(CERITA SAHABAT) Begini Cara Saya Berpikir Positif Untuk Hidup Lebih Baik di Belanda

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Risti, yang menetap di Belanda karena saya menikah dengan  suami, yang berkewarganegaraan Belanda. Masa-masa awal saya tinggal di Belanda, saya sempat  mengalami gegar budaya, mulai dari faktor cuaca, makanan, bahasa, gaya hidup sekaligus interaksi  sosial dengan berbagai kalangan.

Seiring berjalannya waktu, proses adaptasi dan filterisasi aspek sosial  budaya tersebut, perlahan saya bisa melewati dengan beragam tahapan usaha. Mengapa saya bisa  melaluinya dengan baik? karena saya berpikiran positif dalam menyikapi berbagai tantangan yang  dihadapi di negeri rantau. Berkaca dari pengalaman pribadi itu saya termotivasi untuk menuangkannya  dalam sebuah tulisan, dengan tema berpikir positif.  

Masa-masa Adaptasi 

Ada beberapa kebiasaan orang Belanda yang bagi saya cukup menarik dan sedikit berbeda dengan  kebiasaan kita di Indonesia, seperti kebiasaan untuk membuat janji terlebih dahulu untuk segala urusan.  Meskipun itu sekedar janji untuk minum teh atau kopi, kita harus memperhatikan waktu kita berkunjung  atau janji temu. Bila kita sepakat siang hari berkunjung ke rumah salah satu kenalan atau kerabat, maka  biasanya batas waktu tak tertulis untuk bertamu menjelang waktu makan malam sekitar jam 6 sore. 

Menariknya, bila tuan rumah sudah mengatakan “nou we gaan zo eten”, atau diterjemahkan “Sekarang  kami akan makan malam!”, itu berarti kita harus segera pergi! Namun, bila kita diundang untuk makan  siang sekaligus makan malam, maka sebelumnya tuan rumah akan menanyakan makanan apa yang  boleh dan tidak boleh dimakan oleh tamu, supaya mereka tidak menyajikannya.  

Salah satu keunikan lainnya di Belanda adalah menjadikan sepeda sebagai salah satu sarana  transportasi utama warga di sini. Jangan heran bila jumlah sepeda melebihi populasi jumlah penduduk.  Kebiasaan lainnya adalah pasangan yang bergandengan tangan saat berjalan dan mengucap salam  dengan orang yang berpapasan, meski kita tidak mengenalnya. Ketika saya dan suami melakukannya  di Indonesia, orang-orang melihat kami seperti orang yang aneh.

Satu lagi yang cukup berbeda dengan  budaya di Indonesia, laki-laki di Belanda juga terbiasa turun ke dapur memasak dan urusan rumah  tangga lainnya. Ada juga yang punya anak untuk menjaga dan mengasuh anak-anak mereka. Jadi  jangan heran, bila seorang bayi lahir maka ada cuti khusus untuk sang ibu dan untuk sang ayah.  

Sejak saya tinggal di Belanda, saya bersyukur dapat menyelaraskan ritme kehidupan dan rutinitas  dengan berbagai kegiatan yang menunjang proses adaptasi dengan lingkungan sekitar. Tahun pertama  sampai tahun kedua, saya disibukkan dengan segala formalitas untuk menjadi penduduk Belanda, mulai  dari belajar Bahasa Belanda dan beragam ujian yang menyertainya, termasuk berbagai tes kesehatan  yang wajib dan sukarela dan urusan-urusan lainnya.

Menginjak tahun ketiga, saya baru memberanikan  diri memasuki dunia kerja. Saya bersyukur sampai saat ini, saya masih dimampukan untuk berkiprah di  dunia kerja. Saya menjadikan rutinitas harian sebagai aktivitas yang menyenangkan. Saya senantiasa  menekankan prinsip: jalani segala proses hidup dengan rasa syukur dan penuh rasa bahagia.  

