perwakilan Pemerintah Indonesia di luar Indonesia bilamana mendapatkan masalah seperti kekerasan dan pelecehan seksual, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan lain sebagainya.

Perwakilan Pemerintah RI di luar Indonesia seperti KBRI Berlin, KJRI Frankfurt dan KJRI Hamburg telah memiliki regulasi yang terstandar untuk melindungi WNI. Selain itu, Ardian mengapresiasi inisiasi dari komunitas orang Indonesia di mancanegara seperti RUANITA – Rumah Aman Kita dan PPI Kiel yang telah menyiapkan acara diskusi online ini dengan baik.

KJRI Hamburg memberi perhatian penuh terhadap penanganan kasus yang dihadapi WNI di luar Indonesia. Aidil Khairunsyah menjelaskan langkah strategis perlindungan WNI yang mencakup tiga tahap yakni (1). Pencegahan melalui diseminasi informasi, kerja sama dengan berbagai pihak dan pemberdayaan masyarakat; (2). Deteksi Dini melalui pengembangan data base berbasis IT, penyediaan hotline pengaduan dan sinkronisasi data; (3). Perlindungan Cepat dan Tepat melalui penyediaan shelter, pemberian bantuan hukum dan psikologis hingga repatriasi. Aidil berharap WNI di luar Indonesia bisa lebih tanggap dan tidak segan untuk melaporkan kejadian yang menimpa mereka.

Ada pun acara diskusi online ini dilaksanakan bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh tiap tanggal 10 Oktober. Acara ini mendapatkan simpati dari peserta yang sebagian besar para pelajar/mahasiswa yang studi di Jerman dan di Indonesia.

Mahasiswa yang sedang studi S2 jurusan Psikologi di Universitas di Kiel sekaligus moderator, Firman Martua Tambunan mengatakan bahwa isu ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan sehingga informasi dan pengetahuan yang beredar di masyarakat belum tentu benar.

Firman menegaskan mitos-mitos seperti masalah kekerasan dan pelecehan seksual hanya terjadi pada perempuan saja, itu tidak benar. Dia berpendapat kekerasan dan pelecehan seksual dapat terjadi pada siapa saja dan berbagai kalangan usia.

Senada yang disampaikan Firman, Livia Istania DF Iskandar selaku Wakil Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI turut menjadi pembicara dalam diskusi online ini. Dia berpendapat bahwa masyarakat perlu menghargai sisi korban dan saksi yang mengalami kasus kekerasan dan pelecehan seksual.

Menurut Livia, tidak banyak korban dan saksi yang memahami hak-hak mereka dan pemahaman hukum yang berkaitan dengan kekerasan dan pelecehan seksual. Diskusi online ini diharapkan dapat menginformasikan tidak hanya sisi psikologis saja, tetapi juga sisi hukum yang tidak banyak diketahui masyarakat.

Berkaitan dengan sisi psikologis, Ika Putri Dewi selaku Psikolog dari Yayasan Pulih Indonesia berpendapat ada tiga aspek penting untuk memahami kekerasan dan pelecehan seksual, antara lain aspek ketimpangan gender, aspek kapasitas/kemampuan dari pelaku kepada korban dan aspek relasi antara pelaku dengan korban.

Masyarakat perlu juga memahami dampak psikologis korban yang berkepanjangan sehingga kita tidak menyalahkan korban dan melaporkan pelaku kepada pihak yang berwajib.

Acara diskusi online berlangsung selama dua jam lebih dan ditutup tanya jawab yang diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat. Bagaimana pun kasus kekerasan dan pelecehan seksual bak gunung es yang tak tampak di permukaan. RUANITA – Rumah Aman Kita adalah komunitas Indonesia di luar Indonesia yang berfokus pada isu kesehatan mental, kesetaraan gender, dan berbagi praktik baik tinggal di luar Indonesia.

Ibarat rumah, RUANITA menjadi wadah yang aman untuk berbagi pengalaman, cerita, ilmu dan pengetahuan yang dianggap tabu dan tersembunyi untuk diketahui dan dipahami.

Siaran ulang diskusi online ini bisa disaksikan dalam video berikut:

(CERITA SAHABAT) Menjadi “Other” Menuju Perjuangan Identitas

“Your German is terrible. I can’t understand anything you said at all,” potong profesor saya, di saat saya sedang melakukan presentasi tentang pengungsi dan imigrasi paksa di kelas Antropologi Migrasi di suatu universitas di Jerman.

Saya dapat melihat teman-teman sekelas saya bertukar pandangan, wajah mereka memancarkan ketidakpercayaan dan horror. Perlahan wajah saya memucat.

Dengan tangan bergetar, saya berusaha melanjutkan presentasi saya tetapi profesor saya berdecak tidak sabar.

“Tidak perlu dilanjutkan, Anda terdengar seperti Google Translate. Apa Anda terlalu malas untuk menulis ulang presentasi ini dalam bahasa Jerman yang baik dan benar? Sudah cukup saya mendengarnya, silakan kembali!“ sahutnya.

Saya buru-buru menyelesaikan presentasi saya dan kembali ke tempat duduk. Teman satu kelompok saya hanya bisa memandangi saya dengan pandangan setengah kesal dan setengah iba.

Saat itu, saya baru saja mulai kuliah. Ersti, begitu mereka memanggil mahasiswa baru semester pertama. Apa saya menggunakan Google Translate? Ya dan tidak.

Memang betul, saat itu kemampuan bahasa Jerman saya masih buruk. Saya menggunakan bantuan Google Translate untuk menerjemahkan beberapa kalimat tetapi saya masih perbaiki dan tulis ulang.

Saya berusaha menjelaskan itu kepada profesor saya. Namun dia tidak bergeming.

“Lebih baik anda bicara bahasa Inggris saja, daripada anda menggunakan Google Translate untuk berbicara Bahasa Jerman!” katanya saat itu.

Setelah perkuliahan itu berakhir, teman-teman sekelas saya menghibur saya.

“Jangan pikirkan dia!“ kata mereka.

“Kami dapat mengerti apa yang kamu bicarakan. Kami tidak tahu kenapa dia bisa berpikir seperti itu tetapi kami berpikir bahasa Jerman kamu cukup bagus.“

Saya hanya dapat berterima kasih kepada mereka. Sejak saat itu, saya memiliki trauma untuk berbicara bahasa Jerman terutama di depan orang banyak. Sampai lima tahun setelah kejadian tersebut, saya masih belum bisa bicara bahasa Jerman.

Selama kuliah S1 saya kebanyakan diam atau berbicara dengan bahasa Jerman patah-patah yang dicampur Bahasa Inggris. 

Kejadian ini menegaskan posisi saya sebagai “The Other” di kelas. Secara harafiah, Other berarti “yang lain.” Secara antropologis, Other memiliki arti “anggota kelompok luar yang didominasi, yang identitasnya dianggap kurang” (Staszak 2008).

Identitas saya di kelas adalah orang asing yang tidak lahir dan besar di Jerman dan tidak bisa berbahasa Jerman dengan baik pula. Terlebih di kelas saya satu-satunya murid yang mengenakan hijab.

Teman-teman dan pengajar sangat mengakomodasi kelemahan saya dalam berbicara bahasa Jerman. Namun segala perlakuan tersebut semakin menegaskan tembok antara saya dan mereka.

Itu adalah awal dari gangguan kecemasan saya. Selama lima tahun saya kuliah S1, saya menghadapi beberapa situasi di mana kesehatan mental saya benar-benar terpuruk.

Saya didiagnosa gangguan panik, gangguan kecemasan, dan depresi. Ditambah saat tahun ketiga, saya terancam harus drop out jika saya tidak lulus salah satu ujian yang dilaksanakan secara lisan dalam bahasa Jerman.

Syukurlah! Pada akhirnya saya berhasil lulus S1 dengan nilai yang baik. 

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan menjadikan pengalaman saya sebagai “motivasi.“ Pada kenyataannya tidak mudah menjadikan trauma sebagai motivasi.

Saya memerlukan lebih dari lima tahun untuk akhirnya dapat berbicara bahasa Jerman tanpa harus merasa panik dan takut jika lawan bicara saya akan menyuruh saya diam.

Saya menyadari bahwa pengalaman saya bisa dialami oleh siapa saja yang sedang menjadi “Others.” Oleh karena itu, saya ingin mengucap kepada para “Others” terima kasih telah berjuang sampai saat ini.

Penulis: Nadia M, yang saat ini tinggal di desa di wilayah timur laut Jerman. Dia suka menulis artikel semi-ilmiah yang berhubungan dengan pengalaman dan kegemarannya. Hobinya adalah mengitari desa sambil berharap dia bisa bertemu kucing. Dia akan memulai kuliah S2 Social Anthropology pada winter-term ini. Dia berharap untuk menjadi peneliti orang Indonesia di Jerman.