(CERITA SAHABAT) Pengalaman Melahirkan di Jerman dengan Situasi Pandemi Covid-19

Perkenalkan saya Euginia Putri Stederi. Saya mau berbagi pengalaman saya pra dan pasca melahirkan. Cerita saya mungkin dapat mewakili suara beberapa ibu atau orang tua baru yang menetap di luar negeri.

Saya hamil di awal masa Pandemi tahun 2020. Melahirkan di masa pandemi bukan hal yang mudah karena semuanya serba terbatas dan tidak cepat. Namun saya tetap merasa beruntung karena di Jerman banyak sekali sarana yang didukung oleh asuransi seperti biaya bidan, biaya dokter kandungan, biaya rumah sakit dan dokter anak. 

Selain sarana yang ditawarkan oleh asuransi, saya juga mengikuti beberapa kegiatan yang biayanya harus saya tanggung sendiri seperti yoga untuk ibu hamil dan akupuntur. Selama masa kehamilan saya juga sudah mendapatkan jadwal tetap dokter kandungan saya. Untuk melakukan check up, kapan saja saya harus ke dokter kandungan. Kurang lebih selama 9 bulan saya mempunyai 20 janji kontrol.

Selama masa kehamilan kami disarankan secepat mungkin untuk mencari bidan dan dokter anak karena jumlah bidan dan dokter anak yang terbatas dan antrian yang panjang. Peran bidan di sini tidak kalah pentingnya, mereka mengontrol ibu hamil untuk pra dan pasca kehamilan dan juga bayi yang baru lahir. 

Selain itu kami disarankan untuk mengikuti kursus persiapan kelahiran di mana ada banyak sekali informasi di dalamnya seperti dokumen apa saya yang harus dipersiapkan, ciri-ciri ibu yang sudah mau melahirkan, latihan-latihan untuk memperlancar kelahiran dsb. Ada baiknya bagi orang tua baru untuk mengambil kursus post natal (pasca kelahiran) untuk mengetahui apa saja yang bisa terjadi terhadap anak atau pun orang tua baru setelah proses kelahiran.

Di Jerman pun tidak mengenal mitos yang aneh-aneh. Ibu hamil malah dianjurkan untuk beraktivitas sewajarnya dan senormal mungkin. Namun tentunya sesuai kemampuan masing-masing individu. Yang saya sangat ingat, dokter kandungan memberi tahu saya untuk tidak makan daging atau telur setengah matang. Semua sayur dan buah harus dicuci bersih. Saya diperbolehkan olahraga seperti bersepeda sesuai kapasitas saya.

Namun sayangnya karena pandemi semuanya tidak seindah yang dibayangkan. Suami hanya diperbolehkan hadir beberapa jam sebelum proses kelahiran. Suami boleh berkunjung maximum 1-4 jam sehari. Orang tua tidak dapat hadir, termasuk orang tua dari pihak suami saya. 

Saya masih ingat dengan jelas di rumah sakit seperti rumah hantu. Hanya saya dan bayi saya sehingga saya tidak tahu harus melakukan apa. Bolak-balik saya mengebel perawat meminta bantuan dan akhirnya saya sempat dimarahi oleh salah satu perawat. Merasa tidak nyaman, stress dan bingung akhirnya saya memutuskan hanya menetap 1 malam saja. Mungkin para  dokter dan perawat pun kewalahan karena di hari itu entah kenapa banyak sekali bayi yang baru dilahirkan. 

Setelah itu persiapan yang cukup memakan waktu adalah saat menyelesaikan semua dokumen yang dibutuhkan. Proses itu sangat tidak mudah. Semua serba terbatas. Namun saya bersyukur punya keluarga baru di sini yaitu teman-teman kami yang membantu kami seperti memasak untuk kami dsb. Tanpa mereka mungkin kami akan babak belur, sebagai sepasang orang tua baru yang minim akan pengetahuan tentang rutinitas baru kami.

Secara hukum kami diperbolehkan mengambil cuti maksimum 3 tahun setelah kelahiran anak kami, tetapi kami putuskan untuk mengambil cuti selama 14 bulan. Saya mengambil cuti 12 bulan dan suami saya hanya 2 bulan. Selama masa cuti ini kami masih mendapatkan bantuan keuangan dari negara sebanyak 60% dari gaji kami. Apabila kami mengambil cuti lebih dari 14 bulan kami tidak mendapatkan bantuan dari negara. Selain itu anak kami pun mendapat bantuan keuangan dari negara dari usia 18 tahun hingga 25 tahun.

Lagi-lagi saya tidak merasakan mitos yang aneh-aneh untuk bayi atau ibu yang baru melahirkan. Contohnya, di Indonesia ibu atau anak baru dilarang keluar rumah selama 40 hari. Di Jerman, sepanjang ibu yang baru saja melahirkan sudah mampu  maka kami diijinkan untuk keluar rumah. Saya terbilang cukup beruntung baik orang tua saya maupun mertua saya, tidak pernah ada yang memaksakan kehendak mereka. Mereka tetap memberikan saran tetapi pada akhirnya saya dan suami saya yang memutuskan.

Ini sepenggal pengalaman saya tentang pra dan pasca kelahiran anak saya. Saya mau ucapkan banyak terima kasih untuk suami saya yang kuat dan tidak lepas tanggung jawab, teman-teman kami yang selalu ada untuk kami dan pahlawan saya yaitu bidan saya. Tanpa bidan saya, kami mungkin tidak akan cepat belajar dan bangkit. Saya sangat menyarankan juga mengikuti kelas persiapan pasca kelahiran kepada Anda yang ingin melahirkan di luar negeri.

Penulis: Euginia Putri Stederi – Jerman

(CERITA SAHABAT) Begini Rasanya Jadi Dosen Bahasa Indonesia di Universitas, Tempat Albert Einstein Belajar

Ilustrasi.

Banyak orang mungkin bertanya bagaimana rasanya bekerja di luar negeri, apalagi berprofesi sebagai dosen di universitas, tempat Albert Einstein belajar. Ini adalah pengalamanku yang menantang sekaligus berharga supaya dapat tetap berkarya di mana pun berada. 

Awalnya aku menetap di Swiss untuk menemani suami yang sedang melanjutkan studi PhD (S3) di Universität Zürich. Kami sempat menjalani Long Distance Marriage satu tahun sebelumnya, sehingga kemudian kuputuskan menyusul suami pada 2019. Tentu rasanya tak mudah meninggalkan pekerjaan dan rutinitas mengajar di Yogyakarta yang sudah kurintis sejak empat tahun terakhir, apalagi jika harus beranjak dari zona nyaman dan pindah ke negeri yang terkenal dengan kelezatan cokelatnya itu, suatu tempat yang benar-benar baru bagiku. 

Menjadi pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) sebenarnya berawal dari sebuah ketidaksengajaan, saat aku melakukan perjalanan di Chiang Mai, Thailand, pada 2011 silam. Di negeri gajah putih ini aku melanjutkan studi S2 dengan jurusan yang sama dengan studi S1-ku, Sastra Inggris. Rupanya tawaran menjadi pengajar BIPA di Thailand telah memberiku pengalaman berkarir sebagai pengajar Bahasa Indonesia bagi Pemelajar Asing. Berbekal pengalaman dan pelatihan yang sering kuikuti, tak terasa aku menggeluti dunia ke-BIPA-an ini hingga sekarang.

Meski Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu, ternyata mengajarkan Bahasa Indonesia bagi warga negara asing itu memiliki tantangan tersendiri. Selain setiap pemelajar memiliki karakteristiknya masing-masing, mengajarkan bahasa Indonesia kepada penutur asing juga menuntutku untuk memiliki keterampilan khusus dalam pemahaman lintas budaya. Hal ini penting untuk diketahui demi kelancaran proses pembelajaran di kelas. Misalnya, aku harus bisa menyesuaikan dengan budaya setempat seperti Swiss yang memiliki tiga bahasa sebagai pengantar sehari-hari yakni Bahasa Jerman, Bahasa Italia dan Bahasa Prancis. 

Seorang pemelajar pernah mengkritikku karena aku tidak bisa mengajar dengan pengantar bahasa Prancis, melainkan hanya bisa berbahasa Inggris dan sedikit berbahasa Jerman saat menjelaskan materi tata bahasa. Aku sempat berkecil hati atas kritik tersebut, namun aku dapat segera menemukan solusi dengan menggunakan direct teaching method dengan bantuan media visual untuk memudahkan pemelajar dalam mempelajari bahasa Indonesia tanpa adanya bahasa perantara. 

Tekanan psikologis lainnya tentu saja pernah kualami di negeri asing ini. Di awal mengajar, aku merasa sedikit kurang percaya diri, meskipun dengan pengalaman dan jam terbangku yang sudah lebih dari 10 tahun. Hal ini karena adanya kultur kerja yang berbeda dengan kampus tempatku dulu bekerja, ditambah juga dengan adanya karakteristik pemelajar Eropa yang cenderung lebih kritis dalam segala hal. Namun kemudian aku sadar bahwa aku bisa berada di sini karena aku mampu dan memang berkompeten dalam bidang yang aku tekuni saat ini. Pengalaman ini pula yang membuatku semakin semangat mengasah keterampilan mengajarkku melalui berbagai kegiatan webinar dan keterlibatanku dalam Afiliasi Pengajar BIPA se-Eropa, sebuah upaya agar aku tidak merasa sendiri dan mendapat support yang baik dari sesama pengajar BIPA di benua ini. 

Sejak 2019 aku telah menikmati proses menantang sekaligus menarik sebagai Pengajar BIPA di Universität Zürich dan di KBRI Bern yang dibuka pada tahun berikutnya. Sebagai pengajar BIPA, aku harus berhadapan dengan pemelajar dengan latar belakang dan motivasi belajar yang beragam. Di Universität Zürich, BIPA adalah mata kuliah pilihan yang berbobot 6 ECTS (=Satuan Kredit Semester/SKS di Eropa), sedangkan kursus BIPA di KBRI Bern dibuka untuk masyarakat Swiss secara umum.

Dengan berbagai keterbatasanku saat tiba di Zurich dulu, aku sebenarnya tidak punya banyak pilihan, akan tetapi aku mencoba menciptakan peluang untuk diriku sendiri sehingga aku tetap bisa berkarya walaupun jauh dari rumah dan dari segala kenyamanannya. Bagaimana pun juga kita perlu berdamai dengan diri sendiri, yaitu dengan menerima dan menjalani setiap prosesnya. Suami dan anakku telah banyak mendukungku untuk bertumbuh dan menjadi pendengar sekaligus social support terbaik mana kala aku menghadapi kecemasan akan adaptasi lingkungan, pekerjaan, maupun permasalahan psikologis lainnya.

Sebagai pengajar BIPA, aku juga belajar banyak untuk membuka wawasan dan jejaring yang lebih luas lagi, dapat melihat Indonesia dari kacamata ‘luar’ yang semakin menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air. Menjadi pengajar BIPA juga memberiku peluang di negeri asing untuk menjadi diriku sendiri. Kunci menjadi pengajar BIPA adalah pentingnya toleransi budaya agar dapat memahami konteks Bahasa Indonesia yang dipelajari pemelajar asing.

Bahasa ibu adalah identitas diri siapapun dan dari manapun kita berasal. Bahasa ibu adalah bahasa utama untuk mengenal dunia. Jangan sungkan untuk berbahasa Indonesia di mana pun kita berada. Jika warga negara asing saja mau belajar, mengapa kita mesti malu berbahasa Indonesia?

Penulis: Hesti Aryani, tinggal di Zurich

(CERITA SAHABAT) Cokelat dan Valentine

Ilustrasi.

Menjelang bulan Februari, toko-toko dekat rumahku telah diselimuti dengan cokelat, hiasan hati, pita-pita cantik, bunga dan lain sebagainya. 

Sebagai penyuka cokelat, aku sangat menyenangi diskon-diskon spesial yang ditawarkan. Namun, setiap kali aku melihat plakat bertuliskan hari Valentine, aku hanya bisa mendengus. Hari kasih sayang? Menggelikan. 

Bagiku, hari Valentine adalah hasil marketing yang sangat sukses. Entah perusahaan cokelat mana yang menggagaskan konsep hari kasih sayang di hari kematian seseorang yang dieksekusi secara tidak berperikemanusiaan? 

Lucunya, gagasan ini diterima di seluruh dunia. Well, tentu ada beberapa orang yang menolak mentah-mentah konsep ini. Aku, misalnya. Beberapa kelompok religius juga menentang gagasan hari kasih sayang ini.

Follow us: @ruanita.indonesia

Argumen mereka, hari kasih sayang bisa dirayakan kapanpun. Aku sedikit setuju dengan pernyataan ini. Tapi, namanya manusia sangat suka dengan momentum. Apapun, lah! Aku hanya ingin cokelat mahal yang di-diskon. Sebenarnya, Valentine tidak jelek-jelek amat. 

Cokelat diskon itu buktinya! Namun terkadang orang bisa sangat terobsesi dengan hari ini. Temanku sampai mengancam pacarnya kalau dia tidak membawanya ke restoran romantis dan memberinya kado Valentine, dia akan ngambek sejadi-jadinya.

Berlebihan, menurutku. 

Tapi pernah suatu hari aku memberikan kado Valentine kepada mama. Beliau tidak pernah merayakan Valentine, namun kebetulan beliau sedang mengunjungiku di negara ini bertepatan dengan Valentine. 

Senyum beliau saat menerima kado dariku sangatlah indah. Mungkin, di luar hal-hal aneh seperti obsesi Valentine dan asal-usulnya, Valentine tidak jelek-jelek amat. 

Penulis: Nadia Millati, berdasarkan cerita seorang teman dari negara Asia Timur.

(CERITA SAHABAT) Karena Pintu Kesempatan Bisa Terbuka Dari Mana Saja

Ilustrasi.

Tahun ini genap tujuh tahun saya tinggal di sebuah negara di utara benua Eropa. Kali pertama menginjakkan kaki di Eropa, saya datang sebagai mahasiswa untuk studi master di bidang ilmu sosial. Mengantongi beasiswa dari sebuah lembaga di Indonesia, saya memulai masa studi master ditemani oleh suami tercinta. Ya, suami ikut menemani saya setelah resign dari tempatnya bekerja dan mendapatkan pekerjaan baru yang memungkinkannya untuk remote working. Ada mimpi yang sama-sama kami bawa ke Eropa: untuk memperkaya pengalaman hidup -selagi masih muda- dan untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik.

Namun setelah di Eropa, mata kami terbuka lebih lebar bahwa mimpi tersebut tidak sekonyong-konyong hadir seperti cerita-cerita sukses yang kami baca di media sosial. Soal memperkaya pengalaman hidup, sudah pasti ya… lewat kerja keras yang harus kami lewati untuk bisa mencapai penghidupan yang lebih baik. 

Kesempatan kuliah ternyata menjadi salah satu pintu peluang membangun koneksi untuk mendapatkan pekerjaan. Dari teman kuliahlah saya mendapatkan pekerjaan part-time. Pekerjaan part time pertama saya adalah menjadi pelayan dan barista di sebuah kafe di pusat kota. Karena letak gedung kuliah hanya beda dua blok dari kafe, maka saya iyakan saja tawaran teman saya tersebut. Jadi pagi saya kuliah, siang atau sore jaga kafe. Namun saya hanya bekerja selama 1 semester saja karena di semester selanjutnya jadwal pekerjaan tersebut banyak bentrok dengan jadwal kuliah. Dengan berat hati saya relakan pekerjaan tersebut. Lagipula dengan kesibukan kuliah dan tugas kelompok, rasanya kalau ditambah bekerja jadi malah kewalahan.

Meski tak sampai setahun bekerja di kafe, namun di situlah saya melihat kenyataan bekerja di negara ini. Tantangan utama adalah kendala bahasa. Karena negara di Nordic area tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai Bahasa utama untuk komunikasi sehari-hari, maka saya harus bisa berbahasa lokal. Minimal dalam skala percakapan dulu saja, seperti untuk menjawab sapaan pengunjung, menanyakan pesanan, atau ngobrol tentang cuaca. Ini yang membuat saya mengambil mata kuliah Bahasa lokal di semester selanjutnya. Untungnya di kampus ada mata kuliah bahasa lokal tingkat A1-A2 untuk mahasiswa internasional. Kelas ini juga adalah salah satu keuntungan saya sebagai mahasiswa karena saya bahkan bisa mengambil kelas Bahasa sampai tingkat B1, gratis. Sementara pendatang jobseeker harus merogoh kocek dalam-dalam sampai ribuan kroner untuk mengambil kursus privat bahasa lokal.

Inilah kendala yang harus suami saya hadapi. Karena kami masuk ke Eropa lewat pintu yang berbeda -saya sebagai mahasiswa, suami sebagai remote worker yang juga jobseeker- maka tantangannya juga berbeda. Ibaratnya main ular tangga, status saya sebagai mahasiswa membuat starting point saya sudah menclok di anak tangga keenam atau kesepuluh, sementara suami saya betul-betul harus mulai dari nol. Kala berhadapan dengan kendala bahasa, suami saya sebagai job seeker harus membayar sendiri kelas kursus bahasa lokal. Pusing juga kalau lagi-lagi kami harus membobol tabungan dana darurat hanya untuk ikut kelas Bahasa. Apalagi setelah ada seorang teman yang bilang kalau bisa berbahasa lokal saja tidak cukup, kamu harus punya koneksi yang tepat untuk masuk di lingkungan pekerjaan yang disasar. 

Kegamangan suami saya dijawab saat ia ke perpustakaan kota dan melihat iklan kegiatan kelas språkkafe. Språkkafe adalah program kafe gratisan yang diadakan sore hari di perpustakaan kota untuk membantu para pendatang berlatih ngobrol Bahasa lokal. Akhirnya suami saya memberanikan diri datang ke språkkafe di waktu luangnya, sekalian biar tidak suntuk bekerja dari rumah saja. Di saat yang sama, suami saya hanya mengambil pekerjaan proyek berbasis Bahasa Inggris saja. Waktu saya harus berhenti kerja di kafe, owner kafe pun bertanya apakah saya punya teman yang bisa mengisi posisi saya. Akhirnya saya tawarkan suami untuk mengambil pekerjaan tersebut. Sebenarnya suami saya orangnya introvert, tetapi demi kesempatan untuk mengasah kemampuan Bahasa, diapun mengambil pekerjaan di kafe tersebut. Karena pekerjaan proyeknya membutuhkan ia untuk stand by dari pagi hingga siang, maka suami menerima shift sore sampai beres-beres tutup kafe. Kelelahan, sudah pasti.

Dua tahun menjalani studi master, akhirnya saya lulus. Optimis memasuki pasar jobseeking lokal, saya pun memasang target mimpi untuk bisa kerja di bidang yang sesuai dengan studi master saya. Lagi-lagi impian saya harus terbentur dengan kenyataan kalau… kemampuan berbahasa saya belum cukup untuk masuk ke level kompetensi praktisi di kalangan orang lokal. Di saat yang sama, saya melamar untuk beberapa program doktoral S3 karena di negara ini PhD candidate dihitung sebagai pegawai kampus (pekerja riset), bukan sebagai mahasiswa penerima beasiswa. Namun lamarannya ditolak dengan berbagai alasan. Saat menghubungi supervisor yang dulu, beliau saat itu juga menyatakan belum ada dana turun untuk membuka riset baru. Antara marah karena kecewa dan tidak mau pulang karena urung menyerah, saya pun bekerja serabutan, mengambil beberapa pekerjaan part time dari mulai membersihkan rumah orang, bekerja kembali di kafe, jaga toko, serta menerima pekerjaan babysitting atau yang di sini disebut sebagai dag mamma. Pernah juga saya bekerja sebagai tour guide lepasan untuk turis mancanegara, menerima terjemahan dokumen serta menjadi penerjemah lisan. Apapun, asalkan saya bekerja dan ikut berkontribusi untuk keluarga.

Bagaimana dengan suami saya? Hidup itu seperti roda ya, kadang di atas, kadang di bawah. Suami saya yang meniti dari bawah sembari sabar membangun portfolio, membuat jejaring dan berlatih bahasa, akhirnya diterima bekerja di sebuah start-up company. Saya bangga melihat keberhasilan suami saat itu, namun dalam hati kecil saya tidak bisa 100% menerima kenyataan bahwa gelar master yang saya peroleh tidak banyak membukakan pintu setelah lulus, dan saya masih begini-begini saja. Perasaan itu membuat saya jadi seperti membenci diri sendiri. Kala itu suami saya berkata, tidak apa-apa, mungkin inilah saatnya income kami datang dari pintu yang dia buka, setelah sebelumnya datang dari pintu yang saya buka. Mungkin porsinya sedang berbeda saja, kata suami. Ah gampang kamu bilang begitu karena sekarang kamu yang sudah bekerja, kata saya getir.

Suatu hari, saya bertemu dengan salah satu senior kuliah. Mengetahui bahwa saya sedang bekerja paruh waktu sebagai babysitter, ia pun menyarankan, mengapa tidak mendaftar kerja sebagai asisten guru TK saja? Kamu sudah cukup lancar berbahasa lokal dan sudah lulus tes bahasa, kata teman saya, selain itu TK dan daycare selalu butuh guru pengganti dan asisten guru. Ia pun memberikan link ke sebuah agensi penyalur jasa asisten guru yang cukup terpercaya. Katanya lagi, kalau butuh surat referensi dengan senang hati dia akan membuatkan. Saya sebetulnya tidak terlalu yakin bisa betah mengurus anak-anak TK, tetapi dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang lebih dari sekadar kerja serabutan, akhirnya saya coba mendaftarkan diri ke agensi tersebut.

Tidak butuh lama menunggu untuk mendapatkan panggilan dari agensi. Saya pun ditempatkan di sebuah TK yang jaraknya sekitar 30 menit naik bus dari daerah rumah kami. Oh ya, saat itu kami sudah pindah ke pinggir kota demi mendapatkan rumah sewa yang lebih murah dan bisa menabung lebih banyak. Bagaimana pekerjaan di TK? Melelahkan, tetapi anehnya menyenangkan juga. Saya jadi banyak berlatih Bahasa lokal dengan para kolega dan anak-anak TK. Setelah dua tahun menjadi guru pengganti, kepala sekolah di TK terakhir tempat saya bekerja menawarkan pekerjaan tetap sebagai asisten guru TK, dengan porsi pekerjaan 50%. Selain itu dengan menjadi pegawai tetap, saya akan diberikan kursus-kursus pedagogi untuk memperkaya pengetahuan seputar pendidikan anak usia dini. Memang jauh sekali dari bidang yang menjadi latar belakang pendidikan saya, tetapi ini adalah kesempatan yang terlalu bagus untuk dilewatkan. Selain itu, saya sudah terlalu lelah bekerja serabutan. Saya juga tidak kuat hati menghadapi stigma bahwa pendatang dari rumpun negara saya hanya cocok untuk bekerja serabutan. Kalau mau menetap for good perantauan ini, saya harus punya permanent residence, dan untuk itu saya harus memiliki pekerjaan tetap.

Sampai saat ini, saya masih bekerja sebagai asisten guru TK. Dengan kemampuan Bahasa lokal yang sudah lebih mantap, saya pun mengambil kelas pedagogi dan sertifikasi sebagai guru TK. Ada orang-orang yang mengomentari kalau sayang sekali latar belakang akademik yang saya miliki jadi tidak terpakai sebagai praktisi, tetapi bagi saya, itu sudahlah cukup menjadi bekal pembuka pintu untuk masuk ke negara ini. 

Penulis: Retno Aini Wijayanti dari pengalaman seorang teman yang tinggal di Eropa.

(IG LIVE) Perempuan dan Kewirausahaan di Luar Negeri

Flyer.

JERMAN – Sabtu (5/2) Ruanita – Rumah Aman Kita lewat akun IG ruanita.indonesia menggelar diskusi virtual bertajuk: Perempuan dan Kewirausahaan selama kurang lebih 30 menit. Tema tersebut sengaja diangkat karena Ruanita dan KEMI Turki akan menggelar webinar kewirausahaan yang dilaksanakan sehari setelah IG Live. Demikian Atika, Moderator IG Live menjelaskannya di hadapan dua tamunya yakni Bimo Wikantiyoso (akun IG: darth_consicous) dan Josephine (akun IG: jossiejosephine).

Bimo, seorang Psikolog yang tinggal di Indonesia menjelaskan hasil penelitiannya tentang kewirausahaan yang berkaitan dengan karakter kepribadian yang dimiliki para pengelola usaha di bilangan Jakarta. Temuannya menunjukkan bahwa ada pengaruh karakter kerpibadian dengan keberhasilan berwirausaha.

Bimo menegaskan di tengah situasi dunia yang tidak pasti karena pandemi, dia menyimpulkan motivasi berwirausaha demi orang lain seperti orang yang dicintai, orang yang dianggap penting dalam hidupnya atau tidak memikirkan dirinya sendiri ternyata memiliki ketahanan berwirausaha di tengah ketidakpastian. Bimo mengambil penelitian saat awal pandemi tahun 2020 kepada sejumlah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang sebagian besar adalah perempuan.

Senada dengan Bimo, Josephine yang kini menetap di Norwegia dan memulai usaha saat pandemi pun mengamini pernyataan Bimo. Josephine berpendapat motivasi, kemauan belajar, riset market dan segera beradaptasi adalah mentalitas yang diperlukan dalam kewirausahaan, apalagi menetap di negeri orang. Ini menjadi tantangan tersendiri mengingat orang tersebut harus keluar dari zona kenyamanan menuju situasi yang penuh risiko dan ketidakpastian. Pemahaman ini diperlukan bagi seorang yang ingin membangun usaha.

Setelah enam tahun tinggal di Norwegia, Josephine memutuskan untuk memulai usaha yang membuatnya itu tak mudah. Norwegia menetapkan high standar quality dalam setiap layanannya meski makanan Asia begitu digemari dan banyak peminatnya. Pasarnya cukup kompetitif karena tidak ada persaingan. Hanya Josephine yang kini menekuni usaha penjualan produk Indonesia yang melayani Bergen, kota tempat tinggalnya dan seluruh Norwegia. Josephine pun segera belajar market dan menjalani penjualan online agar dapat memburu pelanggannya. Ada plus dan minus tergantung bagaimana memasarkannya di Norwegia.

Bimo menilai apa yang dilakukan Josephine sudah sesuai dengan mentalitas kewirausahaan, apalagi Josephine membangun circle network dengan mengandalkan kekuatan dirinya yang segera cepat beradaptasi dengan budaya dan market di Norwegia. Bimo sebagai psikolog menyadari bahwa bakat dan lahir di lokasi yang tepat memang bisa menjanjikan untuk menjadi pengusaha.

Ada empat saran yang diperlukan untuk membangun mentalitas kewirausahaan di negeri perantauan, antara lain:

  1.  Jangan kuatir!

Menghadapi ketidakpastian itu tidak mudah. Menurut Bimo, kalau mau hal-hal yang pasti, jangan berwirausaha! Terbiasa dalam kondisi ketidakpastian dan menikmati dalam ketidakpastian, itu diperlukan dalam berwirausaha. Jadi kalau misalnya, tidak ada jiwa menghadapi ketidakpastian sebaiknya tidak berwirausaha.

2. Jangan minder!

Orang Indonesia sangat peka membaca perubahan mood/situasi atau kebutuhan orang lain daripada bangsa lain. Justru ini menjadi keunggulan orang Indonesia untuk melihat peluang pasar. Ini merupakan hasil penelitian dari seorang kolega saya tentang kepribadian orang Indonesia. Menurut kolega saya, orang Indonesia memiliki kepekaan tinggi.

3. Keterampilan beradaptasi juga tinggi

Orang Indonesia sendiri sudah dihadapi dengan tiga bahasa dalam kehidupan sehari-hari yakni bahasa daerah, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Tak hanya bahasa, orang Indonesia yang beragam budaya dan kultur juga memiliki keunggulan tersendiri sehingga orang Indonesia mudah beradaptasi. Kemampuan beradaptasi menjadi faktor keunggulan untuk berwirausaha di negeri asing.

4. Pengetahuan, market dan taat hukum

Josephine menambahkan bahwa diperlukan juga kepribadian yang kuat untuk mampu mengatasi rasa tidak percaya diri karena kita adalah orang asing. Kita harus punya pengetahuan dasar dan bagaimana memasarkan produk karena kita hidup di negeri yang punya standar tinggi. Tak hanya itu, kita harus taat hukum untuk menghindari denda yang membuat kita lebih bangkrut lagi.

Silakan follow akun ruanita.indonesia untuk mendapatkan jadwal regular IG Live lainnya yang lebih menarik untuk Anda.

(MATERI INFORMASI) Webinar Kewirusahaan

Dubes RI untuk Turki, Lalu Muhamad Iqbal hadir membuka resmi acara webinar.

Acara webinar bertema kewirausahaan berjudul: Melihat Peluang Usaha Perempuan di Eropa dilaksanakan pada Minggu, 6 Februari 2022.

Poin poin yang dibicarakan pada webinar kali ini :

  1. Narasumber:  Bapak Sabbat Christian Sirait 
  • Peluang bisnis İndonesia ke Uni Eropa cukup bagus, yang mana Uni eropa merupakan tujuan ekspor dan asal impor non migas ke-3 bagi İndonesia
  • Banyak produk dari İndonesia baik itu skala kecil dan menengah yang sudah beredar di pasaran Belanda antara lain makanan minuman, rempah-rempah, Pakaian, furniture, arang termasuk pakaian yang diproduksi oleh UKM
  • Untuk masuk ke pasar Eropa sebaiknya mempunyai mitra usaha membantu kelancaran marketing di Eropa
  • Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengekspor produk ke Eropa sesuai dengan peraturan Uni Eropa mengenai Produk and safety food
  • Dari Pertanyaan yang diajukan disimpulkan yang utama bahwa suatu perusahaan harus memberikan NİB, Company profile ke Atase Perdagangan untuk lebih melihat keseriusan perusahaan untuk melakukan ekspor
  1. Narasumber: İbu Leny Milla
  • Untuk mendirikan perusahaan di Turki sebaiknya mempunyai İzin tinggal, guna memperlancar proses pendirian perusahaan tersebut
  • Menyiapkan nama perusahaan, anggaran dasar perusahaan, mendaftarkan ke kantor pajak dan asuransi, mendaftarkan perusahaan ke Kantor Perdagangan Turki untuk mendapatkan sertifikat yang menjelaskan izin usaha yang dapat perusahaan operasikan
  • Dari pertanyaan yang diajukan peserta  produk  yang akan masuk ke Turki harus memiliki HACCP dan COS. Pihak Atase Perdagangan İndonesia di Turki merencanakan tempat untuk mendisplay barang yang akan didatangkan ke Turki yang mana sebelumnya barang tersebut dıakurasi. Produk yang telah siap yang akan didisplay dan dikirim.
  1. Narasumber : Ferlin V. Yoswara
  • Beliau menyatakan dalam menjalankan usaha jangan pernah takut untuk belajar dan melangkah.
  • Harus Openminded.
  • Dalam memasarkan suatu produk dapat menggunakan ambassador dan influencer.
  1. Narasumber: İbu Dessy Rutten
  • Memulai sesuatu usaha sebelumnya harus kepercayaan diri sebelum mempunyaı personal branding
  • Bertanya kepada diri sendiri haruskan melakukan pemasaran secara intrapreneruship atau entrepreneurship
  • Bila belum siap jadilah İntrapreneurship, karena intrapreneurship merupakan sebuah proses
  • Dalam Entrepreneurship kita harus mempunyai tujuan atau misi usaha, bidang marketıng, daya beli dan harga serta sumber keuangan.
  • Jangan memaksakan menjadi entrepreneurship tapi jadilah intrapreneurship dulu tanpa mengorbankan aset pribadi atau aset keluarga.

Bila Anda menghendaki materi presentasi narasumber, mohon isi formulir berikut yang ditautkan.

Siaran ulang webinar bisa disaksikan sebagai berikut:

(SIARAN BERITA) Melihat Peluang Usaha Perempuan Indonesia di Eropa

NORWEGIA – Menurut laporan Women Entrepreneurship in Indonesia yang dikerjakan Bank Dunia dan Kementerian Bappenas tahun 2016 menyebutkan sebanyak 36% dari total perempuan Indonesia pada usia kerja lebih memilih untuk menjadi pengusaha. Mayoritas pengusaha perempuan tersebut bergerak di sektor informal, atau pada sektor semi formal. 

Membuka usaha di perantauan menjadi pilihan bagi sebagian perempuan Indonesia yang tinggal di luar Indonesia. Namun sebagai pendatang, pilihan menjadi wirausahawati bagi perempuan Indonesia di luar negeri bukan hal yang mudah.

Aturan pajak yang rumit, proses pendaftaran usaha, iklim ekonomi negara yang ditinggali, hambatan bahasa dan komunikasi serta perbedaan budaya menjadi beberapa tantangan yang harus diperhatikan perempuan Indonesia saat akan membuka usaha di perantauan. 

Rumah Aman Kita (RUANITA) bekerjasama dengan Komunitas Exportir Muda Indonesia (KEMI) Perwakilan Turki menggelar webinar bertema kewirausahan dengan judul: Melihat Peluang Usaha Perempuan Indonesia di Eropa.

Follow us ruanita.indonesia

Webinar kewirausahaan ini akan diadakan pada Minggu, 6 Februari 2022 pukul 13.00 – 15.00 CET (15.00-17.00 TRT (Turkey Time) atau 19.00-21.00 WIB). Adapun webinar ini diselenggarakan dengan dukungan sepenuhnya oleh KBRI Ankara dan KBRI Den Haag.

Acara webinar ini terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia dan diaspora Indonesia di Eropa dan Turki. Pendaftaran dapat dilakukan pada link bit.ly/RUANITA-KEMI. Dipandu oleh Siti Aisah Putri Utami (mahasiswa Bisnis dan Budaya Universitas Passau Jerman), webinar akan dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI untuk Turki, Bapak Lalu Muhamad Iqbal.

Pemateri dalam webinar antara lain: Atase Perdagangan RI untuk Belanda Sabbat Christian Sirait, Ketua KEMI Turki Leny Mila, Dessy Rutten selaku ekonom dan akademisi di Eropa, serta Ferlin Yoswara selaku wirausahawati Indonesia di Belanda.

Kegiatan wirausaha di luar Indonesia dapat menjadi peluang menguntungkan bagi warga negara Indonesia selaku pengusaha dan ini menjadi bagian upaya soft diplomacy.

Lewat webinar tersebut dapat diinformasikan peluang dan potensi produk-produk Indonesia di Eropa. Beberapa negara di Eropa seperti Turki dan Belanda menjadi pintu masuk untuk mengenalkan potensi produk-produk Indonesia. 

Untuk itu, penting bagi para pelaku usaha agar mendapatkan informasi tentang aturan perdagangan ekspor dan impor sesuai kebijakan yang berlaku di negara-negara tersebut. Melalui webinar kewirausahaan ini diharapkan dapat membekali perempuan Indonesia yang tinggal di luar Indonesia mengenai informasi regulasi perdagangan, meningkatkan pengetahuan seputar mentalitas kewirausahaan dan komunikasi lintas budaya untuk strategi marketing, berbagi pengalaman dalam berwirausaha serta berbagi praktik baik tentang pengelolaan usaha di Eropa. 

Beberapa bahasan yang akan diangkat dalam webinar adalah mengenai peluang dan potensi produk Indonesia di Belanda, prosedur pendirian usaha di Turki, mentalitas kewirausahaan bagi perempuan Indonesia dan komunikasi lintas budaya dalam strategi marketing di Eropa, serta pengalaman mengelola usaha dan pemasaran produk di Eropa.

Adapun tindak lanjut dari webinar kewirausahaan ini adalah rencana kegiatan workshop kewirausahaan dan pembentukan forum pengusaha perempuan asal Indonesia di Eropa.  

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas diaspora Indonesia yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar permasalahan psikologis dan kehidupan di luar negeri. Tujuan diberdirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan isu kesehatan mental, psikoedukasi serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia.

Informasi:

Retno Aini Wijayanti, WNI tinggal di Norwegia (email: info@ruanita.com)