(CERITA SAHABAT) Dari Lahir Premature, Krabbelstube di Jerman, ke Kesehatan Mental Ibu

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya adalah Putri (nama samaran) dan sudah tinggal di Jerman sekitar dua tahun. Saya pindah ke Jerman karena saya menikah dengan pasangan saya, yang merupakan pria berkewarganegaraan Jerman. Saat tiba di Jerman, usia kehamilan saya sudah lebih dari enam bulan, dan masa beradaptasi cukup berat, baik fisik maupun emosional.

Saya sangat ingin anak saya tumbuh dalam kondisi yang optimal. Tantangan utama di awal adalah menghadapi lingkungan baru tanpa keluarga dekat, serta harus melewati masa-masa sulit di rumah sakit dengan kondisi bahasa yang terbatas. 

Ketika saya sedang mengandung di usia 7 bulan, dokter mendeteksi ada masalah pada kehamilan, khususnya pada plasenta. Saya dirujuk untuk pemeriksaan darurat di rumah sakit. Keesokan harinya, saya langsung pergi ke rumah sakit dan ternyata memang harus dirawat inap selama lebih dari satu minggu.

Dokter berusaha mempertahankan kehamilan selama mungkin, tetapi pada akhirnya saya harus menjalani operasi mendadak, karena kondisi yang mengancam. Bayi saya lahir di usia kandungan 32 minggu dengan berat 1,5 kg. Setelah itu, anak saya dirawat di ruang intensif selama lebih dari seminggu, lalu dipindahkan ke ruang perawatan anak biasa. Saya sendiri masih harus tinggal di rumah sakit. 

Anak saya lahir prematur di usia kandungan 32 minggu, setelah saya mengalami komplikasi kehamilan. Anak saya harus dirawat intensif selama hampir tiga bulan di rumah sakit, sementara saya menjalani masa pemulihan dengan kendala bahasa dan tanpa dukungan keluarga dekat.

Tantangan terbesar sebagai ibu pertama kali adalah pada masa awal kelahiran. Kondisi anak saya sangat membutuhkan perawatan intensif, sementara saya memiliki keterbatasan dalam berbahasa Jerman sehingga membuat situasi terasa sangat berat. Selain itu, proses pemulihan saya sendiri pasca operasi dan harus menjalani hari-hari penuh kekhawatiran, tanpa dukungan keluarga di sekitar sangat menguji ketahanan mental saya.

Masa itu sangat sulit dan penuh tekanan, apalagi karena saya belum bisa berbahasa Jerman dan tidak semua perawat bisa berbicara bahasa Inggris. Saya akhirnya meminta izin pulang lebih cepat karena merasa sangat stres dan tidak bisa tidur nyenyak. Anak saya tetap tinggal di rumah sakit selama sekitar tiga bulan, dan saya harus bolak-balik setiap hari untuk menjenguknya. Anak saya juga sempat menjalani operasi kecil. Saya bersyukur bahwa semuanya berjalan baik setelah itu. 

Masa-masa itu sangat menantang, tetapi saya belajar menjadi lebih kuat dan sabar. Saat ini, saya berfokus merawat anak dan menikmati belajar hal-hal baru, terutama seputar dunia anak-anak. Dalam keseharian, saya senang belajar hal baru, seperti dunia anak-anak, dan menikmati membaca serta berkegiatan di rumah.

Sebagai ibu di lingkungan baru, saya harus menyesuaikan diri dengan budaya, bahasa, dan sistem pengasuhan yang berbeda. Saya harus beradaptasi dengan budaya dan bahasa yang sangat berbeda. Saya juga tinggal jauh dari keluarga saya di Indonesia, yang tentu membuat saya merasa cukup kesepian di awal. 

Namun seiring waktu, saya mulai mengenal lingkungan sekitar dan menemukan orang-orang yang baik dan suportif, terutama dalam konteks pengasuhan anak. Saya memutuskan mendaftarkan anak ke Krabbelstube karena anak saya perlu bersosialisasi dan belajar berinteraksi dengan anak-anak lain.

Selain itu, saya juga ingin menjauhkan anak saya dari lingkungan yang tidak kondusif di sekitar rumah, yang menurut saya kurang sehat secara emosional. Saya percaya anak-anak butuh lingkungan yang stabil dan suportif untuk berkembang secara optimal. Meski awalnya sulit, saya bersyukur mendapat dukungan dari para pendidik di Krabbelstube, tempat anak saya kini bersekolah. Nah, apa itu Krabbelstube? Saya ingin berbaginya lewat cerita sahabat berikut ini. 

Di Krabbelstube, anak saya dapat mengikuti berbagai kegiatan seperti olahraga, musik, bermain, dan eksplorasi. Kegiatan di Krabbelstube sangat beragam dan menyenangkan.

Setiap hari Senin ada kegiatan olahraga, hari Kamis ada sesi musik, dan di hari-hari lainnya ada kegiatan bermain bebas, seni, membaca buku, dan eksplorasi di luar ruangan. Semua dilakukan dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan usia anak. 

Perkembangan anak saya pun sangat pesat. Perbedaan anak saya, sebelum dan sesudah masuk Krabbelstube tentunya tampak sekali. Sebelum masuk Krabbelstube, anak saya belum bisa duduk sendiri.

Sekitar enam bulan setelah masuk, ia berkembang sangat pesat, mulai dari bisa merangkak, memahami perintah sederhana, dan sampai mengekspresikan keinginannya. Ia juga menjadi lebih aktif, tertarik pada lingkungan, dan mulai menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi. 

Secara fisik, saya melihat anak saya menjadi lebih kuat dan aktif. Secara kognitif, ia mulai bisa memahami instruksi dan mengenali rutinitas. Secara emosional, ia lebih ekspresif dan tampak bahagia. Ia juga mulai bisa berkomunikasi dengan cara-cara sederhana dan menunjukkan minat besar terhadap hal-hal di sekitarnya. 

Biaya bulanan sekitar 289 Euro, dengan fasilitas yang lengkap dan lingkungan yang aman. Biaya tersebut mencakup 80 Euro untuk biaya makan, 200 euro untuk betreuungkosten (=biaya penitipan anak), dan 9 Euro untuk keanggotaan kegiatan olahraga. Para pengasuh di Krabbelstube sangat profesional, ramah, dan terbuka. Ketika saya memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tentang anak saya, mereka selalu siap memberikan penjelasan yang membantu dan menenangkan.

Fasilitasnya cukup lengkap, termasuk ruang bermain dalam dan luar ruangan, perlengkapan belajar, alat musik, perlengkapan olahraga anak, serta makanan yang disiapkan dengan standar gizi yang baik. Lingkungannya sangat aman dan bersih. 

Saya terkesan dengan sistem pendidikan dan kesehatan anak di Jerman yang terkoordinasi dan mendukung intervensi dini. Sistem di Jerman cukup terstruktur. Anak-anak dipantau secara berkala melalui pemeriksaan kesehatan dan perkembangan, serta bisa mendapatkan bantuan dan dukungan dini dari berbagai lembaga pendidikan dan kesehatan, jika diperlukan. Orang tua juga dilibatkan secara aktif dalam proses ini.  

Saya belajar bahwa kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan tenaga kesehatan sangat penting. Sistem di sini sangat terkoordinasi dan fokus pada pencegahan serta intervensi dini. Saya berharap di Indonesia bisa diterapkan sistem pendampingan yang serupa agar setiap anak memiliki kesempatan berkembang secara optimal sejak dini. 

Saya berharap anak saya dapat tumbuh dengan bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensinya secara maksimal. Saya ingin ia mendapatkan pendidikan yang baik, memiliki teman yang mendukung, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Saya juga berharap ia tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan bisa menghargai perbedaan di sekitarnya. Harapan saya, anak saya bisa tumbuh bahagia, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensinya. Saya merasa perjalanan ini sangat menantang, terutama secara emosional.

Namun saya belajar untuk lebih kuat dan sabar. Dukungan pasangan dan orang-orang di sekitar sangat membantu. Saya juga mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental saya sebagai ibu agar dapat memberikan lingkungan yang positif untuk anak saya. 

Pesan saya: membesarkan anak tidak cukup hanya dengan memberikan makan dan pakaian. Orang tua harus menyediakan lingkungan yang suportif dan sehat secara emosional. Saya menyadari betapa pentingnya menjaga kondisi mental dan stabilitas lingkungan bagi tumbuh kembang anak. Jangan ragu untuk mencari bantuan dan buat keputusan yang terbaik demi kebaikan anak, meskipun itu berat. 

Satu lagi, sahabat Ruanita! Pesan saya untuk para ibu lainnya: jangan ragu mencari bantuan! Jagalah kesehatan mental kita sebagai orang tua, karena itu adalah fondasi bagi anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang positif.

Penulis: Putri (nama samaran) dan tinggal di Jerman.


Eksplorasi konten lain dari Ruanita - Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar