
“You can always say no when you don’t want to”, itu adalah kalimat yang sangat sering diucapkan mertua saya kepada saya. Awalnya kalimat tersebut tidak berarti apapun kepada saya. Namun beberapa tahun belakangan ini kalimat tersebut menjadi sesuatu yang sangat sering muncul di kepala saya, ketika melakukan sesuatu atau mengambil sebuah keputusan.
Hai, saya A WNI yang saat ini tinggal di Jerman and yes I am a people pleaser, not proud of that but it is what it is.
Saya adalah anak pertama sekaligus cucu pertama dari keluarga ibu saya. Sebagai anak dan cucu pertama tanpa saya sadari saya adalah role model untuk adik-adik sekaligus sepupu-sepupu saya. Sejak kecil secara tidak langsung saya dituntut menjadi anak yang baik, harus bersikap baik, sopan terhadap orang tua, menyayangi adik-adik serta sepupu-sepupu saya, selalu harus mengalah, harus memiliki nilai akademis yang baik, dan masih banyak lagi.
Saya harus selalu mengikuti atau menuruti semua perkataan keluarga saya dan terkadang mengorbankan banyak hal untuk menyenangkan mereka.
Sejak kecil hingga menginjak usia 30 tahun, saya tidak merasa ada yang salah dengan hal tersebut, namun tanpa saya sadari saya tumbuh menjadi seorang pembohong.
Meskipun sering saya jadikan bahan candaan dengan suami saya, kalau saya adalah pembohong yang tidak akan masuk neraka karena berbohong untuk kebaikan, tetapi berbohong tetap hal yang tidak baik untuk dilakukan.
Menjadi people pleaser membuat saya bahkan sering berbohong kepada diri saya sendiri, bahkan terkadang kepada orang lain. Menjadi people pleaser seringkali membuat saya tidak menjadi diri sendiri di hadapan orang lain.
Saya sangat sulit untuk berkata tidak, hal ini membuat saya menjadi kewalahan dalam menjalani kehidupan saya, terutama ketika saya bekerja dan harus selalu melakukan semua pekerjaan yang diperintahkan oleh atasan saya. Saya kemudian menjadi orang yang sering menggerutu dan pemarah hingga sering menyalahkan diri saya sendiri ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan apa yang saya harapkan.
People pleaser sering menemukan kebahagiaan orang lain sebagai sumber kebahagiaan mereka, sehingga membuat mereka sangat sulit menemukan kebahagiaan mereka sendiri. Setelah pindah ke Jerman, saya menyadari kalau ternyata kalimat yang sering diucapkan mertua saya itu sangatlah penting, that’s how human should function, know your limit.
Saat ini tentu saja saya masih sering menemukan kebahagiaan saya di dalam kebahagiaan orang lain. Namun setelah bertahun-tahun, saya akhirnya bisa secara perlahan-lahan menjadi seseorang yang lebih jujur dalam mengambil keputusan.
Saya mencoba lebih rasional dalam mengambil keputusan dan menjadi lebih bijak untuk mengartikulasikan alasan saya ketika saya harus mengatakan tidak kepada seseorang. Tidak mudah bagi saya yang besar dalam kebudayaan timur yang sangat kental untuk secara lantang mengatakan tidak atau menolak seseorang, terutama orang terdekat saya.
Menurut saya, menjadi people pleaser bukanlah hal yang sehat. Kita bisa tetap menjadi seseorang yang baik tanpa harus menyenangkan orang lain, karena tentu saja definisi baik menurut tiap orang akan berbeda-beda.
Berhenti menjadi people pleaser bukan berarti membuat kita menjadi orang yang jahat dan tidak sopan, tetapi kita hanya perlu mengetahui kapasitas diri kita dan membatasi hal-hal apa saja yang mampu kita lakukan dan tidak mampu kita lakukan.
Saya rasa menjelaskan dengan baik kepada seseorang tentang penolakan dengan alasan yang logis dan tulus akan lebih baik dibandingkan kita berbohong untuk menghindari melakukan penolakan. At the end of the day, you create your own happiness, therefore it’s better to find it within yourself.
Penulis: A tinggal di Jerman.
Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.