Berlanjut ke masa awal memasuki dunia kerja, saya bersyukur bahwa saya tidak mengalami gegar  budaya dengan sistem dan etos kerja di sini, selama kita menjalaninya sesuai dengan pedoman kerja  yang ditetapkan perusahaan untuk semua karyawan. Kerja di sini harus tepat waktu, semua kinerja kita  terpantau dan terukur. Supervisor juga tidak akan segan memberikan pujian atau kritik kepada kita. 

Selain itu, setiap 3 atau 6 bulan sekali kinerja kita dievaluasi, sistem upah sangat jelas dan transparan.  Sebagai pekerja, tidak ada alasan mendadak bahwa kita tidak datang kerja karena hujan misalnya.  Umumnya, karyawan yang tiga kali tidak datang dengan alasan yang tidak jelas, maka diberi peringatan keras. Jika pekerja masih juga melakukan pelanggaran kerja, maka otomatis hubungan kerja berakhir  dan perusahaan tidak akan memberikan surat referensi kerja.  

Saya bersyukur sampai saat ini saya dimampukan untuk mengemban tanggung jawab kerja sesuai  harapan perusahaan, pemberi kerja. Satu lagi yang membuat saya menjalani pekerjaan dengan rasa  bahagia, karena saya mendapati tidak ada halangan untuk kami – kaum muslim – dalam menjalankan  shalat di tempat kerja, bahkan perusahaan menyediakan ruangan khusus shalat.

Selain itu, saya juga  menjalin hubungan yang baik dan hangat dengan sesama rekan kerja. Dari pengalaman saya, tekanan  kerja seberat apapun, tentu terasa ringan dikerjakan dan diselesaikan bersama-sama, dengan semangat  gotong royong. Seperti pepatah: “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”.  

Mengelola rasa, jiwa, raga dan pikiran dalam menjalani hidup yang tentram 

Seiring dengan era digital, menjalin hubungan kemasyarakatan memang telah mengalami pergeseran  di hampir seluruh bagian bumi, termasuk di sini. Di Belanda, lazimnya pertemuan, baik yang bersifat  formal maupun nonformal, diawali temu janji yang dibuat lewat media sosial, seperti: e-mail, whatsapp,  facebook, instagram, dll. Bahkan, pertemuan dengan keluarga, sahabat atau bahkan tetangga tidak bisa  serta merta langsung datang, kita harus membuat janji terlebih dahulu.

Saya dan suami berkala setiap  dua minggu sekali untuk mengunjungi ibu di kota lain. Setidaknya, sekali dalam sebulan bertemu  sahabat-sahabat orang Belanda, menjalin silaturahmi dengan komunitas orang Indonesia di sini dengan  berbagai grup yang ada. Apalagi saat Ramadan, biasanya kami iftar dengan komunitas muslim Indonesia  atau para mualaf di Belanda. Saat Idul Fitri, biasanya kami mengirim hantaran lebaran ke tetangga 

tetangga di lingkungan rumah, yang kebetulan non muslim semua. Biasanya kami terlibat pembicaraan  hangat dengan para tetangga. Satu yang menjadi catatan saya, bahwa relasi sosial yang kita bangun  itu berpulang kembali kepada diri kita.

Bila kita menjalaninya penuh toleransi atas segala perbedaan,  selalu berbaik sangka, serta saling menjaga dan menolong, maka hati dan jiwa kita pun bahagia dan  tentram. Namun, bila relasi itu mulai toksik maka lebih baik kita menjaga jarak, karena hal itu  berpengaruh negatif pada diri dan jiwa kita.  

Ada banyak Perempuan yang menjadi inspirasi saya, setelah saya tinggal di sini. Dua di antaranya  adalah politikus Khadidja Arib dan pelari Sifan Hassan. Mereka begitu menginspirasi saya. Kiprah mereka  begitu luar biasa dalam pandangan saya dan sebagian warga Belanda. Mereka terlihat begitu energik  dan senantiasa optimis melewati beragam fase dalam proses kehidupannya.

Begitupun saya terus  belajar berproses untuk senantiasa optimis dan berpikir positif atas setiap fase kehidupan yang saya  jalani di negeri kincir ini. Ketika saya melewati satu fase yang tidak sesuai dengan harapan, maka saya  tetap berbaik sangka dan berpikir positif, bahwa ada rencana lain dari Allah SWT yang lebih baik. Hal  itu saya alami, ketika saya dan suami menjalani proses bayi tabung yang tidak berhasil. Saya dan suami  pada akhirnya menerima takdir itu dan berbuat lebih banyak untuk mendukung anak-anak yang kurang  beruntung dengan cara kami.  

Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Salah satu hikmah bagi saya adalah tersedia cukup ruang dan  waktu untuk menuangkan beragam peristiwa yang terjadi dalam bentuk tulisan, apalagi di saat suami  pergi ke kantor dan saya sedang berlibur kerja. Saat seperti itu, pikiran saya mengembara dan berkreasi.  Satu lagi bahwa bacaan pun mampu memengaruhi sikap positif kita.  

Ketika saya mengalami situasi sulit, maka hal pertama yang dilakukan adalah berdo’a kepada Allah SWT.  Setelah saya berpikir jernih, kemudian saya merenungkan apa yang terjadi, lalu berkata pada diri sendiri  bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan.

Pikiran positif itu sesungguhnya akan mempengaruhi  perilaku kita sehari-hari. Begitupun sebaliknya. Berpikir positif itu memerlukan energi jiwa yang cukup  melelahkan. Begitupun berpikir negatif. Jadi, kalau keduanya sama-sama melelahkan jiwa dan hati kita,  maka akan lebih bijak, bila kita memilih untuk senantiasa berpikir positif. 

Kebiasaan saya dan suami ngobrol tentang beragam tema juga membantu saya menjaga pola pikir yang  positif akan situasi di sekitar kita. Setelah lebih dari satu dasawarsa tinggal di sini, rasanya saya sudah  dapat mengatasi perasaan homesick. Kalaupun perasaan itu hadir, maka saya segera menelepon  keluarga di Indonesia.

Zaman ini begitu banyak perubahan, jarak dan waktu tidak lagi menjadi kendala  untuk melepas kerinduan dan bersilaturahmi. Mari manfaatkan kondisi dan situasi yang ada, dengan  sebaik-baiknya. Prinsipnya, apapun yang dihadapi kita terima, jalani, nikmati dan syukuri, sehingga kita  terjauhkan dari rasa stres dan depresi.  

Sebelum kita memutuskan untuk tinggal dan menetap di luar negeri, ada sebaiknya kita mempelajari  dan memahami dulu adat istiadat, budaya, dan aspek sosial kemasyarakatan di negara yang akan kita  datangi. Kita perlu membekali diri dengan pengetahuan yang cukup, agar kita dapat beradaptasi dengan  baik. Kita perlu tetap manjaga jati diri dan karakter kita sebagai orang Indonesia.

Tentunya, kita  sebaiknya berpikir positif dalam situasi dan keadaan apapun, serta di manapun tinggal. Ingat bahwa  berpikir positif tidak akan datang dengan sendirinya, tetapi diperlukan sebuah keterampilan yang harus  dipelajari. Berpikir positif akan melahirkan kebiasaan-kebiasaan yang lebih bersemangat dan optimis  untuk menjalani hidup.  

Semoga tulisan ringan dan sederhana saya mampu memberikan sedikit pencerahan untuk selalu  memotivasi diri kita dalam mengedepankan pola pikir yang positif.  

Penulis: Risti Handayani, kontributor Ruanita di Belanda, perantau di negeri Kincir Belanda, dan  dapat dihubungi lewat akun facebook: Ristiyanti Handayani.


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar